Republika dan Bung Hatta

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai seorang pengagum Bung Hatta sejak puluhan tahun yang lalu, sudah pasti saya amat gembira dengan harian Republika terbitan 10 Agustus 2017, yang telah mengupas dan menyoroti sosok dan pemikiran Bung Hatta. Tidak tanggung-tanggung, sepanjang lebih dari tujuh halaman harian ini telah memusatkan perhatiannya untuk kembali menampilkan pemikiran negarawan moralis cerdas ini yang dinilai cukup relevan bagi perjalanan bangsa di tengah hantaman neo-liberalisme yang antikeadilan sosial.

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Republika, Irfan Junaidi, pada halaman 17 dalam kata pengantarnya menulis: “Kekuatan gagasan ekonomi Bung Hatta menjadi sulit dinegasi karena memang sangat relevan dan sangat diperlukan bangsa ini untuk maju. Gagasan yang menolak penguasaan sumber daya ekonomi pada segelintir kekuatan modal terbukti sulit untuk memajukan bangsa. Hatta sangat keras mendorong agar dampak positif bagi kesejahteraan rakyat sebagai indikator utama perekonomian.”

Alangkah baiknya, sekiranya media lain juga berbuat serupa agar impian besar Bung Hatta tentang keadilan sosial  dan konsep daulat rakyat benar-benar dibawa turun ke bumi kenyataan, tidak hanya mengawang di langit tinggi, sebagaimana yang kita rasakan sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Fasal 33 UUD 1945 yang dikenal sebagai Fasal Hatta adalah perwujudan kongkret dari sila kelima Pancasila: ‘Keadilan sosial bagi sekuruh rakyat Indonesia.” Cobalah disimak ulang  ayat 3 dari Fasal 33 itu: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Jika ayat itu disandingkan dengan realitas bangunan perekonomian Indonesia modern, kita pasti akan terperangah dan menjerit karena betapa jauhnya jarak antara idealisme Hatta dan realitas kekinian yang ditanggung oleh bangsa ini. Sudah berulang disampaikan banyak pihak bahwa betapa ringkihnya kekuasaan negara dalam menerjemahkan ayat 3 itu dan betapa kuatnya cengkeraman pihak sewasta (domestik dan asing) dalam menguasai kekayaan alam kita. Presiden Jokowi dalam pembicaraan selama 50 menit dengan saya di Istana Negara pada 17 Juli 2017 menyadari benar realitas getir ini dan telah berusaha keras untuk membalik jarum jam. Tetapi alangkah beratnya, karena semuanya adalah akibat dari rantai panjang yang membelenggu dari kebijakan para pendahulunya, khususnya sejak tahun 1966.

Ingatan kolektif kita tentu masih segar bahwa sejak permulaan Orba (Orde Baru), gagasan “kiri” Hatta telah mulai digasak habis oleh gagasan kanan para ekonom yang dikenal dengan kelompok “Mafia Berkeley.” Kelompok inilah yang membuka pintu lebar-lebar bagi pasar bebas, sementara Indonesia sama sekali tidak siap, dari sisi mana pun kita memandangnya. Benar, gagasan Hatta yang intinya tercermin dalam Fasal 33 itu tidak akan pernah basi, kecuali jika bangsa ini mau terus berkhianat kepada tujuan utama kemerdekaan.

Konstruk utuh pemikiran Hatta tentang arah bangsa dan negara merdeka tidak sulit didapatkan, karena para pencinta negarawan ini telah berhasil mengumpulkan hampir seluruh gagasannya dalam tiga jilid buku di bawah judul Karya Lengkap Bung Hatta (Jakarta: LP3ES yang terbit berturut-turut tahun 1998, 2000, dan 2001), dieditori oleh intelektual Indonesia: Emil Salim, Taufik Abdullah, M. Dawan Rahardjo, dan sederetan nama tenar lainnya, termasuk puteri sulungnya DR. Meutia F. Swasono). Semestinya pemikiran Hatta ini terus saja dikaji oleh berbagai kalangan melalui disiplinnya masing-masing agar arah kiblat bangsa ini tetap berada pada posisi yang lurus, tidak melenceng seperti berlaku sejak setengah abad belakangan. Percayalah, Hatta adalah di antara sedikit pendiri bangsa dan negara yang dengan kaca mata jernih, konprensif, dan penuh cinta telah memetakan bangunan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia sebelum dan pasca kemerdekaan.

Bung Hatta adalah pelaku dan pembuat sejarah, bukan pengamat yang duduk di menara gading. Perasaian bangsa ini dilaluinya dengan tabah selama puluhan tahun di bawah sistem penjajahan dan di era kemerdekaan. Oleh sebab itu, seluruh gagasannya tentang Indonesia adalah hasil anyaman teori dan pengalaman empirik yang hidup dalam rentang waktu yang panjang dan berliku, pahit dan manis. Dalam autobiorafinya dengan nuansa nostalgia Hatta menulis:

Pada 27 Desember 1949 di Amsterdam diadakan Upacara [U besar sesuai dengan aslinya] penyerahan Kedaulatan Kerajaan Belanda kepada R.I.S. Pada upacara itu R.I.S. diwakili oleh Perdana Menteri [Hatta] serta beberapa orang Menteri, di antaranya Sultan Hamid. Pada tanggal yang sama berlaku di Istana Gambir penyerahan Kedaulatan Kerajaan Belanda atas Indonesia oleh H.V.K. Lovink kepada pemerintah R.I.S. yang diwakili oleh Sultan Hamengkubuwono IX disertai dengan menurunkan Bendera Belanda dan menaikkan Bendera Merah Puitih ke atas tiang. (Lih. Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, hlm. 562-563).

Bagi saya, catatan nostalgia Bung Hatta ini terasa sangat dalam dan manis. Amat disayangkan, perjalanan Indonesia merdeka tidak sedalam dan semanis yang didambakan oleh kita semua!

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (III)

Oleh : Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Ada pribasa Minang tentang tali atau benang: “Indak guno dirantang panjang, elok dikumpa naknyo singkek” (Tidak berguna direntang panjang, elok dikumpar (digulung) supaya pendek). Jika kata hati diperturutkan, kisah tentang terorisme ini bisa berlama-lama, berpanjang-panjang. Saya sudahi Resonansi ini sampai seri ketiga ini saja. Drama maut yang ditebarkan pelaku terorisme di berbagai negara belum usai sampai sekarang. Suasana buram yang membuat hati semakin pilu adalah karena terorisme yang membahana pada tingkat global sekarang ini nyaris selalu dikaitkan prilaku Muslim yang kesasar jalan.

Bahkan pihak Barat secara sengaja dan sembrono mengatakan bahwa Islam identik dengan terorisme! Maka apa yang diprakarsai BNPT dengan dukungan penuh dari para mantan kombatan mungkin bisa menjadi contoh bagi dunia tentang metode pendekatan lunak dalam penanggulangan terorisme supaya lebih efektif. Jalan kekerasan bisa melahirkan teroris tujuh keturunan, sekalipun proses penegakan hukum jangan sampai melemah.

