Drama Politik Malaysia (VII-Habis)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Saya berharap kongsi antara Mahathir dan Anwar tidak akan pecah lagi, sebab akibat buruknya tak terbayangkan untuk Malaysia pada tahun-tahun kritikal yang dekat ini. Harapan ini bukan tanpa alasan jika pernyataan puitis yang sarat renungan dari Mahathir pascakemenangan dapat dijadikan dasar penilaian.

Boleh jadi pernyataan itu semula ditulis bahasa Malaysia, tetapi sumber yang saya dapatkan adalah dalam format bahasa Inggris oleh Kamal Ahmed. Terjemahannya adalah berikut ini.

Pertempuran Terakhir: Pesan Mahathir Pasca-Pilihan Raya

Tun Mahathir Mohamad

Aku telah sampai di ujung hidupku. Satu-satu keinginanku untuk menyudahi bagian yang tersisa dari usia ini semata-mata taat dan sujud kepada Allah.

Namun, aku masih sanggup memusatkan perhatian dalam kesunyianku saat mata dipejamkan, aku mengamati anak bangsaku sedang diperlakukan dengan buruk. Aku melihat hak-hak angkatan muda sedang dirampok di tangan si rakus yang dikendalikan Setan.

Aku tahu harus berbuat sesuatu. Aku bukanlah seorang yang akan terus diam, melipat lenganku menonton semua yang tengah berlaku ini oleh mereka yang tak punya perasaan bersalah.

Ya, Allah, aku pun faham mengapa Engkau memanjangkan usiaku dengan rahmat dan belas-asih-Mu mencapai 93 tahun yang masih tegak dengan kuat, sehat, dan mampu berfikir tajam, penuh semangat dalam menghadapi pertempuran pamungkasku.

Terima kasih kepada Engkau, Allah, dengan segala izin Engkau, aku telah sanggup melindungi hak-hak rakyat dan melengserkan si penjahat. Do’a sesudah ini aku akan bisa menutup mataku dengan minda yang damai sehingga jiwaku menjumpai Engkau dalam damai, Maha Penciptaku.

Sebuah keinginanku bukanlah agar namaku dipuji atau diriku sendiri dimuliakan pascakematianku. Tak ada keperluan untuk menyebutku setelah kematianku. Aku perlakukan apa yang telah kuperbuat sebagai sesuatu ketentuan bagi perjalananku, demi menjumpai Engkau di seberang makam. Sekiranya ada orang ingin menyebut sesuatu tentangku, cukuplah mengirimkan do’a agar aku punya perjalanan aman menjumpai Penciptaku.

Amin

Tun Dr Mahathir

Terasa ada kejujuran dalam pernyataan itu.

Mahathir telah membayangkan saat-saat kematiannya sebagai seorang yang beriman. Dia turun gunung karena panggilan jiwanya yang tak rela melihat negeri yang dicintainya diancam kerakusan penguasa yang membebani Malaysia dengan utang yang menggunung. Untuk tujuan itu, dia telah melakukan kampanye untuk kemenangan PH dari kawasan ke kawasan yang lain, tanpa henti dan tanpa lelah. Stamina spiritualnya memang mengagumkan dan mencengangkan publik sejagat. Kawan dan lawan mengakui semuanya ini.

Di ujung pernyataannya, Mahathir menampilkan diri dengan merendah. Kita ulangi: “Sekiranya ada orang ingin menyebut sesuatu tentangku, cukuplah mengirimkan do’a agar aku punya perjalanan aman menjumpai Penciptaku.” Tentu Anwar Ibrahim telah membaca pernyataan ini. Jika sesudah masa dua tahun pemerintahan Mahathir, Anwar dijanjikan untuk meneruskannya, berdasarkan jiwa pernyataan itu, rasanya akan menjadi kenyataan. Anwar pun tampaknya sudah semakin matang dalam politik. Sifat tergesa-gesa sudah diredam, berkat pengalaman getir selama bertahun-tahun yang telah dilaluinya.

Indonesia sebagai negara tetangga dekat punya hubungan fluktuatif dengan Malaysia. Pernah berlaku konfrontasi Indonesia atas Malaysia dengan tuduhan bahwa negara sebagai “proyek imperialisme” Inggris yang harus ditamatkan riwayatnya. Tetapi, dengan pergantian rezim di sini, hubungan itu segera pulih kembali. Inilah politik yang logikanya sering kusut-masai, bergantung pada bacaan rezim yang sedang berkuasa.

Juga ada kesan kuat, sebagian rakyat Malaysia tidak jarang menghina rakyat kita dengan sebutan “pendatang haram” terhadap para TKI/TKW Indonesia yang tak jemu-jemunya berjibun ke sana mencari sesuap nasi. Negara kita pun belum maksimal berbuat untuk melindungi para pekerja kita yang tidak jarang harus berenang ke tepi pantai Malaysia untuk menghindari penangkapan polisi karena dokumen perjalanan tidak dilengkapi.

Akhirnya, dengan duet kepemimpinan Mahathir-Anwar, kita semua berharap agar hubungan baik antara Malaysia dan Indonesia akan semakin cerah dan saling menguntungkan. Industri Malaysia tanpa “pendatang haram” dari berbagai negara tidak akan berjalan mulus. Malaysia mesti menyadari kenyataan ini! Drama politik Malaysia yang menghebohkan itu perlu diikuti dengan cermat.

Drama Politik Malaysia (IV)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dua seri terakhir Resonansi tentang drama politik Malaysia akan memusatkan perhatian pada hubungan Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim, dua aktor yang akan menentukan nasib masa depan negeri jiran itu. Aktor-aktor yang lain juga penting, tetapi pengaruhnya berada di bawah dua tokoh puncak ini.

Anwar Ibrahim kelahiran 10 Agustus 1947 di Bukit Martajam, Pulau Penang, punya perbedaan usia 22 tahun dengan Mahathir. Kalaulah Mahathir tidak mengajak Anwar masuk UMNO dan BN, kemudian tega “mengusirnya” secara tragis, tentu drama politik Malaysia tidak akan hiruk seperti yang kita kenal selama ini.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Mahathir tidak bisa digurui, apalagi dilakukan oleh seorang yang jarak umurnya demikian jauh. Kabarnya konon, Anwar atas dorongan pendukung-pendukungnya yang fanatik memang ingin menggantikan posisi Mahathir secepatnya, tetapi mereka salah baca.

