Silaturahmi dengan Direktur Utama LKBN Antara

Senin, 5 Agustus 2024, Tim MAARIF Institute berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan Bapak Irfan Junaedi, Direktur Utama LKBN Antara, di Gedung Antara Heritage Center di bilangan Pasar Baru Jakarta Pusat. Pertemuan ini merupakan langkah awal yang penuh harapan untuk membangun kerjasama yang saling menguntungkan antara dua organisasi yang memiliki visi dan misi mulia.

Kami diterima dengan hangat di ruangan kerja Bapak Adam Malik, yang sarat akan sejarah. Selama kurang lebih satu jam, kami berdiskusi mengenai berbagai peluang kerjasama yang dapat dijalin antara MAARIF Institute dan LKBN Antara. Diskusi ini berlangsung dalam suasana penuh keakraban, dengan saling berbagi pandangan dan gagasan.

Pada akhir pertemuan, kami diajak untuk menjelajahi Museum Antara yang baru diresmikan medio Mei 2024 yang lalu, Museum ini menyimpan koleksi perjalanan LKBN Antara dari masa ke masa. Menyaksikan perkembangan dan perjalanan panjang lembaga ini, kami semakin terinspirasi untuk menjalin kerjasama yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Pertemuan ini telah membuka cakrawala baru bagi kami. Kami meyakini bahwa kolaborasi antara MAARIF Institute dan LKBN Antara akan menjadi jembatan inspirasi yang dapat membawa manfaat besar bagi bangsa dan negara. Semoga langkah awal ini dapat berkembang menjadi sebuah kemitraan yang kokoh dan berkelanjutan, demi memajukan Indonesia yang lebih baik. [DM]

H.E. Zuhairi Misrawi: Peran Vital MAARIF Institute dalam Memperkuat Demokrasi dan keberagaman

Kunjungan Duta Besar RI untuk Tunisia, H.E. Zuhairi Misrawi, ke Kantor MAARIF Institute, Jumat, 2 Agustus 2024.

 

 

MAARIF Institute, Jakarta, 2 Agustus 2024 – MAARIF Institute menerima kunjungan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, H.E. Zuhairi Misrawi, di kantor MAARIF Institute, Jumat, 2 Agustus 2024.

Selama lebih dari 3 jam, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, bersama tim, berdiskusi tentang banyak hal dengan Dubes Zuhairi Misrawi, terkait dengan warisan pemikiran, gagasan, dan cita-cita besar Buya Ahmad Syafii Maarif, utamanya kondisi terkini di Indonesia.

Dalam pertemuan yang penuh keakraban ini, Dubes Zuhairi Misrawi, yang juga merupakan Ketua DPP PDIP bidang Keagamaan dan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, menyampaikan pandangannya tentang pentingnya lembaga seperti MAARIF Institute untuk ikut terlibat dalam penguatan kapasitas para pemimpin daerah tentang keindonesiaan dan kemanusiaan, sesuai dengan gagasan besar Buya Ahmad Syafii Maarif. Misrawi menekankan bahwa peran lembaga seperti MAARIF Institute sangat vital dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi dan pluralisme di Indonesia.

 

Kunjungan Duta Besar RI untuk Tunisia, H.E. Zuhairi Misrawi, ke Kantor MAARIF Institute, 2 Agustus 2024.

 

“MAARIF Institute memainkan peran vital dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi dan keberagaman di Indonesia. Sebagai lembaga yang aktif mempromosikan nilai-nilai Islam untuk mendorong dialog dan kerja sama antar agama, MAARIF Institute memiliki posisi strategis untuk membantu para pemimpin daerah memahami dan menerapkan prinsip-prinsip keindonesiaan dan kemanusiaan,” tutur Zuhairi yang akrab disapa Gus Mis.

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, merasakan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk dukungan terhadap kerja-kerja yang dilakukan oleh MAARIF Institute.

“Kami sangat bersyukur atas kunjungan Duta Besar Tunisia ke kantor MAARIF Institute. Kedatangan beliau menunjukkan adanya apresiasi dan dukungan terhadap peran MAARIF Institute dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang moderat dan mendorong dialog antar-agama,” ungkap Andar Nubowo.

Andar Nubowo juga menyampaikan, di dekade ketiga MAARIF Institute ini, dalam program-programnya, MAARIF Institute berupaya mendorong keterlibatan tiga sektor penting; pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kolaborasi ketiga sektor ini penting dalam menentukan arah bangsa ini ke depan. Upaya ini sejalan dengan visi Buya Ahmad Syafii Maarif untuk memperkuat peran masyarakat sipil dalam mempengaruhi kebijakan publik dan mendorong kolaborasi lintas sektor demi kemajuan bangsa.

“Kami berharap kunjungan Duta Besar Zuhairi Misrawi ini dapat memperkuat kerja sama antara MAARIF Institute dengan pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Sehingga kami dapat bersinergi dalam mewujudkan cita-cita luhur Buya Ahmad Syafii Maarif dalam membangun Indonesia yang lebih adil, demokratis, dan berkeadaban,” tutup Andar Nubowo.

MAARIF HOUSE BAHAS AGAMA, KRISIS LINGKUNGAN DALAM KASUS PERTAMBANGAN

Jakarta – MAARIF Institute menginisiasi program “MAARIF House” sebagai ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan—dengan segala dinamika dan persoalan-persoalan krusial yang berkembang di masyarakat. Dalam diskusi perdana yang diselenggarakan pada Kamis, 18 Juli 2024, di kantor MAARIF, tema yang diangkat adalah “Agama, Krisis Lingkungan dan Persoalan HAM: Izin Tambang bagi Ormas, Maslahah atau Masalah?”. Isu ini dipilih karena adanya Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2024 tentang pemberian izin usaha pertambangan khusus (IUPK) kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan yang telah memicu kontroversi di berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, aktivis HAM, politisi, hingga masyarakat umum.

