Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

KH. Mahbub Ma’afi Ramdlan

Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali).

Pernyataan Imam Al-Ghazali di atas bukan lahir di ruang hampa, tetapi karena kegalauannya terhadap sikap para teolog (ahlul kalâm) saat itu yang acapkali mengkafirkan dan menyesatkan pihak-pihak yang dianggap berbeda secara ideologi, madzhab, aliran atau tafsir keagamaan, padahal masih sama-sama pemeluk Islam.

Sebagaimana dimaklumi bersama, istilah kafir lazim disematkan untuk mereka yang berbeda agama. Kendati demikian, beberapa pihak Islam sendiri ada yang gemar mengafirkan orang atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dari sinilah kemudian Imam al-Ghazali mewanti-wanti kepada umat Islam untuk tidak mengkafirkan kepada sesama Muslim sepanjang mereka menyakini bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Imam Al-Ghazali adalah sosok ulama besar yang hidup pada abad ke-11 M. Beliau dikenal dengan pandangan moderatnya. Banyak karya beliau yang dijadikan pegangan oleh umat Islam Indonesia, sehingga  umat Islam Indonesia mempunyai semangat moderatisme yang begitu tinggi dan mendalam.

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, perbedaan cara pandang dalam memaknai agama hendaknya jangan sampai menimbulkan sikap saling mengkafirkan dan menyesatkan. Beliau juga melancarkan kritik pedas kepada orang-orang yang terlibat dalam pengkafiran dan penyesatan semata-mata karena hasutan orang lain.

Hasut, iri dan dengki adalah penyakit hati yang sangat sulit disembuhkan dan merupakan bentuk dari kemaksiatan hati. Semua itu harus dibersihkan dari dalam hati dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT secara intens. Selama hati diliputi rasa hasut, iri dan dengki, seseorang tidak akan sampai kepada hakikat keimanan. Sebab orang beriman adalah orang yang mencintai orang lain laiknya dia mencintai dirinya sendiri. Nabi Muhammad SAW bersabda, lâ yu’minu ahadukum hattâ yuhibba li akhîhi mâ yuhibbu li nafsihî (seseorang tidaklah beriman secara sempurna kecuali dia mencintai orang lain laiknya mencintai diri sendiri), HR. Bukhari.

Karenanya, menurut Imam Al- Ghazali, adalah bodoh jika seseorang beranggapan bahwa hadd at-takfîr(batas pengkafiran) adalah manakala berbeda dengan aliran yang diikuti, baik itu aliran Asy’ariyah, Mu’tazilah, Hanbali dan lain sebagainya.

Dewasa ini, pengkafiran tehadap kelompok yang dipandang berbeda seolah-olah telah dianggap lumrah. Sikap ini muncul untuk mendiskreditkan pihak yang dianggap sebagai lawan. Padahal, menuduh seseorang kafir atau sesat sama halnya dengan menghalalkan darah dan harta orang yang bersangkutan.

Pada zaman terdahulu, aksi pengkafiran dan penyesatan telah memakan korban yang tak terhitung. Sebut saja sebagai misal, Imam Syafii pernah dituduh sesat karena dianggap sebagai pengikut Syi’ah Rafidlah, Imam Abu Hanifah dianggap sebagai pembid’ah dan kafir. Bahkan salah seorang pengikut Imam Abu Hanifah, yaitu Imam Abu Bakar Asy-Syarkhasi harus dipenjara gara-gara tuduhan sesat.

Secara teologis, aksi pengkafiran dan penyesatan jelas bertentangan dengan prinsip ketauhidan yangmenjadi dasar utama seluruh ajaran Islam. Kesaksian seorang muslim bahwa, “Tidak ada Tuhan selain Allah” mengandaikan bahwa tidak ada kebenaran mutlak kecuali kebenaran-Nya.

Di dalam Al-Quran ditegaskan, Sesungguhnya Tuhanmulah yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-Qalâm: 7).

Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, pengertian ayat ini adalah bahwa Allah SWT mengetahui dua golongan dari kalian; yang mendapat petunjuk dan yang sesat. Karena itu, manusia tidak memiliki wewenang untuk menghakimi dan mengintervensi keimanan seseorang, menganggap kelompok lain kafir, sesat atau salah. Sebab, hanya Allah-lah yang berhak memberikan label keimanan atau kekufuran kepada orang lain.

Apakah ada perbuatan yang lebih buruk dari tuduhan kafir atau sesat kepada orang lain? Pengkafiran dan penyesatan merupakan bentuk kazaliman dan harus dihentikan. Mengkafirkan dan menyesatkan orang lain karena perbedaan tafsir terhadap suatu ajaran agama sama halnya dengan membunuh orang tersebut, sebagaimana dikatakan Al-‘Alla bin Ziyad (seorang tabi’in), Tidak ada bedanya antara mengkafirkan seorang muslim dengan membunuhnya.

Sesama muslim adalah saudara. Selama masih mengatakan lâ ilâha illallâh muhammadur rasulullâh,” seseorang tidak layak disebut kafir atau sesat, karenanya darah dan hartanya tetap haram dan harus dihormati.

Pengkafiran dan penyesatan adalah hak prerogatif Allah SWT sebagaimana dijelaskan di atas. Dengan kata lain, tanpa disadari pengkafiran dan penyesatan telah menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemusyrikan. Padahal kemusyrikan adalah musuh utama kemanusiaan dan merupakan dosa paling besar.

Pengkafiran dan penyesatan akan menimbulkan iklim yang tidak sehat bagi keberislaman. Karena pengkafiran akan menimbulkan sikap saling curiga, permusuhan, kekerasan, dan lain sebagainya.

Citra Islam sebagai agama yang toleran dan anti kekerasan ternodai  oleh aksi pengkafiran. Untukmenghindarinya mutlak diperlukan adanya kearifan, kesantunan, dan kedewasaan dalam melihat perbedaan, termasuk juga perbedaan dalam memahami agama dan menafsirkan kitab suci.

Imam Al-Ghazali telah memberikan teladan baik kepada kita semua agar tidak mudah mengafirkan atau menuduh sesat orang lain yang tidak sepaham. Sebagai pengikut Imam Al- Ghazali, umat Islam Indonesia sejatinya meneladani keteladanan beliau. Yaitu keteladanan yang mengedepankan kerukunan, perdamaian dan menghormati perbedaan.

(KH Mahbub Maafi Ramdlan, pengurus MUI Pusat)

Serangan Covid-19 Kategori OTG

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

“OTG seperti saya ini, mungkin yang masih beruntung karena perlindungan Allah belaka.”

Orang tanpa gejala (OTG). Kami sekeluarga sebelumnya sama sekali tak mengira, saya akan termasuk kategori ini.

Ketika istri saya (Hj Nurkhalifah) di-swab pada 11 Februari 2021, sekitar pukul 10.30 WIB, oleh petugas RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, karena sebelumnya berdekatan dengan menantunya yang terpapar, saya hanya ikut-ikutan.

Tidak ada tanda-tandanya. Pusing tidak, panas tidak, sesak napas tidak, batuk tidak. Makan biasa. Lidah dan hidung berfungsi normal. Singkat kata, tidak ada keluhan. Maka, tidak cukup alasan untuk khawatir.

