Wapres JK Buka Halaqah Nasional Ulama dan Cendekiawan di Jakarta Pusat

Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka acara Halaqah Nasional Ulama dan Cendekiawan bertema “Peran Ulama Dalam Membangun Kehidupan Bangsa Yang Harmoni” di Hotel Milenium, Jakarta, Kamis (16/11) malam. JK tiba di lokasi mengenakan batik berwarna cokelat sekitar pukul 19.10 WIB.
Dewan Pembina Maarif Institute Amin Abdullah mengatakan, acara ini akan berlangsung selama 3 hari yakni dari 16-19 November. Acara dihadiri setidaknya sekitar 90 orang ulama dari berbagai daerah.di Indonesia.
“(Halaqah) Mendiskusikan secara keilmuan peran cendekiawan-ulama dalam berbangsa hidup dan bernegara,” kata Amin di Hotel MIllenium, Jakarta, Kamis (16/11).
Amin mengatakan bahwa diskusi selama tiga hari ke depan juga akan menyinggung beberapa hal terkait situasi dalam negeri dan luar negeri serta yang berkaitan dengan dunia keislaman.
“Belakangan sepuluh tahun 20 tahun fenomena takfiriah, fenomena khilafah islamiyah, daulah islamiyah, NKRI Syariah mulai muncul. Untuk itulah halaqah ulama cendekiawan untuk membahas harmoni kebangsaan dibutuhkan betul,” ujar Amin.
“Muncul UU Ormas baru meski akan dibahas usulan perbaikannya tapi sudah disetujui mayoritas di DPR, dan yang ketiga keputusan MK tentang penghayat kepercayaan. Saya kira tiga hal itu penting dalam perjalanan berkebangsaan kita,” tambahnya.
Kegiatan ini merupakan kerjasama MAARIF Institute, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Lakpesdam NU, dan Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila.
Saat ini acara masih berlangsung. Selain JK, tampak hadir juga Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin dan Budayawan Romo Magnis Suseno.
Sumber:
https://kumparan.com/jihad-akbar1487918664529/wapres-jk-buka-halaqah-nasional-ulama-dan-cendekiawan-di-jakarta-pusat#PIfBG40CucRCMWGA.99

Jusuf Kalla Ingin Gagas Program Sehat Ulama dan Mubaligh di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan keinginannya untuk membuat program sehat ulama dan mubaligh di Indonesia.

Hal itu disampaikannya ketika membuka acara “Halaqah Nasional Ulama dan Cendekiawan” di hotel Millenium, Jakarta Pusat, Kamis malam (16/11/2017).

“Mari kita bikin program sehat ulama mubaligh. Itu asuransi kesehatan yang paling hebat. Semua ulama kita jamin kesehatannya. Kelasnya harus nomor satu,” kata Kalla.

Ide program itu, kata Kalla, berawal dari fakta bahwa setiap kondisi suka dan duka yang dialami setiap orang selalu membutuhkan kehadiran ulama.

“Kalau ada kematian atau sakit keras, pasti cari ulama dan minta doakan, begitu pula kalau mau kawinkan anak, aqiqah, rumah baru pasti undang ulama baca doa dan sebagainya,” kata Kalla.

Di lain sisi, ketika ulama sakit juga membutuhkan perhatian orang lain.

“Tentu (kalau) tidak ceramah atau khutbah rezekinya berkurang, padahal butuh biaya,” kata Kalla.

Melalui program itu, kata Kalla, semua ulama dan mubaligh akan dijamin kesehatannya.

“Jadi bayarnya 10 persen, di mana pun, mau beli obat apapun hanya 10 persen. Kenapa 10 persen? Ulama tahu sumbangan yang akan dia terima, dikali saja 10 kali,” kata dia.

“Supaya juga jangan foya-foya, itu gambaran bagaimana pandangan kita kepada para ulama,” tutup Kalla.

Diketahui Halaqah Nasional Ulama dan Cendekiawan itu digelar atas kerjasama Ma’arif Institute bersama Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Lakpesdam NU dan UKP-Pembinaan Ideologi Pancasila.

