Bom Atom dan Kemerdekaan Indonesia

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan muli

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Bulan Agustus, 76 tahun silam adalah akhir Perang Dunia (PD) II, yang didahului ledakan bom atom.

Sebenarnya, ada perbedaan pendapat yang tajam antara panglima tertinggi sekutu di Eropa, Jenderal Dwight D Eisenhower bersama beberapa perwira tinggi tentara AS dan Presiden Harry S Truman, dalam menentukan sikap terhadap Jepang untuk mengakhiri perang pada Agustus 1945.

Bagi Truman, Jepang harus segera dilumpuhkan dengan bom atom yang kemudian dijatuhkan pada 6 Agustus 1945 di Hiroshima dan 9 Agustus 1945 disusul ledakan kedua di Nagasaki. Dua kota itu luluh berantakan, meninggalkan abu radio aktif yang sangat berbahaya.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Karena yang berkuasa Truman, usul Eisenhower dan koleganya tak berlaku, padahal didasarkan kajian dimedan perang yang akurat. Jepang waktu itu sudah kehabisan napas untuk meneruskan perang dunia yang telah membunuh manusia 62.537.400, militer dan sipil.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Angka kematian tertinggi diderita Cina sebanyak 10 juta: sipil 7 juta, sedangkan militer 3 juta. Karena tulisan ini bukan untuk mengulas PD II, kita cukupkan dengan menuliskan angka-angka korban yang dibatasi pada empat negara itu saja.

Apa kaitannya antara bom atom dan proklamasi kemerdekaan Indonesia? Bahwa Indonesia pasti merdeka pada suatu saat yang tidak terlalu lama, sudah diperkirakan Bung Hatta dalam pidato pembelaannya di depan pengadilan Den Haag pada 28 Maret 1928.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Maka itu, ledakan bom atom di Jepang seperti disebut di atas, hanyalah mempercepat proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, yang memang sudah dirintis sejak abad ke-19 berupa perang-perang sporadis, yang dilancarkan para patriot nusantara.

Perjuangan kemerdekaan itu semakin terorganisasi dengan baik pada abad ke-20, yang dipelopori pergerakan nasional Indonesia.

Setelah penjajah Belanda diusir secara hina tanpa perlawanan oleh pasukan Jepang pada Maret 1942, Indonesia untuk 3,5 tahun ke depan punya bos baru: si mata sipit yang tidak kurang kejamnya terhadap rakyat di kepulauan ini.

Ingat, romusha (pengiriman puluhan ribu pemuda dari Jawa untuk kerja paksa di luar Jawa) dimulai pada 1943 oleh penguasa Jepang. Seusai perang, hanya sebagian kecil pemuda kita itu yang selamat kembali ke kampung halamannya.

Sejumlah besar telah hilang selama kerja paksa itu dalam keadaan sangat kurus kering. Juga praktik iyanfu (gadis-gadis sejumlah negara, termasuk Indonesia, dijadikan perbudakan seks oleh tentara pendudukan Jepang) sampai hari ini belum terbongkar seluruhnya.

Tentara mata sipit ini sungguh tak punya rasa kemanusiaan sama sekali saat memerkosa perempuan negeri taklukannya. Sisa mantan iyanfu ini sekarang berusia sangat lanjut, sebagian masih sempat menuturkan penderitaannya sebagai budak seks tentara Jepang itu.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia

Sayang, Pemerintah Jepang dan Indonesia sampai hari ini tak serius mengurus perempuan bernasib sangat malang ini. Nasib rakyat terjajah memang sangat memelas, bergerak dari penderitaan satu ke penderitaan lain dalam mata rantai yang panjang.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia. Sekalipun Jepang sudah kalah, proses deklarasi kemerdekaan Indonesia tidak mulus. Terjadi pertentangan politik domestik antara golongan pemuda dan golongan tua Sukarno-Hatta.

Pemuda menilai, golongan tua tidak revolusioner untuk segera menyatakan kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok berupa penculikan golongan pemuda terhadap Sukarno-Hatta pada pertengahan Agustus 1945 adalah bagian menyatu dengan derap revolusi Indonesia, yang kadang-kadang tidak terkendali itu.

Bentakan Sukarno terhadap ancaman pemuda Wikana sebelum penculikan adalah bukti gesekan tajam antara dua pendapat berbeda itu. Golongan pemuda memaksa Bung Karno segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Inilah kesaksian Bung Hatta: Mendengar ancaman itu Sukarno naik darah, menuju pada Wikana sambil menunjukkan lehernya dan berkata: “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Bentakan ini membuat Wikana terperanjat: “Maksud kami bukan untuk membunuh Bung…” (Lih. Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, hlm 445).

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Harga sebuah kemerdekaan itu sungguh mahal. Indonesia telah menebusnya dengan nyawa, kehormatan, dan derita rakyat yang meninggalkan luka sangat dalam. Saya tidak tahu, apakah ledakan bom atom itu seimbang dengan kekejaman Jepang terhadap rakyat jajahannya? Allahu a’lam!

Sekalipun mungkin banyak pemuja Jepang di negeri ini, kelakuan biadab tentaranya saat PD II tidak boleh dilupakan.

Keluhan Tentang Penanganan Covid-19

Macam-macam keluhan dan kritik terhadap cara penanganan wabah Covid-19.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Berbagai keluhan dan kritik kepada pemerintah terhadap cara penanganan wabah Covid-19 disampaikan juga kepada saya. Padahal, saya tidak dalam posisi apa pun untuk menjawab atau menjelaskannya.

Macam-macam keluhan dan kritik itu: krisis oksigen karena berjubelnya pasien terpapar di rumah sakit, pembayaran BPJS yang tidak lancar, dan lain-lain.

Namun, sebagai warga sepuh, saya coba memberi jawaban berikut ini. “Banyak kritik yang dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai kurang sigap menangani serangan Covid-19. Kritik itu sah maka pemerintah mesti menyikapinya dengan lapang dada dan jiwa besar. Akui banyak kekurangan dan kelemahan di sana sini.”

“Namun, pemerintah telah bekerja keras dengan mengeluarkan dana negara puluhan bahkan ratusan triliun, perlu dihargai akan kesungguhannya melindungi rakyatnya yang sedang menderita dan dalam kesusahan. Jangan ada pikiran negatif ancaman wabah ini akan menjurus kepada krisis politik nasional yang pasti akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu, mari kita bahu-membahu sambil berdoa mengibarkan bendera optimisme sekalipun di tengah tantangan berat ini.”

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini. Dalam tempo singkat datanglah jawaban positif via WA dari keduanya.

Tentu semua ini melegakan. Artinya, pemerintah memperhatikan keluhan dan kritik itu. Salah seorang menko bahkan menghubungi saya lagi via telepon, menjelaskan lebih komprehensif tentang penanganan masalah wabah yang mematikan ini.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar. Harga obat jadi gila dan rumah sakit cari untung besar. Tentu, tidak semua rumah sakit.

Mereka tidak hirau, perbuatannya itu tunaadab dan tunamoral. Saya menghela napas panjang mendengar penjelasan pahit ini.

Tega-teganya mereka berpesta di atas penderitaan rakyat yang sebagian sudah sulit cari makan, apalagi berobat. Banyak rakyat kecil tidak punya kartu BPJS Kesehatan karena tak mampu membayar iuran bulanan, saking miskinnya.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar.

Namun, ada pula yang berpendapat BPJS haram, tidak syar’i. Entah kiai mana yang memberi fatwa liar ini. Rakyat jadi bingung oleh aneka isu yang ditiupkan orang tak bertanggung jawab.

