HIV/AIDS di Papua

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Harian “Sinar Harapan” pada tanggal  19 Nop. 2014, halaman 1, menurunkan berita mengerikan di bawah judul “Punahnya 45 Marga di Papua.”Berita ini berkaitan dengan semakin merebaknya kasus HIV/AIDS di enam kabupaten di Papua di wilaya adat Meepago: Mimika, Nabire, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, dan Paniai.”Di enam kabupaten ini 45 marga dalam proses kepunahan dihantam oleh penyakit yang membawa maut itu.

Dengan penuh prihatin Pastor Nato Gobay Pr menyampaikan kondisi buruk itu di depan Gubernur Papua Lukas Enembe dan stafnya dalam acara Musyawarah Besar Pencegahan HIV/AIDS dan Penanggulangan Minuman Keras (Miras) selama empat hari di Nabire mulai 17 Nopember yang lalu. Virus maut yang belum ketemu obat penangkalnya ini sebenarnya sudah lama merebak di berbagai wilayah di nusantara, tetapi di Papua adalah yang terparah. Maka jika tidak dilakukan tindakan pecegahan terpadu di sana, kita sangat cemas bahwa saudara-saudara kita di provinsi kaya mineral itu akan terus saja menjadi korban bergelimpangan.

Oleh sebab itu kementerian kesehatan yang dinakodai oleh Prof Nila Djoewita ini harus tanggap terhadap apa yang sedang menggoncang bumi Papua ini. Propinsi Papua tidak mungkin sendirian melawan wabah yang mudah menular ini antara lain melalui hubungan seks bebas (97 persen) yang nyaris tak terkendalikan di kalangan warga kita di sana. Masalah miras juga beban lain yang mesti diberantas. Berbagai agama sejak ribuan tahun yang lalu telah memberikan lampu merah akan bahaya miras itu. Tetapi manusia tetap saja membangkang terhadap peringatan itu.

Kita tidak tahu sudah berapa puluh miliar dolar dunia mengalokasikan dana untuk penanggulangan akibat buruk dari HIV/AIDS dan miras terhadap umat manusia yang tak mau menghindarkan diri dari godaan penyakit dan minuman yang jelas-jelas membahayakan dirinya. Korban terbanyak memang menimpa penduduk berkulit hitam di beberapa negara Afrika dan Papua. Apakah tidak baik jika enam kabupaten di Papua itu diberi tanda SOS (selamatkan jiwa kami)? Pastor Nato telah melangkah untuk memasang lampu merah bagi kita semua agar tidak tenggelam dalam ketidakpedulian terhadap nasib warga kita yang tak sadar, dan akhirnya tak berdaya itu.

Berapa angka korban HIV/AIDS di Papua? Gubernur Enembe memberikan angka-angka ini: jumlah seluruhnya sekitar 2,3 persen di Papua dengan HIV/AIDS 17.639 kasus, dengan rincian 6.457 HIV dan 11. 060 AIDS. Itu angka yang sudah terdata, yang belum tercatat belum diketahui, sebab seorang yang terkena bisa menularkan kepada banyak manusia lain.

Lukas Enembe sangat khawatir dengan kondisi warganya: “Jadi, jangan sampai orang Papua tinggal kenangan saja,” dibinasakan oleh HIV/AIDS yang umumnya menghantam orang dalam usia 15-49 tahun, sebuah masa produktif. Kita terpesona oleh keindahan alam Papua, seperti kawasan Raja Empat Angkat yang fenomenal, tetapi membiarkan sebagian rakyatnya punah oleh HIV/AIDS adalah sebuah perbuatan immoral. Kita kutip lagi Pastor Nato: “… bahwa 45 marga di enam kabupaten wilayah adat Meepago sudah habis akibat terjangkit virus HIV/AIDS.” Sebuah pernyataan yang mesti mendapat perhatian serius oleh bangsa ini, terutama oleh pemerintah lokal dan pusat.

Kebangsaan Muhammadiyah

“Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” menjadi tema dalam Milad ke-105 H/102 M Muhammadiyah (18 November 1912-18 November 2014). Tema ini diambil sebagai bentuk keprihatinan Muhammadiyah terhadap kebangsaan akibat kebangsaan semakin memudar dan rapuh. Kebangsaan jauh dari semangat Pancasila dan UUD 1945.

Kondisi ini mendorong keprihatinan Muhammadiyah. Sebagai organisasi yang lebih tua dari umur republik ini, Muhammadiyah terpanggil menyelesaikan persoalan tersebut.

Dalam Pidato Milad Muhammadiyah tertulis, “Muhammadiyah mengajak seluruh elite bangsa untuk benar-benar berkiprah optimal untuk memajukan kehidupan bangsa guna mewujudkan cita-cita nasional di seluruh bidang kehidupan. Kepada semua pihak, lebih-lebih para pemimpin bangsa, mari tunjukkan sikap konsisten antara kata dan tindakan, menjunjung tinggi moral yang utama, menunaikan amanat rakyat, serta memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri, kelompok, dan golongan. Muhammadiyah mengajak pemerintah di seluruh tingkatan untuk semakin meningkatkan komitmen dan kesungguhan dalam memajukan bangsa, disertai sikap mengedepankan keadilan dan kejujuran, berdiri di atas semua golongan, tidak partisan, bermitra dengan seluruh komponen bangsa, termasuk Muhammadiyah, dan mampu menunjukkan jiwa kenegarawanan yang utama”.

Pidato tersebut menegaskan posisi dan peran Muhammadiyah dalam kebangsaan. Muhammadiyah sebagai bagian dari civil society perlu mengingatkan pemerintah. Bahwasanya mereka dipilih untuk menjadi pemimpin, bukan menjadi seorang pejabat. Pemimpin adalah mereka yang senantiasa merasa gelisih jika tidak mampu bekerja optimal. Mereka merasa malu jika tidak berprestasi. Senantiasa menjaga lisan dan perbuatan guna kemakmuran bangsa dan senantiasa ingin berbuat kebajikan setiap saat.

Karena itu, seorang pemimpin selayaknya menyemai kebajikan setiap saat. Dalam kesejarahan, Muhammadiyah telah mewariskan semangat juang menjadi pelayan dari kepemimpinan AR Fachruddin. Pak AR, begitu ia disapa, menjadi simbol dai ikhlas, bersahaja, dan tawadhu. Ia senantiasa hadir sendiri memenuhi undangan menjadi penceramah dengan motor butut. Motor berwarna merah bermerek Yamaha 70 itu menjadi teman setia Pak AR.