Sorenya, apa yang terjadi? Dr Muhammad Adnan Sp HTT dari PKU menelepon saya, memberitahukan hasil swab. Istri negatif, saya malah positif dengan CT value32,25. Artinya, sudah diserang beberapa hari sebelumnya. Kami semua tentu saja kaget.

Istri saya menjerit. Karena saya sudah berusia 85 tahun plus gula sekalipun terjinakkan, dan batu ginjal, macam-macamlah yang terbayang. Awak yang sudah sepuh ini diserang pandemi lagi, sekalipun dalam bentuk OTG.

Sore itu dalam suasana agak galau karena dalam persiapan isolasi ke PKU malam itu juga, saya masih sempat kirim artikel yang sudah siap untuk Republika, yang kemudian dimuat pada 16 Februari dengan judul: “Muhammadiyah Cabang Babat Sulit Ditandingi”.

PKU Gamping yang baru berusia 12 tahun ini dipilih karena lebih lapang dan sepi. Di lantai tiga, dari jendela menghadap ke utara, kita dengan leluasa memandang Gunung Merapi yang lagi batuk-batuk saat tidak diliputi kabut.

Di ruang ini pula pada Juli 2019, saya pernah dirawat karena batu ginjal. Sebagai OTG, saya harus sendirian tinggal di ruang ini. Sekitar setahun sebelumnya, istri saya juga operasi kedua tempurung lututnya di PKU ini. Hasilnya sangat memuaskan.

Di antara dokter yang mengawasi pasien, ada yang memakai APD seperti pakaian astronaut dengan sepatu botnya dan masker berlapis. Dr Evan Gintang Kumara Sp D dan Dokter Maskur Rahmat Sp D kemudian datang pula Dr Ardorisye Saptaty Fornia Sp P.

Mereka yang pertama mengunjungi saya dan menanyakan, mengapa saya sampai terpapar. Sebelum masuk kamar, ada proses ambil darah dan CT Scan terlebih dulu. Sebuah panorama rumah sakit yang tidak biasa kita lihat sebelum serangan Covid-19.

OTG seperti saya ini, mungkin yang masih beruntung karena perlindungan Allah belaka. Di mana saya terserang dan melalui siapa, tidak bisa dijawab. Sejak Maret 2020, saya patuhi protokol kesehatan. Selalu cuci tangan.

Pergi ke toko swalayan dan ke bank tak berani. Selama lima bulan absen shalat Jumat dan tidak mendekati kerumunan. Jika bersepeda sendirian ke luar rumah biasanya pakai masker. Tamu amat jarang datang. Jika berkunjung dengan jarak aman.

Tamu terakhir awal Februari 2021 adalah Ketua BPK DR Agung Firman Sampurna, bersama pengusaha dermawan Jenderal Fahmi SH. Agak jauh sebelum itu ada kunjungan Kepala BNPT Komjen DR Boy Rafli Amar MH, dengan jarak aman.

Sesudah itu, kunjungan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Komjen DR Rycko Amelza Dahniel MSi, juga menaati protokol kesehatan. Jadi, dugaan saya, terpapar bukan dari para tamu penting itu.

Mereka sebelumnya sudah wanti-wanti untuk sama-sama menjaga jarak. Lalu dari jurusan mana virus ini menyerang? Dalam bahasa Minang, jawabannya adalah antalah yuang (entahlah buyung)!

Perasaan takut pergi ke rumah sakit selama ini harus ditundukkan. Isolasi di rumah jelas tak memadai, sekalipun virus yang datang itu mungkin jenis yang lebih sopan. Ada rasa kasihannya kepada si tua renta ini.

Para dokter dan semua tenaga kesehatan lainnya di PKU Gamping adalah manusia penuh dedikasi. Saya wajib berterima kasih kepada mereka itu. Terlalu banyak jika disebut satu per satu.

Dirut PKU Gamping, Dr Ahmad Faesol Sp Rad, alumnus pandemi ini, terus saja memantau kondisi saya. Untuk staf perawat, cukup seorang saja ditulis di sini: Rubi Yanto dari bagian MPP (manajer pelayanan pasien).

Bung Rubi selalu menanyakan keadaan saya. Tidak sebatas itu, urusan komputer pun dibantunya. Pada 16 Februari pagi, Dr Evan Sp D menemui saya sambil memberitahukan keadaan saya, yang sudah semakin membaik dan boleh pulang sebelum 11 hari.

Untuk swab kedua kali dapat dilakukan di rumah, tetapi tetap mematuhi ketentuan isolasi mandiri. Dalam kamar harus sendiri, piring makan dan gelas untuk minum mesti terpisah, dan lain-lain.

Setelah keluarga berunding, anak kami, Mohammad Hafiz, menyarankan jangan pulang dulu sebelum di-swab lagi di PKU dengan hasil negatif agar semuanya merasa tenang. Dr Evan setuju dengan saran ini.

Pada 20 Februari pagi, Dr Adnan melakukan swab lanjutan untuk saya. Sorenya, alhamdulillah, hasilnya sudah negatif dan saya boleh pulang setelah sembilan hari dirawat. Matur nuwun sanget atas segala kebaikan, atas segala doa.

PKU Gamping untuk sekian kalinya berjasa menjaga kesehatan kami sekeluarga. Hanya Allah yang bisa membalas semua bantuan dan kebaikan itu. Amin.

Sumber:

https://www.republika.id/posts/14430/serangan-covid-19-kategori-otg

MAARIF Institute Gelar Diseminasi Publik Paparan Hasil Asesmen dan Luncurkan Buku “KISAH INSPIRATIF PEMIMPIN PESANTREN: Pembelajaran Rihlah Kiai/Nyai ke Negeri Sakura”

Jakarta, 24 Februari 2021. Indonesia dan Jepang telah lama menjalin hubungan diplomatik dalam berbagai bidang, salah satunya melalui pertukaran budaya. Tiap tahunnya pemerintah Jepang memberi kesempatan Muslim Indonesia untuk berkunjung ke Negeri Sakura. Pesantren menjadi salah satu kelompok utama untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara komunitas Muslim Indonesia dan Jepang.

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bekerjasama dengan pemerintah Jepang menginisiasi program “Pesantren Leaders Visit to Japan”. Program bergulir sejak 2004 hingga kini, dengan rata-rata pemberangkatan 10 orang tiap tahunnya. Sekitar 160-an pemimpin pesantren yang terdiri dari para kiai, nyai, ustadz, dan ustadzah yang tersebar dari berbagai pesantren di seluruh Indonesia telah mengikuti program yang berdurasi, kurang lebih, selama 2 pekan ini.

Selama program berlangsung, meskipun tidak selalu sama setiap tahunnya, para pemimpin pesantren mengunjungi sejumlah situs keagamaan, budaya, sejarah, lembaga pendidikan, perusahaan, dan bangunan pemerintah di beberapa bagian di Jepang. Mereka mengalami kehidupan masyarakat Jepang dan hidup dalam komunitas non-Muslim ketika mendapatkan kesempatan home stay di rumah penduduk.

