1nDONEsia adalah Pelatihan Jurnalisme Kebinekaan untuk Membendung Radikalisme di Kalangan Pelajar yang tajuk “INDONESIA: Aksi Pelajar untuk Kebinekaan Indonesia”. Pelatihan ini akan memadukan nilai-nilai yang sudah tersusun dalam buku 12 Nilai Karakter Pelopor Kebangsaan sebagai upaya mengubah cara berpikir pelajar yang dibarengi dengan pelatihan praktis produksi video untuk kampanye kebinekaan sebagai konter wacana radikalisme. Tak hanya dikenalkan dengan pemahaman kebangsaan dan kebinekaan namun juga diperkuat dengan kemampuan produksi kampanye sebagai konter wacana atas radikalisme keagamaan dan sekaligus bentuk praktis Literasi Media. Program ini dilaksanakan atas kerjasama MAARIF Institute, Cameo Project, Kemendikbud dan Youtube.
Ancaman radikalisme pada pelajar adalah kenyataan hari ini. Usia belia, jati diri yang masih dicari dan banjirnya akses informasi telah membuka ruang penetrasi ideologi fanatisme dan kekerasan keagamaan pada anak muda. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Balitbang Kemenag di Indonesia timur pada Oktober 2016 lalu menyebutkan bahwa terdapat 10,4% pelajar atau 114 pelajar SMA yang bersedia menjadi pelaku bom bunuh diri. Survei ini melibatkan sebanyak 1100 responden itu dilakukan di lima kota di Indonesia Timur, yaitu Ambon, Palu, Kendari, Makassar dan Samarinda.
Survey MAARIF Institute tahun 2014 di 11 kota di Pulau Jawa mengungkapkan semakin meluasnya sikap radikal, eksklusif, diskriminatif dan penolakan terhadap kelompok yang berbeda berbasiskan agama di kalangan para pelajar di SMU Negeri. Misalnya penolakan terhadap pendirian rumah ibadah non-muslim di lingkungannya (38%) dan kesediaan untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok yang dianggap menghina agamanya (51%). Hasil penelitian terakhir yang cukup mencengangkan, yang dilakukan oleh Setara Institute (2015) di kalangan pelajar di DKI Jakarta dan di Bandung menyatakan bahwa 1 dari 14 siswa (7,6%) setuju dengan ideologi dan sepakterjang ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). Penelitian ini juga mengungkap bahwa 8,5% dari 684 responden pelajar, setuju untuk mengganti dasar Negara Pancasila dengan agama tertentu. Hal yang sama juga muncul dalam penelitian Wahid Institute menyebut bahwa terdapat adanya potensi radikalisme di kalangan pelajar hingga mencapai angka 7%.
Sementara itu, dalam beberapa kesempatan, para ahli radikalisme menyebut bahwa tesis terbaru dalam problem radikalisme saat ini adalah persoalan informasi. Radikalisme terjadi bukan hanya karena kurangnya informasi, namun bisa juga karena banjirnya informasi. Era informasi yang ditandai dengan mudahnya setiap orang mengakses informasi, memberikan dampak negatif bagi penetrasi gagasan radikal, utamanya di kalangan anak muda. Terlebih karena banjirnya informasi tidak dibarengi dengan kritisisme yang cukup akan melahirkan pemahaman yang sempit, fanatik bahkan termakan dengan informasi palsu (hoax).
Kurangnya kritisisme pada informasi, termasuk didalamnya adalah pengetahuan atas kepentingan dan politik media, mekanisme jurnalistik dan framing pemberitaan telah membawa pada pelajar sebagai konsumen pasif informasi. Pada tahap berikutnya, para pelajar yang termakan informasi hoax akan dengan mudah mereproduksi informasi palsu tersebut pada jejaring sebayanya bahkan pada lingkungan keluarganya. Pada titik ini, spiral kekerasan akan terus terjadi atas dasar berita bohong (hoax).
Lebih dari itu, kritisisme pada informasi –atau juga dikenal dengan Literasi Media—juga dirasa perlu para pelajar untuk didorong untuk memberikan nilai lebih pada persoalan kebinekaan, anti-diskriminasi dan kesetaraan. Melalui itu, jurnalisme kebinekaan sebagai jurnalisme yang mendasarkan dirinya pada keberpihakan akan penghormatan pada keragaman, anti-diskriminasi dan kesetaraan akan menjadi konter wacana radikalisme di kalangan pelajar.
Sejak tahun 2013 hingga 2016 MAARIF Institute secara konsisten menyelenggarakan Pelatihan Sekolah Pelopor Kebangsaan yang selanjutnya berganti menjadi Pelatihan Jambore Pelajar Teladan Bangsa yang bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Pelatihan ini ditujukan bagi aktivis intra dan ekstra kurikuler pelajar tingkat SMA/sederajat se-Pulau Jawa. Nilai-nilai keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan yang disampaikan dalam Jambore Pelajar Teladan Bangsa mengacu pada “Buku Agenda Pelajar, 24 Minggu Menjadi Teladan Bangsa: 12 Karakter Pelopor Kebangsaan, 24 Aksi Nyata Untuk Indonesia”. Penyusunan Buku Agenda Pelajar sendiri merupakan rangkuman hasil dari diskusi bersama siswa dan guru yang difasilitasi oleh MAARIF Institute.
