Buya Syafii Maarif Maafkan Netizen yang Menghinanya

Terlapor kasus ujaran kebencian terhadap Buya Syafii Maarif bertemu langsung dengan Buya Syafii Maarif untuk meminta maaf. Buya Syafii Maarif pun meminta masyarakat lebih bijak dalam menggunakan media social karena bisa berkonsekuensi hukum.

Terlapor atas nama Yusral mengaku menyesal dan meminta maaf atas postingan yang dianggap telah menghina Buya Syafii Maarif. Buya Syafii Maarif sendiri mengaku sudah memaafkan terlapor. Akan tetapi proses hukum yang sudah berjalan buya serahkan ke tim kuasa hukum.

Buya Syafii Maarif juga mengajak masyarakat lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial karena bisa berkonsekuensi hukum pidana.

#SyafiiMaarif #PostinganMenghina

Creatormuda Academy Tatar Anak Muda Berinternet Sehat dan Cerdas

RMco.id  Rakyat Merdeka – Koloborasi lima institusi yakni antara Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, Peace Generation dan Yayasan Ruang Guru serta Google.org yang tergabung dalam Creatormuda Academy terus melakukan sosialisasi program Indonesia Spirit Rejuvenation (INSPIRE). Dalam kunjungan ke- 8 kota di Indonesia, Creatormuda Academy mengajak 200 lebih pelajar di Kota Padang, Sumatera Barat.

“Ceatormuda Academy merupakan wadah kreatif yang tepat bagi para Pelajar untuk dapat mengembangkan diri. Melek teknologi memang perlu di era serba digital ini, namun kemampuan untuk memfilter adalah hal yang perlu untuk diperhatikan,” ungkap Marketing Director Cameo Project, Oktora Irahadi, dalam keterangan tertulisnya kepada RMCO.id.

Hal ini tercetus ketika melihat adanya fenomena yang berkembang dengan intensitas lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia belum bisa membedakan mana berita, hoaks maupun real.

Ditambahkan Oktora, ada penemuan data di Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara perihal literasi media. Menurut survey Edelman Trust Barometer 2018, 63 persen masyarakat indonesia yang disurvey tidak bisa membedakan yang mana berita jurnalisme, opini atau hoaks, dan 59 persen di antaranya tidak mengetahui mana media terpercaya (credible) dan tidak kredibel.

Serta 43.000 platform berita online dan hanya ada 200 yang terverifikasi oleh Dewan Pers Indonesia, dan hoaks tentunya disebarkan paling banyak melalui medsos.

“Berdasarkan hal ini Pelajar sebagai generasi penerus bangsa perlu diberikan sebuah wadah kreatif dalam bentuk Creatormuda Academy. Tujuan dari wadah ini adalah untuk meningkatkan literasi digital dan menjadi filter dalam upaya menghalau konten negatif yang tengah pesat berkembang,” sambung dia lagi.

“Pelajar diajarkan secara cerdas untuk mampu berkreasi dan menggunakan teknologi secara lebih tepat,” tambah Oktora.

Fenomena ini menjadi masalah besar di era serba digital ini. Melihat 10 tahun ke depan Indonesia akan memasuki masa keemasan dimana angka usia produktif akan lebih besar dibanding tahun yang sebelumnya. Dan, kondisi ini hanya terjadi satu kali dalam sebuah sejarah Negara.

“Belum lagi, di tengah situasi kebangsaan yang mendung dengan banyaknya hoaks, bahkan hingga menjurus pada kerusuhan rasial di Manokwari dan Sorong, Papua, maka creatormuda academy adalah oase yang memberikan ruang bagi anak muda untuk berbuat lebih untuk Indonesia,” ungkap Direktur Program Maarif Institute, Khelmy K Pribadi


“Kegiatan Creatormuda Academy di kota Padang merupakan momentum untuk mendorong peran penting dan strategis anak muda untuk memperkuat kebinekaan, persaudaraan dan toleransi antar anak muda Indonesia,” tambahnya, melanjutkan.

Acara Creatormuda Academy ini diselenggarakan selama dua hari di Kyriad Hotel Bumi Minang. Pada kempatan ini turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Adib Alfikri. 

Creatormuda academy di Padang ini tak hanya diikuti oleh Pelajar SMA/SMK di Kota Padang namun juga hadir dari Kota Pariaman, Kab. Solok, Kab. Pasaman, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kota Bukittinggi. Tak kurang dari 200 pelajar hadir dalam kegiatan ini.