Di Desa Tenggulan sejak 29 Maret 2017 telah dibentuk oleh Ali Fauzi dan kawan-kawan sebuah Yayasan Lingkar Perdamaian, sebagaimana telah disinggung sekilas sebelumnya. Direktur Perlindungan BNPT Jenderal Pol. Herwan Chaidir ditugasi untuk turut membantu yayasan ini dalam tugas-tugas sosial-keagamaannya. Ujar Herwan: “…pihaknya terus berupaya menanggulangi aksi-aksi terorisme. Salah satunya, pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqien, di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro ini.” Suhardi Alius dalam sambutannya mengatakan: “…pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqien, akan menjadi pohon harapan. Di antaranya sebagai tempat menuntut ilmu bagi anak-anak generasi bangsa….Ini wujud komitmen kami, bahwa negara selalu hadir.”

Tuan dan puan perlu mencatat bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. DR. Nasaruddin Umar juga telah mendampingi Amrozi dan kawan-kawan di saat-saat akan ditembak mati pada bulan Nopember 2008, sembilan tahun yang lalu. Dia sudah dianggap orang tua oleh para mantan kombatan ini. Cerita ini saya dengar langsung dari yang bersangkutan ketika kami berada dalam satu mobil dari Desa Tenggulun menuju Bandara Juanda di Surabaya pada 21 Juli 2017.

Desa Tenggulun yang dulu dikenal sebagai pusat terorisme yang mendebarkan, kini telah berubah menjadi pusat perdamaian dan pohon harapan dalam upaya penanggulangan perbuatan jahat yang sangat ditakuti itu, justru dipelopori oleh para mantan kombatan yang sebagian mereka berpengalaman pada tingkat dunia dalam bertempur, merakit bom, dan membunuh orang tak berdosa, termasuk anggota polisi Indonesia yang dianggap thaghut. Jika kini Eropa, Australia, dan Amerika mau belajar kepada Indonesia bagaimana strategi menanggulangi aksi teror, maka rahasianya antara lain terletak pada pendekatan melalui bahasa hati dan bahasa sosial-ekonomi. Bahasa kekerasan sejauh mungkin harus dihindari dengan catatan sikap tegas aparat jangan sampai dilupakan.

Inilah keterangan Ali Fauzi tentang tujuan Yayasan Lingkar Perdamaian: “…untuk mendidik anak-anak, janda, serta para isteri yang suaminya masih di penjara karena kasus terorisme….Yayasan Lingkar Perdamaian ini menjadi sebagai satu-satunya yayasan yang bergerak di bidang Control Flow Integrity (CFI). Yayasan ini untuk menjauhkan dari sifat-sifat destruktif, termasuk pengeboman.” Dalam hati saya berbisik bahwa betapa pun pekatnya dosa seseorang tidak tertutup kemungkinan akan menjadi terang kembali jika Langit menghendaki. Tidak ada yang mustahil bagi Allah sebagai Zat Muqallib al-qulûb (Pembolak-balik kalbu hamba-hambaNya) untuk memutihkan yang hitam, mencerahkan yang abu-abu. Dia Maha Kuasa atas segala-galanya, yang tampak dan yang tersembunyi. Para mantan kombatan tentu amat faham ungkapan ini.

Rasanya, renungan panjang saya kini telah mulai menemukan salurannya melalui perubahan drastis dari kesan warna hitam Desa Tenggulan dengan mulai berkibarnya bendera harapan Yayasan Lingkar Perdamaian yang menorehkan cahaya cerah masa depan Indonesia, agar aksi-aksi terorisme di Nusantara ini akan surut dan melemah dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi. Islam Qur’ani dan Islam kenabian sangat terluka oleh perbuatan mereka yang menyalahgunakan ayat-ayat dan sabda nabi untuk tujuan yang justru mengkhianati pesan-pesan suci itu. Sekarang sebagian mantan kombatan telah menyadari bahwa pesan-pesan suci itu tidak akan dilukai dan dicederai lagi, sekali dan untuk selama-lamanya. Semoga!

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (II)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Jarak antara Ibu Kota kabupaten Lamongan dengan Desa Tenggulun sekitar 36 km. Sebagian ruas jalannya sempit, dengan mobil kawal polisi memerlukan satu jam baru sampai di desa penting itu. Demikianlah pada 21 Juli 2017 itu saya berangkat dengan pesawat dari Yogyakarta jam 06.00 pagi sampai di bandara Juanda jam 07.00, baru sampai di Desa Tenggulun jam 09.15, saat acara peresmian akan dimulai. Acara berlangsung sangat lancar, tidak ada gangguan yang berarti. Di antara yang hadir, terlihat Hj. Tariyem (80-an), ibu kandung Amrozi-Ali Ghufron (terpidana mati pada 9 Nopember 2008, akibat terlibat dalam bom Bali, 12 Oktober 2002), di deretan mantan kombatan. Ibu sepuh ini didampingi putera sulungnya H. Muhammad Chozin yang juga tampan berwibawa.

Pada acara itu diadakan konferensi jarak jauh antara Suhardi Alius dengan saudara Amrozi bernama Ali Imron, (terpidana seumur hidup) dari Jakarta yang sudah lama saya kenal. Kami pernah diajak Jenderal Surya Dharma dari Densus 88 untuk duet bersama di depan forum aparat kepolisian yang cukup ramai. Sekalipun agak terganggu karena kendala sinyal, konferensi itu mendapat perhatian penuh dari yang hadir, termasuk Hj. Tariyem yang terlihat terpaku menonton Ali Imron di layar lebar. Saya tidak tahu perasaan apa yang berkecamuk dalam hati ibu sepuh ini melihat Ali Imron menjawab dengan lancar dan lantang semua pertanyaan yang diajukan Komjen Suhardi Alius. Sikap sebagai mantan kombatan pada diri Ali Imron masih bertahan, sekalipun sudah hampir satu dasawarsa dalam tahanan.

Dalam suasana duka akibat bom Bali yang menewaskan 202 manusia (terbanyak Australia dan sebagian Indonesia) itu, ada seorang jenderal TNI AD ketika itu yang mengembangkan teori konspirasi: bom itu adalah rekayasa pihak Barat, tidak mungkin orang Indonesia mampu merakit bom dengan ledakan dashsyat seperti itu! Tetapi kicauan semacam ini segera terbantahkan karena Ali Imron dalam buku yang ditulisnya dengan tegas mengatakan bahwa para kombatan itu sudah pakar dalam seni merakit bom dengan kekuatan yang besar sekalipun.

Seperti telah dituliskan pada seri pertama Resonansi ini, pengakuan Kurnia Widodo yang juga ahli pembuat bom, bagi kelompok ini pekerjaan rakit-merakit itu amatlah mudah. Oleh sebab itu teori konspirasi telah gugur dengan sendirinya. Tidak perlu dikembangkan lagi, karena pasti menyesatkan dan memandang remeh anak bangsa ini. Energi kepakaran manusia Indonesia tidak kalah dibandingkan manusia bangsa lain, hampir di semua lini kehidupan, untuk kebaikan atau untuk menghancurkan. Energi itulah kini yang sedang disalurkan BNPT untuk tujuan-tujuan positif, demi martabat dan kemuliaan dan kemajuan masa depan bangsa ini.

Desa Tenggulun memang luar biasa. Siapa nyana sebelumnya bahwa desa kecil yang jumlah penduduknya pada tahun 2008 hanyalah 2022 telah melahirkan para kombatan yang menggoncangkan jagat raya. Dari segi pendidikan, desa ini cukup maju. Bagi anak usia sekolah 7-15 tahun, hanya lima anak saja tidak bersekolah. Sebagian tanahnya juga subur. Banyak rumah penduduk yang bagus, berkat hasil jerih payah perantaunya ke Melaysia, termasuk sebagian kombatan yang juga pernah belajar ideologi Islam garis keras dengan mentor orang Indonesia keturunan Arab yang hijrah ke Johor tahun 1980-an. Menurut keterangan Ali Fauzi kepada saya DR Azahari Husin yang tertembak di Batu, Malang, pada 2005, pernah belajar agama kepadanya. Ini artinya, seorang Ali Fauzi punya keunggulan dalam pengetahuan agama dibandingkan doktor Malaysia itu.

