Sikap Saling Memahami antara Islam dan Barat (3)

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat.

Oleh sebab itu, jangan cepat percaya kepada penguasa mana pun, sekalipun mendapat pembenaran dan dukungan dari lembaga-lembaga keagamaan. Mungkin boleh saya katakan dalam kalimat pendek bahwa dalam istana yang sangat mewah itu fenomena gundik, intrik, dan mistik bukan rahasia lagi.

Ironisnya, dinding istana ini juga dihiasi oleh ayat-ayat Alquran untuk menunjukkan bahwa pemiliknya adalah Muslim. Maka semakin jelaslah oleh puan dan tuan bahwa Islam telah lama jadi mainan penguasa. Sistem model ini pulalah yang mau dihidupkan lagi di era sekarang oleh kelompok yang buta sejarah.

Menurut catatan Akbar Ahmed, semua sultan Turki Usmani yang perkasa itu menghabiskan waktunya di lingkungan pergundikan yang penghuninya bisa melebihi 1.000 perempuan, dijaga oleh kasim (lelaki yang dikebiri, eunuchs) berkulit hitam yang punya masjid tersendiri. Para gundik muda usia di Istana Topkapi itu didatangkan dari Cina, Maroko, Eropa, dan Persi (hlm. 74-75).

Umumnya berasal dari keluarga terhormat. Mereka mau mengadu nasib ke sana dengan sebuah mimpi siapa tahu di antara mereka ada yang akan jadi ibu sultan Imperium Turki Usmani berikutnya sebagai “one of the most powerful men on earth” (salah seorang yang paling berkuasa di muka bumi), tulis Akbar Ahmed pada hlm. 75.

“Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat dalam rentangan waktu berabad-abad”

Agak panjang kita bicarakan faktor sejarah yang mewarnai hubungan Islam dan Barat dalam rentangan waktu berabad-abad. Ternyata fakta sejarah atau tafsiran terhadap fakta sejarah yang kemudian mengendap dalam ingatan kolektif manusia terus saja dipelihara. Para sejarawan punya minat besar dalam pelestarian kejadian sejarah ini.

Semua bangsa melakukan cara serupa ini, tidak peduli apa pun agama atau ideologi politiknya, untuk tujuan baik atau pun tujuan buruk. Sejarah pergundikan juga tidak luput dari perhatian penulis sejarah.

Sekarang kita beralih ke masalah yang lebih serius dan abstrak: teologi. Pihak Kristen dan pihak Muslim sama-sama terlibat dalam “perang” teologi ini. Sampai abad ke-21 ini hanyalah dalam jumlah yang sangat terbatas intelektual dan umat Kristen yang bersedia mengakui bahwa Muhammad itu seorang nabi yang mendapat wahyu dari Allah, sebagaimana para nabi dan rasul sebelumnya. Sebaliknya bagi setiap Muslim beriman kepada para nabi dan para rasul sebelum Muhammad punya dasar dan pijakan teologi yang sangat kuat.

“Inti pesan risalah para nabi dan rasul itu sebenarnya adalah tentang keesaan dan kemahakuasaan Tuhan, serta kepercayaan kepada akhirat”

Ayat-ayat Alquran tentang hal itu terdapat di berbagai tempat. Kita kutip satu saja dalam surat al-Baqarah ayat 4: “Dan orang-orang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau [Muhammad] dan apa-apa yang diturunkan sebelum engkau. Dan kepada akhirat mereka yakin.” Dalam teologi Islam, risalah kenabian itu merupakan satu kesatuan, tidak boleh dipisahkan. Jika mau dibedakan, sebagian nabi dan rasul terdahulu itu hanya diutus untuk kaum tertentu.  Muhammad sebagai nabi terakhir diutus untuk seluruh manusia.

Tetapi dalam perkembangannya, berbeda dengan agama Yahudi yang tidak giat menambah pengikut, agama Kristen dan agama Islam adalah missionary religions (agama dakwah) yang berlomba-lomba menambah penganut baru. Perlombaan itu terjadi di mana-mana, khususnya di benua hitam Afrika, kedua agama ini benar-benar jor-joran memperluas pengaruh masing-masing.

Sementara di Eropa dan Amerika yang dikenal sebagai dunia Kristen, Islam pun telah mencatat pengikut-pengikut baru, baik dari penduduk asli, mau pun dari pendatang yang migrasi ke sana.

Inti pesan risalah para nabi dan rasul itu sebenarnya adalah tentang keesaan dan kemahakuasaan Tuhan, serta kepercayaan kepada akhirat. Iman seorang Muslim akan menjadi rusak jika tidak percaya kepada para nabi dan para rasul terdahulu, termasuk Nabi Musa dengan Kitab Tauratnya dan Nabi ‘Isa dengan Kitab Injilnya.

Musa dan ‘Isa dari Bani Israel, sedangkan Muhammad dari Bani Isma’il, semuanya keturunan nabi Ibrahim sebagai bapak monoteisme. Tetapi mengapa pengikut ketiga agama itu sulit sekali akur dan masih saja mencoraki hubungan Islam dan Barat sampai hari ini?

“Luka lama jangan diperlebar lagi. Maka, demi persaudaraan dan perdamaian universal, semua pihak mesti berangkat dari sebuah filosofi bahwa kemanusiaan itu tunggal”

Sekalipun tuduhan brutal Barat terhadap nabi Muhammad sudah semakin melemah, berkat kajian ilmiah dari sarjana mereka, untuk mengakuinya sebagai nabi baru penerus Musa dan ‘Isa baru merupakan riak-riak kecil. Teologi Kristen khususnya, seperti konsep trinitas, status ketuhanan Yesus, dan dosa warisan memang tidak mungkin berdamai dengan teologi Islam yang bertumpu pada tauhid. Kritik Alquran terhadap teologi serupa itu memang keras, tetapi tidak perlu saya buka di sini.

Luka lama jangan diperlebar lagi. Maka, demi persaudaraan dan perdamaian universal, semua pihak mesti berangkat dari sebuah filosofi bahwa kemanusiaan itu tunggal. Perbedaan dalam teologi tidak boleh digunakan untuk merusak filosofi agung itu.

Alquran dalam surah al-Hajj ayat 40 bukan saja mengakui tentang kemanusiaan itu tunggal, bahkan lebih jauh ditegaskan bahwa nama Tuhan itu disebut di mana-mana, tidak hanya di masjid.

Kita kutip arti ayat itu: “…dan sekiranya Allah tidak memberi kemampuan kepada manusia untuk mempertahankan dirinya terhadap satu sama lain, maka  biara-biara (shawami’), gereja-gereja (biya’), sinagog-sinagog (shalawat), dan masjid-masjid pasti akan hancur berantakan, di dalamnya nama Allah banyak disebut. Dan sungguh Allah menolong siapa yang menolongnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.”

Sikap Saling Memahami antara Islam dan Barat (2)

Barat benar-benar merasa lega dengan menghilangnya musuh besar yang sangat ditakuti itu.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Sikap saya jelas tidak membenarkan penaklukkan Konstantinopel itu, mentang-mentang dilakukan oleh penguasa Muslim. Saya mengungkapkannya sebagai fakta sejarah yang tidak bisa diubah oleh siapa pun.

