Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (III)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Sebelum menurunkan bagian-bagian dari isi Pidato Nobel Malala, ada baiknya ditambahkan sedikit keterangan tentang Lembah Swat, bumi tempat kelahirannya di sebelah barat daya Pakistan. Kawasan pegunungan ini dulunya terkenal sebagai “Switzerland of Pakistan” karena cantiknya. Sejuk di musim panas, bersalju di kala musim dingin. Letaknya tidak terlalu jauh dari Islamabad. Lembah ini kemudian menjadi rusak saat Taliban menguasainya sebelum dibebaskan kembali oleh pasukan Pakistan. Ratusan sekolah ditutup oleh rezim pro kekerasan ini.

Pidato Nobel Malala disampaikan pada 10 Desember 2014, saat usianya 17 tahun enam bulan. Saya telah dengarkan pidato itu dari awal sampai ke ujung serta mengamati suasana di gedung tempat Hadiah Nobel itu diberikan. Antara teks tertulis dan bahasa lisan Malala ada beberapa kalimat yang berbeda, substansinya sama. Tetapi bahasa lisannya terasa lebih kaya dan lebih sedap diikuti dengan tekanan kalimat yang sarat makna dan penuh wibawa. Kita tidak bisa membayangkan betapa berbunganya perasaan ayah-bundanya menonton puterinya yang telah jadi bincangan luas publik dunia itu. Malala telah jadi sumber ilham bagi kaum muda.

Tatkala mengulangi nasehat ayahnya yang tidak pernah menggunting sayapnya untuk terbang tinggi, gemuruh suara hadirin demikian membahana sebagai tanda keterpukauan yang luar bisa dalam mengikuti suara bocah Muslimah ini. Ini kalimat asli Malala sebagai tanda terima kasih kepada ayahnya: “Thank you to my father for not clippimg my wings and for letting me fly“ (Terima kasih ayahku karena tidak menggunting sayapku dan membiarkanku terbang). Sang ibu juga hadir di sana dengan penuh rasa haru terlihat jelas di wajahnya. Sampai di ujung pidato, pada setiap tikungan kalimat yang menghentak, tepuk sorak hadirin tak pernah berhenti. Semuanya terlihat bahagia, terharu, dan terhenyak. Suara Islam damai bergema lantang di gedung itu. Saya tidak tahu apakah Taliban sempat mendengarkan pidato bocah yang hendak dibunuhnya ini.

Beberapa bagian Pidato Nobel Malala itu akan diturunkan di bawah ini, terutama bagi mereka yang belum sempat mengikutinya. Tuan dan puan yang ingin mendengarkan langsung pidato itu, silakan buka YouTube. Barangkali kesan kita akan sama. Sama-sama bangga di tengah-tengah prahara dunia Muslim yang melelahkan. Nama Malala mencuat di lingkungan keganasan teroris di tanah kelahirannya dengan mengusung teologi tunggal: “Di luar mereka tidak ada kebenaran!” Maka atas nama kebenaran tunggal inilah penembak Taliban hendak menghentikan jantung Malala berdenyut. Alangkah nistanya, alangkah kejamnya!

Masih di bagian awal pidatonya, Malala berkata: “Hadiah ini bukan semata buat saya. Ia untuk semua anak-anak yang terlupakan yang menginginkan pendidikan. Ia untuk anak-anak yang menderita yang rindu perdamaian. Ia untuk anak-anak yang bungkam yang ingin perubahan. Saya berdiri di sini untuk memperjuangkan hak-hak mereka, mengumandangkan suara mereka…bukanlah waktunya lagi untuk mengasihi mereka. Waktunya adalah untuk bertindak, maka ini adalah kali terakhir kita melihat seorang anak yang terenggut dari pendidikan.”

Lalu diceritakan pengalaman masa kecilnya di lembah yang cantik itu yang kemudian jadi neraka. “Saat saya berusia 10 tahun, Swat yang semula adalah tempat yang indah dan tempat turisme, tiba-tiba berubah jadi tempat terorisme. Lebih 400 sekolah dibinasakan. Anak-anak perempuan dilarang pergi sekolah. Perempuan didera. Orang tak berdosa dibunuh. Semua kami menderita. Dan mimpi-mimpi kami yang indah berubah jadi mimpi buruk. Pendidikan beralih dari sebuah hak menjadi sebuah kejahatan.” Pendek kata, baik pidatonya di PBB mau pun di Oslo tekanannya sama: jangan rampas pendidikan anak-anak. Pendidikan adalah segala-galanya!