“Yuk Cerdas Berinternet merupakan kurikulum online yang akan mengarahkan para pelajar dan guru untuk lebih cerdas dalam penggunaan teknologi. Adapun literasi digital ini membutuhkan sebuah pemahaman yang mengedukasi dari pihak Guru dan kemampuan dari Murid untuk dapat menyerap penjelasan secara maksimal,” kata Khelmy lagi. 

Creatormuda Academy merupakan ruang kreatif pelajar untuk memenuhi dunai internenet dengan konten positif. Wadah ini merupakan inisiatif public untuk melawan narasi-narasi kebencian bahkan yang mengarah pada narasi kekerasan ekstrimisme melalui karya kreatifitas positif pelajar dalam bentuk artikel, video, foto, design yang dunggah ke madingsekolah.id.


Selain itu ada sebuah kompetisi #MerdekaBikinKonten yang akan berlangsung mulai 12-26 Agustus untuk para pelajar dan pemenangnya akan diumumkan pada 30 Agustus 2019. Mekanisme registrasi dan informasi lebih lanjut mengenai madingsekolah.id dapat diakses di website www.madingsekolah.id, Instagram: @madingsekolah.id, twitter : @madingsekolah.id, Facebook: madingsekolah.id dan Youtube. [MER]

Sumber: https://rmco.id/baca-berita/ecommerce/16586/ajak-200-pelajar-di-padang-creatormuda-academy-tatar-anak-muda-berinternet-sehat-dan-cerdas

Tingkatkan Literasi Media, Inspire Project Gelar Roadshow Creatormuda Academy di Kota Padang

Rendahnya literasi media ini mendorong sebuah konsorsium yang terdiri Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, Peace Generation, dan Yayasan Ruang Guru berkolaborasi dengan Google.org membentuk konsep project dengan nama INSPIRE (Indonesia Spirit Rejuvenation) atau Inspire Project.

INDONESIA, menurut penelitian, berada di urutan ke-60 dari 61 negara soal literasi media.

Hal ini diperkuat oleh open survey Edelman Trust Barometer 2018 di mana 63% masyarakat Indonesia yang disurvei tidak bisa membedakan yang mana berita jurnalisme, opini, atau hoax.

Bahkan 59% di antaranya tidak mengetahui mana media terpercaya (credible) dan tidak kredibel. 

Menurut data saat ini ada 43.000 platform berita online dan hanya ada 200 yang terverifikasi oleh Dewan Pers Indonesia.

Sementara itu, hoax paling banyak disebarkan melalui media sosial (internet).

Fenomena ini menjadi masalah besar untuk kita yang hidup di era serba digital ini.

Apalagi 10 tahun ke depan Indonesia akan memasuki masa keemasan di mana angka usia produktif akan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Inspire Project

Rendahnya literasi media ini mendorong sebuah konsorsium yang terdiri Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, Peace Generation, dan Yayasan Ruang Guru berkolaborasi dengan Google.org membentuk konsep project dengan nama INSPIRE (Indonesia Spirit Rejuvenation).

INSPIRE PROJECT ini merupakan sebuah konsep visioner kreatif yang dibentuk oleh para kreator yang memiliki keinginan untuk mengajarkan anak bangsa bagaimana pintar dan cerdas berinteraksi di dunia internet.

Tingkatkan literasi digital

Oktora Irahadi, Marketing Director Cameo Project, mengatakan Creatormuda Academy ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan menjadi filter dalam upaya menghalau konten negatif yang tengah pesat berkembang.

“Sebagai sinergi antara google.org dan beberapa institusi, Creatormuda Academy ini merupakan wadah kreatif yang tepat bagi para Pelajar untuk dapat mengembangkan diri,“ kata Oktora dalam keterangan resminya kepada Wartakotalive.com, Minggu (25/10/2019).

Menurut dia, melek teknologi memang perlu di era  serba digital ini, namun kemampuan untuk memfilter adalah hal yang perlu untuk diperhatikan.

“Pelajar diajarkan secara cerdas untuk mampu berkreasi dan menggunakan teknologi secara lebih tepat,” imbuhnya.

Cerdas berinternet

Creatormuda Academy di Padang merupakan bagian dari roadshow di 10 kota.

Sebelumnya acara ini digelar di Jogja, Malang, Semarang, Manado, Makassar, Pontianak, dan Jakarta.

Creatormuda Academy di Padang ini tak hanya diikuti oleh Pelajar SMA/SMK di Kota Padang namun juga hadir dari Kota Pariaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Pasaman, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kota Bukittinggi.

