Menjaga Kedamaian

Kata Islam merupakan kata bentukan (musytaq) dari lafad aslama, yuslimu, islaman,  salâman atau salâmatan. Akar kata salâm sendiri setidaknya memiliki 4 (empat) makna. Pertama, lafad salâm adalah kata benda dasar (isim masdar) dari kata kerja salima yang bermakna selamat dari cacat. Kedua, lafad salâm merupakan bentuk majemuk (jama’) dari kata kata kerja salâma yang berarti kenyamanan dan keamanan. Ketiga, lafad salâm merupakan salah satu bagian dari nama-nama Allah (asmaul husna), yakni al-Salâm yang bermakna Maha Pemberi Kedamaian dan Keselamatan.

 

Allah Swt menjanjikan surga kepada setiap Muslim yang taat. Nama lain dari surga adalah Dâr al-Salâm (tempat penuh kedamaian). Mengapa demikian? Sebab setiap mukmin yang berada di surga adalah mereka yang abadi, terbebas dari semua kesulitan, bahaya, penyakit, kematian dan segala bentuk kerusakan lain. Surga adalah negeri atau tempat yang hanya dipenuhi dengan keindahan, keelokan, kedamaian, ketenangan, kesenangan, dan rasa aman. Tidak ada lagi rasa takut, was was, khawatir, sedih, kemalangan, rasa sakit apapun yang bisa mengganggu setiap penduduk surga, tentu atas jaminan sang Pencipta, Allah Swt.

 

Allah Swt berfirman dalam surat al-An’am ayat 127, “Bagi mereka (disediakan) surga sebagai negeri yang penuh kedamaian di sisi Allah Swt”, menggunakan redaksi Dâr al-Salâm. Allah Swt dalam surat Yunus ayat 25 juga berfirman, “Dan Allah Swt (senantiasa) menyeru (seluruh) menuju ke Dâr al-Salâm (Surga Tempat Penuh Kedamaian)”, juga menggunakan diksi kata Dâr al-Salâm.

 

Sarjana Muslim Ahli Bahasa Imam al-Raghib al-Ashfahâni mencatat, al-Quran banyak sekali menggunakan kata salâm atau salâmân. Misalnya dalam surat al-Hijr ayat 46, Allah Swt berfirman, “Dan masuklah kalian semua ke dalam surga dengan (perasaan) penuh keamanan dan kesejahteraan”. Begtu juga dalam surat Hud ayat 48, Allah Swt berfirman kepada Nabi Nuh As, “Wahai Nabi Nuh, turunlah (dari perahumu) dengan penuh keselamatan dan kesejahteraan”.

 

Allah Swt dalam surat Yasin ayat 58 menegaskan, “(dikatakan kepada mereka) “salam sejahtera” sebagai ucapan keselamatan dari Allah Swt Dzat Yang Maha Penyayang”, dengan redaksi salâm. Begitu juga dalam surat al-Ra’du ayat 24, Allah Swt berfirman, “(sambil mengucapkan) “selamat sejahtera atas kamu sekalian atas kesabaranmu (selama ini)”, memakai diksi lafad salâm.

 

Dari beberapa untaian ayat al-Quran dan hadis di atas jelas, kata Islâm dengan berbagai bentuk derivasinya memiliki pemahamn leksikal yang bermakna damai, keamanan, kesejahteraan dan perlindungan. Selain itu, mengingat Allah Swt sendiri menggunakan kata salâm sebagai bagian dari sifat al-Salâm, kata Islâm juga lebih sempurna jika kita maknai dengan segala bentuk keelokan, keindahan, kebaikan dan kebajikan.

 

Berdasarkan makna ini, ucapan salâm antar sesama muslim memiliki makna yang sangat dalam. Kapanpun dan dimanapun dua muslim bertemu dan berpapasan, mereka disunnahkan senantiasa saling mengucapkan salâm sebagai bentuk doa antara satu dengan yang lain agar senantiasa berada dalam kedamaian, keselamatan dan kesjahteraan. Begitu juga sebagai doa masing-masing kepada muslim lain agar senantiasa selamat, terhindar dari marabahaya, berada dalam keamanan dan ketenangan. Doa ucapan salâm juga senantiasa menghiasi akhir shalat setiap muslim. Saat mengakhiri shalat, setiap muslim senantiasa membalikkan wajah ke kanan dan kiri juga untuk mendoakan keselamatan bagi saudara-saudaranya yang Muslim. 

 

Dua ulama ahli hadis mashur Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Sahih-nya meriwayatkan satu hadis Rasulullah Muhammad Saw sebagai berikut, “Seorang Muslim itu adalah orang yang membuat umat Muslim lainnya merasa aman dan terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya”. Berdasarkan hadis ini, seorang Muslim sejati selalu dituntut untuk bisa menghadirkan diri dan keberadaannya dengan umat Islam yang lain dengan penuh kedamaiaan dan cinta kasih. Hadis ini merupakan jawaban langsung Rasulullah Muhammad Saw atas pertanyaan sahabat Abu Musa al-Asy’ari yang bertanya, “Siapakan yang disebut muslim terbaik itu?.

 

Jawaban Rasulullah Muhammad Saw tegas, salah satu ciri muslim sejati adalah muslim yang lisan dan tangannya tidak pernah digunakan untuk berbuat jahat kepada muslim atau warga masyarakat yang lain. Masing-masing setiap muslim dituntut untuk saling hidup berdampingan dengan cinta damai, toleransi, moderasi, dan mampu menjalin hidup harmoni baik antara muslim sendiri dan antar pemeluk agama lainnya.

 

Makna mafhum mukhalafah dari ayat dan hadis di atas adalah Islam sangat menganjurkan setiap umatnya untuk menjauhkan diri dari berbagai sikap ekstremisme, gemar menebar fitnah dan kebencian antar sesama, menyuburkan prasangka buruk antar umat dan masyarakat, memupuk persengketaan, berulah sehingga menimbulkan kekacauan, memaksakan kehendak satu atas yang lain, terlebih hingga sampai membunuh umat lain atau warga masyarakat atas nama keyakinan dan agamanya. Semua perilaku ini semua tentu sangat bertentangan dengan ajaran yang termaktub dalam ayat al-Quran dan hadis Rasulullah Muhamad Saw di atas.

 

Jawaban Rasulullah Saw kepada sahabat Abu Musa Al-Asy’ari di atas diperkuat dengan hadis Sahabat Abdullah bin Umar dalam kitab Sahih Imam Bukhari (Juz 1: 13). Suatu kali seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Muhammad Saw, “Siapakah Muslim terbaik itu? Rasulullah Saw menjawab, “Engkau memberikan makanan dan Engkau mengucapkan salam atas orang yang engkau kenal maupun kepada mereka yang tidak engkau kenal sama sekali”.

 

Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya (Juz 2: 862) juga menyajikan riwayat hadis tentang sahabat Umar bin al-Khattab Ra yang bertanya tentang ciri muslim sejati? Rasulullah Muhammad Saw menjawab, “seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Maka tidak boleh menzaliminya atau menyerahkannya ke lawan (dalam kondisi perang). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah Swt akan memenuhi kebutuhan dirinya. Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan saudaranya, maka Allah Swt akan melepaskan kesusahan dirinya pada hari kiamat dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah Swt akan menutupi aibnya pada hari kiamat”.

 

Etika bergaul dan berinteraksi antara sesama saudara muslim juga menjadi perhatian Islam. Imam al-Bukhari dalam kitab Sahih-nya menulis riwayat Sahabat Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah Muhammad Saw, Mencaci seorang muslim itu hukumnya fasiq dan membunuhnya adalah kufur”. Materi hadis ini menjadi rambu-rambu dan larangan bagi setiap muslim agar tidak melecehkan sauadaranya muslim, terlebih jika sampai menumpahkan darah antar sesame Muslim.

 

Dengan demikian, Islam adalah agama yang sangat menekankan kepada pemeluknya untuk senantiasa menjaga kedamaian, menjamin keamanan dan menyeru kepada semua pihak untuk senantiasa hidup secara rukun berdampingan. Islam sendiri merupakan manifestasi langsung dari ajaran dan praktik perdamaian itu sendiri. Berbagai rujukan, pemahaman, penafsiran atas ayat dan hadis serta praktek di atas menjadi bukti kuat bahwa dalam pandangan Allah Swt dan Rasulullah Muhammad Saw, salah satu ciri muslim sejati adalah mereka yang senantiasa mewujudkan cinta kasih dan hidup damai berdampingan, baik dengan saudaranya muslim maupun dengan lingkungan warga sekitar, termasuk dengan mereka yang berbeda suku, agama dan keyakinan. Sehingga terciptalah masyarakat yang harmonis, saling menjaga dan melindungi harkat dan martabat masing-masing.