Buku Agenda Pelajar didalamnya berisi 12 Nilai Karakter Pelopor Kebangsaan yang meliputi Konteks Keimanan yang Majemuk, Semangat Menuntut Ilmu, Kejujuran, Keadilan, Berbaik Sangka, Persahabatan, Empati, Peduli dan Tolong Menolong, Toleransi, Musyawarah, Cinta Tanah Air, serta Mengajak Kepada Kebaikan dan Mencegah Keburukan. Selain berisi wawasan atau informasi, buku ini juga berisi panduan aksi nyata untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut.
Berkenaan dengan hal itu, berdasarkan fakta-fakta persoalan yang ada dan pengalaman yang pernah dilakukan oleh MAARIF Institute dalam mendampingi para pelajar maka MAARIF Institute menginisiasi program lokalatih “Jurnalisme Kebinekaan untuk Membendung Radikalisme di Kalangan Pelajar” dengan tema “INDONESIA: Aksi Pelajar untuk Kebinekaan Indonesia”. Pelatihan ini akan memadukan nilai-nilai yang sudah tersusun dalam buku 12 Nilai Karakter Pelopor Kebangsaan sebagai upaya mengubah cara berpikir pelajar yang dibarengi dengan pelatihan praktis produksi video untuk kampanye kebinekaan sebagai konter wacana radikalisme. Tak hanya dikenalkan dengan pemahaman kebangsaan dan kebinekaan namun juga diperkuat dengan kemampuan produksi kampanye sebagai konter wacana atas radikalisme keagamaan dan sekaligus bentuk praktis Literasi Media.
- Mensosialisasikan pentingnya kebinekaan sebagai salah satu pilar kebangsaan.
- Mengarusutamakan pentingnya konter wacana radikalisme keagamaan melalui peran pelajar dalam kebinekaan bangsa Indonesia.
- Memberikan pelatihan kampanye jurnalisme kebinekaan kepada pelajar sebagai bagian dari program Literasi Media.
- Membangun jaringan campaginer pelajar di lima kota sebagai jaringan creator kampanye kebinekaan.
Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari pada tiap titik pelaksanaan. Metode kegiatan yang digunakan dalam pelatihan ini adalah seminar dan workshop. Kedua model ini akan dilakukan dengan proporsi waktu yang setara yaitu, masing-masing satu hari. Pada hari pertama, metode seminar dipilih sebagai ruang untuk intervensi gagasan pada para pelajar. Sementara di hari kedua, model workshop digunakan untuk memberikan ruang intervensi teknis untuk memberikan bekal kompetensi praktis pelajar dalam membuat materi video kampanye kebinekaan.
- Pentingnya Kebinekaan untuk Masa Depan Indonesia dan Ancaman Radikalisme pada Kebinekaan.
- Peluang Anak Muda melalui Literasi Media untuk Melawan Hoax dan Fanatisme Keagamaan
- Pelatihan produksi konten video kampanye kebinekaan. (Gali ide, produksi, editing dan marketing video kampanye)
Narasumber dalam kegiatan ini adalah para pakar yang kompeten di bidangnya.
- Ridwan Kamil
- Muhd Abdullah Darraz
- Ahmad Imam Mujadid Rais
- Irfan Amalee
- Yossie Mokalo Project Pop
- Cameo Project
- Fajar Riza Ul Haq
- Sakdiyah Ma’ruf
- Ria Richis
Fasilitator workshop produksi video kampanye Jurnalisme Kebinekaan adalah para creator kampanye yang kompeten dalam membuat produk media digital.
- Cameo project (Youtube Ambassador Indonesia)
- Youtube Local Creator
Peserta
Pelajar tingkat SMA/SMK dan sederajat di 5 kota (Jakarta, Jogja, Bandung, Surabaya dan Semarang) dengan jumlah peserta sebanyak 200 pelajar di hari pertama dan 50 pelajar di hari kedua setiap kotanya.
Syarat Peserta
- Duduk di kelas 10 atau 11 SMA/SMK dan atau sederajat
- Aktif dalam organisasi intra sekolah atau ekstra kulikuler
- Memiliki ketertarikan pada isu-isu Kebinekaan
- Memiliki minat dan ketertarikan dalam Dunia Jurnalistik
- Memiliki kemauan belajar produksi video kampanye
- Menyampaikan kesediaan melalui formulir yang ada
- Bersedia mengikuti dari awal sampai akhir kegiatan
Kegiatan ini akan dilaksanakan di 5 kota di pulau Jawa yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja dan Surabaya. Adapun jadwal acaranya sebagai berikut:
| Kota | Waktu |
| Jakarta | 21 – 22 April 2017 |
| Yogyakarta | 19 – 20 Mei 2017 |
| Bandung | 28 – 29 Juli 2017 |
| Surabaya | 22 – 23 September 2017 |
| Semarang | 3 – 4 November 2017 |
Pendaftaran Jurnalisme kebinekaan di Semarang, 3- 4 November










