MAARIF INSTITUTE PERKUAT PELAJAR SEBAGAI AGEN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN

Bandung – MAARIF Institute Kembali menggelar acara Jambore Pelajar Teladan Bangsa X 2023, sejak pertama kali digelar pada 2012. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, 26 – 30 Desember 2023, di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP), Lembang, Bandung Jawa Barat.

Kegiatan yang bertujuan untuk membangun ketahanan komunitas berbasis sekolah, utamanya para pelajar yang berusia rata-rata 14 – 18 tahun ini diikuti oleh 104 peserta yang berasal dari 25 provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka berasal dari Nangroe Aceh Darussalam, Papua Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Dalam sambutan pembukaan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendy yang diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama, Prof. Warsito, mengingatkan para pelajar yang terpilih melalui seleksi ini untuk merawat kebinekaan, memperkuat nilai toleransi serta menjaga persatuan agar terhindar dari ancaman paham radikalisme dan ekstremisme yang membahayakan persatuan bangsa.

Sementara, Direktur Eksekutif Maarif Institute, Abd. Rohim Ghazali, mengatakan bahwa kegiatan jambore ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, inklusivisme dan kebinekaan serta mengarusutamakan nilai-nilai kebangsaan yang moderat, toleran dan inklusif di kalangan pelajar.

Lebih lanjut Rohim menambhakan bahwa Jambore ini dimaksudkan untuk menanamkan kesadaran menjaga kebinekaan sejak dini kepada para pelajar yang kelak akan menjadi para pemimpin bangsa di masa mendatang.

Bentuk kegiatan jambore ini memadukan model kompilasi teori dan praktik di lapangan dengan harapan bisa memberikan konteks pada teks yang disajikan. Hadir sejumlah narasumber dalam kegiatan ini antara lain, Khelmy K. Pribadi (Project Coordinator Indonesia Knowledge Hub on CT/VE BNPT), Moh. Shofan (Direktur Program MAARIF Institute), Irfan Amalee (Executive Director Peace Generation), dan Ifa Hanifah (Tim Pengembang Jabar Masagi) dan yang lainnya.

Secara umum, para narasumber memberikan informasi dan pengetahuan yang benar tentang paham radikalisme kepada para peserta Jambore, serta menumbuhkan rasa semangat nasionalisme agar tidak mudah terhasut oleh pihak pihak yang akan mendoktrin generasi muda kita dengan hal-hal yang bertentangan dengan Pancasila dan ajaran Agama. Terlebih pelaku bom bunuh diri ini juga menyasar kalangan pelajar yang tidak jarang terkena pengaruh paham kelompok radikal.

“Terorisme adalah tindakan kejahatan yang bisa mengancam dan menghancurkan keutuhan suatu bangsa dan negara. Karena itu, pelajar harus mendapatkan pendidikan agama yang benar serta pendidikan budi pekerti dan beragam pendekatan yang tidak diwarnai dengan aksi kekerasan”, jelas Khelmy.

Sementara Shofan memperkenalkan sosok pemikiran Buya Syafii, sebagai Guru Bangsa, cendekiawan Muslim yang selama hidupnya tidak pernah absen mengingatkan bahwa pemeluk agama harus memahami agamanya dengan benar.

“Jika ajaran luhur agama tidak dipahami dengan benar, maka bencana bisa saja terjadi bila pemeluk agama kehilangan daya nalar, yakni menghakimi semua orang yang dinilai tidak sefaham dengan aliran pemikiran mereka, terlebih dengan menggunakan cara-cara digunakannya kekerasan, seperti aksi-aksi bom bunuh diri”, tutur Shofan

Selama lima hari, para pelajar diajak untuk mengikuti sejumlah kegiatan, baik materi di ruangan seperti mengisi survey mengenai sosok Buya Syafii, memahami kebinekaan global, pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah oleh Itjen Kemendikbudristek, pemutaran dan diskusi film, dan membangun inklusi dan penerimaan perbedaan mulai dari alam bawah sadar yang disampaikan oleh Ifa Hanifah Misbach.

Selain itu peserta juga diajak berkegiatan di luar ruagan dengan melakukan kunjungan ke Museum POS Indonesia di Bandung, beraudiensi dengan penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin di kantor Gubernur, serta kunjungan lintas agama ke Gereja Paroki Santa Maria Fatima Lembang, Bandung, yang diketuai oleh Romo Aloysius Wahyu.

Sejumlah aktifitas dan kegiatan tersebut dimaksudkan agar para peserta Jambore mampu memperkuat nilai-nilai toleransi dengan melakukan perjumpaan dan dialog lintas agama, serta dapat mewarisi cita-cita dan pemikiran inklusif Buya Syafii, yang selama hidupnya tak pernah berhenti menyuarakan nilai-nilai toleransi, kemanusiaan dan keadilan sosial.

“Melalui kegiatan jambore 2023 ini, kami berharap para peserta mampu menangkap spirit gagasan Buya Syafii tentang toleransi dan kemanusiaan, mendapatkan wawasan pengetahuan dari para narasumber serta mendapatkan pengalaman berharga dari berbagai aktifitas selama kegiatan ini berlangsung, sehingga mereka mampu menjadi penggerak dan pelopor perubahan di daerahnya masing-masing”, jelas Deni Murdiani, selaku penanggungjawab kegiatan jambore ini. []

PERKUAT KAPASITAS GURU AGAMA, MAARIF INSTITUTE GELAR PELATIHAN INKLUSI SOSIAL-KEAGAMAAN

AMBON – MAARIF Institute menyelenggarakan Pelatihan LOVE (Living Our Values Everyday: Penguatan Nilai-nilai Inklusi Sosial-Keagamaan untuk Guru-guru Pendidikan lintas Agama tingkat SMA di Ambon.

Pelatihan yang digelar selama tiga hari, sejak Senin, 27 November sampai Rabu, 29 November 2023 dilaksanakan di The Natsepa Hotel, Ambon.

