AHMAD SYAFII MAARIF, Guru Bangsa, di Antara Teks dan Ide

Senja di akhir pekan itu, wajah Syafii Maarif tampak segar. Dengan berkemeja putih dan celana hitam, ia berkisah tentang aktivitasnya.Membaca, menulis, dan berbicara tentang pemikirannya, tentang masalah bangsa menjadi warna utama hari-harinya.

Menjelang usia delapan dekade pada Mei mendatang, sebutan Buya kian melekat disematkan di muka namanya. Dua makna terkandung pada gelar yang berasal dari kultur Minang, yang juga memang mengalir di darah Syafii. Pertama, bapak dan kedua, ulama.

Namun, untuk sosok Syafii, buya dipastikan ialah panggilan hormat baginya sebagai bapak bangsa. Ketika putra-putrinya risau, bahkan marah, bapak akan menghibur dan bersedia berembuk untuk mencari solusi. Begitu pula ketika anaknya keliru, maka seorang Buya akan mengingatkan, menegur, mengoreksi, bahkan memarahi.

Kata-kata penghiburan, kalimatkalimat mengkritik, bahkan nadanada keras itu diucapkan Syafii dan disiarkan media yang setia datang padanya untuk mengonfirmasi berbagai masalah bangsa. Pun, lewat aneka seminar dan perhelatan yang digelar di berbagai penjuru negeri.

“Kegiatan saya masih sama, membaca, menulis, seminar, dan simposium. Enggak pernah nganggur pokoknya,” terang Buya Syafii ketika menerima Media Indonesia di kediamannya, di Perumahan Nogotirto, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (11/1).

Pilih yang muda
Namun, saat namanya sempat disebut-sebut ketika Presiden menggodok nama anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Buya Syafii tegas menolak. Ia bilang telah terlalu sepuh dan menyarankan Presiden memilih kandidat yang lebih muda.

Tak perlu dikait-kaitkan dengan intrik politik. Sikap itu mengukuhkan kembali sikapnya sebagai bapak yang bijak, tetap setia mem bimbing, dan tak lantas rakus dengan kekuasaan.

Ia mengaku memilih untuk terus mempertajam pemikirannya dengan membaca buku dan menulis, dua agenda rutin hariannya. Tidak ada alokasi waktu khusus untuk kedua kegiatan itu, tetapi nyaris seluruh harinya habis di perpustakaan yang juga ruang kerja di rumah.

Buya Syafii mengaku masih mampu membaca atau menulis tanpa jeda di depan laptop hingga tiga jam. “Kalau sudah lelah betul, tidak tahu lagi maksud kalimat yang dibaca, ya saya istirahat,” cerita dia.

Namun, diakuinya sering kali terlalu asyik membaca artikel sampai lupa waktu, hingga lebih dari empat jam. Jika waktu itu terlampaui, lelahnya baru sangat terasa ketika ia rihat.

“Tidak hanya mata, tetapi badan juga rasanya lelah. Saya lalu istirahat, bisa berbaring sebentar, atau jalan-jalan di sekitar rumah menikmati berbagai jenis tanaman yang dirawat dan dipelihara istri,” kata Buya Syafii.

Menerima kondisi tubuh
Bagian dari upaya untuk terus bugar, kata Buya Syafii, justru didapatnya dari penerimaan atas kondisi tubuhnya yang terus berubah sesuai pertambahan usia. Kini, ia mengaku tak memaksa raganya untuk bekerja keras hingga terlalu malam.

“Jika beberapa tahun lalu masih dapat bekerja hingga pukul 21.00 malam, sekarang pukul 20.00 atau 21.00 malam saya sudah tidur. Saya sekarang cepat tidur kalau sudah lelah,” kata Buya Syafii.

Dengan adaptasi itu, tak berarti Buya Syafii mundur dari gelanggang pemikiran.

Pensiun sebagai dosen di Universitas Negeri Yogyakarta pada 2005 dan tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada tahun yang sama, Syafii mengaku punya energi dan waktu lebih untuk berkiprah. “Sekarang, lebih banyak yang bisa dilakukan.Kegiatan-kegiatan saat ini telah banyak menyita waktu, membuat saya tidak pernah menganggur.”

“Saya memang sudah waktunya berhenti mengajar di kampus karena pikiran saya sudah tidak fokus lagi untuk mengajar. Selain itu, saya sudah terlalu lama mengajar. Tahun 2005 itu waktu yang tepat untuk berhenti,” kata Syafii.

Upaya memahami kondisi fisik dan psikis tubuh dipadu tekad untuk terus bermakna buat sekitarnya, membuat Buya Syafii selamat dari kondisi post power syndrome yang kerap menimpa mereka yang pernah berada di puncak karier.

“Bagi saya, pensiun atau tidak pensiun sama saja,” kata Buya Syafii. Kondisi raga dan pemikiran memang tak perlu senantiasa sinkron. Ide-ide besar Buya Syafii tetap dinanti pada dekade kedelapan perjalanannya. (M-1)

Alquran, Umat Islam, dan Persaudaraan Universal (II)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam Mukhtashar min Tafsîr al-Imâm al-Thabarî dan Qur’ân Karîm: Tafsîr wa Bayân ma’a Asbâb al-Nuzûl li-‘l-Suyûthî, ayat 10 surat al-Ĥujurât di atas tidak diberi penjelasan tentang betapa pentingnya ungkapan innamâ di awal ayat itu. Saya heran mengapa kedua mufassir klasik yang berbeda abad itu tidak membahas prinsip utama tentang persaudaraan orang beriman ini. Mungkin dianggap ayat itu sudah sangat jelas, karenanya tidak perlu diberi penjelasan lagi. Atau mungkin juga karena yang saya cek ini adalah ringkasan kedua tafsir itu, di dalamnya ayat 10 itu tidak disertakan penjelasannya oleh yang meringkas.

Dalam suasana perpecahan masif dunia Islam sekarang ini, ayat ini perlu disuarakan dengan sangat lantang, sebab siapa tahu masih ada hati umat Islam yang akan menjadi lembut dan tersentuh oleh kandungannya yang terang benderang itu. Kita semua sadar bahwa perpecahan pasti bermuara kepada kehancuran atau kekalahan, tetapi ajaibnya kita tidak mau memasang rem untuk mencegahnya.

Sebagian mufassir kontemporer memang memberi ulasan terhadap ayat 10 itu. Muĥammad ‘Alî al-Shabûnî dalam Shafwat al-Tafâsîr, (1405 H/1985), Vol. 3, misalnya memberikan ulasan atas ayat 10 itu sebagai berikut: “Tidak ada persaudaraan kecuali antara orang-orang yang beriman, tidak ada persaudaraan antara seorang mu’min dengan seorang kafir…persaudaraan Islam lebih kokoh dari pada persaudaraan berdasarkan keturunan” (hlm. 235). Ungkapan terakhir inilah sebenarnya yang mesti dipedomani oleh umat Islam sedunia bahwa ikatan keturunan, latar belakang sejarah, dan bangsa tidak boleh menghancurkan bangunan persaudaraan universal berdasarkan agama. Tetapi yang berlaku adalah sebaliknya: persaudaraan imaniah berantakan akibat perbedaan suku, bangsa, mazhab, dan latar belakang sejarah. Betapa jauhnya bangunan dunia Islam dari cita-cita mulia Alquran.