Heboh berita kematian 63 pasien Covid-19 dalam sehari di sebuah rumah sakit di Yogyakarta, jadi perbincangan luas. Pihak rumah sakit mengatakan, kejadian nahas itu akibat pasokan oksigen yang kurang.

Namun, dari sumber menko, saya mendapat penjelasan, manajemen di rumah sakit tersebut bermasalah. Keterangan serupa datang dari seorang dokter yang lagi ambil program spesialis jantung. Saya tidak tahu persisnya.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Yang kita sebutkan di atas, raja tega rumah sakit dan pedagang obat yang seenaknya mencari keuntungan dalam kesempitan orang lain. Jika sifat-sifat buruk ini berkelanjutan dan meliputi radius luas, jangan bermimpi bangsa ini punya masa depan cerah.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Siapa yang mau percaya kita, sedangkan kita sendiri biasa bermain lancung dan culas. Namun, kita menghargai keluhan beberapa rumah sakit tertentu disampaikan secara jujur. Contoh di bawah ini patut dicatat dan telah saya teruskan kepada pihak-pihak berwenang.

Ini bunyinya, dengan penyesuaian redaksi kalimat: “Ya buya…lelah sekali. Kami berjuang di garda akhir, tetapi masyarakat semua seolah tidak peduli. Nyawa sudah tidak ada harganya lagi.”

Ini peta di lapangan sebagai keluhan dokter yang pernah memimpin sebuah rumah sakit. Betapa rendah disiplin sebagian rakyat menghadapi wabah. Mereka tak mempertimbangkan berapa ratus dokter dan tenaga kesehatan wafat karena menangani wabah ini.

Mereka tidak peduli. Jika sudah terpapar baru sadar, negara lagi yang harus turun tangan.

Senapas dengan kutipan di atas, Dirut RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, Dr Ahmad Faesol, Sp. Rd. menyampaikan pengalaman lapangannya via WA kepada saya, pada 6 Juli 2021 berikut ini.

“Terima kasih Buya Maarif, mudah- mudahan berhasil. Tapi yang urgen saat ini, pasokan oksigen di rumah sakit Buya, ini tiap hari harus senam jantung oksigennya kritis menjelang habis, kasihan pasien-pasien kita, jangan sampai ada tragedi seperti RS Sardjito, Buya, mohon support untuk pemenuhan oksigen, karena seiring peningkatan jumlah pasien Covid di RS, kebutuhan oksigennya meningkat tajam”.

Seperti kita dengar, krisis oksigen ini berlaku di banyak rumah sakit. Namun, saat tulisan ini disiapkan, pasokan oksigen itu sudah mulai datang. Memang minggu-minggu awal Juli ini puncak serangan dahsyat Delta yang sangat menakutkan itu.

Akhirnya, menghadapi situasi sangat berat dan sulit ini, semua dimohon selalu berpikir jernih, berimbang, dan adil agar virus salah paham dan saling tuduh tak menjalar ke mana-mana. Sifat-sifat mulia harus diarusutamakan agar kohesi hubungan antarlembaga kesehatan apik dan menyenangkan dalam situasi yang begini mencekam. Semoga!

Ganasnya Covid-19, Dunia Jadi Lintang Pukang

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pukul 04.54, 5 Juli 2021, Bung Yasin Wijaya dari Yayasan Kristen Surabaya, kirim WA kepada saya, bunyinya: “Selamat pagi Prof. Semoga sehat selalu. Saya dengar RSUP Sardjito di Sleman sampai kekurangan oxygen dan 33 pasien meninggal. Sedih sekali. Kami di Surabaya sedang saling gotong-royong. Antarsahabat. Lintas perusahaan. Semua berjibaku merawat para karyawan yang sedang terpapar Covid. Selama mereka rawat di rumah, kami all out komunikasi, dan mengirimkan obat-obatan dan vitamin. Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini. Buya jaga kesehatan yah. Mohon jangan keluar rumah atau terima tamu. Salam.”

Jawaban WA saya pada pukul 05.49 terhadap sahabat lintas iman yang baik ini adalah: “Memang sangat mengerikan, tetangga saya sudah banyak terpapar. Gotong royong teman Surabaya sangat mulia. Puji Tuhan. Disiplin masyarakat kita masih rendah. Salam sehat selalu, Bung Yasin dan teman-teman Maarif.”

Yayasan Barokah milik teman Kristen Surabaya ini sangat gigih membantu masyarakat, tanpa memandang suku, agama, dan asal-usul. Semua dilayani. Hubungan saya dengan mereka sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Kami saling berbagi info. Bung Yasin sudah dua kali kirim masker KN95 kepada saya. Sudah hampir 1,5 tahun Indonesia bergumul menghadapi serangan Covid-19 ini dengan segala variannya yang semakin mengganas.

Optimisme Bung Yasin bahwa “Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini” harus menjadi optimisme kita semua.

Optimisme Bung Yasin bahwa “Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini” harus menjadi optimisme kita semua dengan syarat disiplin ketat harus ditegakkan: pakai masker, hindari kerumunan, dan cuci tangan dengan air mengalir pakai sabun.

Mengabaikan disiplin ini adalah faktor utama pandemi ini semakin merajalela. Di mana-mana rumah sakit sudah bangun tenda darurat untuk menampung pasien yang datang berjubel. Dokter dan tenaga kesehatan, sudah ratusan yang wafat.

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

Mari kita lihat selintas korban Covid-19 ini untuk tingkat dunia, dan agak perinci untuk empat negara saja, baik yang terpapar maupun yang meninggal sampai 5 Juli 2021. Jumlah terpapar tingkat global sudah 184.000.000, dengan angka kematian 3.970.000.

Jumlah korban ini terus bertambah setiap saat. Vaksinasi masih belum merata dan memadai. Tertinggi adalah AS: terpapar 33.700.000, meninggal 605 ribu. Disusul India: terpapar 30.500.000, meninggal 402 ribu.

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

Lalu urutan ketiga Brasil: terpapar 18.700.000, meninggal 524 ribu. Indonesia urutan 17: terpapar 3.260.000, meninggal 60.027. Jika pandemi ini belum bisa diatasi setahun ke depan, kita bisa perkirakan korbannya sangat banyak dan ekonomi semakin lumpuh.

Untuk Indonesia, utang negara untuk melawan Covid-19 tentu akan semakin menggelembung. Maka itu, sebagai rakyat kita wajib menegakkan disiplin ekstraketat karena masih saja ada yang ngeyel melawan polisi di jalan.

Padahal, polisi itu sudah berpanas-panas untuk memutus rantai penularan wabah mematikan itu. Kelakuan semau gue akan memperburuk keadaan. Gempuran Covid-19 tidak pandang bulu, umur, dan status sosial.

Pada skala kecil, di perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tempat saya tinggal, kami sedang dikepung pandemi ini. Sudah beberapa orang jamaah masjid kami terpapar, bahkan ada seorang yang wafat, terjangkit saat yang bersangkutan melayat familinya.

Kematian karena Covid-19 ini pasti meninggalkan duka sangat dalam. Pemakamannya harus melalui protokol kesehatan. Jenazahnya tidak boleh didekati, kecuali oleh petugas khusus dari Dinas Kesehatan dengan pakaian khas pengamannya.

Pada skala kecil, di perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tempat saya tinggal, kami sedang dikepung pandemi ini. 

Ketika varian delta merebak di India beberapa waktu lalu, tengoklah betapa banyaknya mayat bergelimpangan di mana-mana. Aparat negara seperti tak berdaya lagi menanganinya. Oksigen serbakurang, rumah sakit tidak bisa menampung pasien yang datang berjibun.