Hadir dalam acara ini, Ulil Abshar Abdalla (Ketua PBNU), Fajar Riza Ul-Haq (Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah), dan Siti Maimunah dari Badan Pengurus Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) sebagai pemantik utama. Bertindak sebagai moderator dalam acara ini, Andar Nubowo (Direktur Eksekutif MAARIF Institute).

Dalam pengantarnya Andar mengatakan bahwa, MAARIF House dirancang sebagai upaya untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii Maarif terkait konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. “Kami berharap program ini dapat menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk berdialog, bertukar gagasan, serta dapat menemukan solusi atas berbagai persoalan-persoalan krusial yang berkembang di masyarakat,” ujar Andar Nubowo.

Dalam paparannya, Ulil Abshar Abdalla, menawarkan sudut pandang yang menarik seputar konsesi tambang untuk ormas keagamaan. Ulil menggambarkan mereka yang menolak kebijakan konsesi tambang untuk ormas keagamaan sebagai kelompok yang memandang isu tambang melalui kacamata ideologis yang kaku dan hitam putih. Ulil mengajukan oposisi biner antara ideologi dan fikih sebagai kerangka untuk melihat masalah-masalah modern. Menurutnya, fikih memiliki keterbukaan semiotis, sedangkan ideologi cenderung tertutup. Pendekatan fikih yang digunakan para kiai NU, menurut Ulil, telah memperhitungkan maslahat dan mafsadat (kebaikan dan kerusakan).

Di sisi lain, Fajar Riza Ul-Haq, Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada obrolan antara pihak Pemerintah dengan Muhammadiyah terkait dengan pengelolaan tambang.  “Sikap PP Muhammadiyah masih mendalami persoalan ini. Ada banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan yang bersifat kolektif kolegial. Terlebih ada DNA Muhammadiyah terkait dengan kesejahteraan umum, yang menjadi pembahasan pada Muktamar ke-36 di Bandung, tahun 1965, yang kalau dibaca dalam UUD 1945 punya pijakan yang sama”, jelas Fajar.

Siti Maimunah, seorang aktivis perempuan yang puluhan tahun bergerak dalam isu pertambangan, mengatakan bahwa perempuan menjadi pihak yang pertama menerima dampak yang paling dirugikan dalam isu pertambangan. “Petani itu butuh tanah, butuh air, dan energi yang luar biasa untuk bereproduksi. Menurutnya, ada empat resiko yang terjadi pada air, yaitu kawasan tangkapan air dibongkar, yang itu adalah hutan. Kedua, kawasan resapan airnya juga dibongkar, yaitu batuan yang dibutuhkan untuk ditambang. Yang ketiga, dia rakus air.  Jadi untuk mendapatkan satu gram emas misalnya, untuk ekstraksi, dibutuhkan setidaknya seratus liter air. Dan keempat, resiko yang terjadi pada air, dia beresiko mencemari sumber-sumber air.

“Saya rasa kita bisa memulainya dari hal kecil seperti mengubah narasi dan pendekatan kita dalam melihat isu perubahan iklim, yang saat ini menurut saya masih cukup eurosentris”, tegas Mai, panggilan akrab Siti Maimunah.

Sementara Budhy Munawar-Rachman, selaku penanggap, merespon pandangan Ulil tentang isu tambang ini. Menurutnya, dalam dunia ekologi itu tidak ideologis, tetapi ia adalah ilmu yang memberikan pemahaman baru. “Jadi, mendowngrade lingkungan dari ideologi ke teknis itu berbahaya sekali karena kita tidak peduli terhadap apa yang terjadi. Lingkungan juga memerlukan lebih dari sekadar teknologi, yaitu soal pengelolaan sampah, plastik, soal kerusakan hutan, soal polusi, dan soal perubahan iklim”, terang Budhy.

Budhy menambahkan, “pendekatan yang mengintegrasikan teologi dan ekologi dapat memberikan landasan yang lebih kuat untuk menjaga kelestarian alam dan kesejahteraan manusia. Dengan demikian, pandangan yang lebih komprehensif dan holistik diperlukan untuk memahami dan menangani tantangan lingkungan yang kompleks saat ini”.

Selain pemantik utama, acara ini juga dihadiri oleh para penanggap, yang mewakili tiga wilayah sektor:  sektor publik, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Beberapa di antaranya adalah, Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International, M.  Yana Aditya, Wakil Ketua Umum Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI), Visna Vulovic, PT. Globalindo Mineraltama Mandiri, dan masih banyak lagi.

Kami berharap program ini mampu membuka perspektif baru, memberikan arah dan kesadaran bahwa literasi perjalanan bangsa dan negara perlu dibaca secara terus menerus untuk mencari solusi atas berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang berkembang. []

MAARIF House Edisi Perdana: Agama, Krisis Lingkungan, dan HAM: Izin Tambang bagi Ormas Maslahah atau Masalah?

MAARIF Institute meluncurkan program diskusi rutin MAARIF House. Inisiatif ini merupakan upaya konkret untuk mewujudkan visi besar Buya Syafii Maarif terkait konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan, serta menanggapi berbagai dinamika dan persoalan krusial yang berkembang di masyarakat.

