Tangkal Radikalisme dari Bangku Sekolah

JAKARTA – Paham-paham radikal yang bertentangan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang cinta damai ditengarai telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegah kemungkinan terburuk yang bisa melanda bangsa Indonesia, seluruh komponen masyarakat harus bahu membahu untuk menangkal radikalisme. Salah satu cara yang mendesak untuk dilakukan adalah melalui banku pendidikan.

“Lembaga pendidikan termasuk wilayah yang rawan dimasuki paham-paham radikal,”  demikian papar Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali, dalam acara ‘Program Penguatan Kapasitas Auditor dan Pengawas Sekolah’ yang dilaksanakan Maarif Institute bekerjasama dengan Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 25-27 Juni 2019 di Hotel Golden Palace, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Rohim, berdasarkan riset yang pernah dilakukan Maarif Institute terhadap beberapa sekolah di Indonesia seperti di Padang, Surakarta, Sukabumi, Denpasar, Cirebon, dan Tomohon, ada tiga aspek yang menjadi pintu masuk paham radikal ke sekolah. Pertama, melalui pintu alumni. Para alumni yang sudah malang melintang di luar, bisa mempengaruhi adik-adik kelasnya, terlebih pada saat reuni di sekolah, mereka bisa membawa dan menularkan paham yang aneh-aneh ke sekolah.

Kedua, melalui pintu guru. Guru kerap melakukan indoktrinasi bagi murid-muridnya baik di dalam maupun di luar kelas. Paham-paham transnasional yang intioleran dan radikal yang entah berasal dari mana, bisa masuk ke ruang kelas karena peran guru. Maka pengawasan terhadap guru-guru sangat penting untuk menangkal radikalisme.

Dan, yang ketiga, yang paling pokok, adalah melalui kebijakan kepala sekolah. Dalam setiap sekolah, peran kepala sekolah sangat penting. Jika kepala sekolahnya memiliki sikap yang intoleran, maka kebijakan-kebijakannya pun cenderung intoleran.

Kebijakan kepala sekolah bisa menjadi pisau bermata dua. Jika kepala sekolahnya memiliki wawasan pluralisme yang baik maka akan lahir kebijakan-kebijakan yang baik juga. Tapi jika kepala sekolahnya intoleran, sangat mungkin kebijakan-kebijakannya mengarah pada tumbuh kembangnya radikalisme di sekolah.

Selain ketiga hal itu, tambah Rohim, yang perlu diwaspadai juga keberadaan OSIS. Organisasi intra sekolah sangat baik untuk menambah wawasan dan pendidikan informal bagi para siswa. Tapi, jika ada kegiatan diskusi atau pengajian, biasanya mengundang nara sumber dari luar. Karena sudah popular di media sosial, diundang menjadi penceramah dalam acara-acara resmi OSIS. Melalui para penceramah inilah, kadang-kadang paham-paham radikal juga masuk ke sekolah. “Oleh karena itu, guru-guru harus ikut mengawasi, atau paling tidak harus menyaring nara sumber yang akan mengisi kegiatan OSIS,” tandas Rohim

Peran Kearifan Lokal

Dalam pelatihan yang diikuti para pengawas dan para wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dari Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Utara,  Selain Rohim, tampil sebagai pembicara Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Mataram, Prof. Dr. Suprapto. Dari penilitian yang dilakukannya tentang Promosi Toleransi dan Multikulturalisme di Sekolah dalam Kasus di Kota Mataram, ditemukan bebarapa aspek penting yang mampu menjaga daya tahan masyarakat terhadap kemungkinan masuknya paham-paham radikal, di antaranya yang paling berpengaruh adalah kearifan lokal.

Menurut Suprapto, Mataram merupakan kota yang multientis, terdiri dari beberapa suku seperti Sasak, Bali, Mbojo, Samawa, Jawa, Arab, Melayu, dan Cina. Agamanya juga sangat beragam, ada Islam, Hindu, Kristen, Budha, dan Kong Hu Cu. Di samping itu, warga Mataram juga memiliki banyak ragam budaya dan bahasa.

Karena keragaman ini, kadang terjadi konflik yang disebabkan karena kesalahpahaman atau karena faktor lain. Tapi, sejatinya, sejak dahulu, warga Mataram memiliki beberapa kearifan lokal yang berfungsi untuk mengikis kesalahpahaman atau hal-hal lain yang bisa memilcu disharmoni.

“Di antara kearifan lokal yang sangat baik untuk menangkal konflik, atau menangkal paham-paham yang bisa memecah belah adalah Saling AyoinSaling Pelangarin, Saling Pesilak, Saling Jot, dan Saling Tolong,” papar Suprapto.

Saling Ayoin adalah budaya saling mengunjungi satu sama lain antar warga tanpa memandang perbedaan agama atau suku. Saling Palangarin adalah budaya saling melayat jika ada ada anggota keluarga yang meninggal. Saling Pesilak adalah budaya saling mengundang jika hendak menyelenggarakan hajat seperti pernikahan, sunatan, dan lain-lain. Adapaun Saling Jot adalah budaya saling mengantarkan makanan pada hari-hari besar agama tertentu. Dan Saling Tolong adalah budaya tolong menolong, biasanya dalam membajak sawah atau lading bagi para petani.

