MAARIF INSTITUTE DORONG KEMENDIKBUDRISTEK BERTINDAK TEGAS DALAM KASUS UNIVERSITAS TEUKU UMAR

Jakarta – MAARIF Institute. Pada 7 April 2023, DPM Universitas Teuku Umar (UTU) Meureubo Aceh Barat, melalui akun resmi Instagram memosting ucapan selamat memperingat Jumat Agung bagi umat Kristiani. Flyer dalam postingan itu kemudian tersebar dan mendapatkan protes dari alumni yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Universitas Teuku Umar (IKA UTU). Pada hari yang sama, akun dpm.utu memosting surat bernomor 01/A/DPM-UTU/IV/2023 terkait permintaan maaf atas postingan ucapan Jumat Agung.

Merespons hal itu, Rektor UTU, Dr. Ishak Hasan, mengadakan pertemuan dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat dan Alumni UTU. Hasil pertemuan itu berupa pemecatan perwakilan DPM UTU pada 10 April 2023. Tak hanya itu, mahasiswa tersebut disyahadatkan ulang karena dipandang telah murtad secara perbuatan. Mereka beranggapan bahwa ucapan selamat itu bertentangan dengan ajaran Islam. Tak berhenti sampai di sana, pengurus DPM juga diminta untuk membuat video permohonan maaf, serta salah satu di antara mereka digunduli.
Menanggapi hukuman tersebut, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali, mengungkapkan bahwa menggunduli mahasiswa merupakan cara merendahkan hak asasi manusia. Terlebih, ucapan hari raya keagamaan merupakan salah satu ranah khilafiah dalam Islam yang harusnya bisa disikapi dengan lebih bijaksana.

“Kalau mau kita lihat secara jujur, kejadian ini menambah daftar panjang praktik buruk dalam dunia Pendidikan. Kampus yang harusnya menjadi tempat persemaian kebinekaan malah menjadi ruang yang sangat sempit. Ironisnya, hal itu dilakukan oleh UTU yang merupakan universitas negeri. Jelas ini bertentangan dengan semangat Kemendikbudristek untuk menghapuskan tiga dosa besar dalam dunia Pendidikan, di mana intoleransi menjadi salah satunya,” ujar Rohim.

Rohim mendesak agar Kemendikbudristek bertindak tegas menanggapi kejadian ini. Pemecatan perwakilan DPM UTU merupakan bentuk kesewenang-wenangan Rektor. Padahal konstitusi menjamin kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. Terlebih, kejadian ini bertentangan dengan kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka yang sedang didorong Kementerian yang dinahkodai Nadiem Makarim.

Hal senada disampaikan oleh Moh. Shofan, Direktur Program MAARIF Institute. Menurutnya, UTU tidak menghormati hak asasi manusia. Padahal civitas akademika di dalamnya berasal dari berbagai suku dan agama. “Sejatinya, kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia. Ucapan selamat seperti itu merupakan wujud toleransi antarumat beragama. Bahkan mungkin menjadi wujud sebenarnya dari Pancasila dalam perbuatan seperti yang selama ini diperjuangkan Buya Syafii Maarif,” tegasnya.

Selama Dua Dekade, MAARIF Institute Konsisten Merawat Pemikiran Buya Syafii

Jakarta – Mensyukuri dua dekade, MAARIF Institute tahun ini menggelar rangkaian acara ‘Tadarus Ramadhan’ dengan menggandeng alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK), alumni Jambore yang tersebar di sejumlah daerah, yang meliputi Sumatra (Padang, Bengkulu) Sulawesi (Makasar dan Manado) dan pulau Jawa (Bogor, Kuningan dan Malang). Acara ini bertujuan untuk mensosialisasikan pemikiran keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan Buya Syafii Maarif, khususnya di kalangan generasi milennial di seluruh penjuru tanah air.

Direktur Program MAARIF Institute, Moh. Shofan, mengatakan kegiatan yang dilakukan melalui layar aplikasi zoom ini, bisa menjadi ruang sekaligus arena perjumpaan yang memungkinkan generasi muda dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman antarsesama yang memiliki latar belakang identitas yang berbeda, baik agama, etnis, suku, bahasa maupun budaya. “Kerja sama dengan berbagai pihak mesti kita lakukan agar masyarakat, terutama generasi milennial, memiliki kesadaran dan tanggungjawab bersama untuk mewarisi serta melanjutkan pemikiran Buya Syafii”, jelasnya.

Bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), UIN Imam Bonjol, Padang, dan UIN Mahmud Yunus, Batusangkar, Padang, acara yang bertemakan, “Konsistensi MAARIF Institute dalam Merawat Pemikiran Buya Syafii” ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Abd. Rohim Ghazali (Direktur Eksekutif MAARIF Institute), Didi Rahmadi (UMSB), Nuraini (UIN Imam Bonjol, Padang). Acara ini dimoderatori oleh Deri Rizal (UIN Mahmud Yunus, Batusangkar, Padang).

Mengawali pemaparannya, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali mengatakan pemikiran Buya Syafii masih sangat relevan dalam memotret kondisi bangsa saat ini, utamanya pemikiran kritis terkait dengan isu keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, kebinekaan, dan keadilan sosial. “Semasa hidupnya, Buya selalu mengingatkan masyarakat untuk menyadari bahwa kondisi Indonesia yang beragam bisa rawan diprovokasi oleh kelompok yang memiliki kepentingan. Kondisi ini berpotensi memunculkan konflik di tengah isu politik identitas yang mulai bermunculan, apalagi jelang pemilu 2024”, pungkas Rohim.

