Many sharia-based cities not truly Islamic: Maarif Institute

Pengarang: http://www.thejakartapost.com/

Cities that embody sharia-based local regulations in Indonesia have failed to implement the best practices of Islamic values in their governance, says the Islamic City Index report published by the Maarif Institute.

The institute launched the index by assessing local regulations and documents from government institutions, as well as interviewing selected local figures, to see whether they fulfilled the Islamic city indicators, namely security, welfare and happiness, in their public services and governance.

The indicators referred to Islamic principles written in the Koran and hadiths, starting from the view of Islam asRahmatan lil alamin ( blessing for the universe ), which upholds governance in line with citizens development, Maarif Institute research director Ahmad Imam Mujadid Raid said.

The study sought to assess the numerous local governments that have begun to develop local regulations by referring to sharia, while at the same time, the mayors had the responsibility to focus on developing the human resources, education and well-being of the people, Ahmad said.

“We want to see whether a city that implements sharia-based regulations becomes a true Islamic city or not,” Ahmad told the journalists on Tuesday.

In overall score, Yogyakarta, Bandung and Denpasar ranked as the best cities with scores of 80.64 out of 100, with local regulations and public services that fulfilled the criteria of Islamic cities, while Kupang, Padang and Makassar occupied the three lowest positions scoring 59.39, 58.37 and 51.28 respectively.

Despite numerous cases of intolerance in Yogyakarta over the past few years, Ahmad said, the reason why the city scored the highest was because in other respects such as education, income, and health, which comprised the welfare indicator, the city performed well.

In Makassar, happiness was the indicator that contributed to its lowest position in the index, with a score of only 37.5, since the city did not have specified regulations regarding environmental management or good spatial planning, which reduced the harmony between the citizens and nature, Ahmad added.

Meanwhile, particularly in the security indicator, which comprised the freedom to exercise beliefs and religion, law enforcement and the fulfillment of political rights of women, children and disabled people, Serang ranked the highest with a score of 82.5.

Scholar Yudi Latif said the fact that cities with sharia-based local regulations did not meet the criteria to be dubbed Islamic cities showed that the local governments might just be using religion as a shield to conceal their inability to develop the city and benefit residents.

“It seems like an over-compensation when the city fails to deliver security, welfare and happiness for its people. [The local government] immediately covers it up with formal claims, saying it implements Islamic values in governance,” Yudi said.

However, Yudi said, given that the study had mainly relied on local government data, it could be improved by collecting more information on public perceptions of public services since the indicators, particularly happiness, were subjective.

Welfare and security should not be seen in just generic terms because the most important thing was that development should be visible and benefit local residents, Yudi said. ( bbn )

Indeks Kota Islami, Denpasar Jadi Kota Paling Bahagia

Pengarang: suarasurabaya.net

suarasurabaya.net| Jimly Asshidiqie pakar hukum tata negara mengatakan, Indeks Kota Islami (IKI) yang baru saja dirilis Maarif Institute bisa menjadi bahan koreksi bagi para pemimpin dan pendakwah Islam di daerah-daerah yang mengklaim lebih Islami agar bekerja lebih keras lagi.

“Indeks itu bisa menjadi bahan koreksi bagi pemimpin Islam, termasuk juga para pendakwah Islam. Mereka berteriak-teriak soal Islam, tapi belum mampu mendorong penerapan praktik Islami,” kata Jimly disela-sela acara Rapat Pleno VIII Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (18/5/2016).

IKI sendiri menjadi tolok ukur keberhasilan kota dalam membangun keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan suatu kota, yang tidak lain sesuai nilai-nilai Islami. Tiga hal itu merupakan tolok ukur kota-kota yang menerapkan kebijakan Islami.

Meski begitu, kata Jimly, penelitian dapat menggambarkan suatu kota yang menerapkan Perda Syariah justru belum dapat memberi rasa aman, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi warganya.

Menurut Jimly, IKI memang sudah dapat menggambarkan nilai Islami dari suatu kota. Kendati demikian, IKI memang tidak mengukur nilai kesalehan umat Islam seperti banyaknya orang shalat, berakhlak atau terkait hal-hal formal dalam beragama lainnya.

