Mensyukuri Kemerdekaan

Ust. Andri Ardiansyah

 

 

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih.”  (QS. Ibrahim (14);7) 

 

 

Pada bulan Agustus ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya yang ke-76. Ketika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, maka kita akan menemukan jejak Islam di setiap lembarannya. Ya, jejak perjuangan kaum muslimin dan para ulama yang menentang penindasan dan mengagungkan nama Islam. Bahkan perjuangan kemerdekaan tersebut telah ada jauh sebelum terbayangnya sebuah komunitas bernama Indonesia. Jadi jelas, bahwa kemerdekaan yang hingga saat ini kita rasakan dan hari ini kita peringati, adalah berkat rahmat Allah. Oleh sebab itu semua harus mensyukuri berkah atau nikmat Allah ini dengan sebaik-baiknya.

 

Kata syukur berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata “syukron” yang berarti terima kasih. Dalam bahasa Syar’i, syukur atau bersyukur adalah kewajiban seorang muslim terhadap Allah, atas segala nikmat yang diberikan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam kutipan ayat di awal tulisan ini. Mengucapkan kata syukur ini sangat mudah, tetapi dalam prakteknya sulit. Sebab bersyukur adalah melaksanakan segala perintah Allah, dan meninggalkan segala larangannya, serta menggunakan nikmat yang diberikan Allah itu untuk fi sabilillah (di jalan Allah).

Kenyataanya sulit mencari orang bersyukur ini. Mereka yang diberi amanah untuk menyelenggarakan negara ini juga banyak yang tidak bersyukur. Mereka masih senang mengerjakan yang dilarang Allah, dan meninggalkan yang diperintah-Nya. Tantangan terbesar bangsa ini adalah dari internal kita sendiri. Bangsa yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia, tetapi rakyatnya masih belum hidup sejahtera. Sikap dan prilaku koruptif telah merajalela, mulai dari elit hingga rakyat jelata. Suap-menyuap telah menjadi budaya, sehingga mental bangsa menjadi rusak. Ini tantangan serius yang dihadapi bangsa ini. Para pejabat masih banyak yang korupsi, menyalahgunakan jabatan dan melanggar hukum. Padahal Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

“Apabila datang pertolongan Allah berupa kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuanmu, dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat”. (QS. An-Nashr 1-4)

Sebab turun (asbabun nuzul) surat ini adalah ketika Rasulullah menaklukkan kota kelahirannya yang sudah lama ditinggalkan. Waktu itu Rasulullah bersama panglima perangnya Khalid bin Walid berhasil menggempur pasukan kafir Quraisy, dan memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Waktu itu orang berbondong-bondong masuk Islam, yang dulunya membenci Nabi.
Rasulullah SAW merasa gembira menyaksikan kenyataan itu. Pada waktu itu turunlah ayat dari Surah An Nashr itu, guna mengingatkan Rasulullah dan umat Islam, agar mereka mensyukuri nikmat kemenangan itu dan jangan lupa dengan Allah SWT.

 

Mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengisinya melalui pembangunan dan kemakmuran.  Allah SWT mengingatkan kepada kita yang hidup saat ini agar jangan sampai mewariskan generasi yang lemah, yang tidak sejahtera hidupnya. Sebagaimana dahulu para pejuang kemerdekaan RI mewariskan kemerdekaan kepada kita.

 

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk menyambut hari kemerdekaan ini adalah mensyukuri secara sungguh-sungguh dan sepenuh hati atas anugerah keamanan atas agama dan negara kita dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan. Sebab, nikmat agung setelah iman adalah aman. Lalu, bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan ini? Pertama, mengisi kemerdekaan selama ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan berbuat baik kepada sesama. Perlombaan yang paling bagus di momen ini adalah perlombaan menjadi pribadi paling takwa karena di situlah kemuliaan dapat diraih.

 

Yang kedua, mencintai negeri ini dengan memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kemudaratan bagi eksistensinya. Segala upaya yang memberikan manfaat bagi rakyat luas kita dukung, sementara yang merugikan masyarakat banyak kita tolak. Sebaliknya, mencegah mudarat berarti menjauhkan bangsa ini dari berbagai marabahaya, seperti bencana, korupsi, kriminalitas, dan lain sebagainya. Inilah pengejawantahan dari sikap amar ma’ruf nahi munkar dalam pengertian yang luas. Ajakan kebaikan dan pengingkaran terhadap kemungkaran dipraktikkan dalam konteks pembangunan masyarakat. Tujuannya, menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, adil, dan sejahtera.

 

Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumid Din, mengatakan: “Kekuasaan (negara) dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama adalah landasan, sedangkan kekuasaan adalah pemelihara. Sesuatu tanpa landasan akan roboh. Sedangkan sesuatu tanpa pemelihara akan lenyap.”

 

Pernyataan Al-Ghazali ini seolah ingin menegaskan bahwa ada hubungan simbiosis yang tak terpisahkan antara agama dan negara. Alih-alih bertentangan, keduanya justru hadir dalam keadaan saling menopang. Negara membutuhkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam agama, sementara agama memerlukan “rumah” yang mampu merawat keberlangsungannya secara aman dan damai.

 

Kita bersyukur dasar negara kita senafas dengan substansi ajaran Islam.  Mensyukuri kemerdekaan adalah mensyukurinya dengan lisan-lisan kita, dalam bentuk kalimat tahmid, berterima kasih dan menyebut jasa serta mendoakan para pahlawan, semoga amalnya diterima Allah SWT. Menyebut jasa baik tersebut juga menjadi bagian dari syukur kita kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Daud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

 

Mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengisi masa kemerdekaan dengan amalan yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam berbangsa dan bernegara, bukan dengan mengisinya dengan kemaksiatan kepadaNya. Dengan tegas Allah SWT telah memberi arahan kepada bangsa ini bagaimana seharusnya mengisi kemerdekaan dan mensyukuri nikmat kepemimpinan.

 

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 41,

 

”(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” Kalimat ”kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi” dapat berarti suatu bentuk kemerdekaan dari penjajahan.

 

Mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan mempertahankan keutuhan jati diri bangsa ini dengan nilai-nilai Islam yang tinggi dan cinta kepada negeri ini. Dengan itu, kita akan mampu meraih kejayaan dan meneruskan sejarah bangsa ini menjadi sebuah “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur“ yaitu sebuah negara dan bangsa yang meraih maghfirah (ampunan), kesejahteraan dan kedamaian. []

 

Ust. Andri Ardiansyah, Dosen Ibn Khaldun, Bogor

 

e-Buletin Jumat edisi 28, 13 Agustus 2021 M / 04 Muharram 1443 H dapat diunduh disini

‘Panen’ Kematian

Bagi kami ‘panen’ di sini sama artinya dengan kematian, suasana berkabung.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Perkataan ‘panen’ sengaja ditempatkan antara dua tanda kutip karena bagi saya dan mereka yang punya pertalian darah mengandung makna khusus, yaitu berkabung, duka, kehilangan, dan perasaan berat.

Sejak Januari sampai dengan Agustus 2021, ada tujuh orang yang wafat dari keluarga kami dengan berbagai penyebab. Dua karena Covid-19, empat lantaran sakit, satu karena kecelakaan. Tidak perlu nama-nama mereka ditulis di sini kecuali dua orang: Nurhayati Maarif, kepala tujuh, adik seayah, wafat di Bandung pada 24 Juni 2021, karena sudah lama menderita sakit yang tidak ketemu jenis penyakitnya. Padahal seorang anak puteri dan menantunya adalah dokter.

Yang kedua Zaghi Irfan Kudus (cicit almarhum abang saya), usia baru belasan tahun karena kecelakaan di Pekanbaru pada 23 Juli 2021. Kabarnya anak belia ini sudah hafal empat juz surah dalam Alquran.

Kecuali Zaghi yang belum pernah bertemu, selebihnya saya kenal dari jarak yang dekat, bahkan dekat sekali. Lima orang di antaranya adalah keponakan saya, seorang anak abang dan empat anak dari dua kakak perempuan saya yang sudah lama meninggal.

Aliran darah mereka semua terkait dengan darah ayah saya Ma’rifah Rauf, gelar Datuk Rajo Malayu, dan dan ibu saya Fathiyah Ja’kub yang masing-masing wafat pada tahun 1955 dan 1937. Nurhayati yang lain ibu hanya punya pertalian darah dengan Ma’rifah.

