Pendidikan Pranikah : Perwujudan Masyarakat Beradab

Benni Setiawan

Nikah itu bukan sekadar urusan seksual (hubungan suami-istri yang halal). Nikah merupakan perkara berat, dan tidak boleh dibuat main-main. Sebagai perjanjian agung (mistaqan qhalidza), nikah perlu dipersiapkan agar terwujud tatanan masyarakat yang beradab. Bagaimana mempersiapkan pernikahan agar keadaban itu mewujud?

Salah satu tahapan penting adalah persiapan sebelum pernikahan (pranikah). Tahapan ini seringkali hanya dimaknai dalam kerangka perayaan pernikahan. Padahal ada yang lebih penting dari itu yaitu mempersiapan mental mempelai laki-laki dan perempuan.

Dekontruksi Tafsir

Mental itu terkait dengan sikap hidup. Sikap menghargai orang lain. Sikap itu terbangun dari alam bawah sadar yang menggerakkan alam sadar dan tindakan. Sikap mental yang perlu dipahami pertama oleh seorang laki-laki adalah perempuan bukan tulang rusuk yang bengkok. Ini penting agar laki-laki tidak menganggap perempuan sebagai makhluk kedua (the second sex).

Tafsir tulang rusuk yang bengkok dan atau tulang rusuk yang hilang dapat menjadi masalah dalam tindakan suatu saat nanti. Artinya, jika seorang laki-laki masih menganggap perempuan adalah “bagian darinya” yang hilang, maka dapat mengakibatkan masalah di kemudian hari.

Peristiwa kekerasan terhadap perempuan yang sering menjadi sorotan kamera wartawan terjadi karena laki-laki belum mempunyai tafsir yang benar tentang perempuan. Laki-laki masih menganggap dirinya super dan perempuan minor. Anggapan itu perlu didekontruksi agar tatanan di dalam rumah tangga menjadi baik, saling menghormati, tanpa harus ada yang direndahkan.

Dekontruksi tafsir ini memang tidak mudah, namun dalam proses pranikah pemahaman itu sangat penting. Meletakkan fondasi pemahaman yang benar menjadi kunci keberhasilan rumah tangga dan keluarga.

Seorang laki-laki perlu memandang perempuan sebagai makhluk ciptaan Allah, sebagaimana dirinya. Sebagai ciptaan, mereka mempunyai kedudukan dan posisi yang sama dalam membangun keadaban.

Kedudukan dan posisi yang sama/setara inilah yang dapat mendorong rumah tangga menjadi fondasi keutamaan bangsa dan negara. Rumah tangga akan menjadi sebuah sumbu penting dalam proses kemajuan bangsa dan negara. Rumah tangga akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anak bangsa kelak.

Setelah rampung terkait dekontruksi pemahaman tafsir relasi, tahapan pranikah kedua adalah menguatkan/menegaskan bahwa pernikahan itu tidak sekadar hubungan dua insan yang sedang kasmaran. Namun, pernikahan itu perlu berdamai dengan keluarga besar laki-laki dan perempuan. Mengapa berdamai? Pasalnya, menikah itu tidak selamanya urusan pribadi, namun terkait dengan orang lain, dalam hal ini adalah keluarga besar.

Berdamai itu berarti perlu seorang calon mempelai mempelajari dan memahami karakter keluarga masing-masing. Pemahaman global tentunya cukup untuk dapat berkomunikasi dan membangun hubungan yang baik. Hancurnya sebuah pernikahan seringkali dilatarbelakangi oleh konflik. Konflik rumah tangga akan semakin menjadi saat ada faktor pemicu dari keluarga. Maka guna meminimalisir konflik yang berujung pada masalah-masalah yang tidak diinginkan, maka berdamai dengan keluarga menjadi sebuah keniscayaan.

pranikah infografik

Dialog Saling Menyapa

Selanjutnya pendidikan pranikah yang penting untuk dipahami kedua mempelai adalah tidak ada sekolah menjadi suami atau istri. Menjadi suami dan istriserta nanti menjadi ayah/ibu itu proses sepanjang hayat. Maka, belajar terus menurus menjadi sebuah kewajiban. Dalam proses pernikahan, suami dan istri perlu terus membangun dialog yang saling menyapa. Artinya, dialog itu perlu didasari cinta sebagaimana mereka memutuskan untuk menikah. Cinta yang tulus, saling menghargai, dan saling mendukung satu dan yang lain. Cinta itulah yang akan menyemai keraguan menjadi keteguhan; kekurangan menjadi kekuatan; dan kelebihan menjadi anugerah.

Cinta sebagai anugerah Tuhan perlu dirawat oleh semua. Tanpa cinta pernikahan hanya akan melahirkan masalah. Cinta itu perlu dirawat sebagaimana mereka saling mengenal untuk pertama kalinya. Cinta itulah yang akan menguatkan keyakinan bahwa dia adalah pilihan terbaik Tuhan untuk diriku.

Tahapan di atas tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, perlu proses panjang. Namun, anggitan pemerintah yang ingin membekali calon pengantin sebelum memasuki mahligai pernikahan perlu didukung. Artinya, Kantor Urusan Agama (KUA) dan lembaga terkait perlu mempersiapkan diri dan turut serta dalam mempersiapkan bangunan pernikahan yang kuat. Kursus singkat jelang pernikahan menjadi salah satu sarana untuk memahamkan bahwa pernikahan itu bukan perkara yang mudah. Pernikahan perlu dipersiapkan dengan baik agar semua berjalan sesuai dengan harapan.

Pendidikan pranikah yang diselenggarakan oleh pemerintah pun bukan sekadar kursus formalitas. Namun, perlu dirancang agar hasilnya maksimal. Mendidik generasi muda jelang pernikahan menjadi salah satu investasi panjang membangun keadaban bangsa. Pasalnya, dari merekalah akan lahir generasi yang akan memimpin bangsa di masa depan.

Pada akhirnya, pendidikan pranikah menjadi fondasi utama sebuah bangsa menuju keadaban. Fondasi itu perlu dirancang dan dibangun sebagai ikhtiar bersama mewujudkan tatanan rumah tangga sakinah, mawadah, warahma. Sebuah tatanan rumah tangga penuh cinta, kehangatan, dan kegembiraan. Wallahu a’lam.

Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute.
Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dan Rahma.id

Pasangan: Bertukar Peran dan Saling Memberi Kesempatan

Lya Fahmi

“Do you know what your mother wanted to be when she was young?”

Pertanyaan ini menjadi caption unggahan media sosial The Jakarta Post tentang ulasan film Kim Ji Young, Born 1982. Saya merasa sudah banyak yang tahu kalau film ini menyinggung budaya patriarki yang meminggirkan perempuan, selain isu kesehatan mental yang mereka usung. Diakui atau tidak, perempuan memang kerap menghentikan langkah jika urusannya soal mengejar cita-cita.

Peran Perempuan dan Laki-Laki dalam Keluarga

Dalam ulasan film itu, budaya patriarki yang membebankan banyak tanggung jawab domestik hanya pada perempuan dianggap sebagai penyebab utama terhentinya langkah perempuan dalam meraih cita-cita. Perempuan yang berperan sebagai penanggungjawab utama pendidikan anak, pelayanan pada suami, dan kenyamanan rumah tangga, sering kali kehabisan waktu dan energi untuk mencapai keinginan pribadi.

Sebaliknya, laki-laki dianggap sebagai penanggung jawab utama pemenuhan kebutuhan keluarga. Mencari nafkah dan menghidupi keluarga adalah tugas utama suami. Sebagai pencari nafkah, tentulah suami yang bekerja. Itulah mengapa dahulu dalam ujian Bahasa Indonesia, jawaban C. Bekerja adalah jawaban yang paling benar dari melengkapi kalimat, “Siang hari ayahku pergi…”

Laki-laki bekerja dan tampak eksis di ranah publik. Tapi, bekerja tidak sama dengan mengaktualisasikan diri. Sangat mungkin laki-laki bekerja semata-mata demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sangat mungkin laki-laki membenci pekerjaannya, tapi merasa tak punya pilihan karena memiliki pekerjaan adalah harga diri seorang laki-laki. Sangat mungkin laki-laki ingin menjadi yang lain dari apa yang ia kerjakan hari ini.

Dengan logika yang sama, bukankah juga bisa kita ajukan pertanyaan begini: Apakah ayahmu sekaang menjadi seseorang yang ia cita-citakan dulu?

Ya, aku tahu lebih mudah bagi laki-laki untuk mewujudkan cita-citanya. Tapi, tidak bisa juga kita abaikan bahwa ada laki-laki yang cita-citanya mentok sebatas punya uang dan bisa menghidupi keluarga. Bukankah laki-laki yang begini sama menyedihkannya dengan perempuan yang tidak bisa lagi memikirkan hal lain selain mengurus rumah tangga?

Jika kita mendorong komunitas untuk memberi kesempatan bagi perempuan, bukankah kita juga perlu mendorong komunitas untuk memberi kesempatan pada laki-laki agar bisa menjadi dirinya sendiri? Menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut dan kekhawatiran dihakimi.

Suami Memberi Kesempatan Istri untuk Lanjut Studi

Saya ingin sedikit menceritakan bagaimana upaya-upaya saling memberi kesempatan itu berlaku dalam keluarga kami. Terus terang, saling memberi kesempatan tak semudah yang dikatakan. Proses mental yang harus kulalui amat panjang dan melelahkan. Proses ini masih terus berlanjut dan saya anggap penting untuk direfleksikan.