Adalah mufassir A Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an (cet. 1975, hlm. 1405 catatan no. 4928) yang dengan bagus sekali memberi penjelasan atas ayat 10 itu sebagai berikut: “The enforcement of the Muslim Brotherhood is the greatest social ideal of Islam. On it was based the Prophet’s Sermon at the last pilgrimage, and Islam cannot be completely realized until this ideal is achieved.” (Pelaksanaan/penguatan Persaudaraan Muslim merupakan cita-cita sosial Islam yang terbesar. Atas`dasar itulah Khutbah Nabi saat di haji wada’ disampaikan, dan Islam tidak mungkin diwujudkan dengan sempurna sampai cita-cita ini berhasil diraih). Bagi saya, Yusuf Ali telah menangkap dengan sempurna pesan historis dari ayat 10 ini.

Bagaimana pula mufassir Hamka menjelaskan ayat 10 itu? Inilah kutipannya: “Maka ayat 10 Surat ini menjelaskan yang lebih positif lagi, bahwasanya kalau orang sudah sama-sama tumbuh iman dalam hatinya, tidak mungkin mereka bermusuhan. Jika tumbuh permusuhan lain tidak adalah karena sebab yang lain, misalnya karena salah faham, salah terima” (lih. Tafsir al-Azhar (2007, Juz XXV-XXVI, hlm. 199). Hamka benar, tetapi yang berlaku di dunia Islam sekarang tidak saja salah faham. Jauh melampaui itu. Kepentingan dan perlombaan duniawi telah mengalahkan cita-cita agung tentang persaudaraan yang demikian tajam, tetapi puitis, disampaikan Alquran puluhan abad yang silam. Dengan mengabaikan pesan ayat 10 ini, jangan terlalu berharap bahwa rahmat Allah akan turun kepada kita sebagaimana terbaca di ujung ayat itu. Ada tiga syarat untuk mengundang turunnya rahmat itu: kokohnya persaudaraan, perdamaian, dan sikap taqwa yang tulus. Nilai-nilai inilah yang tengah absen dalam komunitas Muslim di berbagai bagian dunia.

Tetapi tuan dan puan jangan sampai kehilangan asa mengikuti penjelasan Resonansi ini. Penulisnya tetap optimis bahwa pada saatnya nanti umat Islam akan sadar dan mau berunding dengan Alquran dengan kesediaan mengoreksi prilakunya yang menyimpang selama ini dari ketentuan agama yang benar, khususnya yang bertalian dengan persaudaraan imaniah.

Prinsip persaudaraan berdasarkan iman telah kita jelaskan dengan cita-cita sosial mulia yang menyertainya dan rintangan-rintangan utama yang menjadi sandungannya. Pada bagian ke-3 nanti, kita tengok pula gagasan Alquran tentang prinsip persaudaraan universal di antara umat manusia yang berbeda iman atau dengan mereka yang tidak beriman sama sekali.

Alquran, Umat Islam, dan Persaudaraan Universal (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Saya tidak tahu apakah ada Kitab Suci selain Alquran yang siap untuk diterima atau ditolak dengan memanggil semua otak-otak besar yang pernah dikenal umat manusia sepanjang sejarah (lih. misalnya s. al-Baqarah: 23; s. al-Isrâ: 107). Tantangan ini akan berlaku sepanjang zaman sampai rapuhnya dunia ini. Dengan pengetahuan yang terbatas tentang Alquran, Resonansi ini akan mencoba mengurai tiga bahasan yang saling berkait itu sebagai bagian dari kegelisahan batin saya yang sudah dirasakan sejak masih kuliah di Universitas Chicago antara tahun 1979 s/d 1982.

Selama di Chicago alm. Fazlur Rahman telah membuka hati dan otak saya tentang makna Alquran bagi umat Islam dan kemanusiaan seluruhnya. Salah seorang mantan mahasiswanya di Chicago, Prof. Frederick Danny, menulis tentang Rahman: “His mind changed, his position evolved but his central coordinate was always the Qur’an.” (Mindanya berubah, posisinya berkembang tetapi koordinat/titik perhatian? utamanya tetaplah Alquran). Bagi Rahman, Alquran punya pandangan dunia tertentu yang utuh-komprehensif, oleh sebab itu pendekatan yang serba ad hoc tidak akan menyingkapkan pandangan dunia itu secara adil. Tuan dan puan yang ingin mengenal pandangan Rahman tentang Alquran setidak-tidaknya dapat diikuti melalui karya pengantarnya: Major Themes of the Qur’an (terbit pertama kali tahun 1980). Perbincangan tentang karya ini telah dilakukan oleh banyak pihak, bisa ditelusuri via Google.

Semakin lama, beban batin terasa semakin berat, sedangkan jalan keluarnya sebenarnya sudah tampak, tetapi selalu saja diterpedo oleh kenyataan pahit umat Islam yang masih saja berendam di dalamnya. Bermacam tafsir Alquran  telah saya baca, tetapi tetap saja menyisakan pertanyaan besar: mengapa Alquran yang begitu dimuliakan gagal difahami secara benar oleh umat ini untuk dijadikan pedoman hidup? Mengapa perintah-perintah utamanya yang sederhana dianggap angin lalu saja oleh umat yang mengaku beriman kepadanya? Pertanyaan semacam ini bisa sangat panjang, tetapi kita cukupkan dua saja dalam tulisan ini.

Kita pusatkan pembicaraan kita pada ayat 10 dan pada saatnya nanti akan dilanjutkan pula ayat 13 dari surat al-Ĥujurât (49), sebuah surat yang diturunkan di masa Madinah sekitar tahun sembilan hijriah (631 M). Ayat 10 yang terjemahan bebasnya adalah: “Sesungguhnya pilihan yang sah bagi orang-orang beriman itu adalah bersaudara. Maka oleh sebab itu damaikanlah antara dua saudara kamu [yang bertikai]. Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu diberi rahmat.” Awal ayat ini menggunakan ungkapan innamâ yang dalam bahasa Arab bertujuan untuk membatasi (lilĥashr). Artinya dalam konteks ini, orang beriman itu hanya punya satu pilihan yang sah dalam hidup kolektif mereka: bersaudara. Titik!

Tetapi mengapa dalam berbagai periode sejarah bahkan sampai hari ini, umat Islam memilih jalan hidup yang tidak sah dengan sering bertikai dan berperang sesama mereka? Jawaban yang tersedia dalam hati saya adalah karena ego, kepentingan sesaat, dan hawa nafsu yang tak terkendali di kalangan sebagian umat. Manakala ego, kepentingan, dan hawa nafsu mengalahkan kekuatan firman Allah, berarti kita telah berkhianat terhadap Alquran, tetapi mengapa kita masih saja mengaku beriman kepada Kitab Suci ini? Tiga nilai buruk itu bisa saja dibungkus dalam selimut nasionalisme seperti yang sekarang berlaku antara Iran dan Saudi Arabia. Dalam kasus dua negara ini, yang dominan adalah sifat hegemonik, bukan karena perbedaan mazhab keagamaan.