Saya sepenuhnya meyakini kebenaran alinea pertama pembukaan UUD 1945 yang berbunyi: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Alinea ini adalah saripati pengalaman pahit, getir, dan perasaan hina para pendiri bangsa Indonesia dalam menyikapi sistem penjajahan oleh pihak mana pun.

Pada sampul belakang buku Roger Crowley di atas (lih. Resonansi, 9 Maret), terasa sekali dendam Barat atas kejatuhan Konstantinopel itu, sekalipun dalam bahasa yang relatif sopan. Kita kutip: “Selama lebih 1000 tahun, Konstantinopel telah menjadi pusat dunia Barat dan [kemudian] sebagai pertahanan Kristen terhadap Islam. Tetapi tahun 1453, Mehmet II, sultan Imperium Turki Usmani, mengerahkan pasukan Islam, bertekat untuk mengambil kota itu melalui pengepungan.”

“Dilengkapi dengan persenjataan baru, 80,000 Muslim bulan April 1453 mengawali pukulan mereka melawan hanya sejumlah 8,000 pasukan Kristen dikomandani oleh Constantine XI, kaisar ke-57 Bizantium. Setelah berminggu-minggu gempuran tanpa jeda, kota itu jatuh dan dunia berubah, menandai usainya dunia abad tengah.”

Kita terjemahkan judul karya Roger Crowley itu: 1453: Perang Suci untuk Konstantinopel dan Benturan Islam dan Barat. Bahwa kejatuhan kota Konstantinopel itu telah mengubah dunia secara dramatis, memang dapat diterima. Dan itu dilakukan oleh seorang komandan berusia belia.

“Alinea ini adalah saripati pengalaman pahit, getir, dan perasaan hina para pendiri bangsa Indonesia dalam menyikapi sistem penjajahan oleh pihak mana pun.”

Amati istilah yang dipakai di sini “Benturan Islam dan Barat” (The Clash of Islam and the West). Roger tidak salah, karena memang yang terjadi adalah gempuran pasukan Muhammad II untuk menaklukkan kota Konstantinopel, ibu kekaisaran Bizantium, demi keperkasaan Imperium Turki Usmani.

Karya Roger setebal 266 halaman ini secara kebetulan saya beli di bandara Istanbul (Konstantinopel lama) pada 6 Mei 2016 dalam perjalanan pulang dari simposium tentang Fazlur Rahman di kampus Universitas Inonou, Malatya, Turki bagian Timur.

Bagaimana kebijakan Sultan Muhammad yang mengetahui banyak bahasa itu setelah peristiwa besar itu? Dari sumber ensiklopedia Barat karya Cyril Glasse, kita baca kesaksian berikut ini: “Sebagai seorang Sultan, Mehmet II bersikap liberal secara wajar terhadap penduduk yang ditaklukkannya, memberikan perlindungan terhadap gereja-gereja Kristen dan biara-biara yang jatuh ke bawah kekuasaannya. Memang, pada akhirnya, Turki Usmani benar-benar telah jadi pelindung gereja Ortodoks.”

“Mehmet II faham bahasa Persi, bahasa Arab, dan bahasa Turki, sedikit bahasa Latin dan bahasa Yunani. Dia menulis puisi dalam bahasa Persi dan sekaligus sebagai pelindung kesenian.” (Lih. Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia of Islam. New York: HarperCollins, 1991, hlm. 266). Dalam sejarah Turki, Sultan Muhammad II sebagai penakluk besar ditulis dengan tinta emas.

“Perbuatan racun meracun ini dalam politik kekuasaan bukanlah sesuatu yang ganjil, termasuk berlaku dalam imperium, kerajaan, kesultanan, atau pun republik yang dipimpin oleh penguasa Muslim.”

Tetapi di ujung hidupnya yang tragis, pada 3 Mei 1481, Sultan Muhammad kabarnya diracun oleh dokternya seorang Persi yang bersekongkol dengan putera mahkota Bayezit yang memang tidak punya hubungan dekat dengan sang ayah. Kematian Sultan Muhammad ini disambut dengan sorak-sorai di Italia terutama. (Roger, hlm. 254). Dunia Barat benar-benar merasa lega dengan menghilangnya musuh besar yang sangat ditakuti itu.

Istana Topkapi yang megah di Istanbul, tempat kediaman sultan Turki Usmani antara abad ke-15 sampai akhir abad-ke-19, sarat dengan cerita mistik dan skandal harem (pergundikan). (Lih. Akbar S. Ahmed, Islam Today. London-New York: I.B. Tauris Publishers, 2002, hlm. 73).

Perbuatan racun meracun ini dalam politik kekuasaan bukanlah sesuatu yang ganjil, termasuk berlaku dalam imperium, kerajaan, kesultanan, atau pun republik yang dipimpin oleh penguasa Muslim.

Komputer Tua dan Para Sahabat

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Sahabat dalam hidup itu amatlah penting. Penting sekali. Di kala suka, di kala duka, sahabat itu mutlak harus selalu hadir. Alangkah sepi dan gersangnya kehidupan ini manakala para sahabat menjauh dan menyingkir.

Mungkin karena egoisme dan ketidakarifan kita dalam merajut pergaulan. Jangan sampai kita melupakan prinsip sosiologi bahwa manusia itu adalah makhluk sosial.

Dengan karunia Allah, jumlah sahabat saya sudah berjibun dalam berbagai lintas. Di antara mereka itu adalah empat nama di bawah ini yang akan ditulis saat saya sedang mondok di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, 11-20 Februari 2021.

Gara-gara OTG (orang tanpa gejala), saya diserang Covid-19, sebagaimana telah ditulis dalam ResonansiSelasa yang lalu. Dalam neraca perbandingan, sebagian para sahabat itu lebih arif dan lebih baik dibandingkan saya.

Mungkin virus yang menyerang saya, kata dokter, sudah merupakan bangkai. Yang jadi sasaran tidak merasakannya. Para sahabat semisal DR Sudhmamek AWS (Jakarta) dan DR Sulthon Amien (Surabaya), Prof Muhadjir Effendy (Jakarta), dan Prof Achmad Jainuri (Sidoarjo) sengaja tidak diberi tahu, sekalipun akhirnya tercium juga oleh mereka.

Terhadap banyak sahabat yang lain juga demikian. Janganlah hendaknya berita tentang saya ini jadi tambahan beban bagi mereka. Pihak yang semula mengerti hanyalah keluarga inti dan kalangan yang sangat terbatas lainnya.

Salah seorang dokter yang merawat saya, Dr Evan Gintang Kumara SpD suka berbagi ilmu dengan pasien. Termuda di antara para dokter yang lain. Pasien yang awam dalam masalah kesehatan, seperti saya ini, pendekatan Dr Evan ini sungguh menghibur.

Bagi dokter ini, angka CT value yang dijadikan ukuran dalam menilai kadar Covid-19 tidaklah teramat penting. Yang terpenting sehat, bukan angka-angka, bukan positif-negatif.

Keterangan yang diberikan langsung kepada saya pada 19 Februari itu sangat melegakan pasien. Dada rasanya jadi semakin longgar. Inilah pendekatan psikosomatik dari seorang dokter. Pasien sungguh memerlukan sentuhan kejiwaan semacam ini, terutama saat sakit berat dan berbahaya. Kepada dokter muda ini, saya sarankan agar ilmu psikosomatik diperdalam.

