Feb
09
2010
|
Institute’s annual award underway |
|
Tuesday, 09 February 2010 |
|
The Jakarta Post
, Jakarta
| Wed, 02/03/2010 10:22 AM | National
The
Maarif Institute begun its annual search for leaders committed to
democracy, human rights and pluralism. Those chosen will receive an
award from the institute, which will end its search at the end of March.
In
a press release, Monday, the institute said it has looked at various
social, civil and religious organizations that “fight for pluralism,
human rights and substantial democratic achievement”.
“We have to
defend the nation’s democracy and pluralism in a concrete way, not on
vulnerable pretenses,” founder of the institute Syafii Maarif said. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 09 February 2010 )
|
Feb
08
2010
|
Syafii Maarif: Situasi Bahaya, Papua Bisa Lepas |
|
Monday, 08 February 2010 |
|
JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah
Syafii Maarif mengkhawatirkan Papua lepas dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia karena situasinya sudah membahayakan.
"Kondisi di Papua itu seperti api dalam sekam. Kalau Papua
lepas dari Indonesia, saya tidak bisa membayangkan lagi dengan propinsi
yang lain," kata Buya Syafii dalam jumpa pers dalam jumpa pers Maarif
Award 2010 di kantor Maarif Institute di Jakarta, Senin.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 09 February 2010 )
|
Feb
02
2010
|
Tuesday, 02 February 2010 |
|
Anita Yossihara dan M Zaid Wahyudi
Indonesia
adalah negara yang penuh keunikan. Jika negara lain umumnya terbentuk
berdasarkan kesamaan tertentu, Indonesia justru dibangun di atas
keberagaman yang dimilikinya, baik suku, bangsa, bahasa, maupun agama. Meski
demikian, bagi Raja Juli Antoni, mantan Direktur Eksekutif Maarif
Institute, setiap unsur pembentuk keberagaman atau pluralisme yang
membangun Indonesia itu belum mendapatkan tempat yang sama. Indonesia
belum menjadi rumah bersama yang memberikan keadilan bagi semua, tanpa
memandang mayoritas ataupun minoritas.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 03 February 2010 )
|
Feb
02
2010
|
Syafii Maarif Mencari Sosok Negarawan Indonesia |
|
Tuesday, 02 February 2010 |
Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif
sedang mencari sosok negarawan untuk dipilih sebagai penerima
penghargaan yang menggunakan nama dirinya. "Indonesia sedang
dalam proses mencari negarawan. Kalau politisi jumlahnya luar biasa
banyak, tapi sedikit yang bisa menjadi negarawan," kata Buya Syafii
Maarif dalam jumpa pers "Maarif Award 2010" di kantor Maarif Institute
di Jakarta, Senin. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 February 2010 )
|
|
Feb
01
2010
|
Maarif Institute Gelar Maarif Award 2010 |
|
Monday, 01 February 2010 |
JAKARTA, KOMPAS.com - Maarif Institute menggelar
Maarif Award 2010. Penghargaan tersebut diberikan kepada mereka yang
dinilai tulus membela demokrasi dan pluralisme secara konkret. "Saya
mengapresiasi upaya Maarif Institute untuk mengadakan kegiatan Maarif
Award 2010," kata tokoh nasional Syafi'i Maarif dalam jumpa pers, di
Jakarta, Selasa (1/2/2010). "Kita merindukan sosok-sosok pemimpin yang
rela menjadi telinga dan mata bagi pencari keadilan, pendamba
kesejahteraan, dan pengayom bagi masyarakat bawah," tambah Syafi'i. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 February 2010 )
|
|
Feb
01
2010
|
Syafii Maarif Khawatirkan Papua Lepas dari Indonesia |
|
Monday, 01 February 2010 |
JAKARTA--Mantan Ketua Pengurus Pusat
Muhammadiyah, Syafii Maarif mengkhawatirkan Papua lepas dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Kondisi di Papua itu seperti api
dalam sekam. Kalau Papua lepas dari Indonesia, saya tidak bisa
membayangkan lagi dengan propinsi yang lain," kata Buya Syafii dalam
jumpa pers dalam jumpa pers Maarif Award 2010 di kantor Maarif
Institute di Jakarta, Senin. |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 February 2010 )
|
|
Feb
01
2010
|
Dicari Pemimpin Yang Tak Kedepankan Popularitas |
|
Monday, 01 February 2010 |
Jakarta - Pemimpin negeri ini dinilai hanya
mengedepankan popularitas. Gusar dengan hal tersebut, pendiri MAARIF
Institute, Syafii Ma'arif pun mencari pemimpin alternatif. "Saya gusar dengan pola-pola kepemimpinan yang mementingkan popularitas
dan menomorduakan substansi menjadi seorang pemimpin yang terpilih
secara demokrtis," ujar Syafii dalam rilis yang diterima detikcom,
Senin (1/2/2010) malam.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 February 2010 )
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 10 dari 125 |