Hijrah, Titik Penentu Sejarah Islam (II-Habis)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Itulah gambaran Kota Makkah di bawah kekuasaan oligarkis yang menindas dan mengisap. Budak berkeliaran, anak yatim di mana-mana, dan wabah kemiskinan yang membawa maut terlihat di berbagai penjuru, tetapi siapa yang peduli? Hati penguasa Kota Mekkah terkunci terhadap cita-cita kebenaran dan keadilan

Elite Quraisy bukanlah orang bodoh dalam hal keduniaan. Mereka piawai berbisnis. Dalam surah al-Rûm (30) ayat 7 terbaca: “Mereka kenal sisi luar dari kehidupan dunia, tetapi tentang al-âkhirah [tujuan akhir dari keberadaan manusia di muka bumi] mereka tidak hirau.” Ajaran tentang keesaan Allah yang berimpit dengan konsep kesatuan umat manusia tidak singgah di hati dan di otak elite Quraisy.

Dalam drama karier Nabi ini tampak sekali bahwa Allah memang tidak netral dalam sejarah, campur tangan-Nya sungguh dirasakan, tetapi manusia wajib berjuang. Tanpa kerja keras jangan bermimpi tujuan akan tercapai.

Nabi dan para sahabatnya telah menempuh jalan terjal yang berliku, demi melaksanakan perintah wahyu. Dalam perjalanan hijrah sepanjang 400 km yang ditempuh sekitar dua minggu di atas punggung onta yang melelahkan itu yang dibayangi ancaman musuh. Tanpa bantuan Langit rasanya mustahil bisa selamat dan kemudian berjaya.

Kemarahan elite Quraisy kepada Nabi benar-benar sudah sampai di puncaknya. Segala strategi dan siasat telah mereka jalankan agar Nabi tidak meneruskan misi kenabiannya, tetapi selalu berujung pada jalan buntu.

Satu-satunya cara untuk menembus kebuntuan ini adalah dengan menghabisi nyawa Nabi, demi melanggengkan hak-hak istimewa Quraisy yang telah mapan selama ini. Hak-hak itu sekarang hendak dihabisi oleh seorang yang juga sesuku dengan mereka, tetapi miskin.

Saat lahir, ayahnya ‘Abdullah sudah tiada, sedangkan ibunya Aminah juga telah wafat saat Muhammad masih bocah. Namun, dengan bimbingan wahyu Nabi tetap tak berganjak, segala risiko dihadapi dengan tabah, optimistis, dan pada suatu ketika kota Makkah akan dikuasai kembali.

Optimisme ini bukan berdasarkan ramalan dan perkiraan Nabi karena dia bukan seorang peramal. Tanpa bimbingan wahyu, Nabi tidak punya kemampuan untuk mengetahui kejadian masa depan.

Alquran surah al-Qashash (28) ayat 85 memang sudah membayangkan bahwa hari kemenangan itu pasti terjadi: “Sebenarnyalah Dia yang telah memberimu Alquran [untuk dijalankan ajarannya] pasti akan mengembalikan engkau ke Ma’ât-tempat kembali [Makkah]. Katakan: Tuhanku lebih mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.”

Selama 13 tahun di Makkah, Nabi telah bekerja keras untuk menjalankan misinya, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan, bahkan jika tidak melakukan hijrah, kematian senantiasa membayang di depan matanya. Namun, harap dicatat bahwa Nabi telah berhasil mencetak sejumlah kecil pengikut inti yang militan salama periode Makkah.

Fazlur Rahman menulis: “Seandainya misinya berlangsung secara memuaskan, Nabi tidak akan meninggalkan Makkah karena menguasai kota yang menjadi pusat keagamaan bangsa Arab itu memang menjadi tujuan utamanya.” (Lih. Islam. Chicago and London: University of Chicago Press, 1979, hlm.18).

Periode Madinah kemudian tidak sepi dari peperangan. Bermula dengan Parang Badar pada 624 Miladiah/2 Hijriyah, diikuti oleh berbagai peperangan dahsyat, sampai pada ujungnya Kota Makkah takluk tanpa perlawanan pada bulan Januari 630 Miladiyah/8 Hijriyah.

Segera amnesti umum untuk mantan musuh dideklarasikan Nabi. Tiada dendam kepada musuh. Bukanlah Islam itu artinya damai, di samping bermakna tunduk berserah diri kepada Allah?

Pada titik puncak kemenangan itu, turunlah surah al-Nashr (110) yang terjemahannya adalah: “Bila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk agama Allah berbondong-bondong. Maka tasbihlah memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh Ia Maha Penerima taubat.”

Kemenangan harus disikapi dengan hati yang tunduk dan rasa syukur yang terdalam. Itulah akhir perjalanan hijrah, titik penentu sejarah Islam.

Dua tahun kemudian Nabi mulia itu dipanggil menghadap Allah, pencipta-Nya, pada 632 Miladiah/10 Hijriyah. Nabi dan Rasul pungkasan itu telah pergi untuk selama-lamanya, tetapi risalah suci dan agung yang diwariskannya masih tetap bersama kita sampai rapuhnya dunia ini.

Hijrah, Titik Penentu Sejarah Islam (I)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Seminggu yang lalu pada 11 September 2018, kalender Islam memasuki tahun ke-1440 Hijriyah yang dimulai pada 1 Muharram. Adalah keputusan Khalifah Umar bin Khattab yang kabarnya atas saran Ali bin Abi Thalib untuk mengawali hitungan tahun Islam berdasarkan peristiwa hijrah Nabi ke Yastrib yang kemudian bernama Madinah atau madînat al-nabî (Kota Nabi) pada September 622. Tidak ada kepastian tanggal tentang momen itu, tetapi semua sepakat pada bulan September, mungkin saja tanggal 17.

Kejadian hijrah ini demikian mengesankan yang dilakukan oleh Nabi bersama sahabat setianya Abu Bakr al-Shiddîq, yang dicatat sebagai titik balik dalam perjalanan kenabian. Nabi terpaksa meninggalkan kampung halamannya, tetapi pada saatnya harus direbut kembali, karena tanpa menguasai Makkah sebagai pusat spiritual Muslim, Islam tidak punya kiblat.

Sebenarnya, banyak peristiwa penting lainnya yang terjadi sebelum hijrah itu. Misalnya, hari kelahiran Muhammad, saat pertama kali turunnya wahyu dan pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul pada tahun 610 miladiyah.

Tetapi, Umar memilih peristiwa hijrah sebagai awal kalender Muslim yang berlaku sampai sekarang. Jika demikian, seberapa penting sebenarnya makna hijrah itu bagi sejarah Nabi dan agama Islam yang dibawanya, sedangkan Nabi sendiri sebelumnya tidak menentukannya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada dua sumber utama yang dapat dijadikan dasar: Alquran dan sejarah. Alquran sama sekali tidak menyebut tanggal peristiwa, tetapi melukiskan apa yang berlaku atas diri Nabi yang hendak dihabisi nyawanya oleh elite Quraisy pada periode Makkah (610-622) itu.