Kegiatan Ini melibatkan 23 peserta guru agama di Lembaga Sekolah Menengah Atas (SMA/MA/SMK) dan praktisi dengan klasifikasi Lintas agama dan lintas organisasi keagamaan yang meliputi Muhammadiyah, NU, Kristen Katolik dan Protestan.

Pelatihan ini dibuka oleh Direktur MAARIF Institute; Abd. Rohim Ghazali. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pelatihan ini dilaksanakan secara massif di sejumlah wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kegiatan pelatihan penguatan kapasitas ini merupakan wujud implementasi dari gagasan Buya Syafii Maarif tentang kemanusiaan, keragaman dan keterbukaan, yang mencoba membuka cakrawala berpikir para peserta yang mampu menghargai dan menerima perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai ancaman,” ungkap Rohim.

lebih lanjut Rohim menegaskan bahwa “Hidup dalam keragaman itu ibarat memasuki taman bunga yang indah”, tegasnya.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Moh. Shofan dalam pengantar pembukaan. Ia menjelaskan bahwa kasus-kasus bulliying kini marak dan mengalami peningkatan bahkan mengakibatkan korban meninggal. Sehingga kegiatan pelatihan dengan pendekatan inklusif ini diharapkan mampu mengikis tiga dosa besar itu.

“Bulliying, kekerasan seksual dan intoleransi kini menjadi masalah besar pada dunia Pendidikan. Pelatihan penguatan kapasitas untuk guru-guru SMA ini diharapkan bisa menjadi penyelamat untuk mengatasi tiga dosa besar dalam pendidikan”, terang Shofan.

Narasumber yang hadir dalam seminar ini adalah Hasbollah Toisuta (Direktur Yayasan Sombar Maluku), Abidin Wakano (Direktur ARMC IAIN Ambon), Nancy Soisa (Dosen UKIM AMBON) dan Zainal Arifin Sandia sebagai moderator.

Mengawali sesi pertama, Hasbollah, menjelaskan bahwa pendidikan inklusi ini penting untuk mengikis perilaku intoleransi, kekerasan dan bulying. Kita harus merayakan keberagaman itu untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, saling menggelar perjumpaan agar mengenal satu sama lainya. Disinilah tugas guru sebagai unsur penting dalam proses pendidikan untuk mewujudkan inklusi sosial dalam lingkungan sekolah.

Pemateri kedua, Nancy Soisa, menjelaskan bahwa kita harus menjadi manusia yang berprototipe Indonesia di mana semua harus berjalan setara dan adil, tidak boleh ada favoritisme dan berupaya agar anak-anak Indonesia tumbuh dengan perasaan yang sehat.

Narasumber ketiga, Abidin Wakano, mempertegas bahwa setiap anak lahir untuk meraih kemenangan (Born to Win). Setiap anak didik harus dilihat sebagai suatu karya Tuhan yang agung. Mereka terlahir unik, terpilih dan plural.

“Guru harus melihat peserta didik dalam pandangan yang seperti ini, dan pendidikan inklusi sebagai jalan utama untuk mengantarkan anak anak didik sebagai manusia yang merdeka dan menghargai perbedaan”, pungkas Shofan.

Seminar ini berjalan dengan lancar dan penuh antusias dari para peserta pelatihan. Zainal Arifin Sandia selalu moderator menyimpulkan bahwa realitas plural multikultural adalah keniscayaan yang eksistensinya harus direalisasikan oleh lembaga pendidikan secara setara. [DM]

Buya Syafii Maarif Menerima Penghargaan Lifetime Achievement dari Liputan6 Awards 2023

MAARIF Institute – Jakarta – Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif yang dikenal sebagai guru bangsa dan cendekiawan menerima penghargaan Lifetime Achievement dari Liputan6 Awards 2023. Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya memperjuangkan isu isu perdamaian, keadilan, kemanusiaan dan toleransi semasa hidupnya.

Acara yang dihelat pada hari jumat (28/10) di Studio 5 Indosiar, Jakarta tersebut di hadiri oleh Abd Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF Institute mewakili keluarga Buya Syafii Maarif.

Rohim dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada SCTV dan Liputan 6 yang telah memberikan penghargaan Lifetime Achievement untuk Buya Syafii Maarif.

“Buya adalah tokoh yang sangat peduli dengan anak-anak muda, karena kepada merekalah bangsa ini akan diwariskan, dan akan menjadi pemimpin di masa depan,” tutur Rohim.

Lebih lanjut Rohim menyampaikan pesan yang selalu menjadi perhatian Buya sesama hidupnya.

“Beliau selalu berpesan kepada kita untuk tetap menjaga keindonesiaan, perdamaian, serta menjaga prinsip-prinsip kemanusiaan dalam berkarya untuk menjaga keindonesia ini,” tegas Rohim.

“Pluralisme di Indonesia ini seperti taman bunga yang indah, seperti orkestra yang indah yang harus kita jaga bersama-sama dalam tatanan kerjasama keindonesiaan kita,” pungkas Rohim.

Puan Maharani yang hadir memberikan penghargan Lifetime Achievement ini menyampaikan bahwa Buya Syafii merupakan sosok yang selalu memperjuangkan toleransi di tengah keragaman, menjunjung kemanusiaan tanpa memandang ras, selalu kritis terhadap sikap intoleransi dan hak asasi manusia.

“Semua yang dimilikinya menjadi tauladan bagi kita semua hingga saat ini, dan Buya selalu menyuarakan soal moral, soal konstitusi yang harus dijadikan dasar berpolitik dan berdemokrasi hingga saat ini,” pungkas Puan.

Liputan 6 Awards merupakan penghargaan yang diberikan oleh Liputan 6 SCTV. Perhargaan ini diberikan kepada para tokoh yang sudah mendedikasikan dan mengabdikan hidupnya kepada masyarakat dan lingkungan.