Mengahapi situasi sulit dalam kepungan Taliban, ada dua pilihan yang terbuka bagi Malala: pertama, membisu dan menunggu saat dibunuh; kedua, bersuara terus terang dan kemudian dibunuh. “Saya pilih yang kedua. Saya putuskan untuk berkata terus terang.” Sewaktu kalimat ini diucapkan, ruang tempat Hadiah Nobel itu diberikan untuk sekian kalinya jadi riuh dengan tepuk tangan sebagai tanda kekaguman atas pilihan teramat berani dari bocah ini: mengadang maut. Drama itulah yang terjadi pada 9 Oktober 2012.

Malala: Oase di Bumi yang Tandus (II)

REPUBLIKA.CO.ID, Di samping oase, Malala adalah juga seorang petarung sejati untuk kepentingan pendidikan anak usia sekolah yang banyak terlantar di berbagai belahan bumi. Bahkan fenomena pekerja anak-anak dengan upah murah bukanlah sesuatu yang asing, demi kelangsungan hidup keluarga miskin dan telantar. Oleh sebab itu ketika rezim Taliban meremehkan dunia pendidikan, terutama pendidikan bagi perempuan, semangat tempur Malala tidak bisa dibendung lagi, apalagi ayahnya seorang pendidik dan diplomat.

Suatu ketika Malala mengatakan: “…kita tahu bahwa kelompok teroris takut kepada kekuatan pendidikan.” (Lih. Mishal Husain, “Malala: The girl who was shot for going to school,” BBC News, 7 Oktober 2013).

Saat Malala sedang tergeletak di rumah sakit militer di Peshawer, ayahnya Ziauddin Yousafzai datang sambil berucap: “Saya tatap wajahnya, saya hanya menunduk, saya cium keningnya, hidungnya, dan pipinya…dan kemudian saya katakan, ‘Engkau adalah puteri kebanggaanku. Saya bangga denganmu.’’’ (Ibid.). Ketika ditanya tentang ketahanan mental puterinya, Ziauddin menjawab: “Karena saya tidak memotong sayapnya.” Ziauddin pernah bertugas sebagai atase pendidikan Pakistan di Birmingham, juga sebagai penasehat khusus PBB untuk pendidikan global.

Dalam pidatonya di PBB pada 12 Juli 2013 yang diawali dengan menyebut Bismillahirrahmnirrahim, Malala sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi semua anak di seluruh negara, sesuatu yang dilecehkan oleh Taliban. Tetapi Malala tidak membenci Taliban: “Saya bahkan tidak benci kepada anggota Taliban yang menembak saya. Bahkan jika ada senjata di tangan saya dan dia berdiri di depan saya, saya tidak akan menembaknya. Ini adalah sifat belas-asih yang saya pelajari dari Muhammad—nabi penyebar rahmat, dari Jesus Kristus, dan dari Buda yang agung.”

Kemudian dalam pidatonya di PBB itu Malala melanjutkan: “Saya ingat ada seorang bocah di kelas kami yang ditanya oleh wartawan, ‘Mengapa Taliban menentang pendidikan?’ Dengan cara sederhana bocah itu menjawab dengan menunjuk kepada bukunya sambil berkata: ‘Seorang Talib [anggota Taliban] tidak tahu apa yang tertulis dalam buku ini.’” Pengikut Taliban itu “mengira bahwa Tuhan itu kecil, makhluk konservatif alit yang akan mengirim anak perempuan ke neraka semata-mata karena pergi ke sekolah. Para teroris sedang menyalahgunakan nama Islam dan masyarakat Pashtun [nama salah satu suku di Pakistan] untuk kepentingan dirinya sendiri,” imbuh Malala.