Dalam skala yang lebih kecil, penyebab perbelahan antara partai-partai dan golongan-golongan Islam di Indonesia tidak akan jauh dari ketiga faktor di atas: ego, kepentingan, dan hawa nafsu. Ironisnya, semuanya ini tidak jarang ditutupi dengan dalil-dalil agama yang dikutip tanpa rasa tanggung jawab iman. Alangkah sulitnya menundukkan egoisme kepada kehendak wahyu. Jika wahyu tidak mampu lagi membimbing prilaku kolektif umat Islam, lalu apa lagi yang masih tersisa yang dapat dipedomani? Tidak ada lagi yang tersisa.

Umat Islam yang sekarang jumlahnya sekitar 1,6 miliar di muka bumi adalah bagian dari kemanusiaan universal, tetapi perannya masih berada di buritan peradaban. Banyak faktor, internal dan eksternal, yang terlibat di dalamnya mengapa situasinya demikian menyedihan, apa pun ukuran yang dipakai orang untuk itu. Antara al-Qur’an dan umat Islam terbentang jurang yang lebar sekali. Sedikit contoh di atas telah menjelaskan apa yang kita maksud. Contoh lain bisa berjibun.

Utang dan Air Mendidih

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Usai salat zuhur di masjid Nogotirto, Jogjakarta, pada 30 Desember 2014, sahabat saya H. Hartoyo, pensiunan Pertamina, berkisah tentang mimpi anak sulungnya yang cukup mengerikan berkaitan dengan utang neneknya pada sebuah bank yang belum sempat terbayar sampai saat wafatnya. Jumlahnya hanyalah Rp 3 juta, dan itu pun bukan utang pribadinya, tetapi utang adiknya atas nama dia.

Ketika menceritakan kembali isi mimpi anak tentang ibunya ini, tangan Bung Hartoyo masih gemetar. Begitu mencekam, begitu menakutkan, sehingga anak Hartoyo menjerit sambil terbangun. Komentar Hartoyo: “Ternyata ada hubungan batin antara anak dan neneknya yang sudah wafat.” Tidak mustahil, karena memang ada mimpi penting untuk menyadarkan orang dari kealpaan.

Apa yang terlihat oleh anak Hartoyo dalam mimpi itu dan apa pula tafsiran Hartoyo terhadap mimpi itu? Inilah gambarannya yang saya turunkan dari hasil tuturan Hartoyo: Ada sebuah bak besar berisi air yang sedang mendidih, panas sekali. Di dalamnya terapung ibu kandung Hartoyo yang sedang berteriak minta tolong. Sambil menangis, anak Hartoyo mengadu kepada bapaknya tentang apa yang dilihatnya dalam mimpi itu.

Hartoyo ternyata cepat tanggap. Ini, katanya, pasti bertalian dengan masalah ibunya yang semasa hidup yang tidak diceritakan kepada anak-anaknya. Benar, ternyata ada utang adik ibunya sejumlah di atas. Hartoyo segera menghubungi pihak bank untuk melunasi utang itu. Setelah utang dilunasi, lagi anak Hartoyo bermimpi bahwa neneknya mengucapkan terima kasih kepada Hartoyo, anak kandungnya itu.

Kita tidak tahu pasti takwil sebuah mimpi, tetapi tuturan Hartoyo di atas penting untuk direnungkan. Bukankah, jika seorang Muslim/Muslimah wafat, sebelum dimakamkan, pihak keluarga tentu tidak lupa menanyakan kepada para pelayat tentang kemungkinan si mayat punya utang atau tidak. Jika ada utang, hendaklah pihak keluarga diberi tahu agar semua masalah dunia itu diselesaikan segera atau direlakan, demi perjalanan arwah si mayat ke alam lain tidak terhambat oleh utang yang masih belum terbayar. Kesulitan sebagian kita adalah kebiasaan berutang sampai menumpuk, tetapi tidak cepat dibayar, sehingga menjadi kumulatif.

Biasanya jika utang sudah berlapis-lapis kepada banyak pihak lagi, lama-lama kepekaan batin seseorang menjadi tumpul, skrup ubun-ubunnya menjadi longgar. Namanya menjadi gunjingan di mana-mana. Seolah-olah utang bukan lagi sebuah beban yang dapat membuat kepalanya jadi pusing tujuh keliling. Dalam situasi yang semacam ini, pilihan terbaik dan terhormat bagi yang bersangkutan adalah agar cepat sadar dan berdo’a kepada Allah sambil berusaha agar diberi rejeki tambahan untuk secepatnya melunasi utang.

Allah Maha Mendengar jeritan seorang hambaNya yang sedang dililit utang. Rasanya pintu rezki akan terbuka lebar dengan syarat  kita bersedia memulihkan kepekaan batin untuk secepatnya membayar utang itu. Jangan dibiarkan larut tersandung oleh tumpukan utang yang dapat sangat merepotkan pihak keluarga jika sewaktu-waktu kita didatangi malaikat maut.

Dulu kami pernah pula punya utang untuk keperluan anak dan untuk membayar uang muka rumah KPR (kredit perumahan rakyat) dan angsuran bulanannya setelah sekitar 20 tahun hidup dalam rumah sewaan sampai pindah berkali-kali. Maklumlah nasib pegawai negeri dengan penghasilan yang serba kurang. Saya sekeluarga baru bernafas secara ekonomi sejak tahun 1990 karena diminta mengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia selama dua tahun atas dorongan alm. DR Imaduddin Abdurrahim.

Rampung di Malaysia, ada saja pintu rezki yang dibukakan Allah. Pernah mengajar di Institute of Islamic Studies, bagian dari Universitas McGill, Kanada, atas rekomendasi Menteri Agama alm Munawir Sjadzali. Tak selang beberapa tahun kemudian diminta pula oleh Pak Akbar Tandjung (Mensekneg ketika itu) untuk menjadi anggota DPA tahun 1998 s/d 2003. Sekarang saya tidak miskin dan tidak kaya, sedangan saja, tetapi tanpa utang dan kami sudah punya rumah pribadi. Alhamdulillah, Allah Maha Pemberi Rezki yang tak putus-putusnya sampai hari ini. Ada do’a yang baik: “Allâhumma a’ûzdubika min al-dain” (Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari jeratan utang).

Islam Dalam Krisis (III)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Puncak kemegahan rezim Turki Usmani terjadi pada abad ke-16, terutama di bawah Sultan Sulaiman Yang Agung (1520-1566). Kemegahan ini terjadi juga dengan melibas suku-suku kecil Turki yang semula bersifat otonom dalam bentuk keamiran, sehingga protes mereka berbunyi: “Mengapa sultan menghabisi kami sesama Muslim, bukan yang non-Muslim.” Sesungguhnya yang dihabisi itu bukan hanya suku-suku kecil Turki itu, rezim Safawi yang syi’ah juga diperangi, di samping  memerangi daerah Balkan, Hungaria, bangsa-bangsa Arab di Asia Barat dan Afrika Utara. Lagi-lagi, sebuah imperium memang dibangun di atas tengkorak manusia, Muslim atau non-Muslim. Umat Islam pada umumnya larut dalam kemegahan kekuasaan rajanya, tetapi sedikit sekali yang mau merenung dan mengoreksi proses kemegahan itu diraih. Sikap moral kebanyakan kita lemah sekali.

