Pertemuan dengan Presiden Bush dan Kilas Balik Kemudian (I)

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pertemuan itu terjadi dua tahun setelah Presiden George W Bush menginvasi Afghanistan dengan dalih mengejar teroris. Atas prakarsa Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia, Ralph L Boyce, pada 22 Oktober 2003 di Hotel Patra (Denpasar), diadakan pertemuan tokoh lintas agama dengan Presiden Bush.

Saya salah seorang yang turut pertemuan yang semula direncanakan sekitar 22 menit, tetapi molor sampai 55 menit. Dubes Boyce, sebelumnya beberapa kali bertemu dengan saya di kantor PP Muhammadiyah Jakarta, antara lain, merundingkan pertemuan dengan Bush.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Nama-nama dalam dalam pertemuan itu adalah almarhum KH Hasyim Muzadi (ketua umum PBNU), Prof Azyumardi Azra (rektor UIN Jakarta), DR Nathan Setiabudi (ketua PGI), Ida Pedanda Made Gunung (tokoh Hindu Bali), dan saya mewakili PP Muhammadiyah.

Sebagai kilas balik, saya juga akan membicarakan politik luar negeri AS pasca-Bush yang ternyata tak banyak berubah. Tak peduli dari partai mana pun presidennya berasal.

Presiden Bush dalam pertemuan itu lebih banyak mendengar. Kami yang aktif berbicara. Agak di luar dugaan, Presiden Bush sambil nanar menatap wajah kami tak marah, sekalipun dicecar pertanyaan tajam dan kritis, khususnya soal Palestina, invasi atas Irak, Afghanistan.

Pertemuan Denpasar ini, sempat dicurigai sebagian elite politik Indonesia dengan tuduhan macam-macam kepada kami. Jawaban saya ketika itu: “Mana yang lebih kesatria berhadapan langsung dengan ‘musuh’ atau mengepalkan tinju dari balik gunung?”

Para tokoh lintas agama memilih berhadapan langsung. Ini kesempatan baik menjelaskan pandangan kita terhadap Bush, yang namanya telah jadi sasaran kritik global karena politik neo-imperialismenya.

Bush dan Trump sama-sama berasal dari Partai Republik yang dikenal konservatif. Dunia sedikit lega setelah Joseph R Biden Jr (Demokrat) mengalahkan Trump tahun lalu untuk menjadi presiden ke-46 AS.

Untuk pertemuan Denpasar itu, saya menyiapkan konsep tertulis di samping disampaikan secara lisan kepada Presiden Bush. Untuk menyegarkan ingatan tentang suasana politik global pada 2003, versi bahasa Indonesia dari sikap saya terhadap Bush dikutip berikut ini:

“Tuan Presiden George W Bush yang Terhormat,

Terlebih dulu saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus karena telah diundang menemui presiden dari sebuah bangsa besar dan perkasa, pemenang Perang Dingin, setelah komunisme dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan sejarah.

Anda kini berada pada posisi strategis untuk menawarkan sebuah tatanan dunia yang lebih adil dan berimbang, untuk menghapus ketidakadilan dan kemiskinan global yang diderita lebih dua miliar umat manusia di seluruh dunia.

Saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah.

Di tangan Anda juga tergenggam segala dana dan kekuatan untuk memelopori sebuah kultur kearifan global, demi menyelamatkan peradaban manusia yang terancam arogansi kultural, penyalahgunaan demokrasi, dan isu hak-hak asasi manusia sebagaimana diperagakan oleh oleh beberapa negara maju, termasuk Amerika Serikat.

Tetapi, mengapa Anda gagal menumbuhkembangkan suatu kultur kearifan global itu? Setidak-tidaknya ada dua kemungkinan yang ingin saya sampaikan kepada Anda dalam pertemuan bersejarah ini.

Pertama, politik luar negeri Amerika yang terlalu pro-Israel telah menutup mata dan hati Anda untuk mengembangkan dan menunjukkan kepada dunia suatu sikap imbang dan adil terhadap bangsa-bangsa lain, khususnya terhadap rakyat Paestina yang telah menderita demikian lama.

Selama konflik Israel-Palestina tetap saja berlangsung, akan menjadi sangat sulitlah bagi kita untuk melihat sebuah dunia yang damai dalam tempo yang dekat ini.

Kedua, karena ketakutan Anda terhadap ancaman yang mematikan dari terorisme internasional. Tentang isu ini, kita sebagai manusia normal memang punya hak moral memerangi segala bentuk terorisme dan melumpuhkan basis politik-ekonominya, karena perbuatan mereka sepenuhnya anti manusia dan mereka adalah musuh yang sebenarnya dari dunia beradab. Terhadap isu hangat ini, percayalah, saya adalah teman Anda dan berada satu perahu dengan Anda, Tuan Presiden.

Tetapi pada waktu Anda mengirim pasukan untuk menginvasi Irak, Anda tidak diragukan lagi telah melakukan suatu bunuh diri sejarah, dan dunia akan mengenang ini dengan baik sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh mereka, yang mengaku sebagai pembela demokrasi dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia.

Sebagai catatan pungkasan, saya harus mengatakan, setiap kita harus berlalu adil terhadap sejarah. Karena itu, bila kita berbicara tentang gejala Usamah bin Ladin dan Taliban pada era Perang Dingin, pertanyaan ini otomatis akan mengemuka: siapa sesungguhnya yang memberikan dukungan kepada mereka dalam upaya mengalahkan pasukan Uni Soviet, musuh Anda yang sebenarnya pada waktu itu?

Saya kira CIA turut bertanggung jawab bagi permainan politik, yang berbahaya dan penuh risiko ini. Tentang masalah ini, saya harap Tuan Presiden berpikir lebih dalam lagi.”

Dunia Sarana Berbuat Baik Untuk Akhirat

Ust. Baitul Rohmi

 

 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al-Qashash; 77)

 

Dunia adalah sarana yang akan mengantarkan ke akhirat. Kita hidup di dunia memerlukan harta benda untuk memenuhi hajatnya, di mana semua ini harus kita cari dan kita usahakan. Kehadiran kita di dunia ini jangan sampai menjadi beban orang lain. Maksudnya janganlah memberatkan dan menyulitkan orang lain. Dalam hubungan ini, umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah, sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari.

 

Ayat di atas dengan jelas mengajarkan bahwasannya Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu berusaha menggapai kebahagiaan akhirat, tetapi jangan melupakan kehidupan di dunia ini. Meskipun kebahagiaan dan kenikmatan dunia bersifat sementara tetapi tetaplah penting, sebab dunia adalah ladangnya akhirat. Ayat tersebut juga mengajarkan kepada umat Muslim agar berbuat baik kepada sesama manusia, termasuk mereka yang non-Muslim. Tidak ada larangan bagi umat Muslim berbuat kebaikan kepada non-Muslim, bertetangga, bergaul, bahkan bersahabat selama mereka tidak mengajak kepada hal yang berbau maksiat atau melarang umat Muslim beribadah.

 

Allah berfirman, Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Al-Mumtahanah; 8)

 

Dalam tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah, mengatakan bahwa, “Allah tidak akan melarang untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi agama kalian dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman kalian. Kalian diperbolehkan bersilaturrahim dengan mereka atau saling mengasihi sesama tetangga. Allah juga tidak melarang kalian memperlakukan mereka dengan adil. Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil dan membersihkan jiwa mereka. Maksudnya adalah Allah tidak melarang untuk mencintai mereka dan memperlakukan mereka dengan adil.”

 

Namun, Allah melarang orang-orang beriman yang menjadikan mereka, orang-orang kafir yang tidak bersedia hidup berdampingan secara damai. Yakni mereka yang memerangi karena faktor agama, tidak ada kebebasan, penghormatan terhadap yang berbeda keyakinan dan toleransi beragama. Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, karena kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan, maka mereka itulah orang zalim terhadap perjuangan Islam dan umat Muslim.

