Tangkal Separatisme, Muhammadiyah Teguhkan Pancasila sebagai Pemersatu

Jakarta – Maraknya isu bertendensi negatif soal Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) yang mengkhawatirkan belakangan ini mendorong Muhammadiyah mengkampanyekan kembali ideologi Pancasila. Muhammadiyah mengajak masyarakat kembali ke Pancasila sebagai pilar pemersatu bangsa.

“Dalam isu yang bergejolak akhir-akhir ini (mengenai SARA), Pancasila dapat memberikan penguatan dalam perspektif keislaman. Pancasila adalah faktor pemersatu yang dapat menyatukan kebinekaan bangsa Indonesia,” ujar Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari dalam diskusi Negara Pancasila: Tafsir Kontemporer Muhammadiyah di Sekretariat PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya no 62, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2016).

Hajriyanto menjelaskan bahwa perumusan Pancasila sudah mengakomodasi keinginan kalangan Islam mengenai konsep pemerintahan. Konsep dalam Pancasila sudah paripurna sehingga tidak perlu diberikan lagi revisi.

“Pancasila dapat dilihat sebagai penyedia prinsip-prinsip dasar yang menjadi tempat bertemu dalam pengelolaan negara,” jelasnya.

Menurutnya Muhammadiyah telah mengambil sikap resmi mengenai Pancasila yang diputuskan dalam Muktamar pada tahun 2015 lalu. Sikap resmi tersebut tercatat dalam dokumen Konsep Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahdi wa al-Syahadah (Kampung Perjanjian dan Kampung Persaksian).

“Dokumen ini adalah konsep yang dihasilkan oleh Muhammadiyah. Tafsir dan penjelasan baru terdapat dalam dokumen tersebut karena dikaitkan dengan realitas umat hari ini dalam aktualisasi Pancasila,” imbuhnya.
(dnu/dnu)
Pengarang: http://news.detik.com

Pelajar Binaan MAARIF Tekan Buta Aksara di Jember

Jakarta, MAARIF Institute. Pada 1-6 Agustus lalu, MAARIF Institute menyelenggarakan Jambore Pelajar se-Pulau Jawa untuk kali keempat di Surabaya dengan tema “Merawat Kebinekaan, Menolak Sektarianisme”. Tema tersebut diangkat mengingat beberapa tahun ini konflik atas nama sektarianisme marak terjadi, yang mana dapat mengancam disintegrasi bangsa dan perpecahan internal umat beragama.

Acara yang ditujukan bagi para pelajar SMA/se-derajat ini diikuti oleh 98 orang terpilih melalui proses seleksi. Mereka adalah para aktivis Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan pengurus organisasi ekstra kurikuler. Sebanyak 28 sekolah dari 18 Kota/Kab. di Pulau Jawa mengikuti acara tahunan ini. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen MAARIF Institute dalam mengelola keberagaman di kalangan generasi muda.

Pada hari terakhir, para peserta ditugaskan untuk membuat Creative Mission Statement (CMS) sebagai gambaran singkat tentang tindak lanjut yang akan dilakukan ketika kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing. Jambore Pelajar didasarkan pada 12 Nilai Karakter Kebangsaan yang menjadi ruh selama acara berlangsung. Keduabelas nilai tersebut adalah Konteks Keimanan yang Mejemuk, Semangat Menuntut Ilmu, Jujur, Adil, Berbaik Sangka, Persahabatan, Empati, Peduli dan Tolong Menolong, Toleransi, Musyawarah, Cinta Tanah Air, serta Mengajak Kepada Kebaikan dan Mencegah Kemunkaran.

Salah satu tindak lanjut yang dilakukan oleh peserta, yang telah menjadi alumni, adalah Program 4B (Bawa Bekal Buat Berubah). Program 4B terdiri dari dua kegiatan, yaitu Gerakan dan Gebrakan 4B. Gerakan 4B adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap dua minggu sekali,berupa membawa bekal ke sekolah. Hal ini bertujuan untuk menyisihkan uang jajan seikhlasnya, di mana dana yang terkumpul digunakan untuk Gebrakan 4B.

