Tag Archive for: Sejarah islam

Ranah Gurindam dalam Sorotan 3

Ada fakta lagi yang menyangkut masalah amanah. Seorang pengusaha berhasil asal Solok yang sering mondar-mandir antara Jakarta-Australia, beberapa minggu yang lalu menyampaikan keluhan kepada saya di Jakarta, bahwa di kampungnya untuk mencari orang yang dapat dipercaya dalam masalah uang, termasuk di kalangan keluarganya sendiri, amatlah sukar.

Pengalaman pahit serupa juga dirasakan oleh para perantau yang ingin membantu kampung. Kebocoran amanah berserak di berbagai kampung dan nagari. Saya sendiri amat maklum dengan keluhan ini, sebab itu semua juga merupakan bagian dari apa yang saya alami sejak sekian lama. Jika demikian, di mana agama, di mana adat yang diperkatakan saban hari sebagai sumber kearifan dan kejujuran?

Jawabannya, agama dan adat lebih banyak diperkatakan dalam khotbah, perhelatan, dan pertemuan-pertemuan khusus, tetapi dikhianati dalam laku dan perbuatan, persis seperti bangsa ini telah mengkhianati nilai-nilai Pancasila sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Kata dan laku telah pecah kongsi, dipicu oleh “mentalitas menerabas”, ingin cepat kaya melalui jalan pintas tanpa berkeringat, untuk meminjam hasil penelitian Koentjaraningrat tahun 1970-an. Antropolog ini membidik laku usahawan baru Indonesia dengan menggunakan ungkapan:…’menyikat keuntungan sebesar-besarnya mumpung ada kesempatan’, “tanpa mau untuk juga mengunyah pahit getirnya masa permulaan berusaha.”

Hal serupa juga terjadi di kalangan birokrasi… “yang ingin segera mencapai fasilitas-fasilitas pangkat-pangkat tinggi dalam waktu secepat-cepatnya dengan cara-cara menerabas, tanpa rela berkorban dan berjuang melawan kesukaran-kesukaran dalam mencapai suatu ketrampilan dan kepandaian ilmu yang diperlukan.” Ironisnya, pernyataan Koentjaraningrat ini yang sudah muncul sejak pertengahan tahun 1970-an, tidak saja relevan dengan era kita di permulaan abad ke-21 ini, malah kondisinya semakin keruh dan kumuh saja.

Di mana-mana kita temui kanyataan merajalelanya cara hidup ikan lele: “semakin keruh air, semakin lahap makannya.” Fatwa agama, pengarahan pejabat, seruan adat, sudah lama tidak berfungsi. Jika ada ungkapan lama sebagai kritik terhadap kebebalan seseorang: “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri,” sekarang kondisinya semakin hitam: “masuk telinga kanan, ke luar telinga kanan.” Segala kritik sosial, nasehat-nasehat agama, petuah-petuah adat seakan-akan tidak ada gunanya lagi. Nurani dan akal sehat sudah lama lumpuh.

Di lingkungan birokrasi dan aparatur negara dalam upaya melawan korupsi, misalnya, fakta terlihat dalam formula yang menghebohkan ini: “Koruptor dan aparat penegak hukum sebenarnya bersahabat!” Kita sedang kehilangan kesungguhan dalam mengurus bangsa dan negara.

Anda bisa bayangkan tentang betapa kumuhnya lingkungan budaya bangsa ini, dan Minang, negeri beradat, tampaknya tidak kebal dari serangan virus semacam itu. Dalam beberapa hal, boleh jadi layanan birokrasi di Jawa lebih baik dibandingkan dengan yang berlaku di Sumatera Barat. Maka tidaklah mengherankan benar, para perantau Minang tidak betah berlama-lama tinggal di negeri beradat ini, ada perasaan resah dan perih yang selalu melingkari, apalagi jika anda rakyat kecil.

Dalam suasana mentalitas dan budaya yang keruh ini, adalah sebuah nonsens besar bila para elit masih juga berbicara tentang idealisme, tentang hari depan bangsa, tentang melawan kemiskinan, sementara laku mengkhianati itu semua tanpa rasa dosa. Perasaan tidak takut kepada dosa dan dusta adalah salah satu buah dari penyakit “mentalitas menerabas” yang semakin kronis menggerogoti urat nadi bangsa ini.

Minangkabau, negeri elok, sudah lama menantikan anak-anaknya agar berani menyimpang dari “pola umum” yang korup yang sedang melilit batang tubuh Indonesia sekarang, tetapi alangkah sukarnya. Gravitasi mumpungisme sungguh merupakan gelombang besar untuk dilawan, tetapi kita harus sadar bahwa dalam perlawanan itulah terletak masa depan kita semua. Oleh sebab itu, stamina spiritual kita tidak boleh kendor. Kita jangan menyerah kepada segala bentuk kekumuhan dan kekeruhan budaya, karena kita orang merdeka!