“Indeks itu dilihat dari nilai perilaku seperti mereka misalnya banyaknya orang beribadah, banyaknya masjid, sementara di lain hal, tingkat kriminalitas di suatu daerah tersebut tinggi,” katanya seperti dilansir Antara.

Secara umum, Jimly mengajak umat Islam legowo terhadap hasil riset IKI itu sebagai titik tolak perbaikan diri.

“Indeks Kota Islami ini perlu kita gunakan untuk evaluasi diri, pemetaan dakwah kita perlu dievaluasi per daerah agar efektif sehingga bisa mendorong praktik Islam yang substantif,” kata dia.

Sementara, Fajar Riza Ul Haq Direktur Eksekutif Maarif Institute mengatakan, dari hasil riset 29 kota dari total 93 kota di Indonesia menunjukkan mayoritas peringkat 10 besar Indeks Kota Islami ini didominasi kota-kota luar Jawa.

Misalnya, Kota Banda Aceh merupakan kota yang nilai variabel kesejahteraannya tertinggi. “Kami juga menemukan kota dengan nilai variabel kebahagiaan teratas adalah Kota Denpasar,” katanya. (ant/bid/rst)

Bandung Masuk 3 Besar Kota Islami, ini Reaksi Ridwan Kamil

Pengarang: http://news.detik.com/

Bandung – Kota Bandung menempati posisi kedua dengan nilai 80.64 sebagai Kota Islami dalam hasil penelitian yang dilakukan Maarif institute. Begini respons Wali Kota Bandung Ridwan Kamil atas penilaian tersebut.

“Saya berterimakasih dengan penelitiannya. Tapi apakah itu luar biasa atau tidak, saya akan teliti. Kalau positif diteruskan, kalau negatif diperbaiki,” ujar pria yang karib disapa Emil tersebut di Jalan Merdeka, Rabu (18/5/2016).

Emil malah mengomentari peringkat ketiga yang ditempati Kota Denpasar. Menurutnya di suatu daerah yang mayoritas agama Hindu, bisa mencapai indeks kota islaminya peringkat ketiga.

“Kota yang mayoritas Hindu tapi indeks kota islaminya tinggi. Membuktikan bahwa islam adalah nilai universal tentang kebaikan yang diperlihatkan oleh kegiatan pembangunan,” ungkapnya.

Marif Instutute melakukan penelitian Indeks Kota Islami (IKI) pada 29 Kota di Indonesia. Variabelnya dinilai dari keamanan, kebebasan beragama dan keyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan dan hak anak dan difabel. Urutan pertama ditempati Yogyakarta, Bandung dan Denpasar.

Menko Polhukam: Teroris Bukan Islam, Islam Bukan Teroris

Pengarang: http://nasional.sindonews.com

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Panjaitan menyebutkan tidak ada kaitan antara terorisme dan Islam, begitu juga sebaliknya.

Menurut dia, Islam bukanlah teroris. Islam datang ke dunia dengan membawa kedamaian, penuh kasih sayang dan tidak membawa kekerasan.

Hal itu disampaikan Luhut ketika menjadi keynote speaker pada seminar Halaqah Fikih Antiterorisme di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) bekerja sama dengan Maarif Institute, Selasa (3/5/2016).

Luhut menyebut, banyaknya budaya Barat yang mengaitkan Islam dengan teroris ataupun kekerasan karena adanya beberapa faktor di antaranya  gejolak di kawasan Timur Tengah yang hingga saat ini belum usai.

“Setelah terjadi Arab Spring, semua berharap akan terjadi demokrasi di Timur Tengah. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kekacauan yang terjadi hingga kini dan tak tentu kapan selesainya,” katanya.

Apa yang terjadi di dunia Islam saat ini, khususnya kawasan Timur Tengah sama halnya dengan yang terjadi pada dunia Kristen di masa lampau berabad lamanya. Banyak terjadi kekacauan, pembakaran dan kekerasan lainnya.