Salah satu benefit menjadi isteri Pak Luqman adalah diberi keleluasaan dalam proses mengejar cita-cita. Tidak cuma dibebaskan, tetapi juga didorong untuk menggapai cita-cita tersebut. Aku masih ingat saat tiba-tiba ia berkata, “Setelah Bilqis disapih, d’ya lanjut S2, ya.”

Enam bulan setelah dia mengatakan itu, saya ke Jogja untuk mengikuti tes AcEPT dan PAPs yang menjadi persyaratan mendaftar S2 di UGM. Beberapa bulan setelahnya, aku resmi terdaftar sebagai mahasiswa baru di program S2 Psikologi Profesi bidang klinis di almamater yang sama saat S1.

Masa S2 adalah masa-masa hidup prihatin. Prihatin buat kami semua, baik secara ekonomi maupun secara emosi. SPP S2 profesi terhitung tinggi, pada waktu itu besarannya 11 juta / semester. Yang dibiayai Pak Luqman tidak hanya aku, tapi juga SPP PAUD Bilqis yang biaya per semesternya nyaris setengah dari besaran SPP ku. Iya, Pak Luqman menanggung semua tuition fee dan living cost kami selama sekolah di Jogja.

Perjuangan Studi sambil Mengasuh Anak

Secara emosi, lanjut S2 itu berat karena kami harus hidup terpisah. Dan, hal yang baru kuketahui setelah menjalani S2, nyambi sekolah sambil mengasuh anak usia dua tahun itu tak semudah yang kukira. Ada banyak drama yang terjadi antara aku dan Bilqis, tapi intinya beban emosi menjalani S2 sambil membawa anak itu di luar perkiraanku sebelumnya.

Syukurnya, aku memiliki support system yang cukup bisa diandalkan. Ada adikku di Jogja, ada orang tua yang sanggup bolak-balik Riau-Jogja demi mendukungku menyelesaikan S2, dan ada teman-teman kuliah yang mau membantu merawat Bilqis (Bilqis itu sampai pernah dua kali mandi sore di kampus dan dimandikan oleh temanku).

Kadang, aku masih nggak habis pikir bagaimana Pak Luqman mau bertaruh banyak hal untuk mendukung pendidikanku. Pasti berat tinggal sendirian di hutan Kalimantan tanpa keluarga. Selain itu, dia harus super berhemat untuk membiayai pendidikan kami dan biaya hidupnya sendiri. Setelah aku lulus, Pak Luqman baru cerita kalo ada masa di mana ia tiap hari hanya makan telur demi kepentingan berhemat itu.

Sulit membayangkan bagaimana jadinya aku sekarang tanpa langkah drastis yang ia putuskan bertahun-tahun lalu. Tanpa dukungan penuh dari Pak Luqman, bahkan Tuan dan Puan pun tak kan pernah menikmati tulisan-tulisanku seperti sekarang. Harus diakui, proses selama menjalani S2 berpengaruh signifikan terhadap apa adanya diriku saat ini.

Setelah aku lulus S2 dan menjadi seorang psikolog, Pak Luqman mengambil keputusan drastis lainnya. Ia memutuskan resign dari pekerjaan dan memulai hidup yang diidam-idamkannya: berwirausaha. Hmm, abot lho gaes gaji bojomu dua digit per bulan, trus kemudian ora gajian meneh. So, hidup ini cuma soal pindah dari satu hidup prihatin ke hidup prihatin lainnya.

Memberi Kesempatan Suami Berwirausaha

Sebagai konsekuensi dari resign-nya Pak Luqman adalah kami harus menanggung biaya hidup secara bersama-sama. Jika sebelumnya semua kebutuhan dipenuhi oleh Pak Luqman, maka terhitung sejak ia resign aku pun bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan itu. Soal pekerjaan domestik, akhirnya kami kerjakan juga bersama-sama karena kami tak lagi menggunakan asisten rumah tangga.

Singkat kata, Pak Luqman memulai usahanya dan aku memulai karir sebagai psikolog. Tapi, ada sebuah pengalaman unik sesaat setelah menjalani pola relasi yang baru ini. Meskipun aku orang yang pro-keadilan gender, tapi ternyata aku tetap sambat ketika bojoku bukan penanggung jawab utama nafkah keluarga. Aku yang pro-feminis ini, ternyata tetap ingin suamiku yang bekerja dan aku ongkang-ongkang kaki saja.

Maka, hal terberat yang kurasakan selama masa transisi adalah bayangan-bayangan kehidupan kami saat suami masih bekerja jauh lebih nyaman daripada saat suami memulai wirausaha. Namun di saat yang sama, aku juga mengabaikan fakta bahwa berbagai privilege yang melekat pada diriku hari ini berawal dari kerelaan suami untuk mengurangi banyak kenyamanannya. Jadi, memang ada masa di mana aku ingin enaknya saja.

Butuh waktu yang tidak sebentar bagi kami untuk mencapai titik kesetimbangan psikologis dan finansial. Meskipun pada awalnya terasa amat berat, namun makin lama kami semua beradaptasi. Aku mulai menerima pilihan suami, apalagi selama dua tahun ia konsisten dan persisten dengan pilihannya sendiri. Apakah kemudian ia kembali menjadi sumber utama nafkah keluarga, tampaknya hanya soal waktu saja.

Sebenarnya, tak penting siapa yang menjadi sumber nafkah utama. Yang terpenting adalah masing-masing pihak punya mental mandiri dan tidak manja. Cita-cita rumah tangga kami adalah jika salah satu pihak meninggal dunia, maka tidak boleh ada pihak lain yang terguncang secara ekonomi. Kalau terguncang secara emosi, ya itu sudah pasti.

Laki-laki dan Perempuan Memiliki Kesempatan yang Sama untuk Meraih Keinginannya

Belakangan, aku mengembangkan sebuah keyakinan bahwa kesempatan adalah hak semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak hanya perempuan yang bisa terkungkung oleh patriarki, tapi juga laki-laki. Atas nama harga diri dalam budaya patriarki, laki-laki kadang juga melupakan dirinya sendiri.

Pak Luqman memberiku banyak kesempatan agar menjadi apa yang aku inginkan, aku pun mesti memberinya kesempatan untuk menjalani apa yang ia yakini. Mengurangi sedikit kenyamanan rasanya tidak apa-apa selama bisa menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri dan happy adalah kunci agar kita merasa pernikahan sebagai sebuah jebakan.

Penulis, psikolog, dan influencer

Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dan Rahma.id

Narasi Sederhana Perempuan dalam Geliat Ekonomi

Dyah Pikanthi

Narasi tentang perempuan tidak akan pernah berhenti dari koma menuju titik. Bagaimana geliat hidup perempuan dari ranah domestik maupun publik selalu menjadi magnet kehidupan yang menyapa perempuan dalam ruang aktivitasnya. Perempuan dengan ragam potensi dan kompetensi yang dimiliki menegaskan bahwa ada power yang menguatkan meskipun di sisi lain masih ditemui keresahan atas aktualisasi diri yang belum maksimal.

Bicara tentang perempuan pastinya bicara tentang generasi. Menyoroti generasi berarti akan menggali potensi terdalam dari aset terbaik suatu generasi. Bagaimana generasi perempuan terlahir, terdidik dan berkembang dari rahim perempuan dan perempuan akan melahirkan generasi berikutnya dan terus akan membangun suatu peradaban. Perempuan adalah madrasah pertama dan utama dalam penguatan lahirnya generasi yang dimulai dari keluarga.  Inilah awal dari kekuatan perempuan sebagai pilar lahirnya generasi berkualitas.

Refleksi dari perempuan untuk perempuan menjadi bahasan hangat, sebab banyak alur yang menyoroti perempuan sebagai makhluk yang multi talent di manapun keberadaannya bicara tentang potensi dan kompetensi yang dimiliki. Termasuk bagaimana kekuatan ekonomi perempuan yang menggeliat dimulai dari keluarga, dikuatkan lagi dengan menebar manfaat untuk masyarakat bahkan sumbangsihnya  bagi negara. Semua ragam karya disentuh oleh tangan lembut perempuan.

Dari Zona Domestik Menuju Zona Publik

Sebagai refleksi terkait kekuatan perempuan dalam bidang ekonomi, peran perempuan dikuatkan saat perempuan memilih keluar dari zona domestik menuju publik. Di mana pergeseran mulai terasa dengan potensi yang beragam dan dimiliki oleh perempuan.

Terutama saat perempuan memilih ikut mengambil peran dalam menguatkan ekonomi keluarga dengan bekerja atau aktualisasi diri.  Begitu nyata saat ketahanan pangan dalam keluarga sangat ditentukan oleh bagaimana perempuannya dalam bergerak.

Perempuan mampu mengatur biaya-biaya yang menjadi kebutuhan keluarga maupun di lingkungan publik. Ada biaya operasional, biaya saving maupun biaya insidental, perempuan dengan kekuatannya mengambil peran penting sebagai manajer atau pengelola dalam rumah tangga.

Begitupun dalam hal publik, ragam upaya dilakukan perempuan dalam membuka kran jaringan/relasi dalam berbisnis atau berdagang. Pemberdayaan wirausaha perempuan melalui industri rumah tangga (UKM) diyakini mampu meningkatkan kepercayaan diri perempuan sebagai penggerak kekuatan ekonomi keluarga.