Gebrakan 4B sendiri merupakan pelayanan sosial yang diharapkan dapat membawa perubahan pada daerah sekitar. Oleh Elizabeth Puspaningrum Sinyor(alumni Jambore Pelajar 2016) dan kawan-kawannya, Gebrakan 4B diterjemahkan dalam bentuk Penuntasan Buta Aksara.Hal ini dilatarbelakangi kegelisahan dan fakta bahwa Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang memiliki angka buta aksara tinggi di Indonesia. Juga karena Elizh, begitu Elizabeth akrab disapa, terinspirasi dari Saka Pustaka yang ia geluti.

“Pulang Jambore, saya (Elizabeth) mendiskusikan dengan teman-teman tentang apa yang kami bisa lakukan sebagai pelajar di Jember. Akhirnya kami putuskan untuk membantu menuntaskan buta aksara sebagaimana yang sempat saya gagas ketika Jambore. Hal ini sebagai bentuk peduli dan tolong menolong yang materi dan contoh nyatanya saya dapat ketika Jambore berlangsung.” papar Elizh.

Langkah Nyata

Berkat kegigihannya dalam merencanakan program, tawaran Elizh dan kawan-kawannya yang tergabung dalam PRASMASA (Pramuka SMA Negeri 1 Jember) direstui oleh Kepala Sekolah. Bahkan Kepala Sekolah menginstruksikan agar melibatkan adik kelas supaya program yang digagas berkelanjutan. Hingga akhirnya PRASMASA menjadikan Program 4B menjadi Program Kerja Tetap Pramuka SMA Negeri 1 Jember.

buta-aksara-4Setelah mendapat restu dan dukungan penuh dari pihak sekolah, PRASMASA bertolak ke BPS (Badan Pusat Statistik) untuk mendapatkan data ihwal Buta Aksara di Jember. Di BPS mereka mendapatkan data yang dibutuhkan dan mulai menyusun strategi untuk mengurus perizinan ke lokasi yang akan dikunjungi.

Pada 7 Oktober lalu, PRASMASA mulai bergerak ke Antirogo untuk menyurvei lokasi, menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, serta mengurus perizinan kepada pihak berwenang setempat. Bak gayung bersambut, warga setempat menerima dengan tangan terbuka. Sebelumnya, PRASMASA terlebih dahulu melakukan sosialisasi ke tiap kelas untuk merealisasikan Gerakan 4B. Selain itu, sosialisasi ini pun bertujuan untuk mencari relawan yang bersedia meluangkan waktu dan melibatkan diri dalam kegiatan Penuntasan Buta Aksara.

buta-aksara-2Setelah melewati rangkaian proses kegiatan, akhirnya untuk kali pertama program Penuntasan Buta Aksara dapat terealisasi pada Sabtu, 22 Oktober 2017, di Antirogo, Jember, Jawa Timur. Melihat kondisi Antirogo, program ini ditujukan bagi para ibu rumah tangga yang berasal dari beragam latarbelakang keagamaan.

Acara dimulai dengan orientasi dari perwakilan PRASMASA. Kemudian dilanjutkan dengan Pengenalan Huruf Latin. Pada prosesnya, sebagian anggota PRASMASA menjadi pengajar dan sebagian anggota lain mendampingi para ibu guna membantu mereka secara lebih dekat dan langsung. Setelahnya, ada permainan tebak huruf agar para ibu lebih bersemangat. Terlebih, ibu yang bisa mendapat pertanyaan akan mendapatkan hadiah yang telah dipersiapkan. Pelaksanaan kegiatan Pengentasan Buita Aksara ini juga dibantu beberapa siswa non-PRASMASA sebagai relawan.

buta-aksara-3Mengingat ini merupakan program rintisan, dalam perencanaannya, kegiatan ini dilaksanakan sekali dalam sebulan. Elizh berharap program ini dapat berlanjut, tak terhenti sampai ia menyelesaikan studi di SMA.

“Penuntasan Buta Aksara (pelaksanaan) ini baru pertama kali bagi kami. Kami berharap program ini dapat bertahan dalam waktu yang lama sebagaimana yang kami rencanakan bersama. Ini terbuka bagi semua warga yang membutuhkan, kami tidak melihat latar belakang suku dan agama,” pungkas Elizh, satu-satunya siswa beragama Katolik yang mengikuti Jambore Pelajar 2016. (PAF/MAD)

Komik ‘Bengkel Buya’ Resmi Diluncurkan

YOGYA (KRjogja.com) – Maarif Institute resmi meluncurkan sebuah komik bertajuk ‘Bengkel Buya’ Belajar Dari Kearifan Wong Cilik, Senin (29/08/2016). Komik tersebut berisi pesan-pesan kemanusiaan Buya Syafii Maarif yang didapatkan dari suara akar rumput di Yogyakarta yang divisualisasikan dalam sebuah cerita ringan dan menarik.

