MAARIF Institute

Bertanya-tanya tentang Pemimpin

"Kita tak perlu tepuk dan sorak kalau kita tak sanggup berjuang,” kata Bung Hatta. Ya, kita tak ingin pemimpin yang tak sanggup berjuang, yang melulu berpijak pada teriak dan slogan, bukan pada kenyataan!

Barangkali hanya Indonesia, negara yang sudah puluhan tahun merdeka, tetapi masih bertanya-tanya pemimpin macam apa yang kita perlukan. Sebab, selama ini belum ada ”tangan-tangan” keadilan dari kepemimpinan yang mewujudkan kemakmuran rakyat di Tanah Air yang berlimpah kekayaan ini.

Indonesia dihadapkan pada kenyataan lemahnya basis-basis kepemimpinan dan tiadanya kepemimpinan yang berjuang setelah menang dalam perebutan kekuasaan. Lebih banyak pemimpin yang berjuang saat berebut kekuasaan. Lantas apa yang membuat kita gelisah dan bertanya-tanya mengenai seperti apa pemimpin di republik ini?

Basis Kepemimpinan

Hampir setiap hari ada saja berita tentang kebobrokan basis-basis kepemimpinan. Kerusakan mental bangsa lebih banyak diinisiasi oleh elite pemegang kewenangan/kekuasaan yang hulunya adalah partai politik, tempat bersemainya kepemimpinan politik.

Tim Litbang Kompas (24 Juli 2012) mencatat, tahun ini jumlah kepala daerah (bupati/wali kota/gubernur) yang tersangkut korupsi sebanyak 213 orang. Dari jumlah total 495 kepala daerah, berarti sekitar 43 persen kepala daerah bermasalah dengan kasus-kasus korupsi. Para kepala daerah itu jauh dari harapan tipikal pemimpin modern yang seharusnya bersih dari korupsi, berintegritas, populis, dan bekerja sepenuh hati untuk rakyat.

Itulah bukti corong-corong kepemimpinan di parpol lemah, bahkan mengalami kerusakan. Akibatnya, seperti keluhan Haji Agus Salim (1931), rakyat seolah diperbuat seperti kayu mati, yang dirundingkan bagaimana caranya harus dikerat, dipotong, dibelah, diketam, diketuk, dibentuk. Untuk keperluan siapa?

Memang, tipe masyarakat Indonesia masih sangat terpengaruh oleh para pemimpin. Kepemimpinan merupakan ”jiwa politik” yang melekat dalam dinamika politik di Tanah Air. Kepemimpinan politik yang tegas, kuat, dan merakyat menjadi harapan perbaikan negara.

Seorang pemimpin pasti diperlukan. Namun, Jakob Oetama (2003) mempertanyakan, pemimpin macam apa yang semakin mendesak dibutuhkan ketika orang menengok ke kiri dan ke kanan tak pula merasa menemukan sosok yang sepadan dengan tantangan zaman.

Kepemimpinan politik yang diperlukan adalah pemimpin bangsa yang berkepribadian, berkarakter, bervisi, berkomitmen, dan menjadi suri teladan bagi bawahan dan rakyatnya. Untuk menghadapi perubahan zaman seperti sekarang, kita perlu pemimpin politik yang mampu menyelenggarakan kekuasaan secara beradab, menyelenggarakan pemerintahan yang bersih, yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, wewenang, kesempatan, dan koneksi.

Di samping itu, rakyat jangan dikondisikan membeo kepada pemimpin yang tak beradab, yang dijadikan obyek tipu-daya dan pembodohan diam-diam demi kepentingan kekuasaan. Tentang hal ini, Mestika Zed (2003) mengutip pernyataan Bung Hatta. ”Negara yang rakyatnya hanya tahu menerima perintah dan tidak pernah turut memperhatikan atau mengatur pemerintahan negerinya, (berarti) tidak memiliki kemauan dan tidak melakukan kemauan itu dengan rasa tanggung jawab penuh.”

Jika demikian, rakyat tidak akan pernah insaf akan harga diri dan kedaulatannya sehingga ia mudah tunduk ke bawah kekuasaan apa dan siapa saja, rakyat akan tetap tertindas oleh orang yang berkuasa.