Tak kurang dari 200 pelajar hadir dalam kegiatan ini.

Dalam acara ini, Coach Menulis dibawakan Irfan Amalee, coach design oleh M. Alvin Nur Choironi (Islami.co) dan Coach Video oleh Cameo Project.

Ruang kreatif pelajar

Khelmy K Pribadi selaku Direktur Program MAARIF Institute, mengatakan Creatormuda Academy merupakan ruang kreatif pelajar untuk memenuhi dunia internet dengan konten positif.

“Di tengah situasi kebangsaan yang mendung dengan banyaknya hoax rasial bahkan hingga menjurus pada kerusuhan rasial di Manokwari dan Sorong, Papua, maka Creatormuda Academy adalah oase yang memberikan  ruang bagi anak muda untuk berbuat lebih untuk Indonesia, “ jelasnya.

Kegiatan  Creatormuda Academy di kota Padang ini, lanjut Khelmy, menjadi momentum untuk mendorong peran penting dan strategis anak muda untuk memperkuat kebhinekaan, persaudaraan dan toleransi antar anak muda Indonesia.

Menurut dia, literasi digital membutuhkan sebuah pemahaman yang mengedukasi dari pihak Guru dan kemampuan murid untuk dapat  menyerap penjelasan secara maksimal.

“Edukasi ini akan dibantu kurikulum online ‘Yuk Cerdas Berinternet’ yang akan mengarahkan para pelajar dan guru untuk lebih cerdas dalam penggunaan teknologi,”papar Khelmy.

Kompetisi #MerdekaBikinKonten

Sebagai wadah inisiatif publik untuk melawan narasi-narasi kebencian bahkan yang mengarah pada narasi kekerasan ekstrimisme, Creatormuda Academy mengedukasi anak muda melalui karya kreatifitas positif pelajar dalam bentuk artikel, video, foto, desain yang diunggah ke madingsekolah.id.

Selain itu ada sebuah kompetisi #MerdekaBikinKonten yang berlangsung pada 12-26 Agustus untuk para pelajar dan pemenangnya akan diumumkan pada 30 Agustus 2019. 



Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Tingkatkan Literasi Media, Inspire Project Gelar Roadshow Creatormuda Academy di Kota Padang, https://wartakota.tribunnews.com/2019/08/26/tingkatkan-literasi-media-inspire-project-gelar-roadshow-creatormuda-academy-di-kota-padang?page=3.
Penulis: Hironimus Rama
Editor: Fred Mahatma TIS

Buya Syafii Maarif soal Kerusuhan di Manokwari: Orang Papua Harus Kita Perlakukan secara Adil

SURABAYA, KOMPAS.com – Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Buya Syafii Maarif mengimbau semua pihak untuk tidak bertindak secara berlebihan dalam menangani kerusuhan di Manokwari, Papua Barat. 

Menurut Buya, kerusuhan bisa terjadi di mana saja. Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan adalah mengatasi persoalan itu dengan cara yang baik pula atau tidak mengabaikan asas keadilan. “Yang penting menurut saya, yang agak terlupakan selama ini ialah melaksanakan sila ke lima, yaitu melaksanakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Buya, usai menghadiri diskusi kebangsaan di Universitas Kristen Petra, Surabaya, Senin (19/8/2019).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu mengatakan, orang Papua harus diperlakukan sejajar dengan masyarakat lain di Indonesia. Menurut dia, stigma negatif tentang warga Papua harus segera diakhiri, termasuk adanya persekusi dan tindakan diskriminatif lainnya. “Ya, orang Papua harus kita perlakukan secara adil. Orang Bugis, semua harus diperlakukan secara adil,” tutur Buya.

Ia menambahkan, cerminan sebuah negara akan terlihat dari sejauh mana bangsa itu menjalankan prinsip keadilan terhadap seluruh rakyat. “Keadilan itu sangat mahal, tapi hidup sebuah bangsa, sebuah negara, akan sangat bergantung pada sampai di mana kita berhasil atau gagal melaksanakan prinsip keadilan itu,” imbuh Buya.

