Isu Kebangkitan PKI Jadi Ritual Tahunan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sebenarnya saya sudah sangat bosan bicara tentang isu kebangkitan PKI, tetapi tetap saja telah jadi ritual tahunan setiap bulan September/Oktober. Bacaan saya semuanya ini terkait dengan perjuangan kekuasaan di Indonesia yang ibarat api dalam sekam sejak beberapa tahun yang lalu. Resonansi pada 11 dan 18 Juli 2017 di bawah judul “PKI dan Kuburan Sejarah” telah berupaya mendudukkan masalah ritual tahunan ini sebaik mungkin. Saya paham dan merasakan betul betapa ngerinya langkah politik PKI pada masa jayanya.

Tetapi juga betapa perihnya nasib mereka yang dikategorikan sebagai keturunan PKI diperlakukan selama bertahun-tahun pada era Orde Baru (Orba). Luka sejarah ini harus disembuhkan demi masa depan Indonesia yang lebih beradab. Langkah penyembuhan ini telah dengan manis ditunjukkan oleh putri Njoto Svetlana dan putri DI Panjaitan Catharine, sebagaimana yang saya tulis dalam Resonansi 18 Juli di atas. Di masa PKI jaya sangat populer nama trio Aidit-Lukman-Njoto sebagai pimpinan puncak partai komunis terkuat ketiga setelah Uni Soviet dan Cina. Dan trio ini dapat payung perlindungan dari penguasa saat itu. Kini semuanya sudah berlalu, sudah remuk berkeping-keping dan berdarah-darah dengan meninggalkan kenangan suram dan pahit.

Tidak saja PKI yang remuk, lawan politik paling depannya, Partai Masyumi, telah lebih dulu  diremukkan pada akhir tahun 1960 antara lain karena dorongan sangat kuat dari PKI. Sekali lagi, ini semua sudah berlalu, sekalipun masih tersisa dalam ingatan kolektif sebagian kita. Sebagai simpatisan berat Masyumi di era itu, perasaan saya saat partai ini diperintahkan bubar tidak saja marah, tetapi juga memendam rasa dendam bertahun-tahun, mengapa partai pembela demokrasi dan konstitusi ini dizalimi dengan dalih sebagian pemimpinnya terlibat dalam PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Bukankah Ketua Umum Masyumi ketika itu adalah Prawoto Mangkusasmito yang sama sekali tidak turut dalam PRRI?

Kemudian saya sadar bahwa memelihara dendam itu tidak ada gunanya, bahkan bisa merusak batin kita sendiri. Maka dendam AD (Angkatan Darat) kepada PKI sekalipun  dapat dipahami karena para senior mereka dibunuh secara keji, tetapi tidak boleh dipelihara terus melalui ritual tahunan yang hanya akan merusak keutuhan dan persatuan bangsa. Langkah anak bangsa Svetlana Njoto dan Catharine Panjaitan harus ditiru dan dijadikan arus besar agar kita tidak lagi menghabiskan energi secara sia-sia yang telah berjalan selama puluhan tahun. Di tahun 1960-an Njoto dan Jenderal DI Panjaitan berada pada kubu yang saling mengintai. Sekarang, kedua putrinya dengan jiwa besar telah merajut persahabatan erat sesama anak bangsa yang sama-sama telah menjadi korban sejarah di masa lampau yang kelam.

Isu kebangkitan PKI yang masih dijadikan jargon untuk berkuasa oleh sementara politisi adalah pertanda dari keadaban politik bangsa ini masih rendah dan murah. Akan lebih arif, dicari isu lain seperti ketimpangan sosial-ekonomi, korupsi, dan penguasaan tanah oleh konglomerat yang demikian masif, tentu akan lebih rasional dan terhormat untuk diusung. Menggunakan ungkapan asing dan aseng dengan nuansa politik yang kental, tanpa menyiapkan generasi muda bangsa untuk tampil sebagai pengusaha pribumi yang tangguh, hanyalah akan mempertinggi tempat jatuh dan akan mengabadikan mentalitas budak yang sejak lama kita derita.

Anak bangsa ini jika diarahkan kepada hal-hal yang positif dan konstruktif pasti bisa bersaing dengan siapa pun. Oleh sebab itu para konglomerat yang sudah terlalu kaya menikmati hasil bumi, laut, dan udara Indonesia wajib mempertanggungjawabkan hartanya itu kepada mahkamah sejarah bangsa ini. Masalah ketimpangan sosial ini jika terus berlanjut bisa mengundang kelompok-kelompok rentan mana pun, tidak perlu dengan mengusung isu PKI melalui ritual tahunan yang tidak mendidik, untuk tampil sebagai //pseudo// pahlawan yang dapat meruntuhkan semua yang sudah kita bangun.

Akhirnya, sebagai bangsa dan negara yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, kita semua ditantang untuk berpikir jernih, stabil, dan berdasarkan fakta yang kuat untuk menyalurkan hasrat berkuasa dalam sistem demokrasi sehat dan beradab yang sudah disepakati secara konstitusional.

Ateisme di Dunia Arab (1)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Jika di belahan bumi Barat, fenomena ateisme itu bukan sesuatu yang asing. Bisa dicari akarnya pada zaman Yunani kuno. Untuk keperluan tulisan ini kita merujuk saja kepada era yang agak baru. Bukankah Friedrich Wilhelm Nietzche (15 Okt. 1844-25 Agustus 1900) pada abad ke-19 dengan lantang mengatakan bahwa tuhan telah mati? Tetapi membaca kebangkitan ateisme sebagai wacana publik di dunia Arab terasa sebagai hal yang baru dan mengagetkan: mengapa orang Arab bisa jadi ateis?

Menurut catatan Muhammad Omar al-Amoudi bahwa sejak beberapa tahun terakhir jumlah kaum ateis di dunia Arab semakin meningkat pada tingkat yang mencemaskan. Ditengarai bahwa ateisme sekarang menyebar di tempat-tempat yang di masa silam merupakan kawasan yang aman. Pemain-pemaian luar tidak diragukan lagi telah turut berperan dalam penyebaran virus ateisme ini melalui TV stelit, website medsos, dan radio. (Lih. “Why are there so many atheists in the Arab world?”