Sang mentor, sekalipun autokrat, dalam bacaan Allen Lopez yang ditulis beberapa hari sebelum pilihan raya pada 9 Mei adalah: Seorang yang kukuh dalam keyakinan, mantan perdana menteri itu cerdas luar bisa dan memiliki etik kerja tanpa kenal lelah. Dinilai dari segala sisi, dia adalah seorang yang taqwa, dengan moralitas pribadi yang bahkan tak tercemar oleh tanda skandal. Barangkali, yang terpenting, dia adalah seorang patriot sejati. (https://aliran.com/thinking-allowed-online/back-in-the saddle-mahathirs-last-battle).

Allen benar, Mahathir adalah seorang petarung dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Dengan watak yang semacam ini, Mahathir sering sulit untuk menerima perbedaan pendapat, apalagi datang dari “anak asuhannya”.

Anwar sebenarnya punya karakter yang mirip, tetapi kurang sabar dalam menjaga hubungan dengan mentornya. Risikonya, keduanya pecah kongsi selama beberapa tahun, kemudian karena didorong oleh semangat perlawanan terhadap rezim Najib, kongsi itu disambung kembali.

Hebatnya, untuk melengserkan rezim Najib, Mahathir dan Anwar harus berbaik lagi. Najib dengan siasat “cash is king” semula mengira bahwa kucuran ringgit kepada sementara politisi Malaysia akan bisa melanggengkan usia rezim BN, tetapi ternyata siasat ini gagal total.

Setelah keluar dari penjara pascakemenangan PH (Pakatan Harapan), dalam konferensi pers Anwar mengatakan tidak punya dendam terhadap Mahathir, juga tidak dengan Najib Razak yang juga memenjarakannya dengan mengulang tuduhan sodomi kepadanya. Di Malaysia, isu sodomi merupakan keris yang sangat tajam untuk melumpuhkan saingan politik.

Hukuman Mahathir terhadap Anwar yang kurang sabar tampaknya telah dimaafkan. Keduanya sudah berjabat tangan pada 22 September 2016. Bahwa Anwar telah menderita lama, dunia pun sudah tahu dan memprotesnya, tetapi tetap tak diacuhkan.

Berhadapan dengan autokrasi Mahathir saat itu tak seorang pun yang bisa melawannya. Apalagi, Anwar bukanlah kader asli UMNO. Banyak pihak yang mencemburuinya, mengapa Mahathir memungut dan memberinya posisi penting dalam pemerintahan.

Seperti manusia lain di muka bumi yang tak pernah meraih tingkat kesempurnaan, manusia Melayu pun berada dalam kategori ini. Bisa hidup bersama secara mesra saat kepentingan masing-masing tidak terusik. Sekali terganggu, kemesraan bisa berubah menjadi kebencian.

Tidak banyak manusia yang bisa bebas dari pasungan ego yang sempit ini. Mereka yang mampu, mengutip Iqbal, adalah emas murni. Jumlahnya minoritas di planet kita ini.

Drama Mahfud MD dan Peta Politik Nasional

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ahmad Syafii Ma’arif

Tegang, geli, membosankan, tetapi tidak terlalu gaduh. Itulah kira-kira potret perpolitikan nasional kita bulan Juli dan Agustus 2018 ini. Nama Mahfud MD telah jadi buah bibir publik pada minggu-minggu terakhir ini, sebagai cawapres untuk pejawat presiden yang sekarang untuk Pilpres 2019 sekalipun yang bersangkutan tenang-tenang saja. Dari seorang menteri lingkungan istana saya diberi tahu bahwa Mahfud memang telah diplot untuk mendampingi pejawat pada periode yang akan datang sekiranya terpilih kembali. Sementara, beberapa teman di BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) juga telah bergerak ke jurusan yang sama. Bahkan, telah mengutus salah seorang anggotanya menjumpai tokoh politik berpengaruh di negeri ini agar mempertimbangkan sosok Mahfud untuk posisi di atas.

So far so smooth, tidak ada sebuah rintangan yang berarti. Tetapi, proses pertarungan politik sering tidak bisa diramalkan. Di detik-detik terakhir pada 9 Agustus ini berlakulah sebuah drama yang sebelumnya tak terduga: Mahfud tersingkir secara tragis dari pencalonan pada saat-saat yang bersangkutan sudah siap memasuki gelanggang deklarasi. Semua elite parpol pengusung Jkw secara “kejam” tiba-tiba memunculkan Prof DR KH Ma’ruf Amin untuk menggantikan posisi Mahfud, sedangkan presiden seperti tak berdaya berhadapan dengan para politisi yang lagi garang ini.  Publik terkejut, lemas, dan bingung dalam membaca situasi apa sebenarnya yang tengah berlangsung.

Pada malam Kamis tanggal di atas, saya coba kontak via telepon tokoh-tokoh penting di negara ini: presiden, mantan presiden, beberapa menteri, politisi, dan petinggi pers nasional untuk menanyakan tentang drama Mahfud di atas. Semuanya tersambung dan telah memberikan penjelasan menurut versinya masing-masing yang tidak perlu direkam di sini. Bung Jeffrie Geovanie (DPD RI), Fajar Zia Ul Haq, Endang Tirtana yang bersama saya malam itu menyimak dengan saksama pembicaraan dengan orang-orang penting itu. Sekalipun kecewa, mereka mudah memahami peradaban politik di Indonesia yang memang baru sampai pada tingkat yang sekarang ini. Hanya mereka merasa iba dan prihatin karena Mahfud telah menjadi korban politik dengan cara sekasar itu.

Di ranah lain, pertarungan elite politik tidak kurang serunya, tetapi yang diperebutkan bukan kursi presiden, tetapi posisi wakilnya yang kemudian mengerucut pada Ma’ruf Amin dan Sandiaga Salahuddin Uno untuk cawapres Prabowo Subianto. Maka, pada 17 April 2019, pasangan Jkw/Ma’ruf Amin akan berhadapan dengan pasangan Prabowo Subianto/Sandiaga Salahuddin Uno. Kedua kubu sudah sama berjanji untuk menjaga pilpres berlangsung damai, aman, dan nyaman, sebuah iklim yang memang demikian itu diharapkan masyarakat luas. Suasana “perang” seperti yang berlaku dalam Pilkada DKI yang lalu adalah bentuk kebiadaban politik. Kita ingin kontestasi politik menjadi semakin beradab agar negara Pancasila ini memberikan suasana aman untuk didiami.