“Saya belajar dari anak saya jika di-flashback ke belakang. Christianity dulu juga seperti itu. Ini seperti sebuah siklus. Yang terjadi di Christianity itu sudah berabad lalu, berbeda dengan dunia Islam saat ini di mana zamannya teknologi informasi, jadi ada kejadian apapun, secara real time, langsung bisa diketahui semua pihak,” tukasnya.

Karena pesatnya teknologi, lanjut dia, informasi tentang peristiwa  kekerasan yang terjadi di Timur Tengah dari mulai yang terjadi di Mesir, Libya, Irak, hingga Suriah dan munculnya ISIS dapat langsung tersebar ke penjuru dunia.

“Munculnya stigma saat ini seperti Islam dianggap kekerasan seperti ISIS, ini harus dijelaskan agar masyarakat di Eropa, Amerika atau dunia Barat itu paham bahwa Islam itu tidak seperti itu. Begitu juga di Indonesia banyak masyarakat yang belum paham terkait hal itu juga harus dijelaskan,” paparnya.

Luhut menambahkan, banyak faktor yang melatarbelakangi tumbuhnya ideologi yang mengerucut pada aksi terorisme. Di antaranya ketidakadilan, kemiskinan hingga kesenjangan sosial.

“Namun ada juga faktor lain. Kalau kita lihat dan dibuat profiling 90% anggota (kelompok radikal) Alqaeda berasal dari keluarga harmonis berpendidikan baik. Jadi tidak mesti mereka berasal dari keluarga miskin jadi teroris. Tidak selalu pelaku teroris dari orang berpendidikan rendah. Tapi yang menarik di Indonesia, tidak seperti ini hasilnya (survei), ini nanti perlu peran Muhammadiyah dan Maarif Institute turut serta yang lainnya (melakukan survei),” bebernya.

Dia berpendapat butuh langkah yang tepat dalam memerangi terorisme. Menurut dia, kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah. Hal tersebut berkaca dari langkah Amerika Serikat dalam mengatasi permasalahan di Irak, Afghanistan, hingga Suriah.

“Dengan kekerasan, satu generasi hilang, kemudian muncul generasi baru lagi karena sudah sering menyaksikan kekerasan. Langkah yang tepat adalah soft approach,” ujarnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan Muhammadiyah menolak aksi terorisme dalam bentuk dan alasan apapun.

“Penciptaan ancaman, ketakutan, kerusakan di muka bumi ini oleh siapapun atas nama apapun kami menolak. Kita tidak pernah berubah dan akan terus melakukan langkah-langkah kontraterorisme melalui gerakan keagamaan dan nilai-nilai ajaran Islam. Muhammadiyah dalam melakukan gerakan selalu berintegrasi dengan kehidupan berbangsa,” tuturnya.

Dia juga sependapat melawan gerakan ekstrem dengan langkah ekstrim juga tidak menyelesaikan masalah. Perlawanan gerakan ekstrem dengan langkah yang juga ekstrem akan memunculkan gerakan ekstrem baru.

“Untuk melawan terorisme perlu langkah atau konsep moderasi. Kalau kita moderat ya lakukan dengan moderat,” ungkapnya.

Direktur Program Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz menyampaikan, program Halaqah Fikih Antiterisme tersebut sengaja digelar guna melahirkan sebuah rumusan pemahaman yang utuh, kritis dalam memaknai ulang doktrin-doktrin kunci yang bersumber dari Alquran dan Hadist.

“Ada sebuah rumusan pandangan keagamaan yang kontekstual, kritis, dan operasional serta memiliki perspektif HAM untuk menyikapi persoalan kontemporer. Apalagi hal ini sudah dikampanyekan secara luas oleh kelompok ekstrimis yang tergabung dalam ISIS, Mereka begitu piawai melakukan kampanye kekerasan melalui berbagai media sosial,” tuturnya.

Luhut Buka Halaqah Fikih Antiterorisme: Islam Penuh Rahmat itu Tak seperti ISIS

Pengarang: https://news.detik.com

Semarang – Maarif Institute memulai kegiatan Halaqah Fikih Antiterorisme di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Menko Polhukam, Luhut Binsar Panjaitan dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir membuka acara di aula Unimus lantai 4.

