Tag Archive for: Al-Quran

Resep Menghadirkan Al-Qur’an dalam Hidup

Oleh: Suyoto, Pengajar Unmuh Gresik, Mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah

Semua Muslim meyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah dan petunjuk hidup. Namun dalam praktiknya, cara menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan ternyata tidak selalu menghasilkan wajah yang sama. Kitab yang sama dibaca oleh umat yang sama, tetapi hasilnya bisa berbeda. Ada yang menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta, menumbuhkan kasih sayang, kedamaian, dan keadilan. Tetapi ada pula yang menampilkan wajah keras, sempit, bahkan melahirkan konflik.

Jika sumbernya sama, mengapa hasilnya berbeda?

Barangkali kita dapat memahami persoalan ini dengan sebuah perumpamaan sederhana. Al-Qur’an ibarat sebuah apotek besar yang penuh dengan obat. Di dalamnya terdapat berbagai “obat” bagi penyakit manusia: kesombongan, keputusasaan, keserakahan, ketidakadilan, hingga kerusakan hubungan sosial. Namun sebagaimana apotek, obat tidak bisa diambil sembarangan. Ia memerlukan resep yang tepat.
Tanpa resep yang benar, obat yang seharusnya menyembuhkan justru dapat menimbulkan efek samping.

Manusia hidup dalam berbagai dimensi: fisikal dan batiniah, privat dan sosial, domestik dan publik. Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi seluruh dimensi itu. Tetapi ayat-ayatnya perlu “diracik” secara tepat agar benar-benar menghidupkan kehidupan manusia.

Dalam wilayah batiniah, misalnya, manusia membutuhkan ayat-ayat yang menumbuhkan kesadaran ketuhanan dan kedamaian jiwa. Al-Qur’an menyebut keadaan ini sebagai nafs al-muthmainnah, jiwa yang tenang (QS Al-Fajr: 27–28). Dari kesadaran ini lahir kemampuan menahan diri (imsak), menghadirkan kesadaran penuh (khusyuk), serta berkata jujur dan benar (qaulan sadidan) sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an (QS Al-Ahzab: 70).

Namun jika salah meracik resep spiritual, seseorang bisa terjebak pada keberagamaan yang hanya bersifat simbolik. Agama hadir dalam bentuk atribut dan identitas, tetapi tidak menyentuh kedalaman batin. Alih-alih menghadirkan kebahagiaan, agama justru terasa berat dan penuh beban.

Padahal Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kehidupan. Beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari). Belajar di sini bukan hanya membaca, tetapi memahami dan menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan.

Dalam kehidupan keluarga, Al-Qur’an juga memberi resep yang indah. Tujuan pernikahan bukan sekadar membangun rumah tangga, tetapi menghadirkan ketenangan dan kasih sayang. Allah berfirman: “Agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah)” (QS Ar-Rum: 21).

Jika ayat ini benar-benar dihidupkan, keluarga akan menjadi taman kehidupan yang membahagiakan semua anggotanya. Suami-istri saling menguatkan, orang tua dan anak saling menghidupkan, dan rumah menjadi ruang tumbuhnya empati serta kebaikan.

Sementara itu dalam kehidupan publik, Al-Qur’an perlu dihadirkan sebagai kompas moral. Nilai keadilan, kejujuran, dan amanah harus menjadi dasar relasi sosial dan politik. Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat” (QS An-Nahl: 90). Ayat ini sering disebut para ulama sebagai salah satu ayat paling komprehensif tentang etika sosial.

Pemikir Muslim kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, mengingatkan bahwa pesan Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam. Menurutnya, krisis spiritual manusia modern terjadi karena manusia kehilangan kesadaran sakral terhadap alam. Karena itu, menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan publik berarti juga menjaga keseimbangan kosmos dan merawat bumi sebagai amanah Tuhan.

Hidup ini memang amanah. Manusia diangkat sebagai khalifah di bumi (QS Al-Baqarah: 30). Amanah ini menuntut manusia untuk mengelola kehidupan secara bertanggung jawab. Kesejahteraan tidak datang secara fatalistik, seolah semua persoalan cukup diserahkan kepada takdir.