Pemberian penghargaan Liputan 6 Awards 2023 terbagi menjadi 5 kategori, di antaranya Penghargaan Kategori Kemanusiaan, Kategori Kesehatan, Kategori Pendidikan, Kategori Olahraga, Kategori Ekonomi Kerakyatan dan UMKM, serta Lifetime achievement. []

Pelatihan LOVE Maarif Institute di Lamongan, Membuka Ruang Diskursif untuk Guru Agama

Pelatihan LOVE (Living Our Values Everyday) dalam penguatan nilai-nilai inklusi sosial keagamaan untuk guru-guru pendidikan agama oleh Maarif Institute telah memasuki pada pertemuan yang ke-3. Setelah pelatihan di Malang dan Bekasi, Saat ini, Rabu (13/09/2023) Maarif Menggelar Pelatihan LOVE di Lamongan.

Bertempat di Tanjung Kodok Beach Resort Lamongan, Pelatihan ini digelar seperti pada pelatihan sebelumnya; selama tiga hari. Sejak Rabu 13 September sampai Jumat 15 September 2023.

Kegiatan Ini tetap melibatkan 20 Peserta Pelatihan yang notabene adalah Guru Agama di Lembaga Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) dan Kejuruan (SMK) dengan klasifikasi Lintas agama dan lintas organisasi keagamaan. Ada dari unsur Muhammadiyah, NU, Penghayat Kepercayaan, Katolik, dan Protestan.

Pelatihan dibuka dengan sambutan Direktur Eksekutif Maarif Institute; Abd Rohim Ghazali yang menjelaskan bahwa pelatihan ini dilaksanakan di Lamongan bukan tanpa alasan tapi berdasarkan hasil riset tentang kondisi Lamongan.

Pelatihan ini di samping menjadi perwujudan dari gagasan Buya Syafii Maarif tentang Keislaman, Keindonesiaan dan Kemanusiaan, yang menjadi tiga matra integral, pelatihan ini juga mencoba membuka cakrawala berpikir yang bisa menerima perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai ancaman.

“Manusia saling memusuhi karena ketidak saling tahuan dan pahaman sebagaimana pepatah annasu a’daau ma jahiluhu, manusia cenderung memusuhi apa yang tidak/belum diketahuinya. Di pelatihan ini, dalam waktu tiga hari, bapak ibu yang mungkin selama ini memiliki perbedaan agama dan mazhab, dipertemukan untuk saling mengenal, dan saling memahami.”

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Moh. Shofan dalam pengantar pembukaan pelatihan ini. Ia menjelaskan bahwa tiga dosa besar dalam pendidikan yang berupa intoleransi, kekerasan seksual dan perundungan/bullying adalah hal-hal yang sejatinya harus dipaksa hilang dari diri sendiri terlebih dahulu, baru disebarluaskan.

“Pendidikan adalah investasi kemanusiaan yang memberikan ruang-ruang keterbukaan dalam aspek afektif, moralitas, spiritualitas dan sensitivitas. Sehingga ukurannya bukan nilai dan prestasi, unggul dan rendah, tetapi kedalaman pemikiran, kepekaan terhadap lingkungan sosial keagamaan dan kemanusiaan,” jelasnya.

Shofan juga menegaskan bahwa pemilihan Lamongan bukan tanpa alasan, ia menyinggung kasus perundungan dalam pendidikan yang baru-baru ini terjadi justru menjadi afirmasi bahwa penting untuk membuat pelatihan LOVE bagi guru agama di Lamongan”

Sesi pertama mengawali pelatihan ini adalah seminar yang menjadi bagian dari rangkaian pelatihan. Narasumber yang hadir dalam seminar adalah KH. Farid Dhofir, Lc. M.Si. Ia menjelaskan bagaimana relasi sosial keagamaan itu harus ada keterbukaan yang mana sejalan dengan sirah-sirah atau kisah-kisah para sahabat yang berdampingan dengan non-muslim atau para pendeta di masa-masa islam pasca Nabi Muhammad.

Sedangkan pemateri kedua yaitu Dr. Piet H. Khaidir, direktur Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains. Ia menjelaskan bahwa relasi inklusivitas dalam agama dan keragaman harus memiliki power marketing yang jelas dan termanagement. Ia menjelaskan bagaimana para agamawan, da’i dan khususnya guru harus berperan aktif dalam perkembangan teknologi dan sosial media. Apalagi dalam konteks dakwah dan lain sebagainya.

Narasumber ketiga, dosen dari Universitas Muhammadiyah Lamongan, Ali Zulfikar, M.A yang memaparkan hasil risetnya  tentang adanya ketersinggungan dan pemendaman luka akibat kekerasan seksual yang bukan oleh orang lain sebagai pelakunya, melainkan orang terdekat, sampai ke gurunya.

Seminar ini berjalan dengan sangat lancar, bahkan mengundang antusias peserta pelatihan. Seminar yang dimoderatori oleh Imroatul Munawaroh ini menyampaikan pesan bahwa perbedaan itu dapat dicairkan dengan perjumpaan dan komunikasi dialogis sehingga mengurangi dan bahkan menghilangkan kecurigaan dan permusuhan di antara umat beragama, khususnya dalam dunia pendidikan.

Bineka Fest, Perayaan Dua Dekade Maarif Institute dan Mengenang Buya Syafii Maarif

JAKARTA– Dalam rangka merayakan dua dekade Yayasan Maarif Institute dan mengenang satu tahun kepergian Buya Ahmad Syafii Maarif, Maarif Institute menyelenggarakan rangkaian acara yang bertajuk Bineka Fest. Acara ini berlangsung di Pos Bloc, Jakarta Pusat, pada Rabu (30/08) kemarin.

Dalam sambutannya, Abdur Rahim Ghazali, Direktur Eksekutif Maarif Institute, menyampaikan bahwa kebinekaan merupakan sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, setiap orang harus berupaya untuk merawatnya agar Kebinekaan tidak berbalik menjadi pendorong terjadinya konflik.