Petugas kesehatan banyak yang mati karena kelelahan dan diserang virus delta itu. Fenomena hampir serupa berlaku di berbagai negara dunia, termasuk di Tanah Air. Ironisnya, masih saja ada segelintir orang tak percaya adanya virus ini. Pakai alasan agama lagi.

Saya tidak tahu jenis manusia macam apa ini. Tentu kita mesti berdoa kepada Allah agar 7,7 miliar penduduk bumi (angka 14 Februari 2021) yang sedang menderita ini diberi-Nya kesadaran yang tajam tentang gelimang dosa yang telah kita perbuat selama ini.

Di samping berdoa, kita harus berupaya keras mengatasi musibah ini agar situasi dunia yang sedang lintang pukang ini segera berlalu, sehingga tambahan korban tidak lagi memukul perasaan kita yang sudah terlalu berat. Berbaik sangka kepada Allah harus diutamakan.

Adapun mereka yang memaki Tuhan, bahkan tak lagi memercayai-Nya, seperti saat perang dunia karena dinilai tidak menolong manusia yang sedang terkapar kesakitan dan kematian dalam jumlah puluhan juta korban akibat perang, tidak perlu dikomentari, sebab hanya akan semakin menyesakkan napas.

Umat manusia mesti mau belajar dari serangan pandemi ini dan siap membangun solidaritas sosial untuk kepentingan bersama. Ingatlah, korban Covid-19 masih berjatuhan di semua bangsa dan negara. Nyaris tidak ada lagi kepingan bumi bebas dari serangan pandemi ini!

Alquran Pro Si Miskin tetapi Antikemiskinan (III)

Alquran pro si miskin, tetapi antikemiskinan, agar umat ini kembali menjadi perkasa-penegak keadilan

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Tampaknya, ajaran Alquran ini terlalu mendahului zaman. Tetapi, gerak sejarah Muslim harus mengikuti arah anak panah ajaran itu, jika memang mau menjadi wasit peradaban manusia global. Sekalipun itu ibarat mimpi di siang bolong saat ini.

Mohon renungkan ini: “Alquran pro si miskin, tetapi antikemiskinan, agar umat ini kembali menjadi perkasa-penegak keadilan, tidak terus terkapar sebagai manusia paria di tikungan peradaban!”

Sistem teologi dan filosofi yang berputar-putar dan berbelit-belit, sibuk membicarakan pengetahuan Tuhan yang tak terbatas atau Dia hanya tahu pada garis besarnya, bagi saya bukan domain manusia untuk menghabiskan energi di sana.

Apakah tidak akan lebih bermanfaat bila sistem teologi dan filosofi itu digumulkan dengan realitas kehidupan, demi tegaknya keadilan dan prinsip persaudaraan universal yang memang absen dalam peradaban modern, termasuk di dunia Muslim.

“Apakah tidak akan lebih bermanfaat bila sistem teologi dan filosofi itu digumulkan dengan realitas kehidupan.”

Bagi saya, kemiskinan yang melanda bumi Muslima dalah karena pemahaman yang salah tentang Alquran. Padahal, kitab ini amat menekankan amal saleh yang selalu bergandengan dengan iman.

Iman tanpa amal saleh bukanlah ajaran Alquran sebab tidak menghasilkan atau mengubah apa pun. Kata kaum filsuf, tugas filsafat adalah untuk memahami dunia. Namun, Alquran menambahkan: memahami dan mengubahnya!

Atau sebutlah itu philosophy of action/deed (filosofi perbuatan/tindakan) sebagaimana Iqbal mengajarkannya.

Di mata Iqbal, Alquran lebih menekankan perbuatan daripada hanya berkutat pada gagasan. (Lih Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Kashmiri Bazar-Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1971, hlm. v).

Ungkapan ini sudah terlalu banyak dikutip para penulis, yang aslinya berbunyi: “The Quran is a book which emphasizes ‘deed’ rather than ‘idea’)”. Buku ini muncul pertama kali pada 1930, tetapi tetap saja hangat untuk dibaca.

Dengan mengaitkan filosofi perbuatan yang digagas Iqbal, kita akan lebih jelas meneropong topik artikel ini, yaitu “Aquran Pro Si Miskin, tetapi Antikemiskinan”.

Bukankah kemiskinan itu telah dan sedang melanda sebagian besar dunia Muslim yang sebagian umatnya hafal Alquran, tetapi tidak dijadikan acuan utama untuk mengubah situasi mereka yang serbalapar ini?

“Bukankah kemiskinan itu telah dan sedang melanda sebagian besar dunia Muslim yang sebagian umatnya hafal Alquran, tetapi tidak dijadikan acuan utama untuk mengubah situasi mereka yang serbalapar ini?”

Dalam pandangan saya, dunia kemanusiaan ini bukan hanya untuk dilihat dan dipahami, melainkan untuk diubah dengan perbuatan agar keadilan terwujud nyata, agar kemiskinan bisa dihalau sejauh mungkin dari kehidupan manusia.

Pada halaman lain pada buku di atas, Iqbal mengkritik para sufi pemburu serbaketenangan batin untuk berlama-lama menetap di alam uluhiat, sekiranya mereka diberi kesempatan untuk mi’raj. Sedangkan Muhammad yang menurut kepercayaan umum telah mi’raj, segera turun ke bumi kenyataan, tidak ingin berada lama di alam lain itu.

Mengapa? Jawaban Iqbal yang juga bekali-kali dikutip, termasuk oleh saya, adalah berikut ini: “Kembalinya nabi itu bersifat kreatif. Dia kembali [ke bumi] untuk melibatkan dirinya ke dalam perjalanan waktu dengan tujuan mengawasi kekuatan-kekuatan sejarah, demi menciptakan sebuah dunia cita-cita yang segar (a fresh world of ideals).” (Lih. hlm. 124).

Reaksi saya, bagaimana mungkin sebuah dunia cita-cita yang segar dapat menjadi kenyataan di tengah lautan kemiskinan, yang menguras energi menusia semata-mata untuk bisa bernapas dalam kepapaan dan kehinaan.

“Nabi Muhammad SAW paham untuk satu saat harus menumbangkan sistem oligarki Quraisy, yang menguasai Makkah karena sistem itu hanya untuk memperpanjang rantai kemiskinan mayoritas manusia.”

Nabi Muhammad SAW paham untuk satu saat harus menumbangkan sistem oligarki Quraisy, yang menguasai Makkah karena sistem itu hanya untuk memperpanjang rantai kemiskinan mayoritas manusia. Di puncak piramida, bertengger kaum elitenya dengan segala kepongahan dan kezalimannya.

Surat-surat yang turun pada periode Makkah menjadi saksi hidup apa yang kita katakan ini, sebagian kecil dapat dibaca dalam kutipan pada seri pertama artikel ini. Sebelum diakhiri, sebuah kilas balik perlu disampaikan di sini.

Saya tidak tahu rahasia Allah mengapa Muhammad tidak diberi usia lebih panjang, tidak hanya sekitar 63 tahun, demi mengawal kekuatan-kekuatan sejarah yang masih sangat memerlukan kehadirannya.

Sementara itu, Nabi Nuh diberi umur sampai 950 tahun untuk membimbing umatnya yang selalu membangkang, kemudian harus ditenggelamkan dalam banjir yang dahsyat.

Inilah doa keluhan Nuh kepada Tuhan: Dan Nuh berkata: “Tuhanku, jangan Engkau biarkan tinggal di muka bumi ini, seorang pun dari para pembangkang (kafir) itu. Sungguh jika Engkau biarkan mereka, niscaya akan mereka sesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan menurunkan anak-anak kecuali orang durhaka lagi sangat kufur” (Lihat Alquran, surat Nuh ayat 26-27).