Meskipun pendapat berbeda dikemukakan oleh Davidson dan Burke (2004) yang menyatakan bahwa wirausaha perempuan masih menjadi kaum minoritas bagi kalangan wirausaha. Pendapat ini bersumber dari kondisi kaum perempuan yang masih menjadi kaum minoritas dalam geliat wirausaha salah satunya adalah hambatan yang dihadapi dalam memulai atau menjalankan suatu usaha. Dalam memulai usaha perempuan masih terbatas terkait modal.

Realitasnya dana bagi perempuan pengusaha masih belum optimal dalam mendapatkan akses terutama bagi perempuan pegiat usaha yang berada di daerah terpencil. Namun kondisi ini tidak menjadikan perempuan tidak bergerak. Justru perempuan semakin mendapat tantangan lebih dalam tertib mengatur pengelolaan keuangan dari memulai usaha dan mengantar pada pos-pos operasionalnya. Menata anggaran, mengevaluasi dana dan menertibkan pengelolaan. Perempuan senantiasa terus belajar dan menjadi pembelajar.

Perempuan Memberi Warna dan Inovasi dalam Perekonomian

World Bank (2011) menyebutkan bahwa di hampir semua negara, perempuan lebih mungkin untuk terlibat dalam kegiatan produktivitas yang belum maksimal dibandingkan laki-laki. Akibat dari perbedaan-perbedaan peran dalam pekerjaan perempuan dan laki-laki  menyebabkan kesenjangan dan salah satu indikatornya adalah pendidikan dan keterampilan.

Kondisi tersebut sebenarnya terpatahkan dengan realitas perempuan saat ini yang memiliki pendidikan dan ketrampilan hidup sudah sama kualitasnya dengan laki-laki. Di mana perempuan berpendidikan tinggi saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi kelangsungan generasinya (QS Al Mujadalah:11).

Dari perempuan inilah kecakapan ilmu dan kompetensi yang dimiliki perempuan mampu memberikan warna terkait inovasi dan kepekaannya dalam menyikapi dan menjawab tantangan ekonomi yang semakin berkembang. Seperti inovasi dalam merangkai produk bernilai jual tinggi dan memiliki kekhasan.

Alasan lain yang membatasi ruang lingkup perempuan dalam usaha yaitu salah satu industri yang banyak digeluti oleh wirausaha perempuan adalah industri rumahan. Kondisi inipun terpatahkan dengan ragam kreativitas dan kemandirian yang diciptakan oleh perempuan. Contohnya dalam geliat tumbuh kembang koperasi misalnya sebagai satu unit perekonomian masyarakat, perempuan turut aktif.

Koperasi yang ada saat ini mampu menghadirkan sisi produktivitas perempuan yakni melalui koperasi perempuan maupun kegiatan lain di masyarakat. Program Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang sangat bermanfaat dalam aktualisasi diri perempuan. Selain itu ada pula gambaran keadaaan mayoritas kategori usaha yang dijalankan oleh wirausaha perempuan di Indonesia khususnya adalah usaha yang berkaitan dengan pangan.

Kondisi ini bukan menjadi alasan bahwa perempuan hanya mampu berkompetisi dalam kreasi pangan saja. Namun justru dari penguatan pangan inilah menjadi pilar penguat dan mata rantai ketahanan pangan yang dikuatkan dari aktualisasi diri perempuan.

Kemandirian Perempuan Menggerakan UKM/UMKM

Sungguh, kemandirian perempuan dalam mengembangkan diri dan komunitasnya dengan ragam kompetensi yang dimiliki yakni dari motivasi, sifat, sikap, pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya mampu menjadi magnet kebaikan dalam berwirausaha.

Sehingga bagi perempuan dengan ragam potensi harus dilejitkan meskipun perempuan memiliki peran ganda baik sebagai istri, ibu, dan  anak perempuan. Seperti pesan dari  Nyai A. Dahlan (Siti Walidah) istri dari pendiri Muhammadiyah KHA Dahlan sekaligus penggerak organisasi Aisyiyah berpesan kepada generasi (perempuan) bahwa urusan dapur tidak menghalangi perempuan dalam menjalankan perannya di masyarakat .

Harapan besar selalu bersama perempuan begitupun saat gerakan UKM/ UMKM digeliatkan. Hadirnya gerakan ini menjadi semangat perempuan dalam membangkitkan kemandirian ekonomi dengan wujud nyata menciptakan lapangan kerja. Kekuatan perempuan menghidupkan sektor ekonomi baik lokal ataupun daerah sudah tidak diragukan. Semoga geliat usaha perempuan senantiasa bertumbuh dan berkembang menjadi magnet kebaikan yang menguatkan perempuan dalam segenap aktivitasnya.

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya

Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dengan Rahma.id

Mencegah Stunting dengan Menyehatkan Perempuan

dr. Aslinar Sp.A.

Stunting adalah suatu kondisi di mana panjang/tinggi badan seorang anak lebih pendek dibandingkan panjang/tinggi badan anak yang lain pada umumnya (yang seusia). Penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting juga diakibatkan oleh infeksi yang berulang terjadi pada anak baik berupa penyakit infeksi menular; seperti infeksi pernafasan (pneumonia), infeksi saluran pencernaan (diare) dan lain lain. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan nantinya akan tampak saat usia anak dua tahun. Stunting saat ini menjadi masalah serius di Indonesia.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) bahwa angka stunting pada anak balita yaitu; 30,8% dan pada baduta 29,9%, menunjukkan penurunan dibandingkan Riskesdas 2013 dengan angka stunting 37,2%. Meskipun tren angka stunting mengalami penurunan, akan tetapi angka stunting kita masih berada di bawah rekomendasi WHO (yaitu di bawah 20%). Persentase stunting di Indonesia secara keseluruhan masih tergolong tinggi dan harus mendapat perhatian khusus.

Stunting berarti pendek tapi tidak semua anak pendek adalah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak. Kondisi ini berefek jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia. Kekurangan gizi sejak dari dalam kandungan bisa menimbulkan gangguan pada pertumbuhan otak dan organ lain; yang mengakibatkan anak lebih berisiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Ada dua syarat untuk mengatakan seorang anak mengalami stunting, yakni malnutrisi dan mengalami infeksi kronis.

Stunting mempengaruhi tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktivitas dan kemudian menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan.

1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK)

Oleh karenanya kita harus fokus untuk pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya atau bertambahnya angka stunting. Fokus utamanya adalah intervensi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Yang dimaksud dengan 1000 HPK adalah mulai sejak dalam kandungan selama 9 bulan, sampai anak berusia 2 tahun. Jadi 9 bulan dalam kandungan (270 hari) dan usia 2 tahun (730 hari), dengan total 1000 hari.

Salah satu sasarannya tentulah ibu hamil. Sejak hamil si ibu melakukan pemeriksaan atau ANC (antenatal care) yang rutin baik ke puskesmas, rumah sakit, bidan maupun dokter spesialis kandungan. Asupan nutrisi gizi seimbang dan lengkap untuk para ibu hamil, konsumsi rutin suplemen yang diperlukan selama hamil baik berupa asam folat maupun zat besi, dan kontrol teratur untuk mengetahui adanya faktor risiko kelahiran yang membahayakan, merupakan hal yang harus dilakukan semua ibu hamil. Asam folat sangat penting untuk mencegah risiko terjadinya kecacatan tabung saraf otak. Ibu hamil mendapat tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan untuk mencegah terjadinya anemia. Ibu hamil dengan anemia berisiko terjadi perdarahan dan kematian atau melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang disertai dengan intelektual yang rendah nantinya.

Selama hamil perlu adanya pemberian makanan tambahan, pemenuhan gizi, bahkan menysuun rencana persalinan dengan dokter atau bidan yang ahli. Ibu hamil harus memastikan dirinya mendapat nutrisi yang lengkap dengan kandungan gizi yang baik dan seimbang. Seorang ibu hamil membutuhkan 300-400 kalori tambahan setiap harinya. Kecukupan gizi bagi ibu hamil bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi ibu dan janin dan mencapai status gizi ibu hamil dalam keadaan normal. Sehingga dapat menjalani kehamilan dengan baik dan aman, membentuk jaringan untuk tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu, kemudian mengatasi permasalahan selama kehamilan, serta Ibu memperoleh energi yang cukup yang berfungsi untuk menyusui setelah kelahiran bayi

Kesehatan Perempuan Hamil Disiapkan Sejak Remaja

Mempersiapkan perempuan sehat saat hamil nantinya dimulai jauh sebelum mereka menikah. Termasuk juga mempersiapkan masa remajanya. Masa remaja merupakan peralihan masa kanak-kanak menjadi dewasa yang melibatkan perubahan berbagai aspek seperti aspek biologis, psikologis, dan sosial-budaya. WHO mendefinisikan remaja sebagai perkembangan dari saat timbulnya tanda seks sekunder hingga tercapainya pematangan seksual dan reproduksi, suatu proses pencapaian mental dan identitas dewasa, serta peralihan dari ketergantungan sosioekonomi menjadi mandiri. Secara biologis, saat seorang anak mengalami pubertas dianggap sebagai indikator awal masa remaja. Namun karena tidak adanya petanda biologis yang berarti untuk menandai berakhirnya masa remaja, maka faktor-faktor sosial, seperti pernikahan, biasanya digunakan sebagai petanda untuk memasuki masa dewasa.