“Kita harus menjadikan kebinekaan ini sebagai perekat. Caranya, salah satunya adalah dengan merayakannya seperti ini,” ujarnya.

Dalam acara Bineka Fest sendiri, banyak tokoh-tokoh agama dan kepercayaan serta aktivis kebinekaan yang diundang.

Ia juga menyampaikan, acara Bineka Fest ini juga merupakan bentuk rasa syukur karena Maarif Institute mampu bertahan hingga dua dekade dalam merawat kebinekaan.

“Harapan kami, Maarif Institute ke depan agar lebih berperan, lebih mampu menjadi katalisator kebinekaan di Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Effendy mengatakan, problem-problem kebinekaan seperti diskriminasi dan segregasi masih belum selesai di Indonesia.

“Memang problem kebinekaan ini belum selesai di Indonesia. Masalah kebinekaan belum teratasi dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan pentingnya meninjau langsung problem yang ada di daerah-daerah, termasuk mendengarkan cerita-cerita dari mereka yang berhadapan dengan problem. Tujuannya agar solusi yang hendak diberikan tidak salah sasaran.

Pada segmen Bincang Kearifan, Direktur PT. Pos Indonesia, Faizal Rochmad Djoemadi, mengungkapkan bahwa pemikiran-pemikiran Buya Syafii telah diadopsi ke dalam beberapa kebijakan di perusahaan BUMN, khususnya PT. Pos Indonesia.

Ia mencontohkan upaya pencegahan penyebaran paham ekstremisme di lingkungan PT. Pos Indonesia. Pihaknya telah bekerja sama dengan organisasi masyarakat (ormas) Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

“Karena kami tidak mengkurasi penceramah, maka kami memutuskan untuk bekerja sama dengan organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah,” bebernya.

Contoh lainnya adalah pemikiran Buya Syafii tentang kemanusiaan. Menurut Faizal, dalam proses rekruitmen pegawai, tidak ada lagi penilaian yang didasarkan pada identitas. Semua calon pegawai yang mendaftarkan diri dinilai berdasarkan pengalaman dan kinerjanya.

“Dalam lingkungan kerja PT. Pos Indonesia, kami betul-betul menjaga agar setiap individu atau karyawan yang bekerja tidak lagi dilihat berdasarkan latar belakangnya, tetapi dilihat prestasinya, potensinya, dan performanya,” paparnya.

Berbicara pada segmen yang sama, Prof. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, menekankan pentingnya mencetak ‘Syafii Maarif-Syafii Maarif’ baru di masa depan. Mereka nantinya yang akan meneruskan perjuangan Buya Syafii dalam membela minoritas dan mengangkat martabat kemanusiaan.

“Siapapun yang berusaha meningkatkan martabat kemanusiaan dan mempromosikan rakyat minoritas, maka sesungguhnya itu adalah ideologi Syafii Maarif,” terangnya.

Bineka Fest merupakan acara yang diselenggarakan agar bisa menjadi ruang perjumpaan kalangan muda, tokoh lintas agama dan budaya. Acara yang dihadiri 200-an peserta ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Buya Syafii Maarif.

MENGENANG SETAHUN BUYA SYAFII, MAARIF INSTITUTE GELAR WIRID KEBANGSAAN

Yogyakarta – Melanjutkan agenda pencerahan dan transformasi reformasi Islam dalam bingkai keindonesiaan pasca Buya Syafii menjadi tanggung jawab bersama mengingat orientasi cita-cita perjuangannya memperjuangkan kebebasan beragama dan mensosialisasikan watak dan ciri khas Islam Indonesia sebagai agama rahmatan li al-alamin, inklusif, dan toleran serta memiliki kesesuaian dengan demokrasi yang berpihak kepada keadilan, melakukan dialog dan kerjasama antaragama, antar budaya dan antar peradaban guna mewujudkan keadaban, perdamaian, saling pengertian, dan kerjasama yang konstruktif bagi kemanusiaan.

Dalam rangka mensyukuri dua dekade MAARIF Institute dan mengenang satu tahun wafatnya Buya Syafii, MAARIF Institute bekerjasama dengan SaRanG Buiding dan Anak Panah, menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang bertajuk Wirid Kebangsaan, yang meliputi orasi kebudayaan, pameran lukisan, pameran foto, pameran koleksi beberapa barang pribadi Buya Syafii, dan diskusi buku. Acara yang berlangsung dari tanggal 27 – 29 Mei 2023, ini bertempat di ADA SaRanG (Kiniko Art Room), Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta.

Sejumlah narasumber dan komunitas budayawan nasional maupun daerah hadir dalam acara ini, antara lain: tokoh Kharismatik Nahdlatul Ulama KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), budayawan kawakan, Butet Kartaredjasa, dr. Oei Hong Djien, Agus Noor, Bambang Herras, Jumaldi Alfi, Putu Sutawijaya, dan Suwarno Wisetrotomo.

Abd. Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF institute, dalam sambutan pembukaan mengatakan bahwa acara ini digelar di samping untuk mengenang setahun wafatnya Buya Syafii, juga dalam rangka meramaikan dua dekade MAARIF Institute. Melanjutkan pemikiran Buya Syafii pasca wafatnya beliau, jelas Rohim, bukan hanya menjadi tanggungjawab MAARIF Institute tetapi juga menjadi tanggungjawab semua anak-anak bangsa.

“Kita semua menjadi pewaris, bukan hanya pemikiran-pemikiran Buya Syafii yang sangat brilian dan kritis dalam menyoroti masalah-masalah bangsa, tetapi juga mewarisi keteladanan dan kesederhanaan beliau di tengah kondisi bangsa yang sarat dengan persoalan korupsi, konflik horizontal, intoleransi, dan kekerasan-kekerasan lainnya”, terang Rohim. Karena itu, lanjutnya, kita bukan sekedar mengenag tapi juga bagaimana bisa melanjutkan pemikiran Buya Syafii.