 

Allah telah menciptakan dunia dan seisinya adalah untuk manusia, sebagai sarana menuju akhirat. Allah juga telah menjadikan dunia sebagai tempat ujian bagi manusia, untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya, siapa yang paling baik hati dan niatnya. Allah juga mengingatkan perlunya manusia untuk mengelola dan menggarap dunia ini dengan sebaik-baiknya, untuk kepentingan kehidupan manusia dan keturunannya. Pada saat yang sama Allah juga menegaskan perlunya selalu berbuat baik kepada orang lain, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

 

Sebagai sarana hidup, Allah SWT melarang manusia membuat kerusakan di muka bumi. Mereka boleh mengelola alam, tetapi untuk melestarikan dan bukan merusaknya. Dalam sebuah perjalanan, Rasulullah SAW melihat seorang sahabat sedang mempermainkan seekor anak burung. Beliau lantas berkata, “Siapa yang menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikanlah anak burung ini kepada induknya!” Begitu pun ketika beliau melihat sarang semut yang telah dibakar oleh para sahabat beliau. Rasulullah pun bersabda, “Siapa yang membakar ini?” Para sahabat menjawab, “Kami.” Beliau bersabda lagi, “Tidak boleh menyiksa dengan api, kecuali Rab pemilik api.” (HR Ahmad).

 

Nabi Muhammad SAW memang seorang penyayang binatang sekaligus pelestari lingkungan. Beliau sangat tegas dalam memberikan teguran dan larangan terhadap hal-hal yang terkait dengan perusakan alam. Beberapa prinsip pelestarian alam dan teladan pelaksanaannya juga telah beliau berikan kepada kaum Muslim.

 

Rasulullah SAW telah memberi tuntunan cara menjalani kehidupan dunia dengan baik dan benar menuju kehidupan akhirat yang abadi. Di antara tuntunannya diceritakan oleh Abdullah bin Umar ra. bahwa suatu ketika Rasulullah SAW memegang pundaknya lalu memberikan dua pesan. Dari Abdullah bin Umar ra berkata: Rasulullah SAW pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara. Hadis ini diriwayatkan dan dicatatkan oleh banyak perawi di antaranya Imam Bukhari, al-Tirmizi, Ibn Majah, Ahmad bin Hanbal, Ibn Hibban, al-Baihaqi dan al-Tabrani. Semuanya meriwayatkan hadis ini dari jalur yang sama dari Mujahid dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW.

 

Rasulullah berpesan agar supaya menyikapi kehidupan dunia dengan menjadi laksana orang asing atau menjadi pengembara yang melintasi suatu tempat. Orang asing adalah seseorang yang tidak memiliki rumah sendiri, tidak punya tempat tinggal sendiri, tidak punya negeri yang didiami secara pribadi. Fisiknya berada di negeri yang asing, tapi hatinya tidak terpikat dengan negeri asing tersebut. Keberadaannya yang sementara di negeri asing dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berbuat baik sebagai bekal menuju ke kehidupan selanjutnya.

 

Ibnu Rajab berkata, “Dunia bagi orang beriman bukanlah negeri untuk menetap, bukan pula sebagai tempat tinggal. Orang bertaqwa memposisikan diri sebagai seorang garib (orang asing) yang tinggal sementara di negeri asing, lalu semangat mempersiapkan bekal dan amal untuk kembali ke negeri tempat tinggal sebenarnya.”

 

Bagi orang yang beriman kepada Allah, tiada waktu yang boleh terlewat sedikit pun di dunia ini kecuali harus bernilai ibadah, baik ibadah yang bernilai ritual-vertikal maupun sosial-horisontal di hadapan-Nya. Setiap kegiatan yang dijalani harus bernilai ibadah, sehingga menjadi pengundang datangnya pertolongan Allah selama hidup di dunia maupun nanti di akhirat. []

 

Ust. Baitul Rohmi, Guru Ngaji di Pondok Aren, Bintaro

 

e-Buletin Jumat edisi 31 – 03 September 2021 M. / 25 Muharam 1443 H. dapat di unduh disini

Aiptu Eko Yulianto dan Covid-19

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Nama lengkapnya Aiptu Eko Yulianto, SH (44). NRP: 76070278. Saya memanggilnya komandan. Komandan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Dia cepat kaki, ringan tangan.

Komandan tanpa anak buah. Kawasan jelajahnya Kelurahan Nogotirto, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta, sejak 2016. Inilah peta Nogotirto yang menjadi desa binaannya itu. Luasnya 3,49 km persegi, jumlah penduduk 14.916 orang. Diperkirakan 4.274 jiwa per km persegi.

Desa ini terdiri atas tujuh pedukuhan. Dengan luas kawasan dan jumlah penduduk sekian itu, komandan ini pasti sibuknya setengah mati saban hari. Kadang-kadang juga bertugas malam hari, bergantung pada masalah yang dihadapi warga.

Komandan ini pernah bertugas di Aceh sebagai anggota Brimob. Sebagai polisi lalu lintas, sudah pula dijalaninya. Dia di antara anggota polisi yang baik, penuh dedikasi, ramah, gaul, dan siap menolong siapa saja.

Sejak Indonesia dilanda Covid-19, kesibukan komandan ini melebihi biasanya. Siang dan malam berurusan dengan korban pandemi ini, termasuk mengurus jenazah untuk dimakamkan. Badannya kekar, kulit agak hitam, asal Klaten, Jawa Tengah.

Siang dan malam berurusan dengan korban pandemi ini, termasuk mengurus jenazah untuk dimakamkan. Badannya kekar, kulit agak hitam, asal Klaten, Jawa Tengah.

Pernah terpikir untuk meninggalkan kepolisian dan bertarung menjadi kepala desa di Klaten. Namun, saya katakan agar niat itu dilupakan saja. Menjadi polisi itu tugas mulia.

Sabtu pagi, 28 Agustus 2021, rampung menerima tamu Menhub Budi Karya Sumadi yang didampingi DR Asmul Khairi selama sekitar satu jam, terjadi pembicaraan santai saya dengan komandan ini seputar pandemi dan korbannya yang telah dijalaninya sejak Maret 2020.

Sungguh mengusik perasaan, betapa aneka ragamnya perilaku orang terpapar pandemi ini, termasuk ayah kandung komandan yang semula tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Dengan susah payah, komandan meyakinkan ayahnya, seperti terbaca dalam dialog dalam bahasa Jawa yang kira-kira bunyinya begini: “Yen bapak mboten kerso dijak teng rumah sakit, kulo tinggal mawon.”

Lalu si ibu yang lagi ada masalah jantung menyela: “Bapakmu ojo dimarahi, le!”

Singkat cerita, sang ayah akhirnya bersedia diperiksa dan diobati. Sekarang sudah pulih.

Ini baru secuil kejadian tentang betapa sukarnya sebagian rakyat kita disadarkan soal bahaya maut pandemi ini. Bahkan, sampai hari ini, masih ada juga yang tidak percaya adanya virus itu, sekalipun yang wafat di Indonesia saja sudah sekitar 130 ribu.

Komandan melanjutkan ceritanya tentang keluarga lain yang terpapar. Semula hanya seorang yang terjangkit. Lalu diminta agar mau diisolasi secara gratis di tempat yang telah tersedia. Apa jawab keluarga ini? Kami tidak bisa berpisah. Akibatnya, tujuh anggota keluarga itu tertular semua. Komandan dengan segala cara telah berupaya meyakinkan keluarga ini, tetapi menemui jalan buntu.

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan.

Ada lagi kasus imam masjid yang wafat karena virus ini sekitar dua pekan lalu. Istrinya juga terpapar, masih dalam perawatan. Saat artikel ini ditulis, belum diberi tahu oleh anak-anaknya bahwa suaminya telah wafat. Khawatir akan menambah parah sakitnya. Ini sebuah drama akibat Covid-19.

Covid-19 ini tidak punya rasa takut, kecuali kepada masker, air mengalir, sabun, dan jarak dua meter. Karena sudah berlangsung satu setengah tahun berurusan dengan pasien virus ini, komandan sudah cukup piawai menjalankan tugasnya. Tentu dengan prokes.