 

Ust. Dr. Badrus Samsul Fata, MA, pengajar Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

e-Buletin Jumat edisi 35, tanggal 01 Oktober 2021 M. / 24 Safar 1443 H. dapat diunduh disini

Teladan Rasulullah Soal Cinta Tanah Air

Cinta tanah air adalah naluri di dalam diri manusia, berdetak di hatinya, dan mengalir di dalam darahnya. Meskipun tanah air itu kering dan tandus seperti padang pasir, atau di dalamnya terjadi banyak musibah dan penderitaan, jika seseorang meninggalkannya untuk suatu kebutuhan, kerinduan terhadap tanah airnya yang diiringi irama nostalgia akan senantiasa menyandera hatinya. Tanah air adalah tempat ia dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Tanah air mempunyai kenangan tak terlupakan, di dalamnya ada anak, orang tua, kakek-nenek, sahabat, teman, dan orang-orang yang dicintai.

Bukanlah sesuatu yang aneh ketika cinta tanah air bersemayam dan bertahta di hati Rasulullah Saw. Beliau pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah airnya di awal-awal beliau melakukan dakwah dan pada saat beliau baru mulai melakukan hijrah. Pada masa awal turunnya wahyu di Gua Hira, Rasulullah Saw. pergi bersama istrinya Sayyidah Khadijah ra. menemui Waraqah ibn Naufal. Beliau menceritakan apa yang beliau alami terkait turunnya wahyu melalu Jibril as. Waraqah mencoba menjelaskan hal itu dan berkata, “Itu adalah Namus (Jibril) yang telah diutus kepada Musa. Seandainya aku masih [muda dan masih hidup] ketika kau diusir oleh kaummu!” Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah betul mereka nanti akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Betul! Setiap orang yang menyampaikan hal yang serupa dengan apa yang kau sampaikan ini pasti akan dimusuhi. Seandainya aku mendapati hari itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat-kuatnya,” [HR. al-Bukhari].

Di dalam kitab “Syarh Shahih al-Bukhariy”, al-Safiri memberikan komentar atas hadis tersebut, “Pertanyaan Rasulullah Saw. itu adalah satu bentuk istifham inkariy, yaitu seolah-olah beliau tidak membayangkan akan dikeluarkan (diusir) tanpa sebab dari tanah yang sangat beliau cintai yaitu Tanah Haram yang di dalamnya berdiri Baitullah, negeri moyangnya yaitu Ismail as. [Atas dasar kecintaan beliau kepada Makkah], sangat sulit menemukan suatu alasan baik pada waktu yang telah lewat maupun pada waktu mendatang yang bisa membuat beliau diusir [dari Makkah]. Justru yang tampak dari beliau adalah kebaikan-kebaikan yang nyata dan keluhuran-keluhuran yang membuat beliau seharusnya dihormati dan dimuliakan dengan derajat yang paling tinggi.”

Pada malam beliau melakukan hijrah ke Madinah, sesampainya di pinggiran kota Makkah beliau berhenti sejenak sembari menghadap bumi Makkah, mengingat kembali semua kenangan yang pernah beliau alami yang membuat hati beliau seperti tersayat. Kemudian beliau mengucapkan kata-kata yang menggambarkan rasa cinta beliau yang sangat mendalam dan rasa rindu yang sangat besar kepada tanah yang di atasnya hidup keluaga dan sahabat-sahabatnya, tanah tempat beliau lahir dan menjadi pemuda, tanah yang di atasnya berdiri Baitullah, “Demi Allah, sungguh aku tahu kau adalah tanah Allah yang terbaik dan sangat dicintai-Nya. Kalau tidak karena pendudukmu mengusirku darimu, aku tidak akan pernah pergi [darimu].”

Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata,

Kau adalah negeri terbaik yang sangat aku cintai! Kalau tidak karena kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu,” [HR. al-Tirmidzi].

Ucapan beliau ini jelas menunjukkan kecintaan beliau terhadap negeri dan tanah air beliau, Makkah, sebagaimana juga menunjukkan kesedihan beliau yang amat sangat mendalam karena terpaksa harus meninggalkannya.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. sampai di Juhfah dalam perjalanannya menuju Madinah, kerinduan kepada Makkah kembali mendera jiwanya, beliau sangat sedih dan berduka. Maka Allah Swt. kemudian menurunkan sebuah ayat untuk menenangkannya, “Sesungguhnya Zat yang mewajibkan atasmu [melaksanakan hukum-hukum] al-Qur`an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah),” [QS. al-Qashash: 85].

Ali ibn Abi Thalib ra. berkata, “Di antara kemuliaan seseorang adalah ratapannya atas masa yang telah dilaluinya, kerinduannya kepada tanah airnya, kesetiaannya menjaga hubungan baik dengan saudara-saudaranya.”

Al-Dzahabi berkata, “Beliau (Rasulullah Saw.) mencintai Aisyah, mencintai ayah Aisyah (Abu Bakr al-Shiddiq), mencintai Usamah, mencintai kedua cucunya (Hasan dan Husein), menyukai kembang gula (manisan) dan madu, mencintai bukit Uhud, dan mencintai tanah kelahirannya (Makkah).”

Rasulullah Saw. sangat mencintai tanah airnya, sangat berat meninggalkannya. Beliau terpaksa meninggalkannya karena diusir setelah menerima banyak siksaan dari kaum musyrik Makkah, dan beliau bersabar dan senantiasa berharap mereka mau menerima ajakan beliau untuk memeluk Islam. Tetapi mereka menolak, tetap membangkang, dan terus menyakiti beliau dan para sahabat beliau. Maka tidak ada yang bisa beliau lakukan kecuali hijrah meninggalkan Makkah demi menjaga agama, dakwah, dan sahabat-sahabatnya. Hijrah beliau ke Madinah bukan keinginan pribadi beliau sendiri, melainkan karena perintah Allah Swt. sebagai bagian dari strategi dakwah Islam. Di Madinah beliau membentuk komunitas Muslim yang kuat dan bersama dengan suku dan agama lain beliau merumuskan perjanjian bersama yang disebut dengan Piagam Madinah dan berisi kontrak sosial yang disepakati oleh masyarakat Madinah yang plural, menjunjung toleransi lintas agama dan etnis serta menghargai hak-hak dasar seluruh warga. Di Madinah, beliau dan umat Muslim diakui, dihargai, dan tidak didiskriminasi.

Meski demikian, beliau tidak terlena dengan perlakuan masyarakat Madinah yang menerima beliau dengan sangat baik. Sepanjang waktu beliau terus memikirkan tanah airnya, Makkah. Dengan berbagai upaya dan strategi akhirnya tercapailah penaklukan kota Makkah, atau Fath Makkah. Beliau kembali ke Makkah untuk membebaskan kaumnya dari kebodohan dan amoralitas. Sebagai bentuk cinta beliau terhadap penduduk tanah airnya, walaupun kemenangan ada dalam genggaman namun pada saat itu beliau mengumumkan hari kasih sayang (yawm al-marhamah) dan bukan hari pembalasan dendam (yawm al-malhamah). Beliau melarang umat Muslim melakukan kekerasan dan balas dendam pada para penduduk Makkah, dan memerintahkan agar memaafkan penindasan yang pernah mereka lalukan sebelumnya.

Terdapat sebuah jargon yang menegaskan doktrin Islam mengenai cinta tanah air, “Cinta tanah air merupakan bagian dari iman.” Meskipun ini bukan hadis, hanya kata mutiara yang berasal dari para bijak bestari, namun prinsip tersebut tercermin dari sikap Rasulullah Saw. Mengingat sunnah adalah ucapan, perbuatan, dan kebiasaan Rasulullah Saw., maka jargon tersebut dapat dikategorikan sebagai hadis haliy/fi’liy (perbuatan), sebab tindak tanduk Rasulullah Saw. mencerminkan kecintaan beliau terhadap tanah air. Karena itulah setiap warga negara harus rela berkorban demi mempertahankan tanah air, sebagaimanan dianjurkan oleh agama. Di dalam al-Qur`an Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu [jumlahnya] karena takut mati, maka Allah berfirman, ‘Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka,” [QS. al-Baqarah: 243 – 244].

Ayat ini menyiratkan perintah untuk mempertahankan tanah air, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Menurut Syaikh Musthafa al-Ghulayaini, nasionalisme (al-wathanîyyah) adalah salah satu naluri manusia yang universal. Orang yang sungguh-sungguh mencintai tanah airnya akan membuktikannya dengan sikap dan perbuatan yang positif bagi tanah air dan penduduknya, misalnya dengan memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang menjadi kunci menuju kemerdekaan yang sejati yaitu kemerdekaan ekonomi dan politik.

