Drama Maut di Gereja Surabaya

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Baru saja drama maut usai di Mako Brimob pada 10 Mei setelah 36 jam berada dalam ketegangan tingkat tinggi, meledak pula drama maut yang lain di lokasi tiga gereja di Surabaya: Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia. Semua drama ini merupakan bintik-bintik hitam yang berbahaya dan brutal yang mengancam sistem keamanan masyarakat luas di Indonesia sejak meledaknya Bom Bali tahun 2002 yang silam.

Semua aksi terorisme ini telah mengguncangkan jagat raya, baik yang terjadi di Indonesia maupun mitranya di beberapa negara lain yang masih saja belum berakhir. Sungguh sangat menyakitkan bahwa banyak publik Barat yang menyimpulkan bahwa Islam itu identik dengan terorisme, sedangkan mayoritas mutlak Muslim sedunia menolak semua bentuk terorisme, bahkan tidak sedikit dari mereka telah jadi mangsa sadis terorisme.

Adalah sebuah penyesatan yang amoral bila ada pihak yang berusaha menggoreng bahwa tragedi-tragedi ini bertujuan untuk membelokkan perhatian publik yang disengaja oleh pemerintah karena dinilai lemah dalam perbaikan ekonomi. Bahwa pemerintah punya banyak kelemahan di sisi kinerjanya yang bagus, kita sudah maklum. Tetapi, jika pemerintah dituduh telah merekayasa drama maut ini, sungguh sudah keterlaluan.

Sikap ini sama sekali tidak menaruh simpati kepada para korban terorisme yang superbiadab itu. Memang, Densus 88 yang bertugas memburu teroris itu kadang kala tidak profesional dalam menjalankan tugasnya, sesuatu yang memerlukan perhatian serius dari pimpinan Polri.

Tragedi Surabaya semakin membuat batin kita terluka amat mendalam karena para pelakunya berasal dari sebuah keluarga: suami (47), istri (43), dan empat anak, yaitu dua laki-laki masing-masing 18 dan 16 tahun serta dua bocah perempuan dalam usia 12 dan 9 tahun. Total enam anak manusia telah terlibat dalam drama maut itu demi menjalankan doktrin teologi sesat yang berasal dari ISIS itu.

Dari sumber yang dapat dipercaya, kedua suami-istri memang pernah pergi ke Suriah dan kembali tahun 2017, sementara anak-anaknya tetap tinggal di Surabaya. Adapun dua bocah putri yang dibawa ibunya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia tentu tidak mengerti apa-apa mengapa harus menjalani kematian yang sangat mengenaskan itu.

Saat artikel ini ditulis, Senin pagi, 14 Mei, sudah tercatat 13 yang tewas: tujuh jemaah gereja, enam pelaku. Jumlah yang terluka 43, sebagian besar jemaah ketiga gereja yang akan mengikuti misanya masing-masing pada hari Ahad, 13 Mei 2018. Rasa simpati dan empati kita yang tulus teruntuk jemaah yang wafat dan jemaah yang terluka. Mereka adalah korban dari praktik teologi maut yang diyakini para pelaku sebagai ujung tombak dari sayap ISIS yang sedang mengalami kekalahan di negara-negara asalnya.

Bagaimana reaksi Koordinator Front Moderat Mantan Pimpinan Kelompok Salafi Jihadis Sinai, Mesir, Syekh Shabra al-Qasimi, terhadap drama Surabaya? Berikut ini diturunkan kiriman Bung Mush’ab Muqoddas, mahasiswa Indonesia dan pengamat terorisme global di Kairo dengan sedikit perubahan tata tulis tertanggal 14 Mei jam 05.20: \”… Aksi teror ledakan gereja Surabaya yang dilakukan oleh sekeluarga beserta anak-anaknya merupakan bentuk aksi teror pertama kali dalam sejarah kelompok Salafi Jihadis karena biasanya para pelaku teror tetap memiliki rasa kasih kepada anak-anaknya. Pada benak para pelaku aksi-aksi teror di Indonesia masih adanya khayalan akan masifnya gerakan-gerakan misionaris yang dianggap bahaya bagi umat Islam sehingga melancarkan aksi sampai luar batas kemanusiaan.”

Dari pengamatan al-Qasimi di atas menjadi jelas bahwa menjadikan anak-anak sebagai peserta bom bunuh diri adalah yang pertama kali dilakukan dalam gerakan terorisme jihadis. Dan itu terjadi di negara Pancasila kita yang kondisinya jauh lebih baik dan aman dibandingkan dengan situasi runyam di beberapa negara Arab. Kapan kira-kira berakhirnya drama maut ini di muka bumi? Bergantung pada pemahaman kita yang lurus dan benar terhadap agama.

Selama orang masih saja menundukkan ajaran dan penafsiran agama kepada syahwat kekuasaan, selama itu pulalah drama maut akan sukar dihindari. Indonesia harus tampil sebagai garda terdepan dalam memelopori penafsiran agama yang benar dan lurus ini!

Ketika Paham Agama Jadi Ancaman

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Adalah Bertrand Russell, filsuf agnostik dari Inggris, dalam bukunya Why I Am Not a Christian (New York: Simon and Schuster, 1957, hlm v) yang menulis: “I think all the great religions of the world—Buddhism, Hinduism, Christianity, Islam, and Communism—both untrue and harmful.” (Saya berpendapat semua agama besar dunia—Buddhisme, Hinduisme, Kristen, Islam, dan Komunisme—semuanya adalah untrue (tidak benar) dan harmful).
Russell tidak menyebut paham yang salah tentang agama yang jadi sumber kejahatan, tetapi agama itu sendiri yang tidak benar dan jahat. Perkataan harmful bisa bermakna berbahaya, merusak, jahat, menyakiti, dan kesalahan moral. Pendek kata, semua agama bagi Russell harus ditolak karena daya rusaknya yang dahsyat, seperti halnya komunisme.

Saya tidak tahu mengapa Judaisme (agama Yahudi) dan agama Katolik tidak dimasukkan Russell dalam daftar agama besar itu, tetapi komunisme yang umumnya dikategorikan sebagai musuh semua agama malah ada dalam deretan itu. Saya akan setuju dengan Russell jika dia menyebut agama yang disalahgunakan atau yang disalahtafsirkan dan dipraktikkan secara membabi buta oleh pengikutnya sehingga menjadi ancaman bagi umat manusia.

Tetapi saya tidak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa agama, sebuah dunia tanpa rujukan moral tertinggi, moral transendental. Kerinduan kepada Yang Mahamutlak adalah sebuah kerinduan abadi, betapa pun kaum ateis mencoba melawannya.

Bahwa agama yang disalahgunakan oleh penganutnya sebagai teologi pembenar untuk merusak dan bahkan membunuh sesama manusia memang sudah merupakan fakta sejarah. Semua penganut agama apa pun tidak bisa mengingkari fakta ini.

Tetapi manusia yang memahami agama secara benar pasti akan beradab, berbudaya, dan lapang dada dalam menyikapi perbedaan. Sikap yang membunuh perbedaan adalah bagian dari kultur primitif dan melawan sunatullah. Dan sebuah hidup yang serba seragam pasti akan sangat membosankan.

