Peraih Penghargaan Maarif Institute Sebut Militer Terlibat dalam Konflik Ambon

Pengarang: http://nasional.kompas.com/

JAKARTA, KOMPAS.com – Joseph Matheus Rudolf Fofid atau yang kerap disapa Rudi meraih salah satu penghargaan dari Maarif Institute atas perjuangannya mengajak masyarakat bangkit pasca konflik di Ambon.

Ia melihat langsung yang sebenarnya terjadi di sana dan konflik pemicunya. Menurut dia, sejumlah oknum tentara terang-terangan mendapat peran dalam konflik tersebut.

“TNI terlibat, tapi tidak ada bukti karena sudah pada tewas. Saya bersedia jadi saksi keterlibatan militer,” ujar Rudi saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/6/2016).

Menurut dia, keterlibatan tentara dalam konflik tersebut bukan sebagai institusi, melainkan oknum “nakal” yang mencoba memecah belah.Tentara ini berpihak pada satu kelompok, sementara juga berdiri di kelompok lain untuk memecah belah kedua kubu yang bersitegang.

(Baca: Korban Konflik Ambon Rayakan Hari Perdamaian Dunia)

“Tentara yang bermain di satu kelomlok jadi pahlwan di situ. Sementara juga bermain di sebelah sehingga konflik tetap terpelihara,” kata Rudi.

“Sampai hari ini, siapa terliibat konflik Ambon tidak terungkap. Kita bisa bikin konflik baru di masa depan,” lanjut dia.

Lantas, apa yang dilakukan Rudi untuk memulihkan situasi pasca konflik? Berpuisi.

Melalui kelompok bernama Bengkel Sastra Maluku, ia mengumpulkan anak-anak muda, dari semua etnis dan agama, untuk menumpahkan kreasi mereka melalui seni.

(Baca: Temuan Puluhan Mortir Dipastikan Sisa Konflik Ambon)

Menurut Rudi, bahkan di situasi yang paling sulit pun puisi bisa memecahkan tembok penghalang.

“Orang sudah mau muntah dengar kata damai. Dengan puisi, ada perjumpaan. Orang Islam dan Kristen berjumpa sehingga ada rekonsiliasi,” kata dia.

Saat terjadi konflik antarwarga di desa Mamala dan desa Morela pada 2014, Rudi fasilitasi anak-anak muda di sana untuk bertemu dan menggelar kegiatan seni bersama untuk perdamaian. Tak kurang dari 500 orang hadir dalam acara itu.

Merehabilitasi Perempuan Korban Konflik Poso Lewat Sekolah Toleransi

Pengarang: http://nasional.kompas.com/

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak cara menyembuhkan luka korban pasca konflik di daerah-daerah rawan. Cara yang dipilih oleh Mosintuwu Intitute yakni dengan pemberian materi soal toleransi.

Salah satu pengurusnya, Asni Yati Hamidi, merupakan alumnus angkatan pertama sekolah perempuan yang berdiri di Poso ini.

“Kami dikumpulkan dari 14 desa dan belajar bersama agama Kristen, muslim. Sering bertemu sehingga kedamaian tercipta dengan sendirinya,” ujar Asni saat ditemui di Jakarta, Minggu (12/6/2016).

Asni mewakili Mosintuwu Institute untuk menerima penghargaan dari Maarif Institute. Gerakan sekoleh perempuan ini berangkat dari tersingkirkannya peran perempuan dalam proses rehabilitasi pasca konflik.

Forum-forum komunitas yang memutuskan kebijakan perdamaian hanya diisi oleh kaum lelaki. Oleh karena itu, Lian Gogali mendirikan Mosintuwu Institute. Selama belajar di sana, Asni terkesan dengan salah satu materi, yakni tentang toleransi dan perdamaian.

Tak hanya materi, tetapi juga praktik dengan mendatangi rumah ibadah berbagai agama untuk melihat langsung praktik mereka beribadah.

“Selama ini kami hanya berasumsi, agama ini seperti ini dan agama itu seperti itu. Tapi ketika kami kunjungi, kami bebas bertanya apa saja pada tokoh agama,” kata Asni.

Asni mengakui cukup sulit membuat perempuan-perempuan di sana berpikiran terbuka untuk keluar dari pemikiran yang memicu konflik berkelanjutan. Bahkan, yang sudah mengikuti sekolah perempuan saja masih banyak yang berguguran.

Asni lantas mengisahkan sedikit pengalamannya soal konflik di Poso yang dia alami sendiri. Banyak anggapan bahwa pemicu konflik di Poso lantaran suku atau agama tertentu.

“Tapi saya lihat teman saya Kristen lari, Islam lari. Musuh kita sebenarnya siapa? Saya juga ikut mengungsi ke kota, baru ke Palu,” kata Asni.

