“Maarif Award 2016” bertemakan melawan sektarianisme-intoleransi

Pengarang: http://www.antaranews.com

Jakarta (ANTARA News) – Maarif Institute kembali menggelar acara penghargaan “Maarif Award” yang ke-6 pada 2016 dengan tema khusus perjuangan melawan sektarianisme, intoleransi, dan kekerasan.

Salah satu dewan juri Maarif Award 2016 Noordjannah Djohantini di Jakarta, Rabu, mengatakan pemilihan tema tersebut diambil berdasarkan isu terkait aksi kekerasan yang terjadi di Indonesia sejak 2015 hingga awal 2016.

“Maarif Award tahun ini bagaimana kita menemukan tokoh lokal yang menangani masalah sektarianisme, intoleransi, terorisme, radikalisasi, dan kekerasan-kekerasan,” kata Noordjanah.

Kasus-kasus seperti pengusiran warga Ahmadiyah di Sunailiat yang difasilitasi pemerintah daerah Bangka, amuk massa terhadap pengikut Gafatar di Mempawah, aksi terorisme di Jalan MH Thamrin, dan kasus perusakan tempat ibadah di Tolikara Papua dan Singkil Aceh.

Selain Noordjanah, dewan juri lain pada penghargaan tahun ini ialah Rektro UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006-2015 Komaruddin Hidayat, Wakil Direktur CSIS Clara Joewono, penerima Maarif Award pertama Jack Manuputty, dan Pemimpin Redaksi Surat Kabar The Jakarta Post Endy M Bayuni.

Pemberian penghargaan Maarif Award menekankan pada karya luar biasa dari orang-orang yang tidak terkenal berupa perjuangan akan sesuatu hal yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan dari tingkat akar rumput.

Penghargaan tersebut diberikan untuk mengangkat model-model kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai-nilai kebhinekaan, antikekerasan, dan antidiksriminatif.

Endy mengatakan mencari kriteria individu yang tepat membutuhkan peran masyarakat dan media karena orang-orang tersebut cenderung sulit ditemukan.

“Biasanya orang-orang ini low profile, tidak dikenal kecuali hanya oleh komunitasnya sendiri. Peran media besar untuk membantu menemukan mutiara-mutiara tersebut,” ujar Endy.

Ia mengatakan siapapun bisa mengajukan calon nominasi peraih Maarif Award 2016. “Peraih Maarif Award bisa lebih dari satu, tiga pun memungkinkan kalau memang layak,” tutur dia.

Masyarakat bisa mengajukan calon nominasi yang layak dipertimbangkan sesuai dengan kriteria sebelum 15 Maret 2016. Informasi mengenai pengajuan calon nominasi bisa dilihat di www.maarifinstitute.org.

Maarif Award 2016 Cari Pejuang Perdamaian

Pengarang: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Maarif Institute kembali mengundang publik mengusulkan nama-nama untuk menjadi nominasi penerima Maarif Award 2016. Usulan dibutuhkan sebagai ikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan.

Jurnalis senior yang menjadi salah satu juri Maarif Award 2016, Endy M. Bayuni mengatakan penghargaan kali ini memiliki tantangan tersendiri, lantaran bangsa Indonesia tengah menghadapi gelombang informasi dan agresivitas aktor transnasional. Ia menilai, kondisi yang dapat memberi pengaruh besar pada dinamika lokal itu, tentu memiliki pejuang-pejuang yang memeranginya.

Ia mengharapkan penghargaan Maarif Award 2016 kali ini berhasil menemukan sosok atau institusi, yang mampu menjadi antitesis sekaligus siasat cerdas menanggapi tantangan kemajemukan yang kini membayangi masyarakat Indonesia. Maka itu, ia meminta partisipasi masyarakat untuk mengusulkan para pejuang perdamaian tersebut, yang biasanya tidak mudah terlihat di permukaan.

“Kita memang harus kerja keras karena biasanya mereka low profile dan jauh dari publisitas,” kata Endy di Jakarta, Rabu (10/2).

