Maarif Institute: Sekolah 5 Hari Bisa Tekan Perkembangkan Radikalisme

JAKARTA, KOMPAS.com – Kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan, dan delapan jam dalam satu hari diyakini bisa menangkal munculnya radikalisme di sekolah.

Menurut Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhammad Abdullah Darraz, apabila wacana kebijakan ini diimplementasikan, kehidupan sekolah akan semakin kaya dengan kegiatan siswa yang positif dan beragam.

“Pada dasarnya Maarif Institute mendorong kebijakan ini, sekolah memiliki peran lebih aktif dan leluasa dalam upaya melawan radikalisme yang seringkali dilakukan di luar jam sekolah,” kata Darraz melalui keterangan tertulis, Jakarta, Senin (12/6/2017).

(Baca: MUI Minta Mendikbud Kaji Ulang Kebijakan Sekolah Lima Hari)

Darraz yakin, Implementasi sekolah delapan jam sehari dapat meminimalisasi bergeraknya kelompok radikal untuk memengaruhi siswa.

“Benteng sekolah bisa diperkuat untuk menghalau kelompok radikal, dengan memperkaya kehidupan sekolah dengan kegiatan siswa yang positif dan beragam,” katanya.

Darraz mengatakan, sebetulnya konsep full day school ini bukanlah barang baru di Indonesia. Dalam tradisi pendidikan di Indonesia, program ini sudah banyak dilakukan.

Menurut Darraz, kekhawatiran sebagian pihak mengenai implementasi program full day school, seharusnya bisa disikapi dengan pembuktian implementasinya tetap memenuhi hak dan kreativitas anak.

Termasuk di dalamnya, pelibatan lingkungan sekitar sekolah dalam proses pembelajaran.

(Baca: Fraksi PPP: Kebijakan Sekolah Lima Hari Menambah Persoalan Masyarakat)

“Asumsi-asumsi penolakan yang dilontarkan sebagian pihak terhadap kebijakan ini hendaknya dapat didialogkan secara konstruktif. Sepatutnya penolakan itu tidak dilakukan secara apatis,” imbuh Darraz.

Dia yakin Kemendikbud telah melakukan kajian mendasar terhadap lahirnya kebijakan ini.

“Oleh karena itu, berbagai perbedaan dalam menanggapi kebijakan ini perlu didialogkan secara lebih terbuka,” pungkasnya.

Pengumuman Hasil Sleksi Peserta Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2017

SURAT KEPUTUSAN
TIM SELEKSI JAMBORE PELAJAR TELADAN BANGSA TAHUN 2017
Nomor: 014.006/MICH–B/IJust/VI-16
tentang:
Hasil Seleksi Berkas Essai dan Motivasi Calon Peserta
Jambore Pelajar Teladan Bangsa Tahun 2017

MAARIF Institute for Culture and Humanity, atas nama Tim Seleksi Jambore Pelajar
Teladan Bangsa Tahun 2017, setelah:

Menimbang :

  1. Hasil pembacaan tim seleksi terhadap dokumen pendaftaran
    calon peserta, berupa: Curiculum Vitae (CV), Essai, dan
    Motivasi seluruh calon peserta.
  2. Koordinasi tim seleksi terhadap seleksi yang telah dilakukan.

Mengingat :

Time line agenda Jambore Pelajar Teladan Bangsa Tahun 2017.

Memperhatikan :

Kriteria yang tercantum dalam ToR Kegiatan Jambore Pelajar
Teladan Bangsa Tahun 2017.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Pertama : Nama-nama terlampir sebagai dengan kriteria:

  1. Lolos Seleksi;
  2. Lolos Seleksi dalam Daftar Tunggu; dan
  3. Tidak Lolos Seleksi.

 

Surat keputusan dan Daftar Peserte yang lolos sleksi dapat diunduh dibawah ini:

DAFTAR PESERTA HASIL SLEKSI

SURAT KEPUTUSAN

Maarif Institute: Sekolah Tidak Dibentengi, Ideologi Radikal Masuk

Jakarta – Direktur Eksekutif Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz mengatakan penetrasi kelompok radikal saat ini terjadi secara sangat masif di berbagai lini kehidupan. Mereka masuk secara struktural melalui pertarungan politik dan birokrasi.