Sangat penting memperhatikan kesehatan reproduksi para remaja yang menyangkut kondisi sehat reproduksi baik itu fungsi, sistem dan proses reproduksinya. Mereka harus dibekali ilmu yang cukup karena berkaitan dengan ancaman berbagai penyakit kelamin akibat hubungan atau pergaulan bebas. Bahkan ancaman kematian karena tindakan yang dilakukan tanpa pemikiran yang matang; misalnya melakukan aborsi karena sudah terjadi kehamilan di luar nikah. Maka dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Termasuk juga menghindari dan melindungi mereka terhadap berbagai ancaman kekerasan seksual.

Jadi dengan adanya persiapan kesehatan terutama kesehatan reproduksi seorang perempuan yang dimulai sejak usia remaja, dewasa menjelang menikah bahkan sampai perempuan tersebut hamil. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lahirnya generasi yang sehat dan bebas dari stunting.

Penulis adalah Ketua LLHPB PW Aisyiyah Aceh, Ketua Aceh Peduli ASI Sekretaris IDAI Aceh

Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dengan Rahma.id

Urgensi Perempuan Muslim dalam Literasi Digital

Oleh: Firly Annisa

Dunia maya atau biasa disebut cyber space dapat memberi peluang untuk mengartikulasikan politik identitas dan melakukan negosiasi. Dunia maya bahkan merekonstruksi identitas yang dianggap secara alamiah melekat pada gender tertentu, termasuk perempuan. Konstruksi gender yang sering dilekatkan pada perempuan umumnya menyoal perempuan harus bisa memasak, menikah, menjadi ibu rumah tangga, memiliki anak, hingga perempuan dianggap tidak bisa menjadi pemimpin yang baik.

Diskursus ini sering terjadi pada masyarakat yang berpegang teguh pada sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas utama. Sehingga dapat melakukan dominasi baik secara kepemilikan ekonomi, sosial bahkan moral publik. Konstruksi gender dan identitas ini sesungguhnya perlu diubah dan direkonstruksi. Salah satunya melalui teknologi internet dan media sosial khususnya, media ini dapat digunakan sebagai ruang untuk ekspresi dan reaksi diri perempuan dalam menawarkan negosiasi identitas.

Media Masih Bias Gender

Pada kenyataannya, baik media tradisional (cetak dan elektronik) dan media baru (jaringan digital dan teknologi informasi) menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran atas pesan sensitif gender. Namun sayangnya struktur kepemilikan media dan teknologi yang berbasis pada nilai-nilai partiaki justru masih mendominasi. Lagi-lagi peluang untuk menciptakan pesan-pesan adil gender masih perlu diperjuangkan. Sering ditemui perempuan justru menjadi objektifikasi pesan-pesan yang merendahkan dan menghilangkan nilai tawar pada masyarakat.

Salah satu contohnya adalah pesan-pesan kampanye menikah muda yang semakin mudah ditemui di sosial media Instagram. Kampanye ini sering menempatkan posisi perempuan yang produktif (berumur 17-30 tahun) perlu suami untuk “menguatkan” posisinya di masyarakat. Pernikahan dianggap menjadi jalan solusi untuk memberikan kehormatan terbaik bagi perempuan dengan menjadi istri dan ibu. Ajakan nikah muda tentu saja sama sekali tidak salah. Namun logika-logika yang digunakan sering sesat pikir dengan menegasikan posisi perempuan yang ideal adalah di dalam keluarga, rumah dan dalam framing kerja domestik semata. Sebaliknya ajakan menikah muda sering “melupakan dan meniadakan” posisi perempuan di ruang publik, menahan mobilitas pendidikan, sehingga artikulasi dan karya-karya individu perempuan seakan dibatasi. Jamaknya pesan seperti ini diproduksi melalui pendekatan dalil-dalil agama.

Tidak itu saja pesan-pesan body shamming pada perempuan juga sering diperlihatkan dalam postingan iklan-iklan komersial di Instagram misalnya. Menyoal tubuh perempuan yang tidak langsing dan putih dianggap kurang ideal, menjadi pintu masuk sebuah produk kecantikan dipromosikan. Perlu diketahui body shaming adalah istilah yang merujuk pada kegiatan mengkritik dan mengomentari secara negatif fisik atau tubuh diri sendiri maupun orang lain yang dianggap normal untuk dilakukan. Bahkan pelakunya sering menggunakan justifikasi “hanya becanda” sehingga tidak perlu bila sang objek perundungan merasa sensitif atau marah.

Perempuan Muslim dalam Pesan Progresif

Dalam konteks literasi digital perempuan sering mengalami ketertinggalan dalam mengakses teknologi. Studi yang dilakukan oleh Suwana dan Lily pada tahun 2017 menyebutkan kemampuan penguasaan teknologi oleh perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini karena keterbatasan pendidikan, kurangnya kesempatan dan sistem patriaki yang mengakar di Indonesia. Di lain pihak, masyarakat Indonesia mengenal teknologi internet melalui alat komunikasi telepon pintar, akibatnya penggunaan internet lebih dekat dengan aktivitas konsumsi, seperti berbelanja online, menonton drama korea, atau chat online.

Situasi ini lebih kurang ikut mendorong tersebarnya misinformasi, berita hoax dan kebencian di negara-negara berkembang. Hal ini karena kemudahan mengakses informasi hanya dalam tiga langkah read, copy-paste dan share. Sedangkan di negara maju, anak-anak dan orang dewasa mengenal internet untuk pertama kali melalui perangkat teknologi komputer yang bertujuan memproduksi karya dan kerja-kerja produktif.

Literasi digital adalah kemampuan untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat, dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif (Japelidi, 2017). Pada kenyataannya kemampuan literasi digital dapat mendorong potensi luar biasa untuk memberdayakan perempuan secara ekonomi, sosial, dan politik. Penguasaan perempuan pada teknologi internet akan mendorong mendapatkan akses pemberdayaan ekonomi perempuan, partisipasi politik dan inklusi sosial melalui inisiatif yang mendukung peningkatan produktivitas, peningkatan pendapatan, mobilisasi dan akuntabilitas.

Penguatan Literasi Digital Perempuan Muslim

Oleh karenanya perlu dilakukan penguatan literasi digital kepada perempuan. Khususnya dalam konteks perempuan Muslim. Dorongan menguasai teknologi informasi akan meningkatkan partisipasi dalam memproduksi pesan-pesan yang konstruktif dan positif. Penguasaan teknologi informasi pada perempuan Muslim juga akan mendorong “artikulasi politik” perempuan. Sebagai contoh dalam ranah politik, apabila perempuan melek digital maka ia akan mudah mendapatkan informasi mengenai calon kepala daerah atau calon legislatif yang akan dipilihnya dalam Pemilu.

Tidak itu saja, ketika perempuan yang berpendidikan agama memiliki akses teknologi ia dapat menyampaikan ceramah-ceramah agama yang anti misoginis (membenci perempuan) dalam ruang publik. Tafsir-tafsir agama yang berkeadilan gender akan semakin mudah dijumpai dalam ruang-ruang publik karena mediatisasi agama yang dilakukan dengan proporsional dan progresif. Selain itu, dalam literasi digital perempuan dapat didorong untuk memproduksi konten-konten online. Seperti menulis blog/artikel, fotografi, desain visual, sharing pengetahuan parenting atau cerita-cerita asiknya memiliki profesi di luar rumah akan dapat semakin membongkar streotipe tubuh perempuan.

Tafsir ulang terhadap identitas Muslim dapat dilakukan melalui partisipasi perempuan sendiri. Tentu perempuan juga aktif memproduksi dan mereproduksi pesan-pesan positif, konstruktif dan toleran di masyarakat. Keuntungan lain bagi perempuan untuk melek digital akan memberikan akses pada sumber-sumber ekonomi dan pendapatan untuk keluarga, memahami konteks sosial dan politik di masyarakat,. Selian itu yang paling penting adalah mendapatkan akses untuk menampilkan karya-karya mereka dalam ruang publik. Teknologi digital dengan cara ini dapat digunakan untuk memfasilitasi perempuan untuk terlibat dalam politik gender, memberikan konteks baru di mana individu dapat merekonstruksi identitas sehingga perempuan dapat bebas dari stereotip tubuh.

*Pengajar ilmu komunikasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Salah satu hobinya menuliskan pengalaman dan refleksi kehidupan sehari-hari dengan perspektif budaya dan media. Sekarang ia aktif menjadi mahasiswa PhD di Media, Communication and Culture, Keele University, United Kingdom. Melalui jarak jauh Firly juga aktif melakukan aktivitas gerakan literasi media digital dengan organisasi Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital).

Artikel ini kerjasama MAARIF Institute dengan Rahma.id

Mozaik Keteladanan: Mengenal Dekat Buya Syafii Maarif Lewat Karya Erik Tauvani

Abdur Rauf

Memperbincangkan Buya Syafii seperti tak ada habisnya. Selalu ada sisi-sisi menarik darinya. Mulai dari pemikiran, kontribusi, hingga kepribadiannya. Buya Syafii, hemat saya, ibarat intan, semakin digosok semakin berkilau. Kira-kira begitulah perumpamaan yang cocok untuk menggambarkan sosok guru bangsa yang bernama Ahmad Syafii Maarif ini. Buya lahir di Sumpur Kudus, 31 Mei 1935.

