Tag Archive for: Suyoto

Islam Berkemajuan, Trauma Sosial, dan Masa Depan Demokrasi

Oleh: Suyoto (pengajar Unmuh Gresik, mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Sekretaris Yayasan Ahmad Syafii Maarif)

Muhammadiyah sejak kelahirannya menempatkan Islam bukan sekadar sebagai warisan, melainkan sebagai daya gerak peradaban. Almarhum KH AR Fachrudin, salah satu ketua umum PP Muhammadiyah yang paling membumi, menyebut Muhammadiyah sebagai “beragama Islam dengan semangat berkemajuan.” Dari sini lahir konsep Islam Berkemajuan—Islam yang bertauhid murni, rasional, berpihak pada kemanusiaan, dan berorientasi masa depan.

Namun dalam konteks Indonesia hari ini—di tengah demokrasi yang makin prosedural, ketimpangan yang melebar, dan krisis ekologi yang mengancam masa depan—pertanyaan penting perlu diajukan: sejauh mana Islam Berkemajuan telah hadir sebagai kekuatan transformatif, bukan sekadar normatif?

Beban Sejarah dan Mentalitas Kehati-hatian

Secara ideologis, Islam Berkemajuan bertumpu pada tauhid, tajdid (pembaruan), rasionalitas, dan keberpihakan pada keadilan sosial. Amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial adalah kontribusi nyata yang tak terbantahkan.

Namun gerakan sosial tidak lahir di ruang hampa. Muhammadiyah tumbuh dalam sejarah panjang perdebatan keagamaan, tekanan politik, dan pengalaman depolitisasi. Dalam banyak fase sejarah, kehati-hatian menjadi strategi bertahan yang rasional.

Masalah muncul ketika mentalitas bertahan itu membeku menjadi kebiasaan kolektif. Trauma kesejarahan—yang sering tak disadari—dapat membuat Islam Berkemajuan tampil aman, tetapi kurang menggugah; kuat dalam pelayanan, tetapi kurang berani menyentuh akar ketimpangan struktural.

Islam Berkemajuan dan Tantangan Demokrasi

Demokrasi Indonesia hari ini menghadapi tantangan serius: melemahnya etika publik, politik transaksional, dan berkurangnya kepercayaan rakyat. Demokrasi berjalan, tetapi sering kehilangan ruh keadilan dan partisipasi bermakna.

Islam Berkemajuan seharusnya tidak berhenti pada sikap netral dan moderat. Tauhid menuntut keberpihakan etis. Ketika demokrasi menjauh dari nilai keadilan sosial, Islam Berkemajuan ditantang untuk hadir sebagai suara moral—bukan partisan, tetapi juga bukan penonton.

Tanpa keberanian ini, trauma politik masa lalu justru berisiko membuat agama menjauh dari tugas profetiknya dalam menjaga martabat manusia dan kedaulatan rakyat.

Krisis Ekologi dan Tauhid yang Terlupakan

Krisis ekologi adalah ujian paling nyata bagi Islam Berkemajuan. Kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan eksploitasi sumber daya alam bukan sekadar persoalan teknis, tetapi krisis tauhid: manusia menempatkan diri sebagai pusat, bukan sebagai penjaga kehidupan.

Jika Islam Berkemajuan hanya berbicara tentang kemajuan manusia tanpa kesadaran ekologis, maka ia berisiko terjebak dalam logika pembangunan yang justru merusak masa depan.

Tauhid menuntut pergeseran dari ego ke eco—kesadaran bahwa manusia, alam, dan generasi mendatang berada dalam satu ekosistem amanah. Di sinilah Islam Berkemajuan perlu memperluas horizon dakwahnya: dari amal usaha ke keadilan ekologis.

Ketimpangan Sosial dan Rasionalitas yang Kering

Ketimpangan ekonomi yang kian melebar menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak otomatis menghadirkan keadilan. Dalam situasi ini, rasionalitas dan manajemen modern—yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah—perlu dilengkapi dengan kepekaan tauhid yang hidup.