Sementara, KH. Mustofa Bisri, yang akrab dipanggil Gus Mus, dalam kata sambutan dan pembuka menyampaikan, bahwa sosok Buya Syafii dalam pandangannya, memiliki sikap yang tidak banyak dimiliki oleh tokoh lain. “Orang mau bersikap sederhana itu mudah, bersikap jujur itu mudah, mempunyai tekat perjuangan untuk agama dan bangsa itu mudah, yang sulit adalah terus bersikap seperti itu. Sikap seperti inilah yang ada pada diri Buya Syafii. Buya adalah orang yang istiqamah di jalan itu,” ungkap Gus Mus.

Buya Syafii menurut Gus Mus juga merupakan pribadi yang tidak pernah punya rasa takut akan berbagi hal, baik itu rasa takut akan kesedihan, hingga hinaan. “Karena apa? Karena beliau adalah wali Allah, kekasih Allah”, terang Gus Mus.

Di akhir sambutan, Gus Mus berharap akan lahir tokoh-tokoh umat yang mempunyai pribadi layaknya pribadi Buya Syafii. Meskipun tidak sama sepenuhnya, karena bagi Gus Mus pribadi Buya hanya ada satu dan itu merupakan karuna besar dari Allah swt untuk bagsa Indonesia.

Budayawan kondang, Butet Kertarajasa dalam orasi budayanya melukiskan sosok Buya Syafii sebagai pemikir bangsa dan cendekiawan bersahaja. Menurutnya, nyala api perjuangan Buya Syafii perlu diteruskan oleh anak-anak Indonesia. Buya, lanjutnya, selama hidupnya memiliki kepedulian yang luar biasa, terhadap masa depan negara-bangsa ini. Cita-citanya tentang Islam berkemajuan, kemanusiaan, kebudayaan tak pernah padam hingga menjelang tutup usia.

Acara wirid kebangsaan ini, juga menyajikan pameran foto-foto dan koleksi barang Buya Syafii (memorabilia), yang menyiratkan jejak langkah dan titik kisar perjalanan Buya Syafii dari Sumpur Kudus, sebuah kampung di Minangkabau yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting sejarah bangsa, sampai menjadi tokoh nasional yang dikenal dunia. Di samping pameran foto-foto dan barang-barang koleksi milik Buya, juga memamerkan sejumlah lukisan karya para budayawan, seperti Jumaldi Alfi dan Bambang Herras.

Selain orasi kebudayaan, pameran foto dan lukisan, MAARIF Institute juga meluncurkan dua buku obituari Buya Syafii, berjudul, “Nyala Abadi Suluh Bangsa” (Kompas, Mei 2023) dan “Guru Bangsa Penembus Batas” (IBtimes, Mei 2023). Penerbitan dua buku ini merupakan wujud usaha keras untuk merekam Riwayat intelektualisme Buya melalui kacamata orang lain.

Acara yang dihadiri tidak kurang dari 100 orang peserta ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Buya Syafii, baik di ranah keislaman, kebangsaan yang mengusung nilai-nilai keterbukaan, kesetaraan dan kebhinnekaan yang dapat diwariskan kepada anak-anak bangsawawasan tentang kebangsaan, kebhinekaan, dan dapat mendorong hubungan sosial yang harmonis dan bebas diskriminatif. []

Tour De Buya: Napak Tilas Sejarah dan Pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif

Yogyakarta — 14 Mei 2023. Tahun lalu, Indonesia kehilangan sosok negarawan yaitu Buya Ahmad Syafii Maarif. Tokoh yang dikenal dengan kesederhanaannya itu wafat pada 27 Mei 2022 atau 4 hari sebelum genap usia yang ke-87.

Dalam usia senja itu, Buya meninggalkan cita-cita dan pemikiran yang harus dikenang dan dilestarikan. Untuk mengenang dan meneruskan legacy pemikiran dan cita-cita Buya Syafii, MAARIF institute bekerja sama dengan Anak Panah dan SaRanG Building mengadakan acara Tour De Buya dengan napak tilas perjuangan Buya Syafii di tiga tempat bersejarah yaitu Taman Makam Husnul Khatimah, Perpustakaan Ahmad Syafii Maarif, dan Serambi Buya.

Mewakili panitia, Pipit Aidul Fitriyana, Staf Program MAARIF Institute, menyampaikan dalam sambutannya bahwa ini merupakan kegiatan pertama dari rangkaian acara Mengenang Satu Tahun Berpulangnya Buya sekaligus Mensyukuri 2 Dekade MAARIF Institute. “Kami merancang beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan di Yogyakarta dan Jakarta. Nanti akan ada Wirid Kebangsaan dan Malam Tasyakuran 2 Dekade,” ujarnya.

Acara ini diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar. Peserta yang mengikuti tour ini terjaring dari berbagai kampus di penjuru negeri, mulai dari Aceh, Padang, Riau, Lampung, Jakarta, Tarakan, Kendari, dan tentunya Yogyakarta. Selain dari berbagai kampus, peserta juga terdapat dari lintas agama.

Perjalanan dimulai ke Taman Makam Husnul Khatimah Kulon Progo, tempat yang menjadi peristirahatan terakhir Buya Syafii setelah menghembuskan napas terakhir di RS PKU Gamping. Sebagaimana diketahui, Buya setelah wafat, diminta langsung oleh Presiden Joko Widodo untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun sebelum wafat, Buya berwasiat agar dimakamkan di pemakaman Husnul Khotimah yang dikelola langsung oleh PKU Muhammadiyah. Selain itu, Buya juga sudah memesan beberapa petak tanah makam untuk keluarganya.

Perjalanan dilanjut menuju ke Perpustakaan A. Syafii Maarif yang terletak di Kampus Terpadu Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Muallimin sendiri adalah sekolah di mana Buya menempuh pendidikan formal selama tiga tahun. Di sekolah ini pula, Buya mendapatkan ilmu agama dan keterampilan berorganisasi yang lebih matang.