Tidak berapa lama setelah puncak kemegahan Turki Usmani di bawah Sulaiman, menjelang akhir abad ke-16, pihak Barat yang Kristen mulai memasang tali lasso untuk mencekik leher umat Islam di berbagai bagian wilayah dunia. Inilah kesaksian Toynbee tentang masalah ini: “Sungguh, menjelang akhir abad ke-16, pihak Barat, berkat penaklukkannya atas Lautan, telah berhasil melemparkan tali lasso ke sekitar leher Islam; tetapi barulah di abad ke-19 pihak Barat berani menarik tali itu dengan kuat.” (Lih. A.J.Toynbee, Civilization on Trial and The World and the West (Cleveland and New York: The World Publishing Company, 1963, hlm. 248). Artinya, di abad itu, hampir seluruh  bangsa Muslim tersungkur menjadi manusia terjajah. Turki yang pernah perkasa itu menjelang akhir abad ke-18 sudah diberi gelar sebagai “Orang sakit Eropa.”

Krisis panjang yang hina ini sangat melelahkan umat Islam sejagat, tetapi untuk menjadi siuman betul, alangkah sulitnya. Penguasa Muslim yang menyukai rakyatnya sebagai penurut paling bertanggung jawab atas segala malapetaka ini. Pukulan sejarah bertubi-tubi rupanya belum cukup untuk membangunkan dan menyadarkan umat akan tugas besar sejarah yang dipikulkan Alquran ke atas pundaknya. Jangankan sadar, sebagian mereka malah menikmati hidup di bawah sistem penjajahan itu sebagai manusia budak yang penurut dan peniru. Iqbal menulis: “Kredo si budak adalah tiruan. Dan kerjanya adalah membuat citra palsu. Dalam beragama, pembaruan baginya adalah sebuah dosa….Matanya terpaku pada masa silam, tetapi buta tentang masa depan.” (Lih. Iqbal, Gulshan-I-Râz-I-Jadîd dan Bandagî Nâmah, terjemahan M Hadi Hussain. Kashmiri Bazar-Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1977, hlm. 59).

Lagi Iqbal dengan lebih tajam tentang mental budak ini: “Si budak secara murahan terbelah dua antara agama dan kearifan: dia mengusir jiwanya untuk mengamankan badannya dan, sekalipun nama Tuhan bertengger di bibirnya, sasaran sesembahannya adalah keperkasaan penguasa.” (Hlm. 60). Penguasa busuk semacam inilah yang menghancurkan Islam dari dalam sepanjang sejarah, sekalipun bangsa-bangsa Muslim telah merdeka dari sistem penjajahan asing. Pergolakan dunia Arab sejak 2010 yang lalu adalah perlawanan keras terhadap rezim-rezim  Muslim yang busuk dan rakus ini.

Tetapi krisis belum usai. Sejak beberapa waktu yang lalu muncul pula kelompok ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dengan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin puncaknya yang mengaku sebagai khalifah dunia Islam. Faksi Kawarij baru ini akan membunuh siapa saja yang tidak sefaham dengannya, Muslim dan non-Muslim. Kekacauan politik yang dahsyat di dunia Arab adalah pemicu utama bagi munculnya gerakan semisal ISIS ini. Barat, khususnya Amerika Serikat, turut bertanggung jawab bagi lahirnya kelompok teror-radikal di dunia Islam yang rapuh. Dengan berantakannya Afghanistan, Iraq, Lybia, Suria, dan lain-lain, penguasa formal dunia Arab yang busuk telah kehilangan wibawa.

Kekosongan ini segera diisi oleh tipe manusia garang dan ganas, seperti al-Baghdadi sebagai penerus Usamah bin Ladin. Di Afrika selatan sahara juga ada kelompok Boko Haram, gerakan teror yang bersembunyi di balik jubah agama. Dunia Islam kalang kabut dibuatnya. Indonesia yang relatif aman, mengikuti semua drama ini dengan sikap awas dan penuh keprihatinan, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Agen-agen teror juga berkeliaran di negeri ini.

Pertanyaannya, untuk berapa lama lagi krisis ini melanda Islam dan dunia Islam? Tak seorang pun di antara kita yang bisa menjawabnya, apalagi saya. Tetapi suasana iman pasang-surut yang sederhana mengingatkan saya akan ayat 110 surat Yûsuf (12) yang artinya: “Sampai ketika para rasul sudah dalam keadaan putusasa dan mengira mereka sungguh telah dibohongi [oleh kaumnya], datanglah pertolongan Kami kepada mereka. Kami selamatkan orang yang Kami kehendaki, dan hukuman Kami tidak dapat terhindar dari kaum pendosa.” Oleh sebab itu, jalan masih terbuka lebar untuk mengundang pertolongan Allah agar keluar dari krisis, dengan syarat adanya kesediaan kita yang tulus untuk menjadi Muslim yang benar, lurus, dan merdeka. Mental budak harus diusir sejauh-jauhnya, sehingga kepala kita tegak berhadapan dengan siapa pun di muka bumi ini. Kemerdekaan umat yang hilang menjadi peluang emas bagi penguasa Muslim yang jahat dan bejat.

Islam Dalam Krisis (II)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dinasti Umayyah yang sepenuhnya bercorak Arab dibangun Mu’awiyah di atas kafan ‘Ali bin Abi Thalib dengan ibu kota Damaskus. Rezim ini bisa bertahan sekitar 90 tahun (661-750) untuk kemudian diluluhlantakkan oleh rezim baru, campuran Arab dan Persi, dinasti ‘Abbasiyah (750-1258), dengan ibu kota Baghdad. Muslim keturunan Persi merasa dianaktirikan oleh rezim Umayyah sebagai warga mawâlî (kelas dua) cepat bergabung dengan rezim ‘Abbasiyah yang semula berpusat di Khurasan (Persi).

Peradaban memang berkembang hingga mencapai puncak-puncaknya yang tertinggi, tetapi semua itu juga dibangun di atas tengkorak umat Islam yang berbeda pandangan politik. Salah seorang dari unsur dinasti Umayyah yang bebas dari pengejaran pasukan ‘Abbasiyah, Abd al-Rahman I (al-Dâkhil) lari ke Spanyol untuk kemudian pada tahun 756 membangun kerajaan di sana yang bisa bertahan berabad-abad sampai 1031 disertai perkembangan peradaban yang tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh dinasti ‘Abbasiyah di belahan Timur. Kita semua pasti bangga dengan capaian-capaian itu, tetapi jangan lupa membaca sisi gelap yang lain: politik kekuasaan telah menghancurkan perumahan persaudaraan umat dengan membuang jauh perintah Alquran tentang persatuan berdasarkan iman ke dalam limbo sejarah. Dalam politik kekuasaan, iman sering benar digantikan oleh semangat suku, ras, atau keturunan.

Rezim ‘Abbasiyah dalam sejarah biasa disebut sebagai abad emas Islam. Nomenklatur ini tentu tidak salah sepanjang menyangkut aspek kemegahan duniawi tanpa menengok keutuhan internal umat yang berantakan. Kehancuran Baghdad oleh serangan pasukan Hulagu (Mongol) pada 1258 tidak serta merta membawa kehancuran rezim-rezim Muslim yang lain. Di Spanyol masih bertahan kerajaan-kerajaan kecil Muslim pasca dinasti Umayyah sampai pada tahun 1492 ketika pasukan Katolik-Salib mengusir umat Islam seluruhnya dari sana dengan diberi pilihan: pindah agama, diusir, atau dibunuh, termasuk umat Yahudi yang juga harus lari dari sana. Dalam hal toleransi lintas agama, filosuf agnostik Bertrand Russell menulis dalam karyanya Why I Am Not a Christian (New York: Simon and Schuster, 1957, hlm. 202): “Imperium para khalifah bersikap lebih ramah kepada orang Yahudi dan Kristen dibandingkan dengan negara-negara Kristen terhadap umat Yahudi dan umat Islam).”

