Membangun Perdamaian

Ust. Agusman Armansyah

 

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condong- lah kepadanya dan bertawakal-lah kepada Allah. Sesungguh- nya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui

(QS. Al- Anfâl: 61).

 

Ayat Al-Quran di atas menjelaskan kepada kita tentang pentingnya perdamaian dalam kehidupan. Berdasarkan ayat Al-Quran tersebut, perdamaian harus senantiasa diperjuangkan dan dikedepankan ketimbang pilihan-pilihan hidup yang lain, baik dalam keadaan normal maupun dalam ke adaan perang.

Dalam kitab tafsir Mafâtîh Al-Ghaîb, Imam Ar-Razi menyebutkan bahwa ayat ini turun ketika perang Badar terjadi antara umat Islam dengan orang-orang kafir Quraisy. Perang  Badar adalah perang pertama dalam sejarah umat Islam.  Perang ini terjadi dengan kekuatan yang tidak seimbang antara kedua belah pihak. Orang-orang Islam yang terlibat dalam perang ini hanya berjumlah 313 orang. Sedangkan orang-orang kafir Quraisy berjumlah 1.000 orang. Namu kekuasaan Allah telah menjadi kekuatan maha dahsyat yang tak terlihat oleh siapa pun, hingga umat Islam mencapai kemenangan gemilang dalam peperangan ini.

Dari sebab turunnya ayat di atas menjadi jelas, betapa perdamaian sangat ditekankan dalam Islam. Dalam keadaan perang pun Islam tetap mengedepankan dan mengupaya kan tegaknya perdamaian. Imam Ali bin Abi Thalib pernah menceritakan suatu Hadis Nabi Muhammad SAW terkait dengan ajaran perdamaian dalam Islam.

 

Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya akan terjadi banyak perbedaan setelah Aku (meninggal). Bila Engkau mampu mewujudkan perdamaian, maka lakukanlah.

 

Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa Hudaibiyah (‘am al-hudaybiyyah) patut dijadikan teladan oleh segenap umat Islam dalam mengupayakan perdamaian. Yaitu ketika orang-orang kafir Quraisy meminta berdamai dengan Nabi Muhammad SAW dan semua pengikutnya.

Tak hanya itu, orang-orang Quraisy juga meminta Nabi Muhammad SAW agar mengurungkan niatnya untuk mengunjungi kota Mekah, kota suci sekaligus tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW sebelum beliau hijrah ke Madinah. Padahal, saat itu Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya sudah dalam keadaan siap seratus persen untuk melakukan kunjungan atau umrah ke Kota Suci tersebut. Sebagai imbalannya, orang-orang Quraiys berjanji tidak akan mengganggu umat Islam kembali bila berkunjung ke kota Mekah setelah masa Hudaibyah.

Nabi Muhammad SAW sepakat dengan ajakan perdamaian di atas dan memilih mengurungkan niat sucinya tersebut. Sejumlah sahabat Nabi seperti sahabat Umar bin Khattab terperangah menyaksikan keputusan bijak yang diambil oleh Nabi Muhammad SAW. Tapi keputusan ini sepintas merugikan beliau beserta pengikutnya.

 

Nabi Muhammad SAW kemudian meyakinkan para sahabatnya akan kebenaran dan kebijaksanaan dalam keputusan tersebut. Nabi Muhammad SAW juga meyakinkan  para sahabat bahwa keputusan ini merupakan tuntunan Allah. Dan yang tak kalah pentingnya adalah, bahwa keputusan demi perdamaian tidak akan pernah salah atau merugikan.

 

Fenomena konflik dan kekerasan berbasis agama belakangan cukup mengkhawatirkan; dan ini  terjadi hampir di semua kehidupan umat beragama, apa pun agamanya. Fenomena ini terjadi setidaknya karena dua hal utama. Pertama, adanya beberapa doktrin yang dipahami secara salah sehingga doktrin tersebut dijadikan sebagai legitimasi untuk melakukan tindakan kekerasan. Beberapa ajaran dianggap  membolehkan tindakan kekerasan. Apalagi kekerasan tersebut dilakukan untuk menghakimi “mereka yang berbeda”.

Harus diakui, Islam juga mempunyai beberapa ajaran yang sering dikait-kaitkan dengan aksi-aksi keras seperti perang. Juga benar bahwa dalam Al-Quran dan Hadis terdapat beberapa ajaran tentang perang dan jihad.

Namun sungguh tidak benar bila diyakini bahwa ajaran- ajaran perang adalah satu-satunya doktrin dalam Islam. Sebagaimana juga tidak benar bila ajaran jihad hanya dipahami sebagai ajaran tentang angkat senjata ataupun aksi-aksi keras lainnya. Karena terdapat sekian ajaran tentang perdamaian yang dijadikan pilihan hidup. Sebagaimana juga terdapat makna jihad lain di luar aksi keras. Dan hampir semua ajaran jihad atau perang mempunyai latar belakang ataupun konteks yang dapat menjelaskan mengapa hal itu harus dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran tentang perang dalam Islam harus dipahami secara tepat sesuai dengan konteks kesejarahannya.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah memberikan pada kelembutan hal-hal yang tak diberikan kepada ke- kerasan.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih, mencintai sifat welas- asih, dan memberikan (banyak keistimewaan) yang tidak diberikan kepada sifat kejam atau kekerasan.

 

Hadis di atas hendak menegaskan bahwa perdamaian adalah yang pertama dan terutama. Dalam keadaan apa pun perdamaian harus senantiasa diperjuangkan dan ditegakkan. Karena hanya dalam damai manusia sebagai khalifah di muka bumi bisa menjalankan mandat dan kepercayaan Allah, yaitu untuk membangun kehidupan dan peradaban adi luhung.

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Islam seperti apa yang utama wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Menyantuni makanan dan menyebarkan salam perdamaian, baik kepada orang yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.”

Tentu saja, Nabi Muhammad SAW tidak hanya sedang menuntun umatnya agar membiasakan dan menghormati orang lain dengan ucapan assalâmu’alaikum yang bermakna: kedamaian untukmu. Lebih dari pada itu, Nabi Muhammad SAW hendak membangun kehidupan umat yang santun, peduli terhadap persoalan perdamaian dan berjuang demi  tegaknya perdamaian. Jangankan dengan mereka yang sudah ketahuan titik perbedaannya (baik perbedaan agama atau suku), dengan mereka yang belum dikenal pun umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berdamai, sebagaimana tuntunan Hadis di atas.

Dalam konteks ini, ajaran perdamaian sebagaimana terkandung dalam ayat Al-Quran di atas, anjuran menyebarkan kata salam dan hakikat keutamaan Islam sebagaimana ditayakan oleh seorang sahabat dalam Hadis di atas mempunyai makna yang mendalam. Makna ini sangat penting demi terciptanya keberislaman yang utama bagi seorang muslim.

Secara kebahasaan, kata as-silm dalam ayat di atas, kata salâm, dan kata al-islâm berawal dari satu kata, yaitu sa-li- ma. Dalam kitab Lisânu Al-Arab disebutkan, kata ini bermakna as-salâmu (perdamaian), as-salâmatu (keselamatan) dan al-barâ‘ah (kebebasan), yakni tidak ada keterkaitan antara satu dengan yang lain, terutama dalam keburukan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa hakikat Islam yang utama (meminjam istilah seorang sahabat dalam pertanyaan di atas) adalah Islam yang menyebarkan perdamaian, memberikan keselamatan dan kebebasan kepada diri sendiri dan orang lain (al-barâ‘ah) untuk melakukan apa yang dianggap sebagai kebaikan. Dan inilah bagian dari ajaran inti dalam Islam. Karena kata al-Islâm sendiri berasal dari “rumpun kata” yang sama, yakni kata sa-li-ma.

 

Sebagai penutup, marilah kitamerefleksikan kembali bacaan dan amalan doa yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama di setiap selesai melakukan ibadah shalat. Yaitu doa yang berbunyi:

Wahai Tuhan, Engkau adalah perdamaian. Darimu perdamaian berasal dan kepada-Mu-lah perdamaian akan kembali. Maka, hidupkanlah kami dalam damai dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu yang tak lain adalah singgasana perdamaian, diberkati Engkau dan Maha Tinggi Engkau wahai Dzat Yang Agung dan Mulia.

 

Perdamaian adalah sifat Allah subhânahu wata’âlâ, yang harus mewarnai tindak-tanduk keseharian kita. Betapa indahnya hidup ini jika diisi dengan kehidupan yang damai, baik dalam lingkup keluarga, organisasi, bangsa, maupun lingkup global. Mari kita jalani kita songsong kehidupan kita dengan damai.[]

 

Ust. Agusman Armansyah, alumnus Universitas AL-Azhar Kairo, Mesir, Direktur Akademik Yayasan Pendidikan Murah Hati, Cibubur Bekasi.