Dalam Islam, kesejahteraan justru lahir dari ikhtiar manusia yang memahami hukum-hukum kehidupan: sunnatullah dalam kehidupan sosial dan qadarullah dalam alam.

Karena itu menghadirkan Al-Qur’an dalam hidup membutuhkan kesadaran dan kemampuan merumuskan “resep” yang tepat. Setidaknya ada beberapa langkah penting.
Pertama, memahami hidup sebagai perjalanan menuju akhirat, dengan kehidupan dunia sebagai amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab.

Kedua, menyadari diri sebagai khalifah yang memiliki ruang ikhtiar dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Ketiga, menjadikan kebahagiaan manusia dan rahmatan lil ‘alamin sebagai kompas dalam menghadirkan Al-Qur’an.

Keempat, meningkatkan kapasitas khusyuk, yaitu kemampuan melihat ke dalam diri secara jernih sehingga mampu membedakan antara panggilan ego dan panggilan rahmat bagi sesama.
Kelima, terus merefleksikan dinamika kehidupan dengan menempatkan keseimbangan (al-mizan) sebagai orientasi—keseimbangan spiritual, sosial, dan harmoni alam.

Keenam, menumbuhkan kemampuan tafakkur, tadabbur, dan tazakkur. Semua ini hanya mungkin jika manusia terus melatih kemampuan mendengar, membuka hati, menjernihkan pikiran, dan memurnikan niat.

Pada akhirnya, Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca, tetapi petunjuk hidup yang harus dihidupkan. Ia seperti apotek besar yang penuh dengan obat bagi berbagai penyakit manusia.Tetapi obat hanya menyembuhkan jika resepnya tepat.

Jika resep itu dirumuskan dengan kesadaran spiritual, kepekaan sosial, dan tanggung jawab ekologis, maka Al-Qur’an benar-benar akan hadir sebagai rahmat bagi semesta. Sebagaimana firman Allah: “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Al-Isra: 82).

Dan di situlah Al-Qur’an menemukan makna sejatinya: bukan sekadar dibaca, tetapi dihadirkan sebagai cahaya yang menuntun kehidupan.

Gresik, 6 Maret 2026

Andar Nubowo: Wahyu dan Sains Perlu Dipahami dan Digunakan untuk Gerakan Sosial Baru

MAARIF Institute, Jakarta – Wahyu dan Sains perlu dipahami dan dipergunakan untuk sebuah gerakan sosial baru untuk pencapaian summum bonum– kemasalahatan tertinggi manusia dan alam semesta. Kutipan tersebut disampaikan oleh Andar Nubowo, Direktur Eksekutif MAARiF Institute dalam acara Launching dan Diskusi Buku “Tafsir dan Hal-Hal yang Tak Selesai” karya Muhammad Bukhari Muslim di Pendidikan Kader Ulama – Masjid Istiqlal (2/3/25). Acara yang digelar oleh DPD IMM DKI Jakarta tersebut dihadiri oleh Andar Nubowo, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, KH Faried F. Saenong, Koordinator Stafsus Menteri Agama RI, dan KH Mulawarman Hanase.

Dalam paparanya Andar mengajak anak-anak muda untuk tak lelah memahami Al-Qur’an dengan pendekatan hermeneutis, ilmu sosial dan sains-teknologi, serta new social movement. Menurutnya, tiga metode tersebut penting digunakan untuk menangkap dan memahami pesan kunci Al-Quran di tengah pelbagai persoalan akut kemanusiaan dan alam semesta dewasa ini. 

Lebih lanjut Andar mengatakan bahwa Al-Quran, seperti kata Baginda Ali ibn Thalib, adalah teks bisu yang perlu olah pikir dan hati manusia untuk mengkidung-hidupkan makna dan ajarannya. “Pembacaan liberatif, saintifik, dan humanis terhadap Verbum Dei (kalamullah) ini merupakan kewajiban intelektual yang dilakukan secara bebas dan tanpa perlu rasa takut”, tegas Andar. 