Pengalaman pribadi saya sejak 20 tahun terakhir dalam pergaulan dalam lingkungan lintas agama, lintas etnisitas, lintas kultur, dan lintas bangsa membawa kesimpulan ini: jika orang beragama secara benar dan autentik, tidak ada alasan untuk saling meniadakan dan apalagi untuk saling membunuh. Planet bumi ini untuk semua makhluk, dan perdamaian hanya mungkin terwujud jika orang saling menghargai dan saling melindungi.

Di sinilah dosa terbesar yang dilakukan kaum imperialis Barat di bawah slogan mission sacré (misi suci) yang ingin membaratkan seluruh umat manusia. Sekalipun imperialisme telah ditolak di mana-mana, khususnya setelah PD (Perang Dunia) II, gurita metamorfosisnya tetap saja bergerilya untuk mempertahankan strategi hegemoniknya.

Perpecahan bangsa-bangsa Arab merupakan peluang emas bagi imperialisme metamorfosis ini untuk terus memainkan kartu jahatnya. Amat disayangkan bangsa-bangsa yang jadi sasaran belum juga sadar tentang bahaya besar yang sedang mengancam mereka.

Ketika kerajaan-kerajaan Muslim di Andalusia pada abad ke-15 berantakan karena kesalahan sendiri, penguasa Katolik memberikan tiga pilihan kepada pihak yang kalah ini: pindah agama, diusir, atau dibunuh. Maka terjadilah gelombang migrasi besar-besaran ke Afrika Utara, tidak saja orang Muslim yang harus lari, tetapi juga umat Yahudi juga terusir.

Dalam kasus ini, Bertrand Russell benar: “Kristianitas telah dibedakan dengan agama-agama lain karena kesiapannya yang lebih besar untuk melakukan penyiksaan … Imperium para khalifah lebih bersikap ramah kepada umat Yahudi dan umat Kristen dibandingkan negara-negara Kristen terhadap umat Yahudi dan umat Muslim.”(Ibid, hlm 202).

Maka adalah sebuah kebrutalan modern, jika sekelompok umat yang mengaku Muslim mengikuti contoh di atas untuk mengusir, mengancam, menyiksa, dan bahkan membunuh pihak lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan kebiadaban ini dilakukan atas nama agama. Perilaku ISIS, Boko Haram, dan mazhab-mazhab lain yang mirip adalah bentuk teranyar dari praktik paham agama yang sesat itu.

Tetapi mengapa ada saja orang yang percaya kepada paham sesat itu? Kekeliruan besar Bertrand Russell terletak pada penolakannya terhadap semua agama, bukan pada paham dan praktik agama yang salah dan sesat, karena semua agama itu baginya adalah untrue and harmful. Segi positif dari kritik Russell ini agar orang tidak mempermainkan agama untuk tujuan-tujuan rendah yang tuna-adab, sebab daya rusaknya juga akan sangat masif.

Politik Tunaadab

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dari perspektif nilai-nilai moral dan keadaban sejak pilpres 2014 dan lebih-lebih sejak pilgub DKI 2017 kita merasakan sesuatu yang ganjil dan mencekam telah terjadi: perbedaan pilihan politik telah membelah masyarakat Indonesia secara tajam, getarannya bahkan menyeruak sampai ke seluruh Tanah Air.

Dengan menggunakan mesin medsos secara masif dan semau gue, ujaran-ujaran kebencian terhadap lawan politik atau yang dianggap berada di pihak lain telah berlangsung tanpa kendali. Akal sehat dan pikiran jernih tidak lagi berfungsi. Isu-isu agama telah digunakan secara kasar dengan mengorbankan kesucian agama itu sendiri.

Apakah memang masyarakat kontemporer Indonesia sudah semakin liar, tidak ada lagi batas-batas kesopanan yang mesti dipertimbangkan sebelum meluncurkan ujaran-ujaran yang tidak layak itu? Mengapa kepentingan politik sesaat telah menggoyahkan pilar-pilar kebangsaan kita, sesuatu yang sangat mahal untuk dikorbankan?

Mengapa sebagian masyarakat kita demikian labil? Apakah karena impitan ketimpangan sosial-ekonomi yang masih menganga atau karena pengaruh ideologi impor yang dibeli di sini atau karena kedua faktor itu?

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini tidak mungkin diraba-raba, tetapi memerlukan penelitian psiko-sosio-religius yang cermat oleh para ahli. “Resonansi” ini barulah pada tingkat membaca gejala di permukaan dengan harapan akan dapat mendorong penelitian lebih saksama oleh mereka yang lebih terlatih. Rasanya ada suatu nilai yang dalam dan berharga telah lenyap dari kalbu sebagian anak bangsa ini, termasuk ironisnya mereka yang berpendidikan tinggi.

Jauh sebelum merebaknya politik tunaadab ini, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang sopan, santun, dan tepa selira (mematut diri, bertenggang rasa, “sakit pada orang, sakit pada awak”). Semestinya ada perasaan halus yang dapat mengendalikan perilaku kita, baik perorangan maupun kolektif. Perasaan halus itulah yang dirasakan hilang, terutama sejak empat tahun terakhir, digantikan oleh sumpah serapah, tuduhan-tuduhan keji, dan sarkasme yang serba kasar.

Maka berlakulah diktum ini: perbedaan = permusuhan! Tidak tanggung-tanggung, rumah-rumah ibadat pun tidak jarang digunakan untuk tujuan-tujuan politik tunaadab ini.

Proklamator Soekarno dan Hatta pernah berpolemik tajam, tetapi batas keadaban politik masih dijaga. Mohammad Natsir, betapa pun serangannya gencar kepada tokoh-tokoh PKI dan komunisme di era demokrasi parlementer tempo dulu, dia tidak pernah kehilangan keseimbangan dalam menganyam argumennya. Perbedaan ideologi politik tidaklah menyebabkan sikap sopan santunnya ditanggalkan dan ditinggalkan.

Rupanya tokoh-tokoh zaman dulu itu lebih terdidik dan lebih dewasa, sesuatu yang sulit terbaca dalam perilaku generasi belakangan. Apakah fenomena ini sebagai pertanda dari sistem pendidikan yang terlalu bercorak kognitif dengan mengesampingkan aspek afektif? Boleh jadi.

Di antara sahabat saya keluarga Jawa ada yang mengeluhkan menipisnya sifat unggah-ungguh (tata krama, kesopanan) di kalangan anak-anak dan pemuda bersamaan dengan melemahnya pemakaian bahasa Jawa yang kaya dan sarat nilai itu.

Dalam pribasa Minang ada ungkapan ini: “Ingat di dahan yang akan menimpa, ingat di ranting yang akan mencucuk.” Artinya, segala tindakan yang akan diambil dipikirkan masak-masak terlebih dulu, ditimbang pula sebab dan akibatnya.