Mengambil lokasi di Aula Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta yang juga merupakan sekolah Buya Syafii Maarif, komik tersebut dibedah bersama dua narasumber yakni Beng Rahadian tim kreatif Bengkel Buya dan Wisnu Nugroho blogger dan praktisi media. Diskusi menarik pun terjadi saat gagasan Buya yang biasanya sangat formal diubah total menjadi lebih enteng dengan visual dan cerita yang bisa dibaca seluruh elemen masyarakat.

Plt Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz mengatakan komik Bengkel Buya tersebut dibuat sengaja untuk mempopulerkan gagasan-gagasan Buya Syafii Maarif yang biasanya hanya dibaca kalangan tertentu saja. Menurut dia, sudah saatnya gagasan Buya ditransformasikan agar bisa diakses semakin banyak orang di Indonesia.

“Salah satunya melalui komik Bengkel Buya ini, kita visualisasikan pesan-pesan kemanusiaan Buya agar bisa dibaca dan dipahami lebih banyak orang. Ceritanya ringan namun punya banyak pesan diantaranya tentang dunia Islam Indonesia yang damai,” ungkapnya.

Buya Syafii Maarif sendiri mengatakan gagasan yang ada di komik Bengkel Buya didapatkan dari hasil interaksi dengan orang-orang kecil yang ditemui selama perjalanan hidup. Namun demikian, Buya menyampaikan bahwa dialog dengan wong cilik tersebut hanya sebagian kecil saja dari permasalahan yang ada di Indonesia saat ini.

“Sebenarnya ada lebih dari separuh rakyat Indonesia yang di bawah sejahtera, kita bilang wong cilik. Buku ini hanya percik kecil saja tapi inilah gambaran fakta yang ada di Indonesia, dan saya mengajak masyarakat untuk berpikir mengurai permasalahan yang ada, jangan hanya berpikir untuk enak dan aman,” ungkapnya.

Komik Bengkel Buya berisi cerita-cerita visual yang sangat menarik diantaranya Tugimin: Sepeda dan Masjid Syuhada, Bengkel, Teknisi Kompor dan beberapa lainnya. “Kami bawa feature Buya yang ditulis di banyak media massa menjadi visual dalam komik, tantangan luar biasa namun akhirnya jadilah Bengkel Buya ini,” ungkap Beng Rahadian. (Fxh)

Bengkel Buya, Komik Inspiratif Buya Syafii Maarif dan Wong Cilik

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA – Ahmad Syafii Maarif atau akrab disapa Buya Syafii selama ini dikenal karena pendiriannya teguh, bicaranya lugas, kritis terhadap hal yang mengusik keadilan dan kemanusiaan.

Pokok-pokok pikiran mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammdiyah ini banyak dituangkan lewat esai, artikel, dan opini di berbagai media massa.

Guna mengadaptasikan gagasan-gagasan Buya yang universal tersebut Maarif Istitute bekerjasama dengan berbagai pihak menerbitkan komik Bengkel Buya: Belajar dari Kearifan Wong Cilik.

Pelaksana Tugas Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz, mengatakan komik Bengkel Buya tersebut dibuat sengaja untuk mempopulerkan gagasan-gagasan Buya agar bisa diakses semakin banyak orang di Indonesia.

“Salah satunya melalui komik Bengkel Buya ini, kita visualisasikan pesan-pesan kemanusiaan Buya agar bisa dibaca dan dipahami lebih banyak orang,” ujar Darraz di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan Letjend S Parman, Senin (29/8/2016).

Kisah Buya Syafii Maarif Bertemu Wong Cilik Dibuat Komik

Pengarang: https://seleb.tempo.co

TEMPO.COJakarta – Marsudi, sopir taksi di Yogyakarta, tak menyangka kisah hidupnya muncul di koran usai bertemu mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif. Tentang istrinya yang 11 tahun menjadi guru honorer pun turut dibahas dalam artikel. Syafii sendiri yang menulis kisah tersebut.