Kembali kepada judul di atas. Tujuan menyebut komputer tua milik PKU adalah untuk menunjukkan bahwa saya harus belajar dari kelakuannya yang menuntut kesabaran. Hurufnya yang sering meloncat kian ke mari harus diikuti dengan sabar dan tenang.

Telat saja sedikit menyimpan kata atau kalimat yang telah ditulis langsung kabur. Tetapi saya menikmatinya. Sebagai merek ASUS yang memang sudah berumur, bisa dimengerti, tetapi jangan disandingkan dengan usia saya. Komputer ini adalah tipe tahun 2007. Tahun 2021 ini, jika diibaratkan siswa, baru masuk SMP.

Tetapi bagi komputer yang tak pernah rehat, usia sekian itu sudah cukup lanjut. Adalah DR Sudhamek AWS dengan mengutip pendapat Peter Drucker yang mengatakan: “Never leave yourself unemployed” (Jangan pernah nganggur). Tujuannya agar saya jangan banyak bermenung saat dirawat.

Lalu saya katakan telah mulai menulis dengan menggunakan komputer tua. Langsung saja ditanggapi: “Saya kirim laptop baru, ya… kalau berkenan.” Karena Sudhamek kelahiran Jawa, tawaran itu saya jawab dalam bahasa Jawa: “Inggang anyar wonten teng omah, mboten perlu perlu Pak Dhamek. Nuwun sanget.

Sudhamek masih melanjutkan: “Sebetulnya saya bisa kirim dari anak buah yang di Yogya.” Selain menawarkan komputer, sahabat ini juga telah mengirimkan Clover Honey ke rumah kami. Selama Covid-19, entah sudah berapa kali saya mendapat kiriman macam-macam dari bos Garuda Food Group ini.

Sebagai seorang pengusaha kelas hiu, DR Sudhamek sudah banyak memberikan bantuan kepada para intelektual Muslim Indonesia, khususnya untuk kepentingan studi lanjut. Ini sudah berjalan puluhan tahun.

Tidak perlulah nama-nama yang dibantu itu dituliskan di sini. Sebagian sudah wafat. Yang lain belum lama ini juga dibantu, bahkan dicarikan pekerjaan dan tempat tinggal.

Maka jika Sudhamek menulis buku: Mindful-Based Business (Berbisnis Dengan Hati Nurani) yang diluncurkan belum lama ini, tidaklah mengejutkan. Apa yang ditulis dalam buku itu rupanya itu pulalah yang dipraktikkan dalam perusahaannya. Keuntungan semakin membesar, tetapi juga untuk berbagi dengan yang lain yang memerlukan, di samping perusahaan dijalankan secara benar.

Filosofi bisnis sejenis ini adalah lawan tangguh dari sistem kapitalisme, klasik ataupun modern. Di dunia yang semakin sekuler, corak bisnis yang dijalankan Sudhamek ini mungkin sudah absen lebih dari dua abad dari muka bumi, termasuk di dunia Muslim yang lagi terkapar di pinggir peradaban. Penganut agama Buddha Mahayana ini punya filosofi bisnis dengan landasan spiritual yang dalam dan kuat sekali.

Persahabatannya dengan kami yang sudah berlangsung cukup lama tidak pernah dingin. Selalu hangat. Bagi saya, pengalaman bergaul dengan manusia tipe Sudhamek ini amatlah langka. Bahasa hati yang selalu digunakannya terasa tulus sekali.

Tanpa topeng, tanpa sandiwara, tanpa agenda terselubung apa pun. Ibarat tinggal di rumah kaca, semuanya terang benderang. Apa yang terlihat dari luar, itu pulalah yang ada di dalam. Saya “iri”, saya sedih, mengapa sebagian teman seagama saya belum tentu punya sifat semulia itu.

Padahal, Islam dalam bacaan saya menyediakan bergudang-gudang ajaran dan pedoman hidup untuk membentuk manusia mulia sampai ke tingkat spiritual tertinggi sekalipun.

Sekarang beralih ke DR Mohammad Sulthon Amien, pengusaha klinik darah Parahita dari Surabaya. Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur, di samping ahli pendidikan yang juga mengembangkan teori joyful learning(belajar dengan ceria).

Cabang perusahaannya sudah melebar di berbagai kota besar di Indonesia. Saya tidak tahu sudah berapa banyak harta bendanya yang diserahkan untuk kepentingan umum. Perkenalan saya dengan Sulthon sudah berjalan lebih dari 30 tahun.

Kontak tidak pernah putus, sekalipun saya tidak lagi di jajaran pengurus Muhammadiyah. Sulthon juga sebagai Preskom PT Cita Mulia Group. Sulthon adalah contoh hidup dari seorang yang sudah berusia 62 (tahun 2019) masih mau belajar sampai mendapatkan gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada pada Januari 2019 dengan predikat cum laude (sangat memuaskan).

Ini nasihat Sulthon kepada saya saat dirawat. “Obat yang ada hanya suplemen. Fondasinya fisik dan psikis kita. Makan dan istirahat cukup serta spirit tetap terjaga.”

Dalam filosofi bisnis, ada kemiripan antara Sulthon dan Sudhamek. Sulthon mengembangkan apa yang disebutnya sebagai manajemen spiritual. Artinya, dalam berbisnis, nilai-nilai kerohanian harus diutamakan.

Manusia tidak boleh rakus. Harta kekayaan punya fungsi sosial, selain ada kewajiban membayar pajak. Sudhamek yang Buddha, Sulthon yang Muslim punya sikap yang sama terhadap harta. Dengan demikian, antara Budhisme dan Islam jika dipahami secara benar dapat membentuk sikap yang sama terhadap kekayaan.

Saat sampai berita tentang saya lagi dirawat, Sulthon langsung menanyakan kondisi kesehatan saya. Lalu diteruskan apakah kerso (mau) dikirimkan obat herbal berbasis mikroba.

Sulthon berkirim sesuatu kepada saya bukan hanya ketika dirawat ini. Macam-macam sudah dilakukan sebelumnya. Maka pada pagi 17 Februari obat herbal plus sari buah dan jeruk nipis digantungkan pada pintu kamar rawatan saya.

Oh ya, pada 18 Februari siang Menko PMK Prof Muhadjir Effendy juga berkunjung ke PKU Gamping. Sempat kontak via video call dengan saya dan meninggalkan sesuatu, sebagaimana sebelumnya telah berulang dilakukannya. Dan pada 20 Februari Pof Achmad Jainuri juga menitipkan bandeng dan buku di rumah kami.

Perhatian mereka terhadap saya demikian besar. Saya tidak mungkin mengimbanginya. Nama sahabat lain yang daftarnya panjang itu tidak akan disebut di sini. Tersebar di berbagai tempat.

Matur nuwun para sahabat! Itulah persahabatan, tetapi posisi saya seringkali sebagai tangan di bawah. Sudhamek, Sulthon, Muhadjir, dan Jainuri sebagai tangan di atas. Menurut agama, tangan di atas lebih mulia dan lebih baik daripada tangan di bawah.

Akhirnya, terima kasih komputer tua yang telah berjasa membunuh kejenuhan selama saya menjalankan perawatan.