Darraz menyebutkan, penetrasi ideologi radikal di lingkungan institusi pendidikan dianggap sangat berhasil karena berbagai alasan. Di antaranya adalah adanya kekosongan ideologi kebangsaan di lingkungan sekolah dan tidak efektifnya pendidikan kewarganegaraan.

“Namun yang tak kalah bahayanya adalah mereka melakukan penetrasi ideologi secara kultural melalui dunia pendidikan,” kata Darraz dalam acara pembukaan Seminar Workshop “Penguatan Institusi Sekolah melalui Kebijakan Internal Sekolah yang Mengokohkan Kebinekaan” di hotel Mercure Cikini, Jakarta, Selasa(23/5).

Menurut Darraz, radikalisme dan anti-kebinekaan merupakan ancaman serius bagi keutuhan bangsa ini. Infiltrasinya telah masuk ke berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, salah satu ancamannya lewat dunia pendidikan.

Darraz menuturkan, dalam mendalami persoalan ini, Maarif Institute telah melakukan riset tentang Penguatan Institusi Sekolah Melalui Kebijakan Internal Sekolah yang Mengokohkan Kebinekaan. Dijelaskan dia, riset tersebut dilakukan di enam wilayah; Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Banten, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Sulawesi Selatan(Sulsel), dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ada pun tujuan dari riset ini adalah untuk memetakan kebijakan internal sekolah yang mengokohkan atau justru melemahkan kebhinekaan di kalangan institusi pendidikan setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Ia menyebutkan, ada empat pemetaan kebijakan sekolah. Pertama; Keputusan atau Peraturan Hierarkis seperti Keppres, Permen, SK Dinas. Kedua; aturan-atauran hasil rapat warga sekolah. Ketiga; kesepakatan bersama yang sifatnya insidental. Keempat; kebiasaan atau kultur yang menghegemoni sehingga mengharuskan menjadi suatu kebijakan sekolah.

Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa belum ada kebijakan internal sekolah yang secara spesifik menguatkan kebinekaan. Perda syariat di tiap daerah turut mempengaruhi kebijakan sekolah negeri seperti di Aceh dan beberapa daerah di Jawa Barat.

Sedangkan di Mataram, sekolah-sekolah telah melakukan upaya rekognisi keberagaman dengan memberlakukan libur fakultatif untuk siswa beragama Hindu, layaknya libur Ramadan bagi Muslim dan Natal bagi Kristen.

“Masing-masing sekolah di beberapa wilayah tersebut menganggap implementasi kebijakan syariat menjadi bagian dari penguatan kebinekaan,” ucapnya.

Lanjut dia, temuan lainnya adalah kebijakan yang berasal dari aturan sekolah. Seperti yang ditemukan di Sukabumi, upacara bendera dilakukan dua kali dalam sebulan. Sisanya digelar acara sluha, tadarus dan ceramah keagamaan. Bagi yang non-muslim, berkumpul dan menunggu di kelas.

Darraz mengatakan kebijakan-kebijakan di sekolah yang menjadi objek penelitian memiliki kesamaan. Dalm hal ini, guru mata pelajaran PKN, Sejarah, dan Pendidikan Agama Islam(PAI) turut memberi corak wawasan kebinekaan kepada siswa. Selain itu, ada peran serta dari alumni.

“Mereka memiliki ruang untuk mendorong suatu kebijakan sekolah, baik langsung maupun tidak langsung, dalam penguatan atau pelemahan kebinekaan di sekolah,” ujarnya.