Acara perdana MAARIF House secara eksklusif akan diselenggarakan pada Kamis, 18 Juli 2024, pukul 13.00 – 16.00 wib bertempat di kantor MAARIF Institute. Adapun tema yang diangkat adalah “Agama, Krisis Lingkungan dan Persoalan HAM: Izin Tambang bagi Ormas, Maslahah atau Masalah?”. Isu ini dipilih karena adanya Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2024 tentang pemberian izin usaha pertambangan khusus (IUPK) kepada organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan yang telah memicu kontroversi di berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, aktivis HAM, politisi, hingga masyarakat umum.

Seperti yang kita ketahui bersama, pemberian IUPK kepada ormas keagamaan oleh negara memunculkan beragam tanggapan dan kritik dari berbagai pihak. Isu ini tidak hanya menyangkut kapasitas kelembagaan ormas dalam pengelolaan pertambangan, tetapi juga dikhawatirkan sebagai bagian dari konsolidasi politik yang lebih luas untuk menaklukkan kelompok-kelompok yang berpotensi kritis terhadap kebijakan pemerintah.

MAARIF House edisi perdana ini akan menghadirkan pemantik utama  Ulil Abshar Abdalla (Ketua PBNU), Fajar Riza Ul-Haq (Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah), dan Siti Maimunah dari Badan Pengurus Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).

Selain itu, hadir pula perwakilan dari sektor publik, swasta, dan masyarakat sipil yang turut memberikan tanggapan, diantaranya: Amiruddin Rahab (Wakil Ketua Komnas HAM Periode 2017 – 2022), Budhy Munawar-Rachman (Direktur Paramadina Center for Religion and Philosophy), Fathun Karib (Dosen UIN Jakarta), Hening Parlan, Kornas (Green Faith Indonesia), John Muhammad (Presedium Nasional Partai Hijau Indonesia), Khalisah Khalid (Greenpeace Indonesia), M. Yana Aditya (Wakil Ketua Umum Ikatan Saudagar Muslim Indonesia), Mukhaer Pakkana (Wakil Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PP Muhammadiyah), Tyovan Ari Widagdo (Ketua Umum HPN/ Ketua Lembaga Perekonomian PBNU/ CEO Edumo), Usman Hamid (Direktur Eksekutif Amnesty International, dan Visna Vulovic (PT. Globalindo Mineraltama Mandiri).

Bagi yang tertarik untuk mengikuti diskusi yang menarik ini melalui zoom meeting silakan registrasi di link berikut ini: https://bit.ly/MH-Seri-1

MAARIF Institute akan Menciptakan Bid’ah-Bid’ah Baru

MAARIF Institute, Jakarta – Ada istilah menarik yang muncul dalam pertemuan silaturahmi dan ramah tamah bersama Media Massa di kantor MAARIF Institute, Kamis (13/06). Hal menariknya yaitu “MAARIF Institute perlu menciptakan bid’ah-bid’ah baru”. Istilah itu muncul dari pernyataan Andar Nubowo, Direktur Eksekutif MAARIF Institute saat memberikan sambutan di depan para redaktur media yang hadir.

Bid’ah yang dimaksud oleh Andar begitu sapaan akrabnya bukan bid’ah dalam arti sesungguhnya yaitu amalan baru yang diadakan dalam urusan agama Islam yang belum pernah dicontohkan Rasul sebelumnya. Namun bid’ah yang dimaksud adalah perlunya menciptakan inovasi-inovasi baru terutama dalam menerjemahkan pemikiran-pemikiran para pembaru Muslim progresif Islam Indonesia ke dalam konteks pendidikan, sosial, serta politik kebangsaan yang mencerahkan.

Menciptakan bid’ah baru atau inovasi sosial merupakan salah satu dari tiga fokus utama MAARIF Instiute dalam rangka meyongsong dekade ke-3 nya. Dua fokus utama lainnya yaitu institusionalisasi atau penguatan pelembagaan dan internasionalisasi.

Untuk fokus Institusionalisasi atau penguatan pelembagaan dalam arti, MAARIF Institute kian meneguhkan peran dalam upaya menyegarkan pemikiran keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan yang telah dicetuskan para guru bangsa—terutama Buya Syafii Maarif. Dengan demikian, gagasan-gagasan mereka akan terus hidup dan dilanjutkan oleh generasi muda, sesuai konteks zaman yang berubah.

Sementara untuk fokus internasionalisasi. Ini menjadi sangat penting dalam upaya membawa kekhasan Islam Indonesia ke tingkat global. Andar yang baru saja mendapatkan gelar PhD di Ecole Normale Superieure (ENS) Lyon, Paris-Perancis ini mengatakan, selama ini corak keislaman Indonesia dipandang sebagai pengejawantahan “Islam yang ramah” bila dibandingkan dengan, umpamanya, fakta-fakta sosiologis negara-negara mayoritas Muslim di Timur Tengah.

Pentingnya MAARIF Institute memfokuskan pada tiga hal di atas dilatarbelakangi oleh berbagai hal, diantaranya perubahan lanskap politik dunia dan juga Indonesia yang sedang mengalami kompleksitas.

Di Indonesia sendiri dahulu memiliki sejumlah tokoh Muslim progresif yang pemikiran-pemikirannya mencerahkan. Gagasan-gagasan yang mereka rumuskan ikut mengobarkan tungku peradaban Islam di Tanah Air.  Sebut saja, Prof Azyumardi Azra (1955-2022), Prof Buya Ahmad Syafii Maarif (1935-2022), KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009), dan Nurcholis Madjid atau Cak Nur (1939-2005). Mereka tidak hanya memikirkan untuk satu golongan saja, namun, para guru bangsa tersebut juga tampil memperjuangkan kepentingan masyarakat luas, termasuk ketika demokrasi dikekang oleh kekuasaan otoriter Orde Baru”.

Oleh karena itu penting ada langkah-langkah untuk menyebarkan kembali pemikiran tokoh bangsa, seperti almarhum Ahmad Syafi’i Maarif, yakni soal keislaman progresif dan mencerahkan.