Direktur Program Maarif Institute, Muhd. Abdullah Darraz mengatakan program tersebut dihelat untuk melahirkan satu rumusan pemahaman yang lebih utuh dan kritis dalam memaknai ulang doktrin kunci yang bersumber dari Al Quran dan Hadist.

“Ada kebutuhan rumusan pandangan keagamaan yang kontekstual, kritis, dan operasional serta memiliki perspektif HAM untuk menyikapi persoalan terorisme kontemporer. Apalagi hal ini telah meluas dikampanyekan oleh kelompok ekstremis yang tergabung dalam ISIS. Mereka dengan piawai melakukan kampanye kekerasan melalui berbagai media sosial,” kata Abdullah.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq mengatakan terorisme mengatasnamakan Islam dan menafsir kitab suci Al Quran dengan sewenang-wenang. Padahal Islam mengajarkan untuk tidak menyebar ketakutan apalagi menghilangkan nyawa manusia tanpa proses adil.

“Selama ini kelompok ekstremis dan teroris telah menyalahgunakan konsep-konsep seperti jihad, takfiri, bayat, dan khilafah, untuk tujuan kekerasan dan terror,” tegasnya.

Sementara itu dalam sambutannya, Haedar mengatakan Muhammadiyah menegaskan menolak segala bentuk terorisme. Menururt Haedar penganut paham ekstremis menyalahgunakan tafsiran jihad untuk aksinya, padahal pada zaman Nabi Muhammad SAW, peperangan pun dilakukan dengan etika.

“Perang di zaman Nabi terjadi penuh etika sifatnya mempertahankan diri, banyak tidak bolehnya daripada bolehnya, jadi tidak brutal. Imam Samudra, melakukan tindakan yang ekstrem dalam tafsiran irhab,” tandas Haedar.

“Muhammadiyah menolak segala bentuk terorisme yang menciptakan ketakutan dan kerusakan di muka bumi atas nama apapun,” tegasnya.

Haedar menganggap Halaqah Fikih Anti Terorisme merupakan konsep Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, salah satunya mampu menyelesaikan persoalan termasuk persoalan terorisme.

“Muhammadiyah mengakui negara Pancasila sebagai darul ahdi wa syahada, NKRI Pancasila sebagai dasar filosofis menjadi fondasi bangsa dan negara,” katanya.

Sedangkan Luhut, dalam penjelasannya menyebutkan terorisme membawa citra agama Islam menjadi buruk seperti halnya yang dilakukan ISIS. Hal itu tentu saja buruk dan perlu diluruskan sehingga ia kerap menyampaikan tema tentang ajaran Islam yang sebenarnya dalam berbagai acara hingga ke luar negeri.

“Harus dijelaskan ISIS itu jadi konteks teroris, itu bukan Islam, Islam bukan teroris, itu jadi bahan ceramah dimana-mana. Islam itu bawa perdamaian dan kasih sayang, bukan brutalitas,” terang Luhut.

Foto: Angling AP/detikcom

“Islam yang penuh rahmat itu tidak seperti yang dibawa ISIS,” tegasnya.

Ia menjelaskan, akar terbentuknya terorisme berasal dari berbagai faktor diantaranya ekonomi, pergaulan Agama, dan intoleransi. Meski demikian jika berkaca pada kasus terorisme di luar negeri, ada juga yang pemicunya tidak melulu soal ekonomi.

“Pergaulan pendidikan agama, kalau dibuat profiling, tahanan Al Qaeda itu 90% dari keluarga harmonis. Jadi tidak selalu dari keluarga miskin, tidak pasti yang radikal dari pendidikan rendah. Tapi di Indonesia tidak seperti ini profilnya,” pungkas Luhut.

Dalam acara tersebut, Luhut juga menjelaskan hal lainnya tentang masalah narkoba dan perekonomian di Indonesia. Narkoba menurut Luhut saat ini lebih berbahaya dari terorisme karena tingkat kematian 35 orang per hari. Selain itu faktor ekonomi juga berperan penting mencegah terorisme oleh sebab itu program pemerintah harus didukung untuk pemerataan.