Permintaan Nuh ini sangat telak dan dikabulkan Allah. Maka berlakulah kiamat kecil. Umatnya luluh lantak. Sedangkan misi Muhammad berjaya, puncaknya berupa takluknya Kota Makkah pada 630 Miladiah/8 Hijriyah, sekalipun harus melalui perjuangan berat.

Dengan keberhasilan ini, terbukalah pintu yang sangat lebar untuk menegakkan keadilan, menghalau kemiskinan, dan menancapkan prinsip persamaan antarmanusia. Oligarki Quraisy yang zalim itu akhirnya runtuh berkeping-keping.

Namun, siapa di antara kita yang mau membaca karier Nabi Muhammad SAW secara benar dan tajam, di sebuah tikungan zaman yang tunakeadilan ini?

Alquran Pro Si Miskin, tetapi Antikemiskinan (II)

|Cita-cita pembentukan suatu masyarakat yang adil pro si miskin sudah diperkenalkan.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Hidup di permukaan bumi ini memang tidak mudah sehingga ada ungkapan Charles Darwin yang diambilnya dari Herbert Spencer: “Survival of the fittest” (Organisme yang bisa bertahan dan berproduksi hanyalah yang paling piawai menyesuaikan diri dengan lingkungan).

Sebaliknya, organisme yang lemah akan punah dan musnah. Namun, apakah teori sosial Darwin ini harus diterima? Tentu tidak, khususnya Darwinisme sosial karena akan semakin memperparah nasib orang miskin, yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Richard Dawkins, seorang ateis, pada 2005 dalam sebuah wawancara dengan Die Presse memberikan kritik keras kepada teori ini: “No self-respecting person would want to live in a society that operates according to Darwinian laws. I am a passionate Darwinist, when it involves explaining the development of life. However, I am a passionate anti-Darwinist when it involves the kind of society in which we want to live. A Darwinian state would be a Fascist state.”

(Tak seorang pun yang punya harga diri akan ingin hidup dalam suatu masyarakat yang berjalan menurut hukum Darwinian. Saya seorang Darwinis yang penuh semangat, apabila ia menyangkut penjelasan tentang perkembangan kehidupan. Tetapi, saya seorang anti-Darwinis yang bergairah manakala ia menyangkut jenis masyarakat yang ingin kita diami. Negara Darwinian akan berupa sebuah negara Fasis.”

“Ketimpangan sosial-ekonomi dalam masyarakat Muslim global sungguh parah, termasuk di Indonesia yang berdasarkan Pancasila.”

Dalam sebuah dunia yang serbasekuler sebagai bagian yang menyatu dengan proses modernisme atau pascamodernisme, diktum Alquran  tentang “Pro Si Miskin, tetapi Antikemiskinan” tidak mudah dijalankan, termasuk dalam masyarakat mayoritas Muslim.

Keluhan Nabi kepada Tuhan: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku ini telah menjadikan Alquran sebagai sesuatu yang telantar” (lihat surat Makkiyah, al-Furqân ayat 30) adalah peringatan keras kepada kita semua.

Ketimpangan sosial-ekonomi dalam masyarakat Muslim global sungguh parah, termasuk di Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Keluhan ini menurut pendapat para mufasir tertuju kepada masyarakat oligarki Quraisy masa lampau, yang antikeadilan sosial dan pro kezaliman, tetapi menurut pemahaman saya, juga dialamatkan kepada masyarakat mana saja sepanjang sejarah selama prinsip keadilan dilecehkan dan tidak dijadikan arus utama dalam sebuah negara.

Alquran adalah Kitab Keadilan. Nyaris tidak ada contoh hari ini yang menjadi bukti nyata dari masyarakat Muslim di dunia yang dapat dibanggakan. Semuanya teramat jauh dari cita-cita Alquran tentang pembentukan suatu masyarakat adil berdasarkan moral-etika.

“Alquran adalah Kitab Keadilan. Nyaris tidak ada contoh hari ini yang menjadi bukti nyata dari masyarakat Muslim di dunia yang dibanggakan.”

Ratusan ribu orang yang naik haji saban tahun, tidak berbanding lurus dengan perbaikan kualitas hidup manusia Muslim.

Bila kita cermati surat-surat Makkiyah, selain yang sudah dikutip sebelumnya, ketika surat-surat itu diturunkan dan posisi Nabi sangat lemah, cita-cita pembentukan suatu masyarakat yang adil pro si miskin sudah diperkenalkan.

Bahasa yang digunakan tak jarang bagaikan ledakan gunung berapi. Dalam kaitan ini, tafsiran Fazlur Rahman tentang surat-surat Makkiyah patut dipertimbangkan agar cita-cita Alquran tentang pembentukan masyarakat adil bisa ditangkap dengan jelas dan tajam.

Alquran mesti memberi jalan keluar bagi kepentingan kemanusiaan tanpa diskriminasi.

Fazlur Rahman menulis: “Tidak diragukan lagi tujuan utama Alquran adalah untuk menegakkan suatu tata sosial yang praktikal/dapat dijalankan di muka bumi yang adil dan berdasarkan etika.” (Lihat Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an. Minneapolis-Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980, hlm. 37).

Maka doktrin tauhid (monoteisme) bertali berkelindan dengan prinsip keadilan sosial ekonomi. Di mata oligarki Quraisy, monoteisme yang semacam ini merupakan ancaman serius terhadap hak-hak istimewa yang mereka nikmati selama ini.

“Dalam perspektif ini, keterkaitan monoteisme dengan keadilan adalah ibarat sisi lain dari mata uang yang sama.”

Karena itu, gerakan Muhammad harus dihentikan, secara damai, negosiasi, atau jika gagal, melalui kekerasan dengan membunuh pemimpinnya. Memang gerakan nabi pungkasan ini telah memicu perbelahan keluarga, suku, dan melonggarkan ikatan sosial lainnya.

Itu risiko yang harus berlaku jika keadilan mau ditegakkan dan kezaliman diruntuhkan. Nabi Muhammad SAW bukan tidak menyadari semuanya ini, tetapi wahyu tetap memerintahkannya untuk bergerak terus sehingga sebuah masyarakat egalitarian yang adil bersendikan moral-etika dapat terwujud.

Dalam perspektif ini, keterkaitan monoteisme dengan keadilan adalah ibarat sisi lain dari mata uang yang sama. Pengakuan kepada Allah yang tunggal mengharuskan pengakuan terhadap kesatuan kemanusiaan (lihat Fazlur Rahman, Islam.Chicago-London: University of Chicago Press, 1979, hlm. 12).

Alquran Pro Si Miskin tetapi Antikemiskinan (I)

“Orang yang gemar memberi mestilah orang yang punya. Hidup orang miskin berat sekali.”

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Dalam sebuah acara Maarif Institute di kawasan Bogor beberapa tahun lalu, saya sudah berbicara tentang tema ini. Sepintas lalu seperti terkesan paradoks, tetapi bukan.

Ayat-ayat Alquran mengenai pembelaan terhadap manusia miskin, telantar, tak beruntung, terpinggirkan, anak yatim, dan mereka yang berada dalam kategori serupa, cukup banyak.

Bahasa yang digunakan Alquran adakalanya keras, membidik jantung persoalan dengan cara tembak di tempat. Ada pula bersifat lunak, lembut, tetapi maknanya dalam, langsung dialamatkan ke pusat kesadaran manusia sebagai makhluk sosial agar hati nuraninya jangan sampai tiarap untuk berbagi.

Semuanya ini menunjukkan sikap Alquran yang pro si miskin. Contoh yang keras, misalnya dapat dibaca dalam surah Makkiyah, al-Ma’un (sebagian mufasir menempatkan surat ini sebagai Madaniyah).