Ust. Roland Gunawan,

alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir;

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta.

 

e-Buletin Jumat edisi 34, tanggal 24 September 2021 M. / 17 Safar 1443 H. dapat diunduh disini

Amal Sebagai Bekal Kematian

Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang memperdayakan.” (QS. Ali-Imran: 185)

 

 

Selama pandemi Covid-19, sudah puluhan ribu warga negara Indonesia yang meninggal. Sampai hari ini, pandemi Covid masih berlangsung dan tidak ada satu pihak pun yang dapat memprediksi secara sahih kapan situasi ini akan berakhir.

Sejak kasus positif pertama di Indonesia diumumkan awal Maret tahun lalu, kematian akibat penyakit ini pun masih terus bermunculan setiap hari.

 

Berpijak pada kutipan ayat di atas, tulisan ini secara tegas mengajak pembaca untuk merenungkan makna kematian sebagai suatu kepastian yang bisa mendatangi kita kapan saja, dan di mana saja.  Kematian pada dasarnya adalah peristiwa universal yang akan dihadapi semua manusia hidup, tetapi konseptualisasi manusia mengenai peristiwa ini dapat beragam secara kultural dan kontekstual. Orang-orang Amerika Serikat, misalnya, memandang bahwa kematian adalah sebagai awal kehidupan, sedangkan orang-orang Polandia melihat kematian sebagai akhir atau penyerahan diri.

 

Di samping relativitas kultural terhadap konsep kematian, konseptualisasi terhadap kematian ini juga bervariasi secara kontekstual seperti dalam ranah agama. Sebagai contoh, karena agama Hindu dan Buddha mempercayai adanya reinkarnasi, kematian dipandang sebagai proses dari siklus perjalanan manusia sebelum ia kembali dilahirkan di dunia. Namun, karena agama Islam tidak mengenal konsep reinkarnasi, kematian tidak dipahami seperti siklus. Selain pandangan kematian sebagai bagian dari siklus tersebut, pandangan Islam terhadap konsep kematian juga rupanya tidak terbatas pada tidak berfungsinya organ-organ vital (misalnya jantung dan otak) yang mendukung jalannya aktivitas biologis dan neurologis yang kompleks dalam tubuh manusia seperti di dunia kedokteran, tetapi kematian secara umum juga dimaknai sebagai transendensi dari kehidupan (life) ke akhirat (afterlife) yang merupakan tujuan akhir manusia.

 

Kematian adalah sebuah perjalanan panjang menuju alam akhirat. Suatu perjalanan yang banyak aral dan cobaan, yang dalam menempuhnya kita memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Karena keagungan perjalanan ini, Rasulullah telah bersabda:

 

Andai saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Mutafaq ‘Alaih)

 

Allah SWT juga berfirman, “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Surat Al-Baqarah; 28)

 

Dalam Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini menjelaskan akan kekuasaan Allah dan sungguh aneh orang yang ingkar kepada Allah sementara manusia awalnya tiada, lalu Allah menjadikannya ada di muka bumi ini. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kita semua pasti mati. Dan kita semua pasti akan dibangkitkan kembali setelah kematian itu.

 

Mengingat kematian memiliki banyak sekali faedah untuk diri kita. Orang yang selalu ingat kematian maka dia akan berusaha berhati-hati dalam menjalani hidup. Banyak orang lalai dari ketaatan dan tenggelam dalam kemaksiatan tidak lain karena dia lalai dari mengingat mati. Mengingat kematian memiliki banyak faedah, oleh karena itu Rasulullah bersabda:

 

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yakni kematian).” [Riwayat at-Tirmidzi)

 

Dalam Al-Quran, Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 1-2:

 

Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.

 

Salah satu indikator amalan terbaik adalah, pekerjaan itu dilakukan dengan istiqamah. Beramal sebaik mungkin juga berarti bahwa pekerjaan itu kita lakukan dengan seikhlas mungkin, semaksimal mungkin dan dengan sesempurna mungkin. Baik dalam interaksi kita kepada Allah maupun kepada sesama manusia, dalam tiap amal kita patrikan dalam diri kita bahwa bisa jadi itu adalah amal terakhir kita.

 

Di antara yang dapat kita persiapkan adalah dengan memperbanyak amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh yang dapat mendoakan kita kelak. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu mendo`akan orang tuanya.” (HR. Muslim).

 

Sekurang-kurangnya ada 7 Cara Mengingat Kematian, sebagai mana berikut ini; Pertama, Meningkatkan pemahaman tentang kehidupan sesudah mati. Hal ini sesuai dengan  firman Allah SWT; bahwa sesungguhnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa.

 

Kedua, Menjadikan dunia sebagai tempat menanam kebajikan dan tempat persinggahan. Menanam benih-benih kebajikan sangat dianjurkan dalam Islam selagi kita hidup di dunia, karena dengan demikian, kita akan memanen kebajikan itu di akhirat nanti; Ketiga, penting untuk menyadari bahwa kematian itu sangat dekat dengan kita, kapan pun dan di manapun, kematian pasti terjadi;

 

Keempat, dengan membiasakan untuk menjenguk orang sakit baik itu keluarga maupun tetangga dan mendoakannya agar diberi kesembuhan; Kelima, bertakziah kepada yang ditimpa musibah kematian, bisa dengan sukarela ikut mengurus, memandikan, menshalati jenazah dan mengantar jenazah sampai dengan penguburan jenazah. Keenam, membiasakan diri untuk berziarah kubur, utamanya adalah berziarah kepada sanak keluarga yang sudah mendahului kita; atau sesekali berziarah ke makam alim-ulama dan waliyullah di berbagai tempat.

 

Ketujuh, berusaha untuk selalu berdoa agar pada saatnya, kita dijemput kematian yang diridhai Allah SWT, yang khusnul khatimah, terbebas dari siksa kubur dan siksa api neraka; memperbanyak dzikir dan doa yang diajarkan Rasulullah SAW, yang dapat menjadi sarana bagi kita untuk mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya.

 

Mari kita menginstropeksi diri kita masing-masing. Melihat apa yang telah kita siapkan masing-masing. Mari kita evaluasi ibadah kita, evaluasi amalan kita, evaluasi perbuatan kita. Jangan-jangan amal kebaikan kita ternyata masih sangat sedikit. Atau bahkan ternyata dosa dan kesalahan kita masih sangat banyak. Mari kita perbaiki diri dan amal kita masing-masing. Marilah kita siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat, yaitu dengan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah. Dan marilah kita perbanyak taubat dari segala dosa-dosa yang telah kita lakukan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang berat timbangan amal kebaikannya di hari hisab nanti. []

 

Ust. Nanang Isom, Wakil Kepala Pondok Pesantren al-Mukhlishin, Ciseeng, Bogor.

 

e-Buletin edisi 33, 17 September 2021 M. / 10 Safar 1443 H. dapat diunduh disini

Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

“Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus 10:57)

 

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk, bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dengan yangn batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

 

Al-Quran bagi orang Islam adalah pedoman hidup, sumber segala hukum yang harus diikuti dalam hidupnya. Al Qur’an, selain sebagai al-huda (sumber petunjuk), juga merupakan asy-syifa (penyembuh) sebagaimana tertera dalam surah Yunus, ayat 57 di atas. Ibnu Katsir mengatakan, “Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).

 

Al-Quran sebagai pedoman hidup memberikan petunjuk lengkap terhadap aturan-aturan hidup manusia yang dapat menciptakan kehidupan yang nyaman, bahagia dan sejahtera. Hal yang paling penting lagi adalah ketika al-Quran telah disepakati sebagai pedoman hidup umat Islam, maka semua hal dalam kehidupan umat Islam harus menjadikan al-Quran sebagai pedomannya. Termasuk, ketika ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri dalam menerjemahkan al-Quran dan hadis Nabi, termasuk dalam hal hukum fikih, kita harus kembali kepada al-Quran.

 

Al-Quran sendiri memesankan, jika terjadi perbedaan di antara kamu maka kembalilah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (hadis). Paling tidak pesan al-Quran “agar umat Islam bersatu dan jangan berpecah belah” (Ali Imran: 103) dan “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10)

 

Al-Quran adalah sumber pertama dan utama yang mengandung banyak ajaran umum. Oleh karena itu, hadits sebagai sumber ajaran kedua dapat menjelaskan keumuman dari Al-Qur’an itu sendiri. Fungsi tersebut antara lain menjelaskan isi dan menerapkan metode pengajaran yang masih bersifat luas bagi manusia. Setiap muslim diwajibkan untuk mengikutsertakan al-Quran sebagai pedoman hidupnya untuk menjalankan segala aktivitas dalam hidupnya. Bisa digunakan untuk beraktivitas sehari-hari, menjalankan bisnis, hingga dalam adab menuntut ilmu. Semuanya ada unsur pedoman al-Quran di dalamnya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (Az Zukhruf; 43). Berpegang teguh dengan wahyu Allah meliputi al-Quran serta sumber lainnya yang tidak kalah penting pengaplikasiannya, seperti hadist dan ijtihad ulama yang digunakan sebagai penerang hukum Allah.