Catatan: Ketika artikel ini ditulis, belum ada berita tentang wafatnya DR Artidjo Alkostar, asketis garda depan. Artikel ini dengan demikian belum terpengaruh oleh kepergian sahabat agung kita itu.

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat (1)

Dunia Islam sampai hari ini dalam ketidakberdayaannya juga memendam dendam tak berkesudahan terhadap Barat.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. sudah memasuki ruang sejarah sekitar 1455 tahun dalam hitungan hijriah. Dalam hitungan miladiah 1411 tahun, dimulai sejak turunnya wahyu yang pertama pada 610. Penentuan permulaan tahun hijriah adalah hasil ijtihad ‘Umar bin Khattab dan ‘Ali bin Abi Thalib. Dimulai bulan September tahun 622 saat nabi berhijrah ke Madinah.

Menurut kesaksian Alquran (s. al-Hajj ayat 78) nama umat Muslim diberikan oleh nabi Ibrahim, yang juga menjadi bapak spiritual umat Yahudi dan umat Kristen (Nasrani). Peradaban Barat lebih banyak dibentuk oleh tradisi Yahudi dan tradisi Kristen (Judeo-Christian tradition), di samping oleh warisan Yunani.

Dibandingkan dengan agama Yahudi dan agama Kristen, Islam adalah pendatang baru yang selama ratusan tahun terhambat untuk memasuki pusat-pusat peradaban Barat modern. Seakan-akan Islam itu hanyalah fenomema Timur, padahal Alquran dengan jelas mengatakan bahwa Timur dan Barat adalah milik Allah (s. al-Baqarah: 115 dan 142). Atau dalam ungkapan lain, Alquran menyebut “Tuhan Timur dan Barat” (s. al- Syu’arâ ayat 28 dan al-Muzammil ayat 9).

Ketika ayat-ayat itu turun, tentu Barat yang dimaksud bukan Barat sebagai unit peradaban seperti yang kita kenal kemudian. Barat dan Timur dalam ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa milik Allah itu adalah seluruh kemestaan ini, di samping Timur sebagai tempat terbit matahari dan Barat sebagai tempat terbenamnya matahari. Tetapi saya rasa juga tidak salah kalau kita tafsirkan Barat sebagai unit peradaban yang dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan Kristen, seperti tersebut di atas.

Resistensi umat Kristen terhadap Islam demikian keras dan frontal karena dua faktor: sejarah dan teologi. Kita lihat dulu faktor sejarah. Setelah 100 tahun pasca wafatnya nabi Muhammad, Islam telah telah menjadi agama dunia, baik karena penaklukan politik-militer mau pun karena dakwah yang sangat gencar. Afrika Utara sebagai jajahan Bizantium ditaklukkan, tanah Andalusia dikuasai sampai tujuh abad.

Di antara peristiwa yang paling menyakitkan Barat adalah jatuhnya kota Konstantinopel, ibu kota Bizantium, pada 1453 ke tangan Sultan Muhammad II (1429-1481) dari dinasti Turki Usmani. Kota ini memang sudah diincar sejak era Imperium Umayyah (661-749), tetapi selalu gagal. Sultan Muhammad saat itu baru berusia 24 tahun dengan semangat ghazi (penyerangan) yang mendidih.

Merebut kota Konstantinopel bagi Sultan Muhammad bukan perkara mudah. Perlawanan pihak Bizantium dibantu relawan Yunani dan Italia terhadap pasukan Turki sengit sekali. Demikian sengitnya, sampai-sampai pernyataan Ibn Khaldun yang disampaikan jauh sebelum peristiwa itu terjadi dikutip penulis Inggris modern berikut ini: “Tidak ada kepastian kemenangan dalam perang, bahkan di saat perlengkapan dan angka kekuatan yang membawa kemenangan cukup tersedia. Kemenangan dan keunggulan dalam perang datang dari keberuntungan dan peluang. ”(Lih. Roger Crowley, 1453: The Holy War for Constantinopel and the Clash of Islam and the West. New York-Boston: Hachette Books, 2014, hlm. 203). Seakan-akan pendapat Ibn Khaldun itu sudah merupakan sebuah dalil, sebuah aksioma.

Setelah dikepung dan baku hantam selama tujuh pekan, maka baru pada 29 Mei 1453 kota itu takluk. Di mata Barat, kehilangan Konstanstinopel ini benar-benar teramat memalukan dan menyakitkan. Sebuah penghinaan yang luar biasa.

Kaisar Bizantium ke-57 dan yang terakhir, Constantine XI Dragases Palaiologos (1405-1453) adalah lawan tangguh Sultan Muhammad yang mati terbunuh dalam pertempuran dahsyat itu dalam usia 48 tahun. Di mana makamnya, sampai sekarang tidak diketahui (lih. Roger, hlm. 257).

Dendam Barat atas kejatuhan kota kebanggaan ini masih dirasakan sampai sekarang. Sebaliknya, umat Islam juga punya dendam berkepanjangan akibat penjajahan panjang Barat atas bangsa dan negara mereka, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.

Tetapi Barat tidak selalu jujur. Karena sebelum akhir abad ke-16, untuk mengutip AJ Toynbee, Barat telah memasang tali lasso ke leher dunia Muslim untuk mencekiknya. Maka hasilnya di akhir abad ke-19, hampir seluruh negeri Muslim telah berubah jadi tanah jajahan Barat, termasuk Nusantara kita. (Lih. AJ Toynbee, Civilization on Trial and the World and the West. Cleveland-New York: The World Publishing Company, 1963, hlm. 248).

Dibandingkan dengan kejatuhan Konstantinopel, penjajahan Barat atas dunia Muslim jauh lebih parah dan lebih menyakitkan. Skalanya global, sifatnya brutal dan ganas.

Dunia Muslim sampai hari ini dalam ketidakberdayaannya juga memendam dendam tak berkesudahan terhadap Barat, seperti baru saja dikatakan. Tidak jarang dendam itu dibungkus dengan jubah teologis. Tetapi apakah sifat saling dendam ini mau diteruskan sampai hari kiamat?

Akal sehat tentu akan menjawab: ”Hentikan dendam itu, dan ciptakan budaya saling memahami dan saling berbagi, demi perdamaian abadi dan persaudaraan universal umat manusia. Bukankah kemanusiaan itu tunggal adanya? Barat, Timur, Utara, Selatan hanyalah dinding-dinding artifisial dalam perspektif ayat-ayat Alquran di atas. Semuanya kepunyaan dan ciptaan Allah.”

Serangan Covid-19 Kategori OTG

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

“OTG seperti saya ini, mungkin yang masih beruntung karena perlindungan Allah belaka.”

Orang tanpa gejala (OTG). Kami sekeluarga sebelumnya sama sekali tak mengira, saya akan termasuk kategori ini.

Ketika istri saya (Hj Nurkhalifah) di-swab pada 11 Februari 2021, sekitar pukul 10.30 WIB, oleh petugas RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, karena sebelumnya berdekatan dengan menantunya yang terpapar, saya hanya ikut-ikutan.

Tidak ada tanda-tandanya. Pusing tidak, panas tidak, sesak napas tidak, batuk tidak. Makan biasa. Lidah dan hidung berfungsi normal. Singkat kata, tidak ada keluhan. Maka, tidak cukup alasan untuk khawatir.