Masih menurut Ali Fauzi, atau nama lengkapnya Ali Fauzi Manzi, kelompok teroris amat piawai dalam penyamaran: “Bergantung dari komunitas yang didekatinya. Kalau komunitas itu pedagang furniture, maka dia tidak segan-segan untuk berdagang furniture. Kalau komunitas itu pegadang bakso, mereka juga tidak segan-segan ikut berdagang bakso.” Bahkan abangnya Amrozi, kata Fauzi, ketika berada di Pontianak pernah jadi tukang buat roti. Kombatan yang terlatih ini amat lihai bergumul dengan berbagai situasi, berkat teologi kebenaran tunggal yang bersarang di otak dan di hati mereka.

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (I)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Desa Tenggulun “adalah epicentrum (pusat utama) terorisme di Indonesia,” ujar Komjen Suhardi Alius, kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dalam sambutannya saat “Peresmian Penggunaan Sarana Ibadah Di Kompleks Masjid Baitul Muttaqien” di desa terpencil itu pada 21 Juli 2017. Dalam upacara peresmian itu, ada sekitar 800 undangan yang hadir, termasuk para mantan teroris di bawah pimpinan Ali Fauzi, ketua Yayasan Lingkar Perdamaian. Mereka semua memakai seragam batik.

Selain pimpinan BNPT, juga hadir Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi, Moh Syafii; Ketua Pansus RUU Terorisme DPR, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof DR Nasaruddin Umar; Irjenpol (Purn) Sidarto Danusubroto; anggota Wantimpres, Bupati Lamongan Fadeli, dan ratusan hadirin yang lain. Selama mengikuti upacara ini, saya yang juga diundang oleh BNPT untuk turut serta di dalamnya sempat merenung panjang mengapa desa Tenggulun ini telah melahirkan orang-orang hebat dalam arti negatif dan mengapa pula sekarang telah berubah menjadi pusat seruan perdamaian.

Di bulan Juli 2017 bagi saya ada dua tanggal yang perlu dicatat: tanggal 19 dan 21. Dua tanggal ini menjadi penting untuk belajar lebih dalam tentang fenomena radikalisme dan terorisme, baik pada tataran global mau pun pada tataran nasional. Pada 19 Juli di Hotel Phoenic Yogyakarta, BNPT bekerja sama dengan Pascasarjana UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengadakan seminar tentang upaya penanggulangan bahaya radikalisme dan terorisme. Peserta yang diundang umumnya berasal dari kalangan Muhammadiyah, dan saya sebagai salah seorang yang diminta untuk berbicara dalam pertemuan itu. Pembicara utama adalah dari pihak BNPT dan kalangan akademisi.

Tetapi ada pembicara lain yang memukau dari mantan kombatan yang pernah dihukum selama enam tahun karena terlibat dalam berbagai tindakan teror di Indonesia, kemudian sadar, dan kembali kepada pemahaman Islam yang benar sebagai rahmat bagi alam semesta. Sejak itu turut membantu BNPT untuk tugas nasionalnya dalam upaya membendung radikalisme dan terorisme melalui pendekatan lunak, persuasif, pendidikan, dan bantuan ekonomi. Mantan kombatan ini bernama Kurnia Widodo, S.T. (kelahiran Medan 1974), alumnus Teknik Kimia ITB, pakar perakit bom yang mahir membawakan dalil-dalil agama.

Penampilan Bung Kurnia tampak gagah, pakai kopiah hitam, dan punya rasa percaya diri yang tinggi, sebagaimana yang saya temui pada sosok mantan kombatan yang lain semisal Nasir Abas, Ali Imron, dan Ali Fauzi. Dua yang terakhir ini adalah bersaudara, berasal Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Desa Tenggulun ini sejak awal abad ke-21 telah menjadi sorotan dunia karena secara mendadak-sontak dikenal sebagai epicentrum (aslinya istilah geologi dari titik itu gempa bumi dan ledakan bawah tanah berasal) terorisme di Indonesia. Dengan kata lain, Desa Tenggulan, tempat kelahiran perancang bom Bali dan lain-lain tempat, pernah menjadi pusat dan otak terorisme yang mengerikan itu, sebagaimana dikatakan di atas.

Bung Kurnia tidak hanya mahir dalam pembuatan bom, dia juga berbicara tentang landasan teologis dari perbuatan teror yang pernah dilakukannya sendiri sampai ditangkap aparat kepolisian. Dalam paparannya, alumnus ITB ini menelusuri faham salafisme ekstrem yang berakar pada teologi Wahabisme yang mengobarkan “perang” terhadap siapa pun yang tidak sependapat dengan penganut aliran ini. Teologi yang mengajarkan kebenaran tunggal inilah yang jadi pegangan pelaku teror di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Saya sudah agak lama mendengar pendapat ini, tetapi melalui mulut seorang Kurnia yang terlibat dalam eksekusi teologi kebenaran tunggal itu, masalahnya menjadi semakin terang benderang tentang betapa jauhnya ajaran Islam telah disalahtafsirkan dan disalahgunakan oleh faksi ekstrem ini untuk melakukan perbuatan biadabnya atas nama Tuhan. Paparan Bung Kurnia ini perlu disimak bukan saja oleh faksi-faksi radikal lainnya, baik di kalangan politisi mau pun kalangan mereka yang bergerak di bawah nama yang beragam, tetapi juga oleh arus besar Islam Indonesia: Muhammadiyah dan NU yang kabarnya sudah mulai disusupi oleh aliran ekstrem ini.

Jika benteng pertahanan Muhammadiyah dan NU sampai bobol dimasuki oleh teologi kebenaran tunggal ini, maka Indonesia sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi akan berubah menjadi ladang pertumpahan darah, dan di ujungnya negeri ini akan masuk museum sejarah karena eksistensinya telah dibinasakan oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur oleh “misguided Arabism” (Arabisme yang kesasar jalan) dalam bentuk radikalisme dan terorisme itu. Tetapi, insya Allah, drama itu tidak akan berlaku, dengan syarat Muhammadiyah dan NU tetap istiqamah dalam khittah moderasinya masing-masing dan negara jangan sampai lengah untuk menangkal prilaku jahat ini.

PKI dan Kuburan Sejarah (2)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Kesetiaan PKI memang bukan kepada bangsa dan negaranya sendiri, tetapi kepada Moskow, kemudian belakangan kepada Beijing. Kecuali Tan Malaka yang tidak pernah menanggalkan nasionalismenya serta tidak anti Islam, hampir semua tokoh PKI berkiblat ke negara asing. Penyair Lekra Virga Belan di bawah judul: Penerbangan Malam ke Leningrad menulis bait-bait di bawah ini:

Dari Sochi ke daerah utara
Tidak terbentang segara
Hanya langit jingga
Dan udara malam raya.

Dan kabut tersapu di hadapan
Dan tertinggallah buih di lautan
Bumi Soviet ialah padang terluas di dunia
Dan akulah sang musafir, dalam kelana.