Marsudi mengaku pertama kali bertemu Syafii saat mengantarnya dari Bandara Adisutjipto menuju ke rumah Syafii di Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

“Saya dikasih tahu paklik (om). Dan saya baru tahu itu Bapak Buya,” tutur Marsudi saat diminta bercerita dalam peluncuran buku komik esai berjudul Bengkel BuyaBelajar dari Kearifan Wong Cilikdi Aula Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta, Senin, 29 Agustus 2016.

Sejak saat itu, kata Marsudi,  sepekan sekali dia bertemu Syafii di bandara. Syafii menganggap Marsudi sebagai sahabat. Adapun Marsudi yang mualaf itu memanggil Syafii dengan sebutan romo.

Hubungan persahabatan Syafii dengan Marsudi merupakan satu dari lima kisah interaksi Syafii dengan wong cilik yang dikomikkan. Ada pula kisah Syafii bertemu marbot masjid, bengkel sepeda, pengasah pisau, hingga tukang memperbaiki kompor.

Kisah-kisah pertemuan itu ditulis Syafii di beberapa koran yang kemudian divisualkan dalam bentuk gambar oleh Maarif Institute serta penerbit Mizan.  Peluncuran buku yang semestinya dilakukan 2015  bertepatan dengan ulang tahun Syafii ke-80 diundur tahun ini. “Saya bersyukur pemikiran saya dikomikkan. Semoga menjangkau radius lebih luas demi masa depan bangsa,” kata Syafii.

Menurut Syafii  berinteraksi dengan orang kecil bukan hal baru baginya. Masyarakat kelas bawah, kata Syafii, jumlahnya sekitar separuh dari populasi penduduk di Indonesia. Mereka hanya berpenghasilan 2 dolar per kepala per hari, atau bahkan tak punya penghasilan sama sekali.

Kebiasaannya bersepeda atau naik angkutan umum, menurut blogger Wisnu Nugroho, membuat pemikiran Syafii lebih reflektif. Sebab Syafii menemukan dan melihat berbagai fenomena wong cilik dengan lebih detail.  “Itu melatih kepekaan. Dan komik ini ajakan Buya untuk merayakan rakyat kebanyakan,” kata Wisnu.

Dikisahkan pula Syafii  sempat kursus montir saat pindah sekolah dari Madrasah Mualimin di Sumatera Barat ke Madrasah Mualimin Yogyakarta. Syafii sempat kesal pada seorang guru di Yogyakarta menyangsikan mutu pendidikan di Sumatera.

Komikus Bambang Tri “Beng” Rahadian mengaku kesulitan saat  menggambar tokoh-tokoh dalam komik tersebut. Alasannya, ada beberapa tokoh wong cilik yang sulit dilacak. Dia pun mengandalkan deskripsi tokoh dari tulisan Syafii. “Tapi yang paling sulit adalah menjaga jangan sampai gambar-gambar di komik ini mereduksi makna dari gagasan Buya,” kata Beng.

Diluncurkan, Pesan Kehidupan dari Syafii Maarif dalam Komik “Bengkel Buya”

Pengarang: http://regional.kompas.com/

YOGYAKARTA, KOMPAS.com

– Maarif Institute meluncurkan sebuah komik berjudul “Bengkel Buya: Belajar dari Kearifan Wong Cilik”, Senin (29/8/2016). Cerita dalam komik ini diangkat dari kumpulan tulisan Ahmad Syafii Maarif di artikel opini dan esai yang diterbitkan di Harian Kompas dan Republika.

Tim kreatif pembuatan komik, Bambang Tri Rahadian, mengatakan, ada lima kisah nyata yang ada di komik ini, yakni “Bengkel”, “Taksi”, “Tugimin”, “Suparmin” dan “Teknisi Kompor”.

“Penggambaran dalam komik semuanya diambil dari kumpulan tulisan Buya Syafii di koran nasional,” ujar Bambang.

Dia mengungkapkan, proses pembuatan komik ini memakan waktu kurang dari satu tahun. Kesulitannya terletak pada menerjemahkan tulisan ke dalam bentuk visual.

“Kesulitannya menerjemahkan tulisan Buya Syafii tanpa mengubah intinya ke bentuk komik. Lalu dibuat dramatis, soalnya tulisan aslinya bukan drama,” ungkapnya.