Kriteria penerima Maarif Award 2016 kali ini adalah mereka yang telah teruji komitmen membangun kebhinekaan, yaitu kerja-kerja kemanusiaan yang dipelopori dapat dirasakan masyarakat luas dan beragam. Selain itu, kehadirannya mampu mendorong partisipasi warga luas untuk peningkatan kualitas kehidupan, dan menjembatani kebhinekaan di tengah masyarakat.

Kerja-kerja kemanusiaan yang menjadi fokus utama pemberian Maarif Award 2016, meliputi peningkatan mutu hidup masyarakat melalui penguatan akses pendidikan, kesehatan dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Pemeliharaan lingkungan, rekonsiliasi konflik demi kedamaian dan kesejahteraan hidup masyarakat, turut menjadi fokus utama Maarif Award keenam tersebut.

Endus Ada Kelanjutan NII, Maarif Institute Tolak Gafatar

Pengarang: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Banyak pihak ternyata mengakui ormas Gerakan Fajar Nusantar (Gafatar) sempat mengajukan berbagai kerja sama dengan instansi resmi  demi menutup kesesatannya. Salah satunya diungkapkan Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq kepada Republika.co.id.

Ia mengatakan, pada November 2011, inisiator Gafatar mengirimkan surat permohonan audiensi ke Maarif Institute. Saat itu, mereka sedang gencar menyosialisasikan sekaligus menggalang dukungan tokoh-tokoh masyarakat menjelang deklarasi organisasi itu. Namun, Fajar mengakui tidak merespons lebih jauh

“Waktu itu NII Crisis Center–salah satu mitra Maarif Institute dalam kampanye antikekerasan–menyinyalir Gafatar sebagai bentuk kelanjutan NII,” katanya, Rabu (13/1). Karena itu, ia mengimbau pemerintah dan masyarakat harus cermat terkait model organisasi seperti Gafatar ini. Terlebih, informasi organisasi ini divonis sesat dan dituduh dalang penghilangan orang baru belakangan ini.

Kecermatan ini, kata dia, penting sebab organisasi ini mengklaim bergerak di ranah sosial-budaya dan bukan organisasi keagamaan. Namun, belakangan latar belakang pandangan keagamaannyalah yang menjadi sorotan utama publik.

Berdasarkan pemberitaan dalam Tabloid Gafatar Edisi November 2014, jelas memperlihatkan kerja sama mereka dengan berbagai instansi pemerintah, TNI, dan organisasi sosial lainnya di Banten, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Gowa, Maros, Padang, Jambi, Palembang, Balikpapan, Denpasar, dan Kendari.

Menurut dia, sangat mungkin mereka sudah mendapat surat keterangan terdaftar (SKT) di beberapa Kesbangpol daerah. Artinya, aktivitas mereka lumayan dikenali oleh pemerintah daerah, termasuk instansi militer.

MAARIF Institute Tolak Permintaan Gafatar untuk Audiensi

Pengarang: http://www.tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq mengaku pernah menerima surat permohonan audiensi ke MAARIF Institute.

Hal itu terjadi pada November 2011 lalu, atas nama inisiator Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Saat itu Gafatar sedang gencar sosialisasi sekaligus menggalang dukungan tokoh-tokoh masyarakat jelang deklarasi organisasi itu.

“Namun kami tidak merespon lebih jauh, terlebih waktu itu NII Crisis Center – salah satu mitra MAARIF Institute dalam kampanye antikekerasan – mensinyalir Gafatar sebagai bentuk kelanjutan NII,” kenang Fajar kepada Tribun, Rabu (13/1/2016).

Berdasarkan pengakuan Ketua Umum DPP Gafatar Mahful Muiz Tumanurung dalam Tabloid Gafatar edisi November 2014, Fajar mengutip, organisasi ini berdiri 14 Agustus 2011 di Jakarta. Resmi deklarasi terbuka 21 Januari 2012.

Bahkan Mahful mengakui bahwa beberapa pendiri pernah terlibat dalam komunitas keagamaan yang sudah difatwa sesat oleh MUI tahun 2007.