Di perpustakaan, peserta diberikan materi yang disampaikan oleh Ketum PWM DIY, Muhammad Ikhwan Ahada, beliau menyampaikan pemikiran Buya yang melintas batas, tentang kemanusiaan, pemecahan permasalahan kekinian dan masa depan. Selain itu ada Erik Tauvani Somae, kader ideologis Buya yang selalu menemani Buya selama perjalanan hidupnya. Erik bercerita pada ranah yang lebih ringan, menceritakan kehidupan Buya sebagai tokoh besar namun memilih jalan hidup yang sederhana.

Perjalanan terakhir menuju ke Serambi Buya yang terletak di Nogotirto, Sleman. Serambi Buya merupakan rumah Buya yang ditinggalinya selama di Yogyakarta. Kini, rumah itu dialihfungsikan sebagai tempat peninggalan Buya Syafii yang dikelola oleh Suara Muhammadiyah. Di dalamnya terdapat buku, lukisan, dan barang-barang sejarah Buya. Ridho Basri, Redaktur Majalah Suara Muhammadiyah, menyampaikan bagaimana perjalanan hidup dan keseharian Buya kala menjadi wartawan di majalah tertua di Indonesia itu.

Terakhir, peserta diberi seminar kepenulisan oleh penulis nasional, Iqbal Aji Daryono. Peserta diberikan materi terkait bagaimana menulis dengan baik dan benar, dengan penggambaran yang jelas dan terperinci. Seminar kepenulisan ini diadakan selain untuk membuka wawasan dan melatih menulis, yaitu sebagai kewajiban peserta untuk membuat tulisan yang nantinya akan dibuat buku dan diterbitkan.

Ketua Panitia, Sidiq menyampaikan acara ini diadakan dengan tujuan untuk mengenang satu tahun meninggalnya Buya Syafii dan yang lebih penting adalah meneruskan serta mewujudkan cita-cita dan pemikiran Buya Syafii yang melintas batas itu. Dan sasaran peserta adalah pelajar dan mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat membuat bangsa lebih baik.

Direktur Program MAARIF Institute, Moh. Shofan, berharap kegiatan ini bisa memberi refleksi dan pencerahan bagi peserta. “Kami berharap para peserta mampu merefleksikan perjalanan hidup dan melanjutkan cita-citanya di masa depan,” pungkasnya.

Penguatan Pendidikan untuk Menjaga Kebinekaan

Oleh: Moh Shofan, Direktur Program MAARIF Institute

DALAM sebuah acara refleksi kebangsaan bertajuk Spirit Guru Bangsa—Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii—dalam Aspek Bernegara Masa Kini yang diselenggarakan Jaringan Gusdurian, Nurcholis Madjid Society, dan Maarif Institute di Djakarta Theater, beberapa waktu lalu, saya—salah satu di antara narasumber lain, seperti Ulil Abshar Abdalla, Alissa Wahid, dan Musdah Mulia—menyampaikan apa yang menjadi kekhawatiran Buya Syafii, yaitu jika kita tidak hati-hati dan gagal mengelola kebinekaan Indonesia yang kaya ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa bangsa ini akan masuk museum sejarah pada suatu hari.

Kegelisahan Buya Syafii di atas—dan pada hakikatnya juga menjadi kegelisahan dua sahabat dekatnya: Cak Nur dan Gus Dur—selalu disampaikan berulang-ulang saat melihat ada masalah yang tidak beres di negerinya. Bagi Buya Syafii, di bumi Indonesia, setiap elemen masyarakat dan bangsa harus mendapat perlakuan yang setara tanpa membedakan latar belakang etnik, budaya, atau agama.

Buya Syafii selalu menegaskan pentingnya anak-anak bangsa untuk menjalin persaudaraan, bekerja sama dengan berbagai pihak, baik intra maupun antaragama, untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Mengapa anak muda? Karena dalam beberapa tahun terakhir ini, ada kecenderungan sikap intoleran dan segregatif di kalangan anak-anak muda sebagai agen perubahan yang semestinya dapat berperan aktif dalam mempromosikan toleransi agama, toleransi budaya, toleransi politik, serta mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dan hak asasi manusia. Dari sejumlah isu-isu terkait, tampaknya isu toleransi beragama dan toleransi politik yang senantiasa berpotensi menggerus kohesi kebangsaan kita. Persoalan itu merambah pada sendi-sendi kehidupan, tidak terkecuali pendidikan.

Fenomena intoleransi

Sejumlah penelitian mengonfirmasi sikap keterbukaan dan penghargaan terhadap perbedaan, termasuk terhadap kelompok minoritas dan marginal, serta aktor-aktor pendidikan kita masih lemah (PPIM, 2017, 2018; Wahid Institute, 2019). Di ranah pendidikan tinggi, misalnya, sejumlah studi menunjukkan merebaknya ekstremisme di kalangan perguruan tinggi (Setara Institute, 2019); kegiatan keagamaan di lingkungan kampus mendorong tumbuh suburnya pandangan keagamaan yang eksklusif (CISForm, 2018).

Sementara itu, survei yang dilakukan INFID dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (UI) tentang sikap dan pandangan generasi Z dan milenial di Indonesia terhadap toleransi, kebinekaan, dan kebebasan beragama di 18 provinsi pada Agustus–September 2021, menunjukkan siswa dan mahasiswa merasa bahwa pendidikan agama memiliki porsi yang besar dalam memengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain.

Di sisi lain, media sosial juga dapat bermanifestasi sebagai media intoleran dan ekspresi radikal. Media sosial menjadi platform utama dalam penyebaran konten yang mengarah pada tindakan intoleransi, termasuk ujaran kebencian dan hoaks (Burhanuddin et al, 2021). Sejak 2015 intolerasi dan radikalisme agama di Indonesia semakin menguat yang ditandai dengan menguatnya narasi-narasi negatif dan ujaran kebencian di media mengenai sentimen primordial keagamaan (George, 2016). Hasil survei yang dilakukan Mastel pada 2019 mengungkapkan hoaks terkait dengan SARA menduduki posisi kedua setelah hoaks mengenai isu politik (Kuntarto et al, 2021).