Seperti diberitakan, kerusuhan terjadi di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8/2019). Akibat kerusuhan itu, Gedung DPRD Papua Barat di Monokwari dibakar massa. Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap tindakan persekusi dan rasisme yang diduga dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) dan oknum aparat, terhadap mahasiswa Papua, di Malang, Surabaya dan Semarang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Buya Syafii Maarif soal Kerusuhan di Manokwari: Orang Papua Harus Kita Perlakukan secara Adil”, https://surabaya.kompas.com/read/2019/08/19/15291101/buya-syafii-maarif-soal-kerusuhan-di-manokwari-orang-papua-harus-kita
Penulis : Kontributor Surabaya, Ghinan Salman
Editor : Robertus Belarminus

Refleksikan Hari Kemerdekaan, MAARIF Institute Gelar Creator Muda Academy di Pontianak

PONTIANAK – Dalam rangka merefleksikan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-74, MAARIF Institute menggalakkan literasi digital di Pontianak, Kalimantan Barat.

Literasi ini dibingkai dalam sebuah kegiatan bertajuk Creatormuda Academy, sebuah platform pembelajaran dan advokasi offline untuk siswa SMA/sederajat tentang Keindonesiaan, Keragaman, dan Literasi Media. 

Melalui program ini, diharapkan lahir para konten kreator muda yang menyampaikan pandangan tentang keindonesiaan dan keragaman, sebagai salah satu upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Kegiatan ini mempertemukan 150-an pelajar SMA/sederajat untuk mengikuti sesi Mading Talks. Nah, nanti 10 tim terbaik berkesempatan untuk mengikuti sesi Booth Camp yang berupa pelatihan pembuatan konten positif bersama para pelatih yang berpengalaman di bidang menulis, desain grafis, fotografi, dan videografi. Pelatihan tersebut akan bermuara kepada produksi konten di madingsekolah.id yang kami sediakan,” ujar Khelmy K. Pribadi, Direktur Program MAARIF Institute

Khelmy menyebutkan bahwa kegiatan ini terselenggara atas kerjasama MAARIF Institute dengan Peace Generation, Cameo Project, Love Frankie, dan Yayasan Ruang Guru.

Sementara itu, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd Rohim Ghazali, menyampaikan bahwa acara yang digelar di Hotel NEO Gajah Mada Pontianak pada 15-16 Agustus 2019 ini merupakan gelaran ke-7 dari 10 kota yang direncakan.

Ke-10 kota tersebut adalah Jakarta, Yogyakarta, Malang, Semarang, Manado, Makassar, Pontianak, Padang, Mataram, dan Bandung. Selain menyampaikan informasi tersebut, Rohim juga berharap anak muda dapat turut terlibat dalam mempertahankan perjuangan kemerdekaan bangsa melalui produksi konten-konten positif. 

“Berbagai ide segar dan kreatif yang berasal dari anak muda perlu diarahkan dalam bentuk konten-konten positif dan diunggah ke media sosial. Karena demikian untuk konteks sekarang ini. Untuk itu, kami dari MAARIF Institute bersama yang lainnya menginisi Creatormuda Academy ini dan menyediakan platform online dalam madingsekolah.id,” pungkasnya.

Dalam kegiatan ini, Yosi “Project Pop” Mokalu yang tergabung dalam Cameo Project hadir sebagai narasumber Mading Talks. Yosi menyebutkan bahwa pelajar tidak hanya berperan sebagai content creator, namun lebih dari itu mesti memproduksi konten-konten positif dan menyebarkan konten-konten tersebut.

“Konten keren hari ini adalah konten-konten positif yang memuat nilai-nilai kebinekaan, anti kekerasan dan membangun semangat optimisme anak muda. Jangan hanya membuat. Jangan terhenti di sana. Tapi perlu juga untuk disebarluaskan,“ ungkap Yosi.



Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Refleksikan Hari Kemerdekaan, MAARIF Institute Gelar Creator Muda Academy di Pontianak, https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/15/refleksikan-hari-kemerdekaan-maarif-institute-gelar-creator-muda-academy-di-pontianak.
Penulis: Mia Monica
Editor: Madrosid


Ajak generasi muda Kalbar lawan paham intoleransi

Pontianak (ANTARA) – Google.org Indonesia bekerja sama dengan beberapa institusi terkait, mengajak generasi muda melawan paham intoleransi dengan pembuatan konten positif melalui media sosial dalam acara Creatormuda Academy yang dilaksanakan di Hotel Neo Pontianak, Kamis (15/8).

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abdul Rohim Ghazali menjelaskan 50 persen dari seluruh masyarakat Indonesia adalah pengguna internet, dan sebagian besar berusia muda.

“Dari sekian banyak orang yang menggunakan internet itu, mereka hanya berperan sebagai pengguna. Dalam acara ini, kita akan melatih anak-anak ini untuk menjadi seorang konten kreator melalui media sosial yang ada,” tuturnya.

