Ahok Ajak Buya Syafii Maarif Bahas Jakarta Sambil Makan Diruang Kerja

Pengarang: http://www.sisidunia.com

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama baru saja menjamu makan siang mantan ketua umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif di Balai Kota, Senin (21/12) kemarin. Makan bersama itu dilakukan di sela-sela kegiatan Ahok saat menerima siswa Maarif Institute yang menjadi peserta Jambore Pelajar se-Pulau Jawa 2015.

Berdasarkan pantauan tim SisiDunia, Selasa (22/12/2015), kabar ini diketahui setelah gubernur yang akrab disapa Ahok itu mengunggah sebuah foto ke akun Instagram pada Senin (21/12) malam. Dalam foto yang diunggah tersebut, Ahok terlihat mengenakan seragam dinas dan tersenyum ke arah kamera, sementara Buya Syafii mengenakan pakaian batik.

“Makan siang hari ini bersama Buya Syafii Maarif. Sambil ngobrol, segala kebobrokan di Jakarta dan Indonesia sudah mendarah daging harus direvolusi mental. Sehat terus Buya,” tulis Ahok menjelaskan foto dalam kolom caption.

Ahok memang secara khusus mengundang Buya Syafii untuk berbincang santai membahas permaslaahan Jakarta sambil makan siang. Pada kesempatan tersebut Ahok tidak hanya makan siang berdua dengan Buya, namun ia juga ditemani oleh sejumlah staf khusus pribadinya dalam satu meja yang menghidangkan beragam menu makanan tersebut. (Rindi Ayunda – sisidunia.com)

 

BERSAMA BUYA SYAFII, AHOK AKAN BUKA JAMBORE PELAJAR SE-JAWA

Pengarang: http://www.rmol.co

RMOL. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akan membuka secara resmi Jambore Pelajar Se-Jawa di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, siang nanti (Senin, 21/12).

Jambore yang digelar Maarif Institute yang kali ini memasuki tahun ketiga diikuti oleh 100 orang pelajar terpilih dari 300 lebih pelajar SMA yang melamar program ini.

Pada acara pembukaan nanti akan dimeriahkan dengan dialog interaktif “Pelajar Bertanya, Gubernur Ahok Menjawab”.

Dialog ini akan membahas seputar persoalan bangsa mutakhir seperti korupsi, intoleransi dan kepemimpinan yang berintegritas.

Pendiri Maarif Institute, Buya Ahmad Syafii Maarif, dijadwalkan juga akan turut hadir dan memberikan sambutan dalam acara pembukaan tersebut

Beri Perhatian Pada Generasi Muda

Pengarang: admin

Jakarta, Kabarindo- Berbagai persoalan terus menghimpit bangsa Indonesia.

Korupsi yang semakin terbuka dan kasus intoleransi yang semakin meningkat menjadi keprihatinan mendalam. Namun demikian, untuk menghalau berbagai persoalan pelik itu, optimisme harus terus dibangun, terutama pada generasi muda.

Oleh karenanya, didorong upaya untuk terus menyemai nilai-nilai kebinekaan dan pembangunan jati diri bangsa, MAARIF Institute kembali menggelar Jambore Pelajar Se-Jawa yang Ketiga. Kali ini Jambore Pelajar diadakan di Jakarta, setelah sebelumnya berturut-turut diadakan di Cianjur dan Bandung.

MAARIF Institute sejak tahun 2012 telah secara konsisten memberikan pendampingan dalam bentuk berbagai pelatihan terhadap para guru dan siswa SMA negeri di beberapa kota, termasuk didalamnya adalah program Jambore Pelajar Se-Jawa. “Upaya yang telah dilakukan oleh MAARIF Institute ini merupakan sebentuk partisipasi publik, dalam hal ini partisipasi dan kontribusi nyata masyarakat sipil dalam membantu Negara untuk lebih menginternalisasikan nilai-nilai dan karakter kebangsaan”.

