Tag Archive for: resonansi

Ranah Minang, ABS-SBK-AM-SM, dan Kebanggan Semu I

Jika saya menyoroti sisi negatif mentalitas Minang modern, bukan berarti etnisitas lain lebih baik.

Sudah menjadi sunnatullah, manusia mencintai tanah kelahirannya. Tidak jarang cinta itu dalam sekali, sekalipun sudah berpisah lama dengannya, terutama bagi mereka yang pernah hidup sampai usia belia di  tempat itu.

Warisan pribasa nenek moyang suku Melayu yang berbunyi “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri awak, masih lebih baik jua negeri awak” belum sepenuhnya terkuras digerus zaman. Gaungan pesannya masih dirasakan cukup kuat.

Artinya, betapa pun hidup senang dan mewah di negeri orang, kenangan indah terhadap tanah kelahiran sekalipun tersuruk lagi miskin tetap hidup dan punya daya pikat tersendiri. Setidak-tidaknya begitulah  perasaan saya terhadap nagari tersuruk Sumpur Kudus di lingkaran Bukit  Barisan, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam Minangkabau.

Saya belajar agama sampai tingkat sekolah menengah pertama masih di bumi Minang.

Jika pun saya kadang bersikap kritikal terhadap realitas sosial keagamaan di ranah yang memang bangga dengan adat-lembaganya itu, hendaklah dibaca dalam perspektif kecintaan dan kerinduan yang mendalam itu. Filosofi ABS-SBK-AM-SM (Adat Bersendi Syarak-Syarak  Bersendi Kitabullah-Adat Memakai-Syarak Mengata) secara teoretik adalah pedoman hidup manusia Minang.

Sebuah Minang yang telah  menerima nilai-nilai luhur keislaman semenjak agama itu menjadi arus utama di sana. Setidak-tidaknya, demikianlah secara teori yang memang didukung oleh fakta sejarah yang kuat.

 Rumusan filosofi yang demikian padat itu mengajarkan bahwa  antara prilaku manusia Minang dan agama tidak boleh pecah kongsi.

 Bagi para pembaca yang kurang akrab dengan filosofi suku Minang itu, baiklah saya jelaskan sepintas apa yang dimaksud. ABS-SBK mengandung arti bahwa adat Minang mestilah bersendikan agama Islam dan agama Islam berpedoman kepada Alquran. AM-SM berarti adat yang jadi pedoman harian hidup suku Minang tidak boleh melanggar perintah atau larangan agama Islam.

Dengan demikian, agama telah mengunci prilaku manusia Minang agar selamat dunia-akhirat, agar tidak menerabas batas-batas yang telah disepakati turun temurun.

Rumusan filosofi yang demikian padat itu mengajarkan bahwa  antara prilaku manusia Minang dan agama tidak boleh pecah kongsi, sekalipun dalam menghadapi perubahan sosial adat harus lentur, tidak  boleh kaku. Apa yang dikenal dalam pribasa kuno “Tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan” ternyata sudah melapuk dimakan perputaran zaman.

Hamka suatu ketika mengatakan bahwa adat itu bukanlah batu yang antiperubahan. Tentu yang dimaksud adalah  perubahan yang membawa kemajuan dan kemaslahatan. Bukan asal berubah.

Saat Hamka baru berusia 12 tahun, ayahnya menceraikan ibunya karena tekanan adat persukuan yang kejam. Hamka menulis: “Pihak suku ibunya tegak di tanah kalah. Suku ayahnya tegak di tanah menang. Karena  pada hakekatnya, hal ini adalah pertentangan di antara dua suku.” (lih.  Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, Jakarta, Gema Insani, 2018, hlm 42- 43).

 Sebenarnya bukan hanya kekakuan adat yang harus dipersoalkan, tafsiran dan pemikiran terhadap agama juga jangan sampai membatu.