Dijelaskan lebih jauh bahwa: “Pakistan adalah negeri demokratik yang cinta damai. Rakyat Pashtun menginginkan pendidikan untuk anak-anaknya, perempuan dan laki-laki. Dan Islam adalah agama perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan. Islam mengatakan bahwa bukan hanya merupakan hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan, tetapi itu semua merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya.”

Nurani Malala demikian tersiksa oleh kenyataan banyaknya belia yang terlantar, tidak dapat pergi ke sekolah oleh berbagai halangan. Kita kutip: “Di banyak bagian dunia, khususnya di Pakistan dan Afghanistan, terorisme, perang, dan konflik telah menghalangi anak-anak pergi ke sekolah. Kami benar-benar kelelahan akibat perang. Kaum perempuan dan anak-anak sedang menderita di berbagai bagian dunia dengan cara yang bermacam-macam. Di India, anak-anak tak berdosa dan miskin adalah korban  akibat kerja usia anak. Banyak sekolah telah dirobohkan di Nigeria….Kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, rasisme, dan perampasan hak asasi merupakan masalah utama yang tengah dihadapi oleh laki-laki dan perempuan.”

Di bagian akhir pidatonya, Malala berseru: “Oleh sebab itu mari kita lancarkan perjuangan melawan buta huruf, kemiskinan, dan terorisme, dan mari kita tenteng buku dan pena kita. Mereka adalah senjata kita paling dahsyat. Seorang anak, seorang guru, sebuah pena, dan sebuah buku dapat mengubah dunia. Pendidikan adalah satu-satunya solusi. Pendidikan paling utama.”

Pidato Malala ini didengarkan dengan tekun dan antusiasme yang tinggi oleh para belia yang hadir di gedung PBB itu, termasuk juga hadir sekjennya kala itu: Ban Ki-moon. Berkali-kali tepuk tangan panjang mengiringi Malala selama menyampaikan pidato dalam yang usianya ketika itu baru 16 tahun. Mulai tahun 2013 itu namanya sudah mulai diusulkan sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel yang kemudian dimenangkannya bersama Kailash Satyarthi (60), pegiat dan pejuang hak pendidikan anak dari India.

Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (I)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Empat tahun lebih sudah berlalu, saat drama maut itu ditimpakan atas seorang bocah putri yang kemudian telah mengentak kesadaran nurani manusia di bumi ini sebagai tanda keprihatinan dan kemarahan yang mendalam. Ingat Malala atau nama lengkapnya Malala Yousafzai (12 Juli 1997- )? Tentu ingat teror yang berusaha membunuhnya pada 9 Oktober 2012, saat menumpang bus pulang dari sekolah bersama beberapa teman sebayanya. Usianya baru 15 tahun.

Mengapa harus dibunuh? Karena kritik keras gadis ini terhadap rezim Taliban yang ganas yang daerah pengaruhnya juga meluas sampai ke Pakistan, tanah kelahiran Malala. Ketika orang tuanya sudah berpikir untuk menyiapkan makamnya di Distrik Swat, ternyata Tuhan melalui tangan dokter di Pakistan dan di Birmingham (Inggris) berkehendak lain.

Bocah ini diselamatkan sekalipun peluru telah menembus pelipis kiri atas di bagian kepalanya dan peluru itu kemudian bersarang di punggungnya. Sempat koma beberapa hari, tetapi tanda-tanda kehidupan belum hilang, kata dokter yang menanganinya.

Segera dibawa ke rumah sakit dalam upaya menyelamatkan jiwanya. Bocah perempuan cerdas ini selama beberapa tahun pascatragedi itu menjadi ikon dunia. Namanya menjadi sorotan dalam ratusan media di seluruh jagat.

Koran Jerman, Deutsche Welle, bulan Januari 2013 menobatkan Malala sebagai “anak usia belasan tahun yang paling masyhur di dunia”. Dia berpidato di PBB, Juli 2013, berpidato di kampus Universitas Harvard, September pada tahun yang sama, meraih hadiah Nobel pada 2014, usia termuda dalam sejarah penganugerahan hadiah bergengsi ini. Masih puluhan hadiah lain yang meluncur dari berbagai negara.