Dari informasi yang Asni kumpulkan, ternyata bukan masalah agam pemicunya. Hal tersebut lebih berdasar pada konflik politik di mana masyarakat Poso dijadikan korban oleh kekuasaan politik.

“Karena saya melihat, dikatakan muslim dan kristen itu konflik, tapi mereka baik-baik saja,” kata Asni.

Saat ini, Asni menjadi salah satu pengurus di Mosintuwu Institute. Ia berharap dengan penghargaan dari Maarif Institute ini, maka kekuatan perempuan di Poso dalam merehabilitasi keadaan pasca konflik mendapat tempat di sana.

2 Activists and NGOs to achieve 1 Maarif Award

Pengarang: http://www.newshub.asia/

Since 2007 Maarif Institute awarded a figure that is considered to have leadership locally based.

This time Maarif Institute presented awards to those who continually raised the model of exemplary and creative leadership by a driver of change in the lower classes and the community.

the process of selecting a figure deserving Maarif Award conducted over four months. Since January 2016. Those who received the Maarif Award judged on two criteria, namely the perspectives based on gender and peace.

“Maarif Institute this time to give awards to people who are considered exemplary in its environment and inspire social change, it deserves the two activists and one non-governmental organization (NGO), “said one of the Members of the jury, Endy Bayuni in lobby Grand Studio METRO TV, Pilar Mas Jalan Raya Kav. AD Kedoya Kebun Jeruk, Jakarta, Sunday (12/6).

Those who received the award Rudi Fofid namely, a journalist and activist who campaigned for peace focused on the violent conflict in Ambon.

” he (Rudi) to conduct a campaign for peace by writing literature, and through playing music with teens Ambon and point them to campaigning for peace, “said Endy.

in addition, continued Endy, there Budiman Maliki, activists fight for the basic rights of citizens Poso services. He was involved in the handling of refugees the conflict in Poso.

“He was willing to finance the operations of the office of personal money to service the local community, while for family needs him to trade popsicles that are deposited in the shop,” said Endy.

Endy added, Budiman worthy of this award because it is consistent in its idealism, though his friends have been stout switched professions to become politicians, civil servants, and some even become contractors.

Recently, the Maarif Institute awarded a institutions MOSINTUWU Institute deemed capable of transforming power of women into motion a reform in the former conflict namely in Poso.

“It proved to institutions Monsintuwu, that women in Poso can bridge the conflict be peaceful and eliminate resentments and mutual appreciate, so they can build Poso back to together, “cap Endy.

Tiga Aktivis Dianugerahi Ma`arif Award 2016

Pengarang: http://www.antarajateng.com/

Jakarta, Antara Jateng – Maarif Award 2016 dianugerahkan kepada Budiman Maliki, Rudi Fofid dan Mosintuwu Institute yang dinilai menginspirasi dalam merawat kebhinekaan, merekatkan integrasi sosial dan menggelorakan perdamaian di Poso dan Ambon.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ulhaq saat konferensi pers di Jakarta, Minggu, mengatakan para penerima Maarif Award 2016 merupakan para pejuang dalam jalan sunyi yang jauh dari hingar bingar publikasi.

Menurut dia, ketiga penerima tersebut sangat tepat dengan konteks yang terjadi saat ini, rekonsiliasi dengan masa lalu untuk menjadi pijakan yang lebih baik di masa depan. Hal ini sesuai tema yang diambil dalam Maarif Award 2016, memulihkan luka dan merawat solidaritas sosial bangsa.

Ia menambahkan, Maarif Award yang digelar sejak 2007 tersebut merupakan upaya menemukan orang-orang biasa dengan karya sosial dan kemanusiaan yang luar biasa.

Anggota Dewan Juri Endy Bayuni mengatakan, dalam Maarif Award kali ini, ketiganya berhasil mentransformasikan semangat kebhinekaan dan keIndonesiaan sebagai perekat integrasi sosial.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut ketiga penerima Maarif Award juga hadir.

Rudi Fofid merupakan penyintas dari konflik kekerasan di Ambon yang telah merenggut ayah dan kakak perempuannya. Aktivis perdamaian menjadi panggilan jiwanya. Ia menggelorakan perdamaian dan menerobos sekat-sekat primordial keagamaan. Menyuarakan jurnalisme damai dan kini banyak beraktivitas dalam seni yang menggelorakan perdamaian.

“Di saat konflik banyak media justru turut berperan sebagai provokator, ini sebenarnya yang perlu untuk dijauhkan,” kata aktivis wartawan yang aktif mengkonter berbagai pemberitaan yang mengundang provokasi saat konflik Ambon tersebut.