Ayah dan ibu saya berasal dari nagari Sumpur Kudus, kawasan terpencil di kaki Bukit Barisan, Sumatra Barat. Nama nagari ini sudah sering muncul di Republika karena beberapa peristiwa yang terjadi di sana.

Tujuh yang wafat itu satu perempuan dan enam laki-laki. Semuanya punya jalan hidup dan retak tangannya sendiri.

Tujuh yang wafat itu satu perempuan dan enam laki-laki. Semuanya punya jalan hidup dan retak tangannya sendiri. Ada ibu rumah tangga yang berhasil mendidik anak-anaknya, ada mantan kepala SD, ada petani. Ada isterinya yang jadi guru dan jadi dosen.

Hanya tiga yang merantau. Selebihnya tetap tinggal di kampung dengan segala kesederhanaannya. Selama delapan bulan itu, hanya Maret dan Mei saja yang tidak ada kematian di lingkungan keluarga kami. Yang terbaru wafat pada 8 Agustus 2021, beberapa jam sebelumnya masih merasa sehat.

Saya tahu, tentu banyak rakyat Indonesia yang telah berkabung melebihi beratnya dari beban batin keluarga kami. Mereka yang wafat karena virus saja sampai dengan 8 Agustus 2021 sudah berada pada angka 107 ribu dari keseluruhan kasus yang terpapar sejumlah 3.670.000.

Virus ganas varian Delta ini telah menyebar ke segala penjuru, kawasan perkotaan dan perkampungan. Nagari Sumpur Kudus yang udik itu sudah banyak pula yang terpapar.

Dua di antaranya dimakamkan dengan protokol kesehatan yang membuat kampung jadi geger. Tak seorang pun di antara kita yang kebal dari serangan virus ini, sekalipun sebagian besar yang terpapar, alhamdulillah, sembuh.

Bagi petani, masa panen tentu sangat menggembirakan. Oleh sebab itu, perkataan panen tidak perlu ditempatkan antara dua tanda kutip. Panen padi, jagung, ubi, dan segala segala jenis palawija, adalah rezeki yang selalu dinantikan para petani. Bagi kami ‘panen’ di sini sama artinya dengan kematian, suasana berkabung, seperti telah disebut di awal tulisan ini.

Kepada anggota famili yang masih diberi napas panjang yang jumlahnya mungkin sudah ratusan yang bertebaran di berbagai pulau, bahkan seorang di Muscat (Oman), saya sampaikan bahwa semua kita sedang menunggu giliran menuju alam barzah. Hanya masalah waktu saja, cepat atau lambat.

Tak seorang pun yang bisa mengelak, siap atau belum siap. Sayalah yang tertua di antara mereka.

 

Bom Atom dan Kemerdekaan Indonesia

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan muli

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Bulan Agustus, 76 tahun silam adalah akhir Perang Dunia (PD) II, yang didahului ledakan bom atom.

Sebenarnya, ada perbedaan pendapat yang tajam antara panglima tertinggi sekutu di Eropa, Jenderal Dwight D Eisenhower bersama beberapa perwira tinggi tentara AS dan Presiden Harry S Truman, dalam menentukan sikap terhadap Jepang untuk mengakhiri perang pada Agustus 1945.

Bagi Truman, Jepang harus segera dilumpuhkan dengan bom atom yang kemudian dijatuhkan pada 6 Agustus 1945 di Hiroshima dan 9 Agustus 1945 disusul ledakan kedua di Nagasaki. Dua kota itu luluh berantakan, meninggalkan abu radio aktif yang sangat berbahaya.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Karena yang berkuasa Truman, usul Eisenhower dan koleganya tak berlaku, padahal didasarkan kajian dimedan perang yang akurat. Jepang waktu itu sudah kehabisan napas untuk meneruskan perang dunia yang telah membunuh manusia 62.537.400, militer dan sipil.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Angka kematian tertinggi diderita Cina sebanyak 10 juta: sipil 7 juta, sedangkan militer 3 juta. Karena tulisan ini bukan untuk mengulas PD II, kita cukupkan dengan menuliskan angka-angka korban yang dibatasi pada empat negara itu saja.

Apa kaitannya antara bom atom dan proklamasi kemerdekaan Indonesia? Bahwa Indonesia pasti merdeka pada suatu saat yang tidak terlalu lama, sudah diperkirakan Bung Hatta dalam pidato pembelaannya di depan pengadilan Den Haag pada 28 Maret 1928.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Maka itu, ledakan bom atom di Jepang seperti disebut di atas, hanyalah mempercepat proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, yang memang sudah dirintis sejak abad ke-19 berupa perang-perang sporadis, yang dilancarkan para patriot nusantara.

Perjuangan kemerdekaan itu semakin terorganisasi dengan baik pada abad ke-20, yang dipelopori pergerakan nasional Indonesia.

Setelah penjajah Belanda diusir secara hina tanpa perlawanan oleh pasukan Jepang pada Maret 1942, Indonesia untuk 3,5 tahun ke depan punya bos baru: si mata sipit yang tidak kurang kejamnya terhadap rakyat di kepulauan ini.

Ingat, romusha (pengiriman puluhan ribu pemuda dari Jawa untuk kerja paksa di luar Jawa) dimulai pada 1943 oleh penguasa Jepang. Seusai perang, hanya sebagian kecil pemuda kita itu yang selamat kembali ke kampung halamannya.

Sejumlah besar telah hilang selama kerja paksa itu dalam keadaan sangat kurus kering. Juga praktik iyanfu (gadis-gadis sejumlah negara, termasuk Indonesia, dijadikan perbudakan seks oleh tentara pendudukan Jepang) sampai hari ini belum terbongkar seluruhnya.

Tentara mata sipit ini sungguh tak punya rasa kemanusiaan sama sekali saat memerkosa perempuan negeri taklukannya. Sisa mantan iyanfu ini sekarang berusia sangat lanjut, sebagian masih sempat menuturkan penderitaannya sebagai budak seks tentara Jepang itu.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia

Sayang, Pemerintah Jepang dan Indonesia sampai hari ini tak serius mengurus perempuan bernasib sangat malang ini. Nasib rakyat terjajah memang sangat memelas, bergerak dari penderitaan satu ke penderitaan lain dalam mata rantai yang panjang.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia. Sekalipun Jepang sudah kalah, proses deklarasi kemerdekaan Indonesia tidak mulus. Terjadi pertentangan politik domestik antara golongan pemuda dan golongan tua Sukarno-Hatta.

Pemuda menilai, golongan tua tidak revolusioner untuk segera menyatakan kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok berupa penculikan golongan pemuda terhadap Sukarno-Hatta pada pertengahan Agustus 1945 adalah bagian menyatu dengan derap revolusi Indonesia, yang kadang-kadang tidak terkendali itu.

Bentakan Sukarno terhadap ancaman pemuda Wikana sebelum penculikan adalah bukti gesekan tajam antara dua pendapat berbeda itu. Golongan pemuda memaksa Bung Karno segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Inilah kesaksian Bung Hatta: Mendengar ancaman itu Sukarno naik darah, menuju pada Wikana sambil menunjukkan lehernya dan berkata: “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Bentakan ini membuat Wikana terperanjat: “Maksud kami bukan untuk membunuh Bung…” (Lih. Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, hlm 445).

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Harga sebuah kemerdekaan itu sungguh mahal. Indonesia telah menebusnya dengan nyawa, kehormatan, dan derita rakyat yang meninggalkan luka sangat dalam. Saya tidak tahu, apakah ledakan bom atom itu seimbang dengan kekejaman Jepang terhadap rakyat jajahannya? Allahu a’lam!

Sekalipun mungkin banyak pemuja Jepang di negeri ini, kelakuan biadab tentaranya saat PD II tidak boleh dilupakan.

Islam Agama Hanif

Ust. Edi Sutrisno

 

 

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Agama Ibrahim seorang yang hanif.” Dan Bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-Nahl: 123)

 

Pada di­ri manusia, ter­dapat kecenderungan atau dorongan ingin melanggar, yang di antaranya disebabkan oleh sifat-sifat ma­nusia yang ingin selalu cepat, serba in­stan. Namun, pa­da diri manusia juga ditemukan adanya dorongan halus yang selalu mengajak atau membisikkan keinginan berbuat baik dan mencintai kebaikan, yang bersumber dari hati nu­rani. Dorongan halus tersebut dalam idiom Al-Quran dise­but hanif.