 Seorang Haji Rasul (DR Abdul Karim Amrullah) yang perkasa tidak  berdaya menghadapi tekanan adat matrilineal yang lapuk itu. Akibat perceraian ini, jiwa bocah Hamka menjadi goncang. Jika Hamka mengeritik adat Minang dengan keras, dapat difahami, karena dia adalah  korban dari sistem adat yang tidak manusiawi itu.

Sebenarnya bukan hanya kekakuan adat yang harus dipersoalkan, tafsiran dan pemikiran terhadap agama juga jangan sampai membatu. Pemahaman terhadap wahyu pasti berkembang dan berubah sejalan  dengan evolusi yang mempengaruhi struktur otak manusia. Home sapiens (si bijak dalam definisi AJ Toynbee) yang satu ini tidak pernah puas dalam mencari dan mencari.

Itulah manusia yang pernah menaklukkan malaikat  dalam memahami alam semesta. “Tunduklah kepada Adam,” perintah Tuhan kepada malaikat, “maka tunduklah malaikat, kecuali iblis yang  menolak dan angkuh.” (Lih. Alquran surat al-Baqarah ayat 34).

Manusia Minang adalah bagian dari homo sapiens yang selalu  mencari tanpa henti itu. Wawasan kesemestaan manusia Minang  tercermin dalam ungkapan “Alam Terkembang Jadi Guru.” Demikian cermatnya manusia Minang itu merumuskan kepribadian kolektifnya dengan kemasan-kemasan bahasa yang singkat, padat, dan padu. Siapa yang tidak bangga dengan semua warisan ini.

 Jika saya turut menyoroti sisi-sisi negatif mentalitas Minang modern, bukan berarti etnisitas yang lain tentu jauh lebih baik.

 Tetapi mengapa ungkapan “Kebanggaan Semu” masih  ditambahkan juga di ujung judul artikel ini? Apa yang terjadi dengan  Minang modern? Bukankah filosofi ABS-SBK-AM-SM sudah menghunjam dalam di Ranah Minang sejak lama? Justru, di sinilah masalah yang  merisaukan itu perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh oleh manusia Minang, baik yang tinggal di ranah, mau pun yang hidup di rantau.

 Jika saya turut menyoroti sisi-sisi negatif mentalitas Minang modern, bukan berarti etnisitas yang lain tentu jauh lebih baik. Tetapi biarlah anggota suku itu yang membincangkannya, seperti WS Rendra  mengeritik budaya Jawa dan Ajip Rosidi membedah budaya Sunda.

Semua suku yang bertebaran di Nusantara ini kaya dengan kearifan lokal  masing-masing, tetapi pasti tidak bebas dari titik-titik lemah yang perlu diperbaiki dan dibenahi bersama. Dalam membaca fenomena sosial sebuah masyarakat tertentu, para sastrawan dan budayawan mungkin  punya penglihatan tersendiri yang perlu disimak.

Karena saya menulis tentang Ranah Minang, maka budayawan dan  sastrawan yang dirujuk berasal dari daerah ini. Ada yang sudah wafat, tetapi yang berusia lebih muda juga dikutip dan dibicarakan.

https://www.republika.id/posts/15759/ranah-minang-abs-sbk-am-sm-dan-kebanggan-semu-i%c2%a0

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat V

Pewaris Nabi Ibrahim dan pengikut pendiri agama besar lainnya mesti bergandeng tangan.

Sekalipun jumlah umat Islam sedunia sudah 1,6 miliar, karena minus kualitas, jumlah besar itu justru bisa menjadi beban dan malah penderitaan yang harus ditanggungkan. Bahkan, pada beberapa bangsa Muslim, tingkat buta huruf rakyatnya masih tinggi.

Selama dunia Muslim belum terangkat, sulit kita berharap pihak lain menghargai dan menempatkan kita setara. Perasaan hina dan tidak dihargai inilah yang menyebabkan sebagian kita membenci pihak lain, tak jarang dilakukan atas nama agama.