Budiman Tanuredjo dalam artikelnya yang ditulis pada Jumat (14/06) dengan judul “Menanti Suara Kenabian Maarif Institute” memperkuat apa yang disampaikan oleh Andar “Perubahan sosial-politik di negeri ini memang amat sangat nyata dan kentara. Negara menjadi sangat hegemonic. Tidak ada lagi kekuasaan oposisi. Parpol melempem. Ormas memilih diam dan main aman. Sebagian kelas menengah gerundel dengan isu elite tapi sebagian apatis dan masa bodah. Namun, kepuasan rakyat demikian masih tinggi”.

Lebih lanjut Budiman yang juga pemandu program “Satu Meja” di Kompas Tv ini  menyampaikan harapan untuk MAARIF Institute “Di tengah kian sepinya masyarakat sipil, kehadiran MAARIF Institute dengan nahkoda baru Andar Nubowo diharapkan bisa menjadi suluh bagi bangsa dan bisa menjalan peran Buya Syafii sebagai benteng moral”.

Dalam artikel lainnya dengan judul “Pemikir Bebas Melawan Kebekuan” yang terbit di Kompas (15/06), Budiman menyisipkan optimismenya, “MAARIF Institute sebagaimana diwariskan Buya Syafii Maarif mengedapkan pemikiran kritis terhadap kondisi kebangsaan dan menjadi organisasi yang memerankan diri sebagai “Muazin”. Muazin yang selalu berteriak  memberikan peringatan Ketika ada ancaman terhadap penegakan hukum, terhadap korupsi, terhadap pelanggaran konstitusi.” [DM]

Profile Andar Nubowo (Direktur Eksekutif MAARIF Institute)

MAARIF Institute, Jakarta — Andar Nubowo merupakan aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) kelahiran Wonosobo, 12 Mei 1980. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini mengawali pendidikan tingginya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Gelar Masternya diperoleh di Ecole des hautes études en sciences sociales (EHESS), Paris-Perancis pada Juli 2008, dalam bidang Ilmu Politik. Sejak 2010, di Ecole Normale Superieure (ENS) Lyon, Paris-Perancis, dirinya menempuh program Ph.D., dan meraih gelarnya pada Desember 2023.

Beberapa tulisan terbaru yang telah dihasilkan oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiiyah (PCIM) Perancis ini, selain menerjemahkan dan menyunting, di antaranya: “Promoting Indonesian Moderate Islam on the Global Stage; Non-State Actors’ Soft Power Diplomacy in the Post-New Order Era”, Muslim Politics Review 2 (2), 2023, p. 238-283; “Covid-19, Fatwas, and Socio-religious Praxis: Muhammadiyah’s Social Engagement and Mission in Coping with the Outbreak in Indonesia”, Social Sciences and Missions 35, 2022,Brill, p. 308–342; « Le hause de l’influence islamiste dans le champ sociopolitique indonésien », in RomainBertolino, Alexandre Negrus, et Nato Tardieu. (2022), Atlas Géopolitique du Monde Contemporain, Paris: Ellipses, p. 192-195; “The Three Streams Facing Indonesian Muslims: Pulls of Politics”, en Yang Razali Kassim(ed.). (2021), RSIS Commentary Series: Jokowi’s Second Term, Emerging Issues, Singapore: Worlds Scientific, p. 41-44; dan “Grand Narratives in Outer Provinces: Impact of Islam on Politics”, en Yang Razali Kassim(ed.). (2021), RSIS Commentary Series: Jokowi’s Second Term, Emerging Issues, Singapore: Worlds Scientific, p. 27-30.

Selain itu, Andar, begitu sapaan akrabnya, juga aktif dalam melakukan beberapa riset, dengan beberapa riset terbaru: The Geopolitics of Moderate Islam, Emory State University, Atlanta, USA., 2024; dan “La sortie d’un islam arabo-musulman centré : la cogestion des autorités indonésiennes et des sociétés civiles musulmanes dans le soft power de l’islam du juste milieu, IRASEC, Bangkok, Thailand, 2023.

Sedangkan beberapa penghargaan yang pernah dirinya terima, diantaranya: “Bourse d’Islamologie”, Ministry of Europe and Foreign Affairs, France- IRASEC, Bangkok, Thailand, 2023; “UIII COMPOSE Writing Fellowship”, Jakarta, Indonesia, 2022; “Prize Mahar SCHUTZENBERGER”, Paris, France, 2021; dan “Bourse de recherche”, IRASEC, Bangkok, Thailand, 2021.

Berikut curiculum vitae Andar Nubowo:

Formation

2019-2023, Ph.D. — École normale supérieure de Lyon

2006-2008, Master — Écoles Hautes Études en Sciences Sociales Paris, France

1999-2004, Bachelor — UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonésie

Awards

2023,   Bourse d’Islamologie, Ministry of Europe and Foreign Affairs, France- IRASEC Bangkok Thailand.

2022,   UIII COMPOSE Writing Fellowship, Jakarta, Indonesia.

2021,   Prize Mahar SCHUTZENBERGER, Paris, France.

2021,   Bourse de recherche, IRASEC, Bangkok, Thailand.

2019-2022, Bourse d’Excellence théologique, Ministry of Europe and Foreign Affairs, France.

2018,   S. Rajaratnam Endowment, Singapore.

2018,   ASEAN Youth Fellowship, Singapore International Fund-National Youth Council of Singapore.

2017,   Top 20 CEO/Young Societal Leaders under 40s, Management University of Singapore- Temasek Foundation.

2017-2019, Fellowship, RSIS, Nanyang Technological University, Singapore.