Artinya, tugas pemimpin pertama-tama ialah mendidik rakyat, bukan memperalat rakyat. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran rakyat serta memberikan inspirasi agar rakyat bisa keluar dari kesulitan yang membebaninya.

Namun, kini kita tak punya lagi waktu untuk berandai-andai dan berkhayal menginginkan kembali sosok dwitunggal: Soekarno-Hatta. Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan, baiknya peradaban suatu bangsa akan dihasilkan oleh pemimpin yang berperadaban tinggi. Sebaliknya, buruknya peradaban bangsa akan dihasilkan oleh pemimpin yang berperadaban buruk.

Suluh Moral

Sejatinya, karakter pemimpin lahir dari partai politik. Karena melalui partai politik akan didistribusikan kader-kader terbaik bangsa untuk menempati jabatan publik di lembaga-lembaga negara.

Kaderisasi pemimpin politik erat kaitannya dengan kesinambungan kepemimpinan bangsa. Dalam kaitan ini, membangkitkan dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila sebagai suluh moral dalam pengaderan menjadi penting. Jangan sampai setiap pemimpin yang hadir selalu dituduh sebagai pengkhianat Pancasila.

Menetas pemimpin masa depan Indonesia perlu ”mengerami” calon-calon pemimpin dengan baik. Dengan begitu diharapkan muncul pemimpin yang mau, mampu, dan berani berjuang mengubah karut-marut kepemimpinan dari desa sampai istana. Begitulah kira-kira.... ●

David Krisna Alka ;  Peneliti Populis Institute;
Ma’arif Institute for Culture and Humanity

Sumber : KOMPAS, 31 Oktober 2012


Tanggal Muat:01/11/2012 11:33:00 [admin]
DIM, Apa Kabar?
REPUBLIKA.CO.ID, Dalam rangka seminar “Perkembangan Novel Indonesia Mutakhir Era Reformasi,” diselenggarakan oleh AJ ( Akademi Jakarta) pada 24 Nop. 2016, sambil lalu saya sempat menyinggung gagasan DIM (Daerah Istimewa Minangkabau) kepada Prof DR Taufik Abdullah, sejarawan kenamaan asal Ranah Minang. Agak sedikit geli Bung Taufik memberikan tanggapan yang negatif, untuk apa itu? Tetapi karena salah seorang penggagas utamanya adalah sosiolog Prof. DR. Mochtar Naim,
Buya Syafii Maarif: 400 Tahun untuk Ahok
Jika dalam proses pengadilan nanti terbukti terdapat unsur pidana dalam tindakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 27 September 2016 itu, saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas. Biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan itu. Sebuah generasi yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca politik Indonesia yang sarat
Antara Buih dan Air
Oleh : Ahmad Syafii Maarif REPUBLIKA.CO.ID, Saya tidak tahu apakah penggunaan ungkapan buih sebagai simbol kebatilan dan air sebagai lambang kebenaran cukup tepat untuk membaca situasi terkini di Indonesia yang telah membelah publik menjadi dua. Mana yang mewakili buih dan mana pula yang mewakili air, saya tidak bisa memastikannya karena masing-masing pihak merasa sama-sama berada di jalan kebenaran.
Energi Bangsa Habis Terkuras
Oleh : Ahmad Syafii Maarif REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai seorang warga negara sepuh (81 tahun) dan sudah berada di pinggir kubur, saya sangat prihatin dan cemas mengikuti perkembangan politik nasional selama Oktober/Nopember 2016 ini. Dipicu oleh lidah Ahok yang tak terkontrol di Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu pada 27 Oktober 2016 dan reaksi MUI terhadapnya bahwa Ahok menghina Alquran dan ulama telah menghebohkan panggung politik nasional. Menyikapi pendapat MUI ini,
Liarnya Lidah Ahok dan Pintu Masuk
Oleh : Ahmad Syafii Maarif REPUBLIKA.CO.ID, Sekalipun saya berseberangan dengan pendapat MUI tentang masalah penghinaan terhadap Alquran oleh Ahok, dalam satu hal kita mungkin bisa sefaham: lidah Ahok itu liar. Sekiranya dalam kunjungan kerjanya ke Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 itu, Gubernur DKI itu lebih memusatkan pembicaraannya pada masalah pembudidayaan ikan, geger besar yang menguras energi bangsa secara sia-sia ini belum tentu akan terjadi.