Ia pun senantiasa menjalin komunikasi dengan masyarakat melalui bahasa-bahasa sederhana. Ia senantiasa ingin dekat dengan umat. Ia sering mengunjungi desa dan menyapa masyarakat. Kesederhanaan, ketulusan, dan ketelatenan menyapa masyarakat menjadi ciri utama kepemimpinan Pak AR. Melalui sikap yang demikian, Presiden Soeharto pun seakan tunduk pada wejangan Pak AR.

Selayaknya pemimpin bangsa ini dapat belajar dari kepemimpinan Pak AR. Melalui hal tersebut, seorang pemimpin akan terus dikenang rakyatnya. Karena, ia senantiasa bekerja optimal untuk bangsa dan negara, bukan didasarkan pada niatan “busuk” guna memuluskan kepentingan pribadi dan golongan.

Lebih lanjut, kebangsaan hari ini akan kokoh jika pemimpinnya mampu menjadi teladan. Sebaliknya, ketika keteladanan menghilang dan hanya menjadi kata tanpa ucapan, maka kebangsaan akan runtuh.

Sebagai organisasi modern yang usianya lebih tua dari Republik, selayaknya bangsa dan negara ini belajar dari Muhammadiyah. Muhammadiyah telah membuktikan diri tumbuh dan berkembang bersama bangsa lebih dari seabad. Muhammadiyah juga telah meletakkan dasar keunggulan bagi kemakmuran bersama. Salah satunya adalah melalui bidang pendidikan dan ekonomi kreatif.

Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah telah terbukti mampu mendidik putra-putra terbaik bangsa. Pendidikan Muhammadiyah yang bersumber pada epistemologi Islam berkemajuan hingga kini terus menggelora hingga ke pelosok negeri.

Model pendidikan tersebut selayaknya dikembangkan oleh pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan nasional. Hal ini penting di tengah semakin mengguritanya ideologi Islam berwajah garang terhadap budaya bangsa. Bangsa Indonesia akan kehilangan jati dirinya jika wajah Islam nusantara berubah menjadi Islam Arab yang kaku dan rigid.

Dalam hal pendidikan, selayaknya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mau membuka lembaran keunggulan konsepsi pendidikan Muhammadiyah. Pemerintah tidak perlu berkiblat kepada Barat yang tentu nuansa dan spirit pendidikannya berbeda dengan realitas keindonesiaan.

Muhammadiyah pun hingga saat ini terus menggelorakan ekonomi kreatif. Pembangunan gedung pendidikan, rumah sakit, dan panti asuhan lebih diusahakan oleh warga persyarikatan dibandingkan menengadahkan tangan kepada pemerintah. Ekonomi kreatif inilah yang memandirikan Muhammadiyah.

Kemandirian Muhammadiyah inilah yang menjadikan persyarikatan konsisten melakukan kritik membangun kepada pemerintah. Kritik Muhammadiyah itu bukan untuk menjatuhkan wibawa pemerintah. Namun, untuk meneguhkan komitmen amar makruf nahi mungkar.

Salah jika ada anggapan bahwa Muhammadiyah melakukan kritik terhadap pemerintahan Jokowi-JK karena tidak mendapat kursi di kabinet atau posisi lain. Bukan watak Muhammadiyah jika mengkritik mempunyai maksud mendapat posisi atau kedudukan.

Muhammadiyah berdiri dan tumbuh dari rahim nusantara. Maka, keprihatinan Muhammadiyah pada dasarnya merupakan kegalauan bangsa. Bangsa ini harus diselamatkan dari proses kepemimpinan yang rapuh. Jika bangsa dan negara ini ambruk, Muhammadiyah pun akan roboh.

Muhammadiyah terus berkomitmen menjadi gerakan tajdid. Gerakan pembaruan dengan spirit terus melakukan inovasi menciptakan keunggulan. Kritik Muhammadiyah kepada pemerintah bukanlah kebencian, tapi merupakan komitmen persyarikatan untuk berkontribusi bagi kebangsaan.

Pada akhirnya, semoga milad kali ini semakin mengukuhkan posisi Muhammadiyah dalam proses kebangsaan. Selamat milad Persyarikatan Muhammadiyah. n

Benni Setiawan
Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity.

Absennya Muhammadiyah

AHMAD NAJIB BURHANI
Peneliti LIPI dan Maarif Institute

Mengapa seolah-olah pemerintahan Jokowi-JK mengabaikan Muhammadiyah dalam menyusun Kabinet Kerja 2014- 2015?

Apakah tidak ada profesional dari organisasi yang berdiri sejak 1912 ini yang layak untuk masuk dalam kabinet, termasuk di bidang kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial, bidang-bidang yang telah ditekuni oleh organisasi ini selama lebih dari satu abad? Apakah pengabaian ini terjadi sebagai akibat sampingan dari survei PPIM tahun 2011 lalu, yang merilis bahwa jumlah warga Muhammadiyah di Indonesia jauh lebih kecil dari klaimnya selama ini?

Ataukah ini terjadi karena pilihan sebagian anggota organisasi ini dan partai yang berbasiskan organisasi ini pada masa kampanye presiden? Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan absennya kader inti Muhammadiyah dalam Kabinet Kerja Jokowi- JK.

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin deras setelah melihat ada enam kader NU (Nahdlatul Ulama) yang masuk dalam kabinet, yaitu M Hanif Dhakiri (Menteri Ketenagakerjaan), Marwan Jafar (Menteri PDT dan Transmigrasi), Imam Nahrawi (Menteri Pemuda dan Olahraga), Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial), M Nasir (Menteri Ristek dan Dikti), dan Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama).

Memang ada beberapa menteri yang memiliki latar belakang Muhammadiyah seperti Siti Nurbaja (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) atau konon direkomendasikan oleh Muhammadiyah seperti Nila F Moeloek (Menteri Kesehatan). Namun, tidak ada kader inti Muhammadiyah yang menjadi menteri.

Maksud dari kader inti di sini adalah mereka mendapat pengaderan di Muhammadiyah dan aktif dalam organisasi ini dalam masa yang cukup panjang. Sering dikatakan, beberapa menteri dari NU itu diangkat bukan karena latar belakang ke-NU-annya, melainkan karena mereka berangkat atau diusulkan oleh PKB atau PPP. Satusatunya yang tidak berangkat dari partai atau profesional adalah Khofifah Indar Parawansa yang dalam masa kampanye presiden merupakan anggota tim inti dan juru bicara Jokowi-JK.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah tidak ada orang Muhammadiyah dalam tim inti pemenangan Jokowi-JK? Ada beberapa nama dari Muhammadiyah yang masuk tim inti Jokowi-JK, seperti Rizal Sukma, Abdul Munir Mulkhan, dan Malik Fadjar. Bahkan berbeda dari Said Aqil Siradj, ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang secara tegas memberikan dukungan kepada Prabowo-Hatta, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin berusaha bersikap netral selama kampanye.