Bahkan ada laporan, kata al-Amoudi, gejala ateisme menjadi biasa di kalangan kaum terdidik, pada umumnya lulusan universitas. Tetapi sejauh ini, dunia Arab belum mengambil tindakan drastis atau melakukan upaya sungguh-sungguh untuk memerangi gelombang ateisme ini. Virus ini tidak saja menyerang Islam, tetapi juga menciptakan kehampaan spiritual di hati rakyat dan mendorong mereka untuk tidak lagi sebagai penyembah Maha Pencipta. “Saya menyaksikan di sebuah negeri Arab,” tulis al-Amoudi, “sudah ada beberapa kafe bagi kaum ateis.”

Ada yang berpendapat, kata al-Amoudi, bahwa munculnya ateisme di sana karena reaksi terhadap pemikiran dan ideologi garis-keras dan ekstrem yang telah menyergap prinsip-prinsip moderasi. Sebagian lagi menyalahkan para sarjana Muslim yang tidak peduli terhadap kekuatan ateisme ini karena mereka lebih memerhatikan isu-isu lain yang tidak begitu penting. Penyebab lain dikaitkan dengan masalah pengangguran, korupsi yang merajalela, dan rezim-rezim penindas yang tak peduli.

Amat disayangkan, tulis al-Almoudi, sebagian besar sarjana tidak memberikan jawaban yang jelas dan sempurna terhadap alasan mengapa jumlah kaum ateis semakin bertambah. Pun para guru tidak menyediakan jawaban yang baik tentang mengapa dunia Arab dilanda oleh kaum ateis yang semakin menjadi-jadi.

Berapa jumlah kaum ateis di dunia Arab? Belum ada angka statistik yang pasti. Brian Whitaker dalam “The rise of Arab atheism” (29 Juni 2015) berdasarkan poling WIN/Gallup 2012, menulis: “Kaum ateis Arab semakin menampakkan diri, terutama karena medsos. Muncul juga sebuah persepsi bahwa bilangan mereka semakin meningkat…di antara 57 negara, Saudi Arabia khususnya merasa paling terancam. Sebagai tempat kelahiran Islam yang diaku sebagai yang paling suci di negeri-negeri Arab. Berdasarkan wawancara di sana, 19% mengatakan bahwa mereka tidak lagi orang beragama dan 5% menggambarkan diri mereka sebagai kaum ateis yang yakin.” Hitung saja dengan penduduk di Saudi Arabia sekitar 29 juta, maka angka itu jelas tidak sederhana.

Sebenarnya bukan hanya di dunia Arab ateisme itu mulai menampakkan diri secara terang-terangan. DR. Ali Sina kelahiran Iran yang menyatakan dirinya sebagai mantan Muslim, sekarang menjadi warga Kanada telah menulis sebuah karya di bawah judul:  Understanding Muhammad: A Psychobiography of Allah’s Prophet (Penerbit: Felibri.com, edisi 2, 1 Mei 2008). Dalam karya setebal 316 halaman ini, penulisnya dengan panjang lebar memaparkan perjalanan hidupnya yang berliku sampai akhirnya menjadi seorang ateis.

Pada bagian berikutnya akan dibicarakan tentang virus ateisme dengan penyebab yang kompleks. Oleh sebab itu harus dirumuskan strategi akademik dan kearifan dengan emosi yang terukur dan terkendali untuk menghadapinya. Jika di dunia Arab, ateisme telah dibicarakan secara terbuka, khususnya melalui medsos, negeri-negeri Muslim lain bisa terseret oleh kejadian di sana. Imbasnya sudah dirasakan di Indonesia sejak tiga tahun yang lalu. Aritel panjang dari penulis Muhamad Ali di bawah judul yang juga seperti judul Resonansi ini (2015) cukup memberi latar belakang sejarah yang luas tentang virus ateisme ini.

Semangat Berkorban Tahun 1438 di Desa Nogotirto

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Luas Desa Nogotirto dalam wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, hanyalah 3,49 km2 dengan jumlah penduduk 14.916. Kepadatan penduduknya adalah 4.274 jiwa/km. Jumlah tempat ibadah: masjid 20, gereja Kristen 1; gereja Katolik, pura, dan wihara belum ada. Dulu sebelum G30S/PKI/1965, beberapa dusun di desa ini didominasi oleh kelompok merah sebagai tandingan dari Desa Mlangi, tempat konsentrasi kaum santri.

Saya mulai tinggal di desa ini sejak bulan Agustus 1985 dan tidak pernah pindah lagi. Sebagian kawasan persawahan di desa ini telah berubah jadi perumahan rakyat yang dulunya adalah tanah kas desa yang kemudian dilakukan tukar guling. Akibatnya lahan sawah menjadi sangat berkurang, sebagaimana juga berlaku di beberapa desa di Nusantara. Ini adalah sebuah dilemma. Luas tanah tidak pernah bertambah, sedangkan jumlah penduduk sejak Proklamasi Kemerdekaan telah membengkak hampir 400%.

Desa Nogotirto adalah salah satu dari 74.954 desa di seluruh Indonesia tahun 2017 ini. Tahun 2016 jumlah desa itu baru 74.754, ada sebanyak 200 desa baru tahun ini. Kabupaten Sleman sendiri masih menyisakan penduduk miskin sekitar 10% dari 1.079.053 (semester 1 2016) keseluruhan penduduk kabupaten ini.

Sekalipun angka kemiskinan masih cukup tinggi, semangat berkorban Desa Nogotirto tahun 2017 ini cukup menggembirakan: 102 sapi dan lebih dari 100 kambing.

Jika diterjemahkan ke dalam kg, maka menurut hitungan kasar saya, tidak kurang dari 12.800 kg daging yang dibagikan selama Hari Raya ‘Idul Adhha 1438 hijriah tahun ini. Tidak saja bagi konsumsi penduduk desa itu, tetapi juga ada yang dikirim ke desa lain di luar Kabupaten Sleman. Karena hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka sebagian umat Muslim baru menyembelih korban pada Sabtu, 11 Dzulhijjah, hari tasyrik pertama.

Suasana penyembelihan demikian bergembira dan bersemangat. Setelah salat Zuhur, ditingkahi pula oleh makan bersama buat semua yang hadir. Semua wajah tampak segar. Orang tua dan anak muda terlibat aktif dalam pesta hari raya korban ini. Ada yang berlangsung sampai sore baru rampung. Untuk proses penyembelihan di lingkungan sekitar Masjid Nogotirto,  pembagian daging sudah rampung saat salat ‘Asar tiba. Tahun ini lebih cepat, karena ada yang menggunakan mesin potong tulang yang sangat menolong percepatan prosesnya. Alunan kalimat takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih yang dimulai sejak 9 Dzulhijjah berlangsung terus sampai hari tasyrik ketiga. Jika ritual ini dihayati agak sedikit mendalam, pengaruhnya terhadap suasana kejiwaan kita pun terasa.