Fenomena lain yang cukup mengundang gelak terbahak adalah perilaku seorang pemimpin partai demi ingin melestarikan dinastinya, telah, menggelepar kian ke mari seperti cacing kepasanan. Akhirnya, yang diperoleh adalah bergabung dengan salah satu kubu karena strategi politiknya yang kabarnya jitu itu ternyata kandas di berbagai penjuru. Alangkah sunyinya negeri ini dari sosok negarawan yang lebih memikirkan masa depan bangsa dan negara, bukan perpanjangan dinasti yang menjadi ranah politisi tunajam terbang.

Gejala lain lagi yang tidak kurang membuat kening berkerut adalah sikap sebuah partai yang mengunci gerak dan langkah seorang capres untuk mendapatkan calon wakilnya. Saya tidak tahu apakah di negara-negara lain perebutan posisi cawapres yang hiruk ini juga dialami. Bahkan, terkesan salah satu calon yang diajukan seperti asal-asalan. Maka berlakulah seperti nasib seorang yang nyaris tenggelam di air, benda apa pun akan dipegangnya untuk menyelamatkan diri, tidak peduli barang najis sekalipun.

Di tengah gelanggang politik yang demikian itulah seorang Mahfud MD digelar pada pusaran kekuasaan yang aneh sementara ini, padahal saya sudah memberikan ucapan selamat kepadanya. Bagi kedua pasangan di atas, saya sebagai seorang senior citizen mengimbau agar berkompetisi secara sehat dan adu program dalam pilpres tahun depan. Buang topeng-topeng, tampilkan wajah yang autentik, berseri, dan menawan.

AR Fachruddin, Seorang Sufi Sejati (I)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Seiring dengan semakin gersang dan langkanya tokoh teladan dalam masyarakat kontemporer Indonesia, menghadirkan sosok AR Fachruddin, si sufi, terasa perlu dan mendesak. Perkataan sufi, sufisme, tasawuf tidak populer di kalangan Muhammadiyah, mungkin karena pengaruh Wahhabisme yang kering dari nilai-nilai spiritual. Tetapi cara hidup seorang sufi banyak dijumpai pada tokoh-tokoh dan warga Muhammadiyah tanpa menyebutnya sebagai praktik sufisme.

AR Fachruddin (14 Februari 1916-17 Maret 1995), ketua PP Muhammadiyah, 1968-1990, dalam hidup kesehariannya adalah seorang sufi sejati yang legendaris. Sampai akhir hayatnya, tidak punya rumah pribadi yang mungkin belum tentu nyaman bagi anak-anaknya.

Semua nilai luhur dan asketik yang biasa disandangkan kepada sosok sufi ada pada Pak AR (panggilannya sehari-hari): sederhana, lurus, jujur, wara’, disiplin, suka menolong, santun, lembut, gaul, humoris, dan sejumlah karakter mulia lainnya menyatu dengan seluruh kepribadiannya. Dia selalu tampil sebagai manusia tanpa beban. Sangat sejati.

Jika Iqbal mengatakan bahwa ruh manusia akan menemui kesulitan untuk terbang tinggi karena terkunci di bumi, Pak AR telah memutuskan semua kunci itu melalui kesadaran yang dalam, dianyam oleh penghayatan agama yang tulus. Saya “iri” dengan sosok ini.

Tetapi, tuan dan puan jangan salah kira. Dalam serba kesederhanaannya, Pak AR dikaruniai pisau batin yang sangat tajam. Dengan pisau itulah dia memahami dan menyikapi berbagai watak manusia. Saya kenal secara pribadi selama beberapa tahun, tetapi tidak perinci, sampai disentakkan oleh karya Bung Syaefudin Simon, Pak AR Sang Penyejuk, Tangerang Selatan: Global Express Media, 2018, tebal 287 halaman, tidak termasuk sambutan dan kata pengantar.

Simon, alumnus Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, pernah mondok di tempat tinggal Pak AR di Jln Cik Di Tiro No 19A, Yogyakarta, sebuah bangunan milik Muhammadiyah yang dipinjamkan kepada sang sufi dan keluarganya. Sejak 2003, rumah itu telah diubah menjadi kantor pusat PP Muhammadiyah dengan No 23.

Saya masih ingat pada suatu hari awal tahun 1960-an, Pak AR sambil berdiri naik KA dari Solo ke Wonogiri yang penuh sesak dengan para pedagang desa dan penumpang lainnya. Di wajahnya tak sedikit pun terbayang rasa kesal, tidak tampak pancaran keluhan sama sekali.

Semua dilakoninya dengan tenang, nyaman, dan ceria. Dalam buku Simon ini, kisah-kisah inspiratif, mengagumkan, dan menyentuh tentang tokoh yang satu ini telah direkam dengan baik dalam rakitan bahasa yang lancar dan mengalir.

Melalui WA saya telah mengabarkan kepada beberapa sahabat tentang buku yang sangat layak dibaca ini. Dua pembaca yang saya berikan buku itu sama berkomentar tentang Pak AR: penaka nabi!

Pak AR adalah saksi hidup tentang sosok seorang pemimpin teladan yang legendaris dan saya tidak mampu menirunya. Saya harus punya rumah setelah berkali-kali pindah tempat yang sangat melelahkan. Saya tidak sekuat Pak AR menghadapi cobaan dan rintangan dalam hidup. Sufisme Pak AR sangat autentik, sepi dari topeng-topeng dalam bentuk apa pun, sebagaimana terlihat pada sebagian tokoh spiritual yang pura-pura sufi.

Ampun, Pak AR, saya terlalu lemah untuk mengikuti jejak manusia panutan ini. Guru Pak AR adalah kehidupan itu sendiri, bukan sekolah formal. Dari pengalaman hidup, dia belajar, merenung, dan ujungnya membuahkan kearifan yang jadi buah bibir orang banyak sampai hari ini.

Daya jangkau karya Simon ini akan sangat efektif sekiranya ada pihak yang bersedia menampilkannya dalam bentuk film, di tengah-tengah gersangnya keteladanan elite saat ini. Betapa pun mungkin para elite telah berlumuran dosa dan dusta selama ini dalam persaingan politik yang tunamoral, dengan mengikuti keteladanan Pak AR, siapa tahu batinnya akan luluh juga.