Menurut Rohim, kecintaan Buya pada Indonesia bukan hanya harga mati, melainkan suatu keharusan. “Beliau ingin bangsa Indonesia tetap utuh sampai satu hari menjelang kiamat,” tuturnya.

Sementara narasumber kedua, Nuraini, yang merupakan alumni SKK MAARIF Institute, memaparkan bahwa Buya Syafii, merupakan tokoh Intelektual Muslim yang pemikiran-pemikirannya senantiasa berlandaskan kepada semangat moral agama. Pemikirannya tentang keagamaan mampu menjadi petunjuk moral bagi setiap masyarakat Indonesia dalam membangun kesatuan dan persatuan bangsa ini, jika diterapkan dengan benar dan adil atas nama kemanusiaan.

“Semangat Buya dan perjalanan intelektual yang awalnya begitu menggebu-gebu ingin mendirikan negara Islam hingga menjadi sosok tokoh pembela demokrasi dan pancasila sebagai sebuah bentuk ajaran moral bagi masyarakat Indonesia, harus menjadi cermin moral buat generasi selanjutnya”, jelas Nuraini.

Hal yang sama dikatakan oleh Didi Rahmadi, bahwa ketokohan Buya Syafii sebagai Kompas moral bangsa hingga hari ini belum tergantikan.  Pesan pesan moral Buya, bahwa nilai-nilai keislaman harus mampu bergandengan erat dengan nilai-nilai keIndonesiaan dan kemanusiaan yang adil dan beradab, sehingga tercipta hubungan yang harmonis di tengah keragaman perlu dilanjutkan oleh generasi muda.

Acara yang dihadiri tidak lebih dari 100 orang peserta ini diharapkan mampu mendorong anak-anak muda untuk berpikir konstruktif, progresif dengan terobosan dan inovasi baik itu dalam bidang politik, sosial, agama, kemasyarakatan untuk melawan segala bentuk distorsi yang dapat menyebabkan perpecahan bangsa.

Memasuki Dua Dekade, MAARIF Institute Perkuat Jaringan dengan Anak Anak Muda untuk Melanjutkan Pemikiran Buya Syafii

Jakarta – MAARIF Instiitute tahun ini genap menapaki dua dekade perjalanan sebagai sebuah lembaga yang sedari awal didirikan pada 2003 telah berkomitmen mengawal dan memperkuat kebhinekaan di tengah hantaman dan krisis yang ditandai dengan meningkatnya suhu sektarianisme, intoleransi, ekstremisme kekerasan dan konflik komunal.

Nilai-nilai toleransi perlu didorong menjadi isu utama di kalangan kaum muda, melalui berbagai ragam kegiatan yang bisa memberikan keterampilan kepada mereka untuk mengkampanyekan nilai nilai toleransi guna mencegah pengaruh ekstremisme yang semakin massif.

MAARIF Institute bekerjasama dengan (Madrasah Intelektual Ahmad Syafii Maarih (MI-ASM), IAKN Manado dan IMM menggelar acara Tadarus Ramadhan melalui aplikasi zoom, bertajuk, ‘Mensyukuri Dua Dekade MAARIF Institute’, dengan tema, “Buya Syafii dalam Pandangan Tokoh Agama, Tokoh Budaya, dan Kelompok Minoritas Sulawesi Utara”.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, di antaranya, Denni Pinontoan (Dosen Sosiologi Agama IAKN Manado), Amato Assagaf (Imam Besar Padebokan Puisi Amato Assagaf) dan Hafiz Ahmad Mutu (Jemaat Ahmadiyah Indonesia-Manado). Acara ini dimoderatori oel Nurfadillah (Dosen Universitas Sawerigading Makassar).

Dalam sambutannya, Direktur Program MAARIF Institute, Moh. Shofan, menyampaikan bahwa kegiatan tadarus Ramadhan tahun ini, dimaksudkan untuk mensyukuri dua dekade MAARIF Institute, serta bertujuan untuk mempopulerkan gagasan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan Buya Syafii Maarif, khususnya di kalangan generasi millennial di seluruh penjuru tanah air.

“MAARIF Institute, lembaga yang concern terhadap isu-isu keagamaan, keindonesiaan, dan kemanusiaan, tahun ini genap memasuki perjalanan dua dekade, merasa penting untuk mengangkat tema toleransi dan penguatan kebinekaan demi menjaga keutuhan bangsa sebagaimana dicita-citakan oleh Buya Syafii Maarif. Kegiatan ini bekerjasama dengan para alumni SKK, alumni Jambore yang tersebar di sejumlah daerah: Sumatra (Padang, Bengkulu) Sulawesi (Makasar dan Manado) dan pulau Jawa (Bogor, Kuningan dan Malang)”, kata Shofan.

Mengawali pemaparannya, Denni Pinontoan, menyampaikan harapan besar kepada MAARIF Institute yang kini berusia 20 tahun. Menurutnya, MAARIF Institute dalam perjalanannya telah banyak melakukan kerja-kerja kemanusiaan dan mewarnai diskursus tentang isu toleransi, kebhinekaan, kebangsaan dan kemanusiaan dengan mendasarkan pada pemikiran Buya Syafii Maarif. “Buya Syafii, tidak sekedar berbicara, atau menulis tentang tema kebangsaan dan kemanusiaan, namun turut mengimplementasikannya di masyarakat. Pemikiran dan lakunya adalah washilah menuju gerbang perdamaian. Buya Syafii, dikenal sebagai tokoh yang berani dan kritis namun tetap menghargai siapapun yang tidak sependapat atau bahkan mengkritik pandangannya”, jelas Denni.

