Serangan Umum 1 Maret 1949

Sebenarnya SU ini juga untuk menebus perasaan hina akibat jatuhnya ibu kota negara Yogyakarta pada 19 Desember 1948 yang sangat memalukan itu.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Masih banyak peristiwa sejarah Indonesia modern yang belum tuntas dijelaskan. Salah satunya adalah SU (Serangan Umum) 1 Maret 1949, sebuah serbuan heroik besar-besaran atas ibu kota negara Yogyakarta yang menggentarkan pihak penjajah dan dunia internasional.

Saat itu Panglima Besar Sudirman dalam keadaan sakit masih sedang memimpin perang gerilya di Jawa dan Sjafruddin Prawiranegara memimpin gerilya di Sumatra. Sekalipun ibu kota negara itu sempat diduduki oleh pasukan republik hanya setengah hari, resonansinya amatlah dahsyat dalam mengobarkan semangat juang, demi kemerdekaan bangsa yang sedang dipertaruhkan.

Sebenarnya SU ini juga untuk menebus perasaan hina akibat jatuhnya ibu kota negara Yogyakarta pada 19 Desember 1948 yang sangat memalukan itu. Sejak itu timbullah tekad dari TNI untuk juga mempermalukan Belanda dengan SU itu.

Perencanaannya sudah dimulai sebelumnya dengan pengetahuan Panglima Besar Sudirman yang sedang bergerilya. SU ini memang diperkirakan tidak akan lama berlangsung karena pasukan musuh di Magelang, Solo, dan Semarang masih belum bisa ditandingi yang pasti akan memperkuat pertahanannya di Yogyakarta yang sempat jebol itu.

Tetapi setidak-tidaknya dengan SU ini dunia akan tahu bahwa TNI masih ada dan RI belum terkalahkan, sekalipun ibu kota sudah angkat bendera putih. Apalagi di Sumatra, PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) masih memegang kedaulatan negara secara sah dan para pemimpinnya tidak pernah tertangkap, berkat seni gerilya yang mereka kembangkan dengan semangat jihad yang sangat tinggi.

Sebenarnya SU ini juga untuk menebus perasaan hina akibat jatuhnya ibu kota negara Yogyakarta pada 19 Desember 1948 yang sangat memalukan itu.

Nama-nama yang terkait langsung atau tidak langsung dengan SU banyak sekali: Panglima Besar Sudirman, Kolonel TB Simatupang, Kolonel AH Nasution, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Gubernur sipil Mr KRMT Wongsonegoro, Kolonel Bambang Sugeng, Kolonel Gatot Subroto, Kolonel Wijono, Letkol Suharto, Letkol M Bachrun, Letkol Achmad Yani, Letkol Sarbini Martodihardjo, Letkol Dr Wiliater Hutagalung, Mayor Ventje Sumual, Mayor Sardjono, Mayor Kusno, Letnan Amir Murtono, Letnan Masduki, Letnan Marsudi, dan masih ada yang lain.

Letkol Suharto sebagai komandan Briagade 10/Wehrkreise III adalah pimpinan lapangan SU ini. Sekalipun sebagian besar para pelaku SU itu dari etnis Jawa, etnis Batak dan Manado telah menyatu di situ.

Artinya, semangat Sumpah Pemuda 1928 telah mempertemukan berbagai etnis itu, demi menjaga kelangsungan kemerdekaan bangsa yang terancam oleh musuh. Afiliasi agama tidak menonjol. Semuanya bahu membahu dan bersatu padu.

Mengapa harus Yogyakarta yang harus diserang? Alasannya tidak terlalu sulit untuk dikemukakan: Pertama, Yogyakarta adalah ibu kota negara yang sedang dikuasai Belanda; kedua, banyak wartawan asing berada di kota ini; ketiga, anggota delegasi UNCI (United Nations Commission for Indonesia) juga berada di kota ini.

SU adalah kejutan mendadak yang sangat mengagetkan Belanda, sekalipun setelah enam jam dapat dikuasainya kembali. Dengan SU ini, Belanda akhirnya mau berunding kembali setelah sebelumnya dengan pongah sudah merasa menang. SU telah meruntuhkan moral Belanda. Ini diketahui oleh publik dunia.

Sekalipun sebagian besar para pelaku SU itu dari etnis Jawa, etnis Batak dan Manado telah menyatu di situ.

Siapa sebenarnya inisiator SU ini? Ada yang menyebut Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan pelaksana di lapangan adalah Letkol Suharto. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa baik inisiator mau pun pelaksana SU adalah Letkol Suharto, sebuah kesimpulan yang mengada-ada.

Dalam bacaan saya, SU adalah kerja kolektif dalam keadaan sulit dengan semangat juang yang kuat untuk menebus penghinaan kolonial. Kolonel Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi III/GM III sebelumnya telah memerintahkan rencana serangan SU itu.

Dengan demikian, klaim inisitor seseorang kemudian jelas tidak punya bukti yang kuat. Karena itu harus ditolak. Tugas sejarawan adalah mendudukkan sebuah peristiwa, peran tokoh, dan sebagainya pada tempat yang tepat dan benar, berdasarkan fakta yang tersedia.

Nama yang agak jarang disebut, sekalipun seorang Pahlawan Nasional adalah Letkol Dr Wiliater Hutagalung (20 Maret 1910-29 April 2002), seorang dokter ahli paru yang turut merawat Jenderal Sudirman. Hutagalung dan keluarganya setelah turun gunung kemudian menempati pavilion rumah Pangsar Sudirman di Jalan Widoro No 10, Yogyakarta.

Semasa gerilya, Hutagalung yang menjadi penasihat Gubernur Militer III telah menyampaikan gagasan brilian yang telah disetujui oleh Jenderal Sudirman. Pertama, serangan dilakukan serentak di seluruh wilayah Divisi III yang melibatkan Wehrkreise I, II, dan III.

Kedua, mengerahkan seluruh potensi militer dan sipil di bawah Gubernur Militer III. Ketiga, mengadakan serangan terhadap satu kota besar di wilayah Divisi III. Keempat, harus berkoordinasi dengan Divisi II agar mendapatkan efek yang lebih besar. Kelima, serangan tersebut harus diketahui dunia internasional.

Dalam bacaan saya, SU adalah kerja kolektif dalam keadaan sulit dengan semangat juang yang kuat untuk menebus penghinaan kolonial.

Untuk itu perlu mendapat dukungan dari Wakil Kepala Staf Angkatan Perang guna koordinasi dengan pemancar radio AURI dan Unit PEPOLIT (Pendidikan Politik Tentara) Kementerian Pertahanan. (Lih. Wikipedia Serangan Umum 1 Maret 1949, https:id.m.wikipedia.org).

Hutagalung adalah penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng yang sekaligus menjadi atasan Letkol Suharto. Maka tidaklah salah jika orang menyimpulkan bahwa otak yang menyusun grand design SU itu adalah Letkol Dr Wiliater Hutagalung yang ikut pula dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Dengan fakta di atas, kita akan sulit menentukan peranan siapa yang terbesar dalam SU itu. Oleh sebab itu, marilah kita bersikap rendah hati dengan tidak membesar-besarkan peran tokoh yang kita sukai dan mengecilkan peran orang yang kurang kita sukai.

Prinsip ini pernah diteorikan oleh Ibn Khaldun beberapa abad yang silam. SU bukan satu-satunya serangan heroik yang dilakukan pihak Indonesia menghajar Belanda.