Tetapi harus pula dicatat bahwa imperium khalifah tidak memberi ruang gerak kepada lawan-lawan politiknya sesama umat Islam. Ini yang berlaku sepanjang sepanjang sejarah. Darah lebih banyak tertumpah dalam perang sesama Muslim dibandingkan dengan sengketa dengan pihak lain, kecuali dalam Perang Salib (dalam bahasa Arab: al-ĥurûb al-shalîbiyyah) yang berlangsung lebih sedikit dari dua abad itu (1095-1291). Krisis demi krisis yang dialami Islam hampir selalu berkaitan dengan politik kekuasaan, baik antara sesama Muslim atau antara Muslim berhadapan dengan kekuatan non-Muslim.

Bahwa Islam terus saja berkembang dengan merebut pengikut-pengikut baru dari berbagai bangsa adalah juga kenyataan yang terus saja berlangsung. Jumlah umat Islam sekarang dengan angka moderat sebesar 1,6 miliar tidak akan jauh dari fakta yang sebenarnya. Saban hari di berbagai penjuru bumi Muslim baru terus saja bermunculan. Krisis tidak menghalangi pendatang baru itu. Di Amerika Serikat, justru pasca Tragedi 11 September 2001, jumlah warga Muslim semakin banyak saja di sana. Semakin Islam disudutkan, semakin muncul saja manusia yang mencarinya. Ini memang ajaib.

Sebelum hancur total, Rezim ‘Abbasiyah secara berangsur tetapi pasti telah digantikan oleh pendatang baru yang bukan Arab atau Persi. Mereka berasal dari puak Turki yang nenek moyangnya berasal dari Asia Tengah. Setelah melalui proses panjang dan berliku, puak ini lambat laun menjadi penganut Islam, umumnya bermazhab Hanafi. Bermula dari dinasti Saljuk pada abad ke-11, kemudian di akhir abad ke-13 diambilalih oleh dinasti Usmaniyyah (1299-1924), sebuah imperium besar dan gagah yang menakutkan dan menggoncangkan pihak Eropa yang bertahan sampai sekitar tujuh abad. Pada tahun 1453 di bawah Sultan Muhammad II al-Fâtiĥ (Pembuka/Penakluk), kota megah Konstantinopel ditaklukkan dari pihak Bizantium (Romawi Timur), sebuah peristiwa yang sangat menyakitkan pihak Kristen dan dunia Barat sampai hari ini.

Dari sisi ini saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Ismail R. al-Faruqi yang mengatakan bahwa umat Islam tidak pernah menjadi penakluk, tetapi sebagai pembuka jalan untuk dakwah Islam (al-futuĥât). (Lih. Ismail Ragi al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam (New York: Macmillan Publishing Company, 1986, hlm. 202-229). Dalam kasus Konstantinopel, proses penaklukan itu sangat jelas. Gelar al-Fâtiĥ yang disandang Muhammad II adalah sebagai penakluk. Adapun sifat penaklukan itu dinilai lebih beradab, sebagaimana Russell mengatakan, juga adalah sebuah fakta sejarah.

PDRI dan Tonggak Revolusi

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

KOMPAS.com – Sekiranya Belanda mau memahami gerak sejarah setelah Perang Dunia II bulan Agustus 1945, ambisi kolonialnya untuk kembali menjajah Indonesia tidak akan terjadi.

Namun, bersamaan dengan itu, meledaknya revolusi nasional Indonesia berupa perang merebut kemerdekaan justru sebagai jawaban heroik terhadap kenekatan Belanda yang gagal membaca perubahan mendasar yang sedang berlaku pada saat itu dalam konstelasi politik global.

Akibat Perang Dunia II, era kolonialisme menemui titik ujungnya yang dramatis dan hina. Belanda yang dibantu Inggris masih saja berpikir dalam bingkai kolonialisme: Indonesia tidak boleh merdeka, sebuah angan-angan yang basi dan busuk. ”Bahwa bangunan kolonial,” Bung Hatta mengutip majalah Indonesia Merdeka (No 4-5, Tahun 1925, hlm 61), ”pada suatu waktu akan roboh, bagi kami hal itu sudah pasti. Persoalannya hanyalah waktu, cepat atau lambat, dan bukan ya atau tidak. Pasang yang menaik tidak dapat ditolak; masa depan adalah ibarat laut yang tidak mengenal pasang surut.”

Tonggak-tonggak revolusi

Revolusi Indonesia telah melahirkan banyak peristiwa yang menjadi tonggak-tonggak penting dan menentukan dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Tanah Air dalam tenggang waktu 1945 hingga 1949. Ada perjuangan heroik di Surabaya pada 10 November 1945, ada diplomasi politik St Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan Hatta, ada perlawanan Jenderal Soedirman yang tidak bisa menerima kapitulasi Soekarno-Hatta pada 19 Desember 1948 kepada pasukan Belanda di Yogyakarta. Dan jangan lupa, salah satu tonggak yang menyatu dengan roh dan napas revolusi Indonesia adalah lahirnya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pimpinan Sjafruddin Prawiranegara di sebuah desa kecil Halaban dalam wilayah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, pada 22 Desember 1948.

Sebelum Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta diangkut pasukan Belanda pada 19 Desember 1948, kawat masih sempat dikirimkan kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara dalam Kabinet Hatta yang sedang berada di Bukittinggi dan kepada Dr Sudarsono, LN Palar, dan AA Maramis di India. Isi kawat agar dibentuk segera pemerintah darurat di Sumatera atau pemerintah dalam pengasingan di India, sekiranya perjuangan dalam negeri gagal.

Karena Bukittinggi sudah tak aman, Sjafruddin dan banyak tokoh pejuang lain harus menyingkir ke kawasan yang lebih aman. Sekalipun kawat tak sampai karena komunikasi telah dirusak, Sjafruddin dan para pejuang yang lain dengan cekatan dan penuh rasa tanggung jawab membentuk PDRI dalam kesunyian lingkungan desa, tiga hari setelah Soekarno-Hatta tidak bisa berfungsi lagi sebagai presiden dan wakil presiden. Pemerintah pusat lumpuh. Terjadi kekosongan kekuasaan pada tingkat tertinggi selama tiga hari itu (19-22 Desember). Dengan lahirnya PDRI yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Jenderal Soedirman, kekosongan itu cepat terisi dengan mandat sah: “…kami (Presiden” menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia, untuk membentuk Pemerintah Darurat di Sumatera.” Indonesia tidak runtuh, sebagaimana kicauan pongah Belanda dan pendukungnya dari kubu kolonialisme global.