Tauhid bukan sekadar pembersihan akidah, melainkan pembebasan dari penghambaan pada kekuasaan, modal, dan angka-angka statistik. Islam Berkemajuan kehilangan daya pencerahannya jika terlalu nyaman dengan stabilitas, tetapi abai pada jeritan mereka yang tertinggal.

Tauhid sebagai Jalan Penyembuhan Trauma Sosial

Trauma sosial—akibat ketidakadilan, kekerasan, dan kegagalan negara—sering diwariskan lintas generasi. Ia hidup dalam rasa takut, sinisme, dan saling curiga. Jika tidak diolah, trauma menjadi bahan bakar konflik baru.

Tauhid menawarkan jalan penyembuhan yang mendalam. Ia menggeser pusat narasi dari ego dan luka menuju kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia. Luka tidak disangkal, tetapi diubah menjadi hikmah dan tanggung jawab moral.

Dalam kerangka ini, Islam Berkemajuan adalah proyek regenerasi sosial: dari ego kolektif menuju eco—kesadaran kehidupan bersama yang adil, lestari, dan bermartabat.

Penutup
Islam Berkemajuan bukan sekadar agenda modernisasi umat, melainkan proyek pencerahan kebangsaan. Di tengah krisis demokrasi, ekologi, dan ketimpangan, Islam Berkemajuan diuji: apakah ia hanya menjadi identitas, atau benar-benar menjadi kekuatan transformasi.

Muhammadiyah sendiri tidak kekurangan konsep dan amal. Tantangannya adalah bagaimana terus menghadirkan keberanian tauhid—keberanian untuk menyembuhkan trauma kolektif, menegakkan keadilan, dan merawat masa depan bersama.

Gerakan yang besar bukan yang bebas luka, melainkan yang mampu mengolah luka menjadi cahaya peradaban.

Gresik, 30 Januari 2026

Tauhid sebagai Disiplin Kesadaran, Catatan Ziarah dan Umrah: Mesir–Madinah–Makkah

Oleh: Suyoto, pengajar Unmuh Gresik, Sekretaris Yayasan A Syafii Maarif

Perjalanan spiritual sering dipahami sebagai pergerakan tubuh dari satu tempat suci ke tempat suci lain. Namun dalam ziarah dan umrah yang saya jalani ke Mesir, Madinah, dan Makkah (18–30 Desember 2025), makna terdalamnya justru terletak pada perjalanan kesadaran: sejauh mana manusia mampu menjaga Tuhan tetap hadir sebagai pusat orientasi hidup.

Tuhan hadir ketika manusia berada dalam kesadaran penuh. Sebaliknya, ketika lengah, ego dengan mudah mengambil alih peran ketuhanan dalam diri. Pergulatan inilah yang terasa kuat ketika berziarah ke makam Muhammad Al-Bushiri di Iskandaria, Imam Hasan cucu Nabi Muhammad di Kairo, Masjid Al-Azhar, Piramida, hingga mumi Firaun. Sejarah, spiritualitas, dan kemanusiaan bertemu dalam satu lanskap yang sama—menghadapkan manusia pada pilihan: tunduk pada ego atau pada tauhid.

Ziarah kepada tokoh-tokoh sejarah Islam bukan sekadar napak tilas romantik, melainkan ruang refleksi kritis. Dalam memuliakan Nabi Muhammad, seseorang sesungguhnya sedang bercermin pada dirinya sendiri: sejauh mana nilai-nilai kenabian hidup dalam laku keseharian. Sementara itu, menghadap Allah membuka ruang yang lebih luas—ruang diri, sosial, spasial, dan kesejarahan sekaligus.

Luka sejarah Islam, seperti tragedi pembunuhan Imam Hasan, tidak cukup diperlakukan sebagai kisah duka yang diwariskan secara emosional. Luka itu perlu dipeluk dengan kewarasan agar tidak menjelma menjadi sumber dendam, polarisasi, atau legitimasi kekerasan di masa kini. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan tanggung jawab etik dan kebijakan publik.

