Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (V)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID,Kebetulan sebelum seri lanjutan ini dikirim, Dr Ahmad Muttaqin Alim dari Pusat Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah menghadiahi saya autobiografi Malala yang ditulis bersama Christina Lamb, I am Malala (New York-Boston-London: Back Bay Books, 2013). Dengan tambahan sumber autobiografi Malala ini, terpaksa kisah dalam “Resonansi” ini sedikit surut ke belakang, karena ada bagian-bagian yang menarik untuk disertakan.

Autobiografi setebal 293 halaman ini patut benar dibaca oleh rakyat Indonesia sebagai sumber ilham dan agar tidak mudah ditipu oleh kelompok-kelompok radikal yang berkedok agama. Pengalaman pahit rakyat Pakistan di Lembah Swat bisa saja berlaku di mana pun bila negara tidak awas dan tidak tegas dalam membendung arus radikalisme yang memperdagangkan agama untuk tujuan yang nista.

Pada halaman 239-240 terbaca penjelasan juru bicara Taliban Pakistan Ehsanul Ehsan mengapa Malala harus dibunuh: “Malala telah dijadikan target karena peran modelnya dalam mengkhotbahkan sekularisme …. Dia masih muda tetapi dia sedang menganjurkan budaya Barat di wilayah Pashtun. Dia pro-Barat; dia bicara anti-Taliban; dia menyebut Presiden Obama sebagai idolanya.”

Tidak banyak jumlah bocah sepanjang sejarah begitu ditakuti karena perannya yang heroik dalam membela kebenaran yang diyakininya, seperti halnya Malala, sekalipun nyawa tantangannya. Pemerintah Pakistan sebenarnya cukup menghargai perjuangan Malala bagi tegaknya perdamaian dengan bukti diberikan kepadanya Pakistan National Peace Prize tahun 2011. Tetapi pemerintah harus bersikap ekstra hati-hati karena kekuatan Taliban belum lagi lumpuh sepenuhnya.

Mulla Fazullah, dua bulan sebelum tragedi Malala itu, pernah mengancam dengan kalimat ini: “Siapa saja yang berpihak kepada pemerintah untuk melawan kami akan tewas di tangan kami.” Taliban bahkan telah menggunakan dua laki-laki lokal Swat yang bertugas mengumpulkan informasi tentang Malala dan jalan yang dilaluinya ke sekolah dan mereka mampu melakukan serangan dekat pos tentara di Swat.”(Lih Malala, hlm 240).

Dengan demikian bocah ini memang sudah sejak lama diintai untuk dihabisi. Dan itulah yang berlaku pada 9 Oktober 2012 dengan menembaki Malala dan dua temannya yang lain di atas bus pulang dari sekolah milik ayahnya yang diberi nama Kushal School itu. Atas kehendak Allah, ketiga bocah yang ditembak ini, tidak seorang pun yang tewas. Semuanya selamat. Kini ketiganya telah jadi saksi hidup betapa terorisme tega membunuh bocah yang semula diperkirakan tidak bakal terjadi. Malala sendiri sebelumnya juga berpendapat bahwa Taliban tidak mungkin membunuh anak-anak. Jika ada yang harus dibunuh, maka ayahnya Ziauddin Yousafzailah yang harus menjadi sasaran utama, bukan dirinya. Ziauddin adalah sosok intelektual yang punya jaringan luas untuk melawan segala bentuk terorisme.

Jauh sebelumnya, seorang yang menyebut dirinya mufti bernama Ghulamullah melalui seorang perempuan telah mengancam Ziauddin yang dikategorikan sebagai pendiri sekolah haram. Kita kutip: “Ziauddin sedang menjalankan sebuah sekolah haram di bangunan Anda dan membawa malu pada tetangga. Anak-anak perempuan ini harus pakai cadar.” Mufti itu kemudian mengatakan kepada perempuan tersebut: “Ambil kembali bangunan itu darinya dan saya akan menyewanya untuk kepentingan madrasah saya. Jika Anda melakukan ini Anda akan terima bayaran sekarang dan juga akan mendapatkan pahala di akhirat kelak.” (Malala, hlm 84).

Tetapi rupanya perempuan itu menolak kehendak mufti itu. Ini komentar marah dari Ziauddin terhadap sikap mufti itu: “Seorang dokter yang setengah jadi merupakan bahaya bagi kehidupan seseorang, maka … seorang mulla yang tidak sepenuhnya terpelajar menjadi bahaya bagi iman.”(Malala, hlm 85). Tuan dan puan bisa membayangkan betapa konservatifnya sebagian kiai di Pakistan. Indonesia jauh lebih maju, padahal Negara Pakistan adalah wujud dari impian Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair yang diakui dunia dengan pemikirannya yang melampaui zaman.

Di Indonesia, apa yang dikenal dengan sebutan kutub modern dan kutub konservatif nyaris telah masuk ke museum sejarah berkat pendidikan keagamaan yang semakin terbuka bagi semua umat Islam. Ini sebuah keberuntungan yang sangat tinggi nilainya. Pakistan masih diracuni oleh orang semisal Mulla Fazullah dan Mufti Ghulamullah.

Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (V)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID,Kebetulan sebelum seri lanjutan ini dikirim, Dr Ahmad Muttaqin Alim dari Pusat Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah menghadiahi saya autobiografi Malala yang ditulis bersama Christina Lamb, I am Malala (New York-Boston-London: Back Bay Books, 2013). Dengan tambahan sumber autobiografi Malala ini, terpaksa kisah dalam “Resonansi” ini sedikit surut ke belakang, karena ada bagian-bagian yang menarik untuk disertakan.

Autobiografi setebal 293 halaman ini patut benar dibaca oleh rakyat Indonesia sebagai sumber ilham dan agar tidak mudah ditipu oleh kelompok-kelompok radikal yang berkedok agama. Pengalaman pahit rakyat Pakistan di Lembah Swat bisa saja berlaku di mana pun bila negara tidak awas dan tidak tegas dalam membendung arus radikalisme yang memperdagangkan agama untuk tujuan yang nista.

Pada halaman 239-240 terbaca penjelasan juru bicara Taliban Pakistan Ehsanul Ehsan mengapa Malala harus dibunuh: “Malala telah dijadikan target karena peran modelnya dalam mengkhotbahkan sekularisme …. Dia masih muda tetapi dia sedang menganjurkan budaya Barat di wilayah Pashtun. Dia pro-Barat; dia bicara anti-Taliban; dia menyebut Presiden Obama sebagai idolanya.”