Barangkali sudah hampir seluruh desa di Indonesia yang melakukan penyembelihan korban. Sayang saya tidak punya data statistik untuk itu. Pendek kata, tentu jutaan hewan telah dikorbankan pada setiap Hari Raya ‘Idul Adhha di Indonesia. Untuk seluruh dunia, angkanya bisa miliaran hewan yang disembelih saban tahun. Sekiranya tidak diperintahkan agama, tentu ada perasaan iba terhadap ternak yang dikorbankan itu. Maka demi syi’ar agama, perasaan iba itu tidak dirasakan benar, karena memang ternak itu diciptakan Allah untuk kepentingan manusia. Dalam kasus ini tidak berlaku ungkapan bahwa manusia itu kejam.

Sekarang kita tengok ke peruhaman Nogotirto dan perumahan Trihanggo, desa tetangga. Di sekitar masjid Yayasan Amal-Bhakti Muslim Pancasila Nogotirto ada tiga tempat penyembelihan hewan korban: 19 ekor sapi dan beberapa ekor kambing. Jika kita baca dalam rupiah, lebih dari Rp 200 juta peserta korban mengeluarkan dana untuk tahun ini. Padahal rata-rata penduduk di perumahan ini adalah pegawai dan pensiunan, tetapi semangatnya untuk berkorban cukup tinggi. Ada yang dengan cara menabung saban bulan di Masjid Nogotirto, sehingga saat bulan Dzulhijjah datang, pengeluaran dana untuk korban dirasakan lebih ringan.

Bagi saya suasana keagamaan semacam ini sungguh membahagiakan. Anak-anak muda dengan ceria dan cekatan terlibat penuh dalam proses penyembelihan dan pembagian daging. Saya sendiri sudah lebih 30 tahun jadi kordinator pembelian dan penyembelihan hewan untuk lingkungan Perumahan Nogotirto Elok 2, sekalipun yang lebih banyak bekerja adalah mereka dalam usia muda. Inilah warisan mulia dari nabi Ibrahim dan anaknya nabi Ismail yang diabadikan oleh umat Muslim di seantero jagat sampai dunia ini berakhir pada saatnya, entah kapan.

Alquran, untuk Tuhan atau untuk Manusia?

REPUBLIKA.CO.ID, Jika Alquran ditanya: “Engkau untuk kepentingan Tuhan atau untuk kepentingan manusia?” Jawabannya tuntas dan langsung: “Aku datang dari Tuhan untuk kepentingan manusia!” (Lih. s. al-Baqarah: 2 dan 185). Oleh sebab itu, sebuah agama yang bercorak serba teosentris harus ditolak jika Alquran yang dijadikan landasan tempat berangkat. Dalam logika yang sederhana berdasarkan iman, Tuhan sama sekali tidak memerlukan manusia atau bahkan tidak memerlukan alam semesta, tetapi manusia dan alam semestalah yang memerlukan Tuhan.

Manusia tidak akan pernah mampu menjawab pertanyaan, mengapa dia datang ke muka bumi, dari proses lahir, hidup, dan kemudian mati. Begitu pula alam semesta tidak akan pernah dapat menjelaskan keberadaan dirinya, tetapi iman mengatakan bahwa kreasi alam semesta ini menunjuk kepada sesuatu yang berada di luar dirinya. Itulah Maha Pencipta yang tidak bisa dijelaskan oleh kehebatan daya jangkau intelektual manusia. Alquran menyebutnya sebagai sesuatu yang ghaib: Dia ada, tetapi wujudNya berada di luar gambaran nalar manusia, betapa pun canggihnya struktur nalar itu.

Lalu bagaimana dengan fakta bahwa perkataan Allâh, nama diri Tuhan, yang terdapat lebih 2500 kali dalam Alquran, selain ungkapan al-Rabb, al-Rahmân dan banyak yang lain, apakah memang bukan Tuhan yang menjadi perhatian utama Alquran, bukan manusia? “Alquran,” tulis Fazlur Rahman, “adalah sebuah dokumen yang secara tepat diperuntukkan untuk keperluan manusia” (Lih. F. Rahman, Major Themes of the Qur’ân. Minneapolis-Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980, hlm. 1), bukan untuk keperluan Tuhan.

“Mengapa harus Tuhan?”, tulis Rahman. “Mengapa tidak membiarkan alam dengan segala isi dan prosesnya tegak di atas kakinya sendiri tanpa membawanya kepada sesuatu yang lebih tinggi, yang hanya menyebabkan realitas jadi ruwet dan memberikan beban yang tak perlu bagi intelek dan jiwa manusia?”  Di sinilah tugas Alquran menjelaskan “kepercayaan kepada dan sadar akan perkara yang ghaib.” (Ibid., hlm. 3). Melalui perantaraan wahyu, sesuatu yang ghaib menjadi nyata bagi manusia tertentu semisal nabi, sekalipun tidak mungkin dikenal sepenuhnya, kecuali oleh Tuhan sendiri. Inilah di antara misteri iman yang tidak selalu mudah dijelaskan.

Tetapi tanpa kehadiran iman dalam diri seseorang, dia otomatis akan kehilangan rujukan moral tertinggi dalam hidupnya. Dia akan menjadi seorang penganut nihilisme yang menurut F. Nietzsche “dapat diringkas dengan kematian Tuhan atau dengan ambruknya nilai-nilai tertinggi” (lih. Gianni Vattimo, The End of Modernity, terj. Jon R. Snyder. Baltimore: The John Hopkins University Press, 1991, hlm. 20). Dunia modern dengan segala kemajuan dan kegaduhannya sebenarnya sedang berada dalam situasi “ambruknya nilai-nilai tertinggi” itu. Adapun negeri-negeri Muslim sekalipun secara formal masih sering menyebut nama Tuhan sebagai sumber moral tertinggi, dalam realitas kehidupan kolektif mereka situasinya mungkin lebih buruk dari pada dunia modern yang sering mereka sumpahi itu. Kehidupan Muslim penuh ironi, sesuatu yang sangat berbeda dengan filosofi Alquran.