Pada 31 Mei 2020 lalu, Buya merayakan miladnya yang ke-85. Mencecah usia 85 tahun, bukan merupakan angka yang muda lagi baginya. Meskipun demikian, Buya masih tetap tampak energik, sebagaimana yang saya saksikan saat Buya memberikan sambutan dalam acara launching buku karya Erik Tauvani via aplikasi Zoom Meeting, Ahad 31 Mei 2020 lalu.

Milad Buya ke-85: Persembahan Erik Tauvani

Berbeda dari momen-momen milad Buya sebelumnya, pada milad Buya yang ke-85 tahun ini menjadi milad yang spesial bagi Ustadz Erik. Sebab, pada milad Buya yang ke-85 ini, Ustadz Erik dapat mempersembahkan sebuah karya penting berupa buku yang merekam jejak-jejak Buya yang luput dari perhatian banyak orang, termasuk media. Buku tersebut ditulis oleh Ustadz Erik dan diberi judul Mozaik Keteladanan Buya Syafii Maarif: Kesaksian Hidup bersama Guru Bangsa.

Bertepatan dengan hari milad Buya yang ke-85, buku ini di-launching. Saya hadir menyaksikan acara launching buku Ustadz Erik tersebut via aplikasi Zoom Meeting. Buya juga turut hadir dalam acara tersebut, dan diminta oleh moderator untuk menyampaikan sambutannya. Buku yang terdiri dari xx+156 halaman dengan ukuran 14 x 21 cm ini sangat enak dan ringan sekali dibaca.

Tanpa terasa, tak membutuhkan waktu lama untuk melahap halaman demi halaman buku tersebut. Buya pun dalam sambutannya yang termuat dalam buku ini memberikan pujian kepada Ustadz Erik. Buya menuturkan: “Bakat menulisnya semakin menggeliat saja dari waktu ke waktu. Lancar dan enak dibaca.” Tahniah, Ustadz Erik.

Keteladanan Buya Syafii

Ada banyak hal yang dapat kita teladani dari sosok Buya lewat karya calon doktor dari Tulungagung ini. Di antaranya dapat saya kemukakan sebagai berikut: Pertama, tentang persahabatan. Dalam buku ini, kita dapat menyaksikan potret persahabatan Buya Syafii dengan beraneka ragam orang. Sahabat, bagi Buya Syafii, tidak hanya sekadar say hallo saja. Tapi lebih dari itu.

Sebagai seorang sahabat, kita dituntut untuk saling menyayangi, mengasihi, saling memberi perhatian, saling melengkapi, dan saling mendoakan. Hal itu dapat kita baca dalam buku ini bagaimana kisah persabatan Buya Syafii dengan tokoh-tokoh besar, seperti Pak Amin Rais, Buya Yunahar, hingga Biksu Pannyavaro. Semuanya dipotret secara ciamik oleh Ustadz Erik, si calon doktor dari Tulungagung ini.

Dalam buku ini, kita dicontohkan Buya bagaimana cara bersahabat itu. Setiap kita boleh berbeda, tapi jangan sampai perbedaan itu menjadi penghalang untuk menjalin persahabatan. Buya sering mengatakan: “Berbeda dalam persaudaraan dan persaudaraan dalam perbedaan.” Kedua, tentang kesederhanaan. Dalam buku ini, banyak kisah tentang kesederhanaan Buya.

Kesederhanaan Buya dapat kita lihat dari cara berpakaian dan juga gaya hidupnya. Buya tak sungkan untuk menggunakan sepeda motor, bahkan mengendarai sepeda ontel saat ke apotek untuk membeli obat, dan masih banyak lagi. Soal makan pun demikian, tokoh besar seperti Buya juga tak sungkan menikmati makan, meskipun hanya di angkringan pinggir jalan. Kita yang mendengar saja mengelus dada tanda haru dan kagum, apalagi yang menyaksikan langsung, seperti Ustadz Erik ini.

Ketiga, tentang kemandirian. Diceritakan Ustadz Erik dalam bukunya, bahwa Buya Syafii merupakan sosok yang tidak senang merepotkan orang lain. Di rumahnya, Buya sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, misalnya mencuci pakaian, menyapu halaman rumah, dan lainnya. Terkait dengan pekerjaan rumah itu, Ustadz Erik pernah nyeletuk:

“Kenapa Buya mencuci pakaian sendiri, kan bisa saja mempekerjakan orang untuk membantu pekerjaan rumah tangga, mengingat usia Buya sekaligus kesibukannya yang bukan main?” Apa jawab Buya? Dengan tegas, lugas, dan di luar dugaan, Buya menjawab: “Badan itu jangan dimanjakan!” Tidak hanya itu, bahkan saat sakit pun Buya masih enggan merepotkan orang lain.

Keempat, tentang kedisiplinan. Ustadz Erik menuturkan bahwa Buya adalah sosok yang disiplin, konsekuen, dan konsisten. Buya sangat disiplin dalam hal waktu, terutama dalam menjaga waktu-waktu salat. Dalam keadaan apa pun, Buya selalu berusaha salat tepat waktu. Tak kira di mana pun tempatnya dan apa pun kesibukannya, jika sudah masuk waktu salat, maka Buya bergegas untuk menunaikannya.

Salat nomor satu bagi Buya. Tentang disiplin salat ini, Ustadz Erik menulis: “Buya, di banyak kebersamaanku dengannya, kerap kali memberi contoh tentang salat tepat pada waktunya. Saat dalam perjalanan, rapat, dan acara-acara seminar, prinsip ketepatan waktu salat ia genggam erat-erat”.

Ustadz Erik bercerita bahwa saat melakukan perjalanan ke Solo menggunakan KA Prambanan Ekspres (Prameks), saat azan zuhur terdengar sayup-sayup, sambil duduk, Buya menunaikan salat. Begitu selesai salat, pelan-pelan Buya berbisik supaya orang tidak melalaikan salat. Pada hakikatnya, orang yang salat adalah mereka yang semestinya mendapatkan kemenangan, sebagaimana yang tersirat di dalam lafal azan.

Stigma Negatif tentang Buya

Buya seringkali mendapatkan stigma negatif dari sekelompok kecil orang. Bahkan dalam hal pemahaman dan pemikiran, Buya juga sering dicap “liberal”. Saya sarankan untuk orang-orang yang demikian itu supaya membaca buku apik yang ditulis Ustadz Erik ini.

Banyak hal yang Anda tidak tahu secara detail tentang Buya. Buya yang ada di dalam pikiran Anda itu adalah Buya yang sering Anda salahpahami. Anda minim informasi dan tidak mau ber-tabayyun. Jadilah Anda seperti orang yang kerasukan setan, memfitnah, dan menghujat Buya secara membabi buta. Buya yang Anda katakan “liberal” itu, adalah sosok yang sangat mencintai Tuhannya.

Cintanya kepada Tuhan dibuktikan lewat disiplin salatnya. Anda juga harus tahu bahwa hati Buya itu sudah terpaut erat dengan masjid. Kalau Anda mau tahu, Masjid Nogotirto itulah saksi bisu, betapa Buya sangat dekat dan perhatian dengan masjid. Silakan tanya! Saya kira cukup. Kalau diteruskan tidak akan selesai. Seperti yang saya katakan di awal tulisan ini, Buya adalah intan, semakin digosok semakin berkilau. Dan satu hal lagi kekaguman saya pada sosok Buya ini, yaitu lapang dada. Buya tidak pernah ambil pusing dengan berbagai macam hal yang orang katakan tentangnya.

Hanya satu saja yang dijawab Buya: “Ah, sudahlah, biarkan saja”. Itulah sedikit di antara keteladanan-keteladanan Buya yang dapat saya ulas dalam tulisan singkat ini. Mudah-mudahan dapat menjadi teladan bagi kita dalam melakoni hidup sehari-hari. Untuk lebih jauh mengenal sosok Buya Syafii, silakan beli bukunya di Graha Suara Muhammadiyah dan baca sampai tuntas karya penting yang ditulis oleh calon doktor dari Tulungagung ini, biar tidak salah paham. Selamat membaca!

Penulis adalah Alumni FAI UAD 2016 dan FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2019

Sumber: Ibtimes

Buya Syafii Maarif (2): Keilmuan dan Ketuhanan yang Mantap

Oleh: Dewi Nurhidayah

Mengulas sosok Buya Syafii secara utuh memang tidak cukup dengan waktu singkat melanjutkan tulisan Buya Syafii Ma’arif (1): Sosok Pejuang Tangguh. Buya menempuh pendidikan melewati masa-masa sulit dan juga karena umur yang lebih tua berbeda dengan mahasiswa di tingkatannya, ia tetap teguh belajar. Rasa malu dan minder ia hilangkan ketika menuntut ilmu.

Siapa sangka anak desa Sumpur Kudus bisa juga kuliah sampai ke negeri orang. Perjalanannya dalam menempuh pendidikan memang tidak selalu mulus, mulai dari penolakan-penolakan universitas kepadanya. Ia tidak menyerah, justru karena hal tersebut ia menjadi semakin semangat dan bergairah untuk menuntut ilmu. Amerika Serikat, negara dimana Buya Syafii memperoleh gelar S-2 program master di departemen sejarah Universitas Ohio, dan S-3 program studi bahasa dan peradaban timur dekat Universitas Chicago.