Hal itu dipapar lugas oleh Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute

Jambore Pelajar ketiga ini akan diikuti setidaknya 100 pelajar terpilih yang berasal lebih dari 44 kota/kabupaten di pulau Jawa. “Peserta jambore ini adalah mereka yang terpilih lebih dari 300 pelamar. Penilaian dilakukan tak hanya dari biodata diri dan keaktifan dalam kegiatan sekolah, namun lebih dari itu, para pelamar diminta untuk menggambarkan tentang visi besar Indonesia kedepan dalam bentuk esai” kata Muhd. Abdullah Darraz selaku penanggung jawab program.

Kegiatan jambore ini akan berlangsung selama tujuh hari dengan memadukan model pelatihan didalam dan diluar ruangan dengan memberikan porsi yang besar untuk membangun partisipasi, interaksi dan inisiasi peserta jambore. Materi diluar ruangan terdiri dari beberapa kunjungan pada tempat-tempat bersejarah di Jakarta dan diskusi interaktif dengan beberapa tokoh publik untuk membincang tentang Korupsi, intoleransi dan persoalan kebangsaan lainnya. Lebih lanjut, Darraz menerangkan, Beberapa kunjungan dan temu wicara yang sudah terjadwal adalah dialog interaktif dengan Basuki Tjahaya Purnama atau Gubernur Ahok, Kunjungan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan dialog kemanusiaan di Gereja Katedral Jakarta. “Pengalaman kunjungan dan temu wicara ini akan memberikan pengalaman yang luar biasa bagi para peserta jambore” jelasnya.

Acara jambore ini secara keseluruhan akan dilaksanakan di Komplek LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) DKI Jakarta di Jl. Nangka 60 Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Jambore akan dibuka secara resmi oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama pada Senin 21 Desember 2015 di Balai Agung komplek gubernuran DKI Jakarta

MI : Trump ingkari Amerika sebagai bangsa imigran

Pengarang: http://www.antaranews.com

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Eksekutif Maarif Intitute (MI) Fajar Riza Ul Haq menilai calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengingkari fitrah AS sebagai bangsa imigran dengan pernyataannya untuk melarang Muslim masuk negaranya.

“Rencana itu jelas menunjukkan Trump menutup mata terhadap sejarah bahkan mengingkari filosofi Bangsa Amerika sebagai bangsa imigran,” kata Fajar saat dihubungi dari Jakarta, Rabu.

Menurut dia, sikap politik Trump ini mencerminkan wajah politik fasisme yang bertolak belakang dengan semangat kerja sama dan keterbukaan sebagai dua hal yang sangat fundamental di abad ke-21.

Kebijakan politik semacam ini akan mengundang reaksi kebencian, permusuhan dan konflik, katanya.

“Saya tidak yakin negara imigran seperti Amerika akan tunduk pada politik fasisme Trump. Tentu umat Islam di luar Amerika tidak mudah terprovokasi oleh gagasan kontroversial Trump demi populisme,” kata dia.

Fajar mengatakan sepanjang wacana itu diperdebatkan di ruang publik secara sehat dan bebas maka seharusnya masyarakat dunia tidak usah reaktif.

Direktur Eksekutif MI ini mengatakan bagi orang yang mengetahui rekam jejak Trump tentu tidak akan terkecoh dengan akrobat ide-ide miliuner AS ini demi memuluskan hasrat politiknya untuk menguasai Gedung Putih.

Kebijakan Obama untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif dan dialogis dengan dunia Islam masih sangat relevan.

“Saya pikir Trump mencoba bertolak dari antitesis kebijakan politik Obama ini,” kata dia.

Upaya Trump yang ofensif terhadap Islam, lanjut dia, akan menyeret Amerika ke dalam pusaran konflik yang merugikan masa depan politik luar negeri Amerika, terlebih sedang membutuhkan dukungan dan kerjasama dari dunia Islam di saat Tiongkok mulai menjadi pesaing serius Amerika.

Soal ofensifnya Trump terhadap dunia Islam, Fajar berpendapat hal itu dilakukan Trump untuk kepentingan popularitas dalam kancah perpolitikan AS.

“Trump mengeksploitasi ancaman ISIS dan penyerangan di Paris. Partai Republik memang pendukung loyalnya dari kelompok konservatif dan anti Islam. Pernyataan Trump itu wujud dari Islamophobia,” katanya.