Sorenya, apa yang terjadi? Dr Muhammad Adnan Sp HTT dari PKU menelepon saya, memberitahukan hasil swab. Istri negatif, saya malah positif dengan CT value32,25. Artinya, sudah diserang beberapa hari sebelumnya. Kami semua tentu saja kaget.

Istri saya menjerit. Karena saya sudah berusia 85 tahun plus gula sekalipun terjinakkan, dan batu ginjal, macam-macamlah yang terbayang. Awak yang sudah sepuh ini diserang pandemi lagi, sekalipun dalam bentuk OTG.

Sore itu dalam suasana agak galau karena dalam persiapan isolasi ke PKU malam itu juga, saya masih sempat kirim artikel yang sudah siap untuk Republika, yang kemudian dimuat pada 16 Februari dengan judul: “Muhammadiyah Cabang Babat Sulit Ditandingi”.

PKU Gamping yang baru berusia 12 tahun ini dipilih karena lebih lapang dan sepi. Di lantai tiga, dari jendela menghadap ke utara, kita dengan leluasa memandang Gunung Merapi yang lagi batuk-batuk saat tidak diliputi kabut.

Di ruang ini pula pada Juli 2019, saya pernah dirawat karena batu ginjal. Sebagai OTG, saya harus sendirian tinggal di ruang ini. Sekitar setahun sebelumnya, istri saya juga operasi kedua tempurung lututnya di PKU ini. Hasilnya sangat memuaskan.

Di antara dokter yang mengawasi pasien, ada yang memakai APD seperti pakaian astronaut dengan sepatu botnya dan masker berlapis. Dr Evan Gintang Kumara Sp D dan Dokter Maskur Rahmat Sp D kemudian datang pula Dr Ardorisye Saptaty Fornia Sp P.

Mereka yang pertama mengunjungi saya dan menanyakan, mengapa saya sampai terpapar. Sebelum masuk kamar, ada proses ambil darah dan CT Scan terlebih dulu. Sebuah panorama rumah sakit yang tidak biasa kita lihat sebelum serangan Covid-19.

OTG seperti saya ini, mungkin yang masih beruntung karena perlindungan Allah belaka. Di mana saya terserang dan melalui siapa, tidak bisa dijawab. Sejak Maret 2020, saya patuhi protokol kesehatan. Selalu cuci tangan.

Pergi ke toko swalayan dan ke bank tak berani. Selama lima bulan absen shalat Jumat dan tidak mendekati kerumunan. Jika bersepeda sendirian ke luar rumah biasanya pakai masker. Tamu amat jarang datang. Jika berkunjung dengan jarak aman.

Tamu terakhir awal Februari 2021 adalah Ketua BPK DR Agung Firman Sampurna, bersama pengusaha dermawan Jenderal Fahmi SH. Agak jauh sebelum itu ada kunjungan Kepala BNPT Komjen DR Boy Rafli Amar MH, dengan jarak aman.

Sesudah itu, kunjungan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Komjen DR Rycko Amelza Dahniel MSi, juga menaati protokol kesehatan. Jadi, dugaan saya, terpapar bukan dari para tamu penting itu.

Mereka sebelumnya sudah wanti-wanti untuk sama-sama menjaga jarak. Lalu dari jurusan mana virus ini menyerang? Dalam bahasa Minang, jawabannya adalah antalah yuang (entahlah buyung)!

Perasaan takut pergi ke rumah sakit selama ini harus ditundukkan. Isolasi di rumah jelas tak memadai, sekalipun virus yang datang itu mungkin jenis yang lebih sopan. Ada rasa kasihannya kepada si tua renta ini.

Para dokter dan semua tenaga kesehatan lainnya di PKU Gamping adalah manusia penuh dedikasi. Saya wajib berterima kasih kepada mereka itu. Terlalu banyak jika disebut satu per satu.

Dirut PKU Gamping, Dr Ahmad Faesol Sp Rad, alumnus pandemi ini, terus saja memantau kondisi saya. Untuk staf perawat, cukup seorang saja ditulis di sini: Rubi Yanto dari bagian MPP (manajer pelayanan pasien).

Bung Rubi selalu menanyakan keadaan saya. Tidak sebatas itu, urusan komputer pun dibantunya. Pada 16 Februari pagi, Dr Evan Sp D menemui saya sambil memberitahukan keadaan saya, yang sudah semakin membaik dan boleh pulang sebelum 11 hari.

Untuk swab kedua kali dapat dilakukan di rumah, tetapi tetap mematuhi ketentuan isolasi mandiri. Dalam kamar harus sendiri, piring makan dan gelas untuk minum mesti terpisah, dan lain-lain.

Setelah keluarga berunding, anak kami, Mohammad Hafiz, menyarankan jangan pulang dulu sebelum di-swab lagi di PKU dengan hasil negatif agar semuanya merasa tenang. Dr Evan setuju dengan saran ini.

Pada 20 Februari pagi, Dr Adnan melakukan swab lanjutan untuk saya. Sorenya, alhamdulillah, hasilnya sudah negatif dan saya boleh pulang setelah sembilan hari dirawat. Matur nuwun sanget atas segala kebaikan, atas segala doa.

PKU Gamping untuk sekian kalinya berjasa menjaga kesehatan kami sekeluarga. Hanya Allah yang bisa membalas semua bantuan dan kebaikan itu. Amin.

Sumber:

https://www.republika.id/posts/14430/serangan-covid-19-kategori-otg

Bintik-Bintik Hitam dalam Sejarah Modern Indonesia (III)

AHMAD SYAFII MAARIF

Pilihan untuk menentukan  bintik-bintik hitam dalam sejarah modern Indonesia tentu berdasarkan pandangan subyektif saya yang bisa saja dikoreksi oleh siapa pun dengan segala fakta yang dikemukakan. Setelah drama Rengasdengklok yang menghebohkan itu, akan saya bicarakan beberapa bintik hitam lain berikut ini.

Kedua, pemberontakan PKI Madiun.  Dimulai 18 September 1948, kemudian menjalar ke Jawa Tengah. Saat bangsa dan negara sedang tertatih-tatih menata dirinya di tengah incaran pasukan Belanda yang ingin melumpuhkan republik yang baru berusia setahun jagung itu, PKI pimpinan Muso malah menikam dari belakang. Amat disayangkan seorang Mr Amir Sjarifuddin, tokoh Sumpah Pemuda 1928, mantan menteri dan perdana menteri masa revolusi, terseret oleh provokasi Muso ini. Baik Muso mau pun Amir akhirnya tertangkap dan ditembak mati oleh pasukan AD. Di waktu mudanya, Muso pernah nyantri di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Amir adalah sahabat politik St. Sjahrir dalam faksi sosialis sebelum keduanya pecah kongsi awal 1948.

Pemberontakan Madiun ini banyak membawa korban, terutama di kalangan santri yang memang menjadi musuh utama PKI. Pemberontakan ini ditumpas oleh pemerintah Hatta (dibentuk 29 Januari 1948). Hatta  menggantikan kabinet Amir Sjarifuddin yang menyerahkan mandat pada bulan itu karena oposisi hebat dari Masyumi dan PNI.