MAARIF Institute bekerjasama dengan PPIM UIN Jakarta dan UNDP melakukan evaluasi dan studi dampak terhadap para alumni program. Menurut Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd Rohim Ghazali, buku yang diluncurkan merupakan salah satu luaran dari kegiatan ini. Di mana terdapat 4 hal utama yang ingin dilihat. “Pertama, kami ingin mengidentifikasi aktivitas kiai, nyai, ustadz, dan ustadzah alumni program pasca rihlah ke Jepang. Kedua, memeriksa dampak apa saja yang terjadi di pesantren, misalnya dalam kurikulum, metode pembelajaran, maupun aktivitas yang dikembangkan. Ketiga, menganalisis sejauhmana manfaat yang dirasakan pesantren. Dan terakhir atau keempat, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dan solusi yang diambil dalam menerapkan pembelajaran yang didapat di Negeri Matahari Terbit,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Ismatu Ropi, mengungkapkan bahwa evaluasi dan studi dampak ini ingin melihat impact secara keseluruhan, baik yang bisa diukur maupun tidak. “Buku yang diluncurkan merupakan rekaman dari dampak-dampak yang tidak bisa diukur, yang perubahannya bersifat personal, ke dalam diri. Nanti kita juga akan mengikuti paparan dari dampak-dampak yang bisa diukur. Misalnya terkait kebersihan, metode pembelajaran, dan aktivitas yang dikembangkan,” terangnya.

Kisah Inspiratif Pemimpin Pesantren (2021)

Dalam acara peluncuran buku ini, MAARIF Institute juga akan memaparkan temuan-temuan dari asesmen yang dilakukan. Pemaparan hasil asesmen dan peluncuran buku akan diikuti oleh diskusi yang menghadirkan Zahroh (Ponpes Madrasah Wathoniyah Islamiyah Banyumas/Alumni Program tahun 2017) dan Ketut Imaduddin Djaman (Ponpes Bali Bina Insani/Alumni Program tahun 2007), yang akan ditanggapi oleh Debbie Affianty (Universitas Muhammadiyah Jakarta) dan Syafiq Hasyim (Universitas Islam Negeri Jakarta). Turut hadir dalam acara ini Abd Rohim Ghazali (Direktur Eksekutif MAARIF Institute), Siprianus Bate Soro (UNDP Indonesia), Waryono Abdul Ghafur (Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI), Mr. Tanaka Motoyasu (Ketua Bidang Politik Kedutaan Besar Jepang), dan Mr. Tamura Masami (Wakil Duta Besar Jepang). Acara berlangsung pada Rabu, 24 Februari 2021 pukul 09:00-12:00 WIB/10:00-13:00 WITA/11:00-14:00 WIT secara online melalui zoom meeting yang juga dapat diikuti di Channel Youtube MAARIF Institute.

 

 

 

Praktik Toleransi ala Rasulullah

Benni Setiawan

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Anggota Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Q.S. al-Ahzab, 33: 21).

Ayat di atas dengan jelas menggambarkan sosok pribadi Rasulullah. Rasul Muhammad saw, merupakan pribadi hebat. Kehebatan beliau tidak hanya dalam soal wacana, namun beliau senantisa mempraktikan apa yang disampaikan. Rasul senantisa sama antara kata dan laku. Rasulullah adalah praktik baik dalam kesuaian antara kata dan laku.

Sesuainya antara kata dan laku Rasul pun tertuang dalam banyak kisah. Salah satu kisah masyhur yang dapat menjadi teladan dalam sikap dan tindakan adalah saat Rasulullah saw setiap hari menyuapi perempuan tua renta di pojok pasar Madinah.

Pelayanan Terbaik

Alkisah, seorang tua selalu sendiri di pojok Pasar Madinah. Datanglah seorang laki-laki yang senantiasa sabar menyiapi sang nenk. Laki-laki itu dengan penuh kelembutan memberi makan dari gandung/roti terbaik yang ia bawa. Tidak hanya itu, ia pun mengunyah roti tersebut, sehingga saat nenek menelan tidak mendapat kesulitan.

Sang nenek pun mengucap terima kasih kepada laki-laki itu, sembari berujar, “hai anak muda, janganlah engkau berteman dengan Muhammad. Dia seorang pembohong dan pendusta”. Hampir setiap hari pesan itu terlontar dari bibir tua sang nenek. Laki-laki itu pun masih tetap dengan sabar dan selalu datang untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seorang Yahudi itu.

Tibalah sebuah massa, disaat ia tidak dapat memberikan pelayanan itu, karena Sang Khalik telah memanggilnya. Laki-laki itu adalah Muhammad Sang Rasul. Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, pascameninggalnya Nabi Muhammad saw kemudian bertanya kepada putrinya ‘Aisyah. Sang ayah berujar, “Hai putriku, tolong sampaikan kepadaku sunnah Rasul yang belum pernah aku lakukan”. Sang anak pun menjawab, “Semua sunnah baginda Rasulullah saw telah engkau lakukan ya Ayah. Namun hanya satu yang belum pernah engkau lakukan”. Sang ayah pun terperanjat kaget. ‘Apa itu wahai anakku”, tanyanya. Aisyah pun menjawab, “Ayah belum pernah menyuapi perempuan tua buta di pojok pasar Madinah”.

Sebagai sahabat terpilih, Abu Bakar kemudian bergegas menuju pojok pasar Madinah. Kemudian dia menyuapi sang nenek. Sang nenek pun berteriak keras. “Hai siapa kamu? Kamu bukan pemuda yang setiap hari menyuapiku”, serunya. “Ke mana pemuda baik yang telah menyuapiku dengan kelembutan itu”, tanya sang nenek.

Abu Bakar pun menjawab, “Wahai nenek, mengapa engkau tahu kalau aku bukan orang yang menyuapimu setiap hari?”. “Caramu menyuapiku beda, pemuda yang biasa menyuapiku sabar dan roti yang aku makan langsung masuk ke dalam mulut dan perutku. Aku tidak mengalami kesulitan saat makan”, jawabnya.

“Ketahuilah nenek, bahwa orang yang setiap hari menyuapimu telah meninggal dunia. Dia adalah Muhammad saw”, sambung Abu Bakar. Seketika tangis pecah dari mata buta sang nenek. Dia pun berujar, “orang yang selalu ini aku cari maki, dengan perkataan yang kotor, ternyata adalah orang yang setiap hari berbuat baik kepadaku”. Setelah itu kemudian sang nenek bersyadahat di depan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Rahmat bagi Semua

Cerita di atas menunjukkan betapa akhlak Rasulullah sangat mulia. Rasul Sang Uswatun Hasanah memberikan teladan luar biasa kepada ummatnya. Yaitu bagaimana berhubungan dengan orang lain, termasuk nonmuslim.

Rasul tanpa ragu memberikan makanan terbaik bagi seorang Yahudi. Memberikan makan kepada seorang Yahudi yang setiap hari mencaci-makinya dilakukan dengan penuh kasih sayang. Rasul tidak marah saat dia diserang secara pribadi. Bahkan Rasul dengan kesabarannya membantu mengunyah roti, sehingga sang nenek tidak kesulitan dalam menelan.