Mengapa Nabi harus dibunuh? Karena tatanan sosial masyarakat Makkah terancam oleh gerakan egalitarian Nabi yang dapat merubuhkan sistem oligarki Quraisy yang zalim itu.

Nabi berjuang agar keadilan tegak dengan kukuh dalam masyarakat komersial Makkah dan sekitarnya. Maka itu, ajaran tauhid yang dibawa Nabi langsung membidik struktur piramida sosial yang sangat timpang itu.

Jika semata mengajak mereka untuk percaya kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, perlawanan sengit itu tidak akan meledak, karena kepercayaan semacam itu sudah mereka miliki.

Alquran dalam Surah al-Zumar (39) ayat 38 menegaskan: “Dan jika engkau menanyai mereka tentang siapa Yang menciptakan langit dan bumi, sungguh mereka akan menjawab: ‘Allah yang menciptakannya’.” Penegasan serupa diulang dalam Surah al-‘Ankabût (29) ayat 61, Surah Luqmân (31) ayat 25, Surah al-Zukhruf (43) ayat 9.

Percaya kepada Allah sebagai Pencipta alam semesta tanpa bersinggungan langsung dengan perbaikan nasib manusia di muka bumi berupa tegaknya keadilan yang menyeluruh untuk semua anggota masyarakat bukanlah Islam Qurani dan bukan pula Islam kenabian.

Kejatuhan peradaban Muslim dalam berbagai periode sejarah bisa dilacak pada absennya semangat awal misi Nabi akhir zaman ini. Ini adalah pengkhianatan nyata terhadap hakikat Islam yang sejati, tetapi ironisnya berulang-ulang dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai pemeluk Islam sempurna, sebuah pengakuan palsu yang masih berlangsung sampai hari ini.

Dalam surah-surah Makkiyah terdapat banyak informasi tentang ketimpangan sosial-ekonomi yang parah di kota perdagangan Makkah. Untuk menghapuskannya sukar sekali, ibarat pendakian di jalan yang terjal (al-‘âqabah).

Muhammad dengan mata telanjang setiap detik menyaksikan panorama ketidakadilan masif yang sangat menggelisahkan batinnya ini. Dengan rahmat Allah Yang Mahaasih, wahyu diturunkan ke dalam hatinya sebagai pedoman untuk melancarkan perubahan sosial yang radikal.

Perhatikan, antara lain, kesaksian Alquran dalam Surah al-Balad (90) ayat 11-16 dalam terjemahan puitis HB Jassin:

Tapi ia tiada menempuh jalan yang terjal (al-‘aqabah).

Bagaimana kau tahu

Apakah jalan yang terjal?

(Itulah) membebaskan hamba dari perbudakan.

Atau memberi makan pada hari kelaparan

Kepada anak yatim bertalian kerabat,

Atau orang miskin terlunta-lunta.

(Lihat: HB Jassin, Al-Qur’an Bacaan Mulia. Jakarta: Yayasan 23 Januari 1942, 1982, hlm. 862).

Sopir Taksi yang Pengacara dan Jokowi

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Benarlah kata orang bahwa “Everyone has his/her story” (setiap manusia punya kisahnya sendiri). Kisah itu bisa mirip, tetapi perbedaannya pasti lebih besar dan masing-masing bersifat unik. Saya rekamkan di sini tuturan seorang sopir taksi tentang percikan kisah hidupnya.

Teman ini well-informed (kaya informasi) dan kenal baik dengan Presiden Jokowi karena berasal dari daerah yang sama dan sama-sama alumnus SMP I Manahan, Solo.

Taksi yang dikemudikannya hari itu, Jumat, 24 Agustus 2018, bernomor AB 1547 AH, berangkat dari Nogotirto Elok 2 menuju Bandara Adisutjipto sekitar 08.10 pagi. Pertama kali menjemput saya.

Baru saja buka pintu mobil, Bung Joko Surodo SH langsung pegang kepalanya sambil menyebut nama saya dengan perasaan girang. Selang beberapa menit berjalan, sahabat kita ini langsung menyebut ungkapan Teologi Maut yang sudah jadi milik publik sejak dua-tiga tahun terakhir.

Tentu saja saya sedikit kaget, sopir taksi kenal dengan istilah ini yang untuk Indonesia mungkin saya yang pertama kali melontarkannya ke media. Ternyata Bung Joko seorang sarjana hukum alumnus UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) Solo tahun 1981. Dia suka baca, termasuk mahir dalam ber-WA.

Joko sangat terkesan dengan istilah Teologi Maut itu. Demikianlah sekitar 40 menit dalam perjalanan kami terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan. Dalam hati saya berbisik: “Jangan salah duga dengan seorang sopir taksi yang ternyata juga akrab dengan literasi.”

Joko Surodo pernah mengambil kuliah bahasa Inggris, tetapi tidak dirampungkannya untuk kemudian pindah ke Fakultas Hukum UNS. Menurut ceritanya saat mendaftar jadi mahasiswa, IPB juga membuka pintu untuknya. Artinya, dia punya otak cerdas. Maka, tuan dan puan tidak perlu heran jika ungkapan Teologi Maut itu selalu diingatnya.

Pembicaraan berlanjut ke masa sekolah di SMP I Manahan, satu angkatan, tetapi lain kelas dengan Joko Widodo (presiden ketujuh RI), seperti telah disebut di atas.

Saat di SMA keduanya berpisah: Joko Surodo di SMA 5, sedang Jokowi di SMA 6 Solo. Keduanya kenal baik. Empat tahun yang lalu, menurut Surodo, Jokowi masih kirim ucapan selamat Natal kepadanya.

Punya foto kebanggaannya bersama orang nomor satu di Indonesia ini. Foto itu diambil beberapa tahun yang silam. Lalu saya sambung, sejak tiga tahun terakhir, Presiden Jokowi juga mengirimkan gudeg asli Solo kepada saya di Yogya.

Joko Surodo pernah punya taksi sendiri di Solo sambil praktik sebagai pengacara, tetapi kemudian perusahaan yang diikutinya bangkrut, lalu sejak tiga tahun yang lalu jadi sopir taksi Pamungkas di Kota Gudeg.

Sebagai pengacara pun sudah jarang dapat klien. Tiga kali dalam seminggu: Senin, Rabu, dan Jumat dia bolak-balik Solo-Yogya-Solo dengan kereta api Prameks (Prambanan Ekpsres) yang murah, tetapi nyaman, sekalipun sering padat penumpang.

Sebagai penganut Kristen Protestan, Joko Surodo rajin ke gereja. Putra tunggalnya Karmia Adi masih belajar di SMP, sedangkan tiga kakaknya “sampun dipendhet” (wafat) saat kecil, kenang Joko dengan rasa pilu, sebuah nasib yang juga saya pernah alami.