Sumber: https://indopolitika.com/ksp-ajak-tangkal-radikalisme-dari-bangku-sekolah/

Buya Syafii Mencintai Muhammadiyah

Oleh: Haedar Nashir

Hari ini, 31 Mei 2019, Prof Dr H Ahmad  Syafii Maarif berulang tahun ke-84. Kita akrab menyebutnya Buya atau Buya Syafii.  Meski, ketika awal dipanggil Buya, sering beliau menimpali dengan seloroh, “Apa Buya, nanti  buaya”. Jawaban sangat egaliter seperti orangnya.

Kita sulit menemui tokoh besar yang begitu egaliter, humanis, dan demokratis seperti sosok kelahiran Sumpur Kudus Sumatra Barat ini. Dikritik, disela, dan bahkan dihujatpun tak pernah marah dan menunjukkan murka. Selalu senyum dan menjawab, “biarkan saja”, ketika banyak hujatan kepadanya karena pikiran dan pernyataannya yang bagi sebagian menudingnya liberal.

Hal yang menakjubkan dari Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005 ini ialah pengkhidmatannya yang luar  biasa untuk Muhammadiyah, selain untuk umat dan bangsa. Sering ketemu selalu berpesan, “Dar, jaga Muhammadiyah”.

Pasca tidak menjadi Ketua PP Muhammadiyah, Buya Syafii masih terus berkhidmat untuk Persyarikatan. Beliau sendiri yang minta menjadi Ketua Panitia Pembangunan Madrasah Muallimin di area baru. Padahal pasca gempa Yogya, Buya sudah membangunkan gedung utama Madrasah bersejarah tempat dirinya menimba ilmu itu. Kini gedung baru di lahan sekitar 6 hektar itu sedang dibangun kampus baru Muallimin senilai sekitar 500 milyar. Buya ke sana ke mari mencarikan dana dengan resiko ada yang kritik dan kadang sinis. Tapi beliau tetap jalan demi Muallimin sekolah kader kebanggan Muhammadiyah.

Di usianya yang senja, Buya tidak membangun dinasti untuk diri dan keluarganya, tetapi untuk Muhammadiyah. Kecintaannya pada Muhammadiyah lahir dari hati, tidak dengan retorika dan citra. Kepada anak-anak di Suara Muhammadiyah pun selalu mendampingi. Selalu berpesan dan mengajak kerja keras agar SM, baik majalah maupun perusahaan semakin besar dan maju. Ketika bertemu, selalu bertanya, “bagaimana Muhammadiyah? Lalu berpesan, “jaga kekompakan Persyarikatan ya”. Ucapannya tidak basa-basi, keluar dari hati.

Kami hormat dan merasa kecil menyaksikan kiprah Buya Syafii. Demikian pula dengan sosok-sosok  bersahaja seperti Pak Muchlas Abror dan Pak Rosyad Sholeh. Itulah figur-figur tulus dan otentik Muhammadiyah.  Apa yang keluar dari ucapannya ialah suara hati, tidak dibuat-buat. Komitmen dan pikirannya tentang Muhammadiyah selain paham juga lahir dari penghayatan yang menyatu dengan pengkhidmatannya. Ketiganya selalu berusaha  memposisikan Muhammadiyah dalam koridornya sebagai gerakan dakwah dan ormas keagamaan sesuai Kepribadian dan Khittah. Tidak berusaha menarik-narik organisasi Islam ke politik praktis dan yang tidak sejiwa dengan karakter gerakan Islam yang didirikan Kyai Ahmad Dahlan tahun 1912 itu.

Sikap hidup ketiganya sama sekali jauh dari pencitraan ala burung merak, tetapi apa adanya. Tidak biasa berselancar dalam ucapan dan tindakannya.  Sosok-sosok seperti ini mungkin tidak heroik di sebagian kalangan umat atau warga Persyarikatan, namun sungguh kuat jiwa keteladanan dan pengkhidmatannya. Ketiganya seperti pada umumnya tokoh dan lebih-lebih kita memilki kekurangan, tetapi tulus dan menujukkan bukti kata sejalan tindakan. Jika menyangkut Muhammadiyah tidak menuntut yang tidak semestinya, apalagi sampai menghakimi Persyarikatan dengan pernyataan-pernyataan negatif. Muhammadiyah selalu dihimbau agar tetap dalam jati dirinya sebagai gerakan Islam dan dakwah yang sejalan Kepribadian dan Khittah.

Kita rindu tokoh-tokoh Muhammadiyah yang apa adanya seperti Buya, Pak Muchlas, dan Pak Rosyad yang dalam menyikapi keadaan segawat apapun senantiasa memposisikan diri selaku orang Muhammadiyah yang tidak larut dalam tarikan pihak dan kepentingan lain. Sikap dan pikirannya lurus, kalaupun mengkritik tetap tawazun. Kita perlu belajar banyak dari figur-figur yang sepi popularitas dan tetap bersahaja itu.

Selamat ulang tahun Buya Syafii. Dengan kiprah yang tak kenal lelah dalam  memajukan Muhammadiyah, Buya Syafii seakan ingin memberi pesan kepada kita, kalau betul-betul merasa Muhammadiyah, bantulah gerakan Islam ini. Kalau belum dapat membantu, setidaknya jangan banyak menuntut dan membebani Muhammadiyah.