Ia juga menerangkan, internet sering kali dijadikan media untuk menyebarkan konten-konten negatif seperti berita-berita bohong, paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara, intoleransi, dan radikalisme, yang dapat mempengaruhi orang yang melihatnya. Oleh karena itu, diperlukan pengaruh positif dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada.

“Sekarang ini banyak sekali serbuan dari paham-paham yang tidak sesuai dengan ideologi kita, yang kini telah banyak mempengaruhi generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan pengaruh dari remaja kreatif seperti kita untuk melawan paham intoleran tersebut, dengan cara membuat video, artikel, atau bahkan desain grafis dengan konten yang mengajarkan toleransi, kemudian mempublikasikannya ke media sosial,” kata Abdul Rohim Ghazali.

Narasumber lain, Yosi Mokalu juga menjelaskan dalam pembuatan sebuah konten yang baik, harus didasari oleh rasa kepedulian akan sesama, bukan didasari oleh kepentingan diri sendiri dan mengharapkan pengakuan dari orang lain.

“Saat menjadi seorang konten kreator, kalian harus menghasilkan kebahagiaan, saat kita menciptakan sesuatu, harus dilakukan sebagai tanda kepedulian, bukan hanya untuk menghasilkan uang dan pengakuan dari orang lain,” tutur pria yang tergabung dalam grup Youtube Cameo Project ini.

Acara yang diikuti oleh 31 kelompok pelajar tingkat SMA sederajat,  serta berasal dari tiga kota dan kabupaten di Kalimantan Barat ini, nantinya akan diseleksi menjadi 10 tim yang akan mengikuti Boot camp, kemudian kelompok yang dapat menghasilkan konten terbaik akan mendapatkan kesempatan untuk training di Jakarta dan memiliki peluang untuk mengunjungi kantor Google di Singapura.

Creator Muda Academy, mengaktivasi anak muda hasilkan konten positif kreatif

Pontianak (ANTARA) – Maarif Institute, Cameo Project, Peace Generation, Love Frankie dan Yayasan Ruang Guru menggelar Program Creator Muda Academy. Program ini
merupakan bagian dari Project Inspire yang diprakarsai oleh Google.org di Indonesia dengan tujuan mengaktivasi anak muda agar terlibat dalam pembuatan konten-konten positif yang keren.

“Anak muda diajarkan untuk menjadi creator muda yang menghasilkan suatu karya dalam menghadapi ancaman-ancaman, contohnya di lingkungan sekolah yaitu malasnya siswa untuk mengikuti upacara bendera, oleh sebab itu dibutuhkan remaja kreatif agar memberi pengaruh yang positif,” ujar Abd Rohim Ghazali, selaku Direktur Eksekutif Maarif Institute, Kamis.

Ada sepuluh kota besar di Indonesia yang menjadi target program ini, yakni Jakarta, Yogyakarta, Malang, Semarang, Manado, Makassar, Pontianak, Padang, Mataram, dan Bandung. Pontianak merupakan kota ke tujuh. Acara ini juga didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Menkominfo, serta Cyber Kreasi.

Kegiatan tersebut digelar selama dua hari pada 15-16 Agustus 2019. Hari pertama membahas tentang Mading Talks, dan dilanjutkan dengan sesi Bootcamp hingga hari kedua, yang diikuti oleh 10 tim terbaik. Secara keseluruhan, acara tersebut diikuti oleh 155 pelajar SMA/Sederajat dari Singkawang dan Kota Pontianak.

Sementara Direktur Program Maarif Institute, Khelmy K Pribadi mengatakan ada tiga hal yang dibahas saat sesi Mading Talks, yaitu perbedaan, literasi, dan ancaman kekerasan. Semua hal tersebut menjurus untuk menciptakan pemuda memiliki toleransi yang tinggi.

“Anak-anak diharapkan untuk meningkatkan nilai toleransi yang di mana Indonesia memiliki beragam suku dan budaya, adapun hal mengenai nilai membaca baik melalui media buku ataupun gadget harus ditingkatkan supaya kita tidak menjadi penyebar berita hoaks, serta ancaman tentang kekerasan masih banyak terjadi di sini, bahkan di negara maju sekalipun,” ujarnya.

Ia juga menambahkan umumnya seseorang bisa terpengaruh berita hoaks karena adanya rasa khawatir yang berlebih dan dapat menimbulkan ketakutan sehingga orang tersebut tidak bisa berfikir untuk mencari kebenarannya.