Mengambil tema “Peran Ulama dalam Membangun Kehidupan Bangsa yang Harmoni” kegiatan itu merupakan ajang untuk melakukan kajian peran ulama dan cendekiawan di Indonesia dalam upaya membangun harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Juga untuk merumuskan ulang pandangan-pandangan dan opini keagamaan alternatif yang moderat, progresif, dengan visi ke-Indonesia-an dan kemanusiaan yang lebih dalam.

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2017/11/16/23515421/jusuf-kalla-ingin-gagas-program-sehat-ulama-dan-mubaligh-di-indonesia

Pengumuman Penerima MAARIF Fellowship 2017

SURAT KEPUTUSAN

Nomor: 040.020/MICH–B/Pnlt/X-17

Tentang:

Hasil Seleksi Tahap II

Terhadap Presentasi Proposal Penelitian

Nominees MAARIF Fellowship (MAF) 2017

 

MAARIF Institute for Culture and Humanity, setelah:

Menimbang :
  1. Pertemuan pertama Dewan Juri MAF 2017 pada tanggal 18 Juni 2017;
  2. Hasil seleksi administrasi tim MAF 2017;
  3.  Hasil penjurian tahap pertama Dewan Juri MAF 2017; dan
  4. Berita Acara Hasil Seleksi Tahap II Terhadap Presentasi Proposal Penelitian Nominees MAARIF Fellowship (MAF) 2017 pada Kamis, 12 Oktober 2017, terlampir.
Mengingat : Timeline kegiatan MAF 2017.
Memperhatikan : Kriteria yang tercantum dalam ToR Kegiatan MAF 2017.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : Nama-nama Penerima Hibah Penelitian MAF 2017.
Pertama : Nama-nama Penerima Hibah Penelitian MAF 2017 yang tercantum pada Berita Acara Hasil Seleksi Tahap II Terhadap Presentasi Proposal Penelitian Nominees MAARIF Fellowship (MAF) 2017, sebagaimana terlampir.
Kedua : Mengundang nama-nama sebagaimana tersebut pada poin pertama, untuk mengikuti tahap orientasi atau pembekalan yang akan dilaksanakan pada hari Minggu-Jum’at, 22-28 Oktober 2017, selama satu minggu, bertempat di MAARIF Institute – Jl. Tebet Barat Dalam II No.6, Jakarta Selatan 12810.

Fasilitas nominees selama kegiatan terlampir.

Ketiga : Keputusan ini tidak dapat diganggung gugat oleh pihak manapun dan tidak dapat dibatalkan oleh surat keputusan lain.
Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditandatangani.
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 16 Oktober 2017

 

Daftar Nama Nominees

Penerima Hibah Penelitian MAF 2017

 

No. Nama Perguruan Tinggi Judul Proposal
1. Husna Yuni Wulansari Universitas Gadjah Mada “Merefleksikan Peran Lembaga Filantropi Islam dalam Isu Radikalisme dan Terorisme di Indonesia : Agen Deradikalisasi atau Radikalisasi?”
2. MK Ridwan Institut Agama Islam Negeri Salatiga “Rethinking Mustahik dan Implikasinya Terhadap Posisi Mantan Narapidana Terorisme Sebagai Golongan Penerima Zakat”
3. Naomi Resti Aditya Universitas Gadjah Mada “Filantropi Islam untuk Perdamaian : Menakar Aktivisme dan Inklusivitas Filantropi Islam di Indonesia dalam Menangkal Radikalisme dan Membangun Solidaritas Umat Beragama”
4. Nurhasanah Universitas Tanjungpura Pontianak “Kontribusi Lembaga Sosial Berbasis Filantropi Terhadap Mantan Narapidana, Mantan Pengguna Narkoba, dan Pekerja Seks Komersial di Kota Pontianak”
5. Nurul Iffakhatul Sholihah Institut Agama Islam Negeri Surakarta “Islamic Charities, Education Equality, and Social Justice”
6. Waskito Wibowo Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta “Peran Filantropi Berbasis Masjid dalam Pendampingan Keluarga Narapidana Terorisme di Kabupaten Lamongan”

* nama berdasarkan abjad.

YouTuber Jangan Cuma Kreatif, tapi Juga Toleran

VIVA.co.id – Sekitar 150 pelajar SMA/SMK di Surabaya berkumpul di Coworking Space Koridor Gedung Siola Surabaya, Jawa Timur, Jumat 22 September 2017. Mereka hadir mengikuti lokakarya tentang bagaimana caranya berkreasi di dunia maya tapi tetap dalam koridor keberagaman.