“Ayat-ayat di atas bertujuan satu: manusia jangan bakhil, kedekut, karena harta itu punya fungsi sosial.”

Dalam surat ini, orang yang tidak menghiraukan anak yatim dan orang miskin dikategorikan sebagai pendusta terhadap agama atau hari kiamat. Diksi yang digunakan sangat tajam: “Tahukah engkau (Muhammad) orang yang mendustakan agama (ayat 1)?”

Narasi yang lunak dan halus dapat dibaca, misalnya dalam surah Madaniyah, Ali ‘Imran ayat 134 dengan alur kalimat “Alladzîna yunfiqûna fî al-sarrâi wa al-dharrâi” (orang-orang yang memberikan hartanya di saat lapang dan di saat sempit).

Ada pula digambarkan sebagai jalan pendakian terjal (al-‘aqabah) karena beratnya nasib manusia telantar, budak, yatim, dan orang miskin yang perlu mendapat bantuan dan perhatian.

Kita kutip maknanya: “Dan Kami tunjukkan kepadanya dua jalan. Dan ia tidak menempuh jalan pendakian yang terjal itu. Tahukah engkau apa itu jalan pendakian yang terjal itu? (Yaitu) membebaskan hamba dari perbudakan. Atau memberi makan pada hari kelaparan. Terhadap anak yatim yang bertalian kerabat. Atau orang miskin yang terkapar di debu.” (Lih surah Makkiyah, al-Balad ayat 10-16).

Ayat-ayat di atas bertujuan satu: manusia jangan bakhil, kedekut, karena harta itu punya fungsi sosial. Mengabaikan fungsi sosial ini sama artinya berkhianat terhadap Allah dan kemanusiaan. Manusia, siapa pun dia, tidak mungkin hidup sendirian tanpa keterlibatan orang lain. Prinsip saling bergantung bersifat kodrati.

Tak seorang pun boleh mengingkarinya. Ingkar terhadapnya sama dengan merusak dan melumpuhkan martabat kemanusiaannya. Dari ayat-ayat itu dan banyak yang lain, saya berkesimpulan, Alquran sangat pro orang miskin.

“Dari ayat-ayat itu dan banyak yang lain, saya berkesimpulan, Alquran sangat pro orang miskin.”

Namun, kemiskinan itu haruslah bersifat sementara, tidak boleh permanen karena pada waktu yang sama,  jelas kitab suci ini antikemiskinan, antikemelaratan, antibudaya tangan di bawah, pro tangan di atas.

Ada ungkapan, “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Artinya, kemiskinan itu harus dihalau sejauh mungkin, sekalipun dalam kenyataannya tidak mudah. Tangan di bawah adalah sifat manusia paria.

Manusia beriman haruslah sebagai pemberi, bukan peminta. Karakter Alquran yang antikemiskinan ini mesti dikenalkan kepada anak mulai dari tingkat sekolah dasar agar setelah dewasa menjadi manusia petarung yang suka memberi.

Perintah Alquran untuk mengeluarkan zakat, memberikan infak, sedekah, dan perbuatan mulia lainnya (terlalu banyak untuk dikutip) mengisyaratkan dengan tegas agar manusia beriman tidak boleh miskin, harus kaya.

Orang yang gemar memberi mestilah orang yang punya. Hidup orang miskin berat sekali. Sulit baginya mengangkat muka di depan orang lain karena dirinya merasa hina dengan menanggung beban perasaan yang nyaris tak terpikul.

“Orang yang gemar memberi mestilah orang yang punya. Hidup orang miskin berat sekali.”

Memang ada kemiskinan struktural sebagai bagian dari sistem ekonomi yang tunakeadilan. Namun, jika semangat sebagai manusia suka memberi dilatih sejak kecil, dampak kemiskinan struktural itu tidak akan masif.

Akan ada saja peluang-peluang ekonomi yang bisa ditempuh dengan syarat otak mesti kreatif dan jaringan diperkuat. Seorang yang beriman harus punya moto, “Aku gemar memberi, pantangan meminta!”

Dengan menggunakan parameter ini, kita bisa meneropong suasana dunia Muslim dalam berbagai periode sejarah. Pada periode tertentu, bisa diamati sampai di mana ajaran Alquran dijadikan pedoman dalam kehidupan kolektif untuk merebut posisi tangan di atas. Sesuatu yang memang sangat ditekankan.

Dan pada periode lain, mengapa pula ajaran itu diabaikan, disengaja atau karena kebodohan sehingga sebagian Muslim menjadi manusia tangan di bawah, peminta-minta. Sesuatu yang berseberangan dengan kehendak Alquran dari sisi mana pun orang membacanya.

Doa yang hampir selalu diucapkan, “Rabbana atina fi al-dunya hasanah, wa fi al-akhirati hasanah wa qina ‘adzab al-nar” (surah al-Baqarah ayat 201) memuat ajaran keseimbangan: sentosa kini dan di sini, bahagia nanti dan di sana.

Jangan terjebak dalam ungkapan: biar sengsara kini dan di sini, tetapi sentosa nanti dan di sana. Ini bukan ajaran Alquran karena berlawanan dengan prinsip keseimbangan itu. Ungkapan “sengsara di sini, bahagia di sana” adalah kicauan manusia pemalas.

Manusia beriman pantangan baginya berleha-leha berkepanjangan. Umur tidak boleh disiakan-siakan untuk sesuatu yang tunamakna!

Ranah Minang, ABS-SBK-AM-SM, dan Kebanggan Semu I

Jika saya menyoroti sisi negatif mentalitas Minang modern, bukan berarti etnisitas lain lebih baik.

Sudah menjadi sunnatullah, manusia mencintai tanah kelahirannya. Tidak jarang cinta itu dalam sekali, sekalipun sudah berpisah lama dengannya, terutama bagi mereka yang pernah hidup sampai usia belia di  tempat itu.

Warisan pribasa nenek moyang suku Melayu yang berbunyi “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri awak, masih lebih baik jua negeri awak” belum sepenuhnya terkuras digerus zaman. Gaungan pesannya masih dirasakan cukup kuat.

Artinya, betapa pun hidup senang dan mewah di negeri orang, kenangan indah terhadap tanah kelahiran sekalipun tersuruk lagi miskin tetap hidup dan punya daya pikat tersendiri. Setidak-tidaknya begitulah  perasaan saya terhadap nagari tersuruk Sumpur Kudus di lingkaran Bukit  Barisan, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam Minangkabau.

Saya belajar agama sampai tingkat sekolah menengah pertama masih di bumi Minang.

Jika pun saya kadang bersikap kritikal terhadap realitas sosial keagamaan di ranah yang memang bangga dengan adat-lembaganya itu, hendaklah dibaca dalam perspektif kecintaan dan kerinduan yang mendalam itu. Filosofi ABS-SBK-AM-SM (Adat Bersendi Syarak-Syarak  Bersendi Kitabullah-Adat Memakai-Syarak Mengata) secara teoretik adalah pedoman hidup manusia Minang.

Sebuah Minang yang telah  menerima nilai-nilai luhur keislaman semenjak agama itu menjadi arus utama di sana. Setidak-tidaknya, demikianlah secara teori yang memang didukung oleh fakta sejarah yang kuat.

 Rumusan filosofi yang demikian padat itu mengajarkan bahwa  antara prilaku manusia Minang dan agama tidak boleh pecah kongsi.