 

Hanif juga bisa diartikan sebagai berpaling dari keburukan dan condong pada kebaikan; orang muslim yang berpaling dari semua agama yang ada atau orang yang hanya cenderung pada kebenaran; orang yang menghadapkan dirinya ke arah kiblat, yakni baitul haram, karena mengikuti agama nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad; orang yang ikhlas; orang yang bersikap pasrah dalam menerima semua perintah Allah dan tidak menyimpang sedikitpun. Hanif juga sering diartikan sebagai al-mustaqim (yang lurus).

 

Dalam Tafsir Jalalain, disebutkan bahwa hanif adalah berpaling dari semua agama dan cenderung hanya pada agama yang lurus (ad-din al-qayyim). Sementara itu, Ath-Thabari, dalam kitab tafsirnya, menyatakan bahwa para ahli takwil berbeda pendapat mengenai pengertian kata hanif. Sebagian mengartikannya sebagai ibadah haji; sebagian mengatakan bahwa agama Nabi Ibrahim disebut dengan al-Islâm alhanîfiyah karena beliau merupakan imam pertama para ahli ibadah pada zamannya dan orang-orang yang datang setelahnya sampai hari kiamat; mereka adalah kaum yang mengikuti ibadah haji dan meneladaninya dalam ibadah tersebut. Mereka mengatakan bahwa setiap orang yang menunaikan ibadah haji dan mengikuti tata cara haji Nabi Ibrahim adalah hanif dan berserah diri (hanifan musliman) pada agama Nabi Ibrahim.

 

Sebagian mengatakan bahwa agama Nabi Ibrahim disebut dengan al-hanifiyah karena beliaulah yang pertama kali mensyariatkan khitan, yang kemudian diikuti oleh orang-orang yang datang setelah beliau. Karena itu, dikatakan bahwa setiap orang yang berkhitan dengan mencontoh tata cara khitan nabi Ibrahim, berarti dia seorang yang hanif. Ada juga yang berpendapat bahwa hanif adalah mukhlish (orang ikhlas) sehingga orang hanif adalah orang yang mengikhlaskan (memurnikan) agamanya hanya untuk Allah semata.

 

Istilah hanif atau al-hanifiyah (agama hanif) tidak begitu popular di lingkungan umat Islam di Indonesia. Sehingga ketika disebut agama hanif (agama yang condong kepada kelurusan, kebenaran, kebaikan) masih terasa asing. Kata hanafa telah dikenal dalam bahasa yang berlaku ketika itu di lingkungan masyarakat Arab. Di kalangan orang Arab dan Suryani kata hanafa dimaksudkan Shaba’a yang berarti condong dan terpengaruh oleh sesuatu. Al-Qur’an juga berbicara tentang al-Hunafa’. Kata Hanifan diulang sepuluh kali dalam Al-Qur’an, sedangkan kata Hunafa’ diulang 2 kali.

 

Al-Hunafa’ dengan demikian, adalah kumpulan orang-orang dengan segenap keistimewaan yang ada pada dirinya, seperti kecerdasan akal dan pengetahuannya yang luas, pandangan-pandangannya sangat kritis terhadap problematika kehidupan. Mereka dipandang relatif lebih berbudi pekerti luhur dan terpelajar. Mereka menolak menyembah berhala karena dipandang sia-sia, dan mengajak kepada ketauhidan. Mereka menjauhkan diri dari menyembah berhala dan melainkan mereka menyuarakan ke-Esaan Allah. Demikian pula mereka mempunyai kelebihan dalam tingkah laku dan moralitas sehingga mereka menolak segala kehinaan yang tersebar di masyarakatnya, seperti zina, minum khamr, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Dan tentu saja, semua itu merupakan ajakan demi tersebarnya agama hanif sebagai pencarian terhadap agama baru yang lebih rasional.

 

Semua faktor-faktor tersebut telah berinteraksi sehingga berkembang dan melahirkan fenomena agama hanif dan tersebar di seluruh penjuru, khususnya di kota-kota atau pusat-pusat kebudayaan. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa fenomena al-Hunafa’ tersebut merupakan langkah awal bagi munculnya ‘kesadaran’ dalam ber-Islam dan juga kesadaran dalam membangun peradaban. Mereka hidup dalam peradaban yang tinggi. Hal itu karena kebanyakan mereka telah mempelajari kitab suci kedua agama Semit (Yahudi dan Nasrani). Sebagian telah menguasai bahasa yang lain selain bahasa Arab, seperti bahasa Ibrani (Hebrew) dan Suryani. Semua itu dimaksudkan untuk mencari agama Nabi Ibrahim, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur’an dengan sebutan hanif yang dalam bahasa teologi Islam justru termuat dalam paham tauhid, yang akan membawa kepada siapa saja yang mempercayainya kepada suatu sikap pasrah kepada Tuhan sebagai suatu bentuk ketundukan. Sejalan dengan pengertian “Islam” itu sendiri, sebagai “sikap pasrah kepada Tuhan”.

 

Perlu diuraikan juga di sini bahwa kaum Yahudi dan Nasrani, mem­­­­punyai kedudukan yang khu­sus dalam pandangan kaum Mus­lim karena agama mereka adalah pendahulu agama kaum Muslim (Islam), dan agama kaum Muslim (Islam) adalah kelanjutan agama mereka. Sebab inti ajaran yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah sama dengan inti ajaran yang di­sam­paikan oleh Tuhan kepada semua Nabi. Karena itu, sesungguhnya se­luruh umat pemeluk agama Allah adalah umat yang tunggal. Karena itu para penganut setiap agama dituntut untuk meng­amalkan dengan sebaik-baiknya ajaran Tuhan dalam masing-masing agama itu.

 

Ada kisah yang terkait dengan ajaran Islam yang hanif atau al-hanifiyyat al-samhah, yaitu sikap merindukan, mencari, dan memihak kepada yang benar dan baik secara lapang. Diceritakan, ada seorang sahabat bernama Utsman ibn Mazh‘un mem­beli sebuah rumah, lalu ia tinggal di dalamnya (sepanjang waktu) untuk beribadah. Ketika berita itu datang kepada Nabi Saw., maka beliau pun datang kepadanya, lalu dibawanya keluar, dan beliau bersabda: “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah tidaklah mengutusku dengan ajaran kerahiban” (Nabi bersabda demikian dua-tiga kali, lalu ber­sabda lebih lanjut), “Dan se­sung­guhnya sebaik-baik agama di sisi Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah (semangat pencarian kebenaran yang lapang)”.

 

Terkait dengan hadis di atas, Muhammad Asad juga menegaskan bahwa Al-Quran menekankan prin­sip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Ajaran tentang formalitas ritual belaka tidak­lah cukup sebagai wujud ke­agamaan yang be­nar. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita me­­­nuju keba­ha­giaan, sebelum ki­ta meng­isinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Sikap-sikap mem­batasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal, akan sama de­ngan peniadaan tujuan agama yang hakiki. Dalam Islam, kebahagiaan hi­dup yang diperoleh melalui amal perbuatan yang baik dan benar adalah sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Islam adalah agama yang meng­ajarkan bahwa keselamatan diraih dengan perbuatan baik atau amal saleh.  []

 

Ust. Edi Sutrisno, Ketua 1 Takmir Masjid Jami Bintaro Jaya

 

e-Buletin Jumat edisi 27: 08 Agustus 2021 M. / 27 Dzulhijjah 1442 H.

Membangun Perdamaian

Ust. Agusman Armansyah

 

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condong- lah kepadanya dan bertawakal-lah kepada Allah. Sesungguh- nya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

(QS. Al- Anfâl: 61).

 

Ayat Al-Quran di atas menjelaskan kepada kita tentang pentingnya perdamaian dalam kehidupan. Berdasarkan ayat Al-Quran tersebut, perdamaian harus senantiasa diperjuangkan dan dikedepankan ketimbang pilihan-pilihan hidup yang lain, baik dalam keadaan normal maupun dalam ke adaan perang.

Dalam kitab tafsir Mafâtîh Al-Ghaîb, Imam Ar-Razi menyebutkan bahwa ayat ini turun ketika perang Badar terjadi antara umat Islam dengan orang-orang kafir Quraisy. Perang  Badar adalah perang pertama dalam sejarah umat Islam.  Perang ini terjadi dengan kekuatan yang tidak seimbang antara kedua belah pihak. Orang-orang Islam yang terlibat dalam perang ini hanya berjumlah 313 orang. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy berjumlah 1.000 orang. Namu kekuasaan Allah telah menjadi kekuatan maha dahsyat yang tak terlihat oleh siapa pun, hingga umat Islam mencapai kemenangan gemilang dalam peperangan ini.