Tidak banyak jumlah bocah sepanjang sejarah begitu ditakuti karena perannya yang heroik dalam membela kebenaran yang diyakininya, seperti halnya Malala, sekalipun nyawa tantangannya. Pemerintah Pakistan sebenarnya cukup menghargai perjuangan Malala bagi tegaknya perdamaian dengan bukti diberikan kepadanya Pakistan National Peace Prize tahun 2011. Tetapi pemerintah harus bersikap ekstra hati-hati karena kekuatan Taliban belum lagi lumpuh sepenuhnya.

Mulla Fazullah, dua bulan sebelum tragedi Malala itu, pernah mengancam dengan kalimat ini: “Siapa saja yang berpihak kepada pemerintah untuk melawan kami akan tewas di tangan kami.” Taliban bahkan telah menggunakan dua laki-laki lokal Swat yang bertugas mengumpulkan informasi tentang Malala dan jalan yang dilaluinya ke sekolah dan mereka mampu melakukan serangan dekat pos tentara di Swat.”(Lih Malala, hlm 240).

Dengan demikian bocah ini memang sudah sejak lama diintai untuk dihabisi. Dan itulah yang berlaku pada 9 Oktober 2012 dengan menembaki Malala dan dua temannya yang lain di atas bus pulang dari sekolah milik ayahnya yang diberi nama Kushal School itu. Atas kehendak Allah, ketiga bocah yang ditembak ini, tidak seorang pun yang tewas. Semuanya selamat. Kini ketiganya telah jadi saksi hidup betapa terorisme tega membunuh bocah yang semula diperkirakan tidak bakal terjadi. Malala sendiri sebelumnya juga berpendapat bahwa Taliban tidak mungkin membunuh anak-anak. Jika ada yang harus dibunuh, maka ayahnya Ziauddin Yousafzailah yang harus menjadi sasaran utama, bukan dirinya. Ziauddin adalah sosok intelektual yang punya jaringan luas untuk melawan segala bentuk terorisme.

Jauh sebelumnya, seorang yang menyebut dirinya mufti bernama Ghulamullah melalui seorang perempuan telah mengancam Ziauddin yang dikategorikan sebagai pendiri sekolah haram. Kita kutip: “Ziauddin sedang menjalankan sebuah sekolah haram di bangunan Anda dan membawa malu pada tetangga. Anak-anak perempuan ini harus pakai cadar.” Mufti itu kemudian mengatakan kepada perempuan tersebut: “Ambil kembali bangunan itu darinya dan saya akan menyewanya untuk kepentingan madrasah saya. Jika Anda melakukan ini Anda akan terima bayaran sekarang dan juga akan mendapatkan pahala di akhirat kelak.” (Malala, hlm 84).

Tetapi rupanya perempuan itu menolak kehendak mufti itu. Ini komentar marah dari Ziauddin terhadap sikap mufti itu: “Seorang dokter yang setengah jadi merupakan bahaya bagi kehidupan seseorang, maka … seorang mulla yang tidak sepenuhnya terpelajar menjadi bahaya bagi iman.”(Malala, hlm 85). Tuan dan puan bisa membayangkan betapa konservatifnya sebagian kiai di Pakistan. Indonesia jauh lebih maju, padahal Negara Pakistan adalah wujud dari impian Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair yang diakui dunia dengan pemikirannya yang melampaui zaman.

Di Indonesia, apa yang dikenal dengan sebutan kutub modern dan kutub konservatif nyaris telah masuk ke museum sejarah berkat pendidikan keagamaan yang semakin terbuka bagi semua umat Islam. Ini sebuah keberuntungan yang sangat tinggi nilainya. Pakistan masih diracuni oleh orang semisal Mulla Fazullah dan Mufti Ghulamullah.

Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (IV)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Masih terkait dengan pidato Malala di Oslo, dilanjutkan pada bagian akhir tentang fenomena terbelahnya komunitas Muslim Pakistan dalam menyikapi pandangan-pandangan radikal bocah ini. Demikian mutlaknya pendidikan bagi anak usia sekolah, Malala bahkan menghadirkan di Ibu Kota Norwegia mitranya itu dari Pakistan yang pernah jadi korban teror, dari Nigeria yang diancam Boko Haram, dari Suriah sebagai korban perang saudara. Semuanya ini dalam rangka kampanye untuk menghimpunan Dana Malala bagi kepentingan pendidikan anak usia sekolah. Dia ingin anak-anak perempuan mengikuti jejaknya untuk terbang tinggi dengan modal pendidikan yang berkualitas.

Pada kesempatan lain Malala bertutur: “Saya tidak ingin masa depan saya terkurung, dibatasi empat dinding, semata-mata memasak dan melahirkan.” Feminisme bocah ini terasa sangat kental, sebuah reaksi keras terhadap tebalnya konservatisme Muslim Pakistan. Suaranya tentang mutlaknya pendidikan bagi anak usia sekolah telah menjadi isu panas global.

Tidak tanggung-tanggung. Dalam pidatonya, Malala menyebut satu persatu nama mitranya di atas. Ada bocah bernama Mezon dari Suriah yang kini mengungsi di Lebanon yang bergerak dari tenda ke tenda dalam kerja membantu anak-anak, perempuan dan laki-laki, untuk belajar. Ada Amina dari Nigeria utara, di mana Boko Haram mengancam dan menculik anak-anak, ada Shazia dan Kainat Riaz dari Swat yang kena peluru Taliban bersama Malala. Ada lagi Kainat Somro juga dari Pakistan yang jadi korban kekerasan dan kekejaman, bahkan saudara laki-lakinya terbunuh, tetapi pantang baginya menyerah. Tatkala nama-nama mereka disebut satu persatu dari mimbar Nobel, mereka saling berbisik karena merasa tersanjung.

Lalu dengan nada tinggi Malala bertutur:

Saya adalah Shazia.

Saya adalah Kainat Riaz.

Saya adalah Kainat Somro.

Saya adalah Mezon.

Saya adalah Amina. Saya adalah bagian dari 66 juta anak-anak perempuan yang tidak bersekolah!