Inilah di antara kearifan lokal yang sebenarnya dimiliki oleh semua suku bangsa di Nusantara. Kejadian yang sering kita dapati dalam masyarakat kita sekarang adalah ujaran tanpa kontrol meluncur lebih dulu, pertimbangan baru datang kemudian. Setelah gaduh yang menguras energi, baru timbul penyesalan.

Tahun 2018/2019, perhatian publik pasti terpusat kepada masalah politik dengan akan digelarnya pilkada dan pileg/pilpres. Karena politik selalu berkaitan dengan masalah kekuasaan, politik tunaadab wajib dihindarkan sejauh mungkin.

Kultur adu argumen dan adu program di kalangan elite politik adalah sebuah keniscayaan dalam sistem demokrasi, tetapi sampaikanlah semuanya itu dalam bingkai kesopanan dan keadaban, sesuai dengan perintah sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Hanya dengan cara-cara beradab ini sajalah jati diri bangsa mungkin memantulkan kekuatan dan sinar terangnya sehingga batin kaum elite Indonesia bisa keluar dari kelamnya situasi. Sila kelima Pancasila berupa “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang telantar sejak lama harus dijadikan pedoman utama dalam merumuskan strategi pembangunan nasional.

Mengabaikan perintah sila ini sama artinya dengan membunuh cita-cita mulia kemerdekaan bangsa. Indonesia tanpa tegaknya keadilan sosial bukanlah Indonesia yang ada di benak para pendiri bangsa dan negara! Politik tunaadab jelas telah dan akan menggerogoti nilai-nilai luhur Pancasila, dan itu adalah sebuah pengkhianatan terbuka terhadap martabat bangsa dan negara ini!

Indonesia Bubar? (II)

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Di akhir era DP (Demokrasi Pancasila), kedaulatan negara menjadi oleng ketika dihadapkan kepada krisis yang parah itu. Rezim Orba terpaksa bertekuk lutut kepada tekanan lembaga keuangan dunia seperti IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia.

Maka, berlakulah bencana perbankan yang terkenal itu: BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) sebesar Rp 600 triliun kepada bank-bank swasta yang nyaris bangkrut akibat krisis moneter itu. Ironisnya, kemudian pemilik beberapa bank swasta yang telah ditalangi negara ini malah menyelewengkan bantuan itu. Sampai sekarang skandal BLBI ini belum juga selesai.

Lagi, sebuah rezim yang menyebut dirinya sebagai pelaksana DP berujung dengan kehancuran. Presidennya dihujat selama bertahun-tahun akibat dari krisis yang menyengsarakan rakyat banyak itu. Tetapi, apakah Indonesia bubar?

Ternyata juga tidak. Indonesia bertahan sebagai bangsa dan negara dengan luka-luka dalam yang meremukkan sekujur tubuhnya. Di atas kuburan DP itulah kemudian ditegakkan sebuah sistem DTN yang berlangsung sudah 20 tahun sampai hari ini.

Banyak kemajuan yang dicapai, di samping sisi-sisi boroknya yang juga tidak kurang. Di antaranya amendemen UUD 1945 yang tergopoh-gopoh sehingga kata orang antara kaki dan kepalanya sudah tidak tersambung.

Selama 20 tahun ini, Indonesia telah menampilkan lima presiden: BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo. Selama 10 tahun (2004-2014) Indonesia berada di bawah kekuasaan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), sedangkan yang 10 tahun lainnya dibagi antara empat presiden.

Dan Presiden Joko Widodo masih akan berlanjut sampai tahun 2019, untuk kemudian terbuka kemungkinan untuk dipilih kembali.

Selama 10 tahun di bawah SBY, Indonesia relatif tenang, sekalipun tidak terlihat pembangunan infrastruktur yang berarti. Bahkan kabarnya, sejumlah proyek vital dibiarkan mangkrak yang mesti diselesaikan oleh pemerintah berikutnya.

Oleh SBY, kelompok-kelompok radikal juga diakomodasi sehingga mereka berhasil melakukan konsolidasi kekuatannya masing-masing dengan lebih leluasa. Akibatnya, pemerintah berikutnya mewarisi racun radikalisme ini. Sistem kekuasaan yang mau berbaik dengan semua kelompok yang destruktif sekalipun adalah pertanda kurang percaya diri.

Fenomena gagap menghadapi kelompok radikal ini juga masih terlihat di masa pemerintahan Jokowi-JK. Celakanya lagi, kelompok-kelompok ini juga dipelihara oleh partai-partai politik tertentu untuk kepentingan pragmatismenya masing-masing.

Tahun 2018-2019 adalah tahun-tahun politik yang penuh gesekan, mungkin keras. Di saat-saat semacam ini, politisi yang punya potensi sebagai negarawan perlu berpikir tenang untuk jangka panjang. Jangan biarkan bangsa ini terbelah oleh politik kepentingan sesaat. Taruhannya akan sangat tinggi: hari depan bangsa ini bisa terancam oleh perpecahan politik yang tunamartabat dan tunamoral.

Saya masih percaya, politisi yang berwawasan kebangsaan dan sangat mencintai negeri ini dengan sepenuh hati masih ada sekalipun jumlahnya tidak banyak. Mereka inilah bersama dengan komponen bangsa yang lain yang punya hati nurani dan akal sehat perlu memelihara kerukunan nasional dan kebinekaan masyarakat kita yang kaya raya.

Di saat-saat kritikal, orang-orang baik tidak boleh diam. Mereka mesti turun ke gelanggang. Kata Iqbal: “Bergerak dengan dosa lebih baik dari pada diam berpahala!”

Akhirnya pertanyaan: apakah Indonesia akan bubar pada 2030? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan catatan bahwa kita semua sebagai anak bangsa tetap menjaga pilar-pilar dan ikatan kebangsaan kita dengan penuh tanggung jawab, kompak, dan dengan sikap toleransi yang tinggi. Kohesi sosial kita jangan sampai longgar, tetapi negara juga wajib mengatasi ketimpangan sosial-ekonomi yang masih tajam sekarang ini.

Insya Allah, Indonesia masih akan bertahan lama, lama sekali. Igauan sementara orang tentang bubarnya Indonesia jangan sampai menggoyahkan semangat dan tali pengikat kebangsaan kita

Upaya Kreatif Melawan Ekstremisme

Khelmy K Pribadi
Direktur Program Islam dan Media MAARIF Institute Alumnus Pascasarjana Sosiologi UI

VIDEO kekerasan di Gereja Santa Lid­wi­na Bedog, Sle­man, Daerah Istime­wa Yogyakarta, pada Ming­gu (11/2) lalu, begitu me­nge­rikan. Teror atas nama fa­na­tisme agama kem­bali men­ce­kam bangsa Indo­ne­sia. Misa pagi yang seharusnya khusyuk mesti dikoyak dengan aksi bia­dab Suliono (23 tahun), pemuda yang bermimpi me­ni­kahi bi­dadari. Akibat peristiwa ini, tiga orang jemaat dan se­orang Ro­mo mengalami luka serius.