Tingginya kasus intoleransi di sejumlah instansi pendidikan, maraknya saling hujat di media sosial (medsos) menjadi cermin rendahnya tingkat toleransi masyarakat. Sikap intoleransi itu tidak hanya terjadi pada level masyarakat mayoritas, tetapi juga tumbuh subur pada masyarakat minoritas.

Bahkan, kasus terbaru yang terjadi di kawasan Pasir Putih Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, yakni penelanjangan dan penceburan ke laut terhadap dua perempuan yang diduga sebagai pemandu karaoke—sumber berita lain mengungkap bahwa keduanya hanya pengunjung yang datang bersama teman temannya—menambah rentetan panjang kasus kekerasan terhadap perempuan yang beririsan dengan moralitas keagamaan.

Pandangan keagamaan yang eksklusif, absolutis, merasa paling benar dalam memahami sesuatu, dan melakukan hal yang bertentangan dengan arus utama seolah menjadi kewajaran di lingkungan masyarakat kita.

Benar-benar sebuah kemalangan bahwa di abad ke-21, kita masih harus menyaksikan kekejian seperti ini. Betapa doktrin keagamaan sangat berpotensi menjadi alat legitimasi tindakan kekerasan dan dalam batas yang paling ekstrem ialah berani menempuh jalan ekstrem seperti mengakhiri hidup demi membela ajarannya.

Kekerasan demi kekerasan itu tidak hanya dapat mengganggu kebebasan umat beragama dalam menunaikan ajaran agamanya, tetapi juga dapat mencederai dan menodai sendi-sendi ajaran agama itu sendiri. Keadaan itu pada gilirannya akan menghancurkan hak-hak heterogenitas (keragaman) dan memorak-porandakan kesatuan bangsa.

Berperang atas nama agama, menurut Buya Syafii, ialah sebuah bentuk ‘teologi maut’ yang dapat memonopoli kebenaran terhadap kelompok lain. Cara beragama seperti itu merupakan pengkhianatan terhadap kitab sucinya yang pada hakikatnya berkhianat pada nilai nilai kemanusiaan.

Penguatan pendidikan toleransi dan kebinekaan

Kita berharap akan hadirnya intelektual-intelektual organik dan tokoh-tokoh agama yang berani menyerukan agar tiap-tiap umat beragama memiliki cara beragama yang inklusif, mengajak kembali ke agama autentik, yakni modus keberagamaan yang tidak sekadar bersetia dengan doktrin skriptural yang statis, tetapi juga sebuah iman yang hidup dan menghidupi kemanusiaan universal untuk mewujudkan sistem kehidupan yang berkeadilan, berkesetaraan, dan menciptakan kehidupan yang manusiawi.

Habib Ali al-Jufri, dalam bukunya berjudul Al-Insaniyyah Qabl at-Tadayyun (Kemanusiaan sebelum Keberagamaan) menjelaskan, agama dan kemanusiaan pasti sejalan mengingat misi utama agama ialah kemanusiaan itu sendiri. Agama-agama Tuhan diturunkan dengan misi yang sama, yaitu untuk menjaga dan mengelola alam semesta serta memperbaiki keadaan para penghuninya, terutama umat manusia. Sebuah agama dikatakan agama karena ia memuat seperangkat ajaran (keyakinan) dan perbuatan yang mengantarkan pemeluknya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Orang yang menghormati jati diri setiap agama pasti tidak akan mengatakan semua agama ialah sama. Setiap agama tentu memiliki perbedaan. Setiap agama mempunyai pemahaman dan konsepsi sendiri-sendiri. Seperti dikatakan dalam kaidah ushul: al-ashl fi al-‘ibadah al-ittiba’. Namun, dalam hal yang berkaitan dengan etika dan moral, seperti kasih sayang, toleransi, perdamaian, keadilan, kesetaraan, dan persamaan hak merupakan ajaran yang diutamakan semua agama.

Nilai-nilai tersebut bisa diaplikasikan dalam konteks sosial untuk membangun kebersamaan dan kesepahaman. Dari sini kita berharap semoga masa depan umat manusia bisa lebih menjanjikan bagi datangnya era baru yang sejahtera, damai, dan tanpa prasangka dengan berpijak pada nilai-nilai moral dan spiritual yang mengikat dalam etika global.

Pendidikan toleransi dan kebinekaan yang memiliki prinsip menghargai perbedaan, menyemai keragaman, dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan sejatinya menjadi budaya di sekolah. Lembaga pendidikan ialah media yang paling tepat untuk mereparasi mindset seseorang. Guru punya posisi strategis dan punya peran penting dalam pembentukan nilai-nilai, pandangan, serta pemikiran siswa. Sejauh ini para guru agama masih jauh dari memainkan peran itu.

Pendidikan agama yang seharusnya diarahkan menjadi media penyadaran umat, pada kenyataannya sampai saat ini masih memelihara kesan eksklusivitas. Itu sehingga akan tumbuh pemahaman yang tidak inklusif, harmonisasi agama-agama di tengah kehidupan masyarakat tidak dapat terwujud. Kesadaran seperti itu niscaya akan menghasilkan corak paradigma beragama yang rigid dan tidak toleran.

Untuk itu, diperlukan adanya upaya-upaya untuk mengubah paradigma pendidikan yang eksklusif menuju paradigma pendidikan agama yang toleran dan inklusif. Model pengajaran agama yang hanya menekankan kebenaran agamanya mau tidak mau harus ‘dibongkar ulang’. Itu karena cara pemahaman teologi yang eksklusif dan intoleran pada gilirannya akan dapat merusak harmonisasi agama-agama serta menghilangkan sikap untuk saling menghargai kebenaran dari agama lain.