Disinggungnya pula dunia yang sudah berubah dengan cepat dengan segala kemajuannya, tetapi di sisi lain orang tidak juga mau belajar dari pengalaman perang dan konflik sejak PD (Perang Dunia) I 1914, seabad yang silam dengan korban jutaan. Sekarang banyak keluarga yang telah jadi pengungsi di Suriah, Gaza, dan Irak. Tidak sedikit pula anak perempuan yang dipaksa kawin usia bocah. Kemudian dikritiknya negara-negara yang dianggap “kuat,” demikian hebatnya mereka menciptakan perang tetapi begitu lemah membangun perdamaian. Begitu mudahnya memberikan senjata,

tetapi alangkah sukarnya memberikan buku. Begitu gampangnya membuat tank, tetapi demikian sulitnya mendirikan sekolah.

Ungkapan-ungkapan kritikal ini telah memukau para undangan yang terdiri dari berbagai bagai bangsa itu. Di bagian akhir pidatonya, Malala berkata: “And let us build a better future right here, right now” (Dan mari kita bangun masa depan yang lebih baik di sini, sekarang juga).

Bilamana Malala disanjung di seluruh dunia, ironisnya masyarakat Muslim Pakistan justru terbelah. Ada yang melemparkan tuduhan bahwa Malala adalah agen CIA, agen Inggris, agen Amerika, sebuah tuduhan keji yang marak terdengar dalam masyarakat yang dipengaruhi Taliban. Tetapi di atas itu semua, inilah tabiat komunitas Muslim yang tidak mau berfikir jauh dan luas. Bahkan seorang komandan Taliban, Adnan Rasheed, mantan anggota angkatan uadara Pakistan, selang sehari setelah pidato di PBB, pada 13 Juli 2013 menulis surat dan peringatan keras kepada Malala agar tidak lagi mengeritik Taliban.

Di ujung surat berbahasa Inggris yang terdapat beberapa kesalahan itu kita terjemahkan berikut ini:

…saya nasihati anda agar kembali pulang, menyesuaikan diri dengan budaya Islam dan Pashtun, menggabungkan diri dengan madrasah perempuan mana pun dekat kota anda, kaji dan pelajari Kitab Allah, gunakan pena anda untuk Islam dan bagi kepentingan umat Muslim, dan bongkar persekongkolan segelintir elit yang ingin memperbudak seluruh kemanusiaan bagi agenda jahat mereka atas nama tatanan dunia baru.

Baik saja nasehat itu. Tetapi siapa yang bisa menjamin keamanan Malala jika kembali ke Pakistan? Bukankah dendam Taliban terhadapnya belum lagi pupus? Sekalipun Lembah Swat sejak Juli 2009 secara resmi tidak lagi dikuasai Taliban, situasi belum lagi aman sepenuhnya. Artinya tentara Pakistan sering tidak berdaya berhadapan dengan pasukan berjenggot ini.

Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (III)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Sebelum menurunkan bagian-bagian dari isi Pidato Nobel Malala, ada baiknya ditambahkan sedikit keterangan tentang Lembah Swat, bumi tempat kelahirannya di sebelah barat daya Pakistan. Kawasan pegunungan ini dulunya terkenal sebagai “Switzerland of Pakistan” karena cantiknya. Sejuk di musim panas, bersalju di kala musim dingin. Letaknya tidak terlalu jauh dari Islamabad. Lembah ini kemudian menjadi rusak saat Taliban menguasainya sebelum dibebaskan kembali oleh pasukan Pakistan. Ratusan sekolah ditutup oleh rezim pro kekerasan ini.

Pidato Nobel Malala disampaikan pada 10 Desember 2014, saat usianya 17 tahun enam bulan. Saya telah dengarkan pidato itu dari awal sampai ke ujung serta mengamati suasana di gedung tempat Hadiah Nobel itu diberikan. Antara teks tertulis dan bahasa lisan Malala ada beberapa kalimat yang berbeda, substansinya sama. Tetapi bahasa lisannya terasa lebih kaya dan lebih sedap diikuti dengan tekanan kalimat yang sarat makna dan penuh wibawa. Kita tidak bisa membayangkan betapa berbunganya perasaan ayah-bundanya menonton puterinya yang telah jadi bincangan luas publik dunia itu. Malala telah jadi sumber ilham bagi kaum muda.

Tatkala mengulangi nasehat ayahnya yang tidak pernah menggunting sayapnya untuk terbang tinggi, gemuruh suara hadirin demikian membahana sebagai tanda keterpukauan yang luar bisa dalam mengikuti suara bocah Muslimah ini. Ini kalimat asli Malala sebagai tanda terima kasih kepada ayahnya: “Thank you to my father for not clippimg my wings and for letting me fly“ (Terima kasih ayahku karena tidak menggunting sayapku dan membiarkanku terbang). Sang ibu juga hadir di sana dengan penuh rasa haru terlihat jelas di wajahnya. Sampai di ujung pidato, pada setiap tikungan kalimat yang menghentak, tepuk sorak hadirin tak pernah berhenti. Semuanya terlihat bahagia, terharu, dan terhenyak. Suara Islam damai bergema lantang di gedung itu. Saya tidak tahu apakah Taliban sempat mendengarkan pidato bocah yang hendak dibunuhnya ini.

Beberapa bagian Pidato Nobel Malala itu akan diturunkan di bawah ini, terutama bagi mereka yang belum sempat mengikutinya. Tuan dan puan yang ingin mendengarkan langsung pidato itu, silakan buka YouTube. Barangkali kesan kita akan sama. Sama-sama bangga di tengah-tengah prahara dunia Muslim yang melelahkan. Nama Malala mencuat di lingkungan keganasan teroris di tanah kelahirannya dengan mengusung teologi tunggal: “Di luar mereka tidak ada kebenaran!” Maka atas nama kebenaran tunggal inilah penembak Taliban hendak menghentikan jantung Malala berdenyut. Alangkah nistanya, alangkah kejamnya!

Masih di bagian awal pidatonya, Malala berkata: “Hadiah ini bukan semata buat saya. Ia untuk semua anak-anak yang terlupakan yang menginginkan pendidikan. Ia untuk anak-anak yang menderita yang rindu perdamaian. Ia untuk anak-anak yang bungkam yang ingin perubahan. Saya berdiri di sini untuk memperjuangkan hak-hak mereka, mengumandangkan suara mereka…bukanlah waktunya lagi untuk mengasihi mereka. Waktunya adalah untuk bertindak, maka ini adalah kali terakhir kita melihat seorang anak yang terenggut dari pendidikan.”