Dia diberi sepeda motor dinas yang cukup besar, entah berapa cc. Jika diperlukan, dia gunakan mobilnya sendiri untuk menolong pasien. Sepanjang pengetahuan saya, polisi yang satu ini tidak pernah mengeluh.

Ternyata jumlah polisi baik ada di mana-mana, ada pada semua jenjang kepangkatan. Sudah sejak 2016, saya bersahabat dengan polisi, dari tingkat bintara, perwira, sampai mereka yang berbintang empat.

Sampai hari ini, beberapa kapolres masih saja melakukan kontak dengan saya. Yang sedikit menyulitkan saya adalah permintaan rekomendasi dari sementara mereka untuk pendidikan lanjut, jadi kapolres, pindah tugas, dan sejenis itu.

Mungkin di mata mereka, saya punya jaringan di Mabes Polri, padahal itu perkiraan yang belum tentu benar. Saya bukanlah calo untuk urusan semacam ini. Tidak punya bakat sama sekali, di samping ada perasaan kurang enak dengan petinggi Polri.

Maka usul saya kepada Mabes Polri, anggota kepolisian tipe komandan ini bisa diberi kenaikan pangkat istimewa untuk menghargai pengabdiannya yang luar biasa dan tanpa pamrih, untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Bagaimana selanjutnya dengan sosok polisi yang kita bicarakan ini? Sudah sekitar lima tahun, saya kenal. Tidak pernah terbetik minta rekomendasi itu.

Maka usul saya kepada Mabes Polri, anggota kepolisian tipe komandan ini bisa diberi kenaikan pangkat istimewa untuk menghargai pengabdiannya yang luar biasa dan tanpa pamrih, untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Peran sebagai pejabat Bhabinkamtibmas ada enam. Di antaranya, menjalankan penyuluhan pada masyarakat, melaksanakan penertiban masyarakat, dan yang nomor enam adalah melaksanakan tugas umum kepolisian dalam memberi pelayanan, perlindungan kepada masyarakat.

Karena rumusan peran ini dibuat sebelum merebaknya pandemi, tampaknya butir nomor enam inilah yang dijadikan pegangan menghadapi masalah musibah yang tidak diperkirakan sebelumnya akan begini dahsyat. Selamat mengabdi komandan!

Islam Mengajarkan Cinta Damai

K.H. Dr. Ahmad Ali M.D.

 

Islam, sesuai namanya, berakar kata al-silm berarti damai, dan selamat. Dalam bentuk fi’il (kata kerja): Aslama yuslimu islâm berarti berbuat damai, menyelamatkan, dan masuk Islam, menyerahkan diri secara total pada Agama Tauhid untuk keselamatan dunia dan akhirat. Islam sebagai agama (al-Dîn) membawa misi rahmatan lil ‘alamin (menebarkan kedamaian, ketenteraman dan kasih sayang bagi umat manusia dan semesta alam).

Al-Qur’an, firman Allah Taala, sumber utama ajaran Islam, dimulai dengan ayat Bismillâhir Rahmânir Rahîm, mengajarkan agar kita memulai sesuatu kebaikan dengan menyebut nama Allah, Bismillâh. Bahwa Allah Yang Maha Rahman dan Rahim, Pengasih lagi Penyayang.  Ayat ini menegaskan bahwa dalam memulai dan melakukan setiap pekerjaan apa pun, yakni perbuatan yang baik, harus mengingat keagungan Allah Taala sebagai Sang Penebar kasih sayang. Kata Bismillâh hakikatnya mempunyai dua makna sekaligus, yaitu mengingat keagungan Allah, yang merupakan ekspresi (ungkapan) tentang esensi (hakikat) iman itu sendiri. Iman mensyaratkan kepercayaan dan keyakinan pada keesaan Tuhan, dan memahami sifat Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya keagungan Tuhan tersebut dijelaskan dalam sifat-Nya yang mengajarkan kasih sayang dan kerahmatan. Ayat ini mengajarkan kita untuk membumikan kasih sayang sebagai ekspresi iman. Juga agar kita menciptakan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dunia ini.

Oleh karena itulah membunuh jiwa tanpa hak (alasan kebenaran) diharamkan dalam Islam. Allah Taala berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (QS. Al-Isrâ’: 33)

Yang dimaksud dengan alasan yang benar, adalah seperti qishâsh (membunuh sebagai balasan hukuman yang setimpal terhadap kejahatan pembunuhan), terorisme maupun kejahatan narkotika.

Pada ayat lainnya, yaitu QS. Al-Furqân  ayat 68-70 berisi penegasan bahwa orang yang melakukan pembunuhan bukan karena alasan yang benar maka mendapat hukuman yang berat, azab dan kenistaan di hari Kiamat, akibat kejahatannya itu.

Hadis atau Sunnah, yakni sabda Nabi Muhamamd SAW, tindak tanduk beliau dan persetujuan beliau, sebagai sumber utama kedua ajaran Islam setelah Al-Qur’an menjelaskan pengertian orang muslim yang benar (lebih utama). Rasulullah SAW bersada:

Seorang muslim yang benar keislamannya ialah apabila orang-orang muslim selamat (merasa damai) dari gangguan lisan dan tangannya. (HR al-Bukhâri, Muslim, dan al-Nasâ’î, dari Ibn ‘Umar r.a, dan al-Tirmîdzî dari Abû Hurairah r.a.)

 

Dalam redaksi Imam al-Bukhârî yang lain, dari Abû Mûsâ Para sahabat bertanya: Yâ Rasûlallâh: Islam manakah yang lebih utama? Dijawab: yaitu (Islamnya) sesorang yang orang-orang muslim lainnya selamat (aman) dari gangguan lisannya dan tangannya. Dalam riwayat al-Tirmîdzî disebutkan: “Dari Abû Mûsâ al-Asy’arî bahwa Nabi SAW ditanya  orang-orang muslim yang manakah yang lebih utama? Nabi menjawab: yaitu Orang muslim yang benar keislamannya ialah apabila orang-orang muslim selamat (merasa damai) dari gangguan lidah dan tangannya.  Dalam riwayat al-Tirmîdzî yang lain disebutkan: “Dan orang mukmin yang utama itu adalah orang yang bilamana manusia merasa aman darah (nyawa) mereka dan harta mereka.”

Sunnah (Hadis) Nabi S.a.w, dalam riwayat al-Tirmîdzî memerintahkan agar manusia menebarkan kedamaian, ketenteraman, menjalin dan mempererat tali silaturahim dan memberi makan orang yang membutuhkan. Inilah amalan yang diajarkan Islam untuk mengantarkan kita, pelakunya masuk ke dalam surga.

 

Dalam menegakkan ajaran Islam, ada konsep tentang amar makruf nahi munkar, yakni menyeru kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Mengenai amar makruf nahi mungkar, Hadis Nabi S.a.w. yang diriwayatkan oleh Abû Sa`îd al-Khudzrî tentang amar makruf nahi munkar dengan tangan, lisan, dan hati, dijelaskan secara baik oleh Syaikh `Abd al-Qadir al-Jîlânî al-Hasanî. Menurut beliau, amar makruf-nahi munkar itu dilakukan sesuai dengan kompetensi/kecakapan atau kewenangan masing-masing orang. Nahi munkar dengan tangan atau senjata dilakukan oleh penguasa/aparat berwenang. Nahi mungkar dengan lisan (ucapan), nasehat, ceramah, pidato bijaksana, dilakukan oleh ulama, dan kaum intelektual. Sedangkan nahi munkar dengan hati (yaitu pengingkaran dengan hati terhadap suatu kemungkaran) dilakukan oleh orang biasa (orang awam).  Jadi, dakwah dan jihad Islam yang benar adalah ajakan atau seruan untuk mengamalkan ajaran Islam dengan cara hikmah/kebijaksanaan, mau‘izhah hasanah (petuah yang baik) dan perdebatan yang fair dan proporsional. Bukan amar makruf nahi mungkar dengan cara-cara kekerasan, memerangi, membunuh dan menyiksa.

