Teladan Kebangsaan KH. Ahmad Dahlan

Oleh Ust. Ahmad Fuad Fanani

 

Tahukah Engkau (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berguna (QS. Al-Mâ’ûn: 1-7).

 

Suatu ketika, KH Ahmad Dahlan yang setiap hari memberikan pengajian tafsir kepada santri-santrinya menyuruh mereka untuk mengulang-ulang bacaan surat di atas. Setiap para santrinya selesai membaca, KH Ahmad Dahlan meminta untuk diulangi lagi, hingga berkali-kali. Akhirnya, ada salah satu santri  yang  bertanya,  Kenapa  Kiai memerintahkan  kami  untuk terus mengulang-ulang surat ini, padahal kami telah selesai membacanya, bahkan hafal di luar kepala?

Mendengar pertanyaan dan penyataan dari santrinya tersebut, KH Ahmad Dahlan mengatakan  bahwa  membaca  Al-Quran tidak cukup hanya diulang-ulang pembacaannya,  tapi  juga  penting  untuk dipikirkan artinya, diresapi maknanya, dan yang lebih penting lagi dijalankan dalam kehidupan nyata.

Dalam  surat  Al-Mâ’ûn  di  atas,  yang hingga sekarang banyak menjadi spirit dan nafas perjuangan Muhammadiyah, ditegaskan bahwa orang-orang bisa dikategorikan mendustakan agama, apabila ia menyia-nyiakan anak yatim dan kaum fakir miskin. Selain itu, juga secara jelas dikatakan oleh Allah SWT, bahwa shalat atau ibadah wajib bisa menjadi sia-sia apabila kita hanya peduli atau mementingkan nasib kita saja, tanpa sedikit pun mau memberi pertolongan bagi orang yang sengsara.

 

Dengan berpedoman pada surat Al-Mâ’ûn itulah, KH Ahmad Dahlan bersama para santri dan sahabatnya menggerakkan Islam yang berkemajuan, yaitu Islam yang peduli pada modernitas, menjunjung tinggi kemajuan, memikirkan pendidikan, menekankan kerja keras dan amal nyata, serta melakukan pembaruan pemikiran keagamaan dengan disertai sebuah amal nyata. Dengan Islam yang berkemajuan itu, ketika KH Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat Masjid Kraton Yogyakarta, meskipun banyak dikritik orang dan dikafirkan, beliau tetap istiqamah pada perjuangannya dan teguh pendirian. Sebab, beliau yakin bahwa setiap usaha pembaruan atau kritik terhadap kondisi kemapanan, pasti akan mendatang-kan protes dan ketidaksukaan pada sebagian orang.

 

Oleh karena itu, KH Ahmad Dahlan ingin agar ketika membaca Al-Quran atau menafsirkan kitab suci Al-Quran, hendaknya tidak hanya berhenti pada upaya pemahaman saja, tapi sejatinya dilanjutkan dengan langkah pemberdayaan dan pembebasan sosial terhadap masyarakat di sekelilingnya. Maka, lewat penafsiran yang progresif dan transformatif terhadap surat Al-Mâ’ûn itu, KH Ahmad Dahlan bersama-sama dengan pimpinan dan anggota Muhammadiyah lainnya memelopori pendirian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemom) yang menjadi cikal bakal rumah-rumah sakit yang hingga sekarang berkembang pesat di Muhammadiyah itu. PKO ditujukan untuk menolong para kaum mustadz’afîn yang papa dan terpinggirkan oleh kekuasaan dan tidak mampu pergi ke pengobatan yang mahal dan membutuhkan banyak dana.

 

Selain mendirikan PKO, KH Ahmad Dahlan bersama-sama pimpinan dan warga Muhamamdiyah lainnya, dalam rangka menolong kaum fakir miskin, mustadz’afîn, anak terlantar, anak jalanan, dan sebagainya, juga mendirikan sekolah modern yang diadaptasi dari model pendidikan orang Barat. Pada masa penjajahan, semua yang berbau kulit putih, baik bahasa, model pakaian, sistem pendidikan, dan metode belajarnya, dianggap milik non-muslim (Barat) dan umat Islam dilarang mendekati dan menirunya.

 

Namun, dengan ijtihad yang diyakininya serta terdorong oleh kesadaran akan pentingnya menolong dan menafsirkan ayat Al-Quran dalam kehidupan nyata, maka KH Ahmad Dahlan mengadopsi sistem itu dan menyesuaikannya dengan budaya dan nilai Islam. Menurutnya, kita tidak apa-apa belajar ilmu-ilmu yang dipelajari orang kulit putih itu, agar kita juga menjadi pintar dan cerdas serta tidak dibodohi oleh mereka.

 

***

 

Dalam riwayat kehidupan KH Ahmad Dahlan yang didokumentasikan oleh santrinya yang bernama KH. Syuja’, diceritakan bahwa KH Ahmad Dahlan dalam memimpin Muhammadiyah sangat egaliter dan mengorbankan waktu dan segala yang dimilikinya untuk perjuangan Persyarikatan ini. KH Ahmad Dahlan yang seorang Penghulu Kraton Yogyakarta dan pedagang, mengajarkan para santrinya agar bersikap mandiri dalam berdakwah.

 

Selain menjalani hidup sebagai seorang pedagang, meskipun menjadi pimpinan dari Muhammadiyah yang sangat besar pengaruhnya dan menarik minat para penduduk Indonesia, serta berkedudukan tinggi sebagai aktivis Boedi Oetama dan menjadi Penghulu Kraton, KH Ahmad Dahlan yang nama kecilnya adalah Muhammad Darwis, ternyata tetap berperilaku sederhana.

 

Menurut Abdul Munir Mulkhan yang banyak menggeluti dan meneliti pemikiran dan kehidupan KH Ahmad Dahlan, beliau adalah sosok yang sederhana. Beliau ke mana-mana naik kereta api bersama para pedagang lainnya dan menolak tawaran untuk menginap di penginapan yang mewah. Beliau lebih suka menginap di rumah para sahabatnya sesama aktivis Islam di berbagai daerah untuk lebih leluasa berdiskusi dan berdakwah dengan para sahabatnya itu.

 

Di samping hidup dalam kesederhanaan, KH Ahmad Dahlan juga terkenal sebagai figur yang terbuka, toleran, dan tidak fanatik. Oleh karenanya, beliau meski aktif di Muhammadiyah, tidak pernah mengkafirkan orang-orang Boedi Oetama yang kebanyakan abangan. Begitu juga dengan para aktivis Syarikat Islam pun tidak beliau kecam atau direndahkan. Karena semua itu adalah mitra untuk bersama-sama mencerdaskan bangsa dan memerdekakan negara Indonesia tercinta ini.

 

Terhadap kelompok lain yang dianggap menyimpang dan tidak beragama pun, KH Ahmad Dahlan tetap toleran dan mengajak dialog serta bertukar pikiran. Berkaitan dengan ini, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah bercerita bahwa ketika Muhammadiyah berdiri, KH Hasyim Asy’ari minta para santrinya untuk mencari tahu siapa pendiri dan penggerak organisasi ini? Kemudian, setelah tahu bahwa yang mendirikan adalah KH Ahmad Dahlan, beliau mengatakan tidak apa-apa dan tidak bahaya. Karena mereka berdua adalah sahabat lama dan pernah sama-sama menimba ilmu di Mekah.

 

****

 

Akhirnya, sebagai seorang manusia KH Ahmad Dahlan tentu tidak lepas dari kekurangan. Ada beberapa kritik terhadap beliau, misalnya kurang mewariskan pemikiran dan hanya banyak meninggalkan ajaran kesalehan sosial yang menjadikan umat kurang giat berpikir.

 

Namun, di atas itu semua, keteladanan dan sikap hidup dari KH Ahmad Dahlan patut kita bumikan dan jalani sebagai sebuah pelajaran penting dari seorang tokoh bangsa dan tokoh umat. Apalagi, di tengah zaman ketika kepedulian terhadap kaum miskin, anak jalanan, dan kaum mustadz’afîn melemah karena kerasnya persaingan ekonomi dan tuntutan untuk bersaing sesama rakyat. Wallâhu a’lam bisshawâb.

Ahmad Fuad Fanani, intelektual muda Muhammadiyah, sedang menyelesaikan pendidikan S3 di The Australian National University, Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah Australia.

 

e-PDF buletin Jumat bisa di unduh disini

Menebar Rahmat Bagi Kehidupan

“Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang pria dan seorang wanita dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa dan suku, agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”. (Q.S. al-Hujurat, 13).

 

Kita semua adalah saudara. Kita semua adalah manusia yang diciptakan Allah swt, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal. Kemuliaan manusia bukan karena ras dan kebangsaannya, namun terletak pada seberapa banyak melakukan kebajikan (ketakwaan). Sebagaimana Firman Allah dalam ayat di atas, sangat jelas meletakkan dasar kehidupan kemanusiaan dalam bingkai kesetaraan. Manusia diperintah untuk berlomba-lomba di dalam kebaikan dan ketakwaan. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah, 148).

Perlombaan dalam kebajikan inilah yang senantisa dipraktikan oleh Rasulullah Muhammad saw. Rasulullah saw dalam praktik hidup tidak pernah membedakan Muslim dan Nonmuslim. Rasulullah saw selalu meletakkan dalam konteks kemanusiaan utama. Artinya, Rasulullah saw membangun kehidupan yang beradab tanpa membedakan dia menganut agama apa.