Seorang di sampingku berkata: Leningrad
Dan kujawab: Cukup kukenal, kamerad!
Ke sana!

Ke pusat api yang pernah menjulang dalam sejarah!
Ke sana!
Ke tempat kaum buruh menumbangkan kekuasaan durjana!

Ke Leningrad
Ya, ke Leningrad!

Kota revolusi daerah utara!

(Dimuat pertama kali dalam Harian Rakyat, Minggu, 1 Desember 1963, dikutip dari Taufiq Ismail dan D.S. Muljanto, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK. Bandung: Mizan, 1995, hlm. 228).

Virga Belan saat menulis puisi di atas memang belum ada tanda-tanda bahwa komunisme akan hancur berkeping-keping. Belum terbayang revolusi Mekhail Sergeyevich Gorbachev dalam bentuk glassnost (keterbukaan) dan perestroika (reformasi) sebagai penyebab keruntuhan federasi Uni Soviet, di samping karena invasi berdarah-darah Negara Tirai Besi ini atas Afghanistan, bangsa Muslim miskin yang dizalimi. Kemudian pada 1991 Presiden Boris Yeltsin (pengganti Gorbachev) membubarkan Partai Komunis Uni Soviet. Maka kalimat Belan: “Ke tempat kaum buruh menumbangkan kekuasaan durjana!” menjadi hambar dan basi, karena tempat yang dipuja dan diagungkan itu telah tumbang secara dramatis dan hina, sekalipun Rusia sebagai bangsa dan negara tetap bertahan. Negeri jajahannya satu per satu melepaskan diri dalam tenggat waktu belum sampai satu abad.

Akhirnya, kejadian berikut perlu disertakan di sini. Pada 6 Septermber 2015 Svetlana puteri sulung Nyoto (salah seorang Trio CC PKI bersama D.N. Aidit dan M.H. Lukman) dalam sebuah rombongan telah mengunjungi saya untuk berbagi pengalaman dan membaca kembali kilas balik perkembangan politik Indonesia. Dibicarakan pula tentang mustahaknya mempercepat proses rekonsiliasi nasional, agar bangsa ini tidak lagi disandera oleh konflik politik masa silam yang keras dan sarat kebencian. Pada 3 Juni 2017 jam 09.28, Svetlana kirim SMS ini: “Saya sedang bersama Catharine Panjaitan, putri sulung DI Panjaitan yg sedang berlibur. Makan pecel di rumah saya. Semoga Buya senantiasa dilimpahi kesehatan. Kami masih memerlukan Buya.”

Pujian terhadap saya itu tidak penting, lupakan saja. Iklim persahabatan yang perlu diingat adalah kedekatan Svetlana dengan Catharine Panjaitan, puteri Jenderal D.I. Panjaitan. Ayahnya adalah salah seorang perwira tinggi Angkatan Darat yang dibunuh, kemudian dimasukan ke dalam sebuah sumur di Lobang Buaya. Kini keturunannya telah mengubur dendam sejarah itu untuk selama-lamanya, seperti terbaca dalam SMS di atas. Sangat mengharukan, sangat halus. Oleh sebab itu, PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab.

PKI dan Kuburan Sejarah (I)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Di awal malam pada 23 Mei 2017, Dubes RI di Moskow, Bung Wahid Supriadi, mengontak saya via telepon. Sambil mengenalkan diri, Dubes juga mengundang saya untuk berkunjung ke negara mantan Tirai Besi itu. Di malam itu ada dua tamu penting Indonesia yang sedang berada di Moskow: Menko Polhukam Wiranto dan Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius. Tetapi ada yang lebih menarik dalam pembicaraan telepon itu. Dubes bertanya: “Mengapa isu PKI masih ramai di Indonesia, sementara di Rusia pendukung komunisme tinggal lagi 13 persen?” Jawaban saya, ya itulah politik kita dalam upaya merebut simpati publik agar dukungan terhadap pemerintah Jkw-JK bisa dilemahkan melalui isu PKI ini. Sebagaimana kita maklum sasaran utama yang ditembak dengan mengelindingkan isu pandir ini adalah Presiden Jkw yang dituduh sebagai titisan PKI. Bahkan ada yang melontarkan pendapat agar gen Jkw diteliti untuk menelusuri keterkaitannya dengan PKI.

Situasi semakin heboh dengan munculnya buku sensasi karangan Bambang Tri Mulyono berjudul: Jokowi Undercover, Malacak Jejak Sang Pemalsu Jatidiri (2016) yang diperbanyak dengan fotokopi. Penulis ini berasal dari sebuah dusun di Blora yang sehari-hari ditengarai sebagai peternak ayam dan kambing. Kelompok anti-Jkw banyak juga yang percaya dengan isi buku ini yang kabarnya mulai digarap sejak 2014, tahun terpilihnya Jkw sebagai presiden. Dari sosok yang semula tidak dikenal Bambang Tri dengan karyanya itu mendadak sontak jadi perhatian publik. Maka jadilah Jkw sebagai keturunan orang PKI diperbincangkan orang sampai ke pelosok Nusantara, sebuah fitnah politik murahan di lingkungan suasana demokrasi Indonesia yang penuh gesekan.

Menarik juga untuk dikomentari, seorang peternak ayam dan kambing saja jika mampu menyentuh dan mengusik kepekaan publik, namanya mudah mencuat jadi perbincangan orang, dan kelompok yang anti Jkw dengan enak saja menelan mentah-mentah Jokowi Undercover ini, sekalipun isinya palsu. Bagi mereka yang penting bukan kebenaran isinya, tetapi buku itu dapat dipakai untuk memukul lawan politik. Yang ironis adalah bahwa yang menggunakan kicauan Bambang Tri ini ada beberapa orang yang terdidik dan terlatih di ranah politik dan militer.

Kita lanjutkan. Sesungguhnya yang merasa geli dengan isu PKI ini tidak hanya Dubes di atas, tetapi juga semua mereka yang masih punya nalar sehat, sekalipun mungkin tidak suka kepada Jkw. Bagi saya sendiri, upaya sementara orang untuk mengangkat isu PKI ini sama saja dengan menggali kuburan sejarah yang menghabiskan energi dan pasti sia-sia. Akan lebih bagus jika seseorang yang tidak menyukai pimpinan negara sekarang, bangunlah pendapat secara cerdas dan jujur dengan argumen yang kuat sehingga dalam pilpres 2019 tidak terpilih lagi. Tetapi untuk menjatuhkannya sebelum masa jabatan rampung lima tahun dengan isu-isu yang sarat kebencian jelas akan semakin merusak sistem demokrasi Indonesia yang lagi merana itu. Inilah salah satu akibat dari berjibunnya jumlah politisi yang tidak mau naik kelas menjadi negarawan, sebagaimana yang pernah muncul lebih dari dari sekali di kolom ini.

Bahwa PKI pernah dijuluki sebagai partai komunis terkuat nomor tiga sesudah Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok, dunia mengakuinya. Mohon dicatat bahwa hancurnya komunisme bukan karena keunggulan dan kebaikan sistem kapitalisme yang anti keadilan itu, tetapi cara brutal dan anti kemanusiaan yang ditempuh kaum komunis untuk merebut kekuasaan telah membawa ideologi ini ke tiang gantungan sejarah. Amat disesalkan PKI menjadi besar karena mendapat payung perlindungan dari penguasa ketika itu. Drama ini meraih titik baliknya dengan tragedi 30S/PKI 1965 yang nyaris meluluhlantakkan fabrik sosial-politik bangsa ini. Pasca tragedi ini ketegangan sosial-politik tidak dengan sendirinya reda, bahkan sampai sekarang masih saja dibicarakan orang tentang siapa sejatinya aktor intelektual di balik bentrokan berdarah sesama anak bangsa ini. Pihak luar pun turut berkicau menyoal latar belakang benturan berdarah ini.