Jauh sebelum itu, kita juga kenal pertempuran hebat di Medan, Oktober 1945; Pertempuran November di Surabaya, 1945; pertempuran Palagan, Desember 1945; Bandung Lautan Api, April 1946; Perang Puputan Margarana Bali, Nopember 1946; Pertempuran Palembang, Januari 1947. Tetapi bahwa SU 1 Maret itu terasa lebih penting karena Yogyakarta adalah ibu kota negara yang dikuasai Belanda.

Jenderal Soedirman yang Legendaris (II)

Rakyat Jepang sangat menghormati Jenderal Soedirman sehingga patungnya dibangun di halaman kantor Kementerian Pertahanan.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Di antara prestasi kemiliterannya sebelum pertempuran Palagan, dapat pula ia dicatat sebagai komandan yang berhasil melucuti senjata pasukan Jepang dalam jumlah besar di wilayah Banyumas, tanpa harus menumpahkan darah.

Rakyat Jepang sangat menghormati Jenderal Soedirman sehingga patungnya setinggi empat meter dibangun di halaman kantor Kementerian Pertahanan negara itu. Patung ini diresmikan pada 14 Januari 2011. Ini satu-satunya patung pahlawan dari negara asing yang dibangun di Negeri Sakura itu.

Soedirman diangkat menjadi panglima besar TKR oleh Presiden Sukarno pada 18 Desember 1945, pada usia sangat belia berdasarkan prestasi gemilangnya dalam pertempuran Palagan.

Sekalipun dalam memimpin perang gerilya selama agresi Belanda kedua pada Desember 1948-Juli 1949 secara fisik dalam keadaan sakit berat yang harus ditandu prajurit Indonesia, Soedirman tak kenal menyerah.

Presiden Sukarno pernah memintanya berobat di rumah sakit, tetapi Soedirman memilih bergerilya bersama anak buahnya di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur. Kemudian pada Juli 1949, ia kembali ke Yogyakarta setelah perang usai.

Presiden Sukarno pernah memintanya berobat di rumah sakit, tetapi Soedirman memilih bergerilya bersama anak buahnya di wilayah Yogyakarta.

Penyakit paru-paru mulai terpantau pada Mei 1948. Semakin lama semakin parah. Itulah sebabnya Jenderal Soedirman tak bisa langsung memimpin pasukan untuk menumpas pemberontakan PKI di Madiun, September 1948.

Sebelum kita lanjutkan perjuangan heroik Soedirman ini, ada baiknya kita surut ke belakang dengan menambahkan keterangan tentang masa kecil sosok istimewa ini. Sekalipun telah banyak ditulis orang, ingatan kolektif kita umumnya lebih tertuju pada prestasi kemiliteran dan drama gerilyanya yang mengharukan.

Karena drama ini demikian mengesankan, kita sering melupakan perjuangan gerilya PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pimpinan Sjafruddin Prawiranegra di Sumatra, yang tidak kurang dramatisnya.

Soedirman dan Sjafruddin, dua pemimpin gerilya yang setanding, satu di Jawa yang lain di Sumatra, dalam waktu bersamaan. Dalam menghadapi sistem penjajahan, kedua tokoh bersikap sama.

Soedirman dan Sjafruddin, dua pemimpin gerilya yang setanding, satu di Jawa yang lain di Sumatra, dalam waktu bersamaan.

Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiradji dan Siyem di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sejak bayi, Soedirman diambil sebagai anak angkat oleh pamannya, R Tjokrusunarjo, asisten wedana di Rembang.

Di samping pamannya ini tak punya keturunan, ada pertimbangan lain Soediman harus dipungutnya, yaitu alasan ekonomi orang tua tokoh kita ini yang sangat sederhana. Diharapkan, Soedirman kecil tak patah di tengah jalan dalam pendidikannya.

Dengan bimbingan sang paman, Soedirman menamatkan HIS (Hollandsch Inlandsche School/SD zaman Belanda untuk anak negeri) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/Sekolah Menengah masa penjajahan dengan kata pengantar bahasa Belanda), masing-masing pada 1930 dan 1935.

Dengan latar belakang pendidikan ini, Soedirman kecil telah dikenalkan kepada sistem pendidikan Barat modern. Sampai batas tertentu, Soedirman tentu kenal kultur Belanda sebagai kultur penjajah.

Sampai batas tertentu, Soedirman tentu kenal kultur Belanda sebagai kultur penjajah.

Pengetahuan ini turut membentuk karakter Soedirman dewasa yang sangat antipenjajahan Belanda yang licik dan licin, sebagaimana akan dibicarakan saat membaca perbedaan paham antara Presiden Sukarno dan Jenderal Soedirman pada Desember 1948.

Perbedaan ini membuat Soedirman menulis surat untuk berhenti dari tentara, tetapi Presiden Sukarno menolaknya. Telah kita bicarakan, pertempuran Palagan meroketkan nama Jenderal Soedirman sebagai tokoh militer papan atas.

Umumnya, elite sipil dan militer sepakat tentang sosok Soedirman untuk dijadikan panglima besar TKR, kemudian panglima besar TNI, dengan basis TNI-AD.

Pengalaman Soedirman selama di HW dan Pemuda Muhammadiyah, di samping pendidikannya di Perguruan Taman Siswa, memperkaya dan mempertebal disiplin dan kejujuran sang jenderal.

Tentu latihan militer selama di Peta (Pembela Tanah Air) buatan Jepang itu, menjadi sangat krusial bagi Soedirman dalam mata rantai kariernya sebagai tentara-pejuang Indonesia yang fenomenal, sekalipun berasal dari pasangan orang tua rakyat kecil di perdesaan.

Bayangkan, dalam usia 31 tahun, Jenderal Soedirman dipercaya menjadi pemimpin tertinggi angkatan perang sebuah bangsa yang baru merdeka, tetapi masih saja berada di bawah ancaman mantan penjajah yang tak sadar tentang tiupan dahsyat angin kemerdekaan di Asia dan di Afrika pasca-PD (Perang Dunia) II.

Dalam usia 31 tahun, Jenderal Soedirman dipercaya menjadi pemimpin tertinggi angkatan perang sebuah bangsa yang baru merdeka.

Soedirman muda sedang berada dalam pusaran tiupan angin kemerdekaan yang tak mungkin dilawan itu. Belanda amat disayangkan masih saja mengidap mentalitas kolonialisme yang lapuk dan busuk.

Perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan Jenderal Soedirman sebagai salah seorang pemimpin puncaknya, bertugas menghancurkan mentalitas lapuk ini, sekalipun ternyata juga tidak mudah.

Diperlukan waktu empat tahun untuk membuktikan kepada dunia bahwa cita-cita Indonesia merdeka adalah tuntutan mutlak sejarah, yang tak mungkin dipatahkan. Apa yang dikenal dengan ‘semangat 1945’, terwakili dengan hampir sempurna pada pribadi Soedirman. Tak semua jenderal AD mampu mempertahankan ‘semangat 1945’ itu.

Jenderal Soedirman yang Legendaris (I)

Siapa tak akan bergetar hatinya membaca perjalanan militer heroik dari seorang Jenderal Soediman.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Bagi saya, Januari adalah bulan Soedirman. Di bulan inilah, tokoh legendaris ini lahir dan di bulan ini pulalah dia wafat. Dalam artikel ini, legendaris berarti menakjubkan, istimewa, dan mengundang rasa hormat mendalam.

Siapa tak akan bergetar hatinya membaca perjalanan militer heroik dari seorang Jenderal Soediman (24 Januari 1916–29 Januari 1950) selama perang mempertahankan kemerdekaan bangsa yang sedang diancam musuh?