Maraknya isu sosial seperti ujaran kebencian (hate speech), ketidaksukaan pada orang dari negara asing (xenophobia) dan ekstremisme yang berseliweran di media sosial sudah pasti akan berpengaruh buruk bagi generasi muda Indonesia di era digital seperti sekarang. Penanaman kesadaran tentang keberagaman dan toleransi dibutuhkan. Tujuannya, kreator digital muda mampu mengedukasi penonton atau pembaca.

Nah, atas alasan itulah Maarif Institut bekerja sama dengan Cameo Project menyelenggarakan lokakarya bertajuk YouTube Creators for Change. Hal yang diharapkan ialah munculnya YouTuber kreatif, tetapi mempertimbangkan dampak dari kreasinya terhadap lingkungan sosial.

“Program ini adalah upaya kreatif Maarif Institute untuk terus melakukan upaya konten terhadap fenomena radikalisme di kalangan anak muda. Upaya ini merupakan lanjutan dari program besar Maarif Institute yang sudah kami lakukan sejak tahun 2011 lalu bersama dengan Kemendikbud RI,” kata Direktur Program Maarif Institute, Khelmy K. Pribadi.

Head of Public Policy and Government Relations Google Indonesia, Shinto Nugroho, mengatakan kreator muda tidak hanya diperlukan soal bakatnya, tetapi juga kesadaran akan keberagaman. “Dan juga mampu menginspirasi masyarakat melalui  pesan dan konten video positif untuk terciptanya Indonesia yang lebih baik,” ucapnya.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan peran pelajar sangat penting dalam menangkal radikalisme, terutama yang memenetrasi masyarakat melalui media sosial. “Kegiatan ini sangat positif untuk pelajar di Surabaya, utamanya untuk melahirkan pelajar yang kritis, kreatif, berpikiran terbuka dan memiliki komitmen pada kebinekaan,” ucapnya.

Cameo Project Jadi Global Ambassador YouTube Creators for Change, Akan Lawan Radikalisme Lewat Ini

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Maarif Institut bersama Cameo Project pada Jumat (22/9/2017), berikan workshop kepada siswa SMA dan SMK sederajat yang ada di Surabaya dengan pesan keragaman dan toleransi.

Acara tersebut berlangsung di di Co-Working Space Koridor Gedung Siola lantai 3, Surabaya.

Lokakarya tersebut juga dihadiri pihak Wahid Foundation diwakili Khoirul Anam, dan Google Indonesia diwakili Ryan Rahardjo selaku Public Policy and Government Relations Google Google Indonesia.

Tak hanya Cameo Project yang bisa hadir dalam kesempatan tersebut, YouTuber asal Lamongan, Gamelawan, juga ikut hadir.

Cameo Project adalah YouTuber yang terdiri dari enam orang: Martin Anugrah, Andry Ganda, Bobby Tarigan, Reza Nangin, Steve Pattinama, dan Yosi Mokalu.

“Kami yang ditunjuk sebagai global ambassador YouTube Creators for Change. Kami melihat sesuatu dalam konten ini harus berubah. Jadi peran kita di campaign ini adalah untuk menyebarkan, menginspirasi para content creators yang muda atau yang baru mau mulai, untuk berpikir juga, bagaimana membuat konten yang positif,” ujar Martin Anugrah, Jumat (22/9/2017).

Lokakarya ini merupakan upaya kreatif Maarif Institute bekerjasama dengan Cameo Project untuk terus melakukan upaya perlawanan terhadap fenomena radikalisme di kalangan anak muda.

Maarif Institute memulai acara tersebut sejak bulan April lalu dan sudah dilakukan di kota-kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Ambon, Denpasar, Medan, Manado, dan pada Jumat (22/9/2017), giliran Surabaya.

Nantinya juga akan digelar di Pontianak dan Semarang, sehingga total ada 10 kota yang nantinya akan diselenggarakan acara “1NDONESIA Aksi Pelajar Untuk Kebinekaan Indonesia”.