Dari sebab turunnya ayat di atas menjadi jelas, betapa perdamaian sangat ditekankan dalam Islam. Dalam keadaan perang pun Islam tetap mengedepankan dan mengupaya kan tegaknya perdamaian. Imam Ali bin Abi Thalib pernah menceritakan suatu Hadis Nabi Muhammad SAW terkait dengan ajaran perdamaian dalam Islam.

 

Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya akan terjadi banyak perbedaan setelah Aku (meninggal). Bila Engkau mampu mewujudkan perdamaian, maka lakukanlah.

 

Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa Hudaibiyah (‘am al-hudaybiyyah) patut dijadikan teladan oleh segenap umat Islam dalam mengupayakan perdamaian. Yaitu ketika orang-orang kafir Quraisy meminta berdamai dengan Nabi Muhammad SAW dan semua pengikutnya.

Tak hanya itu, orang-orang Quraisy juga meminta Nabi Muhammad SAW agar mengurungkan niatnya untuk mengunjungi kota Mekah, kota suci sekaligus tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW sebelum beliau hijrah ke Madinah. Padahal, saat itu Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya sudah dalam keadaan siap seratus persen untuk melakukan kunjungan atau umrah ke Kota Suci tersebut. Sebagai imbalannya, orang-orang Quraiys berjanji tidak akan mengganggu umat Islam kembali bila berkunjung ke kota Mekah setelah masa Hudaibyah.

Nabi Muhammad SAW sepakat dengan ajakan perdamaian di atas dan memilih mengurungkan niat sucinya tersebut. Sejumlah sahabat Nabi seperti sahabat Umar bin Khattab terperangah menyaksikan keputusan bijak yang diambil oleh Nabi Muhammad SAW. Tapi keputusan ini sepintas merugikan beliau beserta pengikutnya.

 

Nabi Muhammad SAW kemudian meyakinkan para sahabatnya akan kebenaran dan kebijaksanaan dalam keputusan tersebut. Nabi Muhammad SAW juga meyakinkan  para sahabat bahwa keputusan ini merupakan tuntunan Allah. Dan yang tak kalah pentingnya adalah, bahwa keputusan demi perdamaian tidak akan pernah salah atau merugikan.

 

Fenomena konflik dan kekerasan berbasis agama belakangan cukup mengkhawatirkan; dan ini  terjadi hampir di semua kehidupan umat beragama, apa pun agamanya. Fenomena ini terjadi setidaknya karena dua hal utama. Pertama, adanya beberapa doktrin yang dipahami secara salah sehingga doktrin tersebut dijadikan sebagai legitimasi untuk melakukan tindakan kekerasan. Beberapa ajaran dianggap  membolehkan tindakan kekerasan. Apalagi kekerasan tersebut dilakukan untuk menghakimi “mereka yang berbeda”.

Harus diakui, Islam juga mempunyai beberapa ajaran yang sering dikait-kaitkan dengan aksi-aksi keras seperti perang. Juga benar bahwa dalam Al-Quran dan Hadis terdapat beberapa ajaran tentang perang dan jihad.

Namun sungguh tidak benar bila diyakini bahwa ajaran- ajaran perang adalah satu-satunya doktrin dalam Islam. Sebagaimana juga tidak benar bila ajaran jihad hanya dipahami sebagai ajaran tentang angkat senjata ataupun aksi-aksi keras lainnya. Karena terdapat sekian ajaran tentang perdamaian yang dijadikan pilihan hidup. Sebagaimana juga terdapat makna jihad lain di luar aksi keras. Dan hampir semua ajaran jihad atau perang mempunyai latar belakang ataupun konteks yang dapat menjelaskan mengapa hal itu harus dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran tentang perang dalam Islam harus dipahami secara tepat sesuai dengan konteks kesejarahannya.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah memberikan pada kelembutan hal-hal yang tak diberikan kepada ke- kerasan.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih, mencintai sifat welas- asih, dan memberikan (banyak keistimewaan) yang tidak diberikan kepada sifat kejam atau kekerasan.

 

Hadis di atas hendak menegaskan bahwa perdamaian adalah yang pertama dan terutama. Dalam keadaan apa pun perdamaian harus senantiasa diperjuangkan dan ditegakkan. Karena hanya dalam damai manusia sebagai khalifah di muka bumi bisa menjalankan mandat dan kepercayaan Allah, yaitu untuk membangun kehidupan dan peradaban adi luhung.

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Islam seperti apa yang utama wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menyantuni makanan dan menyebarkan salam perdamaian, baik kepada orang yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.”

Tentu saja, Nabi Muhammad SAW tidak hanya sedang menuntun umatnya agar membiasakan dan menghormati orang lain dengan ucapan assalâmu’alaikum yang bermakna: kedamaian untukmu. Lebih dari pada itu, Nabi Muhammad SAW hendak membangun kehidupan umat yang santun, peduli terhadap persoalan perdamaian dan berjuang demi  tegaknya perdamaian. Jangankan dengan mereka yang sudah ketahuan titik perbedaannya (baik perbedaan agama atau suku), dengan mereka yang belum dikenal pun umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdamai, sebagaimana tuntunan Hadis di atas.

Dalam konteks ini, ajaran perdamaian sebagaimana terkandung dalam ayat Al-Quran di atas, anjuran menyebarkan kata salam dan hakikat keutamaan Islam sebagaimana ditayakan oleh seorang sahabat dalam Hadis di atas mempunyai makna yang mendalam. Makna ini sangat penting demi terciptanya keberislaman yang utama bagi seorang muslim.

Secara kebahasaan, kata as-silm dalam ayat di atas, kata salâm, dan kata al-islâm berawal dari satu kata, yaitu sa-li- ma. Dalam kitab Lisânu Al-Arab disebutkan, kata ini bermakna as-salâmu (perdamaian), as-salâmatu (keselamatan) dan al-barâ‘ah (kebebasan), yakni tidak ada keterkaitan antara satu dengan yang lain, terutama dalam keburukan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa hakikat Islam yang utama (meminjam istilah seorang sahabat dalam pertanyaan di atas) adalah Islam yang menyebarkan perdamaian, memberikan keselamatan dan kebebasan kepada diri sendiri dan orang lain (al-barâ‘ah) untuk melakukan apa yang dianggap sebagai kebaikan. Dan inilah bagian dari ajaran inti dalam Islam. Karena kata al-Islâm sendiri berasal dari “rumpun kata” yang sama, yakni kata sa-li-ma.

 

Sebagai penutup, marilah kitamerefleksikan kembali bacaan dan amalan doa yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama di setiap selesai melakukan ibadah shalat. Yaitu doa yang berbunyi:

Wahai Tuhan, Engkau adalah perdamaian. Darimu perdamaian berasal dan kepada-Mu-lah perdamaian akan kembali. Maka, hidupkanlah kami dalam damai dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu yang tak lain adalah singgasana perdamaian, diberkati Engkau dan Maha Tinggi Engkau wahai Dzat Yang Agung dan Mulia.

 

Perdamaian adalah sifat Allah subhânahu wata’âlâ, yang harus mewarnai tindak-tanduk keseharian kita. Betapa indahnya hidup ini jika diisi dengan kehidupan yang damai, baik dalam lingkup keluarga, organisasi, bangsa, maupun lingkup global. Mari kita jalani kita songsong kehidupan kita dengan damai.[]

 

Ust. Agusman Armansyah, alumnus Universitas AL-Azhar Kairo, Mesir, Direktur Akademik Yayasan Pendidikan Murah Hati, Cibubur Bekasi.

 

e-Buletin Jumat edisi minggu ini dapat diunduh disini

Meneguhkan Persaudaraan

Ust. Suraji

 

 

Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu. Kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

 

 

Ayat di atas merupakan penjelasan kepada umat manusia tentang tujuan diutusnya para nabi. Yakni untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan kepada kita semua. Kabar gembira bagi orang yang mau tunduk dan taat menjalankan perintah-perintah Allah, mereka akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Peringatan kepada orang yang tidak mau patuh kepada perintah Allah dan gemar berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi, mereka akan mendapatkan siksa kelak di akhirat.

