Tag Archive for: ahmad syafii maarif

Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa: MAARIF Institute Gelar Rangkaian Peringatan Bulan Buya Syafii Maarif 2026

JAKARTA, 7 Mei 2026 – Mengenang sosok guru bangsa yang menjadi kompas moral Indonesia, MAARIF Institute kembali menyelenggarakan program khusus “Bulan Buya Syafii” sepanjang Mei hingga Juni 2026. Mengusung tema besar “Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa,” rangkaian kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi untuk melacak kembali jejak kebudayaan, spiritualitas, dan pemikiran Ahmad Syafii Maarif di tengah tantangan keadaban publik saat ini.

Direktur MAARIF Institute, Andar Nubowo menyampaikan bahwa agenda ini bukan sekadar seremoni peringatan hari lahir (31 Mei) dan wafatnya (27 Mei) Buya Syafii, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menghidupkan kembali arus pencerahan yang pernah digelorakan oleh beliau.

“Kami mengundang seluruh elemen bangsa—akademisi, praktisi pendidikan, aktivis, hingga generasi muda—untuk hadir dan terlibat aktif. Ini adalah ziarah pemikiran guna menemukan kembali kompas keadaban kita yang kian meredup,” ujarnya Andar.

Rangkaian Kegiatan di Tiga Kota

Bekerja sama dengan Kiniko Art dan Talago Buni, Bulan Buya Syafii 2026 akan hadir dengan berbagai wajah kegiatan di tiga kota utama:

  1. Sumatera Barat: Menghadirkan “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau”, sebuah pertautan antara tradisi tutur dan gagasan kebangsaan.

  2. Yogyakarta: Fokus pada aspek estetika dan literasi melalui “Pameran Seni Rupa: Suluh Bangsa” dan peluncuran buku terbaru.

  3. Jakarta: Menjadi pusat diskusi melalui “Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif”, kunjungan ke MAARIF House, dan Orasi Kebudayaan.

Panggilan untuk Pemikir Muda: Call for Submission

Salah satu agenda utama dalam rangkaian ini adalah Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif (ASM) ke-5. MAARIF Institute membuka kesempatan seluas-luasnya bagi publik untuk mengirimkan esai terbaiknya dengan tema:

“Pendidikan, Ekologi, dan Keadaban Publik: Menjawab Krisis Kemanusiaan melalui Reaktualisasi Gagasan Kebudayaan Buya Syafii Maarif.”

Terdapat delapan sub-tema menarik yang bisa dieksplorasi, mulai dari transformasi pendidikan, ekologi, politik internasional, hingga integrasi kepemimpinan inklusif bagi perempuan dan pemuda.

Informasi Penting Pengiriman Esai:

  • Deadline Pendaftaran: 31 Mei 2026

  • Review Esai: 1 – 4 Juni 2026

  • Pengumuman Seleksi: 5 Juni 2026

  • Pelaksanaan Tadarus ASM: 18 – 19 Juni 2026

  • Benefit: Esai yang terpilih akan diterbitkan dalam Jurnal MAARIF dan dibukukan.

Cara Berpartisipasi

Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi dalam pengiriman esai, pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan resmi: https://maarinstitute.org/tadarus-asm/.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal acara di setiap kota dan detail teknis lainnya, silakan hubungi narahubung kami di:

  • 0812-8236-8830 (Fithri)

  • 0852-7382-3090 (Ananul)

  • Website: maarifinstitute.org

Mari bersama-sama merawat api pemikiran Buya Syafii demi masa depan Indonesia yang lebih beradab dan berperikemanusiaan.

PENERIMA MAARIF AWARD 2022 CEGAH POLARISASI DAN PERKUAT KOHESI SOSIAL-EKONOMI

Jakarta, 17 Desember 2022 – MAARIF Institute kembali menggelar Penganugerahan MAARIF Award di Grand Studio Metro TV, Sabtu, 17 Desember 2022. Penyelenggaraan tahun ini merupakan pemberian penghargaan ke-9 sejak diberikan pertama kali tahun 2007.

Tujuan award ini mencari figur para pejuang tangguh di tingkat akar rumput, baik individu atau institusi yang memiliki komitmen perjuangan dan keberpihakan terhadap isu-isu kemanusiaan, kelompok marjinal, minoritas, toleransi, dan penguatan kapasitas kepemimpinan lokal. Mereka merupakan aktivis pelopor dan penggerak proses perubahan sosial yang memiliki pemikiran inklusif dan aksi kemanusiaan sebagaimana perjuangan Buya Syafii Maarif. Almarhum dikenal luas sebagai guru bangsa yang lantang membela pluralisme, keadilan sosial, dan mengkampanyekan koeksistensi antar kelompok yang berbeda.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali mengatakan bahwa MAARIF Award bertujuan untuk mengangkat model-model keteladanan dan kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai-nilai kebinekaan, anti kekerasan, dan anti diskriminasi. Kegiatan ini berikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan di tingkat akar rumput.

“MAARIF Award dianugerahkan kepada individu atau lembaga yang kiprahnya dalam melembagakan nilai-nilai kebinekaan sudah teruji konsistensinya dan eksistensinya diterima oleh ragam pihak masyarakat. Proses penetapan peraih penghargaan MAARIF Award 2022 ini, menurutnya, tak berlangsung singkat. Dewan juri MAARIF Award 2022 melakukan proses persidangan dan investigasi yang ketat”, ujar Rohim.
Rikard Bagun, salah satu Dewan Juri yang juga Dewan Pengawas MAARIF Institute, menjelaskan bahwa nama-nama yang lolos untuk menerima MAARIF Award tahun ini telah melewati tahap seleksi administratif, kemudian dipilih oleh Dewan Juri untuk diobservasi dan diinvestigasi secara empirik di lapangan/daerah oleh Tim MAARIF Award 2022 untuk memastikan kelayakannya.

“Calon penerima penghargaan adalah pihak yang mencerminkan pemikiran Buya Syafii tentang kemanusiaan, keindonesiaan, dan kebinekaan. Kami lebih fokus mencari calon penerima anugerah ke daerah, orang yang belum pernah mendapat penghargaan”, ungkap Rikard.

Setelah melalui proses pencarian dan penjaringan yang cukup panjang, MAARIF Award 2022 ini telah menemukan figur, baik individu maupun institusi, yang dapat menjadi role model dalam membangun kohesi sosial dan membangun optimisme ditengah ancaman polarisasi politik dan resesi ekonomi global.