Rasul dari kisah di atas telah mempraktikan hidup damai, bersahabat, dan saling membantu/tolong menolong dalam kebaikan kepada siapa saja. Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. al-Maidah (5: 2)

“Dan saling tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya”.

Tolong menolong yang dipraktikan Rasulullah telah melampaui tradisi keagamaan yang sempit. Rasul melakukan tolong menolong kepada siapa saja tanpa memandang agama. Bahkan dengan cara itu, Rasul mendatangkan hidayah kepada orang lain. Terbukti, sang nenek kemudian bersyadahat dihadapan Abu Bakar.

Perilaku baik yang dipraktikan oleh Rasul mendatangkan rahmat kepada siap saja. Rasul dengan keteguhan dan ketulusan jiwa menggajarkan arti toleransi yang sesungguhnya. Toleransi yang tidak hanya manis dibibir namun kering dalam praktik keseharian.

Toleransi hari ini seringkali hanya mudah diucapkan, namun, dalam keseharian sulit diwujudkan. Toleransi semu itu hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Perlu dibangun komitmen toleransi sejati. Yaitu dengan membantu tanpa harus melihat atau memandang agama yang dianut.

Memberikan pertolongan kepada sesama hidup menjadi perilaku agung dalam kehidupan. Praktik hidup yang baik yang telah dilakukan oleh Rasulullah selayaknya memberikan gambaran dan teladan kepada kita umatnya. Hal ini sebagaimana janji kita dalam syahadat, bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah Rasul terpilih. Kita telah bersaksi Muhammad saw adalah manusia mulia dengan kemudiaan Allah disisinya. Setiap tindakannya selalu menjadi panduan dalam bertindak di dunia ini.

Barangsiapa mengikuti Rasul, maka Allah akan menurunkan rahmat dan mengampuni dosa-dosa. Sebagaimana Firman Allah,

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran, 3: 31).

Sudah sangat jelas, bahwa Rasul telah memberikan teladan (praktik baik/best practices) dalam membangun hubungan baik dengan siapa saja, termasuk di dalamnya kepada pemeluk selain Islam. Rasul Muhammad yang selalu dipandu oleh wahyu dalam hidupnya saja melakukan hubungan baik dengan siapa saja. Termasuk kepada seorang Yahudi yang selalu menghardiknya. Beliau tidak marah sedikit pun, bahkan Rasulullah selalu datang dan memberikan hal terbaik bagi seorang Yahudi itu.

Tak heran jika Anas RA berkata, “Sungguh, Rasulullah saw benar-benar manusia dengan akhlak paling mulia. (HR Bukhari-Muslim).

Praktik hidup Rasulullah selayaknya menjadi panduan hidup bagi kita yang mengaku umatnya. Semoga dengan itu, kita benar menjadi bagian dari ummat Rasulullah yang mendapatkan syafaat (pertolongan) baik di dunia dan di akhirat kelak.

Pada akhirnya, mari meneladani Rasulullah saw dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Melenadani beliau berarti mendekatkan diri kita pada kehidupan utama, sebuah tata hidup yang penuh pemaafaan, penghormatan, dan pengakuan terhadap hak-hak hidup. Walllahu a’lam. []

Berdamai Dengan Covid-19

Ust. Hatim Gazali

Sampai awal tahun 2021 ini, tanda-tanda berakhirnya Covid-19 di Indonesia belum juga tampak. Bahkan, jumlah kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan tajam, menembus angka 1 juta. Perharinya, ada penambahan kasus baru mencapai 10 ribu/hari. Rumah sakit penuh, tak dapat menampung kasus baru. Jumlah korban yang wafat karena Covid-19 mencapai angka di atas 25 ribu.

Vaksin memang sudah dimulai digencarkan. Presiden Jokowi menjadi orang yang pertama yang mendapat suntikan vaksin, untuk memberikan rasa aman dan percaya agar seluruh rakyat Indonesia tidak menolak divaksinasi. Pasalnya, tidak sedikit narasi yang menyatakan penolakan terhadap vaksinasi tersebut.

Sekalipun demikian, hadirnya jutaan vaksin ke Indonesia tak bisa menghentikan kecepatan laju penyebaran Covid-19 ini. Persebarannya bisa lebih cepat ketimbang proses vaksinasi. Dampaknya, ke depan, kasus baru tak seketika akan menurun, korban jiwa masih akan terus terjadi.

Lalu, bagaimana sikap kita menghadapi situasi ini? Pilihan terbaik adalah “berdamai.” “Berdamai” berarti ia mengakui dan menerima bahwa Covid-19 ini benar-benar ada, keberadaannya tak bisa disangkal. 25 ribu orang yang wafat karena dipicu oleh Covid-19 ini menjadi bukti kuat.

Untuk percaya akan keberadaan Covid-19 ini, sejatinya, tak memerlukan pembuktian sendiri melalui pengalaman langsung; menjadi korban Covid-19, baru kemudian percaya. Tidak perlu. Sama halnya, untuk percaya bahwa 14 abad yang silam diutus seorang nabi bernama Nabi Muhammad S.A.W, seorang muslim tak perlu masuk ke lorong waktu masa lampau untuk mengecek keberadaan Nabi. Buktinya sangat jelas di depan mata; Islam yang kita peluk sekarang.

Setelah menerima dan mengakui adanya Covid-19 ini, maka makna “berdamai” berikutnya adalah mengikuti protokol yang telah ditetapkan, sebagai upaya untuk menghindar menjadi korban Covid-19. Menjaga kebugaran dan imunitas tubuh, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan adalah proteksi diri yang perlu dilakukan oleh setiap rakyat Indonesia.

Memproteksi diri agar terhindar dari Covid-19 ini wajib dilakukan karena dua alasan. Pertama, menjaga jiwa (hifd al-nafs) adalah salah satu tujuan hadirnya Islam di muka bumi (maqasid al-syariah). Islam menuntut setiap muslim agar menjaga jiwanya juga raganya agar selalu sehat dan tidak sakit. Menjaga diri agar tetap bugar dan sehat ini perlu kita jadikan tujuan agar kita dapat melaksanakan ibadah dan seluruh syariat Allah.

Kedua, tidak menjadikan diri kita sebagai pembawa (career) virus ini kepada orang lain yang dapat menyebabkan orang lain mengalami dampak buruk; sakit dan mati. Surat al-Maidah ayat 32 pun menegaskan bahwa membunuh satu orang diibaratkan sama dengan membunuh seluruh manusia. Ayat tersebut jika dikaitkan dengan Covid-19, maka ketika kita terpapar Covid-19 (baik bergejala maupun tidak) maka kita harus isolasi agar tidak menularkan penyakit tersebut kepada orang lain.

****

Bagi seorang muslim, adanya Covid-19 perlu ditempatkan sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Bahwa, kuasa dan kehendak Allah melampaui kehebatan, kemajuan, kesaktian seseorang dan negara. Sama halnya dengan penyakit pada umumnya, hampir tak ada manusia yang dapat menghindarkan dirinya dari penyakit itu sendiri.