 

Para Nabi sejak dari Adam hingga Muhammad SAW membawa misi untuk membimbing manusia kepada ajaran ketauhidan dan menciptakan tata kehidupan yang baik. Karena itu, setiap nabi menyerukan kepada umatnya supaya mencegah kerusakan dan menghindari pertikaian antar sesama. Nabi Muhammad SAW. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Seperti kita ketahui dalam sejarah, saat itu Nabi menghadapi sebuah umat yang sering mengalami pertikaian antar suku dan golongan. Masyarakat yang mengalami kemorosotan moral dan tidak adanya tatanan sosial yang dijadikan pegangan. Itulah masyarakat jahiliyah yang melatarbelakangi kerasulan Muhammad.

 

Al-Qurthubi dalam kitabnya, al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an, mengatakan bahwa ayat al-Qur’an di atas merupakan peringatan kepada kita untuk senantiasa mengingat kembali asal-usul kita. Terutama jika menghadapi konflik atau pertikaian, hendaklah kita membuka nurani dengan mengingat kembali pada asal mula kita. Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu, yakni sama-sama sebagai keturunan Adam.

 

Sekilas pikiran kita menganggap seruan ini terkesan biasa-biasa saja. Setiap orang tahu dan mengakui bahwa nenek moyang kita sama. Sebagai manusia kita sama-sama diciptakan Allah dari tanah, dan kelak jika meninggal kita akan dikubur ke dalam tanah. Tapi jika direnungkan lebih mendalam, seruan tersebut mengandung nilai ajaran yang sangat tinggi maknanya. Dengan mengaku umat yang satu, berarti menganggap tidak ada perbedaan satu dengan yang lain. Laki-perempuan, kaya-miskin, hitam-putih, semua sama dan setara.

 

Dengan pandangan ini, perbedaan yang ada bukan menjadi masalah, tapi sebaliknya merupakan rahmat yang dikaruniakan Allah.  Inilah ajaran universal yang ditawarkan oleh Islam. Ajaran untuk berpegang teguh kepada persaudaraan antar sesama manusia, atau yang dikenal dengan ukhuwah basyariyah.

 

Rasulullah SAW ketika memulai dakwahnya di Madinah membuat piagam kesepakatan yang dikenal dengan Piagam Madinah. Di dalam piagam tersebut, Rasulullah menegaskan kalimat sebagaimana kalimat dalam ayat di atas, “Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu.”

Betapa agung dan luhurnya nilai persaudaraan ini. Karena dengan menganggap setiap manusia bersaudara, berarti kita mampu menembus sekat-sekat dan perbedaan yang ada. Baik itu perbedaan berupa warna kulit, suku-bangsa, bahasa, status sosial, maupun agama. Dengan pengakuan diri sebagai saudara bagi manusia lain, berarti telah menganggap orang lain menjadi bagian dari diri kita. Karena semua bersaudara, berarti didak ada istilah musuh di sini. Karena merasa sebagai umat yang satu, semua kasih sayang yang kita curahkan juga untuk semua manusia.

 

Betapa indahnya dunia jika setiap manusia mau berpegang prinsip ukhuwah basyariah ini. Betapa damainya bumi yang kita huni ini jika setiap orang mau saling menyayangi, saling menolong, saling membantu, saling meringankan beban penderitaan, dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Tapi sayang, sebagai manusia kita lebih suka mementingkan diri sendiri, mengedepankan ego kepentingan pribadi dan kelompok. Hasrat duniawi sering mengarahkan kita untuk mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok. Sudah sejak lama kita diwarisi rasa kebencian terhadap umat lain. Bahkan, sampai tega menghilangkan nyawa yang lain.

 

Manusia seperti itu kah kita, yang sering melakukan permusuhan, dan pertumpahan darah? Seperti yang dikatakan Malaikat Jibril ketika bertanya kepada Allah SWT, “Apakah Paduka akan menciptakan manusia yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah?”.

 

Sebagai muslim, kita telah diajarkan oleh Rasulullah untuk menjauhi akhlak yang tercela dan menghias diri dengan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Dengan berbegang teguh pada ukhuwah basyariyah berarti telah tertanam akar akhlaqul karimah di dalam diri kita dengan kokoh. Karena persaudaraan (ukhuwah) bukan sesuatu yang bersifat pasif. Ukhuwah basyariyah bukan hanya sebatas penghormatan kepada sesama manusia. Juga bukan sebatas sikap tidak mau mengganggu orang lain. Namun tindakan aktif yang merupakan panggilan jiwa untuk menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.

 

Jiwa kita akan terpanggil untuk memberi makan bagi mereka yang lapar dan menolong yang terkena musibah. Bersedia meringankan beban penderitaan orang lain dengan atau tanpa dimintai pertolongan. Dan yang lebih penting lagi adalah menciptakan kehidupan yang damai. Sebab pertikaian atau peperangan seringkali mengorbankan kemanusiaan itu sendiri.

 

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buhkhari, Nabi pernah ditanya oleh sahabat, “Apa Islam itu, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Memberi makan bagi yang lapar dan menebarkan perdamaian kepada orang yang kau kenal atau yang tidak kau kenal”. Sabda Nabi tersebut jelas menegaskan bahwa nilai kemanusiaan melekat dalam Islam itu sendiri. Oleh karena itu, dengan memegang prinsip ukhuwah basyariyah, kita dituntut untuk selalu mengasah kepekaan sosial dan memenuhi panggilan kemanusiaan.

 

Akhir-akhir ini kita menyaksikan perang antar negara, permusuhan antar suku, aksi terorisme, sampai perkelahian antar kampung masih sering terjadi. Dalam kehidupan sosial kita sering disuguhi paham yang membedakan siapa kawan dan siapa lawan. Kita biasa dengan pergaulan yang mengucilkan yang bodoh dan kurang mampu. Dalam politik, kita juga sering dihasut oleh perilaku politik yang memeceh-belah. Kepemimpinan yang ada lebih menindas yang lemah. Semua ini merupakan bukti bahwa kita sedang mengalami krisis kemanusiaan. Sadar atau tidak, seseorang yang mencederai martabat kemanusiaan orang lain berarti telah mengingkari fitrahnya sendiri. Fitrah sebagai manusia yang membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain.

 

Allah SWT berfirman: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Tuhan menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Tuhan mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Tuhan yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan membangun hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Tuhan selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. Al-Nisa’: 1)

 

Ayat ini merupakan landasan yang kuat bagi umat Islam untuk memegang prinsip ukhuwah basyariyah. Di sini semakin jelas bahwa selain mengajarkan ketauhidan, Islam juga merupakan ajaran tentang kemanusiaan.

 

Dengan landasan teologis yang kokoh diharapkan mampu mempertebal keimanan kita sebagai modal untuk menjalankan perintah Allah SWT. Sehingga sebagai umat Islam kita semakin mantap dalam berinteraksi dengan semua golongan manusia. Tidak pandang bulu dari lapisan masyarakat manapun, atau dengan penganut agama apapun,  tidak ada keraguan bagi seorang muslim untuk selalu menghadirkan kebajikan dan menebarkan kasih sayang. Wallahu a’lam. []

 

Ust. Suraji, alumni Pesantren Darul Ulum, Sidowayah, Rembang.

 

e-Buletin edisi ke-25, 23 Juli 2021 M. / 13 Dzulhijjah 1442 H. dapat diunduh disini

Melindungi Keselamatan Jiwa

Ust. Alfian Ruhyat

 

 

Janganlah kamu membunuh dirimu. Allah Maha Penyayang kepadamu.”

(QS. an-Nisa: 29).

 

 

Di antara misi utama yang dibawa oleh agama Islam adalah menjaga lima perkara yang sangat mendasar, yaitu: menjaga agama; menjaga jiwa; menjaga akal; menjaga kehormatan; dan menjaga harta. Termasuk dalam menjaga jiwa adalah segala hal yang berkaitan dengan kesehatan dan pencegahan penyakit, tentu saja di luar menghormati nyawa orang lain.  Ayat di atas secara tegas melarang manusia melakukan bunuh diri dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun. Jiwa manusia sangat mahal. Ia harus dijaga dan dipelihara. Ia adalah amanah dari Allah SWT. Dalam Islam, keselamatan jiwa lebih utama. Membunuh diri tidak hanya menusuk badan dengan pisau, menembak diri dengan pistol, menjatuhkan diri dari ketinggian. Bisa dikatakan membunuh diri bila dengan sengaja membiarkan diri jatuh dalam bahaya dan kebinasaan, membiarkan diri tertular penyakit, tidak berhati-hati, dan mengabaikan protokol kesehatan.