Kekerasan ekstremisme atas nama agama sering kali me­li­batkan anak muda, seperti be­be­rapa kasus bom bunuh diri. Pe­rilaku ke­ke­rasan melibatkan anak muda tak bisa di­le­paskan dari pe­ne­tra­si pe­nge­tahuan dan pe­nga­laman yang menerpa anak muda.

Generasi Rentan

Peristiwa ini mengingatkan kita pada penelitian Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hi­da­yatullah Jakarta (2017) yang me­libatkan 1.522 siswa SMA atau sederajat dan 337 ma­ha­sis­wa. Survei ini menyebut 58,8% responden menyetujui ideologi kekerasan radikalisme dan 51,1% intoleran terhadap ke­lom­pok yang berbeda agama.

Te­muan menarik dari riset ini 54,87% para anak muda ini me­miliki tren pembelajaran ke­aga­maan melalui internet, baik vi­sual maupun audio visual, se­per­ti blog , situs web, maupun media sosial. Persis dengan rilis data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Ta­hun 2017 menyebutkan 42,55% pengguna internet di In­donesia mengakses internet untuk men­da­patkan informasi ke­aga­maan.

Ini menunjukkan sumber in­for­masi yang diserap me­miliki re­lasi cukup kuat pada sikap in­to­leransi dan potensi eks­tremisme pada anak muda. Kesimpulan ini kongruen de­ngan temuan riset MAARIF Ins­titute pada April-Oktober 2017 ke­pa­da pelajar SMA dan se­de­rajat di empat kota, yakni Ja­kar­ta, Ban­dung, Su­rabaya, dan Se­ma­rang, se­ba­nyak 63% pelajar ber­pen­da­pat bahwa paparan in­to­le­ra­n­si me­reka didapatkan me­lalui saluran internet.

Se­men­tara data K­e­menterian Komu­ni­kasi dan In­formatika sejak 1 Januari hing­­ga 18 Sep­tember 2017 ter­ca­tat bah­wa se­tidaknya ter­da­pat 13.829 aduan per­nya­taan ujaran ke­ben­cian daring (online hate speech) dan berita palsu (hoax-fake news) sebanyak 6.973 aduan.

MAARIF Institute me­yakini bahwa intoleransi pada anak mu­da terjadi tidak hanya karena kurangnya in­formasi yang dise­bab­kan minimnya ketersediaan in­frastruktur in­formasi, tapi juga bisa di­se­bab­kan terlalu banyak­­nya in­for­masi namun in­for­masi tersebut palsu (hoaks) dan dipenuhi de­ngan ujaran ke­ben­cian. Inilah tantangan hari ini ber­kaitan dengan informasi dan eks­­tre­misme, yakni menye­dia­kan in­­formasi yang akurat dan ber­visi pada keadilan serta per­da­mai­an, tapi tetap kon­tek­s­tual.

Oleh sebab itu, upaya me­lakukan intervensi dan pen­ce­gahan ekstremisme tidak hanya me­mer­lukan substansi namun juga kreasi.
Kerja-kerja kreatif untuk me­lawan ekstremisme telah ba­nyak dilakukan masyarakat sipil di In­do­nesia dengan be­ra­gam pro­duk­nya.

Komik strip, Board Game, ap­likasi berbagi ce­r­­ita pe­ngalaman adalah tiga di an­ta­ra­ program krea­tif yang sedang di­helat. Pro­duk-pro­duk kreatif ini telah me­nem­puh jalan baru in­ter­vensi so­sial yang kon­tekstual de­ngan sub­jek in­ter­ve­n­sinya.

Konten-Konteks,
Subjek-Objek

Berdasarkan pengelolaan pro­gram di atas setidaknya ada dua hal penting perlu dicatat. Per­tama, pentingnya menilik kon­ten dan konteks. Penguatan kon­ten informasi setidaknya me­mi­liki dua elan vital, yakni konten dan konteks (kemasan).

Ke­dua­nya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Me­nyusun sebuah konten yang kontekstual membutuhkan ke­dalaman dan kejelian sekaligus. Terutama jika dikaitkan dengan sosok anak muda hari ini yang begitu cepat menyecap per­ubahan zaman.

Anak muda hari ini adalah akumulasi dari generasi Y dan gen­erasi Z yang secara pe­rio­dikal dijelaskan oleh Sosiolog Jerman kelahiran Hongaria Karl Man­nheim (1893-1947) da­lam ar­ti­kel berjudul The Pro­blems of Generations. Se­ba­gai­mana dila­por­kan oleh Aulia Adam dalam se­buah laman bah­wa pengertian ten­tang generasi Z masih sangat beragam, tapi setidaknya bisa disebutkan bah­wa generasi Z adalah ge­ne­rasi yang lahir se­te­lah kelahiran teknologi internet atau lahir setelah tahun 2000. Sementara generasi Y atau mi­le­nial adalah generasi yang lahir an­tara tahun 1980-1997 dan me­lewati mi­le­nium kedua.

Menurut Tom Brokaw da­lam The Greatest Generation  (1998) sebagaimana dikutip Nu­­ran Wi­bisono dalam artikel “Me­ma­hami Generasi Milenial” men­je­laskan ada lima ciri ge­nerasi mi­le­nial antara lain, me­lek tek­nologi, bergantung pada mesin pencari, learning by doing, ter­ta­rik pada multimedia, dan mem­buat konten internet. Se­men­tara itu, dalam buku Indo­nesia 2020: The Urban Middle Class Millenials  (2016), Ha­sa­nuddin Ali dan Lilik Purwandi me­nye­but­kan, urban middle class mille­nials  memiliki ciri 3C, yakni Crea­tive, Connected, dan Con­fi­dence. Ketiga ciri tersebut me­ng­andaikan generasi mi­le­nial se­ba­gai generasi yang lekat dengan kreativitas, selalu ter­ko­neksi dengan internet, me­miliki sikap dan perilaku yang lebih terbuka serta kepercayaan diri yang kuat.

Pelatihan video kebinekaan untuk anak SMA merupakan cara kreatif MAARIF Institute untuk memenuhi platform me­dia sosial berbasis video, seperti YouTube, dengan konten-kon­ten positif-alternatif untuk anak muda dengan beragam ben­tuk, seperti film pendek, video react, parodi, atau komedi situasi. Pilihan video sebagai medium kampanye sangat dipengaruhi oleh konteks ge­nerasi Y dan Z saat ini.

Video di­nilai mewadahi beragam eks­presi baik audio, grafis maupun visual, serta cepat dibagikan. Hal ini kongruen dengan data In­donesia Digital Lanscape 2018 yang mendudukan In­do­nesia pada urutan ketiga ne­gara de­ngan penggunaan in­ter­net ter­besar untuk mengakses video, yakni sebesar 67,4%.

Kedua, pentingnya para­dig­ma anak muda sebagai objek se­kaligus subjek. Dari beragam kerja-kerja di atas memberikan benang merah bahwa melawan ekstremisme dengan cara kre­a­tif mesti meletakkan anak mu­da pada dua aspek, yakni objek dan subjek, dari, oleh, dan un­tuk anak muda (partisipatif).