Hal tersebut selaras dalam keagungan beliau sebagai seorang Rasul yang diutus untuk menyempurkan akhlak. Akhlak beliau menjadi cerminan kehidupan kemanusiaan yang adil dan beradab. Beliau tidak membedakan manusia berdasarkan agama. Bahkan Muhammad saw memandang semua sama. Semua adalah manusia yang mempunyai hak hidup. Rasulullah saw menolak untuk mengutuk seseorang yang dibenci. Beliau adalah pribadi yang mulia, yang mampu menahan emosi dan senantisa menebarkan rahmat bagi semua. Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya Allah mengutusku bukan sebagai penghujat atau pelaknat tapi sesungguhnya aku diutus sebagai orang yang menebar rahmat (HR. Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap muslim selayaknya menjadi juru damai bagai semua. Setiap muslim mempunyai tugas kemanusiaan menebarkan rahmat bagi semua. Rahmat itu dapat berupa perkataan yang baik. Setiap muslim dilarang menjadi penghujat. Menghujat orang lain menciderai kemanusiaan. Menghujat orang lain tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Bisa jadi dari hujatan itu akan muncul permusuhan yang lebih besar. Oleh karena itu, setiap muslim perlu menahan diri untuk tidak menghujat. Menahan diri itu merupakan proses menyelamatkan kehidupan dari kerusakan yang lebih besar.

Menebarkan rahmat bagi semua pun menjadikan kehidupan mempunyai nilai. Artinya, kehidupan akan jauh dari kebencian dan permusuhan. Dua hal inilah yang akan merusak sendi kehidupan. Kebencian akan menimbulkan prasangka buruk. Prasangka buruk hanya akan mendatangkan penyabit bagi diri sendiri dan orang lain. Sedangkan permusuhan akan menimbulkan tindakan anarkis (main hakim sendiri, baik dalam bentuk yang lunak hingga yang ekstrim seperti membunuh). Membunuh merupakan perilaku buruk manusia. Membunuh satu manusia berarti sama dengan membunuh seluruh kehidupan ini, dan sebaliknya, menyematkan satu kehidupan berarti menumbuhkan kehidupan.

Allah swt berfirman dalam Surat al-Maidah (Q.S. 5:32). Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.”

 

Mewujudkan Ketakwaan dalam Laku 

Mari meledani Rasulullah Muhammad saw dalam praktik kehidupan. Beliau telah mewariskan sikap baik kepada siapa saja. Bahkan saat beliau khutbah wada’ beliau kembali menegaskan bahwa kemuliaan manusia itu terletak pada ketakwaannya.

“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah. Kecuali dengan takwanya..” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitami).

 

Ketakwaan menjadi sumbu penting dalam kehidupan. Bagaimana mewujudkan ketakwaan dalam laku kehidupan ini? Salah satunya sebagaimana praktik hidup Rasulullah saw adalah tidak membedakan agama dalam relasi kemanusiaan yang beradab.

Rasulullah saw mencontohkan hidup baik dengan cara menghormati orang lain dengan cara beradab. Suatu ketika ada jenazah yang diangkat dan berjalan menuju liang kubur. Saat itu Rasulullah saw sedang duduk bersama sahabat. Melihat ada jenazah itu Rasulullah saw kemudian berdiri dengan rasa penuh hormat. Sahabatkan pun kemudian “menegur” Rasulullah saw. “Ya Rasul, itu adalah jenazah seorang Yahudi”. Rasulullah saw menjawab dengan singkat “bukankah ia juga manusia?”.

Praktik baik Rasulullah saw itu menjadi teladan bahwa kehidupan kemanusiaan yang mulia adalah dalam membangun relasi dengan sesama. Rasululllah saw tidak pernah membedakan itu. Rasulullah saw menghormati siapa saja, termasuk umat Yahudi dan Nasrani.

Kemanusiaan perlu dibangun atas dasar saling menghormati satu sama lain. Tanpa hal itu, kemanusiaan hanya akan dikotori oleh perilaku buruk yang memungkinkan manusia tercerai-berai. Retaknya hubungan sosial seringkali dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan melihat dan menyikapi perbedaan-perbedaan. Bukankah perbedaan itu adalah sunnatullah? Mengapa kita seringkali meributkan hal itu? Bukankah kita selayaknya menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah cara kita saling mengenal dan bekerjasama? Perbedaan bukanlah halangan bagi manusia untuk saling mengenal dan bekerjasama. Bahkan dengan perbedaan itu, manusia dapat saling menguatkan dan membangun hubungan sinergis-harmonis (unity in diversity).

Pada akhirnya, mari mewujudkan hidup baik dengan meledani kehidupan Rasulullah saw. Rasulullah saw telah memberikan teladan yang dipandu dari Wahyu Allah. Menjadikan Rasulullah saw sebagai kiblat dalam hubungan baik sesama manusia dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran. Sebaliknya mengingkari–untuk tidak menyebut menolak–praktik baik Muhammad saw hanya akan mempercepat laju kehancuran kemanusiaan dan dunia fana ini.

Rasulullah saw telah mengajarkan dan mempraktikan kehidupan harmonis dalam relasai antaragama dan bangsa. Rasulullah saw mendobrak dan menghancurkan sekat primordialisme dengan berdiri tegak di atas kemanusiaan mulia. Rasulullah saw telah meletakkan dasar kehidupan harmonis tanpa sekat suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sudah selayaknya sebagai ummat Muhammad saw, kita meneladaninya dan menjadikan kehidupan berwarna dengan saling berkontribusi dan berkolaborasi mewujudkan tata kehidupan penuh makna. Semoga kita dapat meneladani perilaku Rasulullah saw ini, dan kita mendapatkan syafaatnya di dunia dan di akhirat kelak. []

Ust. Muhammad Alwi H.S., Dosen STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta

 

e-PDF buletin Jumat edisi ini dapat di unduh disini

MAARIF Institute Bersama ASKOPIS Gelar Pelatihan Literasi Media bagi Dosen di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam

Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi pengajar di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam baik negeri maupun swasta untuk mengajarkan keahlian literasi media, termasuk dalam menangkal hoaks, disinformasi dan misinformasi. MAARIF Institute bekerjasama dengan Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) menyelenggarakan pelatihan Tular Nalar yaitu Program Pelatihan Literasi Media bagi Dosen untuk Penyemaian Perdamain dan Pemikiran Kritis.

Pelatihan ini diikuti oleh 425 orang dosen dari 128 perguruan tinggi yang tergabung di 14 Dewan Pengurus Daerah (DPD) ASKOPIS se Indonesia. Program ini digelar secara daring mulai tanggal 5 – 28 April 2021.

Mohammad Zamroni selaku Ketua Umum DPP ASKOPIS dalam pidato kuncinya menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat memberikan pencerahan tentang literasi media dilingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam khususnya di lingkungan Program Studi Komuniaksi dan Penyiaran Islam. Kolaborasi antara konsorsium Tular Nalar (MAARIF Institute, MAFINDO dan Love Frankie) dan ASKOPIS dilaksankan karena ada kesamaan visi misi dan kerangka dalam rangka membangun edukasi terhadap masyarakat terutama kalangan pendidik (dosen) tentang pentignya keahlian literiasi media dalam mengahadapi fenomena derasnya arus informasi terutama dimasa pandemi Covid-19 ini. Derasnya arus informasi tidak hanya menghadirkan hal-hal yang positif. Kenyataanya dibarengi juga dengan meningkatnya konten hoaks, provokasi, ujaran kebencian dan hal-hal negative lainya. Fenomena penyebaran hoaks ini tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat awam namun juga tidak jarang kita alami dilingkungan tenaga pendidik. Oleh karena itu dalam menghadapi fenomena tersebut kita perlu punya dua modal penting yaitu critical thinking (berpikir Kritis) dan critical awareness (kesadaran berpikir).

Abd. Rohim Ghazali selaku Direktur Eksekutif MAARIF Institute dalam sambutan penutupnya menyampaikan bahwa bulan Ramadan ini merupakan momentum yang relevan untuk kita melaksankan pelatihan Tular Nalar ini. Salah satu tujuan dari pelaksanaan Tular Nalar ini adalah memerangi fenomena hoaks yang merebak akhir-akhir ini. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kalau kita masih meyebarkan hoak, ujuran kebencian, dan hal-hal negative lainnya, maka hal itu bisa saja mebatalkan puasa kita.

Koordinator Pelatihan Dosen Tular Nalar Deni Murdiani menyampaikan bahwa setelah selesai mengikuti pelatihan peserta diharapkan mempunyai keahlian dalam literasi media, termasuk menangkal hoaks, disinformasi dan misinformasi, khususnya dalam konteks COVID-19 yang marak akhir-akhir ini. Selain itu peserta juga diharapkan mampu memahami kurikulum Tular Nalar sebagai bahan ajar untuk disampaikan kembali kepada mahasiswa. Kurikulum Tular Nalar merupakan kurikulum literasi media yang diprakarsai oleh MAARIF Institute, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan juga Love Frankie. Tular Nalar menawarkan kurikulum literasi media sebagai sarana mewujudkan latihan-latihan berpikir kritis yang diwujudkan dalam berbagai sarana pembelajaran, mulai dari video, website, artikel rubrik, dan lain-lain.

Sampai saat ini pelatihan Tular Nalar telah dilatihkan ke 1135 dosen dari 216 perguruan tinggi yang ada di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah,  Perguruan Tinggi Negeri, dan Perguruan Tinggi Swasta di 29 kota diseluruh Indonsia.

Program Tular Nalar diprakarsai oleh MAARIF Institute, MAFINDO dan Love Fankie serta didukung oleh Google.org. Tular Nalar menyediakan kurikulum online dan sumber belajar yang menarik dan mudah digunakan bagi dosen, calon guru, dan siswa untuk membangun ketahanan target audiens Tular Nalar terhadap intoleransi, berita palsu, ujaran kebencian, dan hoax melalui pemikiran kritis dan pendidikan literasi media. Seluruh materi Tular Nalar dapat diakses di website tularnalar.id.