Tetapi tuan dan puan jangan salah tafsir, ketika Resonansi ini berbicara tentang kekejaman penganut komunisme di berbagai negara, termasuk tindakan brutal rezim Pol Pot di Kamboja yang membunuh rakyatnya sendiri dalam jumlah sekitar 2 juta. Berapa puluh juta rakyat yang binasa di bawah rezim Joseph Stalin dan Mao Tse Tung di bekas Uni Soviet dan di Cina Daratan. Rezim komunis tidak pernah ramah kepada kemanusiaan. Saya termasuk yang mengutuk semuanya itu, di samping juga mengutuk tindakan kejam rezim Orba terhadap pengikut atau yang dikategorikan sebagai pengikut PKI yang jumlahnya juga ribuan tanpa melalui proses pengadilan. Tidak sedikit juga di antara mereka itu yang menjadi diaspora di negara-negara lain, tidak bisa pulang ke Indonesia karena jiwa mereka terancam. Kekejaman model ini jangan berlaku lagi di Negara Pancasila ini pada masa-masa yang akan datang. Dan teman-teman simpatisan PKI mesti mau belajar tentang tentang watak komunisme yang anti-demokrasi dan antikemanusiaan.

Posisi Takwa Itu Mahal

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Bulan September 2008 di ruang ini saya telah menulis tentang masalah posisi takwa di bawah judul serupa. Saat itu saya telah melakukan puasa Ramadhan sekitar 66 kali pada usia 73 tahun. Sekarang pada usia 82 tahun, apakah kualitas takwa ini sudah meningkat atau belum saya pun tidak tahu. Dalam upaya mengeritik diri sejujur-jujurnya, sebagian besar artikel itu saya tulis kembali dengan tambahan di sana-sini. Saya merasakan benar bahwa untuk menjadi manusia baik dalam pengertian takwa itu, perlu pergumulan spiritual yang terus menerus, tanpa henti. Dan saya belum tentu berhasil. Alangkah tidak mudahnya melangkah di pendakian ini!

Di ujung surat al-Baqarah ayat 183 Alquran memang menggunakan ungkapan la’allakum tattaqûn (semoga kamu berhasil meraih posisi takwa) dengan menjalankan puasa itu. Istilah takwa merupakan salah satu konsep kunci dalam Alquran di samping iman dan Islam. Tidak kurang 242 kali konsep itu dalam berbagai bentuk dapat dilacak dalam Kitab Suci ini. Dengan demikian fungsinya sangat sentral.

Dari segi akar kata takwa berasal dari tiga huruf w q y yang bermakna menjaga diri, baik dari kehancuran moral atau dari kemurkaan Allah akibat penyimpangan prilaku seseorang dari jalan lurus. Takwa adalah salah satu hasil iman yang tulus dan otentik. Iman yang tidak tulus adalah sebuah sandiwara murahan, tidak punya bekas yang positif dalam mengarahkan prilaku kita ke jalan yang diridhai.

Oleh sebab itu pemaknaan takwa dengan takut (kepada Allah) tidaklah terlalu tepat, sebab rasa takut akan menjauhkan seseorang dari yang ditakuti, sementara takwa kepada Allah, justru sebaliknya, kita selalu rindu untuk senantiasa mendekat kepadaNya. Dalam perjalanan hidup saya rasa rindu kepada Allah tidak selalu hadir. Artinya kualitas iman saya belum beranjak jauh.

Apa indikator takwa itu? Dalam berbagai ayat Alquran telah menjelaskannya. Kita ambil yang paling sering dibaca pada bulan Ramadhan, ayat 133-136 surat Ali ‘Imrân yang artinya: “Dan cepat-cepatlah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi mereka yang telah berhasil meraih posisi taqwâ. [Yaitu] orang-orang yang memberikan infaq, baik di saat lapang maupun di saat sempit, dan orang-orang yang mampu mengendalikan marah serta bersedia memaafkan [kesalahan] orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan [juga] mereka yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, [segera] mengingat Allah dan mohon ampun atas segala dosanya, dan siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, padahal mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan [itulah] sebaik-sebaik balasan bagi orang yang beramal.”

Cobalah simak baik-baik beberapa indikator takwa dalam ayat 34-35 di atas. Rasanya saya sendiri belum pernah memiliki indikator itu secara utuh dan sempurna. Sering bolong dan kendalanya banyak sekali, tentu karena tingkat ketakwaan saya jauh dari ideal, padahal usia sekarang sudah 82 tahun, liang kubur sudah sangat dekat. Inilah yang mencemaskan, inilah yang merisaukan.

Dalam beribadah dan beramal, saya rasanya hanyalah seorang minimalis, Allah-lah yang maha tahu akan segala kelemahan dan kekurangan diri saya. Kadang-kadang muncul pertanyaan ini: apakah hidup saya ini bernilai di sisi Allah? Jika jawabannya negatif, tentu ini berarti sebuah kegagalan, sesuatu yang sangat menakutkan. Tetapi tentu saja kita tidak boleh berputus harap akan ampunan Allah atas segala dosa, kekurangan, dan kelemahan yang mengitari diri.

Di sinilah barangkali fungsi do’a yang harus terus menerus kita sampaikan kepada Maha Pencipta hidup dan mati. Dalam masalah do’a memang saya tidak pernah lupa, sekalipun tidak selalu disertai hati yang khusyu’, bening, dan rindu. Kadang-kadang do’a hanya asal dibaca, tidak sungguh-sungguh, sementara rahmat Allah kepada saya sekeluarga telah turun berjibun, tidak henti-hentinya, datang dari berbagai penjuru. Hentakan Alquran adalah ini: “Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan? Dan janganlah mereka jadi seperti orang-orang yang telah diberi kitab sebelumnya, kemudian mereka melalui masa yang panjang, lantas hati-hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq/durhaka” (al-Hadîd: 16). “Duh Gusti, bimbinglah hambaMu ini ke jalan yang lempang agar terhindar dari malapetaka kedurhakaan yang mengerikan itu. Amin!”

Semua yang ditulis ini adalah pengalaman hidup yang saya lalui, tidak dibuat-buat, karena itulah kenyataannya, dengan harapan agar pengalaman spiritual para pembaca akan jauh lebih mulus dari apa yang sudah saya lalui. Posisi takwa bagi saya ternyata masih saja terlalu mahal untuk dikejar, sekalipun telah berpuasa puluhan tahun. Percayalah kehadiran mereka yang sudah berada pada maqâm mulia ini pasti dirindukan semua orang.

Persatuan Atau Persatean Nasional (V-habis)Persatuan Atau Persatean Nasional (V-habis)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Bung Karno dan Bung Hatta sebelumnya selama delapan tahun (1934-1942) diasingkan penguasa kolonial ke tempat yang berbeda: Bung Karno ke Endeh, Bengkulu, dan Padang, sedangkan Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir ke Boven Digul (Papua), dan kemudian dipindahkan ke Banda Neira, Maluku Tengah, dengan segala suka-dukanya.