Sosok yang pernah dilatih dalam kepanduan Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah, baik masih di Cilacap maupun saat melanjutkan sekolah di HIK (Hollandse Indische Kweekschool/Sekolah Guru Bantu) Muhammadiyah Solo ini memang manusia langka.

Dengan pangkat tinggi yang disandangnya, hidupnya tetap sederhana. Soedirman adalah manusia teladan dalam makna sebenarnya. Sekolah HIK tak sempat diselesaikannya karena kesulitan ekonomi. Kemudian, Soedirman kembali ke Cilacap untuk jadi guru SR Muhammadiyah.

Jalan hidupnya yang lurus, disiplin yang tinggi, keberanian, dan kecermatan membaca peta medan perang adalah di antara kualitas yang menyatu dengan pribadi Soedirman, sosok kelahiran Purbalingga ini.

Jalan hidupnya yang lurus, disiplin yang tinggi, keberanian, dan kecermatan membaca peta medan perang adalah di antara kualitas yang menyatu dengan pribadi Soedirman.

Kemenangan dalam pertempuran di Palagan, Ambarawa, mengangkat nama Kol Soedirman ke langit tinggi perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Untuk sekadar menyegarkan ingatan kita tentang pertempuran Palagan ini, sketsa ringkas berikut ini mungkin bisa menolong kita berdasarkan sumber http://id.m.wikipedia.org.

Jika pihak sekutu menaati janji dengan Gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro untuk tidak mengganggu RI, pertempuran Palagan tidak perlu meledak.

Kejadiannya begini. Pada 20 Oktober 1945, pasukan sekutu di bawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang untuk mengurus tawanan tentara Jepang di Jawa Tengah.

Entah ada perjanjian atau tidak, tiba-tiba pasukan NICA (Netherland Indies Civil Administration) memboncengi tentara sekutu dengan maksud melumpuhkan hak hidup Indonesia merdeka.

Kelicikan mereka terlihat saat pasukan sekutu dan NICA sampai di Ambarawa dan Magelang dalam rangka membebaskan tawanan tentara Belanda, justru yang berlaku adalah para tawanan itu dipersenjatai.

Ini jelas perbuatan gila. TKR (Tentara Keamanan Rakyat) menjadi marah, maka terjadilah kontak senjata semula di Magelang, kemudian meluas ke kota-kota lain. Di Magelang, pihak sekutu jelas sekali berpihak pada Belanda dengan mencoba melucuti TKR di bawah komandan Letkol M Sarbini.

Pasukan Sarbini membalas provokasi tersebut melalui pengepungan pasukan sekutu dari segala penjuru. Hanyalah berkat campur tangan Presiden Sukarno untuk menenangkan situasi, sehingga tentara sekutu bisa meninggalkan Magelang menuju ke benteng Ambarawa.

Letkol Sarbini terus mengejar mereka yang tertahan di Desa Jambu karena diadang pasukan Angkatan Muda pimpinan Oni Sastrodihardjo. Tentara sekutu kembali diadang Batalyon I pimpinan Letkol Soejosoempeno di Desa Ngipik.

Saat mundur ini, pasukan sekutu menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. TKR di bawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan dua desa ini tetapi perwira ini gugur dalam menjalankan tugasnya.

Mengetahui perwira andalan ini telah tewas, Kol Soedirman, komandan Divisi V Banyumas cepat bergerak ke Ambarawa.

Mengetahui perwira andalan ini telah tewas, Kol Soedirman, komandan Divisi V Banyumas cepat bergerak ke Ambarawa. Kedatangan Soedirman ini memberikan semangat baru kepada tentara Indonesia. Segera dilakukan koordinasi.

Bala bantuan juga berdatangan dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan kota lain. Karena merasa semakin terdesak, pasukan sekutu malah mengerahkan tawanan-tawanan Jepang untuk menggempur TKR yang kemudian harus pindah ke Bedono.

Situasi medan selama berpekan-pekan panas dan kritikal sekali. Pada 11 Desember 1945 Kol Soedirman mengatur strategi perang bersama para komandan sektor TKR dan kelompok-kelompok laskar. Pada 12 Desember 1945, pukul 04.30 Subuh serangan mulai dilancarkan.

Maka berkobarlah pertempuran sengit di Ambarawa yang langsung dipimpin Kol Soedirman. Musuh terjepit. Setelah bertempur selama empat hari, pada 15 Desember 1945 perang berhenti dan pasukan Soedirman berhasil merebut Ambarawa, musuh mundur ke Semarang.

Selama pertempuran ini, korban di pihak Indonesia cukup tinggi, yaitu 2.000 tewas, pihak sekutu 100 tewas dan 75 dieksekusi.

Beban Bumi Semakin Berat

Kehidupan di bumi adalah sebuah drama dahsyat yang tidak mudah dipahami.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Angka-angka penduduk bumi berikut ini adalah perkiraan belaka, tetapi menarik untuk dicatat yang diramu dari berbagai sumber.

Dari PRB (Population Reference Bureau) Amerika Serikat, sampai tahun 2016 manusia yang pernah hidup di muka bumi berjumlah 108, 2 miliar. Sebagian besar telah mati ditelan tanah. Tahun 1900, jumlah manusia seluruhnya adalah 1,5 miliar; tahun 2017 ada pada angka 7,6 miliar; tahun 2021 angka itu naik menjadi 7.854.965.732. Menurut perkiraan PBB, tahun 2050 akan melonjak menjadi 9,8 miliar.

Bagaimana dengan umat Muslim tahun 2050? Akan ada pergeseran angka yang perlu disimak. Jika pada 2021 ini penduduk Muslim terbesar masih berada di Indonesia. Tahun 2050 akan disalib oleh Muslim India dan Pakistan, maka jumlah Muslim India menjadi yang terbesar (310,66 juta), Pakistan (273,11 juta), Indonesia (256,82 juta), Bangladesh (182,36 juta).

Dengan perubahan demografis ini, dalam tempo 29 tahun yang akan datang, akuan bahwa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi akan menjadi kenangan belaka.

Dari 9,8 miliar penduduk bumi pada 2050, umat Muslim 2,76 miliar jiwa, sedangkan umat Kristen akan berada pada angka 2,92 miliar, menurut Global Religious Futures. Karena pertambahan penduduk Muslim cenderung semakin meninggi, maka dalam perjalanan waktu, selisih umat Kristen dan umat Muslim di dunia menjadi menyempit. Berapa pula penganut Hindu dan Buddha? Menurut Pew Research Center, pada 2050, Hindu pada angka 1,032 miliar, Buddha 500 juta.

Tanpa kecuali, semua agama itu juga terpecah ke dalam sekte-sekte atau mazhab. Bahkan dalam satu mazhab, terdapat pula aliran-aliran pemikiran yang berbeda, sehingga menjadi sulit mempertahankan kesatuan.

Tanpa kecuali, semua agama itu juga terpecah ke dalam sekte-sekte atau mazhab. Bahkan dalam satu mazhab, terdapat pula aliran-aliran pemikiran yang berbeda, sehingga menjadi sulit mempertahankan kesatuan. Fenomena ini sudah berlangsung selama berabad-abad.

Di kalangan umat Muslim pun, bukan saja berbeda dalam mazhab, peperangan sesama mereka masih saja berlangsung sampai hari ini dengan penyebab yang serba-artifisial. Gempuran pasukan Arab Saudi atas Yaman adalah yang paling brutal dilakukan pada era kita ini.

Kita tidak tahu, untuk peperangan sesama Muslim pada masa yang akan datang. Jika berpedoman kepada sejarah, perang itu masih akan terus berlaku.