 Bagi para pembaca yang kurang akrab dengan filosofi suku Minang itu, baiklah saya jelaskan sepintas apa yang dimaksud. ABS-SBK mengandung arti bahwa adat Minang mestilah bersendikan agama Islam dan agama Islam berpedoman kepada Alquran. AM-SM berarti adat yang jadi pedoman harian hidup suku Minang tidak boleh melanggar perintah atau larangan agama Islam.

Dengan demikian, agama telah mengunci prilaku manusia Minang agar selamat dunia-akhirat, agar tidak menerabas batas-batas yang telah disepakati turun temurun.

Rumusan filosofi yang demikian padat itu mengajarkan bahwa  antara prilaku manusia Minang dan agama tidak boleh pecah kongsi, sekalipun dalam menghadapi perubahan sosial adat harus lentur, tidak  boleh kaku. Apa yang dikenal dalam pribasa kuno “Tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan” ternyata sudah melapuk dimakan perputaran zaman.

Hamka suatu ketika mengatakan bahwa adat itu bukanlah batu yang antiperubahan. Tentu yang dimaksud adalah  perubahan yang membawa kemajuan dan kemaslahatan. Bukan asal berubah.

Saat Hamka baru berusia 12 tahun, ayahnya menceraikan ibunya karena tekanan adat persukuan yang kejam. Hamka menulis: “Pihak suku ibunya tegak di tanah kalah. Suku ayahnya tegak di tanah menang. Karena  pada hakekatnya, hal ini adalah pertentangan di antara dua suku.” (lih.  Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, Jakarta, Gema Insani, 2018, hlm 42- 43).

 Sebenarnya bukan hanya kekakuan adat yang harus dipersoalkan, tafsiran dan pemikiran terhadap agama juga jangan sampai membatu.

 Seorang Haji Rasul (DR Abdul Karim Amrullah) yang perkasa tidak  berdaya menghadapi tekanan adat matrilineal yang lapuk itu. Akibat perceraian ini, jiwa bocah Hamka menjadi goncang. Jika Hamka mengeritik adat Minang dengan keras, dapat difahami, karena dia adalah  korban dari sistem adat yang tidak manusiawi itu.

Sebenarnya bukan hanya kekakuan adat yang harus dipersoalkan, tafsiran dan pemikiran terhadap agama juga jangan sampai membatu. Pemahaman terhadap wahyu pasti berkembang dan berubah sejalan  dengan evolusi yang mempengaruhi struktur otak manusia. Home sapiens (si bijak dalam definisi AJ Toynbee) yang satu ini tidak pernah puas dalam mencari dan mencari.

Itulah manusia yang pernah menaklukkan malaikat  dalam memahami alam semesta. “Tunduklah kepada Adam,” perintah Tuhan kepada malaikat, “maka tunduklah malaikat, kecuali iblis yang  menolak dan angkuh.” (Lih. Alquran surat al-Baqarah ayat 34).

Manusia Minang adalah bagian dari homo sapiens yang selalu  mencari tanpa henti itu. Wawasan kesemestaan manusia Minang  tercermin dalam ungkapan “Alam Terkembang Jadi Guru.” Demikian cermatnya manusia Minang itu merumuskan kepribadian kolektifnya dengan kemasan-kemasan bahasa yang singkat, padat, dan padu. Siapa yang tidak bangga dengan semua warisan ini.

 Jika saya turut menyoroti sisi-sisi negatif mentalitas Minang modern, bukan berarti etnisitas yang lain tentu jauh lebih baik.

 Tetapi mengapa ungkapan “Kebanggaan Semu” masih  ditambahkan juga di ujung judul artikel ini? Apa yang terjadi dengan  Minang modern? Bukankah filosofi ABS-SBK-AM-SM sudah menghunjam dalam di Ranah Minang sejak lama? Justru, di sinilah masalah yang  merisaukan itu perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh oleh manusia Minang, baik yang tinggal di ranah, mau pun yang hidup di rantau.

 Jika saya turut menyoroti sisi-sisi negatif mentalitas Minang modern, bukan berarti etnisitas yang lain tentu jauh lebih baik. Tetapi biarlah anggota suku itu yang membincangkannya, seperti WS Rendra  mengeritik budaya Jawa dan Ajip Rosidi membedah budaya Sunda.

Semua suku yang bertebaran di Nusantara ini kaya dengan kearifan lokal  masing-masing, tetapi pasti tidak bebas dari titik-titik lemah yang perlu diperbaiki dan dibenahi bersama. Dalam membaca fenomena sosial sebuah masyarakat tertentu, para sastrawan dan budayawan mungkin  punya penglihatan tersendiri yang perlu disimak.

Karena saya menulis tentang Ranah Minang, maka budayawan dan  sastrawan yang dirujuk berasal dari daerah ini. Ada yang sudah wafat, tetapi yang berusia lebih muda juga dikutip dan dibicarakan.

https://www.republika.id/posts/15759/ranah-minang-abs-sbk-am-sm-dan-kebanggan-semu-i%c2%a0

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat V

Pewaris Nabi Ibrahim dan pengikut pendiri agama besar lainnya mesti bergandeng tangan.

Sekalipun jumlah umat Islam sedunia sudah 1,6 miliar, karena minus kualitas, jumlah besar itu justru bisa menjadi beban dan malah penderitaan yang harus ditanggungkan. Bahkan, pada beberapa bangsa Muslim, tingkat buta huruf rakyatnya masih tinggi.

Selama dunia Muslim belum terangkat, sulit kita berharap pihak lain menghargai dan menempatkan kita setara. Perasaan hina dan tidak dihargai inilah yang menyebabkan sebagian kita membenci pihak lain, tak jarang dilakukan atas nama agama.

Barat yang angkuh karena merasa roda peradabannya di atas, tak bisa diharapkan menolong kita. Bahkan, semakin dunia Muslim terpuruk, kian puas mereka. Namun, sejak pertengahan abad ke-20, ada sarjana Barat mau berpikir jernih meneropong dunia Islam.

 Barat yang angkuh karena merasa roda peradabannya di atas, tak bisa diharapkan menolong kita. 

 Ada tiga nama, sebenarnya masih ada yang lain, yang perlu disebut dalam artikel ini: Wilfred C Smith (Kanada), Karen Armstrong (Inggris), dan teolog Hans Kung (Swiss). Sarjana Barat yang menjadi Muslim tak perlu dibicarakan di sini, jumlahnya semakin banyak.

Wilfred C Smith (1916-2000), pakar perbandingan agama dan pendiri Studi Islam di Universitas McGill, Kanada. Karya tulisnya yang banyak dikutip di antaranya Islam in Modern History (Princeton: Princeton University Press, 1957).

Kita baca pandangannya dalam buku itu, “Kita akan berpendapat, sebuah Islam yang sehat, berkembang, tidak saja penting bagi umat Muslim, tetapi juga untuk dunia seluruhnya sekarang ini. Sebagian politisi dan pemimpin Barat khususnya, terlihat buta terhadap masalah ini.” (hlm 304).

Menurut Smith, “Kelemahan mendasar dari keduanya [peradaban Barat dan agama Kristen] adalah ketidakmampuan mereka mengakui bahwa mereka berbagi planet ini bukan dengan pihak yang lebih rendah, tetapi dengan pihak yang sederajat. Kalau peradaban Barat secara intelektual dan sosial, politik, dan ekonomi, serta gereja Kristen secara teologis tidak mau belajar memperlakukan pihak orang lain dengan penuh hormat, keduanya pada gilirannya akan gagal berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya di abad ke-20.” (hlm 305).

Karen Armstrong (1944—) menguatkan pandangan Smith, “Realitas menunjukkan, Islam dan Barat berbagi tradisi yang sama. Sejak masa Nabi Muhammad, umat Muslim mengakui ini, tetapi Barat tidak bisa menerimanya. (Lih Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet. New York: Harper Collins, 1993, hlm. 266).