Pa­radigma ini menjadi penting untuk memastikan kontekstua­litas konten yang akan di­sampaikan dalam beragam pro­duk kampanye sosial tersebut. Sebagaimana penulis da­patkan dalam kesempatan ha­dir di Creators for Social Change Sum­mit di London, Januari lalu. Sa­lah satu aspek utama kam­panye sosial untuk generasi Y dan Z saat ini adalah pentingnya me­ngenali pola pikir anak muda dengan bahasa, narasi, gestur, ser­ta cara berpikir generasi Y dan Z yang khas dan unik.

Un­tuk itu, memperkuat anak mu­da untuk menciptakan konten po­sitif dan alternatif adalah upaya kreatif anak muda ber­bi­cara kepada sebayanya tentang kengerian ekstremisme yang mengancam kebinekaan.

Sumber:

https://nasional.sindonews.com/read/1295289/18/upaya-kreatif-melawan-ekstremisme-1522867997

Indonesia Bubar? (1)

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Anak bangsa ini memang mudah heboh dan gaduh ketika mendengar pernyataan seorang tokoh partai: Indonesia akan bubar pada 2030! Padahal, pernyataan itu hanyalah berdasarkan novel Ghost Fleet, karya fiksi dua penulis Amerika.

Saya tidak tahu mengapa karya yang hanya selintas menyinggung Indonesia telah bikin geger bangsa ini. Apakah memang kita sedang menyembunyikan perasaan cemas tentang hari depan Indonesia? Saya sendiri memang pernah pula mengatakan bahwa jika kita tidak hati-hati dan gagal mengelola keragaman Indonesia yang kaya ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa bangsa ini akan masuk museum sejarah pada suatu hari.

Pernyataan-pernyataan sejenis ini sesungguhnya adalah peringatan, khususnya kepada elite politik yang belum juga mau naik kelas menjadi negarawan. Energi mereka ini habis terkuras untuk “berebut tulang”, apakah itu mengakali APBN/APBD, BUMN/BUMD, dan sumber-sumber negara lainnya.

Mentalitas parasit semacam itulah yang merusak tatanan demokrasi kita yang memang belum menemukan bentuknya yang pas, sekalipun telah mengalami uji coba berkali-kali: DL (Demokrasi Liberal, 1945-1957), DT (Demokrasi Terpimpin, 1959-1966), DP (Demokrasi Pancasila, 1966-1998), DTN (Demokrasi Tanpa Nama, 1998-sekarang).

DL dinilai tidak berhasil membangun sistem demokrasi yang sehat karena dominasi partai politik demikian kuat, lalu digantikan dengan DT sekitar enam tahun. DT pun gagal menerjemahkan mimpi besarnya dan kemudian berakhir dengan prahara nasional berupa ledakan G-30-S/PKI dan reaksi terhadapnya yang menelan korban yang tidak sedikit.

Kekuasaan pencipta DT pun turut larut dilanda angin topan perubahan yang tak terbendung, sedangkan pemikiran-pemikiran besarnya yang autentik bertahan sampai hari ini karena memang disarikan dari pengalamannya sebagai bapak bangsa dan negara dalam berbagai situasi sejak zaman kolonial. Karena jasanya yang teramat besar dibandingkan dengan kelemahan-kelemahannya, maka upaya Orba (Orde Baru) untuk mengecilkannya berujung dengan kegagalan total.

Di atas reruntuhan DT, dibangunlah DP di bawah pimpinan seorang jenderal Angkatan Darat yang berlangsung sampai 32 tahun, rezim terlama sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia. Rezim Orba ini telah berhasil sampai batas tertentu meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga sebagian orang sekarang masih saja terpukau oleh mantra: ”Piye kabare, le? Penak jamanku tho!”

Masa awal rezim ini dihadapkan kepada fakta tentang negara ini yang nyaris bangkrut. Saat itu Indonesia termasuk negara termiskin di dunia. Lautan penderitaan rakyat terlihat di mana-mana. Cari makan sulit, cari pekerjaan sukar. Keluhan terdengar di seluruh negeri, tetapi tak berdaya untuk berbuat sesuatu.

Pada tahun 1966/1967, inflasi membengkak sampai 650 persen, pendapatan per kepala per tahun bergerak sekitar 70 dolar AS. Politik nasional kacau, ekonomi berantakan, tingkat pengangguran sangat tinggi. Beban bangsa, negara, dan rakyat memang berat sekali.

Tetapi, dengan segala malapetaka yang hampir tak tertanggungkan itu, Indonesia masih tidak bubar, ikatan kebangsaan kita masih kuat, berkat Sumpah Pemuda 1928 yang didahului oleh perjalanan panjang pergerakan nasional.

Modal sosial dan kultural untuk bertahan sebagai bangsa cukup besar sekalipun belum sempurna. Bangsa ini masih dalam proses “menjadi”, belum jadi betul 100 persen. Itulah sebabnya mesti dijaga dan dirawat terus-menerus, tanpa henti, tanpa lelah.

Di era DP, pembangunan nasional dijalankan dengan gencar berdasarkan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) demi Repelita. Pada satu sisi, hasilnya cukup menggembirakan, tetapi pada sisi yang lain, kerusakan lingkungan akibat pembangunan itu juga luar biasa. Pintu dibuka lebar-lebar untuk penanaman modal asing demi pembangunan nasional.

Ternyata dalam perjalanannya, negara tidak mampu mengawasi kelakuan modal asing ini. Akibatnya, rezim Orba mulai terancam untuk kemudian penguasanya harus turun takhta pada Mei 1998 yang didahului oleh krisis moneter yang dahsyat.

Tema-Tema Pokok Alquran (II)

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Kedua, manusia sebagai individu. Manusia adalah ciptaan Allah seperti makhluk ciptaan lainnya. Tetapi, kelebihan manusia dengan makhluk yang lain karena Tuhan “meniupkan roh-Nya kepadanya” (Q 15:29; 38:72; 32:9). Menurut F Rahman, Alquran tampaknya tidak mendukung teori dualisme jiwa-raga secara radikal, karena dua entitas itu dalam satu perpaduan, tidak bisa dipisahkan.

Dalam kehidupan dunia, manusia diperintahkan untuk melakukan perjuangan moral tanpa henti. Dalam perjuangan ini, Tuhan bersama manusia dengan syarat manusia sebagai wakil Tuhan dengan pilihan bebasnya mau melakukan segala upaya yang perlu, demi terciptanya sebuah tatanan moral sosial di bumi (hlm 18).

Untuk menghadapi setan sebagai kekuatan jahat, manusia perlu mengembangkan perilaku takwa (upaya melindungi diri seseorang menghadapi konsekuensi-konsekuensi berbahaya atau buruk dari perbuatan seseorang) (hlm 29). Setan adalah kekuatan anti-manusia, bukan anti-Tuhan. Tugasnya untuk memperdaya manusia agar tergelincir dari jalan yang lurus.

Takwa memberikan kestabilan kepada manusia dalam menentukan pilihan moralnya. Di akhirat nanti, manusia mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia di depan Tuhan sendiri-sendiri. Dengan demikian, hidup yang hanya sekali ini sangat menentukan nasib manusia di akhirat kelak.