Wisnu Nugroho, praktisi media yang hadir sebagai narasumber dalam peluncuran komik ini menyampaikan bahwa tulisan Buya Syafii tentang bengkel sepeda di Harian Kompas mampu mengisi kekosongan makna dalam kegaduhan politik yang terjadi saat itu.

“Ketika kita capek dengan kegaduhan politik, Buya hadir dalam tulisan tentang ketulusan seorang pekerja bengkel sepeda, membantu sesama tanpa mencari nama,” tandasnya.

Pemimpin Redaksi Kompas.com ini menilai bahwa lima cerita nyata yang ada di dalam komik ini sama-sama kuat, naratif dan reflektif. Membaca komik ini, lanjut dia, akan membuka mata hati. Pembacanya diajak untuk merayakan makna kehidupan.

Direktur Program Maarif Institute M Abdullah Darraz, menambahkan, komik tersebut merupakan upaya untuk memvisualisasikan pesan-pesan Buya Syafii dalam bentuk komik.

“Komik ini memang diangkat dari gagasan Buya Syafii. Komik ini adalah upaya untuk memvisualisasikan pesan-pesan tentang kemanusiaan universal,” tuturnya.

Syafii Maarif yang turut hadir dalam acara ini menyampaikan syukur karena pemikiran dan gagasannya dijadikan komik sehingga bisa tersebar lebih luas demi kepentingan bangsa dan negara.

“Mudah-mudahan bisa mencapai radius yang lebih luas,” ucapnya.

Di tengah acara peluncuran ini, hadir pula salah satu tokoh sopir taksi yang pernah ditulis oleh Buya. Tokoh bernama Marsudi ini juga dimasukkan dalam salah satu cerita komik berjudul “Taksi”.

Di dalam acara ini, Marsudi juga menceritakan awal mula perkenalannya dengan Buya Syafii. Hampir setiap Minggu, ungkapnya, dia menjemput Buya di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta.

Bengkel Buya, Komik tentang Gagasan Syafii Maarif

Pengarang: http://jateng.metrotvnews.com/

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Tokoh senior Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif menjadi sebuah inspirasi. Sebagian perjalanan hidup mantan Ketum PP Muhammadiyah ini dibukukan dalam komik berjudul “Bengkel Buya, Belajar dari Kearifan Wong Cilik”.

Isi buku yang berlatar di Yogyakarta itu, bercerita tentang pertemuan Buya Syafii dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai tukang bengkel sepeda, tukang asah pisau, marbot masjid, tukang kompor, hingga sopir taksi yang bisa menjemputnya dari bandara.

Seorang sopir taksi yang menjadi cerita dalam kisah itu yakni bernama Marsudi. Dia yang mengaku menjadi mualaf ini kenal Buya lantaran kurang lebih seminggu sekali menjemput di bandara.

Pertemuan itu, kata Marsudi, kemudian dijadikan bahan tulisan oleh Buya Syafii. Artikel itu terbit di koran. Marsudi sempat takut jika tulisan yang dibuat Buya menceritakan soal hal negatif.

“Jangan-jangan tentang yang buruk. Tapi setelah lihat, isinya (artikel) bagus,” ujar kata Marsudi mengisahkan pertemuannya dengan Buya saat peluncuran buku tersebut di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (29/8/2016).

Oase

Praktisi media, Wisnu Nugroho mengatakan kisah dari Buya menjadi isi dari kekosongan di lingkungan masyarakat. Menurutnya, riuh kehidupan masyarakat saat ini jarang memberikan sebuah makna.

“Kisah Buya ini mengisi kekosongan nilai-nilai menjadi yang baik, bercerita soal ketulusan. Buya sangat cermat menceritakan dengan jeli,” tuturnya.

Wisnu menilai, semua kisah di dalam buku tersebut sama-sama kuat. Menurut dia, melalui kisah Buya tersebut akan membuka mata hati seseorang dan mengajak untuk meresapi hidup agar lebih bermakna. “Ceritanya akan membuat kita tertegun,” ujarnya.

Tim kreatif pembuatan komik “Bangkel Buya”, Bambang Tri Rahadian mengatakan pembuatan gambar dalam buku itu memakan waktu kurang dari setahun. Bagian yang cukup memakan waktu yakni menerjemahkan esai-esai kehidupan karya Buya menjadi sebuah gambar visual.