Konon Rizal Sukma yang merupakan direktur eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan ketua bidang hubungan luar negeri pimpinan pusat Muhammadiyah sudah masuk sebagai calon menteri luar negeri, namun namanya dicoret pada keputusan akhir.

Apakah ini karena dia dari CSIS yang dulu dikenal sebagai think tank Orde Baru, dekat dengan kalangan Kristen, dan dekat dengan konglomerat? Jawabannya tentu ada di Jokowi dan orangorang yang terlibat dalam keputusan akhir. Dugaan lain tentang absennya Muhammadiyah di kabinet Jokowi adalah karena Partai Amanat Nasional (PAN) yang dulu kelahirannya dibidani oleh Muhammadiyah memilih berkoalisi dengan Gerindra untuk mengusung Prabowo-Hatta sebagai calon presiden dan wakil presiden.

Dan dalam beberapa survei, warga Muhammadiyah lebih banyak yang mendukung Prabowo-Hatta dari pada Jokowi-JK. Ini barangkali dugaan terkuat mengapa tidak ada orang Muhammadiyah yang menjadi menteri. Pilihan politik PAN berdampak pada Muhammadiyah. Namun demikian, mengidentikkan Muhammadiyah dengan PAN tentu tak sepenuhnya tepat mengingat hubungan keduanya tak seperti dulu lagi.

Di samping itu, kini banyak pimpinan PAN yang bukan berasal dari Muhammadiyah termasuk ketua umumnya, Hatta Rajasa. Ada lagi yang menduga, meski kemungkinannya sangat kecil, bahwa tiadanya kader inti Muhammadiyah yang menjadi menteri adalah akibat sampingan dari survei yang dikembangkan oleh The Asia Foundation (TAF), Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2010.

Dari survei yang di antaranya diterbitkan oleh Robin Bush (2014) dalam artikelnya yang berjudul “A snapshot of Muhammadiyah social change and shifting markers of identity and values “ itu, disebutkan bahwa jumlah responden yang menyatakan diri berafiliasi dengan NU berjumlah 49%, sementara yang berafiliasi dengan Muhammadiyah hanya 7,9%.

Angka ini kemudian sering dipakai untuk menarik kesimpulan bahwa warga Indonesia yang berafiliasi ke NU hampir mencapai 50%, sementara warga Indonesia yang Muhammadiyah tidak ada 10%. Kesimpulan ini kemudian dipakai sebagai alat untuk merevisi pandangan sebelumnya, yang didasarkan klaim masingmasing organisasi, bahwa beda antara jumlah warga Muhammadiyah dan NU itu hanya 10 juta orang.

Jika NU memiliki 40 juta anggota, Muhammadiyah memiliki 30 juta warga. Atau, jika 40% dari umat Islam Indonesia secara tradisi adalah warga NU, 30% orang Indonesia adalah Muhammadiyah. Sisanya adalah mengikuti organisasi lain.

Apa konsekuensi dari penelitian PPIM, TAF, dan LSI itu? Ternyata jumlah warga Muhammadiyah tidak sesignifikan yang selama ini dibayangkan. Karena itu, Muhammadiyah bisa diabaikan dalam pembentukan kabinet. Tidak ada keharusan mengangkat menteri dari organisasi yang jumlah warganya kurang dari 10% warga Indonesia ini.

Asumsi di atas, yang didasarkan pada jumlah kepala, tentu tak sejalan dengan kontribusi yang diberikan oleh Muhammadiyah kepada bangsa ini. Di Jawa Timur, misalnya, meski warga Muhammadiyah jauh lebih kecil dari NU, organisasi ini telah menyumbangkepada bangsadalam bentuk pendirian sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pusat pelayanan sosial hampir di setiap kota dari propinsi itu.

Belum lagi jumlah sekolah, rumah sakit pusat pelayanan sosial yang diberikan oleh Muhammadiyah di provinsi- provinsi lain di Indonesia. Persoalan lain yang berkaitan dengansurvei itu adalah berkaitan dengan metode, kebenaran data, dan kesimpulan. Jika diasumsikan semuanya benar, kemudian pertanyaannya adalah berkaitan dengan perbedaan karakter warga dan organisasi.

NU lebih merupakan budaya, sementara Muhammadiyah adalah organisasi. Orang yang melaksanakan tradisi NU seperti selamatan dan tahlilan akan dengan mudah mengasosiasikan dirinya dengan NU. Sementara di Muhammadiyah, orang yang tidak menjadi pengurus organisasi atau pernah sekolah di Muhammadiyah kadang enggan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Muhammadiyah.

Jadi, meski orang terus menduga-duga tentang absennya Muhammadiyah di kabinet, satu hal yang saya yakin adalah bahwa Muhammadiyah akan terus mengabdi kepada negeri ini meski tak ada anggotanya yang menjadi menteri. Sementara dari pihak Jokowi-JK, keputusan tak memasukkan orang Muhammadiyah adalah sikap kurang mengapresiasi kontribusi organisasi ini untuk bangsa.

Patriotisme

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh:Ahmad Syafii Maarif

Menurut Wikipedia, patriotisme sebagai kata benda abstrak baru muncul di Eropa awal abad ke-18. Hulu konsep patriotisme bisa dilacak kepada bahasa Latin abad ke-6 patriota atau bahasa Yunani kuno patriotes yang bermakna warga senegeri atau sebangsa. Maka patriotisme tidak lain keterikatan kultural kepada sebuah tanah air atau pengabdian kepada sebuah negeri dengan penuh cinta.

Jika nasionalisme merupakan sebuah konsep atau ideologi politik radikal yang bertujuan untuk mengubah keadaan suatu bangsa kepada sesuatu yang dibayangkan lebih baik, maka patriotisme lebih bersifat konsep kultural, tetapi tidak bisa dipisahkan dengan nasionalisme. Seorang nasionalis pastilah seorang patriot, tetapi seorang patriot belum tentu seorang nasionalis.

Di kalangan kaum nasionalis Muslim Indonesia, telah lama dikenal diktum hubbu l-watan min al-iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman), sebagaimana pernah saya dengar dari almarhum Roeslan Abdoelgani. Ini bukti bahwa umat Islam Indonesia adalah patriot dan sekaligus nasionalis.