 Akibat sikap Barat yang angkuh, tulis Armstrong, “Sebagian umat Muslim sekarang mulai menentang kebudayaan ahli kitab, yang telah menghina dan merendahkan mereka.

 Akibat sikap Barat yang angkuh, tulis Armstrong, “Sebagian umat Muslim sekarang mulai menentang kebudayaan ahli kitab, yang telah menghina dan merendahkan mereka. Mereka bahkan mulai mengislamkan kebencian baru mereka itu…Jika Muslim memang dipandang perlu memahami tradisi dan lembaga-lembaga Barat kita secara mendalam sekarang ini, kita di Barat perlu pula membebaskan diri kita sendiri dari sikap prasangka kuno kita.”

“Barangkali langkah awal untuk berangkat adalah dari tokoh Muhammad: seorang manusia yang kompleks, penuh semangat yang terkadang melakukan hal-hal yang sukar kita terima, tetapi memiliki kecerdasan kreatif yang luar biasa [genius] untuk sebuah ketertiban yang mendalam. Mendirikan agama dan tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang–meskipun itu mitos Barat–dan yang namanya ‘Islam’ itu berarti damai dan rukun.” (Ibid.).

Adanya Tragedi 11 September 2001, sebagaimana disinggung dalam Resonansi sebelum ini, orang Barat bersumbu pendek langsung menuduh teror itu sesuai ajaran Islam, padahal pelakunya segelintir manusia  putus asa disertai mentalitas kalah. Tuduhan ini jahat.

Teolog Hans Kung (1928—-) memberikan pandangannya terkait tragedi itu, “Bagi agama Kristen dan bagi agama Islam, ‘tidak ada agama atau sistem etis yang harus pernah dikutuk karena kesalahan dan penyimpangan moral dari segelintir pengikutnya. Jika saya, sebagai seorang Kristen, misalnya, tidak ingin iman saya dihukum oleh perbuatan pelaku Perang Salib atau inkuisisi, saya harus sangat berhati-hati untuk tidak menghukum iman orang lain disebabkan perbuatan sejumlah teroris yang mungkin berbuat atas nama [iman] itu’.” (Lih. Hans Kung, Islam, Past, Present & Future, terj dari bahasa Jerman oleh John Bowden. Oxford: Oneworld Publications, 2009, hlm 658).

Seperti ditegaskan di alinea terakhir Resonansi I, kemanusiaan itu tunggal dan barat, timur, utara, selatan hanyalah dinding artifisial karena semuanya milik Allah, maka hubungan Islam dan Barat harus dibaca dalam perspektif kesemestaan Ilahiah ini.

Bait puisi penyair Inggris Rudyard Kipling (1865-1936) yang biasa dikutip dua baris awal saja menyatakan, “…East is East, and West is West, and never The twain shall meet…” (Timur adalah Timur, dan Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bertemu).

Nuansa rasisme terasa di dalamnya, sekalipun mungkin maksudnya bukan itu. Terlepas tafsiran kita terhadap Kipling, keangkuhan karena batas lokasi geografi, agama, ras, etnisitas, dan warisan sejarah harus ditumbangkan sekali dan untuk selama-lamanya.

Pengikut Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad sebagai pewaris Nabi Ibrahim dan pengikut pendiri agama besar lainnya mesti bergandeng tangan menuju cita-cita mulai ini: kemanusiaan adalah tunggal. Planet bumi buat semua. Siapa pun tak berhak memonopolinya!

https://www.republika.id/posts/15568/sikap-saling-memahami-antara-islam-dan-barat-v

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat IV

Makna terdalam dari ayat 40 surat al-Hajj itu, tak seorang pun punya hak menghalangi pihak lain untuk menjalankan ibadah dan ritual keagamaan menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.

Karena itu, tindakan pengrusakan tempat-tempat ibadah dari agama yang beragam, sama artinya dengan pengkhianatan terhadap ketentuan Allah dalam Alquran.

Mufasir Hamka, mengulas makna ayat 40 surat al-Hajj seperti telah dikutip dalam Resonansi lalu, berikut ini: “Sebab yang dapat seruan dalam ayat ini ialah kaum Muslimin, maka dijelaskanlah bahwa pertahanan ini bukan semata-mata buat mempertahankan masjid-masjid tempat orang Islam bersembahyang. Bahkan juga untuk mempertahankan biara-biara (klooster) yang di sana para pendeta laki-laki atau pendeta perempuan mengasingkan diri ada yang bertahun-tahun, ada yang seumur hidup.”

“Demikian juga gereja yang didatangi orang Kristen yang taat buat mendengar khutbah keagamaan, dari pendeta-pendeta mereka tiap-tiap hari Ahad. Demikian juga tempat beribadat orang Yahudi yang mereka namai Tabermacle. Di sana, mereka berkumpul mengulangi-ulangi ajaran kitab Taurat tiap hari Sabtu. Di belakang itu baru disebut masjid.” (Lih Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XVII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, hlm 175).

Karena itu, tindakan pengrusakan tempat-tempat ibadah dari agama yang beragam, sama artinya dengan pengkhianatan terhadap ketentuan Allah dalam Alquran.

 Ketentuan Alquran terang benderang dalam masalah tempat ibadah ini tetapi segelintir orang yang mengaku Muslim tidak mau hirau dengan ayat itu. Pengrusakan masih saja terjadi. Tidak jarang disertai teriakan Allahu Akbar!

Ini bagian dari mentalitas paranoid (perasaan tidak aman) dari orang yang sakit jiwa. Jiwa yang tidak sehat ini, bahkan dicarikan dalil agama untuk membenarkannya.

Memang sulit menyadarkan anggota umat lebih arif, dewasa, dan percaya diri ketika posisi sejarah mereka masih berada di pinggir peradaban. Mengidap mentalitas kalah menjadi salah satu sebab kadar iman emosional sering mengalahkan kekuatan akal sehat.

Situasi semacam ini,diperparah lagi kondisi ekonomi yang labil. Mereka mudah sekali menjadi mangsa para demagog (penghasut) berbuat makar atas nama agama. Fenomena ISIS, Boko Haram, dan gerakan teror yang melanda sebagian negara harus dibaca dalam perspektif ini.

Memang sulit menyadarkan anggota umat lebih arif, dewasa, dan percaya diri ketika posisi sejarah mereka masih berada di pinggir peradaban.

 Sementara itu, pihak Barat sering menangguk di air keruh ini untuk tujuan-tujuan politik hegemoni mereka. Dukungan Amerika, misalnya, terhadap serangan brutal militer Arab Saudi atas Yaman yang miskin adalah bagian tak terpisahkan dari kepentingan politik global dari negara adikuasa itu.

Dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika ke-46, apakah politik luar negeri Amerika akan bersifat lebih arif, longgar, dan tidak semau gue lagi? Harus kita tunggu dulu.

Adalah Presiden George W Bush dulu yang menyamakan Islam dengan terorisme setelah dua menara kembar di Pusat Perdagangan Manhattan, New York, pada 11 September 2001 dihancurkan kaum teroris Arab dengan membajak empat pesawat jet penumpang, lalu dibenturkan dengan menara itu.

Sejak itu, perang terhadap terorisme telah menjadi agenda besar beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.

Akibat perbuatan jahat sekelompok kecil teroris itu, pihak Barat dengan semena-mena kemudian menjadikan Islam sebagai agama tertuduh, sumber keonaran global. Agama jahat, antikemanusiaan, dan 1.001 bentuk cacian lain terhadap Islam.