Maka nalar biasa akan bertanya: “Jika demikian, untuk apa agama?” Dalam bacaan saya, manusia yang beragama secara tulus dan autentik tidak mungkin mengalami pecahnya kongsi antara iman yang benar dan kelakuan yang dipertunjukkan.  Artinya, kelakuan buruk adalah manifestasi dari iman yang palsu atau iman yang sedang labil. Alquran dengan sangat terang dan tajam menggambarkan suasana pecah kongsi ini: “Dan janganlah kamu ibarat orang yang melupakan Allah, maka [Allah] akan menyebabkan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang fasiq (pendurhaka, pendosa, tidak hirau dengan Tuhan sebagai rujukan moral tertinggi).” (Lih. Alquran. al-Hasyr: 19). Di antara ciri pendurhaka adalah bahwa imannya—jika iman itu ada–tidak ada kaitannya dengan kelakuannya, karena semuanya serba palsu, serba topeng.

Akhirnya, Alquran diturunkan dari Langit untuk kepentingan dan kebaikan bumi sepenuhnya. Manusia sebagai aktor utama perlu senantiasa mawas diri dan sadar bahwa hidup akan berujung dengan kematian. Hidup dan mati harus dipertanggung jawabkan kepada Sang Pencipta secara pribadi!

Sopir Taksi Tentang Politisi

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Namanya Taufik, kelahiran Semarang tahun 1967. Ayahnya pensiunan Pertamina. Rampung kuliah di Fakultas Tehnik Sipil UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta pada 1995, setelah 10 tahun betah kuliah di kampus itu, Taufik malah tidak cari kerja sesuai dengan keahliannya. Pada 1998 dia mulai pegang stang taksi yang pada sore itu Rajawali dengan plat nomor AB 157 AE yang beroperasi di bandara Adisutjipto. Sudah berjalan selama 19 tahun, stang itu tidak pernah dilepaskannya dan tidak pindah ke perusahaan taksi yang lain yang mungkin lebih menjanjikan. Taksi Rajawali adalah milik pensiunan anggota AURI, satu-satunya taksi setengah resmi di sana dengan tarif yang pasti, tanpa perlu menggunakan argometer. Untuk tarif taksi lain berlaku hukum tawar menawar, dan tidak jarang dengan harga yang mencekik bagi tamu yang buta medan.

Entah apa yang mendorong hatinya sehingga ketagihan hidup bersama taksi, sekalipun dengan mengorbankan ilmu yang didapatnya di perguruan tinggi. Penghasilan sebagai sopir termasuk rendah, tetapi Taufik tampaknya tidak hirau dengan itu.  Baginya, hidup adalah sebuah pilihan, apa pun risikonya harus dilakoni, entah tahan berapa lama lagi dalam usia yang sudah berada pada angka 50. Punya isteri satu dan dua anak: cewek dan cowok. Cewek seorang sarjana dan jadi guru di Perguruan al-Azhar di kawasan kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Demikianlah, pada 12 Agustus 2017 antara jam 18.15-19.00, dalam perjalanan ke Nogotirto Bung Ir. Taufik  banyak bicara tentang situasi nasional dan kelakuan politisi. Rupanya sudah tiga kali si Bung ini mengantar saya ke rumah yang jaraknya sekitar 15 km dari bandara ke arah barat. Saya baru tahu si Bung seorang insinyur setelah ditanyakan apa latar belakang pendidikannnya. Artinya, saat menompong taksinya yang pertama dan yang kedua, kami belum saling membuka diri, sekalipun dia sudah tahu nama saya. Si Bung ini sebagai sopir tampaknya selalu ceria, setidaknya demikianlah kesan saya sore itu. Selama dalam perjalanan itu tidak ada keluhan dan caci-maki terhadap keadaan yang meluncur dari mulutnya. Si Bung adalah seorang anak manusia yang nrimo kahanan sak wontenipun (rela dengan keadaan apa adanya).

Setiap dipancing bicara tentang bangsa dan negara, si Bung yang akrab dengan internet itu, reaksinya cerdas dan masuk akal. Suasana cair yang semacam inilah yang kemudian mendorong saya untuk mengenal si Bung lebih jauh. Tanpa diminta si Bung memuji kinerja Ahok, tetapi mengapa dimusuhi, cetusnya. Sekalipun tidak dengan nada marah, si Bung sudah lama sebal dan kesal dengan kelakuan politisi Indonesia, baik yang duduk di DPR, DPRD, atau pun mereka yang masih ancang-ancang melangkah ke posisi sebagai wakil rakyat itu. Si Bung sebagai rakyat terkesan tidak merasa terwakili oleh politisi pada umumnya. Hanya tidak ditanya apakah dia turut memberikan suara dalam setiap pemilu atau cukup sebagai penonton atau golput (golongan putih).

Karena pembicaraan kami berlangsung tanpa henti dan asyik, akhirnya sampai ke tujuan untuk kemudian kami berpisah dengan mengantongi perasaan masing-masing. Bagi saya pandangan dan analisis politik si Bung terasa cukup mewakili nalar publik terhadap parpol dan politisi pada umumnya yang belum juga menampakkan kemajuan dan kedewasaan dalam kerja mengurus bangsa dan negara. Parpol sebagai salah satu pilar demokrasi modern belum juga peka terhadap ketidakpuasan dan kekecewaan rakyat atas kinerjanya, seperti yang dengan baik tergambar dalam pembicaraan si Bung, sang sopir Taufik.

Bagi tuan dan puan yang ingin membandingkan pembicaraan Resonansi ini dengan sopir  yang lain, bisa dibuka harian Republika ini tertanggal  26 Maret 2013 dan 30 September 2014, biasanya dimuat pada halaman 8. Sudah amat kerap saya berbicara dengan para sopir dari berbagai kelas, tetapi yang bergelar insinyur barulah si Bung ini. Selamat Bung Taufik dengan stang taksi, semoga tetap aman dan rezki, sekalipun kecil, nilai halalnya tidak diragukan. Tabik! Kemerdekaan bangsa salama 72 tahun memang belum berhasil menyuguhkan kehidupan yang lebih layak kepada para sopir taksi, walau dia menyandang gelar sarjana.

