Suara Perempuan Bukan Aurat

Perbincangan masalah perempuan baik cara berpakaian, cara berdandan, cara bergaul, dan cara bicara sering dihubungkan dengan fitnah, yaitu sesuatu yang membawa kemudharatan. Bahkan, ada ulama yang meyakini bahwa suara perempuan itu aurat dan membawa fitnah.

Selanjutnya mereka meyakini cara berpakain, cara berdandan juga cara ngomong laki-laki tidak akan membawa fitnah dan menganggap bahwa suara laki-laki bukanlah aurat. Konsekuensi dari keyakinan ini, laki-laki dapat menjadi profesi apapun dan perempuan tidak berhak memilih profesi-profesi yang mengandalkan suara.

Pemahaman yang sangat misoginis (menguntungkan salah satu jenis kelamin) ini, jelas berdampak pada pelanggaran hak asasi perempuan terutama terkait dengan hak mengembangkan diri dan hak memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia (Amandemen UUD 45 pasal 28 C). Bagaimana situasi dunia jika perempuan tidak boleh bersuara karena suaranya diyakini sebagai aurat?

Jawabannya pasti dunia akan ambyar tanpa makna. Supaya dunia penuh kedamaian dan keteduhan (tidak ambyar), maka peran perempuan di berbagai bidang harus didorong dan diapresiasi. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan meyakini bahwa pada dasarnya suara perempuan bukanlah aurat.

Apa itu aurat?

Sebelum mendiskusikan suara perempuan bukanlah aurat, kita akan lihat apa arti dari aurat. Menurut bahasa, “aurat” berarti malu, aib, buruk, sesuatu yang ditutup, sehingga tidak dapat dilihat dan dipandang, sesuatu yang jika dilihat akan mencemarkan dan sesuatu yang menggoda untuk dilihat.

Berdasarkan definisi tersebut, suara perempuan akan menjadi aurat jika suara itu sesuatu yang buruk, memalukan, mencemarkan, menggoda, dan membawa kemudharatan. Hal ini juga terjadi pada laki-laki. Artinya jika ada suara laki-laki yang tidak membawa pencerahan, tetapi sebaliknya suaranya membawa kemudharatan, maka pada saat itu suara laki-laki pun juga aurat. Nah, fenomenanya apakah semua suara perempuan membawa keburukan? jelas tidak.

Ada banyak perempuan yang mengandalkan suaranya dalam bekerja, seperti penyanyi, artis, penceramah, motivator, guru, politisi, dan profesi lainnya. Berdasarkan penelitian yang ada, para perempuan yang menggunakan suaranya dalam bekerja, tidak serta merta berdampak pada keburukan. Banyak suara-suara perempuan yang mencerahkan dan menjadikan seseorang mendapatkan hidayah. Dalam sejarah, Umar bin Khatab luluh hatinya karena mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an yang dilantunkan oleh adiknya.

 

Suara perempuan aurat?

Pada zaman Nabi Muhammad banyak kisah yang mengindikasikan kebolehan mendengarkan suara perempuan bagi bukan mahromnya. Salah satu hadits yang dijadikan rujukan tentang suara perempuan bukan aurat adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Aisyah ra, beliau menjelaskan, telah masuk kepadaku Rasulullah saw sementara bersama saya terdapat dua orang gadis sedang bernyanyi dengan Bu’ats, lalu Rasulullah saw berbaring di atas tikar sambil memalingkan mukanya. Dan masuklah Abu Bakar, lalu ia membentak aku sambil berkata: “Serunai syaithan di sisi Nabi saw?” Lalu Rasulullah menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar, sambil berkata: “ Biarkanlah mereka bernyanyi (hai Abu Bakar)”.

Dan manakala Rasulullah saw tidak ada perhatiannya lagi, keduanya saya singgung (sentuh), lalu mereka keluar.”  [HR. al-Bukhari] Hadits ini dengan jelas mengisyaratkan bahwa Nabi menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan perempuan yang bukan mahromnya. Kalau penyanyi saja boleh, apalagi profesi-profesi lainnya, seperti guru, daiyah, dokter, politisi, dan lain sebagainya.

Namun demikian tidak dapat dimungkiri bahwa di masyarakat masih ada beberapa kelompok yang meyakini suara perempuan adalah aurat. Salah satu dampak dari pemahaman ini jelas terlihat bahwa tidak banyak perempuan yang menjadi mubalighat atau penceramah di sela sholat Isya’ dan Tarawih pada setiap bulan Ramadan.

Ruang publik

Sekali lagi, pemahaman ini tidak adil bagi perempuan. Karena membatasi ruang gerak perempuan. Pemahaman ini jelas bertentangan dengan hak asasi manusia dan juga praktik Rasululullah. Penafsiran seperti ini dipengaruhi oleh pemikiran dan budaya patriarki.

Yaitu budaya yang mengedepankan dan mengutamakan laki-laki atas perempuan. Banyak sekali landasan normatif dalam Al Qur’an dan Hadits dan kitab suci lainnya yang mendorong laki-laki dan perempuan untuk berbuat amal sholeh di ruang publik dan domestik. Bahkan dalam fakta sejarah menunjukkan peran-peran publik yang dilakukan oleh perempuan.

Misalnya, Siti Hajar berjuang bertahan hidup, Siti Khodijah berniaga dan sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, dan Aisyah seorang yang cerdas banyak bertemu para sahabat untuk menyampaikan hadits-hadits yang didengar dan dilihat dari sumainya, Rasulullah.

Sekali lagi fakta sejarah yang tidak dapat kita ingkari. Para pengukir sejarah ini jelas menggunakan suaranya dalam menjalankan aktivitsnya untuk berkiprah di dunia publik. Berdasarkan landasan normatif, fakta sejarah dan juga data-data penelitian yang sudah disebutkan, jelas menginformasikan bahwa suara perempuan dapat mencerahkan dan membawa kebaikan.

Karena itu, tidak semua suara perempuan itu aurat atau juga tidak semua suara laki-laki itu bukan aurat. Artinya baik laki-laki maupun perempuan yang memanfaatkan anugerah suara yang diberikan oleh Allah SWT, demi kebaikan, pencerahan , dan membawa rahmat di muka bumi ini, maka bukanlah aurat.

Sebaliknya baik laki-laki ataupun perempuan yang menyalahgunakan anugerah “suara”-nya untuk hal-hal keburukan, seperti merayu yang bukan pasangan sahnya, untuk menghipnotis seseorang untuk keuntungan ekonomi dan aktivitas buruk lainnya, maka suara itu dapat dikatakan sebagai aurat.

Semoga kita akan dapat memaksimalkan anugerah suara yang diberikan Tuhan kepada kita untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk melaknat suara indah yang dirangkai oleh perempuan guna misi pencerahan. Amin.

Penulis: Alimatul Qibtiyah

Komisioner Komnas Perempuan I Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Editor: Azaki Kh Desain: Galih Q.M. Admin: Yahya FR

Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dan Ibtimes.id

 

Memanah, Berenang, dan Berkuda Sesuai Zaman

Memang tidak rutin, tetapi seringkali saya menghabiskan akhir pekan bersama keluarga di sebuah kawasan perumahan yang belakangan ini ramai oleh para pencari suasana santai. Di tengah situasi itu, ada sebuah pemandangan yang menarik. Sebidang tanah luas di samping sebuah pemakaman di kompleks perumahan itu terlihat ramai oleh sejumlah pelajar yang tengah berlatih memanah.

Tak hanya aneka perlengkapan memanah, di situ juga terlihat seekor kuda yang secara bergantian dinaiki oleh para pelajar tersebut. Dari spanduk yang terpampang, mudah diduga bahwa itu adalah kegiatan sebuah lembaga pendidikan Islam. Pemandangan ini menyita perhatian orang yang lalu-lalang, karena terlihat asing. Namun, tidaklah sulit mendapati pemandangan serupa di berbagai tempat di Indonesia akhir-akhir ini.

Memanah dan berkuda banyak diajarkan di berbagai pusat pendidikan Islam sebagai implementasi dari hadits Nabi Muhammad tentang perintah mengajarkan kepada anak-anak ketrampilan berenang, memanah, dan berkuda.

Memanah, berenang dan berkuda

Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdilah dan berbunyi: “Segala sesuatu yang tidak mengandung dzikrullah (menyebut nama Allah) merupakan perbuatan yang sia-sia, senda gurau dan permainan belaka; kecuali empat perkara, yaitu: senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah dan mengajarkan renang.”

Sebenarnya, hadis di atas tidak secara langsung menunjukkan perintah kepada umat Islam untuk mengajarkan ketiga keterampilan tersebut kepada anak-anak mereka. Dalam kenyataannya, yang lebih banyak dikutip sebagai dasar bukanlah hadits di atas, melainkan perkataan Umar bin Khattab: “Ajarilah anak-anakmu berkuda, berenang, dan memanah.”

Dalam banyak konteks, perkataan ini sering dianggap sebagai hadis Nabi. Sementara di kalangan para ahli hadis perdebatan seputar status dan ke-hujjah-an hadis yang dikutip di atas masih terus berlangsung, dinamika pemahaman umat Islam Indonesia terhadap hadis ini juga tak kalah menarik. Secara umum, pemahaman itu bisa dibagi ke dalam dua arus besar, yaitu literalis dan kontekstualis.

Para pendukung arus literal menafsirkan dan memahami hadis ini sebagaimana bunyinya. Berbekal keyakinan itu, lalu mereka menjadikan memanah, renang, dan berkuda sebagai bagian dari kurikulum pendidikan formal. Maraknya kelas-kelas memanah dan berkuda di berbagai sekolah Islam belakangan ini adalah wujud dari pemahaman literal atas hadis ini.

Bagi mereka, memanah lebih dari sekadar olahraga biasa. Lebih dari itu, berlatih memanah adalah menghidupkan sunnah Rasulullah. Sebaliknya, para pendukung arus kontekstual berpandangan bahwa hadis di atas harus dipahami secara kontekstual dan bukan semata-mata mengikuti bunyi harfiahnya. Ahli fikih Indonesia, Ahmad Sarwat, misalnya, berpandangan bahwa memanah, renang, dan berkuda ini adalah mubah. Baginya, terlalu jauh menganggap hadits ini sebagai sunnah dan apalagi memberlakukannya sebagai kewajiban.

Lebih dari itu, Ahmad Sarwat juga berpandangan bahwa dengan memperhatikan bunyi hadis Nabi di atas akan terlihat sebenarnya renang bukan perbuatan yang sia-sia. Hanya saja, Nabi Muhammad tidak memerintahkan secara langsung renang tersebut dan apalagi memberikan contohnya dalam bentuk perbuatan.

Di tengah persilangan pendapat ini, saya memilih mengikuti pandangan kontekstual. Salah satu dasar yang saya gunakan untuk sampai kepada sikap ini adalah bahwa tidak semua sunnah Nabi merupakan sunnah yang harus diikuti sebagai bagian dari ibadah keagamaan.

Memahami sunnah

Pada umumnya, ulama membagi sunnah Nabi Muhammad ke dalam dua bagian, yaitu sunnah tasyri’iyyah dan sunnah ghairu tasyri’iyyah. Memang persoalan sunnah tasyri’iyyah dan ghairu tasyri’iyyah ini telah menjadi bahan perdebatan di kalangan para ulama. Ada yang berpandangan bahwa sunnah Nabi Muhammad tidak boleh dibedakan, dengan hujjah bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pribadi yang tidak mungkin perbuatannya dipisah-pisahkan.

Lebih dari itu, mereka bahkan menganggap pemilahan tersebut adalah pengaruh Barat pada pemikiran umat Islam. Sedangkan, mereka yang menganut pemilahan sunnah tasyri’iyyah dan ghairu tasyri’iyyah berpandangan bahwa sebagian di antara sunnah hanya timbul untuk merespons dan memberi solusi terhadap kejadian tertentu pada tempat-tempat tertentu.

Karena itu, sunnah seperti ini bersifat kondisional, sehingga tidak tepat apabila diterapkan untuk kasus-kasus dalam kondisi yang lain serta di tempat-tempat yang lain. Hal yang lebih penting dari sunnah seperti ini adalah nilai substantifnya atau yang dalam bahasa hukum Islam disebut dengan illat. Atas dasar ini, pemahaman saya tentang memanah berbeda dengan kalangan literalis.

Dalam sebuah forum ilmiah di mana saya menjadi salah satu pembicara bersama Profesor Imam Suprayogo, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, terungkap sebuah perspektif yang menarik. Menurut Imam, yang harus kita teladani dan ambil pelajaran dari memanah, berenang, dan berkuda adalah nilai-nilai substantif, bukan bentuk fisiknya.

Dalam memanah, kata Imam, diperlukan fokus pada satu titik. Demikian pula, olahraga ini memerlukan keselarasan antara otak dan berbagai anggota badan. Otak berfokus pada titik tujuan, sementara tangan dan mata menjalankan fungsinya untuk mewujudkan tujuan pada sasaran tembak. Demikian halnya dalam kehidupan. Untuk mencapai satu tujuan, diperlukan fokus dan kerjasama antar berbagai elemen, dan untuk mencapai keberhasilan, fokus pada satu titik adalah keniscayaan.

Masih menurut Imam, makna kiasan ini juga bisa diterapkan pada renang. Renang adalah olahraga air yang meniscayakan seorang perenang untuk selalu menggerakkan tangan dan kaki. Ketika tangan dan kaki tak bergerak, maka perenang akan tenggelam. Falsafah ini juga berlaku dalam kehidupan. Maknanya, hidup tidak boleh berhenti kalau kita tidak ingin terlindas roda zaman dan ketatnya persaingan.

Dengan kata lain, renang merupakan kiasan yang mengirimkan pesan agar manusia selalu kreatif dan inovatif, serta tidak berputus asa ketika mengalami kegagalan. Tentang kuda, hal ini juga memberikan isyarat zaman kepada umat manusia untuk bertindak efektif dalam berhubungan dengan persoalan-persoalan praktis kehidupan. Misalnya, dalam hal transportasi, kuda adalah sarana transportasi tercepat pada zaman itu. Maka gunakanlah sarana yang tercepat karena itu adalah juga bagian dari penghormatan terhadap waktu yang juga merupakan ajaran Islam.

Lebih jauh tentang kuda ini, dalam Encylopedia Britannica disebutkan bahwa kuda adalah binatang yang memiliki hubungan sangat unik dengan manusia. Kuda adalah partner dan sahabat bagi manusia dalam menyelesaikan urusan-urusan kehidupan duniawi. Barangkali karena hal ini, lalu kuda dijadikan sebagai ukuran daya.

Istilah tenaga kuda atau horse power yang muncul pada awal zaman uap, adalah buktinya. Tafsir Kontekstual: Memanah, Renang, dan Berkuda Selain tafsiran di atas, pada konteks zaman ini, panahan, renang, dan berkuda; bisa diartikan sebagai senjata, strategi, dan transportasi. Jika ditarik pada pendidikan keluarga, mengajarkan panahan kepada anak, bermakna membekali anak dengan keterampilan-keterampilan taktis pertahanan diri.

Saya ingat, semasa kecil dulu, Bapak dan Ibu selalu mendorong saya untuk ikut latihan bela diri. “Untuk mempertahankan diri jika terjadi apa-apa. Syukur jika bisa menolong orang,” demikian nasihat Ibu. Dalam konteks umat, memanah adalah isyarat agar umat Islam selalu menguasai persenjataan dan strategi militer. Dinamika zaman ini mengajarkan sebuah kesadaran bahwa senjata fisik tak lagi menjanjikan kemenangan.

Perang masa kini bukan lagi perang dengan senjata yang terlihat. Jika Anda percaya tentang tidak alaminya virus corona, itulah bukti perang dengan senjata non-fisik itu. Lalu renang. Berenang adalah simbol inovasi, strategi, dan survival. Baik dalam konteks keluarga maupun umat, ketiganya sangat penting. Anak-anak harus dibekali dengan kemampuan untuk berkompetisi pada zamannya.

Karena setiap generasi memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Bukankah Rasulullah juga bersabda: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka, bukan zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman mereka, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

Karena itu, memaknai panah, renang, dan kuda sesuai zamannya sangatlah penting. Maka, memanahlah dengan panah zamanmu. Berenanglah pada kolam zamanmu. Dan naiklah kuda sesuai kuda pada zamanmu.

Penulis:

Pradana Boy ZTF

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Gelar PhD dari the Department of Malay Studies at the National University of Singapore.

Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dan Ibtimes.id

 

Virus Corona Uji Solidaritas dan Kekuatan Kebangsaan Indonesia

Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan yang lebih jelas terhadap penanganan wabah Corona (Covid-19) di Indonesia. Sebelumnya, publik dibuat simpang-siur dengan berbagai informasi dan kebijakan yang setengah-setengah dan tampak tidak terkoordinasi dengan baik.

Peneliti Senior Maarif Institute, Endang Tirtana mengatakan, Jakarta yang kini sudah menjadi episentrum Corona karena jumlah kasus paling banyak, sempat dilakukan pembatasan sarana transportasi oleh Gubernur Anies Baswedan. Tak pelak antrean membeludak, ketika sebagian besar masyarakat belum bisa bekerja dari rumah.

Seruan untuk menutup sebagian wilayah atau bahkan seluruh Indonesia (lockdown) nyaring disuarakan di media sosial. Hal tersebut merujuk pada kebijakan negara seperti China yang me-lockdown Wuhan dan beberapa kota atau lockdown total seperti di Italia dan negara Eropa lainnya.

“Lockdown merupakan kebijakan paling ekstrem untuk mencegah penyebaran virus ketika transmisi lokal sudah merebak luas di tengah masyarakat. Kebijakan menutup total wilayah-wilayah terdampak tentu jauh lebih efektif dari sebatas imbauan jaga jarak sosial (social distancing),” katanya kepada merdeka.com, Jumat (20/3).

Dia menilai, pemerintah pusat tampak gamang untuk mengambil opsi lockdown atau tidak. Mengingat konsekuensi dari lockdown sangat berat, karena akan berdampak pada perekonomian. Berbeda dari negara-negara maju, sektor informal mendominasi ekonomi Indonesia dan akan sangat terpukul.

“Demikian pula dengan pekerja di sektor formal, tidak semua perusahaan segera mengambil opsi bekerja dari rumah. Akibatnya, masih banyak pekerja yang memutuskan berangkat ke tempat kerja, karena khawatir pendapatannya dipotong atau tidak dibayar,” jelasnya.

Endang mengingatkan, opsi lockdown juga mensyaratkan ketersediaan bahan pokok dalam jumlah yang memadai. Di banyak tempat aksi borong (panic buying) menyebabkan kelangkaan, dari makanan hingga masker dan hand sanitizer. Untuk itu aparat diharapkan proaktif mencegah aksi borong maupun penimbunan.

“Lebih penting dari itu semua, prioritas menyelamatkan nyawa harus diletakkan di atas segala-galanya. Melonjaknya jumlah kasus, baik positif, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), hingga korban meninggal membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai,” terangnya.

Langkah pemerintah seperti dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir dinilai tepat, dengan mengubah hotel dan aset negara sebagai ruang isolasi darurat. Jangan sampai pasien yang seharusnya diisolasi telantar seperti banyak terjadi saat kejadian luar biasa (KLB) penyakit lain, misal demam berdarah.

Presiden Jokowi tampaknya lebih memilih strategi pemeriksaan massal dengan mendatangkan test kit dalam jumlah besar. Opsi ini bisa menghilangkan kekhawatiran banyaknya kasus yang menjangkit di tengah masyarakat tanpa terdeteksi.

Strategi test massal seperti diambil Korea Selatan juga berhasil menekan angka kematian (fatality rate) akibat pandemi Corona. Saat ini angka kematian wabah Corona di Indonesia sangat tinggi mencapai 8 persen, sementara di Korsel bisa ditekan hingga di bawah 1 persen.

Pemuka Agama Diminta Bantu Pencegahan Penularan Corona

Endang menambahkan, lonjakan kasus juga harus disertai dengan tindakan untuk melandaikan kurva dengan social distancing yang efektif. Di titik ini para pemimpin agama dan ormas keagamaan berperan penting untuk mengajak masyarakat mencegah penyebaran virus.

“Kegiatan-kegiatan keagamaan yang selalu mendatangkan jamaah dalam jumlah besar harus ditunda dulu sementara waktu. Masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya juga harus disterilisasi dengan disinfektan dan ditutup untuk antisipasi berkembangnya virus,” terangnya.

Para pemuka agama diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih baik kepada masyarakat di tengah kuatnya pemahaman irasional dan konspirasi. Pendekatan keagamaan diperlukan, bahwa berserah diri kepada Tuhan harus diimbangi dengan ikhtiar untuk menghindarkan diri dari penyakit.

“Apalagi hampir sebulan lagi bulan Ramadhan akan segera tiba. Diprediksi puncak wabah Corona akan terjadi pada bulan April hingga Mei, ketika masyarakat biasanya akan mudik dalam rangka Lebaran. Pemerintah tidak boleh lagi terlambat untuk mengantisipasi lonjakan kasus dan penyebaran virus,” ujarnya.

Endang mengungkapkan, kebijakan menutup sekolah dan kerja dari rumah disalahartikan sebagai ‘liburan Corona’. Alih-alih berdiam diri di rumah, warga justru berbondong-bondong memenuhi tempat-tempat wisata.

“Strategi mengatasi wabah Corona pun tidak melulu domain pemerintah. Semua pihak termasuk swasta dan masyarakat harus dilibatkan. Inisiatif selebriti dan beberapa lembaga untuk memberikan donasi patut diapresiasi, untuk menambah ketersediaan alat pelindung diri (APD) misalnya,” ujarnya.

Keterbatasan peralatan baik masker atau kebutuhan medis di rumah sakit terjadi di banyak negara karena kejadian pandemi ini. Pemerintah perlu mengajak sektor manufaktur lokal untuk menggenjot produksi dalam negeri jika kesulitan mengimpor dari negara lain yang juga sedang kesulitan.

Perlindungan terhadap tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan pasien Corona ketika yang lain memilih diam di rumah perlu dilengkapi dengan APD yang cukup. Demikian pula dengan insentif keuangan agar mereka bisa bekerja maksimal menyelamatkan warga.

“Masyarakat dapat proaktif melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan dan fasilitas publik. Patroli juga bisa dilakukan untuk mengurangi kerumunan, serta pengecekan kondisi warga jika mengalami gejala mirip Covid-19 dan segera membutuhkan pertolongan medis,” tutup Endang. [fik]

Sumber: Merdeka.com, Jumat, 20 Maret 2020

Ormas Islam Berjati Diri Wasathiyah Jaga Keutuhan Bangsa

Republika, 09 Maret 2020–Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra mengatakan, banyak kalangan baik di dalam maupun luar negeri mencemaskan masa depan Islam Indonesia wasathiyah. Sementara mereka yang menganut paham dan praksis Islam transnasional terlihat sangat aktif, dalam pada itu, ormas-ormas Islam pemegang Islam wasathiyah nampak pasif.

Hanya sekali-kali mereka bersuara tegas dan jelas menolak paham dan praksis Islam transnasional. “Ormas-ormas Islam yang memegangi jati diri wasathiyah seperti NU, Muhammadiyah dan banyak lagi ormas berpaham sama di seantero Indonesia jelas memiliki peran krusial dalam menjaga keutuhan negara-bangsa Indonesia. Karena itu, ormas-ormas ini perlu senantiasa memperkuat jati diri Islam wasathiyah Indonesia,” ujarnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Prof Azra mengemukakan hal tersebut saat tampil pada diskusi dan peluncuran Jurnal MAARIF edisi ke-34 No.2 Desember 2019 dengan tema “Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah: Konsepsi, Interpretasi, Strategi dan Aksi”.

Acara yang digelar di Aula Kampus Uhamka Jakarta, pekan lalu itu menghadirkan nara sumber Prof Azyumardi Azra, Ahmad Najib Burhani PhD (Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Dr Zamah Sari (Wakil Rektor II Uhamka). Acara ini dimoderatori oleh Pipit Aidul Fitriyana (Manager Program Riset Maarif Institute).

Dalam sambutannya, Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif Ma’arif Institute, mengatakan, isu tentang moderatisme Islam menjadi tren belakangan ini, utamanya di tengah maraknya radikalisme yang bisa membahayakan kedaulatan nasional, kepentingan ekonomi nasional, nilai-nilai budaya, dan identitas nasional.

“Saya meyakini bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi moderat tidak sehaluan dan tidak memberi ruang bagi adanya ideologi, pemikiran, sikap, dan pandangan yang ingin mewujudkan bentuk dan ideologi lainnya yang bertentangan dengan pandangan Negara Pancasila Darul l-Ahd Wa al-Syahadah,” ujar Abd Rohim.

Najib Burhani berpendapat bila melihat beberapa fenomena belakangan ini seperti berbagai aksi intoleransi terhadap minoritas, mudahnya mem-bully secara berjamaah kepada mereka yang berpandangan berbeda, dan terjadi konflik keagamaan hanya karena persoalan sepele, ada kekhawatiran bahwa Islam moderat di Indonesia itu sudah goyah. “Tindakan intoleransi, diskriminasi, dan bigotry memang bukanlah masuk kategori terorisme, namun itu bisa menjadi awal dari perilaku yang bisa berujung pada terorisme,” jelas tokoh Muhammadiyah yang juga Peneliti Senior di LIPI ini.

Pembicara berikutnya, Zamah Sari, mengingatkan bahwa salah satu karakter moderasi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Ia berharap visi itu tidak hanya berhenti dalam ucapan dan jargon semata, tetapi menjadi laku tindakan nyata. Visi ini dalam konteks keindonesiaan adalah menjadi pengawal Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Syafii Maarif, Hamka, dan Pabrik Kearifan Kata

Pada tahun 2007, di Padang, Buya Ahmad Syafii Maarif memberikan pidato kebudayaan pada sebuah acara. Dalam kesempatan itu, Buya Syafii Maarif tengah menyampaikan perihal kebudayaan, terutama munculnya tokoh-tokoh dan karya kesusastraan yang banyak lahir di Ranah Minang. Untuk itulah Buya Syafii Maarif memberikan julukan Pabrik Kearifan Kata yang Kaya pada tempat kelahiran Buya Hamka (17/2/1908-24/7/1981) itu.

Bukan tanpa alasan, julukan itu disematkan Buya Syafii lantaran Ranah Minang memang sejak zaman dahulu, sebelum Indonesia merdeka, telah melahirkan toko-tokoh besar, seperti pengarang, cendekiawan, pemikir, ulama, dan sebagainya. Di Pabrik Kearifan Kata itu juga lahir pelbagai jenis karya sastra yang turut mewarnai kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, mulai dari pantun, gurindam, syair, pepatah, hingga roman.

Buya Hamka dan bahkan Buya Syafii Maarif sendiri pun merupakan tokoh umat dan bangsa yang lahir dari Ranah Minang. Kita bukan sedang membicarakan primordialitas kesukuan seorang tokoh dengan tokoh lain. Melainkan mencoba membaca fakta unik dan menarik tentang kiprah dan kelahiran tokoh-tokoh dari daerah tersebut. Dalam hal ini perlu kita sadari bahwa berbagai belahan Indonesia menyimpan keistimewaan yang besar.

“Hamka adalah seorang pemikir yang merdeka,” ujar Buya Syafii dalam pengantar Adicerita Hamka karangan James R Rush (2017). Pantas Buya Hamka dilabeli demikian, sebab dari sekian banyak karyanya, baik karya sastra, tasawuf, filsafat, tafsir Al-Quran, maupun buku-buku agama, memang menggambarkan sosok Hamka yang luwes dalam berpikir. Tak segan-segan, Buya Hamka, memberikan kritik dan bahan perenungan yang dalam pada setiap coretannya.

Meskipun dalam masalah agama, kita bisa melihat sosok Hamka sebagai ulama yang teguh berpendirian, bahkan mungkin di zaman sekarang bisa dianggap keras dan konservatif. Namun, kembali lagi, semua itu bisa disampaikan dengan bahasa yang menggugah dan membuat pembaca atau pendengarnya merenung dengan dalam. Itulah bentuk kearifan kata yang menjadikan Buya Hamka begitu istimewa.

Budaya berpikir bebas itu, sebut Buya Syafii, merupakan warisan dari ayahnya, Haji Rasul, yang memang terpatri dalam tradisi Minangkabau yang autentik. Jika kita menelaah ungkapan Buya Syafii ini, tentu kita akan kembali ke ungkapan Pabrik Kearifan Kata. Bagaimana tradisi keluarga di suatu daerah membentuk pribadi seseorang.

Meski pada awalnya Malik, nama kecil Hamka, dalam berbagai kisah dan cerita disebutkan sebagai anak yang “bandel” bahkan tidak lulus sekolah formal, tapi ternyata kita bisa melihat bagaiaman seorang tumbuh menjadi tokoh besar. Bahkan, banyak akademisi dari dalam dan luar negeri tertarik untuk membedah dan meneliti karya, pemikiran, tafsir, dan kisah Buya Hamka. Nama Hamka pun diabadikan sebagai nama sebuah universitas, yakni Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA di Jakarta dan Pesantren Modern Terpadu Prof DR HAMKA di Padang.

Semua itu saya kira dibentuk oleh tradisi keluarga, lingkungan, serta budaya Minang yang dikatakan Buya Syafii sebagai tradisi yang autentik. Dari Pabrik Kearifan Kata lahir sosok-sosok panutan bukan cuma bagi umat Islam, tapi juga bagi segenap bangsa Indonesia, bahkan dunia. Buya Hamka memang telah pergi, tapi kecintaannya terhadap bangsa dan agama masih kita rasakan hingga hari ini. Tidak lain adalah lewat karya-karyanya.

Buya Syafii Maarif yang juga merupakan guru bangsa, berkata bahwa Hamka sangat mencintai Indonesia. Buya Syafii berpesan, “… karya-karya Hamka perlu disebarkan terus-menerus karena di dalamnya berhimpun pesan abadi untuk kebesaran dan kedaulatan bangsa ini.”

Penulis: Ahmad Soleh 

(Pengasuh Website Madrasah Digital)

Sumber: madrasahdigital.co, 19 Februari 2020

 

Perusakan Tempat Ibadah, Buya Syafii: Negara Harus Selalu Hadir

Perusakan tempat ibadah, dalam hal ini musala, yang baru-baru ini terjadi di Perumahan Griya Agape, Desa Tumaluntung, Kauditan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada Rabu, 29 Januari 2020, mengundang keprihatinan guru bangsa, Buya Ahmad Syafii Maarif.

Melalui pesan singkat, Buya Syafii menegaskan bahwa tempat ibadah harus dilindungi. “Semua tempat ibadah tidak boleh dirusak oleh siapa pun, apa pun agama dan etnisitasnya,” Ungkapnya. Selanjutnya, Buya Syafii juga menyampaikan bahwa negara harus selalu hadir untuk melindungi tempat-tempat ibadah dan semua warganya.

Di negara ini, sebagaimana diatur dalam konstitusi, setiap warga negara diberi jaminan kebebasan dalam beragama. Ditegaskan dalam UUD ’45 Pasal 28E ayat 1: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Bangsa dan negara ini dibangun di atas keragaman agama, suku, ras, dan antargolongan. Perjuangan dalam menganyam keragaman itu bukan pekerjaan ringan dan sesaat. Perlu waktu puluhan bahkan ratusan tahun dan terus-menerus tanpa henti. Jika bukan atas kesadaran dan rasa tanggung jawab kolektif, persatuan dan kerukunan itu mustahil diwujudkan.

Maka tidak selayaknya sesama anak bangsa yang sangat majemuk ini saling mementingkan kepentingan ego dan kelompoknya sendiri dengan meniadakan yang lainnya. Semua harus mengedepankan rasa toleransi, tenggang rasa, dan lapang dada sehingga perbedaan tidak justru menjadi pemisah, tapi menjadi kekuatan bersama dalam membangun Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Para tokoh dan pemuka agama memiliki peran penting untuk mewujudkan persatuan dan kedamaian. Setiap penyataan dan sikapnya pun harus berorientasi pada persatuan dan kedamaian itu, bukan justru memanaskan dan memperkeruh situasi. Semua agama yang diakui di negara ini mengajarkan kepada pemeluknya tentang nilai-nilai kebaikan dalam hidup bersama.

Keprihatinan Buya Syafii di atas menjadi renungan bersama agar sesama anak bangsa yang majemuk ini saling menghormati, menghargai, dan melindungi. Tempat ibadah dan semua pemeluknya harus sama-sama dijaga dan saling menjaga agar tercipta rasa aman dan damai. Negara pun harus selalu hadir untuk melindungi tempat-tempat ibadah dan semua warga negaranya. “Kita berbeda dalam persaudaraan dan bersaudara dalam perbedaan,” ungkap Buya Syafii. (Erik)

Sumber: Suara Muhammadiyah, 2 February, 2020

Buya Syafii, Sarang Building, dan Peluang Seni-Budaya di Muhammadiyah

Di rumah makan Padang Sederhana jalan Kaliurang pada 31 Januari 2020 sekitar pukul 19.45, dokter Alim, Iqbal Aji Daryono, Lya Fahmi-Lukman, dan saya menyimak kegelisahan seniman Alfi Chaniago, asal suku Minang, yang sangat mencintai Muhammadiyah itu meskipun ia tak pernah terlibat secara aktif sebagai pengurus di Persyarikatan. “Meskipun saya bukan pengurus Muhammadiyah,” kata Alfi, “darah dan daging saya adalah Muhammadiyah.”

Secara ekonomi, Uda Alfi, demikian ia akrab disapa, telah selesai dengan dirinya sendiri. Buya Syafii Maarif menyebutnya sebagai seniman yang konglomerat. Ia adalah pemilik Sarang Building yang berlokasi di Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. Sebuah galeri seni lukis yang dibangun di atas tanah seluas 1.400 meter persegi dengan konsep hijau-terbuka bagai oase di tengah kota.

Suatu ketika Buya Syafii pernah berpesan kepada Alfi sebagai seniman sekaligus budayawan agar mengisi Muhammadiyah dari aspek kesenian dan kebudayaannya yang terasa kering. Kemudian hari Alfi bersama beberapa generasi muda di atas berinisiasi mengadakan sebuah forum kajian kebudayaan bertempat di Sarang Building. “Kami sebagai generasi muda ingin lagi belajar tentang Muhammadiyah dari sisi kebudayaannya,” ungkap Alfi dalam kajian pertama bersama Buya Syafii.

Kegiatan yang rencananya akan diadakan secara rutin setiap bulan ini mengangkat pikiran-pikiran di Muhammadiyah yang kurang atau bahkan tidak terekspos, terutama dalam hal seni-budaya. Catatan penting dari Alfi bahwa forum ini terbuka untuk semua orang, forum ini harus menjadi oase, dan menggembirakan. Awalnya, Alfi sendiri tidak terlalu optimis dalam melihat peluang seni-budaya di Muhammadiyah.

Di saat yang sama, Alfi menaruh harapan besar dengan adanya LSBO (Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga) Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah organisasi besar sekaligus identik dengan formalitas dan birokasi. Baca Juga Apapun Ormasnya, Agamanya Islam Sedangkan dunia seni-budaya terkesan imajinatif, bebas, dan dinamis.

Meskipun demikan, sebagai seorang seniman, Alfi tidak habis ide. Ia mengambil jalan tengah dengan mengonsep forum ini menjadi semi-formal. Forum pertama yang diadakan pada Sabtu sore, 22 Februari 2020 yang lalu, berjudul Mengurai Silang Sengkarut Kebudayaan Islam. Buya Syafii Maarif hadir sebagai pemateri dan dokter Alim sebagai moderator. Puluhan yang hadir berasal dari latar belakang kultural yang beragam. Kebanyakan dari generasi muda. Sebagian lagi dari kalangan akademisi, seniman, dan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Bagi Alfi dan kawan-kawan, forum ini menjadi satu upaya mewujudkan amanah dan impian Buya Syafii untuk mengisi Muhammadiyah dari aspek seni dan budaya. “Meskipun tidak melalui struktural, siapapun bisa berbuat dan bermanfaat bagi Persyarikatan dalam batas kemampuan masing-masing,” ungkap Alfi.

Penulis/Reporter: Erik Tauvanie

Editor: Azaki

Judul Asli: Sarang Building, dan Peluang Seni-Budaya di Muhammadiyah

Sumber: ibtimes.id, 23 Februari 2020

 

Buya Syafii Maarif, Dedikasi Tiada Henti Menyemai Kebudayaan dan Kemanusiaan untuk Negeri

Bila ada pertanyaan mana yang lebih mudah menjadi toleran atau intoleran? Maka untuk sementara ini harus diakui menjadi intoleran lebih mudah dari pada menjadi toleran. Tindakan intoleransi seperti kekerasan, intimidasi, fitnah, hate-speech, penyerangan sebuah kelompok terhadap kelompok lain, hingga terorisme telah menjadi laku sebagian kelompok atau ormas.

Telinga kita mungkin tak asing lagi mendengar nama Buya Syafii, panggilan akrab seorang Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif yang kini telah berusia 84 tahun. Salah satu dari “Tiga Pendekar dari Chicago” ini dikenal sebagai tokoh lintas agama yang tak pernah lelah menggaungkan toleransi dan rasa kemanusiaan di negaranya. Pemikirannya tersebut membuka pintu cakrawala keilmuan pemuda-pemudi penerus bangsa yang mempunyai kesamaan pikiran.

Selain dikenal sebagai tokoh lintas agama, cendekiawan, dan sejarawan, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998-2005 ini juga dikenal sebagai Guru Bangsa. Sepeninggalan tokoh-tokoh besar seperti Prof. Nurcholish Madjid dan KH. Abdurrahman Wahid, mungkin hanya Buya Syafii yang sampai hari ini menjadi guru bangsa yang tersisa, tanpa bermaksud menafikan nama dan tokoh lainnya.

Mengabdi untuk Kemanusiaan

Selain dikenal sebagai akademisi yang mumpuni dalam bidang sejarah, Buya Syafii juga terlibat aktif dalam mengadvokasi golongan-golongan minoritas. Ia merupakan tipikal intelektual yang tidak betah berdiam lama dibalik tembok kampus. Jiwanya senantiasa resah, ia seolah tiada jemu memikirkan persoalan yang mendera bangsanya. Sosoknya yang pluralis, inklusif, dan toleran memang acapkali memicu pro-kontra atas keputusan yang telah diambilnya.

Kendati demikian seorang Buya Safii tak mau ambil pusing, ia tahu bahwa semua ini adalah konsekuensi logis dari apa yang ia yakini dan perjuangkan selama ini. Bahkan, ia semakin tertantang untuk lekas memberi sumbangsih peran untuk mengeluarkan anak bangsa dari penjara keterbelakangan.

Melalui tulisan-tulisannya, Buya banyak berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan universal, nasehat-nasehatnya kepada anak-anak muda yang kelak menjadi penerus bangsa sangatlah inspiratif, misalnya saja nasehat Buya Syafii pada acara purna santri Muallimin, dilansir dari beritaterbit.com (2008).

“Jadi pemimpin itu sangat berat, tapi mulia dan menantang. Pelajari riwayat pendiri negara, agar tahu kenapa bangsa dan negara kita harus merdeka. Jadikan politik untuk menegakkan keadilan, bukan mata pencaharian. Kita harus mampu bergaul dengan siapa saja, bahkan yang mengaku tidak beriman. Lakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di manapun. Jadilah ikan laut, hidup di air yang asin tapi tidak dengan dagingnya. Ketika kondisi negara tidak baik seperti saat ini, tidak cukup hanya dengan membantu. Berkemajuan adalah memperbanyak kawan dan meniadakan musuh. Di semua unit peradaban, minoritas yang berkualitas adalah penentu. Perbanyak membaca, merenung, dan menulis.”

Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

Menurut Moh. Shofan seperti dikutip dalam buku “Merawat Kewarasan Publik: Refleksi Kritis Kader Intelektual Muda tentang Pemikiran Ahmad Syafi’i Ma’arif (2018),” menuliskan, cerita kehidupan seorang Buya adalah cerita keteladanan, cerita seorang cendekiawan dengan kepribadian yang humanis yang memandang bahwa setiap manusia harus dihormati sebagai seorang manusia seutuhnya, bukan karena dia bijaksana atau tolol, baik atau jelek, dan tanpa memandang agama, ras, suku, bahasa, atau budaya.

Humanisme selanjutnya, adalah pilar utama agama, dan tiada agama tanpa humanisme. Agama yang humanis pastinya menempatkan harkat dan martabat yang tinggi pada manusia. Dan Islam jelas Buya, adalah agama yang paling banyak bercerita tentang keluhuran budi manusia. Menjadi manusia adalah undangan dari Tuhan untuk berbuat baik kepada sesamanya. Seperti ini pula yang dikumandangkan oleh Giovanni Pico Della Mirandola (seorang filsuf humanis zaman Renaissance Eropa), Hermes Trimegistus, Asclepius (seorang filsuf Yunani kuno) tentang manusia.

Pemikiran Egaliterianisme Islam Buya Syafii

Amirullah dalam buku “Merawat Kewarasan Publik (2018),” menyatakan bahwa, secara substantif Islam sebagai agama tauhid mendeklarasikan pesan egaliter untuk mengibarkan panji-panji persamaan dan keadilan bagi kepentingan manusia. Tauhid menjadi sumber dari egaliterianisme itu sendiri. Dalam pemikiran Buya Syafii, umat manusia punya sisi yang sama di hadapan Tuhan dan sejarah. Bila disana-sini tampak perbedaan, hal tersebut dimata Buya Syafii adalah karena yang satu berhasil mengembangkan potensi fisik dan ruhaninya, sedangkan yang lain menelantarkan potensi itu dengan sia-sia. Perbedaannya hanyalah terletak pada persoalan prestasi. Landasan etis inilah yang turut memperkuat keyakinan Buya Syafii tentang arti pentingnya egaliterianisme.

Pandangan Buya Syafii yang berbasis pada tauhid ini memiliki kesamaan sekaligus dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal, Iqbal sendiri dalam bukunya “The Reconstruction of Religious Thought in Islam,” menyatakan bahwa intisari tauhid adalah persamaan, solidaritas, dan kebebasan. Artinya, meskipun bersifat teosentris tapi doktrin tauhid membagun kesadaran untuk mengaktualisasikan kehendak Tuhan untuk membangun tatanan kemanusiaan yang lebih baik.

Dengan kata lain, di dalam ajaran tauhid mengandung nilai seperti kebebasan (liberty), persaudaraan (fraternity), persamaan (equality) dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Pendapat semacam ini juga mendapat penegasan dari cendekiawan Kuntowijoyo, menurutnya, Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Baginya, pusat keimanan Islam memang Tuhan, namun ujung aktualisasinya adalah manusia.

Jalan Terjal Buya Syafii

Dalam kerja-kerja kemanusiaannya seringkali Buya membela orang-orang yang terdesak oleh karena ulahnya yang dianggap kontradiktif. Dari pembelaan-pembelaan itulah Buya kerap disalahpahami. Berbagai cercaan, umpatan, hinaan, bahkan sampai hujatan pun dialamatkan kepadanya. Tak hanya dikecam, banyak tulisan liar dan pernyataan pendek di media sosial yang memintanya agar segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Seperti kasus Ahok misalnya, Buya dianggap kafir karena membela orang kafir. Bahkan, mereka menuduh Buya telah “dibeli”. Namun, disinilah letak keagungan akhlak Buya. Ia lebih memilih untuk memberi maaf kepada mereka yang telah menghujatnya. Sebab Buya menyadari sebagaimana pepatah Arab bahwa, “Manusia adalah musuh apa saja yang tidak (belum) dipahaminya.”

Dalam melakukan advokasi terhadap kalangan minioritas Buya berpesan kepada generasi muda, bahwa harus ada keberanian untuk melakukan terobosan dengan berpijak atas dalil-dalil agama yang dipahami secara benar dan cerdas, tekstual sekaligus kontekstual. Buya ingin agar Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara.

The Next Ahmad Syafii Maarif

Umur Buya Syafii telah memasuki masa senja 84 tahun sudah tenaga serta pemikirannya tentang kebudayaan, kemanusiaan, dan toleransi telah dipersembahkan. Hal tersebut semata-mata untuk menjaga keutuhan, persatuan dan kedaulatan negerinya.

Dalam rangka menjaga nafas gerakan, pemikiran kritis, dan sikap moral-intelektualnya, seorang Ahmad Syafii Ma’arif perlu adanya regenerasi dikalangan generasi muda yang berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar dapat menggerakan gairah intelektual generasi muda ditingkat lokal serta membentuk jaringan intelektual atau aktivis yang mampu merespon tantangan persoalan keindonesiaan dengan melakukan advokasi sosial di tingkat akar rumput.

Saat ditanya Khadafi dalam wawancaranya bersama Mojok X Gusdurian Jogja perihal siapa penerus pemikiran Buya Syafii Ma’arif atau the next Buya Syafii, Buya menjelaskan bahwa banyak dari kalangan muda yang mewarisi pemikirannya seperti Zuhairi Misrawi, Ahmad Nadjib Burhani, Fajar, M Abdullah Darraz, Hasibullah Satrawi, dan masih banyak lagi anak muda yang mewarisi dan terus mengkaji pemikiran Buya Syafii Ma’arif.

Hal ini bisa kita temui pada buku terbitan Maarif Institute, dimana dalam buku tersebut merupakan sekumpulan refleksi kritis kader muda selama mengikuti Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Ma’arif (SKK-ASM) tentang pemikiran Buya Syafii, tentu tidak hanya dari kalangan Islam saja melainkan juga dari kalangan non-muslim pun turut mengkaji sekaligus mengapresiasi pemikiran Buya Syafii terhadap kerja-kerja kemanusiaannya.

Artinya pemikiran Buya Syafii tentang toleransi dan kemanusiaan adalah bingkai dalam bergerak maju, terbuka, ramah, progresif, dan rahmatan lil ‘alamin. Sementara itu, menekankan bahwa setiap manusia haruslah bersikap dinamis dan sangat manusiawi dengan memberi rasa keadilan, keamanan, serta perlindungan bagi setiap manusia secara menyeluruh.

Seperti pesan Buya Syafii bahwa, “Sebagai orang tua, saya berpesan agar generasi yang akan datang kemudian mau belajar sejarah nasional. Jangan sampai membiarkan bangsa dan negara ini berkuah darah lagi dalam sengketa sesama saudara.” Maka dengan ini kita sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya untuk saling mengasihi, meghargai, dan menghormati sesama. Seperti yang pernah dikatakan Ali R.A, “Jika kita tidak sama dalam pemahaman, kita bersaudara dalam iman. Jika kita tak sama dalam iman, kita bersaudara dalam kemanusiaan”.

Sumber: Pijarnews.id  22 Februari  2020

Maarif Institute Akan Kembali Gelar MAARIF Award 2020

TEMPO.CO, JakartaMaarif Institute akan kembali menggelar MAARIF Award pada 2020. Penghargaan yang digelar ke delapan kalinya ini akan diberikan untuk mengangkat model keteladanan dan kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai kebinnekaan, anti-kekerasan, dan anti-diskriminasi. “MAARIF Award merupakan ikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan di tingkat akar rumput,” kata Direktur Program Khelmy K. Pribadi melalui siaran pers pada Kamis, 19 Desember 2019.

Khelmy menjelaskan, kehadiran MAARIF Award tahun ini memiliki tantangan tersendiri ketika bangsa dihadapkan pada gelombang informasi dan agresivitas aktor transnasional yang dapat memberikan pengaruh besar pada dinamika lokal.

Anggota Dewan Juri MAARIF Award Clara Joewono menambahkan penyelenggaraan award tahun ini diharapkan menemukan sosok dan institusi yang mampu menjadi antitesis. “Sekaligus siasat cerdas dalam menanggapi tantangan kemajemukan yang kini membayangi masyarakat Indonesia.”

Khelmy menerangkan, selain memiliki komitmen pada kebhinekaan, calon penerima MAARIF Award akan dinilai dari kerja kemanusiaan yang dipeloporinya untuk publik. Hal ini diharapkan mampu mendorong partisipasi warga yang lebih luas untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan menjembatani perbedaan kebhinnekaan yang hadir di tengah masyarakat.

Beberapa kerja kemanusiaan yang menjadi fokus utama pemberian penghargaan ini meliputi pada kerja-kerja peningkatan mutu hidup masyarakat melalui penguatan akses pendidikan, kesehatan dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat. “Serta pemeliharaan lingkungan, recovery pasca bencana, dan rekonsiliasi pasca konflik demi kedamaian dan kesejahteraan hidup masyarakat.”

Khelmy berharap publik terlibat dalam program ini. Keterlibatan dilakukan dengan merekomendasikan atau pengajuan nama-nama yang dianggap layak untuk mendapatkan MAARIF Award. Formulir pencalonan yang bisa diunduh di www.maarifinstitute.org. Pengiriman berkas pencalonan diterima selambatnya pada 29 Februari 2020.”

Seluruh berkas pencalonan bisa dikirimkan melalui surat elektronik ke [email protected] atau bisa juga dikirim langsung ke Maarif Institute Jalan Tebet Barat Dalam 2 Nomor 6 Tebet, Jakarta Selatan 12810.

https://nasional.tempo.co/read/1285607/maarif-institute-akan-kembali-gelar-maarif-award-2020/full&view=ok

Maarif Institute Kembali Gelar Award untuk Pejuang Toleransi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Maarif Institute akan menggelar Maarif Award pada Mei 2020 untuk mencari figur-figur pejuang kemanusiaan dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap toleransi, pluralisme, dan keadilan sosial.

“Maarif Award ini merupakan ikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan di tingkat akar rumput,” kata salah satu dewan juri Maarif Award 2020, Clara Joewono, saat jumpa pers di Kantor Maarif Institute, Jakarta Selatan, Rabu (18/12).

Maarif Award adalah program penghargaan dua tahunan yang digelarMaarif Institute. Penghargaan ini diberikan untuk mengangkat model-model keteladanan dan kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai-nilai kebhinekaan, anti kekerasan, dan antidiskriminasi.

Menurut Clara, Maarif Award pada tahun ini memiliki tantangan tersendiri ketika bangsa semakin dihadapkan pada gelombang air bah informasi dan agresivitas aktor-aktor transnasional yang dapat memberikan pengaruh besar pada dinamika lokal.

Dia menyebutkan, penyelenggaraan award tahun ini diharapkan menemukan sosok ataupun institusi yang mampu menjadi antitesis sekaligus siasat cerdas dalam menanggapi tantangan kemajemukan yang kini membayangi masyarakat Indonesia.

Dewan Juri akan mencari sosok yang berada di daerah yang mengabdikan dirinya untuk kegiatan-kegiatan sosial demi kepentingan kemanusiaan, kepentingan agama dan kepentingan bangsa dengan tulus.

“Kita akan mencari orang biasa dengan karya yang luar biasa,” ucap Clara.

Dewan juri lainnya, Nezar Patria, menyebutkan  penerima Maarif Award haruslah orang-orang yang tak hanya memiliki komitmen pada kebhinekaan, tapi juga mampu mendorong kemandin’an warga untuk peningkatan kualitas hidup serta pemuliaan harkat dan martabat manusia.

Menurut dia, menguatnya ujaran kebencian di media sosial telah mengikis pelan-pelan solidaritas kewargaan, bahkan solidaritas kemanusiaan. Fanatisme primordial, baik yang mengacu pada perbedaan SARA atau pun perbedaan aspirasi dan kepentingan politik, telah mengoyak Persatuan kita sebagai bangsa.

“Merebaknya ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoaks)juga telah menjadi ancaman nyata atas kebinekaan Indonesia hari ini,” katanya.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abd Rohim Ghazali, menambahkan, Maarif Award tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke delapan setelah diselenggarakan sejak 2007.

Dari tujuh kali penyelenggaraan itu, terdapat sebelas pejuang kemanusiaan di tingkat lokal. Kesemuanya ditemukan dari pelosok Nusantara, dari Poso, Ambon, Lombok, Blitar, Salatiga, Magelang, Cilacap, Semarang, Medan, Padang dan Sikka (NTT).

“Para pejuang kemanusiaan itu ditemukan oleh publik dari beragam lokasi, yang tak pernah terkira sebelumnya. Mereka bekerja di dalam segala keterbatasan. Tetapi, semangat juang dan dampak positif yang dihasilkan mampu melampaui keterbatasannya,” kata Rohim.

Publik juga bisa turut terlibat dalam program ini. Keterlibatan tersebut dalam bentuk perekomendasian atau pengajuan nama-nama yang dianggap layak untuk mendapatkan Maarif Award.