Untunglah, kata Joko, Karmia sehat yang jadi buah mata dari keluarga. Kematian anak bagi yang sudah mengalami sungguh mengguncangkan. Maka adalah di luar kelaziman kemanusiaan, jika ada orang tua yang membunuh anaknya sendiri dengan beraneka penyebab.

Kembali kepada lanjutan cerita Joko Surodo tentang Jokowi. Dikatakannya bahwa sewaktu masih dalam posisi sebagai wali kota Solo, agar Jokowi lebih tangkas berbicara di depan publik, dosen-dosen UNS-lah sebagai mentornya.

Berhadapan dengan kaum intelektual ada kiatnya, dengan rakyat biasa ada pula caranya, dengan tokoh agama lain lagi strateginya. Joko Surodo mengamati bahwa Jokowi adalah seorang yang tidak malu-malu untuk senantiasa belajar dan berguru kepada siapa pun.

Pengamatan Joko Surodo ini benar adanya. Bahkan, saat saya berbicara empat mata dengan Presiden Jokowi, tidak saja dia dengarkan dengan baik, tetapi komputer kecil dimainkannya untuk merekamnya, padahal dia seorang presiden.

Mungkin saja apa yang kita sampaikan itu sudah diketahuinya, tetapi secara etika dia masih sabar untuk memperhatikannya. Tidak banyak presiden mau bersikap empati seperti itu.

Akhirnya, Joko Surodo akan sangat berbahagia jika Presiden Jokowi masih ingat dan sempat lagi mengirimkan kartu Natal kepadanya!

Drama Politik Malaysia (VII-Habis)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Saya berharap kongsi antara Mahathir dan Anwar tidak akan pecah lagi, sebab akibat buruknya tak terbayangkan untuk Malaysia pada tahun-tahun kritikal yang dekat ini. Harapan ini bukan tanpa alasan jika pernyataan puitis yang sarat renungan dari Mahathir pascakemenangan dapat dijadikan dasar penilaian.

Boleh jadi pernyataan itu semula ditulis bahasa Malaysia, tetapi sumber yang saya dapatkan adalah dalam format bahasa Inggris oleh Kamal Ahmed. Terjemahannya adalah berikut ini.

Pertempuran Terakhir: Pesan Mahathir Pasca-Pilihan Raya

Tun Mahathir Mohamad

Aku telah sampai di ujung hidupku. Satu-satu keinginanku untuk menyudahi bagian yang tersisa dari usia ini semata-mata taat dan sujud kepada Allah.

Namun, aku masih sanggup memusatkan perhatian dalam kesunyianku saat mata dipejamkan, aku mengamati anak bangsaku sedang diperlakukan dengan buruk. Aku melihat hak-hak angkatan muda sedang dirampok di tangan si rakus yang dikendalikan Setan.

Aku tahu harus berbuat sesuatu. Aku bukanlah seorang yang akan terus diam, melipat lenganku menonton semua yang tengah berlaku ini oleh mereka yang tak punya perasaan bersalah.

Ya, Allah, aku pun faham mengapa Engkau memanjangkan usiaku dengan rahmat dan belas-asih-Mu mencapai 93 tahun yang masih tegak dengan kuat, sehat, dan mampu berfikir tajam, penuh semangat dalam menghadapi pertempuran pamungkasku.

Terima kasih kepada Engkau, Allah, dengan segala izin Engkau, aku telah sanggup melindungi hak-hak rakyat dan melengserkan si penjahat. Do’a sesudah ini aku akan bisa menutup mataku dengan minda yang damai sehingga jiwaku menjumpai Engkau dalam damai, Maha Penciptaku.

Sebuah keinginanku bukanlah agar namaku dipuji atau diriku sendiri dimuliakan pascakematianku. Tak ada keperluan untuk menyebutku setelah kematianku. Aku perlakukan apa yang telah kuperbuat sebagai sesuatu ketentuan bagi perjalananku, demi menjumpai Engkau di seberang makam. Sekiranya ada orang ingin menyebut sesuatu tentangku, cukuplah mengirimkan do’a agar aku punya perjalanan aman menjumpai Penciptaku.

Amin

Tun Dr Mahathir

Terasa ada kejujuran dalam pernyataan itu.

Mahathir telah membayangkan saat-saat kematiannya sebagai seorang yang beriman. Dia turun gunung karena panggilan jiwanya yang tak rela melihat negeri yang dicintainya diancam kerakusan penguasa yang membebani Malaysia dengan utang yang menggunung. Untuk tujuan itu, dia telah melakukan kampanye untuk kemenangan PH dari kawasan ke kawasan yang lain, tanpa henti dan tanpa lelah. Stamina spiritualnya memang mengagumkan dan mencengangkan publik sejagat. Kawan dan lawan mengakui semuanya ini.

Di ujung pernyataannya, Mahathir menampilkan diri dengan merendah. Kita ulangi: “Sekiranya ada orang ingin menyebut sesuatu tentangku, cukuplah mengirimkan do’a agar aku punya perjalanan aman menjumpai Penciptaku.” Tentu Anwar Ibrahim telah membaca pernyataan ini. Jika sesudah masa dua tahun pemerintahan Mahathir, Anwar dijanjikan untuk meneruskannya, berdasarkan jiwa pernyataan itu, rasanya akan menjadi kenyataan. Anwar pun tampaknya sudah semakin matang dalam politik. Sifat tergesa-gesa sudah diredam, berkat pengalaman getir selama bertahun-tahun yang telah dilaluinya.

Indonesia sebagai negara tetangga dekat punya hubungan fluktuatif dengan Malaysia. Pernah berlaku konfrontasi Indonesia atas Malaysia dengan tuduhan bahwa negara sebagai “proyek imperialisme” Inggris yang harus ditamatkan riwayatnya. Tetapi, dengan pergantian rezim di sini, hubungan itu segera pulih kembali. Inilah politik yang logikanya sering kusut-masai, bergantung pada bacaan rezim yang sedang berkuasa.

Juga ada kesan kuat, sebagian rakyat Malaysia tidak jarang menghina rakyat kita dengan sebutan “pendatang haram” terhadap para TKI/TKW Indonesia yang tak jemu-jemunya berjibun ke sana mencari sesuap nasi. Negara kita pun belum maksimal berbuat untuk melindungi para pekerja kita yang tidak jarang harus berenang ke tepi pantai Malaysia untuk menghindari penangkapan polisi karena dokumen perjalanan tidak dilengkapi.

Akhirnya, dengan duet kepemimpinan Mahathir-Anwar, kita semua berharap agar hubungan baik antara Malaysia dan Indonesia akan semakin cerah dan saling menguntungkan. Industri Malaysia tanpa “pendatang haram” dari berbagai negara tidak akan berjalan mulus. Malaysia mesti menyadari kenyataan ini! Drama politik Malaysia yang menghebohkan itu perlu diikuti dengan cermat.

