Tag Archive for: abdul muti

Direktur MAARIF Institute Apresiasi Kebijakan Mendikdasmen Mu’ti: Pemikiran Beliau Dituangkan dalam Kebijakan Pendidikan

Jakarta – Buku “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang menghimpun gagasan dan pemikiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, resmi diluncurkan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (27/10). Peluncuran buku yang ditulis oleh sejumlah tokoh pendidikan ini disambut positif oleh berbagai pihak.

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, menyampaikan apresiasinya atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, buku ini menjadi bukti pengakuan tokoh-tokoh pendidikan terhadap kebijakan Mendikdasmen.

“Selamat kepada Prof. Dr. Abdul Mu’ti yang pemikiran-pemikiraan beliau dituangkan dalam bentuk kebijakan pendidikan dasar dan menengah itu sudah mendapatkan apresiasi dari berbagai tokoh pendidikan dalam bentuk tulisan, memberikan catatan yang kritis sekaligus konstruktif kepada kebijakan Prof Mu’ti,” tutur Andar.

Khelmy K. Pribadi, Ketua Tim Koordinator Penghimpun dan Penyunting buku, menjelaskan bahwa karya ini didedikasikan untuk mengulas kiprah Abdul Mu’ti di bidang pendidikan.

“Buku ini menyajikan himpunan pemikiran Prof Abdul Mu’ti yang termanifestasi dalam bentuk kebijakan pendidikan, kami dedikasikan untuk Prof Mu’ti,” kata Khelmy K. Pribadi, Selasa (28/10).

Sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan turut berkontribusi dalam penulisan buku ini, di antaranya adalah Mike Hardy, Haryatmoko, Haidar Bagir, Alissa Wahid, Doni Koesoema A, Rhenald Kasali, Ismail Fahmi, dan lain-lain.

Mike Hardy, seorang sahabat Abdul Mu’ti yang juga terlibat dalam penulisan, dalam prolog bukunya menyoroti hubungan antara pendidikan agama dan pluralisme. Mike menilai Mu’ti telah menekankan pentingnya kurikulum yang inklusif.

“Karya Mu’ti banyak menyoroti pendidikan agama dan pluralisme di Indonesia. Keragaman masih asing di sekolah Islam. Mu’ti mendorong reformasi kurikulum inklusif,” ungkap Mike. (DM)

MAARIF Institute dan Leimena Institute Gelar Webinar Internasional Bahas Peran Pemuda dalam Memperkuat Toleransi

Jakarta, 25 Oktober 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, MAARIF Institute bersama Leimena Institute menyelenggarakan Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya pada Jumat (25/10), sebagai upaya memperkuat nilai-nilai toleransi dan persatuan di era digital. Webinar ini mengundang berbagai tokoh dan peserta dari 21 negara untuk mendiskusikan ulang peran pemuda dalam menjaga kohesi sosial dan mengatasi polarisasi yang terjadi di media digital, terutama menghadapi arus informasi yang sering kali tidak akurat dan memecah belah.

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa Sumpah Pemuda merupakan konsensus nasional pertama yang menyatukan pemuda dari berbagai latar belakang. “Para pemuda telah menunjukkan bahwa perbedaan tidak menjadi sekat untuk bersatu dalam keberagaman. Selain itu, kita harus bersama-sama menyikapi ujaran kebencian dan hoaks yang mencabik rasa kemanusiaan,” tutur Andar, menegaskan pentingnya kolaborasi dan sinergi bersama para pemuda dalam merespons tantangan di era digital tersebut.

Matius Ho, Direktur Eksekutif Leimena Institute, menyampaikan bahwa era digital membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan toleransi terhadap perbedaan, mengingat tantangan utama saat ini adalah polarisasi yang diperparah oleh penggunaan teknologi digital yang sangat masif. “Kita perlu mengenang semangat Sumpah Pemuda yang berhasil menyatukan perbedaan, sekaligus memperkuat keunikan identitas bangsa yang tidak terpecah oleh perbedaan. Mari kita bahu membahu, tidak lagi terpecah seperti masa penjajahan dulu,” ujar Matius, menekankan pentingnya literasi digital dalam era yang semakin kompleks ini.

Dalam paparannya, Prof. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, menyampaikan bahwa peringatan Sumpah Pemuda adalah momentum penting bagi generasi muda untuk kembali menghayati peran mereka sebagai pilar pemersatu bangsa. “Para pemuda harus meneladani semangat para pendahulu yang berani melampaui batas-batas agama, suku, dan identitas primordial demi persatuan dan kemajuan bangsa,” ungkapnya. Selain itu, menurut Mu’ti, di era digital saat ini, generasi muda memiliki kesempatan besar untuk berinteraksi lintas batas, namun harus bijak dalam menyikapi arus informasi agar tidak terjebak pada respons dangkal atau sikap yang salah.