Lalu diceritakan pengalaman masa kecilnya di lembah yang cantik itu yang kemudian jadi neraka. “Saat saya berusia 10 tahun, Swat yang semula adalah tempat yang indah dan tempat turisme, tiba-tiba berubah jadi tempat terorisme. Lebih 400 sekolah dibinasakan. Anak-anak perempuan dilarang pergi sekolah. Perempuan didera. Orang tak berdosa dibunuh. Semua kami menderita. Dan mimpi-mimpi kami yang indah berubah jadi mimpi buruk. Pendidikan beralih dari sebuah hak menjadi sebuah kejahatan.” Pendek kata, baik pidatonya di PBB mau pun di Oslo tekanannya sama: jangan rampas pendidikan anak-anak. Pendidikan adalah segala-galanya!

Mengahapi situasi sulit dalam kepungan Taliban, ada dua pilihan yang terbuka bagi Malala: pertama, membisu dan menunggu saat dibunuh; kedua, bersuara terus terang dan kemudian dibunuh. “Saya pilih yang kedua. Saya putuskan untuk berkata terus terang.” Sewaktu kalimat ini diucapkan, ruang tempat Hadiah Nobel itu diberikan untuk sekian kalinya jadi riuh dengan tepuk tangan sebagai tanda kekaguman atas pilihan teramat berani dari bocah ini: mengadang maut. Drama itulah yang terjadi pada 9 Oktober 2012.

Malala: Oase di Bumi yang Tandus (II)

REPUBLIKA.CO.ID, Di samping oase, Malala adalah juga seorang petarung sejati untuk kepentingan pendidikan anak usia sekolah yang banyak terlantar di berbagai belahan bumi. Bahkan fenomena pekerja anak-anak dengan upah murah bukanlah sesuatu yang asing, demi kelangsungan hidup keluarga miskin dan telantar. Oleh sebab itu ketika rezim Taliban meremehkan dunia pendidikan, terutama pendidikan bagi perempuan, semangat tempur Malala tidak bisa dibendung lagi, apalagi ayahnya seorang pendidik dan diplomat.

Suatu ketika Malala mengatakan: “…kita tahu bahwa kelompok teroris takut kepada kekuatan pendidikan.” (Lih. Mishal Husain, “Malala: The girl who was shot for going to school,” BBC News, 7 Oktober 2013).

Saat Malala sedang tergeletak di rumah sakit militer di Peshawer, ayahnya Ziauddin Yousafzai datang sambil berucap: “Saya tatap wajahnya, saya hanya menunduk, saya cium keningnya, hidungnya, dan pipinya…dan kemudian saya katakan, ‘Engkau adalah puteri kebanggaanku. Saya bangga denganmu.’’’ (Ibid.). Ketika ditanya tentang ketahanan mental puterinya, Ziauddin menjawab: “Karena saya tidak memotong sayapnya.” Ziauddin pernah bertugas sebagai atase pendidikan Pakistan di Birmingham, juga sebagai penasehat khusus PBB untuk pendidikan global.

Dalam pidatonya di PBB pada 12 Juli 2013 yang diawali dengan menyebut Bismillahirrahmnirrahim, Malala sangat menekankan pentingnya pendidikan bagi semua anak di seluruh negara, sesuatu yang dilecehkan oleh Taliban. Tetapi Malala tidak membenci Taliban: “Saya bahkan tidak benci kepada anggota Taliban yang menembak saya. Bahkan jika ada senjata di tangan saya dan dia berdiri di depan saya, saya tidak akan menembaknya. Ini adalah sifat belas-asih yang saya pelajari dari Muhammad—nabi penyebar rahmat, dari Jesus Kristus, dan dari Buda yang agung.”

Kemudian dalam pidatonya di PBB itu Malala melanjutkan: “Saya ingat ada seorang bocah di kelas kami yang ditanya oleh wartawan, ‘Mengapa Taliban menentang pendidikan?’ Dengan cara sederhana bocah itu menjawab dengan menunjuk kepada bukunya sambil berkata: ‘Seorang Talib [anggota Taliban] tidak tahu apa yang tertulis dalam buku ini.’” Pengikut Taliban itu “mengira bahwa Tuhan itu kecil, makhluk konservatif alit yang akan mengirim anak perempuan ke neraka semata-mata karena pergi ke sekolah. Para teroris sedang menyalahgunakan nama Islam dan masyarakat Pashtun [nama salah satu suku di Pakistan] untuk kepentingan dirinya sendiri,” imbuh Malala.

Dijelaskan lebih jauh bahwa: “Pakistan adalah negeri demokratik yang cinta damai. Rakyat Pashtun menginginkan pendidikan untuk anak-anaknya, perempuan dan laki-laki. Dan Islam adalah agama perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan. Islam mengatakan bahwa bukan hanya merupakan hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan, tetapi itu semua merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya.”

Nurani Malala demikian tersiksa oleh kenyataan banyaknya belia yang terlantar, tidak dapat pergi ke sekolah oleh berbagai halangan. Kita kutip: “Di banyak bagian dunia, khususnya di Pakistan dan Afghanistan, terorisme, perang, dan konflik telah menghalangi anak-anak pergi ke sekolah. Kami benar-benar kelelahan akibat perang. Kaum perempuan dan anak-anak sedang menderita di berbagai bagian dunia dengan cara yang bermacam-macam. Di India, anak-anak tak berdosa dan miskin adalah korban  akibat kerja usia anak. Banyak sekolah telah dirobohkan di Nigeria….Kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, rasisme, dan perampasan hak asasi merupakan masalah utama yang tengah dihadapi oleh laki-laki dan perempuan.”

Di bagian akhir pidatonya, Malala berseru: “Oleh sebab itu mari kita lancarkan perjuangan melawan buta huruf, kemiskinan, dan terorisme, dan mari kita tenteng buku dan pena kita. Mereka adalah senjata kita paling dahsyat. Seorang anak, seorang guru, sebuah pena, dan sebuah buku dapat mengubah dunia. Pendidikan adalah satu-satunya solusi. Pendidikan paling utama.”

Pidato Malala ini didengarkan dengan tekun dan antusiasme yang tinggi oleh para belia yang hadir di gedung PBB itu, termasuk juga hadir sekjennya kala itu: Ban Ki-moon. Berkali-kali tepuk tangan panjang mengiringi Malala selama menyampaikan pidato dalam yang usianya ketika itu baru 16 tahun. Mulai tahun 2013 itu namanya sudah mulai diusulkan sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel yang kemudian dimenangkannya bersama Kailash Satyarthi (60), pegiat dan pejuang hak pendidikan anak dari India.