Jika mimpi ini menjadi kenyataan, bangsa ini pasti akan menuai berkah yang luar biasa karena kisah Pak AR telah mengubah perilaku para elite “yang terhormat” itu, tanpa perlu hidup sangat sederhana seperti Pak AR. Kesederhanaan ekstrem biarlah melekat pada pribadi Pak AR untuk selama-lamanya sebagai sumur rohani yang tidak akan kering.

Tentu Pak AR punya kekurangan: suka merokok. Pada suatu hari saya goda, mengapa Pak AR banyak merokok. Jawaban humorisnya di luar perkiraan: saya hanya merokok satu-satu. Siapa yang tidak mati kutu untuk bisa melanjutkan pertanyaan lagi. Emangnya, merokok satu bungkus sekali isap?

Tetapi jenis jawaban semacam itu telah mengendorkan urat saraf sekalipun harapan si penanya sesungguhnya belum terpuaskan. Semula saya ingin mengkritik Pak AR yang perokok, tetapi diskakmat dengan cara seperti itu.

Politik Pascakebenaran

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Kabarnya istilah ‘politik pascakebenaran’ (post truth politics) diciptakan David Roberts pada tahun 2010. Bungkusnya memang mentereng ‘politik pascakebenaran’, sedangkan maksudnya tidak lain politik kebohongan, politik dusta. Sudah menjadi menjadi rahasia umum di dunia bahwa kebanyakan politisi itu memang gemar menjual dusta untuk meraih tujuan-tujuan jangka pendek, demi kekuasaan dan kepuasan duniawi. Saya sudah sejak lama mengatakan ‘politik cari makan,’ karena cara itu dipandang lebih gampang, sekalipun tunamartabat.

Donald J Trump sampai hari ini tidak putus-putusnya jadi bulan-bulanan di media Amerika, karena dipandang sering menjual dusta. Pada April 2018, jurnalis kawakan Rick Cusick telah menulis buku The Art of The Lie: From Satan to Trump (Trine Press, 2018), pada 21 Juni tahun ini akan terbit dalam format sampul tipis.

Pada bagian depan wajah Trump terbelah: separuh wajah setan separuh lagi wajah manusia. Demikian bebasnya pers di negeri itu, tidak peduli membidik seorang presiden.

Ajaibnya Trump masih bertahan sampai sekarang bersama sejumlah pendukungnya. Maka sistem demokrasi yang sarat dengan dusta bisa saja memunculkan seorang presiden dengan wajah terbelah itu.

Jauh sebelum itu, seorang Adolf Hitler yang ingin menaklukkan Eropa dan pernah pula lama berkuasa di Jerman, sebuah bangsa yang sejibun melahirkan filsuf, masih segar dalam ingatan kolektif kita. Dalam karya Mein Kampf yang terkenal itu Hitler berpesan bahwa dusta yang dikatakan terus-menerus akan dianggap benar oleh publik.

Saat itu resep politik Hitler ini belum disebut sebagai ‘politik pascakebenaran’ karena istilah itu baru saja muncul, sedangkan praktiknya mungkin sudah ada sepanjang sejarah umat manusia. Dalam literatur agama-agama, sikap dusta dihukum sebagai kejahatan moral.

Dalam Alquran surah al-Rahmân (55) di samping jenis manusia yang suka berdusta, jenis jin pun punya sifat serupa: “Maka kekuasaan Tuhan kamu [jin dan manusia] manakah yang hendak kamu dustakan?” Pertanyaan ini dalam surah itu diulang sampai 31 kali dengan redaksi yang sama: fabiayyi âlâirabbikumâ tukadzdzibân.

Maka sifat dusta atau membuat kabar dusta telah melekat dengan jenis kedua makhluk ini sejak zaman entah berantah. Ternyata dusta itu kabarnya paling banyak itu dilakukan oleh politisi, tidak jarang dibungkus dengan ayat-ayat Kitab Suci, sehingga orang yang pendek akal mudah tertipu, terutama dalam media sosial yang sudah sangat menjamur sekarang ini.

Dalam Alquran, jumlah perkataan dusta dengan bermacam jenisnya mendekati angka 300, termasuk dalam surat Makkiyyah ini: “Tahukah engkau orang yang mendustakan agama?” (QS al-Ma’un ayat 1). Dalam surah al-Munâfqûn (Madaniyyah) ayat 1 terbaca potongan ungkapan ini: “… Allah menyaksikan bahwasanya orang-orang munafik itu pembohong.”

Saya takut jangan-jangan termasuk manusia jenis ini, demi membela seorang tokoh, misalnya. Maka perlindungan Allah benar-benar diperlukan agar terhindar dari sifat yang terkutuk ini.

Dalam kearifan budaya Minang, sifat munafik itu dilukiskan sebagai: “Telunjuk lurus, kelingking berkait.” Pada umumnya, si pendusta itu mukanya tebal, tidak punya malu, karena hati nuraninya telah tertutup oleh daki moral ini yang dilakukannnya berulang-ulang.

Pada era Orba (Orde Baru) pernah pula dikemas dusta sejarah yang mengatakan bahwa Pancasila bukan hasil galian Bung Karno, tetapi berasal dari Muhammad Yamin untuk mendukung gerakan de-Soekarnoisasi ketika itu. Bung Hatta cepat menyangkal dusta semacam itu: Pancasila berasal dari Bung Karno, sekalipun pandangan politik kedua proklamator itu tidak selalu seiring.

Tetapi Hatta dengan integritas moralnya yang prima tidak mau terjebak oleh kicauan ‘politik pascakebenaran’ serupa itu. Yang lebih berbahaya adalah ‘politik pascakebenaran’ yang dikemas dalam bungkus teologis, seolah-olah Tuhan bisa disandera oleh bungkus dusta itu. Mahasuci Allah dari segala jenis rekayasa kotor itu, sekalipun dikerjakan berulang-ulang.

Pada tahun politik ini, sikap kritis dari rakyat banyak dalam mengolah sumber berita sungguh sangat diperlukan agar bangsa ini tidak terbelah oleh kebenaran semu yang sering diteriakkan, demi meraih keuntungan politik jangka pendek. Indonesia terlalu mulia untuk dijadikan korban jenis politik tunamoral sebagai bagian dari ‘politik pascakebenaran’ untuk lebih memancing emosi publik yang labil itu.

