Buku Syafii Maarif Dibedah di Monumen Mandala Makassar

Pengarang: http://www.tribunnews.com

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Buku mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Ahmad Syafii Maarif (Buya Maarif) berjudul Muazin Bangsa dan Makkah Darat di Monumen Mandala, Jl Jenderal Soedirman, Makassar, Selasa (4/8/2015).

“Buya mempunyai pemikiran yang sangat berpengaruh bayangkan saja Buya pernah berkomentar Pak JK adalah the real president, ini membuat orang bertanya-tanya dan takjub dengan itu,” kata Cendikiawan Muslim, Prof Azyumardi Azra.

Ketua PCIM AS-Kanada, Prof Muhammad Ali mengakui Buya tak pernah melihat orang tapi apakah itu benar atau salah.

“Buya banyak mengambil dan mengutip bahan dan sumber dari syiah dan ateis untuk memantapkan akidah, Buya tak melihat orangnya, Buya mampu melihat apakah itu benar atau tidak bukan siapa,” katanya. (*)

Syafii Maarif: Jangan Sampai Intelektual Semena-mena seperti Taliban

Pengarang: http://nasional.kompas.com

MAKASSAR, KOMPAS.com — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengatakan, kaum intelektual di Indonesia harus memiliki pandangan terbuka dalam membangun dan mencerdaskan bangsa. Jangan sampai para intelektual justru bersikap semena-mena layaknya kelompok Taliban di Afganistan.

“Jangan seperti Taliban yang pernah berkuasa di Afganistan. Mereka pernah melarang perempuan untuk bersekolah. Ini kan tidak benar,” ujar Buya saat menjadi keynote speaker saat bedah buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif di Monumen Mandala, Makassar, Selasa (4/8/2015).

Menurut Buya Syafii, banyak persoalan di Tanah Air yang belum dapat diselesaikan karena masih banyak masyarakat yang belum teredukasi dengan baik. Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas kaum intelektual untuk membantu edukasi tersebut.

“Indonesia bisa bangkit kalau bisa menyelesaikan persoalan domestik. Persoalan itu ada banyak, di antaranya korupsi yang merajalela,” ujarnya.

Dalam kegiatan bedah buku itu, hadir sejumlah pembicara. Di antaranya adalah cendekiawan Muslim Azyumardi Azra, pengajar dari California Riverside University Muhammad Ali, dan Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq.

Muhammad Ali menilai, tidak sedikit pemikiran Buya yang telah diadopsi berbagai kalangan. Bahkan, dalam penyelenggaraan Muktamar ke-47 Muhammadiyah kali ini, menurut dia, tema yang diangkat tidak terlepas dari gagasan pemikiran Buya.

“Gagasan Islam berkemajuan sangat kongruen (sama) dengan gagasan besar tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Sebagaimana telah lama didengungkan oleh Buya selama ini,” ujarnya.

 

Buya Syafii: Muhammadiyah Harus Ikut Kelola Negara

Pengarang: http://nasional.rimanews.com

Rimanews – Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai ormas Islam tersebut tidak cukup hanya membantu pemerintah, tapi harus terlibat dalam pengelolaan negara.

“Muhammadiyah saat ini sudah memasuki abad kedua. Kalau pada abad pertama, Muhammadiyah menjadi mitra pemerintah dan berkontribusi membantu program pemerintah. Pada abad kedua saat ini, tidak cukup hanya membantu,” katanya di sela peluncuran buku “Muazin Bangsa di Makkah Darat” di arena Muktamar Muhammadiyah di Makassar, Selasa (4/08/2015).

Menurut Buya Syafii, dalam AD/ART Muhammadiyah yang dibuat tahun 1985, ada pasal yang isinya Muhammadiyah melakukan gerakan “amar makruf nahi munkar” bagi bangsa Indonesia.

Saat ini, kata dia, kemungkaran yang terjadi di Indonesia sudah semakin banyak seperti praktik korupsi, praktik mafia, dan sebagainya.

“Muhammadiyah tidak berdaya menghadapinya. Negara juga seperti tidak berdaya. Karena itu, Muhammadiyah harus ikut terlibat langsung di pemerintahan untuk berkontribusi memberantas praktik-praktik kemungkaran,” katanya.

Buya Syafii menegaskan bahwa Muhammadiyah harus mendorong kadernya untuk duduk di pemerintahan guna menduduki jabatan publik di eksekutif, baik sebagai menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan jabatan lainnya.

Kader Muhammadiyah yang duduk di pemerintahan tersebut, menurut dia, harus tetap menjaga amanah Muhammadiyah untuk melawan kemungkaran dan boleh tidak boleh larut di dalamnya.