 

Secara jelas kaidah fikih menegaskan: dar’ al-mafâsid muqaddamun ‘alâ jalb al-mashâlih, menolak kemafsadatan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan. Juga kaidah al-mashlahah al-‘âmmah muqaddamatun ‘alâ al-mashlahah al-khâshshah (kemaslahatan publik lebih diprioritaskan daripada kemaslahatan privat). Kaidah ini merupakan derivasi atau turunan dari kaidah fikih al-dharâru yuzâlu, madarat harus dihapus, yang didasarkan pada hadis Nabi SAW, lâ dharara walâ dhirâr, tidak boleh berbuat kerusakan pada diri sendiri dan/atau orang atau pihak lain, tanpa alasan yang dibenarkan (hak).

Bahkan Islam juga memerintahkan manusia untuk mempererat tali persaudaraan, melalui silaturahim. Silaturahim secara luas bermakna bekerjasama dalam kebaikan, dan berbuat untuk kemajuan bersama, tanpa mengenal perbedaan agama dan keyakinannya. Dalam konteks umat seagama, sesama orang mukmin, umat Islam adalah bagaikan satu bangunan, yang saling menopang sehingga bangunan itu berdiri kokoh. Maka, orang yang memutuskan tali silaturahim disabdakan oleh Nabi, ia tidak akan masuk surga (“lâ yadkhul al-jannata qâthi‘”, HR. al-Bukhârî). Apalagi orang yang berbuat anarkhis, terorisme, bahkan serangan dan pemunuhan sadis adalah perbuatan yang sangat zalim dan terkutuk. Secara syar’i, tentu tidaklah ia akan masuk surga, karena unsur membunuh dengan sengaja terhadap nyawa manusia tanpa alasan yang hak (benar), melebihi pemutusan tali silaturahim.

Wacana, aksi dan dukungan terhadap ISIS dalam konteks Indonesia, bertentangan dengan empat dasar/ landasan atau pilar kebangsaan kita (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945). Keempat landasan/pilar kebangsaan ini, ditinjau dari perspektif Islam, adalah bentuk kesepakatan (kalîmatun sawâ’, common platforms) yang wajib dijunjung tinggi, ditegakkan dan dipatuhi oleh umat Islam dan umat lainnya sebagai warga negara Indonesia (WNI). Dasarnya ialah Hadis Nabi s.a.w.: ”Perjanjian/persepakatan boleh dilakukan di antara orang-orang Islam kecuali perjanjian/persepakatan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan orang-orang Islam (orang-orang mukmin) wajib menegakkan persepakatan mereka kecuali persepakatan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram” (HR. al-Tirmidzî dan Abû Dâwud).

Atas dasar ini, segala wacana, sikap dan tindakan yang mengarah pada pengabaian keempat landasan/pilar kebangsaan tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari pengingkaran terhadap kalîmatun sawâ’ (common platforms), yang hukumnya haram. Dengan cara ini, kita dapat berperan besar dalam menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis dan bermartabat dalam tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Semoga kita, keluarga kita, masyarakat dan bangsa kita dan umat Islam diberi pertolongan oleh Allah Taala menjadi orang-orang yang mendapat hidayah dan inayah (pertolongan)-Nya menjadi pribadi-pribadi, masyarakat, bangsa dan umat yang menebarkan kedamaian, yang dengan itu pula akan mengantarkan kita memperoleh ridha Ilahi. Amîn.

 

K.H. Dr. Ahmad Ali M.D., pengasuh Pesantren Progresif Madania Tangerang, Pengurus Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI MUI)

 

e-Buletin Jumat edisi 30, 27 Agustus 2021 M. / 18 Muharram 1443 H. dapat diunduh disini

Vaksinasi Merata, Bangsa Kembali Tersenyum

Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum.

OLEH SYAFII MAARIF

Memang tidak ada jaminan vaksinasi akan membebaskan seseorang dari terpapar Covid-19 dengan segala variannya. Namun, dengan vaksinasi, setidaknya kita punya kepercayaan diri melebihi mereka yang belum divaksin.

Adapun mereka yang tidak mau divaksin atau tidak percaya pandemi, sulit dipahami nalar sehat. Sikap semacam ini tentu semakin membuat pemerintah kesulitan menolong rakyatnya secara merata.

Padahal, korbannya untuk Indonesia saja yang wafat sampai 22 Agustus 2021 sudah 125.342 dari 3.967.048 yang positif dan pasien yang sembuh, alhamdulillah, cukup tinggi, yaitu 3.522.048.

Namun, dalam dua hari terakhir pada tanggal itu, angka kematian di Indonesia tertinggi di dunia, yaitu 1.361, sementara di Amerika 500, India 401, dan Jerman hanya delapan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 272 juta, persentase yang terpapar itu memang relatif kecil, tetapi bahaya selalu di depan mata. Tak seorang pun yang kebal dari serangan virus ini, apalagi dalam varian Delta yang daya tularnya begitu cepat dan lebih ganas.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Saya sejak Maret 2020 tidak berani pergi ke bank atau swalayan, sekalipun sudah disuntik sekali dan mantan OTG lagi. Untung, ada saja jalan untuk mengatasi keperluan yang mendesak. Kelakuan virus ini tidak selalu mudah dipahami orang awam seperti saya.

Ada misalnya, seorang Jenderal Solihin GP (96) dan istrinya (94) sama-sama terpapar, alhamdulillah bisa sembuh. Puji Tuhan. Di sisi lain, ada anak muda sehat yang terpapar, hanya selang beberapa waktu sudah wafat.

Yang lebih memprihatinkan, kenyataan para penolong pasien: dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah dikawal APD (alat pelindung diri) sudah lebih 1.000 yang meninggal dunia.

Dengan jumlah penduduk seperti dalam angka di atas, biaya untuk vaksinasi per dosis Rp 321.660 plus pelayanan Rp 117.910. Total Rp 439.570 X 272.000.000 = Rp 119.563.040.000.000.

Hitung saja untuk tiga kali vaksinasi bagi setiap penduduk, kita akan menemukan angka rupiah raksasa yang harus dipikul negara, demi menolong rakyatnya. Sebegitu jauh, belum ada opsi lain, kecuali vaksinasi.

Obat-obat herbal yang ditawarkan baik saja, tetapi vaksin yang telah diuji di laboratorium tentu lebih bisa diproduksi dalam jumlah besar. Kita berharap, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini bisa kembali tersenyum, sekalipun harus tetap dengan prokes ketat.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

Saya tidak tahu, berapa lama lagi negara menargetkan vaksinasi bagi seluruh rakyat di sebuah negara kepulauan, yang tidak selalu mudah dijangkau.

Dalam suasana masih berkabung ini, sebaiknya kita bahu-membahu, bersatu dengan tingkat solidaritas tinggi untuk menolong sesama. Ambisi politik kekuasaan yang tak terkendali sepatutnya dihentikan dulu.

Namun, pemerintah mesti mau mendengarkan saran dari mana pun untuk terus membenahi cara kerja dalam penanganan musibah yang sedang mengancam ini.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Semboyan: “Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh” adalah cara pemerintah agar kita semua tidak larut dalam kesedihan. Optimisme wajib dibangun. Kita, insya Allah bisa melepaskan diri dari serangan Covid-19 ini.

Sekalipun kita selalu dinasihati agar tidak panik, tidak gelisah, dan tetap bersemangat menjalani hidup sehari-hari, dengan melihat korban berguguran setiap saat, siang dan malam, perasaan setiap kita pasti akan guncang juga.

Pada pandangan saya, pemerintah sudah nyaris kewalahan dalam upayanya membebaskan bangsa dari musuh yang tidak kasatmata ini.

Alhamdulillah, saat artikel ini ditulis, keadaan mulai membaik, tetapi kepatuhan terhadap prokes harus tetap ketat. Sekuat-kuatnya orang, pasti akan terpengaruh juga oleh drama-drama yang tidak dikehendaki ini.

Yang perlu dijaga, jangan biarkan setiap kita hanyut dalam perasaan. Bersedih boleh, menangis boleh, tetapi sekadarnya. Tokh kematian yang datang hanya sekali itu, pasti akan mengunjungi setiap kita.