Dewan Juri telah memutuskan untuk memberikan MAARIF Award 2022 kepada dr. Athaillah A Latief, Sp.OG. Ia merupakan tokoh Muhammadiyah yang berperan penting dalam memperjuangkan kemajemukan dan nilai-nilai toleransi di Bireun, Aceh, melalui pendidikan dari berbagai jenjang, pemberdayaan ekonomi masyarakat, advokasi pendirian rumah ibadah, pendampingan kesehatan, dan pencegahan aborsi. Aksi kriminal sekelompok warga terhadap pendirian mesjid yang telah mendapat IMB di Samalanga tidak menyurutkan kegigihan dr. Athoillah. Ia setia menempuh perlawanan secara konstitusional, tidak menganjurkan cara-cara kekerasan.

Kedua, award diberikan kepada Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Manggarai Barat. Sebuah lembaga kesehatan yang diinisiasi bersama masyarakat sipil dan pihak pemerintah melakukan kerja kemanusiaan melalui program rumah tunggu bersalin. BPKD berupaya mengurangi kematian ibu dan anak baru lahir di Manggarai, yang selama ini menjadi problem yang sangat tinggi.
Ketiga, Inkubator Bisnis (INBIS) Permata Bunda Bontang, merupakan unit usaha dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Permata Bunda Bontang Kalimatan Timur. Sejak Tahun 2013, program kewirausahaan berkelanjutan bagi ABK telah memberi manfaat kepada 11.460 orang di Bontang terhitung sampai tahun 2021.

Ditemui di sela-sela penganugerahan MAARIF Award, dr. Athaillah menyampaikan terimakasih karena MAARIF Institute telah mengapresiasi kerja-kerja kemanusiaan dan perjuangannya menegakkan hak konstitusi umat beragama di Bireun. Saya memaknai apresiasi dan penghargaan ini bukanlah sebagai sebuah kebanggaan yang lebih, tapi memaknainya sebagai satu kelanjutan amanah baru untuk melanjutkan kerja-kerja keIslaman dan kemanusiaan yang tidak pernah boleh berhenti sampai akhir hayat”, ungkapnya.

Para penerima MAARIF Award ini adalah orang-orang yang tidak hanya berkomitmen pada keragaman, tetapi juga mampu memajukan kemandirian warga negara untuk meningkatkan kualitas hidup dan memuliakan martabat manusia.
Malam Penganugerahan MAARIF Award 2022 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Ketua Komisi Yudisial Mukti Fajar Nur Dewanta, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Wakil Menteri ATR/BPN Raja Juli Antoni, Ketua Yayasan Ahmad Syafii Maarif Rizal Sukma, Clara Joewono, Suyoto, Rikard Bagun, Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute Abdurrohim Ghazali dan sejumlah tokoh lainnya.

MAARIF Award 2022: Mencari Orang Biasa dengan Karya Kemanusiaan Luar Biasa

Jakarta, 3 Agustus 2022. Tahun 2022 mesti dimaknai sebagai tahun pemulihan dalam berbagai sektor. Hal ini didasarkan pada situasi global yang melanda dunia yakni pendemic virus Severe Acute Repiratory Coronavirus-2 (SAR-COV-2) yang menyebabkan penyakit Corona Viruses Disease-19 atau lebih dikenal dengan Covid-19. Hampir semua negara terdampak, dan tidak semua mampu menghadapinya dengan baik. Seluruh daya upaya digelar untuk melawan pandemi ini hingga kini, termasuk di Indonesia. Di tengah upaya tersebut, situasi semakin diperparah dengan banyaknya misinformasi, disinformasi, dan kabar bohong  yang menyeruak, termasuk di dalamnya pemikiran irasional dan cenderung fatalis dalam merespon bencana wabah ini dalam perspektif keagamaan masing-masing.

Banyaknya misinformasi, disinformasi, dan kabar bohong  ini tak jarang juga menyentuh isu primordial masyarakat seperti isu agama, ras, ormas keagamaan dan suku. Bangunan persaudaraan antaranak bangsa turut terkoyak karena banyaknya kabar bohong/hoak.  Kegaduhan ini mesti segera diakhiri dengan penguatan persatuan bangsa di atas kepentinagan apa pun. Pandemi Covid-19 mestinya menjadi momentum untuk kita berbenah diri dan membuat lompatan besar dalam urusan pengelolaan kesehatan, kesejahteraan masyarakat, teknologi, dan lain-lain.

Di tengah persoalan besar tersebut, kehadiran para pemimpin lokal yang memperjuangkan nilai-nilai keindonesiaan dan kemanusiaan ibarat oase yang menyuntikkan harapan baru (new hope) dan menumbuhkan model-model alternatif (role models) untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat sipil dalam upaya mencegah terjadinya perpecahan dan sekaligus mampu menjembatani hubungan antar-agama di kalangan masyarakat akar rumput. Mereka merupakan aktivis pelopor dan penggerak proses perubahan sosial di tingkat akar rumput dengan komitmen tinggi terhadap pluralisme, moderasi, koeksistensi, dan keadilan sosial.

Setelah terlaksana dengan baik pada 2020, MAARIF Award kembali digelar tahun 2022 ini. MAARIF Award adalah program penghargaan dua tahunan yang diselenggarakan MAARIF Institute sejak tahun 2007. Penghargaan ini diberikan untuk mengangkat model-model keteladanan dan kepemimpinan lokal yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai kebinekaan dan Pancasila yakni spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Kehadiran award pada tahun ini memiliki makna tersendiri ketika bangsa kita tengah dihadapkan pada berbagai tantangan: bangkit dari pandemi Covid-19, menjaga keutuhan anak bangsa dari ancaman perpecahan pasca dan menjelang tahun politik, menjaga kewarasan publik di tengah gelombang informasi –terutama pemanfaatan media sosial– yang tidak selalu konstruktif, dan tantangan-tantangan lain seperti intoleransi, radikalisme, perundungan, dan kekerasan seksual. “Penyelenggaraan award tahun ini diharapkan mampu menemukan sosok, baik individu maupun institusi, yang bisa menjadi teladan sekaligus panutan dalam membangun kohesi sosial di tengah ancaman perpecahan yang kini membayangi masyarakat Indonesia, dan mampu membangun optimisme di tengah keterpurukan sosial-ekonomi akibat pandemi,” papar Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd Rohim Ghazali.