“Dalam kehidupan kita ketidakadilan jadi isu, fakor ekonomi jadi isu yang perlu diiperhatikan. Program pemerintah penting, tanpa pemerarataan tidak ada gunanya,” tuturnya.

Acara Halaqah Fikih Anti Terorisme di Unimus tersebut digelar tiga hari mulai hari ini hingga Kamis (5/5) mendatang. Dalam pembukaannya, turut hadir Kepala BNPT, Komjen Tito Karnavian, Kapolda Jateng, Irjen Condro Kirono, Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Jaswadi. Dihadiri juga cendekiawan Muslim seperti Azyumardi Azra.

Maarif Institute Susun Fikih Antiterorisme

Pengarang: https://news.detik.com

Jakarta – Maarif Institute menyayangkan semakin suburnya penyimpangan pemahaman dan penyalahgunaan ajaran Islam untuk membenarkan kekerasan, ekstremisme, dan  terorisme. Atas dasar itu Maarif Institute mencoba merumuskan Fikih Antiterorisme, seperti apa gambaran ide besarnya?

Dalam menyusun Fikih Antiterorisme itu, Maarif Institute bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dan Universitas Muhammadiyah Semarang menggelar “Halaqah Fikih Antiterorisme” . Acara akan digelar di Semarang, 3-5 Mei 2016.  Pertemuan selama tiga hari ini akan dibuka secara langsung oleh Menko Polhukam Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada Selasa (3/5) pagi.

“Tujuan acara ini adalah membahas dan menyusun buku “Fikih Antiterorisme” berdasarkan pandangan para ulama guna membendung bahkan mendelegitimasi narasi-narasi ekstremis yang dianut kelompok-kelompok berideologi teror,” demikian dikemukan Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq kepada wartawan, Senin (2/5/2016).

Maarif Institute  menilai terorisme telah melakukan pembajakan atas nama agama selain mengeksploitasi ketidakadilan yang rentan memicu frustrasi dan kemarahan. Padahal tidak dibenarkan mengancam dan menyebarkan rasa ketakutan apalagi menghilangkan nyawa manusia tanpa proses hukum yang adil kecuali dalam situasi perang. Tafsir atas kitab suci Al Quran telah digunakan secara sewenang-wenang seakan kelompok teror ini bertindak atas nama Tuhan.

“Selama ini kelompok ekstremis dan teroris telah menyalahgunakan konsep-konsep seperti jihad, takfiri, bayat, dan khilafah untuk tujuan kekerasan dan teror yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran luhur Islam sebagai rahmat bagi semesta. Pesan Alquran jelas, membunuh satu nyawa tak berdosa sama harganya dengan merusak alam semesta. Aksi terorisme adalah kejahatan dan juga perbuatan dosa besar. Terorisme tidak identik dengan agama tertentu dan satu kelompok namun negara pun bisa masuk dalam kategori ini,” ungkap Fajar.

Menurut Direktur Program Maarif Institute, Muhd Abdullah Darraz, program “Halaqah Fikih Antiterorisme” dihelat guna melahirkan satu rumusan pemahaman yang lebih utuh dan kritis dalam memaknai ulang doktrin-doktrin kunci yang bersumber dari Alquran dan Hadist.

“Ada kebutuhan sebuah rumusan pandangan keagamaan yang kontekstual, kritis, dan operasional serta memiliki perspektif HAM untuk menyikapi persoalan terorisme kontemporer. Apalagi hal ini telah secara meluas dikampanyekan oleh kelompok ekstremis yang tergabung dalam ISIS. Mereka dengan piawai melakukan kampanye kekerasan melalui berbagai media sosial,” ujar Daraz.

Lebih lanjut Darraz menjelaskan bahwa kegiatan yang direncanakan berlangsung sejak Selasa pagi hingga Kamis ini akan dihadiri sejumlah ulama,  intelektual, perwakilan pemerintah, dan aktivis HAM yang selama ini memiliki perhatian pada isu terorisme. Di antara narasumber yang akan hadir dalam halaqah ini adalah M Busyro Muqoddas (Ketua PP Muhammadiyah), Azyumardi Azra (Cendekiawan Muslim), Komjen Tito Karnavian (Kepala BNPT), Al Yasa Abubakar (Ketua Muhammadiyah Aceh), dan Falahuddin (Ketua Muhammadiyah NTB).