Barat yang angkuh karena merasa roda peradabannya di atas, tak bisa diharapkan menolong kita. Bahkan, semakin dunia Muslim terpuruk, kian puas mereka. Namun, sejak pertengahan abad ke-20, ada sarjana Barat mau berpikir jernih meneropong dunia Islam.

 Barat yang angkuh karena merasa roda peradabannya di atas, tak bisa diharapkan menolong kita. 

 Ada tiga nama, sebenarnya masih ada yang lain, yang perlu disebut dalam artikel ini: Wilfred C Smith (Kanada), Karen Armstrong (Inggris), dan teolog Hans Kung (Swiss). Sarjana Barat yang menjadi Muslim tak perlu dibicarakan di sini, jumlahnya semakin banyak.

Wilfred C Smith (1916-2000), pakar perbandingan agama dan pendiri Studi Islam di Universitas McGill, Kanada. Karya tulisnya yang banyak dikutip di antaranya Islam in Modern History (Princeton: Princeton University Press, 1957).

Kita baca pandangannya dalam buku itu, “Kita akan berpendapat, sebuah Islam yang sehat, berkembang, tidak saja penting bagi umat Muslim, tetapi juga untuk dunia seluruhnya sekarang ini. Sebagian politisi dan pemimpin Barat khususnya, terlihat buta terhadap masalah ini.” (hlm 304).

Menurut Smith, “Kelemahan mendasar dari keduanya [peradaban Barat dan agama Kristen] adalah ketidakmampuan mereka mengakui bahwa mereka berbagi planet ini bukan dengan pihak yang lebih rendah, tetapi dengan pihak yang sederajat. Kalau peradaban Barat secara intelektual dan sosial, politik, dan ekonomi, serta gereja Kristen secara teologis tidak mau belajar memperlakukan pihak orang lain dengan penuh hormat, keduanya pada gilirannya akan gagal berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya di abad ke-20.” (hlm 305).

Karen Armstrong (1944—) menguatkan pandangan Smith, “Realitas menunjukkan, Islam dan Barat berbagi tradisi yang sama. Sejak masa Nabi Muhammad, umat Muslim mengakui ini, tetapi Barat tidak bisa menerimanya. (Lih Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet. New York: Harper Collins, 1993, hlm. 266).

 Akibat sikap Barat yang angkuh, tulis Armstrong, “Sebagian umat Muslim sekarang mulai menentang kebudayaan ahli kitab, yang telah menghina dan merendahkan mereka.

 Akibat sikap Barat yang angkuh, tulis Armstrong, “Sebagian umat Muslim sekarang mulai menentang kebudayaan ahli kitab, yang telah menghina dan merendahkan mereka. Mereka bahkan mulai mengislamkan kebencian baru mereka itu…Jika Muslim memang dipandang perlu memahami tradisi dan lembaga-lembaga Barat kita secara mendalam sekarang ini, kita di Barat perlu pula membebaskan diri kita sendiri dari sikap prasangka kuno kita.”

“Barangkali langkah awal untuk berangkat adalah dari tokoh Muhammad: seorang manusia yang kompleks, penuh semangat yang terkadang melakukan hal-hal yang sukar kita terima, tetapi memiliki kecerdasan kreatif yang luar biasa [genius] untuk sebuah ketertiban yang mendalam. Mendirikan agama dan tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang–meskipun itu mitos Barat–dan yang namanya ‘Islam’ itu berarti damai dan rukun.” (Ibid.).

Adanya Tragedi 11 September 2001, sebagaimana disinggung dalam Resonansi sebelum ini, orang Barat bersumbu pendek langsung menuduh teror itu sesuai ajaran Islam, padahal pelakunya segelintir manusia  putus asa disertai mentalitas kalah. Tuduhan ini jahat.