Buktikan kecintaan pada Muhammadiyah dengan pengkhidmatan nyata tanpa kata. Sungguh luhur sikap hidup tokoh Muhammadiyah yang bersahaja ini.  Kami yang lebih muda dibuatnya malu dengan jejak langkahnya yang nirpamrih. Buya Syafii bagi Muhammadiyah ibarat burung Rajawali, yang gagah dan terbang  ke angkasa tinggi, tetapi tak mau membangun sarangnya sendiri!

Summer: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/05/31/buya-syafii-mencintai-muhammadiyah/

KSP: Anak Muda Teladan Persatuan Indonesia

JAKARTA – Anak muda merupakan teladan terwujudnya persatuan di negeri ini. Pernyataan itu disampaikan Deputi V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan HAM Strategis Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani saat membuka program literasi digital bertajuk ‘Creator Muda Academy yang diselenggarakan oleh MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Google.org’ di Semarang, 25 April 2019.

Pasca perhelatan Pemilihan Umum 2019, residu dari perbedaan pilihan politik mulai bermunculan, baik di tatanan kehidupan bermasyarakat sehari-hari, maupun di media sosial. Hal tersebut jelas dapat mengganggu tatanan dasar negara Indonesia sebagai negara yang menghargai dan menghormati perbedaan.

Kondisi demikian mengkonfirmasi urgensi untuk memperkuat dan menerapkan nilai Pancasila dan Kebhinnekaan dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda berada dalam posisi yang strategis untuk menjalankan peran penguatan dan penerapan tersebut dan menjadi contoh bahwa pesta demokrasi yang telah dijalankan seharusnya dapat kita rayakan dengan bersatu kembali.

“Antara 10 hingga 20 tahun lagi, anak-anak muda yang akan memimpin negara ini. Oleh karena itu, logika kita perlu dibalik, bukan hanya orang tua yang bisa memberikan teladan, anak muda pun juga bisa.” ungkap Jaleswari.

Menurut Jaleswari, dengan posisi strategis sebagai penentu arah bangsa di masa depan tersebut, kaum muda memiliki peran vital untuk turut serta menjaga dan merawat persatuan di tengah-tengah menghangatnya suhu politik di berbagai lapisan masyarakat. Selain daripada itu, Jaleswari menilai bahwa generasi muda memiliki karakteristik dan cara tersendiri melalui ide-ide, kreativitas dan idealismenya yang dapat menjadi kekuatan dalam menegaskan komitmen akan Indonesia yang tetap bersatu pasca perhelatan pesta demokrasi 5 tahunan tersebut.

Program literasi digital ‘Creator Muda Academy’ sebelumnya sudah diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia dan akan merambah ke berbagai kota lainnya, di antaranya, Jakarta, Yogyakarta, Malang, Semarang, Mataram, Padang, Pontianak, Makassar, Manado dan Bandung. Di Semarang sendiri, program ‘Creator Muda Academy’ dihadiri oleh ratusan siswa/i SMA se-derajat di wilayah Semarang dan sekitarnya dan bertujuan untuk mengajak generasi muda untuk mempelajari mengenai jurnalisme Kebhinnekaan.

Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Komunikasi dan Informatika. Selain itu turut hadir beberapa narasumber  muda di antaranya Martin Anugrah dari Cameo Project, serta Ayu Kartika Dewi dari SabangMerauke.

Pemuda sebagai Pelopor Kemajuan

Saat memberikan sambutan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengatakan bahwa pemuda merupakan pelopor kemajuan. Mungkin saat ini kita melihat Bung Karno, Bung Hatta, dan lain-lain sebagai orang tua. Padahal pada eranya, beliau-beliau itu adalah orang-orang muda seperti kita saat ini.

Oleh karena itu, Gus Yasin, panggilan akrab Gubernur Jateng, berharap anak-anak muda meneladani kehidupan para pendiri bangsa dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kejujuran dan kebenaran. “Kita semua memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menjaga keindonesiaan yang terdiri dari berbagai suku bangsa agar terus maju dan berkembang sesuai yang dicita-citakan para pendiri bangsa,” tegas Gus Yasin.

Selanjutnya Gus Yasin tidak lupa mengajak anak muda sebagai pemilih pemula untuk memproduksi dan menyebarkan karya digital yang mengandung konten bernada kedamaian. Apalagi usai Pemilu 2019 ini banyak sekali bertebaran informasi maupun konten negatif berujung hoaks. “Mari, dari Jawa Tengah kita sebarkan konten-konten kedamaian, kita sebarkan konten-konten kreativitas. Sehingga isu-isu hoaks, isu-isu SARA bisa diurai. Karena ketika mereka disibukkan dengan pikiran serta energi positif dan kreatif, maka pikiran-pikiran negatif itu tidak akan muncul lagi,” katanya.

Sesuai definisi, ujar Gus Yasin, pemilih pemula memiliki kategori usia antara 17 sampai 35 tahun. Dia yang saat ini juga menginjak usia 35 tahun, mengajak para pemilih pemula untuk ambil bagian sebagai penentu kemajuan bangsa. Hal tersebut juga dilakukan para anak muda pada masa kemerdekaan 1945 silam.

“Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Jika dikurangi 17 tahun, hasilnya 1928. Nah, pada tahun itu muncul Sumpah Pemuda. Apa artinya, bahwa negara ini dibangun para pemuda. Apalagi kita juga punya sejarah besar di republik ini, yakni reformasi (1998) yang juga digerakkan oleh pemuda. Jadi, kita itu se-ide, kita sama-sama pemula. Kalau optimistis, kreatif, penuh inovasi, saya yakin 17 tahun akan datang Indonesia jadi acuan dunia,” papar Gus Yasin

Melawan Kebohongan dengan Kreativitas

Di era serba digital, selain kemudahan membangun narasi yang konstruktif, juga berkembang narasi-narasi yang destruktif seperti hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah. Mengutip penapat novelis terkenal berkebangsaan Amerika, Mark Twain, yang menulis  The Adventures of Huckleberry Finn dan The Adventures of Tom Sawyer, Jaleswari mengatakan bahwa, “Kebohongan telah berlari keliling dunia bahkan ketika kebenaran baru memakai sepatu.” Kebohongan begitu cepat menjalar ke seluruh sendi kehidupan termasuk di kalangan pemuda dan pelajar.

“Cara melawan kebohongan yang paling efektif adalah dengan memacu kreativitas sehingga kita tidak sempat berpikir untuk hal-hal yang negatif. Dan, acara Creatormuda Academy merupakan respon kreatif untuk menghadapi perkembangan teknologi terkini di era serba digital yang serba cepat dan penuh inovasi. Di acara ini anak-anak muda dipacu untuk menjadi kreator yang memproduksi narasi-narasi positif dan mengenyahkan narasi-narasi negatif” kata Abd Rohim Ghazali, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden yang juga hadir memberikan sambutan.

Semarang merupakan kota keempat setelah sebelumnya diadakan di Jakarta, Yogyakarta, dan Malang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk membekali anak-anak muda ketrampilan membuat konten yang baik dan konstruktif, membuat video pendek, dan desain grafis yang menarik dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang menguatkan keindonesiaan yang majemuk dan maju.

Materi yang diberikan antara lain ‘Madingtalks’ oleh Ayu Kartika Dewi yang merupakan Founder Sabang Merauke dan Managing Director Indika Foundation dengan tema pembahasan ‘Anak Muda Bisa Apa?’.  Selain itu ada ‘Coaching Clinic’ menghadirkan Narasumber dari Cameo Project (Kelas foto/video), Adityo Rachmanto (kelas desain) dan Kalis Mardiasih (Kelas Menulis). Intinya, pada acara ini para pelajar berkesempatan menimba ilmu dan berkreasi dengan bekal pengetahuan yang dibagikan oleh para nara sumber. Acara ini, menurut Oktora Irahadi, Director of Marketing Cameo Project, mengajak anak muda memaksimalkan potensinya dan mengambil kesempatan untuk berkarya.

Ajak Kaum Muda Berkarya Dengan Creator Muda Academy

Semarang, mediatajam.com – Setelah sukses di beberapa kota sebelumnya, Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, Peace Generation, dan Yayasan Ruang Guru yang berkolaborasi dengan Google.org mengajak anak muda Semarang yang hobi membuat konten untuk menciptakan karya positif dan kreatif.

Kegiatan itu diwujudkan dengan gelaran acara Creator Muda Academy yang mengambil tempat di Quest Hotel selama dua hari yakni Kamis – Jumat (25-26 April 2019), acara ini diharap menjadi wadah bagi pelajar untuk bersaing secara kompetitif dan menggunakan teknologi secara maksimal.

“Salah satunya dengan mengekspresikan melalui majalah dinding secara online yang dikenalkan dalam madingsekolah.id. Website madingsekolah.id diharapkan mengakomodir seluruh pelajar antarsekolah bahkan antarpulau yang mau mengunggah karya-karyanya,” kata Khelmy K Pribadi Direktur Program Islam dan Media Lembaga Ma’arif Institute.

Menurutnya , acara Creator Muda Academy telah dibentuk di sepuluh kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Semarang, Manado, dan Mataram. Semarang merupakan kota Ke 4,  mereka akan mendapat pelatihan multimedia dan jurnalisme.

“Madingsekolah.id merupakan bagian dari proyek Indonesia Spirit Rejuvenation (Inspire) yang diprakarsai oleh Google.org. Proyek itu bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan membangun ketahanan pelajar terhadap segala hal negatif di internet,” tambahnya.

Ditambahkanya lagi, ditengah riuhnya Pemilu dan Pilpres 2019,pihaknya masih konsisten untuk bersama anak muda di Jawa Tengah menggelar kegiatan positif untuk promosi toleransi dan anti kekerasan.

“Para pelajar ini adalah investasi di masa depan untuk menjaga demokrasi dan Indonesia yang lebih baik, jauh dari hoax dan ujaran kebencian,” pungkas Khelmy.

Sementara itu Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin yang hadir membuka acara tersebut berharap dengan digelarnya acara seperti ini membuat anak muda  Jawa Tengah kreatif dan fokus pada kegiatan yang positif .

“Saya berharap dengan acara kreatif seperti ini bisa menangkal para anak muda kita untuk terjebak dalam konten-konten hoax, tentunya dengan fokus dalam berkarya membuat isi yang bagus bisa menjauhkan mereka dari hoax juga,” kata Gus Yasin.

“Dengan begitu mereka akan menghasilkan karya-karya yang bisa bersaing dengan daerah lain bahkan dengan negara lain, saya sangat mengapresiasi acara ini dan perlu d tingkatkan jumlahnya,” pungkasnya.