“Kesulitannya membuatnya menjadi dramatis karena naskahnya bukan untuk drama,” ucap lelaki dengan sebutan Beng Rahadian ini.

Sementara itu, Buya Syafii mengaku sengaja mengisahkan wong cilik atau orang kecil yang kerap menjadi jargon politik namun tak mendapat kesejahteraan. Menurut Buya, wong cilik di Indonesia berjumlah lebih dari 50 persen dan berpenghasilan kurang dari USD2 per hari.

“Biar pemikiran ini menyebar luas dan bermanfaat untuk bangsa,” pungkasnya.

Menakar Tingkat Toleransi di Indonesia

Pengarang: http://www.femina.co.id/

Menurut data yang dimiliki Komnas HAM sejak tahun 2014,  tiap tahunnya pengaduan terkait dugaan pelanggaran hak kebebasan berkeyakinan selalu meningkat. Pada tahun 2014 tercatat 74 pengaduan dan  tahun 2015 mencapai 89 pengaduan. Sedangkan pada  periode Januari-Mei 2016, terdapat 34 pengaduan. Belum lagi, percikan isu SARA di media sosial, mudah sekali menyebar.

Pengertian toleransi yang dijabarkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merupakan sikap berpikiran terbuka dan menghargai perbedaan. Konsep toleransi ini seharusnya diaplikasikan tak hanya pada persoalan SARA semata, tapi juga terhadap perbedaan gender dan orang-orang dengan keterbatasan fisik dan intelektual.

Toleransi adalah mau menerima orang lain apa adanya dan juga berarti memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sikap intoleransi atau diskriminatif sebetulnya menjadi PR tiap negara. Di Amerika Serikat misalnya, perlakuan diskriminatif masih sering dihadapi orang kulit hitam dan keturunan Yahudi.

Di Indonesia, kebencian terhadap etnis Tionghoa seperti sudah mengakar, yang dipicu sejak era Orde Baru. Pada masa itu, warga keturunan Tionghoa diwajibkan mengganti nama Cina mereka dengan nama Indonesia oleh pemerintah. Mereka dipaksa menghapus identitas heritage-nya dan mendapat predikat ‘konglomerat hitam’ alias pengusaha yang melakukan usaha dengan banyak kecurangan dan merugikan pribumi.

Baca: Mengapa Masyarakat Kita Mudah Mengalami Konflik Sara?

Sikap intoleran juga makin permisif setelah reformasi. “Jika dulu gerakan-gerakan radikal-intoleran dibungkam oleh pemerintah, kini, ketika keran kebebasan bersuara dan berkelompok dibuka lebar, kelompok intoleran  makin menjamur. Kita ini seperti orang ‘kaget’ memiliki kebebasan bersuara. Sayangnya, kebebasan ini jadi aksi yang destruktif, seperti menghancurkan rumah ibadah, membunuh, melakukan kekerasan fisik maupun teror,” papar M. Abdullah Darraz, Direktur Program MAARIF Institute, LSM yang memperjuangkan pluralisme.

Adanya khotbah-khotbah panas yang didengungkan oknum pemuka agama militan yang isinya menciptakan rasa antipati terhadap kelompok agama lainnya juga turut memperkeruh radikalisme di tanah air. “Tak dipungkiri, praktik seperti ini memang ada di beberapa masjid. Sebetulnya itu tidak mencerminkan Islam Indonesia yang cinta damai. Kebanyakan, suara-suara keras ini diadopsi oleh pemuka agama yang berkiblat pada Islam Timur Tengah,” sesal Darraz.
Itu sebabnya, MAARIF Institute tiap tahunnya menggelar simposium atau halaqah nasional untuk membekali para ulama Muhammadiyah dalam menyosialisasikan indahnya pluralisme dan sikap toleransi bagi kedamaian bangsa kepada masyarakat.

Lebih jauh, riset MAARIF Institute di empat kota (Pandeglang, Cianjur, Yogyakarta, Surakarta) mengungkap bahwa ada kelompok-kelompok radikal yang menyusup ke dalam sekolah-sekolah negeri. “Biasanya mereka adalah alumni sekolah tersebut yang telah teradikalisasi. Lewat jalur orientasi pembekalan siswa baru, yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan di luar sekolah dan di luar jam sekolah, banyak siswa dicuci otaknya untuk melakukan gerakan radikalisme. Sekolah biasanya tidak mengetahui hal ini.