Maka itu, saat masih sehat, masih bisa bernapas bebas, menjalani vaksinasi bagi saya adalah sesuatu yang wajib. Agama menyuruh kita berobat agar tetap sehat, bahaya sejauh mungkin dielakkan. Tidak boleh menunggu takdir tanpa berusaha.

Sepanjang sejarah umat manusia, serangan virus mematikan ini sudah sekian kali terjadi. Di ujungnya, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta farmasi berhasil menemukan obatnya. Umat manusia terselamatkan.

Ya, inilah tantangan hidup di muka bumi yang menimpa semua bangsa. Tidak peduli yang mengaku beragama atau tidak beragama. Karena itu, yang perlu diingatkan terus agar umat manusia sadar sesadarnya bahwa mereka satu kesatuan.

Egoisme bangsa, negara, dan tingkat kesejahteraan tidak boleh menghancurkan solidaritas semesta. Planet bumi yang satu ini untuk tempat tinggal bersama, tak seorang pun punya hak monopoli atasnya.

Kepada negara yang punya hulu ledak nuklir, Covid-19 berpesan: “Hulu nuklir kalian tidak berdaya menghadapi aku, tetapi aku bisa dilumpuhkan oleh masker, sabun, air mengalir, dan jarak yang dijaga!”

Akhirnya, kita ulang, dengan vaksinasi yang semakin merata, bangsa ini kembali tersenyum!

Membekali Generasi Millenial

Muhammad Alwi HS

 

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”. (QS. Al-An’am: 6)

 

 

Ayat di atas Allah informasikan bahwa generasi Kaum ‘Ad adalah generasi baru yang datang menggantikan generasi kaum Nuh yang sebagian besarnya binasa dengan bencana banjir dunia. Allah beri keistimewaan kepada mereka memiliki postur tubuh lebih kuat dari generasi sebelumnya.  Peralihan generasi itu terus berlangsung dan sampai hari ini telah sampai pada masa kita dan generasi yang sedang bersiap mengambil alih dan melanjutkan estafet perjuangan generasi sebelumnya yang sedang berlangsung. Mereka inilah yang populer disebut generasi Y atau generai Millenial.

 

Tetapi yang terpenting diperingatkan oleh Al-Qur’an adalah tentang karakteristik dan kualitas para generasi tersebut. Di mana peralihan generasi dan kepemimpinan tidak selamanya berlangsung linear (lurus seperti garis) tetapi seringkali terjadi secara sepiral (melingkar) bahkan regresif (bersifat mundur). Pada Surat Al-A’raf ayat ke 168-169 Al-Quran menggambarkan kemunduran yang terjadi pasca peralihan generasi :

 

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”. (168) 

 

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?”. (169) 

 

Ayat-ayat di atas berbicara tentang peralihan generasi yang meyedihkan. Di mana generasi pendatang tidak mampu menjaga warisan kekayaan kemuliaan yang ditinggalkan nenek moyang mereka yang telah dibangun dengan fondasi dan nilai-nilai wahyu yang dibawa para Nabi mereka sebelumnya.

 

Apa yang diungkapkan Al-Quran tentang pergantian generasi dan perubahan karakter serta budaya pada umat-umat terdahulu mengandung pelajaran dan peringatan berharga bagi umat Nabi Muhammad yang dipersiapkan sebagai umat terakhir dari perjalanan umat manusia, di mana karakteristik utamanya adalah tidak ada lagi kepemimpinan para Nabi dan Rasul karena sudah diakhiri dengan Nabi Muhammad. Mereka terlahir untuk mewarisi nilai-nilai agung itu berupa sumber ajarannya yang ditinggalkan kepada mereka, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi.

 

“Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka, yang jika kaian pedomani dengan sekuat tenaga, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabinya”.

 

Kita menyadari bahwa generasi milenial sekarang ini tumbuh dan berkembang dengan tanggung jawab, peluang dan tantangan yang berbeda dan bisa lebih berat dari yang dihadapi kita dan yang sebelumnya. Maka tidak mungkin generasi yang hidup dengan zaman dan tantangan yang berbeda dididik dan dipersiapkan dengan cara dan metode tradisisonal yang sudah ketinggalan zaman.

 

Ali bin Abu Thalib berkata, “Sampaikanlah kepada manusia apa yang bisa mereka pahami, sudikah kalian Allah dan Rasul-Nya didustakan manusia karena kesalahan penyampaian kalian”. Umar mengatakan, “Didiklah anak-anak kalian, karena sesungguhnya mereka akan menghadapi suatau zaman yang berbeda dengan zaman kalian ini”.

 

Generasi milenial adalah generasi yang dilahirkan dalam konteks masyarakat yang sudah terkepung oleh kemajuan teknologi media. Karena karakterisitik generasi ini memang tidak bisa dipisahkan oleh media, tentu media sosial yang kini tengah booming menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam sikap dan perilakunya.  Jika mereka tidak membekali diri dengan pemahaman agama yang benar, mereka akan mudah dipengaruhi oleh ajakan yang menyesatkan. Oleh karena itu, generasi milenial perlu membekali diri dengan pemahaman agama yang baik dan komprehensif. Jangan menjadi generasi yang aktif memberikan bibit kebencian, yang berpotensi memicu terjadinya konflik. Untuk itulah, bijak bermedia sosial perlu diimplementasikan dalam keseharian.

 

Demikian halnya dalam beragama, sesama Muslim pun berbeda-beda pula dalam praktik keagamaan, penafsiran, dan metode dakwahnya. Oleh karena itu, sikap inklusif yang merangkul semua pihak sangat perlu untuk diejawantahkan. Sikap ini menjadi penting karena realitas bangsa ini yang heterogen. Nabi Muhammad dalam kehidupannya telah mencontohkan bagaimana hidup rukun dengan umat lain. Misalnya melalui kesepakatan Piagam Madinah. Piagam ini diwujudkan guna menjamin dan melindungi masing-masing agama dan kepercayaan yang ada di Madinah pada masa itu. Nabi Muhammad saw sama sekali tidak menggunakan pemaksaan dan kekerasan kepada umat lain. Lebih dari itu, Nabi Muhammad mencontohkan akhlak dan etika yang luhur dan mulia. Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (H.R. al-Baihaqi)

 

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah daya kekuatan yang tertanam dalam dan dorongan perbuatan spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. Jadi akhlak merupakan sikap perilaku yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.

 

Oleh karena itu, sudah selayaknya generasi milenial dibekali dengan pemahaman yang komprehensif terhadap ajaran agamanya. Menjadi kelompok masyarakat yang peduli dengan media sosial yang sehat dan berkontribusi terhadap tumbuhnya budaya yang saling menghormati, berakhlak yang baik, dan terbuka terhadap berbagai keberagaman. Generasi milenial harus siap menunaikan tanggungjawab serta memberi solusi terhadap berbagai problema kehidupan umat manusia, khususnya dalam membangun kejayaan umat dan bangsa Indonesia yang menjadi cerminan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

 

Ust. Muhammad Alwi HS, Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

 

e-Buletin Jumat edisi 29, 20 Agustus 2021 M. / 11 Muharram 1443 H.

Mensyukuri Kemerdekaan

Ust. Andri Ardiansyah

 

 

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih.”  (QS. Ibrahim (14);7) 

 

 

Pada bulan Agustus ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya yang ke-76. Ketika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, maka kita akan menemukan jejak Islam di setiap lembarannya. Ya, jejak perjuangan kaum muslimin dan para ulama yang menentang penindasan dan mengagungkan nama Islam. Bahkan perjuangan kemerdekaan tersebut telah ada jauh sebelum terbayangnya sebuah komunitas bernama Indonesia. Jadi jelas, bahwa kemerdekaan yang hingga saat ini kita rasakan dan hari ini kita peringati, adalah berkat rahmat Allah. Oleh sebab itu semua harus mensyukuri berkah atau nikmat Allah ini dengan sebaik-baiknya.