 

  1. Quraish Shihab menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan hukum Islam, yaitu aturan yang mengatur dunia dan keselamatan hidup di masa yang akan datang. Para ulama meyakini bahwa Al-Quran adalah yang utama dan hadits adalah yang kedua. Kesepakatan mengenai kedudukan tersebut mengacu kepada perkataan Nabi kepada Muadz bin Jabal sebagaimana berikut;

 

Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin Jabal: Bagaimana kamu akan memutuskan perkara jika dihadapkan pada suatu persoalan hukum? Mu’adz menjawab: saya akan memutuskannya berdasarkan kitab Allah (al-Qur’an). Rasulullah bersabda: jika kamu tidak menjumpainya dalam al-Qur’an?. Mu’adz menjawab: maka berdasarkan pada sunnah Rasul. Rasulullah bersabda: jika tidak menjumpainya juga dalam sunnah Rasul? Muadz menjawab: saya akan berijtihad berdasarkan akal pikiran saya.” (HR Imam Abu Dawud)

 

Pemahaman terhadap Al-Quran dan hadis wajib dimiliki oleh seluruh umat yang mengimaninya terlebih sejak dini agar lebih membekas dan bermakna. Allah SWT menurunkan al-Quran untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Al-Quran juga merupakan sebuah mukjizat dari Rasullah SAW yang merupakan perkara luar biasa dari Allah ke Rasullah yang tidak akan bisa ditandingi. Al-Quran memiliki keistimewaan di antaranya adalah susunan bahasanya merupakan kelas sastra tinggi, apabila dibaca akan memberikan nur atau cahaya di hati, sehingga tidak akan membosankan dan ini berlaku hingga akhir zaman. Al-Quran adalah kitab suci terlengkap dan berlaku bagi semua umat manusia sampai akhir zaman. Oleh karena itu, sebagai muslim, kita tidak perlu meragukannya. Firman Allah: Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah/2: 2).

 

Sebagai umat Islam, tentu wajib mengimani dan mempercayai isi al-Quran terlebih lagi telah menjadi pedoman hidup umat Islam. Cara mengamalkan isi al-Quran adalah dengan mempelajari cara belajar membaca (mengaji) baik melalui iqra’, qiraati, atau yang lainnya. Kemudian, mempelajari artinya, menganalisis isinya, dan langsung mengamalkannya.

 

Menjaga kemurnian al-Quran adalah tugas seorang muslim. Salah satu cara menjaga al-Quran adalah dengan berusaha menghormati, memuliakan, dan menjunjung tinggi kitab suci al-Quran. Menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup, dan tidak sekali-kali berpedoman kepada selain al-Quran.   Berusaha untuk membaca al-Quran dalam segala kesempatan serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di waktu sempit maupun di waktu lapang.

 

Aktivitas membaca al-Quran merupakan cara yang paling awal untuk bisa menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Alquran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR Muslim)

 

Al-Quran juga berfungsi sebagai nasihat. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran, nasihat-nasihat, peringatan tentang kehidupan bagi orang yang bertakwa, yang berjalan di jalan Allah. Nasihat yang ada dalam al-Quran biasanya berkaitan dengan sebuah peristiwa atau kejadian. Peristiwa itu bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang di masa sekarang atau masa setelah ini.

 

Menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup, telah menjadi tradisi sejak zaman rasulullah, para sahabat, hingga ulama terdahulu sebagai nilai dasar peradaban islam. Buktinya, mereka tidak hanya sekedar menghafalkan al-Quran saja, namun juga memahami, hingga mengamalkan setiap kandungan ayat al-Quran dalam kehidupannya, serta menuangkan hasil intrepertasinya kedalam buku-buku yang ditulis, sebagai bukti kejayaan peradabaan islam pada masa lalu. Itulah mengapa para sahabat zaman dahulu menjadi orang-orang yang alim ilmunya, sholeh amalnya karena iman dan al-quran masuk menjadi satu. Oleh karena itu, perlu adanya kita mencontoh kehidupan Rasulullah SAW, dan para sahabat yang selalu menjadikan al-Quran bagian hidup, mulai dari tutur katanya, perilakunya hingga pengetahuannya yang selalu terinspirasi dari kandungan al-Quran.

 

Kita semua tentu menyadari dan mengimani bahwa dalam Al-Quran terdapat banyak mutiara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam al-Quran terdapat kebaikan dan ilmu yang banyak, petunjuk dari kesesatan, obat dari penyakit, cahaya untuk menerangi kegelapan dan hukum yang berlaku bagi umat manusia. Mentadabburi ayat-ayatnya, merenungkan maknanya serta memikirkannya, seseorang akan mendapatkan berkah dan kebaikan yang ada dalam Al-Quran.

 

Ust. Nasruddin, Pengurus Masjid Al-Barkah, Cakung, Jakarta Timur

 

e-Buletin Jumat edisi 32, 10 September 2021 M. / 03 Safar 1443 H. dapat diunduh disini

 

 

Pertemuan dengan Presiden Bush dan Kilas Balik Kemudian (I)

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pertemuan itu terjadi dua tahun setelah Presiden George W Bush menginvasi Afghanistan dengan dalih mengejar teroris. Atas prakarsa Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Ralph L Boyce, pada 22 Oktober 2003 di Hotel Patra (Denpasar), diadakan pertemuan tokoh lintas agama dengan Presiden Bush.

Saya salah seorang yang turut pertemuan yang semula direncanakan sekitar 22 menit, tetapi molor sampai 55 menit. Dubes Boyce, sebelumnya beberapa kali bertemu dengan saya di kantor PP Muhammadiyah Jakarta, antara lain, merundingkan pertemuan dengan Bush.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Nama-nama dalam dalam pertemuan itu adalah almarhum KH Hasyim Muzadi (ketua umum PBNU), Prof Azyumardi Azra (rektor UIN Jakarta), DR Nathan Setiabudi (ketua PGI), Ida Pedanda Made Gunung (tokoh Hindu Bali), dan saya mewakili PP Muhammadiyah.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara. Agak di luar dugaan, Presiden Bush sambil nanar menatap wajah kami tak marah, sekalipun dicecar pertanyaan tajam dan kritis, khususnya soal Palestina, invasi atas Irak, Afghanistan.

Pertemuan Denpasar ini, sempat dicurigai sebagian elite politik Indonesia dengan tuduhan macam-macam kepada kami. Jawaban saya ketika itu: “Mana yang lebih kesatria berhadapan langsung dengan ‘musuh’ atau mengepalkan tinju dari balik gunung?”

Para tokoh lintas agama memilih berhadapan langsung. Ini kesempatan baik menjelaskan pandangan kita terhadap Bush, yang namanya telah jadi sasaran kritik global karena politik neo-imperialismenya.

Bush dan Trump sama-sama berasal dari Partai Republik yang dikenal konservatif. Dunia sedikit lega setelah Joseph R Biden Jr (Demokrat) mengalahkan Trump tahun lalu untuk menjadi presiden ke-46 AS.

Untuk pertemuan Denpasar itu, saya menyiapkan konsep tertulis di samping disampaikan secara lisan kepada Presiden Bush. Untuk menyegarkan ingatan tentang suasana politik global pada 2003, versi bahasa Indonesia dari sikap saya terhadap Bush dikutip berikut ini:

“Tuan Presiden George W Bush yang Terhormat,

Terlebih dulu saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus karena telah diundang menemui presiden dari sebuah bangsa besar dan perkasa, pemenang Perang Dingin, setelah komunisme dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan sejarah.

Anda kini berada pada posisi strategis untuk menawarkan sebuah tatanan dunia yang lebih adil dan berimbang, untuk menghapus ketidakadilan dan kemiskinan global yang diderita lebih dua miliar umat manusia di seluruh dunia.

Saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah.

Di tangan Anda juga tergenggam segala dana dan kekuatan untuk memelopori sebuah kultur kearifan global, demi menyelamatkan peradaban manusia yang terancam arogansi kultural, penyalahgunaan demokrasi, dan isu hak-hak asasi manusia sebagaimana diperagakan oleh oleh beberapa negara maju, termasuk Amerika Serikat.