Maarif Institute: Trump Tutup Mata Amerika Bangsa Imigran

Pengarang: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Direktur Eksekutif Maarif Intitute (MI) Fajar Riza Ul Haq menilai calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengingkari fitrah AS sebagai bangsa imigran dengan pernyataannya untuk melarang Muslim masuk negaranya.

“Rencana itu jelas menunjukkan Trump menutup mata terhadap sejarah bahkan mengingkari filosofi Bangsa Amerika sebagai bangsa imigran,” kata Fajar saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (9/11).

Menurut dia, sikap politik Trump ini mencerminkan wajah politik fasisme yang bertolak belakang dengan semangat kerja sama dan keterbukaan sebagai dua hal yang sangat fundamental di abad ke-21.

(Baca: Pemikiran Trump Soal Islam Primitif)

Kebijakan politik semacam ini akan mengundang reaksi kebencian, permusuhan dan konflik, katanya. “Saya tidak yakin negara imigran seperti Amerika akan tunduk pada politik fasisme Trump. Tentu umat Islam di luar Amerika tidak mudah terprovokasi oleh gagasan kontroversial Trump demi populisme,” kata dia.

Fajar mengatakan sepanjang wacana itu diperdebatkan di ruang publik secara sehat dan bebas maka seharusnya masyarakat dunia tidak usah reaktif.

Saran Syafii Maarif ke Jokowi-JK Soal Reshuffle: Cari Orang yang Dosanya Kurang!

Pengarang: http://detik.com

Jakarta – Kabar reshuffle terus berhembus. Semakin kencang kalau ada beberapa menteri yang akan diganti. Saran datang dari mantan Ketum PP Muhammadiyah Syafii Maarif kepada Jokowi-JK terkait reshuffle.

“Carilah orang-orang yang dosanya kurang,” jelas Syafii di Cikini, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Menurut Syafii, presiden harus memakai fungsi presidensialnya. Pilihlah calon yang terbaik, yang berintegritas untuk bangsa dan negara.

“Kita ada jejak rekam di situ menurut saya presiden harus memakai fungsi presidensialnya karena itu sulit sekali dan diusung oleh partai politik. Jadi sekarang dinamakan hak prerogatif presiden itu kan nggak jalan dan semua serba kompromi,” terang dia.

“Saya berharap kalau ada reshuffle betul-betul serahkan ke presiden dan wakil presiden. Supaya dia tahu betul siapa pembantu mereka mendukung program yang sudah dirumuskan,” tutup dia.

Kata Syafii Maarif Soal Novanto Mundur dari Ketua DPR: dari Segi Etika Gelap!

Pengarang: de

detikNews – Jakarta, Ketua DPR Setya Novanto sudah dilaporkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said ke MKD DPR. Pelaporan dilakukan terkait pencatutan nama Jokowi dan JK. Novanto sudah membantah, namun desakan agar dia mundur mengemuka. Apa kata tokoh bangsa Syafii Maarif?

“Itu berat melalui mekanisme. Soalnya saya lihat Jusuf Kalla sudah marah sekali, Jokowi sudah marah. Dan itu dari sisi etika sudah gelap dan yang melakukan itu-saya ndak menyebut nama, orang-orang yang punya pemimpin, wakil rakyat itu, orang nomor satu yang mengaku wakil rakyat,” terang Syafii di Cikini, Jakarta, Senin (23/11/2015).

Syafii menjelaskan, ada sesuatu yang dinilainya sudah tak sesuai etika selaku pejabat negara. Ada baiknya, negara ini tetap dipimpin orang-orang yang terbaik.

“Kongkalikongnya sudah dalem, kan menyebut beberapa nama ya diteliti saja,” tegas dia.

“Kalau masih mungkin dibersihkan semua termasuk pemerintahan juga. Carilah orang-orang yang dosanya kurang,” tutup dia. (dra)

Syafii Maarif: Kalau Setya Terbukti Melanggar Keterlaluan

Pengarang: http://www.cnnindonesia.com/

Jakarta, CNN Indonesia — Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai jika terbukti benar Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memperpanjang masa kontrak PT Freeport maka perbuatan tersebut sangat menyalahi aturan.

“Kalau memang nanti dari hasil pengusutan Mahkamah Kehormatan Dewan DPR hasilnya terbukti melanggar maka sudah keterlaluan,” kata Syafii Maarif kepada CNN Indonesia, Rabu (18/11).