Kurang lebih sebanyak 220 peserta siswa – siswi SLTA antusias mengikuti acara Creator muda Academy tersebut. Tak hanya menulis, anak- anak muda juga bisa mengembangkan bakat lain seperti menggambar, desain grafis, fotografi dan videografi. Semuanya bisa diunggah dalam madingsekolah.id.**Sefrin

Gus Yasin Ajak Creatormuda Academy Produksi Konten Kreatif Penuh Kedamaian

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak anak muda sebagai pemilih pemula untuk memproduksi dan menyebarkan karya digital yang mengandung konten bernada kedamaian. Apalagi pasca Pemilu 2019 ini banyak sekali bertebaran informasi maupun konten negatif berujung hoaks.

Pernyataan itu disampaikan Wagub yang akrab disapa Gus Yasin ini di hadapan 250 pelajar SMA se-Jateng pada pembukaan kegiatan roadshow Creatormuda Academy di Quest Hotel Semarang, Kamis (25/4/2019). Kegiatan itu didukung Google.org berkolaborasi dengan Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, Peace Generation, dan Yayasan Ruang Guru itu mengangkat tema ‘Create Differently Create Better.’

“Mari, dari Jawa Tengah kita sebarkan konten-konten kedamaian, kita sebarkan konten-konten kreativitas. Sehingga isu-isu hoaks, isu-isu SARA bisa diurai. Karena ketika mereka disibukkan dengan pikiran serta energi positif dan kreatif, maka pikiran-pikiran negatif itu tidak akan muncul lagi,” katanya. 

Sesuai definisi, ujar Gus Yasin, pemilih pemula memiliki kategori usia antara 17 sampai 35 tahun. Dirinya yang saat ini juga menginjak usia 35 tahun mengajak para pemilih pemula untuk ambil bagian sebagai penentu kemajuan bangsa ini. Hal tersebut juga dilakukan para anak muda pada masa kemerdekaan 1945 silam. 

“Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Jika dikurangi 17 tahun, hasilnya 1928. Nah, pada tahun itu muncul Sumpah Pemuda. Apa artinya, bahwa negara ini dibangun para pemuda. Apalagi kita juga punya sejarah besar di republik ini, yakni reformasi (1998) yang juga digerakkan oleh pemuda. Jadi, kita itu se-ide, kita sama-sama pemula. Kalau optimistis, kreatif, penuh inovasi, saya yakin 17 tahun akan datang Indonesia jadi acuan dunia,” ujarnya. 

Deputi V Kantor Staf Keresidenan, Jaleswari Pramodhawardhani yang hadir pada kesempatan itu menambahkan, anak muda selalu menginsipirasi dengan gagasan dan ide-ide yang kerap mengejutkan. Di sisi lain, ruang publik saat ini keruh dijejali isu politik belaka. Hoaks menjadi musuh besar bersama. 

“Ruang publik hari ini dipenuhi informasi antara kebohongan dan kebenaran yang saling campur aduk. Maka, di forum ini penting untuk memaknai dan mendefinisikan kembali Indonesia. Karena kita tidak sedang bicara kebinekaan dan keragaman saja, tetapi melampaui itu. Kita punya kapal bersama, yakni Indonesia, yang perlu kita rawat keragamannya,” imbuhnya.

Guru Berperan Penting Tangkal Radikalisme

MALANG – Guru memiliki peranan penting dalam menangkal radikalisme yang ditengarai sudah merasuk di sekolah-sekolah. Dengan merujuk pada hasil survei yang dilakukan PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) UIN Jakarta pada 2017 lalu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali, mengatakan, di antara penyebab munculnya sikap intoleran adalah karena adanya transfer sikap dan pengetahuan guru yang berpaham radikal. Oleh karena itu, pengetahuan para auditor dan pengawas sekolah terhadap adanya indikasi paham radikal yang dimiliki guru-guru menjadi sangat penting untuk menangkal radikalisme di sekolah-sekolah.

Hal ini disampaikan Rohim dalam acara ‘Program Penguatan kapasitas Auditor dan Pengawas Sekolah’  yang dilaksanakan Maarif Institute bekerjasama dengan Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 8-10 April 2019 di Pusat Pengambangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) BOE Malang, Jawa Timur.

Dalam Riset PPIM tahun 2017 terhadap 1860 siswa sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, 37 persen setuju dengan jihad/qital  melawan non-Muslim; 23 persen setuju aksi bom bunuh diri sebagai jihad; 34 persen setuju orang murtad (berpindah agama dari Islam ke non-Islam) untuk dibunuh; dan 33 perses setuju dengan tindakan diskrimasi berdasarkan perbedaan agama.

Meskipun persentasenya masih jauh dibawah 50 persen, fakta ini sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup bangsa kita yang sangat beragam baik segi agama, etnis, dan golongan. Mengapa? Karena mereka yang saat ini belajar di sekolah menengah itu, sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang akan tampil sebagai guru, atau bahkan bisa jadi di antaranya akan menjadi pemimpin di negeri ini.

“Apa yang terjadi jika guru-guru sekolah berpaham radikal, dan para pemimpin membenarkan tindakan intoleran?” tanya Rohim dengan nada retoris.