Drama Politik Malaysia (IV)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dua seri terakhir Resonansi tentang drama politik Malaysia akan memusatkan perhatian pada hubungan Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim, dua aktor yang akan menentukan nasib masa depan negeri jiran itu. Aktor-aktor yang lain juga penting, tetapi pengaruhnya berada di bawah dua tokoh puncak ini.

Anwar Ibrahim kelahiran 10 Agustus 1947 di Bukit Martajam, Pulau Penang, punya perbedaan usia 22 tahun dengan Mahathir. Kalaulah Mahathir tidak mengajak Anwar masuk UMNO dan BN, kemudian tega “mengusirnya” secara tragis, tentu drama politik Malaysia tidak akan hiruk seperti yang kita kenal selama ini.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Mahathir tidak bisa digurui, apalagi dilakukan oleh seorang yang jarak umurnya demikian jauh. Kabarnya konon, Anwar atas dorongan pendukung-pendukungnya yang fanatik memang ingin menggantikan posisi Mahathir secepatnya, tetapi mereka salah baca.

Sang mentor, sekalipun autokrat, dalam bacaan Allen Lopez yang ditulis beberapa hari sebelum pilihan raya pada 9 Mei adalah: Seorang yang kukuh dalam keyakinan, mantan perdana menteri itu cerdas luar bisa dan memiliki etik kerja tanpa kenal lelah. Dinilai dari segala sisi, dia adalah seorang yang taqwa, dengan moralitas pribadi yang bahkan tak tercemar oleh tanda skandal. Barangkali, yang terpenting, dia adalah seorang patriot sejati. (https://aliran.com/thinking-allowed-online/back-in-the saddle-mahathirs-last-battle).

Allen benar, Mahathir adalah seorang petarung dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Dengan watak yang semacam ini, Mahathir sering sulit untuk menerima perbedaan pendapat, apalagi datang dari “anak asuhannya”.

Anwar sebenarnya punya karakter yang mirip, tetapi kurang sabar dalam menjaga hubungan dengan mentornya. Risikonya, keduanya pecah kongsi selama beberapa tahun, kemudian karena didorong oleh semangat perlawanan terhadap rezim Najib, kongsi itu disambung kembali.

Hebatnya, untuk melengserkan rezim Najib, Mahathir dan Anwar harus berbaik lagi. Najib dengan siasat “cash is king” semula mengira bahwa kucuran ringgit kepada sementara politisi Malaysia akan bisa melanggengkan usia rezim BN, tetapi ternyata siasat ini gagal total.

Setelah keluar dari penjara pascakemenangan PH (Pakatan Harapan), dalam konferensi pers Anwar mengatakan tidak punya dendam terhadap Mahathir, juga tidak dengan Najib Razak yang juga memenjarakannya dengan mengulang tuduhan sodomi kepadanya. Di Malaysia, isu sodomi merupakan keris yang sangat tajam untuk melumpuhkan saingan politik.

Hukuman Mahathir terhadap Anwar yang kurang sabar tampaknya telah dimaafkan. Keduanya sudah berjabat tangan pada 22 September 2016. Bahwa Anwar telah menderita lama, dunia pun sudah tahu dan memprotesnya, tetapi tetap tak diacuhkan.

Berhadapan dengan autokrasi Mahathir saat itu tak seorang pun yang bisa melawannya. Apalagi, Anwar bukanlah kader asli UMNO. Banyak pihak yang mencemburuinya, mengapa Mahathir memungut dan memberinya posisi penting dalam pemerintahan.

Seperti manusia lain di muka bumi yang tak pernah meraih tingkat kesempurnaan, manusia Melayu pun berada dalam kategori ini. Bisa hidup bersama secara mesra saat kepentingan masing-masing tidak terusik. Sekali terganggu, kemesraan bisa berubah menjadi kebencian.

Tidak banyak manusia yang bisa bebas dari pasungan ego yang sempit ini. Mereka yang mampu, mengutip Iqbal, adalah emas murni. Jumlahnya minoritas di planet kita ini.

Drama Mahfud MD dan Peta Politik Nasional

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ahmad Syafii Ma’arif

Tegang, geli, membosankan, tetapi tidak terlalu gaduh. Itulah kira-kira potret perpolitikan nasional kita bulan Juli dan Agustus 2018 ini. Nama Mahfud MD telah jadi buah bibir publik pada minggu-minggu terakhir ini, sebagai cawapres untuk pejawat presiden yang sekarang untuk Pilpres 2019 sekalipun yang bersangkutan tenang-tenang saja. Dari seorang menteri lingkungan istana saya diberi tahu bahwa Mahfud memang telah diplot untuk mendampingi pejawat pada periode yang akan datang sekiranya terpilih kembali. Sementara, beberapa teman di BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) juga telah bergerak ke jurusan yang sama. Bahkan, telah mengutus salah seorang anggotanya menjumpai tokoh politik berpengaruh di negeri ini agar mempertimbangkan sosok Mahfud untuk posisi di atas.

So far so smooth, tidak ada sebuah rintangan yang berarti. Tetapi, proses pertarungan politik sering tidak bisa diramalkan. Di detik-detik terakhir pada 9 Agustus ini berlakulah sebuah drama yang sebelumnya tak terduga: Mahfud tersingkir secara tragis dari pencalonan pada saat-saat yang bersangkutan sudah siap memasuki gelanggang deklarasi. Semua elite parpol pengusung Jkw secara “kejam” tiba-tiba memunculkan Prof DR KH Ma’ruf Amin untuk menggantikan posisi Mahfud, sedangkan presiden seperti tak berdaya berhadapan dengan para politisi yang lagi garang ini.  Publik terkejut, lemas, dan bingung dalam membaca situasi apa sebenarnya yang tengah berlangsung.

Pada malam Kamis tanggal di atas, saya coba kontak via telepon tokoh-tokoh penting di negara ini: presiden, mantan presiden, beberapa menteri, politisi, dan petinggi pers nasional untuk menanyakan tentang drama Mahfud di atas. Semuanya tersambung dan telah memberikan penjelasan menurut versinya masing-masing yang tidak perlu direkam di sini. Bung Jeffrie Geovanie (DPD RI), Fajar Zia Ul Haq, Endang Tirtana yang bersama saya malam itu menyimak dengan saksama pembicaraan dengan orang-orang penting itu. Sekalipun kecewa, mereka mudah memahami peradaban politik di Indonesia yang memang baru sampai pada tingkat yang sekarang ini. Hanya mereka merasa iba dan prihatin karena Mahfud telah menjadi korban politik dengan cara sekasar itu.