Kembali kepada beban bumi. Menurut perkiraan PBB, penduduk bumi pada tahun 2100 akan mencapai angka 11,2 miliar. Sekarang rata-rata pertambahan penduduk bumi sekitar 83 juta per tahun. Kecenderungan ini akan terus berlanjut, sekalipun sejak 1960-an angka kelahiran mengalami penurunan.

PBB juga memperkirakan pada 2050 itu, jumlah penduduk India akan menggeser Cina dan Nigeria akan menggeser Amerika Serikat yang sekarang berada pada posisi ketiga setelah Cina dan India.

Melihat kecenderungan pertambahan jumlah penduduk ini, separuh dari penduduk bumi, di luar Cina, akan terpusat pada sembilan negara: India, Indonesia, Nigeria, Kongo, Pakistan, Etiopia, Tanzania, Amerika Serikat, dan Uganda. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia pasti akan dihadapkan kepada masalah kependudukan yang semakin rumit.

Pulau Jawa yang sekarang dihuni oleh sekitar dua pertiga penduduk Indonesia, pada tahun 2100 itu (79 tahun lagi) belum dapat dibayangkan betapa sesaknya, sementara lahan pertanian sekarang saja sudah berubah menjadi permukiman.

Abad yang lalu, seingat saya, Prof Sumitro Djojohadikusumo pernah mengatakan bahwa Pulau Jawa bisa berubah menjadi gurun pasir, bilamana strategi penggunaan lahan dibiarkan menjadi semakin liar.

Pertanyaan saya: apakah para politikus sekarang yang mulai sibuk dengan Pemilu 2024 mau membaca pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin membengkak itu?

Angka 79 tahun itu tidak terlalu lama. Pertanyaan saya: apakah para politikus sekarang yang mulai sibuk dengan Pemilu 2024 mau membaca pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin membengkak itu? Jika mentalitas rabun ayam tidak juga berubah di kalangan mereka, Indonesia yang akan datang sudah bisa diperkirakan dari sekarang akan berada pada tanda tanya besar.

Sekarang saja, kerusakan alam nusantara sudah sangat mencemaskan. Tentu para pengusaha yang juga rabun ayam turut bertanggung jawab atas kemungkinan nasib buruk negeri ini dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi.

Oleh sebab itu, imbauan saya kepada generasi milenial yang menjadi pewaris Indonesia masa depan, pahami dengan baik dan jujur perjalanan bangsa dan negara ini untuk tidak mengulangi kecerobohan generasi yang nyaris punah ini.

Anda semua akan hidup dalam suasana yang lain sama sekali. Perkembangan teknologi informasi akan mengubah segala-galanya, sedangkan perubahan sosial akan pontang-panting karena tidak mampu mengikutinya.

Di atas itu semua, penguasa alam semesta ini bukanlah jenis manusia, melainkan Zat Gaib yang tak terjangkau oleh kekuatan persepsi intelektual kita yang sangat terbatas ini. Bagaimana ujungnya nasib bumi yang sudah sarat dengan beban ini juga nasib planet lain yang jumlahnya jutaan itu, tak seorang pun yang tahu.

Kehidupan di bumi adalah sebuah drama dahsyat yang tidak mudah dipahami. Namun, bahwa kiamat pasti akan datang sebagaimana Alquran dalam banyak ayat telah memberi tahu, tampaknya ilmu pengetahuan juga sudah menyimpulkan demikian.

Pencabulan Itu Sebuah Gunung Es

Ibarat gunung es, besar kemungkinan pencabulan ini berlangsung lama di berbagai daerah

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Peristiwa mahabiadab itu terjadi beruntun. Titik-titik hitamnya tersebar di beberapa kota: Bandung, Tasikmalaya, Cilacap, dan teranyar di Depok.

Ada pula perbuatan oknum polisi yang merenggut perawan seorang gadis dengan janji membantu sang ayah yang sedang terjerat hukum. Semua kejadian ini, panorama kelam dan busuk yang mengotori bumi Pancasila ini.

Ibarat gunung es, besar kemungkinan kebiadaban ini berlangsung lama di berbagai daerah, tetapi belum ketahuan saja. Ada pula pencabulan terjadi sporadis dalam bentuk lain, yang masih hangat, di Padang dan Tamparungo, Kecamatan Sumpur Kudus, Sumatra Barat.

Di Kota Padang, pencabulan dilakukan pada dua bocah perempuan usia lima dan tujuh tahun. Bukan oleh orang lain, melainkan oleh kakek, kakak, bahkan tetangga ikut dalam pesta kemesuman ini. Setan hitam seperti apa yang telah membunuh rasa kasihan manusia gelap mata ini?

Di Tamparungo, kasusnya tak kurang tragisnya. Seorang ayah tiri memperkosa anak tirinya dalam usia kelas satu SD dengan ancaman dibunuh jika ibunya diberi tahu.

Setan hitam seperti apa yang telah membunuh rasa kasihan manusia gelap mata ini?

Ayah tiri ini selalu siap dengan pisau agar si anak tak berkutik dan berlangsung sejak 2020. Bahkan, menurut pihak kepolisian Sijunjung, ayah tiri jahanam ini pernah memelintir tangan kanan gadis malang ini hingga menjerit kesakitan.

Pelaku baru ditangkap pada Selasa, 7 Desember 2021, di rumahnya. Sebagai seorang yang juga berasal dari kecamatan itu, saya sungguh marah dan memprotes kejadian yang menimpa perempuan ingusan bernasib malang ini.

Apa artinya ini? Pengawasan aparat, orang tua, dan masyarakat terhadap perbuatan mesum itu terasa lemah dan kurang peduli.

Di Bandung, pencabulan dilakukan si hidung belang bertopeng kiai atas 12 santriwati, sebagian sudah hamil. Di Tasikmalaya, dikerjakan si hidung belang lain dalam topeng guru pesantren terhadap sembilan santriwati.

Saya kutip pernyataan Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, tentang kebiadaban yang mencoreng di wilayahnya pada 10 Desember  2021, “Kami menghendaki pelaku dapat ditindak tegas oleh para aparat penegak hukum agar dijerat hukuman yang berlaku. Kepada petugas kepolisian, jangan ragu dan terus usut tuntas. Kami komunitas pondok pesantren akan ikut mengawal dan mendukung para penegak hukum. Saya merasa prihatin sebagai komunitas pondok pesantren [atas] kejadian semacam ini.”

Di Cilacap, pelakunya seorang guru agama terhadap 15 siswi SD, yang tak lain anak asuhannya sendiri. Iming-imingnya, diberi nilai agama yang bagus. Dalam ungkapan Melayu kuno, ini namanya ‘pagar makan tanaman’.

Jika di atas saya sebut setan hitam, di Cilacap tampaknya yang bermain setan merah melalui guru agama. Jika agama dijadikan mainan semacam ini, lama-lama agama bisa jadi musuh manusia.

Jika di atas saya sebut setan hitam, di Cilacap tampaknya yang bermain setan merah melalui guru agama. Jika agama dijadikan mainan semacam ini, lama-lama agama bisa jadi musuh manusia.

Terbaru, di Depok (Tangerang), guru ngaji (55) mencabuli 10 muridnya yang berusia antara 10-15 tahun. Modusnya, menurut keterangan polisi, tersangka membujuk atau mengancam korbannya agar mau melayani nafsunya. Lalu para korban diberi Rp 10 ribu.

Korban diancam agar perbuatan bejatnya tak dilaporkan kepada orang tuanya. Lalu, bagaimana hukumannya? Menurut keterangan polisi, hukumannya paling sedikit lima tahun, paling tinggi 15 tahun dengan denda paling banyak Rp 15 miliar.