Sehari setelah PDRI dibentuk, Sjafruddin Prawiranegara sebagai ketuanya menyampaikan pidato radio yang isinya antara lain “Negara Republik Indonesia tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta sekalipun kedua pemimpin itu adalah sangat berharga bagi bangsa kita. Patah tumbuh hilang berganti. Hilang pemerintah Soekarno-Hatta, sementara atau untuk selama-lamanya, rakyat Indonesia akan mendirikan pemerintahan yang baru, hilang pemerintah ini akan timbul yang baru lagi.” Pidato yang penuh optimisme dari seorang patriot-nasionalis yang tidak pernah percaya bahwa Belanda akan berkuasa kembali di Indonesia. Tekad ini adalah tekad para pejuang yang mendapat dukungan dari seluruh rakyat yang tidak mau dijajah lagi.

Karena Belanda selalu mengincar pimpinan PDRI, watak perlawanan yang dikembangkan adalah bergerilya dari satu kawasan ke kawasan yang lain dengan segala suka duka yang menyertainya, termasuk harus berjalan kaki sepanjang ratusan kilometer. Hutan dan desa-desa di Sumatera Barat telah melindungi pimpinan PDRI selama tujuh bulan (22 Desember 1948-13 Juli 1949). Tak seorang pun yang dapat ditangkap pasukan kolonial. Desa-desa yang pernah menjadi pusat pemerintahan PDRI adalah Bidar Alam (Solok Selatan), Koto Tinggi (Limapuluh Kota), dan Sumpur Kudus (sekarang dalam Kabupaten Sijunjung).

Rakyat di semua desa ini demikian menyatu dengan PDRI. Apa pun mereka korbankan demi ongkos kemerdekaan yang ingin dihancurkan lagi oleh Belanda. Pada hari-hari itu, patriotisme dan nasionalisme Indonesia sedang berada di puncak-puncaknya yang tertinggi. Pilihannya: merdeka atau mati! Semangat ini telah menjalar sampai ke pelosok-pelosok tersuruk yang jauh dari Jakarta atau Yogyakarta. Belanda tidak mau mengerti tentang semangat perlawanan rakyat ini. Nafsu kolonialnya yang tak terbendung telah membutakan hati dan melumpuhkan akal sehat Belanda. Terlalu amat berat bagi penjajah untuk melepaskan Indonesia yang telah dieksploitasinya dalam rentang waktu yang lama.

PDRI dalam ketatanegaraan Indonesia

Sekarang, bagaimana status ketatanegaraan PDRI setelah mengeram dalam ingatan kolektif kita selama 65 tahun tahun (1949-2014)? Memang Sjafruddin Prawiranegara tahun 1998 telah menerima “Bintang RI Adipradana” dari Presiden BJ Habibie dengan Keppres No 110/TK/1998 tertanggal 6 November 1998. Juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Keppres No 28 Tahun 2006 telah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara. Bagi saya, semuanya itu belum cukup. Seolah-olah PDRI itu bukan merupakan salah satu tonggak utama revolusi Indonesia di saat yang sangat-sangat genting. Jenderal Soedirman memahami benar peran kritikal PDRI ini.

Dapatkah tuan dan puan membayangkan nasib RI tanpa PDRI di tengah hantaman propaganda Belanda yang sangat gencar bahwa negara Indonesia telah lenyap dengan tertangkapnya Soekarno-Hatta? Sjafruddin Prawiranegara telah menjawab kebohongan itu dalam perbuatan nyata sebagaimana tecermin dalam pidato di atas. Maka ada baiknya para ahli hukum tata negara membaca kembali dengan kepala dingin dan melalui pertimbangan yang jernih, demi pelurusan sejarah bangsa, tentang peran PDRI ini untuk kemudian mengusulkan kepada presiden dan MPR agar Sjafruddin Prawiranegara ditetapkan sebagai presiden kedua Republik Indonesia. Para sejarawan dapat membantu ahli hukum tata negara kita dalam kerja besar ini. Arsip sejarah cukup tersedia untuk keperluan itu.

Ahmad Syafii Maarif
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Islam Dalam Krisis (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Jika turunnya wahyu pertama pada tahun 610 Masehi sebagai awal kenabian dapat diterima menjadi tonggak karier Islam di muka bumi, maka karier itu sudah berlangsung dalam lipatan abad yang panjang. Islam bukan lagi agama sederhana, ia sudah kompleks sekali. Tafsiran terhadap agama terakhir ini sudah berlapis-lapis, sehingga untuk menentukan mana yang emas dan mana yang loyang menjadi tidak mudah, kecuali di tangan orang yang dikurniai ‘aqlun shaĥîh wa qalbun salîm (minda yang sehat tak terbelah dan hati yang tulus tanpa cacat), sekalipun tidak pernah sempurna. Alquran pasti membuka diri terhadap orang dengan kualitas prima ini. Tetapi manusia tetap manusia dengan segala keterbatasannya, ada saja sisi-sisi yang lemah yang mengganggu.

Dari sudut pandang relativisme manusia inilah kita harus memahami mengapa telah berlaku peperangan antara kelompok ‘Aisyah binti Abû Bakr, janda nabi, yang dipimpin oleh Thalĥâh bin ‘Ubaidillâh dan Zubair bin ‘Awwâm berhadapan dengan pendukung Khalifah ‘Alî bin Abî Thâlib (656-661), sepupu dan menantunya. Menurut hadist, sebagai sahabat nabi, mereka yang terlibat dalam peperangan ini telah dijamin masuk surga. Ini adalah krisis politik pertama yang berdarah dalam sejarah Islam yang dikenal dengan Perang Onta, terjadi tahun 35 H/656 M, segera setelah berlaku pembunuhan keji atas diri Khalifah ‘Ustmân bin ‘Affân (644-656) oleh pemberontak Muslim yang menentang kebijakan khalifah yang dinilai tidak adil.

Krisis kedua yang lebih dahsyat di periode awal itu terjadi dalam perang Shiffîn (657) antara pasukan’Ali dan Mu’awiyyah bin Abû Sufyân, gubernur Suria yang diangkat Khalifah ‘Umar bin Kaththâb (632-644) di masa kekhalifahannya. Dalam perang saudara yang masih dikait-kaitkan dengan Parang Onta ini, ribuan yang mati dari kedua pihak. Ketika pasukan ‘Alî nyaris menang, utusannya Abû Mûsâ al-‘Asy’arî ditipu oleh utusan Mu’âwiyah, ‘Amr bin ‘Ash yang cerdik, agar peperangan dihentikan dan berdamai (taĥkîm) di Daumatul Jandal, sebuah oase di lembah Sirhan yang terletak antara Damaskus dan Madinah.

Peluang ini digunakan dengan licik oleh ‘Amr bin ‘Ash untuk mengganti ‘Alî sebagai khalifah dengan menobatkan Mu’âwiyah, idolanya. Tetapi kekuasaan penuh Mu’awiyah harus menanti dulu kematian ‘Ali karena ditikam oleh mantan pengikutnya di masjid Kufah. Kelompok garis keras ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai golongan khawarij (yang memisahkan diri) dari ‘Ali karena menentang taĥkîm di Daumatul Jandal. Tetapi sebenarnya yang tetap setia kepada ‘Ali sampai detik terakhir adalah kaum Anshar. Adapun orang Iraq dan apa yang dikenal dengan golongan al-Qurra tidak sepenuh hati mendukung ‘Ali. Kelemahan ini dibaca dan dimanfaatkan oleh pihak Mu’awiyah untuk memecah belah kubu ‘Ali dan berhasil.