Tetapi, mengapa Anda gagal menumbuhkembangkan suatu kultur kearifan global itu? Setidak-tidaknya ada dua kemungkinan yang ingin saya sampaikan kepada Anda dalam pertemuan bersejarah ini.

Pertama, politik luar negeri Amerika yang terlalu pro-Israel telah menutup mata dan hati Anda untuk mengembangkan dan menunjukkan kepada dunia suatu sikap imbang dan adil terhadap bangsa-bangsa lain, khususnya terhadap rakyat Paestina yang telah menderita demikian lama.

Selama konflik Israel-Palestina tetap saja berlangsung, akan menjadi sangat sulitlah bagi kita untuk melihat sebuah dunia yang damai dalam tempo yang dekat ini.

Kedua, karena ketakutan Anda terhadap ancaman yang mematikan dari terorisme internasional. Tentang isu ini, kita sebagai manusia normal memang punya hak moral memerangi segala bentuk terorisme dan melumpuhkan basis politik-ekonominya, karena perbuatan mereka sepenuhnya anti manusia dan mereka adalah musuh yang sebenarnya dari dunia beradab. Terhadap isu hangat ini, percayalah, saya adalah teman Anda dan berada satu perahu dengan Anda, Tuan Presiden.

Tetapi pada waktu Anda mengirim pasukan untuk menginvasi Irak, Anda tidak diragukan lagi telah melakukan suatu bunuh diri sejarah, dan dunia akan mengenang ini dengan baik sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh mereka, yang mengaku sebagai pembela demokrasi dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia.

Sebagai catatan pungkasan, saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah. Karena itu, bila kita berbicara tentang gejala Usamah bin Ladin dan Taliban pada era Perang Dingin, pertanyaan ini otomatis akan mengemuka: siapa sesungguhnya yang memberikan dukungan kepada mereka dalam upaya mengalahkan pasukan Uni Soviet, musuh Anda yang sebenarnya pada waktu itu?

Saya kira CIA turut bertanggung jawab bagi permainan politik, yang berbahaya dan penuh risiko ini. Tentang masalah ini, saya harap Tuan Presiden berpikir lebih dalam lagi.”

Dunia Sarana Berbuat Baik Untuk Akhirat

Ust. Baitul Rohmi

 

 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashash; 77)

 

Dunia adalah sarana yang akan mengantarkan ke akhirat. Kita hidup di dunia memerlukan harta benda untuk memenuhi hajatnya, di mana semua ini harus kita cari dan kita usahakan. Kehadiran kita di dunia ini jangan sampai menjadi beban orang lain. Maksudnya janganlah memberatkan dan menyulitkan orang lain. Dalam hubungan ini, umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah, sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari.

 

Ayat di atas dengan jelas mengajarkan bahwasannya Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha menggapai kebahagiaan akhirat, tetapi jangan melupakan kehidupan di dunia ini. Meskipun kebahagiaan dan kenikmatan dunia bersifat sementara tetapi tetaplah penting, sebab dunia adalah ladangnya akhirat. Ayat tersebut juga mengajarkan kepada umat Muslim agar berbuat baik kepada sesama manusia, termasuk mereka yang non-Muslim. Tidak ada larangan bagi umat Muslim berbuat kebaikan kepada non-Muslim, bertetangga, bergaul, bahkan bersahabat selama mereka tidak mengajak kepada hal yang berbau maksiat atau melarang umat Muslim beribadah.

 

Allah berfirman, Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Al-Mumtahanah; 8)

 

Dalam tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah, mengatakan bahwa, “Allah tidak akan melarang untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi agama kalian dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Kalian diperbolehkan bersilaturrahim dengan mereka atau saling mengasihi sesama tetangga. Allah juga tidak melarang kalian memperlakukan mereka dengan adil. Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil dan membersihkan jiwa mereka. Maksudnya adalah Allah tidak melarang untuk mencintai mereka dan memperlakukan mereka dengan adil.”

 

Namun, Allah melarang orang-orang beriman yang menjadikan mereka, orang-orang kafir yang tidak bersedia hidup berdampingan secara damai. Yakni mereka yang memerangi karena faktor agama, tidak ada kebebasan, penghormatan terhadap yang berbeda keyakinan dan toleransi beragama. Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, karena kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan, maka mereka itulah orang zalim terhadap perjuangan Islam dan umat Muslim.

 

Allah telah menciptakan dunia dan seisinya adalah untuk manusia, sebagai sarana menuju akhirat. Allah juga telah menjadikan dunia sebagai tempat ujian bagi manusia, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya, siapa yang paling baik hati dan niatnya. Allah juga mengingatkan perlunya manusia untuk mengelola dan menggarap dunia ini dengan sebaik-baiknya, untuk kepentingan kehidupan manusia dan keturunannya. Pada saat yang sama Allah juga menegaskan perlunya selalu berbuat baik kepada orang lain, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

 

Sebagai sarana hidup, Allah SWT melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi. Mereka boleh mengelola alam, tetapi untuk melestarikan dan bukan merusaknya. Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah SAW melihat seorang sahabat sedang mempermainkan seekor anak burung. Beliau lantas berkata, “Siapa yang menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikanlah anak burung ini kepada induknya!” Begitu pun ketika beliau melihat sarang semut yang telah dibakar oleh para sahabat beliau. Rasulullah pun bersabda, “Siapa yang membakar ini?” Para sahabat menjawab, “Kami.” Beliau bersabda lagi, “Tidak boleh menyiksa dengan api, kecuali Rab pemilik api.” (HR Ahmad).

 

Nabi Muhammad SAW memang seorang penyayang binatang sekaligus pelestari lingkungan. Beliau sangat tegas dalam memberikan teguran dan larangan terhadap hal-hal yang terkait dengan perusakan alam. Beberapa prinsip pelestarian alam dan teladan pelaksanaannya juga telah beliau berikan kepada kaum Muslim.

 

Rasulullah SAW telah memberi tuntunan cara menjalani kehidupan dunia dengan baik dan benar menuju kehidupan akhirat yang abadi. Di antara tuntunannya diceritakan oleh Abdullah bin Umar ra. bahwa suatu ketika Rasulullah SAW memegang pundaknya lalu memberikan dua pesan. Dari Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah SAW pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara. Hadis ini diriwayatkan dan dicatatkan oleh banyak perawi di antaranya Imam Bukhari, al-Tirmizi, Ibn Majah, Ahmad bin Hanbal, Ibn Hibban, al-Baihaqi dan al-Tabrani. Semuanya meriwayatkan hadis ini dari jalur yang sama dari Mujahid dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW.

 

Rasulullah berpesan agar supaya menyikapi kehidupan dunia dengan menjadi laksana orang asing atau menjadi pengembara yang melintasi suatu tempat. Orang asing adalah seseorang yang tidak memiliki rumah sendiri, tidak punya tempat tinggal sendiri, tidak punya negeri yang didiami secara pribadi. Fisiknya berada di negeri yang asing, tapi hatinya tidak terpikat dengan negeri asing tersebut. Keberadaannya yang sementara di negeri asing dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berbuat baik sebagai bekal menuju ke kehidupan selanjutnya.

 

Ibnu Rajab berkata, “Dunia bagi orang beriman bukanlah negeri untuk menetap, bukan pula sebagai tempat tinggal. Orang bertaqwa memposisikan diri sebagai seorang garib (orang asing) yang tinggal sementara di negeri asing, lalu semangat mempersiapkan bekal dan amal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya.”

 

Bagi orang yang beriman kepada Allah, tiada waktu yang boleh terlewat sedikit pun di dunia ini kecuali harus bernilai ibadah, baik ibadah yang bernilai ritual-vertikal maupun sosial-horisontal di hadapan-Nya. Setiap kegiatan yang dijalani harus bernilai ibadah, sehingga menjadi pengundang datangnya pertolongan Allah selama hidup di dunia maupun nanti di akhirat. []

 

Ust. Baitul Rohmi, Guru Ngaji di Pondok Aren, Bintaro

 

e-Buletin Jumat edisi 31 – 03 September 2021 M. / 25 Muharam 1443 H. dapat di unduh disini

Aiptu Eko Yulianto dan Covid-19

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Nama lengkapnya Aiptu Eko Yulianto, SH (44). NRP: 76070278. Saya memanggilnya komandan. Komandan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Dia cepat kaki, ringan tangan.

Komandan tanpa anak buah. Kawasan jelajahnya Kelurahan Nogotirto, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, sejak 2016. Inilah peta Nogotirto yang menjadi desa binaannya itu. Luasnya 3,49 km persegi, jumlah penduduk 14.916 orang. Diperkirakan 4.274 jiwa per km persegi.