Di Banda Neira inilah Bung Hatta menulis karya tentang filsafat di bawah judul: Alam Pikiran Yunani yang terkenal itu. Bagi Bung Hatta filsafat berfungsi untuk “meluaskan pandangan dan menajamkan pikiran,” seperti yang ditulis dalam pengantar karya tiga jilid ini di Banda Neira 1941, saat dia berusia 39 tahun.

Pada seri ke lima dan terakhir ini kita membicarakan corak hubungan Bung Karno dan Bung Hatta masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan beberapa tahun pasca proklamasi sampai Bung Karno wafat pada tahun 1970 untuk dijadikan pelajaran berharga bagi generasi yang datang kemudian, terlebih bagi politisi Indonesia kontemporer yang kebanyakan tidak punya kepekaan tentang bahaya persatean nasional. Juga akan dinilai secara singkat kualitas kenegarawanan keduanya tatkala menghadapi masa-masa kritikal dan genting dalam karier politik kebangsaan mereka pada sebuah negara yang berusia muda.

Dalam bacaan saya, ketika terlibat dalam polemik yang tajam sekalipun, Bung Karno dan Bung Hatta tetap konsisten menjaga kohesi persatuan nasional. Di situ terasa kekuatan watak kenegarawaan mereka yang luar biasa. Perbedaan karakter antara keduanya telah membawa hubungan itu berada dalam situasi tegang-kendor, silih berganti, tetapi anyaman persahabatan mereka tidak pernah putus, demi memelihara keutuhan bangsa dan negara agar tidak sampai dibinasakan oleh anak-anak bangsa yang tipis dan lemah wawasan kebangsaannya.

Serangan tentara Jepang yang tiba-tiba telah melumpuhkan kekuasaan kolonial di Indonesia tanpa perlawanan. Bung Karno dan Bung Hatta melihat peluang ini untuk mempercepat proses kemerdekaan bangsa, sekalipun rakyat harus megalami penderitaan yang sangat parah. Kekejaman Jepang atas rakyat Indonesia tidak akan pernah dilupakan, karena sudah terekam ingatan kolektif kita. Tetapi mengapa kedua tokoh sentral ini mau bekerja sama dengan kekuasaan Jepang, sementara Sutan Sjahrir dan kelompoknya tidak turut dan malah bekerja di bawah tanah, mendidik rakyat untuk melawan tentara pendudukan mata sipit ini?

Orang boleh berdebat tentang masalah ini, tetapi tentu punya alasannya masing-masing. Sjahrir yang sejak di negeri Belanda sangat dekat dengan Bung Hatta, di masa pendudukan Jepang ini malah berpisah. Sebenarnya Sjahrir tahu dan setuju kedua tokoh itu bekerja sama dengan Jepang, sebab situasinya mengharuskan demikian. Bahwa Jepang itu kejam, semuanya mengerti. Bung Karno bersama Bung Hatta melaui Poetera (Poesat Tenaga Rakyat), demi mempercepat kemerdekaan tanah air, semula memang bersemangat untuk bekerja sama dengan Jepang, tetapi kemudian disadarinya bahwa Jepang tidak dapat dipercaya. Sutan Sjahrir sejak awal memang mencurigai Jepang, tetapi tokoh ini dinilai penguasa tidak terlalu berpengaruh dibandingkan dengan Bung Karno dan Bung Hatta.

Demikianlah, untuk meringkas cerita, Jepang pada akhirnya takluk kepada sekutu setelah Hiroshima dan Negasaki pada awal Agustus 1945 dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Bung Karno dan Bung Hatta meneruskan kerja samanya dan pada 17 Agustus 1945 dikenal sebagai dua sejoli proklamator, kemudian ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden negara Indonesia yang baru dibentuk. Setelah Pemilu 1955, bulan Desember 1956, Bung Hatta mengundurkan diri sebagai pendamping Bung Karno. Banyak yang menyesalkan sikap Bung Hatta ini, tetapi watak keras tokoh ini tidak bisa dibujuk. Bolehjadi juga Bung Karno tidak keberatan atas pengunduran Bung Hatta ini. Di saat Bung Hatta bersama Sultan Hamengkubuwono IX dijadikan ikon oleh daerah yang sedang bergolak akhir 1950-an, keduanya tidak tergoda untuk berpihak, karena bisa mencoreng martabat kenegarawan mereka.

Bung Karno sampai saat “dikudeta” oleh militer tahun 1966, dapat dikatakan bak mobil dengan gas besar melaju tanpa rem, sebab remnya adalah Bung Hatta. Kritik keras Hatta atas konsep Demokrasi Terpimpin Bung Karno tertuang dalam sebuah artikel dalam majalah Panji Masyarakat (Mei 1960) dengan judul: “Demokrasi Kita.” Bung Karno marah, tetapi tidak sampai menangkap Bung Hatta. Di sini sisi kenegarawanan Bung Karno masih terasa. Bung Hatta masih bebas bergerak, sekalipun diawasi.

Tetapi kenegarawanan Bung Karno mendapat ujian berat ketika kekuasaannya digerogoti oleh militer dengan bantuan mahasiswa dan pelajar Indonesia. Bung Karno bersama pendukungnya yang masih besar ketika itu tidak melakukan perlawanan, demi menjaga agar bangsa ini tidak pecah. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 dalam tahanan militer, sebuah perlakuan sangat buruk yang semestinya tidak terjadi.

Dua hari sebelum wafat Bung Hatta mendatangi sahabat lamanya yang sedang menderita ini. Apa yang terjadi? Kita kutipkan sebagian tulisan Bung Hendri Budiman pada 6 Mei 2013 di bawah judul : “Akhir Hayat Bung Karno.” Dalam bahasa Belanda Bung Hatta menyapa Bung Karno:

Hoe gaat het met jou…? Bagaimana keadaanmu? Bung Karno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmtanya juga tumpah. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah…Dan Bung Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

Bagi saya kezaliman penguasa atas diri Bung Karno dalam keadaan sekarat itu adalah kejahatan kemanusiaan terburuk yang mengkhianati sila kedua Pancasila: “Kemanusiaan yang adil dan berdab.”

Dengan kutipan ini saya ingin menegaskan bahwa hubungan Bung Karno dan Bung Hatta pernah renggang, tetapi tidak pernah putus. Keduanya adalah negarawan dalam caranya masing-masing. Keduanya pembela gigih persatuan nasional dan musuh besar bagi penganut mazhab persatean nasional (jika memang gejala itu dirasakan) yang bisa menghancurkan bangsa dan negara ini!

Persatuan atau Persatean Nasional (IV)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Bung Hatta baru bertemu pertama kali dengan Bung Karno di Bandung tahun 1932 setelah keluar dari penjara Sukamiskin. Sejak itu dua tokoh nasionalis yang berbeda karakter ini sering bertukar fikiran dan bahkan berpolemik tentang masalah kebangsaan dan strategi perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Bung Hatta dengan PPNI-Barunya, Bung Karno dengan Partindo (Partai Indonesia), sebagai ganti PNI yang dibubarkan. Partindo dibentuk oleh Mr. Sartono pada 30 April 1931, tetapi bubar lagi tahun 1937.

Sekalipun berbeda karakter dan latar belakang suku, sebenarnya mereka saling melengkapi. Bung Karno seorang orator besar berasal dari benih campuan Jawa dan Bali, Bung Hatta dari Ranah Minang, seorang pemikir berkepala dingin yang bukan orator. Keduanya sependapat bahwa tanpa terciptanya persatuan nasional, tujuan untuk merebut kemerdekaan bangsa akan sukar diwujudkan. Ruh Sumpah Pemuda 1928 yang tidak melibatkan kedua tokoh ini secara langsung hanya punya satu tujuan: menguatkan tali persatuan dari berbagai suku dan sub-kultur yang beragam.