Republika dan Bung Hatta

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai seorang pengagum Bung Hatta sejak puluhan tahun yang lalu, sudah pasti saya amat gembira dengan harian Republika terbitan 10 Agustus 2017, yang telah mengupas dan menyoroti sosok dan pemikiran Bung Hatta. Tidak tanggung-tanggung, sepanjang lebih dari tujuh halaman harian ini telah memusatkan perhatiannya untuk kembali menampilkan pemikiran negarawan moralis cerdas ini yang dinilai cukup relevan bagi perjalanan bangsa di tengah hantaman neo-liberalisme yang antikeadilan sosial.

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Republika, Irfan Junaidi, pada halaman 17 dalam kata pengantarnya menulis: “Kekuatan gagasan ekonomi Bung Hatta menjadi sulit dinegasi karena memang sangat relevan dan sangat diperlukan bangsa ini untuk maju. Gagasan yang menolak penguasaan sumber daya ekonomi pada segelintir kekuatan modal terbukti sulit untuk memajukan bangsa. Hatta sangat keras mendorong agar dampak positif bagi kesejahteraan rakyat sebagai indikator utama perekonomian.”

Alangkah baiknya, sekiranya media lain juga berbuat serupa agar impian besar Bung Hatta tentang keadilan sosial  dan konsep daulat rakyat benar-benar dibawa turun ke bumi kenyataan, tidak hanya mengawang di langit tinggi, sebagaimana yang kita rasakan sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Fasal 33 UUD 1945 yang dikenal sebagai Fasal Hatta adalah perwujudan kongkret dari sila kelima Pancasila: ‘Keadilan sosial bagi sekuruh rakyat Indonesia.” Cobalah disimak ulang  ayat 3 dari Fasal 33 itu: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

Jika ayat itu disandingkan dengan realitas bangunan perekonomian Indonesia modern, kita pasti akan terperangah dan menjerit karena betapa jauhnya jarak antara idealisme Hatta dan realitas kekinian yang ditanggung oleh bangsa ini. Sudah berulang disampaikan banyak pihak bahwa betapa ringkihnya kekuasaan negara dalam menerjemahkan ayat 3 itu dan betapa kuatnya cengkeraman pihak sewasta (domestik dan asing) dalam menguasai kekayaan alam kita. Presiden Jokowi dalam pembicaraan selama 50 menit dengan saya di Istana Negara pada 17 Juli 2017 menyadari benar realitas getir ini dan telah berusaha keras untuk membalik jarum jam. Tetapi alangkah beratnya, karena semuanya adalah akibat dari rantai panjang yang membelenggu dari kebijakan para pendahulunya, khususnya sejak tahun 1966.

Ingatan kolektif kita tentu masih segar bahwa sejak permulaan Orba (Orde Baru), gagasan “kiri” Hatta telah mulai digasak habis oleh gagasan kanan para ekonom yang dikenal dengan kelompok “Mafia Berkeley.” Kelompok inilah yang membuka pintu lebar-lebar bagi pasar bebas, sementara Indonesia sama sekali tidak siap, dari sisi mana pun kita memandangnya. Benar, gagasan Hatta yang intinya tercermin dalam Fasal 33 itu tidak akan pernah basi, kecuali jika bangsa ini mau terus berkhianat kepada tujuan utama kemerdekaan.

Konstruk utuh pemikiran Hatta tentang arah bangsa dan negara merdeka tidak sulit didapatkan, karena para pencinta negarawan ini telah berhasil mengumpulkan hampir seluruh gagasannya dalam tiga jilid buku di bawah judul Karya Lengkap Bung Hatta (Jakarta: LP3ES yang terbit berturut-turut tahun 1998, 2000, dan 2001), dieditori oleh intelektual Indonesia: Emil Salim, Taufik Abdullah, M. Dawan Rahardjo, dan sederetan nama tenar lainnya, termasuk puteri sulungnya DR. Meutia F. Swasono). Semestinya pemikiran Hatta ini terus saja dikaji oleh berbagai kalangan melalui disiplinnya masing-masing agar arah kiblat bangsa ini tetap berada pada posisi yang lurus, tidak melenceng seperti berlaku sejak setengah abad belakangan. Percayalah, Hatta adalah di antara sedikit pendiri bangsa dan negara yang dengan kaca mata jernih, konprensif, dan penuh cinta telah memetakan bangunan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia sebelum dan pasca kemerdekaan.

Bung Hatta adalah pelaku dan pembuat sejarah, bukan pengamat yang duduk di menara gading. Perasaian bangsa ini dilaluinya dengan tabah selama puluhan tahun di bawah sistem penjajahan dan di era kemerdekaan. Oleh sebab itu, seluruh gagasannya tentang Indonesia adalah hasil anyaman teori dan pengalaman empirik yang hidup dalam rentang waktu yang panjang dan berliku, pahit dan manis. Dalam autobiorafinya dengan nuansa nostalgia Hatta menulis:

Pada 27 Desember 1949 di Amsterdam diadakan Upacara [U besar sesuai dengan aslinya] penyerahan Kedaulatan Kerajaan Belanda kepada R.I.S. Pada upacara itu R.I.S. diwakili oleh Perdana Menteri [Hatta] serta beberapa orang Menteri, di antaranya Sultan Hamid. Pada tanggal yang sama berlaku di Istana Gambir penyerahan Kedaulatan Kerajaan Belanda atas Indonesia oleh H.V.K. Lovink kepada pemerintah R.I.S. yang diwakili oleh Sultan Hamengkubuwono IX disertai dengan menurunkan Bendera Belanda dan menaikkan Bendera Merah Puitih ke atas tiang. (Lih. Mohammad Hatta, Memoir. Jakarta: Yayasan Hatta, 2002, hlm. 562-563).

Bagi saya, catatan nostalgia Bung Hatta ini terasa sangat dalam dan manis. Amat disayangkan, perjalanan Indonesia merdeka tidak sedalam dan semanis yang didambakan oleh kita semua!

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (III)

Oleh : Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Ada pribasa Minang tentang tali atau benang: “Indak guno dirantang panjang, elok dikumpa naknyo singkek” (Tidak berguna direntang panjang, elok dikumpar (digulung) supaya pendek). Jika kata hati diperturutkan, kisah tentang terorisme ini bisa berlama-lama, berpanjang-panjang. Saya sudahi Resonansi ini sampai seri ketiga ini saja. Drama maut yang ditebarkan pelaku terorisme di berbagai negara belum usai sampai sekarang. Suasana buram yang membuat hati semakin pilu adalah karena terorisme yang membahana pada tingkat global sekarang ini nyaris selalu dikaitkan prilaku Muslim yang kesasar jalan.