Anak Indonesia Terancam Bom Bunuh Diri

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Artikel ini masih terkait dengan Resonansi pekan lalu. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa orang tua teroris tega mengorbankan anak-anaknya sendiri yang masih bocah untuk bersama-sama mengakhiri hidup dalam drama maut, sebagaimana diamati oleh Syekh Shabra al-Qasimi dari Mesir, baru saja terjadi di Surabaya.

Artinya, di lingkungan alam Indonesia yang relatif lebih aman dibandingkan beberapa negara Arab yang berantakan akibat perang saudara telah berlaku suatu tragedi kemanusiaan yang sangat brutal dan meluluhkan batin kita semua. Perilaku orang tua atas nama kepercayaan agama yang bersumber rongsokan peradaban yang sedang hancur telah digunakan untuk meluluhlantakkan bangunan sebuah keluarganya sendiri. Banyak orang yang menangis dan meratapi drama maut yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya.

Kota Surabaya yang selama ini terasa aman-aman saja telah disentakkan oleh suatu malapetaka dua keluarga yang mengguncangkan jagat raya kemanusiaan semesta. Dalam hitungan detik berita ini telah menyebar ke seluruh muka bumi.

Semua orang menundukkan kepala, terisak dalam suasana keprihatinan yang sangat dalam: mengapa semuanya terjadi? Mengapa tafsiran agama telah menjadi sumber kematian bagi bocah tanpa dosa?

Tragedi ini harus dinyatakan sebagai tanda bahaya serius bagi anak-anak Indonesia. Ini adalah puncak dari ketegaan orang tua mengakhiri nyawa anak-anaknya untuk turut dalam amaliyah (istilah teroris untuk bom bunuh diri).

Pada 19 Mei, saya bersama Yasin Wijaya dari Yayasan Indonesia Sejahtera dan Barokah Surabaya dan Marbawi, Ketua Asosiasi Guru-Guru Agama Islam Indonesia, berkunjung ke gereja Pantekosta Surabaya sebagai tanda duka dan simpati kepada jamaahnya yang wafat. Pendeta Yonathan Bintoro Wahono pada pagi itu sedang bersiap untuk melayat satpam gereja yang wafat sehari sebelumnya bercerita banyak tentang tragedi di gerejanya saat akan misa pada 13 Mei yang berlumur darah itu.

Beberapa info yang kami peroleh berikut ini perlu direkamkan di sini. Adalah satpam Giri Catur Sungkowo, seorang Muslim, yang telah bekerja selama 23 tahun untuk menjaga gereja itu, termasuk yang menjadi korban luka bakar dan wafat di RS Dr Soetomo pada sore, 18 Mei.

Sewaktu kami ke sana, pimpinan gereja sedang bersiap untuk melayat alm Giri ini yang akan dimakamkan. Pdt Yonathan mengatakan bahwa Giri sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Giri telah menjadi penghalang bagi pelaku bom Dita Oepriarto dan mobilnya yang membawa lima bom dengan daya ledak tinggi untuk menerabas masuk ke tengah gereja.

Sekiranya bom itu meledak di tengah kerumunan jamaah, tutur Yonathan, maka yang akan tewas bisa jadi ratusan, melebihi korban bom Bali 2002. Ada lagi yang tewas tukang parkir lepas di gereja itu, juga seorang Muslim.

Yang tidak kurang tragisnya adalah dua anak Dita pada malam sebelum kejadian, saling bertangisan ketika shalat di mushala untuk besok pagi akan mengakhiri hidupnya bersama beberapa jamaah dengan bom bunuh diri di gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jl Ngagel Madya. Sedangkan Ais (Aisya Azzahra Putri), putri pengebom di Polretabes Surabaya, terpelanting dari boncengan orang tuanya dan diselamatkan pihak kepolisian.

Kita doakan anak yang ditinggal mati orang tuanya akan pulih dari trauma maut yang mengerikan itu. Akrobatik nekat ini adalah salah satu pertanda bahwa doktrin Teologi Maut ini punya pengikut yang lumayan di Indonesia. Polisi dan gereja dijadikan sasaran utama.

Sofyan Tsauri, pengamat terorisme dan mantan teroris dan mantan anggota Brimob menjelaskan, cara orang tua membujuk dan meyakinkan anaknya untuk terbang ke surga: “Nak, mau nggak kamu ikut Abi dan Umi ke surga? Nggak sakit kok. Cuma tinggal pencet tombol ini, maka kita sudah terbang dan kita ke surga.” Ya, Allah, mengapa hamba-hamba-Mu ini lebih mencintai kematian brutal daripada membela kehidupan yang bermartabat?

Mengapa ajaran-Mu yang bertujuan untuk membangun peradaban yang adil dan mulia di muka bumi, di tangan teroris telah ditafsirkan untuk membangun kebiadaban hara-kiri yang mengguncangkan jagat kemanusiaan di muka bumi? Ya, Allah, mengapa kekalahan dalam perlombaan peradaban telah melahirkan hamba-hamba-Mu yang membunuh kewarasan dan akal sehatnya sebagai manusia? Daftar pertanyaan ini bisa panjang, sedangkan jawabannya tidak kunjung muncul, ya Allah!

Akhirnya, fenomena terancamnya masa depan anak-anak Indonesia oleh praktik bom bunuh diri semestinya menyadarkan kita semua bahwa agama di tangan teroris telah dijadikan alat untuk membuat fasâd (bencana dan kerusakan) di muka bumi, sesuatu yang berkali-kali dikutuk Alquran.

Drama Maut di Gereja Surabaya

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Baru saja drama maut usai di Mako Brimob pada 10 Mei setelah 36 jam berada dalam ketegangan tingkat tinggi, meledak pula drama maut yang lain di lokasi tiga gereja di Surabaya: Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia. Semua drama ini merupakan bintik-bintik hitam yang berbahaya dan brutal yang mengancam sistem keamanan masyarakat luas di Indonesia sejak meledaknya Bom Bali tahun 2002 yang silam.

Semua aksi terorisme ini telah mengguncangkan jagat raya, baik yang terjadi di Indonesia maupun mitranya di beberapa negara lain yang masih saja belum berakhir. Sungguh sangat menyakitkan bahwa banyak publik Barat yang menyimpulkan bahwa Islam itu identik dengan terorisme, sedangkan mayoritas mutlak Muslim sedunia menolak semua bentuk terorisme, bahkan tidak sedikit dari mereka telah jadi mangsa sadis terorisme.