Dengan orasinya yang dahsyat, Bung Karno akan dengan mudah mengumpulkan dan membakar massa rakyat yang diarahkan kepada tujuan kemerdekaan. Lidah Bung Hatta tidak punya kuasa untuk membakar semangat rakyat dalam jumlah besar, sedangkan bidikan penanya yang tajam lebih banyak menjangkau kalangan terdidik terbatas. Tujuannya keduanya tunggal: penjajah harus angkat kali dari bumi Nusantara melalui kekuatan persatuan nasional!

Tokoh-tokoh yang bergerak aktif untuk mempercepat proses pencapaian kemerdekaan banyak jumlahnya, tidak hanya Bung Karno dan Bung Hatta sebagai generasi yang lebih muda. Nama-nama besar seperti Dr. Soekiman Wirjosendjojo, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, H.O.S. Tjokroaminoto, H.A. Salim, Abdoel Moeis, Ki Hadjar Dewantara, Soerjopranoto dan sederetan daftar panjang lainnya semuanya punya jasa yang tidak kecil. PI di negeri Belanda pada awal dasa warsa kedua abad ke-20 sudah semakin radikal adalah antara lain karena virus politik yang disuntikkan Ki Hadjar, menurut pengakuan Hatta. (Lih. Hatta, Indonesia Merdeka, hlm. 28). Dalam bacaan saya, semua tokoh pergerakan nasional mempertahankan idealismenya sampai ke liang lahat.

Saat itu PI masih menyandang nama Indische Vereniging (Perhimpunan India). Mengapa semakin radikal? Karena Ki Hadjar, tulis Hatta, “yang harus mengalami , bahwa dalam daerah jajahan, di mana kekuasaan harus dijunjung tinggi, tangan penguasa tanpa ampun mencekik siapa saja…”(Ibid.). Ternyata Ki Hadjar, seorang bangsawan dari trah Pakualaman Yogyakarta, selain seorang pemikir tentang pendidikan bangsa, lidah dan penanya juga sangat tajam bila berbicara mengenai politik kolonial di tanah jajahan.

Dr. Soekiman dari PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) pada awal Oktober 1932 pernah meminta Hatta untuk jadi redaktur kepala dari Koran Utusan Indonesia yang terbit di Yogyakarta dengan gaji F 100 per bulan, sebuah angka yang tidak kecil saat itu. (Hatta, Memoir, hlm. 264-265). Coba tuan dan puan bayangkan Soekiman dari PSII meminta Hatta dari PPNI untuk jadi redaktur kepala koran yang diterbitkannya. Demi persatuan, demi kemerdekaan, beda partai tidak menjadi rintangan untuk bahu membahu, apalagi keduanya sebelum itu pernah pula menjabat pimpinan PI di Negeri Belanda.

Belajar Meneguhkan Toleransi dari Buya Syafii

Oleh: Ahmad Fuad Fanani | geotimes.co.id | 2 Juni 2017

“Situasi kita sudah jelas memprihatinkan… Kita harus bangkit menyelamatkan bangsa ini, menyelamatkan keturunan kita untuk ratusan bahkan ribuan tahun yang akan datang.”

Pernyataan itu diungkapkan Buya Ahmad Syafii Maarif dalam pertemuan sesepuh bangsa untuk perdamaian Indonesia pada Jumat lalu (26 Mei 2017).

Pertemuan itu menggambarkan betapa gentingnya situasi bangsa sekarang ini. Kegentingan itu telah terjadi sebelum dan terutama pasca Pilkada DKI Jakarta April 2017. Menurut para sesepuh bangsa, semua pihak dan pemerintah harus bersatu padu menyelamatkan keutuhan bangsa yang sedang berada di tubir perpecahan karena keterbelahan sikap politik.

Pertemuan sesepuh bangsa pada Jumat pekan lalu itu dihadiri oleh para tokoh seperti Buya Syafii Maarif, Kardinal Julius Dharmaatmaja, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Bhikku Nyana Suryanadi, Mohamad Sobary, Pendeta Gomar Gultom, Abdul Munir Mulkan, KH Imam Aziz, Ida Bagus Agung, Engkus Ruswana, dan Budi Suniarto. Quraish Shihab dan KH Ahmad Mustofa Bisri juga direncanakan hadir, namun hanya memberikan pernyataan lewat video (Kompas.com., 26/05/2017).

Ada lima butir seruan perdamaian yang harus segera dilakukan komponen bangsa ini agar berbagai permasalahan yang terkait dengan kesatuan dan keutuhan bangsa tidak semakin parah.

Kehadiran Buya Syafii dalam pertemuan itu sangat penting dan strategis. Buya Syafii yang dua lalu, 31 Mei 2017, berulang tahun ke-82, adalah sedikit dari guru bangsa yang masih kita miliki. Pasca wafatnya Nurcholish Madjid (Cak Nur) pada 2005 dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 2009, selain Buya, kita sering kesulitan mencari tokoh bangsa yang konsisten menyuarakan persatuan dan membela kelompok yang terpinggirkan.

Saat ini, selain Buya Syafii, kita masih beruntung memiliki tokoh bangsa yang teduh dan tulus seperti Gus Mus dan Quraish Shihab. Kehadiran para guru bangsa ini mutlak dinantikan agar kondisi negara ini tidak terus larut dalam keterbelahan politik yang menyebabkan saling menyalahkan, mengkafirkan, mem-bully, dan merasa paling benar sendiri.

Sang Penentang Arus
Buya Syafii Maarif adalah seorang penentang arus dan tidak gampang larut dalam dukung mendukung kelompok tertentu. Kita masih mengingat dengan jelas, saat musim kampanye Pilkada DKI Jakarta lalu, Buya Syafii adalah salah seorang tokoh yang banyak di-bully di media sosial dan dunia nyata karena pendapatnya tentang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menentang arus utama.

Menurut Buya, Ahok tidak melakukan penodaan agama dan kita wajib memaafkannya, karena dia sudah meminta maaf. Dalam salah satu artikelnya, Buya menulis agar semua lawan Ahok puas, kalau perlu Ahok dipenjara 400 tahun. Buya menyatakan itu bukan karena beliau membela atau menjadi tim sukses Ahok, namun karena keprihatinannya terhadap kondisi sosial politik yang tidak sehat dan semakin parah.

Yang memprihatinkan, reaksi publik pada Buya sangat menyedihkan. Banyak yang mengecam dan menganggap Buya sudah tidak pantas menyampaikan pendapat seperti itu, karena Buya sudah sepuh dan lebih baik memikirkan hari tuanya. Banyak yang menyangsikan keilmuan beliau karena dianggap tidak punya otoritas berbicara tentang persoalan keagamaan.

Menurut mereka, Buya adalah lulusan sejarah dan ketika mengambil kuliah PhD di Universitas Chicago, jurusannya adalah bahasa. Tanpa berusaha mencari tahu lebih serius dan mendalam, mereka melupakan fakta bahwa Buya Syafii punya otoritas keilmuan dan kelembagaan untuk berbicara persoalan tersebut. Beliau adalah lulusan Madrasah Mu’alimin Lintau dan Mu’alimin Yogyakarta yang merupakan sekolah resmi untuk kader Muhammadiyah. Ketika di Chicago, beliau masuk jurusan Islamic Studies di bawah Department of Neareastern Languages and Civilizations.