Sementara Hafiz Ahmad Mutu, mengatakan bahwa Buya Syafii, di samping sosok negarawan, guru bangsa, juga dikenal sebagai cendekiawan lintas agama, seorang tokoh yang menjadi kekuatan bangsa karena memiliki etika hidup dan keteladanan moral dan agama. Sosok Buya menjadi angin segar, harapan, dan iman yang membela kaum minoritas. Buya adalah orang yang berdiri di atas nilai yang diyakininya benar, bukan mengikuti kemauan orang banyak.

Hal yang sama dikatakan oleh Amato Assagaf, bahwa Buya Syafii selama hidupnya kerap tampil bersama para tokoh budaya dan tokoh agama lain dalam berbagai gerakan moral lintas agama. “Buya Syafii merupakan tokoh yang sangat mudah bergaul dengan siapapun, tanpa membeda-bedakan suku, ras dan agama serta dapat mengayomi seluruh bangsa Indonesia dengan etika hidup dan keteladanannya”, kata Assagaf.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 100 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, dosen, dan masyarakat. Dalam acara ini, moderator juga membagikan lima buah buku terbaru karya Buya Syafii kepada para peserta yang beruntung. Buku ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Buya Syafii, baik di ranah keislaman, kebangsaan yang mengusung nilai-nilai keterbukaan, kesetaraan dan kebhinnekaan yang dapat diwariskan kepada anak-anak bangsa. []

MEMBUMIKAN GAGASAN KEBANGSAAN BUYA SYAFII, MAARIF INSTITUTE GELAR JAMBORE PELAJAR

Jakarta – MAARIF Institute kembali menyelenggarakan acara Jambore Pelajar Teladan Bangsa IX 2022, sejak pertama kali digelar pada 2012. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, pada 27 – 30 Desember 2022, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Kegiatan yang bertujuan untuk membangun ketahanan komunitas berbasis sekolah, utamanya para pelajar ini diikuti oleh  100 pelajar yang berasal 59 kota/kabupaten, dan 21 provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Acara yang diselenggarakan tiap tahun ini sempat terhenti selama 2 tahun, pada 2020 dan 2021, karena pandemi Covid-19.

Dalam sambutan pembukaan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. mengingatkan para pelajar yang terpilih melalui seleksi ini untuk menjaga semangat persatuan dan kebinekaan. Muhadjir juga menyinggung berbagai ancaman yang membahayakan persatuan bangsa, seperti paham radikalisme dan intoleransi yang menyebar di media sosial. “Saya mendukung penuh kegiatan jambore pelajar ini sebagai upaya untuk membangun karakter bangsa sesuai dengan ideologi Pancasila dengan berbagai ragam aktivitas untuk menyibukkan pelajar dengan aktivitas yang positif. Terlebih, nilai-nilai yang diusung MAARIF Institute hingga dikatakan seorang menjadi Pelajar Teladan berupa berakhlak mulia, berpikir secara local-nasional-global, gotong royong, mandiri, kritis, dan kreatif, sejalan dengan apa yang digariskan oleh Kemenko PMK,” jelas Muhadjir.

Sementara, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali, mengatakan bahwa kegiatan jambore ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, inklusivisme dan kebinekaan serta mengarusutamakan nilai-nilai kebangsaan yang moderat, toleran, dan inklusif di kalangan pelajar. “Kegiatan ini memiliki sisi positif dalam membangun karakter pelajar. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi peserta jambore untuk tinggal jauh dari orang tua karena mereka dituntut untuk mandiri dan mampu mengurus kebutuhannya sendiri, mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan, dan menyelesaikan tugas-tugas selama kegiatan berlangsung,” kata Rohim.

Bentuk kegiatan jambore ini menggunakan metode antara model pembelajaran dalam dan luar ruangan serta memadukan model kompilasi teori dan praktik di lapangan dengan harapan bisa memberikan konteks pada teks yang disajikan. “Kegiatan-kegiatan dalam ruangan seperti ceramah, pemutaran dan diskusi film; serta kegiatan di luar ruangan, seperti simulasi, bermain peran, permainan edukatif, dan kunjungan kepada komunitas lintas agama dan budaya, diharapkan membuat peserta menjadi lebih bersemangat dan termotivasi dalam pembelajaran serta memperkuat nilai-nilai toleransi dengan melakukan perjumpaan dan dialog lintas agama dan budaya,” jelas Pipit Aidul Fitriya, selaku Koordinator kegiatan Jambore Pelajar.

Semua rangkaian kegiatan Jambore ini ditujukan bagi generasi penerus agar dapat mewarisi cita-cita dan pemikiran-pemikiran inklusif Buya Syafii, yang selama hidupnya tak pernah berhenti menyuarakan nilai-nilai toleransi, pluralisme, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Juga, agar menjadi bagian dari pemecah masalah (problem solver) dalam berbangsa dan bernegara.

“Semoga pemikiran dan gagasan Buya Syafii bisa menjadi spirit bagi kalangan generasi muda, dan mampu menjadi wadah bagi terbentuknya jejaring intelektual muda dari berbagai daerah dan pelosok di Indonesia, sebagai jangkar bagi penyemaian berbagai ide dan gagasan besar Buya Syafii,” jelas Pipit. []

PENERIMA MAARIF AWARD 2022 CEGAH POLARISASI DAN PERKUAT KOHESI SOSIAL-EKONOMI

Jakarta, 17 Desember 2022 – MAARIF Institute kembali menggelar Penganugerahan MAARIF Award di Grand Studio Metro TV, Sabtu, 17 Desember 2022. Penyelenggaraan tahun ini merupakan pemberian penghargaan ke-9 sejak diberikan pertama kali tahun 2007.