Adalah sebuah penyesatan yang amoral bila ada pihak yang berusaha menggoreng bahwa tragedi-tragedi ini bertujuan untuk membelokkan perhatian publik yang disengaja oleh pemerintah karena dinilai lemah dalam perbaikan ekonomi. Bahwa pemerintah punya banyak kelemahan di sisi kinerjanya yang bagus, kita sudah maklum. Tetapi, jika pemerintah dituduh telah merekayasa drama maut ini, sungguh sudah keterlaluan.

Sikap ini sama sekali tidak menaruh simpati kepada para korban terorisme yang superbiadab itu. Memang, Densus 88 yang bertugas memburu teroris itu kadang kala tidak profesional dalam menjalankan tugasnya, sesuatu yang memerlukan perhatian serius dari pimpinan Polri.

Tragedi Surabaya semakin membuat batin kita terluka amat mendalam karena para pelakunya berasal dari sebuah keluarga: suami (47), istri (43), dan empat anak, yaitu dua laki-laki masing-masing 18 dan 16 tahun serta dua bocah perempuan dalam usia 12 dan 9 tahun. Total enam anak manusia telah terlibat dalam drama maut itu demi menjalankan doktrin teologi sesat yang berasal dari ISIS itu.

Dari sumber yang dapat dipercaya, kedua suami-istri memang pernah pergi ke Suriah dan kembali tahun 2017, sementara anak-anaknya tetap tinggal di Surabaya. Adapun dua bocah putri yang dibawa ibunya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia tentu tidak mengerti apa-apa mengapa harus menjalani kematian yang sangat mengenaskan itu.

Saat artikel ini ditulis, Senin pagi, 14 Mei, sudah tercatat 13 yang tewas: tujuh jemaah gereja, enam pelaku. Jumlah yang terluka 43, sebagian besar jemaah ketiga gereja yang akan mengikuti misanya masing-masing pada hari Ahad, 13 Mei 2018. Rasa simpati dan empati kita yang tulus teruntuk jemaah yang wafat dan jemaah yang terluka. Mereka adalah korban dari praktik teologi maut yang diyakini para pelaku sebagai ujung tombak dari sayap ISIS yang sedang mengalami kekalahan di negara-negara asalnya.

Bagaimana reaksi Koordinator Front Moderat Mantan Pimpinan Kelompok Salafi Jihadis Sinai, Mesir, Syekh Shabra al-Qasimi, terhadap drama Surabaya? Berikut ini diturunkan kiriman Bung Mush’ab Muqoddas, mahasiswa Indonesia dan pengamat terorisme global di Kairo dengan sedikit perubahan tata tulis tertanggal 14 Mei jam 05.20: \”… Aksi teror ledakan gereja Surabaya yang dilakukan oleh sekeluarga beserta anak-anaknya merupakan bentuk aksi teror pertama kali dalam sejarah kelompok Salafi Jihadis karena biasanya para pelaku teror tetap memiliki rasa kasih kepada anak-anaknya. Pada benak para pelaku aksi-aksi teror di Indonesia masih adanya khayalan akan masifnya gerakan-gerakan misionaris yang dianggap bahaya bagi umat Islam sehingga melancarkan aksi sampai luar batas kemanusiaan.”

Dari pengamatan al-Qasimi di atas menjadi jelas bahwa menjadikan anak-anak sebagai peserta bom bunuh diri adalah yang pertama kali dilakukan dalam gerakan terorisme jihadis. Dan itu terjadi di negara Pancasila kita yang kondisinya jauh lebih baik dan aman dibandingkan dengan situasi runyam di beberapa negara Arab. Kapan kira-kira berakhirnya drama maut ini di muka bumi? Bergantung pada pemahaman kita yang lurus dan benar terhadap agama.

Selama orang masih saja menundukkan ajaran dan penafsiran agama kepada syahwat kekuasaan, selama itu pulalah drama maut akan sukar dihindari. Indonesia harus tampil sebagai garda terdepan dalam memelopori penafsiran agama yang benar dan lurus ini!

Ketika Paham Agama Jadi Ancaman

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Adalah Bertrand Russell, filsuf agnostik dari Inggris, dalam bukunya Why I Am Not a Christian (New York: Simon and Schuster, 1957, hlm v) yang menulis: “I think all the great religions of the world—Buddhism, Hinduism, Christianity, Islam, and Communism—both untrue and harmful.” (Saya berpendapat semua agama besar dunia—Buddhisme, Hinduisme, Kristen, Islam, dan Komunisme—semuanya adalah untrue (tidak benar) dan harmful).
Russell tidak menyebut paham yang salah tentang agama yang jadi sumber kejahatan, tetapi agama itu sendiri yang tidak benar dan jahat. Perkataan harmful bisa bermakna berbahaya, merusak, jahat, menyakiti, dan kesalahan moral. Pendek kata, semua agama bagi Russell harus ditolak karena daya rusaknya yang dahsyat, seperti halnya komunisme.

Saya tidak tahu mengapa Judaisme (agama Yahudi) dan agama Katolik tidak dimasukkan Russell dalam daftar agama besar itu, tetapi komunisme yang umumnya dikategorikan sebagai musuh semua agama malah ada dalam deretan itu. Saya akan setuju dengan Russell jika dia menyebut agama yang disalahgunakan atau yang disalahtafsirkan dan dipraktikkan secara membabi buta oleh pengikutnya sehingga menjadi ancaman bagi umat manusia.

Tetapi saya tidak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa agama, sebuah dunia tanpa rujukan moral tertinggi, moral transendental. Kerinduan kepada Yang Mahamutlak adalah sebuah kerinduan abadi, betapa pun kaum ateis mencoba melawannya.

Bahwa agama yang disalahgunakan oleh penganutnya sebagai teologi pembenar untuk merusak dan bahkan membunuh sesama manusia memang sudah merupakan fakta sejarah. Semua penganut agama apa pun tidak bisa mengingkari fakta ini.

Tetapi manusia yang memahami agama secara benar pasti akan beradab, berbudaya, dan lapang dada dalam menyikapi perbedaan. Sikap yang membunuh perbedaan adalah bagian dari kultur primitif dan melawan sunatullah. Dan sebuah hidup yang serba seragam pasti akan sangat membosankan.

Pengalaman pribadi saya sejak 20 tahun terakhir dalam pergaulan dalam lingkungan lintas agama, lintas etnisitas, lintas kultur, dan lintas bangsa membawa kesimpulan ini: jika orang beragama secara benar dan autentik, tidak ada alasan untuk saling meniadakan dan apalagi untuk saling membunuh. Planet bumi ini untuk semua makhluk, dan perdamaian hanya mungkin terwujud jika orang saling menghargai dan saling melindungi.