Artinya, kata Buya, panggilan akrab Syafii Maarif, perbuatan politikus tersebut secara moral sudah rusak. “Harus mundur sebagai ketua dewan. Kalau di Jepang sana pejabat seperti itu bisa hara-kiri (bunuh diri),” ujarnya.

Ketua Tim 9 bentukan Presiden Jokowi untuk mendamaikan kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri itu meminta masyarakat untuk menunggu hasil pemeriksaan MKD DPR karena benar atau tidaknya Setya Novanto melakukan pencatutan akan dibuktikan di MKD.

“Sebaiknya semua pihak menunggu MKD dalam beberapa hari ke depan. Semua tergantung pada penilain MKD,” tutur Buya. “Untuk dilaporkan ke KPK tergantung perkembangan kasus ini. Tampaknya masih akan terus panjang masalah ini,” tambah Buya. (Baca: KPK Buka Pintu Pengaduan Kasus Freeport)

Buya mengatakan Setya Novanto sudah melakukan bantahan. Dua wakil pimpinan dewan juga membela Setya. “Setya Novanto dibela Fadli Zon dan Fahri Hamzah,” ucap Buya.

Sebelumnya Wakil Ketua DPR Fadli Zon mencium aroma politis di balik tudingan Menteri ESDM Sudirman Said yang menyebut Setya Novanto mencatut nama Presiden Jokowi dan wakilnya jusuf Kalla guna melobi permintaan jatah saham PT Freeport Indonesia.

Pasalnya, Fadli tidak yakin koleganya di parlemen itu melakukan lobi dengan mengatasnamakan persona yang menjadi simbol negara. Terlebih, kata dia, Novanto sendiri telah berulang kali menegaskan bantahannya.

Kalaupun MKD punya niatan untuk menindaklanjuti laporan Said, kata Fadli, Novanto dalam hal ini perlu terlebih dulu mempelajari apa yang menjadi dasar pokok materi dan sejauh mana kelengkapan bukti dapat menunjang tuduhan Said. (obs)

Syafii Maarif: Terorisme Hancurkan Peradaban Islam

Pengarang: http://nasional.tempo.co

TEMPO.CO, Yogyakarta – Para teroris yang mengatasnamakan agama sebagai dasar tindakan mereka justru menjadi penghancur peradaban Islam. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M. Syafii Maarif menyatakan tindakan teroris itu bukan menggambarkan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

“Teroris tidak mempunyai hati dan perasaan. Mereka tega membunuh dan membantai sesama saudaranya,” kata Syafii, Kamis, 29 Oktober 2015.

Dalam dialog dengan tema “Program Damai Dunia Maya” yang diselenggarakan di Jogja Expo Center ini, ia menambahkan, teroris menghancurkan peradaban Islam. Karena tindakan mereka, Islam menjadi sasaran kritik semua masyarakat. Bukan hanya masyarakat internasional, masyarakat Indonesia pun banyak yang menuduh.

Ia juga mengkritik ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang muncul di Suriah dan Irak. Mereka membabi buta menghantam sesama kelompoknya, yaitu Sunni. Menurut Buya Syafii—sapaan Syafii Maarif—orang-orang ISIS adalah Sunni, bukan Syiah, tapi mereka membunuh dan membantai orang-orang Sunni.

Kehadiran ISIS, kata dia, justru menjadi malapetaka bagi umat Islam. Jika ISIS menjadi idola anak-anak muda Indonesia, itu merupakan sebuah kesalahan fatal. Sebab, selain mengikuti organisasi yang sama sekali tidak mencerminkan Islam, juga akan mengancam stabilitas negara Republik Indonesia. Dengan demikian, ISIS harus diperangi bersama.

“Seorang muslim harus membersihkan pikiran dan hati jika ia ingin menjadi muslim yang baik,” ujarnya.

Nukman Luthfie, pakar media sosial, mengatakan kemiskinan dan pendidikan rendah merupakan salah satu faktor utama munculnya kelompok-kelompok radikal atau ekstremisme. Di Indonesia, ada 40 ribu anak yang tidak memiliki akses pendidikan ke tingkat dasar dan 6 juta anak-anak yang belajar di SD dan SMP serta lulusan SMA tidak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

“Jika pemerintah tidak mampu memberikan akses pendidikan kepada warga secara menyeluruh, ini adalah salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia,” tuturnya.