Saya tidak tahu dari mana sumbernya ungkapan ini, tetapi tentunya bukan dari literatur hadis. Adalah sebuah fakta keras sejarah, patriotisme dan nasionalisme umat Islam nusantara untuk melawan pihak asing, jauh sebelum nama Indonesia muncul, sudah dirasakan sangat tinggi, sekalipun cakupannya lebih terbatas kepada satu suku bangsa atau kerajaan tertentu. Barulah pada 1920-an berkat kerja keras Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda, kemudian disusul oleh Sumpah Pemuda 1928 di Tanah Air, gagasan keindonesiaan semakin mengental dan mengarah kepada cita-cita kemerdekaan.

Bemula dari gerakan kultural seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan lain-lain, lahirlah kemudian gerakan politik dalam bentuk partai-partai, sementara gerakan kultural terus saja berlanjut dan bertambah jumlahnya, seperti Taman Siswa (1922) dan Nahdlatul Ulama (1926). Memang ada pengecualian, di awal dasawarsa kedua abad ke-20 (1911), telah lahir sebuah partai radikal Indische Partij dengan trio pemimpinnya: EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Tetapi, partai ini hanya bertahan sampai 1913 karena tidak mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial, kemudian tokoh-tokohnya ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda.

Kembali kepada patriotisme. Seorang patriot sejati pasti tidak akan melukai bangsa dan tanah airnya dengan jalan merusak lingkungan, melakukan korupsi, mempermainkan pajak, berpolitik dengan niat busuk, dan berbagai bentuk perbuatan amoral yang lain. Hanyalah patriot gadungan yang sampai hati membenamkan diri dalam kelakuan kumuh itu. Dalam tradisi politik Eropa, khususnya Inggris, kita mengenal istilah: right or wrong my country (baik atau buruk tetaplah negeriku) dan king can do no wrong (raja/penguasa tidak dapat berbuat salah).

Dalam tradisi politik umat Islam sebagaimana terbaca dalam karya Ibn Taimiyah, al-Siyasah al-Syariyyah (halaman 139) juga ada diktum yang tidak kurang seramnya: Inna l-Sultan dillu Allah fi l-ard, sittuna sanat min imam jair aslah min lailatin. (Sesungguhnya sultan/penguasa adalah bayangan Tuhan di muka bumi, 60 tahun di bawah pemerintahan sultan yang jahat lebih baik daripada semalam tanpa sultan).

Bagi saya ungkapan-ungkapan yang membela penguasa yang jahat dan culas tidaklah layak bagi dunia beradab. Apalagi dari sisi pandangan Alquran, seorang patriot-nasionalis tidak hanya bertugas memerintahkan yang baik-baik (al-maruf), tetapi juga sekaligus mencegah kemungkaran (al-munkar) dengan segala daya dan upaya. Sebab, tanpa itu semua, sebuah masyarakat yang hendak ditegakkan atas landasan nilai-nilai moral dan etika menjadi tidak mungkin. Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim itu sudah lama tersesat dalam kubangan amoral yang sarat dengan kemungkaran ini.

Maka ke depan, tugas dan kewajiban utama para patriot-nasionalis adalah membebaskan bangsa dan negara ini dari kelakuan anak-anaknya yang curang dan mati rasa, sehingga keadilan dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh semua.

Pertanyaan saya: berapa persen di antara elite dan penjabat negara kita yang masih yang mendasarkan laku dan tindakannya kepada patriotisme? Boleh jadi jumlahnya semakin meredup. Bagi saya, masalah patriotisme ini menjadi sangat serius untuk ditancapkan kembali ke dalam jiwa bangsa ini.

Budaya Politik Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam arti longgar, budaya politik (political culture) bertalian dengan serangkaian sikap dan praktik yang dipegang oleh sejumlah orang yang membentuk perilaku politiknya. Termasuk di dalamnya pertimbangan moral, mitos politik, kepercayaan, dan gagasan tentang apa yang dapat membuat sebuah masyarakat itu menjadi baik.

Dengan kata lain, kebaikan buat semua adalah esensi dari budaya politik yang sehat. Pertanyaannya untuk Indonesia sekarang, apakah budaya politik yang sedang berlangsung pada tahun ini menyiratkan harapan untuk kebaikan bangsa ini secara keseluruhan jika ditempatkan dalam parameter Pancasila dan nilai-nilai luhurnya?

Jika jawabannya positif, berarti bangsa dan negara ini sudah berjalan di atas rel yang benar. Namun, jika jawaban itu negatif, maka apa yang salah dengan budaya politik kita? Analisis di bawah memberikan kebebasan bagi pembaca untuk menentukan pertimbangan masing-masing.

Sebenarnya budaya politik itu lebih dikendalikan oleh kaum elite. Rakyat biasa pada umumnya tinggal mengikuti saja, sadar atau karena bujukan uang. Di Indonesia kontemporer, apa yang dikenal dengan politik uang sudah bukan berita lagi. Hampir semua lini kegiatan partai plus elitenya, dan perorangan untuk berebut posisi sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah), empat orang pada tiap-tiap provinsi, permainan uang itu sudah mewabah.

Jumlahnya bergantung pada isi kandung para pemain. Bohong besar jika para pemain itu mengatakan bebas dari politik uang. Seorang politikus berbakat dari sebuah partai ketika saya tanyakan mengapa dia gagal ke Senayan, jawabannya polos: “Kalah uang.” Dengan demikian tuan dan puan jangan terlalu berharap kepada mereka yang berhasil duduk menjadi anggota DPR (pusat atau daerah) benar-benar akan menyuarakan aspirasi rakyat. Sebagian mereka itu hanyalah mewakili isi kantongnya, baik melalui utang atau harta pribadi bagi mereka yang kaya.

Adapun mengenai pertimbangan moral pada umumnya sudah dilumpuhkan oleh pragmatisme politik yang konyol. Dari pantauan saya, hanyalah sedikit sekali di antara para “wakil” itu yang benar-benar bermental patriot-petarung untuk membela kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan.

Memang ada juga bentuk pertarungan lain di Senayan, tetapi jangan salah nilai, mereka bertarung bukan untuk kepentingan rakyat. Pertarungan mereka hanyalah didorong oleh politik kekuasaan tanpa pertimbangan akal sehat dan sikap adil. Mereka yang tersudut dalam pertarungan tampaknya kehilangan keseimbangan, lalu membentuk kekuatan tandingan, sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.

Siapa yang dirugikan oleh akrobatik politik yang menyebalkan ini? Bukan mereka karena mereka tetap digaji saban bulan yang diambilkan dari APBN. Yang pasti celaka adalah rakyat karena kelakuan politisi Senayan itu bisa menghambat program-program pemerintah yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan rakyat yang sudah sekian lama kurang mendapat perhatian.