Di ranah lain, pertarungan elite politik tidak kurang serunya, tetapi yang diperebutkan bukan kursi presiden, tetapi posisi wakilnya yang kemudian mengerucut pada Ma’ruf Amin dan Sandiaga Salahuddin Uno untuk cawapres Prabowo Subianto. Maka, pada 17 April 2019, pasangan Jkw/Ma’ruf Amin akan berhadapan dengan pasangan Prabowo Subianto/Sandiaga Salahuddin Uno. Kedua kubu sudah sama berjanji untuk menjaga pilpres berlangsung damai, aman, dan nyaman, sebuah iklim yang memang demikian itu diharapkan masyarakat luas. Suasana “perang” seperti yang berlaku dalam Pilkada DKI yang lalu adalah bentuk kebiadaban politik. Kita ingin kontestasi politik menjadi semakin beradab agar negara Pancasila ini memberikan suasana aman untuk didiami.

Fenomena lain yang cukup mengundang gelak terbahak adalah perilaku seorang pemimpin partai demi ingin melestarikan dinastinya, telah, menggelepar kian ke mari seperti cacing kepasanan. Akhirnya, yang diperoleh adalah bergabung dengan salah satu kubu karena strategi politiknya yang kabarnya jitu itu ternyata kandas di berbagai penjuru. Alangkah sunyinya negeri ini dari sosok negarawan yang lebih memikirkan masa depan bangsa dan negara, bukan perpanjangan dinasti yang menjadi ranah politisi tunajam terbang.

Gejala lain lagi yang tidak kurang membuat kening berkerut adalah sikap sebuah partai yang mengunci gerak dan langkah seorang capres untuk mendapatkan calon wakilnya. Saya tidak tahu apakah di negara-negara lain perebutan posisi cawapres yang hiruk ini juga dialami. Bahkan, terkesan salah satu calon yang diajukan seperti asal-asalan. Maka berlakulah seperti nasib seorang yang nyaris tenggelam di air, benda apa pun akan dipegangnya untuk menyelamatkan diri, tidak peduli barang najis sekalipun.

Di tengah gelanggang politik yang demikian itulah seorang Mahfud MD digelar pada pusaran kekuasaan yang aneh sementara ini, padahal saya sudah memberikan ucapan selamat kepadanya. Bagi kedua pasangan di atas, saya sebagai seorang senior citizen mengimbau agar berkompetisi secara sehat dan adu program dalam pilpres tahun depan. Buang topeng-topeng, tampilkan wajah yang autentik, berseri, dan menawan.

HMI, PMII, IMM dalam Pusaran Radikalisme Agama

Akhir-akhir ini, kampus sebagai ruang pergulatan intelektual disebut sebagai medan tempur penyebaran paham radikalisme. Belum kering dalam ingatan kita, ketika Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menyatakan sekitar 39% mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi telah terpapar radikalisme.

Dikatakan, ada 24% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam. Lebih mengejutkan lagi ketika BNPT menyampaikan hampir semua kampus negeri di Jawa, dari Barat ke Timur dan juga sejumlah Universitas di luar Jawa terpapar radikalisme.

Mengapa Radikalisme di Kampus Cukup Masif?

Banyak faktor tumbuhnya paham radikalisme. Namun dalam konteks radikalisme di kalangan mahasiswa, patut direnungkan pandangan yang dilontarkan Prof. Azyumardi Azra yang menilai bahwa berkembangnya paham radikalisme di kampus diantaranya disebabkan oleh dominasi kelompok-kelompok gerakan kemahasiswaan yang sangat dekat dengan radikalisme atau gagasan khilafah.

Menurut Azra, sejak adanya NKK-BKK, kampus tidak boleh lagi dimasuki oleh organisasi kemahasiswaan Islam moderat seperti HMI, PMII dan IMM. Akibatnya, panggung kemahasiswaan banyak didominasi oleh kelompok mahasiswa yang dekat dengan gagasan khilafah. Bahkan dalam pengamatannya, BEM sekarang sudah banyak dikuasai oleh kelompok Islamis bahkan hampir mendekati Jihadis. Demikian penuturan Prof. Azra dalam wawancaranya di Kompas TV.

Dalam kegelisahannya tersebut, mantan Rektor UIN Jakarta ini mengatakan, “Kembalikan organisasi ekstra mahasiswa seperti HMI, PMII, dan IMM ke dalam kampus, sehingga mengurangi dominasi organisasi Islam “kanan”.

Apa yang dikatakan Prof. Azra ini dapat dimaknai bahwa pendekatan struktural-kekuasaan semata oleh pemerintah tidak lantas akan mematikan penyebaran paham radikalisme di kalangan mahasiswa. Maka, pendekatan kultural, intelektual dan ideologis adalah penting dilakukan tanpa harus ditodong oleh pistol kekuasaan. Dalam istilah BNPT disebut kontra narasi, kontra ideologi ataupun deradikalisasi. Dalam istilah yang lebih tepat lagi perlu membumikan moderasi Islam atau Islam Wasathiyah. Lalu siapa yang dapat memainkan peran ini?

Otokritik untuk HMI, PMII, IMM dan Universitas

Maraknya radikalisme agama di kampus merupakan tamparan keras bukan saja untuk pihak universitas, tetapi juga bagi organisasi mahasiswa Islam moderat seperti HMI (lahir tahun 1947),  PMII (lahir tahun 1960) dan IMM (lahir tahun 1964). Bahkan dapat disebut suatu “kegagalan” organisasi-organisasi ini dalam menghadapi arus pemikiran radikalisme agama yang dihembuskan oleh kelompok Islam “kanan” meminjam istilah Azra. Berkembangnya radikalisme agama di kalangan mahasiswa merupakan otokritik bagi organisasi-organisasi ini.

Keberadaan dan peran ketiga organisasi mahasiswa Islam moderat ini sesungguhnya dapat membendung penyebaran paham radikalisme di lingkungan mahasiswa, khususnya kepada mahasiswa baru. Menggigat, penetrasi organisasi Islam transnasional yang menyebarkan paham khilafah, mengkafirkan Indonesia dan seterusnya masuk ke kampus dengan begitu sangat cepat penyebarannya adalah tantangan tersendiri bagi organisasi-organisasi ini ditengah kesulitan eksistensial yang menempanya.

Bagi mahasiswa yang belum bersentuhan dengan diskursus keislaman, apalagi mahasiswa baru, provokasi dan doktrinasi tentang Negara khilafah dan kebencian terhadap perbedaan keyakinan serta pengkafiran terhadap ideologi atau sistem kenegaraan di Indonesia begitu sangat mudah diterima. Mengapa?

Umumnya berdasarkan pengalaman penulis bersentuhan dengan kelompok ini, pada mulanya, kepada mahasiswa yang direkrut itu mereka mengajarkan tertib ibadah yang baik, kesholehan dalam beragama, dan akhlak dalam bergaul dengan cukup baik, hal ini positif sebetulnya, namun tidak berhenti pada tataran itu. Setelah itu semua, masuklah kepada doktrin bahwa satu-satunya solusi untuk kejayaan Islam dan menyelamatkan Indonesia adalah dengan mendirikan khilafah Islamiyah versi mereka.