Pada kempatan sama, cendekiawan Muslim Yudi Latif menilai bangsa Indonesia saat ini kehilangan makna dan signifikansi dalam menghayati dan mengimplementasikan Pancasila, sehingga ideologi-ideologi baru yang datang dari luar begitu mudah merasuk dalam ruang-ruang kosong ideologis bangsa ini.

“Akibatnya di kalangan publik dan dunia pendidikan kita kehilangan ruh dan makna terdalam Pancasila.” Ungkap Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pemantapan Ideologi Pancasila ini.

Dijelaskan dia, keadaan bangsa ini dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal dan intoleran untuk menanamkan ideologi-ideologi anti Pancasila dan anti kebinekaan di lingkungan sekolah. Kelompok radikal menganggap sekolah-sekolah negeri di bawah koordinasi pemerintah merupakan lahan kosong ideologis yang mudah untuk dipenetrasi.

Maria Fatima Bona/HA

BeritaSatu.com

IMM Jateng Bedah Buku Reformulasi Ajaran Islam : Jihad , Khilafah dan Terorisme

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IMM Jawa Tengah mengadakan bedah buku Reformulasi Ajaran Islam : Jihad , Khilafah dan Terorisme.

Kegiatan tersebut dilangsungkan di  Gedung Siti Walidah kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (5/5/2017).

Dalam kesempatan itu, hadir sebagai narasumber Direktur Eksekutif Maarif Institut Muhammad Abdullah Darraz, Pengurus MUI Jawa Tengah bidang Hukum  Abu Rohmad, dan Direktur Reserse Kriminal dan Umum Polda Jawa Tengah  Heri Santoso.

Serta diikuti Mahasiswa utusan dari IMM kabupaten atau Kota se-Jawa Tengah.

“Tujuan dari dibedahnya buku ini adalah untuk bisa menangkal paham terorisme dan radikalisme di masyarakat,” kata Ketua Panitia Bedah Buku , Abdul Wachid.

Kegiatan ini juga dalam rangka menjaga Kebhinekaan Indonesia.

“Dimulai dari mahasiswa dari perwakilan kota- kota di Jawa Tengah bisa mengcounter isu-isu yang memecah belah bangsa,” ujarnya.

Buku Reformulasi Ajaran Islam : Jihad , Khilafah dan Terorisme merupakan hasil karya ulama, akademisi dan pakar terorisme.

“Buku tersebut disusun sebagai bagian   dari perlawanan terhadap terorisme di Indonesia, sekaligus penyadaran publik akan bahaya terorisme,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, diskusi ini sengaja digelar di Kota Solo dengan alasan Kota Solo memiliki keberagaman.

“Di Solo ada kelompok-kelompok garis keras, namun ada pula yang moderat, keberagaman itu yang menjadi pertimbangan bedah buku ini diadakan di Solo,” pungkasnya. (*)

Syafii Maarif: Sikap Intoleran Sudah Sangat Mengkhawatirkan

tirto.id Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Syafii Maarif menanggapi persoalan di Indonesia. Dia mengatakan fenomena sikap intoleransi sudah melebihi ambang batas.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara pada diskusi ke-Bhinnekaan yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan di pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (5/5/2017).

“Menyikapi masalah ini maka negara tegas akan sikap yang mengarah pada intoleransi ini,” kata Syafii Maarif dikutip dari Antara.

Dalam kegiatan tersebut, Syafii menegaskan bahwa sikap intolerensi tersebut sudah tergolong dapat mengancam ke-Bhinneka-an Indonesia kedepannya.

“Pokok permasalahan ada pada implementasi sila kelima Pancasila. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih melayang-layang tinggi. Inilah yang menjadi celah paham radikalisme yang memicu sikap intoleransi. Ibaratnya rumput kering bagi munculnya fenomena-fenomena belakangan ini. Ditambah dengan sikap Arabisme yang salah jalan dan diimpor ke Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut Syafii menjelaskan saat ini juga terjadi pemahaman yang salah tentang Islam, salah satunya, kata dia, adalah apapun yang berbau Arab adalah Islam. Ia menilai, cara pandang inilah yang sedang berkembang di beberapa golongan saat ini. Hal lain menurutnya adalah kecenderungan menganggap yang tidak sepemahaman adalah orang berbeda golongan.