MAARIF Award kali ini telah memasuki penyelenggaraan yang kesembilan, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2007, 2008, 2010, 2012, 2014, 2016, 2018 dan 2020. Dari delapan kali penyelenggaraan itu, terdapat empat belas individu pejuang kemanusiaan di tingkat lokal dari pelosok Nusantara dan sekarang di antaranya sudah menjadi tokoh nasional: Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty (Ambon), Arianto Sangaji (Poso), Cicilia Yuliani Hendayani (Blitar), TGH. Hasanain Juaini (Lombok Barat), Tafsir (Semarang), Romo Vincentius Kirjito (Magelang), Ali Al Habsyi (Martapura), Ahmad Bahruddin (Salatiga), Romo Carolus (Cilacap), Masril Koto (Padang), Budiman Maliki (Poso), Rudi Fofid (Ambon), Abdul Rasyid Wahab (Sikka, NTT), dan Ibnu Kharish atau Ustadz Ahong (Tangerang Selatan-Banten); serta dua institusi: Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (Medan) dan Mosintuwu Institute (Poso).

Di tiap penyelenggaraan MAARIF Award, komposisi Dewan Juri selalu beragam dan berubah. Hal ini semata ditujukan untuk memberikan kepastian obyektifitas dalam menilai calon penerima MAARIF Award. Untuk tahun 2022 ini, Dewan Juri terdiri atas Clara Joewono, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Rikard Bagun, Gaundensius Suhardi dan Ahmad Bahruddin.

Para calon penerima MAARIF Award akan dinilai dari kerja-kerja kemanusiaan yang dipeloporinya untuk publik dan berpengaruh secara positif dalam lingkup yang lebih luas;  kemampuannya mendorong partisipasi warga untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat; kemampuannya menjembatani perbedaan dan kebinekaan di tengah masyarakat; peran aktifnya dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan akses pendidikan, kesehatan, pembedayaan ekonomi, pemeliharaan lingkungan, dan rekonsiliasi konflik demi kedamaian dan kesejahteraan hidup masyarakat. “Penerima MAARIF Award haruslah orang-orang yang tak hanya memiliki komitmen pada kebinekaan, tapi juga mampu mendorong kemandirian warga untuk peningkatan kualitas hidup serta pemuliaan harkat dan martabat manusia,” terang Clara Joewono Dewan Juri MAARIF Award 2022.

Segenap masyarakat bisa turut andil  dalam program ini dengan cara merekomendasian atau mengajukan nama-nama yang dianggap layak untuk mendapatkan MAARIF Award. Caranya dengan mengisi formulir pencalonan yang bisa akses di https://maarifinstitute.org/about-maarif-award/. Pengisian form pencalonan diterima selambatnya pada 15 September 2022.

Bom Atom dan Kemerdekaan Indonesia

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan muli

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Bulan Agustus, 76 tahun silam adalah akhir Perang Dunia (PD) II, yang didahului ledakan bom atom.

Sebenarnya, ada perbedaan pendapat yang tajam antara panglima tertinggi sekutu di Eropa, Jenderal Dwight D Eisenhower bersama beberapa perwira tinggi tentara AS dan Presiden Harry S Truman, dalam menentukan sikap terhadap Jepang untuk mengakhiri perang pada Agustus 1945.

Bagi Truman, Jepang harus segera dilumpuhkan dengan bom atom yang kemudian dijatuhkan pada 6 Agustus 1945 di Hiroshima dan 9 Agustus 1945 disusul ledakan kedua di Nagasaki. Dua kota itu luluh berantakan, meninggalkan abu radio aktif yang sangat berbahaya.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Karena yang berkuasa Truman, usul Eisenhower dan koleganya tak berlaku, padahal didasarkan kajian dimedan perang yang akurat. Jepang waktu itu sudah kehabisan napas untuk meneruskan perang dunia yang telah membunuh manusia 62.537.400, militer dan sipil.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Angka kematian tertinggi diderita Cina sebanyak 10 juta: sipil 7 juta, sedangkan militer 3 juta. Karena tulisan ini bukan untuk mengulas PD II, kita cukupkan dengan menuliskan angka-angka korban yang dibatasi pada empat negara itu saja.

Apa kaitannya antara bom atom dan proklamasi kemerdekaan Indonesia? Bahwa Indonesia pasti merdeka pada suatu saat yang tidak terlalu lama, sudah diperkirakan Bung Hatta dalam pidato pembelaannya di depan pengadilan Den Haag pada 28 Maret 1928.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Maka itu, ledakan bom atom di Jepang seperti disebut di atas, hanyalah mempercepat proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, yang memang sudah dirintis sejak abad ke-19 berupa perang-perang sporadis, yang dilancarkan para patriot nusantara.

Perjuangan kemerdekaan itu semakin terorganisasi dengan baik pada abad ke-20, yang dipelopori pergerakan nasional Indonesia.

Setelah penjajah Belanda diusir secara hina tanpa perlawanan oleh pasukan Jepang pada Maret 1942, Indonesia untuk 3,5 tahun ke depan punya bos baru: si mata sipit yang tidak kurang kejamnya terhadap rakyat di kepulauan ini.

Ingat, romusha (pengiriman puluhan ribu pemuda dari Jawa untuk kerja paksa di luar Jawa) dimulai pada 1943 oleh penguasa Jepang. Seusai perang, hanya sebagian kecil pemuda kita itu yang selamat kembali ke kampung halamannya.

Sejumlah besar telah hilang selama kerja paksa itu dalam keadaan sangat kurus kering. Juga praktik iyanfu (gadis-gadis sejumlah negara, termasuk Indonesia, dijadikan perbudakan seks oleh tentara pendudukan Jepang) sampai hari ini belum terbongkar seluruhnya.

Tentara mata sipit ini sungguh tak punya rasa kemanusiaan sama sekali saat memerkosa perempuan negeri taklukannya. Sisa mantan iyanfu ini sekarang berusia sangat lanjut, sebagian masih sempat menuturkan penderitaannya sebagai budak seks tentara Jepang itu.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia

Sayang, Pemerintah Jepang dan Indonesia sampai hari ini tak serius mengurus perempuan bernasib sangat malang ini. Nasib rakyat terjajah memang sangat memelas, bergerak dari penderitaan satu ke penderitaan lain dalam mata rantai yang panjang.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia. Sekalipun Jepang sudah kalah, proses deklarasi kemerdekaan Indonesia tidak mulus. Terjadi pertentangan politik domestik antara golongan pemuda dan golongan tua Sukarno-Hatta.