Dalam pendidikan toleransi, guru bisa menggunakan beragam metode: ceramah, diskusi, dan tanya jawab dengan menyajikan gambar-gambar atau video-video terkait dengan permasalahan toleransi, seperti kasus penyegelan, perusakan tempat ibadah, pengusiran terhadap kelompok tertentu yang berbeda keyakinan. Dengan memakai beragam metode dan menyajikan data-data pelanggaran kebebasan beragama, peserta didik akan terlatih dan mampu berpikir secara kritis.

Guru harus punya cara dan kreativitas untuk menanamkan nilai toleransi kepada peserta didik agar bisa menghargai perbedaan pendapat serta tidak mudah terjebak pada perdebatan normativitas dan sakralitas. Dengan demikian, siswa diharapkan mampu untuk melakukan pengamatan serta sikap apa saja yang perlu dikembangkan dalam ruang-ruang kebinekaan.

Dengan memahami kebinekaan sebagai sebuah kenyataan hidup, yakni setiap orang harus berusaha sampai sikap saling memahami satu sama lain, serta memberikan implikasi positif bagi para pemeluk agama untuk saling berlomba melakukan yang terbaik sesuai dengan doktrin ajaran masing-masing, pendidikan toleransi yang merupakan salah satu usaha dalam mewujudkan sustainable development goals (SDGs) yaitu, pendidikan bermutu akan terwujud dengan baik.

Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/575346/penguatan-pendidikan-untuk-menjaga-kebinekaan

MAARIF Institute: Melarang Shalat Ied, Melanggar Konstitusi

Siapa pun, tidak usah sebut nama, kepala daerah yang melarang, atau tidak mengizinkan shalat Ied pada hari Jumat, 21 April 2023, itu jelas merupakan bentuk pelanggaran terhadap konstitusi.

Apakah termasuk mereka yang melarang penggunaan fasilitas umum untuk shalat Ied? Jawabannya iya. Bahkan termasuk pelarangan penggunaan fasilitas negara. Karena fasilitas negara itu pada hakikatnya milik rakyat. Pejabat negara bisa menggunakan fasilitas negara karena mendapat mandat dari rakyat. Kalau ada pejabat negara melarang rakyat shalat Ied menggunakan fasilitas negara maka pejabat itu, selain melanggar konstitusi, juga mengkhianati mandat yang telah diterimamnya dari rakyat.

Oleh karena itu pula, kami mengapresiasi pejabat negara yang memberikan fasilitas kepada umat Islam untuk melaksanakan shalat Ied, meskipun mungkin waktunya tidak sama dengan yang ditetapkan pemerintah. Kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta beribadah sesuai agama dan keyakinannya merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi UUD NRI 1945 Pasal 28E ayat (1) dan Pasal 29 ayat (2). Hak dan jaminan ini tidak berkurang sedikit pun kadar dan substansinya dalam kondisi apa pun.

MAARIF INSTITUTE DORONG KEMENDIKBUDRISTEK BERTINDAK TEGAS DALAM KASUS UNIVERSITAS TEUKU UMAR

Jakarta – MAARIF Institute. Pada 7 April 2023, DPM Universitas Teuku Umar (UTU) Meureubo Aceh Barat, melalui akun resmi Instagram memosting ucapan selamat memperingat Jumat Agung bagi umat Kristiani. Flyer dalam postingan itu kemudian tersebar dan mendapatkan protes dari alumni yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Universitas Teuku Umar (IKA UTU). Pada hari yang sama, akun dpm.utu memosting surat bernomor 01/A/DPM-UTU/IV/2023 terkait permintaan maaf atas postingan ucapan Jumat Agung.

Merespons hal itu, Rektor UTU, Dr. Ishak Hasan, mengadakan pertemuan dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat dan Alumni UTU. Hasil pertemuan itu berupa pemecatan perwakilan DPM UTU pada 10 April 2023. Tak hanya itu, mahasiswa tersebut disyahadatkan ulang karena dipandang telah murtad secara perbuatan. Mereka beranggapan bahwa ucapan selamat itu bertentangan dengan ajaran Islam. Tak berhenti sampai di sana, pengurus DPM juga diminta untuk membuat video permohonan maaf, serta salah satu di antara mereka digunduli.
Menanggapi hukuman tersebut, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali, mengungkapkan bahwa menggunduli mahasiswa merupakan cara merendahkan hak asasi manusia. Terlebih, ucapan hari raya keagamaan merupakan salah satu ranah khilafiah dalam Islam yang harusnya bisa disikapi dengan lebih bijaksana.

“Kalau mau kita lihat secara jujur, kejadian ini menambah daftar panjang praktik buruk dalam dunia Pendidikan. Kampus yang harusnya menjadi tempat persemaian kebinekaan malah menjadi ruang yang sangat sempit. Ironisnya, hal itu dilakukan oleh UTU yang merupakan universitas negeri. Jelas ini bertentangan dengan semangat Kemendikbudristek untuk menghapuskan tiga dosa besar dalam dunia Pendidikan, di mana intoleransi menjadi salah satunya,” ujar Rohim.

Rohim mendesak agar Kemendikbudristek bertindak tegas menanggapi kejadian ini. Pemecatan perwakilan DPM UTU merupakan bentuk kesewenang-wenangan Rektor. Padahal konstitusi menjamin kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. Terlebih, kejadian ini bertentangan dengan kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka yang sedang didorong Kementerian yang dinahkodai Nadiem Makarim.

Hal senada disampaikan oleh Moh. Shofan, Direktur Program MAARIF Institute. Menurutnya, UTU tidak menghormati hak asasi manusia. Padahal civitas akademika di dalamnya berasal dari berbagai suku dan agama. “Sejatinya, kebebasan berekspresi dan kebebasan beragama merupakan hak asasi manusia. Ucapan selamat seperti itu merupakan wujud toleransi antarumat beragama. Bahkan mungkin menjadi wujud sebenarnya dari Pancasila dalam perbuatan seperti yang selama ini diperjuangkan Buya Syafii Maarif,” tegasnya.