Keberangkatannya ke AS sewaktu pertama kali sempat tertunda karena pada saat itu Ikhwan sedang berada dalam kondisi yang tidak bisa ditinggal, lagipun beliau tidak tega meninggalkan Lip sendirian menjaga anak mereka tersebut.  Mengingat kembali, Lip adalah panggilan Buya Syafii kepada istrinya. Gelar S-3 nya merupakan saat dimana kerisauan hatinya semakin menjadi-jadi. Meskipun Lip memang tidak pernah mengeluh minta agar suaminya pulang tetapi tetap saja Buya Syafii merasa harus bertanggung jawab untuk keluarga, apalagi di Indonesia hanya Lip sendiri yang mengurus anak mereka, Hafiz.

Akhirnya ia berniat untuk membawa Lip dan Hafiz ke Amerika walaupun untuk mewujudkan hal itu ia harus mendapatkan nilai A di setiap mata kuliahnya. Hal ini merupakan tantangan besar baginya. Tentu saja, dengan umur yang tidak lagi muda ia harus bekerja ekstra dengan otaknya, tetapi begitulah tekadnya untuk membawa Lip dan Hafiz. Syukurnya tantangan itu ia tuntaskan dengan memuaskan. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar cinta Buya Syafii terhadap ilmu dan keluarga. Kecintaannya akan belajar tidak mengurangi kewajibannya terhadap keluarga.

Toleransi Beragama

Menurut Buya Syafii, Islam merupakan pilihannya yang terbaik dan terakhir, hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Berdasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah [2]:256, surat Yunus [10]:99, dan masih ada beberapa ayat lagi.

Planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam, tetapi untuk semua, apakah mereka beriman ataupun tidak. Semuanya punya hak yang sama untuk hidup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini.

Oleh sebab itu, umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan, apa pun agama dan kepercayaannya.

Prespektif Buya Syafii Terhadap Kedudukan Perempuan

Kedudukan perempuan dalam politik merupakan sesuatu yang tabu dalam khazanah Islam klasik, bahkan di era modern sekalipun. Buya Syafii mengemukakan pendapat terkait masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum Al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa, laki-laki maupun perempuan (Surat Al-Hujurat[49]:13).

Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah, asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah.

Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. Dengan pemikiran semacam ini, beliau ingin melihat dunia tanpa diskriminasi. Kemudian dalam perihal pernikahan, monogami atau poligami. Dalam surat Al-Nisa [4]:3 terkesan dibolehkan beristri lebih dari satu, namun berhubungan dengan ayat 129 pada surat yang sama menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin, sekalipun suami ingin berbuat adil. Dengan menyandingkan kedua ayat ini, Buya Syafii menyimpulkan bahwa pernikahan dalam Islam adalah monogami, sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat.

Ibadah yang Utama

Profesi mengajar sebagai dosen telah dilakoni oleh Buya Syafii sudah cukup lama. Pernah beliau berkesempatan menjalankan tugas sebagai dosen mengajar mata kuliah terkait kajian Islam. IKIP Yogyakarta melihat kualifikasi tersebut sangat sesuai untuk Buya Syafii yang saat itu telah bergelar Ph.D dalam kajian Islam.

Akhirnya ia pun bertolak ke Malaysia untuk menjalankan tugas di UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia). Selama dua tahun beliau mengajar dengan hasil kerja yang memuaskan dan suasana kerja yang bisa dibilang memuaskan. Beliau memutuskan bersama Lip untuk menunaikan ibadah rukun Islam ke lima. Pihak UKM sendiri sebenarnya berusaha membujuk agar Buya Syafii bersedia untuk memperpanjang kontrak mengajarnya.

Namun, beliau memutuskan untuk tetap kembali ke Indonesia mempersiapkan segala hal untuk menunaikan haji. Selain itu, beliau juga memiliki tujuan lain. Tujuannya adalah ingin mengabdi kepada Muhammadiyah yang turut hadir dalam perkembangan karirnya dan yang menuntunnya sampai  saat ini menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun tawaran untuk memperpanjang kontrak merupakan hal luar biasa yang tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan tersebut dikarenakan pihak UKM yang telah sepenuhnya percaya dan menyukai kinerja Buya Syafii, beliau tetap memutuskan untuk kembali.

Payung Pelindung Pemikir-Pemikir Muda Muhammadiyah

Buya Syafii menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah terhitung sejak Desember 1998 sampai dengan Juli 2005. Beliau dalam masa tugasnya tersebut dijadikan sebagai masa-masa untuk menggumuli Muhammadiyah secara intensif, bahkan beliau telah mengunjungi hampir semua wilayah di Indonesia kecuali provinsi-provinsi baru pada saat itu, antara lain Gorontalo, Bangka-Belitung dan Sulawesi Barat Daya.

Selain itu, kunjugan pun merata sampai ke beberapa PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) sebagai interaksi yang lancer kepada warga persyarikatan. Namun, dalam masa kepemimpinannya beliau mengakui masih banyak yang tidak dapat dilakukannya. Tetapi tampaknya beliau berhasil menjadi pendorong dan payung pelindung bagi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah, bidang pemikiran keislaman. Begitulah kiranya cerita-cerita yang tertuang dalam titik-titik kisar perjalanan seorang Buya Syafii.

Begitu banyak hikmah dan pembelajaran dari kisah dalam buku beliau ini. Peristiwa-peristiwa yang membawa Buya Syafii berada dalam keterpurukan sampai kembali ke puncak aktualisasi diri. Bukan hanya pemikirannya saja yang cemerlang, akan tetapi kepribadiannya pun menerangi diri, keluarga serta lingkungan sekitarnya, memberikan dampak baik bagi persyarikatan dan bangsa.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta. Aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Jakarta Selatan.

Sumber: Ibtimes.id 

Buya Syafii Ma’arif (1): Sosok Pejuang Tangguh

Oleh: Dewi Nurhidayah

Buya Syafii, begitu biasa akrab dipanggilnya atau ASM yang merupakan singkatan dari Ahmad Syafii Maarif. Beliau lahir pada hari sabtu, 31 Mei 1935 tepatnya di sebuah rumah bertanduk empat khas Minang buatan ayah tercintanya, di kawasan jorong kecil dan sepi bernama Calau, Sumpur Kudus, Sumatra Barat.

Buya Syafii merupakan sosok yang kecintaan pada kampung halamannya begitu dalam. Kehidupan kampung yang sangat kental dengan tradisi mewarnai masa kecilnya. Kampung halaman beliau saat itu masih minim kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak.

Syukurlah beliau tidak terjerumus mengikuti pola pikir lingkungan sekitarnya. Ayahnya yang penuh kasih sayang merupakan sosok yang berhasil menyekolahkan beliau. Hal ini juga tidak mungkin terjadi apabila tidak tumbuh semangat belajar dan kecintaan beliau pada ilmu. Jika melihat kilas balik hidup Buya Syafii, seseorang yang teramat dirindukan kehadirannya ialah ibu kandung beliau. Ibunya wafat pada saat beliau belum genap berusia satu tahun.

Kerinduannya pada Sosok Ibu

Ibu tercinta Buya Syafii telah meninggalkan dunia ini sejak beliau masih sangat muda. Hal yang paling ia sesalkan adalah mengapa ia tidak pernah bertanya secara rinci tentang sosok ibu yang sama sekali tidak bisa ia bayangkan wajahnya. Ada yang bilang bahwa ibunya merupakan wanita yang cantik dan biasa menunggangi kuda ke pasar kota untuk belanja bulanan biasanya.

Buya Syafii hanya bisa merasa bangga dan senang memiliki ibu seperti itu. Pastinya ibu tampak sangat gagah dan sigap ketika menunggangi kuda, begitulah yang dipikirkan oleh Syafii kecil. Seperti anak kecil lainnya, ia pun pernah merasa iri terhadap teman-teman seusianya, kebanyakan sepupu dan keponakannya sendiri karena bisa dengan puas melihat ibu mereka dan bahkan merasakan suapan nasi dari tangan yang kebal dengan debu rumah tangga itu.

Sampai saat ini jika ditanyakan perihal mengenai ibunya yang bernama Fathiyah, beliau mungkin masih merasa kesal dan menyesal serta rindu pada ibu tercintanya yang tidak ia ingat bagaimana rupanya tersebut. Rasa kesal atas dirinya sendiri diluputi penyesalan karena tidak sempat bertanya banyak hal tentang ibunya kepada ayah atau paman yang telah lebih dulu meninggalkan dunia ini.

Awal Perantauan Buya Syafii: Mengejar Ketertinggalan

Salah satu sosok penting yang hadir saat Buya Syafii tidak tahu akan kemana ia akan melangkahkan kaki, tidak ada bayangan bahwa nantinya ia akan menjadi salah satu dari generasi cendekiawan muslim pertama dari Universitas Chicago, atau sebutannya Tiga Pendekar dari Chicago bersama Nurcholish Madjid dan Amien Rais serta akan menduduki posisi sebagai ketua umum PP Muhammadiyah (2000-2005).

Sanusi Latief, ialah kakak se-suku Buya Syafii yang berperan cukup besar dalam mengubah jalan hidupnya. Beliaulah orang yang mengajak Buya Syafii untuk belajar ke Yogyakarta walaupun awalnya, ayah beliau tidak begitu memberikan respon positif mungkin saja karena mengingat biaya. Sedangkan beberapa kerabatnya setuju dan bahkan memberikan dorongan kuat, meskipun ada juga yang biasa-biasa saja.