Pemuda menilai, golongan tua tidak revolusioner untuk segera menyatakan kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok berupa penculikan golongan pemuda terhadap Sukarno-Hatta pada pertengahan Agustus 1945 adalah bagian menyatu dengan derap revolusi Indonesia, yang kadang-kadang tidak terkendali itu.

Bentakan Sukarno terhadap ancaman pemuda Wikana sebelum penculikan adalah bukti gesekan tajam antara dua pendapat berbeda itu. Golongan pemuda memaksa Bung Karno segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Inilah kesaksian Bung Hatta: Mendengar ancaman itu Sukarno naik darah, menuju pada Wikana sambil menunjukkan lehernya dan berkata: “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Bentakan ini membuat Wikana terperanjat: “Maksud kami bukan untuk membunuh Bung…” (Lih. Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, hlm 445).

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Harga sebuah kemerdekaan itu sungguh mahal. Indonesia telah menebusnya dengan nyawa, kehormatan, dan derita rakyat yang meninggalkan luka sangat dalam. Saya tidak tahu, apakah ledakan bom atom itu seimbang dengan kekejaman Jepang terhadap rakyat jajahannya? Allahu a’lam!

Sekalipun mungkin banyak pemuja Jepang di negeri ini, kelakuan biadab tentaranya saat PD II tidak boleh dilupakan.

Sikap Saling Memahami antara Islam dan Barat (3)

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat.

Oleh sebab itu, jangan cepat percaya kepada penguasa mana pun, sekalipun mendapat pembenaran dan dukungan dari lembaga-lembaga keagamaan. Mungkin boleh saya katakan dalam kalimat pendek bahwa dalam istana yang sangat mewah itu fenomena gundik, intrik, dan mistik bukan rahasia lagi.

Ironisnya, dinding istana ini juga dihiasi oleh ayat-ayat Alquran untuk menunjukkan bahwa pemiliknya adalah Muslim. Maka semakin jelaslah oleh puan dan tuan bahwa Islam telah lama jadi mainan penguasa. Sistem model ini pulalah yang mau dihidupkan lagi di era sekarang oleh kelompok yang buta sejarah.

Menurut catatan Akbar Ahmed, semua sultan Turki Usmani yang perkasa itu menghabiskan waktunya di lingkungan pergundikan yang penghuninya bisa melebihi 1.000 perempuan, dijaga oleh kasim (lelaki yang dikebiri, eunuchs) berkulit hitam yang punya masjid tersendiri. Para gundik muda usia di Istana Topkapi itu didatangkan dari Cina, Maroko, Eropa, dan Persi (hlm. 74-75).

Umumnya berasal dari keluarga terhormat. Mereka mau mengadu nasib ke sana dengan sebuah mimpi siapa tahu di antara mereka ada yang akan jadi ibu sultan Imperium Turki Usmani berikutnya sebagai “one of the most powerful men on earth” (salah seorang yang paling berkuasa di muka bumi), tulis Akbar Ahmed pada hlm. 75.

“Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat dalam rentangan waktu berabad-abad”

Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat dalam rentangan waktu berabad-abad. Ternyata fakta sejarah atau tafsiran terhadap fakta sejarah yang kemudian mengendap dalam ingatan kolektif manusia terus saja dipelihara. Para sejarawan punya minat besar dalam pelestarian kejadian sejarah ini.

Semua bangsa melakukan cara serupa ini, tidak peduli apa pun agama atau ideologi politiknya, untuk tujuan baik atau pun tujuan buruk. Sejarah pergundikan juga tidak luput dari perhatian penulis sejarah.

Sekarang kita beralih ke masalah yang lebih serius dan abstrak: teologi. Pihak Kristen dan pihak Muslim sama-sama terlibat dalam “perang” teologi ini. Sampai abad ke-21 ini hanyalah dalam jumlah yang sangat terbatas intelektual dan umat Kristen yang bersedia mengakui bahwa Muhammad itu seorang nabi yang mendapat wahyu dari Allah, sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya. Sebaliknya bagi setiap Muslim beriman kepada para nabi dan para rasul sebelum Muhammad punya dasar dan pijakan teologi yang sangat kuat.

“Inti pesan risalah para nabi dan rasul itu sebenarnya adalah tentang keesaan dan kemahakuasaan Tuhan, serta kepercayaan kepada akhirat”

Ayat-ayat Alquran tentang hal itu terdapat di berbagai tempat. Kita kutip satu saja dalam surat al-Baqarah ayat 4: “Dan orang-orang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau [Muhammad] dan apa-apa yang diturunkan sebelum engkau. Dan kepada akhirat mereka yakin.” Dalam teologi Islam, risalah kenabian itu merupakan satu kesatuan, tidak boleh dipisahkan. Jika mau dibedakan, sebagian nabi dan rasul terdahulu itu hanya diutus untuk kaum tertentu.  Muhammad sebagai nabi terakhir diutus untuk seluruh manusia.

Tetapi dalam perkembangannya, berbeda dengan agama Yahudi yang tidak giat menambah pengikut, agama Kristen dan agama Islam adalah missionary religions (agama dakwah) yang berlomba-lomba menambah penganut baru. Perlombaan itu terjadi di mana-mana, khususnya di benua hitam Afrika, kedua agama ini benar-benar jor-joran memperluas pengaruh masing-masing.

Sementara di Eropa dan Amerika yang dikenal sebagai dunia Kristen, Islam pun telah mencatat pengikut-pengikut baru, baik dari penduduk asli, mau pun dari pendatang yang migrasi ke sana.

Inti pesan risalah para nabi dan rasul itu sebenarnya adalah tentang keesaan dan kemahakuasaan Tuhan, serta kepercayaan kepada akhirat. Iman seorang Muslim akan menjadi rusak jika tidak percaya kepada para nabi dan para rasul terdahulu, termasuk Nabi Musa dengan Kitab Tauratnya dan Nabi ‘Isa dengan Kitab Injilnya.

Musa dan ‘Isa dari Bani Israel, sedangkan Muhammad dari Bani Isma’il, semuanya keturunan nabi Ibrahim sebagai bapak monoteisme. Tetapi mengapa pengikut ketiga agama itu sulit sekali akur dan masih saja mencoraki hubungan Islam dan Barat sampai hari ini?