PERINGATAN NUZULUL QUR’AN

Ust. Andri Ardiansyah

 

 

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah,185)

 

Nuzulul Qur’an diperingati setiap bulan Ramadhan—bertepatan, pada malam Lailatul Qadar. Bagi umat Islam peristiwa Nuzulul Qur’an merupakan suatu kejadian yang memiliki nilai spiritual yang agung, di mana Al-Qur’an diturunkan saat malam Lailatul Qadar, yang kemudian dikenal sebagai “malam yang nilainya lebih mulia dari seribu bulan”. Oleh karenanya, semestinya aktualisasi nilai-nilai Nuzulul Qur’an disongsong dengan kesiapan spiritual yang baik, sehingga transformasi nilai yang terdapat di dalamnya dapat diambil hikmahnya, utamanya dalam rangka peningkatan moral dan akhlak umat.

 

Al-Qur’an merupakan landasan moral, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, berbangsa dan bernegara. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an, maka hidup kita akan terbimbing sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Dalam Al-Qur’an terkandung petunjuk yang mencakup semua bidang kehidupan, seperti politik, agama, dan budaya. Karena itu sangat penting mempelajari dan mendekatkan diri dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan cuma untuk dibaca, tapi direnungkan ayat-ayatnya.

 

Turunnya Al-Quran pada tanggal 17 Ramadhan dan pengkaitannya dengan turunnya surat pertama kepada Nabi Muhammad Saw. saat melakukan khalwat di gua Hira, masih diperdebatkan oleh para ulama. Surat pertama tersebut kemudian dinamakan surat Al-‘Alaq, berjumlah lima ayat. Namun satu yang pasti, pada tanggal 17 Ramadhan telah terjadi perang Badar. Perang tersebut merupakan perang yang pertama kali terjadi dalam sejarah awal perkembangan agama Islam. Oleh karena itu, perang tersebut begitu berarti dan sangat menentukan, karena menyangkut kelangsungan agama Islam di kemudian hari.

 

Namun demikian, ada baiknya di sini disinggung arti kata nuzûl al-Qur’ân untuk memberikan pengertian yang memadai berkaitan dengan peristiwa atau kejadian tersebut. Dalam Al-Quran terdapat tiga kata yang menjelaskan turunnya Al-Quran—ketiganya merupakan derivasi atau kata turunan dari akar kata yang sama, yakni na-za-la. Ketiga kata tersebut adalah inzâl, dari akar kata anzala, nuzûl dari akar kata nazala, dan tanzîl dari akar kata nazzala.

 

Al-Quran diturunkan pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam tersebut dinamakan laylat al-qadr atau malam kepastian. Proses turunnya Al-Quran disebut inzâl, yakni diturunkannya Al-Quran ke lawh al-mahfûzh dalam wujud prototipe kitab suci—proses yang serupa juga dialami oleh kitab-kitab suci lain sebelumnya. Selanjutnya, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., prosesnya disebut nuzûl—membutuhkan waktu 23 tahun.

 

Semantara itu, kata tanzîl mengandung pengertian proses pembumian Al-Quran ke dalam realitas kehidupan. Di sini, fungsi dan peran Al-Quran adalah merespons, menjawab, dan memberikan berbagai solusi atau pemecahan atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi oleh umat Islam. Contohnya, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang bulan sabit, al-ahillah, seperti dalam ayat Al-Quran disebutkan, Mereka bertanya kepadamu tentang bulan-bulan baru. Katakanlah, Itu hanya tanda-tanda waktu untuk manusia dan untuk musim haji…,” (Q.S. 2: 189).

 

Pembumian Al-Qur’an perlu untuk memanusiakan manusia. Kehadiran Islam melalui kandungan normativitas Al-Qur’an, dimaksudkan untuk mengubah masyarakat (nas) dari apa yang diistilahkan sebagai ‘kegelapan’ (dzulumat) kepada ‘cahaya’ (nur). Dan sesungguhnya inilah inti dari Al-Qur’an yang mengandung pesan-pesan moral-sosial bagi umat manusia. Ini relevan dengan salah satu sabda Rasulullah yang mengatakan bahwa beliau diutus oleh Allah sebagai penyempurna moralitas manusia.

 

Misi Al-Qur’an itu sendiri, yakni transformasi sosial melalui jalan pembebasan untuk menciptakan moral-sosial yang berkeadilan, berkeadaban, maju, progresif, dan inklusif.  Tuhan tidak berbicara pada suatu ruang hampa dan tidak mengirim pesan yang dibentuk di dalam kehampaan. Karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an bagi umat Islam memberikan pesan perlunya transformasi dalam seluruh segmen kehidupan berbangsa dan bernegara, dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling atas. Transformasi sosial ini harus dimulai dari perubahan individual yang kemudian diikuti dengan perubahan institusional.

 

Akan tetapi, transformasi tidak akan terwujud tanpa dilandasi dengan apa yang disebut oleh Al-Qur’an di dalam wahyu pertama dengan ‘Iqra’, yakni membaca. Ayat pertama surat Al-‘Alaq memerintahkan kepada semua umat manusia untuk mempelajari fenomena-fenomena ciptaan Allah, semua ilmu-ilmu Allah, baik yang tertulis di dalam teks-teks Kitab Suci, maupun yang tersebar di jagad raya. Dengan kata lain, basis utama sebuah transformasi sosial adalah pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan.

 

Pengetahuan membuka pikiran manusia dari tidak tahu menjadi tahu. Pengetahuan menjadi cahaya yang menyingkap kegelapan itu. Al-Qur’an telah memberikan semacam ‘road map’ atau peta jalan bagi sebuah transformasi sosial berbasis ilmu pengetahuan. Transformasi itu sendiri, di dalam dirinya, terkandung semangat pada ilmu pengetahuan. Peringatan Nuzulul Qur’an dengan demikian kembali menggugah kita untuk memuliakan ilmu pengetahuan demi terciptanya transformasi sosial, membawa bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik.

 

Al-Qur’an mengandung isyarat-isyarat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta ayat-ayat alam (kauniyah) yang dapat dijadikan motivasi dan inspirasi dalam berbagai rekayasa, baik sosial, teknik maupun genetika. Al-Qur’an tidak hanya mengandung pokok-pokok ajaran agama yang meliputi akidah, syariah dan akhlak, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia dan lingkungannya, tetapi juga isyarat-isyarat tentang iptek.

 

Al-Qur’an tidak hanya mengandung pokok-pokok ajaran agama. Al-Qur’an juga membawa misi perubahan yang memungkinkan masyarakat mewujudkan peradaban baru berkat kemampuannya mengembangkan iptek dan pengamalan hukum-hukum Ilahi, baik yang termaktub dalam kitab suci maupun yang terbentang di alam raya. Banyak sekali iptek yang telah ditemukan dan memberi manfaat besar bagi dunia berkat adanya informasi dalam Al-Quran. Namun demikian masih terdapat lebih banyak lagi informasi kemukjizatan yang masih menjadi misteri yang menunggu kesanggupan manusia untuk membuktikan kebenarannya.

 

Dengan menjadikan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai momentum untuk memperbaiki interaksi dengan Al-Qur’an, meningkatkan kualitas interaksi dengan kitab suci, bukan hanya sekedar membacanya pada tingkat aspek ibadah. Tetapi juga pada perenungan atau penggalian hikmah dan isyarat-isyarat Al-Qur’an. Dengan cara itu kita dapat menerjemahkan nilai-nilai universalitas Al-Qur’an yang diyakini sebagai pandangan hidup dan petunjuk bagi kehidupan manusia sehingga dapat menjadi petunjuk bagi arah perjalanan bangsa ini. []

 

Andri Ardiansyah, Pengajar di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor

 

e-PDF buletin Jumat dapat diunduh disini

Spirit Kemanusiaan Ibadah Puasa

Oleh: Ust. Edi Sutrisno

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”  (QS. al-Baqarah/2:183)

 

 

Agama hadir membawa pesan moral dan senantiasa mengawal gerak laju manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Sebab, agama melalui berbagai ajarannya membimbing manusia agar tidak keluar dari garis-garis besar kemaslahatan. Puasa Ramadhan sebagai salah satu kewajiban agama adalah sebuah fase yang menyimpan berbagai nilai dalam segenap aktivitas ritual peribadatan. Puasa adalah kewajiban yang telah ditetapkan terhadap umat-umat yang lalu. Begitulah salah satu penegasan dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 yang telah dikutip di bagian awal tulisan ini.

 

Prof. Quraish Shihab menjelaskan tafsir atas ayat tersebut bahwa ayat di atas menyebut kewajiban berpuasa tanpa menyebut siapa yang mewajibkannya. Hal ini untuk mengisyaratkan bahwa seandainya bukan Allah SWT yang mewajibkannya, manusia sendiri akan melaksanakannya setelah tahu besarnya manfaat puasa. Puasa yang diajarkan al-Qur’an dapat membuahkan kesucian jiwa, keikhlasan, dan ketulusan. Puasa juga menjadi alat pengawasan diri dan sekaligus perwujudan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Pada hakikatnya, bulan puasa Ramadan adalah bulan kemanusiaan. Kewajiban puasa Ramadan tidak hanya menuntut peningkatan hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya, tetapi juga dengan sesama manusia dan alam raya pada umumnya Di balik ibadah-ibadah yang disyariatkan, terdapat pesan-pesan agar kita lebih peka terhadap persoalan kemanusiaan. Dalam ibadah puasa, diri kita dilatih untuk mempunyai solidaritas kemanusiaan.