Kekhawatiran ini sangat beralasan karena Riset PPIM tahun 2018 tentang potret keberagamaan 2237 guru dari seluruh Indonesia, hasilnya 63,07 persen secara implisit memiliki opini intoleran, dan 56, 90 persen secara ekplisit memiliki opini intoleran. Survei ini juga menemukan bahwa, jika ada kesempatan, 29 persen guru berkeinginan untuk menandatangani petisi menolak kepala dinas pendidikan yang berbeda agama, dan 34 persen berkeinginan untuk menandatangani petisi mernolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di sekitar tempat tinggalnya. “Kondisi ini sangat memprihatinkan,” tandas Rohim.

Bagaimana cara mengantisipasi kemungkinan berkembangnya intoleransi dan radikalisme di sekolah? Menurut Rohim, pertama, para guru harusd sering-sering mengajak siswa-siswi keluar sekolah untuk mengunjungi sekolah lain yang berbeda agama; kedua, dengan mengurangi cara pengajaran agama secara doktrinal dan formalistik; dan ketiga, dengan memperbanyak belajar sejarah, terutama tentang bangkit dan hancurnya suatu bangsa.

Fenomena Keberagamaan di Kampus

Selain Abd Rohim Ghazali, hadir sebagai pembicara, Tenaga Ahli Staf Khusus Presiden Bidang Isu Keagamaan Internasional, Dr. Pradana Boy yang memaparkan hasil riset tantang fenomena keberagamaan di Kampus, khususnya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hasilnya, menurut Boy, bisa digambarkan dalam satu kalimat “semakin longgar cara berpakaiannya, semakin ketat cara beragamanya, dan semakin ketat cara berpakaiannya, semakin longgar cara beragamanya”.

UMM adalah kampus berbasis agama Islam namun tidak mewajibkan mahasiswinya untuk berjilbab. Terhadap mahasiswa yang non-Muslim, dalam mata kuliah agama, diberi kesempatan untuk memilih apakah mau diberi mata kuliah sesuai agamanya, ataukah mau ikut belajar agama Islam. “Mereka memilih belajar Islam,” kata Boy. Mungkin karena jumlahnya yang terlalu sedikit jadi merasa tidak enak jika menuntut kampus untuk menyediakan dosen agama yang sesuai dengan agama mereka. “Tapi mungkin juga karena mereka benar-benar ingin mempelajari Islam.”

Yang jelas, menurut Boy, perihal keberadaan mahasiswa non-Muslim ini pernah ada cerita menarik. Suatu ketika ketika waktu shalat Jumat tiba, ada beberapa mahasiswa yang tetap duduk-duduk di kantin sambil minum kopi dan merokok. Lantas seorang dosen agama Islam mendatangi dan menghardik mereka. “Kalian ini sudah waktunya shalat Jumat kok masih enak-enak duduk dan merokok di sini. Sana cepat ke masjid!”

Apa yang terjadi kemudian, sang dosen terheran-heran karena para mahasiswa itu menjawab hardikan dengan tertawa-tawa. “Kenapa kalian tertawa?” tanya sang dosen. “Kami non-Muslim, pak,” jawab mahasiswa.  Cerita ini terkesan lucu tapi bisa sedikit menggambarkan masih adanya intoleransi di kampus.

Ekslusivisme Beragama dan Ujaran Kebencian Jadi Bahasan Forum Titik Temu

Liputan6.com, Jakarta – Nurcholish Madjid Society, Maarif Institute, Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian, dan Yayasan Terang Surabaya menggelar Forum Titik Temu di Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. Pembahasan yang diangkat terkait menguatnya intoleransi, ekslusivisme dalam beragama, dan ujarang kebencian yang menguat.

“Forum ini lahir karena adanya keprihatinan kami bersama, baik sebagai bangsa Indonesia maupun sebagai warga dunia. Keprihatinan atas situasi intoleransi, eksklusivisme dalam beragama, terorisme, ujaran kebencian, merebaknya hoax dan fitnah, serta politik aliran yang makin menguat,” kata Muhamad Wahyuni Nafis, Ketua Nurcholish Madjid Society dalam pembukaan Forum Titik Temu.

Koordinator Jaringan Nasional Gusdurian, Alissa Wahid, mengatakan forum ini penting untuk menyampaikan pesan bahwa masalah terbesar kita adalah kebencian, bukan karena perbedaan.

“Di era dunia mengglobal ini, kita tak dapat menghindari keberagaman dalam hidup bersama. Kebencian antar kelompok akan membawa kehancuran, dan harus kita atasi dengan membangun jembatan-jembatan persaudaraan, dengan terus memupuk kepercayaan dan toleransi antar sesama. Selalu ada ruang hidup bersama dalam persatuan dan kedamaian,” kata Alissa Wahid.

Forum Titik Temu menekankan pentingnya usaha-usaha memperkuat lembaga-lembaga pendidikan dan mendorong mereka untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, budaya saling menghormati, kebebasan tanpa perbedaan.

Dihadiri Sejumlah Tokoh

Acara yang mengangkat tajuk “Persaudaraan Insani, Hidup Damai, dan Hidup Berdampingan” itu diawali dengan pembacaan Dokumen Persaudaraan Manusia, yakni sebuah dokumen yang dihasilkan dari pertemuan antara Imam Besar Al Azhar, Sayyed Ahmed al Thayeb dengan Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus, serta sekitar 400 tokoh agama-agama di dunia pada 4 Februari 2019, di Abu Dhabi, Dubai.

Forum itu juga menghadirkan sejumlah tokoh untuk menyampaikan pesan perdamaian, seperti Tokoh Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, tokoh agama perempuan yang juga istri almarhum KH Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, dan tokoh perempuan yang juga istri almarhum Nurcholish Madjid, Omi Komaria Madjid.