“Sikap-sikap seperti ini tidak dikenal dalam Islam. Bahkan dalam Quran juga tidak ada pemaknaan seperti ini. Lalu muncul anggapan Syiah, Sunni dan kelompok lainnya. Sikap seperti ini di Quran tidak ada, tidak mengenal kelompok. Lalu orang muslim yang bukan Arab percaya semua yang dari Arab itu Islam, ini tidak tepat,” katanya.

Syafii juga mengatakan bahwa pengaruh dari ISIS telah masuk ke Indonesia. Meski tidak secara frontal, kata dia, tapi hal tersebut bisa dilihat dari upaya mengganggu ke-Bhinneka-an terasa kental.

“ISIS adalah manifestasi dari peradaban Arab yang sedang bangkrut. Parahnya pemahaman dan ideologi di dalamnya mendapat angin sejuk di Indonesia. Salah satu infiltrasi melalui sosial media sebagai perantara informasi. Peradaban yang sedang bangkrut dan kita terima dengan sikap tidak kritikal. Indonesia saat ini tergolong rentan, jadi memang harus tegas atas ideologi merusak ini,” katanya.

Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah untuk bersinergi, mulai dari golongan bawah hingga ke pemerintah golongan tertinggi. Seperti mengawasi dan membatasi gerak organisasi-organisasi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 dan masyarakat juga harus lebih kritis dalam berpikir. Membentengi diri atas informasi dan ajakan intoleran. Salah satunya dengan perbanyak membaca dan melakukan tabayun atas informasi yang beredar.

“Saat ini banyak video tersebar isinya sudah tidak nalar hanya menghujat dan kebencian. Islam jadi korban, Quran jadi korban oleh umat Islam yang mengaku paling Islami. Kita punya Pancasila dan UUD 1945, ini adalah nilai-nilai penting,” katanya.

Awas, Faktanya Terorisme Belum Padam

JATENGONLINE, SUKOHARJO – Fakta menyajikan bahwa terorisme, radikalisme dan ekstrimisme ternyata belum benar-benar padam di Indonesia. Hal tersebut merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia secara bersama untuk menangkal ideologi yang terbukti merusak tatanan bangsa kita ini, ideologi tersebut anti terhadap perbedaan dan menerapkan kekerasan hal itu apabila disentil dengan kepentingan politik maka akan meluas.

Seperti disampaikan Muhamad Abdullah Darraz, Direktur Eksekutif Maarif Institute, yang menyatakan bila dibiarkan terorisme, radikalisme dan ekstrimisme akan merajalela. “Seperti diketahui, siapapun saat ini mengenal ungkapan teroris. Bahkan anak kecil pun mampu menggunakan istilah teroris, bila ada pihak yang ekstrim dan tidak sepaham dengan ajaran agama yang diketahuinya ia bisa menyebutnya sebagai teroris. Padahal kan tidak seperti itu, ini yang harus diluruskan.” Ungkap Abdullah Darraz, dalam acara bedah buku “Narasi Fikih Antiterorisme Dari Deradikalisasi Ke Jalan Moderasi”, yang digelar Jumat (5/5/2017) di Gedung Siti Walidah UMS, Sukoharjo.

Darraz menyampaikan bahwa buku ini bisa memberikan pemahaman sekaligus untuk menangkal berbagai aksi teroris yang terjadi. Dalam buku tersebut bertujuan untuk menyadarkan pentingnya mengedukasi masyarakat Indonesia agar tidak terbawa arus dari ideologi anti perbedaan, anti Pancasila dan menerapkan kekerasan.

Pembicara lain, Kombes Pol Heri Santoso Kabag Reskrim Polda Jateng, menyatakan siap dan selalu bergerak untuk melakukan deteksi, preventif dan preventif dalam menangani teroris.