Tujuan award ini mencari figur para pejuang tangguh di tingkat akar rumput, baik individu atau institusi yang memiliki komitmen perjuangan dan keberpihakan terhadap isu-isu kemanusiaan, kelompok marjinal, minoritas, toleransi, dan penguatan kapasitas kepemimpinan lokal. Mereka merupakan aktivis pelopor dan penggerak proses perubahan sosial yang memiliki pemikiran inklusif dan aksi kemanusiaan sebagaimana perjuangan Buya Syafii Maarif. Almarhum dikenal luas sebagai guru bangsa yang lantang membela pluralisme, keadilan sosial, dan mengkampanyekan koeksistensi antar kelompok yang berbeda.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali mengatakan bahwa MAARIF Award bertujuan untuk mengangkat model-model keteladanan dan kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai-nilai kebinekaan, anti kekerasan, dan anti diskriminasi. Kegiatan ini berikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan di tingkat akar rumput.

“MAARIF Award dianugerahkan kepada individu atau lembaga yang kiprahnya dalam melembagakan nilai-nilai kebinekaan sudah teruji konsistensinya dan eksistensinya diterima oleh ragam pihak masyarakat. Proses penetapan peraih penghargaan MAARIF Award 2022 ini, menurutnya, tak berlangsung singkat. Dewan juri MAARIF Award 2022 melakukan proses persidangan dan investigasi yang ketat”, ujar Rohim.
Rikard Bagun, salah satu Dewan Juri yang juga Dewan Pengawas MAARIF Institute, menjelaskan bahwa nama-nama yang lolos untuk menerima MAARIF Award tahun ini telah melewati tahap seleksi administratif, kemudian dipilih oleh Dewan Juri untuk diobservasi dan diinvestigasi secara empirik di lapangan/daerah oleh Tim MAARIF Award 2022 untuk memastikan kelayakannya.

“Calon penerima penghargaan adalah pihak yang mencerminkan pemikiran Buya Syafii tentang kemanusiaan, keindonesiaan, dan kebinekaan. Kami lebih fokus mencari calon penerima anugerah ke daerah, orang yang belum pernah mendapat penghargaan”, ungkap Rikard.

Setelah melalui proses pencarian dan penjaringan yang cukup panjang, MAARIF Award 2022 ini telah menemukan figur, baik individu maupun institusi, yang dapat menjadi role model dalam membangun kohesi sosial dan membangun optimisme ditengah ancaman polarisasi politik dan resesi ekonomi global.

Dewan Juri telah memutuskan untuk memberikan MAARIF Award 2022 kepada dr. Athaillah A Latief, Sp.OG. Ia merupakan tokoh Muhammadiyah yang berperan penting dalam memperjuangkan kemajemukan dan nilai-nilai toleransi di Bireun, Aceh, melalui pendidikan dari berbagai jenjang, pemberdayaan ekonomi masyarakat, advokasi pendirian rumah ibadah, pendampingan kesehatan, dan pencegahan aborsi. Aksi kriminal sekelompok warga terhadap pendirian mesjid yang telah mendapat IMB di Samalanga tidak menyurutkan kegigihan dr. Athoillah. Ia setia menempuh perlawanan secara konstitusional, tidak menganjurkan cara-cara kekerasan.

Kedua, award diberikan kepada Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Manggarai Barat. Sebuah lembaga kesehatan yang diinisiasi bersama masyarakat sipil dan pihak pemerintah melakukan kerja kemanusiaan melalui program rumah tunggu bersalin. BPKD berupaya mengurangi kematian ibu dan anak baru lahir di Manggarai, yang selama ini menjadi problem yang sangat tinggi.
Ketiga, Inkubator Bisnis (INBIS) Permata Bunda Bontang, merupakan unit usaha dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Permata Bunda Bontang Kalimatan Timur. Sejak Tahun 2013, program kewirausahaan berkelanjutan bagi ABK telah memberi manfaat kepada 11.460 orang di Bontang terhitung sampai tahun 2021.

Ditemui di sela-sela penganugerahan MAARIF Award, dr. Athaillah menyampaikan terimakasih karena MAARIF Institute telah mengapresiasi kerja-kerja kemanusiaan dan perjuangannya menegakkan hak konstitusi umat beragama di Bireun. Saya memaknai apresiasi dan penghargaan ini bukanlah sebagai sebuah kebanggaan yang lebih, tapi memaknainya sebagai satu kelanjutan amanah baru untuk melanjutkan kerja-kerja keIslaman dan kemanusiaan yang tidak pernah boleh berhenti sampai akhir hayat”, ungkapnya.

Para penerima MAARIF Award ini adalah orang-orang yang tidak hanya berkomitmen pada keragaman, tetapi juga mampu memajukan kemandirian warga negara untuk meningkatkan kualitas hidup dan memuliakan martabat manusia.
Malam Penganugerahan MAARIF Award 2022 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Ketua Komisi Yudisial Mukti Fajar Nur Dewanta, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Wakil Menteri ATR/BPN Raja Juli Antoni, Ketua Yayasan Ahmad Syafii Maarif Rizal Sukma, Clara Joewono, Suyoto, Rikard Bagun, Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute Abdurrohim Ghazali dan sejumlah tokoh lainnya.