Bahkan pihak Barat secara sengaja dan sembrono mengatakan bahwa Islam identik dengan terorisme! Maka apa yang diprakarsai BNPT dengan dukungan penuh dari para mantan kombatan mungkin bisa menjadi contoh bagi dunia tentang metode pendekatan lunak dalam penanggulangan terorisme supaya lebih efektif. Jalan kekerasan bisa melahirkan teroris tujuh keturunan, sekalipun proses penegakan hukum jangan sampai melemah.

Di Desa Tenggulan sejak 29 Maret 2017 telah dibentuk oleh Ali Fauzi dan kawan-kawan sebuah Yayasan Lingkar Perdamaian, sebagaimana telah disinggung sekilas sebelumnya. Direktur Perlindungan BNPT Jenderal Pol. Herwan Chaidir ditugasi untuk turut membantu yayasan ini dalam tugas-tugas sosial-keagamaannya. Ujar Herwan: “…pihaknya terus berupaya menanggulangi aksi-aksi terorisme. Salah satunya, pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqien, di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro ini.” Suhardi Alius dalam sambutannya mengatakan: “…pembangunan TPA plus dan renovasi Masjid Baitul Muttaqien, akan menjadi pohon harapan. Di antaranya sebagai tempat menuntut ilmu bagi anak-anak generasi bangsa….Ini wujud komitmen kami, bahwa negara selalu hadir.”

Tuan dan puan perlu mencatat bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. DR. Nasaruddin Umar juga telah mendampingi Amrozi dan kawan-kawan di saat-saat akan ditembak mati pada bulan Nopember 2008, sembilan tahun yang lalu. Dia sudah dianggap orang tua oleh para mantan kombatan ini. Cerita ini saya dengar langsung dari yang bersangkutan ketika kami berada dalam satu mobil dari Desa Tenggulun menuju Bandara Juanda di Surabaya pada 21 Juli 2017.

Desa Tenggulun yang dulu dikenal sebagai pusat terorisme yang mendebarkan, kini telah berubah menjadi pusat perdamaian dan pohon harapan dalam upaya penanggulangan perbuatan jahat yang sangat ditakuti itu, justru dipelopori oleh para mantan kombatan yang sebagian mereka berpengalaman pada tingkat dunia dalam bertempur, merakit bom, dan membunuh orang tak berdosa, termasuk anggota polisi Indonesia yang dianggap thaghut. Jika kini Eropa, Australia, dan Amerika mau belajar kepada Indonesia bagaimana strategi menanggulangi aksi teror, maka rahasianya antara lain terletak pada pendekatan melalui bahasa hati dan bahasa sosial-ekonomi. Bahasa kekerasan sejauh mungkin harus dihindari dengan catatan sikap tegas aparat jangan sampai dilupakan.

Inilah keterangan Ali Fauzi tentang tujuan Yayasan Lingkar Perdamaian: “…untuk mendidik anak-anak, janda, serta para isteri yang suaminya masih di penjara karena kasus terorisme….Yayasan Lingkar Perdamaian ini menjadi sebagai satu-satunya yayasan yang bergerak di bidang Control Flow Integrity (CFI). Yayasan ini untuk menjauhkan dari sifat-sifat destruktif, termasuk pengeboman.” Dalam hati saya berbisik bahwa betapa pun pekatnya dosa seseorang tidak tertutup kemungkinan akan menjadi terang kembali jika Langit menghendaki. Tidak ada yang mustahil bagi Allah sebagai Zat Muqallib al-qulûb (Pembolak-balik kalbu hamba-hambaNya) untuk memutihkan yang hitam, mencerahkan yang abu-abu. Dia Maha Kuasa atas segala-galanya, yang tampak dan yang tersembunyi. Para mantan kombatan tentu amat faham ungkapan ini.

Rasanya, renungan panjang saya kini telah mulai menemukan salurannya melalui perubahan drastis dari kesan warna hitam Desa Tenggulan dengan mulai berkibarnya bendera harapan Yayasan Lingkar Perdamaian yang menorehkan cahaya cerah masa depan Indonesia, agar aksi-aksi terorisme di Nusantara ini akan surut dan melemah dalam tempo yang tidak terlalu lama lagi. Islam Qur’ani dan Islam kenabian sangat terluka oleh perbuatan mereka yang menyalahgunakan ayat-ayat dan sabda nabi untuk tujuan yang justru mengkhianati pesan-pesan suci itu. Sekarang sebagian mantan kombatan telah menyadari bahwa pesan-pesan suci itu tidak akan dilukai dan dicederai lagi, sekali dan untuk selama-lamanya. Semoga!

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (II)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Jarak antara Ibu Kota kabupaten Lamongan dengan Desa Tenggulun sekitar 36 km. Sebagian ruas jalannya sempit, dengan mobil kawal polisi memerlukan satu jam baru sampai di desa penting itu. Demikianlah pada 21 Juli 2017 itu saya berangkat dengan pesawat dari Yogyakarta jam 06.00 pagi sampai di bandara Juanda jam 07.00, baru sampai di Desa Tenggulun jam 09.15, saat acara peresmian akan dimulai. Acara berlangsung sangat lancar, tidak ada gangguan yang berarti. Di antara yang hadir, terlihat Hj. Tariyem (80-an), ibu kandung Amrozi-Ali Ghufron (terpidana mati pada 9 Nopember 2008, akibat terlibat dalam bom Bali, 12 Oktober 2002), di deretan mantan kombatan. Ibu sepuh ini didampingi putera sulungnya H. Muhammad Chozin yang juga tampan berwibawa.

Pada acara itu diadakan konferensi jarak jauh antara Suhardi Alius dengan saudara Amrozi bernama Ali Imron, (terpidana seumur hidup) dari Jakarta yang sudah lama saya kenal. Kami pernah diajak Jenderal Surya Dharma dari Densus 88 untuk duet bersama di depan forum aparat kepolisian yang cukup ramai. Sekalipun agak terganggu karena kendala sinyal, konferensi itu mendapat perhatian penuh dari yang hadir, termasuk Hj. Tariyem yang terlihat terpaku menonton Ali Imron di layar lebar. Saya tidak tahu perasaan apa yang berkecamuk dalam hati ibu sepuh ini melihat Ali Imron menjawab dengan lancar dan lantang semua pertanyaan yang diajukan Komjen Suhardi Alius. Sikap sebagai mantan kombatan pada diri Ali Imron masih bertahan, sekalipun sudah hampir satu dasawarsa dalam tahanan.