 

Kata syukur berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata “syukron” yang berarti terima kasih. Dalam bahasa Syar’i, syukur atau bersyukur adalah kewajiban seorang muslim terhadap Allah, atas segala nikmat yang diberikan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam kutipan ayat di awal tulisan ini. Mengucapkan kata syukur ini sangat mudah, tetapi dalam prakteknya sulit. Sebab bersyukur adalah melaksanakan segala perintah Allah, dan meninggalkan segala larangannya, serta menggunakan nikmat yang diberikan Allah itu untuk fi sabilillah (di jalan Allah).

Kenyataanya sulit mencari orang bersyukur ini. Mereka yang diberi amanah untuk menyelenggarakan negara ini juga banyak yang tidak bersyukur. Mereka masih senang mengerjakan yang dilarang Allah, dan meninggalkan yang diperintah-Nya. Tantangan terbesar bangsa ini adalah dari internal kita sendiri. Bangsa yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia, tetapi rakyatnya masih belum hidup sejahtera. Sikap dan prilaku koruptif telah merajalela, mulai dari elit hingga rakyat jelata. Suap-menyuap telah menjadi budaya, sehingga mental bangsa menjadi rusak. Ini tantangan serius yang dihadapi bangsa ini. Para pejabat masih banyak yang korupsi, menyalahgunakan jabatan dan melanggar hukum. Padahal Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:

“Apabila datang pertolongan Allah berupa kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuanmu, dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat”. (QS. An-Nashr 1-4)

Sebab turun (asbabun nuzul) surat ini adalah ketika Rasulullah menaklukkan kota kelahirannya yang sudah lama ditinggalkan. Waktu itu Rasulullah bersama panglima perangnya Khalid bin Walid berhasil menggempur pasukan kafir Quraisy, dan memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Waktu itu orang berbondong-bondong masuk Islam, yang dulunya membenci Nabi.
Rasulullah SAW merasa gembira menyaksikan kenyataan itu. Pada waktu itu turunlah ayat dari Surah An Nashr itu, guna mengingatkan Rasulullah dan umat Islam, agar mereka mensyukuri nikmat kemenangan itu dan jangan lupa dengan Allah SWT.

 

Mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengisinya melalui pembangunan dan kemakmuran.  Allah SWT mengingatkan kepada kita yang hidup saat ini agar jangan sampai mewariskan generasi yang lemah, yang tidak sejahtera hidupnya. Sebagaimana dahulu para pejuang kemerdekaan RI mewariskan kemerdekaan kepada kita.

 

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk menyambut hari kemerdekaan ini adalah mensyukuri secara sungguh-sungguh dan sepenuh hati atas anugerah keamanan atas agama dan negara kita dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan. Sebab, nikmat agung setelah iman adalah aman. Lalu, bagaimana cara kita mensyukuri kemerdekaan ini? Pertama, mengisi kemerdekaan selama ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan berbuat baik kepada sesama. Perlombaan yang paling bagus di momen ini adalah perlombaan menjadi pribadi paling takwa karena di situlah kemuliaan dapat diraih.

 

Yang kedua, mencintai negeri ini dengan memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kemudaratan bagi eksistensinya. Segala upaya yang memberikan manfaat bagi rakyat luas kita dukung, sementara yang merugikan masyarakat banyak kita tolak. Sebaliknya, mencegah mudarat berarti menjauhkan bangsa ini dari berbagai marabahaya, seperti bencana, korupsi, kriminalitas, dan lain sebagainya. Inilah pengejawantahan dari sikap amar ma’ruf nahi munkar dalam pengertian yang luas. Ajakan kebaikan dan pengingkaran terhadap kemungkaran dipraktikkan dalam konteks pembangunan masyarakat. Tujuannya, menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, adil, dan sejahtera.

 

Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumid Din, mengatakan: “Kekuasaan (negara) dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama adalah landasan, sedangkan kekuasaan adalah pemelihara. Sesuatu tanpa landasan akan roboh. Sedangkan sesuatu tanpa pemelihara akan lenyap.”

 

Pernyataan Al-Ghazali ini seolah ingin menegaskan bahwa ada hubungan simbiosis yang tak terpisahkan antara agama dan negara. Alih-alih bertentangan, keduanya justru hadir dalam keadaan saling menopang. Negara membutuhkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam agama, sementara agama memerlukan “rumah” yang mampu merawat keberlangsungannya secara aman dan damai.

 

Kita bersyukur dasar negara kita senafas dengan substansi ajaran Islam.  Mensyukuri kemerdekaan adalah mensyukurinya dengan lisan-lisan kita, dalam bentuk kalimat tahmid, berterima kasih dan menyebut jasa serta mendoakan para pahlawan, semoga amalnya diterima Allah SWT. Menyebut jasa baik tersebut juga menjadi bagian dari syukur kita kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Daud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

 

Mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengisi masa kemerdekaan dengan amalan yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam berbangsa dan bernegara, bukan dengan mengisinya dengan kemaksiatan kepadaNya. Dengan tegas Allah SWT telah memberi arahan kepada bangsa ini bagaimana seharusnya mengisi kemerdekaan dan mensyukuri nikmat kepemimpinan.

 

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 41,

 

”(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” Kalimat ”kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi” dapat berarti suatu bentuk kemerdekaan dari penjajahan.

 

Mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan mempertahankan keutuhan jati diri bangsa ini dengan nilai-nilai Islam yang tinggi dan cinta kepada negeri ini. Dengan itu, kita akan mampu meraih kejayaan dan meneruskan sejarah bangsa ini menjadi sebuah “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur“ yaitu sebuah negara dan bangsa yang meraih maghfirah (ampunan), kesejahteraan dan kedamaian. []

 

Ust. Andri Ardiansyah, Dosen Ibn Khaldun, Bogor

 

e-Buletin Jumat edisi 28, 13 Agustus 2021 M / 04 Muharram 1443 H dapat diunduh disini

‘Panen’ Kematian

Bagi kami ‘panen’ di sini sama artinya dengan kematian, suasana berkabung.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Perkataan ‘panen’ sengaja ditempatkan antara dua tanda kutip karena bagi saya dan mereka yang punya pertalian darah mengandung makna khusus, yaitu berkabung, duka, kehilangan, dan perasaan berat.

Sejak Januari sampai dengan Agustus 2021, ada tujuh orang yang wafat dari keluarga kami dengan berbagai penyebab. Dua karena Covid-19, empat lantaran sakit, satu karena kecelakaan. Tidak perlu nama-nama mereka ditulis di sini kecuali dua orang: Nurhayati Maarif, kepala tujuh, adik seayah, wafat di Bandung pada 24 Juni 2021, karena sudah lama menderita sakit yang tidak ketemu jenis penyakitnya. Padahal seorang anak puteri dan menantunya adalah dokter.

Yang kedua Zaghi Irfan Kudus (cicit almarhum abang saya), usia baru belasan tahun karena kecelakaan di Pekanbaru pada 23 Juli 2021. Kabarnya anak belia ini sudah hafal empat juz surah dalam Alquran.

Kecuali Zaghi yang belum pernah bertemu, selebihnya saya kenal dari jarak yang dekat, bahkan dekat sekali. Lima orang di antaranya adalah keponakan saya, seorang anak abang dan empat anak dari dua kakak perempuan saya yang sudah lama meninggal.

Aliran darah mereka semua terkait dengan darah ayah saya Ma’rifah Rauf, gelar Datuk Rajo Malayu, dan dan ibu saya Fathiyah Ja’kub yang masing-masing wafat pada tahun 1955 dan 1937. Nurhayati yang lain ibu hanya punya pertalian darah dengan Ma’rifah.

Ayah dan ibu saya berasal dari nagari Sumpur Kudus, kawasan terpencil di kaki Bukit Barisan, Sumatra Barat. Nama nagari ini sudah sering muncul di Republika karena beberapa peristiwa yang terjadi di sana.

Tujuh yang wafat itu satu perempuan dan enam laki-laki. Semuanya punya jalan hidup dan retak tangannya sendiri.

Tujuh yang wafat itu satu perempuan dan enam laki-laki. Semuanya punya jalan hidup dan retak tangannya sendiri. Ada ibu rumah tangga yang berhasil mendidik anak-anaknya, ada mantan kepala SD, ada petani. Ada isterinya yang jadi guru dan jadi dosen.