Pesan saya, jangan hanya diserahkan kepada tanggung jawab polisi, tetapi yayasan, masyarakat, dan orang tua santriwati harus disadarkan tentang kelakuan si hidung belang ini yang berkeliaran di pesantren, sekolah, dan tempat mengaji.

Bagi saya, kejadian ini sudah pada tingkat SOS (save our soul/selamatkan jiwa kami). Dengan peristiwa itu, pesantren atau majelis taklim menjadi tidak aman lagi oleh ulah guru dan kiai gadungan, yang bibirnya komat-kamit melafazkan tasbih.

Manusia tipe ini harus ditebas pada kuncupnya. Tindakannya tipuan atas nama Tuhan. Alangkah kejinya, alangkah nistanya. Dunia ini ternyata sarat kejadian yang menegakkan bulu roma kita. Di negara lain, tragedi yang mirip juga tidak kurang.

Manusia tipe ini harus ditebas pada kuncupnya. Tindakannya tipuan atas nama Tuhan. Alangkah kejinya, alangkah nistanya.

Pertanyaannya: jika binatang saja tidak akan memerkosa anak-anaknya yang kecil, mengapa manusia yang dianugerahi akal dan budi luhur bisa mengalahkan binatang dalam pesta kemesuman ini?

Ratusan tahun lalu, Alquran mengingatkan manusia atas kemungkinan ini, “Dan sungguh Kami telah sediakan untuk neraka jahanam berapa banyak dari jenis jin dan manusia. Mereka punya hati, [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mengerti, mereka punya mata, [tetapi] tidak dipergunakannya untuk melihat, mereka punya telinga, [tetapi] tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi. Merekalah orang yang lalai (surah al-A’râf ayat 179).”

Seramnya lagi, di Indonesia, perbuatan kumuh itu dilakukan guru agama, guru ngaji, dan kiai. Namun, masyarakat jangan sampai tiarap, enyahkan manusia tipe ini dari muka bumi. Mereka ini mengotori alam kemanusiaan atas nama Tuhan.

Hukuman dunia untuk mereka harus diperberat. Sebagai puncak gunung es, kita mungkin masih akan dikejutkan lagi oleh kejadian yang mirip dalam tempo dekat ini. Sungguh kelam. Sungguh tragis penderitaan gadis cilik!

Memahami Bacaan dalam Shalat

Sebagian besar bacaan shalat berisi doa kepada Allah agar kita senantiasa dituntunnya ke jalan yang benar dan lurus.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Ini bukan fatwa karena saya bukan seorang mufti. Apa yang dituturkan berikut ini semata-mata berdasarkan pengalaman langsung fenomena umat Islam di perdesaan dan perkotaan, mengenai tingginya kesetiaan mereka melakukan kewajiban shalat lima waktu.

Sekalipun kita tidak punya data pasti mengenai persentase umat Islam Indonesia yang menjalankan shalat setiap hari, yang pasti sebagian besar masjid tidak pernah kosong dari jamaah tetap. Ini patut disyukuri, apa pun parpol atau ormas yang mereka ikuti.

Yang penting, mereka mau ke masjid, surau, mushala, atau langgar untuk shalat berjamaah. Itulah sisi positif dari proses dinamis santrinisasi umat Islam Indonesia yang semakin menguat sejak 1980-an abad yang lalu.

Sisi lain yang masih perlu mendapat perhatian, kenyataan tentang betapa kecilnya jumlah umat ini yang memahami apa yang dibacanya dalam shalat, termasuk makna bacaan surah al-Fatihah, doa-doa, dan ayat-ayat pendek yang biasa dibaca dalam shalat.

Ini bukan kesalahan siapa-siapa, melainkan semata-mata karena tipisnya kesadaran kita untuk belajar memahami apa yang kita ucapkan dalam shalat.

Ini bukan kesalahan siapa-siapa, melainkan semata-mata karena tipisnya kesadaran kita untuk belajar memahami apa yang kita ucapkan dalam shalat.

Perkiraan saya, sekitar 95 persen mereka yang melakukan shalat belum tentu memahami makna apa yang dibacanya, sekalipun mereka sangat setia dalam menjaga hubungan dekatnya dengan Sang Penciptanya.

Hubungan ini tentu semakin punya kesan lebih dalam, sekiranya mereka paham apa yang dibacanya. Karena itu, saya sarankan kepada setiap pengajian, majelis taklim, dan ceramah keagamaan, para ustaz, ustazah, dan penceramah menekankan pentingnya pemahaman makna bacaan-bacaan dalam shalat ini.

Belum perlu memahami bahasa Arab secara fasih, sebab hal itu memang tidak mudah bagi umat, umumnya yang non-Arab, kecuali bagi para santri di pondok dan madrasah.

Sebagian besar bacaan shalat berisi doa kepada Allah agar kita senantiasa dituntunnya ke jalan yang benar dan lurus, diampuni segala dosa, dilapangkan rezeki, dan jenis permohonan lain dari seorang hamba kepada Tuhannya.

Belum perlu memahami bahasa Arab secara fasih, sebab hal itu memang tidak mudah bagi umat, umumnya yang non-Arab, kecuali bagi para santri di pondok dan madrasah.

Semua bentuk permohonan ini akan jauh lebih mantap jika seseorang paham apa yang dimohonnya. Masalah ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit untuk diperoleh. Jika terasa sulit, itu karena tidak digalakkan saja.

Diharapkan, mereka yang memahami bacaan-bacaan dalam shalat terus berusaha meningkatkan pemahamannya tentang agama, dan akan menjadi lebih sadar tentang rasa tanggung jawabnya dalam kehidupan kolektif mereka.

Saya tidak menafikan akan muncul pertanyaan besar dalam masalah ini. Bagaimana mereka yang paham bahasa Arab dan mungkin hafal Alquran, perilakunya malah tak semakin baik, tutur katanya malah semakin kasar, suka menuding kian kemari, seolah-olah tidak ada manusia yang baik selain dirinya.

Jawabannya dalam bahasa Melayu klasik: “Bukan karena bunda salah mengandung, tetapi karena si buyung atau si upik yang buruk pinta.” Artinya, agama yang dianutnya barulah pakaian lahir, tidak sampai masuk ke hati yang dapat mengawal kelakuannya.

Saya tidak perlu memperlebar masalah ini, mengaitkannya dengan dunia Arab yang sudah cukup lama tidak dapat dijadikan contoh, padahal mereka memahami apa yang dibacanya dalam shalatnya.

Saya tidak perlu memperlebar masalah ini, mengaitkannya dengan dunia Arab yang sudah cukup lama tidak dapat dijadikan contoh, padahal mereka memahami apa yang dibacanya dalam shalatnya.

Sementara itu, umat Islam yang non-Arab yang sebagian besar tidak paham makna bacaan shalatnya, boleh jadi berperilaku jauh lebih bagus dan lebih santun dibandingkan saudara mereka dari kawasan yang berbahasa Arab itu.

Sekali lagi, ini masalah internalisasi nilai-nilai agama dalam pribadi seseorang.

Tidak jarang, seorang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerti bacaan dalam shalatnya, tetapi karena ketulusannya menjalankan perintah agama, perilakunya benar-benar mencerminkan seorang saleh lahir batin, apa pun ukuran yang dipakai untuk menilainya.

Tentu, yang lebih diharapkan adalah mereka yang paham makna bacaan shalatnya yang langsung memberi bekas pada kelakuan hariannya, sehingga sosok yang seperti ini pastilah dirindukan lingkungan mana pun.