Tangkal Radikalisme, Ratusan Siswa SMA/SMK Surabaya Belajar Bikin Konten Video Positif

suarasurabaya.net – Ratusan pelajar SMA/SMK di Surabaya mendapatkan pelatihan membuat konten video positif untuk diunggah ke YouTube untuk menangkal hate speech, xenofobia, dan ekstremisme.

Para siswa sekolah menengah atas di Surabaya ini mendengarkan pemaparan materi dari para pembicara yang berkecimpung sebagai kreator konten video YouTube di Koridor, co-working space Siola Lantai 3, Surabaya.

Mereka juga akan mengikuti lokakarya produksi video kreatif, dari cara pembuatan video dengan narasi positif, trik mengedit video, hingga tips memasarkannya di channel YouTube.

Salah satu kelompok kreator YouTube yang akan memberikan pelajaran ini adalah Cameo Project, yang juga menjadi duta duta YouTube Creators for Change.

Seminar bertema “Pentingnya Toleransi di Tengah Keragaman” ini digelar Maarif Institute dan Cameo Project bersama Direktorat Pembinaan SMA dan SMK, Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud.

Khelmy K. Pribadi Direktur Program Maarif Institute mengatakan, program ini adalah upaya kreatif Maarif Institute untuk terus melakukan upaya konter terhadap fenomena radikalisme di kalangan anak muda.

“Tujuannya untuk menyebarkan kesadaran toleransi juga empati melalui konten video positif, agar nilai-nilai itu tidak terlupakan oleh generasi muda Indonesia,” ujarnya.

Dia berharap, apabila konten-konten video positif ini tersebar melalui YouTube, akan ada dampak sosial yang luar biasa hebatnya.

Sebab, menurutnya, kreator (video YouTube) Iokal memiliki pengaruh besar. Dari mengedukasi penonton, memberi pengetahuan dan pemahaman baru, juga mengubah cara pandang anak muda dalam melihat dunia.

“Kami berharap ini akan menjadi penangkal terjangkitnya generasi muda Indonesia oleh isu-isu sosial seperti hate speech, xenophobia dan extremism,” kata dia.

Ryan Rahardjo, Tim Public Policy and Government Relations, Google Indonesia mengatakan, kegiatan di Koridor, Surabaya ini bagian dari program YouTube Creators for Change.

“Bekerjasama dengan Maarif Institute dan Cameo Project, kami berharap kegiatan ini bisa menciptakan kreator muda Indonesia yang tidak hanya berbakat tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat melalui pesan dan konten video positif,” katanya.(den/rst)

http://www.suarasurabaya.net/print_news/Kelana%20Kota/2017/193724-Tangkal-Radikalisme,-Ratusan-Siswa-SMA-atau-SMK-Surabaya-Belajar-Bikin-Konten-Video-Positif

Mendikbud Buka Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2017

Indonesia yang kaya, makmur, sejahtera dan merdeka adalah harapan dan cita-cita bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun setelah lebih dari 70 tahun merdeka, masih menumpuk berbagai persoalan yang justru mengebiri kebinekaan yang sejak dulu diseru. Kasus intoleransi dan radikalisme yang merebak menjadi momok Indonesia saat ini. Untuk itu, bangsa ini harus menuntaskan intoleransi dan radikalisme yang menjadi duri dalam daging.

Sebagai bentuk optimisme dan upaya menyiapkan peradaban di masa yang akan datang, MAARIF Institute kembali menggelar Jambore Pelajar Teladan Bangsa untuk ke-5 kalinya. Kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi dan membentuk jati diri anak bangsa agar mampu melestarikan budaya bangsa Indonesia.

Jambore kali ini dibuka secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Dalam pembukaanya (7/8), Mendikbud mengatakan peserta jambore ini diharapkan dapat menjadi generasi yang sadar akan jati diri bangsa dengan merawat nilai-nilai kebhinekaan. Selain itu, Mendikbud juga menanggapi persoalan hoax yang sedang menimpa negeri ini.

“Media sosial memang sangat riskan, karena banyak sekali kebenaran yang diputar balikan. Untuk itu, generasi muda harus dibekali dengan nilai-nilai pancasila dan kebhinekaan. Karena apabila generasi muda terus dibekali dengan nilai-nilai kebaikan, maka nilai-nilai keburukan tidak dapat bersemanyam”, ujar Mendikbud RI, Prof, Dr. Muhadjir Effendy, MAP.