Kehidupan manusia dapat dipahami sebagai sebuah panggung batin. Setiap orang membangun panggungnya sendiri. Pertanyaan mendasarnya bukan siapa yang tampil di panggung, melainkan siapa yang menjadi sutradara. Tanpa kesadaran ini, yang seharusnya menjadi sutradara—Tuhan—dapat tergeser menjadi sekadar simbol, sementara ego mengambil alih kendali. Ironisnya, perebutan panggung ini sering dilakukan dengan bahasa agama dan simbol ketuhanan.

Dalam berbagai ruang—ritual, sosial, intelektual—banyak “sutradara” berlomba menarik perhatian kesadaran manusia. Tidak jarang, mereka tampil dengan wajah kesalehan. Di titik inilah agama berisiko kehilangan daya pembebasannya dan justru menjadi alat pembenaran ego kolektif.

Tradisi spiritual Islam mengenal jenjang kesadaran jiwa. Ketika panggung batin dikuasai dorongan hewani dan emosi, muncullah nafs amarah atau lawwamah. Namun ketika Tuhan ditempatkan sebagai pusat orientasi, lahirlah kesadaran yang lebih jernih—nafs mulhamah—yang memungkinkan manusia menimbang, memilih, dan bertindak dengan tanggung jawab moral.

Manusia memang dianugerahi naluri ketuhanan, tetapi juga membawa kecenderungan kesenangan: pada pasangan, keturunan, harta, kekuasaan, dan kedudukan. Ketika kecenderungan ini dibiarkan tanpa pengelolaan kesadaran, ia dengan mudah memperalat agama, ideologi, bahkan peran publik. Sejarah menunjukkan bagaimana simbol-simbol suci kerap dijadikan instrumen konflik. Padahal, tokoh-tokoh seperti Al-Bushiri menulis puisi dan doa bukan untuk membangun sekat, melainkan untuk menghadirkan cinta dan keteladanan.

Tauhid, dalam konteks ini, bukan sekadar doktrin teologis, melainkan disiplin kesadaran. Ia menuntut latihan batin yang berkelanjutan. Setidaknya ada empat unsur penting: kesadaran diri, keberanian memilih dengan orientasi ketuhanan, aktualisasi pilihan dalam tindakan nyata, serta istiqamah. Kalimat tauhid menjadi laku hidup: la ilaha—kesadaran akan banyak “tuhan” palsu yang berebut kuasa; illa—keberanian memilih; Allah—peneguhan orientasi nilai; dan Muhammad—keteladanan sebagai proses belajar tanpa henti.

Di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, tantangan tauhid justru terasa sangat manusiawi. Jamaah datang membawa identitas: mazhab, kelompok, kebangsaan, bahkan kepentingan duniawi. Identitas ini sering kali menghambat proses melepaskan ego dan menghadirkan Tuhan. Ritual, zikir, dan doa berisiko menjadi rutinitas mekanis jika tidak disertai kesadaran reflektif.

Perkembangan ruang digital menambah kompleksitas baru. Media sosial memungkinkan pengalaman spiritual diekspos secara instan. Tanpa kesadaran tauhid, ruang digital justru menguatkan hasrat pengakuan, bukan kedalaman makna.

Menarik mencermati pengelolaan jamaah di Makkah yang kini semakin berorientasi pada ketertiban dan pelayanan. Pengaturan arus ibadah, prioritas bagi kelompok rentan, serta pemanfaatan data jamaah menunjukkan bahwa spiritualitas publik membutuhkan tata kelola yang adil dan rasional. Kesalehan personal dan keteraturan sosial tidak perlu dipertentangkan.

Dalam perjalanan ini, saya memilih memburu tauhid, bukan memburu tempat “mustajabah”. Mengalir dalam keteraturan, sembari menjaga agar Tuhan tetap menjadi sutradara utama dalam panggung batin.

Pada akhirnya, spiritualitas bukan soal seberapa jauh seseorang berjalan, melainkan seberapa dalam ia hadir. Tauhid menemukan maknanya bukan hanya di tempat suci, tetapi dalam cara manusia memaknai sejarah, merawat kemanusiaan, dan membangun masa depan bersama.

Gresik, 31 Desember 2025