Di sisi lain, Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla yang dibentuk di bawah slogan profesionalisme, dalam kenyataannya fenomena politik dagang sapi tidak dapat dihindarkan. Politik inilah yang menyebabkan ada kekuatan moral masyarakat sipil yang tidak punya saluran partai dianggap sebagai aksesoris belaka. Bagi saya, semuanya ini menunjukkan bahwa peradaban politik Indonesia yang dikembangkan masih belum naik kelas.

Budaya politik yang serbainstan dan nyaris tidak terkait dengan masa depan bangsa dan negara harus dihentikan sekarang dan untuk selama-lamanya jika memang Indonesia mau dibangun di atas pilar keadilan tanpa diskriminasi. Kekuatan sipil yang secara masif telah membantu bangsa dan negara harus diperlakukan dengan wajar dan proporsional. Tidak perlu dimanjakan. Sebab, kekuatan ini lahir dan telah berbuat sesuatu yang sangat strategis untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan menyantuni manusia telantar, jauh sebelum Indonesia sebagai negara muncul ke peta dunia.

Mengabaikan kekuatan ini sama artinya dengan membiarkan mereka terluka, sekalipun mereka tidak akan pernah berhenti beramal untuk kepentingan sesama. Di tengah pertarungan pragmatisme politik, seorang negarawan tidak boleh hanyut di dalamnya. Kompas moral wajib selalu dikedepankan sebagai acuan yang benar. Di luar itu, budaya politik Indonesia masih akan terus digerogoti virus yang siap mengancam rasa keadilan publik.

Pemimpin Baru, Harapan Baru

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dengan usainya pelantikan JJ (Jokowi-JK) sebagai presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober pekan lalu, Resonansi ini belum berani mengatakan bahwa Indonesia sedang memasuki era baru yang lain sama sekali dengan era sebelumnya yang propasar. Yang mungkin aman untuk dituliskan adalah kita telah punya pemimpin baru dengan harapan baru yang sangat tinggi dari masyarakat luas terhadap JJ ini.

Apakah Indonesia sedang menapaki era baru yang benar-benar prorakyat seperti yang dijanjikan? Bulan-bulan mendatang yang akan memberikan jawaban. Tidak jarang berlaku dalam sejarah modern Indonesia, pergantian rezim dielukan, tetapi karena gagal memenuhi janji untuk kepentingan rakyat banyak, lalu dihujat seperti tidak punya jasa sama sekali.

Tuan dan puan jangan mengira bahwa rakyat Indonesia itu selalu ramah dan sopan terhadap pemimpinnya. Mereka bisa beringas, anarkistis, dengan membakar bangunan-bangunan milik negara yang dengan susah payah dirancang dan didirikan.

Oleh sebab itu, di awal masa jabatannya JJ perlu sangat hati-hati sambil banyak merenung, membaca sejarah bangsa secara mendalam, jangan sampai terlena oleh antusiasme sambutan rakyat yang luar biasa terhadapnya, hampir di seluruh nusantara. Jika harapan tinggi ini dijawab dengan program-program konkret yang langsung menyentuh nasib akar rumput, maka boleh jadi era baru itu bukanlah sebuah mimpi. Jangan sampai kultur amnesia (biasa lupa) rakyat Indonesia dijadikan perisai untuk tidak menepati janji.

Menurut agama, janji itu adalah utang yang wajib dibayar. Janji-janji kemerdekaan telah kita dengar sejak jauh tahun 1945, tetapi baru sebagian yang sudah ditunaikan. Janji bagi pemerataan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia masih merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar dan menantang bagi JJ untuk diwujudkan lima tahun ke depan. Sesuatu yang berat, tetapi sungguh mulia. Itulah tujuan utama kemerdekaan bangsa, tetapi itu pulalah yang telantar selama sekian dasawarsa.

Awal jabatan JJ dihadapkan pada APBN yang defisit yang serius. Salah satu cara untuk sedikit mengatasinya ialah dengan menaikkan harga BBM bulan depan. Gejolak pasti terjadi, tetapi jika dijelaskan dengan baik dan jujur, rakyat akan paham mengapa harus menempuh cara yang tidak populer itu.

Untuk tahun-tahun ke depan, dengan dibenahinya secara sungguh-sungguh dan berani sistem perpajakan, imigrasi, pelabuhan, BUMN/BUMD, migas, dan ranah-ranah lain yang sarat korupsi yang menjadi sumber pundi-pundi negara selama ini, maka hantu defisit itu akan dapat dikurangi, jika bukan dihalau sama sekali.

Pemimpin sejati bukanlah yang piawai menjual tampang, tetapi yang siap berdarah-darah membenahi sistem birokrasi kenegaraan yang telanjur rusak dalam pertarungan untuk membela kepentingan rakyat. Saat tulisan ini dirancang, saya belum tahu apakah para menteri dalam kabinet JJ adalah para patriot-petarung, sosok pejabat publik yang sangat kita perlukan saat ini.

Hal ini menjadi ujian penting dan utama bagi JJ dalam masa kepemimpinannya. Adapun DPR yang mungkin saja siap menggertak, tidak perlu terlalu dirisaukan, manakala komitmen untuk membela rakyat banyak tidak goyah oleh angan limbubu manapun.

Adanya kekhawatiran akan munculnya dua matahari dalam kepemimpinan JJ, saya tidak melihat kemungkinan itu. Kepada JK pernah saya sampaikan agar memahami filsafat huruf Jawa: jika dipangku mati. JK dengan cepat menangkis, “Saya sudah baca 10 buku tentang kultur Jawa.”

Dengan modal pemahaman subkultur yang sangat kaya, tetapi ruwet ini, kita berharap kepemimpinan nasional di bawah JJ akan saling melengkapi dan saling mengisi. Adalah Jokowi yang dengan tangkas menjawab saat ditanyakan tentang semboyan JK, makin cepat makin baik. “Saya akan lebih cepat lagi.”

Jawaban spontan ini mengisyaratkan bahwa kecemasan akan terbitnya matahari kembar kepemimpinan harus dibuang jauh-jauh. Dalam filsafat Sumpah Pemuda, Jawa dan Bugis adalah satu belaka dalam bingkai keindonesiaan yang utuh dan padu.