Kehadiran Luhut dan Tito dalam pertemuan para ulama Muhammadiyah ini menarik mengingat sikap kritis Muhammadiyah terhadap kasus kematian Siyono, warga Klaten yang tewas tak lama setelah ditangkap Densus 88. “Mengabaikan peran Muhammadiyah jelas tidak menguntungkan pemerintah, pun memusuhi pemerintah bukanlah cara organisasi ini berdakwah. Kemauan kedua pihak untuk terus berdialog sangat positif, ini kabar buruk bagi pihak-pihak yang ingin membenturkan Muhammadiyah dengan agenda pemerintah memberantas terorisme”, pungkas Fajar.

Halaqah Fikih Antiterorisme unuk Lahirkan Satu Rumusan Pemahaman yang Utuh

Pengarang: http://berita.suaramerdeka.com

SEMARANG, suaramerdeka.com – Direktur Program Maarif Institute, Muhd. Abdullah Darraz menyebut, program Halaqah Fikih Antiterorisme dihelat guna melahirkan satu rumusan pemahaman yang lebih utuh dan kritis dalam memaknai ulang doktrin-doktrin kunci yang bersumber dari Alquran dan Hadist.

“Ada kebutuhan sebuah rumusan pandangan keagamaan yang kontekstual, kritis, dan operasional serta memiliki perspektif HAM untuk menyikapi persoalan terorisme kontemporer. Apalagi hal ini telah secara meluas dikampanyekan oleh kelompok ekstremis yang tergabung dalam ISIS. Mereka dengan piawai melakukan kampanye kekerasan melalui berbagai media sosial,” tutur Daraz.

Lebih lanjut, Darraz menjelaskan bahwa kegiatan yang direncanakan berlangsung sejak Selasa pagi hingga Kamis ini akan dihadiri sejumlah ulama,  intelektual, perwakilan pemerintah, dan aktifis HAM yang selama ini memiliki perhatian pada isu terorisme.

Di antara narasumber yang akan hadir dalam halaqah ini adalah M. Busyro Muqoddas (Ketua PP Muhammadiyah), Azyumardi Azra (Cendekiawan Muslim), Komjen (Pol) Tito Karnavian (Kepala BNPT), Al Yasa Abubakar (Ketua Muhammadiyah Aceh), Falahuddin (Ketua Muhammadiyah NTB), dll.

Kehadiran Luhut dan Tito dalam pertemuan para ulama Muhammadiyah ini terasa istimewa mengingat sikap kritis Muhammadiyah terhadap kasus kematian Siyono.

“Mengabaikan peran Muhammadiyah jelas tidak menguntungkan pemerintah, pun memusuhi pemerintah bukanlah cara organisasi ini berdakwah. Kemauan kedua pihak untuk berdialog sangat positif, ini kabar buruk bagi pihak-pihak yang ingin membenturkan Muhammadiyah dengan agenda pemerintah memberantas terorisme,” tandas Fajar.

Muhammadiyah Rumuskan “Fikih Antiterorisme” untuk Antisipasi Ekstremisme

Pengarang: http://nasional.kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Maarif Institute bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dan Universitas Muhammadiyah Semarang menggelar “Halaqah Fikih Antiterorisme” di Semarang, 3 sampai 5 Mei 2016.

Kegiatan ini bertujuan menciptakan sebuah rumusan pemahaman yang lebih utuh dan kritis dalam memaknai ulang doktrin-doktrin kunci yang bersumber dari Al Quran dan Hadist.

Sebab, selama ini, pemahaman agama kerap disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan, ekstremisme, dan terorisme.

Dalam acara ini akan dibahas dan disusun buku “Fikih Antiterorisme” berdasarkan pandangan para ulama guna membendung bahkan mendelegitimasi narasi-narasi ekstremis yang dianut kelompok-kelompok berideologi teror.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq berpendapat, terorisme telah melakukan pembajakan atas nama agama dan mengeksploitasi ketidakadilan yang rentan memicu frustasi dan kemarahan.