Pemerintah Hatta dalam tempo singkat berhasil menumpas habis pemberontakan komunis itu dengan mengerahkan pasukan Siliwangi ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sejak kabinetnya jatuh awal tahun itu, Amir mulai kehilangan keseimbangan untuk akhirnya bergabung dengan Muso, seperti tersebut di atas. Sebuah pilihan politik telah membawa Amir ke ujung karier yang memilukan.

Sebagai agen Moskow, Muso sendiri sebenarnya baru datang ke Indonesia bulan Mei 1948. Hanya dalam tempo empat bulan Muso berhasil menguasai FDR (Front Demokrasi Rakyat), faksi kiri, yang semula dibentuk dan dipimpin oleh Amir Sjarifuddin pada Februari 1948 sebagai perlawanan terhadap kabinet Hatta.

Amir bersama kelompoknya dieksekusi pada 19 Desember 1948 di Karanganyar, Surakarta, atas perintah Gubernur Militer Kol Gatot Soebroto. Tanggal ini persis sama dengan tanggal menyerahnya Bung Karno-Bung Hatta dan beberapa menteri di ibu kota Yogyakarta kepada pasukan Belanda yang membobardir kota ini selama beberapa jam.

Pemberontakan Madiun ini oleh pihak PKI dicoba untuk diputihkan yang dikatakan sebagai akibat provokasi Hatta, tetapi fakta sejarah tidak bisa dibantah. PKI ketika itu lebih setia kepada Moskow, sesuatu yang ditentang oleh Tan Malaka.

Pemerintah Hatta hanya menangkap para pemberontak saja, sedangkan PKI sebagai partai tidak dibubarkan. Maka mulai tahun 1951 di bawah pimpinan DN Aidit, PKI bangkit kembali, sebagaimana nanti akan dibicarakan lagi.

Ketiga, pemberontakan DI/TII. Awal tahun 1960-an saya masih saja sedikit simpati dengan gerakan DI/TII ini. Akan tetapi setelah saya belajar dan melihat kerusakan yang ditimbulkannya atas nama agama, simpati saya buyar sama sekali.

Oleh sebab itu, gerakan ini saya masukkan dalam kategori bintik-bintik hitam. Pemimpinnya adalah para santri yang kemudian menjadi radikal. Ada tiga daerah yang menjadi pusat pemberontakan ini: Jawa Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Ada juga gerakan Amir Fatah di Jawa Tengah, 1950-1959, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, tetapi tidak pernah menjadi kuat.

Sumber Resonansi Republika

Tidak Mudah Membangun Indonesia (III)

AHMAD SYAFII MAARIF  

Saya pernah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar dia meninggalkan sebuah legacy (warisan monumental) dalam masa jabatannya untuk bersiap menghadapi usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya, bukan saya saja yang berharap demikian, sahabat saya, DR. Sudhamek AWS, bahkan punya harapan yang lebih tinggi lagi. Katanya, dalam 100 tahun belum tentu Indonesia punya pemimpin seperti Jokowi ini.

Alasannya, pertama, Jokowi tidak punya beban sejarah masa lampau; kedua, dia punya ketulusan. Oleh sebab itu, dalam proses pembangunan nasional, modal sosial Jokowi cukup kuat. Kita tentu harus melihat pada periode kedua yang lagi dihantam Covid-19 ini, apakah harapan Sudhamek masih mungkin menjadi kenyataan atau sebaliknya. Tentu kita semua berharap sebuah legacy seperti tersebut di atas jangan sampai terabaikan. Sebagian besar rakyat Indonesia sudah amat lama menderita. Penderitaan ini hanya bisa dijawab dengan strategi pembangunan yang sepenuhnya berpedoman kepada Pancasila.

Program pemerintahan Jokowi menjadikan Trisakti Bung Karno yang diucapkannya pada 1964, lebih setengah abad yang lalu, sebagai acuan praktis dalam pelaksanaan Pancasila. Trisakti itu meliputi: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Pada saat gagasan besar brilian ini dicetuskan, sesungguhnya perekonomian Indonesia sedang morat-marit di bawah sistem Demokrasi Terpimpin (1959-1966). Juga politik konfrontasi dengan Malaysia telah demikian menguras energi bangsa ini sampai batas yang sangat jauh. Pada era ini banyak pula para pendiri bangsa yang ditahan tanpa proses peradilan.

Namun, kemelut politik dan ekonomi saat itu tidak mengurangi apresiasi kita kepada gagasan Trisakti, karena memang sesuai dengan roh Pancasila, baik dalam arti politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Bung Karno sendiri belum sempat mengalami Trisakti itu dalam wujud yang nyata. Jadi, seperti telah dibicarakan sebelumnya masih pada tahap das sollen. Maka untuk menggelindingkan das sollen itu menjadi das sein, pemerintahan Jokowi menjadi tumpuan harapan. Saya berharap, dampak buruk Covid-19 terhadap Indonesia jangan sampai dijadikan alasan bagi kemungkinan kegagalan Trisakti dalam pembangunan Indonesia yang adil dan makmur.

Dalam bacaan saya, sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai hari ini, cukup banyak kekuatan bangsa ini tersia-sia karena sebab yang bermacam-macam, seperti sedikit telah terbaca dalam uraian di atas. Karena usia 100 tahun Indonesia merdeka semakin mendekat, saya sudah berkali-kali mengatakan, agar para politikus kita mau naik kelas menjadi negarawan. Dalam sistem demokrasi, seorang yang berasal dari rakyat kecil seperti Jokowi, punya peluang jadi presiden sebuah negara terbesar keempat di skala dunia.

Namun ingat, tanggung jawab seorang presiden demikian beratnya. Masa jabatan Presiden Jokowi akan berakhir pada Oktober 2024. Pertanyaannya: akan berhasilkah pemerintah sekarang membawa cita-cita Trisakti ke bumi nyata sebagai modal utama bagi pemerintahan selanjutnya? Jawaban terhadap pertanyaan ini bagi saya sangat penting, sebab jika gagal, kita tidak bisa membayangkan bagaimana nasib sila kelima Pancasila sebagai tujuan utama kemerdekaan bangsa.

Sebagai seorang warga negara yang sudah sangat renta (85 tahun), saya tidak tega dan tidak rela untuk melihat jika bangsa dan negara ini bergerak dari kegagalan yang satu ke kegagalan berikutnya. Sumber daya alam kita, sekalipun banyak terkuras secara tidak bertanggung jawab, yang tersisa masih banyak, terutama pada sumber daya laut yang sangat menjanjikan. Maka itu, kepemimpinan nasional dan kepemimpinan daerah mesti memahami dengan sungguh-sungguh dan jujur, untuk apa dulu para tokoh bangsa berjuang agar negeri ini terbebas dari sistem penjajahan. Kemerdekaan diperjuangkan dengan segala pengorbanan tidak lain, kecuali demi tegaknya keadilan dan kemakmuran rakyat secara merata. Itulah pesan inti Pasal 33 UUD 1945!

Sumber Republika.id, 9 Juli 2020

Tidak Mudah Membangun Bangsa Ini (II)

AHMAD SYAFII MAARIF

Tentang kendala kultural dalam proses pembangunan bangsa ini, saya persilakan saja tuan dan puan membaca karya-karya Koentjaraningrat dan Mochtar Loebis abad yang lalu. Kali ini tidak perlu saya ulangi lagi di sini. Faktor geopolitik perlu sedikit dibicarakan. Karena letak geopolitik Indonesia yang strategis antara dua benua Asia dan Australia, negeri kita cukup rentan untuk menapis pengaruh pihak luar. Apalagi, dengan kekayaan alamnya yang masih tersisa, negara-negara maju selalu mengintai negeri kepulauan ini untuk keuntungan mereka masing-masing. Dan negara kita tidak selalu siaga dalam menghadapi incaran pihak luar itu.