Merefleksikan Kembali Pemikiran Buya dalam Muktamar Pemikiran ASM

MAARIF Institute menyelenggarakan kegiatan Muktamar Pemikiran Ahmad Syafii Maarif: Islam, Kebhinekaan dan Keadilan Sosial, pada 12 Nopember 2022 di Ruang auditorium Muhammad Djazman, Kampus I UMS Solo. Dalam kegiatan Muktamar Pemikiran ini ada empat sesi diskusi. Sesi pertama dengan mengusung tema Inklusivitas, kesetaraan dan Persaudaraan Lintas Batas, dengan narasumber oleh Prof Dr. Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Anggota Dewan Pengarah BPIP), Dr. Romo Greg Soetomo (Koordinator Dialog dengan Muslim di Jesuit Conference of Asia Pacific, Manila, Filipina), dan Elga Sarapung (Dian Interfidei).

Sesi kedua mengusung tema Arabisme, Lokalitas, dan Kosmopolitanisme Islam, dengan narasumber Ulil Abshar Abdalla (Ketua Lakpesdam NU), Dr. Azhar Ibrahim (National University of Singapore) dan, Yayah Khisbiyah, MA (Dosen UMS).

Sesi ketiga mengusung tema Alquran, Pancasila dan Keadilan Sosial dengan narasumber Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani (Kepala OR IPSH-BRIN), Dr. J Haryatmoko, SJ (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta) dan, Nurani, MA (Alumni SKK-ASM 2 2018).

Sedangkan sesi keempat mengusung tema Tantangan Intoleransi dan Politik Identitas di Indonesia: Meneruskan Legacy Perjuangan Ahmad Syafii Maarif. Narasumber pada sesi empat ini terdiri dari Philips J. Vermonte, Ph.D, Thung Ju Lan, Ph.D (Peneliti Senior BRIN) dan, Cici Situmorang (Alumni SKK-ASM 1 – 2018).

Dalam pemaparannya Prof. Amin Abdullah menyampaikan, sosok Buya Syafii harus menjadi inspirasi bagi anak-anak muda, sebab tantangan hari ini jauh lebih kompleks dan mendesak untuk segera mencari solusinya, misalnya konservatisme dalam dunia Pendidikan Islam. “Munculnya praktik konservatisme dan intoleransi di Indonesia di antaranya kurangnya tradisi literasi di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Kedua, disebabkan pemahaman akan anti filsafat, dan ketiga penggunaan dan pendekatan terhadap pemahaman teks keagamaan yang tidak kaya sehingga mendistorsi dari makna dan substansi dari beragama itu sendiri”, jelas Prof. Amin.

Sementara, Dr. Romo Greg Soetomo juga menjelaskan bahwa sosok buya memiliki pendapat Islam sebagai agama hanya akan memiliki dampak perubahan sosial bila seorang Muslim memiliki pemahaman yang luwes terhadap Al-Quran. Sudah barang tentu topik ‘keluwesan dalam memahami Quran’ ini membutuhkan penjelasan sistematis dan terinci untuk menghindari kesalahpahaman.

“Islam, menurut Buya Syafii, harus senantiasa bersentuhan dengan realitas dan konteks masyarakat yang sedang berkembang. Islam bukan ajaran spiritual yang serba abstrak dan melulu hanya bicara tentang langit. Ia menyampaikan ajaran yang membumi dan memberikan efek sosial yang nyata. Oleh karena itu, isu – isu dan permasalahan seperti ketidakadilan menjadi keprihatinan Islam dan seorang muslim untuk mengubahnya. Adil dan tidak adil adalah nilai inti dari mana nilai-nilai kebaikan lain lahir dan tumbuh”, kata Greg Soetomo.

Kemudian sesi kedua lebih fokus pada isu fenomena praktik arabisme, lokalitas dan kosmopolitanisme Islam di Indonesia. Dalam kesempatan ini, Ulil Abshar Abdallah  memotret fenomena gerakan arabisme dan lokalitas serta kosmopolitanisme. Menurutnya, Salafisme memiliki sejumlah sumbangan positif seperti semangat untuk konsisten kepada Quran dan Sunnah. Namun begitu, ada sejumlah kelemahan mendasar dalam gerakan ini, yaitu adanya asumsi bahwa ajaran-ajaran masa lampau seluruhnya masih memadai untuk menjawab berbagai persoalan masa kini. Gerakan ini tidak menyadari bahwa ada keterkaitan erat antara teks dan konteks; saat konteks berubah, maka teks harus dipahami ulang. “Masalah besar terjadi, ketika sebagian masyarakat menjadikan teks Quran dan Sunnah sebagai “penyetop perbincangan”. Ini bukan sesuatu yang sehat”, tegas Ulil.

Sementara Azhar Ibrahim, menyampaikan bahwa Isu-isu keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang selama ini disuarakan Buya Syafii, bukan hanya mewakili Indonesia, tapi sangat cocok dengan alam melayu secara keseluruhan, dan dapat pula disesuaikan kepada tuntutan zaman dan budaya setempat. “Saya sendiri beruntung mengenali beliau, mendapat limpahan ilmu dan pengalaman yang sangat berharga”, kata Azhar.

Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang peserta dari berbagai daerah yang tersebar di lintas provinsi di seluruh Indonesia yang terdiri dari, peserta SKK – ASM periode tahun 2022, Peneliti Muda alumni program Maarif Fellowship dan alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) Ahmad Syafii Maarif, kader intelektual dan aktivis lintas agama serta intelektual dan aktivitas ormas – ormas islam.

Gagasan Kebangsaan Buya Syafii Dikaji Kembali Dalam Muktamar Pemikiran

Surakarta, 12 November 2022, MAARIF Institute menyelenggarakan kegiatan Muktamar Pemikiran Ahmad Syafii Maarif: Islam, Kebhinekaan dan Keadilan Sosial, pada 12 Nopember 2022 di Ruang auditorium Muhammad Djazman, Kampus I UMS Solo. Dalam kegiatan Muktamar Pemikiran ini ada empat sesi diskusi.