Meski demikian, aksi radikalisme yang terjadi, menurut Darraz, hanya dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok saja. “Bangsa Indonesia masih sangat toleran, kok, dibandingkan dengan yang terjadi di Timur Tengah. Nasionalisme yang tinggi dan budaya kekeluargaan kita yang kuat yang menjadi penyelamat. Di Timur Tengah lebih mengerikan kondisinya,” ujar Darraz, menenangkan.

Bukti masih tingginya kerinduan bangsa ini pada kedamaian tercermin dari kehidupan di Kampung Sawah di Jatiwangi, Bekasi, yang akhirnya dijuluki sebagai Kampung Pancasila. Warga di kampung ini  berasal dari beragam suku, ras, dan agama, tapi tetap saling menjaga toleransi sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Rumah-rumah ibadah dari tiap agama terlihat dibangun di sana.

Muhammadiyah juga telah membangun ribuan sekolah (TK-SMA) dan 150 universitas yang mengedepankan pluralisme. “Di Nusa Tenggara Timur, ada sekolah Muhammadiyah yang 90% siswanya beragama Nasrani. Di luar Pulau Jawa itu masyarakatnya justru malah lebih toleran, karena mereka lebih mengedepankan adat,” kata Darraz.

Sayangnya, toleransi orang Indonesia dinilai Darraz masih pasif. “Toleransi yang pasif itu di dalam hati mau mengakui dan menerima perbedaan, tapi ketika ada nonmuslim yang diserang, kita hanya diam saja tak membela orang yang disakiti tersebut. Padahal, pembiaran terhadap intoleransi berarti menjadi bagian dari intoleransi sendiri,” terang Darraz. Jadi, agar tercipta harmoni sudah seharusnya kita saling menjaga untuk menghentikan tindak kekerasan dan diskriminatif terhadap seseorang atau kelompok tanpa memandang agamanya. (f)

Mengapa Masyarakat Kita Mudah Mengalami Konfik SARA?

Pengarang: http://www.femina.co.id/

Mendengar aksi anarkis pembakaran sejumlah kelenteng dan vihara di Tanjung Balai, Sumatra Utara, yang mengatasnamakan ‘membela’ agama, membuat kita geleng-geleng kepala. Masalahnya terlihat sepele dan tidak seharusnya ditanggapi dengan aksi yang destruktif.

Kerusuhan di penghujung Juli lalu berawal dari permohonan seorang wanita Tionghoa kepada pengurus masjid untuk mengecilkan volume pengeras suara yang mengumandangkan azan yang dirasanya cukup mengganggu. Kemarahan massa yang lepas kontrol ini disinyalir juga akibat provokasi di media sosial. Tindak perusakan rumah ibadah itu sudah merupakan bentuk tindak kriminal. Padahal, Undang-Undang Pasal 9 Ayat 2 Nomor 9 Tahun 1998 telah mengatur larangan rumah ibadah dijadikan sasaran demonstrasi massa.

Gesekan-gesekan terkait agama sepertinya sangat mudah diusik di negara ini. Kejadian tersebut bukanlah yang pertama. Masih banyak kekerasan radikal fenomenal seputar isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang terjadi, seperti kerusuhan etnis tahun  ’98 yang menjadi catatan kelam sejarah bangsa ini, konflik antaragama di Ambon (1999), pembantaian umat muslim di Poso, Sulawesi Tengah, yang masih bergulir sejak tahun 2000, kerusuhan antarsuku di Sampit (2001), pembongkaran gereja di Aceh Singkil (2015), dan yang baru-baru ini terjadi, insiden berdarah akibat perusakan musala di Tolihara, Papua, Juli lalu.

Menurut data yang dimiliki Komnas HAM sejak tahun 2014,  tiap tahunnya pengaduan terkait dugaan pelanggaran hak kebebasan berkeyakinan selalu meningkat. Pada tahun 2014 tercatat 74 pengaduan dan  tahun 2015 mencapai 89 pengaduan. Sedangkan pada  periode Januari-Mei 2016, terdapat 34 pengaduan.