Literasi baik digital maupun non digital memiliki tujuan dalam meningkatkan pendidikan karakter yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Pentingnya literasi digital bukan berarti kita yang dikuasai oleh alat teknologi tersebut, tapi kita harus mengontrol penggunaannya,” ungkapnya.

Summer: https://kalbar.antaranews.com/berita/388806/creator-muda-academy-mengaktivasi-anak-muda-hasilkan-konten-positif-kreatif

Besar, Peran Guru Deteksi Dini Intoleransi di Sekolah

BALI – Banyak suvei menemukan adanya benih-benih radikalisme di lembaga-lembaga pendidikan, dari pendidikan tinggi hingga sekolah menengah. Fenomena ini cukup mengkhawatirkan. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan langkah-langkah strategis, di antaranya adalah memalui pelatihan yang mengasah sensitifitas para guru untuk mendeterksi dini munculnya bibit-bibit intoleransi di sekolah.

“Faktor guru sangat penting karena di antara pintu masuk paham intoleran dan radikal ke sekolah-sekolah adalah melalui pintu guru, selain pintu kebijakan kepala sekolah dan alumni,”  demikian kata Ternaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali dalam acara ‘Program Penguatan kapasitas Auditor dan Pengawas Sekolah dalam Mempromosikan Toleransi dan Multikulturalisme di Sekolah’ yang dilaksanakan Maarif Institute bekerjasama dengan Inspektorat III Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 30 Juli-01 Agustus 2019 di Hotel Mercure Kuta Beach, Bali.

Selain Abd Rohim Ghazali, tampil sebagai pembicara Inspektur III Isnpektorat Jenderal Kemendikbud  Muhaswad Dwiyanto, Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fajar Riza Ul Haq, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Bali, I Nyoman Darma Putera, dan akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Zuly Qodir.

Dalam pelatihan yang diikuti 30 guru yang terdiri dari pengawas dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dari Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Kabupatren Tabanan, dan Kabupaten Gianyar, disampaikan materi pemahaman yang mendetail dan komprehensip tentang intoleransi dan radikalisme berikut contoh-contohnya yang konkret. Pemahaman ini penting mengingat banyak guru yang kurang paham tentang bagaimana pemikiran dan praktik intoleransi dan radikalisme di sekolah.

Ketidakpahaman guru tentang intoleransi dan radikalisme membuat mereka abai dan tidak peduli dengan merasuknya paham-paham yang membahayakan keutuhan bangsa ini. intoleransi dibiarkan merebak seolah-olah sesuatu yang biasa dan dianggap tidak membahayakan.

elanjutnya, para peserta dilatih untuk memahami empati, toleransi, intoleransi, kekerasan, dan perdamaian. Para peserta umumnya memehami makna dari kata-kata ini, namun bagaimana mempraktikannya masih bannyak yang keliru. Misalnya empati dipraktikkan dengan merusak toleransi dan perdamaian, atau toleransi diterapkan dengan membiarkan intoleransi dan kekerasan.

Selain itu, para peserta juga dilatih untuk melakukan komunikasi yang konstruktif serta bagaimana membuat kontra narasi terhadap berkembangnya natasi-narasi yang destruktif seperti berita bohong (hoax), unjaran kebencian (hate speech), provokasi, dan pemelintiran berita dengan mengabaikan fakta-fakta.

Kemudian pada peserta juga dilatih bagaimana caranya memahami dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi sekolahnya baik secara internal maupun eksternal, serta bagaimana memaksimalkan fungsi jaringan antar sekolah untuk bersama-sama mengatasi masalah-masalah yang ada di sekolah masing-masing. Dengan materi ini diharapkan tidak ada lagi sekolah yang merasa maju sendiri, egois, dan neggan memberikan bantuan kepada sekolah lain meskipun jaraknya berdekatan.

Setiap materi disampaikan dengan sistem andragogi yang dipadukan dengan permainan dan simulasi yang menarik dan tidak membosankan. Karena itu, para peserta merasa senang dan tidak ngantuk walaupun dalam kondisi capai dan waktu yang padat.

Setiap peserta antusias menyampaikan pengalaman masing-masing, baik pada saat memnghadapi masalah maupun bagaimana cara mengatasinya. “Pelatihan ini betul-betul bermanfaat,” kata salah seorang peserta.