Di antaranya mengusung tema Alquran, Pancasila dan Keadilan Sosial dengan narasumber Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani (Kepala OR IPSH-BRIN), Dr. J Haryatmoko, SJ (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta) dan, Nurani, MA (Alumni SKK-ASM 2 2018).

Sedangkan sesi lain, mengusung tema Tantangan Intoleransi dan Politik Identitas di Indonesia: Meneruskan Legacy Perjuangan Ahmad Syafii Maarif. Narasumber pada sesi empat ini terdiri dari Philips J. Vermonte, Ph.D, Thung Ju Lan, Ph.D (Peneliti Senior BRIN) dan, Cici Situmorang (Alumni SKK-ASM 1 – 2018).

Dalam paparannya, Romo Haryatmoko, mengatakan bahwa jika kita melihat pikiran-pikiran kritis Buya Syafii, ia bukan tipe pemikir yang mengurung diri di menara gading, tetapi sekaligus aktivis organisasi yang sangat peduli memperjuangkan Indonesia yang semakin adil, damai dan menerima keberagaman. “Maka tidak mengherankan bahwa di dalam tulisannya tidak berhenti pada wacana teoritis, namun selalu resah memikirkan bagaimana tindak lanjutnya”, jelas Romo.

Sementara Prof. Najib Burhani, mengatakan bahwa kalau menggambarkan Buya dengan dua kata, ia akan menggunakan kata humanisme dan moralitas. Humanisme yang diartikan oleh Buya agak berbeda dengan yang lain. Secara prinsipil memang sama, karena Buya juga selalu mengutip Al-Maun. Tetapi secara implementasi berbeda. Misalnya Buya mengartikan humanisme dengan perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketimpangan. Buya sering mengatakan bahwa sila kelima belum diimplementasikan di Indonesia.

Dalam sesi berikutnya, Philips J Vermonte, Ph.D mengatakan permasalahan yang paling berat adalah bagaimana mengelola hubungan agama dan negara. Padahal persoalan filantropis, persoalan sosial adalah persoalan yang kerap muncul tiap hari. Jika melihat para founding fathers negara ini, maka tidak sedikit yang justru melancongkan pemikiran dan pengalaman intelektual. Dari Bung Hatta, Syahrir, Bung Karno dan yang lainnya tidak hanya stagnan pada kondisi tertentu, justru mereka melakukan rantauan intelektual baik dalam arti sebenarnya, ataupun secara esensi. Spiritual Journey sangatlah penting dalam membentuk hubungan negara dan agama, baik secara personal maupun secara komunal.

“Situasi peralihan dari otoritarianisme menuju demokrasi menjadi salah satu alasan mengapa Buya Syafii Maarif menjadi Soko guru tidak hanya bagi Muhammadiyah, tetapi bagi bangsa Indonesia.” Pemimpin itu, memiliki karakteristik pendidik dan komunikator. Hal ini yang dimiliki oleh Buya Syafi’i Ma’arif ujar Philips J Vermonte, Ph.D.

Perbedaan hanya akan menjadi jebakan konflik saat masyarakat atau persona tidak siap dalam mengatasi persoalan-persoalan diri sendiri, apalagi ketika persoalan itu dikelola dan diselesaikan oleh Negara. Prinsipnya adalah kewarganegaraan. Sedangkan konflik di lingkungan kita hanya dapat diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri.

Selanjutnya Thung Ju Lan, Ph.D menyampaikan Keindonesiaan itu perlu ditata dengan sangat serius, seperti yang dikatakan Buya Syafii Maarif bahwa kita kurang serius dalam menata keindonesiaan dalam berbagai ruang, terlebih ruang-ruang identitas agama dan etnis. Untuk menata keindonesiaan, perlu pendekatan multikulturalisme dan pluralisme. Sehingga kita perlu mengenali faktor-faktor alasan dasar menata keindonesiaan; faktor historis, perubahan sosial, hubungan negara dengan masyarakat, dan kewarganegaraan.

Hal inilah yang selalu disinggung oleh Buya Syafii, bahwa kaitan politik identitas seharusnya lebih menitik beratkan pada kemanusiaannya, bukan kepentingan yang lain.

“Saya melihat bahwa politik identitas justru lebih erat pada kepentingan-kepentingan politik dan menggerakkan masa, sedangkan dalam sudut pandang kewarganegaraan, kita adalah sama sebagai manusia.” Ucap Thung Ju Lan, Ph.D

Kegiatan Muktamar ini diikuti oleh 100 orang peserta dari berbagai daerah yang tersebar di lintas provinsi di seluruh Indonesia yang terdiri dari, peserta SKK – ASM periode tahun 2022, Peneliti Muda alumni program Maarif Fellowship dan alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) Ahmad Syafii Maarif, kader intelektual dan aktivis lintas agama serta intelektual dan aktivitas ormas – ormas islam.

MAARIF Institute Gelar Muktamar Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

Surakarta, 12 November 2022, Melanjutkan agenda pencerahan dan transformasi reformasi Islam dalam bingkai keindonesiaan pasca Buya Syafii, MAARIF Institute punya tanggungjawab moral untuk mewarisi, merawat serta melanjutkan dan menghidupkan ruang-ruang diskusi dan debat mengenai apa yang telah dirumuskan Buya Syafii selama hidupnya. Untuk tujuan itu, MAARIF Institute menyelenggarakan kegiatan Muktamar Pemikiran Ahmad Syafii Maarif: Islam, Kebhinekaan dan Keadilan Sosial, pada 12 Nopember 2022 di Ruang auditorium Muhammad Djazman, Kampus I UMS Solo.