“Luka lama jangan diperlebar lagi. Maka, demi persaudaraan dan perdamaian universal, semua pihak mesti berangkat dari sebuah filosofi bahwa kemanusiaan itu tunggal”

Sekalipun tuduhan brutal Barat terhadap nabi Muhammad sudah semakin melemah, berkat kajian ilmiah dari sarjana mereka, untuk mengakuinya sebagai nabi baru penerus Musa dan ‘Isa baru merupakan riak-riak kecil. Teologi Kristen khususnya, seperti konsep trinitas, status ketuhanan Yesus, dan dosa warisan memang tidak mungkin berdamai dengan teologi Islam yang bertumpu pada tauhid. Kritik Alquran terhadap teologi serupa itu memang keras, tetapi tidak perlu saya buka di sini.

Luka lama jangan diperlebar lagi. Maka, demi persaudaraan dan perdamaian universal, semua pihak mesti berangkat dari sebuah filosofi bahwa kemanusiaan itu tunggal. Perbedaan dalam teologi tidak boleh digunakan untuk merusak filosofi agung itu.

Alquran dalam surah al-Hajj ayat 40 bukan saja mengakui tentang kemanusiaan itu tunggal, bahkan lebih jauh ditegaskan bahwa nama Tuhan itu disebut di mana-mana, tidak hanya di masjid.

Kita kutip arti ayat itu: “…dan sekiranya Allah tidak memberi kemampuan kepada manusia untuk mempertahankan dirinya terhadap satu sama lain, maka  biara-biara (shawami’), gereja-gereja (biya’), sinagog-sinagog (shalawat), dan masjid-masjid pasti akan hancur berantakan, di dalamnya nama Allah banyak disebut. Dan sungguh Allah menolong siapa yang menolongnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.”

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat (1)

Dunia Islam sampai hari ini dalam ketidakberdayaannya juga memendam dendam tak berkesudahan terhadap Barat.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. sudah memasuki ruang sejarah sekitar 1455 tahun dalam hitungan hijriah. Dalam hitungan miladiah 1411 tahun, dimulai sejak turunnya wahyu yang pertama pada 610. Penentuan permulaan tahun hijriah adalah hasil ijtihad ‘Umar bin Khattab dan ‘Ali bin Abi Thalib. Dimulai bulan September tahun 622 saat nabi berhijrah ke Madinah.

Menurut kesaksian Alquran (s. al-Hajj ayat 78) nama umat Muslim diberikan oleh nabi Ibrahim, yang juga menjadi bapak spiritual umat Yahudi dan umat Kristen (Nasrani). Peradaban Barat lebih banyak dibentuk oleh tradisi Yahudi dan tradisi Kristen (Judeo-Christian tradition), di samping oleh warisan Yunani.

Dibandingkan dengan agama Yahudi dan agama Kristen, Islam adalah pendatang baru yang selama ratusan tahun terhambat untuk memasuki pusat-pusat peradaban Barat modern. Seakan-akan Islam itu hanyalah fenomema Timur, padahal Alquran dengan jelas mengatakan bahwa Timur dan Barat adalah milik Allah (s. al-Baqarah: 115 dan 142). Atau dalam ungkapan lain, Alquran menyebut “Tuhan Timur dan Barat” (s. al- Syu’arâ ayat 28 dan al-Muzammil ayat 9).

Ketika ayat-ayat itu turun, tentu Barat yang dimaksud bukan Barat sebagai unit peradaban seperti yang kita kenal kemudian. Barat dan Timur dalam ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa milik Allah itu adalah seluruh kemestaan ini, di samping Timur sebagai tempat terbit matahari dan Barat sebagai tempat terbenamnya matahari. Tetapi saya rasa juga tidak salah kalau kita tafsirkan Barat sebagai unit peradaban yang dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan Kristen, seperti tersebut di atas.

Resistensi umat Kristen terhadap Islam demikian keras dan frontal karena dua faktor: sejarah dan teologi. Kita lihat dulu faktor sejarah. Setelah 100 tahun pasca wafatnya nabi Muhammad, Islam telah telah menjadi agama dunia, baik karena penaklukan politik-militer mau pun karena dakwah yang sangat gencar. Afrika Utara sebagai jajahan Bizantium ditaklukkan, tanah Andalusia dikuasai sampai tujuh abad.

Di antara peristiwa yang paling menyakitkan Barat adalah jatuhnya kota Konstantinopel, ibu kota Bizantium, pada 1453 ke tangan Sultan Muhammad II (1429-1481) dari dinasti Turki Usmani. Kota ini memang sudah diincar sejak era Imperium Umayyah (661-749), tetapi selalu gagal. Sultan Muhammad saat itu baru berusia 24 tahun dengan semangat ghazi (penyerangan) yang mendidih.

Merebut kota Konstantinopel bagi Sultan Muhammad bukan perkara mudah. Perlawanan pihak Bizantium dibantu relawan Yunani dan Italia terhadap pasukan Turki sengit sekali. Demikian sengitnya, sampai-sampai pernyataan Ibn Khaldun yang disampaikan jauh sebelum peristiwa itu terjadi dikutip penulis Inggris modern berikut ini: “Tidak ada kepastian kemenangan dalam perang, bahkan di saat perlengkapan dan angka kekuatan yang membawa kemenangan cukup tersedia. Kemenangan dan keunggulan dalam perang datang dari keberuntungan dan peluang. ”(Lih. Roger Crowley, 1453: The Holy War for Constantinopel and the Clash of Islam and the West. New York-Boston: Hachette Books, 2014, hlm. 203). Seakan-akan pendapat Ibn Khaldun itu sudah merupakan sebuah dalil, sebuah aksioma.

Setelah dikepung dan baku hantam selama tujuh pekan, maka baru pada 29 Mei 1453 kota itu takluk. Di mata Barat, kehilangan Konstanstinopel ini benar-benar teramat memalukan dan menyakitkan. Sebuah penghinaan yang luar biasa.

Kaisar Bizantium ke-57 dan yang terakhir, Constantine XI Dragases Palaiologos (1405-1453) adalah lawan tangguh Sultan Muhammad yang mati terbunuh dalam pertempuran dahsyat itu dalam usia 48 tahun. Di mana makamnya, sampai sekarang tidak diketahui (lih. Roger, hlm. 257).

Dendam Barat atas kejatuhan kota kebanggaan ini masih dirasakan sampai sekarang. Sebaliknya, umat Islam juga punya dendam berkepanjangan akibat penjajahan panjang Barat atas bangsa dan negara mereka, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.

Tetapi Barat tidak selalu jujur. Karena sebelum akhir abad ke-16, untuk mengutip AJ Toynbee, Barat telah memasang tali lasso ke leher dunia Muslim untuk mencekiknya. Maka hasilnya di akhir abad ke-19, hampir seluruh negeri Muslim telah berubah jadi tanah jajahan Barat, termasuk Nusantara kita. (Lih. AJ Toynbee, Civilization on Trial and the World and the West. Cleveland-New York: The World Publishing Company, 1963, hlm. 248).