2006-2008, Bourse du gouvernement français (BGF).

Professions

2024 – , Executive Director, MAARIF Institute for Culture and Humanity

2017-2019, Associate Research Fellow, Institute of Defense and Strategic Studies, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapore

2012-2016, Lecturer, Faculty of Politics and Social Sciences of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2009- 2011, Political analyst, Indonesian Embassy, Paris, France

2004-2006, Executive Editor, Jurnal Inovasi: Jurnal Ilmu dan Kemanusiaan, LP3 Muhammadiyah University of Yogyakarta.

2004-2006, Executive Editor, Majalah Gerbang: Majalah Pendidikan, LP3 Muhammadiyah University of Yogyakarta – Ministry of National Education Jakarta.

2003-2006, Program Manager, People Voters Education Network (JPPR)-LP3 Muhammadiyah University of Yogyakarta.

Publications

“Promoting Indonesian Moderate Islam on the Global Stage; Non-State Actors’ Soft Power Diplomacy in the Post-New Order Era”, Muslim Politics Review 2 (2), 2023, p. 238-283.

“Covid-19, Fatwas, and Socio-religious Praxis: Muhammadiyah’s Social Engagement and Mission in Coping with the Outbreak in Indonesia”, Social Sciences and Missions 35, 2022, Brill, p. 308–342.

« Le hause de l’influence islamiste dans le champ sociopolitique indonésien », in Romain Bertolino, Alexandre Negrus, et Nato Tardieu. (2022), Atlas Géopolitique du Monde Contemporain, Paris: Ellipses, p. 192-195.

“In Search of the Imagined Ummah: Explaining the Political Crossover of Islamic Conservatism in Indonesia’s 2019 Presidential Election”, Journal of Asian Social Sciences Research (JASSR), 2 (2), 2020, p. 109-143.

“Indonesian Hybrid-Salafism: Wahdah Islamiyah’s Rise, Ideology and Utopia,” in Leonard C. Sebastian, Syafiq Hasyim and Alexander R. Arifianto. (2020), Rising Islamic Conservatism in Indonesia: Islamic Groups and Identity Politics, London: Routledge, p. 181-197.

“The 2018 and 2019 elections in South Sulawesi: Jusuf Kalla’s decline and the return of Islamists” (with Dedi Dinarto), in Leonard C. Sebastian and Alexander Arifianto. (2020), The 2018 and 2019 Indonesian Elections: Identity Politics and Regional Perspectives, London: Routledge, p. 128-144.

“The ‘Conservative Turn’ in Indonesian Islam: Implications for the 2019 Presidential Elections” (with Leonard C Sebastian), Asie.Visions-IFRI, 106 (3), 2019, Paris, 30 p.

“The Three Streams Facing Indonesian Muslims: Pulls of Politics”, en Yang Razali Kassim (ed.). (2021), RSIS Commentary Series: Jokowi’s Second Term, Emerging Issues, Singapore: Worlds Scientific, p. 41-44

“Grand Narratives in Outer Provinces: Impact of Islam on Politics”, en Yang Razali Kassim (ed.). (2021), RSIS Commentary Series: Jokowi’s Second Term, Emerging Issues, Singapore: Worlds Scientific, p. 27-30.

“How do conservative Muslims see Indonesia’s presidential hopefuls.” East Asia Forum, 28 February 2019, https://www.eastasiaforum.org/

“Jokowi’s Soft Diplomacy: Global Islamic Network of Moderation”, RSIS Commentary, Nanyang Technological University, 16 July 2018

“Muhammadiyah: The Challenge of Rising Conservatism”, RSIS Commentary, Nanyang Technological University, 4 May 2018

“Islam dan Pancasila di Era Reformasi: Sebuah Reorientasi Aksi », Jurnal Keamanan Nasional 1 (1), 2015, p. 61-78.

“Arah Baru Politik Islam Indonesia: Dari Nalar Syariatik Menuju Islam Partisipatoris- Transformatif”, in Usman Hamid and AE Priyono, Merancang Arah Baru Demokrasi: Indonesia Pasca Reformasi, Kompas Gramedia, Jakarta, 2014.

Membangun Gerakan Anti Korupsi dalam Perspektif Pendidikan, Andar Nubowo and Rosita Susi Aryanti (ed.), Yogyakarta: Lembaga Penelitian & Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2004.

Seri Pendidikan Pemilih Untuk Pelajar: Menuju Pemilu Yang Demokratis dan Tanpa Kekerasan, Asykuri ibn Chamim, Andar Nubowo, dan Irfan Mawardi. Yogyakarta: JPPR, 2003.

Research

2024,   The Geopolitics of Moderate Islam, Emory State University, Atlanta, USA.

2023,   La sortie d’un islam arabo-musulman centré : la cogestion des autorités indonésiennes et dessociétés civiles musulmanes dans le soft power de l’islam du juste milieu, IRASEC Bangkok Thailand.

2019,   The Cross-over Conservatism and Its Impact on Presidential Elections in 2019, IDSS, RSIS, Nanyang Technological University, Singapore

2018,   The Threat of Religious Proxy War: Explaining Saudi Arabia’s Spring Implications to Indonesian Islam, IDSS, Nanyang Technological University, Singapore.

2017,   International Network of Indonesian Moderate Islam: Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama’s Parallel Diplomacy in Countering Radicalism, IDSS, RSIS, Nanyang Technological University, Singapore.

2016,   Perilaku Sosial Politik Masyarakat Jakarta Menjelang Pilkada Jakarta 2017, IndoStrategi Jakarta, Indonesia.

2014,   Political Uses of Oil Rent in Indonesia, a Study on Political Consolidation and DemocraticTransformation. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia.