“Agar kader Muhammadiyah tidak larut, maka sebelum masuk ke pemerintahan dia harus sudah mapan lebih dulu, sehingga tidak mencari  pekerjaan di pemerintahan,” katanya.

Syafii menambahkan, kalau orang masuk ke pemerintahan untuk mencari pekerjaan, maka dia akan larut dan negara akan semakin sulit.

Muktamar Muhammadiyah ke-47 berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan pada 3-7 Agustus 2015 dengan tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”.

IMM Sulselbar Diskusikan Biografi Syafii Maarif

Pengarang: http://www.tribunnews.com

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulselbar dan MAARIF Institute menggelar diskusi Biografi Intelektual Syafii Maarif, di komplek Bazar Muktamar Muhammadiyah, Monumen Mandala Makassar Selasa sore (4/8/2015).

Ketua Panitia Dialog dan Bedah Buku Muhammad Taqwin mengatakan, kiprah dan kontribusi Ahmad Syafii Maarif pada Muhammadiyah dan Bangsa cukup signifikan. Ahmad Syafii Maarif merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005.

Salah satunya, melalui dukungan penuh Buya Syafii, kader-kader muda Muhammadiyah begitu bergairah dalam iklim pemikiran dan kajian.

“Hal inilah yang menjadi salah satu warisan penting dari sosok Buya Syafii. Kader-kader muda tersebut berupaya untuk melembagakan dan terus menerus menerjemahkan gagasan dan cita-cita sosial Ahmad Syafii Maarif.”terang Direktur Riset MAARIF Institute, Ahmad Fuad Fanani.

Guna memeriahkan Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar, MAARIF Institute mengadakan serangkaian acara peluncuran dan bedah buku. Di antaranya adalah bedah buku yang bertajuk “Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif”.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari agenda mensyukuri 80 tahun Ahmad Syafii Maarif. (*)

Pesan Syafii Maarif untuk Muhammadiyah

Pengarang: http://www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai Muhammadiyah ke depan tidak cukup hanya membantu pemerintah, tapi harus terlibat dalam pengelolaan negara.

“Muhammadiyah saat ini sudah memasuki abad kedua. Kalau pada abad pertama, Muhammadiyah menjadi mitra Pemerintah dan berkontribusi membantu program Pemerintah. Pada abad kedua saat ini, tidak cukup
hanya membantu,” katanya di sela peluncuran buku “Muazin Bangsa di Makkah Darat” di arena Muktamar Muhammadiyah di Makassar, Selasa (4/8).

Menurut Syafii Maarif, dalam AD/ART Muhammadiyah yang dibuat tahun 1985, ada pasal yang isinya Muhammadiyah melakukan gerakan “amar makruf nahi munkar” bagi bangsa Indonesia. Saat ini, kata dia, kemungkaran yang terjadi di Indonesia sudah semakin banyak sepeti praktik korupsi, praktik mafia, dan sebagainya.

“Muhammadiyah tidak berdaya menghadapinya. Negara juga seperti tidak berdaya. Karena itu, Muhammadiyah harus ikut terlibat langsung di pemerintahan untuk berkontribusi memberantas praktik-praktik kemungkaran,” katanya.

Syafii Maarif menegaskan bahwa Muhammadiyah harus mendorong kadernya untuk duduk di pemerintahan guna menduduki jabatan publik di eksekutif, baik sebagai menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan jabatan lainnya.

Kader Muhammadiyah yang duduk di pemerintahan tersebut, menurut dia, harus tetap menjaga amanah Muhammadiyah untuk melawan kemungkaran dan boleh tidak boleh larut di dalamnya. “Agar kader Muhammadiyah tidak larut, maka sebelum masuk ke pemerintahan dia harus sudah mapan lebih dulu, sehingga tidak mencari pekerjaan di pemerintahan,” katanya.

Syafii menambahkan, kalau orang masuk ke pemerintahan untuk mencari pekerjaan, maka dia akan larut dan negara akan semakin sulit. Muktamar Muhammadiyah ke-47 berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan pada 3-7 Agustus 2015 dengan tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Acaranya dibuka Presiden Joko Widodo.

Dialog dengan PM Cameron, Maarif Institute Nilai‎ Kampanye Ekstrimisme Islam Tidak Netral

Pengarang: http://www.tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- PM Inggris David Cameron menyempatkan berdialog dengan lima tokoh muda dalam kunjungan kenegaraannya ke Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Dalam suasana santai di halaman Mesjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Cameron yang didampingi Duta Besar Inggris Moazzam Malik menyebut kedatangannya ke Indonesia untuk mendengar pengalaman keberhasilan mengatasi ekstremisme.