Harapan baru harus secepatnya diwujudkan menjadi era baru, di mana demokrasi menjadi pilar utama untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk menipu rakyat. Semoga! (Ditulis seminggu sebelum kabinet dilantik)

Tukang Cat

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sampai Sabtu, 1 November 2014, tukang cat ini telah bekerja di rumah kami di Nogotirto, Yogyakarta, selama tiga minggu, sekalipun tidak semuanya bisa masuk penuh. Inisialnya adalah W, M, S, dan D.

Pekerjaannya sangat rapi, tertib, dan fokus. Di antara keempatnya, M adalah yang paling menarik. Bawaannya lucu dan ceria. Tubuhnya kurus, rambut panjang. Saya memanggilnya seniman.

Sepeda motor Yamaha M keluaran 1977 persis sama dengan tahun kelahirannya. Warna merah, STNK-nya sudah tidak diurus lagi. Di saat kondisi motornya masih agak baik, pernah ditangkap polisi, lalu dibayar Rp 90 ribu. Lepas.

Tetapi setelah tua renta, masih ditangkap lagi karena pelanggaran lalu lintas. Minta uang rokok. Karena tidak punya uang, polisi melepaskan begitu saja. Mungkin ada rasa iba melihat sepeda yang sudah berusia hampir 40 tahun itu. Rem tangan tidak ada, kabel-kabelnya seperti berkeliaran tak teratur, tetapi fungsional. Spionnya tanpa kaca. Katanya kecepatan tertinggi masih sekitar 60 km per jam.

Di atas sadel sepeda tua inilah M hilir mudik sebagai pekerja harian, entah untuk berapa lama lagi. Tetapi tuan dan puan harus bangga, mereka ini adalah anak-anak bangsa sebagai pekerja keras dengan penghasilan UMR (upah minimal regional).

Adapun pemberi kerja yang baik hati, pasti diberi tambahan dan bonus. M pernah bekerja di Kalimantan dan Jakarta, sekarang tidak boleh oleh mertuanya pergi terlalu jauh. Karena terlambat kawin, M baru punya anak satu. Dia memang berjanji belum akan berumah tangga sampai ibunya sembuh dari sakitnya.

Adapun W, S, dan D berpenampilan kalem tetapi kadang-kadang dengan kocak menggoda M dengan kalimat-kalimat jenaka. Kami pun tertawa bersama. Saya menikmati bergaul dengan mereka.

Pembicaraan lepas kami tidak pernah menyinggung DPR atau anggotanya yang angkat meja karena berseteru. Andaikan disinggung, mereka tampaknya tidak berminat, bikin pusing kepala saja. Apalagi ada DPR tandingan yang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Konsentrasi mereka adalah pada pekerjaan yang ditekuninya, demi melangsungkan hidup berkeluarga. Disiplin kerja tukang cat ini demikian tinggi. Saya salut pada mereka semua.

Sejak hari-hari terakhir ini, W membawa burung tacer jawa (semacam murai) ke tempat kerja yang baru dibeli dua bulan lalu. Kicauannya yang tanpa henti menjadi hiburan bagi mereka dalam suasana panas yang menyengat.

Burung dengan warna hitam putih itu itu seperti tak mengenal susah, sekalipun terkurung dalam sangkar. Kerjanya melompat ke sana kemari sambil bernyanyi. Suaranya jauh lebih merdu dibandingkan nyanyian sumbang sebagian anggota DPR dalam suasana peradaban politiknya yang masih rendah. Kicauan burung adalah untuk hiburan pendengarnya, suara anggota DPR yang lantang tetapi culas menyakitkan telinga rakyat.

Sesekali para tukang ini saya ajak makan siang bersama dengan suguhan gulai dan satai kambing masakan Jawa yang terkenal. M tidak ikut, takut kepalanya terganggu. Bisa pening katanya. Ke warung Padang, dia mau sekali. Semuanya tidak ada yang pantang.

Makan bersama dengan para tukang ini sungguh menyenangkan. Suasananya egaliter, tanpa ada sekat sama sekali. Sebagai anak kampung, saya adalah bagian dari mereka. Tetapi, saya tidak kuat bekerja fisik seperti mereka yang tahan banting itu. Mereka mesti disapa dan disantuni dalam batas-batas kemampuan kita.

Tanpa mereka, banyak sekali keperluan hidup ini yang akan terbengkalai. Para pekerja adalah tiang ekonomi yang sangat vital bagi desa dan kota. Jika mereka bekerja dengan penuh keceriaan, itu adalah pertanda mereka senang. Panas terik seperti dibawa lalu saja, karena hatinya gembira. Maka adalah sebuah kemuliaan sekiranya bos-bos besar perusahaan menyapa para pekerjanya dengan sapaan kemanusiaan yang tulus yang dapat mempertalikan hati dengan hati. Semoga demikian!

Danau Dendam tak Sudah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Saya sudah lama penasaran untuk suatu saat bisa mengunjungi DDTS (Danau Dendam Tak Sudah), sekitar enam km dari Kota Bengkulu, dikitari oleh empat kecamatan: Teluk Segara, Seleber, Talang Empat, dan Bengkulu Tengah. Bagi saya nama ini demikian puitis, jika bukan romantis, sekalipun menurut legenda rakyat memuat cerita tragis-dramatis. Diantar oleh pimpinan wilayah dan pimpinan UMB (Universitas Muhammadiyah Bengkulu), pada 8 Okt. siang kerinduan saya untuk menyaksikan dari dekat DDTS itu menjadi kenyataan sudah. Angan-angan melayang jauh menyaksikan ombak danau yang damai bersahabat. Cantik nian danau ini, tetapi namanya tetap saja mengundang tanda tanya yang sarat misteri.

Tiba-tiba nalar politik saya muncul saat menyebut DDTS, melayang ke Sidang DPR, pada 1-2 Okt. 2014, yang brutal dan main sapu bersih itu. Tidak satu pun yang tersisa kursi pimpinan DPR untuk parpol yang berseberangan, sesuatu yang tak elok diteruskan oleh sesama anak bangsa. Maka di sini berlaku pula dendam tak sudah sebagai ekor dari kekalahan dalam pilpres pada 9 Juli yang lalu. Berbeda dengan suasana di DPR, proses pemilihan pimpinan MPR, sekalipun alot selama berjam-jam, terasa lebih beradab. Bahwa siapa pemenangnya tidak lagi dipersoalkan, karena perdebatan relatif telah berlangsung dalam iklim demokrasi terbuka tanpa diselimuti dendam yang menggebu, padahal sebagian besar pemainnya orang yang sama juga.