Hanya tiga yang merantau. Selebihnya tetap tinggal di kampung dengan segala kesederhanaannya. Selama delapan bulan itu, hanya Maret dan Mei saja yang tidak ada kematian di lingkungan keluarga kami. Yang terbaru wafat pada 8 Agustus 2021, beberapa jam sebelumnya masih merasa sehat.

Saya tahu, tentu banyak rakyat Indonesia yang telah berkabung melebihi beratnya dari beban batin keluarga kami. Mereka yang wafat karena virus saja sampai dengan 8 Agustus 2021 sudah berada pada angka 107 ribu dari keseluruhan kasus yang terpapar sejumlah 3.670.000.

Virus ganas varian Delta ini telah menyebar ke segala penjuru, kawasan perkotaan dan perkampungan. Nagari Sumpur Kudus yang udik itu sudah banyak pula yang terpapar.

Dua di antaranya dimakamkan dengan protokol kesehatan yang membuat kampung jadi geger. Tak seorang pun di antara kita yang kebal dari serangan virus ini, sekalipun sebagian besar yang terpapar, alhamdulillah, sembuh.

Bagi petani, masa panen tentu sangat menggembirakan. Oleh sebab itu, perkataan panen tidak perlu ditempatkan antara dua tanda kutip. Panen padi, jagung, ubi, dan segala segala jenis palawija, adalah rezeki yang selalu dinantikan para petani. Bagi kami ‘panen’ di sini sama artinya dengan kematian, suasana berkabung, seperti telah disebut di awal tulisan ini.

Kepada anggota famili yang masih diberi napas panjang yang jumlahnya mungkin sudah ratusan yang bertebaran di berbagai pulau, bahkan seorang di Muscat (Oman), saya sampaikan bahwa semua kita sedang menunggu giliran menuju alam barzah. Hanya masalah waktu saja, cepat atau lambat.

Tak seorang pun yang bisa mengelak, siap atau belum siap. Sayalah yang tertua di antara mereka.

 

Bom Atom dan Kemerdekaan Indonesia

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan muli

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Bulan Agustus, 76 tahun silam adalah akhir Perang Dunia (PD) II, yang didahului ledakan bom atom.

Sebenarnya, ada perbedaan pendapat yang tajam antara panglima tertinggi sekutu di Eropa, Jenderal Dwight D Eisenhower bersama beberapa perwira tinggi tentara AS dan Presiden Harry S Truman, dalam menentukan sikap terhadap Jepang untuk mengakhiri perang pada Agustus 1945.

Bagi Truman, Jepang harus segera dilumpuhkan dengan bom atom yang kemudian dijatuhkan pada 6 Agustus 1945 di Hiroshima dan 9 Agustus 1945 disusul ledakan kedua di Nagasaki. Dua kota itu luluh berantakan, meninggalkan abu radio aktif yang sangat berbahaya.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Jepang dihajar dengan bom nuklir pertama kali dalam sejarah umat manusia. Dalam perhitungan Jenderal Eisenhower, Jepang akan segera bertekuk lutut tanpa dibom sekalipun.

Karena yang berkuasa Truman, usul Eisenhower dan koleganya tak berlaku, padahal didasarkan kajian dimedan perang yang akurat. Jepang waktu itu sudah kehabisan napas untuk meneruskan perang dunia yang telah membunuh manusia 62.537.400, militer dan sipil.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Angka kematian tertinggi diderita Cina sebanyak 10 juta: sipil 7 juta, sedangkan militer 3 juta. Karena tulisan ini bukan untuk mengulas PD II, kita cukupkan dengan menuliskan angka-angka korban yang dibatasi pada empat negara itu saja.

Apa kaitannya antara bom atom dan proklamasi kemerdekaan Indonesia? Bahwa Indonesia pasti merdeka pada suatu saat yang tidak terlalu lama, sudah diperkirakan Bung Hatta dalam pidato pembelaannya di depan pengadilan Den Haag pada 28 Maret 1928.

Rakyat Indonesia yang mati akibat perang cukup tinggi, yaitu 4 juta. Korban kematian rakyat Jepang 2.600.000: militer 2 juta dan sipil 600 ribu. Sedangkan AS hanya 418.500, yakni  militer 407.300 dan sipil 11.200 orang.

Maka itu, ledakan bom atom di Jepang seperti disebut di atas, hanyalah mempercepat proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, yang memang sudah dirintis sejak abad ke-19 berupa perang-perang sporadis, yang dilancarkan para patriot nusantara.

Perjuangan kemerdekaan itu semakin terorganisasi dengan baik pada abad ke-20, yang dipelopori pergerakan nasional Indonesia.

Setelah penjajah Belanda diusir secara hina tanpa perlawanan oleh pasukan Jepang pada Maret 1942, Indonesia untuk 3,5 tahun ke depan punya bos baru: si mata sipit yang tidak kurang kejamnya terhadap rakyat di kepulauan ini.

Ingat, romusha (pengiriman puluhan ribu pemuda dari Jawa untuk kerja paksa di luar Jawa) dimulai pada 1943 oleh penguasa Jepang. Seusai perang, hanya sebagian kecil pemuda kita itu yang selamat kembali ke kampung halamannya.

Sejumlah besar telah hilang selama kerja paksa itu dalam keadaan sangat kurus kering. Juga praktik iyanfu (gadis-gadis sejumlah negara, termasuk Indonesia, dijadikan perbudakan seks oleh tentara pendudukan Jepang) sampai hari ini belum terbongkar seluruhnya.

Tentara mata sipit ini sungguh tak punya rasa kemanusiaan sama sekali saat memerkosa perempuan negeri taklukannya. Sisa mantan iyanfu ini sekarang berusia sangat lanjut, sebagian masih sempat menuturkan penderitaannya sebagai budak seks tentara Jepang itu.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia

Sayang, Pemerintah Jepang dan Indonesia sampai hari ini tak serius mengurus perempuan bernasib sangat malang ini. Nasib rakyat terjajah memang sangat memelas, bergerak dari penderitaan satu ke penderitaan lain dalam mata rantai yang panjang.

Karena itu, kemerdekaan bangsa punya nilai sangat tinggi dan mulia. Sekalipun Jepang sudah kalah, proses deklarasi kemerdekaan Indonesia tidak mulus. Terjadi pertentangan politik domestik antara golongan pemuda dan golongan tua Sukarno-Hatta.

Pemuda menilai, golongan tua tidak revolusioner untuk segera menyatakan kemerdekaan.

Peristiwa Rengasdengklok berupa penculikan golongan pemuda terhadap Sukarno-Hatta pada pertengahan Agustus 1945 adalah bagian menyatu dengan derap revolusi Indonesia, yang kadang-kadang tidak terkendali itu.

Bentakan Sukarno terhadap ancaman pemuda Wikana sebelum penculikan adalah bukti gesekan tajam antara dua pendapat berbeda itu. Golongan pemuda memaksa Bung Karno segera menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Inilah kesaksian Bung Hatta: Mendengar ancaman itu Sukarno naik darah, menuju pada Wikana sambil menunjukkan lehernya dan berkata: “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Bentakan ini membuat Wikana terperanjat: “Maksud kami bukan untuk membunuh Bung…” (Lih. Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, hlm 445).

Tentara Jepang yang sudah kalah masih sering beraksi brutal terhadap rakyat Indonesia dan perlawanan dari pihak kita terhadap pasukan itu juga tidak kurang gigihnya dengan korban pada kedua belah pihak.

Harga sebuah kemerdekaan itu sungguh mahal. Indonesia telah menebusnya dengan nyawa, kehormatan, dan derita rakyat yang meninggalkan luka sangat dalam. Saya tidak tahu, apakah ledakan bom atom itu seimbang dengan kekejaman Jepang terhadap rakyat jajahannya? Allahu a’lam!

Sekalipun mungkin banyak pemuja Jepang di negeri ini, kelakuan biadab tentaranya saat PD II tidak boleh dilupakan.