 

e-Buletin Jumat edisi minggu ini dapat diunduh disini

Meneguhkan Persaudaraan

Ust. Suraji

 

 

Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu. Kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

 

 

Ayat di atas merupakan penjelasan kepada umat manusia tentang tujuan diutusnya para nabi. Yakni untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan kepada kita semua. Kabar gembira bagi orang yang mau tunduk dan taat menjalankan perintah-perintah Allah, mereka akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Peringatan kepada orang yang tidak mau patuh kepada perintah Allah dan gemar berbuat kejahatan dan kerusakan di muka bumi, mereka akan mendapatkan siksa kelak di akhirat.

 

Para Nabi sejak dari Adam hingga Muhammad SAW membawa misi untuk membimbing manusia kepada ajaran ketauhidan dan menciptakan tata kehidupan yang baik. Karena itu, setiap nabi menyerukan kepada umatnya supaya mencegah kerusakan dan menghindari pertikaian antar sesama. Nabi Muhammad SAW. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Seperti kita ketahui dalam sejarah, saat itu Nabi menghadapi sebuah umat yang sering mengalami pertikaian antar suku dan golongan. Masyarakat yang mengalami kemorosotan moral dan tidak adanya tatanan sosial yang dijadikan pegangan. Itulah masyarakat jahiliyah yang melatarbelakangi kerasulan Muhammad.

 

Al-Qurthubi dalam kitabnya, al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an, mengatakan bahwa ayat al-Qur’an di atas merupakan peringatan kepada kita untuk senantiasa mengingat kembali asal-usul kita. Terutama jika menghadapi konflik atau pertikaian, hendaklah kita membuka nurani dengan mengingat kembali pada asal mula kita. Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu, yakni sama-sama sebagai keturunan Adam.

 

Sekilas pikiran kita menganggap seruan ini terkesan biasa-biasa saja. Setiap orang tahu dan mengakui bahwa nenek moyang kita sama. Sebagai manusia kita sama-sama diciptakan Allah dari tanah, dan kelak jika meninggal kita akan dikubur ke dalam tanah. Tapi jika direnungkan lebih mendalam, seruan tersebut mengandung nilai ajaran yang sangat tinggi maknanya. Dengan mengaku umat yang satu, berarti menganggap tidak ada perbedaan satu dengan yang lain. Laki-perempuan, kaya-miskin, hitam-putih, semua sama dan setara.

 

Dengan pandangan ini, perbedaan yang ada bukan menjadi masalah, tapi sebaliknya merupakan rahmat yang dikaruniakan Allah.  Inilah ajaran universal yang ditawarkan oleh Islam. Ajaran untuk berpegang teguh kepada persaudaraan antar sesama manusia, atau yang dikenal dengan ukhuwah basyariyah.

 

Rasulullah SAW ketika memulai dakwahnya di Madinah membuat piagam kesepakatan yang dikenal dengan Piagam Madinah. Di dalam piagam tersebut, Rasulullah menegaskan kalimat sebagaimana kalimat dalam ayat di atas, “Manusia pada hakikatnya adalah umat yang satu.”

Betapa agung dan luhurnya nilai persaudaraan ini. Karena dengan menganggap setiap manusia bersaudara, berarti kita mampu menembus sekat-sekat dan perbedaan yang ada. Baik itu perbedaan berupa warna kulit, suku-bangsa, bahasa, status sosial, maupun agama. Dengan pengakuan diri sebagai saudara bagi manusia lain, berarti telah menganggap orang lain menjadi bagian dari diri kita. Karena semua bersaudara, berarti didak ada istilah musuh di sini. Karena merasa sebagai umat yang satu, semua kasih sayang yang kita curahkan juga untuk semua manusia.

 

Betapa indahnya dunia jika setiap manusia mau berpegang prinsip ukhuwah basyariah ini. Betapa damainya bumi yang kita huni ini jika setiap orang mau saling menyayangi, saling menolong, saling membantu, saling meringankan beban penderitaan, dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Tapi sayang, sebagai manusia kita lebih suka mementingkan diri sendiri, mengedepankan ego kepentingan pribadi dan kelompok. Hasrat duniawi sering mengarahkan kita untuk mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok. Sudah sejak lama kita diwarisi rasa kebencian terhadap umat lain. Bahkan, sampai tega menghilangkan nyawa yang lain.

 

Manusia seperti itu kah kita, yang sering melakukan permusuhan, dan pertumpahan darah? Seperti yang dikatakan Malaikat Jibril ketika bertanya kepada Allah SWT, “Apakah Paduka akan menciptakan manusia yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah?”.

 

Sebagai muslim, kita telah diajarkan oleh Rasulullah untuk menjauhi akhlak yang tercela dan menghias diri dengan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Dengan berbegang teguh pada ukhuwah basyariyah berarti telah tertanam akar akhlaqul karimah di dalam diri kita dengan kokoh. Karena persaudaraan (ukhuwah) bukan sesuatu yang bersifat pasif. Ukhuwah basyariyah bukan hanya sebatas penghormatan kepada sesama manusia. Juga bukan sebatas sikap tidak mau mengganggu orang lain. Namun tindakan aktif yang merupakan panggilan jiwa untuk menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.

 

Jiwa kita akan terpanggil untuk memberi makan bagi mereka yang lapar dan menolong yang terkena musibah. Bersedia meringankan beban penderitaan orang lain dengan atau tanpa dimintai pertolongan. Dan yang lebih penting lagi adalah menciptakan kehidupan yang damai. Sebab pertikaian atau peperangan seringkali mengorbankan kemanusiaan itu sendiri.

 

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buhkhari, Nabi pernah ditanya oleh sahabat, “Apa Islam itu, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Memberi makan bagi yang lapar dan menebarkan perdamaian kepada orang yang kau kenal atau yang tidak kau kenal”. Sabda Nabi tersebut jelas menegaskan bahwa nilai kemanusiaan melekat dalam Islam itu sendiri. Oleh karena itu, dengan memegang prinsip ukhuwah basyariyah, kita dituntut untuk selalu mengasah kepekaan sosial dan memenuhi panggilan kemanusiaan.

 

Akhir-akhir ini kita menyaksikan perang antar negara, permusuhan antar suku, aksi terorisme, sampai perkelahian antar kampung masih sering terjadi. Dalam kehidupan sosial kita sering disuguhi paham yang membedakan siapa kawan dan siapa lawan. Kita biasa dengan pergaulan yang mengucilkan yang bodoh dan kurang mampu. Dalam politik, kita juga sering dihasut oleh perilaku politik yang memeceh-belah. Kepemimpinan yang ada lebih menindas yang lemah. Semua ini merupakan bukti bahwa kita sedang mengalami krisis kemanusiaan. Sadar atau tidak, seseorang yang mencederai martabat kemanusiaan orang lain berarti telah mengingkari fitrahnya sendiri. Fitrah sebagai manusia yang membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain.

 

Allah SWT berfirman: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Tuhan menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Tuhan mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Tuhan yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan membangun hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Tuhan selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. Al-Nisa’: 1)

 

Ayat ini merupakan landasan yang kuat bagi umat Islam untuk memegang prinsip ukhuwah basyariyah. Di sini semakin jelas bahwa selain mengajarkan ketauhidan, Islam juga merupakan ajaran tentang kemanusiaan.

 

Dengan landasan teologis yang kokoh diharapkan mampu mempertebal keimanan kita sebagai modal untuk menjalankan perintah Allah SWT. Sehingga sebagai umat Islam kita semakin mantap dalam berinteraksi dengan semua golongan manusia. Tidak pandang bulu dari lapisan masyarakat manapun, atau dengan penganut agama apapun,  tidak ada keraguan bagi seorang muslim untuk selalu menghadirkan kebajikan dan menebarkan kasih sayang. Wallahu a’lam. []

 

Ust. Suraji, alumni Pesantren Darul Ulum, Sidowayah, Rembang.

 

e-Buletin edisi ke-25, 23 Juli 2021 M. / 13 Dzulhijjah 1442 H. dapat diunduh disini

Melindungi Keselamatan Jiwa

Ust. Alfian Ruhyat

 

 

Janganlah kamu membunuh dirimu. Allah Maha Penyayang kepadamu.”

(QS. an-Nisa: 29).

 

 

Di antara misi utama yang dibawa oleh agama Islam adalah menjaga lima perkara yang sangat mendasar, yaitu: menjaga agama; menjaga jiwa; menjaga akal; menjaga kehormatan; dan menjaga harta. Termasuk dalam menjaga jiwa adalah segala hal yang berkaitan dengan kesehatan dan pencegahan penyakit, tentu saja di luar menghormati nyawa orang lain.  Ayat di atas secara tegas melarang manusia melakukan bunuh diri dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun. Jiwa manusia sangat mahal. Ia harus dijaga dan dipelihara. Ia adalah amanah dari Allah SWT. Dalam Islam, keselamatan jiwa lebih utama. Membunuh diri tidak hanya menusuk badan dengan pisau, menembak diri dengan pistol, menjatuhkan diri dari ketinggian. Bisa dikatakan membunuh diri bila dengan sengaja membiarkan diri jatuh dalam bahaya dan kebinasaan, membiarkan diri tertular penyakit, tidak berhati-hati, dan mengabaikan protokol kesehatan.