Minang dan Mitologi

Kelampauan Minang yang juga tidak bebas dari mitologi masih dirasakan pengaruh psikologisnya sampai hari ini. Ada dua mitos karut yang perlu mendapat perhatian kita dalam upaya bangkit kembali secara autentik. Mitos-mitos yang dapat membawa kita ke lingkaran hidup dalam kebanggaan semu harus ditinggalkan dengan sadar dan berani.

Mitos itu berkaitan dengan cerita tentang Iskandar Zulkarnain dan tentang kemenangan adu kerbau Minang melawan kerbau Jawa. Kita harus mencari kelampauan yang historis dalam upaya membangun jati-diri kita, apalagi jika kita mau berpedoman kepada Al-Qur’an yang anti-mitos.

Dengan bahasa sinisme yang tajam, sastrawan Wisran Hadi menulis dalam Orang-Orang Blanti tentang asal-usul orang Minang yang dikaitkan dengan Iskandar Zulkarnain sebagai berikut: “Lalu, kita bangga dengan keaslian turunan kita. Kita menganggap diri kita keturunan langsung dari Raja Iskandar Zulkarnain yang termasyhur. Padahal mungkin kita keturunan budak-budaknya. Kita menganggap turunan dari Indo Jalito, Indo Jati, nenek yang kita keramatkan, padahal kita mungkin keturunan kuntilanak, musang atau burung hantu.”

Pernyataan ini bagi saya dahsyat sekali karena Wisran Hadi mau dan berani menelanjangi diri sendiri dalam kerja membangun autentisitas. Berkaca diri dan melihat diri apa adanya adalah sikap terpuji yang harus dikembangkan. Mitologi yang sering berfungsi sebagai penghibur lara itu jika dijadikan pertimbangan dalam membangun peradaban hanyalah akan mempertinggi tempat jatuh, karena faktanya memang tidak ada.

Jadi, fondasinya rapuh sekali. Percaya kepada mitos adalah bayangan dari masyarakat yang tidak percaya kepada diri sendiri, lalu bernaung di bawah payung kebesaran masa lampau yang kosong dan hampa. Sama halnya dengan kepercayaan kepada kedatangan ratu adil yang akan membawa lampu aladin untuk melepaskan suatu bangsa atau masyarakat dari ketertindasan.

Minangkabau adalah kampung umat beriman yang secara lahiriah bangga dengan ajaran agamanya. Islam datang ke muka bumi dengan suluh matahari, bukan suluh batang pisang. Sebagai agama terbuka, Islam membela keterbukaan dan kejernihan berfikir, bebas dari segala mitos yang mematikan hati nurani dan akal sehat. Perintah Al-Qur’an untuk mempelajari sejarah dan alam semesta bertujuan agar manusia tidak terpasung dalam perbudakan mitologi.

Sebenarnya ungkapan yang populer di Minangkabau: “Alam terkembang jadi guru” sangat akrab dengan diktum-diktum yang bertebaran Al-Qur’an. Kita kutip terjemahan ayat ini: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di cakrawala (alam semesta) dan pada diri mereka sendiri, sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa ia (al-Qur’an) itu benar.”

Oleh sebab itu, jika memang kita berpegang kepada diktum “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah,” segala mitologi yang menidurkan orang Minang harus dibuang jauh-jauh. Tidak ada pilihan lain untuk bangkit, kecuali membebaskan diri dari segala macam kepercayaan dan mitologi, betapa pun kadang-kadang menyenangkan, tetapi pada saat yang sama pasti menggerogoti posisi dan martabat manusia sebagai teman sekerja Tuhan dalam mengubah wajah kenyataan.

Mitos lain yang juga terdengar sampai di pelosok adalah cerita adu kerbau. Ada semacam kepiawaian, jika bukan kelicikan, yang terkandung dalam cerita itu. Kerbau jantan Jawa yang gagah perkasa dibunuh oleh anak kerbau Minang yang sebelumnya dilaparkan selama tiga hari, tetapi diberi tanduk emas. Maka di sebuah tanah lapang, berlagalah dua kerbau itu. Karena merasa sangat lapar, kerbau Minang langsung menyeruduk ke bawah perut kerbau Jawa yang perkasa itu.

