MAARIF Institute
02 Oktober 2013

Pemimpin Jangan Gunakan Kekuasaan sebagai Mata Pencaharian

Pengarang: http://www.metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemimpin diharapkan jangan menggunakan kekuasaan sebagai mata pencaharian.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif menegaskan bangsa kini membutuhkan pemimpin yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai mata pencaharian karena masyarakat sudah jenuh dengan diisintegritas pemimpin.

"Bangsa butuh pemimpin nasionalis sejati, penuh patriot," ujar Syafii Maarif di Jakarta, Minggu (29/9).

Syafii juga mengingatkan bahwa bangsa sedang berjalan ke tahun politik 2014, dimana kesadaran masyarakat untuk memilih pemimpin yang berjiwa
patriot dan dapat memaknai arti nasionalisme sangat penting untuk perjalanan bangsa.

Rasa patriot dan nasionalisme, kata Syafii, dapat dicerminkan dari bagaimana pemimpin melindungi aset bangsa, termasuk sumber daya negara dari keserakahan asing.

"Kedaulatan ekonomi kita sekarang sedang diacak-acak, bangsa sudah bosan dengan pemimpin yang tidak jelas dalam mengambil kebijakan," ujar dia.

Kebijakan pemimpin, kata Syafii, harus dapat diterjemahkan dalam tindakan terukur, bukan hanya retorika belaka yang justru dapat menimbulkan antipati masyarakat.

"Bangsa ini sudah lelah dengan kepemimpinan yang tidak jelas, dan hanya basa basi belaka," ujar Syafii Maarif. (Antara)

Tanggal Muat:02/10/2013 10:49:00 [admin]



16/07/2014
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menganggap lembaga survei bisa membantu Indonesia untuk membangun demokrasi yang lebih baik.
16/07/2014
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, menganggap lembaga survei bisa membantu Indonesia untuk membangun demokrasi yang lebih baik.
16/07/2014
RMOL. Pemilihan Presiden 2014 yang hanya diikuti dua pasang kandidat justru membuat suhu politik nasional memanas. Ditambah lagi, ulah lembaga-lembaga survei yang saling mengklaim kemenangan kandidat
16/07/2014
Siti Zuhro mengatakan bahwa Prabowo bagus di konsep, namun tak pernah detil soal otonomi daerah.
16/07/2014
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pusat Studi Pancasila, Yudi Latif, menduga kekisruhan yang disebabkan hasil hitung cepat pada pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli lalu disebabkan oleh kebobrokan etika dari oknum-oknum yang berada di salah satu pasangan.