 

Makna kedua dari “janganlah kamu membunuh dirimu”, yaitu janganlah kamu membunuh orang lain apalagi saudaramu sesama mukmin. Sebab, persaudaraan, cinta kasih, dan sifat sayang mukmin yang satu dengan yang lain ibarat satu tubuh seperti disebutkan dalam hadis Nabi SAW. Karena itu, setiap Muslim dilarang melakukan sesuatu yang bisa membahayakan orang lain. Nabi SAW bersabda, “Tidak boleh mandatangkan bahaya untuk diri sendiri dan orang lain.” (HR Ibn Majah dan ad-Daraquthni). Termasuk, tidak boleh menularkan bahaya, penyakit, atau virus kepada orang lain dengan sengaja ataupun karena ceroboh dan abai. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195). Ayat ini juga menunjukkan wajibnya menjauhi sebab-sebab yang akan mengantarkan kepada kebinasaan jiwa.

 

Dalam kitab Zadul Ma’ad, pada pembahasan tentang ath-Thibb an-Nabawi (Kedokteran Nabawi), Imam Ibnul Qayim mengatakan, “Karena kasih sayangnya yang sangat besar terhadap umatnya dan dorongan memberikan nasehat kepada umat, Nabi SAW melarang umat melakukan sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada sakit dan kerusakan pada fisik dan hati mereka.” Keterangan ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan prinsip wajibnya menempuh tindakan preventif (pencegahan) dalam bentuk menghindari sebab-sebab terjadinya penularan penyakit. Menjaga jiwa juga erat kaitannya untuk menjamin atas hak hidup manusia seluruhnya tanpa terkecuali. Dalam Islam, jiwa atau nyawa manusia memiliki nilai yang sangat tinggi. Orang yang menghilangkan nyawa orang lain (membunuh), diumpamakan sama seperti membunuh semua orang di muka bumi, begitu pun pada saat menyelamatkan satu nyawa orang, maka seolah ia menyelamatkan nyawa semua orang.

 

“Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS, al-Maidah: 32)

 

Ini artinya, umat Islam tidak boleh nekad melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Nabi menyatakan: la dharar wala dhirar (tidak boleh ada bahaya atau tindakan yang bisa membahayakan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain). Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam al Hakim dan Baihaqi juga disebutkan:

 

Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allâh akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.”

 

Ayat dan teks hadis ini secara tegas dan jelas menyebutkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menghindar dari bahaya atau melakukan tindakan berbahaya yang bisa mencelakai diri sendiri maupun orang lain. Upaya menjaga keselamatan diri ini juga dianjurkan ketika menghadapi wabah penyakit sebagaimana dikatakan Nabi:

 

“…. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim)

 

Dalam Hadis yang lain Nabi bersabda:

 

Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari)

 

Berdasarkan hadis ini, Ibnul Qayyim al-Jauziy menyatakan bahwa orang yang tetap memaksakan diri masuk ke daerah wabah, atau nekad melanggar aturan kesehatan, sama saja dengan membinasakan dirinya sendiri dan itu bertentangan dengan syariat Islam. Sikap menghindar dari bahaya yang bisa mengancam keselamatan diri maupun orang lain ini tidak hanya disebutkan dalam teks, tetapi juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

 

Bahkan Islam tidak menyuruh ummatnya melakukan ibadah atau menjalankan Syariah secara berlebihan sehingga melampuai kemempuan diri. Hal ini tercermin dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari dari Anas ra. Dalam hadits ini disebutkan adanya tiga orang sahabat yang menganggap amal ibadah Nabi sangat minimalis, hanya sedikit saja. Kemudian mereka bertiga datang menghadap Nabi dan menceritakan tentang kehebatan amal ibadah masing-masing sehingga melampaui batas kemanusiaan. Mengetahui hal ini kemudian Rasul bersabda kepada mereka:

 

“Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga mengawini perempuan. (Itulah sunah-sunahku) siapa saja yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Hadits ini jelas menyiratkan bahwa beribadah itu yang wajar saja, tidak boleh melampaui batasan kemanusiaan sehingga bisa membahayakan diri sendiri.

 

Dalam kondisi sekarang ini, di mana merebaknya wabah Corona yang membahayakan karena mengancam jiwa manusia, maka selayaknya para agamawan bersikap bijak dengan meniru apa yang sudah dicontohkan Nabi, para sahabat dan ulama. Sikap menolak prosedur kesehatan dan hukum sains dengan mengatasnamakan takdir dan kekuasaan Allah, atau menghadapkan bahaya wabah corona dengan kekuasaan Allah tidak saja membahayakan ummat tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam dan apa yang sudah dicontohkan Nabi. Ikhtiar menjaga diri dari serangan wabah bukan berarti tidak percaya pada kekuasaan Allah, justru hal itu menjadi bagian dari yang disyariatkan Allah.  Karena dalam Islam menjaga dan melindungi jiwa jauh lebih penting.

 

Itulah sebab, mengapa dalam Maqasid Syariah – konsep  hukum gagasan Imam Asy-Syatiby yang menjelaskan bahwa setiap syariat diturunkan untuk tujuan-tujuan tertentu – ditegaskan  bahwa tujuan utama syariat Islam adalah menjaga nyawa/jiwa (hifdzun nafs), di samping untuk menjaga agama/keyakinan (hifdzud din); menjaga akal/pikiran (hifdzul aql); menjaga keturunan (hifdzun nasl); dan menjaga harta/kepemilikan (hifdzul mal).

 

Rasulullah SAW diutus ke muka bumi untuk memberi rahmat bagi alam semesta. Inilah dasar yang kokoh bagi keberadaan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Artinya, keberadaan seorang Muslim, di manapun dia, selain harus menjaga keamanan bagi dirinya, juga harus memberi rasa aman dan kedamaian bagi orang lain yang ada di sekelilingnya. Tidak beriman seseorang, jika orang lain belum selamat dari kejahatan lidah (omongan) dan tangannya (tindakannya).

 

Mari kita fungsikan agama benar-benar untuk menyelamatkan nyawa/jiwa, dan kita fungsikan negara untuk memberikan kepastian keselamatan jiwa bagi segenap warganya. []

 

Ust. Alfian Ruhyat, pengajar di Lembaga Pendidikan Miftahul Huda, Jakarta

 

e-Buletin Jumat edisi ke-24, 16 Juli 2021 M. / 06 Dzulhijjah 1442 H., dapat diunduh disini

Keluhan Tentang Penanganan Covid-19

Macam-macam keluhan dan kritik terhadap cara penanganan wabah Covid-19.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Berbagai keluhan dan kritik kepada pemerintah terhadap cara penanganan wabah Covid-19 disampaikan juga kepada saya. Padahal, saya tidak dalam posisi apa pun untuk menjawab atau menjelaskannya.

Macam-macam keluhan dan kritik itu: krisis oksigen karena berjubelnya pasien terpapar di rumah sakit, pembayaran BPJS yang tidak lancar, dan lain-lain.

Namun, sebagai warga sepuh, saya coba memberi jawaban berikut ini. “Banyak kritik yang dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai kurang sigap menangani serangan Covid-19. Kritik itu sah maka pemerintah mesti menyikapinya dengan lapang dada dan jiwa besar. Akui banyak kekurangan dan kelemahan di sana sini.”

“Namun, pemerintah telah bekerja keras dengan mengeluarkan dana negara puluhan bahkan ratusan triliun, perlu dihargai akan kesungguhannya melindungi rakyatnya yang sedang menderita dan dalam kesusahan. Jangan ada pikiran negatif ancaman wabah ini akan menjurus kepada krisis politik nasional yang pasti akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu, mari kita bahu-membahu sambil berdoa mengibarkan bendera optimisme sekalipun di tengah tantangan berat ini.”

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini. Dalam tempo singkat datanglah jawaban positif via WA dari keduanya.

Tentu semua ini melegakan. Artinya, pemerintah memperhatikan keluhan dan kritik itu. Salah seorang menko bahkan menghubungi saya lagi via telepon, menjelaskan lebih komprehensif tentang penanganan masalah wabah yang mematikan ini.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar. Harga obat jadi gila dan rumah sakit cari untung besar. Tentu, tidak semua rumah sakit.

Mereka tidak hirau, perbuatannya itu tunaadab dan tunamoral. Saya menghela napas panjang mendengar penjelasan pahit ini.

Tega-teganya mereka berpesta di atas penderitaan rakyat yang sebagian sudah sulit cari makan, apalagi berobat. Banyak rakyat kecil tidak punya kartu BPJS Kesehatan karena tak mampu membayar iuran bulanan, saking miskinnya.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar.

Namun, ada pula yang berpendapat BPJS haram, tidak syar’i. Entah kiai mana yang memberi fatwa liar ini. Rakyat jadi bingung oleh aneka isu yang ditiupkan orang tak bertanggung jawab.

Heboh berita kematian 63 pasien Covid-19 dalam sehari di sebuah rumah sakit di Yogyakarta, jadi perbincangan luas. Pihak rumah sakit mengatakan, kejadian nahas itu akibat pasokan oksigen yang kurang.