Budiman Maliki, pejuang hak dasar layanan masyarakat Poso. Seorang aktivis yang pernah terlibat dalam rangka penanganan pengungsi konflik Poso. Aktivitasnya melampaui batas-batas peimordial agama dan etnis. Kini berkutat pada pemberdayaan masyarakat.

Mosinwutu Intitute, sebuah lembaga yang mentransformasikan kekuatan perempuan menjadi gerakan Pembaruan di Poso pascakonflik.

“Mosintuwu adalah bukti bahwa perempuan-perempuan penyintas konflik Poso mampu menjembatani konflik, mengurai dendam dan memahami perbedaan untuk kemudian bersama membangun Tanah Poso melalui desa,” kata Angota Dewan Juri Endy Bayuni.

Tiga Tokoh Penggerak Perdamaian di Daerah Konflik Terima “Maarif Award”

Pengarang: http://nasional.kompas.com/

JAKARTA, KOMPAS.com – Maarif Institute menganugerahkan penghargaan kepada tiga pejuang kemanusiaan di wilayah konflik.

Mereka adalah Budiman Maliki yang jadi saksi mata konflik di Poso, Joseph Matheus Rudolf Fofid di daerah konflik Ambon, dan Institute Mosintuwu yang diwakili oleh Asni yang terlibat dalam konflik Poso.

“Mereka bergiat dalam perdamaian konflik di Ambon dan Poso dalam proses rehabilitasi masa konflik. Mereka menjembatani konflik agama dan membuktikan perbedaan bukan masalah dan bisa menjadi bagian dari bangsa yang beradab,” ujar Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (12/6/2016).

Fajar menganggap ketiganya mengangkat nilai-nilai pluralisme dan berkaitan dengan gender yang kerap memicu konflik di daerah. Apa yang mereka lakukan, kata dia, telah membuat suatu gebrakan sehingga terbebas dari konflik tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Budiman merasa awalnya khawatir apa yang dia lakukan tak diterima di masyarakat.

(baca: JK Bacakan Lagi Puisinya “Ambonku Ambon Kita Semua”)

Ia membantu para korban konflik dengan mendirikan posko untuk menampung para korban. Bahkan, ia merelakan sebagian pendapatannya untuk membiayai rehabilitasi korban.

“Saya berjualan es lilin untuk menutupi biaya sehari-harinya,” kata Budiman.

Sementara Rudolf yang pernah menjadi wartawan konflik di sana mengisahkan banyaknya pemberitaan di media luar Ambon yang tidak sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Pemberitaan semacam itu justru memicu konflik yang lebih besar di Ambon.

“Serbuan media di Jakarta, ditulis oleh orang yang tidak ada di lapangan, mereka mengambil sumber sekunder yang tidak ahli sehingga ada kekacauan informasi, jadi provokator,” kata Rudolf.

Cerita serupa juga dilontarkan Asni Semasa menyaksikan konflik di Poso. Asni melalui Mosintuwu Institute fokus menggerakkan perempuan untuk menjembatani konflik yang umumnya soal gender dan agama.

Asni tidak ingin tinggal diam lantaran konflik terus memanjang, bahkan keluarganya turut terkena dampak.

“Saya dari keluarga Muslim dan ada Kristen juga. Damai-damai saja. Tapi tidak seperti dulu lagi, sejak berkonflik,” kata Asni.

“Maka kami jalankan sekolah perempuan untuk merekatkan Islam dan Kristen di Poso yang sempat bercerai,” lanjut dia.

Fazlur Rahman dalam Simposium (III)

Pengarang: http://www.republika.co.id

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam makalah Gazo ditegaskan bahwa upaya perbaikan paradigma moral merupakan pekerjaan sulit karena alasan sederhana: Umat manusia secara alamiah bersikap konservatif dan tidak ingin perubahan apa pun dalam hidupnya kecuali jika perubahan itu menunjukkan perbaikan mendasar bagi situasi hidupnya.

Dikaitkan dengan diskusi ini, menurut Gazo, “Dia (Rahman) melihat Alquran sebagai paradigma moral praktis, semacam kompas bagi komunitas Muslim. Penggunaan paradigma Qurani atas masyarakat punya tujuan untuk memastikan ketertiban dan menegakkan sebuah Kosmos (untuk menggunakan ungkapan Yunani Plato) yang terstruktur baik.”

Dalam pengertian ini, menurut Gazo, Rahman setuju dengan Plato dan tradisinya (terutama Neo-Platonisme), tetapi menambahkan sebuah dimensi keagamaan bagi upaya ini, yaitu sebuah Kosmos yang tertata secara berimbang baik, sebagaimana digunakan oleh paradigma Alquran dalam bahasa Rahman: … Alquran, tujuan utamanya diarahkan kepada bimbingan terhadap masalah-masalah manusia.