Tipe manusia saleh semacam inilah yang diharapkan akan semakin membesar jumlahnya, karena tujuan utama pendidikan itu terciptanya sosok manusia baik dan saleh. Pancaran auranya akan dirasakan semua orang yang pernah bergaul dengannya.

Ilmu yang dimilikinya selalu dibagikannya kepada siapa pun. Namanya akan selalu disebut, kehadirannya senantiasa dinantikan. Terasa ada sesuatu yang kurang, tanpa dia. Bagi manusia tipe ini, nyaris tidak punya musuh.

Seorang musuh saja sudah terlalu banyak baginya. Tetapi, dalam hal memegang prinsip yang diyakininya, pendiriannya adalah penaka batu karang di tubir pantai. Empasan ombak yang dahsyat pun tidak pernah akan menggoyahkan posisinya.

Sekali lagi, ini bukan fatwa! Akhirnya, tanpa bermaksud untuk mengkritik, kabarnya di Kecamatan Sumpur Kudus, masih ada sebuah masjid yang khutbah Jumatnya, seluruhnya disampaikan dalam bahasa Arab.

Berat dugaan kita, sang khatib dan jamaah sama-sama tak paham apa yang disampaikan. Sebagian jamaah tentu sama tertunduk sambil mendengkur kecil karena lagi “menikmati” ketidakpahaman mereka itu.

Pertemuan dengan Presiden Bush dan Kilas Balik Kemudian (I)

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pertemuan itu terjadi dua tahun setelah Presiden George W Bush menginvasi Afghanistan dengan dalih mengejar teroris. Atas prakarsa Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Ralph L Boyce, pada 22 Oktober 2003 di Hotel Patra (Denpasar), diadakan pertemuan tokoh lintas agama dengan Presiden Bush.

Saya salah seorang yang turut pertemuan yang semula direncanakan sekitar 22 menit, tetapi molor sampai 55 menit. Dubes Boyce, sebelumnya beberapa kali bertemu dengan saya di kantor PP Muhammadiyah Jakarta, antara lain, merundingkan pertemuan dengan Bush.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Nama-nama dalam dalam pertemuan itu adalah almarhum KH Hasyim Muzadi (ketua umum PBNU), Prof Azyumardi Azra (rektor UIN Jakarta), DR Nathan Setiabudi (ketua PGI), Ida Pedanda Made Gunung (tokoh Hindu Bali), dan saya mewakili PP Muhammadiyah.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara. Agak di luar dugaan, Presiden Bush sambil nanar menatap wajah kami tak marah, sekalipun dicecar pertanyaan tajam dan kritis, khususnya soal Palestina, invasi atas Irak, Afghanistan.

Pertemuan Denpasar ini, sempat dicurigai sebagian elite politik Indonesia dengan tuduhan macam-macam kepada kami. Jawaban saya ketika itu: “Mana yang lebih kesatria berhadapan langsung dengan ‘musuh’ atau mengepalkan tinju dari balik gunung?”

Para tokoh lintas agama memilih berhadapan langsung. Ini kesempatan baik menjelaskan pandangan kita terhadap Bush, yang namanya telah jadi sasaran kritik global karena politik neo-imperialismenya.

Bush dan Trump sama-sama berasal dari Partai Republik yang dikenal konservatif. Dunia sedikit lega setelah Joseph R Biden Jr (Demokrat) mengalahkan Trump tahun lalu untuk menjadi presiden ke-46 AS.

Untuk pertemuan Denpasar itu, saya menyiapkan konsep tertulis di samping disampaikan secara lisan kepada Presiden Bush. Untuk menyegarkan ingatan tentang suasana politik global pada 2003, versi bahasa Indonesia dari sikap saya terhadap Bush dikutip berikut ini:

“Tuan Presiden George W Bush yang Terhormat,

Terlebih dulu saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus karena telah diundang menemui presiden dari sebuah bangsa besar dan perkasa, pemenang Perang Dingin, setelah komunisme dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan sejarah.

Anda kini berada pada posisi strategis untuk menawarkan sebuah tatanan dunia yang lebih adil dan berimbang, untuk menghapus ketidakadilan dan kemiskinan global yang diderita lebih dua miliar umat manusia di seluruh dunia.

Saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah.

Di tangan Anda juga tergenggam segala dana dan kekuatan untuk memelopori sebuah kultur kearifan global, demi menyelamatkan peradaban manusia yang terancam arogansi kultural, penyalahgunaan demokrasi, dan isu hak-hak asasi manusia sebagaimana diperagakan oleh oleh beberapa negara maju, termasuk Amerika Serikat.

Tetapi, mengapa Anda gagal menumbuhkembangkan suatu kultur kearifan global itu? Setidak-tidaknya ada dua kemungkinan yang ingin saya sampaikan kepada Anda dalam pertemuan bersejarah ini.

Pertama, politik luar negeri Amerika yang terlalu pro-Israel telah menutup mata dan hati Anda untuk mengembangkan dan menunjukkan kepada dunia suatu sikap imbang dan adil terhadap bangsa-bangsa lain, khususnya terhadap rakyat Paestina yang telah menderita demikian lama.

Selama konflik Israel-Palestina tetap saja berlangsung, akan menjadi sangat sulitlah bagi kita untuk melihat sebuah dunia yang damai dalam tempo yang dekat ini.

Kedua, karena ketakutan Anda terhadap ancaman yang mematikan dari terorisme internasional. Tentang isu ini, kita sebagai manusia normal memang punya hak moral memerangi segala bentuk terorisme dan melumpuhkan basis politik-ekonominya, karena perbuatan mereka sepenuhnya anti manusia dan mereka adalah musuh yang sebenarnya dari dunia beradab. Terhadap isu hangat ini, percayalah, saya adalah teman Anda dan berada satu perahu dengan Anda, Tuan Presiden.

Tetapi pada waktu Anda mengirim pasukan untuk menginvasi Irak, Anda tidak diragukan lagi telah melakukan suatu bunuh diri sejarah, dan dunia akan mengenang ini dengan baik sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh mereka, yang mengaku sebagai pembela demokrasi dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia.

Sebagai catatan pungkasan, saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah. Karena itu, bila kita berbicara tentang gejala Usamah bin Ladin dan Taliban pada era Perang Dingin, pertanyaan ini otomatis akan mengemuka: siapa sesungguhnya yang memberikan dukungan kepada mereka dalam upaya mengalahkan pasukan Uni Soviet, musuh Anda yang sebenarnya pada waktu itu?

Saya kira CIA turut bertanggung jawab bagi permainan politik, yang berbahaya dan penuh risiko ini. Tentang masalah ini, saya harap Tuan Presiden berpikir lebih dalam lagi.”

Aiptu Eko Yulianto dan Covid-19

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Nama lengkapnya Aiptu Eko Yulianto, SH (44). NRP: 76070278. Saya memanggilnya komandan. Komandan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Dia cepat kaki, ringan tangan.

Komandan tanpa anak buah. Kawasan jelajahnya Kelurahan Nogotirto, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, sejak 2016. Inilah peta Nogotirto yang menjadi desa binaannya itu. Luasnya 3,49 km persegi, jumlah penduduk 14.916 orang. Diperkirakan 4.274 jiwa per km persegi.

Desa ini terdiri atas tujuh pedukuhan. Dengan luas kawasan dan jumlah penduduk sekian itu, komandan ini pasti sibuknya setengah mati saban hari. Kadang-kadang juga bertugas malam hari, bergantung pada masalah yang dihadapi warga.