Namun, dari sumber menko, saya mendapat penjelasan, manajemen di rumah sakit tersebut bermasalah. Keterangan serupa datang dari seorang dokter yang lagi ambil program spesialis jantung. Saya tidak tahu persisnya.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Yang kita sebutkan di atas, raja tega rumah sakit dan pedagang obat yang seenaknya mencari keuntungan dalam kesempitan orang lain. Jika sifat-sifat buruk ini berkelanjutan dan meliputi radius luas, jangan bermimpi bangsa ini punya masa depan cerah.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Siapa yang mau percaya kita, sedangkan kita sendiri biasa bermain lancung dan culas. Namun, kita menghargai keluhan beberapa rumah sakit tertentu disampaikan secara jujur. Contoh di bawah ini patut dicatat dan telah saya teruskan kepada pihak-pihak berwenang.

Ini bunyinya, dengan penyesuaian redaksi kalimat: “Ya buya…lelah sekali. Kami berjuang di garda akhir, tetapi masyarakat semua seolah tidak peduli. Nyawa sudah tidak ada harganya lagi.”

Ini peta di lapangan sebagai keluhan dokter yang pernah memimpin sebuah rumah sakit. Betapa rendah disiplin sebagian rakyat menghadapi wabah. Mereka tak mempertimbangkan berapa ratus dokter dan tenaga kesehatan wafat karena menangani wabah ini.

Mereka tidak peduli. Jika sudah terpapar baru sadar, negara lagi yang harus turun tangan.

Senapas dengan kutipan di atas, Dirut RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, Dr Ahmad Faesol, Sp. Rd. menyampaikan pengalaman lapangannya via WA kepada saya, pada 6 Juli 2021 berikut ini.

“Terima kasih Buya Maarif, mudah- mudahan berhasil. Tapi yang urgen saat ini, pasokan oksigen di rumah sakit Buya, ini tiap hari harus senam jantung oksigennya kritis menjelang habis, kasihan pasien-pasien kita, jangan sampai ada tragedi seperti RS Sardjito, Buya, mohon support untuk pemenuhan oksigen, karena seiring peningkatan jumlah pasien Covid di RS, kebutuhan oksigennya meningkat tajam”.

Seperti kita dengar, krisis oksigen ini berlaku di banyak rumah sakit. Namun, saat tulisan ini disiapkan, pasokan oksigen itu sudah mulai datang. Memang minggu-minggu awal Juli ini puncak serangan dahsyat Delta yang sangat menakutkan itu.

Akhirnya, menghadapi situasi sangat berat dan sulit ini, semua dimohon selalu berpikir jernih, berimbang, dan adil agar virus salah paham dan saling tuduh tak menjalar ke mana-mana. Sifat-sifat mulia harus diarusutamakan agar kohesi hubungan antarlembaga kesehatan apik dan menyenangkan dalam situasi yang begini mencekam. Semoga!

Membangun Etika Komunikasi

Ust. Idwar Wahyudi

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,

Yang mengajar (manusia) dengan pena.

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

(QS. Al-‘Alaq: 1-5)

 

 

Dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5, surat yang pertama turun kepada Nabi Muhammad, terdapat perintah untuk membaca. Jika dipahami dalam makna yang lebih mendalam, pada dasarnya ini merupakan bentuk perintah untuk memperhatikan pengetahuan. Hal ini karena pengetahuaan sangat penting peranananya bagi manusia, sehingga Surat al-‘Alaq lebih menggunakan kata iqra’ dan al-qalam. Diakui atau tidak, keduanya sangat penting perannya dalam proses pembelajaran, khususnya dalam mempelajari sains dan teknologi.

 

Dalam mempelajari sains dan teknologi, membaca tidak sekedar melihat bacaan tertulis. Namun lebih jauh dari itu adalah membaca asma dan kemuliaan Allah, membaca teknologi genetika, membaca teknologi komunikasi, dan membaca segala yang belum terbaca, sehingga dengan membaca ini terjadi suatu perubahan, baik perubahan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu atau bahkan pada perubahan tingkah laku dan sikap yang merupakan ciri dari keberhasilan aktivitas belajar.

 

Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi.

 

Tidak bisa dimungkiri bahwa dengan bergesernya peran negara dalam percaturan hubungan internasional, maka aspek kebudayaan menjadi sesuatu yang dalam hubungan internasional. Sementara itu, setiap kelompok budaya cenderung etnosentrik, yakni menganggap nilai-nilai budaya sendiri lebih baik dari pada budaya lainnya dan mengukur budaya lain berdasarkan rujukan budayanya. Karenanya, strategi komunikasi sangat diperlukan ketika kita dihadapkan dengan sistem nilai dan budaya yang berbeda.

 

Di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi terdapat banyak keterangan berkenaan dengan adanya komunikasi. Dalam hal ini komunikasi dipahami sebagai sebuah proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih lewat penggunaan simbol-simbol atau tanda-tanda. Dengan pemahaman tersebut, dialog antara Malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad ketika pertama kali turun wahyu di Gua Hira dapat dikategorikan sebagai proses komunikasi.

 

Di dalam dialog tersebut, Nabi yang awalnya tidak memahami apa yang ingin disampaikan oleh Malaikat Jibril, pada akhirnya memahami dan mengikuti apa yang disampaikan oleh Jibril yang kemudian dikenal dengan wahyu pertama surat al-Alaq ayat 1-5 sebagaimana tertulis di awal tulisan ini.

 

Begitu juga ketika Nabi menyampaikan (menceritakan) peristiwa yang dialaminya kepada Istrinya dan seorang pendeta dapat dikatakan sebagai proses komunikasi. Para pakar dan sarjana muslim belakangan ini banyak melakukan kajian mengenai komunikasi dengan berbasis Islam. Kajian ini sering disebut sebagai “Komunikasi Islam” yang merupakan bentuk frasa dan pemikiran yang baru muncul dalam penelitian sekitar tiga dekade belakangan ini. Munculnya pemikiran dan aktivisme Komunikasi Islam didasarkan pada kegagalan falsafah, paradigma dan pelaksanaan Komunikasi Barat yang lebih mengoptimalkan nilai-nilai pragmatis, materialistis serta penggunaan media secara kapitalis.

 

Dalam perspektif Islam, kualitas komunikasi menyangkut nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebaikan, kejujuran, integritas, keadilan, kesahihan pesan dan sumber. Ini semua menjadi aspek penting dalam komunikasi Islam. Oleh karenanya dalam perspektif ini, komunikasi Islam ditegakkan atas sendi hubungan segitiga (Islamic Triangular Relationship), antara “Allah, manusia dan masyarakat”.

 

Al-Qur’an sangat menekankan etika berkomunikasi. Dari sejumlah aspek moral dan etika komunikasi, paling tidak terdapat empat prinsip etika komunikasi dalam al-Qur’an yang meliputi fairness (kejujuran), accuracy (ketelitian, ketepatan), tanggungjawab dan kritik konstruktif. Dalam Islam, prinsip informasi bukan merupakan hak eksklusif dan bahan komoditi yang bersifat bebas nilai, tetapi ia memiliki norma-norma, etika dan moral imperatif yang bertujuan sebagai service membangun kualitas manusia secara paripurna.

 

Dengan demikian, Islam meletakkan tauhid sebagai dasar dalam komunikasi dan informasi. Al-Qur’an menyediakan seperangkat aturan dalam prinsip dan tata berkomunikasi. Dalam masalah ketelitian menerima informasi, Al-Qur’an misalnya memerintahkan untuk melakukan check and recheck terhadap informasi yang diterima.

 

Dalam surah al-Hujurat ayat 6 dikatakan:

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)

 

Membangun dan mengembangkan etika komunikasi dalam Islam sesungguhnya tidak harus dimulai dari nol. Pembenahan pada aspek nilai dan etika harus mendapat perhatian serius sehingga ada keterpautan dengan ketauhidan dan tanggungjawab ukhrawi. Fungsi komunikasi dalam padangan Islam adalah untuk mewujudkan persamaan makna, sehingga terjadi perubahan sikap atau tingkah laku pada masyarakat Muslim. Ini sebagai bagian dari keberadaan Islam sebagai rahmatan lil’alamiin. Makna rahmat adalah sebuah keadaan sejahtera dan beradab yang dirasakan suatu komunitas atas keberadaan Islam yang menjiwai tatanan hidup bersama dalam suatu masyarakat.

 

Atas dasar itu, kita selaku umat Islam sudah selayaknya melihat ke arah yang lebih jauh lagi. Kita semua memiliki kewajiban untuk berdakwah. Dan dakwah tidak harus selalu berkhutbah di atas mimbar. Karena dakwah memiliki bentuk yang luas dan bervariasi serta fleksibel. Oleh karena itu, guna menjangkau khalayak yang lebih luas lagi dengan nilai-nilai dan etika yang digali dari prinsip Islam, komunikasi dalam berdakwah selayaknya menempatkan kedamaian dan keharmunisan sosial. Karena, tantangan yang kita hadapi lebih sulit lagi karena kita berhadapan dengan media yang beraneka ragam bentuk dan fungsinya, terutama dalam bentuk media sosial yang sering menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian sehingga mengancam harmoni sosial. Di satu sisi peluangnya begitu luas, namun tantangannya juga tidak mudah.