 

Makna kedua dari “janganlah kamu membunuh dirimu”, yaitu janganlah kamu membunuh orang lain apalagi saudaramu sesama mukmin. Sebab, persaudaraan, cinta kasih, dan sifat sayang mukmin yang satu dengan yang lain ibarat satu tubuh seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW. Karena itu, setiap Muslim dilarang melakukan sesuatu yang bisa membahayakan orang lain. Nabi SAW bersabda, “Tidak boleh mandatangkan bahaya untuk diri sendiri dan orang lain.” (HR Ibn Majah dan ad-Daraquthni). Termasuk, tidak boleh menularkan bahaya, penyakit, atau virus kepada orang lain dengan sengaja ataupun karena ceroboh dan abai. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195). Ayat ini juga menunjukkan wajibnya menjauhi sebab-sebab yang akan mengantarkan kepada kebinasaan jiwa.

 

Dalam kitab Zadul Ma’ad, pada pembahasan tentang ath-Thibb an-Nabawi (Kedokteran Nabawi), Imam Ibnul Qayim mengatakan, “Karena kasih sayangnya yang sangat besar terhadap umatnya dan dorongan memberikan nasehat kepada umat, Nabi SAW melarang umat melakukan sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada sakit dan kerusakan pada fisik dan hati mereka.” Keterangan ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prinsip wajibnya menempuh tindakan preventif (pencegahan) dalam bentuk menghindari sebab-sebab terjadinya penularan penyakit. Menjaga jiwa juga erat kaitannya untuk menjamin atas hak hidup manusia seluruhnya tanpa terkecuali. Dalam Islam, jiwa atau nyawa manusia memiliki nilai yang sangat tinggi. Orang yang menghilangkan nyawa orang lain (membunuh), diumpamakan sama seperti membunuh semua orang di muka bumi, begitu pun pada saat menyelamatkan satu nyawa orang, maka seolah ia menyelamatkan nyawa semua orang.

 

“Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS, al-Maidah: 32)

 

Ini artinya, umat Islam tidak boleh nekad melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Nabi menyatakan: la dharar wala dhirar (tidak boleh ada bahaya atau tindakan yang bisa membahayakan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain). Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam al Hakim dan Baihaqi juga disebutkan:

 

Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.”

 

Ayat dan teks hadis ini secara tegas dan jelas menyebutkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menghindar dari bahaya atau melakukan tindakan berbahaya yang bisa mencelakai diri sendiri maupun orang lain. Upaya menjaga keselamatan diri ini juga dianjurkan ketika menghadapi wabah penyakit sebagaimana dikatakan Nabi:

 

“…. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim)

 

Dalam Hadis yang lain Nabi bersabda:

 

Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari)

 

Berdasarkan hadis ini, Ibnul Qayyim al-Jauziy menyatakan bahwa orang yang tetap memaksakan diri masuk ke daerah wabah, atau nekad melanggar aturan kesehatan, sama saja dengan membinasakan dirinya sendiri dan itu bertentangan dengan syariat Islam. Sikap menghindar dari bahaya yang bisa mengancam keselamatan diri maupun orang lain ini tidak hanya disebutkan dalam teks, tetapi juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

 

Bahkan Islam tidak menyuruh ummatnya melakukan ibadah atau menjalankan Syariah secara berlebihan sehingga melampuai kemempuan diri. Hal ini tercermin dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari dari Anas ra. Dalam hadits ini disebutkan adanya tiga orang sahabat yang menganggap amal ibadah Nabi sangat minimalis, hanya sedikit saja. Kemudian mereka bertiga datang menghadap Nabi dan menceritakan tentang kehebatan amal ibadah masing-masing sehingga melampaui batas kemanusiaan. Mengetahui hal ini kemudian Rasul bersabda kepada mereka:

 

“Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga mengawini perempuan. (Itulah sunah-sunahku) siapa saja yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Hadits ini jelas menyiratkan bahwa beribadah itu yang wajar saja, tidak boleh melampaui batasan kemanusiaan sehingga bisa membahayakan diri sendiri.

 

Dalam kondisi sekarang ini, di mana merebaknya wabah Corona yang membahayakan karena mengancam jiwa manusia, maka selayaknya para agamawan bersikap bijak dengan meniru apa yang sudah dicontohkan Nabi, para sahabat dan ulama. Sikap menolak prosedur kesehatan dan hukum sains dengan mengatasnamakan takdir dan kekuasaan Allah, atau menghadapkan bahaya wabah corona dengan kekuasaan Allah tidak saja membahayakan ummat tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam dan apa yang sudah dicontohkan Nabi. Ikhtiar menjaga diri dari serangan wabah bukan berarti tidak percaya pada kekuasaan Allah, justru hal itu menjadi bagian dari yang disyariatkan Allah.  Karena dalam Islam menjaga dan melindungi jiwa jauh lebih penting.

 

Itulah sebab, mengapa dalam Maqasid Syariah – konsep  hukum gagasan Imam Asy-Syatiby yang menjelaskan bahwa setiap syariat diturunkan untuk tujuan-tujuan tertentu – ditegaskan  bahwa tujuan utama syariat Islam adalah menjaga nyawa/jiwa (hifdzun nafs), di samping untuk menjaga agama/keyakinan (hifdzud din); menjaga akal/pikiran (hifdzul aql); menjaga keturunan (hifdzun nasl); dan menjaga harta/kepemilikan (hifdzul mal).

 

Rasulullah SAW diutus ke muka bumi untuk memberi rahmat bagi alam semesta. Inilah dasar yang kokoh bagi keberadaan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Artinya, keberadaan seorang Muslim, di manapun dia, selain harus menjaga keamanan bagi dirinya, juga harus memberi rasa aman dan kedamaian bagi orang lain yang ada di sekelilingnya. Tidak beriman seseorang, jika orang lain belum selamat dari kejahatan lidah (omongan) dan tangannya (tindakannya).

 

Mari kita fungsikan agama benar-benar untuk menyelamatkan nyawa/jiwa, dan kita fungsikan negara untuk memberikan kepastian keselamatan jiwa bagi segenap warganya. []

 

Ust. Alfian Ruhyat, pengajar di Lembaga Pendidikan Miftahul Huda, Jakarta

 

e-Buletin Jumat edisi ke-24, 16 Juli 2021 M. / 06 Dzulhijjah 1442 H., dapat diunduh disini

Keluhan Tentang Penanganan Covid-19

Macam-macam keluhan dan kritik terhadap cara penanganan wabah Covid-19.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Berbagai keluhan dan kritik kepada pemerintah terhadap cara penanganan wabah Covid-19 disampaikan juga kepada saya. Padahal, saya tidak dalam posisi apa pun untuk menjawab atau menjelaskannya.

Macam-macam keluhan dan kritik itu: krisis oksigen karena berjubelnya pasien terpapar di rumah sakit, pembayaran BPJS yang tidak lancar, dan lain-lain.

Namun, sebagai warga sepuh, saya coba memberi jawaban berikut ini. “Banyak kritik yang dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai kurang sigap menangani serangan Covid-19. Kritik itu sah maka pemerintah mesti menyikapinya dengan lapang dada dan jiwa besar. Akui banyak kekurangan dan kelemahan di sana sini.”

“Namun, pemerintah telah bekerja keras dengan mengeluarkan dana negara puluhan bahkan ratusan triliun, perlu dihargai akan kesungguhannya melindungi rakyatnya yang sedang menderita dan dalam kesusahan. Jangan ada pikiran negatif ancaman wabah ini akan menjurus kepada krisis politik nasional yang pasti akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu, mari kita bahu-membahu sambil berdoa mengibarkan bendera optimisme sekalipun di tengah tantangan berat ini.”

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini. Dalam tempo singkat datanglah jawaban positif via WA dari keduanya.

Tentu semua ini melegakan. Artinya, pemerintah memperhatikan keluhan dan kritik itu. Salah seorang menko bahkan menghubungi saya lagi via telepon, menjelaskan lebih komprehensif tentang penanganan masalah wabah yang mematikan ini.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar. Harga obat jadi gila dan rumah sakit cari untung besar. Tentu, tidak semua rumah sakit.