 

Secara pemaknaan, puasa bisa dipahami dalam dua pengertian, yakni teosentris dan antroposentris. Puasa bukan hanya ibadah mahdhah  (ibadah murni) yang hanya berorientasi vertikal (teosentris) tetapi juga horizontal (antroposentris). Namun demikian, pengaruh nalar teologis-bayani begitu kuat dalam pemaknaan agama (religion meaning), yakni pemusatan segala aktivitas dan persoalan apapun kepada Tuhan, sedangkan problem kemanusiaan cenderung terabaikan. Cara manusia memahami agama senantiasa akan mengalami hambatan jika ia tidak mampu menangkap pesan-pesan yang tersirat dalam setiap sendi ajaran agama. Dalam pemaknaan seperti ini, puasa akan semakin jauh dari nilai fungsionalnya untuk menjadikan manusia bertaqwa `la`allakum tattaquun` (QS. Al-Baqarah: 183).

 

Spirit Kemanusiaan

Pada bulan Ramadan tahun ini, spirit dan aksi kemanusiaan harus lebih ditingkatkan, mengingat kita sedang bersama-sama diuji oleh Allah SWT dengan virus COVID-19. COVID-19 menguji solidaritas kemanusiaan kita, apakah hanya sebatas slogan atau diwujudkan dalam aksi nyata. Ramadan kali ini banyak yang terdampak COVID-19 baik kesehatannya maupun perekonomiannya. Mereka adalah sasaran aksi kemanusiaan yang harus lebih diintensifkan selama Ramadan.  Oleh sebab itu, mentransformasikan nilai peribadatan keagamaan menjadi seperangkat nilai sosial kemanusiaan merupakan sebuah upaya yang perlu terus menerus dilakukan.

 

Nilai-nilai kemanusiaan yang dikandung dalam ibadah puasa tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Maka, salah satu jalan untuk memeriksa diri dan menghidupkan rasa kemanusiaan adalah dengan berpuasa, karena ibadah ini mengandung dua aspek sekaligus: kesalehan individual dan kesalehan sosial; kombinasi keduanya mampu melahirkan efek yang besar dalam pola interaksi sosial. Dengan berlapar-lapar, haus dan menahan hasrat-nafsu, kita bisa belajar menerapkan empati kepada orang lain dan menahan diri untuk tidak berlaku negatif dan merugikan orang lain.

 

Dengan puasa, manusia diajarkan untuk lebih mengerti empati dan menerapkannya dalam lingkungan sosial. Pada titik inilah terjadi transformasi nilai dari kesadaran individual menuju kesadaran sosial. Rasa empati antar-sesama manusia yang diajarkan oleh puasa Ramadhan kemudian berproses menjadi sebuah refleksi etis.

 

Puasa mengandung pesan esoteris, “Aku sudah berjanji kepada Allah Yang Mahakasih untuk melakukan shaum.” (QS. Al-Baqarah: 26). Pada surah Maryam itu Allah menggunakan redaksi “shaum” untuk memberitakan puasanya Siti Maryam, seorang perempuan suci yang dari rahimnya lahir Nabi Isa AS. Di mana Siti Maryam menjalankan puasa fisik dan non-fisik, yang hidupnya berharap keridlaan-Nya semata. Di sini Siti Maryam berpuasa untuk mengendalikan diri dari kondisi dan situasi masyarakat sekitarnya. Inilah bentuk puasa yang bisa membangkitkan lagi jiwa kemanusiaa manusia. Puasa syariat sekaligus hakikat. Puasa fisik sekaligus nonfisik. Puasa yang bergerak jauh ke atas menuju keridhaan Allah. Menahan berbicara kecuali yang penting saja dan sesuai ajaran Allah. Mendengar hanya yang menjadi kewajiban kita untuk mendengarnya. Melihat hanya yang menjadi haknya.

 

Sekali lagi, puasa tidak hanya memberikan pesan spiritual, tetapi juga mengandung pesan sosial. Ibadah menjadi tidak ada artinya jika pesan sosialnya tak diindahkan. “Maka, celakah orang-orang yang shalat; yang lalai dalam shalatnya yang hanya pamer; yang tidak memberi pertolongan.” (QS al-Ma’un: 5-7). Semoga melalui puasa Ramadhan, kita belajar memanusiakan manusia. []

 

Ust. Edi Sutrisno, Ketua I bidang Ibadah dan Dakwah, Masjid Jami’ Bintaro Jaya Jakarta.

 

e-PDF buletin Jumat dapat diunduh disini 

Puasa untuk Menyatukan “Islam” dan “Muslim”

 

Selasa, 13 Apr 2021

Abd Rohim Ghazali Direktur Eksekutif Maarif Institute

Jakarta – Ibadah, dalam pengertian yang luas merupakan seluruh aktivitas yang berisi kebaikan dan kebenaran untuk Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan seluruh makhluk yang ada di alam raya ini. Di samping pengertian luas, ada ibadah dalam arti khusus (ibadah khas atau ibadah mahdhah) yang prasyarat, syarat dan mekanismenya sudah ditentukan melalui syariat berupa nash baik al-Quran maupun al-Hadits (Sunah Rasulullah SAW)

Perbedaan mendasar antara keduanya: yang pertama bisa ditampilkan dalam berbagai variasi, tergantung pada kreativitas manusia sebatas tidak melanggar norma. Sementara yang kedua bersifat baku, menutup kemungkinan kreativitas manusia. Sudah ditetapkan juklak dan juknisnya dalam nash.

Fungsi ibadah jenis pertama untuk memupuk kesalehan pada sesama makhluk (antroposentris), yang meminjam istilah Muhammad Abduh sebagai cerminan “Islam”, sedangkan yang kedua untuk memupuk kesalehan pada Tuhan (teosentris) sebagai ceminan “Muslim”. Islam diwujudkan dalam semua ucapan dan tandakan yang menceminkan kebaikan sesama makhluk, sedangkan Muslim diwujudkan dalam sosok/manusia yang mengaku dan menjalankan serangkaian ibadah mahdhah.

Islam dan Muslim harus menyatu secara integral. Orang yang rajin melakukan ibadah mahdhah seperti salat, puasa atau haji, tapi masih menyakiti tetangganya, masih kikir, angkuh, sombong, mau menang sendiri dan tidak bersahabat dengan lingkungan, ibadahnya kurang berfungsi atau bahkan bisa dikatakan tidak berfungsi sama sekali. Kemuslimannya belum menceminkan keislaman.

Mengintegrasikan Islam dan Muslim bukanlah pekerjaan mudah. Belum ada penelitian berapa persen orang yang secara formal menyatakan diri sebagai Muslim telah mencerminkan prilakunya secara Islam. Seperti kesulitan kita mencari orang yang bisa menyelaraskan kata dan perbuatan, sesulit itu pulalah kita mencari seorang Muslim yang benar-benar berislam.

Butuh Latihan

Sesulit apa pun upaya menyatukan Islam dan Muslim pasti bisa dicapai, meskipun hanya oleh orang-orang tertentu saja. Orang-orang tertentu yang dimaksud tentu mereka yang memiliki integritas pribadi dan kemauan keras untuk mencapai cita-cita tersebut, yang ukurannya terlepas sama sekali dari atribut-atribut keduniaan seperti status sosial dan kepangkatan.

Banyak jalan menuju Roma, demikian kata pepatah klasik, atau “Banyak jalan menuju Tuhan,” tulis Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid). Dalam mengintegrasikan Islam dan Muslim juga banyak pirantinya, di antaranya yang paling efektif adalah dengan melakukan puasa. Kata “puasa” dalam bahasa Arab shaum atau shiyam yang artinya “meninggalkan (perbuatan)” atau arti bebas “menahan diri dari perbuatan tertentu”, yang tentu saja untuk tujuan tertentu.

Puasa tidak hanya ada dalam doktrin agama. Dalam budaya Jawa, orang yang berkeinginan untuk mencapai kesejatian hidup biasanya juga melalui “puasa”, dengan mutih (hanya makan nasi putih dan hanya minum air putih) atau ngrawot dengan makan daun-daunan.

Dalam pergaulan sehari-hari, perempuan-perempuan masa kini atau bahkan laki-lakinya juga, untuk menjaga keseimbangan berat badan, agar bisa tampil di depan publik secara prima dan memikat, juga melalui “puasa” dengan cara diet, meninggalkan makanan dan minuman yang berlemak dan berkalori tinggi. Dalam hal ini “puasa” terbukti sangat efektif untuk menjaga penampilan.

Puasa dalam konteks seperti diungkap dalam judul tulisan ini tentu bukan puasa dalam arti diet, mutih, atau semacamnya. Tapi, puasa yang dimaksud adalah “menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan antara pria wanita dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.”

Dalam puasa ada prasyarat dan syarat yang harus dipenuhi sesuai ketentuan nash. Oleh karena puasa bisa disebut sebagai ibadah khas atau ibadah mahdhah. Puasa jenis ini dikatakan sebagai piranti atau wahana yang efektif untuk mengintegrasikan Islam dan Muslim, karena sebagai ibadah mahdhah puasa sangat sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan (antroposentris).

Dengan menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih satu hari penuh, khusus puasa Ramadhan bahkan berturut-turut selama satu bulan, orang-orang kaya dan berkecukupan akan dengan sendiinya merasakan bagaimana “penderitaan” yang selama ini dirasakan fakir miskin yang sangat jarang ketemu makanan dan minuman secara layak. Dari sini tercipta kesetiakawanan sosial. Artinya kebiasaan puasa bisa membuat orang welas asih, rajin berderma, dan membantu orang lain.