Dibandingkan dengan kejatuhan Konstantinopel, penjajahan Barat atas dunia Muslim jauh lebih parah dan lebih menyakitkan. Skalanya global, sifatnya brutal dan ganas.

Dunia Muslim sampai hari ini dalam ketidakberdayaannya juga memendam dendam tak berkesudahan terhadap Barat, seperti baru saja dikatakan. Tidak jarang dendam itu dibungkus dengan jubah teologis. Tetapi apakah sifat saling dendam ini mau diteruskan sampai hari kiamat?

Akal sehat tentu akan menjawab: ”Hentikan dendam itu, dan ciptakan budaya saling memahami dan saling berbagi, demi perdamaian abadi dan persaudaraan universal umat manusia. Bukankah kemanusiaan itu tunggal adanya? Barat, Timur, Utara, Selatan hanyalah dinding-dinding artifisial dalam perspektif ayat-ayat Alquran di atas. Semuanya kepunyaan dan ciptaan Allah.”

Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

KH. Mahbub Ma’afi Ramdlan

Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali).

Pernyataan Imam Al-Ghazali di atas bukan lahir di ruang hampa, tetapi karena kegalauannya terhadap sikap para teolog (ahlul kalâm) saat itu yang acapkali mengkafirkan dan menyesatkan pihak-pihak yang dianggap berbeda secara ideologi, madzhab, aliran atau tafsir keagamaan, padahal masih sama-sama pemeluk Islam.

Sebagaimana dimaklumi bersama, istilah kafir lazim disematkan untuk mereka yang berbeda agama. Kendati demikian, beberapa pihak Islam sendiri ada yang gemar mengafirkan orang atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dari sinilah kemudian Imam al-Ghazali mewanti-wanti kepada umat Islam untuk tidak mengkafirkan kepada sesama Muslim sepanjang mereka menyakini bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Imam Al-Ghazali adalah sosok ulama besar yang hidup pada abad ke-11 M. Beliau dikenal dengan pandangan moderatnya. Banyak karya beliau yang dijadikan pegangan oleh umat Islam Indonesia, sehingga  umat Islam Indonesia mempunyai semangat moderatisme yang begitu tinggi dan mendalam.

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, perbedaan cara pandang dalam memaknai agama hendaknya jangan sampai menimbulkan sikap saling mengkafirkan dan menyesatkan. Beliau juga melancarkan kritik pedas kepada orang-orang yang terlibat dalam pengkafiran dan penyesatan semata-mata karena hasutan orang lain.

Hasut, iri dan dengki adalah penyakit hati yang sangat sulit disembuhkan dan merupakan bentuk dari kemaksiatan hati. Semua itu harus dibersihkan dari dalam hati dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT secara intens. Selama hati diliputi rasa hasut, iri dan dengki, seseorang tidak akan sampai kepada hakikat keimanan. Sebab orang beriman adalah orang yang mencintai orang lain laiknya dia mencintai dirinya sendiri. Nabi Muhammad SAW bersabda, lâ yu’minu ahadukum hattâ yuhibba li akhîhi mâ yuhibbu li nafsihî (seseorang tidaklah beriman secara sempurna kecuali dia mencintai orang lain laiknya mencintai diri sendiri), HR. Bukhari.

Karenanya, menurut Imam Al- Ghazali, adalah bodoh jika seseorang beranggapan bahwa hadd at-takfîr(batas pengkafiran) adalah manakala berbeda dengan aliran yang diikuti, baik itu aliran Asy’ariyah, Mu’tazilah, Hanbali dan lain sebagainya.

Dewasa ini, pengkafiran tehadap kelompok yang dipandang berbeda seolah-olah telah dianggap lumrah. Sikap ini muncul untuk mendiskreditkan pihak yang dianggap sebagai lawan. Padahal, menuduh seseorang kafir atau sesat sama halnya dengan menghalalkan darah dan harta orang yang bersangkutan.

Pada zaman terdahulu, aksi pengkafiran dan penyesatan telah memakan korban yang tak terhitung. Sebut saja sebagai misal, Imam Syafii pernah dituduh sesat karena dianggap sebagai pengikut Syi’ah Rafidlah, Imam Abu Hanifah dianggap sebagai pembid’ah dan kafir. Bahkan salah seorang pengikut Imam Abu Hanifah, yaitu Imam Abu Bakar Asy-Syarkhasi harus dipenjara gara-gara tuduhan sesat.

Secara teologis, aksi pengkafiran dan penyesatan jelas bertentangan dengan prinsip ketauhidan yangmenjadi dasar utama seluruh ajaran Islam. Kesaksian seorang muslim bahwa, “Tidak ada Tuhan selain Allah” mengandaikan bahwa tidak ada kebenaran mutlak kecuali kebenaran-Nya.

Di dalam Al-Quran ditegaskan, Sesungguhnya Tuhanmulah yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-Qalâm: 7).

Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, pengertian ayat ini adalah bahwa Allah SWT mengetahui dua golongan dari kalian; yang mendapat petunjuk dan yang sesat. Karena itu, manusia tidak memiliki wewenang untuk menghakimi dan mengintervensi keimanan seseorang, menganggap kelompok lain kafir, sesat atau salah. Sebab, hanya Allah-lah yang berhak memberikan label keimanan atau kekufuran kepada orang lain.

Apakah ada perbuatan yang lebih buruk dari tuduhan kafir atau sesat kepada orang lain? Pengkafiran dan penyesatan merupakan bentuk kazaliman dan harus dihentikan. Mengkafirkan dan menyesatkan orang lain karena perbedaan tafsir terhadap suatu ajaran agama sama halnya dengan membunuh orang tersebut, sebagaimana dikatakan Al-‘Alla bin Ziyad (seorang tabi’in), Tidak ada bedanya antara mengkafirkan seorang muslim dengan membunuhnya.

Sesama muslim adalah saudara. Selama masih mengatakan lâ ilâha illallâh muhammadur rasulullâh,” seseorang tidak layak disebut kafir atau sesat, karenanya darah dan hartanya tetap haram dan harus dihormati.

Pengkafiran dan penyesatan adalah hak prerogatif Allah SWT sebagaimana dijelaskan di atas. Dengan kata lain, tanpa disadari pengkafiran dan penyesatan telah menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemusyrikan. Padahal kemusyrikan adalah musuh utama kemanusiaan dan merupakan dosa paling besar.