Mereka tidak hirau, perbuatannya itu tunaadab dan tunamoral. Saya menghela napas panjang mendengar penjelasan pahit ini.

Tega-teganya mereka berpesta di atas penderitaan rakyat yang sebagian sudah sulit cari makan, apalagi berobat. Banyak rakyat kecil tidak punya kartu BPJS Kesehatan karena tak mampu membayar iuran bulanan, saking miskinnya.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar.

Namun, ada pula yang berpendapat BPJS haram, tidak syar’i. Entah kiai mana yang memberi fatwa liar ini. Rakyat jadi bingung oleh aneka isu yang ditiupkan orang tak bertanggung jawab.

Heboh berita kematian 63 pasien Covid-19 dalam sehari di sebuah rumah sakit di Yogyakarta, jadi perbincangan luas. Pihak rumah sakit mengatakan, kejadian nahas itu akibat pasokan oksigen yang kurang.

Namun, dari sumber menko, saya mendapat penjelasan, manajemen di rumah sakit tersebut bermasalah. Keterangan serupa datang dari seorang dokter yang lagi ambil program spesialis jantung. Saya tidak tahu persisnya.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Yang kita sebutkan di atas, raja tega rumah sakit dan pedagang obat yang seenaknya mencari keuntungan dalam kesempitan orang lain. Jika sifat-sifat buruk ini berkelanjutan dan meliputi radius luas, jangan bermimpi bangsa ini punya masa depan cerah.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Siapa yang mau percaya kita, sedangkan kita sendiri biasa bermain lancung dan culas. Namun, kita menghargai keluhan beberapa rumah sakit tertentu disampaikan secara jujur. Contoh di bawah ini patut dicatat dan telah saya teruskan kepada pihak-pihak berwenang.

Ini bunyinya, dengan penyesuaian redaksi kalimat: “Ya buya…lelah sekali. Kami berjuang di garda akhir, tetapi masyarakat semua seolah tidak peduli. Nyawa sudah tidak ada harganya lagi.”

Ini peta di lapangan sebagai keluhan dokter yang pernah memimpin sebuah rumah sakit. Betapa rendah disiplin sebagian rakyat menghadapi wabah. Mereka tak mempertimbangkan berapa ratus dokter dan tenaga kesehatan wafat karena menangani wabah ini.

Mereka tidak peduli. Jika sudah terpapar baru sadar, negara lagi yang harus turun tangan.

Senapas dengan kutipan di atas, Dirut RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, Dr Ahmad Faesol, Sp. Rd. menyampaikan pengalaman lapangannya via WA kepada saya, pada 6 Juli 2021 berikut ini.

“Terima kasih Buya Maarif, mudah- mudahan berhasil. Tapi yang urgen saat ini, pasokan oksigen di rumah sakit Buya, ini tiap hari harus senam jantung oksigennya kritis menjelang habis, kasihan pasien-pasien kita, jangan sampai ada tragedi seperti RS Sardjito, Buya, mohon support untuk pemenuhan oksigen, karena seiring peningkatan jumlah pasien Covid di RS, kebutuhan oksigennya meningkat tajam”.

Seperti kita dengar, krisis oksigen ini berlaku di banyak rumah sakit. Namun, saat tulisan ini disiapkan, pasokan oksigen itu sudah mulai datang. Memang minggu-minggu awal Juli ini puncak serangan dahsyat Delta yang sangat menakutkan itu.

Akhirnya, menghadapi situasi sangat berat dan sulit ini, semua dimohon selalu berpikir jernih, berimbang, dan adil agar virus salah paham dan saling tuduh tak menjalar ke mana-mana. Sifat-sifat mulia harus diarusutamakan agar kohesi hubungan antarlembaga kesehatan apik dan menyenangkan dalam situasi yang begini mencekam. Semoga!

Membangun Etika Komunikasi

Ust. Idwar Wahyudi

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,

Yang mengajar (manusia) dengan pena.

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

(QS. Al-‘Alaq: 1-5)

 

 

Dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5, surat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad, terdapat perintah untuk membaca. Jika dipahami dalam makna yang lebih mendalam, pada dasarnya ini merupakan bentuk perintah untuk memperhatikan pengetahuan. Hal ini karena pengetahuaan sangat penting peranananya bagi manusia, sehingga Surat al-‘Alaq lebih menggunakan kata iqra’ dan al-qalam. Diakui atau tidak, keduanya sangat penting perannya dalam proses pembelajaran, khususnya dalam mempelajari sains dan teknologi.

 

Dalam mempelajari sains dan teknologi, membaca tidak sekedar melihat bacaan tertulis. Namun lebih jauh dari itu adalah membaca asma dan kemuliaan Allah, membaca teknologi genetika, membaca teknologi komunikasi, dan membaca segala yang belum terbaca, sehingga dengan membaca ini terjadi suatu perubahan, baik perubahan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu atau bahkan pada perubahan tingkah laku dan sikap yang merupakan ciri dari keberhasilan aktivitas belajar.

 

Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi.

 

Tidak bisa dimungkiri bahwa dengan bergesernya peran negara dalam percaturan hubungan internasional, maka aspek kebudayaan menjadi sesuatu yang dalam hubungan internasional. Sementara itu, setiap kelompok budaya cenderung etnosentrik, yakni menganggap nilai-nilai budaya sendiri lebih baik dari pada budaya lainnya dan mengukur budaya lain berdasarkan rujukan budayanya. Karenanya, strategi komunikasi sangat diperlukan ketika kita dihadapkan dengan sistem nilai dan budaya yang berbeda.

 

Di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi terdapat banyak keterangan berkenaan dengan adanya komunikasi. Dalam hal ini komunikasi dipahami sebagai sebuah proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih lewat penggunaan simbol-simbol atau tanda-tanda. Dengan pemahaman tersebut, dialog antara Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad ketika pertama kali turun wahyu di Gua Hira dapat dikategorikan sebagai proses komunikasi.

 

Di dalam dialog tersebut, Nabi yang awalnya tidak memahami apa yang ingin disampaikan oleh Malaikat Jibril, pada akhirnya memahami dan mengikuti apa yang disampaikan oleh Jibril yang kemudian dikenal dengan wahyu pertama surat al-Alaq ayat 1-5 sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

 

Begitu juga ketika Nabi menyampaikan (menceritakan) peristiwa yang dialaminya kepada Istrinya dan seorang pendeta dapat dikatakan sebagai proses komunikasi. Para pakar dan sarjana muslim belakangan ini banyak melakukan kajian mengenai komunikasi dengan berbasis Islam. Kajian ini sering disebut sebagai “Komunikasi Islam” yang merupakan bentuk frasa dan pemikiran yang baru muncul dalam penelitian sekitar tiga dekade belakangan ini. Munculnya pemikiran dan aktivisme Komunikasi Islam didasarkan pada kegagalan falsafah, paradigma dan pelaksanaan Komunikasi Barat yang lebih mengoptimalkan nilai-nilai pragmatis, materialistis serta penggunaan media secara kapitalis.

 

Dalam perspektif Islam, kualitas komunikasi menyangkut nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebaikan, kejujuran, integritas, keadilan, kesahihan pesan dan sumber. Ini semua menjadi aspek penting dalam komunikasi Islam. Oleh karenanya dalam perspektif ini, komunikasi Islam ditegakkan atas sendi hubungan segitiga (Islamic Triangular Relationship), antara “Allah, manusia dan masyarakat”.

 

Al-Qur’an sangat menekankan etika berkomunikasi. Dari sejumlah aspek moral dan etika komunikasi, paling tidak terdapat empat prinsip etika komunikasi dalam al-Qur’an yang meliputi fairness (kejujuran), accuracy (ketelitian, ketepatan), tanggungjawab dan kritik konstruktif. Dalam Islam, prinsip informasi bukan merupakan hak eksklusif dan bahan komoditi yang bersifat bebas nilai, tetapi ia memiliki norma-norma, etika dan moral imperatif yang bertujuan sebagai service membangun kualitas manusia secara paripurna.

 

Dengan demikian, Islam meletakkan tauhid sebagai dasar dalam komunikasi dan informasi. Al-Qur’an menyediakan seperangkat aturan dalam prinsip dan tata berkomunikasi. Dalam masalah ketelitian menerima informasi, Al-Qur’an misalnya memerintahkan untuk melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima.