Maklum saja karena sudah menjadi kebiasaan, pendidikan di Sumpur Kudus dahulu dianggap tidak terlalu dijunjung tinggi. Akhirnya berangkatlah beliau ke tanah Jawa ditemani oleh M. Sanusi Latief dengan mengandalkan modal ijazah kelas tiga Mu’alimin Muhammadiyah Balai Tengah, Lintau. Ia bertujuan untuk melanjutkan pendidikan ke Madrasah Mu’alimin Yogyakarta yang memakai sistem lima tahun.

Sayangnya tujuan itu tidak semulus yang dikira, sebab ada dua alasan mengapa ia tidak bisa langsung diterima. Pertama, kelas empat sudah penuh sehingga tidak ada bangku untuknya. Kedua, seorang guru mengatakan bahwa kualitas pelajaran di Yogyakarta lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. Sebagai orang desa, ia merasa terhina dengan pernyataan-pernyataan seperti itu. Namun, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain pasrah dan berdoa.

Solusi yang diberikan dari pihak Mu’allimin Yogyakarta adalah Buya Syafii harus mengulang di kelas tiga jika tidak mau menganggur. Beliau dengan berbesar hati mengulang di kelas tiga. Syukurlah ia dapat mengikuti kelas dengan sangat baik dan cepat tanggap, akhirnya ia cepat naik ke kelas empat.

Badai yang Menerpa Keluarga Kecil Buya Syafii

Lip, panggilan Buya Syafii untuk istri tercintanya. Mereka dijodohkan oleh ibunya Lip, Mak Sarialam dengan etek Bainah dan kakak Buya Syafii bernama Rahima. Kedua keluarga ini memiliki latar belakang ekonomi yang berat sebelah namun tidak menghalangi perjodohan yang lumayan mengejutkan bagi Buya Syafii. Beliau pulang ke kampungnya dengan tidak bermodal apa-apa.

Pakaian yang dikenakan pun begitu menggambarkan kondisinya di Yogyakarta sebagai mahasiswa dan pekerja lepas di media cetak Suara Muhammadiyah dengan gaji yang sangat pas-pasan. Beliau tetap tampil apa adanya dan tidak berusaha tampil sebagai orang kaya. Mereka menikah tidak megah seperti adatnya orang Minang, mengingat Mak Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya, selain itu kekayaan keluarga Lip meskipun masih ada tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian Mak Sarialam.

Akhirnya mereka bertolak ke Yogyakarta setelah menikah dan menjalani berbagai gejolak kehidupan. Bukan hal yang mudah membawa istri merantau ke Jawa. Keadaan ekonomi semakin parah ketika kelahiran anak pertamanya yang bernama Salman. Akhirnya Lip memutuskan untuk kembali sementara ke kampung halaman karena kondisi ekonomi dan kesehatan Salman. Kabar sangat menyesakkan ketika Buya Syafii menyusul istri dan anaknya ke kampung.

Lip mendatanginya dengan penuh isak tangis mengabarkan bahwa Salman sudah berpulang ke rahmatullah. Betapa sedih hati seorang ayah ditinggal putra sulungnya yang rasanya seperti baru kemarin ia menggendong-gendongnya. Ujian lagi bagi Buya Syafii dan Lip atas kematian anak keduanya yang bernama Ikhwan.

Ia merupakan anak yang aktif dan saat itu kondisi ekonomi keluarga sudah membaik karena kenaikan jabatan Buya Syafii menjadi redaktur dan profesi mengajarnya membuahkan upah yang cukup untuk kebutuhan. Sayangnya, penyakit meningitis menyerang si kecil Ikhwan. Ia sempat dirawat di rumah sakit cukup lama dibawah pengawasan Prof. Dr. Ismangoen. Saat itulah keteguhan iman seorang Buya Syafii diuji.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta. Aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Jakarta Selatan.

Sumber: Ibtimes.id 

 

Perjumpaan Langsung dengan Buya Syafii Maarif

Oleh: Akbar Malik

Tahun 2015, kala itu saya masih SMA, saya mengikuti kegiatan Jambore Pelajar Teladan Bangsa yang diadakan oleh Maarif Institute. Karena tidak punya latar belakang keorganisasian Muhammadiyah dari orang tua, pada saat itu saya tidak terlalu tahu siapa itu Buya Syafii Maarif.

Ketika mengikuti kegiatan yang diadakan lembaga yang diinisasi Buya Syafii Maarif itu, saya beruntung bisa berjumpa langsung dengan beliau. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya cermati setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya. Saya ikuti gerak-gerik langkah dan gesturnya. Saya pandangi beliau dari kejauhan demi mendapat kesan lebih terhadapnya.

Dari sedikit pengamatan dan pendalaman selama kurang lebih beberapa jam, saya mendapat kesan bahwa beliau merupakan pribadi yang sungguh sederhana. Ketika beliau memberikan sambutan di balai kota DKI Jakarta pada saat itu pun–salah satu venue kegiatan–hanya mengenakan sepatu sandal. Sungguh pribadi yang “autentik”, meminjam istilah beliau.

Selepas kegiatan itu berakhir, saya tidak berhenti menyelami pribadi dan pemikiran Buya Syafii Maarif. Sampai akhirnya di masa SMA ketika itu, saya tahu bahwa beliau mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Karya dan kiprahnya tidak berhenti walau purnatugas di Muhammadiyah, salah satunya beliau membentuk Maarif Institute sebagai lembaga riset yang bergerak di bidang kebudayaan dalam bingkai kemanusiaan, keislaman, dan keindonesiaan.

Secara kultur dan intelektual, sebenarnya saya lebih dekat dan akrab dengan ulama, pemikir, dan cendekiawan dari Nahdhatul Ulama (NU) seperti Gus Dur atau Gus Mus. Dari beliau-beliau jugalah saya mendapat semacam testimoni dan penilaian tentang kepribadian Buya Syafii Maarif.

Menurut Gus Dur dalam salah satu esainya, Buya Syafii Maarif adalah salah satu cendekiawan muslim generasi pertama di Indonesia dari Universitas Chicago. Lebih lanjut, Gus Dur memberikan predikat “pendekar” kepada Buya Syafii Maarif yang walau sebagai “orang organisasi” tetap fokus pada pembangunan umat secara kultural.

Sementara menurut Gus Mus dalam salah satu postingan di akun Instagramnya, beliau memublikasikan kebersamaannya dengan Buya Syafii Maarif. Caption-nya berbunyi: sowan tokoh panutan bangsa; cendekiawan; jernih; jujur; berani; sederhana; dan merdeka. Lengkap sekali Gus Mus mendeklarasikan gambarannya terhadap Buya Syafii Maarif.

Selain karena perjumpaan secara langsung, kutipan langsung dari Gus Dur dan Gus Mus, konsistensi Buya Syafii Maarif membela kemanusiaan dan menyerukan persaudaraan dalam perbedaan membuat saya secara pribadi sangat mengagumi beliau. Petuahnya selaras dengan tindakannya. Keteguhannya beriringan dengan keberaniannya. Autentisitas sikap dan perilakunya lengkap tergambar dalam kesederhanaannya.

Sosok yang Egaliter dan Sederhana

Yang menjadikan Buya Syafii Maarif masih terus aktif mewarnai pemikiran bangsa dengan tulisan dan karya-karyanya, menurut saya, selain kekayaan dan kedalaman keilmuan beliau, adalah keaktifannya menjalin interaksi dan komunikasi antarumat dan antargolongan. Hal tersebut menjadikannya cendekiawan yang paripurna yang mampu mengolaborasikan antara wawasan keislaman dengan gerakan perdamaian kemanusiaan.

Saya masih ingat kejadian pada tahun 2018 ketika ada sebuah gereja yang diserang oleh seseorang yang tak dikenal di Sleman. Mendengar kejadian itu terjadi, dengan perhatian dan kesigapan, Buya Syafii Maarif datang langsung ke tempat kejadian untuk melihat keadaan. Kemudian ketika dimintai keterangannya tentang kejadian itu, Buya dengan ekspresi sedih menyatakan kekecewaannya terhadap kejadian tersebut.

Selain itu, saya pun masih ingat ketika mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Maarif Institute. Ada satu agenda di mana kami peserta kegiatan jambore dialog dengan pastor dari Gereja Katedral Jakarta. Pengalaman secara empiris, disertai dengan pengamatan secara langsung melalui tulisan, pendapat, dan tindakan Buya Syafii Maarif membuat saya semakin mantap menganggap beliau sebagai sosok yang egaliter.

Soal kesederhanaan beliau, sepertinya sudah bukan hal aneh. Semua orang yang mengenal beliau, memberikan penilaiannya terhadap beliau, hampir pasti menyatakan bahwa Buya termasuk orang yang sederhana. Beberapa kali Buya terkena potret netizen sedang menaiki kereta umum sampai mengantre pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Dalam satu tangkapan kamera, Buya didapati sedang menunggu kereta di Stasiun Tebet. Dalam fotonya yang beredar itu, katanya beliau sedang menanti kereta keberangkatan ke Bogor. Usut punya usut, Buya sebenarnya bisa saja meminta sopirnya untuk mengantarkannya, tapi beliau tidak enak karena itu hari Sabtu. Masya Allah.