Di sinilah dosa terbesar yang dilakukan kaum imperialis Barat di bawah slogan mission sacré (misi suci) yang ingin membaratkan seluruh umat manusia. Sekalipun imperialisme telah ditolak di mana-mana, khususnya setelah PD (Perang Dunia) II, gurita metamorfosisnya tetap saja bergerilya untuk mempertahankan strategi hegemoniknya.

Perpecahan bangsa-bangsa Arab merupakan peluang emas bagi imperialisme metamorfosis ini untuk terus memainkan kartu jahatnya. Amat disayangkan bangsa-bangsa yang jadi sasaran belum juga sadar tentang bahaya besar yang sedang mengancam mereka.

Ketika kerajaan-kerajaan Muslim di Andalusia pada abad ke-15 berantakan karena kesalahan sendiri, penguasa Katolik memberikan tiga pilihan kepada pihak yang kalah ini: pindah agama, diusir, atau dibunuh. Maka terjadilah gelombang migrasi besar-besaran ke Afrika Utara, tidak saja orang Muslim yang harus lari, tetapi juga umat Yahudi juga terusir.

Dalam kasus ini, Bertrand Russell benar: “Kristianitas telah dibedakan dengan agama-agama lain karena kesiapannya yang lebih besar untuk melakukan penyiksaan … Imperium para khalifah lebih bersikap ramah kepada umat Yahudi dan umat Kristen dibandingkan negara-negara Kristen terhadap umat Yahudi dan umat Muslim.”(Ibid, hlm 202).

Maka adalah sebuah kebrutalan modern, jika sekelompok umat yang mengaku Muslim mengikuti contoh di atas untuk mengusir, mengancam, menyiksa, dan bahkan membunuh pihak lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan kebiadaban ini dilakukan atas nama agama. Perilaku ISIS, Boko Haram, dan mazhab-mazhab lain yang mirip adalah bentuk teranyar dari praktik paham agama yang sesat itu.

Tetapi mengapa ada saja orang yang percaya kepada paham sesat itu? Kekeliruan besar Bertrand Russell terletak pada penolakannya terhadap semua agama, bukan pada paham dan praktik agama yang salah dan sesat, karena semua agama itu baginya adalah untrue and harmful. Segi positif dari kritik Russell ini agar orang tidak mempermainkan agama untuk tujuan-tujuan rendah yang tuna-adab, sebab daya rusaknya juga akan sangat masif.

Politik Tunaadab

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dari perspektif nilai-nilai moral dan keadaban sejak pilpres 2014 dan lebih-lebih sejak pilgub DKI 2017 kita merasakan sesuatu yang ganjil dan mencekam telah terjadi: perbedaan pilihan politik telah membelah masyarakat Indonesia secara tajam, getarannya bahkan menyeruak sampai ke seluruh Tanah Air.

Dengan menggunakan mesin medsos secara masif dan semau gue, ujaran-ujaran kebencian terhadap lawan politik atau yang dianggap berada di pihak lain telah berlangsung tanpa kendali. Akal sehat dan pikiran jernih tidak lagi berfungsi. Isu-isu agama telah digunakan secara kasar dengan mengorbankan kesucian agama itu sendiri.

Apakah memang masyarakat kontemporer Indonesia sudah semakin liar, tidak ada lagi batas-batas kesopanan yang mesti dipertimbangkan sebelum meluncurkan ujaran-ujaran yang tidak layak itu? Mengapa kepentingan politik sesaat telah menggoyahkan pilar-pilar kebangsaan kita, sesuatu yang sangat mahal untuk dikorbankan?

Mengapa sebagian masyarakat kita demikian labil? Apakah karena impitan ketimpangan sosial-ekonomi yang masih menganga atau karena pengaruh ideologi impor yang dibeli di sini atau karena kedua faktor itu?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini tidak mungkin diraba-raba, tetapi memerlukan penelitian psiko-sosio-religius yang cermat oleh para ahli. “Resonansi” ini barulah pada tingkat membaca gejala di permukaan dengan harapan akan dapat mendorong penelitian lebih saksama oleh mereka yang lebih terlatih. Rasanya ada suatu nilai yang dalam dan berharga telah lenyap dari kalbu sebagian anak bangsa ini, termasuk ironisnya mereka yang berpendidikan tinggi.

Jauh sebelum merebaknya politik tunaadab ini, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang sopan, santun, dan tepa selira (mematut diri, bertenggang rasa, “sakit pada orang, sakit pada awak”). Semestinya ada perasaan halus yang dapat mengendalikan perilaku kita, baik perorangan maupun kolektif. Perasaan halus itulah yang dirasakan hilang, terutama sejak empat tahun terakhir, digantikan oleh sumpah serapah, tuduhan-tuduhan keji, dan sarkasme yang serba kasar.

Maka berlakulah diktum ini: perbedaan = permusuhan! Tidak tanggung-tanggung, rumah-rumah ibadat pun tidak jarang digunakan untuk tujuan-tujuan politik tunaadab ini.

Proklamator Soekarno dan Hatta pernah berpolemik tajam, tetapi batas keadaban politik masih dijaga. Mohammad Natsir, betapa pun serangannya gencar kepada tokoh-tokoh PKI dan komunisme di era demokrasi parlementer tempo dulu, dia tidak pernah kehilangan keseimbangan dalam menganyam argumennya. Perbedaan ideologi politik tidaklah menyebabkan sikap sopan santunnya ditanggalkan dan ditinggalkan.

Rupanya tokoh-tokoh zaman dulu itu lebih terdidik dan lebih dewasa, sesuatu yang sulit terbaca dalam perilaku generasi belakangan. Apakah fenomena ini sebagai pertanda dari sistem pendidikan yang terlalu bercorak kognitif dengan mengesampingkan aspek afektif? Boleh jadi.

Di antara sahabat saya keluarga Jawa ada yang mengeluhkan menipisnya sifat unggah-ungguh (tata krama, kesopanan) di kalangan anak-anak dan pemuda bersamaan dengan melemahnya pemakaian bahasa Jawa yang kaya dan sarat nilai itu.