Pengkafiran dan penyesatan akan menimbulkan iklim yang tidak sehat bagi keberislaman. Karena pengkafiran akan menimbulkan sikap saling curiga, permusuhan, kekerasan, dan lain sebagainya.

Citra Islam sebagai agama yang toleran dan anti kekerasan ternodai  oleh aksi pengkafiran. Untukmenghindarinya mutlak diperlukan adanya kearifan, kesantunan, dan kedewasaan dalam melihat perbedaan, termasuk juga perbedaan dalam memahami agama dan menafsirkan kitab suci.

Imam Al-Ghazali telah memberikan teladan baik kepada kita semua agar tidak mudah mengafirkan atau menuduh sesat orang lain yang tidak sepaham. Sebagai pengikut Imam Al- Ghazali, umat Islam Indonesia sejatinya meneladani keteladanan beliau. Yaitu keteladanan yang mengedepankan kerukunan, perdamaian dan menghormati perbedaan.

(KH Mahbub Maafi Ramdlan, pengurus MUI Pusat)

Berdamai Dengan Covid-19

Ust. Hatim Gazali

Sampai awal tahun 2021 ini, tanda-tanda berakhirnya Covid-19 di Indonesia belum juga tampak. Bahkan, jumlah kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan tajam, menembus angka 1 juta. Perharinya, ada penambahan kasus baru mencapai 10 ribu/hari. Rumah sakit penuh, tak dapat menampung kasus baru. Jumlah korban yang wafat karena Covid-19 mencapai angka di atas 25 ribu.

Vaksin memang sudah dimulai digencarkan. Presiden Jokowi menjadi orang yang pertama yang mendapat suntikan vaksin, untuk memberikan rasa aman dan percaya agar seluruh rakyat Indonesia tidak menolak divaksinasi. Pasalnya, tidak sedikit narasi yang menyatakan penolakan terhadap vaksinasi tersebut.

Sekalipun demikian, hadirnya jutaan vaksin ke Indonesia tak bisa menghentikan kecepatan laju penyebaran Covid-19 ini. Persebarannya bisa lebih cepat ketimbang proses vaksinasi. Dampaknya, ke depan, kasus baru tak seketika akan menurun, korban jiwa masih akan terus terjadi.

Lalu, bagaimana sikap kita menghadapi situasi ini? Pilihan terbaik adalah “berdamai.” “Berdamai” berarti ia mengakui dan menerima bahwa Covid-19 ini benar-benar ada, keberadaannya tak bisa disangkal. 25 ribu orang yang wafat karena dipicu oleh Covid-19 ini menjadi bukti kuat.

Untuk percaya akan keberadaan Covid-19 ini, sejatinya, tak memerlukan pembuktian sendiri melalui pengalaman langsung; menjadi korban Covid-19, baru kemudian percaya. Tidak perlu. Sama halnya, untuk percaya bahwa 14 abad yang silam diutus seorang nabi bernama Nabi Muhammad S.A.W, seorang muslim tak perlu masuk ke lorong waktu masa lampau untuk mengecek keberadaan Nabi. Buktinya sangat jelas di depan mata; Islam yang kita peluk sekarang.

Setelah menerima dan mengakui adanya Covid-19 ini, maka makna “berdamai” berikutnya adalah mengikuti protokol yang telah ditetapkan, sebagai upaya untuk menghindar menjadi korban Covid-19. Menjaga kebugaran dan imunitas tubuh, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan adalah proteksi diri yang perlu dilakukan oleh setiap rakyat Indonesia.

Memproteksi diri agar terhindar dari Covid-19 ini wajib dilakukan karena dua alasan. Pertama, menjaga jiwa (hifd al-nafs) adalah salah satu tujuan hadirnya Islam di muka bumi (maqasid al-syariah). Islam menuntut setiap muslim agar menjaga jiwanya juga raganya agar selalu sehat dan tidak sakit. Menjaga diri agar tetap bugar dan sehat ini perlu kita jadikan tujuan agar kita dapat melaksanakan ibadah dan seluruh syariat Allah.

Kedua, tidak menjadikan diri kita sebagai pembawa (career) virus ini kepada orang lain yang dapat menyebabkan orang lain mengalami dampak buruk; sakit dan mati. Surat al-Maidah ayat 32 pun menegaskan bahwa membunuh satu orang diibaratkan sama dengan membunuh seluruh manusia. Ayat tersebut jika dikaitkan dengan Covid-19, maka ketika kita terpapar Covid-19 (baik bergejala maupun tidak) maka kita harus isolasi agar tidak menularkan penyakit tersebut kepada orang lain.

****

Bagi seorang muslim, adanya Covid-19 perlu ditempatkan sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Bahwa, kuasa dan kehendak Allah melampaui kehebatan, kemajuan, kesaktian seseorang dan negara. Sama halnya dengan penyakit pada umumnya, hampir tak ada manusia yang dapat menghindarkan dirinya dari penyakit itu sendiri.

Sebagai salah satu tanda kebesaran Allah, maka adanya Covid-19 ini mestinya menjadi momentum untuk meningkatkan ketauhidan, ketakwaan dan kesabaran. Kita menjadi semakin yakin bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari kuasa Allah. Tak ada peristiwa di semesta ini tampa kuasa dan kehendak-Nya. Termasuk Covid-19 ini.

Bertakwa kepada Allah tak hanya bersangkut paut dengan jumlah ibadah yang dilakukan setiap waktu, tetapi juga bertalian dengan kehidupan sosial, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 133-135.

Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Dari ayat di atas kita menjadi tahu bahwa menjadi orang bertakkwa (muttaqin) mengandaikan kerelaan kita untuk berinfaq, membantu orang lain yang kesulitan. Ini menjadi sangat penting dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Membantu orang yang terdampak Covid-19 bisa dijadikan salah satu indikator ketakwaan kita kepada Allah.

Ayat di atas juga menggambarkan bahwa orang yang bertakwa juga orang-orang yang dapat menahan amarahnya, sehingga ketika musibah Covid-19 ini menimpa dirinya atau keluarganya, ia tidak meluapkan amarahnya kepada siapapun, apalagi kepada Allah. Musibah yang terjadi pada dirinya justru dijadikan batu uji untuk meningkatkan imannya. Kesabaran menjadi bukti kebertakwaan seseorang.