Logika yang mereka konstruksi ibarat iklan “teh botol sosro”, apapun masalahnya solusinya adalah khilafah. Masalah sumber daya alam yang dikuasai asing, masalah kemiskinan, masalah korupsi, masalah pendidikan, masalah kesejahteraan dan seterusnya yang mendera Indonesia, mereka kampanyekan kerusakan itu semua akibat dari sistem yang sesat. Solusinya adalah khilafah. Dan memperjuangkannya adalah jalan dakwah yang mulia atau jihad fii sabilillah yang pahalanya cukup besar.

Bagi mahasiswa baru utamanya, apalagi yang baru semangat berislam dengan pemahaman keislaman seadanya, tentu saja mereka tergiur dengan godaan nalar instan ini. Sebuah kredo tentang mimpi kebahagiaan di dunia jika khilafah ditegakkan, dan surga bagi yang memperjuangkannya. Sehingga mahasiswa yang kemasukan doktrin ini, mereka dengan semangat berapi-api mendakwahkannya ke mahasiswa lainnya, hitung-hitung untuk investasi amal di dunia dan akhirat.

Sekarang ini HTI sudah dibubarkan, tentu organisasi semacam Gema Pembebasan yang merupakan sayapnya di kampus tak dapat eksis lagi secara organisatoris. Namun dakwah dan pemikirannya terus berjalan. Selain Gema Pembebasan, ada pula organisasi yang cukup eksis, mendominasi LDK, BEM, masjid kampus, dan komunitas-komunitas kajian. Organisasi yang dekat dengan pemikiran dan perjuangan Ikhwanul Muslimin, atau disebut Azra dekat dengan paham radikalisme bahkan hampir jihadis. Penulis tidak ingin menyebutkan nama organisasi ini, biarkanlah pemerintah yang akan mengungkapkanya dengan data BIN yang cukup.

Optimalisasi Peran HMI, PMII, dan IMM

Peran HMI, PMII, dan IMM sangat penting dan signifikan dalam membendung paham radikalisme. Untuk itu, tiga organisasi mahasiswa Islam moderat ini juga perlu mengevaluasi pola pembinaan dan strategi dakwahnya di kampus.

Adanya kritik bahwa kader HMI, PMII dan IMM jauh dari masjid kampus, kurang kajian keislaman yang menitiberatkan kepada pembinaan kesholehan beragama, terlalu sibuk dengan politik kampus dan saling gesekan antar sesama dan sederet kritik lainnya dapat menjadi refleksi kendati tidak sepenuhnya benar.

Organisasi-organisasi kemahasiswaan Islam moderat ini harus back to masjid, mendominasi LDK, membumikan kajian-kajian keislaman di kampus yang tidak hanya untuk kadernya, tetapi juga melibatkan mahasiswa secara umum. Ruang-ruang dakwah yang belakangan sepi dari kader-kader HMI, PMII, dan IMM harus diisi kembali secara dominan oleh kader-kader ketiga organisasi ini. Termasuk di dalamnya BEM tanpa harus berdarah-darah saling menyingkirkan, berbagi saja untuk memperkuat dakwah bersama.

Kader ketiga organisasi ini, perlu membumikan kajian keislaman dan keindonesiaan yang moderat, inklusif, transformatif dan kritis di mana dimensi keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan berada dalam tarikan nafas yang satu.

Peran HMI, PMII, dan IMM diharapkan menghidupkan nalar kritis mahasiswa. Sebab, kurangnya keterampilan berpikir kritis dan logis di kalangan mahasiswa, dapat memudahkan mereka terpapar radikalisme. Meminjam istilah Yudi Latif, radikalisme lahir karena “miskin wawasan kemanusiaan, miskin pemahaman keagamaan, dan miskin pengalaman bergaul lintas kultural.”  Wallahu’alam

Amirullah | Alumnus Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

Sumber: https://geotimes.co.id/opini/hmi-pmii-imm-dalam-pusaran-radikalisme-agama/

AR Fachruddin, Seorang Sufi Sejati (I)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Seiring dengan semakin gersang dan langkanya tokoh teladan dalam masyarakat kontemporer Indonesia, menghadirkan sosok AR Fachruddin, si sufi, terasa perlu dan mendesak. Perkataan sufi, sufisme, tasawuf tidak populer di kalangan Muhammadiyah, mungkin karena pengaruh Wahhabisme yang kering dari nilai-nilai spiritual. Tetapi cara hidup seorang sufi banyak dijumpai pada tokoh-tokoh dan warga Muhammadiyah tanpa menyebutnya sebagai praktik sufisme.

AR Fachruddin (14 Februari 1916-17 Maret 1995), ketua PP Muhammadiyah, 1968-1990, dalam hidup kesehariannya adalah seorang sufi sejati yang legendaris. Sampai akhir hayatnya, tidak punya rumah pribadi yang mungkin belum tentu nyaman bagi anak-anaknya.

Semua nilai luhur dan asketik yang biasa disandangkan kepada sosok sufi ada pada Pak AR (panggilannya sehari-hari): sederhana, lurus, jujur, wara’, disiplin, suka menolong, santun, lembut, gaul, humoris, dan sejumlah karakter mulia lainnya menyatu dengan seluruh kepribadiannya. Dia selalu tampil sebagai manusia tanpa beban. Sangat sejati.

Jika Iqbal mengatakan bahwa ruh manusia akan menemui kesulitan untuk terbang tinggi karena terkunci di bumi, Pak AR telah memutuskan semua kunci itu melalui kesadaran yang dalam, dianyam oleh penghayatan agama yang tulus. Saya “iri” dengan sosok ini.

Tetapi, tuan dan puan jangan salah kira. Dalam serba kesederhanaannya, Pak AR dikaruniai pisau batin yang sangat tajam. Dengan pisau itulah dia memahami dan menyikapi berbagai watak manusia. Saya kenal secara pribadi selama beberapa tahun, tetapi tidak perinci, sampai disentakkan oleh karya Bung Syaefudin Simon, Pak AR Sang Penyejuk, Tangerang Selatan: Global Express Media, 2018, tebal 287 halaman, tidak termasuk sambutan dan kata pengantar.

Simon, alumnus Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, pernah mondok di tempat tinggal Pak AR di Jln Cik Di Tiro No 19A, Yogyakarta, sebuah bangunan milik Muhammadiyah yang dipinjamkan kepada sang sufi dan keluarganya. Sejak 2003, rumah itu telah diubah menjadi kantor pusat PP Muhammadiyah dengan No 23.

Saya masih ingat pada suatu hari awal tahun 1960-an, Pak AR sambil berdiri naik KA dari Solo ke Wonogiri yang penuh sesak dengan para pedagang desa dan penumpang lainnya. Di wajahnya tak sedikit pun terbayang rasa kesal, tidak tampak pancaran keluhan sama sekali.