Sebagai salah satu tanda kebesaran Allah, maka adanya Covid-19 ini mestinya menjadi momentum untuk meningkatkan ketauhidan, ketakwaan dan kesabaran. Kita menjadi semakin yakin bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari kuasa Allah. Tak ada peristiwa di semesta ini tampa kuasa dan kehendak-Nya. Termasuk Covid-19 ini.

Bertakwa kepada Allah tak hanya bersangkut paut dengan jumlah ibadah yang dilakukan setiap waktu, tetapi juga bertalian dengan kehidupan sosial, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 133-135.

Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

Dari ayat di atas kita menjadi tahu bahwa menjadi orang bertakkwa (muttaqin) mengandaikan kerelaan kita untuk berinfaq, membantu orang lain yang kesulitan. Ini menjadi sangat penting dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Membantu orang yang terdampak Covid-19 bisa dijadikan salah satu indikator ketakwaan kita kepada Allah.

Ayat di atas juga menggambarkan bahwa orang yang bertakwa juga orang-orang yang dapat menahan amarahnya, sehingga ketika musibah Covid-19 ini menimpa dirinya atau keluarganya, ia tidak meluapkan amarahnya kepada siapapun, apalagi kepada Allah. Musibah yang terjadi pada dirinya justru dijadikan batu uji untuk meningkatkan imannya. Kesabaran menjadi bukti kebertakwaan seseorang.

Nabi Ayyub konon diuji dengan penyakit cacar yang dideritanya dalam waktu yang cukup lama. Ada yang menyebutkan tiga tahun, tujuh tahun, dan bahkan 18 tahun. Derita penyakit yang dialami Nabi Ayyub tak menjadikan ia “lari” dari Allah, melainkan justru semakin meningkatkan takwa dan syukur kepada Allah.

Ciri lain dari takwa dalam ayat di atas adalah kerelaan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Karena kita perlu sadar bahwa tidak ada manusia yang tak luput dari perbuatan salah. Ciri lainnya adalah tidak melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri. Dalam konteks Covid-19, termasuk dalam perbuatan keji dan menzalimi diri sendiri adalah tidak mematuhi protokol Kesehatan yang ditetapkan, yang dapat menyebabkan dirinya dan orang lain menjadi korban.

***

Akhirnya, berdamai dengan Covid-19 bukan saja menerima adanya keberadaan virus ini sebagai salah satu kebesaran Allah, melainkan juga kepatuhan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sebagai orang yang beriman, pandemi Covid-19 ini justru dijadikan momentum untuk meningkatkan ketauhidan, ketakwaan dan kesabaran. Karena berdamai dengan Covid-19 dalam konteks keimanan kepada Allah berarti mengambil hikmah atas segala peristiwa yang terjadi pada kehidupan ini, termasuk pandemi Covid-19. Semoga kita dimasukkan ke dalam orang-orang yang betakwa. Amin.

Ust. Hatim Gazali, alumni Pesantren Sukorejo Situbondo, Pemimpin redaksi Islamina.id dan Ketua Umum PERSADA NUSANTARA)

PENGUMUMAN PENERIMA SUPPORT OF BEST PRACTICES ON PESANTREN’S RELIGIOUS MODERATION FROM PESANTREN LEADERS VISIT PROGRAMME

Sehubungan dengan kegiatan studi dampak pembelajaran terhadap program Impact Studies & Support of Best Practices on Pesantren’s Religious Moderation from Pesantren Leaders Visit Programme., kami telah melakukan tahapan-tahapan mulai dari mengirimkan dan meminta para alumni untuk mengisi form kuesioner online, melakukan wawancara konfirmasi melalui telepon terhadap beberapa alumni yang telah mengisi form kuesioner dan dianggap memenuhi kriteria, dan menerima beberapa esai dari para alumni.

Pada hari ini, Selasa, tanggal dua belas, bulan Januari, tahun dua ribu dua puluh satu, Dewan Juri yang bertanda tangan dibawah ini :

  1. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA.
  2. Sudarnoto Abdul Hakim, MA.
  3. Phil Syafiq Hasyim, MA.

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, mulai dari penentuan kriteria penilaian hingga pemilihan 10 nama penerima dari 34 calon yang memenuhi syarat, telah menetapkan nama-nama penerima Support of Best Practices.

Silakan unduh Berita Acara Hasil Penilaian  Dewan Juri

Peduli Guru Indonesia Bersama MAARIF Institute

“Dari 3,3 juta guru SD, SMP dan SMA di Indonesia, ada 33 persen yang statusnya tidak tetap (honorer). Banyak yang perjuangannya tidak terekspose media selama pandemi Korona. Yuk! peduli dengan guru-guru kita”

Mereka tersebar di seluruh negeri. Beberapa terekspose kisahnya di media. Status tidak tetap bukan berarti perjuangan berhenti. Dengan penghasilan tidak seberapa. Berjalan kaki atau naik sepeda motor tua. Mereka tetap mengabdi sepenuh hati.

Pak Guru Sumiasa adalah satu dari sekian banyak jumlahnya. Menjelang ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kisahnya viral di televisi dan sosial media. Selama pandemi ia berkeliling ke rumah anak muridnya. Ya Teman Baik, ia masih mengajar walau tidak punya ponsel pintar.

Teman Kita di MAARIF Institute sadar Pak Guru Sumiasa tidak sendiri. Jutaan guru perlu dibantu. Lewat campaign #PeduliGuruKita, MAARIF Institute bertanya padamu: Maukah kamu bergerak untuk membantu? MAARIF Institute mengajak, ayo sebarkan ajakan ini, gerakkan jarimu dan sampaikan ke teman-teman kamu. Gerakkan hati dengan berdonasi atas rejeki yang telah dilimpahkan pada kamu.

MAARIF Institute berdiri tidak lama setelah gerakan reformasi yang mengubah wajah negeri ini. MAARIF Institute memiliki komitmen untuk berkontribusi lewat gerakan-gerakan kebudayaan berbasis keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan. Sadar bahwa guru adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan ini, sejak tahun 2011, MAARIF Institute memusatkan perhatian pada bidang pendidikan, utamanya dalam peningkatan kapasitas dan penguatan karakter kebangsaan. Melalui lini program-program ini, sudah tak terhitung berapa banyak guru yang telah merasakan manfaatnya.

Gerakan ini adalah gerakan hati. Kontribusi kita menjadi penanda adanya kesadaran bersama bahwa banyak guru yang perlu dibantu. Bahwa Bangsa Indonesia tidak bisa dibangun di atas kebodohan dan keserakahan. Sejarah mencatat: bilamana satu generasi rusak pikiran dan karakternya, satu negeri hancur peradabannya.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”

Inilah penghormatan sekaligus buaian.

Penghormatan pada perjuangan dan berjibaku para guru.

Tapi juga buaian yang tak jarang menihilkan kesadaran akan pentingnya uluran tangan. 

Guru bukanlah super hero yang bisa melakukan segalanya. Guru bukan tukang sulap yang simsalabim lantas kebodohan sirna.

Terbangunnya peradaban dimulai dari kesadaran. Kesadaran guru untuk terus berkhidmat pantang menyerah menyiapkan benih bunga-bunga bangsa. Pantang menyerah bahkan saat di tengah pandemi korona.