Saya tahu, tuan dan puan pasti telah mengikuti perjalanan hidup bocah ini yang kemudian meneruskan sekolahnya di Birmingham, didampingi kedua orang tuanya, Ziauddin Yousafzai dan Tor Pekai Youfsafzai. Tetapi, “Resonansi” ini akan menyoroti sisi-sisi lain dari musuh Taliban dan terorisme ini yang mungkin belum banyak terkuak bagi publik di Indonesia.

Melalui Youtube, saya dapat mendengar pidatonya di PBB dan pidatonya di Oslo saat menerima hadiah Nobel pada 10 Desember 2014. Bocah ini memang luar biasa, tangkas sekali dalam menyampaikan pidatonya yang hanya sesekali melihat teks.

Berkali-kali tepukan tangan panjang bergema selama pidato itu disampaikan. Kedua orang tuanya yang hadir terlihat berkali-kali menyeka air mata bahagianya karena putrinya yang pernah bergumul dengan maut itu kini punya tempat terhormat di mata publik dunia dalam usia yang sangat belia.

Secara tidak langsung, Taliban juga “berjasa” terhadap bocah aktivis pendidikan ini. Sekiranya tidak ditembak, dunia tentu tidak sampai gempar dibuatnya. Malala menyerukan bahwa pendidikan adalah hak asasi anak-anak, perempuan atau laki-laki. Bagi Taliban, sekolah-sekolah perempuan sempat ditutup karena katanya di sana “virus kafir” akan meracuni otak dan hati siswa. Malala melakukan protes keras terhadap pendapat primitif ini.

Oleh sebab itu, Mulla Fazullah, tokoh spiritual Taliban di Distrik Swat, mengeluarkan fatwa agar nyawa Malala segera dihabisi, tidak peduli seorang bocah yang memang punya filsafat: “Pen is mightier than sword” (pena lebih dahsyat dari pedang).
Bagi saya, Malala adalah sebuah oase yang keteduhan ketika bagian-bagian bumi Muslim sudah tandus, tidak lagi aman dan nyaman buat tempat tinggal.

Oase ini dapat jadi sumber kebanggaan yang melahirkan optimisme bagi hari depan Muslim sejagat dengan sama-sama menyatakan bahwa “terorisme adalah musuh peradaban yang harus dilenyapkan.”
Malala dengan lembaga pendidikan yang dibentuknya ingin mendidik semua anak usia sekolah, termasuk anak-anak teroris tanpa ada rasa benci dan dendam. Kerja serupa juga sedang dilakukan oleh BNPT di Indonesia di bawah pimpinan Komjen Suhardi Alius.

Sementara, Pakistan, negeri asal Malala, di mana-mana bom bunuh diri masih saja diledakkan, teroris gentayangan, dan Malala adalah salah seorang korbannya, tetapi Tuhan belum membiarnya berpisah dari dunia ini. Malala adalah juga saksi hidup bahwa Islam tidak identik dengan terorisme, sebagaimana pihak Barat masih saja melontarkan tuduhan nista yang berbahaya ini.

Lampu Merah Ketimpangan Ekonomi di Negara Pancasila

REPUBLIKA.CO.ID, Mengapa Negara Pancasila harus ditancapkan pada judul “Resonansi” ini? Mengapa tidak hanya cukup menyebut Negara Indonesia saja? Alasannya terang benderang, karena sila kelima Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” telah lama diabaikan dalam strategi pembangunan nasional, kecuali dalam kata dan wacana. Drama ini sudah berlangsung sejak proklamasi kemerdekaan lebih 71 tahun yang lalu.

Akibatnya juga terang benderang dalam makna yang sangat fatal; ketimpangan sosio-ekonomi di Negara Pancasila ini sudah berada di lampu merah, pada tikungan tanda bahaya bagi kelangsungan masa depan bangsa ini. Presiden, wakil presiden, menteri keuangan, dan banyak pengamat sudah sering menyebut masalah ketimpangan ini. Sekadar membincangkan, manfaatnya nol, manakala tidak diterjemahkan dalam kebijakan pembangunan sosial-ekonomi nasional yang berkeadilan berdasarkan Pancasila.