Kegiatan ini menghadirkan beberapa tokoh lintas agama dan cendekiawan dengan fokus membahas relevansi pemikiran ASM dalam konteks tantangan keindonesiaan dan kemanusiaan. Kegiatan simposium ini diharapkan melahirkan pokok-pokok pikiran yang disumbangkan seorang kader terbaik Muhammadiyah untuk bangsa dalam rangka siar Muktamar Muhammadiyah ke-48.

Pertemuan ilmiah ini menghadirkan sejumlah narasumber bertaraf internasional untuk menyampaikan apa yang menjadi keresahan dan gagasan Buya Syafii yang digeluti sepanjang karir intelektualnya. Beberapa narasumber yang hadir di antaranya Prof. Dr. KH. Haedar Nashir (Ketua Umum PP. Muhammadiyah), Prof. Dr. Sofyan Anif (Rektor UMS), Prof. Dr. Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta / Anggota Dewan Pengarah BPIP), Dr. Romo Greg Soetomo (Koordinator Dialog dengan Muslim di Jesuit Conference of Asia Pacific, Manila, Filipina), Elga Sarapung (Dian Interfidei), Ulil Abshar Abdalla (Ketua Lakpesdam PBNU), Dr. Azhar Ibrahim (National University of Singapore), Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani (Kepala OR IPSH-BRIN), Dr. J. Haryatmoko, SJ (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), Thung Julan (Senior Researcher The Research Center for Society and Culture – The Indonesion Institute), Philips J Vermonte, Ph.D. (Dekan Fisip UIII), dan Yayah Khisbiyah (Direktur Eksekutif PSBPS UMS)

Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah menginternalisasikan semangat intelektualisme dan cita-cita sosial Ahmad Syafii Maarif di kalangan kaum muda Indonesia melalui proses diskursus publik dan kaderisasi intelektual.

“Buya Syafii selalu menegaskan pentingnya anak-anak bangsa untuk menjalin persaudaraan, bekerja sama dengan berbagai pihak, baik intra dan antar-agama, untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan, sebagaimana dicita-citakan Buya Syafii”, jelasnya.

Pesan yang sama disampaikan Dewan Pembina Maarif Institut Fajar Riza Ul Haq, bahwa menyampaikan, bermuhammadiyah bagi Buya Syafii adalah berkemajuan, yang selaras dengan risalah Islam berkemajuan pada salah satu spiritnya, yaitu Islam adalah jiwa kemajuan. “Buya Syafii merupakan seorang pemikir yang membawa pikiran Islam pada arah yang berkemajuan. Nilai berkemajuan itulah yang tergambar dalam tulisan-tulisannya, perilakunya, dan juga sisi keluasan pergaulannya,” ujar Fajar.

Sementara Wakil Rektor IV UMS, Prof., Dr., dr., EM., Sutrisna, sangat mengapresiasi kegiatan Muktamar Pemikirasn Ahmad Syafii Maarif, yang akan dilanjutkan dengan kegiatan Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan, selama lima hari ke depan. “Sebagai tuan rumah, kami merasa punya tanggungjawab moral-akademis, untuk turut menyebarkan gagasan serta melanjutkan pemikiran Buya yang sangat dibutuhkan bangsa ini.

“Selamat mengadakan Muktamar Pemikiran selama 6 hari di UMS, yang Insyaallah semua berkah, menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi kemanusiaan,” katanya.

Sementara Prof. Haedar Nashir, dalam sambutannya, yang sekaligus membuka acara Muktamar Pemikiran, mengatakan bahwa kegiatan ini patut disambut dengan baik dan menjadi bahan inspirasi dan pengayaan khazanah keumatan dan kebangsaan untuk mengenang Buya Syafii, sang mujahid bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Haedar, menyampaikan, perlunya diingat kembali, bahwa perempuan Indonesia telah lama hadir untuk kebangkitan nasional menuju Indonesia merdeka, melalui kongres perempuan pertama. “Maka letakkan juga bahwa Kongres Perempuan itu bukan hanya tentang kebangkitan Indonesia tapi juga untuk Indonesia Merdeka,” ujar Haedar Natsir.

Menurutnya, berpandangan kritis terhadap sila ke-4 Pancasila yang menurutnya telah terjadi dekonstruksi secara ambyar, pasca reformasi, dalam kaitannya dengan praktik maupun konstruksi pemikiran. “Intinya sebenarnya amandeman UUD 1945 dalam konteks sila ke-4 itu sudah menghapus sila ke-4,” ujar Haedar.

Acara Muktamar yang dihadiri tidak kurang dari 100 peserta dari tokoh lintas agama, cendekiawan, akademisi, aktivis, dan mahasiswa ini, merupakan rangkaian acara Festival Pemikiran Ahmad Syafii Maarif, yang berlangsung hingga Mei 2023 tahun depan. Semoga sikap intelektual, kebersahajaan, dan keteladanan yang ada pada diri Buya bisa menjadi virus positif bagi segenap masyarakat di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda millennial, dengan harapan mereka bisa menyebarkan pemikiran Islam yang inklusif, toleran, moderat serta berpihak pada kemanusiaan, kenegaraan serta keindonesiaan. Pula, mereka setidaknya memiliki perspektif, sikap dan pendirian yang relatif sama dalam memotret dinamika, perubahan dan perkembangan kehidupan keberagaman di Indonesia.