Menurut pengakuan Buya, tidak mudah menjalani kuliah di sana, karena harus mengambil dan lulus mata kuliah bahasa Arab, bahasa Persia, satu bahasa non-Inggris, dan tentu saja butuh kemahiran bahasa Inggris. Di Chicago, Buya belajar dan dibimbing oleh Prof. Fazlur Rahman yang sangat kompeten dan sangat ahli dalam bidang Islam (Titik-titik Kisar di Perjalananku, 2009).

Reaksi publik terhadap Buya Syafii yang negatif itu mungkin karena jika seseorang sudah fanatik, semua yang tidak sependapat dengannya pasti akan dianggap salah. Quraish Shihab dan Gus Mus yang jelas-jelas alumni Al-Azhar, Mesir, pun diragukan pendapatnya.

Kita bisa belajar toleransi dari Buya Syafii Maarif yang dalam berbagai tulisan, sikap, dan pendapatnya sering menyatakan pentingnya mempraktikkan nilai-nilai toleransi dan menjaga kebinekaan bangsa ini. Dengan senantiasa berusaha menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utamanya, sebagaimana dilakukan oleh Fazlur Rahman, Buya menyerukan bahwa kita wajib menghargai eksistensi semua kelompok.

Mengutip al-Qur’an, Buya menyatakan bahwa seorang atheis pun berhak hidup di Indonesia. Karena al-Qur’an sudah menyatakan bahwa semua orang berhak beriman atau tidak beriman. Terhadap kontrovensi eksistensi Ahmadiyah, Buya juga menyatakan bahwa kita wajib menghargai keberadaan dan keyakinan mereka. Kita bisa tidak setuju dengan mereka, tapi jangan sampai kita mendiskriminasi mereka.

Urusan kebenaran keyakinan itu hak prerogatif Tuhan yang baru diketahui pada Hari Akhir nanti, manusia tidak berhak menjadi Tuhan. Tentang Syi’ah, Buya mengatakan kita sebaiknya tidak larut dan terjebak pada warisan konflik sejarah pertentangan Sunni dan Syi’ah. Kita seyogyanya menatap masa depan dengan optimisme untuk kemajuan kemanusiaan.

Meski Buya Syafii Maarif adalah kader Muhammadiyah, sekolah di sekolah kader Muhammadiyah, dan pernah menjadi pucuk pimpinan Muhammadiyah, beliau tidak mau menjadi Muhammadiyah yang fanatik. Pesan yang sering disampaikan Buya adalah: “perluas radius pergaulan dan bacaan”. Buya bisa bergaul erat dan bekerjasama dengan lapisan yang sangat luas di negeri ini.

Buya Syafii tidak canggung bergaul dan bercanda dengan pemuka-pemuka Kristen, Katholik, Budha, Hindu, Tionghoa, kalangan nasionalis, NU, dan juga tokoh-tokoh dunia. Hal itu tentu saja menjadi teladan dan modal yang sangat besar untuk membangun toleransi di negeri ini. Fanatisme pada satu golongan dan pendapat, memang bisa sangat mudah menggiring kita pada sikap antipati, mengecam, dan menutup pintu dialog dengan kelompok lain.

Terus Memikirkan Indonesia
Salah satu hal penting yang sering disampaikan oleh Buya Syafii Maarif adalah harapannya tentang Indonesia. Beliau menyatakan, “Indonesia harus tetap bertahan satu hari sebelum kiamat.” Ungkapan itu menunjukkan bahwa Buya Syafii sangat peduli pada masa depan bangsa ini. Dan perhatian itu diwujudkan dalam pernyataan, tulisan, dan sikap hidupnya sehari-hari.

Ketika ada fenomena kaum agamawan yang sering main hakim sendiri dan menimbulkan keonaran, Buya Syafii tidak segan mengkritik keberadaan mereka dan menjulukinya sebagai fenomena kaum “preman berjubah”.

Saat ada kelompok radikal yang muncul di banyak tempat dan menyusupkan ide-idenya bahkan di lembaga-lembaga pendidikan, beliau menyerukan bahwa bangsa ini jangan sampai mengikuti gerakan radikal karena itu sama artinya dengan “menggali lubung kubur sendiri”. Pada saat para teroris menyerukan jihad dan bom bunuh diri, Buya menyerukan yang kita butuhkan bukanlah tekad dan jihad berani mati, tapi kita harus jihad untuk berani hidup untuk kemanusiaan.

Nilai-nilai toleransi untuk perdamaian dan kemanusiaan yang sering disampaikan oleh Buya tadi itu, bukan sekadar jargon kosong yang tanpa pelaksanaan. Buya berusaha menyeleraskan laku dan kata. Buya berani pasang badan untuk mempertahankan ide dan keyakinannya tentang pentingya nilai toleransi dan perdamaian.

Buya Syafii adalah manusia merdeka yang tidak dapat didikte dan diintervensi oleh siapa saja. Dalam kesempatan diskusi buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif (2015) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya mendengar kesakasian dari Ustadz Yunahar Ilyas, salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Beliau menyampaikan cerita bahwa pada saat Buya Syafii menyampaikan ide-ide dan sikapnya tentang toleransi dan kebhinnekaan, beberapa orang mengingatkan agar Buya jangan terlalu kencang karena beliau adalah Ketua Umum PP Muhamamdiyah.

Namun, jawaban yang didapat di luar perkiraan. Buya menjawab bahwa beliau akan terus menyampaikan dan mempertahankan ide-idenya. Bahkan kalaupun disuruh mundur dari Ketua Umum PP Muhammadiyah karena ide-idenya, beliau dengan sukarela mengundurkan diri.

Ada beberapa kritik terhadap Buya Syafii Maarif yang dianggap terlalu membela kaum minoritas dibandingkan membela umat Islam. Kritik itu dijawab oleh Buya Syafii bahwa yang dibelanya bukanlah mayoritas atau minoritas, melainkan persoalan universal dan kemanusiaan yang sebetulnya menjadi misi utama semua agama. Beliau sangat menginginkan agar rakyat Indonesia bisa hidup dengan toleran dan damai serta saling bekerjasama.

Buya ingin agar Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara. Agar bisa mengembangkan Islam seperti itu, umat Islam harus bermental terbuka, semangat untuk maju, optimis dan tidak putus asa, serta tidak bermental minoritas (Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, 2009).

Dengan demikian, umat Islam bisa bersama-sama umat agama lain berkontribusi untuk kemanusiaan, kebangsaan, kebangsaan, dan persyarikatan/jamaah masing-masing (urutan dari global ke lokal/kelompok). Jadi, bukan dibalik dari memikirkan persoalan komunal dan lupa pada persoalan global dan menjadi orang yang kosmopolit.

Sebagai manusia, tentu Buya juga memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan. Namun pemikiran dan sikap hidupnya layak kita jadikan teladan untuk membangun toleransi menjaga keutuhan bangsa ini. Selamat ulang tahun ke-82 Buya, mudah-mudahan Buya terus sehat, menginspirasi, dan tidak lelah berjuang untuk masa depan bangsa Indonesia ini…..

 

Mahasiswa Program S3 di the University of Toronto, Canada; Peneliti MAARIF Institute for Culture and Humanity; Pengajar di FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta dan FISIP UIN Jakarta