2013,   Implementasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Sekolah Menengah Atas di Propinsi Riau dan Nangroe Aceh Darussalam. Ministry of National Education, Jakarta, Indonesia.

2008,   Pesantren (Islamic School) and Charity, Surakarta and Jogjakarta, Indonesia, Muhammadiyah University of Yogyakarta.

2004,   Pengembangan Community Based-Tourism (CBT) di Yogyakarta, Bappeda Propinsi Yogyakarta.

Seminars and Conferences

“Islamisme & radicalisation croissants en Indonésie : quels défis intérieurs & extérieurs pour le plus grand pays musulman ?”, Institut d’Études de Géopolitique Appliquée, Paris, 14 Septembre 2022.

“Covid-19, Fatwas, and Socio-religious Praxis in Indonesia: Debates and Contestations between Moderate and Conservative Islam in the Time of Pandemic”, EuroSEAS-EHESS, Paris, 29 June 2022

“Une quête de la communauté musulmane imaginée du juste milieu dans le champ socioreligieux et politique indonésien”, Atelier doctoral IRMC, Tunis, 8-12 Novembre 2021

“Wasatiyyat Islam and Covid-19: Muhammadiyah’s Fatwas and Responses to the Pandemic in Indonesia”, EuroSEAS Olomouc Palacky University, Czech Republic, 7-10 September 2021

“Islamic Selfhood and Authority: The Conservative Turn in Contemporary Indonesian Islam”, MIDA-ENIS, Catania, Sicily, Italy, 2-8 March 2020

“The Religious Cross-over Conservatism and Its Impact on Indonesian Politics”, AAS-in-Asia, Bangkok, Thailand, 1- 4 July 2019

“The Challenge of Cross-over Conservatism in Indonesia and Southeast Asia”, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Singapore, 2018

“Muhammadiyah’s Jihad for the Moderation and the Progress”, S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Singapore, 2017.

Language Competences

French, English, Arabic, Indonesian, Javanese

Yayasan Ahmad Syafii Maarif Menetapkan Andar Nubowo, DEA., Ph.D. sebagai Direktur Eksekutif, dan Abd. Rohim Ghazali sebagai Senior Fellow

MAARIF Institute, Jakarta, 21 Mei 2024 — Yayasan Ahmad Syafii Maarif yang menaungi lembaga MAARIF Institute for Culture and Humanity telah melakukan rapat yang menetapkan Direktur Eksekutif dan Senior Fellow MAARIF Instute baru. Hasil rapat yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Mei 2024, telah merotasi Abd. Rohim Ghazali yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Eksekutif sejak Maret 2019 s.d. Mei 2024, dan mengangkatnya sebagai Senior Fellow di MAARIF Institute. Sedangkan posisi Direktur Eksekutif dipercayakan kepada Andar Nubowo, DEA., Ph.D.

Andar Nubowo merupakan aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) kelahiran Wonosobo, 12 Mei 1980. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini mengawali pendidikan tingginya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Gelar Masternya diperoleh di Ecole des hautes études en sciences sociales (EHESS), Paris-Perancis pada Juli 2008, dalam bidang Ilmu Politik. Sejak 2010, di Ecole Normale Superieure (ENS) Lyon, Paris-Perancis, dirinya menempuh program Ph.D., dan meraih gelarnya pada Desember 2023.

Beberapa tulisan terbaru yang telah dihasilkan oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiiyah (PCIM) Perancis ini, selain menerjemahkan dan menyunting, di antaranya: “Promoting Indonesian Moderate Islam on the Global Stage; Non-State Actors’ Soft Power Diplomacy in the Post-New Order Era”, Muslim Politics Review 2 (2), 2023, p. 238-283; “Covid-19, Fatwas, and Socio-religious Praxis: Muhammadiyah’s Social Engagement and Mission in Coping with the Outbreak in Indonesia”, Social Sciences and Missions 35, 2022, Brill, p. 308–342; « Le hause de l’influence islamiste dans le champ sociopolitique indonésien », in Romain Bertolino, Alexandre Negrus, et Nato Tardieu. (2022), Atlas Géopolitique du Monde Contemporain, Paris: Ellipses, p. 192-195; “The Three Streams Facing Indonesian Muslims: Pulls of Politics”, en Yang Razali Kassim (ed.). (2021), RSIS Commentary Series: Jokowi’s Second Term, Emerging Issues, Singapore: Worlds Scientific, p. 41-44; dan “Grand Narratives in Outer Provinces: Impact of Islam on Politics”, en Yang Razali Kassim(ed.). (2021), RSIS Commentary Series: Jokowi’s Second Term, Emerging Issues, Singapore: Worlds Scientific, p. 27-30.

Selain itu, Andar, begitu sapaan akrabnya, juga aktif dalam melakukan beberapa riset, dengan beberapa riset terbaru: “The Geopolitics of Moderate Islam”, Emory State University, Atlanta, USA., 2024; dan “La sortie d’un islam arabo-musulman centré : la cogestion des autorités indonésiennes et des sociétés civiles musulmanes dans le soft power de l’islam du juste milieu”, IRASEC, Bangkok, Thailand, 2023.

Sedangkan beberapa penghargaan yang pernah dirinya terima, diantaranya: “Bourse d’Islamologie”, Ministry of Europe and Foreign Affairs, France- IRASEC, Bangkok, Thailand, 2023; “UIII COMPOSE Writing Fellowship”, Jakarta, Indonesia, 2022; “Prize Mahar SCHUTZENBERGER”, Paris, France, 2021; dan “Bourse de recherche”, IRASEC, Bangkok, Thailand, 2021.