Teolog Hans Kung (1928—-) memberikan pandangannya terkait tragedi itu, “Bagi agama Kristen dan bagi agama Islam, ‘tidak ada agama atau sistem etis yang harus pernah dikutuk karena kesalahan dan penyimpangan moral dari segelintir pengikutnya. Jika saya, sebagai seorang Kristen, misalnya, tidak ingin iman saya dihukum oleh perbuatan pelaku Perang Salib atau inkuisisi, saya harus sangat berhati-hati untuk tidak menghukum iman orang lain disebabkan perbuatan sejumlah teroris yang mungkin berbuat atas nama [iman] itu’.” (Lih. Hans Kung, Islam, Past, Present & Future, terj dari bahasa Jerman oleh John Bowden. Oxford: Oneworld Publications, 2009, hlm 658).

Seperti ditegaskan di alinea terakhir Resonansi I, kemanusiaan itu tunggal dan barat, timur, utara, selatan hanyalah dinding artifisial karena semuanya milik Allah, maka hubungan Islam dan Barat harus dibaca dalam perspektif kesemestaan Ilahiah ini.

Bait puisi penyair Inggris Rudyard Kipling (1865-1936) yang biasa dikutip dua baris awal saja menyatakan, “…East is East, and West is West, and never The twain shall meet…” (Timur adalah Timur, dan Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bertemu).

Nuansa rasisme terasa di dalamnya, sekalipun mungkin maksudnya bukan itu. Terlepas tafsiran kita terhadap Kipling, keangkuhan karena batas lokasi geografi, agama, ras, etnisitas, dan warisan sejarah harus ditumbangkan sekali dan untuk selama-lamanya.

Pengikut Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad sebagai pewaris Nabi Ibrahim dan pengikut pendiri agama besar lainnya mesti bergandeng tangan menuju cita-cita mulai ini: kemanusiaan adalah tunggal. Planet bumi buat semua. Siapa pun tak berhak memonopolinya!

https://www.republika.id/posts/15568/sikap-saling-memahami-antara-islam-dan-barat-v

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat IV

Makna terdalam dari ayat 40 surat al-Hajj itu, tak seorang pun punya hak menghalangi pihak lain untuk menjalankan ibadah dan ritual keagamaan menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

Karena itu, tindakan pengrusakan tempat-tempat ibadah dari agama yang beragam, sama artinya dengan pengkhianatan terhadap ketentuan Allah dalam Alquran.

Mufasir Hamka, mengulas makna ayat 40 surat al-Hajj seperti telah dikutip dalam Resonansi lalu, berikut ini: “Sebab yang dapat seruan dalam ayat ini ialah kaum Muslimin, maka dijelaskanlah bahwa pertahanan ini bukan semata-mata buat mempertahankan masjid-masjid tempat orang Islam bersembahyang. Bahkan juga untuk mempertahankan biara-biara (klooster) yang di sana para pendeta laki-laki atau pendeta perempuan mengasingkan diri ada yang bertahun-tahun, ada yang seumur hidup.”

“Demikian juga gereja yang didatangi orang Kristen yang taat buat mendengar khutbah keagamaan, dari pendeta-pendeta mereka tiap-tiap hari Ahad. Demikian juga tempat beribadat orang Yahudi yang mereka namai Tabermacle. Di sana, mereka berkumpul mengulangi-ulangi ajaran kitab Taurat tiap hari Sabtu. Di belakang itu baru disebut masjid.” (Lih Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XVII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, hlm 175).

Karena itu, tindakan pengrusakan tempat-tempat ibadah dari agama yang beragam, sama artinya dengan pengkhianatan terhadap ketentuan Allah dalam Alquran.

 Ketentuan Alquran terang benderang dalam masalah tempat ibadah ini tetapi segelintir orang yang mengaku Muslim tidak mau hirau dengan ayat itu. Pengrusakan masih saja terjadi. Tidak jarang disertai teriakan Allahu Akbar!

Ini bagian dari mentalitas paranoid (perasaan tidak aman) dari orang yang sakit jiwa. Jiwa yang tidak sehat ini, bahkan dicarikan dalil agama untuk membenarkannya.