Dalam tempo beberapa detik kerbau Jawa lumpuh, isi perutnya terberai ke luar, tertusuk oleh tanduk emas anak kerbau Minang. Maka pertandingan dimenangkan oleh Minang, Jawa menyerah, tidak berkutik. Alangkah hebatnya Minang itu, bukan?

Dari kejadian itulah, kata mitologi itu, nama Minangkabau berasal, bukan dari nama lain: Menang Kerbau menjadi Minangkabau. Saya tidak tahu apakah di masa PRRI, cerita semacam ini juga dikembangkan, tetapi di ujung perjalanan pergolakan, dengan korban yang cukup tinggi di pihak daerah, sekitar 30.000, fakta sejarah mengatakan bahwa perlawanan Minang akhirnya menjadi lumpuh total digempur Jakarta, sekalipun Ahmad Husein masih berani mengintrupsi Sukarno di Istana Bogor tahun 1961 itu.

Apa yang Mungkin Dilakukan?

Sekiranya kesan umum saya tentang Minangkabau sekarang ada unsur kebenarannya, apalagi jika semuanya itu adalah puncak sebuah gunung es, maka perlu difikirkan langkah-langkah serius berdasarkan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif dalam upaya mencari jalan ke luar yang masuk akal dan dapat dilaksanakan. Tentu dalam pelaksanaannya akan melibatkan semua unsur dari masyarakat Minang: pemerintah, organisasi-organisasi kemasyarakatan, lembaga adat, anak muda, perantau, kaum cerdik-cendekia, dan bundo kandung.

Dicari tokoh-tokoh siuman dari berbagai komponen itu untuk merumuskan solusi yang terbaik bagi masa depan Minang, jika kesimpulan kita mengatakan bahwa memang Minang sedang digoncang gempa budaya. Sebenarnya kegiatan untuk mencari solusi ini sudah berkali-kali dilakukan, tetapi barangkali belum ada perencanaan yang matang dan tidak ada kontinuitas dari sebuah upaya ke upaya yang lain.

Ada ungkapan menarik dari seorang antropolog asal Minang kepada saya beberapa minggu yang lalu, bunyinya begini: “Orang Minang itu bisa sama-sama bekerja, tetapi tidak bisa bekerja sama.” Mudah-mudahan pernyataan ini tidak didukung oleh realitas yang sebenarnya, orang Minang masih mau dan bisa bekerja sama, mengapa tidak?

Akhirnya, sebagai perantau saya merasa sangat dekat dengan keminangan ini, tetapi polusi suara dalam angkot tetap saja menyisakan pertanyaan ini: quo vadis Minangkabau? Apakah secara kultural dan moral Minang akan tetap menjadi bagian dari Indonesia yang rusak atau berusaha bangkit dengan melakukan penyimpangan dari pola umum bangsa yang sarat dengan beban itu? Jawabannya sebaiknya kita cari bersama!

Sikap Saling Memahami Antara Islam dan Barat (1)

Dunia Islam sampai hari ini dalam ketidakberdayaannya juga memendam dendam tak berkesudahan terhadap Barat.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. sudah memasuki ruang sejarah sekitar 1455 tahun dalam hitungan hijriah. Dalam hitungan miladiah 1411 tahun, dimulai sejak turunnya wahyu yang pertama pada 610. Penentuan permulaan tahun hijriah adalah hasil ijtihad ‘Umar bin Khattab dan ‘Ali bin Abi Thalib. Dimulai bulan September tahun 622 saat nabi berhijrah ke Madinah.

Menurut kesaksian Alquran (s. al-Hajj ayat 78) nama umat Muslim diberikan oleh nabi Ibrahim, yang juga menjadi bapak spiritual umat Yahudi dan umat Kristen (Nasrani). Peradaban Barat lebih banyak dibentuk oleh tradisi Yahudi dan tradisi Kristen (Judeo-Christian tradition), di samping oleh warisan Yunani.

Dibandingkan dengan agama Yahudi dan agama Kristen, Islam adalah pendatang baru yang selama ratusan tahun terhambat untuk memasuki pusat-pusat peradaban Barat modern. Seakan-akan Islam itu hanyalah fenomema Timur, padahal Alquran dengan jelas mengatakan bahwa Timur dan Barat adalah milik Allah (s. al-Baqarah: 115 dan 142). Atau dalam ungkapan lain, Alquran menyebut “Tuhan Timur dan Barat” (s. al- Syu’arâ ayat 28 dan al-Muzammil ayat 9).