 

Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dikatakan:

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)

 

Membangun dan mengembangkan etika komunikasi dalam Islam sesungguhnya tidak harus dimulai dari nol. Pembenahan pada aspek nilai dan etika harus mendapat perhatian serius sehingga ada keterpautan dengan ketauhidan dan tanggungjawab ukhrawi. Fungsi komunikasi dalam padangan Islam adalah untuk mewujudkan persamaan makna, sehingga terjadi perubahan sikap atau tingkah laku pada masyarakat Muslim. Ini sebagai bagian dari keberadaan Islam sebagai rahmatan lil’alamiin. Makna rahmat adalah sebuah keadaan sejahtera dan beradab yang dirasakan suatu komunitas atas keberadaan Islam yang menjiwai tatanan hidup bersama dalam suatu masyarakat.

 

Atas dasar itu, kita selaku umat Islam sudah selayaknya melihat ke arah yang lebih jauh lagi. Kita semua memiliki kewajiban untuk berdakwah. Dan dakwah tidak harus selalu berkhutbah di atas mimbar. Karena dakwah memiliki bentuk yang luas dan bervariasi serta fleksibel. Oleh karena itu, guna menjangkau khalayak yang lebih luas lagi dengan nilai-nilai dan etika yang digali dari prinsip Islam, komunikasi dalam berdakwah selayaknya menempatkan kedamaian dan keharmunisan sosial. Karena, tantangan yang kita hadapi lebih sulit lagi karena kita berhadapan dengan media yang beraneka ragam bentuk dan fungsinya, terutama dalam bentuk media sosial yang sering menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian sehingga mengancam harmoni sosial. Di satu sisi peluangnya begitu luas, namun tantangannya juga tidak mudah.

 

Semua tantangan tersebut menuntut adanya usaha keras dari kita semua, khususnya ulama, kyai dan ustadz agar dapat memberikan keteladanan dalam berdakwah dengan mengedepankan etika dan akhlaq dalam berkomunikasi. Di sinilah kita semua perlu belajar terus menerus untuk mengasah kemampuan-kemampuan kita semua, termasuk kemampuan untuk berkomunikasi berdasarkan etika Islam. Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan dalam proses pendidikan Islam yang berkualitas, berwawasan luas, unggul dan profesional, yang akhirnya dapat menjadi teladan yang dicita-citakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. []

 

Ust. Idwar Wahyudi, Pengajar di Yayasan al-Hikmah, Jakarta

 

e-Buletin edisi ke 23, 9 Juli 2021, dapat diunduh disini

Ganasnya Covid-19, Dunia Jadi Lintang Pukang

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pukul 04.54, 5 Juli 2021, Bung Yasin Wijaya dari Yayasan Kristen Surabaya, kirim WA kepada saya, bunyinya: “Selamat pagi Prof. Semoga sehat selalu. Saya dengar RSUP Sardjito di Sleman sampai kekurangan oxygen dan 33 pasien meninggal. Sedih sekali. Kami di Surabaya sedang saling gotong-royong. Antarsahabat. Lintas perusahaan. Semua berjibaku merawat para karyawan yang sedang terpapar Covid. Selama mereka rawat di rumah, kami all out komunikasi, dan mengirimkan obat-obatan dan vitamin. Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini. Buya jaga kesehatan yah. Mohon jangan keluar rumah atau terima tamu. Salam.”

Jawaban WA saya pada pukul 05.49 terhadap sahabat lintas iman yang baik ini adalah: “Memang sangat mengerikan, tetangga saya sudah banyak terpapar. Gotong royong teman Surabaya sangat mulia. Puji Tuhan. Disiplin masyarakat kita masih rendah. Salam sehat selalu, Bung Yasin dan teman-teman Maarif.”

Yayasan Barokah milik teman Kristen Surabaya ini sangat gigih membantu masyarakat, tanpa memandang suku, agama, dan asal-usul. Semua dilayani. Hubungan saya dengan mereka sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Kami saling berbagi info. Bung Yasin sudah dua kali kirim masker KN95 kepada saya. Sudah hampir 1,5 tahun Indonesia bergumul menghadapi serangan Covid-19 ini dengan segala variannya yang semakin mengganas.

Optimisme Bung Yasin bahwa “Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini” harus menjadi optimisme kita semua.

Optimisme Bung Yasin bahwa “Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini” harus menjadi optimisme kita semua dengan syarat disiplin ketat harus ditegakkan: pakai masker, hindari kerumunan, dan cuci tangan dengan air mengalir pakai sabun.

Mengabaikan disiplin ini adalah faktor utama pandemi ini semakin merajalela. Di mana-mana rumah sakit sudah bangun tenda darurat untuk menampung pasien yang datang berjubel. Dokter dan tenaga kesehatan, sudah ratusan yang wafat.

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

Mari kita lihat selintas korban Covid-19 ini untuk tingkat dunia, dan agak perinci untuk empat negara saja, baik yang terpapar maupun yang meninggal sampai 5 Juli 2021. Jumlah terpapar tingkat global sudah 184.000.000, dengan angka kematian 3.970.000.

Jumlah korban ini terus bertambah setiap saat. Vaksinasi masih belum merata dan memadai. Tertinggi adalah AS: terpapar 33.700.000, meninggal 605 ribu. Disusul India: terpapar 30.500.000, meninggal 402 ribu.

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

Lalu urutan ketiga Brasil: terpapar 18.700.000, meninggal 524 ribu. Indonesia urutan 17: terpapar 3.260.000, meninggal 60.027. Jika pandemi ini belum bisa diatasi setahun ke depan, kita bisa perkirakan korbannya sangat banyak dan ekonomi semakin lumpuh.

Untuk Indonesia, utang negara untuk melawan Covid-19 tentu akan semakin menggelembung. Maka itu, sebagai rakyat kita wajib menegakkan disiplin ekstraketat karena masih saja ada yang ngeyel melawan polisi di jalan.

Padahal, polisi itu sudah berpanas-panas untuk memutus rantai penularan wabah mematikan itu. Kelakuan semau gue akan memperburuk keadaan. Gempuran Covid-19 tidak pandang bulu, umur, dan status sosial.

Pada skala kecil, di perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tempat saya tinggal, kami sedang dikepung pandemi ini. Sudah beberapa orang jamaah masjid kami terpapar, bahkan ada seorang yang wafat, terjangkit saat yang bersangkutan melayat familinya.

Kematian karena Covid-19 ini pasti meninggalkan duka sangat dalam. Pemakamannya harus melalui protokol kesehatan. Jenazahnya tidak boleh didekati, kecuali oleh petugas khusus dari Dinas Kesehatan dengan pakaian khas pengamannya.

Pada skala kecil, di perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tempat saya tinggal, kami sedang dikepung pandemi ini. 

Ketika varian delta merebak di India beberapa waktu lalu, tengoklah betapa banyaknya mayat bergelimpangan di mana-mana. Aparat negara seperti tak berdaya lagi menanganinya. Oksigen serbakurang, rumah sakit tidak bisa menampung pasien yang datang berjibun.

Petugas kesehatan banyak yang mati karena kelelahan dan diserang virus delta itu. Fenomena hampir serupa berlaku di berbagai negara dunia, termasuk di Tanah Air. Ironisnya, masih saja ada segelintir orang tak percaya adanya virus ini. Pakai alasan agama lagi.

Saya tidak tahu jenis manusia macam apa ini. Tentu kita mesti berdoa kepada Allah agar 7,7 miliar penduduk bumi (angka 14 Februari 2021) yang sedang menderita ini diberi-Nya kesadaran yang tajam tentang gelimang dosa yang telah kita perbuat selama ini.

Di samping berdoa, kita harus berupaya keras mengatasi musibah ini agar situasi dunia yang sedang lintang pukang ini segera berlalu, sehingga tambahan korban tidak lagi memukul perasaan kita yang sudah terlalu berat. Berbaik sangka kepada Allah harus diutamakan.

Adapun mereka yang memaki Tuhan, bahkan tak lagi memercayai-Nya, seperti saat perang dunia karena dinilai tidak menolong manusia yang sedang terkapar kesakitan dan kematian dalam jumlah puluhan juta korban akibat perang, tidak perlu dikomentari, sebab hanya akan semakin menyesakkan napas.

Umat manusia mesti mau belajar dari serangan pandemi ini dan siap membangun solidaritas sosial untuk kepentingan bersama. Ingatlah, korban Covid-19 masih berjatuhan di semua bangsa dan negara. Nyaris tidak ada lagi kepingan bumi bebas dari serangan pandemi ini!