Dissecting life, mind of Maarif on stage

Pengarang: thejakartapost.com

To have the whole life journey of a nation builder wrapped up in a one-hour stage play is a challenge only veteran performers can live up to.

Theater troupe Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo and contemporary ethnic music group Kua Etnika presented Fundamentalis Insyaf (A Repented Fundamentalist) — a play about the fundamental turn in the life of Ahmad Syafii Maarif.

Maarif, popularly known as Buya Syafii, is a prominent intellectual who led Muhammadiyah, one of the two biggest Muslim organizations in the country, during the Reformasi era from 1998 to 2005.

While the content of the story itself was considered “heavy” as it touched the issues of Islamism and civil society, the troupe delivered the message in a lively fashion that perhaps can make the words of Maarif stay longer with the audience.

Led by brothers Butet Kertaredjasa and Djaduk Ferianto, the play was a collaborative performance involving 40 actors, dancers, musicians and graphic artists using the medium of digital multimedia.

The performance was held on Nov. 5 at the Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) auditorium, Kuningan, South Jakarta.

“We held the performance to commemorate the 80th anniversary of Buya’s birthday this year and to reintroduce to a younger generation his nationalistic thoughts in time for National Heroes Day on Nov. 10,” said Fajar Riza Ul Haq, the executive director of the Maarif Institute who organized the event.

Aside from the play, the Institute launched a biography of Maarif and a reprint of a book authored by Maarif. In December, a graphic novel entitled Ahmad Syafii Maarif dan Sahabat-sahabatnya (Maarif and His Friends) will be released.

Djaduk, as the director of the performance and part of the creative team together with Butet and Agus Noor, divided the play into three main parts: The childhood of Maarif, his struggle for higher education while in Yogyakarta and his light-bulb moment at 43-years-old while studying in the US.

Butet and Whani Dharmawan played two wanderers who acted as narrators for the play.

They exchanged jokes and fed each other with more bait jokes to the amusement of the audience comprising politicians, government officials and Muhammadiyah supporters, including Maarif’s friends from an interfaith dialogue group.

The rest of the actors who were seated on the stage at times loudly whispered to the narrators, packaging their words in such way as if they were in the script.

Although Butet and Whani’s airtime dominated the show, none of the performers were to be underestimated.

Rukman Rosadi, who played young Syafii, used a thick Minang accent while talking to his friends (played by Ferry Ludiyanto and Yusuf Abdillah) about his idea of Islamism in Indonesia.

The serious discussion was made less so as they were talking over a street-side bakmi (meatball soup with noodles) feast while the stall owner (played by Broto Wijayanto) juggled his ladle and wok.

By the end of the show, through the conversation between Maarif and his wife (Lita Pauh), the real Maarif’s famous quotes about his transformation of ideas after meeting with US-based Muslim scholar Fazlur Rahman were inserted.

“I’ve been accused of being a minion of Orientalists, Jewish and liberal. Let them be. The moral stance I hold to this day will show them where I stand.”

On the darkened stage, Maarif was shown to utter all his thoughts, conferring with the two wanderers, which ended with his conviction about the future Indonesia: “I believe someday that Islam, Indonesia and humanity will be spoken of in single breath”.

Fajar said that the artists delivered the transformation of Maarif from being the supporter of Indonesia as an Islamic country to being a strong opponent of the very idea.

“Theater can communicate these ideas in a more fun and interesting fashion,” he said.

The play was not the only effort ever made to introduce the laureate of the 2008 Ramon Magsaysay Award for Peace and International Understanding to the public.

In 2011, a film entitled Si Anak Kampoeng (Village Boy) was released telling the story of Maarif’s childhood in remote village Sumpur Kudus in West Sumatra. Born into a poor family of the Minang ethnic group, Maarif was shown struggling to get a higher education while upholding religious values.

The film, directed by Damien Dematra, was screened at various international film festivals and received many awards.

“I hope spreading words about Buya will inspire more people to follow his steps and thoughts,” said Fajar.