Dalam bacaan Gazo atas pemikiran Fazlur Rahman, tanpa etika dan moralitas umat manusia berubah menjadi binatang, kosong dari intelek kemanusiaan yang membuat kehidupan moral itu menjadi mungkin. Mereka yang terlahir sebagai jenis manusia harus menjadi makhluk moral yang sempurna agar mampu memahami dan menggunakan, dalam istilah Rahman, paradigma Alquran yang mengubah umat manusia menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab, warga sebuah komunitas dan negara.

Lalu, Gazo menyimpulkan, “Tidak diragukan lagi, perdebatan yang kritis sedang menanti komunitas global dalam waktu dekat dan akan menjadi sangat penting tentang macam apa dan tipe bagaimana masyarakat global yang ingin kita jalani.”

Dengan kata lain, pemikiran Fazlur Rahman tentang Alquran masih cukup relevan untuk disampaikan sebagai penawar bagi kehidupan moral manusia di abad ini.

Kini, giliran catatan atas makalah Imtiyaz Yusuf tentang perbandingan Ismail al-Faruqi dan Fazlur Rahman. Prof Imtiyaz Yusuf dari Universitas Mahidol, Thailand, adalah warga negara Inggris kelahiran Tanzania, berdarah India.

Ia memiliki istri mantan penganut Buddha dan telah menetap di negeri Gajah Putih itu selama hampir seperempat abad. Di universitas ini, dia menjabat sebagai dosen dan direktur pusat bagi Saling Pengertian Buda-Muslim pada Kolej Studi Agama pada Universitas Mahidol.

Sahabat kita ini, selain seorang penulis untuk berbagai jurnal internasional, juga sedang bekerja keras membangun saling pengertian antara umat Buddha dan Islam di Thailand.

Dia mengajukan pertanyaan yang menukik kepada saya: Sudah sekian ratus tahun umat Buddha dan umat Islam hidup berdampingan di Thailand, mengapa kedua komunitas itu tidak saling mengenal tentang agama masing-masing?

Rupanya, lembaga yang dipimpinnya sedang berupaya untuk menjembatani kedua komunitas itu agar harapan tersebut menjadi kenyataan.

Imtiyaz Yusuf mengawali makalahnya sebagai berikut: Profesor Ismail al-Faruqi (1921-1986) dan Profesor Fazlur Rahman (1919-1988) di samping Profesor Seyyed Hossein Nasr (1933) dari Universitas George Washington, dalam perspektifnya masing-masing tentang Islam dan kajian Islam adalah sarjana kelas satu pertama dalam ilmu keislaman di Barat.

Ketiganya termasuk dalam era yang berdekatan dengan pascakolonial pada saat dunia Muslim sedang menghadapi tantangan-tantangan dari kelampauan dan tantangan-rantangan era baru pascakolonial. Masing-masing telah memberikan sumbangan keahlian mereka terhadap kajian keislaman.

Dalam makalah ini, yang diperbandingkan adalah antara Ismail al-Faruqi, pembimbingnya saat belajar di Universitas Temple, Amerika Serikat, dan Fazlur Rahman. Hoseein Nasr hanya disinggung sekilas. Dikatakan bahwa Ismail al-Faruqi dan Fazlur Rahman pernah berkerja sama untuk membangun Institut Riset Islam di Karachi abad yang lalu.

Keduanya punya pandangan yang relatif sama tentang cara bagaimana berurusan dengan tantangan abad modern yang sedang dihadapi dunia Islam. Surat menyurat antara keduanya sering terjadi, tetapi kemudian mengapa pada ujungnya mereka kecewa dengan proyek riset itu?

Indeks Kota Islami Tuai Polemik, Ini Tanggapan Maarif Institute

Pengarang: http://www.republika.co.id/

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hasil penelitian Indeks Kota Islami (IKI) yang dirilis pada tanggal 17 Mei lalu telah memunculkan polemik. Pro dan kontra terus bermunculan di pelbagai media cetak dan online, mulai dari dukungan, kritik, tuduhan hingga suara-suara sumbang.

“Atas nama Maarif Institute, kami sangat menghargai bahkan berterimakasih atas respon publik itu. Resiko jika ada kritikan bahkan gugatan sejauh disampaikan secara proporsional,” ungkap Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq melalui keterangan resminya kepada Republika, Senin (30/5). Namun, menurut Fajar, banyak pihak yang salah memahami Indeks Kota Islami sehingga arah kritiknya tidak tepat.

Sementara itu, Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais, menjelaskan ada tiga isu utama yang di ingin disampaikan Maarif Institute kepada publik. Pertama, Indeks Kota Islami adalah Indeks tentang kota, dan bukan survey kepada masyarakat.