Semua dilakoninya dengan tenang, nyaman, dan ceria. Dalam buku Simon ini, kisah-kisah inspiratif, mengagumkan, dan menyentuh tentang tokoh yang satu ini telah direkam dengan baik dalam rakitan bahasa yang lancar dan mengalir.

Melalui WA saya telah mengabarkan kepada beberapa sahabat tentang buku yang sangat layak dibaca ini. Dua pembaca yang saya berikan buku itu sama berkomentar tentang Pak AR: penaka nabi!

Pak AR adalah saksi hidup tentang sosok seorang pemimpin teladan yang legendaris dan saya tidak mampu menirunya. Saya harus punya rumah setelah berkali-kali pindah tempat yang sangat melelahkan. Saya tidak sekuat Pak AR menghadapi cobaan dan rintangan dalam hidup. Sufisme Pak AR sangat autentik, sepi dari topeng-topeng dalam bentuk apa pun, sebagaimana terlihat pada sebagian tokoh spiritual yang pura-pura sufi.

Ampun, Pak AR, saya terlalu lemah untuk mengikuti jejak manusia panutan ini. Guru Pak AR adalah kehidupan itu sendiri, bukan sekolah formal. Dari pengalaman hidup, dia belajar, merenung, dan ujungnya membuahkan kearifan yang jadi buah bibir orang banyak sampai hari ini.

Daya jangkau karya Simon ini akan sangat efektif sekiranya ada pihak yang bersedia menampilkannya dalam bentuk film, di tengah-tengah gersangnya keteladanan elite saat ini. Betapa pun mungkin para elite telah berlumuran dosa dan dusta selama ini dalam persaingan politik yang tunamoral, dengan mengikuti keteladanan Pak AR, siapa tahu batinnya akan luluh juga.

Jika mimpi ini menjadi kenyataan, bangsa ini pasti akan menuai berkah yang luar biasa karena kisah Pak AR telah mengubah perilaku para elite “yang terhormat” itu, tanpa perlu hidup sangat sederhana seperti Pak AR. Kesederhanaan ekstrem biarlah melekat pada pribadi Pak AR untuk selama-lamanya sebagai sumur rohani yang tidak akan kering.

Tentu Pak AR punya kekurangan: suka merokok. Pada suatu hari saya goda, mengapa Pak AR banyak merokok. Jawaban humorisnya di luar perkiraan: saya hanya merokok satu-satu. Siapa yang tidak mati kutu untuk bisa melanjutkan pertanyaan lagi. Emangnya, merokok satu bungkus sekali isap?

Tetapi jenis jawaban semacam itu telah mengendorkan urat saraf sekalipun harapan si penanya sesungguhnya belum terpuaskan. Semula saya ingin mengkritik Pak AR yang perokok, tetapi diskakmat dengan cara seperti itu.

Politik Pascakebenaran

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Kabarnya istilah ‘politik pascakebenaran’ (post truth politics) diciptakan David Roberts pada tahun 2010. Bungkusnya memang mentereng ‘politik pascakebenaran’, sedangkan maksudnya tidak lain politik kebohongan, politik dusta. Sudah menjadi menjadi rahasia umum di dunia bahwa kebanyakan politisi itu memang gemar menjual dusta untuk meraih tujuan-tujuan jangka pendek, demi kekuasaan dan kepuasan duniawi. Saya sudah sejak lama mengatakan ‘politik cari makan,’ karena cara itu dipandang lebih gampang, sekalipun tunamartabat.

Donald J Trump sampai hari ini tidak putus-putusnya jadi bulan-bulanan di media Amerika, karena dipandang sering menjual dusta. Pada April 2018, jurnalis kawakan Rick Cusick telah menulis buku The Art of The Lie: From Satan to Trump (Trine Press, 2018), pada 21 Juni tahun ini akan terbit dalam format sampul tipis.

Pada bagian depan wajah Trump terbelah: separuh wajah setan separuh lagi wajah manusia. Demikian bebasnya pers di negeri itu, tidak peduli membidik seorang presiden.

Ajaibnya Trump masih bertahan sampai sekarang bersama sejumlah pendukungnya. Maka sistem demokrasi yang sarat dengan dusta bisa saja memunculkan seorang presiden dengan wajah terbelah itu.

Jauh sebelum itu, seorang Adolf Hitler yang ingin menaklukkan Eropa dan pernah pula lama berkuasa di Jerman, sebuah bangsa yang sejibun melahirkan filsuf, masih segar dalam ingatan kolektif kita. Dalam karya Mein Kampf yang terkenal itu Hitler berpesan bahwa dusta yang dikatakan terus-menerus akan dianggap benar oleh publik.

Saat itu resep politik Hitler ini belum disebut sebagai ‘politik pascakebenaran’ karena istilah itu baru saja muncul, sedangkan praktiknya mungkin sudah ada sepanjang sejarah umat manusia. Dalam literatur agama-agama, sikap dusta dihukum sebagai kejahatan moral.

Dalam Alquran surah al-Rahmân (55) di samping jenis manusia yang suka berdusta, jenis jin pun punya sifat serupa: “Maka kekuasaan Tuhan kamu [jin dan manusia] manakah yang hendak kamu dustakan?” Pertanyaan ini dalam surah itu diulang sampai 31 kali dengan redaksi yang sama: fabiayyi âlâirabbikumâ tukadzdzibân.

Maka sifat dusta atau membuat kabar dusta telah melekat dengan jenis kedua makhluk ini sejak zaman entah berantah. Ternyata dusta itu kabarnya paling banyak itu dilakukan oleh politisi, tidak jarang dibungkus dengan ayat-ayat Kitab Suci, sehingga orang yang pendek akal mudah tertipu, terutama dalam media sosial yang sudah sangat menjamur sekarang ini.

Dalam Alquran, jumlah perkataan dusta dengan bermacam jenisnya mendekati angka 300, termasuk dalam surat Makkiyyah ini: “Tahukah engkau orang yang mendustakan agama?” (QS al-Ma’un ayat 1). Dalam surah al-Munâfqûn (Madaniyyah) ayat 1 terbaca potongan ungkapan ini: “… Allah menyaksikan bahwasanya orang-orang munafik itu pembohong.”

Saya takut jangan-jangan termasuk manusia jenis ini, demi membela seorang tokoh, misalnya. Maka perlindungan Allah benar-benar diperlukan agar terhindar dari sifat yang terkutuk ini.

Dalam kearifan budaya Minang, sifat munafik itu dilukiskan sebagai: “Telunjuk lurus, kelingking berkait.” Pada umumnya, si pendusta itu mukanya tebal, tidak punya malu, karena hati nuraninya telah tertutup oleh daki moral ini yang dilakukannnya berulang-ulang.