Di samping itu, puasa sebagai ibadah khusus ia memiliki kekhususan dari yang khusus. Orang yang sengaja merusak atau meninggalkan salat atau haji dengan mudah bisa dideteksi. Tapi bagi orang yang merusak atau meninggalkan puasa sulit dilacak. Orang yang mengaku puasa bisa saja minum atau makan di kala sendirian, siapa tahu, ia bisa saja berakting seperti orang lapar dan haus. Di sinilah di antara fungsi sosial puasa, bisa dijadikan sarana untuk berlaku jujur.

Karena kekhususannya yang lebih khusus ini maka tidak heran jika bagi orang yang berpuasa (shaim) diberikan pahala khusus di sisi Allah. “Setiap ibadah milik si pelaku dan berpahala bagi yang melakukannya kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah milik-Ku, dan Akulah yang memberikan pahalanya,” demikian salah satu bunyi hadits qudsi yang populer.

Prasyarat

Selain terletak pada jenis pahala yang langsung dari Allah, kekhususan puasa juga terletak pada prasyarat dalam melaksanakannya. Berbeda dengan prasyarat bagi peribadatan mahdhah yang lain, prasyarat puasa relatif lebih bernuansa kualitatif. Dalam al-Quran, perintah puasa disebutkan dalam Surah al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa.”

Dari ayat ini bisa diambil pemahaman bahwa prasyarat untuk berpuasa yang paling penting adalah adanya keimanan. Atau dalam ungkapan lain Allah hanya mewajibkan puasa bagi orang-orang yang beriman. Tidak bagi orang-orang “Islam KTP”, atau mereka yang “bersyahadat” karena pernikahan.

Karena syaratnya yang relatif berkualitas, maka puasa memang baru benar-benar dikatakan puasa jika ia memiliki fungsi sosial. Puasa yang hakiki tidak sebatas menahan makan, minum dan berhubungan seks, tapi juga menahan perkataan keji pada orang lain, tidak boleh mengumpat dan marah.

Dalam hadits lain juga disebutkan: “Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih wangi dari bau minyak kasturi” Menurut Prof. Dr. H.A. Mukti Ali bahwa makna yang sebenarnya dari hadits tersebut, orang yang tidak makan dan minum bukan berarti mulutnya harum. Tapi karena dia menjauhi omongan yang jelek, dusta, dan perkataan-perkataan yang tidak senonoh . Jadi “wangi” bermakna metaforis.

Dari beberapa petunjuk di atas, maka untuk mengintegrasikan Islam dan Muslim melalui puasa,menuntut prasyarat adanya disiplin fisik dan moral sekaligus. Tanpa itu, integrasi antara keduanya tidak bisa dicapai.

Introspeksi

Kita tentu bertanya-tanya: dalam masyarakat Muslim yang rajin melakukan ibadah seperti salat, puasa, zakat, maupun haji ke Baitullah, mengapa belum menunjukkan indikasi keislaman? Dalam masyarakat yang rajin berpuasa, mengapa belum tercipta kesetiakawanan? Drama pemerkosaan, penindasan, pemerasan, penipuan, egoisme serta tindak asosial lainnya, mengapa kadang-kadang masih dipentaskan orang-orang yang rajin berpuasa? Mengapa juga korupsi semakin menjadi-jadi di negeri ini?

Jawabannya, disebabkan karena puasa hanya dilakukan sebatas meninggalkan hal-hal yang teknis di siang hari, belum sampai pada tahapan meninggalkan hal-hal yang non-teknis seperti disiplin moral dan spiritual. Sehingga pada malam harinya, drama keserakahan terus berlangsung. Berlebih-lebihan dalam menyajikan menu berbuka dan santap sahur merupakan bukti ketidaksiapan Muslim mencerminkan Islam.

Puasa seolah-olah hanya menunggu waktu berbuka, dengan menahan nafsu sehingga datangnya maghrib merupakan saat pelampiasan nafsu tersebut sepuas-puasnya. Di sinilah perlunya kita terus melakukan introspeksi, menyadari kondisi yang kemudian dengan penuh kesadaran mencoba sekuat tenaga untuk mengintegrasikan Islam dan Muslim, mulai dari diri kita masing masing.

https://news.detik.com/kolom/d-5530817/puasa-untuk-menyatukan-islam-dan-muslim

Ranah Gurindam dalam Sorotan 3

Ada fakta lagi yang menyangkut masalah amanah. Seorang pengusaha berhasil asal Solok yang sering mondar-mandir antara Jakarta-Australia, beberapa minggu yang lalu menyampaikan keluhan kepada saya di Jakarta, bahwa di kampungnya untuk mencari orang yang dapat dipercaya dalam masalah uang, termasuk di kalangan keluarganya sendiri, amatlah sukar.

Pengalaman pahit serupa juga dirasakan oleh para perantau yang ingin membantu kampung. Kebocoran amanah berserak di berbagai kampung dan nagari. Saya sendiri amat maklum dengan keluhan ini, sebab itu semua juga merupakan bagian dari apa yang saya alami sejak sekian lama. Jika demikian, di mana agama, di mana adat yang diperkatakan saban hari sebagai sumber kearifan dan kejujuran?

Jawabannya, agama dan adat lebih banyak diperkatakan dalam khotbah, perhelatan, dan pertemuan-pertemuan khusus, tetapi dikhianati dalam laku dan perbuatan, persis seperti bangsa ini telah mengkhianati nilai-nilai Pancasila sejak proklamasi kemerdekaan tahun 1945.

Kata dan laku telah pecah kongsi, dipicu oleh “mentalitas menerabas”, ingin cepat kaya melalui jalan pintas tanpa berkeringat, untuk meminjam hasil penelitian Koentjaraningrat tahun 1970-an. Antropolog ini membidik laku usahawan baru Indonesia dengan menggunakan ungkapan:…’menyikat keuntungan sebesar-besarnya mumpung ada kesempatan’, “tanpa mau untuk juga mengunyah pahit getirnya masa permulaan berusaha.”

Hal serupa juga terjadi di kalangan birokrasi… “yang ingin segera mencapai fasilitas-fasilitas pangkat-pangkat tinggi dalam waktu secepat-cepatnya dengan cara-cara menerabas, tanpa rela berkorban dan berjuang melawan kesukaran-kesukaran dalam mencapai suatu ketrampilan dan kepandaian ilmu yang diperlukan.” Ironisnya, pernyataan Koentjaraningrat ini yang sudah muncul sejak pertengahan tahun 1970-an, tidak saja relevan dengan era kita di permulaan abad ke-21 ini, malah kondisinya semakin keruh dan kumuh saja.

Di mana-mana kita temui kanyataan merajalelanya cara hidup ikan lele: “semakin keruh air, semakin lahap makannya.” Fatwa agama, pengarahan pejabat, seruan adat, sudah lama tidak berfungsi. Jika ada ungkapan lama sebagai kritik terhadap kebebalan seseorang: “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri,” sekarang kondisinya semakin hitam: “masuk telinga kanan, ke luar telinga kanan.” Segala kritik sosial, nasehat-nasehat agama, petuah-petuah adat seakan-akan tidak ada gunanya lagi. Nurani dan akal sehat sudah lama lumpuh.

Di lingkungan birokrasi dan aparatur negara dalam upaya melawan korupsi, misalnya, fakta terlihat dalam formula yang menghebohkan ini: “Koruptor dan aparat penegak hukum sebenarnya bersahabat!” Kita sedang kehilangan kesungguhan dalam mengurus bangsa dan negara.

Anda bisa bayangkan tentang betapa kumuhnya lingkungan budaya bangsa ini, dan Minang, negeri beradat, tampaknya tidak kebal dari serangan virus semacam itu. Dalam beberapa hal, boleh jadi layanan birokrasi di Jawa lebih baik dibandingkan dengan yang berlaku di Sumatera Barat. Maka tidaklah mengherankan benar, para perantau Minang tidak betah berlama-lama tinggal di negeri beradat ini, ada perasaan resah dan perih yang selalu melingkari, apalagi jika anda rakyat kecil.

Dalam suasana mentalitas dan budaya yang keruh ini, adalah sebuah nonsens besar bila para elit masih juga berbicara tentang idealisme, tentang hari depan bangsa, tentang melawan kemiskinan, sementara laku mengkhianati itu semua tanpa rasa dosa. Perasaan tidak takut kepada dosa dan dusta adalah salah satu buah dari penyakit “mentalitas menerabas” yang semakin kronis menggerogoti urat nadi bangsa ini.

Minangkabau, negeri elok, sudah lama menantikan anak-anaknya agar berani menyimpang dari “pola umum” yang korup yang sedang melilit batang tubuh Indonesia sekarang, tetapi alangkah sukarnya. Gravitasi mumpungisme sungguh merupakan gelombang besar untuk dilawan, tetapi kita harus sadar bahwa dalam perlawanan itulah terletak masa depan kita semua. Oleh sebab itu, stamina spiritual kita tidak boleh kendor. Kita jangan menyerah kepada segala bentuk kekumuhan dan kekeruhan budaya, karena kita orang merdeka!

Minang dan Mitologi

Kelampauan Minang yang juga tidak bebas dari mitologi masih dirasakan pengaruh psikologisnya sampai hari ini. Ada dua mitos karut yang perlu mendapat perhatian kita dalam upaya bangkit kembali secara autentik. Mitos-mitos yang dapat membawa kita ke lingkaran hidup dalam kebanggaan semu harus ditinggalkan dengan sadar dan berani.