Dalam diskusi panel, Dr. Farid F. Saenong, Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Masjid Istiqlal, menyoroti peran generasi muda, khususnya Gen Z, yang memiliki keunggulan adaptasi teknologi, dalam menghidupkan karakter keberagaman di era digital. “Gen Z adalah kelompok produktif secara usia yang perlu mengasah literasi keagamaan lintas budaya untuk menumbuhkan sikap saling pengertian dan karakter diversity mereka,” jelasnya.

Selanjutnya, Riandy Prawita, Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah, mengingatkan bahwa generasi muda saat ini yang diwakili oleh Gen Z sangat dipengaruhi oleh akses cepat informasi, yang dapat mempercepat polarisasi jika tidak diimbangi dengan literasi yang baik. “Hoaks adalah ancaman serius bagi persatuan. Dengan cepatnya informasi, kita justru harus semakin pintar menjaga persatuan dan merespon perbedaan,” tegas Riandy, mengajak generasi muda untuk berkolaborasi bersama dalam membangun bangsa yang inklusif.

Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium MAFINDO sekaligus pembicara berikutnya dalam sesi ini, menyoroti pentingnya membangun bangsa melalui kepercayaan yang tercermin dalam Sumpah Pemuda. “Polarisasi yang diperburuk oleh rendahnya literasi digital bisa menggerus nilai-nilai persatuan yang telah kita bangun. Hoaks menyebar cepat, dan inilah saatnya kita berupaya bersama untuk membangun literasi digital yang kuat demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkap Septiaji.

Acara yang dimoderatori oleh Alisa Badria Nindia dari MAARIF Institute ini mendorong seluruh peserta untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-sehari, terutama dalam berinteraksi di media sosial dengan berbagai macam orang, untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah tantangan era digital yang terus berkembang.

Abdul Mu’ti: Terkait Konflik di Palestina, Muhammadiyah Banyak Berkontribusi dalam Isu Pendidikan!

Jakarta, 14 Oktober 2024—Berkolaborasi bersama International Committee of the Red Cross (ICRC), MAARIF House #5 yang diselenggarakan oleh MAARIF Institute pada Selasa (08/10) mengangkat tema Saving Humanity: Islam and International Humanitarian Law. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, memaparkan sepak terjang kontribusi Muhammadiyah dalam isu kemanusiaan (human right) di Palestina.

Sebagai permulaan, Mu’ti mengingatkan kepada para peserta diskusi dan tamu undangan bahwa nilai-nilai kemanusiaan merupakan esensi utama yang diajarkan oleh seluruh agama. “Humanity is the main essence of religious teaching”, tegas Mu’ti. Hal ini sangat penting untuk diingat kembali supaya kita sadar untuk berupaya bersama-sama menciptakan atau menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan yang rusak akibat perang yang sedang terjadi di Timur Tengah.

Kaitannya dengan peperangan yang sedang terjadi di Palestina saat ini dan beberapa peperangan di wilayah Timur Tengah lainnya, Mu’ti juga menekankan satu aspek atau persoalan yang mungkin kerap terlewat oleh kita dalam melihat korban peperangan, yaitu aspek pendidikan mereka. “Pendidikan adalah hal mendasar dalam human right yang harus kita perhatikan juga saat membantu korban-korban akibat kejahatan perang yang terjadi”, jelas Mu’ti.

Lebih lanjut, Mu’ti juga menyinggung usaha apa yang telah dilakukan Muhammadiyah sejauh ini sebagai respon kemanusiaan untuk korban kejahatan perang yang sedang terjadi di Palestina. Dengan membentuk beberapa tim, Muhammadiyah secara aktual membantu korban perang di sana dengan mendirikan sekolah untuk memberikan layanan pendidikan yang layak kepada mereka.

Menutup diskusi, Mu’ti menegaskan pentingnya peran lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya dan kita bersama untuk terus menyuarakan kepentingan kesejahteraan korban perang melalui pendidikan. Inisiatif Muhammadiyah dalam gerakan pendidikan bagi korban perang Palestina menjadi salah satu langkah konkret yang dapat menginspirasi organisasi lain untuk turut berperan aktif dalam krisis kemanusiaan global. NAH