Sebaran wilayah tertinggi pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan terdapat di Provinsi Jawa Barat, disusul DKI Jakarta, Aceh, dan Bangka Belitung. Pernyataan itu didasari penghitungan jumlah laporan tentang diskriminasi atau perilaku tidak menyenangkan yang diadukan masyarakat.
“Konflik yang dipicu oleh persoalan agama memang lebih sensitif daripada permasalahan suku dan ras. Penyebabnya, karena agama menjadi keyakinan yang paling esensial. Apabila terusik, orang cenderung lebih mudah sakit hati sehingga terdorong berespons keras untuk memperjuangkan keyakinannya,” jelas M. Abdullah Darraz, Direktur Program MAARIF Institute, LSM yang memperjuangkan pluralisme.  Padahal, menurutnya, tidak jarang kepentingan politik disisipkan di balik aksi adu domba ini.

Tidak hanya perseteruan yang besar, percikan isu SARA juga banyak ditemui di laman media sosial. Misalnya, caci makinetizen terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pemimpin yang non-muslim dan dari etnis nonpribumi. Ada juga kasus ejekan Florence di akun Path terhadap warga Yogyakarta yang dinilainya bodoh, dan Ibnu yang menghina perayaan Nyepi di Bali beberapa tahun lampau.

Kebebasan berkicau di laman sosial ini apabila dirasa menyudutkan pihak tertentu bisa dilaporkan terkait Pasal 27 UU ITE tentang Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik seperti yang diatur dalam Pasal 27 Ayat 3 Jo Pasal 45 Ayat 1 UU RI Tahun 2008 tentang ITE dengan pidana penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan selama 2 tahun.

Lontaran ejekan sukuisme antarteman juga sudah jadi santapan sehari-hari di tengah kita dan akhirnya mengarah jadi stereotip. Misalnya, suku Minang sering dipandang pelit, wanita Sunda matre dan (maaf) murahan, orang Manado lebih mementingkan penampilan dan suka hura-hura, orang Batak kasar dan bermental kriminal, dan masih banyak lagi. Sebagai negara yang memiliki 1.700 pulau dengan ratusan suku bangsa yang menghuninya, tak heran gesekan antarsuku menjadi sangat rentan di Indonesia, akibat perbedaan budaya dan adat istiadat. (f)

Guru Cubit Murid lalu Dipenjara, Ini Komentar Mendikbud Muhajir

Pengarang: http://beritajatim.com/

Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan (Mendikbud), Republik Indonesia yang baru saja menjabat, Muhajir Effendi, saat penutupan Jambore Pelajar di Surabaya, Sabtu (6/8/2016) mengungkapkan adanya walimurid yang melaporkan gurunya kepada polisi atas tuduhan kekerasan terhadap putranya itu merupakan hal yang mencerminkan sistem pendidikan di Indonesia yang masih belum handal.

“Ketika saya mendapatkan laporan ada murid yang melaporkan gurunya ke polisi karena dicubit, dan membuat gurunya sampai dipenjara itu menandakan bahwa pendidikan di Indonesia masih rapuh,” ujar Muhajir.

Ia mengatakan, pelaporan itu membuat dirinya sampai risih, apalagi gurunya sampai dipenjara.

“Dikit-dikit lapor, dikit-dikit madul. Padahal untuk mencetak generasi yang kuat, sistem pendidikannya harus keras dan ketat. Kalau begini terus tidak akan menghasilkan generasi yang tahan banting nantinya,” tegas Muhajir.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, menjelaskan bahwa Pendidikan yang keras bukan berarti dengan kekerasan dan menghimbau kepada semua walimurid agar bisa membedakan sistem yang diajarkan oleh guru.

“Kalau pendidikan dengan kekerasan itu namanya penyiksaan, saya minta semua walimurid hendaknya bisa membedakan dan harus menelaahnya tidak main lapor begitu,” himbau Muhajir.

Hal yang diungkapkan Muhajir ini dimaksudkan menyindir siswa SMP asal sekolah swasta di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang melaporkan gurunya karena dicubit lengannya.

Sebelumnya, (dua hari lalu,red). Guru Samhudi, divonis 3 bulan penjara dengan masa percobaan enam bulan oleh Pengadilan Negeri Sidoarjo. Selain itu, diwajibkan membayar denda Rp 250 ribu.

Guru SMP Raden Rahmat, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo itu didakwa melanggar Pasal 80 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.