Sekalipun Indonesia secara teori berpegang kepada politik luar negeri yang bebas aktif, dalam kenyataan sejarah, teori itu sering patah di tengah jalan, bergantung pada siapa pemegang kekuasaan di sini. Pernah suatu ketika Indonesia condong ke blok komunis untuk menakuti Barat, pada saat yang lain ditarik pula ke blok kapitalis. Jadi, jika teori das sollen dan das sein, seperti nanti akan kita jelaskan lebih lanjut, gagasan besar politik luar negeri bebas aktif sebagai cerminan sebuah negara yang berdaulat penuh baru berada pada tingkat das sollen. Dalam praktiknya sebagai das sein, sejarah modern Indonesia belum selalu setia kepada gagasan itu.

Namun, kita pun harus sadar bahwa proses kebangsaan kita masih belum rampung, bahkan sampai hari ini. Kebinekaan suku, agama, budaya, adat istiadat, dan bahasa lokal punya nilai plus dan minusnya. Plus, jika kita pandai mengelolanya dengan kearifan kebangsaan yang sabar dan lapang dada sehingga semua unsur kebinekaan itu didorong untuk menjadi mozaik kekuatan yang sangat kaya di taman sari Indonesia yang adil dan makmur.

Sebaliknya, akan menjadi nilai minus, jika sifat tidak sabar dan sempit hati dibiarkan menjadi arus besar yang bisa meluluhlantakkan segala apa yang telah dibangun dengan susah payah selama ini. Di sinilah tantangan terbesar yang sedang dihadapkan kepada Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang sudah diterima oleh semua pihak yang punya akal sehat dan kesadaran sejarah yang kuat. Masalahnya sampai sekarang dalam kaitannya dengan Pancasila tetap saja belum beranjak dari ketegangan antara das sollen (cita-cita luhur yang diimpikan) dan das sein (kenyataan telanjang yang sedang berlaku) dalam masyarakat.

Contoh-contoh penting dari ketegangan itu, jika bukan malah benturan, antara das sollen dan das sein dalam sistem ketatanegaraan Indonesia dapat dilihat berikut ini. Sila kelima Pancasila sebagai des sollen mengatakan: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Dalam perjalanan sejarah sejak proklamasi, inilah das sein yang terlihat jelas di depan mata kita: terpampangnya ketimpangan sosial-ekonomi yang tajam antara kelompok minoritas kaya dan kelompok marginal yang mayoritas. Maka sila kelima ini yang secara teologis merupakan wujud kongkret dari sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam kehidupan duniawi manusia Indonesia masih tergantung di awan tinggi.

Ketimpangan ini jika belum juga dapat diatasi dalam tempo relatif pendek, tidak mustahil ledakan sosial yang bisa menggoyahkan sendi-sendi kebangsaan kita akan berlaku. Pelajaran pahit dari dampak Covid-19 yang menggerus pertumbuhan ekonomi nasional akan makin memperparah ketimpangan sosial itu. Selain itu, perilaku korup yang sudah menggurita dalam sistem birokrasi dan ekonomi kita belum tampak tanda-tanda akan hilang dalam waktu dekat, sekalipun KPK telah beroperasi sejak 2003 yang lalu. Memang mencari orang yang jujur di republik ini sungguh merupakan sesuatu yang sangat mahal. Jumlah orang bertopeng berkeliaran di mana-mana.

Kita teruskan, Pasal 33 UUD 1945 sebagai das sollen dengan bahasa yang terang benderang mengatakan bahwa negara punya kekuasaan mutlak dalam mengola dan memanfaatkan semua kekayaan bumi, air, dan alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Apa yang terjadi sebagai das sein? Teriakan agar negara memperhatikan dan melaksanakan Pasal 33 ini sudah diperdengarkan sekian lama oleh banyak pihak dengan bahasa yang keras. Namun, dalam kenyataannya, pasal ini selalu ditorpedo oleh kebijakan negara dengan membiarkan pihak pengusaha, asing, dan domestik, untuk menguasai sumber-sumber kekayaan alam itu. Negara cukup puas dapat bagian dari setoran pajak. Ini jelas keterlaluan. Susah memang, mentalitas manusia bekas terjajah, sering tidak berani mengangkat muka berhadapan dengan pihak asing dalam perundingan bisnis. IMF dan Bank Dunia pernah “mendikte” Indonesia saat krisis moneter tahun 1998. n

Sumber Republika.id

Tidak Mudah Membangun Indonesia (I)

AHMAD SYAFII MAARIF

Mimpi-mimpi para pendiri bangsa dan negara setelah hampir 75 tahun merdeka untuk melihat sebuah Indonesia yang adil dan makmur ternyata masih sangat jauh dari kenyataan. Apakah pada saat 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045, seperempat abad lagi, semua mimpi itu akan mendekati harapan, tentu tidak mudah menjawabnya. Tetapi ada sesuatu yang patut disyukuri karena bangsa dan negara kepulauan ini masih bisa bertahan dengan segala dinamikanya, sekalipun pernah diancam perpecahan dalam berbagai periode sejarah modern Indonesia.

Kendala untuk membangun Indonesia berjibun: faktor manusia, faktor kultural, dan faktor geopolitik. Bangsa ini belum pernah berhasil memiliki kepemimpinan nasional yang padu dan kompak dalam arti yang mendekati ideal, bahkan fenomenanya sudah terlihat sejak sebelum kita merdeka. Bahwa mereka itu adalah patriot dan nasionalis tulen yang mencintai bangsa ini dengan kadar yang dalam, tentu sulit untuk dibantah.

Karena cinta yang dalam terhadap bangsa yang baru inilah, pada 1920-an semangat kedaerahan yang semula demikian kental berangsur melemah untuk kemudian melebur menjadi kesadaran yang tinggi  dalam wujud kesadaran kebangsaan Indonesia. Proses pembentukan bangsa ini panjang dan berliku. Melalui jendela sejarah nasional dan sejarah daerah, orang akan bisa membaca betapa dinamika kebangsaan itu berjalan.

Untuk menyegarkan ingatan kolektif kita, saya rekamkan selintas corak hubungan antarelite bangsa pada periode yang lebih awal. Kita semua tahu kerja sama antara Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah berjalan relatif mulus antara tahun 1945-1956. Tetapi sesudah tahun itu perbedaan watak dan pandangan politik antara keduanya semakin sulit disinergikan, sekalipun telah diupayakan beberapa kali. Semuanya gagal, sekalipun hubungan pribadi keduanya tidak pernah putus.

Perbedaan pandangan itu mengkristal pada dua isu utama: masalah demokrasi dan masalah komunisme. Dengan diciptakannya sistem Demokrasi Terpimpin (1959-1966) oleh Bung Karno, Bung Hatta menilai telah terjadi penyimpangan yang jauh dari cita-cita demokrasi yang dulu dibayangkan oleh para pendiri bangsa. Kemudian, dalam menghadapi komunisme yang diwakili oleh PKI, antara Bung Karno dan Bung Hatta terdapat perbedaan sikap seperti siang dengan malam. Bung Karno, dengan dalih demi persatuan nasional, PKI harus dirangkul dan dijinakkan.