Pada umumnya kritik atas penelitian tersebut karena mengganggap penelitian ini sekaligus meneliti masyarakat yang tinggal di kota tersebut. Padahal, menurut Ahmad, indeks ini meneliti kota sebagai unit analisisnya, bukan masyarakat. Oleh karena itu, indeks ini tidak meneliti perilaku ritual masyarakat, aspek spiritual serta ideologis mereka. Penelitian ini hanya fokus di tingkat kota, pada ranah kebijakan dan implementasinya.

Kedua, persoalan definisi Islam dan Islami. Ahmad mengatakan sejatinya penelitian ini ingin melihat bagaimana nilai-nilai Islam diaplikasikan dalam penyusunun berbagai aturan di kehidupan kota merujuk kepada Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

“Beberapa diskusi kami dengan para ahli tafsir terkait definisi kota Islami merujuk pada variabel Aman, Sejahtera dan Bahagia. Dari ketiga variabel ini, diturunkan ke dimensi dan indikator-indikator yang telah dipilah dengan metode maqashid shariah tadi. Metode ini telah berkembang secara keilmuan”, ulas Rais.

Ketiga, persoalan pilihan variabel atau indikator. Dalam penentuan variabel dan indikator, menurut Ahmad, umumnya para pengkritik fokus pada definisi kerja Kota Islami versi Maarif Institute yang dinilai tidak komprehensif. Pengkritik cenderung mempertanyakan tidak adanya variabel seperti unsur ibadah, kepemimpinan,  kejujuran pemimpin, dan lingkungan hidup. Padahal, menurut Ahmad, bila ditilik lebih dalam, indikator-indikator tersebut jelas ada di dalam penelitian yang dilakukan.

Ahmad menjelaskan bahwa pemilihan indikator ini menggunakan metode maqasid shariah. Dalam memahami maqashid shariah ini pun menggunakan perspektif maqashid kontemporer yang bernuansa pengembangan (tanmiyah/ development) dan pemuliaan Human Rights (Hak-hak Asasi) daripada maqashid yang bernuansa penjagaan dan pelestarian.

Maarif Institute Klarifikasi Soal Penelitian Indeks Kota Islami

Pengarang: http://news.detik.com/

Jakarta – Kota Yogyakarta menduduki peringkat tertinggi dalam Indeks Kota Islami (IKI) yang dilakukan Maarif Institute pada 17 Mei lalu. Akan tetapi hasil IKI tersebut memunculkan berbagai polemik.

Pro dan kontra serta dukungan juga kritikan terus bermunculan dari publik. Meski demikian, Maarif Institute menanggapi hal itu dengan positif.

“Atas nama Maarif Institute, kami sangat menghargai bahkan berterimakasih atas respons publik itu. Risiko jika ada kritikan bahkan gugatan sejauh disampaikan secara proporsional. Namun banyak pihak yang salah memahami Indeks Kota Islami sehingga arah kritikannya tidak tepat,” terang Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq dalam keterangan pers yang diterima detikcom, Senin (30/5/2016).

Fajar menegaskan, ada 3 hal yang perlu diluruskan pihaknya. Pertama, Indeks Kota Islami merupakan indeks tentang kota bukan survei kepada masyarakat. Menurut Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais, banyak orang mengkritik hasil IKI karena menganggap itu meneliti masyarakat yang tinggal di kota tersebut.

“Indeks ini tidak meneliti kota sebagai unit analisisnya, bukan masyarakat. Oleh karena itu, indeks ini tidak meneliti perilaku ritual masyarakat, aspek spiritual serta ideologi mereka. Penelitian ini hanya fokus di tingkat kota, pada ranah kebijakan dan implementasinya,” kata Rais.

Kedua, pihaknya juga ingin meluruskan persoalan definisi Islam dan Islami. Penelitian ini, lanjut Ahmad, ingin melihat bagaimana nilai-nilai Islam diaplikasikan dalam penyusunan berbagai aturan di kehidupan kota. Nilai yang dimaksud adalah sebagai agama yang penuh rahmat, maka Islam harus memberi kebaikan dan perubahan nyata untuk memuliakan manusia.

“Beberapa diskusi kami dengan para ahli tafsir terkait definisi kota Islami merujuk pada variabel Aman, Sejahtera dan Bahagia. Dari ketiga variabel ini, diturunkan ke dimensi dan indikator-indikator yang telah dipilah dengan metode maqashid shariah tadi. Metode ini telah berkembang secara keilmuan,” jelasnya.