“Pendekatan yang dilakukan oleh Kepolisian dalam mencegah terorisme yaitu dengan 2 cara yaitu bersifat lunak dengan program deradikalisasi yaitu merubah paham radikal sasaranya adalah para pelaku teror/napi teror dan kontra radikalisasi sasaranya adalah orang orang yang belum terpengaruh dengan paham radikal, satu lagi dengan penegakkan hukum, sasaranya adalah orang orang yang sudah terindikasi akan melaksanakan aksi teror.

“Secara nyata pelaksanaan deradikalisasi yaitu harus ada pendekatan secara sosial dan ekonomis serta memberikan pemahaman dilakukan dengan aparat kepolisian dan melalui tokoh agama , para pelaku yang telah melakukan aksi pasti dikucilkan oleh masyarakat sehingga Polri berperan aktif dalam membantu pendekatan kepada masyarakat.” Tandas Kombespol Heri Santoso.

Bedah Buku yang di selenggarakan oleh DPD IMM Jateng bekerja sama dengan UMS ini diikuti sekitar 200 peserta dari mahasiswa dan umum. Dijelaskan Ketua Penyelenggara Saefudin Zuhri (Asisten Program maarif Institute), bedah buku seperti ini merupakan suatu upaya,sebagai langkah dan memberikan pengertian agar tetap terjaga dari pengaruh ajaran radikalisme. “Dalam silahturahmi ini kita buktikan bahwa Islam yang moderat, Islam yang eksklusif Islam itu tidak terkait dengan ajaran radikalisme,” ungkap Saefudin Zuhri.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Dr Muhamd Dai (Wakil Rektor UMS), KH Ahmad Daroji (MUI Jateng), dan Abu Rahmad (MUI Jateng). (jia)

Bedah Buku, Maarif Institute: Islam Tidak Ajarkan Teror dan Kekerasan

Surakarta – Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz mengatakan doktrin-doktrin kunci dalam Islam telah disalahartikan oleh beberapa kalangan, di antaranya adalah konsep Jihad dan sistem kenegaraan. Darraz menilai sejumlah kalangan tersebut memahami terorisme sebagai jalan berjihad untuk mewujudkan sistem kekhilafahan Islam.

“Sebagian kelompok umat ini tidak segan-segan melakukan aksi-aksi kekerasan dan teror dengan mengatasnamakan Islam. Padahal Islam tidak mengajarkan kekerasan dan teror tersebut,” ujar Abdullah Darraz dalam acara bedah buku berjudul “Reformulasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah, dan Terorisme” di Aula Seminar Gedung Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (5/5).

Selain Darraz, hadir juga Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono dan Ustad Abu Rokhmat dari MUI Jawa Tengah.

Kalangan masyarakat sipil, kata Darraz tidak boleh berdiam diri. Dia menegaskan, perlu ada kesadaran bersama untuk melawan ideologi yang merusak keharmonisan bangsa Indonesia saat ini. Kelompok teror jika dibedah itu merujuk pada satu ideologi yaitu anti-perbedaan.

“Jika disentil oleh persoalan politis, pendukung ideologi ini akan mudah untuk tersulut. Ini bahaya, paparan ideologi yang anti-perbedaan, anti-kebhinekaan dan ideologi​-ideologi yg ada di belakang terorisme itu sendiri,” tutur dia.

Dia juga menjelaskan sejumlah faktor yang melatarbelakangi orang melakukan teror seperti faktor ideologis atau teologis. Faktor tersebut, kata dia cukup dominan. Selain itu, ada orang yang ingin melakukan peperangan melawan syiah.

“Faktor sosio-ekonomi juga bisa berpengaruh. Ada ketidakadilan struktural yang umat Islam alami saat ini dan situasi ketidakadilan global,” tandas dia.