Akibat perbuatan jahat sekelompok kecil teroris itu, pihak Barat dengan semena-mena kemudian menjadikan Islam sebagai agama tertuduh, sumber keonaran global. 

 Sekalipun sebagian besar anggota teroris yang berjumlah 19 itu adalah warga Saudi, Amerika tetap saja tidak menghukum Saudi. Justru yang menjadi sasaran tempur Barat pimpinan Amerika adalah Afghanistan yang dikatakan sebagai pusat terorisme dunia karena tokoh Alqaidah, Usamah bin Ladin, warga Saudi dan mantan sahabat Amerika, menjadikan negara miskin terbelakang itu sebagai pusat gerakan teror.

 Afghanistan hancur lebur, kemudian disusul kehancuran Irak di era Saddam Husein yang dituduh Amerika sebagai negara yang telah menggunakan senjata pemusnah massal-WMD (weapons of mass destruction) selama Perang Irak-Iran (1980-1988).

Setelah diteliti, tuduhan Amerika ini sama sekali tidak terbukti, tetapi Irak menjadi lumpuh total dan Presiden Saddam Hussein yang otoritarian itu akhirnya dihukum gantung pada 30 Desember 2006. Suriah juga hancur akibat perang saudara dengan campur tangan negara-negara lain.

Dengan drama dan tragedi yang menimpa beberapa bangsa berpenduduk mayoritas Muslim itu, Barat dengan mudah saja mengaitkannya dengan Islam sebagai penyebab utamanya.

Maka, pertanyaan kuncinya kemudian, bagaimana selanjutnya hubungan Islam dan Barat, apakah dibiarkan semakin memburuk atau ada kemungkinan dicarikan solusi untuk saling memahami? Seri kelima Resonansi ini akan mencoba menjawabnya.

https://www.republika.co.id/berita/qqr7eg8725000/sikap-saling-memahami-antara-islam-dan-barat-iv

Syafii Maarif: Baca Karya Hamka

 

Oleh: Erik Tauvani

Rabu, 31 Maret 2021

 

Seorang pengarang, kata Hamka, harus mengatasi zamannya.

Pada Sabtu, 20 Maret 2021, Buya Syafii meminta untuk dicarikan buku “Kenang-Kenangan Hidup” karya Hamka. Alasannya karena ada beberapa fragmen yang belum sempat dibaca. Barangkali alasan sesungguhnya adalah karena Buya ingin membaca ulang karya ini. Sementara buku yang lama telah usang atau hilang di tengah tumpukan buku yang menjulang sampai menutupi dinding-dinding ruangan.

Rabu pagi, 24 Maret 2021, Buya Syafii mengirim sebuah pesan: “Anak muda, mohon dibaca ulang “Kenang-kenangan Hidup” oleh Hamka, hlm. 194-201 (terbitan 2018) tentang ‘Beberapa Catatan Bagaimana Jadi Pengarang’.” Pesan ini juga diteruskan ke beberapa nomor WA lainnya.

Hamka sebagai Seorang Pengarang

Buya Hamka memang tak habis dibicarakan orang. Kisah hidupnya selalu menjadi inspirasi dan pelajaran, khususnya di Alam Melayu. Ia dikenal secara luas sebagai seorang ulama, muballigh, mufassir, pujangga, sastrawan, pejuang, dan sederet sebutan lainnya. Namun yang orang tak boleh lupa, Hamka adalah seorang pengarang yang prolifik, sekalipun ia hidup tanpa ijazah.

Karya Hamka yang berbilang-bilang itu menjangkau berbagai sisi mulai dari agama Islam, tafsir, sejarah, filsafat, tasawuf, sastra, hingga roman. Ia melahirkan karya buku pertamanya di usia 17 tahun yang berjudul Khatibul Ummah. Hingga usia 21 tahun ia telah menerbitkan lima buku. Tahun-tahun berikutnya, tuan dan puan tahu sendiri.

Hamka adalah seorang multitalenta autodidak yang fenomenal. Buya Syafii menyebutnya sebagai self-made man. Pahit getir kehidupan telah membentuk jiwa seorang Hamka yang kenyang asam garam. Soal pahit getir ini, Haidar Musyafa mengisahkannya dalam novel Buya Hamka setebal 837 halaman.

Soal karang-mengarang, Hamka sendiri merasa tak tahu lagi kapan ia memulainya, belajar dari mana, diajar oleh siapa. Yang ia ingat adalah terletak pada kekuatan membaca karya orang lain. Semakin banyak membaca, semakin kaya inspirasi. Namun dengan tetap mengembangkan ciri khas dan menjadi diri sendiri.

Apakah Hamka selalu berhasil sebagai seorang pengarang? Jawabannya adalah Tidak! Ia pun jatuh bangun. Pasca-Tenggelamnya Kapal Vander Wijck, beberapa roman yang ditulisnya tak lagi naik daun seperti pendahulunya.

Lalu ia tak lagi menulis roman. Tapi sebagai seorang yang keatif, ia tak berhenti menulis. Buku-buku tentang agama Islam yang ia tulis pun tak kalah fenomenalnya dari Tenggelamnya Kapal Vander Wijck, Merantau Ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan roman Hamka lainnya.

Hamka mengatakan bahwa kegagalan dan kekecewaan pastilah ada. Namun justru dengan itu kita dapat semakin mengetahui titik dan batas kelemahan kita. Artinya, Hamka mengajak agar orang berani menghadapi masalah seperti halnya Hamka sendiri yang telah kenyang asam garam. Seorang pengarang, kata Hamka, harus mengatasi zamannya.

Hamka di Mata Syafii Maarif

Kedua tokoh ini sama-sama berasal dari Sumatra Barat, sama-sama disapa sebagai Buya, dan sama-sama pernah berkhidmat di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dengan segala persamaan dan perbedaannya, keduanya adalah penulis ulung!

Buya Syafii sangat mengagumi sosok Hamka. Hamka baginya adalah manusia merdeka hasil tempaan pengalaman hidup yang berliku. Hamka dengan daya ingat di atas manusia rata-rata itu membentuk dirinya sendiri dengan banyak membaca, sekalipun ada pengaruh ayahanda dan kakak iparnya (Haji Rasul dan AR Sutan Mansur).

Jika tuan dan puan membaca Memoar Seorang Anak Kampung, sesungguhnya kisah hidup Hamka yang berliku-liku itu nyaris serupa dengan kisah hidup Buya Syafii. Keduanya pun sama-sama merantau. Bedanya, Hamka menjadi orang besar tanpa ijazah, sedangkan Buya Syafii menempuh pendidikan tinggi hingga ke negeri orang.

Seorang Hamka, bagi Buya Syafii, adalah figur yang patut terus dibaca dan dijadikan pelajaran hidup bagi generasi penerus bangsa. Semakin mendalam dibaca, semakin banyak pula ditemukan mutiara kehidupan agar orang tidak percaya pada kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari liku kehidupan yang harus dihadapi dan dilalui, bukan ditakuti.

Kekaguman lain Buya Syafii kepada Buya Hamka adalah kedalaman dan ketulusannya dalam bertutur. Hamka bukanlah tipe orang yang berpura-pura, sekalipun ia pernah menjadi orang berpengaruh di republik ini. Ia adalah sosok manusia yang autentik. Ia tidak pernah meleburkan kepentingan umum untuk diri dan kelompoknya sendiri.

Akhirnya, saya melihat refleksi seorang Buya Hamka pada diri seorang Buya Syafii, tentu dengan segala kekuatan dan kelemahan masing-masing. Refleksi tentang perjuangan hidup, kekuatan membaca dan menulis, kemerdekaan berpikir, dan autentik. Semoga Allah merahmati keduanya, amin.