Sebelum Sidang MPR, saya kirim SMS kepada pimpinan DPD agar mereka tampil sebagai negarawan yang sedang inflasi di DPR. SMS saya ditanggapi positif, sekalipun DPD sendiri tidak kompak mendukung calonnya untuk diusung menjadi Ketua MPR. Dengan terpilihnya Zulkifli Hasan dari PAN sebagai Ketua MPR yang baru, suasana politik sedikit berubah ke arah yang lebih tenang, lebih sejuk, berkat pernyataan singkatnya yang bernada damai setelah terpilih. Kepada ketua baru ini SMS saya sore 8 Okt. berbunyi: “Selamat memimpin MPR, semoga diberkati Allah, demi keutuhan bangsa dan negara.” SMS ini satu menit kemudian dibalas dan diamini oleh yang bersangkutan sambil mengucapkan terima kasih. Tentu saja ke depan semua kita tidak boleh membiarkan bangsa dan negara ini terkoyak oleh perasaan dendam berkepanjangan. Kemenangan dan kekalahan dalam pertandingan adalah lumrah belaka. Yang tidak lumrah dan tidak sehat adalah memelihara sikap dendam yang menguras energi secara sia-sia.

Perkataan dendam tidak selalu berkonotasi buruk, tergantung kepada kata pendampingnya. Ungkapan rindu-dendam adalah suasana batin mereka yang sedang dimabuk cinta, tetapi dendam-kesumat atau balas dendam bila dikaitkan dengan perpolitikan Indonesia tercermin dalam Sidang DPR di atas jelas semakin merusak tatanan demokrasi yang memang sudah rusak. Taruhannya adalah 250 juta rakyat Indonesia akan menderita dan tersandera oleh kelakuan elite yang suka balas dendam itu. Jalan ke luarnya adalah kesediaan membebaskan diri dari virus dendam, demi keutuhan bangsa dan negara yang sedang oleng ini. Dalam sistem politik demokrasi di mana pun di muka bumi, kekuatan oposisi sangat diperlukan agar pemerintah tidak menyimpang dari acuan konstitusi dan amanat rakyat. Tetapi oposisi yang ingin terus melibas lawan politiknya tanpa nalar bisa meruntuhkan sistem demokrasi yang dengan susah payah telah dibangun.

Kembali ke DDTS. Setidak-tidaknya ada dua versi tentang asal-usul nama danau itu. Legenda mengatakan bahwa jauh di masa silam, entah kapan, ada dua sejoli yang saling jatuh cinta, tetapi terbentur karena dihalangi oleh orang tua pihak perempuan yang ingin punya menantu peria lain. Dua sejoli yang telah bersatu hati itu menempuh jalan singkat: bunuh diri dengan terjun ke dalam danau untuk tidak muncul lagi. Rindu-dendam yang tidak kesampaian itu diabadikan menjadi DDTS karena di sanalah dua sejoli yang malang itu berkubur dengan kedalaman sekitar 15 meter.

Versi lain mengatakan bahwa pemerintah kolonial pernah punya rencana membangun dam untuk menata aliran air danau itu. Sampai usai penjajahan, dam itu tidak pernah menjadi kenyataan. Entah bagaimana ceritanya sebelum kata ‘dam’ diberi kata ‘den’, menjadi dendam. Karena dam itu tidak pernah disudahkan, maka muncullah ungkapan puitis DDTS. Bagi saya yang kedua ini sama sulitnya diterima seperti juga asal-usul nama yang pertama. Lalu?: antahlah yuang, kata orang Minang. Tetapi bagaimana pun, bagi saya DDST tetap saja menyiratkan nuansa puisi, sedangkan sikap dendam yang dipertontonkan di Senayan mewakili sosok politisi yang sedang haus kekuasaan dengan cara menyapu bersih lawan politiknya dari posisi pimpinan.

Kultur Politik DPR dan DPD RI, 2014-2019

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Sebenarnya saya kurang berselera mengikuti kultur politik yang berkembang di DPR dan DPD RI, periode 2014-2019, dalam proses penentuan dan penetapan pimpinannya masing-masing. Biasanya saya memantaunya melalui siaran tv, sekalipun sepotong-sepotong, tidak utuh. Kali ini lebih banyak melalui RRI Pro 3 yang didengar sambil tiduran, tidak serius. Dalam sistem pemilihan pimpinan, kultur yang berkembang di DPD lebih beradab dibandingkan dengan apa terjadi di DPR yang brutal. Bahwa di lingkungan DPD juga berlaku persaingan ketat untuk berebut palu pimpinan, adalah lumrah belaka, tetapi di DPR yang dikuasai oleh partai-partai pendukung KMP (Koalisi Merah Putih), iklim balas dendam amat menonjol, sesuatu yang tidak terasa di lingkungan DPD, karena memang berasal dari unsur independen, sekalipun sebagian adalah mantan tokoh partai. Suasana di DPR menunjukkan bahwa slogan: siap kalah, siap menang, barulah sebatas slogan. Di DPD, suasananya memang lebih tenang, karena daya tarik dan kiprah para senatornya selama ini kurang mendapat perhatian publik.  

Di antara partai yang bermain di DPR lama dan baru, PD (Partai Demokrat) adalah yang paling tidak jelas kelaminnya, tetapi berlindung di bawah slogan ‘penyeimbang.’ Kultur politik yang berlaku dalam partai ini sangat ditentukan oleh karakter pimpinan puncaknya yang selalu memantau ke mana arah angin bertiup. Ibarat seorang sutradara, tokoh puncak ini memang sangat piawai dalam memainkan kartu politiknya, tetapi pengamat yang jeli gampang saja membacanya. Tetapi PDI-P sebagai pemenang pilpres memang kurang lihai dalam menjalin komunikasi politik dengan parpol lain. Mungkin para politisinya terhalang oleh dinding sejarah masa lalu yang sulit ditembus. 

Kembali ke PD. Sikap walk-out saat memperdebatkan RUUMD3 di DPR, periode 2009-2014, anak buahnya berkilah bahwa semuanya itu adalah inisiatifnya sendiri, bukan berasal dari sutradara. Tak ubahnya seperti burung onta yang menyembunyikan kepalanya dalam pasir, sementara tubuh dan ekornya dibiarkan nongkrong di luar. Tetapi inilah politik dalam iklim peradaban yang masih rendah yang dikemas dalam serba kesopanan dan dalam budaya saling menutup. Anas Urbaningrum, mantan ketua umum PD, banyak bercerita kepada saya tentang partai ini dan sang sutradara. Sayangnya, cerita itu disampaikan di saat posisinya sudah terancam. Sebelumnya Anas juga tidak kurang gigihnya dalam membela mentornya itu. Teman dalam politik kekuasaan jarang yang berumur panjang, kecuali jika diikat dan direkat oleh sebuah ideologi yang serius dan mantap. Di Indonesia sekarang ini, apa yang bernama ideologi itu sudah dijadikan barang mainan. Rapuh sekali. Orang berpindah partai sama saja seperti berganti pakaian.  