MAARIF Institute Bahas Moderasi Beragama dalam Acara Tadarus Ramadhan

MAARIF Institute-Kali kedua dalam bulan Ramadhan 1445 H ini, MAARIF Institute menggelar acara Tadarus Ramadhan. Kegiatan kali ini membedah buku “Jalan Baru Moderasi Beragama: Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir”.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, di antaranya, Fajar Riza Ul-Haq (Editor Buku) dan Prof. Najib Burhani (Kontributor Buku). Bertindak selaku moderator, Moh. Shofan (Direktur Program MAARIF Institute).

Buku dengan tebal 528 halaman yang diterbitkan Kompas bekerjasama dengan Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini merangkum 27 tulisan dari para cendekiawan, agamawan, aktivis-pemimpin umat yang secara garis besar berisi tentang buah pikiran, ide dan gagasan sepanjang hidup Haedar Nashir.

Dalam paparannya, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali menyampaikan bahwa buku ini secara umum berisi tentang gagasan dan ide Haedar Nashir, serta perannya sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah yang berkontribusi besar bagi eksistensi perjalanan persyarikatan di tengah arus gelombang ideologi Islam kanan pasca reformasi.

“Haedar adalah sosok yang konsisten dan tidak pernah absen menyuarakan moderasi beragama saat maraknya upaya deradikalisasi kaum ekstremis disuarakan oleh negara. Hingga hari ini, Muhammadiyah terus berpegang teguh bahwa deradikalisasi adalah bentuk ekstrem baru, hingga akhirnya moderasi menjadi pilihan dan program pemerintah melalui Kementeriang Agama”, jelasnya.

Mengawali pemaparannya, Fajar Riza Ul-Haq, Ketua LKKS yang juga menjadi editor buku ini menyampaikan bahwa buku yang hadir di tangan pembaca ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa rekan, pemikir keislaman dan keindonesiaan.

Menurutnya, buku itu ini berusaha membedah pemikiran Haedar Nashir tentang moderasi, bukan hanya dalam urusan beragama, tetapi juga yang lain termasuk kebangsaan, kenegaraan dan lainnya.

“Peluncuran buku ini tidak semata-mata merayakan 66 tahun Pak Haedar. Tapi bagaimana kita mencoba merawat pemikiran moderat untuk bangsa ini,” kata Fajar.

Sementara Prof. Najib Burhani, kontributor buku ini, menjelaskan bahwa peran Haedar bukan hanya sebatas seorang akademisi, tetapi juga sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah yang mengambil tanggungjawab besar sebagai “penjaga gawang” ideologi Muhammadiyah sangat penting dalam melakukan konsolidasi internal dan meneguhkan Kembali komitmen ideologi organisasi di kalangan warga Muhammadiyah.

“Haedar, sebagaimana Buya Syafii Maarif, mengkritik agenda-agenda penerapan perda syariah yang mendapat dukungan kuat dari kelompok islam revivalis. Haedar menyebut kelompok tersebut sebagai “gerakan Islam syariat”, tegas Najib.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 50 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, dosen, dan masyarakat. Kegiatan tadarus ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Haedar Nashir, dan juga Buya Syafii, baik di ranah keislaman, keummatan, dan kebangsaan yang mengusung nilai-nilai keterbukaan, kesetaraan dan kebhinnekaan yang dapat diwariskan kepada anak-anak bangsa. []

Kajian Ramadhan MAARIF Institute, Bedah Buku Terbaru 3 Cendekiawan Muslim

MAARIF Institute-Kajian Ramadhan Maarif Institute bertajuk ‘Memperkuat Dialog Lintas Agama, Lintas Budaya, dan Lintas Gender”, sesi pertama, Jumat (15/3/2024) di kantor MAARIF Institute, Jakarta, membedah buku karya Prof Dr Musdah Mulia berjudul, Perjalanan Lintas Batas: Lintas Agama, Lintas Gender dan Lintas Negara.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Musdah Mulia (penulis buku) dan Pdt. Dr. Albertus Patty (pendeta, aktivis lintas agama). Acara dimoderatori oleh Moh. Shofan (Direktur Program MAARIF Institute).

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali menyampaikan kegiatan Kajian Ramadhan tahun ini dimaksudkan untuk memperkaya wacana pemikiran Islam melalui diskusi buku yang ditulis oleh para cendekiawan Muslim, seperti Prof Musdah Mulia, Prof Haedar Nashir, dan Prof Komaruddin Hidayat.

“Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempertajam kembali gagasan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan Buya Syafii Maarif, khususnya di kalangan generasi milenial”, tegas Rohim.

Musdah Mulia menyampaikan buku ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan lebih kepada perjalanan intelektual yang melahirkan dialog kreatif dengan beragam manusia, baik dari aspek agama, budaya, suku, jender, kewarganegaraan, dan sebagainya.

“Saya banyak mengangkat ragam isu krusial di beberapa negara yang saya singgahi. Misalnya, isu kelompok agama minoritas, perempuan, masyarakat adat dan penganut aliran-aliran lokal, serta para pengungsi yang terusir dari negaranya,” jelas Musdah.

Sementara Pdt Albertus Patty, yang akrab disapa Pak Berty, sangat mengapresiasi buku yang ditulis oleh Musdah Mulia. Menurutnya, sebagai pendeta, ia selalu menghadirkan dialog terbuka lintas iman, membuka wawasan kedua belah pihak. Bukan sekadar saling mengenal dan mengetahui keyakinan masing-masing. Yang utama adalah tumbuh sikap saling menghormati dan menghargai sehingga terbuka jalan untuk mengadakan berbagai kegiatan bersama.