Poin terakhir, persoalan terkait pilihan variabel dan indikator. Rais menerangkan, dalam penentuan variabel dan indikator ini umumnya para pengkritik fokus pada definisi kerja Kota Islami versi Maarif Institute. Beberapa pendapat menganggap, variabelnya tidak komprehensif karena tidak memasukkan unsur ibadah, kepemimpinan, kejujuran pemimpin, lingkungan hidup dan sebagainya.

Rais menyebut bila ditilik lebih dalam, indikator-indikator tersebut jelas ada di dalam penelitian ini. Pemilihan indikator ini menggunakan metode maqasid shariah.

“Dalam memahami maqashid shariah ini pun menggunakan perpektif maqashid kontemporer yang bernuansa pengembangan (tanmiyah/development) dan pemuliaan Human Rights (hak-hak asasi) daripada maqashid yang bernuansa protection (penjagaan) dan preservation (pelestarian). Penggunaan metode kontemporer ini akan mendorong isu pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu tema bagi kemaslahatan publik masa kini,” kata Rais yang juga merupakan Wakil Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri PP Muhammadiyah.

“Misalkan, Hifdz Din, tidak sekadar diartikan sebagai menjaga agama dalam arti sempit. Namun diperluas maknanya dalam arti kebebasan menjalankan agama bagi siapa pun tanpa harus mengalami diskriminasi dan hate speech. Kemudian kami juga mengkaji ketersediaan tempat ibadah di tiap-tiap kota bagi masing-masing agama sebagai slaah satu bentuk kebebasan beragama, demikian pula Hifdz Aql tidak sekadar melarang minol atau miras. Namun dikembangkan dalam arti bagaimana komitmen membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi generasi muda,” sambungnya.

Diberitakan sebelum ini, Maarif Institute melakukan penelitian untuk menilai Indeks Kota Islami (IKI) pada 29 kota. Penelitian ini dilakukan selama 1 tahun.

Ke 29 kota yang dijadikan sampel dinilai melalui variabel aman suatu kota, hal yang diperhatikan di antaranya kebebasan beragama dan keyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan dan pemenuhan hak politik perempuan, hak anak dan difabel.

Selanjutnya variabel sejahtera memperhatikan tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kesehatan. Dan variabel bahagia dinilai melalui berbagi dan kesetiakawanan dan harmoni dengan alam.

Dari penelitian tersebut menghasilkan nilai Indeks Kota Islam yang variatif. Berikut nilai IKI 29 kota dari peringkat tertinggi:

1. Yogyakarta – 80.64
2. Bandung – 80.64
3. Denpasar – 80.64
4. Bengkulu – 78.40
5. Pontianak – 78.14
6. Serang – 77.82
7. Metro – 77.50
8. Semarang – 75.58
9. Palembang – 74.36
10. Malang – 73.72
11. Ambon – 73.53
12. Surakarta – 72.66
13. Salatiga – 71.22
14. Mataram – 70.71
15. Manado – 70.10
16. Batam – 69.94
17. Surabaya – 69.74
18. Tasikmalaya – 69.65
19. Banda Aceh – 69.62
20. Jayapura – 68.53
21. Banjarmasin – 66.79
22. Palu – 66.15
23. Pangkalpinang – 65.71
24. Jambi – 63.91
25. Tangerang – 61.99
26. Padang Panjang – 61.67
27. Kupang – 59. 39
28. Padang – 58.37
29. Makassar 51.28
(aws/nrl)

Results of Islamic Cities Index Number First Place Yogyakarta in

Pengarang: https://anshora.com

Jakarta – Maarif Institute conducted a study to assess the Islamic State Index (IKI ). This research was conducted in 29 cities in Indonesia and produced IKI different in each city.

“We do the research by taking a sample of 29 cities in Indonesia, this research takes a long time, one year,” said Director of Research Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais in his presentation at the Hotel Alia Cikini, Central Jakarta, Tuesday (17 / 5/2016).

All 29 cities sampled secure variables assessed through a city, things to note are the freedom of religion and belief, legal protection, kepemimpiman and fulfillment of women’s political rights, the rights of children and the handicapped.

Furthermore prosperous variables into account the level of education, employment, income, health. And variable happy assessed through sharing and solidarity and harmony with nature.

From the study, produces a value index varied Islamic State. The following values ​​IKI all 29 cities of the highest rank. Here’s the list:

1. Yogyakarta – 80.64
2. Bandung – 80.64
3. Denpasar – 80.64
4. Bengkulu – 78.40
5. Pontianak – 78.14
6. Attack – 77.82
7. Metro – 77.50
8. Semarang – 75.58
9. Palembang – 74.36
10. Malang – 73.72
11. Ambon – 73.53
12. Surakarta – 72.66
13. Salatiga – 71.22
14. Mataram – 70.71
15. Manado – 70.10
16. Batam – 69.94
17. Surabaya – 69.74
18. Tasikmalaya – 69.65
19. Banda Aceh – 69.62
20. Jayapura – 68.53
21. Banjarmasin – 66.79
22. Palu – 66.15
23. Pangkalpinang – 65.71
24. Jambi – 63.91
25. Tangerang – 61.99
26. Padang – 61.67
27. Kupang – 59. 39
28. Padang – 58.37
29. Makassar 51.28

This study, said Rais, departing from the understanding of Islam as a religion of grace. He said grace religion in question is Islam as a faith should bring about a change in the form of kindness for others.