Dari pelatihan ini diharapkan para peserta akan menjadi pionir di sekolahnya masing-masing untuk menularkan pemahaman dan ketajaman deteksi dini terhadap intoleransi dan radikalisme yang merusak kebersamaan dan keberagaman.

Virus intoleransi, walau mungkin sedikit, akan menjadi seperti nila yang merusak susu sebelanga. Banyak sekolah yang prestasinya bagus, inovatif, dengan akreditasi “A” namun bisa rusak dan menjadi ajang kecaman publik lantaran munculnya gejala intoleransi yang dibiarkan atau bahkan sengaja dikembangkan.

Virus intoleransi akan terus merebak dan menjalar kemana-mana jika tidak ada pihak-pihak yang mau mencegah atau minimal menghambatnya. “Untuk mencegahnya agar tidak menjalar ke sekolah-sekolah, peran guru sangatlan penting!” tandas Abd Rohim Ghazali.

Madingsekolah.id Gelar Kompetisi Berbagi Kisah Belajar Memaafkan

Jakarta, Beritasatu.com – Usai hari lebaran, setelah saling memaafkan bagi para pelajar, Mading Sekolah.id mengajak para pelajar menulis agar bisa berbagi kisah mengenai bagaimana dapat belajar saling memaafkan sehubungan dengan Hari Raya Idulfitri. Memaafkan sebagai ungkapan rasa tulus untuk bisa melupakan dan tidak mengingat lagi kesalahan.

Melalui tagline Create Differently Create Better diharapkan para pelajar Indonesia dapat berkarya untuk memberikan pengaruh positif bagi para pelajar di seluruh Indonesia didalam berkreasi dengan kreatif dan berinovasi mengikuti perkembangan teknologi.

Oktora Irahadi, Marketing Director Cameo Project mengatakan bahwa platform ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan kreativitas pelajar dalam mengembangkan bakat jurnalisme.

“Saya pribadi berharap para pelajar dapat memanfaatkan platform ini untuk mengembangkan kreatifitas dalam bidang jurnalisme, berkaitan dengan Hari Raya Idulfitri 1440 H ini tema yang diusung adalah bagaimana belajar memaafkan,” ujarnya, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Oktora juga menambahkan, pelajar harus mampu menyaring semua informasi sehingga hanya konten positif yang dijadikan acuan untuk berkarya.

“Sehingga pelajar sebagai generasi penerus bangsa nantinya harus mampu bersaing di era global yang serba digital dan beradaptasi secara cepat dengan memberikan dampak positif,” katanya.

MadingSekolah.id merupakan majalah dinding versi online yang disajikan secara interaktif. Setiap sekolah dapat memiliki sebuah akun pada MadingSekolah.id sementara para siswa dan guru yang terdaftar akan memiliki akses untuk membagikan konten yang mereka ciptakan pada platform ini, termasuk menata dan menyesuaikannya menggunakan fitur-fitur yang telah disediakan.

Akses dapat dilakukan kapan saja melalui laptop atau smartphone. Teknologi berhasil mengatasi hambatan jarak dan waktu, kini gawai komunikasi memampukan kita untuk mengakses informasi dari seluruh dunia melalui internet. Madingsekolah.id tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi ajang kreativitas dan sarana meningkatkan sosialisasi yang positif.

Dalan program ini Madingsekolah.id bekerja sama dengan Google.org, Cameo Project, Maarif Institute, Love Frankie, dan Ruang Guru siap berkomitmen untuk mendukung kreativitas seluruh siswa sekolah dan guru di Indonesia.

“Konten terbaik dengan tema memaaafkan ini akan mendapatkan total hadiah sebesar Rp 4.000.000,” pungkas Oktora.

Demokrasi Atau Demosyurakrasi?

Oleh: Hajriyanto Y Thohari

Jurnal Maarif, jurnal tentang Arus Pemikiran Islam dan Sosial yang dikelola para intelektual belia asuhan Buya Syafii Ma’arif yang tergabung dalam Maarif Institute, mengintroduksi wacana baru, “Demosyurakrasi”: sebuah proposal yang menarik untuk dipertimbangkan. Demosyurakrasi, mungkin, adalah gabungan dari kata demos=rakyat, syura=permusyawaratan, dan kratos=pemerintahan. Walhasil, jika demokrasi diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah melalui wakilnya, maka demosyurakrasi diartikan sebagai sistem pemerintahan rakyat di mana proses pengambilan keputusan politik dilakukan oleh rakyat atau wakilnya melalui musyawarah.