Mitos itu berkaitan dengan cerita tentang Iskandar Zulkarnain dan tentang kemenangan adu kerbau Minang melawan kerbau Jawa. Kita harus mencari kelampauan yang historis dalam upaya membangun jati-diri kita, apalagi jika kita mau berpedoman kepada Al-Qur’an yang anti-mitos.

Dengan bahasa sinisme yang tajam, sastrawan Wisran Hadi menulis dalam Orang-Orang Blanti tentang asal-usul orang Minang yang dikaitkan dengan Iskandar Zulkarnain sebagai berikut: “Lalu, kita bangga dengan keaslian turunan kita. Kita menganggap diri kita keturunan langsung dari Raja Iskandar Zulkarnain yang termasyhur. Padahal mungkin kita keturunan budak-budaknya. Kita menganggap turunan dari Indo Jalito, Indo Jati, nenek yang kita keramatkan, padahal kita mungkin keturunan kuntilanak, musang atau burung hantu.”

Pernyataan ini bagi saya dahsyat sekali karena Wisran Hadi mau dan berani menelanjangi diri sendiri dalam kerja membangun autentisitas. Berkaca diri dan melihat diri apa adanya adalah sikap terpuji yang harus dikembangkan. Mitologi yang sering berfungsi sebagai penghibur lara itu jika dijadikan pertimbangan dalam membangun peradaban hanyalah akan mempertinggi tempat jatuh, karena faktanya memang tidak ada.

Jadi, fondasinya rapuh sekali. Percaya kepada mitos adalah bayangan dari masyarakat yang tidak percaya kepada diri sendiri, lalu bernaung di bawah payung kebesaran masa lampau yang kosong dan hampa. Sama halnya dengan kepercayaan kepada kedatangan ratu adil yang akan membawa lampu aladin untuk melepaskan suatu bangsa atau masyarakat dari ketertindasan.

Minangkabau adalah kampung umat beriman yang secara lahiriah bangga dengan ajaran agamanya. Islam datang ke muka bumi dengan suluh matahari, bukan suluh batang pisang. Sebagai agama terbuka, Islam membela keterbukaan dan kejernihan berfikir, bebas dari segala mitos yang mematikan hati nurani dan akal sehat. Perintah Al-Qur’an untuk mempelajari sejarah dan alam semesta bertujuan agar manusia tidak terpasung dalam perbudakan mitologi.

Sebenarnya ungkapan yang populer di Minangkabau: “Alam terkembang jadi guru” sangat akrab dengan diktum-diktum yang bertebaran Al-Qur’an. Kita kutip terjemahan ayat ini: “Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di cakrawala (alam semesta) dan pada diri mereka sendiri, sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa ia (al-Qur’an) itu benar.”

Oleh sebab itu, jika memang kita berpegang kepada diktum “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah,” segala mitologi yang menidurkan orang Minang harus dibuang jauh-jauh. Tidak ada pilihan lain untuk bangkit, kecuali membebaskan diri dari segala macam kepercayaan dan mitologi, betapa pun kadang-kadang menyenangkan, tetapi pada saat yang sama pasti menggerogoti posisi dan martabat manusia sebagai teman sekerja Tuhan dalam mengubah wajah kenyataan.

Mitos lain yang juga terdengar sampai di pelosok adalah cerita adu kerbau. Ada semacam kepiawaian, jika bukan kelicikan, yang terkandung dalam cerita itu. Kerbau jantan Jawa yang gagah perkasa dibunuh oleh anak kerbau Minang yang sebelumnya dilaparkan selama tiga hari, tetapi diberi tanduk emas. Maka di sebuah tanah lapang, berlagalah dua kerbau itu. Karena merasa sangat lapar, kerbau Minang langsung menyeruduk ke bawah perut kerbau Jawa yang perkasa itu.

Dalam tempo beberapa detik kerbau Jawa lumpuh, isi perutnya terberai ke luar, tertusuk oleh tanduk emas anak kerbau Minang. Maka pertandingan dimenangkan oleh Minang, Jawa menyerah, tidak berkutik. Alangkah hebatnya Minang itu, bukan?

Dari kejadian itulah, kata mitologi itu, nama Minangkabau berasal, bukan dari nama lain: Menang Kerbau menjadi Minangkabau. Saya tidak tahu apakah di masa PRRI, cerita semacam ini juga dikembangkan, tetapi di ujung perjalanan pergolakan, dengan korban yang cukup tinggi di pihak daerah, sekitar 30.000, fakta sejarah mengatakan bahwa perlawanan Minang akhirnya menjadi lumpuh total digempur Jakarta, sekalipun Ahmad Husein masih berani mengintrupsi Sukarno di Istana Bogor tahun 1961 itu.

Apa yang Mungkin Dilakukan?

Sekiranya kesan umum saya tentang Minangkabau sekarang ada unsur kebenarannya, apalagi jika semuanya itu adalah puncak sebuah gunung es, maka perlu difikirkan langkah-langkah serius berdasarkan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif dalam upaya mencari jalan ke luar yang masuk akal dan dapat dilaksanakan. Tentu dalam pelaksanaannya akan melibatkan semua unsur dari masyarakat Minang: pemerintah, organisasi-organisasi kemasyarakatan, lembaga adat, anak muda, perantau, kaum cerdik-cendekia, dan bundo kandung.

Dicari tokoh-tokoh siuman dari berbagai komponen itu untuk merumuskan solusi yang terbaik bagi masa depan Minang, jika kesimpulan kita mengatakan bahwa memang Minang sedang digoncang gempa budaya. Sebenarnya kegiatan untuk mencari solusi ini sudah berkali-kali dilakukan, tetapi barangkali belum ada perencanaan yang matang dan tidak ada kontinuitas dari sebuah upaya ke upaya yang lain.

Ada ungkapan menarik dari seorang antropolog asal Minang kepada saya beberapa minggu yang lalu, bunyinya begini: “Orang Minang itu bisa sama-sama bekerja, tetapi tidak bisa bekerja sama.” Mudah-mudahan pernyataan ini tidak didukung oleh realitas yang sebenarnya, orang Minang masih mau dan bisa bekerja sama, mengapa tidak?

Akhirnya, sebagai perantau saya merasa sangat dekat dengan keminangan ini, tetapi polusi suara dalam angkot tetap saja menyisakan pertanyaan ini: quo vadis Minangkabau? Apakah secara kultural dan moral Minang akan tetap menjadi bagian dari Indonesia yang rusak atau berusaha bangkit dengan melakukan penyimpangan dari pola umum bangsa yang sarat dengan beban itu? Jawabannya sebaiknya kita cari bersama!

Ranah Gurindam dalam Sorotan 1

Istilah “bencana budaya” bukan berasal dari saya, tetapi dari seorang sastrawan Minang yang setia menetap di Padang, seperti pendahulunya almarhum A.A. Navis yang di akhir hayatnya juga telah menjadi sahabat saya. Judul “Ranah Gurindam” jika disempurnakan menjadi “Ranah Gurindam, Petatah-Petitih, Mamang, Bidal, Pantun, dan Sya’ir,” tetapi agar tidak terlalu panjang, saya singkatkan saja dalam kemasan “Ranah Gurindam,” di samping terasa lebih manis dan sedikit puitis.

Sebagai seorang yang bukan sastrawan, dalam orasi ini nanti sudah barang tentu akan banyak ditemui ungkapan-ungkapan yang kurang pas dan kurang sedap di telinga orang Minang yang memiliki modal budaya yang sangat kaya itu. Beberapa minggu yang lalu, di kantor Akademi Jakarta, Taman Ismail Marzuki, ketika saya sampaikan rencana pertemuan budaya ini kepada Rosihan Anwar, kontan dijawab: “Saya tidak berani.”

Jika seorang sastrawan dan wartawan kawakan sekaliber Rosihan Anwar, angkatan Chairil Anwar dan Asrul Sani, tidak berani bicara budaya Minang, pertanyaannya adalah: mengapa saya berani? Jawabannya singkat dan sederhana: karena saya bukan sastrawan dan bukan budayawan, paling tinggi posisi saya adalah seorang peminat, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan posisi yang seperti ini, izinkanlah saya menyampaikan sesuatu yang sudah lama terasa di hati, terpendam di fikiran, dan terngiang di angan, tentang Minangkabau kontemporer dengan segala permasalahannya yang berdimensi banyak.

Minangkabau dan Indonesia: Sebuah Kegalauan Budaya

Sebagai seorang yang berasal dari nagari tersuruk, Sumpur Kudus, saya sudah merantau sejak usia 18 tahun. Barangkali saya sudah tidak begitu akrab lagi dengan apa yang sedang dirasakan oleh orang yang masih setia menetap di kawasan yang dikenal sebagai “Fabrik Kearifan Kata” yang kaya. Oleh sebab itu, saya hanya akan memberikan kesan secara umum dan selintas saja tentang Minangkabau sekarang.

Terlihat dan terasa oleh saya bahwa Minangkabau atau ranah Minang dalam perspektif budaya sudah menjadi bagian dari Indonesia yang sedang bingung merumuskan jati-dirinya di tengah-tengah peluang dan ancaman globalisasi yang tidak mengenal rasa iba. Indonesia sebagai bangsa dan negara muda, karena kelalaian para pemimpin sejak proklamasi 1945 sampai detik ini, masih tertatih-tatih dan sempoyongan dalam menjaga kedaulatannya yang telah agak lama dilecehkan oleh negara-negara jiran seperti Singapura dan Malaysia.

Dengan penduduk sekitar 240 juta dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 24 juta dan Singapura lima juta, Indonesia adalah ibarat gajah setengah lumpuh. Telinga dan sela-sela jari kakinya dimasuki berbagai jenis semut kecil-kecil yang ganas, sehingga menyebabkan si gajah menjadi gelisah dan tidak percaya diri.