Pada kesempatan yang sama, Muhd. Abdullah Daraz, selaku Direktur Eksekutif MAARIF Institute berharap nilai-nilai ideologi pacasila yang mendasari kita sebagi rakyat Indonesia dapat sepenuhnya diterapkan. Selain itu, Darraz berharap selepas jambore ini generasi muda dapat lebih kritis terhadap pemakaian media sehingga tidak mudah terkoyak dengan isu-isu yang tidak benar.

Pada acara pembukaan jambore pelajar ini, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud RI, Hamid Muhammad, Ph.D memberikan penyematan kepada perwakilan peserta. Acara pembukaan ini ditutup dengan foto bersama Mendikbud RI dengan para peserta dan tamu undangan. – NISA

Emil Ajak Pelajar Bandung Tiru Jepang yang Tak Pasrah Pada Takdir

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG – Jumlah korban tsunami di Aceh tahun 2004, sebanyak 440 kali lebih banyak dari korban tsunami di Jepang tahun 2011.

“Di Aceh saat tsunami yang meninggal 220.000 ribu orang. Di Jepang saat tsunami dibawah 500 orang. Karena apa? Karena Jepang terbiasa menyesuaikan dengan takdir,” ujar Wali Kota Bandung Ridwan Kamil di Acara Creators for Change “Jurnalisme Kebhinekaan Melalui Literasi Media,” di Balai Kota Bandung, Jumat (28/7/2017).

Ia menjelaskan Jepang adalah satu di antara banyak negara yang tidak pasrah terhadap takdir.

“Karena kondisi geografi Jepang yang sangat tidak menguntungkan (potensi tsunami besar). Namun Jepang tidak hanya berdiam diri pasrah pada takdir. Mereka percaya nasib bisa diubah, salah satunya dengan membuat warning sistem,” ujar Ridwan Kamil.

Ia menekankan, Jepang adalah negara yang patut dicontoh oleh Kota Bandung soal mengubah nasib dan tidak pasrah terhadap takdir.

Masyarakat Kota Bandung sudah takdir hidup berdampingan walau agama, suku, dan politik berbeda – beda.

Ridwan Kamil mengimbau warga Bandung agar membuat konten – konten positif di dunia maya agar mencegah hate speech, xenophobia, dan extremism.

Ridwan Kamil dan istrinya, Atalia, tiba di Ruang Serba Guna Balai Kota untuk menghadiri acara Jurnalisme Kebhinekaan.

Acara ini diadakan karena maraknya isu sosial seperti hate speech, xenophobia, dan extremism yang menerpa generasi muda Indonesia di era digital.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan pelajar dari SMA dan SMK sekota Bandung.

Acara Creators for Change “Jurnalisme Kebhinekaan Melalui Literasi Media” disesaki kehadiran pelajar Bandung, Jumat (28/7/2017).

Nampak beberapa pelajar yang menggunakan seragam putih abu – abu, batik, hingga baju koko.

Keji! Video Seorang Ibu yang Menyiksa Bayinya Tersebar, Yayasan Akan Melapor ke Polda Bali – Tribun…
Sosok seorang ibu yang menyayangi anaknya sepertinya tak nampak pada ibu ini. Dalam tiga buah video, seorang ibu terlihat tengah menyiksa bayinya.

Acara ini diadakan karena maraknya isu sosial seperti hate speech, xenophobia, dan extremism yang menerpa generasi muda Indonesia di era digital.

Acara ini dihadiri oleh Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), Cameo Project (Duta Program Youtube Creators for Change), Irfan Amalee (Founder Peace Generation), Febry Arifmawan (Senior Produser NET TV), serta Ria Ricis (Youtube Creator).

Sumber: http://jabar.tribunnews.com/2017/07/28/emil-ajak-pelajar-bandung-tiru-jepang-yang-tak-pasrah-pada-takdir?page=2

Begini Cerita Ridwan Kamil Tentang Seorang Kakek yang Tergeletak di Ruang ATM

TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG – Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil mengimbau pelajar-pelajar di Kota Bandung menjadi anak muda yang turun tangan ketika melihat ketidakadilan maupun ketika melihat sesuatu yang salah.