Desa ini terdiri atas tujuh pedukuhan. Dengan luas kawasan dan jumlah penduduk sekian itu, komandan ini pasti sibuknya setengah mati saban hari. Kadang-kadang juga bertugas malam hari, bergantung pada masalah yang dihadapi warga.

Komandan ini pernah bertugas di Aceh sebagai anggota Brimob. Sebagai polisi lalu lintas, sudah pula dijalaninya. Dia di antara anggota polisi yang baik, penuh dedikasi, ramah, gaul, dan siap menolong siapa saja.

Sejak Indonesia dilanda Covid-19, kesibukan komandan ini melebihi biasanya. Siang dan malam berurusan dengan korban pandemi ini, termasuk mengurus jenazah untuk dimakamkan. Badannya kekar, kulit agak hitam, asal Klaten, Jawa Tengah.

Siang dan malam berurusan dengan korban pandemi ini, termasuk mengurus jenazah untuk dimakamkan. Badannya kekar, kulit agak hitam, asal Klaten, Jawa Tengah.

Pernah terpikir untuk meninggalkan kepolisian dan bertarung menjadi kepala desa di Klaten. Namun, saya katakan agar niat itu dilupakan saja. Menjadi polisi itu tugas mulia.

Sabtu pagi, 28 Agustus 2021, rampung menerima tamu Menhub Budi Karya Sumadi yang didampingi DR Asmul Khairi selama sekitar satu jam, terjadi pembicaraan santai saya dengan komandan ini seputar pandemi dan korbannya yang telah dijalaninya sejak Maret 2020.

Sungguh mengusik perasaan, betapa aneka ragamnya perilaku orang terpapar pandemi ini, termasuk ayah kandung komandan yang semula tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Dengan susah payah, komandan meyakinkan ayahnya, seperti terbaca dalam dialog dalam bahasa Jawa yang kira-kira bunyinya begini: “Yen bapak mboten kerso dijak teng rumah sakit, kulo tinggal mawon.”

Lalu si ibu yang lagi ada masalah jantung menyela: “Bapakmu ojo dimarahi, le!”

Singkat cerita, sang ayah akhirnya bersedia diperiksa dan diobati. Sekarang sudah pulih.

Ini baru secuil kejadian tentang betapa sukarnya sebagian rakyat kita disadarkan soal bahaya maut pandemi ini. Bahkan, sampai hari ini, masih ada juga yang tidak percaya adanya virus itu, sekalipun yang wafat di Indonesia saja sudah sekitar 130 ribu.

Komandan melanjutkan ceritanya tentang keluarga lain yang terpapar. Semula hanya seorang yang terjangkit. Lalu diminta agar mau diisolasi secara gratis di tempat yang telah tersedia. Apa jawab keluarga ini? Kami tidak bisa berpisah. Akibatnya, tujuh anggota keluarga itu tertular semua. Komandan dengan segala cara telah berupaya meyakinkan keluarga ini, tetapi menemui jalan buntu.

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan.

Ada lagi kasus imam masjid yang wafat karena virus ini sekitar dua pekan lalu. Istrinya juga terpapar, masih dalam perawatan. Saat artikel ini ditulis, belum diberi tahu oleh anak-anaknya bahwa suaminya telah wafat. Khawatir akan menambah parah sakitnya. Ini sebuah drama akibat Covid-19.

Covid-19 ini tidak punya rasa takut, kecuali kepada masker, air mengalir, sabun, dan jarak dua meter. Karena sudah berlangsung satu setengah tahun berurusan dengan pasien virus ini, komandan sudah cukup piawai menjalankan tugasnya. Tentu dengan prokes.

Dia diberi sepeda motor dinas yang cukup besar, entah berapa cc. Jika diperlukan, dia gunakan mobilnya sendiri untuk menolong pasien. Sepanjang pengetahuan saya, polisi yang satu ini tidak pernah mengeluh.

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan. Sudah sejak 2016, saya bersahabat dengan polisi, dari tingkat bintara, perwira, sampai mereka yang berbintang empat.

Sampai hari ini, beberapa kapolres masih saja melakukan kontak dengan saya. Yang sedikit menyulitkan saya adalah permintaan rekomendasi dari sementara mereka untuk pendidikan lanjut, jadi kapolres, pindah tugas, dan sejenis itu.

Mungkin di mata mereka, saya punya jaringan di Mabes Polri, padahal itu perkiraan yang belum tentu benar. Saya bukanlah calo untuk urusan semacam ini. Tidak punya bakat sama sekali, di samping ada perasaan kurang enak dengan petinggi Polri.

Maka usul saya kepada Mabes Polri, anggota kepolisian tipe komandan ini bisa diberi kenaikan pangkat istimewa untuk menghargai pengabdiannya yang luar biasa dan tanpa pamrih, untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Bagaimana selanjutnya dengan sosok polisi yang kita bicarakan ini? Sudah sekitar lima tahun, saya kenal. Tidak pernah terbetik minta rekomendasi itu.

Maka usul saya kepada Mabes Polri, anggota kepolisian tipe komandan ini bisa diberi kenaikan pangkat istimewa untuk menghargai pengabdiannya yang luar biasa dan tanpa pamrih, untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Peran sebagai pejabat Bhabinkamtibmas ada enam. Di antaranya, menjalankan penyuluhan pada masyarakat, melaksanakan penertiban masyarakat, dan yang nomor enam adalah melaksanakan tugas umum kepolisian dalam memberi pelayanan, perlindungan kepada masyarakat.

Karena rumusan peran ini dibuat sebelum merebaknya pandemi, tampaknya butir nomor enam inilah yang dijadikan pegangan menghadapi masalah musibah yang tidak diperkirakan sebelumnya akan begini dahsyat. Selamat mengabdi komandan!

Islam Mengajarkan Cinta Damai

K.H. Dr. Ahmad Ali M.D.

 

Islam, sesuai namanya, berakar kata al-silm berarti damai, dan selamat. Dalam bentuk fi’il (kata kerja): Aslama yuslimu islâm berarti berbuat damai, menyelamatkan, dan masuk Islam, menyerahkan diri secara total pada Agama Tauhid untuk keselamatan dunia dan akhirat. Islam sebagai agama (al-Dîn) membawa misi rahmatan lil ‘alamin (menebarkan kedamaian, ketenteraman dan kasih sayang bagi umat manusia dan semesta alam).

Al-Qur’an, firman Allah Taala, sumber utama ajaran Islam, dimulai dengan ayat Bismillâhir Rahmânir Rahîm, mengajarkan agar kita memulai sesuatu kebaikan dengan menyebut nama Allah, Bismillâh. Bahwa Allah Yang Maha Rahman dan Rahim, Pengasih lagi Penyayang.  Ayat ini menegaskan bahwa dalam memulai dan melakukan setiap pekerjaan apa pun, yakni perbuatan yang baik, harus mengingat keagungan Allah Taala sebagai Sang Penebar kasih sayang. Kata Bismillâh hakikatnya mempunyai dua makna sekaligus, yaitu mengingat keagungan Allah, yang merupakan ekspresi (ungkapan) tentang esensi (hakikat) iman itu sendiri. Iman mensyaratkan kepercayaan dan keyakinan pada keesaan Tuhan, dan memahami sifat Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya keagungan Tuhan tersebut dijelaskan dalam sifat-Nya yang mengajarkan kasih sayang dan kerahmatan. Ayat ini mengajarkan kita untuk membumikan kasih sayang sebagai ekspresi iman. Juga agar kita menciptakan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dunia ini.

Oleh karena itulah membunuh jiwa tanpa hak (alasan kebenaran) diharamkan dalam Islam. Allah Taala berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (QS. Al-Isrâ’: 33)

Yang dimaksud dengan alasan yang benar, adalah seperti qishâsh (membunuh sebagai balasan hukuman yang setimpal terhadap kejahatan pembunuhan), terorisme maupun kejahatan narkotika.

Pada ayat lainnya, yaitu QS. Al-Furqân  ayat 68-70 berisi penegasan bahwa orang yang melakukan pembunuhan bukan karena alasan yang benar maka mendapat hukuman yang berat, azab dan kenistaan di hari Kiamat, akibat kejahatannya itu.

Hadis atau Sunnah, yakni sabda Nabi Muhamamd SAW, tindak tanduk beliau dan persetujuan beliau, sebagai sumber utama kedua ajaran Islam setelah Al-Qur’an menjelaskan pengertian orang muslim yang benar (lebih utama). Rasulullah SAW bersada:

Seorang muslim yang benar keislamannya ialah apabila orang-orang muslim selamat (merasa damai) dari gangguan lisan dan tangannya. (HR al-Bukhâri, Muslim, dan al-Nasâ’î, dari Ibn ‘Umar r.a, dan al-Tirmîdzî dari Abû Hurairah r.a.)