Ketika ayat-ayat itu turun, tentu Barat yang dimaksud bukan Barat sebagai unit peradaban seperti yang kita kenal kemudian. Barat dan Timur dalam ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa milik Allah itu adalah seluruh kemestaan ini, di samping Timur sebagai tempat terbit matahari dan Barat sebagai tempat terbenamnya matahari. Tetapi saya rasa juga tidak salah kalau kita tafsirkan Barat sebagai unit peradaban yang dipengaruhi oleh tradisi Yahudi dan Kristen, seperti tersebut di atas.

Resistensi umat Kristen terhadap Islam demikian keras dan frontal karena dua faktor: sejarah dan teologi. Kita lihat dulu faktor sejarah. Setelah 100 tahun pasca wafatnya nabi Muhammad, Islam telah telah menjadi agama dunia, baik karena penaklukan politik-militer mau pun karena dakwah yang sangat gencar. Afrika Utara sebagai jajahan Bizantium ditaklukkan, tanah Andalusia dikuasai sampai tujuh abad.

Di antara peristiwa yang paling menyakitkan Barat adalah jatuhnya kota Konstantinopel, ibu kota Bizantium, pada 1453 ke tangan Sultan Muhammad II (1429-1481) dari dinasti Turki Usmani. Kota ini memang sudah diincar sejak era Imperium Umayyah (661-749), tetapi selalu gagal. Sultan Muhammad saat itu baru berusia 24 tahun dengan semangat ghazi (penyerangan) yang mendidih.

Merebut kota Konstantinopel bagi Sultan Muhammad bukan perkara mudah. Perlawanan pihak Bizantium dibantu relawan Yunani dan Italia terhadap pasukan Turki sengit sekali. Demikian sengitnya, sampai-sampai pernyataan Ibn Khaldun yang disampaikan jauh sebelum peristiwa itu terjadi dikutip penulis Inggris modern berikut ini: “Tidak ada kepastian kemenangan dalam perang, bahkan di saat perlengkapan dan angka kekuatan yang membawa kemenangan cukup tersedia. Kemenangan dan keunggulan dalam perang datang dari keberuntungan dan peluang. ”(Lih. Roger Crowley, 1453: The Holy War for Constantinopel and the Clash of Islam and the West. New York-Boston: Hachette Books, 2014, hlm. 203). Seakan-akan pendapat Ibn Khaldun itu sudah merupakan sebuah dalil, sebuah aksioma.

Setelah dikepung dan baku hantam selama tujuh pekan, maka baru pada 29 Mei 1453 kota itu takluk. Di mata Barat, kehilangan Konstanstinopel ini benar-benar teramat memalukan dan menyakitkan. Sebuah penghinaan yang luar biasa.

Kaisar Bizantium ke-57 dan yang terakhir, Constantine XI Dragases Palaiologos (1405-1453) adalah lawan tangguh Sultan Muhammad yang mati terbunuh dalam pertempuran dahsyat itu dalam usia 48 tahun. Di mana makamnya, sampai sekarang tidak diketahui (lih. Roger, hlm. 257).

Dendam Barat atas kejatuhan kota kebanggaan ini masih dirasakan sampai sekarang. Sebaliknya, umat Islam juga punya dendam berkepanjangan akibat penjajahan panjang Barat atas bangsa dan negara mereka, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.

Tetapi Barat tidak selalu jujur. Karena sebelum akhir abad ke-16, untuk mengutip AJ Toynbee, Barat telah memasang tali lasso ke leher dunia Muslim untuk mencekiknya. Maka hasilnya di akhir abad ke-19, hampir seluruh negeri Muslim telah berubah jadi tanah jajahan Barat, termasuk Nusantara kita. (Lih. AJ Toynbee, Civilization on Trial and the World and the West. Cleveland-New York: The World Publishing Company, 1963, hlm. 248).

Dibandingkan dengan kejatuhan Konstantinopel, penjajahan Barat atas dunia Muslim jauh lebih parah dan lebih menyakitkan. Skalanya global, sifatnya brutal dan ganas.

Dunia Muslim sampai hari ini dalam ketidakberdayaannya juga memendam dendam tak berkesudahan terhadap Barat, seperti baru saja dikatakan. Tidak jarang dendam itu dibungkus dengan jubah teologis. Tetapi apakah sifat saling dendam ini mau diteruskan sampai hari kiamat?

Akal sehat tentu akan menjawab: ”Hentikan dendam itu, dan ciptakan budaya saling memahami dan saling berbagi, demi perdamaian abadi dan persaudaraan universal umat manusia. Bukankah kemanusiaan itu tunggal adanya? Barat, Timur, Utara, Selatan hanyalah dinding-dinding artifisial dalam perspektif ayat-ayat Alquran di atas. Semuanya kepunyaan dan ciptaan Allah.”