Malala: Oase di Bumi Muslim yang Tandus (I)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Empat tahun lebih sudah berlalu, saat drama maut itu ditimpakan atas seorang bocah putri yang kemudian telah mengentak kesadaran nurani manusia di bumi ini sebagai tanda keprihatinan dan kemarahan yang mendalam. Ingat Malala atau nama lengkapnya Malala Yousafzai (12 Juli 1997- )? Tentu ingat teror yang berusaha membunuhnya pada 9 Oktober 2012, saat menumpang bus pulang dari sekolah bersama beberapa teman sebayanya. Usianya baru 15 tahun.

Mengapa harus dibunuh? Karena kritik keras gadis ini terhadap rezim Taliban yang ganas yang daerah pengaruhnya juga meluas sampai ke Pakistan, tanah kelahiran Malala. Ketika orang tuanya sudah berpikir untuk menyiapkan makamnya di Distrik Swat, ternyata Tuhan melalui tangan dokter di Pakistan dan di Birmingham (Inggris) berkehendak lain.

Bocah ini diselamatkan sekalipun peluru telah menembus pelipis kiri atas di bagian kepalanya dan peluru itu kemudian bersarang di punggungnya. Sempat koma beberapa hari, tetapi tanda-tanda kehidupan belum hilang, kata dokter yang menanganinya.

Segera dibawa ke rumah sakit dalam upaya menyelamatkan jiwanya. Bocah perempuan cerdas ini selama beberapa tahun pascatragedi itu menjadi ikon dunia. Namanya menjadi sorotan dalam ratusan media di seluruh jagat.

Koran Jerman, Deutsche Welle, bulan Januari 2013 menobatkan Malala sebagai “anak usia belasan tahun yang paling masyhur di dunia”. Dia berpidato di PBB, Juli 2013, berpidato di kampus Universitas Harvard, September pada tahun yang sama, meraih hadiah Nobel pada 2014, usia termuda dalam sejarah penganugerahan hadiah bergengsi ini. Masih puluhan hadiah lain yang meluncur dari berbagai negara.

Saya tahu, tuan dan puan pasti telah mengikuti perjalanan hidup bocah ini yang kemudian meneruskan sekolahnya di Birmingham, didampingi kedua orang tuanya, Ziauddin Yousafzai dan Tor Pekai Youfsafzai. Tetapi, “Resonansi” ini akan menyoroti sisi-sisi lain dari musuh Taliban dan terorisme ini yang mungkin belum banyak terkuak bagi publik di Indonesia.

Melalui Youtube, saya dapat mendengar pidatonya di PBB dan pidatonya di Oslo saat menerima hadiah Nobel pada 10 Desember 2014. Bocah ini memang luar biasa, tangkas sekali dalam menyampaikan pidatonya yang hanya sesekali melihat teks.

Berkali-kali tepukan tangan panjang bergema selama pidato itu disampaikan. Kedua orang tuanya yang hadir terlihat berkali-kali menyeka air mata bahagianya karena putrinya yang pernah bergumul dengan maut itu kini punya tempat terhormat di mata publik dunia dalam usia yang sangat belia.

Secara tidak langsung, Taliban juga “berjasa” terhadap bocah aktivis pendidikan ini. Sekiranya tidak ditembak, dunia tentu tidak sampai gempar dibuatnya. Malala menyerukan bahwa pendidikan adalah hak asasi anak-anak, perempuan atau laki-laki. Bagi Taliban, sekolah-sekolah perempuan sempat ditutup karena katanya di sana “virus kafir” akan meracuni otak dan hati siswa. Malala melakukan protes keras terhadap pendapat primitif ini.

Oleh sebab itu, Mulla Fazullah, tokoh spiritual Taliban di Distrik Swat, mengeluarkan fatwa agar nyawa Malala segera dihabisi, tidak peduli seorang bocah yang memang punya filsafat: “Pen is mightier than sword” (pena lebih dahsyat dari pedang).
Bagi saya, Malala adalah sebuah oase yang keteduhan ketika bagian-bagian bumi Muslim sudah tandus, tidak lagi aman dan nyaman buat tempat tinggal.

Oase ini dapat jadi sumber kebanggaan yang melahirkan optimisme bagi hari depan Muslim sejagat dengan sama-sama menyatakan bahwa “terorisme adalah musuh peradaban yang harus dilenyapkan.”
Malala dengan lembaga pendidikan yang dibentuknya ingin mendidik semua anak usia sekolah, termasuk anak-anak teroris tanpa ada rasa benci dan dendam. Kerja serupa juga sedang dilakukan oleh BNPT di Indonesia di bawah pimpinan Komjen Suhardi Alius.

Sementara, Pakistan, negeri asal Malala, di mana-mana bom bunuh diri masih saja diledakkan, teroris gentayangan, dan Malala adalah salah seorang korbannya, tetapi Tuhan belum membiarnya berpisah dari dunia ini. Malala adalah juga saksi hidup bahwa Islam tidak identik dengan terorisme, sebagaimana pihak Barat masih saja melontarkan tuduhan nista yang berbahaya ini.

Lampu Merah Ketimpangan Ekonomi di Negara Pancasila

REPUBLIKA.CO.ID, Mengapa Negara Pancasila harus ditancapkan pada judul “Resonansi” ini? Mengapa tidak hanya cukup menyebut Negara Indonesia saja? Alasannya terang benderang, karena sila kelima Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” telah lama diabaikan dalam strategi pembangunan nasional, kecuali dalam kata dan wacana. Drama ini sudah berlangsung sejak proklamasi kemerdekaan lebih 71 tahun yang lalu.

Akibatnya juga terang benderang dalam makna yang sangat fatal; ketimpangan sosio-ekonomi di Negara Pancasila ini sudah berada di lampu merah, pada tikungan tanda bahaya bagi kelangsungan masa depan bangsa ini. Presiden, wakil presiden, menteri keuangan, dan banyak pengamat sudah sering menyebut masalah ketimpangan ini. Sekadar membincangkan, manfaatnya nol, manakala tidak diterjemahkan dalam kebijakan pembangunan sosial-ekonomi nasional yang berkeadilan berdasarkan Pancasila.