Semut-semut ini berupa manuver-manuver kecil dari Malaysia dan Singapura, dua negara jiran yang lagi bermaya secara ekonomi. Mereka tahu betul bahwa Indonesia sedang sakit yang agak parah. Mereka sedang mengukur Indonesia sampai di mana daya tahannya. Hutan yang 2/3 luasnya sudah gundul semakin menyulitkan posisi Indonesia untuk angkat kepala dalam berbagai pertemuan dunia.

Tetapi apakah benar negeri-negeri jiran ini ingin melihat Indonesia semakin lemah? Dalam pembicaraan saya dengan para diplomat dari Malaysia, Singapura, dan Brunei dalam berbagai kesempatan, mereka sebenarnya tidaklah menginginkan Indonesia jatuh, tetapi tetap tegak utuh sebagai bangsa yang kuat. Sebab jika Indonesia goyang dan labil, maka keseimbangan geo-politik di kawasan Asia Tenggara akan mengalami kegoncangan dahsyat yang tak terbayangkan akibatnya. Oleh sebab, itu semestinya “semut-semut” jiran itu dijinakkan satu persatu melalui kemampuan diplomasi dengan kualitas super tinggi. Dalam diplomasi inilah kita sering benar kedodoran.

Sebagai bangsa yang lagi “gerah” dengan masalah domestik yang berketiakular, Indonesia sekarang memang tidak memiliki kemampuan diplomasi yang tangguh dan meyakinkan, seperti dulu pernah diperlihatkan Agus Salim, Hatta, Sjahrir, Roem, L.N. Palar, Adam Malik, Soedjatmoko, Mochtar Kusumaatmadja, dan masih ada nama-nama lain. Ada semacam kekosongan di ruang diplomasi ini karena banyak dihuni oleh birokrat yang bekerja umumnya secara mekanis dan tunggu perintah.

Dunia diplomasi adalah dunia silat lidah yang sangat sesuai dengan bakat anak bangsa yang berasal dari “Ranah Bidal dan Gurindam.” Lingkungan kultur Minang asli merupakan modal utama untuk berdebat dengan penuh percaya diri di fora dunia dalam upaya membela martabat bangsa ini dari segala pelecehan dan pencibiran yang dilakukan pihak lain.

Dengan modal kultur Minang asli yang dikembangkan lebih jauh melalui interaksi aktif dan kreatif dengan kultur bangsa-bangsa lain, maka kepiawaian untuk membuktikan kebenaran bidal ini: “Takilek ikan dalam aiealah tantu jantan batinonyo,” atau “Alun takilek alah tabayang” bukan sesuatu yang mengada-ada, sekalipun dikemas dalam format yang agak berlebihan. Memang sebagian orang Minang suka melebih-lebihkan, agar terlihat hebat dan keren, sekalipun kadang-kadang jauh dari kenyataan.

Saya harus menekankan keaslian Minang, sebagaimana yang tersurat dan terbaca dalam kumpulan gurindam, petatah-petitih, mamang, bidal, dan pantun yang sangat impresif. Keaslian yang dikawinkan dengan unsur budaya rantau inilah yang melahirkan Agus Salim, Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Yamin, Adinegoro, Natsir, Hamka untuk “bersilat lidah” di fora nasional atau internasional.

Tetapi harus dicatat pula seorang Tan Malaka jika tetap terbenam di nagari Pandan Gadang, Suliki, tentu ia tidak akan pernah menjadi salah seorang tokoh komintern tahun 1920-an, sekalipun kemudian “bentrok” dengan Stalin, sang diktatur. Jika tidak beranjak dari Pandan Gadang, Tan Malaka paling-paling menjadi camat atau bupati Limo Puluah Koto.

Dengan latar keminangannya, Tan Malaka tidak pernah kehilangan watak merdekanya di bumi mana pun ia berada, dengan siapa pun ia berhadapan, karena menurut catatan Hatta, Tan Malaka “tidak mempunyai tulang punggung yang mudah membungkuk,” persis seperti diajarkan oleh warisan budaya Minang asli, khususnya yang terdapat dalam sub-kultur Bodi Caniago yang sarat dengan nilai-nilai egalitarian dan demokrasi. “Bulek aie dek pambuluahbulek kato dek mufakek” adalah bagian dari pesan egalitarian itu.

Sisa dari jiwa merdeka itu masih dimiliki oleh tokoh Dewan Banteng Ahmad Husein, saat dipanggil Presiden Sukarno akhir 1961. Inilah suasana dalam dialog itu:

Akhir 1961. Ahmad Husein gelisah ketika ke selnya, di Rumah Tahanan Militer, Jakarta Pusat, datang Kolonel Suparman. Ia diperintahkan menghadap Bung Karno di Istana Bogor. Husein menyangka inilah saatnya ia betul-betul disingkirkan.

Setiba dia di Istana, Bung Karno sudah dikelilingi Perdana Menteri Djuanda Kertawidjaja, Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena, Menteri Pembangunan Chairul Saleh, dan Jenderal Ahmad Yani. Pembicaraan seputar PRRI.

Don’t talk about that anaymore,” Bung Karno menyergah. “Itu peristiwa sejarah yang pasti terjadi walaupun Ahmad Husein tidak dilahirkan di Indonesia atau tidak ada di Indonesia., dan ini proses sejarah. Tak ada satu kekuatan yang dapat menghambat atau menghalanginya.”

 “Kalau saya memberontak, Pak,” Husein menimpali, “bukan kehendak saya memberontak, tapi Bapak yang menyuruh saya.”

“Lo, kok kamu bilang saya yang menyuruh?”

“Ingatkah Bapak, pada tahun 1958 bulan Januari, Bapak berpidato di Surabaya: ‘Kalau saya pemuda, saya akan berontak terhadap keadaan ini.’”

 Jiamput, lu!” Bagi saya, dialog ini bernilai sejarah bila dikaitkan dengan kultur Minang yang mendidik manusia menjadi merdeka yang dengan kepala tegak menghadapi kenyataan, betapa pun mungkin pahit dan penuh risiko. Nilai kemerdekaan itu masih belum hilang dari diri Ahmad Husein.

 

Ranah Gurindam dalam Sorotan 2

Bayangkan, seorang tahanan Ahmad Husein berani menyela pembicaraan Bung Karno yang pada saat itu sedang berkuasa penuh, dikelilingi oleh para pejabat tinggi negara, termasuk Jenderal Yani yang memerintahkan mengebom Painan tahun 1958 itu. Bukankah panorama ini sekaligus menujukkan bahwa asli keminangan Ahmad Husein masih bertahan, sekalipun datang dari sel tahanan? Sungguh keberanian Husein ini sesuatu yang luar biasa.

Reaksi Bung Karno “Jiamput, lu!” telah mencairkan suasana dan menghilangkan kegelisahan Ahmad Husein, si Minang, sampai batas yang sangat jauh. Saya tidak tahu, setelah hampir setengah abad berlalu pasca PRRI, apakah jiwa merdeka itu masih bertahan atau telah larut dalam kubangan sub-budaya pragmatisme materialistik sebagai bagian dari budaya Indonesia yang sedang jatuh. Apakah demi pragmatisme jangka pendek, si Minang kontemporer masih menjadi pewaris Tan Malaka atau telah berlaku ungkapan ini tanpa reserve: “Bialah kapalo bakubang asa tanduak lai manganai?”

Saya katakan tanpa reserve karena sering kali parameter moral dan etika sudah tidak berfungsi lagi. Orang sudah berenang dalam limbah mumpungisme tanpa hirau batas dan pematang. Kabarnya konon, di Minang sekarang, ungkapan-ungkapan “sakti” seperti: “adaik basandi syaraksyarak basandi Kitabullahsyarak mangatoadaik mamakai” plus petatah-petitih, gurindam, dan sebagainya yang sarat makna itu sudah agak lumpuh tak berdaya, telah dijadikan retorika murahan tanpa ada bukti dalam kenyataan dan pergaulan sehari-hari.

“Fabrik Kearifan” ini sudah berubah menjadi “Fabrik Komersial,” uang telah menjadi “agama” ditingkahi khotbah para khatib Jum’at yang kehabisan energi dan kosa-kata. Untuk kota-kota besar, polusi suara keras yang diputar via kaset sopir para angkot telah semakin menyempurnakan krisis budaya yang berdimesi banyak itu. Saya gagal memahami mengapa para sopir itu tidak lagi menghargai telinga manusia yang masih normal. Alangkah manisnya jika lagu-lagu yang diputar itu dengan suara yang lebih beradab.

Situasi semakin menjadi parah pada saat politik sedang menjadi mata pencarian, karena lapangan kerja sulit sekali. Lautan pengangguran terbentang di berbagai pojok tanah air. Lagi-lagi Minang sedang memosisikan diri sebagai Indonesia mini dalam formatnya yang sempurna. Apakah ini akibat trauma PRRI plus kemudian merajalelanya PKI di Minangkabau setelah PRRI dikalahkan tahun 1960-an? Tidak cukup itu.

Dengan UU No 5/1979 yang memecah nagari menjadi desa telah membuyarkan basis kultural Minang pada tingkat yang paling bawah. Nagari yang semula berjumlah 543 disunglap menjadi desa dengan jumlah 3500, sebuah perubahan yang sangat dahsyat. Pada era otoritarian itu, lembaga adat seperti LKAAM terpecah di antara yang mendukung dan ragu-ragu. Dengan kenyataan ini, masyarakat di akar rumput menjadi berserakan, tidak ada lagi tali pengikat kultural yang berwibawa. Sekalipun sekarang nagari telah mulai difungsikan kembali, keadaannya masih pada tahap masa transisi yang tidak mudah.