Ia menceritakan kisah nyata yang dialami warga Bandung ketika menemukan kakek-kakek tergeletak di sebuah ATM.

“Ini kisah nyata. Saya dihubungi oleh seorang warga Bandung via Instagram. Ia ngomong ke saya kalau ia melihat kakek-kakek meninggal dunia di dalam ruangan ATM. Dia kirim fotonya juga ke saya,” ujar Ridwan Kamil dalam acara Jurnalisme Kebhinekaan, Balai Kota, Jumat (28/7/2017).

Ketika menerima pesan tersebut, Ridwan Kamil mengutus perwakilan Dinas Kesehatan dan Satpol PP untuk menuju TKP.

“Namun, setelah itu saya mendapat laporan dari satpol PP bahwa kakek- kakek tersebut hanya numpang tidur di ruangan ATM. Karena ruangannya adem ada AC nya,” ujar Ridwan Kamil.

Sontak peserta acara pun tertawa mendengar pernyataan dari Ridwan Kamil.

“Jadi sebelum melapor, seharusnya turun tangan dulu. Cek dulu apakah kakek- kakek tersebut beneran meninggal atau hanya tertidur,” tambah pria yang akrab disapa Kang Emil.

Ridwan Kamil dan istrinya, Atalia, menghadiri acara Jurnalisme Kebhinekaan untuk pelajar di Gedung Serbaguna Balai Kota, Bandung.

Acara ini diadakan karena maraknya isu sosial seperti hate speech, xenophobia, dan extremism yang menerpa generasi muda Indonesia di era digital.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan pelajar dari SMA dan SMK sekota Bandung. (*)

Sumber: http://jabar.tribunnews.com/2017/07/28/begini-cerita-ridwan-kamil-tentang-seorang-kakek-yang-tergeletak-di-ruang-atm

Walikota Bandung Ajak Generasi Milenia Sebarkan Postingan Positif

JABAR NEWS | BANDUNG – Walikota Bandung, Ridwan Kamil (Emil) mengajak anak-anak muda generasi milenia untuk memposting pesan positif di berbagai media sosial (Medsos). Sehingga akan berdampak positif kepada para followers akun Medsos tersebut.

Karena menurut Emil, pada dasarnya setiap pesan yang diposting negatif maka akan memberikan dampak negatif pula.

“Ayo kita gunakan smartphone untuk melakukan postingan posotif di berbagai konten,” ujar Emil saat menghadiri acara Program Jurnalisme Kebhinekaan melalui literasi media untuk membendung radikalisme keagamaan di kalangan pelajar, di Balai Kota Bandung, Jumat (28/07/2017).

Emil meminta agar seluruh masyarakat generasi muda khususnya para pelajar di kota Bandung untuk sama-sama memperkuat kebhinekaan dan persatuan. Melalui postingan positif dapat mengajak masyarakat untuk tidak membenci perbedaan. Jika hal tersebut dilakukan dapat dipastikan seluruh generasi baru tidak akan terkontaminasi oleh nilai-nilai negatif yang merusak.

“Postinglah misalnya situasi-siatuasi dimana orang bisa bersatu. Berbeda agama lagi maen bareng dan sebagainya. Insya Allah mereka (generasi baru) tidak akan terkontaminasi oleh nilai-nilai negatif,” ucap Emil.

Selain itu, Emil juga memberikan tips bagi anak muda agar postingan yang sebar di Medsos dapat menarik para followersnya untuk membaca pesan yang ingin disampaikan. Selain tulisan alangkah baiknya postingan disertai dengan gambar dan tulisan humoris.

“Pertama basisnya harus visual. Biasanya orang Indonesia senang visual foto ada tulisan dan pesannya juga pesan positif. Kedua banyak kalimat humoris aja karena menurut survei orang Indonesia akan lebih tertarik kalau humoris, itu saja,” tutup Emil.

Untuk diketahui, program Jurnalisme Kebhinekaan ini diikuti oleh para pelajar di Kota Bandung. Ini sebagai langkah untuk membentuk anak muda menjadi ujung tombak perlawanan terhadap tindakan-tindakan primitif yang mengatasnamakan agama. (Nur)

Sumber : https://jabarnews.com/2017/07/walikota-bandung-ajak-generasi-milenia-sebarkan-postingan-positif.html