Cameron telah meluncurkan kampanye melawan ekstremisme Islam di Inggris menyusul terbunuh 30 orang turis Inggris di Tunisia dan ratusan anak-anak muda negeri itu bergabung dengan ISIS.

Dalam kesempatan dialog, Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq mengapresiasi Cameron yang secara jujur ingin belajar dari kesuksesan Indonesia menghadapi ekstremisme sejak tragedi bom Bali mengentak dunia.

Namun Fajar melihat penggunaan istilah “ekstremisme Islam” oleh Cameron dalam kampanyenya tidak netral.

“Perdana Menteri, mungkin perlu dicari istilah yang lebih bisa diterima karena ekstremisme dapat muncul dari semua penganut agama. Istilah ekstremisme yang dimotivasi oleh agama (religiously motivated extremistm) lebih netral karena tidak menyudutkan agama tertentu. Pendekatan persuasif menjadi penting sesuai pengalaman kami selama ini”, ungkap Fajar dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com, Selasa (28/7/2015).

Menanggapi hal itu, Cameron menyadari ekstremisme ada di semua agama namun ia berkilah pemakaian istilah itu berdasarkan kasus-kasus di Inggris.

Diakhir diskusi, ‎kata Fajar, Cameron berjanji akan menindaklanjuti hasil kunjungannya dengan program-program kerjasama antara Inggris dan Indonesia, termasuk merekatkan hubungan kelompok-kelompok Islam kedua negara.

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang menjadi prioritas Pemerintahan Cameron.

5 Pemuda Berdiskusi dengan PM David Cameron di Masjid Sunda Kelapa

Pengarang: http://detik.com
Jakarta – Perdana Menteri Inggris David Cameron melakukan lawatan diplomatik ke Indonesia. Salah satu agendanya berdialog tentang keberagaman dengan 5 pemuda-pemudi Indonesia di Masjid Sunda Kelapa.

Kelima pemuda dan pemudi yang beruntung itu adalah Ketua Umum PB HMI Arief Rosyid Hasan, perwakilan Peace Generation Irfan Amalee, perwakilan Sabang Merauke Institute Widya, perwakilan Komunitas Hijabers Diajeng Lestari, dan perwakilan Maarif Institute Fajar.

Kelimanya berdialog dengan David Cameron di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2015).

“Dia datang untuk sharing dengan pemuda Indonesia dalam counter extremism dan akan merencanakan untuk agenda follow up terhadap pertemuan ini,” ujar Arief Rosyid dalam siaran pers.

Dalam diskusi itu, Cameron mengutarakan keinginannya untuk penguatan kelompok masyarakat sipil. Cameron sepakat bahwa Islam bukanlah negara yang mengajarkan soal radikalisme.

“Beliau sepakat di beberapa agama lain juga ada kelompok agama yang ekstrem,” kata Arief.

Arief menyebutkan pertemuan itu berlangsung hangat. Cameron dan perwakilan pemuda Indonesia sepakat bahwa Inggris dan Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan kemajemukan itu dikelola secara toleran, dan kebebasan masing-masing warganya dijamin oleh konstitusi negara.

“Kami mengatakan bahwa Muslim di Indonesia dapat menjadi model dalam pengembangan watak keislaman yang
moderat dan toleran. Dalam kehidupan politik, Indonesia adalah bangsa Muslim yang mampu menyerap demokrasi, dan menjadi poros kekuatan Muslim moderat yang menjaga stabilitas di kawasan maupun di tingkat global,” jelasnya.
(tfq/nrl)

Polisi Didesak Tangkap Dalang Insiden Tolikara

Pengarang: http://pontianak.tribunnews.com

TRIBUN PONTIANAK.CO.ID, JAKARTA – Aksi penyerangan terhadap umat Islam yang sedang menjalankan Salat Id di Tolikara, Papua (17/7/2015) telah menodai suasana kerukunan antarumat beragama. ‎

Direktur Eksekutif MAARIF Institute‎ Fajar Riza Ul Haq menyebutkan demikian melalui pesan singkat kepada Tribunnews.com, Sabtu (18/7/2015).

‎”Dugaan adanya keterlibatan Gereja Injili Di Indonesia (DIGI) dalam tindakan brutal tersebut sangat disesalkan. Indikasi ini dihubungkan dengan keberadaan surat tanggal 11 Juli 2015 yang dikeluarkan Badan Pekerja Wilayah Toli DIGI. Isinya melarang umat Islam merayakan Idul Fitri pada tanggal 17 Juli di Toli,” tutur Fajar.