Mas Menteri sudah mengambil keputusan. Tapi benarlah Teman Baik, belajar daring adalah keniscayaan berkembangnya zaman. Kita berhak tidak suka dan mengkritiknya. Tapi berpangku tangan bukanlah pilihan. Kita wajib melakukan sesuatu. Kita bantu mereka yang terdampak korona.

Kalau satu gawai plus kuota data harganya sekitar 1,8 juta. Sediakan untuk 100 guru saja, perlu 180 juta.  Ayo Teman Baik! Bersatu #PeduliGuruKita Berlomba #JadiPahlawanKebaikan. (SID)

Donasi Anda bisa disalurkan melalui link berikut ini http://bit.ly/Peduli_Guru

Pengumuman Hasil Seleksi Program Critical & Design Thinking

Sehubungan dengan program “Critical & Design Thinking” yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh MAARIF Institute for Culture and Humanity bekerjasama dengan Direktorat Sekolah Menengah Atas Dirjen PAUD-Dikdasmen Kemendikbud RI, dengan ini kami menerangkan bahwa nama-nama terlampir dinyatakan telah LOLOS SELEKSI

Selanjutnya, panitia akan menghubungi dan mengundang para peserta yang telah lolos seleksi ke dalam grup WhatsApp untuk memudahkan komunikasi.

Demikian pengumuman  ini dibuat

Jakarta, 11 September 2020.

Panitia Seleksi

 

Download lampiran dan surat keterangan

Narasi Armageddon dan Kiamat ala Ustadz-ustadz di Youtube

Muhammad Fathur Rozaq

Muhammad Fathur Rozaq

Narasi Armageddon kerap disebarkan oleh ustadz-ustadz di Youtube, apakah ini demi dakwah atau memang justru fear mongering?

Belakangan, banyak sekali ustadz yang bicara tentang kiamat di media social, khususnya Youtube. Mulai dari Ustadz Zulkuflimansyah hingga dengan Rahmat Baequni. Nama belakangan alah satu yang paling rajin bicara masalah kiamat—lengkap dengan narasi-narasi yang perlu kita telaah dalam disiplin ilmu, baik tafsir maupun hadis. Apa pasalnya? Sebab, tak jarang, ia mencampuradukkan antara fiksi, sains dan terbungkus ajaran Islam untuk menakut-nakuti.

Jika dahulu hanya orang-orang kafir yang menanyakan kapan akan terjadinya kiamat kepada Nabi Muhammad SAW, kini ia justru berusaha menebak-nabak datangnya hari kiamat, memprediksinya. Jika dahulu Nabi SAW sibuk mendakwahkan etika, keadilan sosial, kesetaraan, dan kemanusiaan yang beradab, melawan hegemoni fasisme, kini pak Baequni hanya semangat membahas kiamat serta berbagai ramalan peperangan namun nihil nilai kemanusiaan. Ramalan perang-perangan ini  pun versinya sendiri.

Mengenai Armageddon misalnya, Ustadz Baequni bilang, “Armageddon diambil dari dua kata, dari kata urreh dan kata magedaurreh adalah bukit dan mageda adalah lembah yang ada di samping bukit tadi. Bukit dan lembah inilah yang apabila dikuasai maka siapapun yang menguasainya itu bisa diyakinkan akan menguasai arah perpolitikan di akhir zaman.

Itulah yang diramalkan oleh pengamat dunia, para pengamat politik dunia di dalam bukunya ramalan politik dunia, mereka memperkirakan dan meyakinkan diri mereka sendiri dan bangsa mereka sendiri bahwa siapapun yang bisa menguasai wilayah ini maka dia bisa menguasai kendali perpolitikan di akhir zaman. Bahkan kendali perang dunia ketiga bisa mereka kuasai.”

Faktanya, seperti yang diungkap Eric H. Cline, sejarawan, arkeolog, dan guru besar di George Washington University dalam bukunya Digging Up Armageddon: The Search for the Lost City of Solomon; bahwa Armageddon berasal dari kata Har Megiddo dari bahasa Hebrew yang artinya gunung (har) dari Megiddo. Oleh Masa Pertengahan, berbagai bangsa, bahasa, dan waktu yang berabad menjadikan kata ini memiliki akhiran ‘n’ kemudian memupus huruf ‘h’ di depan. Dari Har Megiddo menjadi Harmageddon kemudian menjadi Armageddon.

Lebih lanjut Cline menyatakan bahwa situs Megiddo tepatnya berada di lembah Jezreel, Israel. Menurutnya di situs ini telah terjadi berbagai peperangan bersejarah dari bangsa Kan’an hingga Bani Israil, Neo-Asyiria, Neo-Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, kemudian Muslim, Pasukan Salib, Mongol, Mamluk, dan Turki Utsmani. Di dalamnya terdapat setidaknya dua puluh kota kuno, yang terbaru berada di atas kota sebelumnya. Prosesnya terjadi selama hampir lima ribu tahun, mulai dari tahun 5000 SM hingga 300 SM.

Singkatnya dari apa yang dikatakan Cline tersebut kita mengerti bahwa Armageddon adalah situs kesejarahan yang di dalamnya terpendam kota-kota kuno. Area yang menjadi langganan perang-perang bersejarah ini pun masyhur dan tidak bisa dilepaskan dari ihwal peperangan dahsyat.

Kembali pada Baequni, Armageddon menurutnya berbeda dengan malhamatul kubra, karena Armageddon adalah perang yang masih menggunakan teknologi. Armageddon ini menurutnya sudah dimulai sejak Arab Spring. Setelah dengan yakin berkata demikian, selanjutnya ia berkata, “Armageddon ini panjang, jangan-jangan dimulai dengan Arab Spring kemarin. Konflik ini yang ternyata menjadi pemicu perang Armageddon.”

Kita sekadar mengerti sebenarnya Ustadz ini hanya menebak-nebak saja dengan kata jangan-jangan tapi tetap coba meyakinkan. Namun tebak-tebakan pak Baequni ini semakin ngaco karena ia mulai mengaitkannya dengan isu geopolitik Timur Tengah, dan cenderung berkiblat pada versi media arus utama Amerika dan IS.

Ia mengatakan, Suriah adalah awal dari Arab Spring karena kepemimpinan Basyar Asad yang zalim dan bermazhab Syiah, begitu juga dengan Iran. Ia katakan juga bahwa kelak umat Islam akan bersatu dengan Amerika untuk melawan Iran karena kezaliman mereka. Untuk membantah pernyataan pak Baequni ini, sudah banyak yang membahas masalah geopolitik Timur Tengah ini secara lebih jernih.

Setidaknya dari sini kita mengetahui bahwa pak Baequni bukan hanya ceramah tentang kiamat. Lebih dari itu ada muatan propaganda yang dilangsungkan dari narasi tausiyahnya. Mereka yang mengerti geopolitik Timur Tengah tidak akan percaya dengan ucapannya mengenai Suriah dan Iran. Titik ini merupakan filter, siapa penonton yang tidak mudah dipengaruhi dan secara otomatis mereka yang mengerti akan menyingkir. Selanjutnya, bagaimana dengan mereka yang masih polos? bagaimana dengan mereka yang masih bertahan?