Saya rekamkan kejadian tragis ini bukan untuk membuka luka yang telah berusia belasan abad, tetapi untuk menyadarkan kita semua bahwa sengketa yang berdarah-darah di atas sepenuhnya adalah gejala Arab, bukan mewakili Alquran yang dengan tegas memerintahkan agar orang beriman itu bersaudara dan berdamai. (Lih. Aquran . Al-Ĥujurât: 10). Ironisnya adalah perpecahan yang bercorak Arab ini kita warisi sampai detik ini. Seakan-akan kelakuan para sahabat yang terlibat dalam sengketa dan peperangan itu menjalankan perintah Alquran, sama sekali tidak. Adapun mereka itu dijamin masuk surga sepenuhnya adalah urusan Allah dengan mereka, kita tidak tahu.

Dari tragedi Shiffîn inilah kemudian berkembang tiga faksi besar umat yang tidak pernah berdamai: sunni, syi’ah, dan khawarij. Sunni yang muncul sebagai golongan mayoritas merasa diri selalu berada di pihak yang benar dengan menuduh kelompok syi’ah dan khawarij sebagai pihak yang salah. Cara pandang yang semacam ini harus dihalau jauh-jauh dengan menjadikan Alquran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi. Kepentingan politik sesaat dengan dalil agama sekalipun bagi saya adalah sebuah pengkhianatan. Sunni, syi’ah, dan khawarij adalah buah dari perpecahan politik, mengapa kemudian diberhalakan? Pemberhalaan inilah yang selama ratusan tahun telah menghancurkan persaudaraan sejati umat Islam, termasuk umat Islam yang tidak ada hubungannya dengan yang budaya Arab yang suka berpecah belah itu.

Teknisi Kompor Gas

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Tubuhnya gempal agak pendek, ceria, usianya bolehjadi berada pada kepala lima. Sudah 25 tahun berprofesi sebagai teknisi kompor gas dengan segala merek. Sekalipun punya mobil jip, dia memilih sepeda motor dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Panggilan selalu datang dari mereka yang punya masalah dengan kompornya.

Saya saksikan sendiri kepakarannya saat membongkar kompor saya. Seperti tanpa berfikir panjang, tangannya bekerja melaksanakan perintah otaknya dengan sangat cekatan dan sigap. Karena penyakit kompor saya sudah sangat jelas, yaitu sumber api otomatisnya sudah puluhan tahun tidak berfungsi, Bung Sutarman, nama teknisi,  telah membawa lengkap suku cadang yang diperlukan dengan speda motornya yang sarat beban itu.Karena peralatan untuk memungsikan sumber api listrik otomatis sudah berantakan dan harus diganti, kata teknisi, biayanya agak mahal. Monggo mawon (terserah saja), jawab saya. Tidak kurang dari tiga setengah jam waktu yang diperlukan kemudian, barulah semua pekerjaan perbaikan rampung sempurna. Bung Tarman hanya rehat sebentar saat menjalankan salat asar di masjid dekat rumah.

Tentang hidup keagamaannya, Bung Tarman punya cerita sendiri. Bermula dari seorang yang tak hirau dengan agama, entah apa yang mendorong, teknisi ini sekarang sudah mahir baca Alquran, bahkan sudah tamat empat kali. Mentornya seorang guru SD, usia muda, tetapi katanya penyabar. Bung Tarman sangat terkesan dengan sikap sabar gurunya itu. Dengan penuh kesabaran, pelajaran dengan mudah ditangkap, imbuh Tarman, dengan penuh kebanggaan. “Saya bahagia sekali,” katanya.
Ternyata mahir membaca Alquran itu, sekalipun belum tentu faham maknanya, punya nilai tersendiri baginya. Dengan mengikuti kasus Tarman ini, saya semakin menyadari, ratusan juta umat Islam di muka bumi biasa membaca Alquran tanpa mengerti apa yang dibaca. Tentu akan lebih sempurna, jika maknanya mulai difahami. Saya tidak menyampaikan itu kepada Bung Tarman. Bagi saya, rajin salat dan suka baca Kitab Suci sudah merupakan modal awal bagi seorang Muslim untuk membangun pribadi yang baik.

Dulu di Sumatera Barat, melalui surau-surau tradisional, anak muda Minang gemar belajar baca Alquran selama bertahun-tahun. Mereka juga tidur di surau itu.  Sekarang kondisinya semakin memprihatinkan. Novelis alm. A.A. Navis tahun 1950-an dengan sangat tajam menulis novel di bawah judul, Robohnya Surau Kami¸ sebuah kritik kehidupan keagamaan di Minangkabau yang semakin luntur dan dangkal. Sudah sulit dijumpai sekarang sosok manusia semisal Bung Tarman di sana, dalam usia dewasa tergerak hatinya untuk belajar baca Alquran.

Fenomena terbalik ditemui di Jawa, terutama di kawasan perumahan. Tidak sedikit manusia pensiunan tergerak hatinya untuk belajar membaca Kitab Suci ini, dan umumnya mereka berhasil. Fenomena ini jika dipandang dari sisi sosiologis  adalah proses santrinisasi dalam bentuknya yang sederhana, tetapi penting sebagai daya tahan dalam menghadapi pengaruh buruk dari luar.

Teknisi kita ini dengan pengetahuan agama yang tidak seberapa, kualitas imannya mungkin lebih baik dari saya. Tuan dan puan yang mungkin telah belajar agama sampai tingkat doktor, dari sisi iman, jangan memandang enteng seorang teknisi kompor gas yang bagi saya sangat memukau. Bung Tarman dengan sangat rinci menjelaskan harga komponen yang diperlukan untuk kompor, padahal tidak diminta, karena sudah percaya. Tetapi didesaknya juga agar segala sesuatu terang benderang, sedangkan ongkos kepakarannya selama sekian jam bekerja nyaris tanpa henti itu hanya ditetapkan Rp 200 ribu. Seakan-akan kepintarannya itu tidak diperhitungkannya.

Saya semakin kagum mengamati dari dekat sosok yang begini lugu. Padahal kesempatannya jika ingin berkelit di depan saya yang buta huruf dalam masalah kompor terbuka lebar. Rupanya didikan agama sederhana yang didapatnya telah menjadikannya sebagai manusia jujur dan lurus. Proses internalisasi nilai-nilai agama yang membentuk pribadi seseorang dengan karakter yang kuat inilah yang semakin langka kita jumpai dalam kehidupan kolektif kita. Quo vadis pendidikan agama di Indonesia?

Muhammadiyah dan Pemerintah

ORANG Muhammadiyah itu orang merdeka. Terserah mereka dalam berwarga negara.” Pernyataan itu terlontar dari Buya Syafii Maarif menjawab kejaran pertanyaan para wartawan seusai menerima kunjungan Joko Widodo (calon presiden kala itu) di kediamannya (Kompas, 3/5/2014).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menepis anggapan bahwa pertemuan dirinya dengan Jokowi mengarah pada kontrak politik antara capres PDI-P itu dan Muhammadiyah. Buya Syafii sangat percaya semangat egalitarian dan kemerdekaan dalam budaya organisasi yang kini berusia 105 tahun ini merupakan prinsip yang membuatnya tak oleng meski diterpa badai pelbagai zaman, mulai dari era pra-kemerdekaan hingga era Reformasi.