Padahal, mengancam dan menyebarkan rasa ketakutan apalagi menghilangkan nyawa manusia tanpa proses hukum yang adil adalah tidak dibenarkan dalam Islam, kecuali dalam situasi perang.

Menurut Fahar, tafsir atas kitab suci Al Quran telah digunakan secara sewenang-wenang seakan kelompok teror ini bertindak atas nama Tuhan.

“Selama ini, kelompok ekstremis dan teroris telah menyalahgunakan konsep-konsep seperti jihad, takfiri, bay’at, dan khilafah untuk tujuan kekerasan dan teror yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran luhur Islam sebagai rahmat bagi semesta,” tandas Fajar melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (2/5/2016).

Dia mengatakan, pesan Al Quran jelas bahwa membunuh satu nyawa tak berdosa sama harganya dengan merusak alam semesta. Aksi terorisme, menurut dia, adalah kejahatan dan juga perbuatan dosa besar.

“Terorisme tidak identik dengan agama tertentu dan satu kelompok namun negara pun bisa masuk dalam kategori ini,” tandas Fajar.

Pertemuan selama tiga hari ini akan dibuka secara langsung oleh Menteri Koordinator Polhukam Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Akan hadir juga narasumber dalam halaqah ini di antaranya M Busyro Muqoddas (ketua PP Muhammadiyah), Azyumardi Azra (cendekiawan muslim), Komjen (Pol) Tito Karnavian (kepala BNPT), Al Yasa Abubakar (ketua Muhammadiyah Aceh), dan Falahuddin (ketua Muhammadiyah NTB).

Sementara itu, masih melalui siaran pers, Direktur Program MAARIF Institute, Muhd Abdullah Darraz, mengatakan, program “Halaqah Fikih Antiterorisme” digelar karena Indonesia membutuhkan sebuah rumusan pandangan keagamaan yang kontekstual, kritis, dan operasional serta memiliki perspektif HAM untuk menyikapi persoalan terorisme kontemporer.

“Apalagi hal ini telah secara meluas dikampanyekan oleh kelompok ekstremis yang tergabung dalam ISIS. Mereka dengan piawai melakukan kampanye kekerasan melalui berbagai media sosial,” tandas Daraz.

Kasus Siyono

Selama ini, Muhammadiyah kerap mengkritik penanganan Densus 88 terhadap salah satu terduga teroris, Siyono. Muhammadiyah mempersoalkan kematian Siyono yang diduga tak wajar.

Oleh karena itu, kehadiran Luhut dan Tito dalam pertemuan para ulama Muhammadiyah ini bakal menjadi ruang dialog antara pemerintah dengan salah satu organisasi besar Islam di Indonesia itu.

“Mengabaikan peran Muhammadiyah jelas tidak menguntungkan pemerintah, pun memusuhi pemerintah bukanlah cara organisasi ini berdakwah. Kemauan kedua pihak untuk terus berdialog sangat positif, ini kabar buruk bagi pihak-pihak yang ingin membenturkan Muhammadiyah dengan agenda pemerintah memberantas terorisme,” tandas Fajar.

Maarif Institute Susun Fikih Antiterorisme

Pengarang: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — MAARIF Institute bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dan Universitas Muhammadiyah Semarang akan menggelar “Halaqah Fikih Antiterorisme” di Semarang, Jawa Tengah pada 3-5 Mei 2016.

Pertemuan selama tiga hari ini rencananya akan dibuka secara langsung oleh Menko Polhukam Jend (Purn) Luhut Binsar Panjaitan dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada Selasa (3/5) pagi. Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan, Halaqah Fikih ini digelar untuk membahas dan menyusun buku “Fikih Antiterorisme” berdasarkan pandangan para ulama guna membendung bahkan mendelegitimasi narasi-narasi ekstremis yang dianut kelompok-kelompok berideologi teror.