Kepada mereka terkait peperangan besar dengan lihai berkata,“Palestina terkait dengan akan berkumpulnya kelompok yang terbaik dari tiga titik yang pertama dari Suriah yang kedua dari khurasan dan yang ketiga, mudah-mudahan ini, disebutnya dari timur, tapi timur di sini adalah indonesia mudah-mudahan. Kalau Suriah ini juga bisa disebut kelompok ahlu Syam, kalau Khurasan sebagai pembawa panji hitam, adapun peluang indonesia adalah disebut thaifah manshurah.”

Ia tidak menyebut Khurasan adalah Iran yang getol memusuhi Israel dan membela Yaman. Alih-alih demikian ia hanya menarasikan pembawa panji hitam, seraya memuji Taliban dan kerjasama mereka dengan Amerika. Jika meyakini Armageddon beserta pengaruhnya pada perpolitikan dunia, mengapa ia tidak mendukung Iran yang konsisten membantu Palestina dan memusuhi Israel? Ini malah ingin kerjasama dengan Amerika, logika yang tak termakan di ayam.

Yang tak kalah pentingnya untuk dicermati adalah pernyataannya terkait ‘peluang Indonesia’ serta bagaimana caranya membingkai thaifah manshurah itu sendiri. Ia katakan, “Kenapa disebut thaifah manshurah? Artinya kelompok ini muncul dari negara yang rakyatnya yang kaum muslim di negara ini dizalimi oleh penguasanya. Artinya penguasa di mana kaum muslimin berada di mana kelompok ini berada adalah digambarkan sebagai tirani yang zalim, maka kelompok ini muncul dan disebut thaifah karena mereka merupakan qithath minal muslimin, sedikit sekali jumlah mereka dari kaum muslimin yang ada di negaranya. Tapi mereka manshurah mereka ditolong, ditolong oleh Allah SWT.

Ketika mereka diterpa kezaliman mereka difitnah dan mereka digembosi mereka juga kemudian dikebiri hak-haknya hingga pada akhirnya mereka diperangi oleh penguasanya sendiri kemudian Allah menolong mereka karena keistiqamahan mereka mengamalkan Qur’an dan sunah di akhir zaman maka disebutnya thaifah manshurah, kelompok yang ditolong. Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya.”

Dari sini kita dapat membaca bagaimana proses penanaman benih motivasi bagi mereka yang mudah menerima propaganda untuk turut terjun ke medan perang. Mereka yang tidak mengerti geopolitik Timur Tengah akan dengan mudah meyakini bahwa ucapan tersebut adalah kebenaran. Kombinasi antara kepolosan dan semangat beragama akhirnya menjadikan mereka mengamini doa ustadz di atas. Lebih-lebih jika didahului dengan narasi-narasi bahwa pemerintahan ini kafir, tagut, dan sebagainya.

Mereka yang mempercayai propaganda ini, kemudian berangkat mempersiapkan diri untuk berperang dengan semangat menggebu tentu tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Karena itu murni dari ketidaktahuan. Sebelum terjadi banyak orang yang hanyut dalam buaian narasi akhir zaman dan perang-perang ala Taliban, propagandis narasi ini tentu saja perlu untuk ditelisik lebih dalam agar kita tidak mudah terhanyut.

*Mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Analisis ini kerjasama Islami.co &  Maarif Institute*

Meluruskan Pemahaman Konsep “Khilafah”

Oleh: Ust. Hamim Ilyas

Islam Rahmatah lil ‘Alamin ibarat bangunan dibangun di atas 3 landasan (tanah bagi bangunan): 1) tauhid Rahamutiyah  (Allah menjadi Ilah berdasarkan rahmah, menjadi Rabb berdasarkan rahmah, menjadi Maliki Yaumiddin berdasarkan rahmah, dan mengaktualisasikan seluruh asma dan sifat-Nya berdasarkan rahmah); 2) kerasulan rahmat (Nabi Muhammad diutus untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan kriteria: sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya dan bahagia sebahagia-bahagianya bagi semua di dunia dan akhirat); dan 3) kitab suci rahmat (al-Qur’an diwahyukan untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan tiga kriteria di atas). Ia pun dibangun dengan 4 fondasi: 1) paradigma agama rahmat (agama yang diwahyukan dan didakwahkan untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan tiga kriteria di atas); 2) definisi agama (agama dan keadaan yang baik dalam semua bidang kehidupan); 3) organisasi agama, Islam Kaffah (keberagamaan tri-dimensi, peradaban materiil dan spirituil, dan integrasi sosial-politik); dan 4) fungsi agama (mempersatukan umat manusia, menyelamatkan umat manusia dan memperbaiki kehidupan umat manusia secara terus-menerus).

Asas-Asas Penyelenggaraan Negara dalam Al-Qur’an

Sesuai dengan landasan dan fondasi Islam di atas, al-Qur’an mengajarkan idealisasi negara dengan asas-asas penyelenggaraan dan kepemimpinan politiknya. Idealisasi negara dikemukakan dalam ayat-ayat berikut:

  1. Al-Baqarah, 2 (126): negara yang aman dan damai serta kemakmuran untuk seluruh warga negara, baik yang beriman maupun tidak beriman.
  2. Ibrahim, 14 (35): negara yang aman dan damai dengan warga negara yang tidak menganut kepercayaan yang mendegradasikan kehidupan dan sistem politik tiranik (an- na’budal ashnam).
  3. Saba’, 34 (15): baldatun thayyibatun  {negara yang adil, makmur dan berwawasan lingkungan hidup (dalam tafsir digambarkan dengan negara tanpa lalat dan nyamuk) wa rabbun ghafur (negara yang ada kejahatannya, tapi mampu dikendalikan)
  4. At-Tin, 95: 3: negara yang amanah dalam pengertian mampu melindungi hak-hak warga negara, terutama hak-hak dasar mereka.

Adapun asas-asas penyelenggaraan negara dikemukakan dalam an-Nisa’, 4 (58-59) yang memuat 6 asas:

  1. An tuaddul amanati ila ahliha: asas amanah, perlindungan hak-hak warga negara
  2. An tahkumu bil ‘adl: asas keadilan dalam penyelenggaraan seluruh urusan yang menjadi tanggungjawab negara.
  3. Athi’u Allah: asas ketuhanan, dalam pengertian konstitusionalisme dan negara kesejahteraan.
  4. Athi’ur Rasul: asas kerasulan, dalam pengertian persatuan dan rule of law
  5. Ulil Amri: asas penyelenggaraan negara oleh orang-orang yang ahli
  6. Fa rudduhu ila Allah war Rasul: asas negara hukum

Kepemimpinan Politik dalam Al-Qur’an

Kepemimpinan politik ideal untuk mewujudkan negara ideal dengan 6 asas tersebut dikemukakan dalam kisah Nabi Daud yang disebut sebagai khalifah di samping Adam. Adam (al-Baqarah, 2: 30-39), manusia pertama yang mewakili seluruh umat manusia,  dijadikan khalifah dalam pengertian sebagai wakil-Nya untuk menyelenggarakan kehidupan di bumi sehingga menjadi tempat yang makmur. Adapun Nabi Daud dijadikan khalifah, dalam pengertian sebagai  pemimpin politik atau raja yang menggunaan kekuasaan untuk kesejahteraan.