 

Semua tantangan tersebut menuntut adanya usaha keras dari kita semua, khususnya ulama, kyai dan ustadz agar dapat memberikan keteladanan dalam berdakwah dengan mengedepankan etika dan akhlaq dalam berkomunikasi. Di sinilah kita semua perlu belajar terus menerus untuk mengasah kemampuan-kemampuan kita semua, termasuk kemampuan untuk berkomunikasi berdasarkan etika Islam. Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan dalam proses pendidikan Islam yang berkualitas, berwawasan luas, unggul dan profesional, yang akhirnya dapat menjadi teladan yang dicita-citakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. []

 

Ust. Idwar Wahyudi, Pengajar di Yayasan al-Hikmah, Jakarta

 

e-Buletin edisi ke 23, 9 Juli 2021, dapat diunduh disini

Ganasnya Covid-19, Dunia Jadi Lintang Pukang

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Pukul 04.54, 5 Juli 2021, Bung Yasin Wijaya dari Yayasan Kristen Surabaya, kirim WA kepada saya, bunyinya: “Selamat pagi Prof. Semoga sehat selalu. Saya dengar RSUP Sardjito di Sleman sampai kekurangan oxygen dan 33 pasien meninggal. Sedih sekali. Kami di Surabaya sedang saling gotong-royong. Antarsahabat. Lintas perusahaan. Semua berjibaku merawat para karyawan yang sedang terpapar Covid. Selama mereka rawat di rumah, kami all out komunikasi, dan mengirimkan obat-obatan dan vitamin. Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini. Buya jaga kesehatan yah. Mohon jangan keluar rumah atau terima tamu. Salam.”

Jawaban WA saya pada pukul 05.49 terhadap sahabat lintas iman yang baik ini adalah: “Memang sangat mengerikan, tetangga saya sudah banyak terpapar. Gotong royong teman Surabaya sangat mulia. Puji Tuhan. Disiplin masyarakat kita masih rendah. Salam sehat selalu, Bung Yasin dan teman-teman Maarif.”

Yayasan Barokah milik teman Kristen Surabaya ini sangat gigih membantu masyarakat, tanpa memandang suku, agama, dan asal-usul. Semua dilayani. Hubungan saya dengan mereka sudah berlangsung selama beberapa tahun.

Kami saling berbagi info. Bung Yasin sudah dua kali kirim masker KN95 kepada saya. Sudah hampir 1,5 tahun Indonesia bergumul menghadapi serangan Covid-19 ini dengan segala variannya yang semakin mengganas.

Optimisme Bung Yasin bahwa “Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini” harus menjadi optimisme kita semua.

Optimisme Bung Yasin bahwa “Indonesia pasti bisa melewati pandemi ini” harus menjadi optimisme kita semua dengan syarat disiplin ketat harus ditegakkan: pakai masker, hindari kerumunan, dan cuci tangan dengan air mengalir pakai sabun.

Mengabaikan disiplin ini adalah faktor utama pandemi ini semakin merajalela. Di mana-mana rumah sakit sudah bangun tenda darurat untuk menampung pasien yang datang berjubel. Dokter dan tenaga kesehatan, sudah ratusan yang wafat.

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

Mari kita lihat selintas korban Covid-19 ini untuk tingkat dunia, dan agak perinci untuk empat negara saja, baik yang terpapar maupun yang meninggal sampai 5 Juli 2021. Jumlah terpapar tingkat global sudah 184.000.000, dengan angka kematian 3.970.000.

Jumlah korban ini terus bertambah setiap saat. Vaksinasi masih belum merata dan memadai. Tertinggi adalah AS: terpapar 33.700.000, meninggal 605 ribu. Disusul India: terpapar 30.500.000, meninggal 402 ribu.

Kita semua sudah kewalahan diancam kecemasan. Kita semua menangisi kematian mereka ini.

Lalu urutan ketiga Brasil: terpapar 18.700.000, meninggal 524 ribu. Indonesia urutan 17: terpapar 3.260.000, meninggal 60.027. Jika pandemi ini belum bisa diatasi setahun ke depan, kita bisa perkirakan korbannya sangat banyak dan ekonomi semakin lumpuh.

Untuk Indonesia, utang negara untuk melawan Covid-19 tentu akan semakin menggelembung. Maka itu, sebagai rakyat kita wajib menegakkan disiplin ekstraketat karena masih saja ada yang ngeyel melawan polisi di jalan.

Padahal, polisi itu sudah berpanas-panas untuk memutus rantai penularan wabah mematikan itu. Kelakuan semau gue akan memperburuk keadaan. Gempuran Covid-19 tidak pandang bulu, umur, dan status sosial.

Pada skala kecil, di perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tempat saya tinggal, kami sedang dikepung pandemi ini. Sudah beberapa orang jamaah masjid kami terpapar, bahkan ada seorang yang wafat, terjangkit saat yang bersangkutan melayat familinya.

Kematian karena Covid-19 ini pasti meninggalkan duka sangat dalam. Pemakamannya harus melalui protokol kesehatan. Jenazahnya tidak boleh didekati, kecuali oleh petugas khusus dari Dinas Kesehatan dengan pakaian khas pengamannya.

Pada skala kecil, di perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta, tempat saya tinggal, kami sedang dikepung pandemi ini. 

Ketika varian delta merebak di India beberapa waktu lalu, tengoklah betapa banyaknya mayat bergelimpangan di mana-mana. Aparat negara seperti tak berdaya lagi menanganinya. Oksigen serbakurang, rumah sakit tidak bisa menampung pasien yang datang berjibun.

Petugas kesehatan banyak yang mati karena kelelahan dan diserang virus delta itu. Fenomena hampir serupa berlaku di berbagai negara dunia, termasuk di Tanah Air. Ironisnya, masih saja ada segelintir orang tak percaya adanya virus ini. Pakai alasan agama lagi.

Saya tidak tahu jenis manusia macam apa ini. Tentu kita mesti berdoa kepada Allah agar 7,7 miliar penduduk bumi (angka 14 Februari 2021) yang sedang menderita ini diberi-Nya kesadaran yang tajam tentang gelimang dosa yang telah kita perbuat selama ini.

Di samping berdoa, kita harus berupaya keras mengatasi musibah ini agar situasi dunia yang sedang lintang pukang ini segera berlalu, sehingga tambahan korban tidak lagi memukul perasaan kita yang sudah terlalu berat. Berbaik sangka kepada Allah harus diutamakan.

Adapun mereka yang memaki Tuhan, bahkan tak lagi memercayai-Nya, seperti saat perang dunia karena dinilai tidak menolong manusia yang sedang terkapar kesakitan dan kematian dalam jumlah puluhan juta korban akibat perang, tidak perlu dikomentari, sebab hanya akan semakin menyesakkan napas.

Umat manusia mesti mau belajar dari serangan pandemi ini dan siap membangun solidaritas sosial untuk kepentingan bersama. Ingatlah, korban Covid-19 masih berjatuhan di semua bangsa dan negara. Nyaris tidak ada lagi kepingan bumi bebas dari serangan pandemi ini!

MENGUTAMAKAN KEMASLAHATAN PUBLIK

Ust. Muhtadin AR

 

 

 

Dan Kami tidak mengutus para Rasul kecuai sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Maka barangsiapa beriman dan berbuat kemaslahatan, maka bagi mereka tidak akan takut dan sedih (QS. Al-An’âm: 48).

 

 

Ayat Al-Quran di atas menegaskan tentang misi diutusnya para Rasul: tidak lain untuk membawa kemaslahatan bagi umatnya melalui kabar gembira dan peringatan yang akan menuntun hidup mereka. Misi yang mulia tersebut dijamin oleh Allah SWT dengan surga di akhirat nanti.

 

Dalam kitab tafsir Mafâtîh Al-Ghayb, Imam Ar-Razi menegaskan ayat tersebut hendak meneguhkan misi kenabian yang di dalamnya menggabungkan antara dimensi iman dan dimensi kemaslahatan umat. Keduanya merupakan kekuatan yang dahsyat dalam rangka membangun masyarakat yang dicintai Allah subhânahu wata’alâ. Yaitu masyarakat yang makmur dan mendapatkan berkah-Nya.

 

Dalam hal ini, kata kuncinya adalah misi kemaslahatan. Dalam kamus bahasa Arab yang paling otoritatif, Lisân Al- ‘Arab, mashlahah berarti hal-hal yang bermanfaat, baik melalui perbuatan baik atau menghindari kemudaratan. Sementara kamus bahasa Arab lain, Mu’jam Al-Wasîth, mengartikan mashlahah dengan istilah tidak rusak, baik, bermanfaat, atau sekadar cocok.

 

Menurut Muhammad Said Ali Abdurrabbuh dalam kitab Buhûts fî Al-Adillah Al-Mukhtalaf fihâ ‘Inda Al-Ushûliyyîn, kata kerja maslahah kadang-kadang digunakan secara metaforis. Dikatakan berdagang adalah maslahat, mencari ilmu adalah maslahat. Hal ini mengingat berdagang dan mencari ilmu dapat menciptakan kemaslahatan bagi pelakunya, baik kemaslahatan secara materiil, atau non materiil.

