Tag Archive for: Maarif Award

Penerima MAARIF Award 2010 – Romo Vincentius Kirjito


Tempat Tanggal Lahir: Kulon Progo, 18 November 1953

Tokoh agama, pejuang lingkungan hidup, perekat kemajemukan lintas agama & budaya di lereng gunung Merapi.

Seorang pejuang lingkungan hidup yang mendasarkan perjuangannya pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Beliau telah berjuang bersama masyarakat Lereng Merapi untuk menjaga kelestarian alam sekitar dari kerusakan ekologis. Dalam aktivitas pelestarian sumber mata air Romo Kir menggunakan pendekatan budaya berupa pagelaran-pagelaran kesenian dengan mengajak warga masyarakat luas lintas etnis, budaya, dan agama.

Budaya baginya merupakan sarana universal yang dapat menampung semua kalangan, dari latar belakang agama apapun. Kiprahnya ini membuatnya lebih dikenal sebagai budayawan dibandingkan sebagai seorang pastor atau teolog. Ia mampu meramu pendekatan budaya untuk menyatukan warga masyarakat dalam melawan pengrusakan sumber-sumber mata air di pedesaan Lereng Merapi.

Penerima MAARIF Award 2010 – Habib Ali al-Habsyi

Tempat Tanggal Lahir: Barabai, 15 September 1966

Aktivis Muslim Syiah, melakukan pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat lintas iman di Martapura, Kalimantan Selatan.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa sistem perekonomian di tanah air hingga saat ini belum menjadi ruang yang baik bagi kemandirian ekonomi masyarakat.

Ia hadir melakukan perubahan mendasar di masyarakat akar rumput untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Habib Ali secara nyata telah melakukan pembelaan dan pemberdayaan, terutama di pasar Sekumpul, Martapura, yang awalnya belum ada. Kini Pasar Sekumpul telah menjadi roda pergerakan ekonomi kerakyatan di Sekumpul, Martapura.

Perjuangannya ia lakukan dengan mendirikan beberapa Baitul Mal wa Tamwil (BMT). Ia berhasil membangun jejaring BMT dan mengembangkan perekonomian masyarakat miskin setempat.

Perlahan-lahan perubahan pada masyarakat semakin nampak. Kini, kelompok masyarakat yang menjadi mitra Habib Ali sebagian besar telah mengalami perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Perjuangannya dalam melakukan pemberdayaan masyarakat tidak terbatas oleh sekat-sekat primordialitas keagamaan ataupun aliran keagamaan tertentu. Ia termasuk di antara tokoh lintas agama di Kalimantan Selatan.

Penerima MAARIF Award 2012 – Ahmad Bahruddin

Tokoh Muda NU Salatiga yang aktif dalam pemberdayaan masyarakat petani dan menginisiasi komunitas belajar Qoryah Thayyibah.

Kehidupan masyarakat desa, terutama petani adalah ruang kesadaran yang dimiliki oleh Ahmad Bahruddin, yang dengannya pula gagasan transformasi social ia terapkan.

Bagi Ahmad Bahruddin, pembangunan desa harus diawali dari semangat dan keyakinan berdikari. Sebuah keyakinan bahwa pembangunan harus dimulai dari kemandirian. Melalui serikat tani Qoryah Thayyibah, Ahmad Bahruddin dan kawan-kawannya mengorganisir potensi petani menjadi sebuah modal social yang luar biasa.

Kehadiran serikat tani yang dibangun Ahmad Bahruddin telah memberikan dampak nyata bagi ribuan tani anggota serikat, yang tersebar di seantero-Jawa Tengah. Tak hanya advokasi petani, Ahmad Bahruddin juga dikenal sebagai inisiator sekolah non-formal dalam bentuk Komunitas Belajar Qoryah Thayyibah.

Melalui komunitas ini, Bahruddin mendisain institusi belajar yang berbasis pada kebutuhan anak dan berakar pada kehidupan lingkungan dimana komunitas itu belajar. Bahruddin mencita-citakan hadirnya sebuah ruang belajar yang membebaskan, yang memberikan ruang kreatifitas seluas-luasnya bagi anggota komunitas belajar.

Hingga kini, serikat tani dan komunitas belajar ini tumbuh menjadi ikon sebuah komunitas yang diandaikan Ahmad Bahruddin sebagai Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghafur.