Nabi Ayyub konon diuji dengan penyakit cacar yang dideritanya dalam waktu yang cukup lama. Ada yang menyebutkan tiga tahun, tujuh tahun, dan bahkan 18 tahun. Derita penyakit yang dialami Nabi Ayyub tak menjadikan ia “lari” dari Allah, melainkan justru semakin meningkatkan takwa dan syukur kepada Allah.

Ciri lain dari takwa dalam ayat di atas adalah kerelaan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Karena kita perlu sadar bahwa tidak ada manusia yang tak luput dari perbuatan salah. Ciri lainnya adalah tidak melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri. Dalam konteks Covid-19, termasuk dalam perbuatan keji dan menzalimi diri sendiri adalah tidak mematuhi protokol Kesehatan yang ditetapkan, yang dapat menyebabkan dirinya dan orang lain menjadi korban.

***

Akhirnya, berdamai dengan Covid-19 bukan saja menerima adanya keberadaan virus ini sebagai salah satu kebesaran Allah, melainkan juga kepatuhan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sebagai orang yang beriman, pandemi Covid-19 ini justru dijadikan momentum untuk meningkatkan ketauhidan, ketakwaan dan kesabaran. Karena berdamai dengan Covid-19 dalam konteks keimanan kepada Allah berarti mengambil hikmah atas segala peristiwa yang terjadi pada kehidupan ini, termasuk pandemi Covid-19. Semoga kita dimasukkan ke dalam orang-orang yang betakwa. Amin.

Ust. Hatim Gazali, alumni Pesantren Sukorejo Situbondo, Pemimpin redaksi Islamina.id dan Ketua Umum PERSADA NUSANTARA)

PENGUMUMAN PENERIMA SUPPORT OF BEST PRACTICES ON PESANTREN’S RELIGIOUS MODERATION FROM PESANTREN LEADERS VISIT PROGRAMME

Sehubungan dengan kegiatan studi dampak pembelajaran terhadap program Impact Studies & Support of Best Practices on Pesantren’s Religious Moderation from Pesantren Leaders Visit Programme., kami telah melakukan tahapan-tahapan mulai dari mengirimkan dan meminta para alumni untuk mengisi form kuesioner online, melakukan wawancara konfirmasi melalui telepon terhadap beberapa alumni yang telah mengisi form kuesioner dan dianggap memenuhi kriteria, dan menerima beberapa esai dari para alumni.

Pada hari ini, Selasa, tanggal dua belas, bulan Januari, tahun dua ribu dua puluh satu, Dewan Juri yang bertanda tangan dibawah ini :

  1. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA.
  2. Sudarnoto Abdul Hakim, MA.
  3. Phil Syafiq Hasyim, MA.

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, mulai dari penentuan kriteria penilaian hingga pemilihan 10 nama penerima dari 34 calon yang memenuhi syarat, telah menetapkan nama-nama penerima Support of Best Practices.

Silakan unduh Berita Acara Hasil Penilaian  Dewan Juri

Peduli Guru Indonesia Bersama MAARIF Institute

“Dari 3,3 juta guru SD, SMP dan SMA di Indonesia, ada 33 persen yang statusnya tidak tetap (honorer). Banyak yang perjuangannya tidak terekspose media selama pandemi Korona. Yuk! peduli dengan guru-guru kita”

Mereka tersebar di seluruh negeri. Beberapa terekspose kisahnya di media. Status tidak tetap bukan berarti perjuangan berhenti. Dengan penghasilan tidak seberapa. Berjalan kaki atau naik sepeda motor tua. Mereka tetap mengabdi sepenuh hati.

Pak Guru Sumiasa adalah satu dari sekian banyak jumlahnya. Menjelang ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kisahnya viral di televisi dan sosial media. Selama pandemi ia berkeliling ke rumah anak muridnya. Ya Teman Baik, ia masih mengajar walau tidak punya ponsel pintar.

Teman Kita di MAARIF Institute sadar Pak Guru Sumiasa tidak sendiri. Jutaan guru perlu dibantu. Lewat campaign #PeduliGuruKita, MAARIF Institute bertanya padamu: Maukah kamu bergerak untuk membantu? MAARIF Institute mengajak, ayo sebarkan ajakan ini, gerakkan jarimu dan sampaikan ke teman-teman kamu. Gerakkan hati dengan berdonasi atas rejeki yang telah dilimpahkan pada kamu.

MAARIF Institute berdiri tidak lama setelah gerakan reformasi yang mengubah wajah negeri ini. MAARIF Institute memiliki komitmen untuk berkontribusi lewat gerakan-gerakan kebudayaan berbasis keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan. Sadar bahwa guru adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan ini, sejak tahun 2011, MAARIF Institute memusatkan perhatian pada bidang pendidikan, utamanya dalam peningkatan kapasitas dan penguatan karakter kebangsaan. Melalui lini program-program ini, sudah tak terhitung berapa banyak guru yang telah merasakan manfaatnya.

Gerakan ini adalah gerakan hati. Kontribusi kita menjadi penanda adanya kesadaran bersama bahwa banyak guru yang perlu dibantu. Bahwa Bangsa Indonesia tidak bisa dibangun di atas kebodohan dan keserakahan. Sejarah mencatat: bilamana satu generasi rusak pikiran dan karakternya, satu negeri hancur peradabannya.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”

Inilah penghormatan sekaligus buaian.

Penghormatan pada perjuangan dan berjibaku para guru.

Tapi juga buaian yang tak jarang menihilkan kesadaran akan pentingnya uluran tangan. 

Guru bukanlah super hero yang bisa melakukan segalanya. Guru bukan tukang sulap yang simsalabim lantas kebodohan sirna.

Terbangunnya peradaban dimulai dari kesadaran. Kesadaran guru untuk terus berkhidmat pantang menyerah menyiapkan benih bunga-bunga bangsa. Pantang menyerah bahkan saat di tengah pandemi korona.

Mas Menteri sudah mengambil keputusan. Tapi benarlah Teman Baik, belajar daring adalah keniscayaan berkembangnya zaman. Kita berhak tidak suka dan mengkritiknya. Tapi berpangku tangan bukanlah pilihan. Kita wajib melakukan sesuatu. Kita bantu mereka yang terdampak korona.

Kalau satu gawai plus kuota data harganya sekitar 1,8 juta. Sediakan untuk 100 guru saja, perlu 180 juta.  Ayo Teman Baik! Bersatu #PeduliGuruKita Berlomba #JadiPahlawanKebaikan. (SID)

Donasi Anda bisa disalurkan melalui link berikut ini http://bit.ly/Peduli_Guru