SIARAN PERS: MAARIF Institute Apresiasi Langkah Pemerintah Australia Wujudkan Komitmen Kemanusiaan Terhadap Palestina

Jakarta, Pemerintah Australia menyatakan tidak akan mengakui lagi Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Langkah ini dimaksudkan sebagai dukungan untuk Palestina. Hal ini dinyatakan pemerintah Australia untuk menegaskan posisi mereka di antara konflik Israel dan Palestina. Pernyataan resmi itu dikeluarkan oleh Penny Wong, Menteri Luar Negeri Australia, untuk memperbarui komitmen Australia dalam upaya internasional untuk mewujudkan solusi dua-negara yang adil dan abadi.

Komitmen Pemerintah Australia ini merupakan langkah yang patut diapresiasi karena sebelumnya kebijakan pemerintah konservatif Australia cukup kontroversial karena mendukung Israel menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota mereka. Dengan tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, secara tidak langsung, Australia telah memberikan sokongan kemanusiaan dan mendukung kelanjutan negosiasi perdamaian.

Menurut Moh. Shofan, Direktur Program Maarif Institute, kebijakan pemerintah Australia sejalan dengan pandangan Buya Syafii Maarif—yang sejatinya juga senafas dengan pandangan kelembagaan MAARIF Institute—agar lebih melihat masalah Palestina sebagai masalah kemanusiaan, dan bukan masalah agama.

“Buku Buya Syafii, tentang Gilad Atzmon itu sebagai cermin dari sikap politik Buya terhadap perjuangan rakyat Palestina. Buya menolak soal Palestina sebagai masalah agama melainkan soal kemanusiaan. Dunia harus bercermin kepada Gilad Atzmon yang tanpa rasa takut diintimidasi atau dibunuh sekalipun karena  memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari cengkeraman penjajahan bangsanya sendiri”, ujar Shofan.

Kekejaman yang terjadi di Palestina merupakan tragedi politik, tragedi kemanusiaan, dan tragedi hukum yang sangat biadab dan memalukan di mata dunia. Israel telah menciptakan sebuah sejarah gelap selama abad ke-20 hingga awal abad ke-21 sekarang ini. Penderitaan rakyat Palestina akibat kekejaman Israel sudah berlangsung sejak tahun 1948. Yang menyedihkan, Persyarikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan suara dari OKI hingga hari ini belum memiliki keseriusan untuk menghentikan penjajahan Israel terhadap Palestina. Di sisi lain, Israel tidak mengindahkan perjanjian damai dan juga resolusi dari PBB. Belum lagi, negara-negara Arab yang melingkari Israel telah lama lumpuh menghadapi kekuatan Zionisme global ini.

Menurut Shofan, dimensi global dari masalah konflik ini telah dirasakan sejak lama, tetapi solusi hingga sekarang belum tercapai. Badan hak asasi PBB harus segera menyelidiki semua dugaan pelanggaran dan pelanggaran hukum internasional terkait dengan ketegangan, yang memicu kekerasan baru.

Hal yang tak kalah pentingnya, menurut Shofan, adalah pentingnya aliansi global melawan ketidakadilan politik terhadap Palestina dan menuntut konsistensi negara-negara Barat dalam menegakkan HAM tanpa pandang bulu. Kebijakan Australia ini dapat lebih merekatkan kerjasama strategis dengan Indonesia yang konsisten menyuarakan solusi damai dan kemerdekaan Palestina. Terlebih Indonesia telah lama menjalin hubungan diplomasi dengan Palestina.Sejarah mencatat bahwa salah satu negara di Timur Tengah yang mendukung dan memberikan pengakuannya kepada Indonesia pasca proklamasi adalah Palestina. []

Tragedi Kanjuruhan adalah Tragedi Kemanusiaan

Indonesia berduka, sepakbola Indonesia terluka. Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu, 01 Oktober 2022 yang menewaskan 129 orang merupakan tragedi kemanusiaan, bukan hanya terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia, bahkan yang terburuk kedua di dunia setelah tragedi Estadio Nacional (National Stadium), di Lima, Peru, 24 Mei 1964 yang menewaskan 328 orang. Tragedi Kanjuruhan jauh lebih buruk dari tragedi Hillsborough, Sheffield, Inggris, 15 April 1989 yang menewaskan 96 orang dan disebut-sebut sebagai sejarah terkelam dalam sejarah sepakbola Eropa.

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Terjadinya kerusuhan di lapangan menjadi bukti masih adanya masalah yang serius dalam pesepakbolaan nasional. Setelah tragedi Kanjuruhan, persepakbolaan nasional harus introspeksi, tidak saling menyalahkan. Kementerian Pemuda dan Olahraga, PSSI, klub-klub sepakbola, penyelenggara kompetisi, suporter, dan seluruh pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mengevaluasi diri, termasuk pihak aparat keamanan.

Agar kerusuhan di lapangan sepakbola tidak terjadi lagi, diperlukan langkah-langkah yang tepat, misalnya dengan pemberian sanksi berat terhadap klub, suporter, dan penyelenggara kompetisi yang terlibat dalam kerusuhan. Sanksi berat diperlukan untuk membuat efek jera bagi semua pihak yang terlibat, dan bisa menjadi pelajaran penting bagi stakeholder sepakbola yang lain.

Sebelum kompetisi dan pertandingan dilakukan, perlu langkah-langkah antisipatif yang komprehensif agar lapangan sepakbola tetap menjadi hiburan, tidak berubah menjadi kuburan. Kemenangan dan kekalahan adalah hal yang biasa, jangan ubah sukacita menjadi ajang dukacita.

Dukacita mendalam kami untuk dunia sepakbola Indonesia.

Salam
Abd Rohim Ghazali
Direktur Eksekutif MAARIF Institute