“Prinsip ajaran gereja atau dogmatika menurutnya harus berdasarkan cinta kasih yang menciptakan keadilan dan kemanusiaan. “Kalau sebuah dogma atau doktrin kehilangan cinta, artinya sudah menyimpang dari prinsip dasar kekristenan. “Bukankah prinsip utama dalam kekristenan itu adalah cinta kasih?” jelasnya.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 50 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, dosen, dan masyarakat. Kegiatan tadarus ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Buya Syafii, baik di ranah keislaman, kebangsaan yang mengusung nilai-nilai keterbukaan, kesetaraan dan kebinekaan yang dapat diwariskan kepada anak-anak bangsa. (DM)

LUNCURKAN JURNAL, MAARIF INSTITUTE DISKUSIKANPEMIKIRAN BUYA SYAFII

MAARIF Institute, Jakarta MAARIF Institute bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta, menyelenggarakan acara peluncuran dan diskusi Jurnal MAARIF Vol. 18 No. 2Desember 2023 dengan tema “Jalan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif: Dakwah Kultural, Puisi Kebangsaan dan Inspirasi Kemanusiaan.

Acara yang bertempat di Aula Kasman Singodimejo Lt. 4 ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, antara lain: Prof. Dr. Syamsul Arifin (Rektor UMM), Abdullah Sumrahadi(Dosen di President University) Ka’bati (Kontributor Jurnal MAARIF) dan Moh. Shofan (Pimred Jurnal MAARIF). Acara ini dimoderatori oleh Lusi Andriyani (Kaprodi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ)

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Dr. Ma’mun Murod, menyambut dengan sangat baik kerjasama peluncuran dan diskusi jurnal MAARIF ini. MenurutMa’mun, Buya Syafii telah mewariskan keluasan ilmu pengetahuan serta sikap hidup etis, sederhana, dan teladan baik yang harus dijadikan cermin oleh anak anak bangsa hari ini. Utamanya dalam merawat isu-isu toleransi, keberagaman, danpentingnya merekatkan persatuan.  

“Tantangan bangsa Indonesia ke depan bukan semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Karena itu, komitmen Buya Syafii pada nilai-nilai substantif Islam yang diwujudkan dalam kepedulian dan keberpihakannya pada mereka yang terzalimi, harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya, ujar Ma’mun.

Sementara Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abd. Rohim Ghazali, dalam sambutannya mengatakan bahwa apa yang dikembangkan oleh MAARIF Institute selama 20 tahun terakhir ini, tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. “Tema yang diangkat dalam jurnal ini juga menandai satu tahun wafatnya Buya Syafii, sekaligus menyambut dua dekade MAARIF Institute”, jelas Rohim.

Rohim menambahkan, “Buya Syafii sudah meninggalkan kita setahun yang lalu. Kita semua menjadi pewaris, bukan hanya pemikiran-pemikiran Buya Syafii yang sangat brilian dan kritis dalam menyoroti masalah-masalah bangsa, tetapi juga mewarisi keteladanan dan kesederhanaannya. “Komitmen Buya Syafii dalam menyoroti persoalan-persoalan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan harus terus dihidupkan oleh anak-anak muda agar bangsa ini tidak oleng, seperti yang dikhawatirkan Buya Syafii”, ujar Rohim.

Narasumber pertama, Syamsul Arifin memaparkan bahwa Buya Syafii selama hidupnya menaruh perhatian pada pemikiran keislaman atau intelektualisme Islam yang ingin mempertautkan secara “dialektik-etik” antara Islam dengan keindonesiaan. Buya Syafii, menurutnya memiliki argumen yang kuat, yang bertolak dari pembacaan terhadap al-Qur’an, sejarah, dan konteks keindonesiaan bahwa Islam tidak perlu diletakkan secara “oposisi-biner” dengan realitas politik yang telah menjadi konsensus bangsa seperti Pancasila.

Islam di Indonesia dalam pandangan Buya Syafii harus mewujud dalam performa sebagai “entitas etik” yang nantinya menjadi pilar bagi terwujudnya Indonesia berkeadaban”, tegas Syamsul.

Narasumber kedua, Abdullah Sumrahadi, mengatakan bahwa sosok Buya Syafiibukan hanya milik Muhammadiyah saja, namun sudah menjadi guru bangsa yang pemikiran-pemikirannya tentang keindonesiaan, keummatan dan kemanusiaan menjadi literatur utama dalam mengawal kemajuan bangsa. Pengajar di President University itu menambahkan bahwa nilai-nilai baik yang selama ini telah diwariskan oleh Buya Syafii harus menjadi cermin moral seluruh anak-anak bangsa di tengah kehidupan politik yang sangat pragmatis.

Sementara narasumber ketiga, Ka’bati, berpendapat bahwa Buya adalah salah seorang tokoh Islam moderat yang kuat menyuarakan hak kesetaraan bagi perempuan tampil menjadi pemimpin. Buya, lanjutnya, juga menentang ketentuan-ketentuan fiqh yang umumnya ditulis oleh laki-laki dan cenderung memainkan peran diskriminatif dan bias terhadap Perempuan. Karena itu, pemikiran Buya Syafii masih sangat relevan untuk ditransformasikan ke dalam sistem sosial Masyarakat sekarang ini.

Pimred Jurnal MAARIF, Moh. Shofan menyatakan bahwa secara umum Jurnal edisi Desember 2023 ini merefleksikan sekaligus menelaah secara kritis pemikiran Buya—terutama mengenai isu isu keummatan, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Sejumlah artikel dalam jurnal ini tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Acara peluncuran Jurnal MAARIF ini diikuti tidak kurang dari seratus peserta, baik dari kalangan akademisi, mahasiswa, aktivis, maupun  masyarakat secara umum.