Beliau itu guru besar di perguruan tinggi negeri, cendekiawan muslim yang reputasinya internasional, juga mantan ketua umum salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia, tapi masih bisa bergaya hidup sesederhana itu. Saya tidak habis pikir dan bertanya-tanya bagaimana seorang Buya Syafii Maarif menjalani hidupnya dengan penuh kesederhanaan yang radikal.

Sekarang, beliau sudah berusia 85 tahun. Di usianya yang sudah tidak muda, sampai hari ini kita masih diberi kesegaran oleh nasihat dan buah pikirnya dalam rupa tulisan-tulisan dan ceramah-ceramahnya. Bersyukurlah kita masih bisa melihat wajah teduh Buya Syafii Maarif sebagai salah satu tokoh bangsa sekaligus intelektual muslim yang paling getol menggelorakan perdamaian umat manusia.

Semoga senantiasa disehatkan, Buya. Terima kasih telah memberikan pencerahan yang berarti bagi saya pribadi, juga yang tak ternilai harganya bagi bangsa ini.

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

Sumber Rahma.id

Buya Syafii, Pribadi yang Selalu Gelisah

Buya Syafii Maarif, yang pada 31 Mei lalu genap berusia 85 tahun, dikenal sebagai Sejarawan, Cendekiawan Muslim modern yang pluralis, inklusif, moderat, terbuka dan toleran, bahkan menjadi salah seorang dari sedikit Guru Bangsa yang kita miliki hari ini.

Di usia senjanya, Buya Syafii, kelahiran Sumpur Kudus, Minangkabau, yang dijuluki “Makkah Darat”, ini tetap gemar membaca, dan terus menulis mengumandangkan seruan dan kritiknya yang keras dan tajam saat melihat ada masalah yang tidak beres di negerinya. Itu dilakukannya tak lain demi memperbaiki nasib bangsa yang sangat dicintainya.   Boleh dibilang, sepeninggal tokoh-tokoh besar seperti:

Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid), Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), mungkin hanya Buya Syafii-lah yang kini menjadi benteng moral dan guru bangsa yang tersisa—tanpa bermaksud menafikan nama dan tokoh lainnya. Buya Syafii, nyaris bergerak dan berjalan sendirian. Banyak sekali orang bersetuju dengan gagasan gagasannya yang brilian nan cerdas, kritiknya yang keras, namun sedikit sekali–jikalau ada–yang berani menyuarakan kebenaran di tengah rimba perebutan kepentingan dan kekuasaan.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkannya, pemikiran dan karya intelektualnya harus diakui telah membawa pengaruh besar dalam pembentukan tradisi intelektualisme Islam di Indonesia. Jika kita telisik karya karya tulisnya, Buya hampir tak pernah absen berkhutbah tentang nilai-nilai kemanusiaan universal, mengumandangkan moralitas, dan keadaban publik.

Tak jarang khutbah-khutbah ilmiahnya banyak menimbulkan kesalahpahaman. Jumlah umat Islam yang mayoritas di bumi nusantara ini, mendorong Buya tak pernah berhenti mengingatkan agar tidak lagi mempersoalkan hubungan trilogi antara Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsepsi tersebut, menurutnya, haruslah senafas dan seirama agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah benar-benar Islam yang berkemajuan, ramah, terbuka, dan rahmatan lil ‘alamin.

Sembari mengutip ungkapan gurunya Fazlur Rahman, Buya mengatakan bahwa Islam yang tidak memberikan solusi bagi urusan kemanusiaan, bukanlah Islam yang sejati dan tidak memiliki masa depan. Bagi Buya, agama (Islam), termasuk segala hal yang ada di dalamnya seperti Kitab Suci dan bahkan Nabi, adalah untuk manusia, dan bukan untuk Tuhan. Sikap inilah yang membedakan dengan sikap kebanyakan Muslim yang masih sangat teosentris, yakni segala hal yang ada dalam agama hampir selalu masalah Tuhan. Sedangkan perihal manusia justru terlupakan.

Untuk menyebut beberapa kegelisahan Buya Syafii yang sampai dengan hari ini terus-menerus dipikirkannya adalah mengentalnya budaya arabisme di masyarakat. Buya mengingatkan agar umat Islam bisa membedakan antara Arabisme dan Islam. Dalam hal ini, umat Islam juga perlu cerdas dalam memaknai antara Islam sebagai substansi atau sebagai simbol.

Pada saat yang sama juga bisa membedakan antara Islam yang otentik dan kebudayaan yang menyertainya. Sehingga tidak mewariskan misguided arabism. Buya Syafii menilai pemakaian simbol-simbolAarab di ruang publik bisa dimaknai sebagai wujud ketidakpercayaan diri umat Islam Indonesia akan entitas budayanya sendiri. Buya bukan anti-Arab, hanya saja ia selalu menyerukan agar bersikap kritis bahwa Arab dan Islam adalah dua variabel yang berlainan dan harus dibedakan.

Buya ingin agar Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap berbagai persoalan bangsa dan negara.

Buya, melayarkan impian Islam yang berkemajuan, Islam yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas, Islam Nusantara yang menghargai keragaman (budaya, suku, bahasa, etnis dan agama), Islam yang ramah, Islam yang menyapa, Islam yang menyalakan lilin harapan untuk membangun bersama-sama negeri ini menjadi lebih baik. Keinsyafannya akan realitas pluralisme masyarakat ini melampaui dasar-dasar keyakinannya sebagai pemeluk Islam. Meskipun demikian, hal itu tidak kemudian mengubah kesetiaannya kepada Islam.

Buya tetaplah seorang muslim yang taat.   Keprihatinannya yang besar terhadap sejumlah kelompok yang mengusung gagasan negara Islam, khilafah islamiyah, dan bersemangat mengganti dasar negara ini membuatnya menulis buku Islam dalam Bingkai Kemanusiaan dan Keindonesiaan. Buya menilai Indonesia merupakan bangsa yang belum sepenuhnya jadi. Sehingga bangsa ini sering kali diuji dengan berbagai konflik. Mulai dari kepentingan ideologi, kepentingan politik, dan belakangan ancaman pemisahan diri. Menurutnya, sebagai sebuah bangsa, usia Indonesia belum genap 100 tahun.

Artinya bangsa ini masih sangat muda. Karena itu, lanjut Buya, bangsa ini perlu dirawat, dan untuk merawat Indonesia yang besar ini, perlu orang dengan pemikiran besar dan berwawasan jauh ke depan—bukan pikiran pikiran partisan. Salah satu hal penting yang sering disampaikan oleh Buya, adalah bahwa “Indonesia harus tetap bertahan satu hari sebelum kiamat.”

Ungkapan itu menunjukkan kepeduliannya bahwa di tengah situasi krisis moral dan krisis kewarasan yang membahayakan NKRI ini, masih sangat mungkin diselamatkan dengan menyalakan lilin kewarasan. Buya, juga selalu menegaskan bahwa literasi perjalanan bangsa dan negara perlu dibaca ulang dan direnungkan dengan cara yang lebih mendalam, khususnya oleh kelompok elite yang biasa main di panggung politik nasional dan lokal. Tanpa asupan bacaan yang luas, tegas Buya, pasti mereka akan gagap dalam berpolitik karena tidak punya tempat berpijak yang kokoh di kedalaman lautan sejarah bangsa.

Tema tema besar tentang kemanusiaan dan kebangsaan inilah yang menjadikan Buya Syafii diterima dan dihormati tidak saja oleh kalangan Muhammadiyah, namun juga NU dan yang lainnya, termasuk kalangan non-muslim. Buya sendiri tak pernah canggung bergaul dan menjalin hubungan baik dengan pemuka dan tokoh-tokoh agama; Kristen, Budha, Hindu, Tionghoa, kalangan nasionalis, NU dan juga tokoh-tokoh dunia.

Baginya, ini merupakan modal yang sangat besar untuk membangun toleransi dan dialog dengan kelompok lain. Begitulah, Buya sebuah pribadi yang selalu gelisah dan terus menerus memikirkan bangsanya, seorang humanis yang selalu mengajak bangsa besar ini untuk bangun dari ketertinggalan.

Buya adalah guru bangsa, yang spirit keindonesiaan dan humanismenya tak diragukan lagi. Ajaran-ajaran bijak yang dilayarkannya melintasi agama, budaya, usia, dan kelompok, membuat siapa pun yang berdialog dengannya merasa teduh. Cerita kehidupan Buya, adalah cerita keteladanan, cerita seorang cendekiawan dengan kepribadian yang humanis, yang memandang bahwa setiap manusia harus dihormati sebagai seorang manusia seutuhnya tanpa memandang agama, ras, suku, bahasa, atau budaya.

Semoga sikap intelektual, kebersahajaan, dan keteladanan yang ada pada diri Buya bisa menjadi virus positif bagi segenap masyarakat di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda millennial, dengan harapan mereka bisa menyebarkan pemikiran Islam yang inklusif, toleran, moderat serta berpihak pada kemanusiaan, kenegaraan serta keindonesiaan. Pula, mereka setidaknya memiliki perspektif, sikap dan pendirian yang relatif sama dalam memotret dinamika, perubahan dan perkembangan kehidupan keberagaman di Indonesia.

Penulis adalah Direktur Riset Maarif Institute.

Sumber ibtimes.id