Jika ditelusuri, imbuh Fajar, kelompok yang dimaksud adalah Al Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Ahmad Moshaddeq.

“Orang ini kini mendekam di LP Cipinang karena kasus mengaku nabi baru. Mata rantai ini penting dicermati dalam membaca proses evolusi gerakan ini,” ujarnya.

Karenanya, Fajar mengimbau pemerintah dan masyarakat harus cermat dalam menyikapi kontroversi Gafatar yang divonis sesat dan dituduh dalang dibalik hilangnya beberapa orang belakangan ini.

Heboh Gafatar, Maarif Institute Pertanyakan Kinerja Intelijen

Pengarang: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Fajar Riza Ul Haq mempertanyakan kinerja intelejen terkait merebaknya organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dituding menghilangkan beberapa orang di berbagai daerah.

“Tentunya, publik mempertanyakan kinerja intelejen jika gerakan ini pada akhirnya dianggap merugikan masyarakat bahkan mengancam keamanan negara,” katanya kepada Republika.co.id, Rabu (13/1). Padahal, lanjut dia, sejak lama sudah muncul riak-riak penolakan di beberapa daerah.

Menurut dia, integritas dan lunturnya kepercayaaan publik terhadap negara ditengah merosotnya wibawa hukum seringkali jadi pemicu terjadinya disorientasi di tingkat masyarakat. “Saya melihat gejala Gafatar ini merupakan simpton dari kompleksitas krisis bangsa kita hari ini, yang membutuhkan kepemimpinan out of the box yang ditopang perubahan di level birokrasi,” terangnya.

Diungkapkan Fajar, berdasarkan pengakuan Ketua Umum DPP Gafatar Mahful Muiz Tumanurung dalam Tabloid Gafatar edisi November 2014, organisasi ini berdiri 14 Agustus 2011 di Jakarta. Resmi deklarasi terbuka 21 Januari 2012. Mahful mengakui bahwa beberapa pendiri pernah terlibat dalam komunitas keagamaan yang sudah difatwa sesat oleh MUI tahun 2007.

Jika ditelusuri, kelompok yang dimaksud adalah Al Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Ahmad Moshaddeq. “Orang ini kini mendekam di LP Cipinang karena kasus mengaku nabi baru. Mata rantai ini penting dicermati dalam membaca proses evolusi gerakan ini,” ujarnya.

Yang menarik, tambah dia, organisasi ini mengusung mimpi kebangkitan kejayaan Nusantara dengan mengeksploitasi masa keemasan Atlantis, kerajaan Majapahit dan Demak. “Mereka fasih bicara Pancasila dan perjuangan kedaulatan pangan sebagai pijakan menuju Nusantara Jaya,” kata Fajar.

Informasi yang didapat bahwa kelompok Gafatar menggunakan istilah-istilah yang biasa dipakai NII seperti hijrah dan pemerintah kafir namun mereka tidak memprovokasi pengikutnya melakukan kekerasan fisik.

Kaum Muda Jaga Kebinekaan

Pengarang: http://print.kompas.com

JAKARTA, KOMPAS — Generasi muda perlu dibekali kesadaran dan kecakapan untuk menjaga kebinekaan. Untuk itu, mereka didorong agar memiliki sikap terbuka dan menghargai perbedaan. Bekal itu penting untuk menjaga kesatuan bangsa, apalagi ketika mereka kelak memimpin negeri ini.

Komitmen generasi muda untuk menjaga kebinekaan difasilitasi Maarif Institute lewat Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 di Jakarta pada 20-26 Desember. Pada pembukaan jambore, peserta berkesempatan berdialog dengan salah satu pemimpin yang keberanian dan integritasnya dinilai patut diteladani, yakni Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Rabu (23/12), 101 pelajar SMA/SMK/MA dari 30 kota se-Jawa itu menggelar dialog dengan pengelola Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal.

Lewat kunjungan ke dua rumah ibadah umat agama yang berbeda itu, peserta jambore mengetahui praktik kerukunan beragama di lapangan. Hal itu, antara lain, terlihat dari diperbolehkannya penggunaan lahan parkir di Masjid Istiqlal oleh umat Katolik yang beribadah di Gereja Katedral ketika tempat parkir sudah tidak muat. Demikian pula sebaliknya.