Pernyataan senada dijelaskan oleh Polda Jawa Tengah, Irjen Condro Kirono. Menurut Irjen Condro, penanganan deradikalisasi harus dengan pendekatan sosial, pendekatan ekonomi, dan pendekatan penyadaran narasi oleh para tokoh-tokoh agama. Para pelaku teror, kata dia harus dibantu dalam proses reintegrasi di masyarakat.

“Kontra-radikalisasi juga harus ada peran berbagai pihak. Tokoh ulama, aparat negara, serta sekolah dan perguruan tinggi. Kurikulum pendidikan bisa ditambahkan dengan konten-konten kontra narasi termasuk dengan merujuk pada buku Maarif Institute sebagai referensi,” ungkap Irjen Condro.

Sementara Perwakilan MUI Jawa Tengah Abu Rokhmat turut menyambut buku Maarif Institute yang isinya menujukkan Islam yang seharusnya, yaitu Islam yang damai dan toleran.

“Maqosidu Syariah, tujuan penegakan syariat itu menarik kemaslahatan dan menolak kemudhorotan. Islam ditegakkan tidak dengan cara-cara kekerasan. Jika islam ini ditawarkan sebagai produk, lalu menjualnya dengan cara kekerasan, maka tidak akan sebesar ini. Produk yang baik harus dijual dengan cara-cara yang baik,” ungkap Abu Rokhmat.

Rokhmat mengatakan bahwa buku juga menunjukkan kekeliruan pemahaman para pendukung khilafah dengan narasi-narasinya. “Tujuan mereka politik, (yakni) khilafah, maka perlu diluruskan narasi mereka, harus disikapi dengan menggunakan semua instrumen termasuk cara-cara politik,” pungkas dia.

Buku berjudul “Reformulasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah, dan Terorisme” ini merupakan kumpulan tulisan para tokoh dan ulama Muhamadiyah, seperti Azyumardi Azra, Busyro Muqoddas, Nasir Abbas, Sarlito W. Sarwono, Adang Kuswaya, Afifi Fauzi Abbas, Wahyudi Abdurrahim, Ahmad Saiful Anam dan ulama Muhamadiyah lainnya. Prolog dalam buku ini ditulis oleh Ketua Umum PP Muhamadiyah Haedar Nashir dan epilognya ditulis oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dengan editor M. Abdullah Darraz.

SIARAN PERS

Bedah Buku “Reformulasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah, dan Terorisme”
“Narasi Fikih Antiterorisme: Dari Deradikalisasi ke Jalan Moderasi”.

Surakarta, 5 April 2017. Doktrin-doktrin kunci dalam Islam telah disalahartikan oleh beberapa kalangan, diantaranya adalah konsep Jihad dan sistem kenegaraan. Terorisme menjadi jalan berjihad mewujudkan sistem kekhilafahan Islam. Sebagian kelompok umat ini tidak segan-segan melakukan aksi-aksi kekerasan dan teror dengan mengatasnamakan Islam. Padahal Islam tidak mengajarkan kekerasan dan teror tersebut.

Kalangan masyarakat sipil tidak boleh berdiam diri. Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz menegaskan, “perlu ada kesadaran bersama untuk melawan ideologi yg merusak keharmonisan kita saat ini. Kelompok teror jika dibedah itu merujuk pada satu ideologi yaitu anti-perbedaan. Jika disentil oleh persoalan politis, pendukung ideologi ini akan mudah untuk tersulut. Ini bahaya paparan ideologi yang anti-perbedaan, anti-kebhinekaan dan ideologi-ideologi yg ada di belakang terorisme itu sendiri”.

“Apa alasan mereka melakukan teror? Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya seperti faktor ideologis atau teologis. ini yang cukup dominan. Kedua, ingin melakukan peperangan melawan syiah. Ketiga, sosio-ekonomi. Ada ketidakadilan struktural yg umat islam alami saat ini. Dan keempat, situasi ketidakadilan global”. Ujar Darraz.