Terkesan redundant, memang. Pasalnya, secara teoritis, nilai-nilai demokrasi selama ini telah dipandang sebagai sejalan dengan doktrin musyawarah. Dan justru, sebagaimana dikatakan oleh Nurcholish Madjid dalam Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi (1999), berkat prinsip syura yang begitu fundamental dalam Islamlah (Qs Asy-Syuura [42]: 38), maka penerimaan umat Islam akan demokrasi modern sangat alami. Yusuf Qardhawi, seorang ulama yang sangat berpengaruh, dalam Fatawa Mu’ashirah (1988) juga menegaskan bahwa “Esensi demokrasi berdekatan dengan ruh syura Islamiyah.” Bahkan, secara dramatis, dia menyebut demokrasi sebagai barang hilang-nya umat Islam.

Memang ada sedikit yang berbeda, seperti Dr Taufiq Al-Syawi dalam Fiqhu alSyura Wa al-Istisyarah (1992), bahwa syura tidak dapat disejajarkan, apalagi disamakan dengan demokrasi: syura bukan demokrasi. Tapi Syaikh Muhammad al-Ghazali (1917-1996), seorang ulama, intelektual, dan aktivis dari Mesir, dalam buku Miatu Sual ‘an al-Islam, mengatakan bahwa sistem demokrasi atau pemilihan (umum) tidak menjadi aib untuk ditiru umat Islam di negeri muslim hanya karena bangsa asing telah mendahului mempraktikkannya.

Namun, dalam praktiknya, wacana ini tetap relevan dan aktual. Pasalnya, sampai hari ini pun di negeri ini – benar atau salah– nyatanya masih banyak kalangan yang menerima demokrasi tetapi dengan gerutuan panjang: praktik demokrasi sekarang ini terlalu liberal, menekankan pada mayoritarianisme berdasarkan suara, dan last but not least bertentangan dengan prinsip musyawarah. Katanya, dibandingkan dengan demokrasi, musyawarah lebih original, otentik, dan berakar pada budaya bangsa. Bahkan juga lebih konstitusional daripada demokrasi.

Kata demokrasi alih-alih ditemukan dalam Pembukaan UUD 1945 yang nota bene diyakini sebagai tolok ukur, haluan, dan rujukan utama (al-mashadir al-afdhaliyyah) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang ada di sana adalah kata “Kedaulatan Rakyat” dan “Permusyawaratan”. Walhasil, prinsip permusyawaratan secara tekstual lebih konstitusional, dan karena itu secara substansial juga lebih dekat dengan konstitusi daripada demokrasi.

Benar, kata demokrasi memang sudah masuk dalam UUD 1945, tetapi hanya dalam kata sifat, seperti yang terbaca dalam Pasal 18 Ayat (4): “Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis”. Singkatnya, demikian menurut kalangan yang menerima demokrasi dengan menggerutu itu, UUD lebih memilih permusyawaratan daripada demokrasi.

Tetapi, jika memang musyawarah lebih diutamakan dalam Pembukaan UUD 1945, agak aneh juga mengapa bisa muncul Pasal 2 Ayat (3) “Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara yang terbanyak”? Apalagi ayat ini pada kenyataannya tidak mengalami perubahan ketika amandemen dilakukan. Artinya, rumusan ayat ini dipandang sebagai tidak bertentangan dengan prinsip permusyawaratan.

Namun, dalam berbagai forum, tetap saja banyak orang risau, resah, dan gelisah terhadap kehidupan politik nasional paskareformasi: negeri ini terlalu demokratis dan liberal! Mungkin frasa terlalu demokratis ini terdengar tidak biasa. Tetapi, bukankah kata ini juga pernah digunakan oleh Mohammad Hatta, salah seorang Bapak Pendiri Bangsa dan demokrat sejati, dalam bukunya yang sangat fenomenal Demokrasi Kita (1960)?

Dalam konteks dan perspektif ini, rasanya memang ada perbedaan penekanan dalam sistem demokrasi dan musyawarah itu. Jika dalam demokrasi, apalagi “demokrasi setengah tambah satu”, musyawarah kurang memperoleh tempat karena yang diutamakan adalah voting, maka dalam musyawarah suara rakyat (demos) kurang proporsional atau direduksi oleh elite. Walhasil, kita perlu mengembangkan demosyurakrasi sebagai jembatan antara demokrasi dan permusyawaratan. Mungkin.

Hajriyanto Y. Thohari, Wakil Ketua MPR RI 2009-2014, Ketua PP Muhammadiyah 2015- 2020

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 5 Tahun 2017