“Based on that we are in an internal meeting and invited expert, doing studies. We define that the Islamic city is a city that is safe, prosperous, and happy,” said Rais.

The study, conducted from January 8 to March 31 2016 put on objective and subjective methods. To secure a variable rate the cities, points to consider including freedom of religion and belief, legal protection, kepemimpiman and fulfillment of women’s political rights, the rights of children and the handicapped. While prosperous variables into account the level of education, employment, income, health. There was also based on the happiness that is assessed through sharing and solidarity and harmony with nature.

“Therefore the city level to the Islamization of the most high-No Yogyakarta, Bandung and Denpasar with value IKI 80.64, ranking next Bengkulu, Pontianak and Serang value IKI 78.14, and lowest for Kupang, Padang and Makassar with IKI 51.28, “explained Rais.

“But this does not mean the city low-to-Islamannya, it’s progressive development. This research is consistent with the data in 2014,” he concluded.

(RVK / RVK)

Padang Kurang Islami, Tentang Indeks Kota Islami

Pengarang: Fadhli Lukman, www.qureta.com

Antara Idealitas dan Realitas

Ma’arif Institut merilis Indeks Kota Islami (IKI), orang Minang berang. Beragam tanggapan, kecurigaan, bahkan tuduhan tumpah ruah di media sosial. Pasalnya, kota Padang ditempatkan di posisi tiga terbawah. Banyak yang merasa tersinggung, karena Padang dan Sumatera Barat adalah wilayah mayoritas berpenduduk Muslim.

Pun Minangkabau berfalsafah Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah. Indak baradaik dari dulu memang sebuah celaan yang keras bagi orang Minang. Maka, ketika menempatkan 2 kota kebanggaan di Sumbar di urutan bawah pada Indeks Kota Islami, maka Ma’arif Institut secara tidak langsung menyebut orang Padang tidak beragama dan tidak beradat. Inilah yang membuat orang Minang marah.

Persoalan sebenarnya adalah problem kesenjangan idealitas dan realitas. Penelitian tersebut tidak memperhatikan apakah orang Minang berfalsafah hidup Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah; bahwa orang Minang menghargai Islam, bercita-cita hidup secara Islam, baik pada level individu maupun sosial; dan mendukung setiap upaya-upaya untuk menghapuskan maksiat. Bukan itu yang mereka bahas.

Yang mereka teliti adalah tentang bagaimana cita-cita tersebut teraplikasi di lapangan. Bukanlah norma apa yang dianut oleh orang-orang tertentu, baik Hindu di Bali maupun Islam dan adat di Padang yang mereka perhatikan, melainkan bagaimana realitas kehidupan orang-orang di kota-kota di Indonesia dengan menggunakan tiga kriteria ‘Islami’, yaitu kesejahteraan, keamanan, dan kebahagiaan.

Terkait perda syari’ah, hasil penelitian ini mengungkapkan temuan unik. Daerah-daerah yang memiliki perda syari’ah tidak secara otomatis memenuhi ketiga kriteria ‘Islami’ yang digunakan. Ini adalah hal yang logis belaka, bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam perumusan dan implementasi sebuah hukum. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa implementasi perda syariah sejauh ini belum menghasilkan rasa aman, bahagia, dan sejahtera penduduknya.

Kita tidak perlu terburu-buru menuduh bahwa penelitian ini dilakukan untuk melemahkan perda syari’ah. Justru, hasil penelitian tersebut harus dijadikan media introspeksi bahwa implementasi perda syari’ah sejauh ini masih belum memenuhi ekspektasi.

Informasi Minim

Banyak orang yang menyoroti kriteria yang digunakan oleh Ma’arif Institut dalam penelitian ini. Indikator aman, sejahtera, dan bahagia dinilai bukanlah kriteria ‘Islami’, melainkan kriteria umum. Sejahtera, aman, dan bahagia hanyalah cita-cita universal naluriah manusia, sementara cita-cita hidup Islam lebih khusus dari itu.

Kriteria Islami adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah yaitu bersyahadat, shalat, zakat, puasa, dan berhaji, atau yang disampaikan banyak ayat Al-Quran yaitu beriman kepada Allah, Rasul, dan hari akhir, serta meninggalkan perkara-perkara yang dilarang seperti zina, khamar, dan sebagainya.