Andar juga mengingatkan bahwa kalam Tuhan itu tidak hanya sebatas pada kitab yang tertulis, namun ia juga terhampar di muka bumi ini.

“Kalam Tuhan tentu tak terbatas pada kitab yang tertulis, Ia juga menghampar pada wujud alam semesta. Dalam perkara inilah, kebenaran dan sumber pengetahuan itu tak sebatas pada Kitab Suci, tetapi juga pada alam semesta raya yang tak terbatas. Wahyu dan Sains perlu dipahami dan dipergunakan untuk sebuah gerakan sosial baru untuk pencapaian summum bonum– kemasalahatan tertinggi manusia dan alam semesta”, tutup Andar. 

 

Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

“Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus 10:57)

 

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk, bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dengan yangn batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

 

Al-Quran bagi orang Islam adalah pedoman hidup, sumber segala hukum yang harus diikuti dalam hidupnya. Al Qur’an, selain sebagai al-huda (sumber petunjuk), juga merupakan asy-syifa (penyembuh) sebagaimana tertera dalam surah Yunus, ayat 57 di atas. Ibnu Katsir mengatakan, “Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).

 

Al-Quran sebagai pedoman hidup memberikan petunjuk lengkap terhadap aturan-aturan hidup manusia yang dapat menciptakan kehidupan yang nyaman, bahagia dan sejahtera. Hal yang paling penting lagi adalah ketika al-Quran telah disepakati sebagai pedoman hidup umat Islam, maka semua hal dalam kehidupan umat Islam harus menjadikan al-Quran sebagai pedomannya. Termasuk, ketika ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri dalam menerjemahkan al-Quran dan hadis Nabi, termasuk dalam hal hukum fikih, kita harus kembali kepada al-Quran.

 

Al-Quran sendiri memesankan, jika terjadi perbedaan di antara kamu maka kembalilah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (hadis). Paling tidak pesan al-Quran “agar umat Islam bersatu dan jangan berpecah belah” (Ali Imran: 103) dan “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10)

 

Al-Quran adalah sumber pertama dan utama yang mengandung banyak ajaran umum. Oleh karena itu, hadits sebagai sumber ajaran kedua dapat menjelaskan keumuman dari Al-Qur’an itu sendiri. Fungsi tersebut antara lain menjelaskan isi dan menerapkan metode pengajaran yang masih bersifat luas bagi manusia. Setiap muslim diwajibkan untuk mengikutsertakan al-Quran sebagai pedoman hidupnya untuk menjalankan segala aktivitas dalam hidupnya. Bisa digunakan untuk beraktivitas sehari-hari, menjalankan bisnis, hingga dalam adab menuntut ilmu. Semuanya ada unsur pedoman al-Quran di dalamnya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (Az Zukhruf; 43). Berpegang teguh dengan wahyu Allah meliputi al-Quran serta sumber lainnya yang tidak kalah penting pengaplikasiannya, seperti hadist dan ijtihad ulama yang digunakan sebagai penerang hukum Allah.

 

  1. Quraish Shihab menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan hukum Islam, yaitu aturan yang mengatur dunia dan keselamatan hidup di masa yang akan datang. Para ulama meyakini bahwa Al-Quran adalah yang utama dan hadits adalah yang kedua. Kesepakatan mengenai kedudukan tersebut mengacu kepada perkataan Nabi kepada Muadz bin Jabal sebagaimana berikut;

 

Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: Bagaimana kamu akan memutuskan perkara jika dihadapkan pada suatu persoalan hukum? Mu’adz menjawab: saya akan memutuskannya berdasarkan kitab Allah (al-Qur’an). Rasulullah bersabda: jika kamu tidak menjumpainya dalam al-Qur’an?. Mu’adz menjawab: maka berdasarkan pada sunnah Rasul. Rasulullah bersabda: jika tidak menjumpainya juga dalam sunnah Rasul? Muadz menjawab: saya akan berijtihad berdasarkan akal pikiran saya.” (HR Imam Abu Dawud)