Perjalanan pemilu presiden yang lalu memang membuktikan bahwa institusi Muhammadiyah berhasil menjaga netralitas politiknya, terutama tecermin dari sikap politik Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sebagai simbol marwah organisasi. Namun, dinamika pilpres dan tingkat akomodasi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla terhadap Muhammadiyah akan menentukan relasi kedua entitas ini dalam perjalanan pemerintahan lima tahun mendatang. Ini poin penting yang menjadi refleksi bersama saat warga Muhammadiyah merayakan hari lahirnya yang ke-102 pada 18 November 2014.

Muhammadiyah tanpa negara?

Ada harapan besar bahwa relasi Muhammadiyah dan negara pada era JKW-JK bisa lebih produktif dibandingkan era SBY-Boediono yang cenderung “dingin”. Gejala “demuhammadiyahisasi” pada era SBY di beberapa kementerian telah mengusik rasa keadilan. Sikap kritis tokoh-tokoh kunci Muhammadiyah ditengarai salah satu pemicunya. Yang paling menohok Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan Publik pada 2011.

Era JKW-JK menawarkan jendela baru. Terlebih JK dikenal sangat dekat dengan Muhammadiyah, juga Jokowi yang rajin menemui tokoh Muhammadiyah jelang pilpres. Agak personal, Ibu Negara Iriana pernah mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Namun, asa itu harus membentur realitas politik yang tak bersahabat menyusul pengumuman Kabinet Kerja oleh Presiden Jokowi. Tak bisa dimungkiri kekecewaan melanda warga Muhammadiyah pasca pengumuman kabinet. Pangkalnya, tak ada kader inti Persyarikatan sesuai aspirasi organisasi dalam formasi kabinet itu, khususnya pos kementerian pendidikan.

Tak pelak Buya Syafii menjadi salah satu pusat pertanyaan, aduan, bahkan protes dari banyak warga Muhammadiyah yang merasa kecewa, tidak terkecuali para pengurus pusat dan daerah. Keberadaan beberapa menteri yang dianggap memiliki subkultur Muhammadiyah tidak cukup mampu menghilangkan kegusaran. Penjelasan belakangan bahwa Nila Moeloek ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan atas rekomendasi PP Muhammadiyah dirasa masih menyisakan tanya.

Namun, dalam pesan singkatnya, Buya Syafii menulis respons bijak, “Tidak perlu bersikap reaktif, sekalipun kita memerlukan negara, Muhammadiyah 33 tahun lebih tua”. Disusul pesan berikutnya, “Jika ukurannya hanya jatah kursi tanpa mengaitkannya dengan kepentingan bangsa secara keseluruhan, maka mencari sahabat yang benar menjadi masalah serius” (27/10).

Pendiri Maarif Institute ini sangat meyakini tesis kesetaraan hubungan antara Muhammadiyah dan negara dengan mengutamakan kepentingan bangsa. Sebuah penegasan arah politik kebangsaan Muhammadiyah yang lebih otonom dari perspektif politik kewargaan. Apakah Muhammadiyah akan kehilangan akal sehatnya karena aspirasinya tidak diakomodasi JKW-JK? Jelas tidak! Muhammadiyah sudah lama hadir sebelum republik ini lahir dan sudah sekian lama membantu pemerintahan dalam menunaikan amanat konstitusinya.

Dinamika hubungan

Secara historis, hubungan Muhammadiyah dan negara sangat dinamis dipengaruhi pelbagai faktor dan orientasi aktor-aktornya. Menurut penelitian Saud El Hujaj (Lihat Tanwir Vol 1 No 1, Mei, 2003: 74-75), ada tiga model relasi Muhammadiyah dan negara sepanjang sejarah perjalanan Muhammadiyah. Pertama, model hubungan Muhammadiyah tidak mencampuri urusan politik. Pendekatan ini diterapkan pada masa Pemerintah Hindia Belanda. Organisasi yang dibidani Ahmad Dahlan ini tidak terseret pada pilihan gerakan kooperatif dan nonkooperatif dalam memperjuangkan Indonesia merdeka. Model yang disebut Emmerson sebagai sikap akomodatif ini berlaku pula pada periode pasca Orde Baru.

Kedua, model hubungan Muhammadiyah sebagai subordinasi negara. Model ini terlihat jelas pada masa pendudukan Jepang yang sangat militeristik. Muhammadiyah menempatkan aktor negara sebagai institusi pemaksa yang mendisiplinkan manusia dengan cara-cara kekerasan. Model ini juga berlangsung pada akhir Orde Lama dan dekade pertama Orde Baru. Kekuatan-kekuatan sosial-politik di luar negara dipinggirkan dan hanya menjadi aksesori penguasa.

Ketiga adalah model hubungan Muhammadiyah yang masuk ke ranah kenegaraan. Pola ini terpotret mulai dari keterlibatan mendirikan partai politik (Masyumi), membidani kelahiran partai politik (PAN), hingga berperan aktif dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Pada masa Reformasi, Muhammadiyah memainkan peran-peran strategis nonparpol dalam koridor masyarakat sipil, terutama pada periode Amien Rais, Buya Syafii, dan Din Syamsuddin. Pada awal tahun 2003, secara jernih Buya Syafii menuturkan bahwa Amien yang telah berjasa mengeluarkan Muhammadiyah dari subordinasi negara sehingga mampu setara dengan negara.

Lalu bagaimana kira-kira hubungan Muhammadiyah dan pemerintahan JKW-JK? Secara umum polanya tak akan keluar dari model ketiga seperti diyakini Buya Syafii. Tentu kepemimpinan baru Muhammadiyah pada muktamar tahun depan akan ikut menentukan, tetapi kecil kemungkinan mereka nanti akan mengambil jalan memunggungi negara kecuali ada peristiwa luar biasa.

Paling tidak ada tiga kondisi yang akan ikut memengaruhi tensi hubungan. Pertama, langkah awal pemerintahan baru telah meninggalkan jejak yang kurang positif di mata warga Muhammadiyah. Tentu tidak adil menghakimi sebelum bekerja. Muhammadiyah tak akan sungkan mengapresiasi jika pemerintah berprestasi, tetapi juga tidak gentar untuk memberikan kritik, bahkan koreksi seperti telah ditunjukkan selama ini.

Kedua, Muhammadiyah tak mengenal budaya mentransaksikan dukungan dengan posisi politik, tetapi akan siap mendistribusikan kader-kader terbaiknya jika diminta. Ini fatsun yang masih dipegang teguh kalangan mainstream. Namun, jika pemerintah menempatkan orang-orang bermasalah dan atas dasar transaksi gelap politik di pos-pos strategis kenegaraan, itu sudah mengundang musuh sendiri.

Ketiga, Muhammadiyah concern dengan agenda-agenda politik publik, seperti kedaulatan ekonomi, pemberantasan mafia (migas dan impor), pengembangan sumber daya manusia, dan pelayanan publik yang terjangkau. Selama JKW-JK tidak bergeser dari komitmen akan nilai-nilai kebajikan publik dan keberpihakan pada orang-orang tidak mampu, mereka akan memenangkan hati warga Muhammadiyah. Sebab, rasionalitas dan etos manusia merdeka merupakan karakter yang ditopang oleh tradisi kelembagaan yang kuat.

Akhirnya, selamat milad ke-102 Muhammadiyah! Tetaplah bersinar seperti matahari yang tak mengenal pilih kasih.

Fajar Riza Ul Haq Direktur Eksekutif Maarif Institute