Hadirkan Tokoh Lintas Agama, Forum Titik Temu Ajak Umat Tolak Intoleransi

AKARTA – Merespons semakin menguatnya intoleransi, kasus-kasus kekerasan dan persekusi yang mengatasnamakan agama di Indonesia, Nurcholis Madjid Society bekerja sama dengan Wahid Foundation, Maarif Institute, Jaringan Gusdurian dan Yayasan Terang Surabaya menggelar acara diskusi Forum Titik Temu bertajuk “Persaudaraan Insani, Hidup Damai, dan Hidup Berdampingan” di Hotel Ritz Carlton, Jakarta pada Rabu, 10 Maret 2019.

Acara ini merupakan tindak lanjut, upaya meneruskan seruan dari Dokumen Persaudaraan Insani yang dideklarasikan pada pertemuan antara Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar Sayyed Ahmed al Tayyeb dan sekira 400 pemuka agama dunia di Abu Dhabi pada 4 Februari lalu.

Dokumen Persaudaraan Insani tersebut mengingatkan umat manusia di seluruh dunia untuk selalu menjalin persahabatan, persaudaraan, saling menghormati dan tidak mempolitisasi agama demi kepentingan politik praktis.

Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam Dokumen Persaudaraan Insani, Forum Titik Temu bertujuan memperkuat persaudaraan dan perdamaian, mengajak seluruh umat manusia untuk mengecam segala bentuk teror, ekstremisme serta semua hal yang merusak harmoni dan kedamaian kehidupan bersama.

Forum Titik Temu menghadirkan sejumlah tokoh lintas agama terkemuka sebagai narasumber si antaranya Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, dua tokoh perempuan; istri dari KH Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan istri dari KH Nucholish Madjid.

Kemudian Omi Komaria Madjid; tokoh Hak Asasi Manusia, HS Dillon; Pemuka Umat Buddha, Banthe Dammasubho; Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo; Anggota Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Pancasila Sudhamek AWS dan belasan tokoh lainnya.

Mereka menyampaikan pandangan mereka terhadap deklarasi Dokumen Persaudaraan Insani dan pesan mereka bagi umat manusia di Indonesia.

“Forum ini lahir karena keprihatinan kami bersama, baik sebagai bangsa Indonesia maupun warga dunia. Keprihatinan atas situasi toleransi eksklusivisme beragama, terorisme, ujaran kebencian, merebaknya hoaks, dan fitnah serta politik aliran yang semakin menguat,” kata Ketua Nurcholish Madjid Society di Hotel Ritz Carlton, Rabu (10/4/2019).

Koordinator Jaringan Nasional Gusdurian, Alissa Wahid mengatakan bahwa Forum Titik Temu penting untuk menjelaskan mengenai masalah terbesar yang dihadapi Indonesia, yaitu kebencian karena perbedaan.

“Di era dunia mengglobal ini, kita tidak dapat menghindari keberagaman dalam hidup bersama. Kebencian antar kelompok akan membawa kehancuran dan harus kita atasi dengan membangun jembatan-jembatan persaudaraan, dengan terus memupuk kepercayaan dan toleransi antar sesama. Selalu ada ruang hidup bersama dalam persatuan dan kedamaian,” jelasnya.

200 Pelajar Jawa Timur Ikuti Creatormuda Academy

Oknews.co.id, Malang – Budaya membaca pelajar Indonesia menurun seiring dengan semakin aktifnya mereka menggunakan gawai. Kini para pelajar lebih tertarik membaca dan mencari informasi dari internet alih-alih mendapatkannya dari buku.

Sayangnya, mendulang informasi dari internet tanpa dibarengi dengan sikap kritis dapat menyebabkan anak muda rentan turut menjadi penyebar informasi palsu (hoax).

Dalam rangka menggiatkan pentingnya literasi media pada anak muda, khususnya pada pelajar SMA/sederajat, MAARIF Institute menggelar sebuah kegiatan dengan tajuk “Creatormuda Academy”, sebuah platform pembelajaran offline untuk pelajar Indonesia tentang Keindonesiaan, Keragaman dan Literasi Media. Kegiatan yang diadakan di 10 kota di Indonesia ini akan mempertemukan 200 pelajar SMA/sederajat yang terbagi ke dalam 40 tim di setiap kotanya untuk mengikuti sesi Mading Talks.

Pada sesi berikutnya, 1 tim madding terbaik berkesempatan untuk mengikuti pelatihan menulis, desain grafis, fotografi, videografi, serta produksi konten positif Bersama para pelatih yang berpengalaman di bidangnya.

Setelah sukses digelar di Jakarta dan Yogyakarta, Creatormuda Academy kini hadir di Kota Malang. 200 pendaftar di Jawa Timur dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti Mading Talks di hari pertama, dan 10 tim madding sekolah dengan karya terbaik dinyatakan lolos untuk mengikuti sesi berikutnya hingga hari kedua.