 

Dalam redaksi Imam al-Bukhârî yang lain, dari Abû Mûsâ Para sahabat bertanya: Yâ Rasûlallâh: Islam manakah yang lebih utama? Dijawab: yaitu (Islamnya) sesorang yang orang-orang muslim lainnya selamat (aman) dari gangguan lisannya dan tangannya. Dalam riwayat al-Tirmîdzî disebutkan: “Dari Abû Mûsâ al-Asy’arî bahwa Nabi SAW ditanya  orang-orang muslim yang manakah yang lebih utama? Nabi menjawab: yaitu Orang muslim yang benar keislamannya ialah apabila orang-orang muslim selamat (merasa damai) dari gangguan lidah dan tangannya.  Dalam riwayat al-Tirmîdzî yang lain disebutkan: “Dan orang mukmin yang utama itu adalah orang yang bilamana manusia merasa aman darah (nyawa) mereka dan harta mereka.”

Sunnah (Hadis) Nabi S.a.w, dalam riwayat al-Tirmîdzî memerintahkan agar manusia menebarkan kedamaian, ketenteraman, menjalin dan mempererat tali silaturahim dan memberi makan orang yang membutuhkan. Inilah amalan yang diajarkan Islam untuk mengantarkan kita, pelakunya masuk ke dalam surga.

 

Dalam menegakkan ajaran Islam, ada konsep tentang amar makruf nahi munkar, yakni menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Mengenai amar makruf nahi mungkar, Hadis Nabi S.a.w. yang diriwayatkan oleh Abû Sa`îd al-Khudzrî tentang amar makruf nahi munkar dengan tangan, lisan, dan hati, dijelaskan secara baik oleh Syaikh `Abd al-Qadir al-Jîlânî al-Hasanî. Menurut beliau, amar makruf-nahi munkar itu dilakukan sesuai dengan kompetensi/kecakapan atau kewenangan masing-masing orang. Nahi munkar dengan tangan atau senjata dilakukan oleh penguasa/aparat berwenang. Nahi mungkar dengan lisan (ucapan), nasehat, ceramah, pidato bijaksana, dilakukan oleh ulama, dan kaum intelektual. Sedangkan nahi munkar dengan hati (yaitu pengingkaran dengan hati terhadap suatu kemungkaran) dilakukan oleh orang biasa (orang awam).  Jadi, dakwah dan jihad Islam yang benar adalah ajakan atau seruan untuk mengamalkan ajaran Islam dengan cara hikmah/kebijaksanaan, mau‘izhah hasanah (petuah yang baik) dan perdebatan yang fair dan proporsional. Bukan amar makruf nahi mungkar dengan cara-cara kekerasan, memerangi, membunuh dan menyiksa.

 

Secara jelas kaidah fikih menegaskan: dar’ al-mafâsid muqaddamun ‘alâ jalb al-mashâlih, menolak kemafsadatan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan. Juga kaidah al-mashlahah al-‘âmmah muqaddamatun ‘alâ al-mashlahah al-khâshshah (kemaslahatan publik lebih diprioritaskan daripada kemaslahatan privat). Kaidah ini merupakan derivasi atau turunan dari kaidah fikih al-dharâru yuzâlu, madarat harus dihapus, yang didasarkan pada hadis Nabi SAW, lâ dharara walâ dhirâr, tidak boleh berbuat kerusakan pada diri sendiri dan/atau orang atau pihak lain, tanpa alasan yang dibenarkan (hak).

Bahkan Islam juga memerintahkan manusia untuk mempererat tali persaudaraan, melalui silaturahim. Silaturahim secara luas bermakna bekerjasama dalam kebaikan, dan berbuat untuk kemajuan bersama, tanpa mengenal perbedaan agama dan keyakinannya. Dalam konteks umat seagama, sesama orang mukmin, umat Islam adalah bagaikan satu bangunan, yang saling menopang sehingga bangunan itu berdiri kokoh. Maka, orang yang memutuskan tali silaturahim disabdakan oleh Nabi, ia tidak akan masuk surga (“lâ yadkhul al-jannata qâthi‘”, HR. al-Bukhârî). Apalagi orang yang berbuat anarkhis, terorisme, bahkan serangan dan pemunuhan sadis adalah perbuatan yang sangat zalim dan terkutuk. Secara syar’i, tentu tidaklah ia akan masuk surga, karena unsur membunuh dengan sengaja terhadap nyawa manusia tanpa alasan yang hak (benar), melebihi pemutusan tali silaturahim.

Wacana, aksi dan dukungan terhadap ISIS dalam konteks Indonesia, bertentangan dengan empat dasar/ landasan atau pilar kebangsaan kita (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945). Keempat landasan/pilar kebangsaan ini, ditinjau dari perspektif Islam, adalah bentuk kesepakatan (kalîmatun sawâ’, common platforms) yang wajib dijunjung tinggi, ditegakkan dan dipatuhi oleh umat Islam dan umat lainnya sebagai warga negara Indonesia (WNI). Dasarnya ialah Hadis Nabi s.a.w.: ”Perjanjian/persepakatan boleh dilakukan di antara orang-orang Islam kecuali perjanjian/persepakatan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan orang-orang Islam (orang-orang mukmin) wajib menegakkan persepakatan mereka kecuali persepakatan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. al-Tirmidzî dan Abû Dâwud).

Atas dasar ini, segala wacana, sikap dan tindakan yang mengarah pada pengabaian keempat landasan/pilar kebangsaan tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari pengingkaran terhadap kalîmatun sawâ’ (common platforms), yang hukumnya haram. Dengan cara ini, kita dapat berperan besar dalam menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis dan bermartabat dalam tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Semoga kita, keluarga kita, masyarakat dan bangsa kita dan umat Islam diberi pertolongan oleh Allah Taala menjadi orang-orang yang mendapat hidayah dan inayah (pertolongan)-Nya menjadi pribadi-pribadi, masyarakat, bangsa dan umat yang menebarkan kedamaian, yang dengan itu pula akan mengantarkan kita memperoleh ridha Ilahi. Amîn.

 

K.H. Dr. Ahmad Ali M.D., pengasuh Pesantren Progresif Madania Tangerang, Pengurus Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI MUI)

 

e-Buletin Jumat edisi 30, 27 Agustus 2021 M. / 18 Muharram 1443 H. dapat diunduh disini

Vaksinasi Merata, Bangsa Kembali Tersenyum

Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum.

OLEH SYAFII MAARIF

Memang tidak ada jaminan vaksinasi akan membebaskan seseorang dari terpapar Covid-19 dengan segala variannya. Namun, dengan vaksinasi, setidaknya kita punya kepercayaan diri melebihi mereka yang belum divaksin.

Adapun mereka yang tidak mau divaksin atau tidak percaya pandemi, sulit dipahami nalar sehat. Sikap semacam ini tentu semakin membuat pemerintah kesulitan menolong rakyatnya secara merata.

Padahal, korbannya untuk Indonesia saja yang wafat sampai 22 Agustus 2021 sudah 125.342 dari 3.967.048 yang positif dan pasien yang sembuh, alhamdulillah, cukup tinggi, yaitu 3.522.048.

Namun, dalam dua hari terakhir pada tanggal itu, angka kematian di Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 1.361, sementara di Amerika 500, India 401, dan Jerman hanya delapan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 272 juta, persentase yang terpapar itu memang relatif kecil, tetapi bahaya selalu di depan mata. Tak seorang pun yang kebal dari serangan virus ini, apalagi dalam varian Delta yang daya tularnya begitu cepat dan lebih ganas.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Saya sejak Maret 2020 tidak berani pergi ke bank atau swalayan, sekalipun sudah disuntik sekali dan mantan OTG lagi. Untung, ada saja jalan untuk mengatasi keperluan yang mendesak. Kelakuan virus ini tidak selalu mudah dipahami orang awam seperti saya.

Ada misalnya, seorang Jenderal Solihin GP (96) dan istrinya (94) sama-sama terpapar, alhamdulillah bisa sembuh. Puji Tuhan. Di sisi lain, ada anak muda sehat yang terpapar, hanya selang beberapa waktu sudah wafat.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD (alat pelindung diri) sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Dengan jumlah penduduk seperti dalam angka di atas, biaya untuk vaksinasi per dosis Rp 321.660 plus pelayanan Rp 117.910. Total Rp 439.570 X 272.000.000 = Rp 119.563.040.000.000.

Hitung saja untuk tiga kali vaksinasi bagi setiap penduduk, kita akan menemukan angka rupiah raksasa yang harus dipikul negara, demi menolong rakyatnya. Sebegitu jauh, belum ada opsi lain, kecuali vaksinasi.