Pernyataan senada dijelaskan oleh Polda Jawa Tengah, Irjen. Condro Kirono, “penanganan deradikalisasi harus dengan pendekatan sosial, pendekatan ekonomi, dan pendekatan penyadaran narasi oleh para tokoh-tokoh agama. Para pelaku teror harus dibantu dalam proses reintegrasi di masyarakat”.

“Kontra-radikalisasi juga harus ada peran berbagai pihak. Tokoh ulama, aparat negara, serta sekolah dan perguruan tinggi. Kurikulum pendidikan bisa ditambahkan dengan konten-konten kontra narasi termasuk dengan merujuk pada buku Maarif Institute sebagai referensi”, tutup Irjen Condro Kirono dalam pemaparannya di Aula Seminar Gedung Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (05/05/2017).

Ust. Abu Rokhmat, MUI Provinsi Jawa Tengah turut menyambut buku Maarif Institute yang isinya menujukkan Islam yang seharusnya; damai dan toleran. “Maqosidu Syariah, tujuan penegakan syariat itu menarik kemaslahatan dan menolak kemudhorotan. Islam ditegakkan tidak dengan cara-cara kekerasan. Jika islam ini ditawarkan sebagai produk, lalu menjualnya dengan cara kekerasan, maka tidak akan sebesar ini. Produk yang baik harus dijual dengan cara-cara yang baik”.

Buku Reformulasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah, dan Terorisme menunjukkan kekeliruan pemahaman para pendukung khilafah dengan narasi-narasinya. Hal ini ditegaskan oleh Ust. Rokhmat, “tujuan mereka politik, (yakni) khilafah, maka perlu diluruskan narasi mereka, harus disikapi dengan menggunakan semua instrumen termasuk cara-cara politik”.
Dalam sessi diskusi buku ini, hadir sebagai narasumber: Irjen. Condro Kirono (Kapolda Jawa Tengah), Ust. Abu Rokhmat (MUI Jawa Tengah), dan Muhammad Abdullah Darraz, MA (Direktur Eksekutif MAARIF Institute).

Perangi Konten Negatif dengan Aksi Pelajar untuk Kebinekaan Indonesia

 JAKARTA, KOMPAS.com – Maarif Intitute bersama Cameo Project dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, menggelar acara 1ndonesia- Aksi Pelajar untuk Kebhinekaan Indonesia.

Acara tersebut berupa seminar dan pelatihan mengenai produksi konten video positif kepada pelajar dan mahasiswa di 10 kota di Indonesia.

Kota-kota tersebut ialah Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Denpasar, Makassar, Medan, Ambon, Pontianak, dan Jakarta.

Jakarta menjadi kota pertama acara tersebut dilaksanakan, yakni di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Selatan, Sabtu (22/4/2017).

Pelatihan diikuti 49 pelajar dari 24 SMA dan SMK di Jakarta dan materi diberikan oleh tim Cameo Project. Mereka belajar mengenai cara memproduksi konten video positif yang nantinya akan diunggah ke YouTube, Sabtu (22/4/2017).

“Kegiatan hari ini kita kasih workshop tentang gimana mengcreate konten video. Kebanyakan mereka mau jadi youtuber tapi mereka enggak tahu gimana caranya. Jadi kita ngajarin gimana cara menggali ide, cara membuat video step by stepnya,” kata Director Cameo Project Andry Ganda Wijaya.

“Karena sekarang kan banyak konten negatif. Nah kita mau mengimbangi itu,” lanjutnya.

Sementara itu, seminar dengan tema yang sama juga digelar di lokasi yang sama pada hari Jumat (21/4/2017), dan dikuti oleh 270 siswa dari 25 SMA dan SMK di Jakarta.

Senada dengan Andry, Manajer Program Maarif Institute, Khelmy K Pribadi mengatakan kegiatan itu bertujuan mendorong anak muda untuk berfikir kritis dalam menghasilkan konten-konten video positif.