Direktur Eksekutif MAARIF Institute mengatakan “Lebih dari 50 tim dari berbagai sekolah di Jawa Timur telah mengirimkan berkas pendaftaran dan portofolio karya mereka. Namun kami mesti memilih yang terbaik dari yang terbaik, yakni tim-tim yang mampu menawarkan ide segar dan kreatif untuk diarahkan memproduksi konten positif sebanyak-banyaknya dalam platform online yang kami sediakan, yakni madingsekolah.id.” ujar Abdul Rohim Ghazali

“Platform ini menjadi wadah ekspresi dan kreativitas para pelajar SMA untuk berkarya dan mengkreasi konten positif secara berkesinambungan,”. pungkasnya

Creatormuda Academy Malang digelar pada 11-12 April 2019, bertempat di Convention Hall Sengkaling, Kapal Garden Hotel Malang.

Summer: https://oknews.co.id/200-pelajar-jawa-timur-ikuti-creatormuda-academy/

MAARIF Institute Mencegah Bullying

Kasus bullying di kalangan pelajar terus saja terjadi meskipun sudah berbagai upaya dilakukan untuk mencegahnya. Yang tengah hangat menjadi perbincangan publik dan viral di media sosial adalah seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Audrey yang dikeroyok, dibully rame-rame oleh tujuh siswi Sekolah Menengah Atas (SMA). Apa yang terjadi pada Audrey, bukan tidak mungkin terjadi pula ditempat lain dengan modus dan pelaku yang berbeda-beda.

Untuk mengantisipasi agar bullying tidak terjadi lagi di kalangan pelajar, tidak cukup hanya dengan himbauan atau nasihat, apalagi jika himbauan dan nasihat itu datang dari orang-orang dewasa yang kerjanya juga sama, tukang membully yang lain, pasti tidak akan efektif. Cara yang paling efefktif untruk mecegah bullying dan tindakan-tindakan negatif lainnya di kalangan pelajar adalah dengan memacu kreativitasnya.

Pandangan ini disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali dalam acara “Creatormuda Academy” yang dilaksanakan Maarif Institute for Culture and Humanity bekerjasama dengan Google.org pada 11-12 April 2019 di Convention Hall Sengkaling, Kapal Garden Hotel, Malang, Jawa Timur.

Dalam acara yang didukung oleh Yayasan Ruangguru, Cameo Project, Peace Generation, dan Love Frankie ini diundang 235 pelajar SMA dan sederajat se-Jawa Timur antara lain dari Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Sampang, Madura. Mereka diseleksi berdasarkan karya yang diajukan pada saat mendaftar. Dari semua pendaftar, hanya sebagian saja yang bisa mengikuti pelatihan intensif selama dua hari, sedangkan yang lainnya hanya bisa mengikuti pembukaan dan sesi seminar.

Bekal Era Industri 4.0

Menurut Abd Rohim Ghazali, setiap acara yang diorientasikan untuk memacu kreativitas anak-anak muda sangatlah penting mengingat mereka yang popular dengan sebutan generasi milenial ini merupakan tunas-tunas bangsa yang kelak menjadi pemimpin pada dua-tiga dekade yang akan datang. Sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat dan menjadi pionir kebaikan di lingkungan masing-masing, mereka harus dibekali dengan ketrampilan yang bisa menopang kehidupannya masing-masing. “Di era industri 4.0 seperti sekarang, bekal yang paling sesuai adalah ketrampilan membuat konten-konten positif, membuat video singkat, desain grafis, dan bagaimana cara memasarkannya,” papar Rohim.

Banyak contoh, orang yang biasa saja, tiba-tiba muncul sebagai inflencer karena aktif di media sosial dengan ribuan atau bahkan jutaan follower. Bisa dibayangkan, bagaimana dampaknya jika para influencer ini banyak memposting konten-konten yang negatif di akun media sosialnya. “Dampaknya pasti akan sangat buruk bagi kehidupan sosial kita,” tandas Rohim. Maka melatih diri untuk membiasakan mengirim konten-konten yang positif dan konstruktif adalah bagian dari pekerjaan mulia. Apalagi di era revolusi industri 4.0, selain muncul unicorn-unicorn yang membangun, berkembang pula akun-akun media sosial yang dijadikan alat menyarang lawan dengan nada-nada kebencian (hate speech).

Pelopor Melawan Kebencian

Oleh karena itu, menurut Rohim, para pelajar yang ikut dan menjadi bagian dari “Creatormuda Academy” harus menjadi pelopor untuk merlawan hate speech, bullying, intoleransi, dan tindakan-tindakan lain yang menimbulkan kebencian dan amarah di tengah-tengah masyarakat.

Dari mana perlawan terhadap kebencian itu dimulai? Mulai dari diri kita sendiri, teman-teman sebaya yang duduk sebangku di kelas, teman sekelas, teman satu sekolahan, satu kampung, satu desa, satu kecamatan, dan seterusnya hingga tidak ada ruang bagi mereka yang ingin menyebarkan kebencian. Jangan karena perbedaan agama, suku, pilihan politik, atau bahkan perbedaan dukungan terhadap klub sepak bola, membuat kita saling membenci satu sama lain.

Berbarengan dengan acara “Creatormuda Academy”, kebetulan di Kota Malang akan dilangsungkan laga final perebutan Piala Presiden antara Arema Malang dan Persebaya Surabaya. “Yang merasa Aremania atau Singo Edan, jangan membenci Bonex atau baju Ijo,” tandas Rohim. “Ubah kebencian menjadi saling mengerti, saling memahami, dan saling mengasihi satu sama lain sehingga kita senantiasa berada dalam kedamaian.”

Summer: https://geotimes.co.id/berita/maarif-institute-mencegah-bullying/