“Terorisme telah melakukan pembajakan atas nama agama disamping mengeksploitasi ketidakadilan yang rentan memicu frustasi dan kemarahan. Padahal tidak dibenarkan mengancam dan menyebarkan rasa ketakutan apalagi menghilangkan nyawa manusia tanpa proses hukum yang adil kecuali dalam situasi perang,” ujar Fajar dalam siaran persnya kepada Republika.co.id, Senin (2/5).

Menurut Fajar, tafsir atas kitab suci Alquran telah digunakan secara sewenang-wenang seakan kelompok teror ini bertindak atas nama Tuhan. “Selama ini kelompok ekstremis dan teroris telah menyalahgunakan konsep-konsep seperti jihad, takfiri, bay’at, dan khilafah untuk tujuan kekerasan dan teror yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran luhur Islam sebagai rahmat bagi semesta. Pesan al Quran jelas, membunuh satu nyawa tak berdosa sama harganya dengan merusak alam semesta. Aksi terorisme adalah kejahatan dan juga perbuatan dosa besar. Terorisme tidak identik dengan agama tertentu dan satu kelompok namun negara pun bisa masuk dalam kategori ini”, ungkap Fajar.

Direktur Program MAARIF Institute, Muhd Abdullah Darraz menambahkan, program “Halaqah Fikih Antiterorisme” dihelat guna melahirkan satu rumusan pemahaman yang lebih utuh dan kritis dalam memaknai ulang doktrin-doktrin kunci yang bersumber dari Alquran dan Hadis. “Ada kebutuhan sebuah rumusan pandangan keagamaan yang kontekstual, kritis, dan operasional serta memiliki perspektif HAM untuk menyikapi persoalan terorisme kontemporer. Apalagi hal ini telah secara meluas dikampanyekan oleh kelompok ekstremis yang tergabung dalam ISIS. Mereka dengan piawai melakukan kampanye kekerasan melalui berbagai media sosial,” tutur Darraz.

Menurut Darraz, kegiatan yang direncanakan berlangsung sejak Selasa pagi hingga Kamis ini akan dihadiri sejumlah ulama, intelektual, perwakilan pemerintah, dan aktivis HAM yang selama ini memiliki perhatian pada isu terorisme. Diantara narasumber yang akan hadir dalam halaqah ini adalah M. Busyro Muqoddas (Ketua PP Muhammadiyah), Azyumardi Azra (Cendekiawan Muslim), Komjen (Pol) Tito Karnavian (Kepala BNPT), Al Yasa Abubakar (Ketua Muhammadiyah Aceh), Falahuddin (Ketua Muhammadiyah NTB), dll.

Fajar menambahkan, kehadiran Luhut dan Tito dalam pertemuan para ulama Muhammadiyah ini menarik mengingat sikap kritis Muhammadiyah terhadap kasus kematian Siyono. “Mengabaikan peran Muhammadiyah jelas tidak menguntungkan pemerintah, pun memusuhi pemerintah bukanlah cara organisasi ini berdakwah. Kemauan kedua pihak untuk terus berdialog sangat positif, ini kabar buruk bagi pihak-pihak yang ingin membenturkan Muhammadiyah dengan agenda pemerintah memberantas terorisme,” tegas Fajar.

Buya Syafii: Tanya kepada Negara

Pengarang: http://www.jpnn.com

JAKARTA – Tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengingatkan agar tragedi 1965 harus diselesaikan. Hal itu dia katakan saat mengikuti acara Simposium Nasional bertema Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (18/4).

“Kita harus berdamai dengan masa lampau,” kata tokoh yang karib disapa Buya Syafii itu.

Menurut dia, meskipun banyak luka maupun ketidakadilan di masa lalu, tetap harus berdamai. “Kalau kita tetap menanggung beban ini, bangsa ini akan tidak jelas masa depannya,” papar Buya.

Menurut dia, kesalahan-kesalahan yang ada terdahulu harus diperbaiki. Pengusutan kasus juga harus dituntaskan. Namun, saat ditanya apakah pemerintah perlu minta maaf, Buya hanya menjawab diplomatis.

“Tanya kepada negara,” kata Buya Syafii.