Gejala lain yang pernah disampaikan kepada saya oleh perantau adalah jika dulu orang Minang umumnya hampir tidak ada yang gila kuasa. Puncaknya di panggung nasional terlihat, misalnya, pada sikap Hatta, Sjahrir, Assaat, Natsir, yang dengan mudah dan enteng saja melepaska jabatan. Tetapi kabarnya sekarang perubahan drastis sedang berlaku.

Orang Minang jika sudah berada dalam posisi tertentu, apalagi jika posisi itu menguntungkan secara materi dan gengsi, mereka akan mempertahankannya mati-matian dengan segala cara. Saya tidak tahu apakah gejala ini sudah merupakan gelombang besar atau hanya sekadar riak-riak kecil yang tidak terlalu signifikan untuk dicemaskan.

Tentu budaya tak hirau kuasa ini ada plus-minusnya. Plusnya akan terlihat bahwa orang Minang sangat peduli dengan prinsip moral dan etika, kekuasaan bukan tujuan, tetapi sekadar alat untuk menegakkan kesalehan sosial; minusnya, orang lain yang belum tentu baik akan dengan cepat merebut posisi itu.

Jika ini yang terjadi, publik akan mengalami kerugian besar, sebab pengganti si Minang ternyata cacat secara moral. Oleh sebab itu, ketika Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden, banyak anak muda yang menyayangkan. Sebab, ibarat gas dan rem pada mobil, sepeninggal Hatta, Sukarno sebagai gas tidak bisa direm lagi. Setelah Hatta sebagai benteng demokrasi berada di luar sistem, Sukarno yang dibantu partai-partai tertentu dalam tempo tidak lama dengan mudah mengubur sistem politik egalitarian ini. Rezim Orde Baru hanyalah meneruskan sistem anti-demokrasi ini.

Relasi Iman dan Amal Shaleh

 

Ust. Muhammadun AS

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan (Qs. Yûnus: 9).

 

Ayat Al-Quran di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh akan selalu dituntun oleh petunjuk Allah SWT dalam setiap langkahnya. Gerak hidupnya akan selalu dihiasi hidayah dan keagungan yang mengalir penuh dengan keberkahan dan kekhusyuan.

Dalam kitab Tafsir Al-Munîr, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Banteny menafsirkan ayat tersebut dengan sangat menarik. Bagi beliau, yang dimaksud dengan orang beriman dalam ayat di atas adalah mereka yang selalu menyibukkan hati dan nafasnya untuk menghasilkan makrifat (pengetahuan) tentang Allah SWT. Sedangkan mereka yang beramal shaleh adalah orang yang selalu menyibukkan anggota tubuhnya untuk khidmat kepada Allah SWT. Matanya digunakan untuk melihat dan mengambil hikmah dari kehidupan. Telinganya sibuk mendengarkan kalam Allah SWT, lisannya sibuk berdzikir, dan seluruh anggota tubuhnya sibuk untuk terus meningkatkan cahaya ketaatan kepada Allah SWT.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukâsyafatul Qulûb menjelaskan, bahwa iman selalu membenarkan terhadap keesaan Tuhan, juga dengan segala yang datang dari Nabi Muhammad SAW, dengan selalu menambah amal kebaikan. Bagi Imam Al-Ghazali, iman dan amal shaleh menjadi definisi dasar umat Islam dalam pentas kehidupannya mencipta kemaslahatan dan kedamaian.

Iman memang menjadi kekuatan yang sangat istimewa dalam diri setiap muslim. Dengan iman yang teguh, seseorang akan mendapatkan cahaya ketuhanan yang terus memancar dalam setiap gerak hidup yang dijalankan. Tidak salah kalau sebagian besar ulama mendefinisikan iman sebagai pembenaran dengan hati (tashdîq bi al-qalb), membeberkan dengan lisan (tashrîh bi al-lisân), dan menjalankan dengan perbuatan (amal bi al-arkân). Dengan hati yang teguh, maka lahirlah lisan yang tangkas dan perbuatan yang efektif dan visioner.

Oleh karenanya, selain tidak bisa melupakan Allah SWT sedetik pun dalam hidupnya, orang beriman juga akan selalu beramal shaleh yang efektif dan visioner untuk kemanfaatan setiap manusia. Sekejap pun tidak bisa melewatkan hidup tanpa Tuhan, dan sedetik pun tak mau lalai untuk selalu membahagiakan dan menyenangkan saudaranya.

Basis keimanan inilah yang dibangun Nabi Muhammad SAW dengan penuh kesabaran ketika mendakwahkan Islam di Mekah. Nabi Muhammad SAW menggembleng dan membekali umatnya dengan keyakinan yang teguh dalam meyakini Islam dan memperjuangkan kemaslahatan di muka bumi. Para sahabat pun, kalau kita lihat, menjadi teman karib Nabi Muhammad SAW yang sangat setia dan loyal dalam memperjuangkan Islam. Tak salah kemudian kalau Nabi Muhammad SAW selalu memuji keimanan para sahabatnya.

Keberanian dan tekad yang bulat dari para sahabat inilah yang menjadi basis keimanan yang kukuh dan menghasilkan amal shaleh yang selalu bermanfaat bagi sesama. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar Ra. Selain beriman secara teguh, beliau juga mempunyai basis ilmu pengetahuan yang mendalam. Hingga keimanan beliau berkembang menjadi amal shaleh, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sayangnya, belakangan ini amal perbuatan sebagian umat seringkali dilandaskan pada basis keimanan dan pengetahuan yang dangkal, sehingga perbuatan yang dijalankan seringkali terjebak dalam ritual yang formal semata. Akhirnya mereka banyak terjebak pola keimanan yang parsial, hanya sesuai dengan tafsir yang mereka pegangi saja. Kadang- kadang, keimanan yang dangkal dan parsial semacam ini juga menghasilkan sikap benar sendiri, atau juga bahkan anarkis sembari menyalahkan orang lain secara asal-asalan.

Tafsir dangkal atas iman dan amal shaleh pastilah menghasilkan pola kehidupan yang dangkal dan seremonial. Dalam ajaran jihad, misalnya, keimanan justru diarahkan sebagai tekad bulat dalam melakukan teror, kekerasan, bahkan bom bunuh diri. Bahkan mereka sangat bangga dengan keimanannya ketika bisa membuktikan lewat cara yang anarkis seperti itu. Hal ini jelas merupakan sebuah pendangkalan.

Dari sini, iman tidaklah cukup diyakini saja. Tetapi juga harus disirami dengan pengetahuan yang mendalam dan cahaya kearifan yang menyejukkan. Lihatlah keimanan sahabat Umar bin Khattab Ra. yang sangat teguh dan kuat. Tetapi beliau juga sangat rasional menjelaskan keimanan dan ajaran ritual, di samping juga cahaya kearifan yang selalu memancarkan dalam dirinya. Ketika menjadi khalifah, selain dikenal tegas sahabat Umar ra. juga penuh kasih sayang kepada warganya yang miskin dan terbelakang.

Orang yang beriman sekaligus berpengetahuan jauh akan lebih hebat daripara orang yang hanya sekadar beriman. Karena pengetahuan akan menjadikan bobot keimanan semakin kukuh, tidak bertindak secara asal-asalan, dan selalu mendahulukan kemaslahatan publik. Pengetahuan menjadikan iman dan shaleh akan semakin meneguhkan kemaslahatan yang bisa dinikmati oleh semua.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa, berpikir sesaat lebih baik daripada beribadah seribu tahun. Dalam konteks di atas, tidaklah cukup keimanan hanya menjalankan ritual dan ajaran formal, tetapi juga harus dipenuhi dengan permenungan, analisis, dan tafsir yang mencerahkan.

Menurut Syaikh Utsman Al-Khubary, Hadis Nabi di atas justru menandaskan bahwa iman haruslah dibarengi pemikiran dan pengetahuan yang cukup, sehingga melahirkan amal shaleh yang progresif dan visioner. Karena pemikiran yang jernih dan mencerahkan pastilah dihasilkan oleh ketenangan hati yang selalu hadir untuk berdzikir kepada Allah SWT. Hati yang tenang akan mengarahkan sebuah gerbong pencerahan dan menggerakkan amal perbuatan yang terus mengalir penuh kesejukan dan kedamaian. Sebaliknya, hati yang keruh, hanya menjadikan ajaran Islam menjadi bringas, kasar, dan mudah marah.

Ajaran Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad SAW sangat toleran dan penuh kedamaian. Keimanan yang dilecutkan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya adalah keimanan yang teguh membela kebenaran dengan   jernih    dan    penuh    ketulusan. Dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak menghasilkan suasana menjadi keruh, ricuh, dan penuh teror. Tetapi yang tercipta adalah suasana yang sejuk, nyaman, dan terasa menyegarkan.

Iman hadir dengan sejuk bersama hidayah. Amal shaleh akan terus menghiasi kehidupan kaum beriman. Iman dan amal shaleh berjalan beriringan membawa kemanfataan dan kemaslahatan. Iman dan amal shaleh menjadikan watak umat Islam selalu memberi, berderma, dan menjalin persahabatan. Saatnya umat Islam menjadi teladan dalam berdakwah di masyarakat, memelopori gerakan yang membela sanubari kemanusiaan dan kebajikan dan terus mengobarkan mata air kearifan untuk menentramkan tata kelola kehidupan dan kebijakan.[]

Ust. Muhammadun AS, dosen STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta, alumni Pesantren Guyangan Pati, Pesantren Sunan Ampel Jombang, dan Pesantren Mahasiswa Wahid Hasyim Yogyakarta.

 

Download buletin Jumat disini