Islam Agama Hanif

Ust. Edi Sutrisno

 

 

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah Agama Ibrahim seorang yang hanif.” Dan Bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. Al-Nahl: 123)

 

Pada di­ri manusia, ter­dapat kecenderungan atau dorongan ingin melanggar, yang di antaranya disebabkan oleh sifat-sifat ma­nusia yang ingin selalu cepat, serba in­stan. Namun, pa­da diri manusia juga ditemukan adanya dorongan halus yang selalu mengajak atau membisikkan keinginan berbuat baik dan mencintai kebaikan, yang bersumber dari hati nu­rani. Dorongan halus tersebut dalam idiom Al-Quran dise­but hanif.

 

Hanif juga bisa diartikan sebagai berpaling dari keburukan dan condong pada kebaikan; orang muslim yang berpaling dari semua agama yang ada atau orang yang hanya cenderung pada kebenaran; orang yang menghadapkan dirinya ke arah kiblat, yakni baitul haram, karena mengikuti agama nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad; orang yang ikhlas; orang yang bersikap pasrah dalam menerima semua perintah Allah dan tidak menyimpang sedikitpun. Hanif juga sering diartikan sebagai al-mustaqim (yang lurus).

 

Dalam Tafsir Jalalain, disebutkan bahwa hanif adalah berpaling dari semua agama dan cenderung hanya pada agama yang lurus (ad-din al-qayyim). Sementara itu, Ath-Thabari, dalam kitab tafsirnya, menyatakan bahwa para ahli takwil berbeda pendapat mengenai pengertian kata hanif. Sebagian mengartikannya sebagai ibadah haji; sebagian mengatakan bahwa agama Nabi Ibrahim disebut dengan al-Islâm alhanîfiyah karena beliau merupakan imam pertama para ahli ibadah pada zamannya dan orang-orang yang datang setelahnya sampai hari kiamat; mereka adalah kaum yang mengikuti ibadah haji dan meneladaninya dalam ibadah tersebut. Mereka mengatakan bahwa setiap orang yang menunaikan ibadah haji dan mengikuti tata cara haji Nabi Ibrahim adalah hanif dan berserah diri (hanifan musliman) pada agama Nabi Ibrahim.

 

Sebagian mengatakan bahwa agama Nabi Ibrahim disebut dengan al-hanifiyah karena beliaulah yang pertama kali mensyariatkan khitan, yang kemudian diikuti oleh orang-orang yang datang setelah beliau. Karena itu, dikatakan bahwa setiap orang yang berkhitan dengan mencontoh tata cara khitan nabi Ibrahim, berarti dia seorang yang hanif. Ada juga yang berpendapat bahwa hanif adalah mukhlish (orang ikhlas) sehingga orang hanif adalah orang yang mengikhlaskan (memurnikan) agamanya hanya untuk Allah semata.

 

Istilah hanif atau al-hanifiyah (agama hanif) tidak begitu popular di lingkungan umat Islam di Indonesia. Sehingga ketika disebut agama hanif (agama yang condong kepada kelurusan, kebenaran, kebaikan) masih terasa asing. Kata hanafa telah dikenal dalam bahasa yang berlaku ketika itu di lingkungan masyarakat Arab. Di kalangan orang Arab dan Suryani kata hanafa dimaksudkan Shaba’a yang berarti condong dan terpengaruh oleh sesuatu. Al-Qur’an juga berbicara tentang al-Hunafa’. Kata Hanifan diulang sepuluh kali dalam Al-Qur’an, sedangkan kata Hunafa’ diulang 2 kali.

 

Al-Hunafa’ dengan demikian, adalah kumpulan orang-orang dengan segenap keistimewaan yang ada pada dirinya, seperti kecerdasan akal dan pengetahuannya yang luas, pandangan-pandangannya sangat kritis terhadap problematika kehidupan. Mereka dipandang relatif lebih berbudi pekerti luhur dan terpelajar. Mereka menolak menyembah berhala karena dipandang sia-sia, dan mengajak kepada ketauhidan. Mereka menjauhkan diri dari menyembah berhala dan melainkan mereka menyuarakan ke-Esaan Allah. Demikian pula mereka mempunyai kelebihan dalam tingkah laku dan moralitas sehingga mereka menolak segala kehinaan yang tersebar di masyarakatnya, seperti zina, minum khamr, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Dan tentu saja, semua itu merupakan ajakan demi tersebarnya agama hanif sebagai pencarian terhadap agama baru yang lebih rasional.

 

Semua faktor-faktor tersebut telah berinteraksi sehingga berkembang dan melahirkan fenomena agama hanif dan tersebar di seluruh penjuru, khususnya di kota-kota atau pusat-pusat kebudayaan. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa fenomena al-Hunafa’ tersebut merupakan langkah awal bagi munculnya ‘kesadaran’ dalam ber-Islam dan juga kesadaran dalam membangun peradaban. Mereka hidup dalam peradaban yang tinggi. Hal itu karena kebanyakan mereka telah mempelajari kitab suci kedua agama Semit (Yahudi dan Nasrani). Sebagian telah menguasai bahasa yang lain selain bahasa Arab, seperti bahasa Ibrani (Hebrew) dan Suryani. Semua itu dimaksudkan untuk mencari agama Nabi Ibrahim, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur’an dengan sebutan hanif yang dalam bahasa teologi Islam justru termuat dalam paham tauhid, yang akan membawa kepada siapa saja yang mempercayainya kepada suatu sikap pasrah kepada Tuhan sebagai suatu bentuk ketundukan. Sejalan dengan pengertian “Islam” itu sendiri, sebagai “sikap pasrah kepada Tuhan”.

 

Perlu diuraikan juga di sini bahwa kaum Yahudi dan Nasrani, mem­­­­punyai kedudukan yang khu­sus dalam pandangan kaum Mus­lim karena agama mereka adalah pendahulu agama kaum Muslim (Islam), dan agama kaum Muslim (Islam) adalah kelanjutan agama mereka. Sebab inti ajaran yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah sama dengan inti ajaran yang di­sam­paikan oleh Tuhan kepada semua Nabi. Karena itu, sesungguhnya se­luruh umat pemeluk agama Allah adalah umat yang tunggal. Karena itu para penganut setiap agama dituntut untuk meng­amalkan dengan sebaik-baiknya ajaran Tuhan dalam masing-masing agama itu.

 

Ada kisah yang terkait dengan ajaran Islam yang hanif atau al-hanifiyyat al-samhah, yaitu sikap merindukan, mencari, dan memihak kepada yang benar dan baik secara lapang. Diceritakan, ada seorang sahabat bernama Utsman ibn Mazh‘un mem­beli sebuah rumah, lalu ia tinggal di dalamnya (sepanjang waktu) untuk beribadah. Ketika berita itu datang kepada Nabi Saw., maka beliau pun datang kepadanya, lalu dibawanya keluar, dan beliau bersabda: “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah tidaklah mengutusku dengan ajaran kerahiban” (Nabi bersabda demikian dua-tiga kali, lalu ber­sabda lebih lanjut), “Dan se­sung­guhnya sebaik-baik agama di sisi Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah (semangat pencarian kebenaran yang lapang)”.

 

Terkait dengan hadis di atas, Muhammad Asad juga menegaskan bahwa Al-Quran menekankan prin­sip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Ajaran tentang formalitas ritual belaka tidak­lah cukup sebagai wujud ke­agamaan yang be­nar. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita me­­­nuju keba­ha­giaan, sebelum ki­ta meng­isinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Sikap-sikap mem­batasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal, akan sama de­ngan peniadaan tujuan agama yang hakiki. Dalam Islam, kebahagiaan hi­dup yang diperoleh melalui amal perbuatan yang baik dan benar adalah sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Islam adalah agama yang meng­ajarkan bahwa keselamatan diraih dengan perbuatan baik atau amal saleh.  []

 

Ust. Edi Sutrisno, Ketua 1 Takmir Masjid Jami Bintaro Jaya

 

e-Buletin Jumat edisi 27: 08 Agustus 2021 M. / 27 Dzulhijjah 1442 H.