Dalam pribasa Minang ada ungkapan ini: “Ingat di dahan yang akan menimpa, ingat di ranting yang akan mencucuk.” Artinya, segala tindakan yang akan diambil dipikirkan masak-masak terlebih dulu, ditimbang pula sebab dan akibatnya.

Inilah di antara kearifan lokal yang sebenarnya dimiliki oleh semua suku bangsa di Nusantara. Kejadian yang sering kita dapati dalam masyarakat kita sekarang adalah ujaran tanpa kontrol meluncur lebih dulu, pertimbangan baru datang kemudian. Setelah gaduh yang menguras energi, baru timbul penyesalan.

Tahun 2018/2019, perhatian publik pasti terpusat kepada masalah politik dengan akan digelarnya pilkada dan pileg/pilpres. Karena politik selalu berkaitan dengan masalah kekuasaan, politik tunaadab wajib dihindarkan sejauh mungkin.

Kultur adu argumen dan adu program di kalangan elite politik adalah sebuah keniscayaan dalam sistem demokrasi, tetapi sampaikanlah semuanya itu dalam bingkai kesopanan dan keadaban, sesuai dengan perintah sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Hanya dengan cara-cara beradab ini sajalah jati diri bangsa mungkin memantulkan kekuatan dan sinar terangnya sehingga batin kaum elite Indonesia bisa keluar dari kelamnya situasi. Sila kelima Pancasila berupa “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang telantar sejak lama harus dijadikan pedoman utama dalam merumuskan strategi pembangunan nasional.

Mengabaikan perintah sila ini sama artinya dengan membunuh cita-cita mulia kemerdekaan bangsa. Indonesia tanpa tegaknya keadilan sosial bukanlah Indonesia yang ada di benak para pendiri bangsa dan negara! Politik tunaadab jelas telah dan akan menggerogoti nilai-nilai luhur Pancasila, dan itu adalah sebuah pengkhianatan terbuka terhadap martabat bangsa dan negara ini!

Indonesia Bubar? (II)

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Di akhir era DP (Demokrasi Pancasila), kedaulatan negara menjadi oleng ketika dihadapkan kepada krisis yang parah itu. Rezim Orba terpaksa bertekuk lutut kepada tekanan lembaga keuangan dunia seperti IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia.

Maka, berlakulah bencana perbankan yang terkenal itu: BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) sebesar Rp 600 triliun kepada bank-bank swasta yang nyaris bangkrut akibat krisis moneter itu. Ironisnya, kemudian pemilik beberapa bank swasta yang telah ditalangi negara ini malah menyelewengkan bantuan itu. Sampai sekarang skandal BLBI ini belum juga selesai.

Lagi, sebuah rezim yang menyebut dirinya sebagai pelaksana DP berujung dengan kehancuran. Presidennya dihujat selama bertahun-tahun akibat dari krisis yang menyengsarakan rakyat banyak itu. Tetapi, apakah Indonesia bubar?

Ternyata juga tidak. Indonesia bertahan sebagai bangsa dan negara dengan luka-luka dalam yang meremukkan sekujur tubuhnya. Di atas kuburan DP itulah kemudian ditegakkan sebuah sistem DTN yang berlangsung sudah 20 tahun sampai hari ini.

Banyak kemajuan yang dicapai, di samping sisi-sisi boroknya yang juga tidak kurang. Di antaranya amendemen UUD 1945 yang tergopoh-gopoh sehingga kata orang antara kaki dan kepalanya sudah tidak tersambung.

Selama 20 tahun ini, Indonesia telah menampilkan lima presiden: BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo. Selama 10 tahun (2004-2014) Indonesia berada di bawah kekuasaan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), sedangkan yang 10 tahun lainnya dibagi antara empat presiden.

Dan Presiden Joko Widodo masih akan berlanjut sampai tahun 2019, untuk kemudian terbuka kemungkinan untuk dipilih kembali.

Selama 10 tahun di bawah SBY, Indonesia relatif tenang, sekalipun tidak terlihat pembangunan infrastruktur yang berarti. Bahkan kabarnya, sejumlah proyek vital dibiarkan mangkrak yang mesti diselesaikan oleh pemerintah berikutnya.

Oleh SBY, kelompok-kelompok radikal juga diakomodasi sehingga mereka berhasil melakukan konsolidasi kekuatannya masing-masing dengan lebih leluasa. Akibatnya, pemerintah berikutnya mewarisi racun radikalisme ini. Sistem kekuasaan yang mau berbaik dengan semua kelompok yang destruktif sekalipun adalah pertanda kurang percaya diri.

Fenomena gagap menghadapi kelompok radikal ini juga masih terlihat di masa pemerintahan Jokowi-JK. Celakanya lagi, kelompok-kelompok ini juga dipelihara oleh partai-partai politik tertentu untuk kepentingan pragmatismenya masing-masing.

Tahun 2018-2019 adalah tahun-tahun politik yang penuh gesekan, mungkin keras. Di saat-saat semacam ini, politisi yang punya potensi sebagai negarawan perlu berpikir tenang untuk jangka panjang. Jangan biarkan bangsa ini terbelah oleh politik kepentingan sesaat. Taruhannya akan sangat tinggi: hari depan bangsa ini bisa terancam oleh perpecahan politik yang tunamartabat dan tunamoral.

Saya masih percaya, politisi yang berwawasan kebangsaan dan sangat mencintai negeri ini dengan sepenuh hati masih ada sekalipun jumlahnya tidak banyak. Mereka inilah bersama dengan komponen bangsa yang lain yang punya hati nurani dan akal sehat perlu memelihara kerukunan nasional dan kebinekaan masyarakat kita yang kaya raya.

Di saat-saat kritikal, orang-orang baik tidak boleh diam. Mereka mesti turun ke gelanggang. Kata Iqbal: “Bergerak dengan dosa lebih baik dari pada diam berpahala!”

Akhirnya pertanyaan: apakah Indonesia akan bubar pada 2030? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan catatan bahwa kita semua sebagai anak bangsa tetap menjaga pilar-pilar dan ikatan kebangsaan kita dengan penuh tanggung jawab, kompak, dan dengan sikap toleransi yang tinggi. Kohesi sosial kita jangan sampai longgar, tetapi negara juga wajib mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi yang masih tajam sekarang ini.

Insya Allah, Indonesia masih akan bertahan lama, lama sekali. Igauan sementara orang tentang bubarnya Indonesia jangan sampai menggoyahkan semangat dan tali pengikat kebangsaan kita