Dalam suasana duka akibat bom Bali yang menewaskan 202 manusia (terbanyak Australia dan sebagian Indonesia) itu, ada seorang jenderal TNI AD ketika itu yang mengembangkan teori konspirasi: bom itu adalah rekayasa pihak Barat, tidak mungkin orang Indonesia mampu merakit bom dengan ledakan dashsyat seperti itu! Tetapi kicauan semacam ini segera terbantahkan karena Ali Imron dalam buku yang ditulisnya dengan tegas mengatakan bahwa para kombatan itu sudah pakar dalam seni merakit bom dengan kekuatan yang besar sekalipun.

Seperti telah dituliskan pada seri pertama Resonansi ini, pengakuan Kurnia Widodo yang juga ahli pembuat bom, bagi kelompok ini pekerjaan rakit-merakit itu amatlah mudah. Oleh sebab itu teori konspirasi telah gugur dengan sendirinya. Tidak perlu dikembangkan lagi, karena pasti menyesatkan dan memandang remeh anak bangsa ini. Energi kepakaran manusia Indonesia tidak kalah dibandingkan manusia bangsa lain, hampir di semua lini kehidupan, untuk kebaikan atau untuk menghancurkan. Energi itulah kini yang sedang disalurkan BNPT untuk tujuan-tujuan positif, demi martabat dan kemuliaan dan kemajuan masa depan bangsa ini.

Desa Tenggulun memang luar biasa. Siapa nyana sebelumnya bahwa desa kecil yang jumlah penduduknya pada tahun 2008 hanyalah 2022 telah melahirkan para kombatan yang menggoncangkan jagat raya. Dari segi pendidikan, desa ini cukup maju. Bagi anak usia sekolah 7-15 tahun, hanya lima anak saja tidak bersekolah. Sebagian tanahnya juga subur. Banyak rumah penduduk yang bagus, berkat hasil jerih payah perantaunya ke Melaysia, termasuk sebagian kombatan yang juga pernah belajar ideologi Islam garis keras dengan mentor orang Indonesia keturunan Arab yang hijrah ke Johor tahun 1980-an. Menurut keterangan Ali Fauzi kepada saya DR Azahari Husin yang tertembak di Batu, Malang, pada 2005, pernah belajar agama kepadanya. Ini artinya, seorang Ali Fauzi punya keunggulan dalam pengetahuan agama dibandingkan doktor Malaysia itu.

Masih menurut Ali Fauzi, atau nama lengkapnya Ali Fauzi Manzi, kelompok teroris amat piawai dalam penyamaran: “Bergantung dari komunitas yang didekatinya. Kalau komunitas itu pedagang furniture, maka dia tidak segan-segan untuk berdagang furniture. Kalau komunitas itu pegadang bakso, mereka juga tidak segan-segan ikut berdagang bakso.” Bahkan abangnya Amrozi, kata Fauzi, ketika berada di Pontianak pernah jadi tukang buat roti. Kombatan yang terlatih ini amat lihai bergumul dengan berbagai situasi, berkat teologi kebenaran tunggal yang bersarang di otak dan di hati mereka.

Desa Tenggulun, Terorisme, dan BNPT (I)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Desa Tenggulun “adalah epicentrum (pusat utama) terorisme di Indonesia,” ujar Komjen Suhardi Alius, kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dalam sambutannya saat “Peresmian Penggunaan Sarana Ibadah Di Kompleks Masjid Baitul Muttaqien” di desa terpencil itu pada 21 Juli 2017. Dalam upacara peresmian itu, ada sekitar 800 undangan yang hadir, termasuk para mantan teroris di bawah pimpinan Ali Fauzi, ketua Yayasan Lingkar Perdamaian. Mereka semua memakai seragam batik.

Selain pimpinan BNPT, juga hadir Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi, Moh Syafii; Ketua Pansus RUU Terorisme DPR, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof DR Nasaruddin Umar; Irjenpol (Purn) Sidarto Danusubroto; anggota Wantimpres, Bupati Lamongan Fadeli, dan ratusan hadirin yang lain. Selama mengikuti upacara ini, saya yang juga diundang oleh BNPT untuk turut serta di dalamnya sempat merenung panjang mengapa desa Tenggulun ini telah melahirkan orang-orang hebat dalam arti negatif dan mengapa pula sekarang telah berubah menjadi pusat seruan perdamaian.

Di bulan Juli 2017 bagi saya ada dua tanggal yang perlu dicatat: tanggal 19 dan 21. Dua tanggal ini menjadi penting untuk belajar lebih dalam tentang fenomena radikalisme dan terorisme, baik pada tataran global mau pun pada tataran nasional. Pada 19 Juli di Hotel Phoenic Yogyakarta, BNPT bekerja sama dengan Pascasarjana UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengadakan seminar tentang upaya penanggulangan bahaya radikalisme dan terorisme. Peserta yang diundang umumnya berasal dari kalangan Muhammadiyah, dan saya sebagai salah seorang yang diminta untuk berbicara dalam pertemuan itu. Pembicara utama adalah dari pihak BNPT dan kalangan akademisi.

Tetapi ada pembicara lain yang memukau dari mantan kombatan yang pernah dihukum selama enam tahun karena terlibat dalam berbagai tindakan teror di Indonesia, kemudian sadar, dan kembali kepada pemahaman Islam yang benar sebagai rahmat bagi alam semesta. Sejak itu turut membantu BNPT untuk tugas nasionalnya dalam upaya membendung radikalisme dan terorisme melalui pendekatan lunak, persuasif, pendidikan, dan bantuan ekonomi. Mantan kombatan ini bernama Kurnia Widodo, S.T. (kelahiran Medan 1974), alumnus Teknik Kimia ITB, pakar perakit bom yang mahir membawakan dalil-dalil agama.