Sebenarnya brutalitas di DPR belum tentu akan berlangsung sedemikian garang dan gaduh, sekiranya Jokowi sejak awal mau membuka pintu untuk melakukan politik transaksional, sesuatu yang memang harus dihindarinya, demi mengubah kultur politik Indonesia yang sarat dosa dan dusta selama ini. Bukankah DPR selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga tinggi negara, tempat bersarangnya para koruptor, yang ketahuan atau yang belum ketahuan? Bagaimana perjalanan ke depan, tentu sulit kita katakan sekarang. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu pemihakan total kepada kepentingan rakyat banyak yang jarang terwakili di Senayan dan memang telah terabaikan selama puluhan tahun. Jokowi-JK tidak perlu cemas   benar menghadapi kepungan dari kiri-kanan, dari berbagai jurusan, selama pemerintahannya benar-benar berjalan di atas rel konstitusi, demi mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang terbengkalai lantaran cekcok politik berkepanjangan yang sering benar mendera dan mencederai republik ini

Dialog dengan Sopir Taksi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif
       
Pada 26 September 2014 malam dalam perjalanan ke Ternate, saya naik taksi dari rumah ke bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju  Bandara Soekarno-Hatta, untuk seterusnya ke tujuan terakhir awal dinihari. Sampai di Ternate sekitar jam 07.30 pagi WIT. Selama 30 menit saya berdialog dengan sopir S, sosok yang sudah saya kenal, seorang yang melek politik. Banyak informasi yang dapat digali, dari kehidupan pribadinya sebagai sopir sampai ke masalah politik nasional, citra kepartaian, dan para elite yang sulit dipercaya S. Tugas saya malam itu lebih banyak memancing S, maka meluncurlah dari mulutnya yang hampir tanpa jedah itu tentang persoalan yang sedang terpikul di bahu bangsa dan negara ini. Tuan dan puan jangan memandang enteng seorang sopir sebagai bagian dari wong cilik,  rintihannya perlu didengar oleh kita semua, terutama oleh pemerintah, lokal atau nasional, sebagai pihak pengambil kebijakan dan keputusan.

Berbagai jenis kendaraan angkutan darat telah pernah dipegang oleh S, kecuali truk gandeng yang memang tidak diminatinya. Entah berapa kota yang sudah ditandanginya dalam kariernya sebagai sopir. Karena batang usia sudah semakin lanjut, sejak berapa tahun terakhir ini, S hanyalah menjalankan taksi dengan seorang mitranya secara bergantian. Suatu ketika beberapa tahun yang silam, S pernah ketiban rejeki Rp 2,5 juta per hari karena mengantarkan penumpang dengan jarak yang jauh, tidak hanya seorang. Tetapi, kejadian seperti itu, katanya, belum tentu berlaku empat tahun sekali.

Mendengar cerita ini, saya merasa senang, tetapi batin ini menjadi tergores karena  honorarium yang diberikan kepada saya dalam sebuah kuliah umum atau seminar bisa mencapai enam kali lipat dari pendapatan tertinggi yang pernah diterima sopir S. Apalagi jika dijejerkan dengan penghasilan seorang pengusaha per hari yang bisa berada pada angka 100 kali lipat pendapatan S. Bedanya, jika orang seperti saya dapat rejeki sejumlah itu belum tentu sekali dalam sebulan, sementara S selama menjadi sopir barulah sekitar dua kali saja, sementara seorang pengusaha mendapat kucuran rejeki yang berlipat ganda itu saban hari.

Sopir S punya  tiga anak dari isteri kedua, setelah berpisah dengan yang pertama, seorang guru SD, tetapi tidak punya keturunan. Sekalipun sudah berpisah dan masing-masing dengan pasangan barunya, S berucap: “Hubungan kami tetap baik, bahkan dengan pihak keluarga masing-masing. Masih saling mengunjungi.” S begitu santai bertutur tentang kehidupan pribadinya. Sebagai sopir, katanya, dia masih sanggup menghidupi keluarganya dengan segala kesederhanaan. Sewaktu ditanya tentang pergantian kepemimpinan nasional, S tidak mau bermimpi untuk perbaikan nasibnya. Kita kutip: “Saya tidak mau lagi berharap banyak akan perbaikan nasib, sekalipun akan terjadi pergantian kepemimpinan. Para caleg terlalu sering mengumbar janji dalam pemilu, tetapi setelah posisi diraih, janji-janji itu dilupakan begitu saja. Oleh sebab itu, sudahlah, nasib rakyat kecil tetap berlangsung tanpa perubahan yang berarti.”

Ada lagi yang merisaukan S. Katanya, dalam tempo dekat ini, akan ada tambahan jumlah taksi untuk DIY sebanyak 250 armada baru yang akan didistribusikan kepada pengusaha angkutan. Coba bayangkan, katanya, dengan jumlah taksi yang sekarang saja, para sopir sudah mengalami kesulitan mengais rejeki dengan persaingan yang cukup berat sesama mereka, apalagi jumlah itu akan digelembungkan lagi. Rintihan S berbunyi: “Sebagai rakyat kecil, kami tak berdaya!” Harapan kita semua, semoga rintihan para sopir ini akan didengar oleh pemerintah DIY, para pengusaha angkutan, dan siapa saja yang punya simpati dan empati kepada jeritan para sopir ini. Mereka adalah bagian sah dari rakyat Indonesia yang senantiasa siap melayani para penompang yang memerlukan jasa mereka. Sekalipun ongkos taksi terus saja bergerak naik, maka adalah sebuah kemuliaan jika kita sebagai pengguna tidak sekadar memberi uang pas kepada pemberi jasa ini.

Memang ada pula satu dua di antara para sopir ini yang punya sumber rejeki lain, berkat keuletan dan kegigihannya mencari peluang. Kelompok kecil ini di samping menyopir, juga punya kendaraan sewaannya sendiri pula. Mereka ini sudah punya rumah pribadi yang lumaian bagus dan anak-anaknya pun bisa belajar sampai tingkat sarjana. Dengan cara ini, sebuah mobilitas sosial menaik  telah berlaku. Tetapi, jumlah yang bernasib lebih baik ini sangatlah minoritas. Kita salut kepada mereka. Seorang di antaranya telah pernah muncul di ruang ini.