Pengertian kekhalifahan Nabi Daud demikian dapat dipahami dari kisahnya yang disebutkan dalam beberapa surat.  Dalam Shad, 38 (17-30) disebutkan sosok idealnya sebagai raja dengan kapasitas-kapasitas berikut:

  1. Terampil
  2. Melakukan desakralisasi terhadap alam
  3. Membangun kerajaan yang kuat
  4. Bijaksana
  5. Memiliki kecakapan berkomunikasi
  6. Adil
  7. Menyelenggarakan negara dengan kebenaran
  8. Tidak tunduk pada kepentingan pribadi dan kelompok

Kemudian dalam al-Anbiya, 21 (78-79) di samping   desakralisasi terhadap alam, disebutkan 2 kapasitas lain:

  1. Memiliki legitimasi kekuasaan
  2. Berilmu

Selanjutnya dalam an-Naml, 27 (15-16), di sampang beilmu, disebutkan beberapa kapasitasnya yang lain:

  1. Bersyukur dengan mengaktualisasikan anugerah kelebihan yang dimiliki
  2. Menyiapkan penerus, Nabi Sulaiman

Terakhir dalam Saba’, 34 (10-13), di samping desakralisasi terhadap alam, disebutkan kemampuannya yang lain, yakni  mengolah baja untuk menjadi peralatan. Dari kesaksian ini diketahui bahwa Nabi Daud berperan dalam pengembangan teknologi pengolahan baja.

Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah: Negara Kesejahteraan

Nabi Daud dengan semua kapasitas itu dan praktek penyelenggaraan negara berbentuk kerajaan sesuai dengan zamannya, menggunakan kekuasaan yang dipegangnya sebagai raja, untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan negaranya. Karena itu kepemimpinan politik atau khilafahnya dijadikan model kepepimpinan politik ideal dalam Islam. Idealisasi ini dilakukan dengan menyebutnya sebagai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Imam Ahmad dari Hudzaifah (bin al-Yaman)  yang populer pada beberapa waktu terakhir:

Rasulullah bersabda, Kenabian ada di kalangan kamu selama waktu sesuai kehendak Allah, kemudian Dia mengangkatnya sesuai  kehendak-Nya. Setelahnya ada khilafah menurut jalan kenabian selama waktu sesuai  kehendak-Nya, lalu Dia mengangkatnya sesuai  kehendak-Nya. Selanjutnya ada kekuasaan “yang menggigit” selama waktu  sesuai  kehendaak-Nya, lalu Dia mengangkatnya sesuai  kehendak-Nya. Seterusnya ada kekuasaan ‘yang memaksa” selama waktu sesuai  kehendak Allah, lalu Dia mengangkatnya sesuai  kehendaknya.  Sesudahnya ada khilafah menurut jalan kenabian.”

Pemakanaan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dengan kepemimpinan politik yang menggunakan kekuasaan  untuk kesejahteraan yang diteladankan Nabi Daud di samping sejalan dengan idealisasi negara dan asas-asas penyelenggarannya yang diajarkan al-Qur’an di atas, juga sejalan dengan ajarannya tentang kenabian yang disebutkan mendakwahkan agama sekaligus membangun peradaban. Ini berarti bahwa kekuasaan politik untuk sekesahteraan itu merupakan bagian dari pembangunan peradaban yang dilakukan para nabi dan dalam sejarah mereka adalah Nabi daud yang berperan besar di dalamnya.

Pemaknaan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah secara demikian sesuai dengan nubuat Nabi Muhammad tentang praktek kekuasaan politik dalam sejarah Islam dari zaman Nabi sampai zaman kontemporer sekarang yang disebutkasn dalam hadis di atas. Pada Zaman Nabi Muhammad kekuasaan politik untuk kesejahteraan terlaksana dengan kepemimpinan kenabian (nubuwwah) yang diembannya sehingga melekat padanya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah  yang diteladankan Nabi Daud. Kemudian kekuasaan politik untuk kesejahteraan terlaksana melalui kepemimpinan politik empat Khulafa’ Rasyidin pengganti Nabi Muhammad sehingga dalam hadis tersebut kepemimpinan mereka disebut sebagai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Setelah Khulafa’ Rasyidun

Setelah Khulafa’ Rasyidun, kekuasaan pilitik di kalangan umat Islam secara sistem tidak digunakan untuk kesejahteraan, karena diselenggarakan dengan sistem yang dalam hadis tersebut disebut dengan mulkan ‘adldlan dan mulkan jabariyyan.

Pertama, Mulkan ‘adldlan yang secara bahasa  bisa berarti kekuasaan yang menggigit, menunjuk pada sistem kekuasaan otoritarianisme. Sistem ini diterapkan pada masa kekhalifahan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah serta kesultanan-kesultanan Islam di berbagai belahan dunia Muslim yang doniman dengan praktek kekuasaan untuk kekuasaan dan mengabaikan hak-hak rakyat atau warga negara.

Dengan sistem itu praktek kekuasaan para khalifah dan sultan sama dengan praktek kekuaasaan raja-raja yang berasal dari wangsa-wangsa pendiri kerajaan di berbagai belahan dunia yang lain. Sehingga ketika pada masa pemerintahan khalifah atau sultan tertentu, kekuasaan digunakan untuk kesejejahteraan, maka itu bukan karena kebaikan sistem, tapi karena kebaikan pribadi mereka.

Kemudian kedua, mulkan jabariyyan yang secara bahasa bisa berarti kekuasaan yang memaksa menunjuk pada sistem totalitarianisme, yakni kekuasaan yang memberlakukan negara sebagai segala-galanya dan rakyat dapat dikorbankan untuk negara. Sistem ini diterapkan dalam negara-negara fasis  seperti Jerman pada masa Hitler dan negara-negara ideologis seperti  Uni Soviet dahulu dan Korea Utara sekarang dengan komunismenya dan beberapa negara Timur Tengah dengan Sosialisme Partai Ba’ts yang berkuasa selama beberapa dekade.

Negara Demokrasi Pancasila Manifestasi Khilafah

Dalam sejarah Islam, mulkan jabariyyan, menurut hadis tersebut, kemudian diganti dengan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Dengan pengertiannya sebagai kekuasaan untuk kesejahteraan, maka khilafah ‘ala minhajin nibuwwah  pada zaman sekarang identik dengan sistem demokrasi. Karena itu penyelenggaraan kekuasaan negara di Indonesia  berdasarkan Pancasila yang menerapkan demokrasi sebenarnya merupakan praktek penyelenggarakan kekuasaan politik yang menjadi nubuat dalam hadis Nabi di atas.

Dengan pengertian itu pula maka praktek penyelenggaraan kekuasaan negara yang diklaim berdasarkan ajaran khilafah dalam gerakan revivalisme dan fundamentalisme Islam yang tidak digunakan untuk kesejahrteraan sebenarnya bukan merupakan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, tapi merupakan mulkan ‘adldlan atau mulkan jabariyyan.

Wallahu a’lam bish shawab.