Peserta juga diberi kesempatan untuk berdialog soal keagamaan dan toleransi dengan romo di Gereja Katedral dan imam di Masjid Istiqlal. Pengalaman bertemu langsung dengan orang berbeda agama sangat penting. Proses seperti ini mampu meruntuhkan tembok prasangka dan kebencian sehingga menumbuhkan kesadaran akan kebinekaan bangsa.

Mencintai kebinekaan

Menurut ketua pelaksana jambore, Abdullah Daraz, kegiatan tahunan yang sudah tiga kali dilaksanakan ini memberikan pengalaman bagi pelajar untuk belajar bersama tentang ikhtiar mencintai kebinekaan dengan menghayati jati diri bangsa Indonesia. Kedewasaan dalam bergaul mutlak diperlukan jika bangsa ini berkomitmen menjaga kebinekaan.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan, bangsa Indonesia sudah berhasil menunjukkan kualitas hubungan antarumat beragama yang membanggakan dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait situasi aman dalam perayaan hari besar keagamaan. “Ini wajah negeri kita yang menyejukkan meskipun selalu ada riak-riak. Kita harus terus mengedepankan nilai-nilai moralitas dan kesalehan sosial dalam berinteraksi tanpa terjatuh pada fanatisme agama yang berlebihan,” katanya.

“Kunjungan para pelajar ke dua tempat ibadah simbol umat Katolik dan Islam mengajarkan peserta jambore untuk selalu membangun jembatan dialog,” lanjut Fajar.

Dalam kaitan dengan toleransi, Ketua Badan Pengelola Masjid Istiqlal Mubarok mengatakan, Islam merupakan agama yang mendahulukan kedamaian dan kemaslahatan. Oleh karena itu, umat agama lain yang mengunjungi Masjid Istiqlal disambut terbuka.

Pada kesempatan dialog tersebut ada peserta yang menanyakan soal radikalisme yang dikaitkan dengan Islam dan cara anak muda membentengi diri. Mubarok mengatakan, radikalisme sebenarnya ada di semua agama. Ketika ada kelompok yang mengklaim paham mereka paling benar atau hanya kelompoknya yang bisa masuk surga, kita mesti waspada. “Anak muda mudah terperangkap. Bangsa ini bisa bersatu karena saling menerima perbedaan,” ujarnya.

Pengalaman berharga

Verentia A Putri, siswa SMAN 2 Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, yang merupakan satu-satunya peserta non-Muslim, merasakan pengalaman berharga bisa mengikuti jambore dan mendapatkan perlakuan yang sama. “Saya jadi memahami, meskipun beda agama, kita bisa tolong-menolong. Di Masjid Istiqlal, (siswa) yang non-Muslim boleh masuk dan disambut baik,” katanya.

Frizka Nur Widyastuti, siswa SMAN 1 Karas, Magetan, Jawa Timur, yang berjilbab, baru pertama kali masuk gereja. “Saya dapat pengalaman baru dan pencerahan soal agama Katolik, dapat penjelasan langsung dari romo. Seharusnya umat Islam dan Katolik tidak berseteru,” ujar Frizka.

Laras Safa Azhara, siswa SMAN 1 Lawang, Malang, Jawa Timur, merasa terkesan bisa bertemu dengan Basuki Tjahaja Purnama, pemimpin yang menginspirasi generasi muda untuk berani memperjuangkan kebenaran. “Basuki meyakinkan kami untuk menjadi pemimpin yang berani melawan arus, jujur, tidak selalu kalah,” ucapnya.

Peserta jambore juga berkesempatan berkunjung ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi. Para pelajar ikut menyampaikan suara generasi muda yang mendukung pemberantasan korupsi di negeri ini. (ELN)

Jelang Natal, Maarif Institute Imbau Jangan Terpancing Broadcast Memecah Belah Umat

Pengarang: http://www.tribunnews.com/

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – “Masing-masing umat beragama tidak usah terpancing oleh beragam broadcast bernada memecah belah jelang Natal.”