Komandan ini pernah bertugas di Aceh sebagai anggota Brimob. Sebagai polisi lalu lintas, sudah pula dijalaninya. Dia di antara anggota polisi yang baik, penuh dedikasi, ramah, gaul, dan siap menolong siapa saja.

Sejak Indonesia dilanda Covid-19, kesibukan komandan ini melebihi biasanya. Siang dan malam berurusan dengan korban pandemi ini, termasuk mengurus jenazah untuk dimakamkan. Badannya kekar, kulit agak hitam, asal Klaten, Jawa Tengah.

Siang dan malam berurusan dengan korban pandemi ini, termasuk mengurus jenazah untuk dimakamkan. Badannya kekar, kulit agak hitam, asal Klaten, Jawa Tengah.

Pernah terpikir untuk meninggalkan kepolisian dan bertarung menjadi kepala desa di Klaten. Namun, saya katakan agar niat itu dilupakan saja. Menjadi polisi itu tugas mulia.

Sabtu pagi, 28 Agustus 2021, rampung menerima tamu Menhub Budi Karya Sumadi yang didampingi DR Asmul Khairi selama sekitar satu jam, terjadi pembicaraan santai saya dengan komandan ini seputar pandemi dan korbannya yang telah dijalaninya sejak Maret 2020.

Sungguh mengusik perasaan, betapa aneka ragamnya perilaku orang terpapar pandemi ini, termasuk ayah kandung komandan yang semula tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Dengan susah payah, komandan meyakinkan ayahnya, seperti terbaca dalam dialog dalam bahasa Jawa yang kira-kira bunyinya begini: “Yen bapak mboten kerso dijak teng rumah sakit, kulo tinggal mawon.”

Lalu si ibu yang lagi ada masalah jantung menyela: “Bapakmu ojo dimarahi, le!”

Singkat cerita, sang ayah akhirnya bersedia diperiksa dan diobati. Sekarang sudah pulih.

Ini baru secuil kejadian tentang betapa sukarnya sebagian rakyat kita disadarkan soal bahaya maut pandemi ini. Bahkan, sampai hari ini, masih ada juga yang tidak percaya adanya virus itu, sekalipun yang wafat di Indonesia saja sudah sekitar 130 ribu.

Komandan melanjutkan ceritanya tentang keluarga lain yang terpapar. Semula hanya seorang yang terjangkit. Lalu diminta agar mau diisolasi secara gratis di tempat yang telah tersedia. Apa jawab keluarga ini? Kami tidak bisa berpisah. Akibatnya, tujuh anggota keluarga itu tertular semua. Komandan dengan segala cara telah berupaya meyakinkan keluarga ini, tetapi menemui jalan buntu.

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan.

Ada lagi kasus imam masjid yang wafat karena virus ini sekitar dua pekan lalu. Istrinya juga terpapar, masih dalam perawatan. Saat artikel ini ditulis, belum diberi tahu oleh anak-anaknya bahwa suaminya telah wafat. Khawatir akan menambah parah sakitnya. Ini sebuah drama akibat Covid-19.

Covid-19 ini tidak punya rasa takut, kecuali kepada masker, air mengalir, sabun, dan jarak dua meter. Karena sudah berlangsung satu setengah tahun berurusan dengan pasien virus ini, komandan sudah cukup piawai menjalankan tugasnya. Tentu dengan prokes.

Dia diberi sepeda motor dinas yang cukup besar, entah berapa cc. Jika diperlukan, dia gunakan mobilnya sendiri untuk menolong pasien. Sepanjang pengetahuan saya, polisi yang satu ini tidak pernah mengeluh.

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan. Sudah sejak 2016, saya bersahabat dengan polisi, dari tingkat bintara, perwira, sampai mereka yang berbintang empat.

Sampai hari ini, beberapa kapolres masih saja melakukan kontak dengan saya. Yang sedikit menyulitkan saya adalah permintaan rekomendasi dari sementara mereka untuk pendidikan lanjut, jadi kapolres, pindah tugas, dan sejenis itu.

Mungkin di mata mereka, saya punya jaringan di Mabes Polri, padahal itu perkiraan yang belum tentu benar. Saya bukanlah calo untuk urusan semacam ini. Tidak punya bakat sama sekali, di samping ada perasaan kurang enak dengan petinggi Polri.

Maka usul saya kepada Mabes Polri, anggota kepolisian tipe komandan ini bisa diberi kenaikan pangkat istimewa untuk menghargai pengabdiannya yang luar biasa dan tanpa pamrih, untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Bagaimana selanjutnya dengan sosok polisi yang kita bicarakan ini? Sudah sekitar lima tahun, saya kenal. Tidak pernah terbetik minta rekomendasi itu.

Maka usul saya kepada Mabes Polri, anggota kepolisian tipe komandan ini bisa diberi kenaikan pangkat istimewa untuk menghargai pengabdiannya yang luar biasa dan tanpa pamrih, untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Peran sebagai pejabat Bhabinkamtibmas ada enam. Di antaranya, menjalankan penyuluhan pada masyarakat, melaksanakan penertiban masyarakat, dan yang nomor enam adalah melaksanakan tugas umum kepolisian dalam memberi pelayanan, perlindungan kepada masyarakat.

Karena rumusan peran ini dibuat sebelum merebaknya pandemi, tampaknya butir nomor enam inilah yang dijadikan pegangan menghadapi masalah musibah yang tidak diperkirakan sebelumnya akan begini dahsyat. Selamat mengabdi komandan!

Vaksinasi Merata, Bangsa Kembali Tersenyum

Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum.

OLEH SYAFII MAARIF

Memang tidak ada jaminan vaksinasi akan membebaskan seseorang dari terpapar Covid-19 dengan segala variannya. Namun, dengan vaksinasi, setidaknya kita punya kepercayaan diri melebihi mereka yang belum divaksin.

Adapun mereka yang tidak mau divaksin atau tidak percaya pandemi, sulit dipahami nalar sehat. Sikap semacam ini tentu semakin membuat pemerintah kesulitan menolong rakyatnya secara merata.

Padahal, korbannya untuk Indonesia saja yang wafat sampai 22 Agustus 2021 sudah 125.342 dari 3.967.048 yang positif dan pasien yang sembuh, alhamdulillah, cukup tinggi, yaitu 3.522.048.

Namun, dalam dua hari terakhir pada tanggal itu, angka kematian di Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 1.361, sementara di Amerika 500, India 401, dan Jerman hanya delapan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 272 juta, persentase yang terpapar itu memang relatif kecil, tetapi bahaya selalu di depan mata. Tak seorang pun yang kebal dari serangan virus ini, apalagi dalam varian Delta yang daya tularnya begitu cepat dan lebih ganas.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Saya sejak Maret 2020 tidak berani pergi ke bank atau swalayan, sekalipun sudah disuntik sekali dan mantan OTG lagi. Untung, ada saja jalan untuk mengatasi keperluan yang mendesak. Kelakuan virus ini tidak selalu mudah dipahami orang awam seperti saya.

Ada misalnya, seorang Jenderal Solihin GP (96) dan istrinya (94) sama-sama terpapar, alhamdulillah bisa sembuh. Puji Tuhan. Di sisi lain, ada anak muda sehat yang terpapar, hanya selang beberapa waktu sudah wafat.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD (alat pelindung diri) sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Dengan jumlah penduduk seperti dalam angka di atas, biaya untuk vaksinasi per dosis Rp 321.660 plus pelayanan Rp 117.910. Total Rp 439.570 X 272.000.000 = Rp 119.563.040.000.000.