Tetapi tuan dan puan jangan lupa mengamati ini: jika ada lembaga tinggi negara yang masih membisu dan gagap menyebut isu ketimpangan ini, maka lembaga itu adalah yang berkantor di Senayan yang bangga menyebut dirinya sebagai wakil rakyat. Entah rakyat mana yang diwakili, kita tidak tahu. Mungkin penyebutan sebagai lembaga wakil partai politik lebih tepat. Sudah cukup banyak wakil partai yang berkantor di Senayan ini menjadi pasien KPK. Dalam berbagai survei, ternyata lembaga ini adalah yang paling korup di negeri ini.

Pada hari-hari terakhir ini, masalah ketimpangan ekonomi ramai lagi dikomentari gara-gara informasi dalam TSCMP (the South China Morning Post), tertanggal 23 Februari 2017, enam hari yang lalu. Di bawah judul, “Wealth gap: four richest Indonesians worth more than poorest 100 million” (Jurang kekayaan: empat orang terkaya Indonesia melebihi harta 100 juta orang termiskin). Angka ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Oxfam, sebuah konfederasi internasional dari organisasi-organisasi amal dengan titik perhatian utama untuk melawan kemiskinan global, didirikan tahun 1942, berpusat di Inggris.

Sebagai LSM tingkat dunia yang telah berpengalaman selama 70 tahun, Oxfam yang bekerja sama dengan lebih 90 negara, temuan teranyarnya tentang ketimpangan ekonomi di Indonesia memang sudah berada di ambang batas toleransi. Kalimat pertama yang terbaca dalam laporan itu yaitu: “Empat orang Indonesia terkaya, hartanya melebihi milik 100 juta rakyat termiskin di negeri itu, sebuah kajian menemukan, sambil menyoroti betapa besarnya jumlah rakyat yang terpinggirkan saat ekonomi membengkak.”

Presiden Joko Widodo dinilai masih gagal memenuhi janji-janjinya untuk memerangi ketidakadilan sambil menekankan agar pemerintah menaikkan pengeluaran bagi kepentingan pelayanan publik, dan agar korporasi dan orang kaya membayar pajak lebih besar. TSCMP mengutip lebih lanjut: “Indonesia telah menikmati sebuah pembengkakan ekonomi yang telah mengurangi jumlah rakyat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, tetapi jurang antara kaya miskin semakin melebar dibandingkan dengan negara Asia Tenggara mana pun selama 20 tahun terakhir, temuan kajian Oxfam.”

Kajian itu juga membeberkan, pada 2016, kekayaan kolektif empat taikun itu berada pada angka 225 miliar dolar Amerika. Menurut daftar orang kaya dari Forbes, mereka yang terkaya itu termasuk dua bersaudara Michael Hartono dan Budi Hartono, dan Susilo Wonowidjojo, semuanya adalah penguasaha rokok.

Sebagaimana kita ketahui, para taikun ini menjadi demikian kaya raya adalah juga karena sumbangan rakyat miskin perokok yang jumlahnya puluhan juta, tersebar dari kawasan perkotaan menembus sampai ke daerah pelosok yang jauh terpencil di seluruh nusantara. Di warung-warung, di atas kendaraan, bahkan di ruang ber-AC (bagi yang sedikit kaya), asap rokok itu terus saja mengepul. Iklan rokok terpampang di mana-mana, sekalipun di bawahnya tertulis: merokok membunuhmu!

Inilah suasana terkini dari Negara Pancasila kita, ketimpangan ekonomi semakin tajam yang diragakan dalam perbandingan angka di atas. Pemerintah sudah punya tekad bulat untuk melawan ketimpangan itu, tetapi alangkah sulitnya. Banyak faktor penghambatnya, termasuk sikap mental bangsa ini yang sulit berubah ke arah proses perbaikan radikal dan menyeluruh.

Para taikun dan pendukungnya di Senayan tentu akan berupaya keras agar UU Pertembakauan tidak sampai mematikan perusahaan mereka yang menggiurkan itu. Dan ironisnya, rakyat jelata yang ketagihan tembakau adalah sasaran empuk yang turut serta melestarikan ketimpangan ekonomi itu. Sebuah lingkaran setan yang belum ditemui jalan keluarnya. Quo vadis Negara Pancasila?

Tanggapan tanpa Kebencian

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Penulis “Resonansi” ini tentu merasa bersyukur karena hampir selalu mendapat tanggapan, ada yang sedikit panjang ada pula yang singkat, dari para pembaca budiman yang dimuat di forum komentar di bagian bawah setiap tulisan online di harian ini.

Tidak ada masalah bahwa sebagian tanggapan itu menolak pendapat saya, sedangkan sebagian yang lain merasa mendapatkan sesuatu yang berguna. Semuanya itu penting bagi penulisnya agar kita saling berbagi dan berdialog. Untuk orang yang berupaya mencari kebenaran, perbedaan pendapat adalah amunisi yang perlu dipelihara untuk sama-sama digunakan agar pelor yang ditembakkan mengenai sasaran yang benar. Kebenaran adalah tujuan tertinggi yang harus diraih oleh semua manusia yang berintegritas.

Tetapi, panoramanya akan menjadi lain sama sekali, dalam menyusun tanggapan dari mereka yang tidak setuju sering benar disertai dengan kebencian terhadap seseorang yang tidak disukai. Maka ungkapan sumpah serapah, pengikut liberalisme, antek zionisme, agen Barat, tua bangka, bau tanah, antisyariat, dan ungkapan lain yang beradik-berkakak dengan itu yang diluncurkan begitu saja tanpa adab sama sekali.

Sampai-sampai ejaan nama telah diperkosa demikian rupa, ditulis semau gue. Tanggapan seperti ini tidak layak diberikan oleh manusia beretika. Jika muncul sengketa pendapat, sampaikan dengan jujur dengan argumen yang agak bermutu. Jika tanggapan-tanggapan itu ternyata memang dibangun atas argumen yang lebih kokoh, saya tidak keberatan jadi makmum.

Saya pernah mengutip ungkapan Alexandr Solzhentsyn (11 Desember 1918-3 Agustus 2008), sastrawan Rusia pemenang Hadiah Nobel tahun 1970, yang berasal dari peribahasa bangsa itu: “Sebuah kata kebenaran bobotnya lebih berat dari dunia” (one word of truth outweighs the world). Maka tanggapan berdasarkan kejujuran dan rasionalitas, sekalipun berisi penyanggahan, adalah bagian yang menyatu dengan sikap seorang pencari kebenaran. Sedangkan, sikap benci dan bengis tidak punya bobot sama sekali, akan mudah menghilang dibawa angin lalu.