 

Menurut kitab Mu’jam Al-Mufahras, dalam Al-Quran terdapat 267 ayat yang mengunakan kata mashlahah dengan semua bentuk derivasinya, 62 di antaranya dalam bentuk plural (shâlihât). Dan kata ini biasanya selalu beriringan dengan kata “orang-orang yang beriman” dalam Al-Quran.

 

Menurut Abu Zahrah dalam kitab Ushûl Al-Fiqh, kemaslahatan yang diperhitungkan adalah kemaslahatan yang hakiki, yaitu kemaslahatan yang masuk dalam lima perkara: untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan kekayaan. Karena lima hal ini merupakan tiang kehidupan, yang mana manusia tidak bisa hidup layak tanpa lima hal tersebut.

 

Pandangan yang begitu kaya tentang kemaslahatan menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kemaslahatan manusia, terutama kemaslahatan yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. Pada ghalibnya kemaslahatan seperti ini disebut sebagai kemaslahatan publik (mashlahah mursalah).

 

Dalam Islam, gagasan kemaslahatan dimaksudkan untuk mendorong umatnya agar senantiasa melakukan kebaikan sebanyak mungkin. Walaupun kebaikan tersebut menyangkut hal-hal yang sederhana. Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa perbuatan menyingkirkan duri yang dapat mengganggu orang di jalan merupakan bagian dari keimanan. Sebaliknya, dalam konteks keburukan disebutkan bahwa seorang yang sengaja mengurung kucing bisa menyebabkannya masuk neraka.

 

Prinsip kemaslahatan dalam Islam diabadikan oleh Imam An-Nawawi dalam kumpulan hadis 40, yang biasa dikenal dengan Hadîts Al-Arba’în al-Nawawî: “Tidak ada kemudaratan dan memudaratkan dalam Islam”. Hadis tersebut ingin memastikan, bahwa sebagai umat Islam kita diperintahkan agar senantiasa melaksanakan sesuatu yang membawa manfaat bagi orang lain. Sedangkan hal-hal yang membawa dampak bahaya atau kemudaratan hendaknya dijauhi. Sebab Islam sama sekali tidak menolerir berbagai tindakan yang merugikan orang lain.

 

Jaminan kesejahteraan dan rasa aman adalah dasar kehormatan manusia untuk tumbuhnya kemaslahatan publik. Nilai tersebut merupakan misi utama Islam sebagai agama yang mempunyai komitmen untuk memajukan umatnya ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, kita perlu memperbaiki orientasi keislaman yang selama ini cenderung hanya mementingkan diri sendiri menjadi orientasi keislaman yang mempunyai komitmen untuk menolong orang lain yang tidak mampu. Diperlukan kepekaan sosial yang tinggi, sehingga tatkala kita menolong orang lain yang tidak mampu pada hakikatnya kita sedang menjalankan ajaran Islam yang sangat mulia.

 

Sebagai umat terbaik, kita harus menjadikan visi dan misi kemaslahatan publik sebagai hal yang utama. Tidak pada tempatnya jika kemaslahatan hanya dipahami sebagai kemaslahatan diri dan kelompok sendiri, sedangkan kemaslahatan publik dilupakan. Muhammad Abid al-Jabiry membuat sebuah penjelasan yang cukup gamblang tentang kemaslahatan publik, dengan mengacu pada al-kulliyyât al-khamsah (lima prinsip dasar dalam Islam): Pertama, kemaslahatan umat agama-agama. Melindungi agama (hifdz al-dîn) dapat dipahami, bahwa setiap agama sejatinya dapat menebarkan kasih-sayang dan menjunjung tinggi keadilan. Sebab itu, setiap agama harus mampu melakukan misi tersebut dengan sebaik-baiknya.

 

Kedua, kemaslahatan jiwa dan hak hidup. Melindungi jiwa (hifdz al-nafs) dapat dipahami sebagai upaya untuk menghargai hak hidup setiap orang. Dalam pidato perpisahan, Rasulullah SAW berpesan, “Sesungguhnya jiwa, kehormatan, darah dan harta kalian adalah suci”.

 

Pesan ini terasa penting untuk diingat dan diamalkan, bahwa setiap orang apa pun agamanya, bangsa dan jenis kelaminnya, mempunyai hak hidup. Kita tidak diperbolehkan untuk melukai, apalagi lebih dari itu. Karena sesungguhnya setiap jiwa manusia adalah jiwa-jiwa suci yang ditiupkan ruh oleh Malaikat agar nantinya dapat menebarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketiga, kemaslahatan ekonomi. Melindungi harta (hifdz al-mâl) merupakan salah satu pilar terpenting dalam kehidupan. Tidak pada tempatnya jika ekonomi ditumpuk-tumpuk pada satu pihak, sedangkan pihak yang lain mengalami keterpurukan dan kemelaratan. Keempat, kemaslahatan keluarga. Melindungi keturunan (hifdz al-nasl) merupakan aspek yang tidak kalah pentingnya dari aspek-aspek di atas. Islam amat memperhatikan keluarga sebagai jantung pendidikan dan pembelajaran generasi unggulan. Keluarga harus dijamin pertumbuhannya secara sehat dan berkualitas. Di samping tentunya agar keluarga dapat menanamkan nilai-nilai pentingnya kemaslahatan sejak dini.

 

Kelima, kemaslahatan akal. Melindungi akal (hifd al-‘aql) merupakan aspek penting, karena akal merupakan jantung dari agama. Dalam berbagai kitab fikih disebutkan, bahwa setiap umat mempunyai tanggungjawab dan tugas untuk melaksanakan ajarannya sejauh mempunyai akal yang sehat. Jika tidak, maka tidak ada beban baginya. Di dalam sebuah hadis disebutkan, tidak ada kewajiban agama bagi siapa yang tidak berakal.

 

Sebab itu, bagi mereka yang berakal sehat harus menjadikan akalnya sebagai modal untuk mewujudkan kemaslahatan publik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya, Fashl Al- Maqâl fîmâ Bayn Al-Hikmah wa As-Syarî’ati min Ittishâl, menyatakan bahwa menggunakan akal merupakan hal yang primer dalam Islam.

 

Jika melihat pandangan Islam tentang kemaslahatan di atas, maka tidak bisa dimungkiri lagi jika kemaslahatan menjadi jantung dari tatanan masyarakat yang toleran dan harmonis. Sebab tidak mungkin terwujud keharmonisan dan toleransi dalam sebuah masyarakat, jika di mana-mana masih terdapat ketidakadilan dan ketidakseimbangan antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang pintar dengan yang bodoh. Kemaslahatan sejatinya menjadi visi kita dalam beragama.

 

Sebagai penutup, ada baiknya kita menyimak pandangan Ibn Al-Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya, I’lâmul Muwaqqi’în Jilid III halaman 149: Dasar dan pondasi syariat adalah kebijaksanaan dan kemaslahatan manusia, di muka bumi dan di akhirat nanti. Syariat adalah keadilan, rahmat, kemaslahatan, dan kebijaksanaan. []

 

 

Ust. Muhtadin AR, alumni S2 Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta.

 

 

e-Buletin dapat diunduh disini

Meneguhkan Solidaritas Sosial

Oleh: Ust. Achmad Marzuki

 

Tahukah kamu, siapa orang yang mendustakan agama? Adalah orang yang menerlantarkan anak yatim, dan tidak sungguh-sungguh memecahkan persoalan pangan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang melaksanakan sembahyang, yaitu mereka yang lalai, pamer dan enggan menolong orang lain. (QS. Al-Mâ’ûn, 1- 4).

 

Ayat Al-Quran di atas menegaskan hal yang sangat penting dalam keberagamaan kita, yaitu pentingnya solidaritas sosial. Dalam perspektif Islam, solidaritas sosial adalah bagian dari ajaran yang paling pokok. Mengabaikan persoalan ini sama halnya dengan mendustakan agama, sebagaimana ditegaskan secara eksplisit dalam ayat tersebut.

 

Dalam Tafsîr At-Thabarî disebutkan bahwa ayat ini turun untuk menegaskan pentingnya solidaritas sosial, terutama bagi masyarakat lemah (dhu’afâ) dan yang dilemahkan (mustadh’afîn), seperti anak-anak yatim, kaum perempuan dan orang-orang miskin pada umumnya. Mereka merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap bentuk-bentuk ketidakadilan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tidak sedikit dari hak-hak dasar mereka yang tidak terpenuhi, bahkan dilupakan. Seringkali mereka hanya dijadikan sebagai komoditas untuk kepentingan sesaat.

 

Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian, merupakan salah satu contoh terbaik dalam hal solidaritas sosial khususnya dalam rangka mengangkat harkat dan martabat orang-orang miskin. Ia menggalang para perempuan miskin agar bangkit dengan cara memberikan modal pinjaman lunak tanpa bunga. Menurut Yunus, cara tersebut telah mampu mengubah orang-orang yang selama ini miskin menjadi berdaya, sehingga mereka pun mampu bangkit dari keterpurukan.