Tetapi tuan dan puan jangan lupa mengamati ini: jika ada lembaga tinggi negara yang masih membisu dan gagap menyebut isu ketimpangan ini, maka lembaga itu adalah yang berkantor di Senayan yang bangga menyebut dirinya sebagai wakil rakyat. Entah rakyat mana yang diwakili, kita tidak tahu. Mungkin penyebutan sebagai lembaga wakil partai politik lebih tepat. Sudah cukup banyak wakil partai yang berkantor di Senayan ini menjadi pasien KPK. Dalam berbagai survei, ternyata lembaga ini adalah yang paling korup di negeri ini.

Pada hari-hari terakhir ini, masalah ketimpangan ekonomi ramai lagi dikomentari gara-gara informasi dalam TSCMP (the South China Morning Post), tertanggal 23 Februari 2017, enam hari yang lalu. Di bawah judul, “Wealth gap: four richest Indonesians worth more than poorest 100 million” (Jurang kekayaan: empat orang terkaya Indonesia melebihi harta 100 juta orang termiskin). Angka ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Oxfam, sebuah konfederasi internasional dari organisasi-organisasi amal dengan titik perhatian utama untuk melawan kemiskinan global, didirikan tahun 1942, berpusat di Inggris.

Sebagai LSM tingkat dunia yang telah berpengalaman selama 70 tahun, Oxfam yang bekerja sama dengan lebih 90 negara, temuan teranyarnya tentang ketimpangan ekonomi di Indonesia memang sudah berada di ambang batas toleransi. Kalimat pertama yang terbaca dalam laporan itu yaitu: “Empat orang Indonesia terkaya, hartanya melebihi milik 100 juta rakyat termiskin di negeri itu, sebuah kajian menemukan, sambil menyoroti betapa besarnya jumlah rakyat yang terpinggirkan saat ekonomi membengkak.”

Presiden Joko Widodo dinilai masih gagal memenuhi janji-janjinya untuk memerangi ketidakadilan sambil menekankan agar pemerintah menaikkan pengeluaran bagi kepentingan pelayanan publik, dan agar korporasi dan orang kaya membayar pajak lebih besar. TSCMP mengutip lebih lanjut: “Indonesia telah menikmati sebuah pembengkakan ekonomi yang telah mengurangi jumlah rakyat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, tetapi jurang antara kaya miskin semakin melebar dibandingkan dengan negara Asia Tenggara mana pun selama 20 tahun terakhir, temuan kajian Oxfam.”

Kajian itu juga membeberkan, pada 2016, kekayaan kolektif empat taikun itu berada pada angka 225 miliar dolar Amerika. Menurut daftar orang kaya dari Forbes, mereka yang terkaya itu termasuk dua bersaudara Michael Hartono dan Budi Hartono, dan Susilo Wonowidjojo, semuanya adalah penguasaha rokok.

Sebagaimana kita ketahui, para taikun ini menjadi demikian kaya raya adalah juga karena sumbangan rakyat miskin perokok yang jumlahnya puluhan juta, tersebar dari kawasan perkotaan menembus sampai ke daerah pelosok yang jauh terpencil di seluruh nusantara. Di warung-warung, di atas kendaraan, bahkan di ruang ber-AC (bagi yang sedikit kaya), asap rokok itu terus saja mengepul. Iklan rokok terpampang di mana-mana, sekalipun di bawahnya tertulis: merokok membunuhmu!

Inilah suasana terkini dari Negara Pancasila kita, ketimpangan ekonomi semakin tajam yang diragakan dalam perbandingan angka di atas. Pemerintah sudah punya tekad bulat untuk melawan ketimpangan itu, tetapi alangkah sulitnya. Banyak faktor penghambatnya, termasuk sikap mental bangsa ini yang sulit berubah ke arah proses perbaikan radikal dan menyeluruh.

Para taikun dan pendukungnya di Senayan tentu akan berupaya keras agar UU Pertembakauan tidak sampai mematikan perusahaan mereka yang menggiurkan itu. Dan ironisnya, rakyat jelata yang ketagihan tembakau adalah sasaran empuk yang turut serta melestarikan ketimpangan ekonomi itu. Sebuah lingkaran setan yang belum ditemui jalan keluarnya. Quo vadis Negara Pancasila?