Oleh sebab itu, jika mau naik kelas, mari kita bersama mengucapkan, “Selamat tinggal kepada segala jenis kebencian dan kebengisan,” karena demikian itulah semestinya karakter orang beradab. Kecuali jika memang tidak mau naik kelas, itu adalah pilihan pribadi.

Yang ironis adalah bahwa tanggapan bernada kebencian itu ditulis oleh mereka yang mengaku beriman, sebagian besar laki-laki, tetapi ada juga jenis perempuan yang tidak kurang bengisnya. Kepada mereka ini semua saya ingin mengingatkan perintah Alquran kepada Nabi Musa dan Harun dalam menghadapi Firaun, sang tiran kelas satu yang mengaku sebagai tuhan tertinggi: “Maka sampaikanlah oleh kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) tutur kata yang lemah lembut, siapa tahu ia akan ingat atau takut.” (QS Thaha: 44).

Ini adalah akhlak mulia yang diajarkan Alquran dalam menghadapi pihak yang kejam sekalipun. Insya Allah, saya tidak kejam. Sekiranya tuan dan puan tak terbiasa menyusun tutur kata yang lemah lembut, buatlah yang wajar saja, sebab saya sendiri sebagai manusia yang lemah belum tentu selalu dapat menjalankan akhlak Alquran itu, sehingga ada saja pihak yang tersinggung karena merasa sedang berada di titik sasaran. Mohon saya dimaafkan atas segala kelancangan saya dalam bertutur.

Kepada para pembaca yang berhasil menangkap misi tulisan saya dalam “Resonansi” yang sudah berlangsung sekitar 14 tahun serta memberikan dukungan dan doa, adakalanya sedikit berlebihan, disampaikan ribuan terima kasih. Tetapi setiap dukungan itu jangan sampai mengorbankan sikap kritikal, karena kita sama-sama berupaya mencari kebenaran, tidak mencari yang lain. Dalam setiap pencarian kebenaran tanpa disertai sikap kritikal bisa mendorong orang ke jalan buntu, sesuatu yang tidak ada dalam kamus si pencari kebenaran. Oleh sebab itu, jika nada tulisan saya sudah dirasa dan dinilai telah melanggar pematang adab, mohon senantiasa diingatkan agar terhindar dari kubangan kebenaran semu.

Akhirnya, sekali lagi, seandainya memang tulisan saya dinilai telah mengganggu zona aman sebagian besar Anda berdasarkan parameter agama yang benar, maka mintalah dengan baik-baik kepada pimpinan harian Republika ini agar saya tidak lagi dibolehkan mengisi ruang “Resonansi” ini. Saya tidak ingin memberi beban yang tidak perlu kepada para pembaca.

Demagog, Demagogi, dan Kerentanan Massa

oleh: Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Berasal dari bahasa Yunani, demos berarti rakyat, agógos berarti pemimpin/penghasut, maka demagog adalah pemimpin atau penghasut politik yang pandai membakar naluri massa/gerombolan untuk meraih tujuan-tujuan tertentu. Demagogi adalah perbuatan menghasut itu sendiri. Dalam suasana terhina, kalah, dan perasaan malu, seorang demagog akan sangat lihai dan piawai membakar dan menghasut massa untuk mengubah iklim politik yang tak menentu agar berpihak kepadanya.

Demikianlah, di era modern rakyat Jerman yang merasa terhina dan dirugikan oleh Perjanjian Versailles pada 28 Juni 1919 pasca PD (Perang Dunia) I, tampil seorang demagog ulung, Adolf Hitler (1889-1945), the Führer (Pemimpin), untuk menguasai situasi dengan membakar naluri rakyatnya dengan tujuan agar mempercayainya menjadi pemimpin masa depan Jerman. Hitler berhasil dengan gemilang selama beberapa tahun, sampai akhirnya dia bunuh diri setelah kalah perang dalam PD II. Perjanjian Versailles mengakhiri perang PD I antara Jerman dan pihak sekutu, persis lima tahun setelah terbunuhnya Archduke Franz Ferdinand dari Austria sebagai penyulut langsung perang itu.

Dalam situasi kalah dan hina, rakyat Jerman yang punya peradaban tinggi itu ternyata juga sangat rentan termakan hasutan seorang demagog. Di Indonesia, sebagian umat Muslim yang merasa terhina dan kalah juga demikian mudah menjadi korban untuk digiring ke arah tujuan yang digariskan oleh para demagog dalam skala yang kecil. Keadaan akan menjadi semakin panas manakala para demagog itu berlindung di balik nama Tuhan sambil membajak-Nya. Fenomena demagogi ini berlaku di berbagai bagian dunia, termasuk di dunia Muslim, Indonesia tidak terkecuali. Iman tanpa kawalan akal sehat ternyata cukup rapuh untuk dimainkan para demagog.

Di Irak dan Suriah Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin ISIS, adalah juga seorang demagog andal. Ketika dunia Arab sedang tiarap karena kalah dan terhina, al-Baghdadi telah memanfaatkan suasana rentan ini dengan membentuk kekhilafahan sebagai solusi yang dibayangkan bagi pemulihan harga diri dan martabat. Banyak anak muda Arab dan anak muda Muslim dari berbagai bangsa terbius oleh seruan demagoginya. Maka atas nama Tuhan mereka siap berjibaku ke Irak dan Suriah. Alangkah nahasnya sebagian umat Muslim ini, mau menyabung nyawa memenuhi panggilan sang demagog.

Kabarnya sejumlah sekian ratus anak muda Indonesia sudah termakan oleh demagogi al-Bahgdadi ini. Teologinya memuat kebenaran tunggal: Islam yang sahih adalah Islam yang keluar dari mulut demagog. Mengapa ISIS dipandang demikian hebat? Kita ikuti penjelasan Dr Najih Ibrahim Abdullah Sayid, mantan ketua Dewan Syura al-Jama’ah al-Islamiyah Mesir yang kini telah berubah menjadi seorang Muslim moderat setelah sebelumnya dipenjarakan selama 24 tahun karena terlibat dalam pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981.