Ketigam manusia dalam masyarakat. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan utama Alquran adalah membangun sebuah tatanan sosial yang dapat berlangsung terus di atas bumi yang didasarkan pada prinsip keadilan dan etika. Tidak pernah ada dalam sejarah manusia, individu tanpa masyarakat. Dalam perspektif ini, konsep perbuatan manusia, khususnya yang menyangkut takwa hanyalah punya arti dalam konteks sosial (hlm 37).

Tujuan Alquran tentang sebuah tatanan etika, egalitarian, dan adil diumumkan bersamaan dengan penolakan keras terhadap ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang marak dalam masyarakat komersial Makkah pada saat itu. Merebaknya penyalahgunaan anak-anak perempuan, anak yatim, dan kaum perempuan, serta adanya lembaga perbudakan memerlukan perubahan yang berani (ibid.) Maka doktrin tauhid (monoteisme) yang diajarkan Alquran bertaut rapat dengan perjuangan menegakkan keadilan dalam masyarakat.

“Menghidupkan kesadaran khususnya kesadaran kolektif menjadi sangat penting,” tulis Barlass, dalam komentarnya terhadap karya F Rahman ini. “Manusia dan masyarakat adalah tunggal, berkerja menuju sebuah tujuan yang lebih tinggi,” tulis Barlass. (Lihat Mohammad Mosa Barlass, Major Themes of the Qur’an dalam http:www.montly-renaisance.com/issue/content.aspx?id=188#1,  April 2014, hlm 3).

Keempat, alam semesta. Pembicaraan tentang kosmogeni tidak banyak dalam Alquran. Berbeda dengan manusia dengan hak pilihan bebasnya, alam semesta hanya punya satu pilihan, yaitu tunduk kepada Tuhan melalui hukum-hukum yang telah ditetapkan. Itulah sebabnya alam semesta dikatakan Muslim, karena ketaatan dan ketundukannya kepada kemauan Tuhan.

Alam semesta ini tidak bisa menjelaskan dirinya, tetapi ia “adalah sebuah tanda yang menunjuk kepada sesuatu ‘di luar’ dirinya, sesuatu yang tanpa itu alam semesta, dengan segala sebab alamiahnya, akan menjadi tiada dan hampa” (Lihat F.Rahman, Major, hlm 69).

Alam semesta dengan segala keteraturannya diciptakan untuk kepentingan manusia, tetapi tujuan manusia sendiri tidak lain selain untuk mengabdi kepada Tuhan, untuk berterima kasih kepada-Nya, dan hanya semata-mata untuk menyembah-Nya (Ibid, hlm 79).

Berterima kasih dan menyembah Tuhan bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan sepenuhnya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dan Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang serius, bukan untuk permainan.

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami [untuk dimintai pertanggungjawaban?]” (Q 23: 115).

Kelima, kenabian dan wahyu. Bab ini memaparkan kenabian dan wahyu sebagai fenomena universal. Di seluruh dunia telah diutus rasul-rasul Allah, baik yang disebut maupun yang tidak disebut dalam Alquran (Q 40:78; 4: 164). Sebagian rasul itu terbatas untuk lingkungan kaumnya saja, tetapi pesan yang disampaikan itu tidak bersifat lokal, tetapi punya makna universal yang mesti dipercayai dan diikuti oleh seluruh manusia.

Inilah yang dimaksud dengan konsep kesatuan kenabian. Melalui pesan kenabian, kesadaran manusia akan meningkat tinggi sehingga mereka akan mampu melihat secara jelas Tuhan sebagai Tuhan dan setan sebagai setan (Ibid, hlm 80).

Dari daftar para nabi dan rasul yang panjang itu, Muhammad adalah nabi penutup, dan tidak akan muncul lagi nabi sesudahnya, dan Alquran sebagai wahyu terakhir. Ini menjadi tanggung jawab berat bagi mereka yang mengaku Muslim (Ibid, hlm 81) untuk meneruskan risalah kenabian itu, demi kepentingan manusia sejagat.

Tema-Tema Pokok Alquran (I)

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

“Resonansi” ini adalah revisi dan pengayaan dari materi yang saya sampaikan di Forum Kajian Eksekutif di Jakarta pada 21 Februari 2018, sebuah forum warisan alm Prof Dr Nurcholish Madjid dan kemudian diikuti diskusi dengan tema serupa oleh Penerbit Mizan di kampus UIN Sunan Kalijaga pada 28 Februari 2018.

Tema-Tema Pokok al-Qur’an karya Fazlur Rahman (1919-1988) ini terbit pertama kali tahun 1980 (lih Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an. Minneapolis-Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980). Sejauh bacaan saya, pendekatan terhadap Alquran jenis ini belum pernah ada dalam khazanah literatur Islam di mana pun dan di zaman apa pun.

Umumnya Alquran diterjemahkan dan ditafsirkan ayat demi ayat, dan bila perlu diberi ulasan panjang atau singkat agar pembaca lebih memahami ayat-ayat yang ditafsirkan itu.

Keunikan karya ini terletak pada kemampuan penulisnya untuk memetakan pesan-pesan Alquran itu secara sintetik berdasarkan tema-tema utama tentang: Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia dalam Masyarakat, Alam, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, dan Bangkitnya Komunitas Muslim sebagaimana yang akan dibicarakan secara singkat berikut ini berdasarkan karya aslinya di atas dalam bahasa Inggris.

Harapan saya agar para pembaca punya minat untuk setidak-tidaknya mengikuti terjemahan oleh Ervan Nurtawab dan Ahmad Baiquni dari Penerbit Mizan tahun 2018 dari edisi terbitan The University of Chicago Press 2009 dengan judul di atas.

Dijelaskan bahwa karya ini merupakan jawaban mendesak sebagai sebuah pengantar tentang tema-tema utama Alquran yang tidak dijumpai dalam karya-karya yang ditulis sekian jauh oleh para sarjana Muslim dan sarjana non-Muslim. Tujuannya agar orang dapat mengenal tema-tema di atas dengan membiarkan Kitab Suci berbicara sendiri tentang dirinya (hlm vi).

Tentu saja pemahaman penulisnya tentang Alquran tidak lepas dari pengaruh latar belakang pendidikan dan pengalaman dan pengembaraan spiritual dan intelektualnya yang panjang, baik di Pakistan, di Universitas Cambridge, Inggris, dan kemudian melalui interaksinya yang luas dan intens dengan peradaban Barat modern.

Karya yang kita bicarakan ini ditulis saat F Rahman bertugas sebagai guru besar pada Universitas Chicago sejak 1969 sampai wafat pada 1988. Di kampus inilah F Rahman berhasil mengembangkan pemikiran keislamannya secara bebas dan berani, sesuatu yang tidak didapatinya di Pakistan.

Dikatakan oleh penulisnya bahwa melalui hanya pemaparan sintetik ini sajalah sebagai satu-satunya cara yang dapat memberikan kepada pembaca cita-rasa sejati terhadap Alquran sebagai perintah Tuhan untuk manusia (hlm vii). Karya-karya sarjana Barat, sekalipun berguna untuk diikuti, pendekatan yang mereka gunakan tidak memungkinkan pembaca memahami dan menghayati Alquran secara benar, jujur, dalam, dan komprehensif.