“Kita ajak mereka untuk berfikir skeptis dan kritis tapi untuk menemukan kebenaran, lalu tell the truth lewat video,” tutur Khelmy.

“Mendorong anak-anak untuk memproduksi hal-hal yang positif dan menurut kami itu bagian dari upaya merawat demokrasi,” tambahnya.

Para peserta workshop yang dibagi menjadi 10 kelompok, akan berlomba untuk memproduksi sebuah video bertemakan kebinekaan.

“Mereka akan dibikin 10 kelompok dan buat konsep videonya, yang akan diproduksi dan dikompetisiin, dan dikasih waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. Kita juga ngundang youtuber – youtuber sebagai mentor,” imbuh Andry.

Sumber: http://entertainment.kompas.com/read/2017/04/23/183304810/perangi.konten.negatif.dengan.aksi.pelajar.untuk.kebinekaan.indonesia

Maarif Institute Bawa Pesan Keragaman Hadapi Radikalisme pada Siswa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKART — Maraknya radikalisme di tingkat pelajar, membuat Maarif Institute bersama dengan Cameo Project ingin memberdayakan generasi muda melalui pelatihan konten video positif. Tentunya, dengan tidak melupakan nilai keragaman dan toleransi yang berujung kepada dampak sosial yang luar biasa hebatnya. Pelatihan ini diadakan di lima kota di Indonesia.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Muhd. Abdullah Darraz mengatakan, maraknya isu sosial seperti kebencian, xenophobia, dan ekstremisme yang menerpa generasi muda Indonesia di era digital, juga menjadi salah satu landasan awal inisiasi ini. Dengan tujuan menyebarkan kesadaran toleransi juga empati melalui konten positif, Maarif Institute berkerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Cameo Project mengadakan seminar dengan tema pentingnya toleransi di tengah keragaman untuk siswa-siswi sekolah menengah atas (SMA)/ sekolah menengah kejuruan (SMK).

Abdullah menyebutkan, Maarif Institute dan Cameo Project akan mengunjungi kota-kota besar di Indonesia dengan memberikan lokakarya produksi video kreatif, dari cara bagaimana membuat video dengan narasi positif, tips memasarkan channel YouTube, hingga trik mengedit video kepada pelajar SMA/SMK di lima kota besar di Indonesia (Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang).

“Program ini merupakan upaya kreatif Maarif Institute untuk terus melakukan upaya konter terhadap fenomena radikalisme di kalangan anak muda. Upaya ini merupakan lanjutan dari program besar Maarif Institute yang sudah kami lakukan sejak 2011 lalu bersama dengan Kemendikbud,” katanya di sela-sela pembukaan lokakarya Maarif Institute, di Jakarta, Jumat (21/4).

Dirjen pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad menyambut baik kegiatan positif yang digelar organisasi masyarakat sipil seperti Maarif Institute yang telah melakukan kampanye positif di media sosial dalam upaya memperkuat kebinekaan di kalangan pelajar. Ia menyebut, program ini juga sekaligus sebagai bentuk sinergi yang baik antara Maarif Institute dan Kemendikbud untuk bergotong royong melindungi peserta didik dari pengaruh lingkungan sosial yang tidak sehat dengan memberi mereka kemampuan literasi media yang yang baik.

“Upaya kreatif ini diharapkan juga dapat memperkaya dan memperkuat program gerakan literasi sekolah melalui pendekatan kegiatan kesiswaan dan ekstrakurikuler.” ujarnya.

Acara dimulai di Jakarta pada Jumat (21/4) hingga Sabtu (22/4) esok di Kantor Kemendikbud. Kemudian empat kota lainnya yaitu Yogyakarta (19-20 Mei 2017), Bandung (28-29 Juli 2017), Surabaya (22-23 September 2017), dan Semarang (10-11 November 2017).

 

Sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/04/21/ooqrt2396-maarif-institute-bawa-pesan-keragaman-hadapi-radikalisme-pada-siswa