Memang sulit menyadarkan anggota umat lebih arif, dewasa, dan percaya diri ketika posisi sejarah mereka masih berada di pinggir peradaban. Mengidap mentalitas kalah menjadi salah satu sebab kadar iman emosional sering mengalahkan kekuatan akal sehat.

Situasi semacam ini,diperparah lagi kondisi ekonomi yang labil. Mereka mudah sekali menjadi mangsa para demagog (penghasut) berbuat makar atas nama agama. Fenomena ISIS, Boko Haram, dan gerakan teror yang melanda sebagian negara harus dibaca dalam perspektif ini.

Memang sulit menyadarkan anggota umat lebih arif, dewasa, dan percaya diri ketika posisi sejarah mereka masih berada di pinggir peradaban.

 Sementara itu, pihak Barat sering menangguk di air keruh ini untuk tujuan-tujuan politik hegemoni mereka. Dukungan Amerika, misalnya, terhadap serangan brutal militer Arab Saudi atas Yaman yang miskin adalah bagian tak terpisahkan dari kepentingan politik global dari negara adikuasa itu.

Dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika ke-46, apakah politik luar negeri Amerika akan bersifat lebih arif, longgar, dan tidak semau gue lagi? Harus kita tunggu dulu.

Adalah Presiden George W Bush dulu yang menyamakan Islam dengan terorisme setelah dua menara kembar di Pusat Perdagangan Manhattan, New York, pada 11 September 2001 dihancurkan kaum teroris Arab dengan membajak empat pesawat jet penumpang, lalu dibenturkan dengan menara itu.

Sejak itu, perang terhadap terorisme telah menjadi agenda besar beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.

Akibat perbuatan jahat sekelompok kecil teroris itu, pihak Barat dengan semena-mena kemudian menjadikan Islam sebagai agama tertuduh, sumber keonaran global. Agama jahat, antikemanusiaan, dan 1.001 bentuk cacian lain terhadap Islam.

Akibat perbuatan jahat sekelompok kecil teroris itu, pihak Barat dengan semena-mena kemudian menjadikan Islam sebagai agama tertuduh, sumber keonaran global. 

 Sekalipun sebagian besar anggota teroris yang berjumlah 19 itu adalah warga Saudi, Amerika tetap saja tidak menghukum Saudi. Justru yang menjadi sasaran tempur Barat pimpinan Amerika adalah Afghanistan yang dikatakan sebagai pusat terorisme dunia karena tokoh Alqaidah, Usamah bin Ladin, warga Saudi dan mantan sahabat Amerika, menjadikan negara miskin terbelakang itu sebagai pusat gerakan teror.

 Afghanistan hancur lebur, kemudian disusul kehancuran Irak di era Saddam Husein yang dituduh Amerika sebagai negara yang telah menggunakan senjata pemusnah massal-WMD (weapons of mass destruction) selama Perang Irak-Iran (1980-1988).

Setelah diteliti, tuduhan Amerika ini sama sekali tidak terbukti, tetapi Irak menjadi lumpuh total dan Presiden Saddam Hussein yang otoritarian itu akhirnya dihukum gantung pada 30 Desember 2006. Suriah juga hancur akibat perang saudara dengan campur tangan negara-negara lain.

Dengan drama dan tragedi yang menimpa beberapa bangsa berpenduduk mayoritas Muslim itu, Barat dengan mudah saja mengaitkannya dengan Islam sebagai penyebab utamanya.

Maka, pertanyaan kuncinya kemudian, bagaimana selanjutnya hubungan Islam dan Barat, apakah dibiarkan semakin memburuk atau ada kemungkinan dicarikan solusi untuk saling memahami? Seri kelima Resonansi ini akan mencoba menjawabnya.

https://www.republika.co.id/berita/qqr7eg8725000/sikap-saling-memahami-antara-islam-dan-barat-iv