Untuk mengomentari istilah ‘Islami’ secara labih layak tentu saja harus memperhatikan detil dari research plan yang digunakan. Sayangnya, informasi tentang itu terbatas, hanya dari media yang menyampaikannya sepotong-sepotong.

Jika penyebutan ‘Islami’ di sana dinilai tidak tepat dengan alasan tersebut, saya tidak sepenuhnya sependapat. Setipis info yang beredar menyebut bahwa koordinator peneliti IKI, Ahmad Imam Mujadid Rais, indikator tersebut diramu berdasarkan maqashid al-syari’ah dan Piagam Madinah. Tapi kembali, diperlukan info yang lebih detil tentang ini.

Selain itu, terminologi ‘kota’ juga penting diperhatikan. Menurut Rais, ‘kota Islami’ merujuk kepada keislaman dalam level perkotaan, bukan dalam makna perilaku masyarakat seperti dalam antropologi. Akan tetapi, kita melihat informasi yang kontradiktif di sejumlah media, bahwa variabel turunan dari ketiga kategori inti tersebut adalah perilaku shalat, sedekah, dan semacamnya. Ini antropologis.

Menunggu Respon Pemerintah dan Kampus

Kita telah melihat ada celah-celah yang bisa diperdebatkan dalam IKI, baik terkait kriteria maupun implementasinya. Sungguhpun demikian, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa tingkat keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan penduduk di Padang dan Padang Panjang termasuk rendah. Artinya, pemerintah perlu merespon hasil penelitian ini.

Respon yang dimaksud di sini bukanlah respon verbal-reaktif. Penelitian tersebut menyampaikan sebuah penilaian. Maka, buruknya penilaian diniatkan untuk diperbaiki. Rendahnya tingkat keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan penduduk di Padang dan Padang Panjang harus segera diperbaiki. Demikianlah cara pemerintah merespon IKI ini. Kita bersyukur Wako Padang menanggapinya sedemikian.

Kita tentu telah mendengar beberapa perkembangan tentang kota Padang seperti pembersihan tenda ceper dan tata pantai. Tapi masih ada hal-hal yang harus diperhatikan. Misalnya seberapa ramahkah lalu lintas buat pejalan kaki atau buat pengendara motor?; seberapa amankah jalanan dari pengemudi angkot remaja yang ugal-ugalan?; dan sebagainya.

Di atas semua itu, yang paling berhak untuk merespon penelitian ini adalah kampus-kampus di Sumatera Barat. Jika hasil penelitian Ma’arif Institut ini hanya dijawab dengan keberangan, maka tiada guna. Penelitian dijawab dengan penelitian, bukan umpatan.

Respon-respon yang diperlihatkan masyarakat menggambarkan kegelisahan mereka. Jika tidak ingin kegelisahan tersebut bertahan, Lemlit kampus perlu menanggapi isu ini dengan lebih serius. Mereka perlu mengagendakan penelitian serupa, memperbaiki indikator ‘Islami’ dan ‘Kota’ yang ambigu, dan dieksekusi di lapangan. Selanjutnya, kita lihat hasilnya.

Barang Lama

Terlepas dari kritik, celaan, dan kecurigaan terhadap Ma’arif Institut, riset ini bukanlah barang baru. Direktur Eksekutif Fajar Riza Ul Haq menyebut bahwa riset ini dilatarbelakangi dari riset Indeks Negara Islami yang menempatkan Indonesia di urutan 140 dari 170.

Tapi, ‘bukan barang baru’ yang saya maksud bukan dalam konteks ini, melainkan dalam ungkapan Muhammad Abduh yang terkenal, “al-Islamu mahjubun bi al-muslimin” (Islam terhalang oleh orang Islam itu sendiri). Konon ia juga menyatakan bahwa di Barat ia melihat Islam tapi bukan Muslimin, sebaliknya, di Mesir ia banyak melihat Muslimin, tapi tidak Islam.

Hasil penelitian Ma’arif Institut hanyalah pengulangan dari refleksi Abduh tersebut. Secara terang, penelitian ini mengawinkan ungkapan Abduh dengan realita di Indonesia. Mereka menyebut ‘kami temukan Islam di Bali, tapi bukan kaum Muslimin, dan kami lihat kaum Muslim di Padang, tapi tidak Islam itu sendiri.’

Jika selama kita begitu saja mengamini refleksi Abduh, dan berang dengan riset Ma’arif Institut, rupanya kita telat sadar bahwa kegelisahan Abduh ada di dalam rumah kita.

Fadhli Lukman

http://www.qureta.com/post/padang-kurang-islami?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork