Maarif Award 2020: Mencari Pejuang Moderasi Indonesia

Jakarta, 18 Desember 2019. Pileg dan Pilpres tahun 2019 telah meninggalkan residu. Seperti kecenderungan polarisasi politik identitas yang membuat kita kesulitan menemukan pemimpin atau tokoh masyarakat yang terbebas dari stigma “cebonger” atau “kampretos”. Selain itu, menguatnya populisme politik yang mengangkat isu primordial, telah mengikis pelan-pelan solidaritas kewargaan, bahkan solidaritas kemanusiaan.

Fanatisme primordial, baik yang mengacu pada perbedaan SARA atau pun perbedaan aspirasi dan kepentingan politik, telah mengoyak persatuan kita sebagai bangsa. Merebaknya ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoaks) juga telah menjadi ancaman nyata atas kebinekaan Indonesia hari ini. Moderatisme sebagai pilihan sadar untuk merekatkan kebersamaan kita dalam bingkai keindonesiaan menjadi penting untuk diperkuat kembali. Moderatisme yang sejatinya merupakan akar budaya dan menjadi ciri khas keindonesiaan kita harus terus menerus kita gaungkan.

Oleh karenanya, penting dan mendesak untuk mengangkat profil-profil pejuang moderasi dalam wujud para pemimpin lokal yang memperjuangkan nilai-nilai keindonesiaan dan kemanusiaan. Mereka ibarat oase yang menyuntikan harapan baru (new hope) dan menumbuhkan model-model alternatif (role models) untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat sipil dalam upaya pencegahan kekerasan sectarian, intoleransi dan sekaligus mampu menjembatani hubungan antar-identitas serta merawat toleransi di kalangan masyarakat akar rumput. Mereka merupakan aktivis pelopor dan penggerak proses perubahan sosial dengan komitmen tinggi terhadap toleransi, pluralisme, moderasi, dan keadilan sosial.

***

Setelah sebelumnya digelar pada tahun 2018 lalu, MAARIF Award kembali digelar tahun 2020 ini. MAARIF Award adalah program penghargaan dua tahunan yang digelar oleh MAARIF Institute. Penghargaan ini diberikan untuk mengangkat model-model keteladanan dan kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai-nilai kebinnekaan, anti kekerasan, dan anti diskriminasi. MAARIF Award ini merupakan ikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan di tingkat akar rumput.

Kehadiran MAARIF Award pada tahun ini memiliki tantangan tersendiri ketika bangsa kita semakin dihadapkan pada gelombang air bah informasi dan agresivitas aktor-aktor transnasional yang dapat memberikan pengaruh besar pada dinamika lokal. “Penyelenggaraan award tahun ini diharapkan menemukan sosok ataupun institusi yang mampu menjadi antitesis sekaligus siasat cerdas dalam menanggapi tantangan kemajemukan yang kini membayangi masyarakat Indonesia.” Terang Clara Joewono selaku dewan juri MAARIF Award 2020.

MAARIF Award kali ini adalah penyelenggaraan kedelapan, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2007, 2008, 2010, 2012, 2014, 2016, 2018 dan 2020. Dari tujuh kali penyelenggaraan itu, terdapat sebelas pejuang kemanusiaan di tingkat lokal. Kesemuanya ditemukan dari pelosok Nusantara; dari Poso, Ambon, Lombok, Blitar, Salatiga, Magelang, Cilacap, Semarang, Medan, Padang dan Sikka (NTT).

”Para pejuang kemanusiaan itu ditemukan oleh publik dari beragam lokasi, yang tak pernah terkira sebelumnya. Mereka bekerja di dalam segala keterbatasan. Akan tetapi semangat juang dan dampak positif yang dihasilkan mampu melampaui keterbatasannya” jelas Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF Institute.

***

Lebih lanjut Rohim menjelaskan bahwa di tiap penyelenggaraan MAARIF Award, komposisi Dewan Juri selalu beragam dan berubah. Hal ini semata ditujukan untuk memberikan kepastian obyektifitas dalam menilai calon penerima MAARIF Award. Untuk tahun 2020 ini, Dewan Juri terdiri atas Clara Joewono (Dewan Pembina MAARIF Institute), Pdt. Gomar Gultom (Ketua PGI), Nezar Patria (Jurnalis Senior), Prof. Rhenald Kasali (Akademisi) dan Ahmad Tafsir (Penerima MAARIF Award 2008). Melalui itu, harapannya akan memperkuat pandangan dan perspektif pelaku kerja-kerja kemanusiaan” terangnya

Selain memiliki komitmen pada perjuangan kebhinekaan, calon penerima MAARIF Award akan dinilai dari kerja-kerja kemanusiaan yang dipeloporinya untuk publik yang lebih luas. Kehadirannya mampu mendorong partisipasi warga yang lebih luas untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan sekaligus mampu menjembatani perbedaan dan kebhinekaan yang hadir di tengah masyarakat.

Beberapa kerja kemanusiaan yang menjadi fokus utama pemberian award ini meliputi pada kerja-kerja peningkatan mutu hidup masyarakat melalui penguatan akses pendidikan, kesehatan, peningkatan taraf ekonomi masyarakat, pemeliharaan lingkungan, recovery pasca bencana, dan rekonsiliasi pasca konflik demi kedamaian dan kesejahteraan hidup masyarakat. “Penerima MAARIF Award haruslah orang-orang yang tak hanya memiliki komitmen pada kebhinnekaan, tapi juga mampu mendorong kemandirian warga untuk peningkatan kualitas hidup serta pemuliaan harkat dan martabat manusia” terang Nezar Patria, Jurnalis Senior yang sekaligus menjadi dewan juri MAARIF Award 2020

Publik juga bisa turut terlibat dalam program ini. Keterlibatan tersebut dalam bentuk perekomendasian atau pengajuan nama-nama yang dianggap layak untuk mendapatkan MAARIF Award. MAARIF Institute telah menyediakan formulir pencalonan yang bisa diunduh di www.maarifinstitute.org. Pengiriman berkas pencalonan diterima selambatnya pada 29 Februari 2020. Seluruh berkas pencalonan itu bisa dikirimkan via surat elektronik ke [email protected] atau bisa juga dikirim langsung ke MAARIF Institute Jl. Tebet Barat Dalam 2 No. 6 Tebet, Jakarta Selatan 12810.

Demikian siaran pers ini kami buat sebagai informasi kepada publik yang lebih luas untuk turut serta dalam penyelenggaraan program MAARIF Award 2020 ini. Atas partisipasi kawan-kawan jurnalis kami sampaikan terima kasih.

Maarif Award 2020: Mencari Pejuang Moderasi di Indonesia

Pileg dan Pilpres tahun 2019 telah meninggalkan residu seperti kecenderungan polarisasi politik identitas yang membuat kita kesulitan menemukan pemimpin atau tokoh masyarakat yang terbebas dari stigma “cebonger” atau “kampretos”. Selain itu, menguatnya populisme politik yang mengangkat isu primordial telah mengikis pelan-pelan solidaritas kewargaan, bahkan solidaritas kemanusiaan.

“Fanatisme primordial, baik yang mengacu pada perbedaan SARA atau pun perbedaan aspirasi dan kepentingan politik, telah mengoyak persatuan kita sebagai bangsa. Merebaknya ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoaks) juga telah menjadi ancaman nyata atas kebinekaan Indonesia hari ini. Moderatisme sebagai pilihan sadar untuk merekatkan kebersamaan kita dalam bingkai keindonesiaan menjadi penting untuk diperkuat kembali. Moderatisme yang sejatinya merupakan akar budaya dan menjadi ciri khas keindonesiaan kita harus terus menerus kita gaungkan,” sebagaima rilis yang diterima redaksi

Oleh karenanya, penting dan mendesak untuk mengangkat profil-profil pejuang moderasi dalam wujud para pemimpin lokal yang memperjuangkan nilai-nilai keindonesiaan dan kemanusiaan. Mereka ibarat oase yang menyuntikan harapan baru (new hope) dan menumbuhkan model-model alternatif (role models) untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat sipil dalam upaya pencegahan kekerasan sectarian, intoleransi dan sekaligus mampu menjembatani hubungan antar-identitas serta merawat toleransi di kalangan masyarakat akar rumput. Mereka merupakan aktivis pelopor dan penggerak proses perubahan sosial dengan komitmen tinggi terhadap toleransi, pluralisme, moderasi, dan keadilan sosial.

Setelah sebelumnya digelar pada tahun 2018 lalu, MAARIF Award kembali digelar tahun 2020 ini. MAARIF Award adalah program penghargaan dua tahunan yang digelar oleh MAARIF Institute. Penghargaan ini diberikan untuk mengangkat model-model keteladanan dan kepemimpinan lokal dengan komitmen terhadap nilai-nilai kebinnekaan, anti kekerasan, dan anti diskriminasi. MAARIF Award ini merupakan ikhtiar menemukan pribadi-pribadi penggerak dan tangguh yang berjuang untuk kemanusiaan di tingkat akar rumput.

Kehadiran MAARIF Award pada tahun ini memiliki tantangan tersendiri ketika bangsa kita semakin dihadapkan pada gelombang air bah informasi dan agresivitas aktor-aktor transnasional yang dapat memberikan pengaruh besar pada dinamika lokal. “Penyelenggaraan award tahun ini diharapkan menemukan sosok ataupun institusi yang mampu menjadi antitesis sekaligus siasat cerdas dalam menanggapi tantangan kemajemukan yang kini membayangi masyarakat Indonesia.” Terang  Clara Joewono selaku dewan juri MAARIF Award 2020.

MAARIF Award kali ini adalah penyelenggaraan kedelapan, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2007, 2008, 2010, 2012, 2014, 2016, 2018 dan 2020. Dari tujuh kali penyelenggaraan itu, terdapat sebelas pejuang kemanusiaan di tingkat lokal. Kesemuanya ditemukan dari pelosok Nusantara; dari Poso, Ambon, Lombok, Blitar, Salatiga, Magelang, Cilacap, Semarang, Medan, Padang dan Sikka (NTT).

”Para pejuang kemanusiaan itu ditemukan oleh publik dari beragam lokasi, yang tak pernah terkira sebelumnya. Mereka bekerja di dalam segala keterbatasan. Akan tetapi semangat juang dan dampak positif yang dihasilkan mampu melampaui keterbatasannya” jelas Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF Institute.

Lebih lanjut Rohim menjelaskan bahwa di tiap penyelenggaraan MAARIF Award, komposisi Dewan Juri selalu beragam dan berubah. Hal ini semata ditujukan untuk memberikan kepastian obyektifitas dalam menilai calon penerima MAARIF Award. Untuk tahun 2020 ini, Dewan Juri terdiri atas Clara Joewono (Dewan Pembina MAARIF Institute), Pdt. Gomar Gultom (Ketua PGI), Nezar Patria (Jurnalis Senior), Prof. Rhenald Kasali (Akademisi) dan Ahmad Tafsir (Penerima MAARIF Award 2008). Melalui itu, harapannya akan memperkuat pandangan dan perspektif pelaku kerja-kerja kemanusiaan” terangnya

Selain memiliki komitmen pada perjuangan kebhinekaan, calon penerima MAARIF Award akan dinilai dari kerja-kerja kemanusiaan yang dipeloporinya untuk publik yang lebih luas. Kehadirannya mampu mendorong partisipasi warga yang lebih luas untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan sekaligus mampu menjembatani perbedaan dan kebhinekaan yang hadir di tengah masyarakat. Beberapa kerja kemanusiaan yang menjadi fokus utama pemberian award ini meliputi pada kerja-kerja peningkatan mutu hidup masyarakat melalui penguatan akses pendidikan, kesehatan, peningkatan taraf ekonomi masyarakat, pemeliharaan lingkungan, recovery pasca bencana, dan rekonsiliasi pasca konflik demi kedamaian dan kesejahteraan hidup masyarakat.

“Penerima MAARIF Award haruslah orang-orang yang tak hanya memiliki komitmen pada kebhinnekaan, tapi juga mampu mendorong kemandirian warga untuk peningkatan kualitas hidup serta pemuliaan harkat dan martabat manusia” terang Nezar Patria, Jurnalis Senior yang sekaligus menjadi dewan juri MAARIF Award 2020

Publik juga bisa turut terlibat dalam program ini. Keterlibatan tersebut dalam bentuk perekomendasian atau pengajuan nama-nama yang dianggap layak untuk mendapatkan MAARIF Award. MAARIF Institute telah menyediakan formulir pencalonan yang bisa diunduh di www.maarifinstitute.org. Pengiriman berkas pencalonan diterima selambatnya pada 29 Februari 2020. Seluruh berkas pencalonan itu bisa dikirimkan via surat elektronik ke [email protected] atau bisa juga dikirim langsung ke MAARIF Institute Jl. Tebet Barat Dalam 2 No. 6 Tebet, Jakarta Selatan 12810.

Maarif Award 2020 Digelar Mei 2020, Penjaringan Mulai Akhir Tahun ini

Penulis Deti Mega Purnamasari | Editor Diamanty Meiliana

JAKARTA, KOMPAS.com – Maarif Award akan kembali digelar tahun 2020 mendatang oleh Maarif Institute. Gelaran ini adalah untuk yang kedelapan kalinya.

Pendiri Maarif Institute Ahmad Syafii Maarif atau akrab dipanggil Buya Maarif mengatakan, dalam penghargaan ini pihaknya ingin mencari orang biasa yang mempunyai kontribusi bagi masyarakat sekitarnya.

“(Yang dicari) orang biasa punya kontribusi, achievement luar biasa untuk manusia, sosial, dan tanpa memandang siapa orang itu. Itu sangat universal,” ujar Maarif di Kantor Maarif Institute, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (18/12/2019).

Maarif mengatakan, Indonesia memiliki banyak orang yang berkontribusi bagi masyarakat lainnya tetapi mereka tak mau menampakkan diri.

Termasuk juga tak ada yang mempublikasi prestasi mereka tersebut.

“Mestinya kualitas nilai-nilai (yang dimiliki orang-orang tersebut) bisa menjadi gelombang bangsa yang akan datang, itu yang akan menyelematkan bangsa ini,” kata Maarif.

Dengan demikian, dia pun berharap agar diselenggarakannya Maarif Award tersebut bisa menemukan orang-orang lokal berprestasi yang akan memberi corak lebih segar untuk Indonesia ke depan.

“Bahkan mungkin ada yang bisa mempertahankan republik jangka panjang. Ada orang-orang lokal ini yang istilahnya berbuat tanpa pamrih untuk semua golongan, agama,” kata dia.

Maarif Award, kata dia, mencoba mengingatkan bangsa bahwa di Indonesia masih ada orang-orang yang mempertahankan fitrah itu dan perlu dikemukakan ke publik.

Adapun Maarif Award diselenggarakan dua tahun sekali. Kali ini, para juri yang akan menilai nominasi pengharagaan tersebut terdiri dari berbagai latar belakang.

Mereka adalah Dewan Pembina Maarif Institute Clara Joewono, Ketua PGI Pdt Gomar Gultom, Akademisi Rhenald Kasali, Jurnalis Senior Nezar Patria, serta Penerima Maarif Award 2008 M. Tafsir.

Rencananya, Maarif Award akan digelar pada Mei 2020 yang penjaringan nominasinya dimulai sejak 18 Desember 2019 hingga 29 Februari 2020 mendatang.

Dewan Juri Tetap Clara Joewono mengatakan, saat ini masyarakat sudah bisa mencalonkan tokoh-tokoh yang dinilai layak menerima penghargaan tersebut.

“Prosesnya ada verifikasi secara adminsitratif, yang kami cari tokoh-tokoh lokal. Dewan juri akan memilih untuk investigasi di lapangan, kami akan cek bukti-buktinya, verifikasi.

Baru juri menilai, memutuskan, menetapkan siapa yang layak menerima,” kata dia. Formulir pencalonan dan informasi lebih lanjut dapat dibuka di maarifinstitute.org.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Maarif Award 2020 Digelar Mei 2020, Penjaringan Mulai Akhir Tahun ini”, https://nasional.kompas.com/read/2019/12/19/06461841/maarif-award-2020-digelar-mei-2020-penjaringan-mulai-akhir-tahun-ini?page=2.
Penulis : Deti Mega Purnamasari
Editor : Diamanty Meiliana

Membumikan Pesan-Pesan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

Pagi ini, Jumat, 13 Desember 2019, ada seminar pembukaan membumikan pesan-pesan keislaman dan kebangsaan Ahmad Syafii Maarif dalam konteks pemikiran Islam kontemporer. Acara berlangsung di ITB AD Jakarta.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) Maarif yang ketiga. Acara yang juga dirangkaikan dengan soft launching tiga buku yang ditulis oleh peserta SKK sebelumnya, 1 dan 2. Pada kesempatan ini, semua peserta yang telah mengikuti tes wawancara dan presentasi sebanyak dua puluh lima orang dinyatakan diterima dari puluhan pendaftar yang mengirimkan dua makalah wajib dan pilihan.

Diresmikan oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., Menko PMK RI. Sebelumnya, ada sambutan dari Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abd. Rohim Ghozaly. Ada juga sambutan oleh Rektor Institute Teknologi & Bisnis, ITB UAD.

Pada pidatonya, bapak Muhajir mengatakan membaca tesis Buya Ahmad Syafii Maarif (ASM), dan belajar dari tulisan beliau yang berjudul Islam dan Negara. Beliau berharap agar peserta SKK menjadi insan-insan yang unggul, yang (bisa) menulis dengan bagus, berbicara dengan bagus, semuanya bisa diperoleh dengan banyak membaca.

Lanjutnya, apalagi membaca buku pemikiran harus (banyak) dibaca, karena dengan membaca memperluas perspektif. Selain membaca, tak kalah penting adalah mempelajari bahasa asing sebagai penunjang untuk membaca literatur-literatur asing.

Terakhir, beliau mengatakan mengapresiasi Sekolah Buya, karena kedekatan beliau dengan Buya. Di lain waktu, Menko ingin bekerja sama untuk kegiatan SKK dengan mengoordinasikannya dengan berbagai pihak.

Acara kemudian dilanjutkan setelah salat Jumat dan makan dengan menghadirkan empat pembicara, yaitu Prof . Munir Mulkhan, Prof. Sumanto Al Qurtubhi, Fajar Riza Ul Haq, dan Indah Fajarwati.

Setelah Salat Jumat

Prof. Sumanto Al Qurthubi mengatakan bahwa beliau baru saja membuka program Islamic Studies di Manado, Sulawesi Utara. Beliau kemudian memenuhi undangan dari Maarif karena sangat mengapresiasi dan menghormati Buya ASM.

“Saya datang karena Buya (ASM). Saya juga biasanya sowan ke beliau. Tidak banyak orang Muhammadiyah (MU) yang saya hormati karena saya NU.”

Speech yang dibawakan oleh Prof. Sumanto terkadang membuat peserta seminar tertawa. Bukan karena suara beliau yang terdengar parau, namun spontanitas beliau mengomentari sesuatu membuat tertawa.

Misalnya, beliau mengatakan bahwa judul seminar ini memang sudah NU banget dari kata-kata membumikan. Bila NU menulis judul akan menulis; Menusantarakan pesan-pesan ulama Ahlussunah wal jamaah.

Lebih lanjut, Professor yang mengajar di Arab Saudi ini mengatakan ada pemikiran beliau, Buya ASM, yang perlu dibumikan dan dikebumikan.

“Saya sepakat dengan pemikiran beliau yang kontemporer; inklusif, moderat, pluralis, terbuka, mempunyai nilai-nilai universal seperti yang tergambar pada karakter Buya ASM. Namun, sebelum beliau hijrah seperti sekarang, beliau sebelumnya islamis, politis dalam pemikiran keislaman.”

Buya ASM dulu dan sekarang sangat berbeda. Beliau hijrah dari islamis menjadi universal dan humanis. Ketika kita berbicara mengenai masalah kebangsaan, sekarang banyak dari kita kelompok anti-kemanusiaan, “pemuja khilafah”, pendukung-pendukung islamisme, kebangsaan saat ini melawan isme-isme.

Manusia (untuk) Kemanusiaan

Lanjut Prof. Sumanto Al Qurthuby, selama ini kita bolak-balik Makkah kayak setrika, namun kita tidak memikirkan manusia di sekitar kita. Banyak persoalan kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita.

Ketika kita membahas masalah dalam konteks pemikiran Islam kontemporer, Prof. Sumanto Al Qurthubi membahas tentang dosen-dosen Indonesia hari ini. “Mereka sibuk apa?” tanyanya.

Menurut Prof. Sumanto, dosen disibukkan dengan administrasi, birokrasi, absen, membuat jurnal Scopus. Semua untuk kepentingan naik pangkat. Masih adakah dosen-dosen yang berpikir analisis dan kritis? Apalagi ketika mereka diperhadapkan pada persoalan-persoalan “Islam hari ini”?

Begitu pula dengan sarjana hari ini, sarjana kampus, dan sarjana luas kampus. Mereka sibuk pada urusan masing-masing. Yang ada hari ini adalah penceramah, pengkhotbahan, pendombosan Islam kontemporer. Sehingga, menjadi Pekerjan Rumah (PR) bagi kita semua untuk mewaris spirit-spirit keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan dengan Sekolah Kebudayaan dan Kemanusian (SKK) 3.

Sedangkan pembicara selanjutnya, Prof. Munir Mulkhan mengatakan Buya ASM sebagai seorang guru bangsa.

Fajar Riza Ul Haq selanjutnya menjadi pembicara mengatakan Buya ASM memiliki anak biologis. Namun, beliau ingin mempunyai (banyak) anak ideologis. “Anak-anak” yang tergabung dalam sekolah Maarif sebagai anak ideologis investasi jangka panjang Buya ASM.

Lebih lanjut, Fajar mengatakan bahwa buya ASM mempunyai prinsip egaliterianisme. Beliau memperlakukan semua orang secara setara, baik yang muda maupun yang tua.

Kita ini belum apa-apa, belum bisa apa-apa, namun kita sudah menjadi sombong. Tapi, buya ASM seorang yang tulus. Beliau mau mengapresiasi buku seorang anak muda dengan memberikan kata pengantar.

Yang menjadi pelajaran bagi kita semua adalah apa yang beliau tulis, katakan, begitu pula dengan yang beliau lakukan. Inilah mengapa beliau menjadi muslim yang autentik. Beliau adalah Buya ASM.

Pembicara terakhir, Indah, alumnus SKK 2, banyak menceritakan tentang kisah dan pengalamannya selama menjadi peserta SKK. Refleksi yang sudah didapatkan adalah dia sebagai seorang jurnalis telah menjadikan jurnalime (secara) damai.

Pemikiran Buya Syafii Maarif Perkaya Khazanah Intelektual Bangsa

indopos.co.id – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, menjadi Pemikir yang baik dan unggul seperti Tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif harus diiringi dengan kemampuan menulis dan keterampilan berbicara yang baik juga. Semua itu dapat diasah dengan mulai membiasakan diri lewat banyak membaca aneka macam literatur serta penguasaan bahasa asing.

“Butuh jalan panjang untuk dapat menjadi seorang Pemikir seperti Buya (Ahmad Syafii Maarif, red). Saya coba memahami pemikiran Beliau itu dengan membaca tesisnya lalu berhubungan baik. Dari Buya, saya belajar banyak tentang kemanusiaan, toleransi, keberagaman, keislaman secara utuh, dan sebagainya. Anak-anak muda memang sudah seharusnya juga dapat mempelajari semua pemikiran Buya,” ujarnya, pada Seminar Pembukaan Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) yang digagas oleh Maarif Institute di Gedung ITB Ahmad Dahlan, Tangerang Selatan, Jumat (13/12/2019).

Seminar Pembukaan Jumat pagi ini dihadiri oleh Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abd Rohim Ghazali; Rektor ITB-AD, Mukhaer Pakkana; Jajaran Pengurus Maarif Institute; Perwakilan Asia Foundation; segenap dosen dan mahasiswa ITB-AD dan UMJ.

Muhadjir menambahkan berbagai pemikiran Buya Syafii Maarif merupakan khazanah intelektual yang sangat berharga. Buya punya cita-cita yang besar dan terus-menerus gelisah terhadap krisis yang menerpa bangsanya.

Karena itu, dia berharap sikap intelektual, kebersahajaan, dan keteladanan yang ada pada diri Buya bisa menjadi virus positif bagi segenap Masyarakat di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.

“Sebagaimana ini menjadi salah satu tujuan diselenggarakannya Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif yang tahun ini sudah memasuki periode ketiga,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, Menko PMK juga menjajaki kerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi semacam ITB Ahmad Dahlan dalam pengembangan pembangunan manusia yang unggul.

Sementara SKK-ASM ini di tahun 2019 sudah memasuki penyelengaraan yang ketigakalinya dan tercatat 25 Peserta berhasil lolos setelah menyingkirkan 120 pelamar yaitu mahasiswa yang tengah menempuh studi S1,S2, ataupun doktoral di berbagai kampus di tanah air. Ke-25 Peserta SKK-ASM Periode III ini tercatat berasal dari Papua, Bima, Ambon, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta dan Madura.

SKK-ASM diselenggarakan dengan tujuan untuk merawat pemikiran dan berbagai ide pemikiran Buya Syafii Maarif terutama tentang keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebhinekaan. SKK-ASM juga jadi ajang kaderisasi intelektual sekaligus melembagakan gagasan dan cita-cita sosial Buya.

“Melaui sekolah ini, diharapkan generasi muda Indonesia mendatang dapat mewarisi pemikiran Buya atau setidaknya memiliki perspektif dan sikap intelektual yang relatif sama dalam memotret dinamika, perubahan, dan perkembangan kehidupan keberagaman di Indonesia,” pungkasnya. (dai)

Di Sekolah Syafii Maarif, Tokoh Muda NU Ini Puji Konsistensi Buya Syafii

Getar.id – Tokoh muda dan sekaligus akademisi King Fahd University, Riyad, Arab Saudi, Prof Sumanto Alqurthubi, memuji konsistensi pemikiran dan peran mantan Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif.

“Saya sangat hormat dan mengagumi Buya Syafii Maarif karena konsistensi pemikiran, gagasan dan kiprah Buya Syafii. Buya ini sosok langka yang harus kita rawat dan jaga,” ujar Sumanto.

Hal itu dikatakan tokoh NU Saudi saat menjadi narasumber dalam seminar pembukaan Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) yang diselenggarakan Maarif Institute, di kampus Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD), Jumat (13/12).

Menurut Sumanto, sosok Buya Syafii sangat dibutuhkan bangsa Indonesia, terutama dalam menyandingkan dan merawat Keislaman, kebangsaan dan inklusivisme. Hal ini, lanjut dia, sangat penting pada saat sebagian pihak menggugat keislaman dan kebangsaan.

“Buya Syafii mampu dan konsisten menyandingkan keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Kemanusiaan yang menjadi esensi pondasi keislaman, dikembangkan Buya dengan sangat baik. Buya tidak tergoda dengan kepentingan duniawi dan politik, sebagaimana terjadi pada sebagian tokoh lainnya,” papar dia.

Intelektual yang banyak memberi pencerahan di dunia maya maupun narsum di banyak negara ini berpandangan, Buya Syafii bukan saja tokoh dan milik Muhammadiyah, tapi sudah milik bangsa Indonesia, bahkan milik dunia keimuan global.

Karena itu, pihaknya sangat mengapresiasi penyelenggaraan dan keberadaan Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan ini sebagai bagian merawat keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Ia juga menyinggung soal maraknya wacana dan gerakan yang mengusung khilafah. Menurutnya, khilafah itu tidak ada pijakan dan tak bisa diterapkan di Indonesia. Dia juga tidak setuju dengan khilafah, yang dinilainya bukan bagian dari kearifan dan ajaran Indonesia.

Sebelumnya, pada pagi hari, pembukaan SKK-ASM ini dibuka sekaligus menjadi pembicara kunci oleh Menko PMK, Prof Muhadjir Effendy, yang juga Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi pendidikan. Seminar diikuti lebih 100 peserta. (her)

Summer: http://getar.id/2019/12/13/di-sekolah-syafii-maarif-tokoh-muda-nu-ini-puji-konsistensi-buya-syafii/

Kemendikbud dan Maarif Institute Kerja Sama Tangkal Radikalisme

Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan Maarif Institute untuk melawan intoleransi dan radikalisme yang rentan terjadi di sekolah.

Bentuk kerja sama tersebut salah satunya adalah dengan menggelar pelatihan intensif yang diberikan kepada pengawas internal sekolah. Pelatihan tersebut akan fokus pada peningkatan kapasitas pengetahuan, metode dan pencegahan infiltrasi anti kebinekaan.

Tujuan program ini salah satunya untuk membentengi sekolah dari ancaman intoleransi dan anti kebinekaan. “Melalui program ini, pengawas internal sekolah dipacu untuk mengenali, mendeteksi, mengawasi dan berperan aktif dalam mencegah penetrasi intoleransi dan radikalisme,” ujar Inspektur Jenderal Kemendikbud Muchlis R. Luddin di Gedung Kemendikbud, Jakarta , Rabu, 9 Oktober 2019.

Pelatihanini akan dilakukan di enam enam titik, yaitu Banten, Yogyakarta, Malang, Mataram, Manado, dan Denpasar.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan, program ini merupakan wujud komitmen Kemendikbud untuk memastikan sekolah sebagai ruang inkubasi nilai-nilai kebangsaan, kebinekaan dan kemanusiaan.

“Sebagaimana komitmen Presiden Joko Widodo dalam Nawacita, untuk itu revitalisasi peran pengawas sekolah sangat penting,” kata Muhadjir.

Dengan penguatan pengawas ini diharapkan pengawasan internal sekolah bisa maksimal. Memastikan proses pengajaran di sekolah berjalan lancar, menyenangkan, jauh dari anasir-anasir radikal dan anti kebinekaan.

Termasuk mengawasi kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kerja. Tujuannya agar pembelajaran di sekolah menjadi optimal dan aman bagi siswa.

Sementara itu pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif menyambut baik program ini. Menurut pria yang akrab disapa Buya Syafii ini, Pancasila harus menjadi ruh dalam pembangunan SDM unggul.

“Pancasila mesti menjadi ruh pembangunan sumber daya manusia yang unggul secara autentik,” ujar Syafii.

Kemendikbud: Peran Pengawas Sekolah Vital Cegah Radikalisme

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Peran pengawas sangat besar dalam menjaga kegiatan di sekolah khususnya terkait dengan ancaman radikalisme dan intoleransi.

Berangkat dari fakta inilah, Maarif Institute bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama memperkuat peran pengawas sekolah dalam rangka mencegah intoleransi dan radikalisme di lingkungan sekolah. Beberapa langkah dilakukan yakni menjalankan pelatihan ke sejumlah daerah dan membuat buku pengayaan untuk pengawas.

Sejumlah daerah yang telah dilakukan pelatihan yakni Banten, Yogyakarta, Malang, Mataram, Manado, dan Denpasar. Pelatihan dilakukan selama 10 bulan terakhir dan diharapkan bisa mempromosikan toleransi di sekolah.

Menurut Inspektur Jenderal Kemendikbud, Muchlis R Ludin, ancaman radikalisme dan prokekerasan di lingkungan sekolah perlu kita cegah dan deteksi secara dini agar tidak menyebar. “Peran pengawasan menjadi vital dan signifikan mengingat pengawasan di sekolah pada lini sekolah, terletak juga penguatan pada pengawas sekolah,” kata Muchlis ditemui di Kemendikbud, Rabu (9/10).

Muchlis menyebutkan, selama ini masih banyak terjadi tawuran pelajar yang berpengaruh kepada anak-anak di sekolah. Selain tawuran juga muncul perundungan atau //bullying//.

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah berkembangnya bentuk fanatisme dan juga pandangan yang bersifat intoleran di tengah masyarakat Indonesia.

“Kerja sama ini ingin juga menyasar untuk memberikan jawaban atas keprihatinan kita menyikapi maraknya hal-hal itu,” kata dia menambahkan.

Menghadapi hal tersebut, pengawasan internal sekolah menjadi garda terdepan penjaga ideologi Pancasila dalam implementasi pendidikan. Muchlis menuturkan, melalui program kerja sama pihaknya dengan Maarif Institute pengawas internal sekolah dipacu untuk dapat mengenali, mendeteksi, mengawasi, dan berperan aktif dalam mencegah penetrasi intoleransi dan radikalisme di sekolah.

Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, mengatakan pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk menjaga masyarakat dari intoleransi dan radikalisme. “Pancasila mesti menjadi ruh pembangunan SDM yang unggul. SDM yang unggul mesti identik dengan praktik Pancasila secara autentik,” kata dia.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abdul Rohim Ghazali, mengatakan riset yang dilakukan pihaknya menunjukkan ada tiga pintu masuk radikalisme dan intoleransi di sekolah. Pertama adalah kebijakan sekolah, proses belajar mengajar, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Dia mencontohkan di salah satu kabupaten di Jawa Barat, keberadaan kelompok ekstrem radikal bahkan difasilitasi oleh guru PAI dan guru kimia. “Mereka melakukan infiltrasi idelogi melalui pembangunan beberapa fasilitas publik seperti masjid, artesis, dan resevoar pengelolaan air bersih,” kata dia.

Konsekuensi dari hal tersebut adalah, pengelolaan masjid menjadi didominasi oleh kelompok radikal. Selain itu, monitoring rohis juga dilakukan oleh kader-kader dari para kelompok radikal ini. Akhirnya radikalisme dan intoleransi pun masuk.

Melihat fakta-fakta tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengatakan selama ini sebenarnya pendidikan karakter sudah diterapkan. Namun yang menjadi masalah adalah, guru-guru yang masih kebanyakan terlalu fokus mengajarkan ilmu pengetahuan.

Padahal, karakter adalah hal yang sangat penting untuk membentuk sikap para peserta didik. “Kita berancang-ancang, Kemendikbud itu mestinya pemahaman karakter dimulai dari peran sekolah yaitu PAUD, dalam bentuk kebiasaan dan keteladanan. Kemudian pembentukan penanaman nilai terhadap bidang-bidang dasar yaitu SD dan SMP,” kata dia.

Lebih lanjut, dia berharap melalui kerja sama ini pengawas sekolah bisa lebih berperan aktif dalam ancaman radikalisme dan intoleransi. Saat ini, dia mengatakan pihaknya sedang membenahi tentang posisi pengawas dan kepala sekolah agar kinerjanya lebih maksimal. “Kita usulkan melalui Kemenpan-RB nanti kepala sekolah dan pengawas itu jabatan karir guru,” kata dia lagi.

Peluncuran dan Diskusi Jurnal MAARIF Edisi ke-33 2019, Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi di Indonesia Pasca-Pilpres

Jakarta – Kamis, (04/09/2019) MAARIF Institute menyelenggarakan diskusi dan peluncuran Jurnal MAARIF edisi ke-33 No.1 Juni 2019 dengan tema “Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi di Indonesia Pasca-Pilpres”. Acara yang berlokasi di Aula Gedung Joang ‘45 Jl. Menteng Raya, Cikini, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Syamsul Arifin (Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang) Amin Mudzakir, SS. M.Hum (Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Moh. Shofan (Direktur Riset / Pimred Jurnal MAARIF). Sedangkan untuk moderator acara ini yaitu, Pipit Aidul Fitriyana (Manager Program Islam for Justice MAARIF Institute).

Menurut Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, isu tentang populisme menjadi tren belakangan ini. Dimana, utamanya sejak Pilkada Jakarta, Pilpres dan setelah Pilpres. Sebagai bagian dari aspirasi demokrasi.

“Diskursus mengenai populisme sangat baik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, tetapi kita tak boleh menutup mata, bahwa  kehadiran populisme bisa juga menjadi pisau bermata dua. Satu sisi ia menjadi bagian dari aspirasi di ruang demokrasi, dan di sisi lain ia bisa menjadi permainan politik para elit yang bisa membahayakan dan mengancam kedaulatan nasional, kepentingan ekonomi nasional, nilai-nilai budaya, dan identitas nasional,” kata Abd. Rohim Ghazali.

Sementara Prof. Syamsul, dalam pemaparannya menguraikan tentang Islam, populisme dan masa depan demokrasi di Indonesia. Syamsul menempatkan populisme secara positif, bukan sebagai ancaman terhadap demokrasi, kendati tetap memberikan ruang untuk mengartikulasikan sikap kritis kepada populisme.

Sikap demikian, menurutnya dipilih atas pertimbangan sosiologis dan historis posisi Islam, sebagai agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk di Indonesia. Kebesaran dari sisi jumlah serta karakteristik Islam sebagai agama moderat perlu diapresiasi sebagai modalitas dalam mendinamisasi demokrasi di Indonesia.

Namun, Syamsul memberikan catatan bahwa diskursus populis beserta aksi turunannya masih terperangkap pada isu-isu primordialistik yang acapkali muncul dalam kontestasi politik elektoral.

“Jika masih terperangkap dengan isu-isu demikian, maka wajar jika muncul kekhawatiran populisme Islam akan menjadi ancaman bagi demokrasi”, terangnya.

Amin Mudzakir, Peneliti LIPI, berpendapat bahwa gejala populisme Islam di Indonesia merupakan agregat dari politisasi “identitas”, “kelas”, dan “bingkai” yang merupakan bagian dari perubahan di tingkat yang lebih luas. Namun katanya, di Indonesia gejala ini, menariknya, tidak berkorelasi dengan kontestasi politik elektoral.

Menurut Intektual Muda ini, kekuatan “partai- partai Islam” tetap pinggiran dibanding “partai-partai nasionalis”, meski wajah kekuasaan politik cukup jelas semakin Islami. Jadi apa yang sesungguhnya terjadi adalah pertanyaan yang terus menarik untuk dikaji.

Sementara, Moh. Shofan, Pemred Jurnal MAARIF, mengatakan populisme merusak fondasi kebangsaan, dan tentu menjadi ancaman bagi demokrasi ke depan. Populisme agama meresonansikan kegaduhan di ruang publik demokratis karena ia mengkhutbahkan intoleransi, mengaburkan perbedaan, menganggap dirinya sebagai bagian dari umat yang lebih luas, serta menjanjikan kepastian dan keyakinan masa depan atas nama revolusi moral.

“Populisme merupakan benalu dan ancaman berbahaya bagi perjalanan demokrasi, karena populisme bisa mengaku sebagai satu-satunya yang absah mewakili ‘rakyat’, sedangkan ideologi kelompok lain dianggap bukan bagian sah dari ‘rakyat’”, jelas Moh Shofan.

PROKLAMASI MUHAMMADIYAH

Fajar Riza Ul Haq
(Pengurus Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah)

Republika, 26 Agustus 2019

“Praktikkan saja Pancasila, insyaallah baik syariat Islam maupun syariat agama lain itu akan tercakup di dalamnya. Jadi sudah cukup, kita jangan terus dihadapkan pada pertentangan istilah-istilah”.

Pandangan ini disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menanggapi wacana NKRI Bersyariah, salah satu rekomendasi Ijtimak Ulama IV yang dihelat Persaudaraan Alumni (PA) 212 awal Agustus lalu di Sentul, Bogor. Banyak pihak mempertanyakan urgensinya. Pihak pengusul minta agar diberi ruang diskusi.

Menurut Koordinator Divisi Hukum PA 212 Hari Damai Lubis, wacana NKRI Bersyariah akan menjadi hal positif untuk membuktikan bahwa syariah tidak bertentangan dengan Pancasila. “Jangan beri ruang, kita ini NKRI Berpancasila”, tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Istilah NKRI Bersyariah dikenalkan secara publik oleh Rizieq Shihab melalui bukunya yang berjudul “Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah” (Suara Islam Pers, 2012). Inilah platform perjuangan Front Pembela Islam.

Menurut Rizieq, tidak ada pernyataan bahwa Indonesia negara demokrasi dalam konstitusi. Mekanisme musyawarah dan mufakat yang dipraktekkan Nabi Muhammad justru berbeda hakekatnya dengan demokrasi. Inti argumen NKRI Bersyariah adalah mengembalikan Piagam Jakarta sebagai landasan bernegara (Wilson dalam Fionna, 2015).

Kepribadian Muhammadiyah

Munculnya kembali aspirasi untuk mengembalikan Piagam Jakarta dengan mengusung NKRI Bersyariah, utamanya paska pemilu lalu yang kental dengan intrumentalisasi politik identitas, mengulangi gerakan serupa pada awal masa Reformasi. Upaya partai-partai Islam di parlemen kala itu dengan dukungan beberapa ormas Islam pada periode Sidang Umum MPR tahun 1999 sampai 2002 menemui kegagalan. Justru Muhammadiyah bersama NU berada di garis depan menolak menghidupkan kembali Piagam Jakarta.

Dibawah kepemimpinan Syafii Maarif pada periode itu, Muhammadiyah teguh berpendirian Piagam Jakarta tidak diperlukan lagi secara legal formal demi mengukuhkan keindonesiaan dan kemanusiaan. Yang terpenting, ruhnya diambil berupa tegakknya keadilan yang merata, tanpa diskriminasi. Pancasila juga harus membuka diri seluas-luasnya menerima sumber moral dari agama-agama (Maarif, 2009 : 311).

Pada Muktamar ke-47 tahun 2015 di Makassar, Muhammadiyah secara resmi memproklamasikan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasyahadah. Organisasi yang pernah dipimpin Ki Bagus Hadikusumo ini (1942-1953) meletakkan NKRI berdasarkan Pancasila sebagai hasil kesepakatan atau konsensus nasional (Darul Ahdi) seluruh komponen bangsa, termasuk umat Islam selaku penduduk mayoritas, sekaligus sebagai wujud kesaksian (Darus Syahadah) Muhammadiyah serta seluruh kekuatan bangsa agar Negara Pancasila tersebut benar-benar dibangun menuju cita-citanya.

“Keutuhan NKRI terjadi karena sikap kaum mayoritas yang mau mengorbankan kepentingannya”, ungkap Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas (Suara Muhammadiyah, 9/1/2019).

Menurut Haedar Nashir, dengan alam pikiran itu Muhammadiyah tidak bersetuju dan tidak memberi ruang bagi adanya ideologi, pemikiran, sikap, dan pandangan yang ingin mewujudkan bentuk dan ideologi lainnya yang bertentangan dengan pandangan Negara Pancasila Darul Ahdi Wasyahadah.

Proklamasi Muhammadiyah bahwa Negara Pancasila adalah Darul Ahdi Wasyahadah berakar pada Kepribadian Muhammadiyah yang secara resmi diputuskan pada Muktamar ke-35 tahun 1962 di Jakarta.

Esensi Kemerdekaan

Hasil pemilu 17 April lalu, khususnya pada konteks pemilihan presiden, telah memperlihatkan kembalinya polarisasi politik sejak berakhirnya Pemilu 1955. Polarisasi bukan hanya fenomena media sosial atau pengalaman sekelompok kecil orang Indonesia perkotaan saja. Ini juga beresonansi dalam populasi Indonesia dan terhubung dengan arus pergulatan ideologi politik dalam sejarah Indonesia (Aspinall, 2019).

Ajakan Persaudaraan Alumni 212 agar umat Islam memperjuangkan NKRI Bersyariah merepresentasikan kembalinya arus aspirasi yang ingin mengawetkan polarisasi ideologi politik dengan menunggangi kekecewaan sebagian pemilih atas kekalahan politik pilpres.

Konteks pembeda polarisasi politik di Era Reformasi yang bermula dari Pilkada DKI Jakarta itu dibanding tahun 1950-an adalah kebangkitan populisme Islam yang berpusat pada konsepsi identitas “umat Islam” yang sempit.

Kelompok aspirasi politik 212 telah secara sistemik membangun narasi takfiri, mengeksklusi orang-orang Islam dari konsepsi “umat Islam”, yang tidak sejalan dengan pilihan politiknya dengan menggunakan instrumen agama.

Upaya menyeret-nyeret kembali Indonesia untuk larut ke dalam kontestasi ideologi politik dengan semangat mengeksklusi sesama warga negara merupakan bentuk pengkhianatan terhadap proklamasi kemerdekaan. Merusak fondasi keindonesiaan.

Sejarawan Ledge dalam Indonesia (1977: 1) menyebut momen proklamasi kemerdekaan sebagai simbol nasionalisme dan sumber semangat revolusioner bangsa Indonesia. Dengan begitu, merayakan kemerdekaan merupakan proses menyegarkan kembali nilai-nilai patriotisme, khittah bernegara yang berdaulat, komitmen Pancasila sebagai kiblat berbangsa, dan imajinasi keindonesiaan yang inklusif dalam alam pikiran kolektif warga negara.

Bagi Muhammadiyah, agenda terbesar republik ini yang sangat memerlukan energi kolektif bangsa adalah membumikan nilai-nilai Pancasila dalam praktek kehidupan bernegara. Menjadi bangsa beradab, berprikemanusiaan, dan berkeadilan tanpa diskriminasi.

Ini pekerjaan rumah yang belum bisa sepenuhnya terjawab setelah 74 tahun merdeka. Indonesia merdeka adalah ketika kemiskinan tidak lagi mendapat tempat, menyitir perkataan Bung Karno.

Mayoritarianisme Islam harus diterjemahkan ke dalam kesadaran bahwa umat Islam Indonesia memikul tanggungjawab paling besar untuk berkontribusi lebih dalam mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan dan keadilan Pancasila.

Para pemimpin Muhammadiyah sudah sering menyampaikan kepada elit republik ini agar kesenjangan ekonomi segera dicarikan solusinya. Struktur ekonomi-politik yang eksploitatif wajib diluruskan.

Tidak bisa membumikan keadilan bagi seluruh rakyat tanpa diskriminasi hanya dengan mengandalkan pendekatan temporal apalagi karikatif. Kita menentang cara-cara licik untuk mengksploitasi kesenjangan ekonomi demi mengobarkan sentimen politik kebencian terhadap pemerintah.

Namun, pemerintah juga mesti mengambil kebijakan di bidang ekonomi yang berkeadilan karena bersentuhan langsung dengan hajat hidup rakyat dimana sebagian besar umat Islam berada di bawah garis kemiskinan.

Hanya dengan langkah ini upaya-upaya intrumentalisasi politik identitas atas nama ketidakadilan dapat dihalau. Wallahu’alam.