Sama halnya, tafsir-tafsir Alquran oleh kalangan sarjana Muslim lainnya akan berbeda sama sekali pendekatannya dibandingkan dengan karya F Rahman ini. Sayang, usia F Rahman tidak cukup panjang untuk menulis sebuah karya yang lebih luas tentang pandangan dunia Alquran, sesuatu yang sebenarnya juga mendesak untuk menembus jalan buntu yang tengah dihadapi peradaban Muslim kontemporer.

Selanjutnya, berikut ini tema-tema utama Alquran itu kita coba membicarakannya, sekalipun pasti tidak akan mencakup substansinya secara utuh.

1. Tuhan. Alquran adalah sebuah dokumen yang benar-benar ditujukan untuk manusia, atau sebagai “petunjuk bagi manusia” (Q 2: 185). Dengan demikian, petunjuk itu sepenuhnya bersifat fungsional, punya nilai praktikal, baik untuk kehidupan perorangan maupun untuk kehidupan kolektif.

Alquran bukanlah sebuah risalah tentang Tuhan dan sifat-Nya. Dia Pencipta, Pemelihara alam semesta dan manusia, dan khususnya Pemberi petunjuk kepada manusia dan pada saatnya mengadilinya, baik perorangan maupun kolektif, dengan keadilan yang penuh kasih sayang. Dia Tunggal, tidak berbagi dengan yang lain. “Dia adalah dimensi yang membuat dimensi-dimensi yang lain menjadi mungkin” (hlm 4).

Mengapa harus Tuhan? Mengapa alam semesta, isi, dan prosesnya tidak berjalan dengan sendirinya tanpa menyambungkannya dengan wujud yang lebih tinggi-sesuatu yang hanya memperumit realitas dan meletakkan beban yang tidak perlu atas intelek dan jiwa manusia?

Alquran menyebut ini sebagai “keyakinan dan kesadaran tentang yang gaib.” Tetapi, yang gaib ini sampai kadar tertentu bagi orang-orang khusus seperti nabi menjadi “nyata” melalui wahyu, sekalipun hakikat wahyu ini tidak bisa diketahui sepenuhnya oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan.

Kehadiran Tuhan dapat dirasakan oleh mereka yang melakukan perenungan, yaitu “orang yang takut kepada Yang Maha Pengasih dalam keadaan gaib dan menghadap dengan hati yang bertobat.”(QS 50: 33). Kasih sayang Tuhan tidak saja ditunjukkan dalam pengampunan-Nya terhadap dosa manusia, tetapi juga melalui apa yang dikurniakan-Nya kepada kita dalam bentuk bumi dan seisinya.

Maka seluruh rantai—penciptaan—pemeliharaan—petunjuk—pengadilan, yang semuanya sebagai perwujudan kasih sayang Tuhan—menjadi sangat masuk akal sehingga Alquran menyatakan keheranannya mengapa masalah ini dipersoalkan. Dua masalah yang sering dipertanyakan adalah yang awal dan yang akhir: peran Tuhan sebagai Pencipta dan peran-Nya sebagai Hakim (hlm 9).

Manurut Alquran, hanya tersedia satu jalan lurus menuju Tuhan, sedangkan yang lain itu bengkok (QS 16:9). Kepada jalan lurus inilah umat manusia diarahkan oleh Alquran.

Pemikiran KH Muhammad Hasyim Asy’ari

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Di antara ayat Alquran dalam surah al-Anfal ayat 46 yang dikutip Kiai Hasyim yang maknanya adalah: “Dan janganlah kamu saling bertengkar, nanti kamu jadi gentar dan hilang kekuatanmu dan tabahlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah.” (Ibid, hlm 138). Perintah Allah ini sangat jelas dan konkret, tetapi umat ini terus saja bertualang dalam pertengkaran dan perpecahan.

Kiai Hasyim telah mengingatkan semuanya ini jauh sebelum sebagian besar dunia Muslim melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-PD (Perang Dunia) II.

Kita ikuti selanjutnya fatwa Kiai Hasjim tentang bahaya fitnah:

Sementara itu, ada segolongan orang yang telah terjun ke dalam lautan fitnah; memilih bid’ah-bid’ah dan bukan sunah-sunah Rasul dan kebanyakan orang mukmin yang benar hanya terpaku. Maka, para ahli bid’ah seenaknya memutarbalikkan kebenaran, memungkarkan makruf dan memakrufkan kemungkaran. Mereka mengajak kepada kitab Allah, padahal sedikit pun mereka tidak bertolak dari sana. (Ibid, hlm 143).

Tidak lupa sebelumnya Kiai Hasyim mengutip bait seorang penyair:

Berhimpunlah anak-anakku bila kegentingan melanda

Jangan bercerai-berai sendiri-sendiri

Cawan-cawan pun enggan pecah bila bersama

Ketika bercerai

Satu-satu pecah berderai. (Ibid, hlm 141).

Betapa tingginya semangat Kiai Hasyim untuk mengukuhkan konsep perpaduan dan keutuhan umat, tetapi alangkah sukarnya. Selama puluhan abad umat ini tidak pernah jera dalam bersengketa dan bermusuhan, tidak terkecuali di Indonesia.

Perpecahan ini pada umumnya dipicu oleh perebutan kekuasaan politik yang ironisnya dimulai oleh elite-elite Quraisy kader-kader inti Nabi. Perpecahan ini kemudian menjalar ke seluruh bangsa-bangsa Muslim non-Arab sampai hari ini. Diktum Alquran tentang persatuan umat dan bahaya perpecahan tidak lagi dijadikan acuan dalam kehidupan kolektif mereka.

Kiai Hasyim tidak hanya memberikan fatwa teologis, tetapi juga terjun ke gelanggang. Demikianlah, pada 1937, dua tahun sebelum meledaknya PD II, telah dibentuk MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dalam upaya merajut persatuan umat, dan Kiai Hasyim adalah rais majelis yang baru dibentuk itu.

Pada 7-8 November 1945 atas prakarsa NU, Muhammadiyah, PSII, dan lain-lain, di kampus Madrasah Mu’allimin Yogyakarta (didirikan Ahmad Dahlan tahun 1918) dibentuk Partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan Kiai Hasjim sebagai rais akbarnya. Posisi ini dipegangnya sampai wafat pada 1947. Bagi Kiai Hasyim, Masyumi adalah satu-satunya partai umat Islam di Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan.

Gagasan besar Kiai Hasyim tentang persatuan umat tidak bertahan lama karena virus kekuasaan politik telah membelah lagi umat ini untuk kesekian kalinya. Pada saat wafatnya Kiai Hasyim bulan Juli 1947, PSII melepaskan diri dari Masyumi dan menyatakan dirinya sebagai partai politik independen.