Bung Hatta berpendapat sebaliknya.  PKI tidak dapat dipercaya, apalagi partai ini punya ideologi internasionalisme sebagai bagian dari komunisme internasional. Benturan dua pandangan prolamator ini sampai mereka wafat tidak pernah dapat diakurkan. Perbedaan itu sama-sama mereka bawa ke akhirat.

Sebenarnya bukan hanya perbedaan antara Bung Karno dan Bung Hatta. Antara Tan Malaka dan Sutan Sjahrir, keduanya dari sub-kultur Minangkabau, juga pernah konflik. Sjahrir bahkan pernah ditangkap tahun 1946. Di belakangnya ada kelompok Tan Malaka. Tetapi kemudian kedua tokoh nasional ini mengalami nasib tragis di akhir hayatnya masing-masing. Tan Malaka dengan alasan yang tidak jelas malah dibunuh tentara di Jawa Timur pada 19 Febrauri 1949. Nasib Sjahrir juga tidak kurang dramatisnya. Dia ditahan selama beberapa tahun pada 1960-an, dan wafat di Switzerland dalam rangka berobat pada 9 April 1966.

Sebenarnya saya tidak begitu enak membuka kembali luka-luka lama ini, tetapi demi sejarah, harus tidak boleh dilupakan, sekalipun mesti dimaafkan untuk jadi pelajaran berharga bagi generasi berikutnya agar lebih arif dan lapang dada dalam mengurus bangsa dan negara ini. Berbeda dengan Tan Malaka dan Sjahrir, Bung Hatta bernasib lebih baik, tidak pernah diperlakukan seburuk itu. Bung Hatta wafat pada 14 Maret 1980 dalam usia 78 tahun. Bung Karno telah lebih dulu wafat pada 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun.

Sumber: republika.id, 23 Juni 2020

Tiga Bulan Bersama Covid-19

 Ahmad Syafii Maarif

Usia renta seperti saya (85) tentu lebih rentan dierang Covid-19, sekalipun bayi juga tidak kebal. Sudah tiga bulan saya dan isteri (75) berkurung di rumah, mematuhi anjuran pemerintah yang saban waktu diulang-ulang. Bahkan salat Jum’at pun tidak dilakukan selama tiga bulan itu. Memang di awal Maret 2020, kemenkes terasa kurang siap menghadapi pandemi maut ini. Dikira enteng saja. Kemudian setelah merebak secara masif baru siuman. Tentu dengan korban yang tidak sedikit.

Dr. Achmad Yurianto dari BNPB, jura bicara nasional Covid-19, tampak kelelahan, tetapi semangatnya tidak pernah surut. Bersama Ketua Gugus Covid-19 Jend. Doni Monardo dan jajarannya tentu adalah di antara yang tersibuk sejak tiga bulan terakhir. Begitu juga para dokter dan petugas kesehatan di garis depan, dedikasi mereka sangat tinggi dan mulia. Mereka menyabung nyawa setiap waktu. Saya belum tahu sudah berapa jumlah di antara pahlawan ini yang sudah wafat dalam menjalankan tugas kemanusiaan  di Indonesia. Negara patut benar memberi penghargaan kepada mereka dengan menyantuni keluaga yang terpaksa ditinggal mati ditikam Covid-19.

Wabah tak kasat mata ini benar-benar dahsyat. Dunia kemanusiaan global tidak berkutik dibuatnya. Karena wabah ini juga melumpuhkan perekonomian sebuah negara, maka strategi Normal Baru terpaksa ditempuh, sekalipun dalam pelaksanaannya sungguh tidak gampang. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara ada yang 0%. Indonesia tdak akan lebih dari 1%. Memang tantangannya sungguh tak terduga. Rakyat kampung saya di Sumpur Kudus (Sumbar) karena sulitnya hidup saat wabah ini mulai merebak ada yang mau nekat bunuh diri. Alhamdulillah, tidak menjadi kenyataan. Semangat gotong royong untuk berbagi masih hidup.

Sebagai manusia renta antara tanggal 4-6 Juni 2020, saya juga diserang nyeri telinga yang akut dan wabah lain: cikungunya, semacam DBD, tetapi yang diserangnya seluruh persendian. Tidak bisa duduk, apalagi berdiri. Isteri saya Nurkhalifah kehabisan akal bagaimana membantu saya agar bisa duduk, sampai akhirnya anak datang menolong. Setelah darah dicek oleh RS Muhammadiyah  Yogyakarta dengan bantuan para dokter yang sangat bersahabat, ternyata trombosit saya hanya tersisa 97.000, sedangkan angka rujukan 140.000. Beberapa hari kemudian mulai naik jadi 116.000. Ini juga berkat kiriman obat herbal cair asal Cina yang dikirim oleh sahabat saya DR. Sudhamek AWS.

Saat cikungunya menyerang, untungnya saya tidak kehilangan kesadaran, sekalipun pernah terduduk di lantai selama dua jam. Kemudian ketahuan juga bahwa yang diserang itu tidak hanya saya, tetapi juga beberapa tetangga dengan gejala mirip. Rupanya nyamuk cikungunya ini beterbangan ke mana-mana cari mangsa. Ada teman yang harus dirawat di RS, sedangkan dokter juga menyarankan saya dirawat, tetapi karena takut Covid, saya pilih di rumah saja. Sekalipun terasa bosan juga berkurung selama tiga bulan ini, saya tidak punya pilihan lain. Apa boleh buat, harus dijalani.

Demi melawan kebosanan, saya yang saban pagi berjemur di sinar matahari, juga diisi dengan kegiatan lain: membaca, menulis, dan ada kalanya ber-WA dengan teman-teman. Tahulah saya sekarang betapa beratnya dulu nasib para pejuang kemerdekaan yang disingkirkan Belanda selama beberapa tahun, termasuk ke Boven Digoel, tempat bersarangnya malaria yang ganas. Jasa mereka untuk kemerdekaan bangsa ini sungguh tak ternilai, tetapi siapakah di antara kita yang masih mau mengingatnya?

Ya, Allah, maafkanlah segala kekurangan para pejuang kemerdekaan bangsa dengan segala pengorbanan mereka yang tak kenal lelah itu.  Sebagian mereka malah tidak sempat mengalami Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, semisal H.O.S. Tjokroaminoto yang wafat pada 1934 dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yan wafat pada 1943. Saya baru tiga bulan saja berkurung, sudah begini pahit rasanya.

Bagi saya pengalaman bersama Covid-19 ini tidak akan pernah terlupakan, apalagi serbuan pandemi ini tidak pandang bulu. Si renta, pejabat tinggi, jenderal, rakyat jelata, dan bayi, semuanya diserang tanpa ampun. Bahaya cikungunya tidak sehebat Covid-19, sekalipun persendian dibuatnya setengah lumpuh, tetapi tidak mematikan. Demam berdarah dan Covid-19 jauh lebih berbahaya. Semoga wabah ini segera dapat diatasi dengan disiplin dan kesadaran bersama.

Sumber: Resonansi Republika