Hitung saja untuk tiga kali vaksinasi bagi setiap penduduk, kita akan menemukan angka rupiah raksasa yang harus dipikul negara, demi menolong rakyatnya. Sebegitu jauh, belum ada opsi lain, kecuali vaksinasi.

Obat-obat herbal yang ditawarkan baik saja, tetapi vaksin yang telah diuji di laboratorium tentu lebih bisa diproduksi dalam jumlah besar. Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum, sekalipun harus tetap dengan prokes ketat.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

Dalam suasana masih berkabung ini, sebaiknya kita bahu-membahu, bersatu dengan tingkat solidaritas tinggi untuk menolong sesama. Ambisi politik kekuasaan yang tak terkendali sepatutnya dihentikan dulu.

Namun, pemerintah mesti mau mendengarkan saran dari mana pun untuk terus membenahi cara kerja dalam penanganan musibah yang sedang mengancam ini.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Semboyan: “Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh” adalah cara pemerintah agar kita semua tidak larut dalam kesedihan. Optimisme wajib dibangun. Kita, insya Allah bisa melepaskan diri dari serangan Covid-19 ini.

Sekalipun kita selalu dinasihati agar tidak panik, tidak gelisah, dan tetap bersemangat menjalani hidup sehari-hari, dengan melihat korban berguguran setiap saat, siang dan malam, perasaan setiap kita pasti akan guncang juga.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Alhamdulillah, saat artikel ini ditulis, keadaan mulai membaik, tetapi kepatuhan terhadap prokes harus tetap ketat. Sekuat-kuatnya orang, pasti akan terpengaruh juga oleh drama-drama yang tidak dikehendaki ini.

Yang perlu dijaga, jangan biarkan setiap kita hanyut dalam perasaan. Bersedih boleh, menangis boleh, tetapi sekadarnya. Tokh kematian yang datang hanya sekali itu, pasti akan mengunjungi setiap kita.

Maka itu, saat masih sehat, masih bisa bernapas bebas, menjalani vaksinasi bagi saya adalah sesuatu yang wajib. Agama menyuruh kita berobat agar tetap sehat, bahaya sejauh mungkin dielakkan. Tidak boleh menunggu takdir tanpa berusaha.

Sepanjang sejarah umat manusia, serangan virus mematikan ini sudah sekian kali terjadi. Di ujungnya, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta farmasi berhasil menemukan obatnya. Umat manusia terselamatkan.

Ya, inilah tantangan hidup di muka bumi yang menimpa semua bangsa. Tidak peduli yang mengaku beragama atau tidak beragama. Karena itu, yang perlu diingatkan terus agar umat manusia sadar sesadarnya bahwa mereka satu kesatuan.

Egoisme bangsa, negara, dan tingkat kesejahteraan tidak boleh menghancurkan solidaritas semesta. Planet bumi yang satu ini untuk tempat tinggal bersama, tak seorang pun punya hak monopoli atasnya.

Kepada negara yang punya hulu ledak nuklir, Covid-19 berpesan: “Hulu nuklir kalian tidak berdaya menghadapi aku, tetapi aku bisa dilumpuhkan oleh masker, sabun, air mengalir, dan jarak yang dijaga!”

Akhirnya, kita ulang, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini kembali tersenyum!

‘Panen’ Kematian

Bagi kami ‘panen’ di sini sama artinya dengan kematian, suasana berkabung.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Perkataan ‘panen’ sengaja ditempatkan antara dua tanda kutip karena bagi saya dan mereka yang punya pertalian darah mengandung makna khusus, yaitu berkabung, duka, kehilangan, dan perasaan berat.

Sejak Januari sampai dengan Agustus 2021, ada tujuh orang yang wafat dari keluarga kami dengan berbagai penyebab. Dua karena Covid-19, empat lantaran sakit, satu karena kecelakaan. Tidak perlu nama-nama mereka ditulis di sini kecuali dua orang: Nurhayati Maarif, kepala tujuh, adik seayah, wafat di Bandung pada 24 Juni 2021, karena sudah lama menderita sakit yang tidak ketemu jenis penyakitnya. Padahal seorang anak puteri dan menantunya adalah dokter.

Yang kedua Zaghi Irfan Kudus (cicit almarhum abang saya), usia baru belasan tahun karena kecelakaan di Pekanbaru pada 23 Juli 2021. Kabarnya anak belia ini sudah hafal empat juz surah dalam Alquran.

Kecuali Zaghi yang belum pernah bertemu, selebihnya saya kenal dari jarak yang dekat, bahkan dekat sekali. Lima orang di antaranya adalah keponakan saya, seorang anak abang dan empat anak dari dua kakak perempuan saya yang sudah lama meninggal.

Aliran darah mereka semua terkait dengan darah ayah saya Ma’rifah Rauf, gelar Datuk Rajo Malayu, dan dan ibu saya Fathiyah Ja’kub yang masing-masing wafat pada tahun 1955 dan 1937. Nurhayati yang lain ibu hanya punya pertalian darah dengan Ma’rifah.

Ayah dan ibu saya berasal dari nagari Sumpur Kudus, kawasan terpencil di kaki Bukit Barisan, Sumatra Barat. Nama nagari ini sudah sering muncul di Republika karena beberapa peristiwa yang terjadi di sana.

Tujuh yang wafat itu satu perempuan dan enam laki-laki. Semuanya punya jalan hidup dan retak tangannya sendiri.

Tujuh yang wafat itu satu perempuan dan enam laki-laki. Semuanya punya jalan hidup dan retak tangannya sendiri. Ada ibu rumah tangga yang berhasil mendidik anak-anaknya, ada mantan kepala SD, ada petani. Ada isterinya yang jadi guru dan jadi dosen.

Hanya tiga yang merantau. Selebihnya tetap tinggal di kampung dengan segala kesederhanaannya. Selama delapan bulan itu, hanya Maret dan Mei saja yang tidak ada kematian di lingkungan keluarga kami. Yang terbaru wafat pada 8 Agustus 2021, beberapa jam sebelumnya masih merasa sehat.

Saya tahu, tentu banyak rakyat Indonesia yang telah berkabung melebihi beratnya dari beban batin keluarga kami. Mereka yang wafat karena virus saja sampai dengan 8 Agustus 2021 sudah berada pada angka 107 ribu dari keseluruhan kasus yang terpapar sejumlah 3.670.000.

Virus ganas varian Delta ini telah menyebar ke segala penjuru, kawasan perkotaan dan perkampungan. Nagari Sumpur Kudus yang udik itu sudah banyak pula yang terpapar.

Dua di antaranya dimakamkan dengan protokol kesehatan yang membuat kampung jadi geger. Tak seorang pun di antara kita yang kebal dari serangan virus ini, sekalipun sebagian besar yang terpapar, alhamdulillah, sembuh.

Bagi petani, masa panen tentu sangat menggembirakan. Oleh sebab itu, perkataan panen tidak perlu ditempatkan antara dua tanda kutip. Panen padi, jagung, ubi, dan segala segala jenis palawija, adalah rezeki yang selalu dinantikan para petani. Bagi kami ‘panen’ di sini sama artinya dengan kematian, suasana berkabung, seperti telah disebut di awal tulisan ini.

Kepada anggota famili yang masih diberi napas panjang yang jumlahnya mungkin sudah ratusan yang bertebaran di berbagai pulau, bahkan seorang di Muscat (Oman), saya sampaikan bahwa semua kita sedang menunggu giliran menuju alam barzah. Hanya masalah waktu saja, cepat atau lambat.

Tak seorang pun yang bisa mengelak, siap atau belum siap. Sayalah yang tertua di antara mereka.