 

Islam memberikan perhatian besar kepada yang kaum lemah atau yang diperlemah oleh pihak tertentu, seperti yang disinggung pada surat Al-Ma’un di atas. Begitu besarnya perhatian Islam, pihak yang menelantarkan anak-anak yatim dan tidak memberi makan orang-orang miskin disebut Al-Quran sebagai orang-orang yang mendustakan agama.

 

Dalam hal ini, kita perlu menumbuhkan solidaritas sosial yang ditandai dengan komitmen untuk membantu dan menyelamatkan mereka. Semua itu harus dilakukan agar kita tidak dicap Tuhan sebagai orang-orang yang telah mendustakan agama.

Untuk itu, Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat baik bagi kita semua, yaitu agar menjadikan kepedulian terhadap orang-orang miskin sebagai bagian penting dalam kehidupan ini. Beliau bersabda:

 

Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku pada Hari Kiamat nanti bersama orang-orang miskin. Kemudian Aisyah bertanya, “kenapa demikian wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, karena mereka akan masuk surga sebelum orang-orang kaya kira-kira sekitar 40 kali musim gugur. Wahai Aisyah, jangan engkau menolak (tidak membantu) orang miskin (bantulah dia) walau hanya dengan separuh kurma. Wahai Aisyah cintailah orang miskin, dekati mereka, maka niscaya Allah akan mendekatimu pada hari kiamat nanti.

 

Hadis di atas menunjukkan, bahwa keberpihakan terhadap orang-orang miskin harus menjadi kesadaran yang mampu menggerakkan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata. Siapa pun yang melihat orang-orang miskin hatinya akan otomatis tergerak untuk mengulurkan tangan. Sebab, hal tersebut merupakan perangai agung dari Baginda Rasulullah SAW, yang keseluruhan hidupnya diperuntukkan untuk membantu orang-orang miskin. Bahkan, beliau rela untuk tidak makan beberapa hari, sehingga umatnya mendapatkan makanan.

 

Solidaritas sosial harus ditunjukkan dan dicontohkan oleh para pemimpin, karena mereka mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk melakukan penyelamatan. Solidaritas sosial yang dilakukan oleh pemimpin akan memberikan dampak yang lebih luas dibanding solidaritas yang dilakukan oleh perseorangan. Apalagi dalam konteks berbangsa dan bernegara, yang mana di dalam konstitusi sudah terang-menderang, bahwa fakir-miskin dilindungi oleh negara. Karena itu, pemimpin mempunyai tanggungjawab besar untuk menunjukkan kepedulian kepada mereka.

 

Pada hakikatnya persoalan solidaritas sosial menyangkut persoalan budaya. Lemahnya solidaritas sosial semata-mata karena kita belum mampu membangun budaya yang mampu menopang kebersamaan dan kepedulian terhadap mereka yang lemah. Apalagi di tengah gempuran budaya konsumerisme, yang mana kita cenderung mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Maka dari itu, menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai sumber inspirasi untuk membangun solidaritas sosial sangatlah mendesak untuk dilakukan, terutama dalam rangka menjadikan Islam sebagai agama yang membebaskan dari berbagai belenggu ketidakadilan sosial.

 

Dalam hal itu, salah satu ajaran yang sangat sederhana, tetapi muatannya sangat berdampak bagi kehidupan sosial, yaitu perintah Nabi Muhammad SAW soal pentingnya memberi. Beliau bersabda: Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.

 

Hadis tersebut hendak memberikan penjelasan, bahwa akhlak dan budaya seorang muslim adalah memberi, bukan meminta. Sebab memberi lebih mulia dan lebih diutamakan daripada meminta. Ini berarti, menjadi seorang muslim bukanlah meminta-minta, melainkan justru sebisa mungkin menolong orang lain.

 

Bahkan dalam Hadis lain disebutkan, solidaritas sosial merupakan jantung keimanan itu sendiri. Seseorang akan dianggap beriman kepada Allah dan Hari Akhir jika ia memuliakan tetangga dan tamu.

 

Hadis tersebut hendak menjelaskan, bahwa solidaritas sosial harus dimulai dari lingkungan terdekat, baik mereka yang dikenal maupun tidak dikenal. Sebab sebagai seorang muslim yang mempunyai komitmen tinggi untuk menegakkan nilai-nilai keislaman, kita dituntut menjadikan solidaritas sosial sebagai perangai yang harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Islam bukanlah ajaran yang melangit, akan tetapi ajaran yang harus diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Dalam hal ini, budaya kesukarelaan dan kedermawanan harus menjadi basis dalam relasi

Solidaritas sosial merupakan jantung dari toleransi. Sebab toleransi tidak akan bermakna apa-apa, jika di dalamnya tidak ada spirit “memberi” dan “melayani”, yang mana keduanya merupakan hakikat dari ajaran Islam.

 

Ketika kita membantu seseorang, hal tersebut semata-mata bukan karena pihak yang dibantu merupakan saudara dan keluarga kita, tetapi karena semata-mata mereka adalah manusia, ciptaan Allah yang harus dilindungi dan diberi pertolongan. Betapa indahnya kehidupan ini jikalau solidaritas menjadi titik-tolak dalam membangun keharmonisan.

Dengan demikian, solidaritas sosial harus menjadi pijakan kita dalam berbangsa, bernegara dan beragama. Para Nabi terdahulu telah membuktikan betapa mereka menjadikan solidaritas sosial sebagai bagian terpenting dalam agama mereka. Dan tugas kita saat ini, yaitu menjadikan ajaran tersebut sebagai tali pengikat yang akan menjadikan kita sebagai umat yang benar-benar mempunyai komitmen untuk membela mereka yang lemah.[]

 

Ust. Achmad Marzuki, pengajar di Pesantren Sabilal Muhtadin, Bungatan, Pasir Putih, Situbondo.

 

Unduh e-Buletin Jumat edisi 21 disini

Dimensi Kemanusiaan dalam Bersedekah

Ust. Nanang Isom

 

 

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah, 245)

 

Islam mengajarkan untuk menyisihkan sebagian harta yang dimiliki umatnya, salah satunya melalui sedekah. Pengertian sedekah secara umum adalah suatu amal atau memberikan sesuatu yang dilakukan secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Dengan kata lain, mengeluarkan harta di jalan Allah Swt semata-mata berharap ridho-Nya sebagai bukti keimanan seseorang. Sedekah merupakan bagian dari upaya tadzkiyyatun nafs, membersihkan pribadi, baik lahir maupun batin. Jika hati bersih, rahmat Allah Swt akan mudah menghampiri. Sebab, Allah itu suci dan hanya berdekatan dengan yang suci.

 

Di dalam al-Qur’an, sedekah disebutkan sebagai salah satu ibadah yang utama.  Begitu pentingnya sedekah, sehingga di dalam al-Qur’an terdapat banyak perintah mengenai amalan utama tersebut. Misalnya Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 245:

 

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”

 

Bersedekah memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan berinfaq yang hanya sebatas amalan berupa harta. Senyum sapa dengan ramah, perkataan yang baik (Qaul ma’ruf), menolong orang, mengajarkan ilmu, bergaul dengan istri, sampai menyingkirkan batu atau duri dari jalan sudah termasuk sedekah. Bahkan mendamaikan di antara dua orang yang berselisih pun adalah sedekah.

 

Disebutkan dalam sebuah Hadits,

 

“Kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu menuju tempat sholat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (H.R. Syaikhoni).

 

Sedekah adalah amalan yang sangat simpel (sederhana), sehigga umat Islam dapat melakukanya kapan pun, di mana pun dan sekecil apa pun tanpa memandang kaya atau miskin. Sedekah yang dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan hati akan mendapatkan manfaat yang sangat besar, baik di dunia maupun di akhirat.

 

Sedekah memiliki keutamaan dalam Islam. Islam sangat menganjurkan bersedekah dalam setiap keadaan. Baik keadaan lapang (penuh rizki) maupun sepit. Allah swt berfirman dalam al-Quran Surat Ali-Imran ayah 134:

 

“(Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

 

 

Ayat tersebut menunjukkan betapa perintah sedekah sangat utama. Setiap manusia diminta untuk menyisihkan hartanya dalam keadaan apapun. Pendek kata sedekah tidak mengenal kondisi. Sedekah adalah bukti kepedulian seseorang kepada sesamanya.

 

Dimensi Kemanusiaan

 

Contoh praktik baik kehidupan tentunya terdapat pada Rasulullah Muhammad saw. Beliau bersedekah kepada siapa saja, tidak memandang apakah dia seorang Muslim atau pun Nonmuslim. Rasulullah saw tidak lagi membedakan hal itu. Sedekah lebih dekat kepada prinsip tolong menolong (ta’awun) berdimensi kemanusiaan. Kemalangan, kesusahan, kesedihan, pastinya pernah dialami oleh semua manusia. Maka sedekah kepada manusia adalah salah satu jalan meringankan beban tersebut.