Pada era Orba (Orde Baru) pernah pula dikemas dusta sejarah yang mengatakan bahwa Pancasila bukan hasil galian Bung Karno, tetapi berasal dari Muhammad Yamin untuk mendukung gerakan de-Soekarnoisasi ketika itu. Bung Hatta cepat menyangkal dusta semacam itu: Pancasila berasal dari Bung Karno, sekalipun pandangan politik kedua proklamator itu tidak selalu seiring.

Tetapi Hatta dengan integritas moralnya yang prima tidak mau terjebak oleh kicauan ‘politik pascakebenaran’ serupa itu. Yang lebih berbahaya adalah ‘politik pascakebenaran’ yang dikemas dalam bungkus teologis, seolah-olah Tuhan bisa disandera oleh bungkus dusta itu. Mahasuci Allah dari segala jenis rekayasa kotor itu, sekalipun dikerjakan berulang-ulang.

Pada tahun politik ini, sikap kritis dari rakyat banyak dalam mengolah sumber berita sungguh sangat diperlukan agar bangsa ini tidak terbelah oleh kebenaran semu yang sering diteriakkan, demi meraih keuntungan politik jangka pendek. Indonesia terlalu mulia untuk dijadikan korban jenis politik tunamoral sebagai bagian dari ‘politik pascakebenaran’ untuk lebih memancing emosi publik yang labil itu.

Anak Indonesia Terancam Bom Bunuh Diri

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Artikel ini masih terkait dengan Resonansi pekan lalu. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa orang tua teroris tega mengorbankan anak-anaknya sendiri yang masih bocah untuk bersama-sama mengakhiri hidup dalam drama maut, sebagaimana diamati oleh Syekh Shabra al-Qasimi dari Mesir, baru saja terjadi di Surabaya.

Artinya, di lingkungan alam Indonesia yang relatif lebih aman dibandingkan beberapa negara Arab yang berantakan akibat perang saudara telah berlaku suatu tragedi kemanusiaan yang sangat brutal dan meluluhkan batin kita semua. Perilaku orang tua atas nama kepercayaan agama yang bersumber rongsokan peradaban yang sedang hancur telah digunakan untuk meluluhlantakkan bangunan sebuah keluarganya sendiri. Banyak orang yang menangis dan meratapi drama maut yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya.

Kota Surabaya yang selama ini terasa aman-aman saja telah disentakkan oleh suatu malapetaka dua keluarga yang mengguncangkan jagat raya kemanusiaan semesta. Dalam hitungan detik berita ini telah menyebar ke seluruh muka bumi.

Semua orang menundukkan kepala, terisak dalam suasana keprihatinan yang sangat dalam: mengapa semuanya terjadi? Mengapa tafsiran agama telah menjadi sumber kematian bagi bocah tanpa dosa?

Tragedi ini harus dinyatakan sebagai tanda bahaya serius bagi anak-anak Indonesia. Ini adalah puncak dari ketegaan orang tua mengakhiri nyawa anak-anaknya untuk turut dalam amaliyah (istilah teroris untuk bom bunuh diri).

Pada 19 Mei, saya bersama Yasin Wijaya dari Yayasan Indonesia Sejahtera dan Barokah Surabaya dan Marbawi, Ketua Asosiasi Guru-Guru Agama Islam Indonesia, berkunjung ke gereja Pantekosta Surabaya sebagai tanda duka dan simpati kepada jamaahnya yang wafat. Pendeta Yonathan Bintoro Wahono pada pagi itu sedang bersiap untuk melayat satpam gereja yang wafat sehari sebelumnya bercerita banyak tentang tragedi di gerejanya saat akan misa pada 13 Mei yang berlumur darah itu.

Beberapa info yang kami peroleh berikut ini perlu direkamkan di sini. Adalah satpam Giri Catur Sungkowo, seorang Muslim, yang telah bekerja selama 23 tahun untuk menjaga gereja itu, termasuk yang menjadi korban luka bakar dan wafat di RS Dr Soetomo pada sore, 18 Mei.

Sewaktu kami ke sana, pimpinan gereja sedang bersiap untuk melayat alm Giri ini yang akan dimakamkan. Pdt Yonathan mengatakan bahwa Giri sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Giri telah menjadi penghalang bagi pelaku bom Dita Oepriarto dan mobilnya yang membawa lima bom dengan daya ledak tinggi untuk menerabas masuk ke tengah gereja.

Sekiranya bom itu meledak di tengah kerumunan jamaah, tutur Yonathan, maka yang akan tewas bisa jadi ratusan, melebihi korban bom Bali 2002. Ada lagi yang tewas tukang parkir lepas di gereja itu, juga seorang Muslim.

Yang tidak kurang tragisnya adalah dua anak Dita pada malam sebelum kejadian, saling bertangisan ketika shalat di mushala untuk besok pagi akan mengakhiri hidupnya bersama beberapa jamaah dengan bom bunuh diri di gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jl Ngagel Madya. Sedangkan Ais (Aisya Azzahra Putri), putri pengebom di Polretabes Surabaya, terpelanting dari boncengan orang tuanya dan diselamatkan pihak kepolisian.

Kita doakan anak yang ditinggal mati orang tuanya akan pulih dari trauma maut yang mengerikan itu. Akrobatik nekat ini adalah salah satu pertanda bahwa doktrin Teologi Maut ini punya pengikut yang lumayan di Indonesia. Polisi dan gereja dijadikan sasaran utama.

Sofyan Tsauri, pengamat terorisme dan mantan teroris dan mantan anggota Brimob menjelaskan, cara orang tua membujuk dan meyakinkan anaknya untuk terbang ke surga: “Nak, mau nggak kamu ikut Abi dan Umi ke surga? Nggak sakit kok. Cuma tinggal pencet tombol ini, maka kita sudah terbang dan kita ke surga.” Ya, Allah, mengapa hamba-hamba-Mu ini lebih mencintai kematian brutal daripada membela kehidupan yang bermartabat?

Mengapa ajaran-Mu yang bertujuan untuk membangun peradaban yang adil dan mulia di muka bumi, di tangan teroris telah ditafsirkan untuk membangun kebiadaban hara-kiri yang mengguncangkan jagat kemanusiaan di muka bumi? Ya, Allah, mengapa kekalahan dalam perlombaan peradaban telah melahirkan hamba-hamba-Mu yang membunuh kewarasan dan akal sehatnya sebagai manusia? Daftar pertanyaan ini bisa panjang, sedangkan jawabannya tidak kunjung muncul, ya Allah!

Akhirnya, fenomena terancamnya masa depan anak-anak Indonesia oleh praktik bom bunuh diri semestinya menyadarkan kita semua bahwa agama di tangan teroris telah dijadikan alat untuk membuat fasâd (bencana dan kerusakan) di muka bumi, sesuatu yang berkali-kali dikutuk Alquran.