Demikian disampaikan Direktur EksekutifMaarif Institute Fajar Riza Ul Haq di sela acara dialog para peserta Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 dengan pihak Gereja Katedral dan pengelola Masjid Istiqlal, Rabu (23/12/2015).

Harus diingat, kata dia, bangsa Indonesia sudah berhasil menunjukkan kualitas hubungan antar umat beragama yang membanggakan dalam beberapa tahun terakhir.

Utamanya terkait suasana kondusif perayaan hari besar keagamaan.

“Ini wajah negeri kita yang menyejukkan meskipun selalu ada riak-riak dari realitas perbedaan,” kata Fajar.

Karena itu pula dia meminta polemik hukum mengucapkan selamat Natal tidak perlu dipertajam selama masing-masing umat beragama saling menghargai.

Kedewasaan dalam bergaul itu mutlak jika bangsa ini berkomitmen pada prinsip kebinekaan yang otentik.

Abdullah Darraz: Ancaman Teroris Ulah Orang Putus Asa

Pengarang: http://www.suara.com/

Suara.com – Pengamanan menjelang perayaan Natal dan tahun baru 2016 ditingkatkan setelah otoritas keamanan mendeteksi peningkatan ancaman dari kelompok teroris.

Direktur Program Maarif Institute Abdullah Darraz mengatakan hal itu tidak perlu dikhawatirkan.

“Saya kira kita tidak perlu lagi merisaukan karena sebetulnya itu adalah ulah segelintir orang yang putus asa, walaupun kami juga mengutuk keras berbagai macam ancaman, kekerasan, terorisme atas nama agama,” kata ketua pelaksana acara Jambore Pelajar Seluruh Pulau Jawa itu saat kunjungan ke Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (23/12/2015).

Abdullah menambahkan kegiatan jambore yang ketiga kali ini juga sekaligus wujud pemberian pemahaman terhadap toleransi antarumat beragama. Acara Jambore Pelajar Seluruh Pulau Jawa yang dilakukan menjelang Natal juga tidak terpengaruh isu itu. Pelajar yang ikut jambore hari ini mengunjungi dua situs keagamaan di Jakarta, yaitu Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

Kegiatan ini sebagai antisipasi atau upaya preventif untuk generasi muda mengenai terorisme dan intoleransi perilaku diskriminasi terhadap umat agama lain.

“Caranya memperlihatkan realitas perbedaan yang ada. Ketika kami memperkenalkan peserta mengenai itu, insya Allah tidak akan ada ancaman seperti itu,” kata Abdullah.

Yang dirisaukan Abdullah bukan ancaman terorisme, melainkan masuknya paham asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

Acara Jambore Pelajar Seluruh Pulau Jawa digelar selama enam hari, mulai 20 – 26 Desember 2015. Kegiatannya, antara lain kunjungan ke sejumlah tempat, kemarin ke Balai Kota Jakarta, hari ini ke Istiqlal dan Katedral serta KPK. (Eva Aulia)

Pelajar Se-Jawa Kunjungi Katedral dan Istiqlal

Pengarang: http://www.tribunnews.com/

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Maarif Institute memfasilitasi ruang dialog para peserta Jambore Pelajar Se-Jawa dengan pihak Gereja Katedral dan pengelola Masjid Istiqlal.

Mereka berkunjung dan berdialog dengan perwakilan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, Rabu (23/12/2015).

Menurut Ketua Pelaksana Jambore, Abdullah Daraz, ada 101 pelajar SMA dan Madrasah Aliyah dari 30 kota se-Jawa yang mengikuti jambore yang dibuka Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama, Senin (21/12/2015)  lalu itu.

Daraz menjelaskan, tujuan kegiatan tahunan Jambore ini adalah membangun kesadaran sekaligus melatihkan kecakapan sosial kepada pelajar agar mereka punya kapasitas menjaga kebinekaan.