 

Prinsip dasar bersedekah kepada siapa saja, tanpa memandang keimanan itu dipraktikan dengan baik oleh Nabi Muhammad saw. Alkisah, saat itu Rasulullah saw hendak melarang seorang sahabat untuk bersedekah kepada nonmuslim. Allah swt pun menegur beliau dengan melalui Surat al-Baqarah ayat 272:

 

“Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizhalimi (dirugikan)”.

 

Ayat tersebut memberi petunjuk kepada ummat agar dapat berdekah kepada siapa saja. Bersedekah adalah kebaikan, dan Allah lah yang akan memberikan petunjuk atau hidayah dengan pemberian kita itu. Rasulullah saw pun akhirnya memerintahkan ummat untuk bersedekah tanpa memandang Muslim, Yahudi, Nasrani, Majusi atau yang lain.

 

Bersedekah kepada siapa saja juga diajarkan oleh Rasulullah saw saat Asma r.a., putri Abu Bakar as-Shiddiq. “Ibuku datang ke tempatku sedang dia adalah seorang musyrik di zaman Rasulullah saw, yaitu di saat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah antara beliau dan kaum musyrikin. Kemudian saya meminta fatwa kepada Rasulullah saw, “Ibuku datang padaku dan ia ingin meminta sesuatu, apakah boleh saya hubungi ibuku itu, padahal ia musyrik?” Beliau bersabda, “Ya, hubungilah ibumu” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

 

Persaudaraan kemanusiaan dengan tetangga pun tidak perlu harus membedakan Muslim dan Nonmuslim. Kita perlu memandang manusia sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai keyakinan yang berbeda-beda. Keyakinan yang berbeda itupun adalah fitrah.

 

Berdakwah ala Rasulullah saw telah berhasil membuka hidayah bagi seseorang. Sebagaimana Surat al-Baqarah (2: 272) di atas, sedekah telah membuka pintu hidayah Allah kepada seseorang. Dakwah dengan cara memberi dan tidak memandang siapa mereka akan semakin memuliakan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Islam menjadi agama penyejuk dan menjadi solusi bagi persoalan keumatan dan kemanusiaan.

 

Mari membiasakan diri untuk berbuat baik kepada sesama tanpa memandang imannya. Mari membiasakan diri untuk melihat manusia sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai perbedaan dengan diri kita, termasuk di dalamnya adalah keyakinan. Setelah itu mari membiasakan untuk memberi (bersedekah) kepada siapa saja untuk menguatkan kemanusiaan. []

 

 

Nanang Isom, Wakil Kepala Pondok Pesantren Al-Mukhlishin, Ciseeng, Bogor

 

e-PDF buletin Jumat edisi minggu ini dapat di unduh disini

Islam Agama Fitrah

Ust. Nasruddin

Dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Dalam pandangan Islam, orang tua mesti menumbuhkembangkan anak mereka agar tetap memegang teguh Tauhid. Lebih dari itu, mereka juga semestinya terus berupaya menjadikan anak-anaknya Muslim yang baik, yang dapat menjadi kebanggaan Rasulullah SAW, di dunia dan akhirat kelak.

Ada satu kisah yang terkandung dalam hadits riwayat Ibn Jarir, tentang betapa tingginya perhatian Rasulullah SAW terkait hal itu. Seperti dituturkan Al-Aswad ibn Sari’ dari Bani Sa’ad, yang mengikuti empat peperangan bersama Nabi SAW. Dalam suatu peperangan, sebagian dari pasukan Islam kedapatan membunuh anak-anak. Tindakan itu mereka lakukan setelah membunuh pasukan musuh.

Tatkala berita itu sampai kepada Rasulullah SAW, beliau SAW sangat marah. “Kenapa mereka membunuh anak-anak?” tanya Nabi SAW dengan nada keras. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ya Rasulullah, bukankah mereka itu anak-anak kaum musyrikin?”

“Yang terbaik di antara kalian pun juga anak-anak kaum musyrikin. Ketahuilah bahwa tidaklah seorang pun dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dia akan tetap dalam fitrahnya itu sampai lisannya sendiri mengubahnya. Maka kedua orang tuanya-lah yang meyahudikan dan menasranikannya,” jelas Rasulullah SAW, sama sekali tidak membenarkan perbuatan mereka itu.

Secara garis besar, Islam sebagai agama fitrah terbagi atas empat ajaran: Pertama, aqidah (kepercayaan). Ajaran tentang aqidah Islam bersumber kepada al-Quran dan Sunnah Rasul. Dalam bidang ini akal tidak diberi kesempatan untuk merubah hal-hal yang telah ada dalam al-Quran dan sunnah Rasul guna menghindari penyelewengan.

Kedua, ibadah. Dalam Islam ada dua macam ibadah yaitu ibadah dalam pengertian umum (ghairu mahdah) dan ibadah dalam pengertian khusus (mahdhah). Aspek ibadah (khusus) di sini adalah dalam pengertian khusus yang merupakan upacara pengabdian yang bersifat ritual. Yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaannya dalam al-Quran dan Sunnah Rasul.

Di sini akal tidak diberi kesempatan untuk menambah, mengurangi atau mengubah ketentuan yang telah dinyatkan di dalam al-Quran dan Sunnah Rasul. Kecuali dalam ibadah yang aspek sosialnya sangat menonjol (ibadah sosial), maka akal diberi kesempatan memperluas bentuknya dengan jalan ijtihad.

Ketiga, akhlak. Akhlak adalah tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang normanya ditetapkan dalam al-Quran, Sunnah Rasul dan hati nurani manusia. Umat Islam dalam kehidupan sehari-hari hendaklah mencontoh perjalanan hidup Rasul (QS. Al-Ahzab, 21). Rasulullah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia (Hadits).

Keempat, mua’amalah (kemasyarakatan). Aspek ini merupakan pengaturan hidup manusia di atas bumi, misalnya bagaimana pengaturan tentang hubungan sesama manusia, harta benda, perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antar negara dan lain sebagainya. Dalam mu’amalah ini pada umumnya al-Quran memberikan pedoman-pesoman secara garis besar, Sunnah Rasul memberikan penjelasannya.

Untuk selanjutnya, menghadapi perkembangan kehidupan umat manusia, yang tidak pernah berhenti itu, Islam memberikan kesempatan kepada akal dan pikiran manusia untuk melakukan ijtihad berdasarkan kepada semangat atau jiwa al-Quran dan Sunnah Rasul. Semoga kita digolongkan sebagai umat yang kembali kepada fitrah dan banyak menebarkan salam kepada lingkungan sekitarnya. Aamiin.

Dengan fitrah yang inheren dalam dirinya, manusia memiliki potensi kreatif untuk mendorong diri dan jiwanya secara proporsional pada sesuatu yang mutlak (beriman pada Allah) tanpa batas melalui jalan yang benar dan lurus (al-shirat al-mustaqim). Itulah jalan Islam yang luas tanpa batas yang inheren dengan jiwa kemanusiaan.

Dengan demikian, siapa pun yang berusaha mengajak, menyerukan, atau memobilisasi manusia ke dalam satu keyakinan agama pada hakikatnya ia telah memisahkan atau mengeluarkan agama tersebut dari jiwa manusia. Artinya, karena agama dipersepsikan berada di luar jiwa manusia maka otomatis akan melahirkan upaya-upaya memasukkan manusia ke dalam agama tersebut. Di sinilah terjadi upaya pereduksian kemanusiaan dengan mengatasnamakan agama.

Idealnya, setiap manusia menyadari hakikat fitrah kemanusiaannya, tapi dalam realitasnya, lebih banyak manusia tersesat dan mengotori fitrahnya. Karena itulah Allah mengutus para Nabi untuk mengembalikan kesadaran manusia.

Karena misi para Nabi adalah penyadaran, maka dalam perspektif Islam, firman Allah yang pertama kali diwahyukan pada Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca, membaca, dan membaca (iqra’, iqra’, iqra’). Dalam membaca ada proses penyadaran, yakni proses transformasi dan reorientasi pada satu titik kekhalifahan (fitrah) tanpa sedikitpun unsur keterpaksaan atau dipaksakan.

Karena itu pula, bahkan Muhammad SAW pun tak diberi mandat ataupun kewenangan untuk memaksakan orang kafir pada masanya untuk kembali pada fitrahnya sebagai manusia yang beriman kepada Allah. Ketiadaan mandat ini ditegaskan melalui firman-Nya:

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi. Maka apakah kamu (Muhammad) hendak  memaksa manusia supaya  mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. 10:99).

Rasyid Ridha, dalam tafsirnya Al-Manar, menyebutkan: “bahwa kalimat ‘jikalau Tuhanmu menghendaki’ artinya adalah Nabi Muhammad sendirilah yang benar-benar menghendaki keimanan kaumnya, yang merasa bersedih hati melihat penolakan umatnya terhadap seruan dan petunjuknya. Adapun kalimat ‘tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi’ artinya Nabi Muhammad pulalah yang menghendaki semua umatnya beriman kepada Allah sesuai dengan fitrahnya.” []

Ust. Nasruddin, Pengurus Masjid Al-Barkah, Cakung, Jakarta Timur

e-PDF buletin Jumat dapat diunduh disini