 

Pemahaman terhadap Al-Quran dan hadis wajib dimiliki oleh seluruh umat yang mengimaninya terlebih sejak dini agar lebih membekas dan bermakna. Allah SWT menurunkan al-Quran untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Al-Quran juga merupakan sebuah mukjizat dari Rasullah SAW yang merupakan perkara luar biasa dari Allah ke Rasullah yang tidak akan bisa ditandingi. Al-Quran memiliki keistimewaan di antaranya adalah susunan bahasanya merupakan kelas sastra tinggi, apabila dibaca akan memberikan nur atau cahaya di hati, sehingga tidak akan membosankan dan ini berlaku hingga akhir zaman. Al-Quran adalah kitab suci terlengkap dan berlaku bagi semua umat manusia sampai akhir zaman. Oleh karena itu, sebagai muslim, kita tidak perlu meragukannya. Firman Allah: Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah/2: 2).

 

Sebagai umat Islam, tentu wajib mengimani dan mempercayai isi al-Quran terlebih lagi telah menjadi pedoman hidup umat Islam. Cara mengamalkan isi al-Quran adalah dengan mempelajari cara belajar membaca (mengaji) baik melalui iqra’, qiraati, atau yang lainnya. Kemudian, mempelajari artinya, menganalisis isinya, dan langsung mengamalkannya.

 

Menjaga kemurnian al-Quran adalah tugas seorang muslim. Salah satu cara menjaga al-Quran adalah dengan berusaha menghormati, memuliakan, dan menjunjung tinggi kitab suci al-Quran. Menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup, dan tidak sekali-kali berpedoman kepada selain al-Quran.   Berusaha untuk membaca al-Quran dalam segala kesempatan serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di waktu sempit maupun di waktu lapang.

 

Aktivitas membaca al-Quran merupakan cara yang paling awal untuk bisa menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Alquran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR Muslim)

 

Al-Quran juga berfungsi sebagai nasihat. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran, nasihat-nasihat, peringatan tentang kehidupan bagi orang yang bertakwa, yang berjalan di jalan Allah. Nasihat yang ada dalam al-Quran biasanya berkaitan dengan sebuah peristiwa atau kejadian. Peristiwa itu bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang di masa sekarang atau masa setelah ini.

 

Menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup, telah menjadi tradisi sejak zaman rasulullah, para sahabat, hingga ulama terdahulu sebagai nilai dasar peradaban islam. Buktinya, mereka tidak hanya sekedar menghafalkan al-Quran saja, namun juga memahami, hingga mengamalkan setiap kandungan ayat al-Quran dalam kehidupannya, serta menuangkan hasil intrepertasinya kedalam buku-buku yang ditulis, sebagai bukti kejayaan peradabaan islam pada masa lalu. Itulah mengapa para sahabat zaman dahulu menjadi orang-orang yang alim ilmunya, sholeh amalnya karena iman dan al-quran masuk menjadi satu. Oleh karena itu, perlu adanya kita mencontoh kehidupan Rasulullah SAW, dan para sahabat yang selalu menjadikan al-Quran bagian hidup, mulai dari tutur katanya, perilakunya hingga pengetahuannya yang selalu terinspirasi dari kandungan al-Quran.

 

Kita semua tentu menyadari dan mengimani bahwa dalam Al-Quran terdapat banyak mutiara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam al-Quran terdapat kebaikan dan ilmu yang banyak, petunjuk dari kesesatan, obat dari penyakit, cahaya untuk menerangi kegelapan dan hukum yang berlaku bagi umat manusia. Mentadabburi ayat-ayatnya, merenungkan maknanya serta memikirkannya, seseorang akan mendapatkan berkah dan kebaikan yang ada dalam Al-Quran.

 

Ust. Nasruddin, Pengurus Masjid Al-Barkah, Cakung, Jakarta Timur

 

e-Buletin Jumat edisi 32, 10 September 2021 M. / 03 Safar 1443 H. dapat diunduh disini