“Kunjungan para pelajar ke dua tempat ibadah yang merupakan simbol umat Katolik dan Islam merupakan salah satu kegiatan jambore. Perjumpaan pelajar dengan pengelola Katedral dan Istiqlal menunjukkan pentingnya sikap keterbukaan dan mau belajar dalam meniti jembatan dialog”, ujar Daraz, dalam sambutannya, Rabu (23/12/2015).

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq menambahkan dialog para peserta Jambore Pelajar Se-Jawa 2015 yang kebetulan mayoritas Muslim dengan pengelola Katedral jelang Natal akan mengirimkan pesan kepada publik bahwa pengalaman bertemu langsung dengan orang berbeda agama sangat penting.

Menurutnya, proses ini akan mampu meruntuhkan tembok prasangka bahkan kebencian.

“Kunjungan dan dialog pelajar dengan seorang romo dan imam masjid akan semakin memberikan pengalaman berharga, sangat berguna dalam merawat kebinekaan bangsa yang terus dibayangi intoleransi dan disintegrasi sosial,” pungkas Fajar.

PESERTA JAMBORE PELAJAR BERDIALOG DENGAN PERWAKILAN KATEDRAL DAN ISTIQLAL

Pengarang: http://www.rmol.co/

RMOL. Sebanyak 101 peserta Jambore Pelajar Se-Jawa, yang digelar Maarif Institute, menyambangi Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal (Rabu, 23/12). Para pelajar SMA dan Madrasah Aliyah dari 30 kota itu berdialog dengan perwakilan Gereja Katedral dan pengelola Masjid Istiqlal.

Ketua Pelaksana Jambore, Abdullah Daraz, menjelaskan kunjungan para pelajar ke dua tempat ibadah yang merupakan simbol umat Katholik dan Islam itu merupakan salah satu kegiatan Jambore. “Perjumpaan pelajar dengan pengelola Katedral dan Istiqlal menunjukkan pentingnya sikap keterbukaan dan mau belajar dalam meniti jembatan dialog,” ujar Daraz.

Karena, dia menambahkan, tujuan kegiatan tahunan Jambore yang dibuka Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama pada Senin kemarin adalah untuk membangun kesadaran sekaligus melatihkan kecakapan sosial kepada pelajar agar mereka punya kapasitas menjaga kebinekaan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq menjelaskan dialog para peserta Jambore yang kebetulan mayoritas Muslim dengan pengelola Katedral jelang Natal mengirimkan pesan kepada publik bahwa pengalaman bertemu langsung dengan orang berbeda agama sangat penting.

“Proses ini akan mampu meruntuhkan tembok prasangka bahkan kebencian. Kunjungan dan dialog pelajar dengan seorang romo dan imam masjid akan semakin memberikan pengalaman berharga, sangat berguna dalam merawat kebinekaan bangsa yang terus dibayangi intoleransi dan disintegrasi sosial,” tandas Fajar.

Bangsa Indonesia sendiri, kata dia melanjutkan, sudah berhasil menunjukkan kualitas hubungan antarumat beragama yang membanggakan dalam beberapa tahun terakhir, utamanya terkait kondusivitas perayaan hari besar keagamaan. “Ini wajah negeri kita yang menyejukkan meskipun selalu ada riak-riak dari realitas perbedaan,” ucapnya.

Menurutnya, polemik hukum mengucapkan selamat Natal tidak perlu dipertajam selama masing-masing umat beragama saling menghargai. Kedewasaan dalam bergaul itu mutlak jika bangsa ini berkomitmen pada prinsip kebinekaan yang otentik. Karena itu masing-masing umat beragama tidak usah terpancing oleh beragam broadcast bernada memecah belah jelang Natal ini.

“Kita harus terus mengedepankan nilai-nilai moralitas publik dan praktek kesalehan sosial dalam berinteraksi tanpa terjatuh pada fanatisme agama yang membutakan. Kita perlu bercermin pada tauladan para tokoh bangsa terdahulu, yang tetap menjaga persahabatan meskipun berbeda prinsip dan pilihan politik,” demikian Fajar Riza Ul Haq. [zul]