Penerima MAARIF Award 2012 – Romo Carolus

Seorang Romo yang mengabdi untuk warga cilacap, yang membantu masyarakat miskin dan termiskin di wilayah Kampung Laut, Cilacap Jawa Tengah.

Meski lahir di Irlandia, akan tetapi ia tumbuh dan mengabdi untuk warga di Cilacap. Setelah sempat ditugaskan di Australia, ia akhirnya menetap di Cilacap Jawa Tengah Indonesia. Romo Carolus dikenal warga di pelosok Cilacap terutam karena ia memiliki program pengerasan jalan.

Dengan mengajak serta warga setempat, Romo Carolus banyak dikenal warga dengan sebutan Romo Carolus Padat Karyono. Program serupa juga banyak dilakukan di Kampung Laut. Sebuah kampung kecamatan yang terletak di pesisir pantai selatan Cilacap, berdekatan dengan pulau Nusakambangan. Di pulau kecil inilah, ia banyak membantu masyarakat miskin, baik dalam hal kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

Tak hanya itu, di Cilacap ia juga dikenal sebagai pelopor gerakan Forum Persaudaraan Umat Beriman. Pilihan kata “beriman” dan bukan “beragama” adalah warisan penting yang ia tekankan hingga kini, karena ia baginya prinsip iman melampaui konsep agama.

Penerima MAARIF Award 2007 – Pdt. Jacklevyn Frits Manuputy

Tokoh agama pelopor rekonsiliasi dan reintegrasi Kristen-Muslim di Ambon, Maluku.

Pada saat konflik Maluku pecah, ia secara konsisten memprakarsai sekaligus memfasilitasi pertemuan, forum serta kegiatan yang mampu mempertemukan, menjembatani serta membangun dialog antara komunitas Kristen dan Muslim dalam rangka meredam eskalasi konflik.

Tanpa kenal lelah, ia merajut tali persaudaraan yang terkoyak akibat konflik. Secara cerdas, Jacky berhasil meyakinkan komunitas-komunitas yang ada di Maluku bahwa mereka memiliki persamaan kultural sebagai masyarakat Maluku.

Jaringan Baku Bae yang menjadi tulang pungung proses rekonsiliasi dan perdamaian di Maluku adalah salah satu hasil kepeloporannya. Kepemimpinannya berakar dan berpijak pada kearifan dan budaya lokal, pela gandong.

Kapasitas dan integritas Jacky sebagai rekonsiliator diakui oleh berbagai pihak dan komunitas. Ketika konflik berkobar lagi di Maluku pada bulan September 2011, Jacky membentuk kelompok-kelompok pemuda selaku “Provokator Damai” dengan menggunakan sarana media sosial dan kampaye “SMS untuk perdamaian” secara luas sehingga diakui keberhasilannya dalam melokalisir lingkup konflik. Kini ia telah menerima gelar Master di bidang Hubungan Kristen-Muslim dari Hartford Seminary.

Pada bulan Maret lalu ia pun terpilih sebagai peraih Peacemaker in Action Award 2011-2012 dari Organisasi Tanenbaum yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat.

Penerima MAARIF Award 2007 – Arianto Sangadji

Aktivis penggerak perdamaian dan rekonsiliasi Muslim-Kristen di Poso, Sulawesi Tengah.

Pada saat konflik horizontal bermuatan SARA melanda Poso tahun 1998, Arianto tampil sebagai mediator sekaligus inovator. Ia membuka mata hati serta membakar semangat para aktivis muda dari kalangan Muslim dan Kristen untuk bersatu padu membendung isu konflik agama di Poso. Pendekatan resolusi konflik dan rekonsiliasi yang dilakukan Arianto mampu mematahkan isu konflik agama yang deras diopinikan banyak pihak. Dengan telaten dan cermat, ia bertemu dan bertukar pikiran dengan masing-masing pihak melakukan proses mediasi yang sangat berperan dalam mengubah cara pandang dan berpikir masyarakat Poso terhadap konflik yang terjadi. Kini, masyarakat tidak lagi berpikir bagaimana caranya membuat senjata, tetapi secara sadar dan bersama melakukan perlawanan dan menuntut apa yang menjadi hak mereka. Sekarang, Arianto sedang menyelesaikan pendidikan Ph.D di sebuah universitas di York University, Kanada.