Baca Juga: Presiden GIDI Klarifikasi Surat Edaran Larangan Salat Id

Fajar meminta kepolisian harus mengusut kebenaran surat yang dikeluarkan oleh DIGI. Surat tersebut dapat dianggap sebagai bentuk ancaman bahkan teror terhadap eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain di wilayah Tolikara.

“Pihak kepolisian harus segera menangkap dan mengusut motif dan aktor di balik aksi penyerangan,” katanya.

Menurut Fajar, hal itu dilakukan agar tidak berlarut-larut yang bisa menimbulkan opini liar di masyarakat. Ia mengatakan pembiaran terhadap kesewenang-wenangan kelompok non negara yang melarang kebebasan beribadah merupakan ancaman serius.

Polisi Harus Tangkap Dalang dan Ungkap Motif Insiden Tolikara

Pengarang: http://www.tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Aksi penyerangan terhadap umat Islam yang sedang menjalankan Salat Id di Tolikara, Papua (17/7) telah menodai suasana kerukunan antarumat beragama. ‎ Demikian dikatakan Direktur Eksekutif MAARIF Institute‎ Fajar Riza Ul Haq melalui pesan singkat kepada Tribunnews.com, Sabtu (18/7/2015).

‎”Dugaan adanya keterlibatan Gereja Injili Di Indonesia (DIGI) dalam tindakan brutal tersebut sangat disesalkan. Indikasi ini dihubungkan dengan keberadaan surat tanggal 11 Juli 2015 yang dikeluarkan Badan Pekerja Wilayah Toli DIGI. Isinya melarang umat Islam merayakan Idul Fitri pada tanggal 17 Juli di Toli,” tutur Fajar.

Fajar meminta kepolisian harus mengusut kebenaran surat yang dikeluarkan oleh DIGI. Surat tersebut dapat dianggap sebagai bentuk ancaman bahkan teror terhadap eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain di wilayah Tolikara.

“Pihak kepolisian harus segera menangkap dan mengusut motif dan aktor di balik aksi penyerangan,” katanya.

Menurut Fajar, hal itu dilakukan agar tidak berlarut-larut yang bisa menimbulkan opini liar di masyarakat. Ia mengatakan pembiaran terhadap kesewenang-wenangan kelompok non negara yang melarang kebebasan beribadah merupakan ancaman serius.

“Pemerintah harus menerapkan kebijakan sistematis dalam mengelola kemajemukan di bumi Papua,” tuturnya.

Forum Alumni IMM Nilai Komjen Budi Waseso Arogan

Pengarang: www.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kecaman terhadap Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso yang menyerang sosok guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif terus bergulir. Masyarakat heran dengan sikap Bareskrim Mabes Polri yang terus mempertontonkan perilaku bertentangan dengan logika publik dan melukai rasa keadilan masyarakat, setelah menetapkan dua pimpinan Komisi Yudisial sebagai tersangka.

Menurut Ketua Umum Koordinator Nasional Forum Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Armyn Gultom, pernyataan Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso agar Buya Syafii tak mencampuri urusan hukum yang sedang berjalan berkaitan dengan dugaan kriminalisasi pimpinan Komisi Yudisial (KY) sebagai tindakan tak wajar. “Ada apa dengan Buwas, sehingga memberikan pernyataan yang menyerang Buya Syafii,” terang Gultom dalam keterangan tertulisnya Rabu (15/7).

Padahal, sebagai seorang guru bangsa dan senior citizen di republik ini, mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu sudah sepantasnya menyuarakan aspirasi publik terkait penanganan laporan Sarpin Rizaldi, hakim yang memenangkan gugatan praperadilan Komjen Budi Gunawan, tersebut.

“Budi Waseso mestinya berterima kasih atas kritikan Buya Syafii. Suara Buya adalah suara publik yang geram atas arogansi penegak hukum yang diduga  melakukan kriminalisasi,” kata Gultom. Oleh karenanya, atas nama Fokal IMM, Armyn Gultom meminta kepada Bareskrim Polri untuk lebih bijak menanggapi kritikan dan masukan dari masyarakat. Menurutnya, Polri harus menunjukkan sebagai institusi yang terbuka dengan kritikan.

Gultom juga menegaskan bahwa Presiden Jokowi mestinya mendengar masukan dari Buya Syafii tentang perlunya reformasi Polri. Reformasi polri harus dimulai dari dalam. “Masukan Buya Syafii pada presiden untuk mencopot pimpinan Polri yang tak profesional mesti didengar dan dilakukan oleh presiden,” katanya.