Partai Masyumi mulai goyang, sekalipun belum seberapa. Tetapi, saat NU mengikuti jejak PSII pada 1952 dengan mengubah dirinya dari jam’iyah (gerakan sosial keagamaan) menjadi partai politik, tubuh Masyumi sudah keropos.

Dengan tidak perlu mengungkit siapa yang salah sebagai penyebab perpecahan ini, yang pasti pesan-pesan Kiai Hasyim tentang persatuan umat tidak lagi dipegang, setelah Hadratus Syekh ini wafat meninggalkan umat dan bangsa yang dicintainya. Selama 32 tahun NU berperan sebagai partai politik, sampai pada Desember 1984 saat kembali lagi ke khitah 1926.

Dan, Masyumi telah diperintahkan bubar di akhir 1960 oleh rezim yang berkuasa atas desakan PKI (Partai Komunis Indonesia). (Lih Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante. Bandung-Jakarta: Mizan-Maarif Institute, 2017, hlm 155-165).

Akibat perpecahan politik ini, Kiai Hasyim seakan-akan kemudian hanya milik NU, padahal sejatinya dia adalah tenda besar umat Islam Indonesia. Sejarah hidupnya adalah saksi hidup tentang kesimpulan kita ini. Setelah Masyumi bubar, kekuatan politik umat Islam Indonesia semakin rapuh dari waktu ke waktu.

NU sendiri juga tidak mampu menjadikan dirinya sebagai imam politik umat Islam Indonesia. PSII pun kemudian berkeping-keping karena perpecahan internal yang tidak dapat disembuhkan.

Suara Muhammadiyah dan Hari Pers Nasional

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam usianya yang ke-103 tahun, majalah SM (Suara Muhammadiyah) pada Peringatan HPN (Hari Pers Nasional) di Padang, 9 Februari 2018, akan mendapatkan penghargaan dari Panitia Pusat HPN dalam kategori Kepeloporan sebagai Media Dakwah Perjuangan Kemerdekaan RI dalam Bahasa Indonesia. Sebelumnya, pada 11 Oktober 2016, SM juga telah mendapatkan penghargaan Rekor Muri dalam kategori Majalah Islam yang Terbit Berkesinambungan Terlama. Pada 30 Agustus 2017, SM lagi mendapatkan Penghargaan SPS dalam kategori Salah Satu Majalah Tertua Di Indonesia.

Sepanjang sumber yang dapat dilacak sampai hari ini, boleh jadi SM adalah satu-satunya media cetak terlama yang bisa bertahan. Sebagai warisan budaya literasi dari pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan dan para sahabatnya, SM telah bertahan dengan semangat yang semakin tinggi dan energi yang semakin membesar, tidak saja dalam ranah idealisme yang terus dipertajam, tetapi juga dalam pengembangan dunia usaha yang kompetitif.

Dan jangan lupa, kesejahteraan staf dan karyawan pasti akan meningkat sejalan dengan kiprah bisnis yang kreatif dan dinamis itu. Selain sebagai media cetak dwipekanan, SM juga dapat dibaca dalam versi digital. Moto terbaru yang diusung adalah “Meneguhkan dan Mencerahkan”.

Di bawah komandan Deni Asy’ari (asli Bukittinggi) sebagai dirut PT SCM (Syarikat Cahaya Media), sejak tahun-tahun terakhir ini SM telah meluaskan jaringan usahanya dalam bentuk beberapa anak perusahaan dengan aset lebih dari Rp 50 miliar (termasuk dana cair di bank). Sebuah kantor baru lima tingkat yang cukup gagah di Jalan KH Ahmad Dahlan 107, Yogyakarta, akan diresmikan pada akhir Februari 2018.

Angka ini bagi SM adalah yang terbesar sepanjang sejarahnya. Pada tahun-tahun mendatang, angka itu akan semakin membengkak. Dalam hitungan kasar saya, aset SM pada 2020 akan menembus angka Rp 90 miliar.

SM yang semula terbit dalam bahasa Jawa telah melintasi tiga zaman: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan. Pernah mati suri sebentar tahun 1917-1918, pernah juga terseok-seok pada masa Jepang, tetapi dia bangkit kembali dengan segala kekuatan yang tersisa dan suka duka yang datang silih berganti.

Tahun 1922, SM mulai menggunakan bahasa Melayu, di samping masih ada rubrik dalam bahasa dan tulisan Jawa. Yang dipantangkan SM sepanjang sejarahnya: menyerah kalah saat bergumul dengan berbagai kesulitan. Akhir-akhir ini SM tampak semakin agresif dengan membuka Sudut SM (SM Corner) di berbagai kota di Indonesia.

Sebagai seorang yang terlibat dalam denyut nadi SM sejak 1965, posisi korektor dan kemudian anggota redaksi, pernah pula absen beberapa tahun, saya merasa bahagia dalam usia 83 tahun sekarang ini. Ternyata jika anak-anak muda Muhammadiyah diberi kepercayaan penuh dalam mengembangkan suatu usaha, terobosan yang mereka lakukan kadang-kadang di luar dugaan, sesuatu yang tidak saya miliki sepanjang hidup. Kepada mereka ini semua saya memberikan penghargaan tinggi dan rasa bangga yang tidak berkesudahan.

Kemudian, pengalaman sebagai korektor majalah yang dilatih oleh sastrawan almarhum A Bastari Asnin sebagai redaktur SM, masih terngiang dalam ingatan saya sebuah sepeda lusuh yang saya naiki dari Kotagede ke Percetakan Negara Yogyakarta, kuliah di IKIP Negeri, terus ke kantor Suara Muhammadiyah saat itu di Jalan KH Ahmad Dahlan 103. Alamat ini adalah kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah ketika itu, SM menompang di situ.

Di hari-hari sulit itu, SM telah sedikit meringankan beban ekonomi keluarga saya dalam suasana hidup di garis batas kemiskinan. Tidak saja sepeda yang lusuh, baju pun senasib dengan kendaraan yang catnya sudah mengelupas itu. Bahkan, istri saya, Nurkhalifah, pernah membalik letak punggung baju saya, yang lapuk diturunkan ke bagian bawah agar tidak kelihatan terlalu kumal.

Kini SM telah mengantongi penghargaan demi penghargaan. Sebagai usaha kecil menengah, anak perusahaan SM terus saja menggeliat dan menggeliat dengan toko batik, toko buku, dan penerbit SM yang semakin bermaya.

Ada beberapa penulis berbakat yang telah bergabung dengan SM. Terakhir adalah sejarawan Dr Muhammad Yuanda Zara, alumnus Universitas Amsterdam, Belanda, yang dengan sigap dan sabar telah mulai membongkar arsip-arsip kuno Muhammadiyah yang memang tidak terawat dengan baik selama sekian puluh tahun. Arsip SM nomor 1 tidak ditemukan lagi. Arsip nomor 2 tahun 1915 ditemukan almarhum Prof Dr Kuntowijoyo di negeri Belanda abad yang lalu.

SM tentu berterima kasih kepada Panitia Pusat Peringatan HPN dengan penghargaan yang akan diberikan kepada majalah tertua ini pada Jumat, 9 Februari 2018, sebagaimana telah disinggung di atas.