Jika Damai dan Kerukunan Tidak Dapat Ditemukan?

Oleh: Tubagus Aryo

Judul               : Where Do We Go Now?
Sutradara        : Nadine Labaki
Produksi          : Les Films Des Tournelles
Tanggal Rilis   : 16 Mei 2011
Durasi               : 1 Jam 37 Menit

Dalam film yang disutradarai oleh Nadine Alabaki ini, berkisah tentang perjuangan para kaum perempuan yang berupaya menjaga kerukunan masyarakat desa karena dalam sebuah desa yang terpencil ini memiliki masyarakat muslim dan kristiani yang hidup berdampingan sejak lama. Akan tetapi setelah terjadi peperangan antarumat bergama di daerah sekitar desa, mau ataupun tidak kehidupan masyarakat desa dapat tersulut juga. Di sinilah film ini menceritakan tentang bagaimana upaya para perempuan desa melakukan pencegahan demi solusi menjaga kesatuan dan kerukunan desa tercapai karena para perempuan dan anak-anaklah yang paling merasakan konsekuensinya apabila perselisihan terjadi.

Nadine Alabaki sekaligus berperan sebagai Amale dalam film ini, bersama kaum perempuan lainnya bersatu untuk menghindarkan suatu hal apa saja yang dapat menimbulkan perpecahan di desa. Semakin lama kondisi keharmonisan desa rentan menjadi peperangan, kaum perempuan yang menyadari bahaya dari situasi tersebut akhirnya memikirkan bersama ide yang dapat mengalihkan kemarahan-kemarahan yang terjadi di desa.

Ide-ide yang dicetuskan kaum perempuan  bermacam-macam, dari ide yang lumrah sampai ide yang “ekstrim” dilakukan. Di antaranya menjauhkan informasi-informasi situasi dari luar daerah desa yang sedang “panas” akibat peperangan antarumat beragama, entah itu dari koran ataupun televisi. Kemarahan kaum laki-laki tidak mereda, munculah ide lain dari kristiani yang berpura-pura dapat berbincang dengan Bunda Maria.

Tidak hanya itu, ide-ide yang sedikit anehpun dilakukan untuk membuat mengalihkan perhatian semua lelaki dari amarahnya, di antaranya yaitu dengan mendatangkan lima perempuan sensual di desa. Lima perempuan sensual tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengalihkan perhatian kaum laki-laki, tapi juga sebagai agen pencari informasi dari para laki-laki yang sudah merencanakan persiapan peperangan. Setelah diketahui letak senjata-senjata yang akan digunakan perang, bergegaslah kaum perempuan membuangnya ke tempat lain.

Di akhir film, akibat konflik yang sudah hampir memuncak, kaum perempuan tidak mempunyai pilihan lain dan melakukan ide “ekstrim” dengan saling menukar keyakinan agamanya untuk mencegah masing-masing keluarganya menyerang agama lain karena sekarang orang yang disayanginyapun adalah bagian dari agama lain.

Film ini sangat bagus untuk dinikmati oleh berbagai kalangan karena menjelaskan bahwa bagaimana persoalan sensitif yaitu konflik yang “beraroma” agama sekecil apapun dapat “memantik” hal besar terjadi, dari setiap konflik yang terjadi pasti ada korban perempuan dan anak-anak yang paling merasakan akibat negatifnya.

Seolah ingin membuat orang yang menonton agar segera tersadar bahwa damai dan kerukunan adalah hal yang sangat berharga dalam kehidupan beragama. Filmnya menyinggung konflik keberagamaan yang sangat sensitif, tidak sertamerta menjadikan penontonnya terus merasa jenuh karena film ini mempunyai komedi khas lebanon yang melengkapinya.

Jika damai dan kerukunan tidak dapat ditemukan Where Do We Go Now?

Mata Tertutup

Sebuah film karya Garin Nugroho tentang fundamentalisme agama berdasarkan kisah nyata

Penghargaan :

  1. Film Cerita Panjang Terunggul Apresiasi Film Indonesia 2012
  2. Sutradara Terunggul Apresiasi Film Indonesia 2012 – Garin Nugroho
  3. Pemeran Wanita Terunggul Apresiasi Film Indonesia 2012 – Jajang C. Noer
  4. Pemeran Pendukung Pria Terunggul Apresiasi Film Indonesia 2012 – Kukuh Riyadi
  5. Pengarah Sinematografi Terunggul Apresiasi Film Indonesia 2012 – Anggi Frisca

Festival:

  1. Rotterdam International Film Festival 2012-International Premiere
  2. Tokyo International Film Festival 2012 (Jepang)
  3. Hongkong International Film Festival (Hongkong)
  4. Jeonju International Film Festival (Korea)
  5. Asia Fukuoka International Film Festival (Jepang)
  6. Praha International Film Festival (Cheko)
  7. Warsawa Internasional Film Festival 2012 (Polandia)
  8. Dan masih banyak lagi

TRAILER MATA TERTUTUP

Galeri

Sekolah Semua Anak Bangsa

Sebuah film dokumenter karya Fajar dan Endang Tirtana tentang toleransi dan inklusivitas di Nusa Tenggara Timur

Si Anak Kampung

Sebuah film karya Damien Dematra tentang perjuangan menembus keterbatasan berdasarkan kisah hidup Syafii Maarif