Obat-obat herbal yang ditawarkan baik saja, tetapi vaksin yang telah diuji di laboratorium tentu lebih bisa diproduksi dalam jumlah besar. Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum, sekalipun harus tetap dengan prokes ketat.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

Dalam suasana masih berkabung ini, sebaiknya kita bahu-membahu, bersatu dengan tingkat solidaritas tinggi untuk menolong sesama. Ambisi politik kekuasaan yang tak terkendali sepatutnya dihentikan dulu.

Namun, pemerintah mesti mau mendengarkan saran dari mana pun untuk terus membenahi cara kerja dalam penanganan musibah yang sedang mengancam ini.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Semboyan: “Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh” adalah cara pemerintah agar kita semua tidak larut dalam kesedihan. Optimisme wajib dibangun. Kita, insya Allah bisa melepaskan diri dari serangan Covid-19 ini.

Sekalipun kita selalu dinasihati agar tidak panik, tidak gelisah, dan tetap bersemangat menjalani hidup sehari-hari, dengan melihat korban berguguran setiap saat, siang dan malam, perasaan setiap kita pasti akan guncang juga.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Alhamdulillah, saat artikel ini ditulis, keadaan mulai membaik, tetapi kepatuhan terhadap prokes harus tetap ketat. Sekuat-kuatnya orang, pasti akan terpengaruh juga oleh drama-drama yang tidak dikehendaki ini.

Yang perlu dijaga, jangan biarkan setiap kita hanyut dalam perasaan. Bersedih boleh, menangis boleh, tetapi sekadarnya. Tokh kematian yang datang hanya sekali itu, pasti akan mengunjungi setiap kita.

Maka itu, saat masih sehat, masih bisa bernapas bebas, menjalani vaksinasi bagi saya adalah sesuatu yang wajib. Agama menyuruh kita berobat agar tetap sehat, bahaya sejauh mungkin dielakkan. Tidak boleh menunggu takdir tanpa berusaha.

Sepanjang sejarah umat manusia, serangan virus mematikan ini sudah sekian kali terjadi. Di ujungnya, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta farmasi berhasil menemukan obatnya. Umat manusia terselamatkan.

Ya, inilah tantangan hidup di muka bumi yang menimpa semua bangsa. Tidak peduli yang mengaku beragama atau tidak beragama. Karena itu, yang perlu diingatkan terus agar umat manusia sadar sesadarnya bahwa mereka satu kesatuan.

Egoisme bangsa, negara, dan tingkat kesejahteraan tidak boleh menghancurkan solidaritas semesta. Planet bumi yang satu ini untuk tempat tinggal bersama, tak seorang pun punya hak monopoli atasnya.

Kepada negara yang punya hulu ledak nuklir, Covid-19 berpesan: “Hulu nuklir kalian tidak berdaya menghadapi aku, tetapi aku bisa dilumpuhkan oleh masker, sabun, air mengalir, dan jarak yang dijaga!”

Akhirnya, kita ulang, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini kembali tersenyum!

Membekali Generasi Millenial

Muhammad Alwi HS

 

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”. (QS. Al-An’am: 6)

 

 

Ayat di atas Allah informasikan bahwa generasi Kaum ‘Ad adalah generasi baru yang datang menggantikan generasi kaum Nuh yang sebagian besarnya binasa dengan bencana banjir dunia. Allah beri keistimewaan kepada mereka memiliki postur tubuh lebih kuat dari generasi sebelumnya.  Peralihan generasi itu terus berlangsung dan sampai hari ini telah sampai pada masa kita dan generasi yang sedang bersiap mengambil alih dan melanjutkan estafet perjuangan generasi sebelumnya yang sedang berlangsung. Mereka inilah yang populer disebut generasi Y atau generai Millenial.

 

Tetapi yang terpenting diperingatkan oleh Al-Qur’an adalah tentang karakteristik dan kualitas para generasi tersebut. Di mana peralihan generasi dan kepemimpinan tidak selamanya berlangsung linear (lurus seperti garis) tetapi seringkali terjadi secara sepiral (melingkar) bahkan regresif (bersifat mundur). Pada Surat Al-A’raf ayat ke 168-169 Al-Quran menggambarkan kemunduran yang terjadi pasca peralihan generasi :

 

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. (168) 

 

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?”. (169) 

 

Ayat-ayat di atas berbicara tentang peralihan generasi yang meyedihkan. Di mana generasi pendatang tidak mampu menjaga warisan kekayaan kemuliaan yang ditinggalkan nenek moyang mereka yang telah dibangun dengan fondasi dan nilai-nilai wahyu yang dibawa para Nabi mereka sebelumnya.

 

Apa yang diungkapkan Al-Quran tentang pergantian generasi dan perubahan karakter serta budaya pada umat-umat terdahulu mengandung pelajaran dan peringatan berharga bagi umat Nabi Muhammad yang dipersiapkan sebagai umat terakhir dari perjalanan umat manusia, di mana karakteristik utamanya adalah tidak ada lagi kepemimpinan para Nabi dan Rasul karena sudah diakhiri dengan Nabi Muhammad. Mereka terlahir untuk mewarisi nilai-nilai agung itu berupa sumber ajarannya yang ditinggalkan kepada mereka, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi.

 

“Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka, yang jika kaian pedomani dengan sekuat tenaga, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabinya”.

 

Kita menyadari bahwa generasi milenial sekarang ini tumbuh dan berkembang dengan tanggung jawab, peluang dan tantangan yang berbeda dan bisa lebih berat dari yang dihadapi kita dan yang sebelumnya. Maka tidak mungkin generasi yang hidup dengan zaman dan tantangan yang berbeda dididik dan dipersiapkan dengan cara dan metode tradisisonal yang sudah ketinggalan zaman.

 

Ali bin Abu Thalib berkata, “Sampaikanlah kepada manusia apa yang bisa mereka pahami, sudikah kalian Allah dan Rasul-Nya didustakan manusia karena kesalahan penyampaian kalian”. Umar mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian, karena sesungguhnya mereka akan menghadapi suatau zaman yang berbeda dengan zaman kalian ini”.

 

Generasi milenial adalah generasi yang dilahirkan dalam konteks masyarakat yang sudah terkepung oleh kemajuan teknologi media. Karena karakterisitik generasi ini memang tidak bisa dipisahkan oleh media, tentu media sosial yang kini tengah booming menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam sikap dan perilakunya.  Jika mereka tidak membekali diri dengan pemahaman agama yang benar, mereka akan mudah dipengaruhi oleh ajakan yang menyesatkan. Oleh karena itu, generasi milenial perlu membekali diri dengan pemahaman agama yang baik dan komprehensif. Jangan menjadi generasi yang aktif memberikan bibit kebencian, yang berpotensi memicu terjadinya konflik. Untuk itulah, bijak bermedia sosial perlu diimplementasikan dalam keseharian.

 

Demikian halnya dalam beragama, sesama Muslim pun berbeda-beda pula dalam praktik keagamaan, penafsiran, dan metode dakwahnya. Oleh karena itu, sikap inklusif yang merangkul semua pihak sangat perlu untuk diejawantahkan. Sikap ini menjadi penting karena realitas bangsa ini yang heterogen. Nabi Muhammad dalam kehidupannya telah mencontohkan bagaimana hidup rukun dengan umat lain. Misalnya melalui kesepakatan Piagam Madinah. Piagam ini diwujudkan guna menjamin dan melindungi masing-masing agama dan kepercayaan yang ada di Madinah pada masa itu. Nabi Muhammad saw sama sekali tidak menggunakan pemaksaan dan kekerasan kepada umat lain. Lebih dari itu, Nabi Muhammad mencontohkan akhlak dan etika yang luhur dan mulia. Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (H.R. al-Baihaqi)

 

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah daya kekuatan yang tertanam dalam dan dorongan perbuatan spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. Jadi akhlak merupakan sikap perilaku yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.

 

Oleh karena itu, sudah selayaknya generasi milenial dibekali dengan pemahaman yang komprehensif terhadap ajaran agamanya. Menjadi kelompok masyarakat yang peduli dengan media sosial yang sehat dan berkontribusi terhadap tumbuhnya budaya yang saling menghormati, berakhlak yang baik, dan terbuka terhadap berbagai keberagaman. Generasi milenial harus siap menunaikan tanggungjawab serta memberi solusi terhadap berbagai problema kehidupan umat manusia, khususnya dalam membangun kejayaan umat dan bangsa Indonesia yang menjadi cerminan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

 

Ust. Muhammad Alwi HS, Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

 

e-Buletin Jumat edisi 29, 20 Agustus 2021 M. / 11 Muharram 1443 H.