Penampilan Bung Kurnia tampak gagah, pakai kopiah hitam, dan punya rasa percaya diri yang tinggi, sebagaimana yang saya temui pada sosok mantan kombatan yang lain semisal Nasir Abas, Ali Imron, dan Ali Fauzi. Dua yang terakhir ini adalah bersaudara, berasal Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Desa Tenggulun ini sejak awal abad ke-21 telah menjadi sorotan dunia karena secara mendadak-sontak dikenal sebagai epicentrum (aslinya istilah geologi dari titik itu gempa bumi dan ledakan bawah tanah berasal) terorisme di Indonesia. Dengan kata lain, Desa Tenggulan, tempat kelahiran perancang bom Bali dan lain-lain tempat, pernah menjadi pusat dan otak terorisme yang mengerikan itu, sebagaimana dikatakan di atas.

Bung Kurnia tidak hanya mahir dalam pembuatan bom, dia juga berbicara tentang landasan teologis dari perbuatan teror yang pernah dilakukannya sendiri sampai ditangkap aparat kepolisian. Dalam paparannya, alumnus ITB ini menelusuri faham salafisme ekstrem yang berakar pada teologi Wahabisme yang mengobarkan “perang” terhadap siapa pun yang tidak sependapat dengan penganut aliran ini. Teologi yang mengajarkan kebenaran tunggal inilah yang jadi pegangan pelaku teror di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Saya sudah agak lama mendengar pendapat ini, tetapi melalui mulut seorang Kurnia yang terlibat dalam eksekusi teologi kebenaran tunggal itu, masalahnya menjadi semakin terang benderang tentang betapa jauhnya ajaran Islam telah disalahtafsirkan dan disalahgunakan oleh faksi ekstrem ini untuk melakukan perbuatan biadabnya atas nama Tuhan. Paparan Bung Kurnia ini perlu disimak bukan saja oleh faksi-faksi radikal lainnya, baik di kalangan politisi mau pun kalangan mereka yang bergerak di bawah nama yang beragam, tetapi juga oleh arus besar Islam Indonesia: Muhammadiyah dan NU yang kabarnya sudah mulai disusupi oleh aliran ekstrem ini.

Jika benteng pertahanan Muhammadiyah dan NU sampai bobol dimasuki oleh teologi kebenaran tunggal ini, maka Indonesia sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi akan berubah menjadi ladang pertumpahan darah, dan di ujungnya negeri ini akan masuk museum sejarah karena eksistensinya telah dibinasakan oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur oleh “misguided Arabism” (Arabisme yang kesasar jalan) dalam bentuk radikalisme dan terorisme itu. Tetapi, insya Allah, drama itu tidak akan berlaku, dengan syarat Muhammadiyah dan NU tetap istiqamah dalam khittah moderasinya masing-masing dan negara jangan sampai lengah untuk menangkal prilaku jahat ini.

PKI dan Kuburan Sejarah (2)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Kesetiaan PKI memang bukan kepada bangsa dan negaranya sendiri, tetapi kepada Moskow, kemudian belakangan kepada Beijing. Kecuali Tan Malaka yang tidak pernah menanggalkan nasionalismenya serta tidak anti Islam, hampir semua tokoh PKI berkiblat ke negara asing. Penyair Lekra Virga Belan di bawah judul: Penerbangan Malam ke Leningrad menulis bait-bait di bawah ini:

Dari Sochi ke daerah utara
Tidak terbentang segara
Hanya langit jingga
Dan udara malam raya.

Dan kabut tersapu di hadapan
Dan tertinggallah buih di lautan
Bumi Soviet ialah padang terluas di dunia
Dan akulah sang musafir, dalam kelana.

Seorang di sampingku berkata: Leningrad
Dan kujawab: Cukup kukenal, kamerad!
Ke sana!

Ke pusat api yang pernah menjulang dalam sejarah!
Ke sana!
Ke tempat kaum buruh menumbangkan kekuasaan durjana!

Ke Leningrad
Ya, ke Leningrad!

Kota revolusi daerah utara!

(Dimuat pertama kali dalam Harian Rakyat, Minggu, 1 Desember 1963, dikutip dari Taufiq Ismail dan D.S. Muljanto, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK. Bandung: Mizan, 1995, hlm. 228).

Virga Belan saat menulis puisi di atas memang belum ada tanda-tanda bahwa komunisme akan hancur berkeping-keping. Belum terbayang revolusi Mekhail Sergeyevich Gorbachev dalam bentuk glassnost (keterbukaan) dan perestroika (reformasi) sebagai penyebab keruntuhan federasi Uni Soviet, di samping karena invasi berdarah-darah Negara Tirai Besi ini atas Afghanistan, bangsa Muslim miskin yang dizalimi. Kemudian pada 1991 Presiden Boris Yeltsin (pengganti Gorbachev) membubarkan Partai Komunis Uni Soviet. Maka kalimat Belan: “Ke tempat kaum buruh menumbangkan kekuasaan durjana!” menjadi hambar dan basi, karena tempat yang dipuja dan diagungkan itu telah tumbang secara dramatis dan hina, sekalipun Rusia sebagai bangsa dan negara tetap bertahan. Negeri jajahannya satu per satu melepaskan diri dalam tenggat waktu belum sampai satu abad.

Akhirnya, kejadian berikut perlu disertakan di sini. Pada 6 Septermber 2015 Svetlana puteri sulung Nyoto (salah seorang Trio CC PKI bersama D.N. Aidit dan M.H. Lukman) dalam sebuah rombongan telah mengunjungi saya untuk berbagi pengalaman dan membaca kembali kilas balik perkembangan politik Indonesia. Dibicarakan pula tentang mustahaknya mempercepat proses rekonsiliasi nasional, agar bangsa ini tidak lagi disandera oleh konflik politik masa silam yang keras dan sarat kebencian. Pada 3 Juni 2017 jam 09.28, Svetlana kirim SMS ini: “Saya sedang bersama Catharine Panjaitan, putri sulung DI Panjaitan yg sedang berlibur. Makan pecel di rumah saya. Semoga Buya senantiasa dilimpahi kesehatan. Kami masih memerlukan Buya.”

Pujian terhadap saya itu tidak penting, lupakan saja. Iklim persahabatan yang perlu diingat adalah kedekatan Svetlana dengan Catharine Panjaitan, puteri Jenderal D.I. Panjaitan. Ayahnya adalah salah seorang perwira tinggi Angkatan Darat yang dibunuh, kemudian dimasukan ke dalam sebuah sumur di Lobang Buaya. Kini keturunannya telah mengubur dendam sejarah itu untuk selama-lamanya, seperti terbaca dalam SMS di atas. Sangat mengharukan, sangat halus. Oleh sebab itu, PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang tidak beradab.