Kutipan pendapat Najih Ibrahim:
ISIS di Irak saat ini seolah menjadi kekuatan terbesar di dunia dan seluruh negara dunia lemah di hadapan ISIS, itulah pandangan publik di Mesir pada Februari 2016 lalu. Saya menjelaskan bahwa penyebab pencitraan ISIS sebagai organisasi yang kuat dikarenakan Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia, Iran, milisi Syiah Hizbullah Lebanon dan Angkatan Bersenjata Suriah kesemuanya terlibat dalam pemberantasan ISIS dan sampai sekarang belum berhasil. Tidak cukup sampai hal itu, sampai Aliansi Internasional pun harus meminta bantuan negara Teluk untuk memerangi ISIS di Suriah menggunakan tank dan pesawat tempur, akan tetapi belum juga berhasil. (Lihat Dr Najih Ibrahim, Bahaya Mimpi al-Baghdadi, ter. Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo. Yogyakarta: Reviva Cendekia, 2016, hlm 60).

Benarkah ISIS itu demikian kuat sehingga aliansi internasional dibuat tak berdaya? Najih Ibrahim dengan lantang membantahnya. Kita kutip: “Pencitraan itu merupakan pembodohan negara Barat dari negara Arab dan dari negara Teluk atas krisis Suriah dengan penuh kedengkian dan sektarian.” (Ibid). Pihak Barat, khususnya Amerika Serikat, terlibat dalam krisis Suriah jelas punya target jangka jauh: agar Israel menjadi satu-satunya negara terkuat di kawasan itu!

Sekarang di mana pula posisi Iran? Najih Ibrahim menjawab: “Iran membentuk puluhan milisi bersenjata di berbagai tempat di Irak dan Suriah sebagai bentuk kepanjangan tangan Iran dalam konflik di Suriah, yang disiapkan untuk menyerang negara Teluk sampai terpecah menjadi negara-negara kecil yang lemah dan miskin serta saling berkonflik.” (Ibid, hlm 61). Dalam pada itu Arab Saudi terlibat dalam konflik Suriah dan Yaman adalah dalam upaya melawan hegemoni Iran di kawasan itu. Alangkah pandirnya dunia Muslim ini.

Akhirnya, kepada mereka yang masih percaya kepada demagogi para demagog, saya sarankan agar meninggalkan aliran bumi datar, mau naik kelas menjadi penganut aliran bumi bulat, untuk mengutip ungkapan Denny Siregar dalam sebuah artikel di medsos. Jangan habiskan umur untuk sesuatu yang maya dan sia-sia atas nama iman.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/02/14/olbket319-demagog-demagogi-dan-kerentanan-massa

Krisis Politik di Turki (IV)

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Di mata Burak, hanya tersedia dua kemungkinan bagi masa depan politik Turki: berlakunya sebuah sistem dinasti atau hancur. Tidak difikirkan kemungkinan ketiga: terciptanya sebuah kompromi politik—sebagaimana yang saya sarankan—, demi menghindari dua kemungkinan yang dilihat Burak. Sistem dinasti dalam sebuah bangunan republik demokrasi mengandung pertentangan dalam dirinya, sebab menutup peluang bagi tokoh lain di luar lingkungan keluarga untuk tampil sebagai pemimpin formal. Adapun kemungkinan masa depan Turki yang suram, jika bukan berantakan, tentu harus dicegah dan dihindari. Semua elite politik Turki semestinya cukup dewasa dan jernih memikirkan masa depan bangsanya yang telah dibangun dengan susah payah melalui kekuasaan sipil oleh AKP.

Bagi terciptanya sistem dinasti, Burak menyebut bahwa Erdogan mungkin menyiapkan penggantinya yang berasal dari anak atau menantunya yang memang memperoleh pendidikan tinggi di berbagai universitas di Amerika Serikat. Ada tiga kandidat yang menonjol: Sumeyye Erdogan (perempuan), dan dua menantunya: Berat Albayrak dan Selcuk Bayrakter. Tetapi, menurut Burak, gerakan ke arah sistem dinasti ini pasti akan mendapat perlawanan, termasuk dari orang dekat Erdogan. Dilemanya justru terletak di sini, tulis Burak. Jika Erdogan tidak menyiapkan penggantinya dengan tetap memusatkan kekuasaan di tangannya sendiri, maka sistem politik yang telah dibangun Erdogan selama ini akan hancur, sebab dia tidak mungkin berkuasa selama-lamanya. Akibatnya, masa depan politik Turki akan goncang dan perpecahan dalam AKP sendiri sukar dihindari.

Sebenarnya Erdogan punya empat anak: Burak, Esra, Bilal, dan Sumeyye. Bilal sebenarnya cukup mumpuni, tetapi pada tahun 2003 dia disebut terlibat dalam skandal korupsi yang menghebohkan itu. Namanya sudah cacat di mata publik. Maka, akhirnya, menurut Burak, yang punya peluang besar untuk menggantikan Erdogan adalah menantunya Berat Albayrak, suami Esra, dengan latar belakang pendidikan M.B.A. di sebuah universitas Amerika.

Pada bagian akhir artikel Burak, pesimisme itu tidak bisa dibendung lagi. Apa pun pilihan Erdogan, muaranya akan memupus semua harapan. Tetapi satu yang nyaris pasti, prediksi Burak, Musim Dingin Turki akan datang, baik dalam bentuk dinasti autokratik atau dalam bentuk perselisihan internal yang disebabkan oleh perbelahan etnis dan politik yang gagal didamaikan, seperti kelompok sekuler berhadapan dengan kelompok Islamis. Pihak oposisi tentu akan lebih gembira sekiranya sistem yang telah dibangun Erdogan benar-benar hancur, karena melalui mekanisme demokrasi mereka telah kehabisan akal untuk mengalahkannya.

Inilah Turki, saudaraku, yang semula menjadi tumpuan harapan bangsa-bangsa Muslim, kini sedang berada di persimpangan jalan terjal dan licin. Tabiat Erdogan yang enggan berbagi kuasa dengan partai-partai lain telah memicu polarisasi politik yang semakin ruwet dan panas. Untung saja posisi militer Turki dalam keadaan lemah. Mitranya Mursi di Mesir hanya sempat berkuasa dalam tempo singkat, Erdogan jauh lebih beruntung, tetapi untuk berapa lama bisa tahan? Alangkah rumitnya mengawinkan nilai-nilai Islam dengan sistem kekuasaan, tidak dalam teori, tetapi sepenuhnya dalam praktik. Ada pendapat lain dari tuan dan puan? Siapkan argumen yang kuat, jangan asal bunyi, seperti banyak kelakuan di medsos!